Oleh: islam feminis | Januari 17, 2008

Peran Perempuan dalam Tragedi Asyuro (Bag-II)

 karbala2.jpg

Ummu Wahab, istri Abdullah bin Umair, mengambil tiang kemah dan diberikan kepada suaminya seraya berkata:”Wahai yang jiwaku sebagai tebusannya, berperanglah untuk membela keluarga Rasul”. Setelah suaminya syahid, ia meletakkan jenazah suami di pangkuannya. Syimr bin Dzil Zausyan–-laknat Allah SWT atasnya—memerintahkan budaknya untuk memukul kepala Ummu Wahab dengan tiang kemah tadi sampai akhirnya Ummu Wahab pun turut meneguk cawan kesyahidan sesuai impiannya. Ia adalah perempuan pertama yang syahid dalam membela Imam Husain as.

——————————————————–

Peran Perempuan dalam Tragedi Asyuro II

Oleh: Euis Daryati

Kedua: Pada Hari Asyuro

Hari Asyuro merupakan hari peperangan kedua pasukan yang tidak sebanding. Di satu pihak, pasukan Umar bin Sa’ad dengan bala tentara yang sangat banyak dan dilengkapi dengan persenjataan lengkap dan di pihak lain, pasukan Imam Husain as dengan tentara amat terbatas dan perlengkapan perang yang sangat sederhana. Sebenarnya peperangan antara pasukan Umar bin Sa’ad dan Imam Husain as di padang Karbala lebih pantas disebut sebagai “pembantaian” daripada peperangan.

Dalam pandangan Islam, jihad memang tidak diwajibkan bagi perempuan namun mereka dapat melakukan hal-hal yang dapat membantu terwujudnya kesuksesan dalam peperangan seperti memberikan semangat, merawat orang-orang yang terluka, membagi-bagikan air kepada tentara dan lain sebaginya. Demikian pula para perempuan ikut hadir di padang Karbala. Kendati mereka tidak mengangkat senjata dan berperang tetapi mereka melakukan hal-hal sesuai dengan kemampuan mereka dalam turut membela imam dan pemimpin mereka, al-Husain as. Berbagai aktivitas yang mereka lakukan pada hari itu, di antaranya:

1. Menemani para syuhada: Mereka memberikan motivasi dan support kepada para suami dan anaknya untuk maju ke medan perang. Seperti istri Zuhair bin Qin Bajali yang berhasil mempengaruhi suaminya yang beraliran Utsmani untuk menjadi pengikut dan pembela Imam Husain as hingga akhirnya kesyahidan diraihnya. Ummu Wahab, istri Abdullah bin Umair, mengambil tiang kemah dan diberikan kepada suaminya seraya berkata:”Wahai yang jiwaku sebagai tebusannya, berperanglah untuk membela keluarga Rasul”. Setelah suaminya syahid, ia meletakkan jenazah suami di pangkuannya. Syimr bin Dzil Zausyan–-laknat Allah SWT atasnya—memerintahkan budaknya untuk memukul kepala Ummu Wahab dengan tiang kemah tadi sampai akhirnya Ummu Wahab pun turut meneguk cawan kesyahidan sesuai impiannya. Ia adalah perempuan pertama yang syahid dalam membela Imam Husain as.[12]

2. Menenangkan jiwa anak-anak sehingga anak-anak tidak menghalangi ayah ataupun saudaranya untuk berjihad.

3. Berusaha untuk selalu menguasai diri: Dengan penguasaan diri mereka tidak cepat terpengaruh situasi dan kondisi kala itu. Memang Tuhan telah menganugrahkan kadar emosional lebih kepada perempuan berdasarkan hikmah-Nya sebagaimana yang telah banyak dibahas dalam makalah-makalah yang berkaitan tentang perempuan. Namun yang perlu diperhatikan adalah, seandainya para perempuan pada hari Asyuro tidak pandai menguasai dirinya maka para musuh Allah swt akan dengan mudah mengalahkan pasukan Imam Husain.. Mereka telah tampil dengan kokoh dan tegar walaupun kondisi kala itu sangat menyayat hati.[13]

4. Mentaati perintah Imam Husain as: Istri Abdullah Kalbi dan Ummu Wahab istri Abdullah bin Umair hendak ikut maju ke medan perang, namun mereka megurungkan niatnya karena ketaatan mereka terhadap perintah Imam Husain as. Sedangkan istri Junadah bin Haris Anshari segera kembali ke tendanya sesuai perintah Imam Husain as setelah ia berhasil membunuh dua orang tentara musuh. Setelah kesyahidan suaminya ia memerintahkan anaknya yang masih remaja, Amru bin Junadah Anshari untuk pergi berperang membela Imam Husain as. Musuh melemparkan kepala anaknya yang telah syahid ke pangkuannya. Selepas membersihkan debu dari kepala anaknya, kemudian ia memukulkan kepala tersebut ke salah satu kepala musuh yang berada di dekatnya hingga mati. Setelah itu ia pergi ke kemah untuk mengambil tiang kemah—sebagian mengatakan pedang—seraya membaca sya’ir perang:”Akulah seorang nenek tua yang sudah lemah, kurus dan tak berdaya. Akan kupukulkan pukulan keras kepada kalian demi membela keturunan Fathimah yang mulia”. Lalu ia menyerang musuh-musuh hingga dapat membunuh dua orang dari mereka. Setelah itu, Imam Husain as memerintahkan kepadanya untuk kembali ke tendanya, dan ia pun menta’ati perintah Imamnya.[14]

5. Tidak menangis dan besedih dikala para suami dan anak mereka mati syahid demi membela Imam Husain as. Hal itu karena mereka tahu bahwa gugur dalam membela Imam as merupakan amal kebajikan yang balasannya tiada taranya.

6. Menghibur para pejuang (mujahid) perihal masa depan keluarganya sehingga mereka tenang dalam berjihad.[15]

7. Merawat Imam Sajjad as: Memburuknya kondisi Imam Ali Zainal Abidin Sajjad beliau pada waktu itu merupakan hikmah Ilahi, demi keberlangsungan keimamahan pasca Imam Husain as. Jika tidak demikian, maka musuh-musuh Imam Husain as akan membantai habis dan tidak akan menyisakan seorang laki-laki pun dari keturunan Imam Husain as.

8. Mengemban wasiat Imam Husain as tentang keimamahan sepeninggal beliau: Ini merupakan tugas terpenting dan terberat di antara tugas-tugas lain yang mereka emban. Pada detik-detik menjelang berakhirnya tragedi Asyuro, Imam Husain as pergi menuju kemah anaknya, Imam Ali Zainal Abidin as yang sedang sakit keras untuk mengucapkan perpisahan dengannya. Beliau mengetahui bahwa ajalnya semakin dekat. Imam Husain as memasuki kemah, sementara Imam Sajjad as tengah terbaring dan tergeletak dalam keadaan sakit di atas tanah yang hanya beralaskan kulit yang sudah dikeringkan. Sayyidah Zainab al-Kubro sedang merawatnya. Sewaktu Imam Sajjad as melihat Imam Husain as datang, beliau hendak berdiri sebagai tanda penghormatan. Namun Imam Husain as tidak mengizinkannya untuk berdiri. Imam Sajjad berkata kepada bibinya, Sayyidah Zainab al-Kubro: “Sandarkan diriku pada dadamu, karena putra Rasul saww telah datang”. Sayyidah Zainab as pun menurutinya. Setelah itu Imam Husain as menanyakan kondisi kesehatannya. Terjadilah percakapan antara keduanya. Imam Sajjad as menanyakan tentang pamannya Abul Fadhl al-Abbas, semua saudaranya dan para sahabat. Imam Husain as menjawab: “Wahai anakku, ketahuilah, tidak ada laki-laki (dewasa) lain yang tersisa di antara kemah-kemah ini melainkan hanya aku dan engkau saja. Dan orang-orang yang telah engkau tanyakan tadi semuanya telah terbunuh dan terjatuh di atas tanah”. Mendengar hal tersebut Imam Sajjad as menangis dengan penuh kesedihan seraya berkata kepada bibinya, Sayyidah Zainab as: “Wahai bibiku, berikan kepadaku pedang dan tongkat”. “Untuk apa engkau menginginkan benda itu?” tanya Imam Husain as. Imam Sajjad as menjawab: “Aku ingin bersandar pada tongkat dan membela putra Rasulullah dengan pedang ini”. Namun Imam Husain as mencegahnya dan merengkuhnya seraya berkata: “Wahai anakku, engkau adalah sebaik-baiknya keturunanku, ithrahku yang paling utama…”. Setelah mengungkapkan keutamaan-keutamaan Imam Sajjad, lantas Imam Husain as memegang tangan Imam Sajjad as dan dengan suara lantang beliau berkata: “Wahai Zainab, wahai Ummu Kultsum, wahai Ruqayyah, wahai Fathimah dengarkanlah ucapanku dan ketahuilah; sesungguhnya anakku ini adalah khalifahku atas kalian semua dan Imam yang harus dita’ati”.[16] Wasiat Imam Husain as ini, dengan jelas menunjukkan keimamahan pasca beliau dan keimamahan ini harus dijaga dan disampaikan kepada masyarakat.

Setelah itu beliau melanjutkan ucapannya seraya berkata: “Wahai anakku, sampaikan salam dariku untuk Syi’ah (pengikut)-ku, dan katakan kepada mereka: “Sesungguhnya ayahku mati dalam keadaan terasing maka berdukalah untuknya, dan telah meninggalkan dunia fana ini dalam keadaan syahid maka menangislah untuknya”.

Terdapat dua misi penting yang berada di pundak para perempuan pasca tragedi Asyuro; menjaga keberlangsungan serta menyampaikan keimamahan pasca Imam Husain as—sebagaimana yang telah diwasiatkan oleh Imam Husain as—dan menyampaikan pesan Asyuro sehingga revolusi Asyuro pun menjadi lebih sempurna. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa para musuh Allah berkali-kali berusaha untuk membunuh Imam Sajjad as karena mereka tidak ingin seorang pun dari keluarga Imam Husain as hidup.

Bersambung…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: