Oleh: islam feminis | Juli 18, 2008

‘Pengkhianatan terhadap Wanita’

‘Pengkhianatan terhadap Wanita’

Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah…”. [At-Taghabun : 14]

—————————————————-

Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah…”. [QS at-Taghabun : 14, al-Qur’an dan terjemahnya, edisi revisi, DEPAG-RI, Mahkota Surabaya]

Maksudnya, kadang-kadang istri atau anak dapat menjerumuskan suami atau ayahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama. [penjelasan dari DEPAG]

Terjemahan di atas kami kutip dari terjemahan Depag. Transliting memerlukan keahlian terkhusus dalam kedua bahasa, yaitu bahasa yang diterjemahkan dan bahasa yang menerjemahkan. Dan tidak sembarangan orang dapat menerjemahkan sebuah teks ataupun buku, apalagi berkaitan dengan kitab suci yang menjadi pegangan sebuah agama atau sekte.

Terjemahan ayat di atas telah menarik perhatian kami, sewaktu kami melihat pula teks asli ayatnya yang masih berbahasa Arab. Khususnya pada ungkapan “istri-istrimu”, dimana berdasarkan ayat di atas -tentunya masih merujuk pada terjemahan versi DEPAG- bahwa hanya istri saja yang bisa menjadi musuh dan menjerumuskan seorang suami untuk melakukukan perbuatan yang tidak dibenarkan agama. Sementara berkaitan dengan suami tidak disinggung sama sekali dalam ayat tersebut. Dengan kata lain suami tidak pernah menjadi musuh dan menjerumuskan istrinya untuk melakukan perbuatan yang tidak dibenarkan agama. Kesimpulan ini dapat kita tarik tatkala merujuk terjemahan versi DEPAG-RI di atas.

Namun terdapat kesimpulan lain yang bisa kita ambil dengan mengkritisi pola penterjemahan di atas:

Pertama: Asal kata yang kemudian dalam bahasa Indonesianya diterjemahkan ‘istri-istri’ ialah ‘azwaj’ bentuk plural (jamak) dari kata ‘zauj’. Dalam ensklopedia bahasa karya Raghib al-Isfahani, beliau menjelaskan bahwa kata ‘zauj’ artinya ialah ‘pasangan’ yang bisa digunakan untuk benda seperti sepasang sepatu, untuk hewan seperti sepasang ayam (jantan dan betina), dan untuk manusia seperti suami dan istri. Hal inipun dikuatkan pula oleh Allamah Thabathabai mufassir kontemporer dalam karyanya tafsir al-Mizan.

Dengan demikian, berdasarkan penjelasan di atas, sepatutnya terjemahan ayat di atas akan menjadi seperti ini: “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara pasangan-pasangan kalian dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah…”.

Konklusi berdasarkan terjemahan di atas, sebagaimana sewaktu-waktu seorang istri akan bisa menjadi musuh dan menjerumuskan suami-nya ke dalam perbuatan yang tidak dibenarkan agama, begitu juga sebaliknya , seorang suami pun akan bisa menjadi musuh dan menjerumuskan istri-nya ke dalam perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama. Kesimpulan ini diambil karena kata ‘azwaj’ diartikan ‘pasangan-pasangan’, bukan hanya diartikan untuk istri saja. Dan sebagaimana kita tahu, pasangan dalam bahasa Indonesia pun digunakan untuk laki-laki dan perempuan (suami dan istri).

Kedua: Dalam realitanya apakah hanya istri saja yang menjadi musuh dan bisa menjerumuskan suaminya? Apakah tidak ada suami yang menjadi musuh dan menjerumuskan istrinya? Contoh gampangnya, Fir’aun suaminya Asiah. Atau para suami lainnya yang pada zaman sekarang ini telang melarang istrinya untuk mengenakan hijab (jilbab), padahal berbusana muslim merupakan perintah agama. Bisa kita lihat diberita ada suami yang menjual istrinya. Lantas apakah mereka (suami-suami tadi) bukan menjadi musuh bagi istrinya dalam ketatan kepada Allah SWT?

Ketiga: Apabila alasannya menerjemahkan kata tersebut dikarenakan kata ‘azwaj’ digandengkan dengan kata ganti jamak untuk laki-laki (‘kum’, dhamir jamak mudzakar) sehingga menjadi ‘azwajikum’, maka jawabnya ialah; dalam kaidah bahasa Arab (nahwu) ketika audiennya terdiri dari laki-laki dan perempuan maka akan menggunakan kata ganti jamak untuk laki-laki, walaupun jumlah mereka satu berbanding sepuluh. Maksudnya sepuluh perempuan dan seorang laki-laki.

Keempat: Audien ayat di atas adalah orang-orang yang beriman ‘Wahai orang-orang yang beriman…’ dan kita ketahui bahwa orang-orang yang beriman bukan monopoli laki-laki semata. Dan kalau alasannya lagi karena seruan di atas menggunakan kata ganti jamak mudzakar maka jawabannya seperti jawaban pada poin ketiga di atas. Dan selain itupun, beberapa perintah Allah menggunakan seruan seperti ayat tadi, yang maksudnya seruan tersebut ditujukan untuk laki-laki dan perempuan yang beriman. Hal itu dapat kita jumpai seperti pada ayat yang berkaitan dengan perintah puasa dan ayat-ayat lainnya.

Dari sini, demi menjaga amanat dakwah ajaran Ilahi, hendaknya DEPAG merevisi kembali penerjemahan versinya. Karena jika tidak, maka hal itu selain akan berimbas kepada ‘penyesatan pemahaman’ seseorang sewaktu mengkaji al-Quran, juga bertentangan dengan ‘amanat penerjemahan’, apalagi ini berkaitan dengan kitab suci al-Quran. Ini adalah sedikit contoh dari kerancuan penerjemahan versi DEPAG-RI. Kita berharap, ke depan, semoga DEPAG lebih teliti dalam menerjemahkan al-Quran al-Karim, kitab suci kaum muslimin. [ED]


Responses

  1. Telah ada dalam sebab Nuzul ayat ini
    Saudari, saya pernah diberitahu bahawa setiap ayat di dalam Al-Quran itu diturunkan berdasarkan sesuatu peristiwa. Jadi, barangkali benar pengertian “isteri-isteri” itu harus dikekalkan memandangkan ayat tersebut diturunkan berdasarkan suatu peristiwa yang berlaku di Mekah seperti berikut:

    “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isteri dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
    (Q.S At-Taghabun:14)

    Telah ada dalam sebab Nuzul ayat ini apa yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dan Hakim dan lainnya dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata :

    “Telah turun ayat ini (At-Taghabun-14) tentang suatu kaum dari ahli Makkah, mereka telah masuk Islam, lalu istri-istri mereka dan anak-anak mereka menolak ajakan mereka.
    Maka ketika mereka datang pada Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam di Madinah, mereka melihat orang-orang yang mendahului mereka dengan hijrah. Sungguh mereka telah pandai-pandai dalam urusan agama, maka mereka ingin menghukum istri-istri dan anak-anak mereka, lalu Allah turunkan pada mereka ayat :

    “Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Penyayang”
    (Q.S At-Taghabun : 14)

    Wallahualam…

    ————————————————————-

    Islam Feminis:
    Benar, setiap ayat diturunkan –pada proses penurunan bertahap (nuzul tadriji)- berdasarkan suatu peristiwa yang biasa diistilahkan dengan sebab-sebab turunnya (asbab nuzul) ayat. Asabab nuzul dapat menjadi salah satu faktor memahami ayat, tetapi bukan satu-satunya faktor. Justru sya’nu nuzul (kandungan penurunan ayat) yang sangat dominan dalam memahami ayat al-Quran. Jika kita hanya bertumpu pada asbab nuzul saja maka al-Quran akan kehilangan ke-otentik-kan dan ke-uptodate-annya. Justru dengan bertumpu lebih kepada sya’nu zunul maka keotentikan dan keuptodatean al-Quran akan terjaga. Dan memang, sebagian beranggapan bahwa ayat itu diturunkan berkaitan dengan Abu Lubabah pada saat pengepungan Yahudi Bani Quraidhah, di Madinah. Walaupun ada versi lain dari beberapa sumber berkaitan dengan sebab-sebab turunnya ayat ini.

    Perlu ditambahkan bahwa, cara terbaik untuk memahami sebuah ayat (dari sisi penafsirannya) adalah dengan menafsirkannya denga ayat lainnya (tafsir quran bil quran). Keutamaan proses penafsiran semacam ini juga diakui oleh Ibnu Katsir dalam mukadimah tafsirnya. Jika begitu maka apakah pengidentikkan istri (pasngan perempuan saja) yang menjadi obyek (musuh) dalam ayat ini akan sesuai dengan ayat-ayat yang lain? Tentu tidak bukan? Apakah sebagian suami juga tidak dapat dijadikan sebagai musuh, jika melanggar hukum-hukum Allah?

    Selain itu, yang kita ingatkan di sini dan perlu kita camkan baik-baik adalah, kita berbicara tentang ‘logika penerjemahan’ yang sesuai dengan kaidah bahasa Arab yang ada, bukan ‘logika penafsiran’. Bukankah di sini DEPAG ingin mengeluarkan ‘Terjemahan al-Quran”, bukan ‘Tafsir al-Quran’?

    Kami kira menggunakan kata ‘’pasangan’ tidaklah akan merubah makna ayat, karena kita dalam rangka menerjemahkan ayat bukan menafsirkan. Untuk mengetahui secara detail maksud dari tafsir ‘pasangan’ dalam ayat itu apakah maksudnya istri atau suami maka dalam hal ini merujuk tafsir ayat tersebut. Kecuali audiens ayat tersebut jelas sekali dan disebutkan dalam ayat tersebut, apabila menggunakan kata ‘pasangan’ akan merubah makna ayat, sebagai contoh dalam beberapa ayat , audiensnya secara jelas adalah Nabi Muhamad SAWW.

  2. ahsantum, sebaiknya hal ini di sampaikan ke pihak terkait. (misalnya Depag), dan komentar ini mungkin juga perlu dipublikasikan ke masyarakat ind, melalui media-media yang ada.
    meski ana sadari kekuatan media kadang kurang berpihak, tapi setidaknya ada proses mencobanya.
    Salam, terus berjuang…

  3. wah, keren tulisannya:)

  4. Tanggapan untuk SINDARALELLLALALLA;
    Memang benar bahwa dalam memamhami ayat, asbabunnuzul penting untuk diperhatikan. Tapi itu hanya dalam lingkup yang sangat terbatas. Mustahil suatu ayat turun hanya berdasarkan/berkutat pada asbabunnuzul. Asbababunnuzul hanya merupakan kejadian “sederhana” yang sekedar dijadikan skenario turunnya ayat. Namun lebih dari itu, pemahaman dari berbagai aspek lainnya akan sangat luas. INTINYA, pendapat tentang ZAUJ=pasangan rasanya lebih tepat untuk ayat ini, alias tidak seperti teremahan DEPAG yang an sich mengartikan ISTERI. Demikian pula dengan WALAD. Tapi karena ini tidak dibahas, ya cukup di sini saja. Eh….., ngomong2, ini bukan maksain pendapat. Sekedar buat nambah referensi. FRS_

  5. Oh iya lupa, saya mau menyampaikan info bahwa Al Qur’an terjemahan yang selama ini kita baca, baik terjemahan DEPAG atau lainnya memang banyal sekali tidak tepat dalam menterjemahkan. Bahkan ada yang bilang lebih EKSTREM lagi, bahwa terjemahan2 itu “menyesatkan” umat Islam. Tapi jangan lantas merasa tersesat, itu namanya lebih tersesat.

  6. betul, saya seringnya ngerasa kok alQur’an ga adil terhadap perempuan, karena saya ndak paham bhs arab, jd pemahasan seperti ini memang harus terus ada.

    ———————————————————

    Islam Feminis
    Kesalahan bukan berasal dari al-Qur’an itu sendiri, tapi bersumber dari penerjemahannya. Al-Qur’an merupakan kitab yang bersumber dari Yang Maha Sempurna dan Mengetahui eksistensi dan substansi manusia secara sempurna, karena Dia sebagai pencipta manusia. Untuk memahami al-Qur’an secara benar, maka tidak dapat dengan hanya mengambil ayat secara sepenggal. Kita harus menelaahnya secara menyeluruh firman-firman Allah, dan melihatnya dari segala segi.

  7. setuju…! sama dg trjemahan doa u kbahagiaan keluarga (Robbana hablana min azwazina, wazurriyatina qurrota a’yun,…) yg diartikan sbg pasangan “istri” thok, lha apa wanita gak butuh suami yg menentramkan hati?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: