Oleh: islam feminis | Desember 8, 2007

Duduk Santai Bersama ‘Imam Ali Khamanei’, Pemimpin Spiritual dan Politik Republik Islam Iran

khamenei.jpg

Beliau mengisyaratkan bahwa; “Kebebasan berpikir dan berpendapat haruslah tetap terjaga dan membudaya di kalangan Hauzah Ilmiah. Karena itu merupakan ciri khas Hauzah Ilmiah mazhab Syi’ah yang memberikan kebebasan berpikir dan berpendapat, kepada murid dan guru, selama masih tetap berada pada koridor adab Islam. Sebab dengan kebebasan berpikirlah ilmu akan semakin berkembang sehingga menelorkan pemikiran-pemikiran cemerlang baru”.

——————————————-

Duduk Santai Bersama ‘Imam Ali Khamanei’, Pemimpin Spiritual dan Politik Republik Islam Iran

imam-ali-khamenei.jpg

Tepatnya pada hari Kamis, enam orang dari kampus kami yang berasal dari Amerika, Rusia, Pakistan, Irak, Thailand, dan saya sendiri perwakilan dari pelajar Indonesia mendapat undangan untuk bertemu dengan Pemimpim Tertinggi Spiritual dan Politik Republik Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamanei di Husaeniyah (aula) Imam Khomaeni di Teheran. Kemudian kami bergabung dengan para akhwat Iran yang terdiri dari perwakilan para pelajar, dosen, peneliti, dan kepala sekolah Hauzah Ilmiyah Islam (Pusat Pembelajaran dan Penelitian Ilmu-Ilmu Agama Islam) Jamiah az-Zahra. Sewaktu kami melihat jadwal acara, ternyata acara tersebut merupakan acara ’Duduk Santai bersama Rahbar’ (nesyaysteh samimoneh hauzeh ilmiyeh bo rahbar) para pembesar dan tokoh-tokoh Hauzah Ilmiyah (Pusat Pembelajaran dan Penelitian Ilmu-Ilmu Agama Islam) dari berbagai penjuru Republik Islam Iran yang diwakili oleh kota Qom, Teheran, Masyhad dan Isfahan bersama Imam Ali Khamanei, pemimpim tertinggi spiritual dan politik Iran.

Kami berangkat menuju kota Teheran pada pukul 13:30, setelah melakukan shalat Dzuhur. Pada pukul 17:30 rombongan tiba di tempat pertemuan. Setelah melampaui petugas pemeriksaan, lantas kami memasuki tempat pertemuan. Karena setiba di sana tepat waktu shalat Magrib, setelah kami mengambil air wudhu, akhirnya kamipun mendirikan shalat Maghrib dan Isya’ secara berjamaah. Kemudian kami menunggu kedatangan Imam Ali Khamanei (Rahbar) dengan tidak sabar dan perasaan dag-dig-dug yang menguasai hati kami. Tepat pada pukul 18:00 malam beliau tiba di tempat pertemuan. Sewaktu beliau datang, secara spontan kami berdiri dan mengucapkan shalawat kepada Rasul dan keluarganya serta yel-yel berbahasa Persia “Allohuma shalli ala Muhammad buye Khomaeni omad” (Solawat atas Muhammad, semerbak wewangian Khomaeni telah tiba) untuk menyambut kedatangannya. Ini merupakan kebiasaan orang Iran ketika menyambut kedatangan orang besar semacam itu, dengan mengucapkan yel-yel. Kami pun berdiri secara berdesak-desakan ingin melihat beliau dari dekat sambil tidak henti-hentinya meneteskan air mata. Rasa haru dan bahagia memenuhi jiwa kami sewaktu melihat beliau, sehingga air mata tidak berhenti mengalir. Wajah beliau yang bersih dan bercahaya menebarkan senyum kepada kami serta mengucapkan selamat datang dengan melambaikan tangan kirinya. Perlu diketahui bahwa tangan kanan beliau tidak bisa berfungsi dengan baik, akibat terkena ledakan bom para teroris sewaktu beliau menyampaikan khutbah Jumat pada masa beliau masih menjabat sebagai presiden Iran. Tatapan penuh kharisma beliau menyejukkan jiwa kami, sehingga rasanya kami tidak ingin melepaskan pandangan kami darinya. Sewaktu memandang beliau kami teringat bunyi sebuah hadis Rasulullah yang berbunyi: “Memandang wajah ulama adalah ibadah”. Tentunya ulama yang dimaksud di situ adalah ulama yang ketika memandangnya akan dapat mengingatkan kita kepada Allah SWT. Dan terbukti, dengan memandang beliau mengingatkan kami pada Allah SWT.

Kemudian pembawa acara memulai acara tersebut. Acara berlangsung selama 4 jam yang dimulai dari pukul 18:00-22:00, waktu Iran. Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an dan berlangsung dengan baik dan santai, terlebih karena pembawa acaranya sangat piawai dalam membawakan acara yang kadang diisi gurauan, disela-sela acara tersebut. Acara duduk santai dengan Imam Ali Khamaneipun dimulai. Adapun susunan acaranya ialah pertama merupakan laporan para wakil dari berbagai bidang ilmu agama seperti dibidang Fikih, Filsafat, Teologi, Psikilogi Islam, Tafsir al-Qur’an, Ekonomi Islam, Teologi, Irfan (mistik) Teoritis, dan termasuk kondisi Hauzah Ilmiyah Perempuan seluruh Iran, kepala sekolah Hauzah Ilmiyah, tabligh dan kondisi pensosialisasian Al-Qur’an di Iran beserta hapalan Al-Qur’an, dan laporan salah seorang pelajar asing yang berasal dari Argentina yang ia mewakili pelajar asing dari 90 negara. Oleh karenanya, ia meminta waktu kepada pembawa acara lebih dari yang lainnya dengan nada gurau.

Setiap wakil tersebut diberi maksimal sampai 7 menit untuk menyampaikan laporan tentang kondisi masing-masing bidang, baik problem-problem yang dihadapi mereka maupun usulan jalan penyelesaiannya kepada Imam Ali Khamanei. Namun mayoritas berbicara sampai 10 menit, sampai-sampai pembawa acaranya dengan nada bercanda berkata: “Barangsiapa yang berbicara sesuai dengan waktu yang telah disediakan maka akan diberi hadiah”. Kami semua tertawa sewaktu mendengar gurauannya. Ternyata hanya seorang saja yang berbicara sesuai dengan waktu yang disediakan. Imam Ali Khamanei mendengar dengan seksama semua laporan, keluhan dan usulan para wakil tersebut. Tak lupa, beliaupun menulis sendiri poin-poin penting yang disampaikan oleh para pembicara. Kurang lebih selama 3 jam para wakil tersebut menghabiskan waktu untuk memberikan laporan.

Setelah pukul 21:00, laporan dari para wakilpun selesai. Kini giliran Imam Ali Khamanei yang menanggapi dan memberikan usulan serta solusi atas laporan-laporan tersebut. Satu jam lamanya beliau berbicara. Di kesempatan itu, selain menanggapi, memberikan usulan, serta memberikan solusi, beliau pun menyampaikan beberapa point penting yang kami kira dapat kita jalankan dalam kehidupan kita semua dalam mencapai kesuksesan dan kemajuan baik dalam kawasan kehidupan personal, keluarga, sosial bahkan negara sekalipun. Sayang sekali, dikarenakan alasan keamanan, kami tidak diperkenankan membawa rekaman, bahkan kami tidak membawa balpoin dan kertas sekalipun. Oleh karenanya kami harus dengan serius menyimak pembicaraan beliau dan menyimpannya di dalam otak. Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan poin-poin garis besar pembicaraan beliau:

1- Pentingnya ‘Berpikiran ke Depan’ (oyandeh negari). Beliau menyatakan; “Kenapa negara Iran bersikeras untuk memiliki reaktor nuklir? Karena Iran mengetahui, minyak bumi di alam ini tidak akan lama lagi akan habis, selain hak segenap bangsa untuk memilikinya untuk tujuan damai.. Jika negara tidak memikirkan energi pengganti minyak bumi maka sewaktu masa sulit tersebut tiba niscaya akan kelabakan. Oleh karena itu, sebelum masa itu tiba, para pejabat Iran bertanggungjawab untuk memikirkan pengganti minyak bumi demi keberlangsungan kehidupan generasi yang akan datang”, lanjutnya menegaskan. Kemudian beliau mengaitkan masalah hal ini dengan perkara Hauzah Ilmiyah Islam Iran, dimana Hauzah Ilmiyah (Pusat Pembelajaran dan Penelitian Ilmu-Ilmu Agama Islam) pun harus berpikiran ke depan serta memikirkan masa depan Hauzah Ilmiyah. “Andaikan Hauzah Ilmiyah tidak memikirkan masa depan serta kebutuhannya pada masa yang akan datang tunggulah kehancurannya. Oleh sebab itu, menerowong masa yang akan datang dan mencoba untuk melihat kebutuhan yang diperlukan pada masa itu, akan mendorong manusia untuk lebih maju dan bekerja keras”, tandasnya.

2- ‘Me-manage perubahan’ (mudiriyate tahawul). Beliau dalam masalah ini menjelaskan; “Perubahan merupakan perkara yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan manusia. Ia merupakan hal yang pasti, hanya saja bagaimana kita me-manage perubahan tersebut. Karena terdapat perubahan yang benar yang tidak benar. Dengan segala ragam perubahan yang ada pada kehidupan manusia, baik itu perubahan pada waktu, gaya hidup, kebutuhan, dan lain sebagainya. Andaikan seseorang tidak mengikuti perubahan zaman yang ada maka ia tidak terlepas dari dua kemungkinan berikut ini; Akan segera binasa, atau tetap bertahan hidup namun akan tersingkir dari lingkungannya. Dengan bergulirnya zamannya segala sesuatu akan mengalami pasang surut. Pada masa lalu, puncak kejayaan Hauzah ilmiah berada di kota Hill (salah satu kota di Irak, red) dengan keberadaan para ulama terkenalnya seperti Allamah Hilli. Para ulama dari berbagai bidang dan mazhab datang untuk saling mengadakan tukar-menukar keilmuan dan berdiskusi ilmiah sehingga ilmu-ilmu Islam di sana berkembang dengan pesat. Tetapi sekarang, Hauzah ilmiah tersebut hanyalah tinggal nama. Setelah itu pusat Hauzah ilmiah pindah ke kota Najaf (juga berada di Irak, red). Berbagai ilmu-ilmu agama ditimba di sana dan para pelajar dari berbagai penjuru dunia datang untuk menuntut dan memperdalami ilmu-ilmu Islam. Berbagai bidang ilmu keislaman berkembang pesat di Hauzah ilmiah tersebut. Dan telah banyak melahirkan ulama-ulama kelas papan atas dan berbobot dari berbagai disiplin ilmu. Namun sekarang hauzah tersebut, walaupun masih tetap eksis, Hauzah Najaf tidak seperti kejayaannya pada masa lalu”. Lantas beliau melanjutkan; “Hauzah ilmiah Qom pun akan mengalami seperti itu apabila tidak mengikuti perubahan dan tuntutan zaman. Hauzah ilmiah Qom sekarang sebagai pusat Hauzah ilmiah dan mengalami kejayaan, para pelajar datang dari berbagai penjuru dunia untuk menimba ilmu keislaman di kota suci ini. Berbagai bidang ilmu, seperti Filsafat, Teologi, Fikih, Sejarah Islam, Tafsir al-Qur’an, Psikologi Islam, Irfan Teoritis dan lain sebagainya mengalami perkembangan pesat di Hauzah ilmiah Qom”. Beliau menandaskan; “Namun apabila Hauzah ilmiah tidak mengikuti perkembangan dan tuntutan zaman maka tunggulah masa keruntuhannya.. Oleh karena itu, Hauzah ilmiah hendaknya me-manage perubahan tersebut, sehingga ia tidak akan sirna ditelan masa atau tersingkir. Karena perubahan merupakan hal yang pasti dan tidak dapat dihindari tinggal bagaimana kita me-managenya, menjadi perubahan yang benar”.

3- Planing yang tepat (barnmehrizi shahih). Beliau menegaskan bahwa; “Adanya keharusan untuk kembali menelaah program-program yang terdapat dalam Hauzah ilmiah. Termasuk dalam hal-hal yang berkaitan dengan bidang mata pelajaran, ijazah, buku pegangan dan hal lainnya yang berhubungan dengan Hauzah ilmiah. Apakah program-program tersebut masih sesuai untuk zaman sekarang atau tidak”. Sebagai contoh, beliau mengusulkan agar kitab-kitab pegangan dalam bidang fikih seperti kitab al-Makasaib al-Muharramat (plural dari kata kasbun, yang artinya ialah berbagai jual-beli yang dilarang, red) karya Syeikh Murtadha al-Anshari dirubah metode penulisan kitab tersebut agar lebih mudah dipahami lagi oleh para pelajar agama, (cara penyampaian dalam kitab al-Makasib agak ruwet dan perlu konsentrasi lebih dalam mempelajarinya, dan terkadang kita tidak mengetahui pendapat Syeikh Anshari sendiri bagaimana? Karena beliau memang sedang mengajarkan bagaimana cara berijtihad dan melatih insting ijtihad seorang pelajar, sebagaimana metode yang terdapat dalam kitab Al-Mughni (dalam ilmu Nahwu karya Ibnu Hisyam, red). “Karena yang terpenting bagi para pelajar ialah memahami isi kitab tersebut”, tegasnya. Dan ini semua memerlukan planing yang tepat.

4- Kebebesan Berpikir (ozod andisy). Beliau mengisyaratkan bahwa; “Kebebasan berpikir dan berpendapat haruslah tetap terjaga dan membudaya di kalangan Hauzah Ilmiah. Karena itu merupakan ciri khas Hauzah Ilmiah mazhab Syi’ah yang memberikan kebebasan berpikir dan berpendapat, kepada murid dan guru, selama masih tetap berada pada koridor adab Islam. Sebab dengan kebebasan berpikirlah ilmu akan semakin berkembang sehingga menelorkan pemikiran-pemikiran cemerlang baru”. Beliau mencontohkan sosok Imam Khomaeni (pemimpin revolusi Iran, red); “Pada masa beliau, pelajaran filsafat belum dapat diterima secara meluas di kalangan Hauzah Ilmiah, khususnya di Hauzah Ilmiah kota Masyhad. Sementara Imam Khomaeni belajar dan bahkan menguasai filsafat transtendental (al-Hikmah al-Muta’aliyah al-Ilahiyah) Mulla Sadra. Bahkan dapat dikatakan bahwa Imam Khomaeni sebagai perwujudan filsafat transendental Mulla Sadra itu sendiri. Beberapa ulama besar dalam hal ini tidak sependapat dengan beliau. Namun dalam hal lain, para ulama tersebut, ketika revolusi menang dan tentang konsep negara Islam mereka sangat mendukung Imam Khomaeni. Bolehlah berbeda pendapat dan pemikiran dengan memiliki argumen-argumen yang benar dan tidak keluar dari pondasi-pondasi dasar Islam, namun dalam hal lain harus tetap bersatu. Karena kebesan berpikir dan berpendapat akan menjadi sarana untuk menghasilkan ide-ide yang gemilang dan bahkan cabang-cabang ilmu baru”.

Setelah acara selesai, kami menyantap makan malam bersama beliau. Walaupun untuk kedua kalinya saya ikut pertemuan dengan Imam Ali Khamanei, namun karena pada pertemuan pertama, disebabkan saya baru belajar bahasa Persia sehingga tidak dapat menikmati dan memahami pembicaraan dan wejangan-wejangan beliau dengan sempurna. Selain itu, pada pertemuan pertama, secara kuantitas jumlah pengunjung sangat banyak dan berdesakan sehingga tidak dapat melihat beliau dari jarak dekat. Pertemuan kedua ini sangat menyenangkan, berkesan dan meninggalkan kenangan manis dalam hidup saya. Karena sewaktu saya mendapatkan undangan untuk pertemuan, awalnya sekolah tidak mengizinkan saya untuk pergi dengan alasan bahaya bagi ibu hamil muda yang pernah mengalami keguguran. Saat itu, saya langsung pergi ke dokter spesialis tempat tiap bulan saya mengecek kehamilan saya dan menanyakan hal ini. Alhamdulillah, beliaupun mengizinkan dan bahkan mengatakan bahwa; “Ini merupakan perjalanan dan pertemuan yang penuh berkah yang tidak semua orang bisa mendapatkannya”. Sayapun meminta pertolongan kepada Allah SWT dengan beristikharah kepada-Nya dengan memakai Al-Qur’an, apakah perjalanan ini baik atau tidak bagi saya? Ternyata ayat Al-Qur’anpun mengizinkan saya untuk itu. Ayat yang keluar ialah ayat yang sangat bagus dan berbunyi: “Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan dia adalah Maha Penyanyang diantara para penyanyang.” (QS Yusuf:64) Akhirnya sekolah memberikan ijin kepada saya dengan syarat membawa surat keterangan izin dari suami agar jika terjadi hal yang tidak diinginkan pihak kampus \tidak bersedia untuk dituntut.

Pertemuan kedua ini, adalah pertemuan yang sangat penuh berkah dan sangat memuaskan, selain pengunjungnya tidak terlalu banyak sehingga kami bisa melihat Imam Ali Khamanei dengan jelas dan sayapun dapat memahami semua wejangan-wejangan beliau yang senantiasa bagaikan pelita yang akan menerangi kehidupan kami. Setelah acara tuntas kamipun kembali menuju kota suci Qom. Kami tiba di kota Qom pada pukul 1:00 dinihari. Sesampai di rumah, saya disambut oleh suami dan puteri saya yang belum tidur karena khawatir dengan kondisi saya.

“Ya Allah, jagalah senantiasa Imam Ali Khamenei, panjangkanlah umurnya dan berkatilah hidupnya”. Amiin

ED/ Islamfeminis


Responses

  1. subhanallah. betapa bahagianya anti, wahai Muslimah. Betapa inginnya aku memandang wajah Pemimpin kita. Ya Allah semoga Engkau melindungi dan memanjangkan umur Beliau. Amiien….

  2. Mudah-mudahan semuanya mendapatkan taufik seperti ini! Amiin

  3. Salam…Izinkan saya menyiarkan tulisan yang mengujakan ini di blog saya.Mamnun.

  4. Salam kembali…
    Silahkan….boleh lah
    Khahesy mikunam

  5. Saya sedang mencari jati diri keislaman yang sesungguhnya, maukah anti berbagi pencerahan bersama saya? Syukron

    ——————————————————————————-

    Islam Feminis:
    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas kunjungannya, dan juga terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan kepada saya. Untuk mewujudkan hal itu, kita dapat berhubungan lewat e-mail.

  6. Wah subhanallah ketemu ulama beneran.
    Jadi ikut meneteskan air mata. Boleh dong titip bimbing anak-anak kami ikut belajar agama di hauzah2 di Iran. Bisa kasih tahu prosesnya? Bersentuhan dgn buku, bulletin, & literatur syiah cukup sering, ttpi brttp muka lgsng & berdiskusi dgn ulamanya sm skali tdk prnah. Kcuali K Jalal skali dua sj prnh ikt pngajiannya, itupun dulu skdr penasaran. T Euis ni orang bdg jg ya?

    ——————————————————————————

    Islam Feminis:

    Alhamdulillah…diberi taufik oleh Allah SWT dapat bertemu langsung dengan Imam Ali Khamanei.
    Sekarang pengiriman pelajar ke Iran prosedurnya sudah diserahkan ke ICC- AlHuda Jakarta. InsyaAllah mudah-mudahan anak-anaknya kelak bisa belajar ke pusatnya ajaran Ahlul-Bayt as.
    Abdi ti Majalengka, tapi caroge ti Malang (JATIM), abdi masih neraskan pelajaran di Iran sareung caroge. Hatur nuhun Teteh tos sumping ka blog abdi…

  7. waduh beruntungnya pernah bertemu dengan Imam Ali khamenei.
    Kalo saya harus puas dengan lihat foto dan posternya. Senyumnya yang sejuk dan wajahnya yang bersih bersinar.
    Semoga Allah berikan kesehatan kepada beliau dan panjangkan umurnya untuk tetap terus bimbing umat…!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: