Oleh: islam feminis | September 12, 2007

Hijab; sebuah Telaah Umum

polwan-iran.gif

Menggunakan hijab merupakan suatu permasalahan yang berhubungan dengan hukum dan aturan kehidupan manusia, baik hubungan manusia dengan Khaliq-nya, diri sendiri maupun orang lain. Di satu sisi, hijab merupakan aturan Ilahi. Di sisi lain ia juga merupakan aturan manusia dan juga merupakan kebutuhan dirinya. Alangkah baiknya jika sang pengguna hijab mengetahui dengan benar alasan penggunaan hijab. Mengetahui faedah, kemuliaan dan kewajiban hijab akan mendorong sang pengguna untuk berpegang teguh dalam menjaga hijabnya.

————————————–

Hijab; sebuah Telaah Umum

Oleh: Husna Thahirah

 

“Katakanlah kepada wanita yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung di dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra putra suami mereka atau saudara-saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka…” (QS. an-Nur: 31)

Muqadimah

Dilihat dari bentuk fisik, hijab hanya merupakan pakaian penutup bagi wanita. Tapi di sisi lain, ia memiliki makna lebih dari itu. Hijab juga memberikan nilai ruhani (spiritual) dan dapat membentuk kehidupan yang lebih baik bagi pemakai hijab itu sendiri dan lingkungannya.

Menggunakan hijab merupakan suatu permasalahan yang berhubungan dengan hukum dan aturan kehidupan manusia, baik hubungan manusia dengan Khaliq-nya, diri sendiri maupun orang lain. Di satu sisi, hijab merupakan aturan Ilahi. Di sisi lain ia juga merupakan aturan manusia dan juga merupakan kebutuhan dirinya. Alangkah baiknya jika sang pengguna hijab mengetahui dengan benar alasan penggunaan hijab. Mengetahui faedah, kemuliaan dan kewajiban hijab akan mendorong sang pengguna untuk berpegang teguh dalam menjaga hijabnya.

Defenisi Hijab

Satar atau yang sering juga dikenal sebagai hijab, dalam bahasa Arab sama-sama memiliki makna penutup.[1] Lalu apakah hijab hanya diperuntukkan bagi muslim saja atau tidak? Hijab sebenarnya diperuntukkan bagi siapa saja, hanya saja muslim mengenakannya karena merupakan sebuah kewajiban, sedang orang-orang selainnya dikarenakan adat atau hanya untuk bergaya. Hijab dikenal sebagai pakaian wanita yang menganut agama samawi atau yang tidak beragama sekalipun. Kegunaan hijab berubah dengan adanya tujuan yang berbeda-beda serta adat istiadat yang ada, sehingga jadilah hijab sebagai hiasan. Sedang yang dimaksud Islam bahwa wanita diwajibkan berhijab yaitu: wanita harus menutup seluruh auratnya kecuali wajah dan tangan dari pandangan orang-orang yang bukan muhrimnya.

Sejarah Hijab

1. Sebelum datangnya agama samawi:

Sebenarnya tidak diketahui secara pasti kapan hijab itu dikenakan dan muncul dari mana, hanya saja dapat diperkirakan bahwa sebelum datangnya agama, hijab sudah dikenakan dan dikenal di kalangan para wanita. Gambar-gambar bersejarah peninggalan zaman Fir’aun memperlihatkan bahwa wanita-wanita zaman itu menggunakan penutup kepala. Hijab juga dikenakan oleh orang orang Yunani, Arab, Yahudi dan India. Sedangkan pada zaman Arab jahiliah, laki-laki dan perempuan sama-sama mengenakan hijab (walaupun namanya berbeda tapi fungsinya sama). Orang-orang Arab sendiri memang menganggap hijab sebagai lambang kemuliaan dan martabat bagi wanita yang mengenakannya, sehingga tak heran jika pada zaman itu pun banyak wanita yang mengenakan hijab. Selain itu, hijab juga merupakan pakaian yang sering digunakan oleh orang-orang Arab untuk menghindari badai, angin dan debu yang beterbangan saat mereka melakukan perjalanan

2. Ketika datangnya agama samawi:

Saat itu, hijab sering digunakan oleh wanita yang menganut agama samawi untuk beribadah dan penyucian diri. Dalam kepercayaan mereka, hijab merupakan sarana penyucian dan merupakan sebuah hal yang suci untuk dilakukan. Dalam Kitab Injil, Perjanjian Lama, Kitab Kejadian ayat 24 diceritakan bahwa ada seorang wanita yang membuka penutup mukanya. Ketika wanita itu melihat Ishaq, ia segera turun dari untanya. Wanita itu bertanya kepada seorang budak perihal Ishaq. Budak itu mengatakan bahwa Ishaq adalah tuannya. Kemudian wanita itu kembali menutup wajahnya.[2] Dari sini dapat dipahami, bahwa wanita pada waktu itu tidak akan ke luar kecuali mengenakan hijab (penutup) terlebih dahulu dan bahkan mengenakannya ketika ingin bertemu dengan seseorang. Jadi, hijab memang sudah terkenal di kalangan wanita sebelum dan sesudah datangnya agama samawi

Wacana Hukum: Hijab sebagai Hukum Allah

Pada dasarnya, manusia selalu mencari kesempurnaan melalui berbagai wasilah. Ia akan selalu berupaya untuk mengetahui apa dan bagaimanakah jalan yang dapat membawanya untuk menjadi manusia sempurna. Di sisi lain, Allah telah mengutus para Nabi, Rasulullah saww dan Aimmah Makshumin as untuk menuntun manusia menuju kesempurnaan hakiki atau kepada hal-hal yang maslahat bagi manusia itu sendiri sehingga manusia tidak salah melangkah dan dapat sampai kepada tujuan penciptaan yaitu Allah swt.

Nabi saww telah menjelaskan cara-cara dan bahkan langsung mencontohkannya agar kita dapat berjalan di jalan yang dikehendaki Allah dan tidak menyeleweng darinya. Cara yang telah Nabi jelaskan dan contohkan adalah berupa ketaatan kepada hukum-hukum Allah. Ketaatan inilah yang merupakan jalan agar kita sampai kepada Allah swt. Hukum-hukum inilah yanga akan membawa manusia menuju cahaya Ilahi.[3]

Mengapa harus Hukum Allah?

Manusia memang memiliki kemampuan berfikir dan membuat hukum-hukum sendiri. Akan tetapi hukum-hukum itu tidak akan mampu membawa manusia kepada kesempurnaan karena hukum-hukum itu dibuat sesuai keinginan manusia dan sebatas kemampuan berfikirnya. Apakah hukum itu merupakan maslahat atau tidak bagi manusia, akan terikat erat dengan kepentingan dan pandangan yang dimilikinya. Sehingga kesempurnaan, nilai maksimal dari hasil berfikir dan rencana pelaksanaan dari fikiran itu akan dilaksanakan sebatas nilai yang terikat oleh keterbatasan kemampuan manusia itu sendiri.

Hukum atau aturan bukan saja merupakan perintah atau larangan tapi juga dapat merupakan tuntunan dan arahan untuk sampai pada tujuan tertentu. Allah-lah yang menciptakan manusia dengan lengkap dan menyediakan semua sarana bagi kehidupannya. Maka Allah-lah yang lebih tahu apa yang terbaik untuk kehidupan manusia. Maka hukum-hukum yang datang dari Allah merupakan sarana yang sempurna untuk sampai pada tujuan sempurna yaitu Kesempurnaan Yang Maha Sempurna. Ketika manusia (baik individu maupun komunitas) berpegang teguh pada hukum-Nya maka ketaatan tersebut akan mendekatkan dirinya kepada Allah dan akan terciptalah sebuah kehidupan ilahi. Jika sudah demikian, Allah pun akan mencurahkan berkat dan rahmat-Nya bagi mereka: “Dan kalau saja penduduk desa tersebut beriman dan bertaqwa pasti akan Kami bukakan bagi mereka berkat dari langit”. (QS: al-A’raf : 96)

Hijab dalam Islam

Islam telah menjelaskan apa sebenarnya yang dimaksud berhijab, karena pada jaman sebelum Islam terdapat sebagian kecil wanita yang menggunakan hijab dengan benar dan sebagian besar lainnya menggunakan hijab secara salah, baik dalam alasan pemakaian dan pelaksanaan hijab itu sendiri. Disebutkan bahwa wanita pada pra dan awal Islam sering menggunakan gelang kaki dan perhiasan-perhiasan lainnya. Mereka kadang-kadang menunjukkan perhiasan yang mereka kenakan itu dan tidak menutup aurat mereka dengan benar. Ketika mereka berjalan, suara gemerincing gelang kaki membuat wanita-wanita ini menjadi pusat perhatian orang banyak.[4] Pada dasarnya wanita-wanita ini tidak dapat dikatakan menutup atau berhijab karena mereka membuat aib sendiri. Maka turunlah surat yang mewajibkan wanita-wanita ini menutup seluruh auratnya kecuali wajah dan telapak tangan.

 

Setelah turunnya ayat al-Qur’an yang memerintahkan penggunaan hijab, maka wanita-wanita beserta suami atau sanak saudara dan yang ada di sekitar mereka saling mengingatkan satu sama lain untuk menggunakan hijab dengan baik. Wanita-wanita ini menggunakan kain hitam yang panjang dan lebar sehingga tertutup seluruh auratnya. Kain yang dikenakan wanita-wanita itu dulu, sekarang kita kenal sebagai aba’ah.

 

Satu hal yang harus diperhatikan adalah bahwa di dalam Islam wanita bukannya tidak diperbolehkan menggunakan perhiasan sama sekali. Yang tidak diperbolehkan adalah memamerkan perhiasan yang dikenakan dengan tujuan untuk menarik perhatian orang lain. Islam bahkan menganjurkan wanita untuk memakai perhiasan dan memamerkannya kepada suaminya. Dan ganjaran pahala yang dijanjikan untuk perbuatan ini juga tidaklah sedikit.

 

Para ulama sepakat bahwa wanita wajib berhijab karena adanya ayat al-Qur’an yang memerintahkan wanita untuk berhijab. Salah satu ayat yang di gunakan sebagai dalil adalah Surah an-Nur ayat 31: “…Katakanlah kepada wanita yang beriman hendaknya mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” Sayyid Miqdad (Ketua Maktab Perwakilan Wali Amr Muslimin, Sayyid Ali Khamene’i di Libanon) berpendapat bahwa yang maksud dari ayat ini adalah bahwa wanita harus menutupi dirinya dengan baju yang dapat menutupi seluruh auratnya dan melarang menggunakan perhiasan di wajah ataupun di tangan.[5]

 

Jika seorang wanita keluar dari rumahnya lalu masuk dalam kumpulan masyarakat dan dia menyebabkan pria melihatnya sedang ia juga melihat pria tersebut, maka wanita ini tidak akan terlepas dari dua kemungkinan:

1. Ia keluar bukan karena suatu keperluan penting tapi atas dasar keinginannya sendiri untuk mencari perhatian pria atau agar wajah, bentuk tubuh dan gerak-geriknya dilihat dan diperhatikan. Islam memerintahkan wanita-wanita seperti ini untuk meninggalkan dan menghindari hal ini karena dapat memberikan kesan yang buruk bagi pria atau wanita. Dalam sebuah hadist disebutkan: “Sesungguhnya pandangan (kepada wanita) merupakan salah satu panah dari panah iblis yang mengenai hati.”

2. Ia keluar karena suatu keperluan penting sehingga keperluan itulah yang memaksanya untuk keluar. Hal ini diperbolehkan dalam Islam, asalkan keluarnya itu tidak menyalahi hukum-hukum Allah swt yakni diiringi dengan hukum syariah yang mewajibkannya menggunakan hijab ketika berkumpul bersama masyarakat.

Islam hanya mewajibkan wanita menggunakan hijab ketika ia ingin keluar dari rumah dan akan bertemu dengan orang yang bukan muhrimnya. Hijab diperlukan untuk mencegah terjadinya kefasadan dan akhlak buruk yang pada akhirnya akan memberikan efek buruk pada masyarakat. Dengan hijabnya, wanita dapat bekerja dengan leluasa, terhormat dan dapat berkumpul dengan masyarakat tanpa ada keburukan atau hal yang buruk akan menimpanya atau menghalangi kerjanya karena ia bebas melaksanakan kegiatannya. Ia akan terjaga dan merasa aman, demikian juga dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.[6]

 

Hijab wanita bukan menjadi pembatas kebebasan di dalam berkarir malah memberikan wanita peluang yang bagus dan mudah dalam beribadah sekaligus bekerja. Banyak peluang kerja seperti dokter, guru, petani dan lainnya yang dapat diambil wanita tanpa harus melepas hijabnya. Orang lainpun akan menghormati kegigihan mereka yang selalu menjaga hijabnya dan dapat menjadi pedoman bagi wanita-wanita lain untuk selalu taat di dalam melaksanakan kewajiban agama Islam.

 

Islam mewajibkan wanita menggunakan hijab agar wanita selalu terjaga kehormatanya karena wanita memiliki peran yang penting di dalam masyarakat. Islam juga ingin menyatakan bahwa wanita memiliki posisi yang sama dengan laki laki di dalam berjihad dan beribadah ataupun bekerja. Wanita merupakan bagian dari masyarakat yang jika wanita di dalamnya berubah maka masyarakat akan berubah pula. Adanya perubahan tersebut mungkin akan menyebar, cepat atau lambat, tetapi pada akhirnya ia akan merubah keseluruhan masyarakat.

 

Sebagian wanita masa kini menganggap hijab adalah adat kuno atau pakaian orang-orang yang berpikiran kuno dan fanatik terhadap agama. Wanita begini beranggapan bahwa sekarang adalah masa modern yang tidak memerlukan hijab lagi untuk menjaga kehormatan, orang akan menghormati orang lain karena pangkat, harta atau kekuasaan yang mereka miliki, bukan karena menggunakan hijab ataupun tidak. Pandangan mereka ini dapat dikritisi karena sebenarnya wanita yang menggunakan hijab lebih modern dari wanita yang tidak berhijab. Kenapa? Karena arus pikir wanita berhijab lebih tajam dengan memikirkan hal lebih jauh yaitu hari perhitungan. Wanita yang menggunakan hijab sudah mengetahui masa depan mereka bahwa kelak akan ada hari akhir. Dengan berhijab wanita siap menghadapi masa depan yang menjanjikan kemenangan serta kebahagiaan yang abadi. Jadi wanita yang modern adalah wanita yang menggunakan hijab.

 

Pangkat, harta ataupun kekuasaan bukanlah sebab orang menjadi terhormat karena harta atau kekuasaan sebenarnya tidak pernah dimiliki oleh manusia. Pada hakikatnya harta dan kekuasaan hanya milik Allah swt semata. Orang yang beranggapan bahwa materilah jalan satu-satunya untuk dapat menjadi terhormat, maka ia akan selalu mengejar materi. Cara berfikir begini sangat naif. Individu yang demikian sebenarnya tidak dapat melihat hakikat materi sehingga dengan mudah dia dapat mengatakan bahwa hanya dengan materi orang akan menjadi terhormat. Pada kenyataannya banyak orang menjual diri sehingga dapat dikatakan bahwa harga diri (kehormatan) sudah tidak ada harganya karena mereka menjualnya dengan harga yang rendah. Bagaimana mereka dapat melihat harta sebagai suatu kehormatan dan kekuatan untuk menjadi sempurna?

 

Dapatkah uang atau harta membeli kehormatan seseorang? Jawabannya tidak. Kehormatan bukanlah sesuatu yang dapat dibeli dengan uang. Contoh di atas hanya berupa sebuah kiasan saja karena ada wanita yang mau menerima uang dengan balasan memberikan atau menunjukkan apa saja yang ada pada dirinya kepada orang yang telah memberikan uang. Mereka disebut sebagai orang yang “murah”atau “rendah” dan dianggap sebagai wanita-wanita yang telah menjual kehormatannya. Karena pada wanita terdapat hal-hal yang seharusnya disembunyikan atau ditutupi dari orang-orang yang tidak berhak melihatnya. Akan tetapi mereka mau menunujukkannya asal ada uang untuk membayar “kerugian”.

 

Maka wanita yang mampu menutup dirinya dan menjaga dirinya memiliki suatu kehormatan besar dalam dirinya. Wanita yang tidak menganggap hijab sebagai hal yang penting maka yang akan ia dapatkan adalah celaan dan hal-hal rendah yang akan menjadikannya lemah dan orang lain akan dengan leluasa mengambil kesempatan dari kelemahan ini.

Keutamaan Berhijab

Di dalam kehidupannya, setiap manusia memiliki beberapa hubungan:

1. Hubungan antara dirinya dengan Allah, seperti sholat, puasa serta kewajiban-kewajiban lainnya yang telah diberikan Allah sehingga ia dapat membangun hubungan yang kuat antara dirinya dengan Allah swt.

2. Hubungan manusia dengan manusia lain, seperti menikah, jual beli dan lain sebagainya.

3. Hubungan manusia dengan dirinya sendiri, seperti apa yang harus dimakan dan diminum. Hubungan ini merupakan hal penting dalam membangun keperibadian yang kukuh dan kuat serta menanamkan kemauan dalam melaksanakan suatu perbuatan karena perbuatan itu akan memberikan efek tertentu pada dirinya.

4. Hubungan manusia dengan masyarakat, seperti menjaga kebersihan atau keamanan bersama.

5. Hubungan masyarakat dengan Allah swt, seperti melaksanakan hukum Allah dan mengetahui kewajiban dan larangan umum sehingga terbentuk hubungan yang kuat dengan Allah dan tercipta kesejahteraan bersama.

 

 

Dari hubungan-hubungan di atas muncullah beberapa hak-hak, antara lain:

1. Hak manusia untuk taat kepada perintah Allah swt dan membangun dirinya, seperti ibadah.

2. Hak keluarga dan masyrakat, seperti warisan dan lain sebagainya.

3. Hak ekonomi, seperti khumus, zakat dan lain sebagainya.

4. Hak berjihad, berperang dan wajib militer untuk mempertahankan agamanya dan menjaga saudara sesama muslim.

5. Hak politik dan yang berhubungan dengannya.[7]

 

Dengan mempertimbangkan hal-hal di atas dan menghubungkannya dengan permasalahan hijab, maka kita dapat menyimpulkan bahwa:

1. Wajib bagi kita membangun masyarakat yang islami (ilahi). Untuk membangun masyarakat islami, harus dimulai dari dari hal-hal kecil terlebih dahulu yaitu dimulai dari individu-individu, sehingga ketika individu-individu ini digabungkan akan terbentuk sebuah gabungan yang besar (masyarakat). Masalah hijab dengan sisi ketaatannya merupakan masalah yang asas (penting) dari suatu bangunan individu kemanusiaan. Maka untuk membangun suatu bangunan masyarakat yang kokoh dan kuat kita harus menguatkan pondasinya terlebih dahulu sehingga dapat membangun bangunan yang kokoh di atasnya. Hijab merupakan pondasi karena hijab tak lain adalah iman dan takwa. Hijab dapat membawa manusia sampai kepada tingkat spiritual yang tinggi dan memahami jati dirinya yang real dan menjadikannya manusia yang sempurna. Hijab merupakan penolong atau wasilah untuk sampainya manusia kepada tingkat pemahaman maknawi yang tinggi dan agung.

2 Hijab merupakan perisai bagi wanita, karena dengan hijab kehormatan wanita akan terjaga. Islam menganggap hijab merupakan suatu hal yang penting dalam menjaga kehormatan wanita. Bukan berarti kehormatan pria tidak penting karena masalah kehormatan bukan hanya dimiliki oleh wanita saja. Hanya saja kehormatan wanita lebih ditekankan untuk terus dijaga karena pria memiliki kekuatan yang lebih besar dibanding wanita (terkadang pria menzalimi wanita), maka untuk mengimbangi kekuatan ini wanita harus menjaga dirinya dengan berhati-hati melalui pemakaian hijab.

3. Dengan menjaga hijab wanita akan lepas dari dosa dan pria yang melihatnya pun tidak akan berdosa. Wanita muslim yang tidak menjaga hijabnya akan mendapat dosa dan pria bukan muhrim yang melihatnya pun akan terkena dosa. Wanita yang membuka hijabnya sama saja dengan wanita yang tidak berpakaian sama sekali dan menjadikannya rendah di hadapan orang lain. Maka hijab merupakan pengaman atau penjaga nilai kemanusiaan.

4. Kewajiban berhijab sama halnya dengan kewajiban sholat dan puasa, hanya saja kewajiban berhijab ini dikhususkan untuk wanita. Sebenarnya dengan berhijab wanita dapat membangun suatu ikatan dengan Allah swt sekaligus ikatan yang lebih luas dan besar dengan masyarakat. Manusia tidak dapat dapat membangun atau melakukan sesuatu pekerjaan besar jika hidup sendiri karena itu manusia tidak dapat dipisahkan dari kelompoknya (masyarakat). Manusia memiliki hubungan dan kebutuhan dengan manusia lainnya untuk bertahan hidup dan mencapai kesempurnaan. Dengan menggunakan hijab wanita telah membuktikan komitmennya kepada Allah dan juga kepada masyarakat dalam rangka membentuk masyarakat yang sempurna sebagaimana yang diinginkan Allah. Ketika manusia melaksanakan hukum-hukum Allah swt dengan penuh disiplin, maka ia akan dapat membangun diri dan masyrakatnya. Dengan mengetahui hubungannya dengan Allah dan adanya hak-hak dalam setiap perbuatan, manusia dapat mentaati Allah swt sehingga ia dapat menjadi manusia sempurna (insan kamil). Ketika manusia telah menjadi insan kamil, ia akan melihat dengan mata Allah dan kuat dengan kekuatan Allah swt. Contoh insan kamil adalah Nabi Muhammad saw, beliau mengetahui berbagai hal karena beliau mengetahui kebenaran dan memiliki hubungan yang kuat dengan Allah swt. Beliau juga amat memahami hak Allah swt dan manusia lainnya sehingga beliau menjadi manusia yang tidak berbuat kesalahan dan terjaga dari kesalahan (makshum).

Hijab di Masa Kini

Banyak wanita di zaman ini menganggap hijab membatasi kebebasan wanita di dalam beraktivitas dan berkomunikasi dengan masyarakat. Wanita seperti ini ingin menyingkirkan hijab dan menjadi wanita yang bebas. Yang mereka sebut sebagai kebebasan adalah tidak adanya larangan terhadap setiap perbuatan yang ingin mereka lakukan, seperti berkumpul dengan pria, bersenang-senang kemana saja dengan pria, atau bahkan melakukan hubungan tanpa nikah.

 

Padahal wanita yang menggunakan hijab bukan berarti dia tidak bebas dalam melakukan segala aktivitas yang ia inginkan atau berkomunikasi dengan orang yang ada di sekitarnya. Hijab menyelamatkan wanita dari kerusakan yang ada. Di zaman modern ini nilai akhlak mulai hilang dan banyak manusia yang keluar dari aturan agama. Harga diri hancur melalui interaksi bebas dan tanpa batasan hukum antara wanita dan pria. Inikah yang disebut sebagai kebebasan? Atau ia malah menghancurkan keperibadian seseorang dan memasukkannya ke dalam lembah kegelapan? Jika ini yang disebut sebagai kebebasan maka ini adalah suatu hal yang sangat sangat buruk. Kebebasan bukan berarti kita dapat menghancurkan sesuatu dengan leluasa dan berbuat seenaknya terhadap diri sendiri ataupun orang lain. Setiap manusia memiliki hak atas diri sendiri dan terhadap orang lain, maka untuk memberikan hak masing-masing yang harus dilakukan adalah mengikuti aturan yang disepakati bersama sehingga tidak terjadi kerugian apa pun dalam penerimaan hak itu.

 

Wanita memiliki hak yang sama seperti halnya pria, wanita dapat bekerja dan beraktivitas seperti pria. Wanita yang berhijab dapat bekerja dengan terhormat dan terjaga haknya dari hal-hal yang tidak diinginkan. Islam tidak mengajarkan bahwa wanita yang berhijab tidak boleh berkomunikasi dengan yang lain atau tidak boleh beraktivitas seperti halnya pria. Islam ingin menjaga kehormatan, akhlak dan hak wanita. Islam menjaga wanita dengan mengajarkan bahwa wanita dapat keluar karana ada kepentingan bukan keluar untuk dapat menjadi pusat perhatian, berghibah dan menjadi celaan orang lain. Namun sayangnya, sebagian wanita menggunakan hijab dengan menggunakan pakaian yang tidak menutupi dirinya dengan baik dari pandangan orang lain, karena pakaian yang dikenakannya amat ketat atau trasparan, sehingga bentuk tubuhnya terlihat dengan jelas. Dalam hal ini, sama saja ia tidak menutup dirinya atau berhijab. Karena masih mempertunjukkan tubuhnya, tidak ada bedanya ia menggunakan baju yang transparan atau baju yang ketat karena tujuan keduanya yaitu untuk menarik perhatian orang lain.

 

Yang seharusnya dilakukan wanita adalah menggunakan baju yang dapat menutup seluruh auratnya tanpa memperlihatkan bentuk tubuhnya. Kita dapat melihat perbedaan antara masyrakat yang wanitanya lebih banyak menggunakan hijab, seperti Iran, dengan yang lebih sedikit, seperti di Amerika. Kerusakan dan kezaliman terhadap wanita di Iran lebih sedikit dibanding Amerika. Iran memberikan hak-hak pada wanita dengan memberikan peluang dan kebebasan dalam melaksanakan semua kegiatan yang mereka inginkan tanpa harus melepas hijab. Sedangkan di Amerika, wanita kehilangan hak untuk dapat memperbaiki sisi spiritualnya dan hak untuk menggunakan hijab tidak diberikan. Seyogyanya, berdasarkan “konsep kebebasan” model mereka, kezaliman, kerusakan fisik dan spiritual akan berkurang di Amerika. Namun nyatanya semakin meningkat.

 

Di Amerika, banyak orang yang kehilangan hubungan saudara satu sama lain atau tidak akan diterima lagi oleh orang-orang yang ada di sekitarnya karena hijab yang dikenakan dan karena ketaatan mereka kepada syariat dan hukum-hukum Allah swt. Ini terjadi karena sedikitnya pemahaman masyarakat terhadap hukum Ilahi terutama dalam masalah hijab. Hijab wajib dikenakan oleh wanita dan merupakan hak wanita untuk menggunakan hijab dan taat serta berpegang teguh terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi saww. Kebanyakan orang tidak memahami akan kewajiban ini, mereka menganggap bahwa hijab hanya akan menyusahkan kehidupan atau menyebutnya sebagai hal kuno. Mereka tidak memahami bahwa hijab adalah aturan Allah. Pada dasarnya mereka tidak takut pada Allah melainkan takut pada tanggapan orang-orang yang tidak tahu menahu akan kewajiban ini.

 

Manusia sebenarnya sudah diberikan akal untuk berfikir dan mencari kebenaran agama ilahi. Dengan akal pula manusia dapat melihat bahwa hijab bukan hanya diperuntukkan pada zaman Nabi saja melainkan untuk selamanya, hingga hari kiamat nanti. Allah pasti mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh seluruh manusia baik jaman sekarang atau yang akan datang. Semuanya sudah diatur oleh Allah swt. Tidak mungkin Allah membiarkan manusia begitu saja tanpa diberi petunjuk. Maka apa yang Allah swt perintahkan pasti berguna, baik untuk masa sekarang dan masa akan datang. Jadi hijab adalah kebutuhan wanita mulai dulu sampai saat ini dan untuk yang akan datang. Jangan takut kehilangan saudara atau takut dengan tanggapan orang-orang yang tidak mengetahui kebenaran hijab dan bersyukurlah karena anda mengetahui kebenaran dan melaksanakannya sehingga anda berada dalam kebenaran. Perlu diingat bahwa wajib bagi wanita muslim yang memiliki potensi (kemampuan ilmu dan retorika) untuk menyampaikan kebenaran dan mengajak masyarakat yang tidak tahu agar dapat berjalan bersama menuju kebenaran.

Hijab dan Tantangan

Para pencari harta yang haus akan kekuasaan duniawi selalu menginginkan orang lain agar tunduk dalam kekuasaannya. Mereka melihat bahwa orang-orang yang taat kepada agamanya akan sulit untuk tunduk dan dikuasai dan bahkan mereka berpotensi untuk menjadi pemberontak, bahkan menjadi benalu bagi kekuasaan mereka. Maka penguasa-penguasa itu berusaha menghilangkan atau merubah pemahaman orang-orang yang taat dengan agamanya. Mereka melakukan berbagai cara, memberi janji-janji kebahagiaan dunia ataupun intimidasi, dengan harapan orang-orang beragama itu lupa akan kewajibannya sebagai hamba Allah.

 

Seperti yang terjadi di Prancis saat ini, mereka (pemerintah Prancis) melarang wanita-wanita menggunakan hijab dan mempersulit semua urusan mereka. Dalam pandangan mereka, keberadaan wanita-wanita yang masih menjaga hijabnya akan menumbuhkan manusia yang taat dan menghalangi kesempatan mereka untuk menguasai dunia. Hal inilah yang mereka takutkan.

 

Hijab bukanlah sebuah masalah tetapi merupakan pembebas manusia dari kekuatan zalim. Yang haus akan kekuasaanlah yang akan menyelewengkan pemahaman manusia dari kebenaraan agama Islam, sehingga apa saja yang muncul dari agama Islam menjadi hal yang bermasalah di dalam pandangan orang-orang awam. Karena sesungguhnya mereka(penguasa zalim) takut dengan kekuatan orang-orang beriman yang taat kepada perintah Allah swt.

Orang-orang yang haus akan kekuasaan ini tidak akan berhenti sebelum mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka akan selalu melakukan berbagai cara untuk memusnahkan segala sesuatu yang menghambat cita-cita mereka. Salah satu cara yang mereka lakukan adalah melarang penggunaan hijab. Atau menyuruh orang-orang yang tidak berakhlak untuk menggunakan hijab sehingga masyrakat kemudian menilai bahwa orang yang menggunakan hijab itu buruk akhlaknya. Banyak cara lain lagi yang dilakukan oleh penguasa zalim.

 

Yang harus dilakukan ulama Islam adalah memberikan pemahaman yang jelas bagi orang-orang awam sehingga mereka mampu menilai bahwa hukum-hukum Allah merupakan penyelamat dan pembebas manusia. Semua ini merupakan tantangan bagi orang-orang yang taat beragama dan perlu diketahui bahwa musuh-musuh Islam tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan apa yang mereka kehendaki. Maka kita, muslimin, harus waspada dan selalu berpegang teguh kepada hukum-hukum Allah swt sehingga tidak terjerumus dan menjadi budak orang-orang yang zalim.[8]

 

Kesimpulan:

o Hijab merupakan salah satu hukum Allah yang wajib dilaksanakan oleh seluruh wanita muslimah. Kewajiban ini tidak ada hubungannya dengan kekunoan atau tidak, kewajiban ini merupakan hal yang harus dikerjakan. Dalih kuno atau modern bukan merupakan alasan untuk tidak menggunakan hijab.

o Hijab juga merupakan wasilah bagi manusia untuk sampai kepada kesempurnaan maka wanita membutuhkan hijab dalam perjalanannya menuju kesempurnaan karena menggunakan hijab pada dasarnya merupakan permasalahan ta’abudi.

o Pembahasan sejarah atau alasan-alasan lain yang bukan syar’i tentang hijab menunjukkan bahwa hijab memang perlu dan harus digunakan. Ketika manusia melaksanakan kewajiban ini kemudian orang lain mendapatkan faedahnya atau sebaliknya, orang lain tidak mendapatkan faedah sama sekali bukanlah merupakan dalil untuk menggunakan hijab atau tidak menggunakannya.

o Hijab juga tidak membatasi wanita dalam berkarir sebaliknya wanita dapat berkarir dengan leluasa tanpa ada hal-hal yang membuatnya berdosa bahkan ia dapat berkarir sekaligus menjalankan hukum Allah swt.

o Hijab bukanlah sebuah masalah, tetapi karena sebagian kalangan yang tidak menyukai orang-orang yang taat kepada hukum Allah swt, atau menganggap mereka telah menghalangi jalan untuk meraih kenikamatan duniawi maka hijab menjadi sebuah permasalahan di mata mereka. Jadi, hijab adalah suatu kewajiban Ilahi yang harus dikerjakan. Allah memerintahkan manusia untuk melakukan segala sesuatu yang pasti berguna dan memiliki maslahat bagi hidup manusia. Inilah jalan yang dibutuhkan oleh manusia untuk mencapai kesempurnaan maka manusia harus melaksanakannya untuk sampai kepada kesempurnaan tersebut.[]

 

 


[1] Lisanul Arab, jilid 1, hal 298.

[2] Perjanjian Lama, Penciptaan, pasal 28 ayat 65-66.

[3] ——, Al-Jadid fi Tadrisil Fiqh, hal 2.

[4] Zamakhsyari, Al Kasyaf, jilid 2, hal 62.

[5] Majalah Baqiatullah, No. 149, hal 32, Zulhijjah 1424 H.

[6] Idem, No. 129, hal 1, Shafar 1424 H.

[7] ——, Al-Jadid fi Tadrisil Fiqh, hal 2.

[8] Majalah Baqiatullah, No. 149, hal. 37-39.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: