Oleh: islam feminis | Juni 18, 2007

Peran Perempuan dalam Membangun Masyarakat Religius (3); Perempuan dan Religiusitas

Seorang ibu yang cerdas akan berusaha mencari tahu bagaimana cara agar anaknya mencintai ibadah, suka menolong sesama, tidak egois, dan sikap-sikap mulia lainnya. Jika seorang ibu melakukan kesalahan dalam mendidik anak, bukannya kecintaan yang akan tumbuh, melainkan kebencian. Dengan kata lain, walaupun bertujuannya baik, namun bila cara yang ditempuh adalah cara yang salah, tujuan benar itu tidak akan tercapai.

——————————————————–

Peran Perempuan dalam Membangun Masyarakat Religius (3); Perempuan dan Religiusitas

Oleh: Euis Daryati

 

Mungkin terdapat sebuah pertanyaan, bukankah anak kecil suci dari dosa, lantas untuk apa kita menanamkan religiulitas pada anak? Perlu diketahui, memang benar anak kecil itu suci dari dosa, namun masa kecil merupakan masa perekaman. Dengan kata lain, segala sesuatu yang dialami anak di masa kecil akan terekam terus dalam jiwanya. Oleh karena itu, hendaknya orang tua menanamkan kepada diri anak semenjak usia dini tentang makna kejujuran, pengorbanan, menolong sesama, dan nilai-niali religiulitas lainnya seperti ketaatan beribadah kepada Allah. Jika semua nilai-nilai ini ditanamkan sejak kecil, nilai-nilai tersebut akan mengakar dalam jiwa anak dan dapat menjadi pencegah dirinya dalam melakukan hal-hal yang buruk.

Metode Menanamkan Nilai-Nilai Religius

Dalam melakukan segala sesuatu, jika kita tidak mengetahui cara dan taktiknya, bukan kesuksesan yang akan kita dapatkan, melainkan justru kegagalan. Seorang ibu yang cerdas akan berusaha mencari tahu bagaimana cara agar anaknya mencintai ibadah, suka menolong sesama, tidak egois, dan sikap-sikap mulia lainnya. Jika seorang ibu melakukan kesalahan dalam mendidik anak, bukannya kecintaan yang akan tumbuh, melainkan kebencian. Dengan kata lain, walaupun bertujuannya baik, namun bila cara yang ditempuh adalah cara yang salah, tujuan benar itu tidak akan tercapai.

Kini, marilah kita meninjau ajaran Islam berkenaan dengan metode pengajaran akhlak kepada anak. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis, hingga usia tujuh tahun adalah masa bermain anak. Bagi anak, bermain merupakan kebutuhan dan dia akan tumbuh berkembang dengan bermain. Hal ini pula yang disampaikan oleh surat al-Hadid ayat 20 yang berbunyi:

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-bangaan tentang banyaknya harta dan anak”

Sebagian ulama menafsirkan ayat ini sebagai jenjang kehidupan kebanyakan manusia. Permainan (la’ibun), mengisyaratkan pada masa kanak-kanak yang merupakan dunia bermain. Melalaikan (lahwun), mengisyaratkan pada masa remaja sebagai masa penuh kelalaian dan hura-hura. Perhiasan (Zinatun), mengisyaratkan kaum muda yang senantiasa berhias dan memperhatikan penampilan. Bermegah-megahan (tafakhur), mengisyaratkan pada masa dewasa, yaitu manusia umumnya ketika telah berkeluarga cenderung untuk berbangga-bangga kepada orang lain atau keluarganya dengan memamerkan harta yang telah dimilikinya. Memperbanyak harta dan anak dan keturunan (cucu dan buyut), mengisyaratkan pada masa tua, dimana kecenderungan manusia yang semakin tua, menjadi semakin rakus. Oleh karena itu, jika kita ingin sukses dalam menanamkan nilai-nilai religius terhadap anak, kita harus mendidik dengan sesuai tingkat perkembangan anak.

Selain itu, seorang ibu harus menjadi contoh bagi anak. Bagaimana mungkin seorang ibu bisa mendidik anak berlaku jujur sementara ia sendiri suka berbohong. Dengan cara bermain dan penuh kasih sayang, seorang ibu harus menanamkan kebaikan kepada anak. Sebaliknya, cara yang kasar justru akan menimbulkan kebencian di hati anak. Misalnya, jika anak dipaksa dengan perlakuan keras untuk melakukan sholat, anak akan merasa benci kepada sholat.

Dalam riwayat kita mengetahui bahwa Rasulpun ketika shalat membiarkan anak-anak bebas menunggangi punggungnya, sehingga sujudnya menjadi lama.[xviii] Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa pendidikan pada masa kanak-kanak hendaknya dilakukan dengan kasih sayang dan lemah lembut, sehingga anak-anak dengan keinginannya sendiri melakukan suatu perbuatan baik. Cara lain adalah dengan memberikan motivasi kepada anak untuk melakukan perbuatan baik, mungkin berupa pujian ataupun hadiah sehingga ia merasakan nikmatnya melakukan kebaikan. Melalui penyampaian cerita-cerita orang-orang bijak, kisah akibat orang yang melakukan kebaikan atau keburukan, serta membawa anak ke majlis-majlis keagamaan dan do’a adalah merupakan contoh trik-trik yang dapat dilakukan dalam menerapkan nilai- nilai keagamaan pada anak-anak.

Selain itu, seorang ibu harus mampu memberikan jawaban atas pertanyaan anak yang berkenaan dengan siapa dirinya, siapa Tuhan, dan pertanyaan-pertanyaan lain tentang ajaran agama, seperti, mengapa kita harus sholat, untuk apa berdo’a, apakah dosa itu? Pertanyaan-pertanyaan sejenis ini merupakan pertanyaan alami yang umumnya muncul di benak anak dan seorang ibu yang bijak dan cerdas, hendaknya tidak melarang anaknya untuk bertanya tentang hal itu semua. Bila ibu memilih menjawab seadanya atau malah memarahi anak untuk bertanya, artinya dia telah membunuh rasa ingin tahu anak, yang merupakan fitrahnya. Oleh karena itu, jelaslah bahwa seorang ibu haruslah berpendidikan dan berpengetahuan. Artinya, membangun masyarakat religius harus diawali dengan mendidik para ibu dan memberikan kesempatan belajar bagi kaum perempuan.

Kendala-Kendala Pendidikan di Indonesia

Zaman teknologi selain memberikan kemudahan bagi manusia, juga memberikan efek negatif yang tidak dapat dihindari. Jika manusia tidak membekali dirinya dengan keimanan yang kuat, dia akan terjerumus ke dalam jurang krisis moral dan spiritual. Fenomena seperti ini dapat kita saksikan di tanah air, yang mengakibatkan bertambahnya beban berat para pendidik untuk mencetak generasi yang sehat jasmani dan ruhani. Beberapa kendala dalam pendidikan anak adalah sbb.

1. Minimnya pengetahuan masyarakat tentang nilai luhur pendidikan, terkhusus pendidikan agama.

2. Kurang meratanya sarana-sarana penunjang dalam peningkatan kualitas pendidikan.

3. Maraknya acara-acara televisi dan media massa yang kebanyakan memberikan efek negatif bagi kepribadian anak. Sebagai contoh, penayangan gambar maupun film-film yang belum waktunya dilihat anak-anak, seperti film kekerasan atau pornografi. Acara-acara seperti ini berpotensi besar dalam menyebabkan dekadensi moral dan spiritual bangsa.

4. Banyaknya acara-acara mistik dan khurafat yang akan merusak mental masyarakat.

5. Semakin gencarnya impor kultur asing, yang mayoritas tidak sesuai dengan kultur bangsa dan agama. Dewasa ini kita melihat bahwa kultur asing sedikit demi sedikit telah berhasil menggeser nilai-nilai moralitas bangsa, terutama kaum muda. Melalui tiga “F” yaitu fashion, food, dan fun, para penjajah modern telah sukses dalam menciptakan krisis identitas bangsa Indonesia.

6. Krisis figur spiritual yang benar-benar dapat mewakili amanat agama untuk menjadi teladan dalam hidup beragama, berbangsa, dan bernegara.

Cara menanggulangan semua kendala di atas tidak dapat dilakukan dengan secara individual, melainkan harus dilakukan dengan cara melibatkan semua pihak, baik itu pemerintahan, ulama, maupun masyarakat itu sendiri. Di bawah ini ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam menanggulangi kendala pendidikan, yaitu sbb.

A. Mengingatkan kembali fungsionalitas agama bagi kehidupan dan kebahagian hakiki manusia.

B. Mengadakan training keluarga dan pendidikan anak, yang diadakan pada masa pra-nikah untuk generasi muda, sebagai bekal untuk kehidupan berkeluarga.

C. Pemerintah hendaknya membatasi acara-acara televisi dan media massa lain yang berpotensi merusak mental dan spiritual bangsa. Pemerintah harus mewajibkan pemilik media massa untuk melibatkan psikolog dan ruhaniwan dalam memproduksi sebuah program, terutama program untuk anak-anak dan remaja, agar program acara tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka.

2. Sebagai Istri

Allah telah menciptakan hewan dan tumbuhan dalam keadaan berpasang-pasangan, sehingga melalui cara itulah komunitas mereka dapat terus berkembang dan berlanjut. Allah juga telah menciptakan manusia dari jenis laki-laki dan perempuan, lalu menyatukan mereka melalui sebuah pernikahan. Berbeda dengan hewan dan tumbuhan, pernikahan manusia selain untuk sarana untuk menjaga kelanggengan komunitas manusia, juga dapat dijadikan sarana untuk mencapai kesempurnaan serta sarana untuk bekerja sama dalam mencapai kebahagiaan hakiki. Seorang istri, selain ia sendiri dapat melalui semua jalan yang harus ditempuhnya untuk mencapai kesempurnaan, iapun dapat menjadi teman seperjalanan suami untuk mencapai kebahagiaan hakiki. Seorang istri dapat menjadi motivator bagi suami untuk melakukan suatu kebaikan dan meninggalkan keburukan. Dalam sejarah disebutkan, setelah pernikahan Imam Ali as dan Fatimah Az-Zahra as, Rasulullah saww bertanya kepada Imam Ali as tentang istrinya, “Wahai Ali, bagaimana engkau melihat Fatimah Zahra putriku? Imam Ali menjawab, “Aku melihatnya sebagai teman dan penolong terbaik dalam ketaatan kepada Allah swt.”[xix]

Sungguh indah ucapan Imam Ali as tentang Fatimah Az-Zahra as sebagai istrinya. Di dalam kalimat itu terkandung makna yang agung, yaitu bahwa istri yang baik adalah istri yang menjadi teman suaminya dalam meningkatkan moralitas, spiritualitas, dan religiulitas. Begitupula sebaliknya, istri yang buruk adalah istri yang menjadi penghalang suami dalam meningkatkan moral, spiritualitas, dan religiusitasnya. Sebagai contoh, istri yang banyak menuntut di luar kemampuan suaminya, sangat mungkin akan menyebabkan si suami terjebak dalam perbuatan dosa, bila sang suami tidak kuat iman. Banyak terjadi suami yang melakukan korupsi, mencuri, atau merampok demi memenuhi tuntutan istri. Sa’di (penyair Iran) berkata, “Perempuan buruk bagi suami yang baik semenjak di dunia inipun ibarat neraka baginya.”

Peran sebagai Anggota Masyarakat

Pembahasan di atas merupakan pembahasan peran perempuan secara tidak langsung dalam mewujudkan sebuah masyarakat religius. Adapun peran langsung (straight role) yang dapat dimainkan oleh perempuan adalah peran sebagai anggota masyarakat. Perempuan sebagai segmen sigifikan dari sebuah masyarakat hendaknya ikut andil dalam menjaga kesehatan dan keamanan masyarakat. Sebagai anggota masyarakat, saat seorang perempuan melihat bahwa masyarakatnya mengalami gangguan stabilitas atau terkena penyakit, maka ia harus segera mencari jalan penanggulangannya. Dalam posisi sebagai anggota masyarakat, perempuan dan laki-laki mempunyai hak dan kewajiban yang sama dan setara, yaitu sama-sama berhak menerima perlakuan yang baik dari masyarakat dan sama-sama berkewajiban menciptakan masyarakat yang sehat. Peran langsung perempuan dalam masyarakat antara lain berupa pekerjaan sebagai dokter, pakar ekonomi, atau mubalig.

Berkarir dalam Perspektif Islam

Dalam Islam tidak ada larangan bagi perempuan untuk berperan aktif dalam masyarakat. Perempuan berhak untuk mengekspresikan dan mengembangkan potensi dan kemampuan yang ada pada dirinya. Bahkan, dalam kondisi tertentu, perempuan diharuskan terjun ke masyarakat, misalnya, harus ada perempuan yang bekerja sebagai dokter untuk melayani kebutuhan kaum perempuan. Hanya saja, Islam menganjurkan agar aktifitas perempuan di luar rumah tidak sampai mengorbankan tugas utamanya sebagai seorang istri dan ibu.

Kendala Berkarir

Salah satu kendala bagi perempuan karir di Indonesia adalah adanya kontradiksi antara karir dan keluarga. Perempuan seolah-olah diharuskan memilih karir atau keluarga. Jika memilih karir, kondisi pekerjaan di Indonesia seringkali tidak mendukung peran seorang ibu. Misalnya, umumnya perkantoran dan perusahan menetapkan jam kerja yang mulai pagi sampai sore dan tidak menyediakan tempat penitipan anak yang mudah dijangkau oleh pekerja perempuan. Akibatnya pekerja perempuan tidak dapat memenuhi kebutuhan primer anaknya, seperti pemberian ASI dan dengan terpaksa ia harus menitipkan anaknya kepada baby sitter atau pembantu. Dalam kondisi seperti ini, anak akan menjadi anak pembantu dan dididik oleh pembantu rumah tangga yang umumnya berpendidikan rendah.

Padahal, pada tahun-tahun pertama usianya, anak sangat membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan belaian seorang ibu. Dalam psikologi dijelaskan, tahun-tahun pertama kehidupan anak adalah masa-masa ketergantungan yang sangat besar dari seorang anak kepada ibunya. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, anak akan cenderung mengalami krisis kepercayaan diri.[xx] Problema kenakalan anak-anak atau kaburnya anak dari rumah adalah di antara efek yang muncul akibat kurangnya kasih sayang dan perhatian orang tua.

Sementara itu, bila perempuan mengambil pilihan kedua, yaitu memilih keluarga dan meninggalkan karirnya, ia akan berhadapan pada kegamangan. Dia merasa bahwa segala jerih payahnya selama ini, misalnya menuntut ilmu di sekolah tinggi atau universitas, telah tersia-siakan. Belum lagi bila ia berhadapan dengan problema keuangan keluarga karena gaji suami yang tidak mencukupi. Dengan kata lain, perempuan karir di Indonesia umumnya menghadapi dilema besar, yang hanya bisa terpecahkan bila pemerintah turun tangan untuk memberikan fasilitas yang memberi kesempatan kepada perempuan agar tetap bisa berkarir sekaligus melaksanakan tugas sebagai ibu.

Fenomena Perempuan Masa Kini

Secara umum, Indonesia dewasa ini sedang mengalami berbagai krisis. Selain sedang mengalami krisis ekonomi, tanah air kita pun sedang dilanda krisis moral, mental, dan spiritual. Sayangnya, kebanyakan obyek dan sekaligus penyebab krisis tadi adalah para perempuan, mulai kasus pornografi, komersialisasi seks, pamer tubuh (iklan), tarian erotis, dan banyak hal lagi yang sasaran utama dan umpannya adalah perempuan. Sebagaimana perempuan dapat menjadi sumber daya jitu untuk memperbaiki sebuah masyarakat, iapun dapat menjadi sarana jitu untuk merusak dan menghancurkan sebuah masyarakat. Sungguh indah ayat menjelaskan tentang tipu daya perempuan dalam surat Yusuf ayat 28 yang berbunyi: “Sesungguhnya tipu daya mereka adalah sangat besar…”. Jika perempuan menjadikan dirinya sebagai penggoda lelaki untuk melakukan perbuatan buruk, maka tipu dayanya lebih besar dari tipu daya syetan. Oleh karenanya, jarang lelaki yang dapat lolos dari tipu dayanya.

Dalam sepanjang sejarah perempuan telah berjuang untuk mendapatkan hak-haknya. Namun sekarang, kembali mereka terjerumus ke dalam penjajahan yaitu berupa penjajahan modern. Perempuan menganggap dirinya merdeka di saat dapat memamerkan tubuh moleknya untuk dinikmati laki-laki hidung belang. Perempuan sekarang telah lupa akan hakekat dirinya, hanya menonjolkan kecantikan wajah dan kemolekan tubuhnya. Lantas mana essensinya sebagai seorang manusia? Lantas apa yang dapat diharapkan dari para perempuan seperti ini? Ini merupakan salah satu tugas perempuan sebagai anggota masyarakat untuk kembali mengingatkan sesama kaumnya. Lisan perempuan akan lebih dapat mengena ke dalam sanubari mereka dibanding lisan pihak lain, untuk mengembalikan identitas mereka sebagai manusia.

Dalam kondisi ini, perempuan yang sadar memiliki tugas untuk menjelaskan kembali fungsi agama dalam menghantarkan manusia dalam menuju kebahagiaan hakiki (sesuai agama masing-masing). Perempuan yang tercerahkan harus mengingatkan saudara-saudara mereka akan peran dan tugas yang dipikul perempuan, baik melalui pendekatan, media, pelatihan, dan cara lainnya. Tugas ini akan berhasil jika dilakukan oleh perempuan itu sendiri, karena persamaan yang dimiliki, yaitu sebagai perempuan yang sama-sama memiliki kekuatan emosional dan akal. Adapun peran secara umum yang dapat dilakukan perempuan untuk membangun sebuah masyarakat religius antara lain adalah ssebagai berikut:

1. Sebagai guru, baik guru anak-anak (TK) maupun guru agama, dengan sepenuh hati tanamkan pada anak-anak tentang pentingnya nilai-nilai moralitas, spiritualitas dan religiusitas bagi kehidupan.

2. Pencetakan para mubalig dan juru dakwah perempuan yang dengan sepenuh hati memberikan bimbingan.

3. Pengadaan klinik keluarga dalam masalah spiritualitas dan religiusitas.

4. Adanya pakar perempuan dalam bidang agama (sesuai agama masing-masing) terkhusus dalam masalah keperempuanan, sehingga ia mampu memberikan jawaban atas problema-problema yang muncul dalam masalah keperempuanan. Menangani kasus yang menimpa perempuan. Selain membantu menyelesaikan dari sisi hukum, juga membantu mengembalikan semangat hidup mereka, melalui bantuan spirit, moril, spiritual, dan material. [islamalternatif]

___________________________________

Catatan Kaki:

* Disampaikan dalam Seminar dan Loka Karya BKPPI (Badan Kerjasama persatuan Pelajar Indonesia) se-Timur Tengah dan Sekitarnya dengan Topik “Membangun Masyarakat Religius”, pada 23-30 Agustus 2005, di Kota Suci Qom-Iran.

** Penulis: Mahasiswi s1 jurusan al-Ma’arif al-Islamiyah pada Bint al-Huda Qom-Iran.

 

[i] Misalnya, kita sempat kaget dan heran ketika mendengar berita dari televisi, kalau kaum perempuan negara Kuwait baru tahun ini mendapatkan hak suara. Inipun masih harus berhadapan dengan beberapa penentang yang tidak menyetujui akan pemberian hak suara kepada perempuan

[ii] Lebih detailnya berkenaan dengan kondisi perempuan zaman renaissance, dapat merujuk ke karyanya William J. Durant dalam bukunya yang berjudul: Of the story of civilization, tetapi khusus pembahasan zaman renaisans, edisi terjemahan, 1381 Sy, Tehran, Syerkat-e intisyarat-e ilmi wa farhanggi., cetakan ke-8, jil ke-5 hal: 116. (Selengkapnya pada penulis)


Responses

  1. Artikel ini mencerahkan sekali.. teruskan mbak perjuanganya membela kaum feminis…. Rasulullah saw begitu menghargai Siti Khadijah ra. Dia orang cerdas, pintar dan mengetahui kerasulan sebelum yang lainnya…

  2. Salam
    Terima kasih atas motivasinya…
    Kaum feminis? Hal ini memiliki dua kemungkinan arti; kaum feminis yakni kaum perempuan seperti halnya saya, atau Gerakan kaum feminis yang mayoritas berhaluan Barat dan cenderung mengdiskriditkan Islam. Sementara tujuan saya hendak membela Islam Nabawi yang ramah terhadap perempuan, makanya dinamakan Islamfeminis.
    Sekali lagi terima kasih atas masukannya Bang!
    Wassalam

  3. Tulisan ini cukup menyejukkan, satu sisi memberikan banyak masukan bagi para perempuan untuk menjadi perempuan yang mampu membangun generasi bangsa yang bermoral. Di sisi lain juga memberikan support untuk perempuan yang mempunyai skill untuk dpt berkarir dan berkiprah di tengah masyarakat yang didasari dengan moralitas ajaran agama. Jika saja negara kita mampu memberikan fasilitas yang menunjang seperti childcare di tempat-tempat bekerja, sebagaimana di negara-negara maju termasuk negara barat, maka nasib perempuan kita akan semakin baik. Selamat berjuang….

  4. @ Lilik Hamidah
    Terima kasih atas kunjungannya dan terima kasih pula atas motivasinya…mudah-mudahan suatu waktu wanita berkarier di negeri tercinta kita tidak menghadapi dilema lagi. Atau paling tidak, dapat meminimalir prosentase negatif pada keluarga dikarenakan karier… Mari kita tunggu hari indah itu…!

  5. Tulisan ini harusnya dapat membangkitkan kaum perempuan untuk berfastabilqul khoirot dengan laki-laki

  6. wah…mbak, kok aku jadi merasa bersalah ma anak2ku habis baca artikel mbak….. aku wanita bekerja merasa kehilangan banyak banget waktu untuk mendidik anak2ku dimasa kanak2nya. kayaknya klo untuk ibu bekerja sulit mendampingi dan mendidik anak secara maksimal. jadi klo pendidikan anak dititik beratkan pada ibu, sangat berat…. karena dengan bekerja bisa saja anak lebih dekat dgn nenek, ayah ato pengasuhnya. gitu kan mbak??? mbak punya artikel tentang bagaimana peran wanita pekerja sekaligus seorang ibu dari sudut islam ga? makasih ya mbak….

    ———————————————
    Islam Feminis:
    Merasa bersalah tidak akan pernah menyelesaikan masalah, ia hanya merupakan bukti kesadaran diri dan menjadi langkah awal dalam pencarian solusi. Oleh karena itu dalam hal ini solusinya adalah; Mbak hendaknya mencari/membekali nenek, ayah atau pengasuhnya dengan kecintaan yang rasional terhadap anak dengan metode pendidikan yang benar khususnya dalam masalah keagaamaan. Karena terkadang kecintaan seorang nenek terhadap cucu akan menjerumuskan karena metode pendidikannya seringnya kurang baik, memanjakan dengan emosional belaka.

    Dikarenakan kecintaan, perhatian dan peran seorang ibu tidak bisa digantikan oleh yang lainnya maka hendaknya sepulang dari kantor ia memberikan waktu dan perhatian khusus kepadanya, sebagai pengganti kekosongan sewaktu ibu sibuk bekerja di kantor. Dan sebaiknya ia tidak membawa pekerjaan kantor ke rumah karena itu akan kembali menyita waktu anak untuk mendapat kasih sayang seorang ibu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: