Oleh: islam feminis | Juni 16, 2007

Peran Perempuan dalam Membangun Masyarakat Religius (1); Sebuah Pengantar

bocah-bocah-berjilbab.jpg

Sebuah hal yang aksioma bahwa eksistensi perempuan merupakan segmen yang urgen dari sebuah masyarakat. Dengan demikian, kita tidak akan dapat menutup mata dari peran penting yang dimainkan oleh perempuan. Bukan zamannya lagi perempuan hanya dianggap sebagai alat reproduksi untuk keberlangsungan komunitas manusia. Hal ini pun telah dibuktikan sendiri oleh perempuan dengan menunjukkan kredibilitasnya dalam ranah sosial, politik, ekonomi, sains, dan lain-lain.


———————————————————-

Peran Perempuan dalam Membangun Masyarakat Religius (1); Sebuah Pengantar

Oleh: Euis Daryati

Rusak dan tidaknya sebuah masyarakat bersumber dari perempuan. Perempuan adalah eksistensi yang mampu menghaturkan pribadi-pribadi yang unggul kepada masyarakat, sehingga masyarakat tersebut menjadi sebuah masyarakat yang kokoh dan masyarakat yang menjunjung norma-norma agama…. (Imam Khomaeni ra, sahifeh nur jil:16 hal:125)

 Sebuah hal yang aksioma bahwa eksistensi perempuan merupakan segmen yang urgen dari sebuah masyarakat. Dengan demikian, kita tidak akan dapat menutup mata dari peran penting yang dimainkan oleh perempuan. Bukan zamannya lagi perempuan hanya dianggap sebagai alat reproduksi untuk keberlangsungan komunitas manusia. Hal ini pun telah dibuktikan sendiri oleh perempuan dengan menunjukkan kredibilitasnya dalam ranah sosial, politik, ekonomi, sains, dan lain-lain.

 Munculnya tokoh, ilmuwan, politikus, pakar ekonomi, atau pakar hukum perempuan, merupakan bukti bahwa perempuan pun memiliki kemampuan intelektualitas yang sejajar dengan kaum lelaki. Meskipun demikian, jumlah mereka tidak sebanding dengan kaum lelaki, karena terbatasnya lahan dan keleluasaan yang diberikan kepada kaum perempuan untuk mengekspresikan segenap potensi yang ada pada dirinya, ataupun karena adanya dominasi kaum lelaki dalam segala bidang. Dalam sejarah, perempuan membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk dapat mencapai kemajuaannya karena mereka sering dihadang oleh dogma ‘ketidakwajaran’ dan ‘ketidakpantasan’ (misalnya, Elizabeth blakcwill, dokter perempuan pertama di dunia yang lulus tahun 1849, sempat diboikot teman-temannya dengan alasan perempuan tidak sewajarnya mendapatkan pelajaran).

 Di banyak kawasan, kebebasan serta hak-hak untuk maju baru bisa didapatkan oleh kaum perempuan setelah melalui perjuangan yang sangat panjang dan heroik. Bahkan, sampai sekarangpun di beberapa kawasan, perempuan masih belum mendapatkan angin kebebasan dan hak-hak yang semestinya.[i] Gerakan perempuan di Barat (Eropa) dimulai dengan munculnya gerakan feminisme, yang kendati mencuatnya pada abad ke-18 masehi, namun benih-benih gerakan ini berakar pada masa renaissance, yaitu abad ke-15 masehi. Will Durant dalam menggambarkan kondisi perempuan era renaissance menulis sbb.

“Para perempuan tertentu di era renaissance, melepaskan dirinya dari segala kungkungan abad pertengahan dan penghinaan para rahib melalui cara menghiasai diri dengan segala perhiasan dan penampilan yang sangat menarik, begitu mengangkat derajatnya sehingga sama dengan laki-laki. Mereka membahas tentang sastra dan filsafat dengan kaum laki-laki, memimpin sebuah negara melalui rasio seperti Isabella, atau melalui kekuatan bagaikan laki-laki seperti Catherina S, dan kadang mereka memakai baju perang lalu pergi ke medan perang untuk mencari suaminya…” [ii]

Gerakan kemajuan perempuan di kawasan Timur diawali dengan datangnya Islam. Islampun mengadakan perombakan besar-besaran atas perilaku yang selama ini ditujukan terhadap perempuan, serta mengangkat harkat dan martabat perempuan. Revolusi ini langsung dilakukan oleh Rasul saww sendiri dan putri beliau, Fathimah Zahra as, yang merupakan simbol manusia sempurna (insan kamil). Berkenaan tentang Fathimah Zahra as, sejarawan bernama Hasan Basri pernah berkata, “Di antara umat ini tidak ada orang yang ibadahnya yang lebih banyak dari putri Rasul saww. Begitu banyaknya beliau beribadah dan bermunajat kepada Allah swt sampai memberikan bekas pada kedua kakinya.”[iii]

Islam memberikan kepada perempuan beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki oleh laki-laki[iv], dan memberikan peluang kepada para perempuan untuk aktif dalam berbagai bidang. Sumpah setia (Bai’at) para perempuan kepada Rasulullah saww adalah di antara bukti peran mereka dalam politik. Para perempuan muslimah juga aktif di medan perang untuk mengobati para tentara yang terluka, atau bahkan ikut terjun berperang melawan musuh jika keadaan mendesak sebagaimana yang dilakukan oleh Nasibah dalam perang Uhud. Orang pertama yang gugur (syahid) membela Islam adalah seorang perempuan, yaitu Sumayyah ibunda Ammar bin Yasir.[v] Bahkan, sepeninggal Rasulullah saww pun bermunculan para perempuan yang menguasai keilmuan baik ilmu agama maupun lainnya. Dengan munculnya perawi hadis perempuan, para perempuan yang mencapai derajat ijtihad.[vi] Tradisi keilmuan agama di kalangan perempuan masih terus berkembang sampai sekarang, dan bahkan di Iran kini banyak ditemukan perempuan yang sudah mencapai derajat ijtihad (disebut dengan Mujtahidah), atau ahli dalam bidang mistisisme (baca: tasawuf).[vii]

Di Indonesia kita dapat melihat berbagai gerakan dan sepak terjang para perempuan, baik di era pra-kemerdekaan RI dengan munculnya para tokoh perempuan yang ikut gigih melawan kolonialis dan imperialis, seperti Dewi Sartika, Cut Nya’ Din, R.A Kartini dan sebagainya. R.A Kartini dikenal sebagai tokoh emansipasi perempuan Indonesia. Ungkapan R.A Kartini “habis gelap terbitlah terang” mampu memberikan inspirasi kepada para perempuan Indonesia untuk ikut andil dalam membangun negaranya, dengan cara tekun menempuh pendidikan hingga ke jenjang yang tinggi, dan kemudian terjun langsung dalam pembangunan bangsa. Kaum perempuan Indonesia dewasa ini merupakan penerus kaum perempuan era Kartini yang gigih menghilangkan anggapan dan kultur lama yang menganggap perempuan tidak perlu sekolah setinggi mungkin, karena tugasnya hanyalah di sumur, kasur, dan dapur. Itu pula yang dilakukan oleh Dewi Sartika dengan mengalakkan pendidikan di kalangan perempuan Indonesia.

Gerakan perjuangan perempuan juga sangat marak di Indonesia. Banyak lembaga atau LSM perempuan yang aktif melakukan pembahasan dan turun ke lapangan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Namun, terkadang sebagian dari mereka jatuh ke dalam jurang paranoidisme dan radikalisme. Dengan berdalih emansipasi perempuan, perempuan dijauhkan dari identitas dan kedudukan yang sebenarnya. Semua aktivitas perempuan tersebut, meskipun dengan berbagai perbedaan prespektif dan sudut pandang, jelas berangkat dari kesadaran akan peran penting yang diemban oleh kaum Hawa. Jikalau hak, kewajiban, dan sepak terjang kaum perempuan yang merupakan separoh dari tubuh masyarakat ini tidak diindahkan, mungkinkah target yang akan dituju oleh sebuah negara akan berhasil dengan gemilang? Mungkinkah masyarakat religius dapat terwujud di tanah air kita tanpa mengikutsertakan peran perempuan?

Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan masyarakat religius? Secara umum yang dimaksud dengan masyarakat religius adalah masyarakat yang menjunjung norma-norma agama, berpegang teguh kepada ajaran agama dan dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-sehari dalam berinteraksi sesama anggota masyarakat. Setelah mengetahui secara umum pengertian masyarakat religius dan karakteristiknya, lantas apa peran perempuan, dan apa yang harus dilakukan sehingga dapat diwujudkan masyarakat religius yang ideal?

Bersambung…

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: