Oleh: islam feminis | Agustus 26, 2008

Ma, Tuhan Berada dimana Sich?

 

“Mama Allah ada di mana?”, kami jawab: “Ada di mana-mana”. Ketika ia mendengar jawaban saya secara spontan ia bertanya kembali: “Berarti kalau gitu Tuhan itu banyak dong, khan katanya ada di mana-mana?!”, ujarnya dengan penuh percaya diri …

 

—————————————————————

Ma, Tuhan Berada dimana Sich?

(Mengenalkan Esensi Tuhan kepada Anak)

 

 

 

Dan Dia bersama Kalian dimanapun kalian berada” (QS al-Hadid : 4)

Katakan (wahai Muhamad): Tuhan itu Esa.” (QS al-Ikhlas : 1)

 

 

Rasa ingin tahu (hubbul istithla’) adalah merupakan salah satu fitrah manusia. Artinya manusia terlahir dengan memiliki salah satu ciri khas fitrah tersebut. Rasa ingin tahu akan sekelilinganya dan segala sesuatu yang dilihatnya. Rasa ingin tahu tersebut akan mencapai puncaknya sewaktu masa kanak-kanak. Hal ini wajar dikarenakan rasa ingin tahu mereka akan hal-hal yang baru bagi mereka. Kadang orang tua merasa capek mengahadapi pertanyaan yang dilontarkan anak-anak kepadanya. Sebaiknya dan hendaknya orang tua tidak memarahi ataupun melarang anaknya untuk bertanya, karena jika demikian sama artinya dengan membunuh potensi dan kreatifitas yang terdapat pada anak-anak yang harus terus dikembangkan.

 

Anak-anak pada usia ini kadang-kadang menanyakan hal-hal yang tidak diduga oleh orang tuanya. Lantas apa yang harus dilakukan oleh orang tua ketika menghadapi berbagai pertanyaan anak-anaknya, apakah anak harus dimarahi ataukah memberikan jawaban asal-asalan kepadanya, ataukah dibiarkan saja begitu saja? Kalau kita merujuk akal pikiran kita maka ketiga langkah tersebut semuanya adalah salah. Kita biasa melihat sebagian orang tua yang ketika anak bertanya ia langsung berkata: “Huss, jangan banyak tanya, diam kamu!”.

 

Orang tua hendaknya berusaha menjawab pertanyaan anak dengan bahasa yang dipahami mereka. Sebagaimana yang dijelaskan dalam ilmu psikologi pada usia kanak-kanak mereka lebih cepat memahami hal-hal yang bersifat inderawi. Berdasarkan hal ini, ketika anak kami bertanya: “Mama Allah ada di mana?”, kami jawab: “Ada di mana-mana”. Ketika ia mendengar jawaban kami secara spontan ia bertanya kembali: “Berarti kalau gitu Tuhan itu banyak dong, khan katanya ada di mana-mana?!”, ujarnya dengan penuh percaya diri. Kembali saya menjawab: “Benar Tuhan ada di mana-mana, akan tetapi tetap satu”, jelas saya.

 

Anak kami masih bingung ketika mendengar jawaban yang kami berikan kepadanya. Dan dari raut wajahnya masih terlihat rasa penasaran, ia masih berpikir bagaimana bisa, ‘ada di mana-mana tapi satu’.  Sewaktu kami melihatnya dalam keadaan termenung dan masih belum puas dengan jawaban kami, dengan penuh kasih sayang dan dengan bahasa yang semudah mungkin kami kembali melontarkan pertanyaan; “Wahai putriku sayang, kamu tahu matahari ada berapa? “Ya, ada satu”, jawabnya. Kami kembali bertanya: “Apakah matahari hanya ada di tempat kamu saja, atau di tempat temanmu (yang ada di negara) lainpun ada? “Tidak, di tempat lain pun ada”. “Wahai putriku, tadi kamu katakan matahari itu hanya ada satu, tapi di manapun kamu berada iapun ada. Nah Tuhan pun seperti itu, satu tapi ada di mana-mana”.[ED]

Catatan:

Tentu, kami tidak ingin mengatakan bahwa Tuhan persis seperti matahari, ini hanya untuk pendekatan saja. Dan kita menggunakan contoh (analogi) seperti ini hanya melihat dari segi ungkapan ‘satu tapi ada di mana-mana’ sehingga anak dapat memahaminya atau dalam terminologi ilmu logika disebut dengan “Pendekatan (pemahaman) hal yang non materi (Tuhan) dengan melalui hal yang materi atau inderawi” (taqribul ma’qul bil mahsus). Yang dalam kasus ini adalah matahari. Adapun untuk pendekatan yang lain kita bisa menggunakan analogi yang lain, seperti Allah tidak bertempat, Allah meliputi semuanya…dst.


Responses

  1. 🙂

  2. Assalaamu `alaykum,

    Sedikit tukar pikiran. Benar sebagaimana yang difirmankan-Nya bahwa: “Allah bersama kita di manapun berada.” Hanya saja apakah itu sama dengan “Allah ada di mana-mana”?
    Akan lebih aman bagi kita mencukupkan apa-adanya dengan kalimat-kalimat yang difirmankan-Nya dalam Al-Qur’an, bahwa:
    1. Allah bersemayam di atas Arsy
    2. Allah itu lebih dekat daripada urat nadi
    3. Allah itu bersama kita di mana pun berada

    Wassalaamu `alaykum.

    ———————————————–

    Islam Feminis:
    Waalikumsalam Wr Wb
    Terimakasih atas masukannya. Sekali lagi, perlu diketahui bahwa yang bertanya adalah anak kecil baru masuk usia 6 tahun yang daya nalarnya sangat terbatas. Jika kita jelaskan sebagaimana yang anda sarankan maka bukan hanya ia tidak memahaminya bahkan malah menjadi lebih bingung. Padahal kita ingin untuk memahamkannya dengan argumen yang dapat ia terima, bukan malah membikin ia bingung. Oleh karenanya, kita harus memahami bahasa dan psikologi anak. Di sini jelas pentingnya kreatifitas dan kebijakan dalam menjawab pertanyaan anak, sesuai dengan nalar mereka. Bukankah Rasul juga pernah menyatakan: “Kami para Nabi tidak mengungkapkan sesuatu kecuali sesuai dengan kapasitas akal (yang diajak bicara)”.

    Saya sendiri mampu menjelaskan semua itu sesuai dengan argumen filsafat (akal murni) dan teologi (rasional dan teks) yang pernah saya pelajari. NAmun apakah itu bijak (baca: sesuai) jika saya jabarkan kepada usia kanak-kanak semacam itu? Begitu pula dengan pemilihan kata-katanya. Tentu Allah ada dimana-mana bukan berarti seperti yang dipahami oleh para pemikir tasawuf (yang menyimpang) dalam mengartikan wahdatul wujud. Atau mengatakan bahwa Allah duduk di singgahsana di langit sebagaimana yang dipahami oleh para mujassimah, termasuk dari kalngan wahabisme.

    Alhasil, di sini kita dituntut untuk pintar-pintar dalam menetapkan hal-hal yang berkaitan dengan Allah dengan menggunakan pendekatan-pendekatan (analogi) dan gaya bahasa, juga metode penyampaian yang harus sesuai dengan nalar mereka. Dengan cara itu, kita berharap kecintaan mereka kepada Allah akan bertambah.
    Wassalam

  3. Saya kok berpendapat bahwa jika semesta adalah himpunan yang melingkupi segala sesuatu. Maka Tuhan adalah semesta dari semesta. superset dari alam semesta…
    Wallahu alam

    Salam kenal

    ——————————————————-

    Islam Feminis:
    Semesta dari semesta itu adalah manusia, bukan Allah. Oleh karenanya ada istilah Mikro Kosmos dan Makro kosmos. Atau juga bisa diistilahkan Manusia Besar dan Manusia kecil. Allah Pencipta semua semesta sehingga tidak dimasukkan kepada hasil ciptaan-Nya sendiri, termasuk istilah semesta.

    Allah telah ciptakan manusia dengan sesempurna mungkin, hasil gabungan semua partikel di alam semesta. Sedang Allah adalah absolut yang tidak bisa dikategorikan semesta, sebagaimana yang dipahami manusia. Tetapi Dia ada kaitannya dengan semua semesta yang ada, karena Dia meliputi segala sesuatu. Itulah rahasia kenapa dikatakan: Man ‘Arafa Nafsahu Fa Qod ‘Arafa Rabbahu (Barangsiapa yang telah mengenal ‘diri’-nya niscaya ia telah mengenal Tuhannya).

    Ada ungkapan Imam Ali AS di Nahjul Balaghah yang sangat indah berkaitan dengan hal ini:
    “(Allah) berada pada segala sesuatu tanpa melalui percampuran (diri), dan di luar segala sesuatu tanpa melalui pemisahan (diri)” (Dakhilun fil Asy’ya’i laa bil Muzayadah. Wa Kharijul minal Asy’ya’i laa bil Muzayalah)

  4. Di manakah Allah, apa yang ada sebelum Allah?, siapa yang menciptakan Allah, berapa lamakah kehidupan dalam kubur dan di manakah surga dan neraka?, (Allah tentunya tidak terikat oleh tempat dan waktu. Baginya tidak dipengaruhi yang dulu atau yang akan datang. Allah tidak memerlukan tempat, sehingga pertanyaan tentang dimana Allah hanya akan membatasi kekuasaanNya.
    http://cyberwhite.wordpress.com/

  5. tuhan tu ada di dlm mind kita…

  6. tuhan itu ada di dalam mind kita. Allah adalah pencipta alam yang ada d luar alam, Allah adalah Awal yang tdak diawali, Allah adalah akhir yang tidak pula di akhiri.Apakah mind itu alam, kenapa Allah ada didalamnya?……tlg q pengin belajar aqidah yang benar. please….

    —————————————-

    Islam Feminis

    Kami mengucapkan selamat kepada anda, karena tidak semua orang mendapatkan hidayah seperti ini. Anda dapat belajar melalui pengamatan atas keagungan alam semesta yang akan mengantarkan kita menuju pengenalan terhadap penciptanya. Apa mungkin, alam semesta yang penuh dengan keajaiban, memiliki keteraturan dapat berada dengan sendirinya? Sebenarnya pelajaran aqidah dalam rangka menjawab tiga pertanyaan penting manusia; “Dari mana berasal, sekarang berada dimana?, dan akan pergi kemana?”, yang kemudian teringkas dalam beberapa pembahasan Ketuhanan, kenabian, keimamahan, keadilan dan tengtang kehidupan pasca kiamat. dan pembahasan inipun, pada setiap bagiannnya memiliki pembagian pembahasan masing-masing.
    sementara ini kami hanya mengusulkan kepada anda belajar aqidah dengan mencari guru sehingga tidak salah dalam memahami permasalhan. atau dengan membaca buku-buku yang berkaitan dengan pembahasan ini, dan menanyakan maksudnya apabila ada hal-hal yang tidak dipahami. atau anda bisa langsung melontarkan pertanyaan berkaitan dengan akidah, sehingga dapat langsung mendapatkan jawabannya.

  7. Barangkali akan lebih aman kalau kita menjawabnya dengan penjelasan bahwa Allah berada di atas, atau Allah berada di langit.

    Lebih jelasnya lagi : Allah ada di langit, tetapi ilmu Allah meliputi segala sesuatu.

    Saya pikir itu lebih mendekati sunnah karena Rasul pernah mencontohkannya ketika ada seorang budak ditanya ttg ‘di manakah Allah’, dia menjawab ‘di atas’ dan itu dibenarkan oleh Rasulullah. (CMIIW on redaction).

    Sekali lagi, saya pikir itu lebih save, daripada kita jawab Tuhan ada di mana-mana.

    Ini adalah masalah akidah, yaitu sifat Allah, keberadaan Allah, jadi mohon agar hati-hati. Kita harus berusaha menyikapinya dengan mencontoh tuntunan dari Rasulullah SAW.

    Wassalmu’alaikum wr. wb.

    ———————————————————-

    Islam Feminis:
    Justru kalau kita jawab dengan ‘Allah di Langit’ maka selain bertentangan dengan teologi Islam yang ada (Allah bertempat yang berarti memiliki banyak konsekuensi negatif), juga akan menimbulkan pertanyaan lain di benak seorang anak kecil….

    Mungkin Allah di langit itu lebih dekat dengan sunah versi pemahaman Ahli Hadis atau mazhab zahiri yang cenderung ‘teks book thingking’. Pemahaman semacam itu hanya bisa dipahami oleh kaum yang sangat awam terhadap agama saja, dan cenderung bersifat dogmatis.

  8. Sy setuju dgn saudara madrus. Dalil dr nabi sudah jelas. Siapa yg lebih tahu agama, nabi ataukah kita yg sering mengutamakan akal dan logika? Kok, seolah2 pernyataan nabi disampingkan, logika didahulukan. Anak kecil di atas sbnrnya masih bingung krn dia tahu kalo Tuhannya berada di atas langit, tp ada yg mengatakan Tuhannya ada di mana2.
    Mungkin biar lebih jelas, silakan lihat tulisan kami yg akan sgra dipublish di
    http://muslim.or.id.
    Atau dpt dilihat jg di blog kami:
    http://muslim01.co.cc

    ————————————–

    Islam Feminis:
    Untuk menjadikan hadis Nabi menjadi dalil perlu ada penjelasannya. Sewaktu Nabi ditanya oleh seorang badui yang suka berbohong ttg hakekat Islam, dan ketika ditanya oleh Ali bin Abi Thalib ttg hakekat Islam niscaya Nabi akan berbeda dalam kualitas menjawabnya bukan?
    Dalam kasus di atas, ketika anak kecil bertanya ttg dimana Allah maka kita harus menjawabnya dengan kapasitas akalnya. Begitu juga dengan kasus hadis Nabi yang mengatakan bahwa Allah ada di langit.
    Jika memang benar Allah berada di langit maka meniscauakan;1- Allah bertempat dan membutuhkannya, yaitu di atas langit. 2- Allah bisa ditunjuk (isyarat) yaitu di atas, sedang kita tahu bahwa langit (atas) di Amerika berbeda dengan langit di Indonesia. Lantas Allah di langit yang mana? Jadi Allah tidak ada di samping kiri-kanan, belakang-depan, atau di bawah..Allah melulu di atas. 3- Keberadaan Allah terbatas, karena Ia tidak ada di bumi, juga tidak ada di bulan, tidak di matahari atau bintang dan planet manapun, selalunya Ia di atas langit.
    Ini semua adalah konsekuensi logis jika kita mengartikan secara tekstual hadis “Allah di Langit”. Padahal langit adalah tinggi yang bermakna transendent, bukan langit materi. Makanya bukan saja Allah, tetapi kalimat Allah juga disifati luhur/tinggi juga, kalimatullah hiyal ulya.

  9. Mengapa ada di mind? Bukan di qalb?

    ————————————–

    Islam Feminis:
    Di kedua-duanya ADA

  10. 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: