Oleh: islam feminis | November 17, 2007

Terima Kasih Sayang, Engkau memang sangat Baik…!

buanga-ku.jpg

Hal ini pun hendaknya dilakukan dihadapan anak-anaknya sehingga mereka pun dapat belajar dari kedua orangtuanya dalam memberi penghargaan dan penghormatan kepada orang yang berbuat baik dan bekerja keras. Sehingga kita tidak perlu repot-repot mengajarkan memberikan penghargaan kepada orang lain kepada anak-anak kita. Karena mereka telah melihat pelajaran tersebut secara praktis, bukan hanya sekedar anjuran teoritis dan doktrinal belaka.

———————————————-

Terima Kasih Sayang, Engkau memang sangat Baik…!

Teringat kejadian sewaktu kami pergi mengunjungi rumah paman dan untuk beberapa hari kami tinggal di rumahnya. Kebetulan suami saya adalah orang yang walaupun tanpa diminta, orangnya suka membantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Kala itu, tanpa dimintai bantuan, ia pergi ke dapur membantu saya untuk membuat sambal dan memotong-motong bahan masakan. Tak lama sewaktu menyaksikan pemandangan seperti itu paman saya langsung menegurku sembari berkata: “Euis, bagaimana sih suaminya kok disuruh kerja di dapur. Pekerjaan dapur bukan pekerjaan seorang suami”, ujarnya dengan serius. “Paman, saya tidak menyuruhnya untuk memasak. Dia sendiri yang mau mengerjakannya”, jawabku. Memang di kampung saya selama saya hidup tidak pernah melihat seorang laki-laki -baik itu sudah menikah maupun masih single- membantu ibunya ataupun istrinya dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Bahkan menganggapnya sebagai hal yang aib jika seorang laki-laki mengerjakan pekerjaan rumah, walaupun suami atau lelaki tadi seorang pengangguran. Ia akan akan menuntut kepada istrinya segalanya; makan serba sedia, pakaian serba sedia pakai, rumah sudah bersih, belum lagi keharusan mengurus anak. Ia tidak ingin membantu sedikitpun istrinya dalam mengerjakan pekerjaan rumah, padahal ia kala itu lagi tidak ada kerjaan bahkan pengangguran sekalipun.

Salah satu kawan saya memiliki empat orang saudara laki-laki dan dia merupakan anak perempuan pertama. Sejak pagi hari ia sudah sibuk membersihkan rumah, memasak, mencuci piring, membereskan bekas makan dan mencuci pakaian seluruh keluarganya, tanpa dibantu sedikitpun oleh salah satu saudara lakinya. Padahal mereka selalu memakai pakaian dan celana jins yang sulit untuk dicuci sampai-sampai ia bilang kepadaku: “Aku nanti tidak ingin punya suami yang suka memakai celana jins, capek nyucinya”. Ia akan memulai pekerjaannya setelah melakukan shalat subuh hingga pukul 10-11 siang. Para saudara laki-lakinya santai-santai saja tinggal makan, tidur, memakai pakaian yang sudah siap pakai. Budaya kampung saya tidak membiasakan para anak laki-laki untuk melakukan pekerjaan rumah, katanya itu merupakan kawasan domestik perempuan. Bahkan sebagian para suami berkata: “Buat apa punya istri kalau kita harus mengerjakan pekerjaan rumah. Punya istri fungsinya biar kita tinggal dilayani”, katanya.

Saya kira, budaya kaku tersebut tidak terjadi di semua tempat. Sejak kecil anak-anak perempuan dituntut melaksanakan pekerjaan rumah. Sementara anak-anak lelaki dibiarkan santai dan tidak pernah menyentuh pekerjaan rumah, walau hanya mencuci bajunya sendiri misalnya. Sehingga ketika anak lelaki tersebut telah meninjak usia dewasa dan menjadi seorang suami maka ia akan membawa budaya ‘tinggal dilayani’ di keluarganya, dan menuntut serba sedia kepada istrinya tanpa sedikitpun membantu dan meringankan pekerjaan rumah istrinya.

Padahal apabila kita merujuk ke ajaran Islam dengan melihat berbagai riwayat dan kehidupan pemimpin Islam seperti Nabi Muhamad SAWW dan para Imam AS, tidaklah terjadi pembagian kerja yang sangat kaku. Meskipun dalam sejarah dikatakan bahwa, Imam Ali AS dan Sayidah Fathimah Zahra AS telah membagi tugas dalam pekerjaan mereka, semua pekerjaan luar rumah dilakukan oleh Imam Ali AS, sementara pekerjaan dalam rumah dilakukan oleh Sayidah Fathimah Zahra AS, namun sesekali waktu dengan melihat kondisi Imam Ali AS tidak segan-segan ikut membantu istri tercintanya Sayidah Fathimah Zahra AS dalam menyelesaikan pekerjaan rumah. Padahal keluarga itu juga memiliki seorang pembantu. Semua itu dilakukan salah satunya adalah untuk menambah kehangatan hidup berkeluarga.

Pada suatu hari, Imam Ali AS sedang menumbuik gandum dengan Sayidah Fathimah Zahra AS. Kemudian Rasulullah SAWW datang ke rumah mereka. Menyaksikan pemandangan seperti itu, lantas Rasulullah SAWW bersabda: “Siapakah di antara kalian yang lebih capek?”. Imam Ali AS menjawab: “Fathimah lebih capek dariku wahai Rasulullah!”. Lantas Rasulullah menumbuk gandum menggantikan Sayidah Fathimah Zahra AS.

Oleh karena itu, salah satu cara agar hubungan keluarga dan suami istri semakin harmonis ialah saling membantu dalam menyelesaikan pekerjaan rumah. Pekerjaan rumah, tidak seperti pekerjaan lainnya yang terdapat kata libur dan istirahat. Seorang istri dari sejak pagi hari sampai malam hari mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Pekerjaan rumah mulai dari membersihkan rumah, memasak, memandikan anak-anak, memberi makan anak-anak, melayani suami dan setumpuk pekerjaan rumah lainnya ialah pekerjaan rutinitas yang sedikit banyaknya jika tidak dilakukan karena kecintaan terhadap anak dan suami akan menimbulkan kejenuhan pada jiwa sang istri.

Walaupun secara hukum fikih mengerjakan pekerjaan rumah bukanlah merupakan kewajiban seorang istri –lihat, di artikel yang berjudul, “Menjawab Mis-Understanding antara Hak dan Kewajiban-, namun kita mengetahui bahwa hubungan suami-istri dan kehangatan keluarga tidak hanya dapat berpondasikan pada hak-hak dan kewajiban saja. Salah satu anjuran agama agar kehangatan keluarga tetap terjaga ialah dengan menghimbau kepada seorang suami membantu istri dalam mengerjakan pekerjaan rumah, walaupun hanya sekedar memegang anak ketika istri sibuk memasak atau bahkan ikut membantu istri dalam menyediakan hidangan di meja makan. Ikut membantu istri dalam melaksanakan pekerjaan rumah tidak akan menurunkan wibawa seorang suami di hadapan istri atau seorang ayah di hadapan anak-anaknya. Justru istri akan merasakan juga bahwa suaminya sangat mencintainya. Begitu juga anak-anak akan semakin hormat kepadanya, hubungan antara mereka dengan ayahnya akan semakin hangat dan mereka akan merasakan betapa dekat ayahnya dengan mereka yang berakhir pada perasaan betapa ayahnya sangat mencintainya. Terkhusus pada hari libur yang merupakan hari bersama dan hari keluarga. Mengerjakan pekerjaan rumah secara bersama-sama sangatlah menyenangkan dan membuat hubungan keluarga semakin erat.

Seorang suami yang baik dan bijak, tidak akan santai dan enak saja sewaktu menyaksikan istrinya sedang sibuk dengan setumpuk pekerjaan, sementara ia duduk santai menontonnya. Ia akan merasakan bahwa kehidupan keluarga merupakan kehidupan milik bersama. Dengan senang hati ia akan membantu meringankan pekerjaan istrinya. Apabila merujuk ajaran Islam, pahala melayani pasangan hidup bukan monopoli seorang istri saja. Seorang suami dapat mendapatkan pahala melayani istrinya. Rasulullah SAWW bersabda: “Barangsiapa yang melayani keluarganya sementara ia tidak mengadunya, hal ini akan menjadi penghapus dosa-dosa besar, peredam kemurkaan Allah SWT, mendapatkan bidadari, penambah kebaikan dan derajatnya.” Dalam hadis lain beliau pun bersabda: “Setiap suami yang membantu istrinya dalam mengerjakan pekerjaan rumah maka akan ditulis pahalanya seperti pahala orang yang syahid di jalan Allah SWT. ” [Biharul-Anwar, jilid 104, halaman 132, dinukil dari buku Raze Esyq –rahasia cinta pasangan suami istri- halaman 17]

Selain dianjurkan agar saling membantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah, terdapat hal lain yang kelihatannya sepele namun jika kita amalkan akan memberikan warna lain terhadap kehidupan suami istri. Yaitu berupa ungkapan-ungkapan manis seorang istri terhadap suaminya, ataupun sebaliknya, seorang suami terhadap istrinya. Kenapa ketika kita masih di awal-awal usia pernikahan sebegitu romantis terhadap pasangan kita. Akan tetapi setelah beberapa tahun dari usia pernikahan, tiada lagi ungkapan kata-kata manis dan sangat berat untuk mengucapkannya pada pasangan hidup kita. Padahal hal itu tidak saja diperlukan pada awal-awal usia pernikahan. Semua itu merupakan sebuah bentuk penghormatan dan penghargaan pada pasangan kita yang akan memompa semangat dan menyegarkan jiwanya, untuk kelanggengan keharmonisan rumah tangga.

Tidak ada salahnya ketika seorang istri menyambut suaminya yang baru pulang dari tempat kerja. Ucapkan kepadanya: “Selamat datang sayang (papa/abah), semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan dan kesehatan kepadamu!”. Bahkan tidak hanya terbatas ketika seorang suami kembali dari tempat kerja yang jelas-jelas pasti merasa lelah. Bahkan sewaktu seorang suami setelah selesai mengerjakan sebuah pekerjaan apapun termasuk ketika selesai membantu pekerjaan rumah, ucapkanlah terima kasih kepadanya, sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas pekerjaannya; “Terima kasih papa/abah, papa ini memang baik banget! Mama akan selalu mendoakan papa semoga Allah SWT selalu melindungi papa!”. Ungkapan kata terima kasih, walaupun itu nampak merupakan hal yang ringan tetapi akan memberikan efek positif yang besar dalam jiwa manusia. Karena sekecil dan seremeh apapun suatu pekerjaan jika dihargai maka akan memberi pengaruh kepada pelaku pekerjaan tersebut. Cinta untuk dihargai dan dihornati merupakan fitrah dan ciri alamiah manusia. Setiap manusia akan merasa senang apabila kerja kerasnya dihargai dan dihormati oleh orang lain. Ungkapan terimakasih kepada pelaku pekerjaan baik menniscayakan terimakasih pula kepada Sang Pencipta. Bukankah dalam sebuah hadis pernah dikatakan “Barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada makhluk (pelaku pekerjaan .red) berarti ia tidak berterima kasih kepada Khalik (Tuhan)”.

Begitupula seorang suami terhadap istri. Janganlah dikira pekerjaan rumah merupakan pekerjaan rutin seorang istri yang tidak perlu untuk dihargai. Walaupun kami yakin bahwa para istri mengerjakan pekerjaan rumah bukan untuk dipuji atau dihargai orang lain. Akan tetapi ia lakukan karena kecintaan terhadap Allah SWT dan keluarga. Namun tidak ada salahnya seorang suami berusaha untuk menghargai kerja kerasnya, sehingga ia tambah bersemangat dalam melaksanakannya. Janganlah segan-segan ketika istri selesai mengerjakan pekerjaan rumah tangga katakan padanya: “Terima kasih sayang (mama/umi), semoga Allah SWT senantiasa memberikan berkah dan kekuatan pada mama.” Tentunya hal ini bukan dilakukan dengan dibuat-buat, akan tetapi benar-benar keluar dari hati sanubari. Hal ini pun hendaknya dilakukan dihadapan anak-anaknya sehingga mereka pun dapat belajar dari kedua orangtuanya dalam memberi penghargaan dan penghormatan kepada orang yang berbuat baik dan bekerja keras. Sehingga kita tidak perlu repot-repot mengajarkan memberikan penghargaan kepada orang lain kepada anak-anak kita. Karena mereka telah melihat pelajaran tersebut secara praktis, bukan hanya sekedar anjuran teoritis dan doktrinal belaka.

Jika kita menginginkan keluarga kita menjadi keluarga yang tenang (sakinah) dan penuh kasih sayang (mawaddah wa rahmah) sebagaimana yang diidamkan semua keluarga, tidak ada salahnya kita mencoba menjalankan pesan-pesan agama ini dalam kehidupan berkeluarga. InsyaAllah keluarga kita semua menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.

[ED / Islam Feminis]


Responses

  1. Ternyata baca2 blog ini, teringat terus dengan sajak2 Abuya Syheikh Imam Ashaari At Tamimi

    Keluarga Bahagia

    Keluarga bahagia menjadi cita-cita semua

    Bapa bertanggungjawab ibu pengasih mengurus rumahtangga

    Anak-anak taat setia mendengar kata

    Bekerjasama bertolong bantu bersama ibu bapanya

    Tuhan sama-sama disembah syariat peraturan keluarga

    Ada masalah sama-sama menyelesaikannya

    Al Quran As Sunnah tempat rujukan mereka

    Setelah dijumpa sama-sama mengikutnya

    Selesailah masalah keluarga tanpa berpanjangan

    Kerana sama-sama taat dengan Tuhannya

    Ada masalah lagi diselesaikan pula

    Al Quran dan As Sunnah jugalah tempat rujukan

    Berkasih sayang rukun rumahtangga

    Kerana Tuhan sama-sama ditakuti dan dicintai bersama

    Takutkan dan cintakan Tuhan rahsia bahagia

    Iman dan taqwa berkasih sayang kekuatan bersama

    Tidak ada iman, taqwa, kasih sayang tidak akan ada

    Uang dan harta sumber porak-peranda

    Carilah kekayaan bukan untuk dicintai

    Tapi untuk khidmat sesama manusia

    Biasanya pepecahan rumahtangga Tuhan tidak diambil kira

    Masing-masing ikut akal dan nafsunya

    Syariat Tuhan diabaikan keluarga

    Aman damai punah hidup celaka

    2.6.2004 – 4

    Menjelang Asar

  2. Ibu Penyejuk Hati

    Ibu penyejuk hati, bapa penyemangat jiwa

    Bapa pembangun jiwa, ibu penyuburnya

    Anak-anak selalu dengan ibu, jagalah akhlak mereka

    Melalui pengajaran, melalui didikan, yang paling berkesan melalui teladan

    Bapa jarang ada di rumah, jadikanlah tempat rujuk sahaja

    Apabila ada masalah di dalam keluarga, tanyalah bapa

    Melalui ibu sebagai perantaraan berilah tahu kepadanya

    Tiada salah kalau anak-anak terus direct kepadanya, asalkan jaga adab-adabnya

    Segala sifat-sifat mahmudah latihlah di rumah, di sekolah menambahnya

    Latihlah mereka beribadah, disiplinkanlah sembahyangnya

    Ajak mereka bekerjasama mengurus rumahtangga

    Programkan kerja-kerja mereka, di samping kerja-kerja sekolahnya

    Anak-anak berilah kasih sayang, tapi jangan terlalu dinampakkan

    Kecuali yang kecil-kecilnya

    Latih juga di kalangan mereka berkasih sayang sesamanya

    Bertolong bantu, bermaaf-maafan, bertolak ansur dan berlebih kurang ajarlah juga

    Wujudkan di dalam keluarga, ibu dan ayahlah modelnya, mereka akan menirunya

    Galakkan makan bersama di dalam institusi keluarga

    Ajar mereka adab-adab dan disiplin-disiplinnya

    Tidur baring mereka, membaca dan rehat tunjuklah juga cara-caranya

    Agar keluarga terurus, disiplin ada, wujud harmoni

    Itulah syurga rumahtangga, sebelum Syurga di Akhirat sana

    SelepasAsar

    3.5.97

  3. bagus visit http://melayu.husayniya.org/

  4. Assalamu alaikum

    Saya teringat pesan ibu saya kepada anak-anak laki-laki beliau. pertama, jangan menyakiti perempuan, siapapun itu. Alasannya sederhana, perempuan adalah simbol spiritualisme, karena itu pula Rasulullah SAW mengamanati kita untuk menghormati ibu, dan berupaya menjaga kehormatan mereka. kedua, usahakan agar sebagai suami mau mengerjakan tugas-tugas yang berat agar tidak membebani istri. Seperti mencuci baju, tampaknya sepele, namun berat. karena itu lebih baik jika suami yang memiliki fisik lebih kuat yang melakukan.

    Saya terilhami nasihat ibu ini mencoba memahami : dalam sebuah arti, kita harus berani keluar dari pandangan umum tentang bagaimana memperlakukan pasangan dalam keluarga. Istri yang selama ini lekat dengan istilah dapur-sumur dan kasur sebenarnya tidak sepenuhnya tepat. untuk sebuah keharmonisan, seorang suami harus mau mengambil peran pada tugas-tugas yang lebih sering dinilai sebagai tugas perempuan. Saling berbagi, dan saling memberi itulah yang terpenting.

    Salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: