Oleh: islam feminis | Juni 11, 2007

Wawancara dengan Aktifis dan Peneliti Masalah Perempuan di Iran (bag-2)

Fungsi minimal hijab ialah tidak mengizinkan kepada pihak lain untuk menikmati dirinya secara tidak sah dan ini akan membuat manusia selalu mencari kelezatan rasionalis. Mari kita lihat negara-negara Eropa yang tidak memiliki hijab dan lebih buka-bukaan, di sana kelezatan seks tidak lagi memiliki arti. Pada akhirnya timbullah kelompok homoseksual atau lesbi dan ini dikarenakan adanya overdosis dalam masalah seks. Karena bosan dengan lawan jenis, akhirnya ingin mencoba sesama jenis. Inilah ciri khas kelezatan materi yang tidak akan pernah terpuaskan dan selalu menginginkan variasi, begitu juga masalah seksual. Jika anda telah merasakan kelezatan sampai puncaknya maka anda akan menginginkan bentuk dan model lainnya.

——————————————

 

Hijab; Hukum Sosial

Wawancara dengan Aktifis dan Peneliti Masalah Perempuan di Iran

 

R: Karena pokok pembahasan jurnal kali ini berkisar masalah hijab, pertanyaan saya adalah mengapa kita harus berhijab? Apakah tanpa hijab kita tidak bisa berpakain sopan dan baik?

FA: Secara umum, dalam masalah furu’uddin (masalah fikih) kita tidak diharuskan untuk bertanya ‘kenapa’. Tempat bertanya adalah dalam masalah ushuluddin (akidah). Kita harus meneliti dan bertanya terus tentang pokok-pokok dasar agama. Jika seseorang telah meneliti dan menerima ushuluddin, maka secara otomatis ia akan menerima furu’uddin dengan sepenuh hati tanpa menanyakan sebabnya. Tapi, bukan berarti bahwa pertanyaan tersebut sama sekali tidak terlintas dalam akal pikiran manusia sehinggga kita tidak boleh menjawabnya. Kita memiliki buku berjudul ‘Ilal as-Syara’i’ (sebab-sebab pensyariatan hukum) yang memuat pertanyaan masyarakat kepada para Imam tentang sebab-sebab sebuah hukum dan jawaban yang beliau berikan.

Sekaitan masalah hijab, secara umum, busana apapun dan di manapun pasti memiliki standar sendiri. Misalnya kenapa kita memakai baju tidur ketika hendak tidur, kenapa mengenakan pakaian formal ketika hendak bertamu. Jika semua hal ditanyakan standarnya apa, maka masalah yang lain pun tidak dapat dibela lagi. Oleh karena itu, kita memakai busana muslimah dengan alasan perintah Islam. Ada sebuah ungkapam Murthadha Muthahhari yang sangat menarik tentang hal. Beliau mengatakan: “Coba anda bayangkan dua masyarakat. Yang satu, orang-orang dan pergaulannya sangat bebas, sementara di dalam masyarakat satunya para perempuan mengenakan busana muslimah, para pria menghormati mereka dan menjalankan hukum-hukum Islam. Maka dalam masyarakat pertama, jika orang-orangnya menikah maka ia menjadi terpenjara dan tidak bebas. Karena para lelaki pada masyarakat tersebut dapat menikmati perempuan dengan leluasa tanpa harus melaksanakan pernikahan dan dibebani tanggung jawab. Namun pada masyarakat kedua, pernikahan merupakan harapan dan kebebasan, karena di hadapan pasangannya wanita dapat melepaskan hijabnya dan tidak terdapat larangan untuk melakukan hubungan apapun.”

Pada langkah pertama, hijab telah memberikan kebebasan dalam berprilaku kepada wanita. Yang jelas, ketika seorang perempuan berhijab maka ia dipandang bukan dari segi gendernya. Oleh karena itu, hijab sebagai penjaga, memudahkan dan mengeluarkan dirinya dari pandangan seksual. Ada sebuah ungkapan dari Imam Ali as yang menyatakan bahwa perempuan harus menjaga dirinya, karena jika perempuan menjaga dirinya maka ia akan aman dari berbagai gangguan. Dengan berhijab, bukan saja ia telah menjaga dirinya atau mengembangkan semua potensi yang dimilikinya dan berperan serta secara aktif, akan tetapi hijab sangat membantu pembangunan kondisi masyarakat, sebagiamana ciri khas keibuan perempuan sangat membantu perkembangan sebuah masyarakat.

Menurut saya, hijab sangat memberikan pengaruh pada perjalanan spiritual kaum perempuan, karena dalam ajaran Islam dikatakan bahwa jika seseorang mengontrol nafsu seksualnya maka sisi spiritual dan ruhaninya akan berkembang, karena hijab mampu mengontrol nafsu syahwani manusia. Pada setiap perempuan terdapat kecenderungan suka memamerkan diri dan menunjukkan kecantikannya. Sewaktu mengenakann hijab, berarti ia telah mengontrol diri dan keinginannya dan pada akhirnya akan menghasilkan kesempurnaan sejati dalam dirinya. Oleh karena itu, hijab memiliki berbagai pengaruh positif.

Seandainya anda keluar dari pembahasan ini, ada satu hal yang tetap harus diperhatikan bahwa Islam membatasi kelezatan materi. Sedangkan dalam masalah kelezatan dan kesempurnaan spiritual tidak seperti itu. Tidak hanya dalam masalah busana, tetapi dalam segala hal Islam tidak mengenal “sesuatu yang tanpa batas”. Fungsi minimal hijab ialah tidak mengizinkan kepada pihak lain untuk menikmati dirinya secara tidak sah dan ini akan membuat manusia selalu mencari kelezatan rasionalis. Mari kita lihat negara-negara Eropa yang tidak memiliki hijab dan lebih buka-bukaan, di sana kelezatan seks tidak lagi memiliki arti. Pada akhirnya timbullah kelompok homoseksual atau lesbi dan ini dikarenakan adanya overdosis dalam masalah seks. Karena bosan dengan lawan jenis, akhirnya ingin mencoba sesama jenis. Inilah ciri khas kelezatan materi yang tidak akan pernah terpuaskan dan selalu menginginkan variasi, begitu juga masalah seksual. Jika anda telah merasakan kelezatan sampai puncaknya maka anda akan menginginkan bentuk dan model lainnya. Misalnya saja, anda sekarang makan sejenis makanan, besok anda makan lagi, besoknya lagi…sampai seminggu anda nanti tidak akan sanggup lagi memakannya. Karena selera materi itu memang menuntut variasi. Begitu juga selera seksual. Ketika anda secara gila-gilaan memenuhinya maka ia tidak akan terpuaskan lagi dengan cara yang ada.

Islam tidak hanya memiliki hijab tetapi dalam Islam ada sebuah pohon iffah yang salah satu cabangnya adalah hijab. Ada cabang lain seperti menjaga pandangan mata, hubungan antara pria dan wanita, ikhtilath antara pria dan wanita serta cabang-cabang lainnya. Ada cabang yang khusus membahas hubungan antara pria dan wanita dari sisi ahkam dan akhlak sehingga dalam masalah insting, mereka selalu berjalan dalam jalur yang seimbang. Sekarang anda bisa lihat berbagai media informasi menyajikan masalah seksual sehingga saat ini cara-cara alami hubungan seksual tidak lagi memuaskan masyarakat umum. Coba anda bayangkan jika di dunia tidak ada pornografi, tidak ada media informasi yang demikian, tidak ada pornoaksi dari internet, maka masyarakat akan menjalani kehidupannya dengan alami. Kondisi yang ada sekarang membuat masyarakat terpaksa menghancurkan batas keseimbangannya dalam masalah seksual. Ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan Islam secara umum dalam masalah iffah merupakan pengontrol yang sangat baik dan memberikan kenyamanan kepada manusia.

Sekarang, apakah sebenarnya pengaruh hijab? Misalnya sekarang hijab kita hilangkan, lalu kita harus berlandaskan pada apa? Norma apa? Aturan apa? Yang satu mengatakan, batasan pakaian adalah ini. Jika undang-undang dan pemerintah membuat hukum yang mewajibkan wanita menutupi seluruh tubuhnya kecuali kepala, maka undang-undang itu juga bisa menetapkan agar wanita menutupi kepalanya. Bagaimana bisa undang-undang pertama diterima dan undang-undang kedua tidak? Atau jika pemerintah yang memberi batasan, maka bisa saja pemerintah mengeluarkan hukum yang melarang mengenakan pakaian.

R: Sebagain wanita berkata bahwa mereka tidak mau mengenakan hijab, tetapi hati dan ruh mereka sangat baik dan shaleh. Apa pendapat anda dalam hal ini?

FA: Bisa saja. Wanita yang tidak berhijab tidak berarti bahwa ia adalah wanita yang buruk. Tapi harus diingat bahwa masalah hijab adalah masalah agama yang tidak ada hubungannya dengan hati. Hijab adalah sebuah hukum luar dan tak ada hubungannya dengan hati. Apa yang dikatakan sebagian orang bahwa hati mereka baik dan berkaitan dengan iffah bathin seperti takwa, kesabaran dan lainnya, ini memiliki tempat tersendiri. Bukan berarti bahwa ketika seseorang memakai hijab tapi hatinya buruk tetapi ia bisa disebut sebagai individu yang baik. Ia dinilai baik hanya karena hijabnya, jika ia berhijab dan batinnya buruk maka ia juga tengah berbuat dosa. Hijab adalah sebuah hukum sosial. Setiap wanita yang ingin keluar rumah, setiap wanita yang baik, hendaknya memperhatikan aturan hijab. Anda bisa sebutkan 30, 10 atau 2 saja manfaat hijab yang tidak dimiliki oleh iffah kalbu. Misalkan saja, dari sisi kalbu saya adalah orang baik, tetapi ketika keluar rumah saya berhias dan tidak memakai hijab maka saya akan memiliki pengaruh dalam masyarakat, sama dengan seseorang yang melakukan perbuatan seperti saya dan hatinya juga buruk. Yakni dari sisi luar, keduanya tidak ada bedanya. Tidak akan ada yang berkata: Karena hatimu baik, maka aku tidak akan tertarik secara seksual kepadamu. Tidak ada yang bisa melihat hati kita ketika kita berada dalam masyarakat.

R: Sebagian kalangan di negara kami, Indonesia, menginginkan dibentuknya negara Islam. Tapi sebagian lagi ketakutan karena mereka harus memakai hijab nantinya, hukum had harus dilaksanakan dan sebagainya. Menurut anda, apakah ketakutan mereka ini logis? Dan jika negara Islam ini terbentuk, apakah peranan mereka? Apakah hijab, hukum had dan lainnya harus dilaksanakan?

FA: Tentu saja. Negara Islam dibentuk agar hukum-hukum dan syiar-syiar Islam terlaksana. Dari Mekkah, Rasulullah saww datang ke Madinah supaya syiar-syiar Islam bisa terlaksana. Ketika muslimin diperintahkan untuk menunaikan shalat Jum’at maka muslimin bisa melaksanakannya. Ketika muslimin diperintahkan untuk bermuamalah dengan adil maka orang-orang yang tidak berbuat adil dapat diadili dan dihukum sesuai dengan perbuatannya. Ketika muslimin dilarang berzina, maka saat ada yang berzina mereka dapat dihukum. Pemerintahan islami memang berdiri untuk mengurusi masalah-masalah sosial. Oleh karena itu, tidak ada artinya jika pemerintahan islami terbentuk tetapi syiar-syiar Islam tidak diperhatikan karena ini berarti kemandekan ahkam Islam. Kita bisa melihat beberapa negara Islam, dengan pemerintahan Islam, tetapi tidak ada bekas islami sedikitpun di dalamnya. Pelacuran tetap ada, atau setiap orang yang mau berbuat dosa apa saja bisa melakukannya. Lalu apa gunanya pemerintahan islami seperti ini? Jika pemerintahan islami tidak ada apa yang akan terjadi? Masyarakat harus melaksanakan shalat, mereka dapat melaksanakannya di rumah, mereka harus berpuasa, mereka pun berpuasa, lalu bagaimana dengan masalah-masalah penting lainnya?

Ketika anda menanyakan Sunni dan Syiah tentang ahkam mereka maka mereka akan menunjukkan ahkamnya dari mulai taharah sampai qisash dan seandainya mereka tidak mengakui bahwa 2/3 dari ahkam berkaitan dengan masalah sosisal politik maka paling tidak ½ nya berkaitan dengan masalah sosial politik. Lalu 50 % ahkam yang bersifat sosial politik ini, akan ditegakkan oleh siapa? Tentu saja ini adalah tugas pemerintah Islam, jika tidak dilaksanakan berarti pemerintahan itu bukan pemerintahan islami dan pada akhirnya separuh dari ahkam agama akan libur. Dan ini tidak ada artinya sama sekali.

Namun perlu diingat, dalam penetapan hal-hal yang berkaitan dengan masalah islami dan jika kita ingin menyusun rencana yang berkaitan dengan pemerintahan dan masalah sosial, maka kita harus berjalan di jalur yang terkecil. Misalnya, ketika pemerintah ingin mewajibkan dipakainya hijab dalam masyarakat maka tidak perlu pemerintah mewajibkan cadur (kain hitam panjang yang menutupi seluruh tubuh wanita, kecuali wajah, yang biasa dipakai wanita Iran). Tapi pemerintah harus mewajibkan batasan terkecil hijab. Yakni undang-undang yang dibuat meliputi batasan terkecil hijab. Dalam undang-undang ini warna tidak boleh ditentukan harus warna apa, harus model seperti apa, atau harus memakai penutup wajah. Batasan terkecil hijab adalah batasan yang telah ditetapkan oleh Qur’an yaitu wanita harus menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Tentu saja wanita juga tidak boleh berhias, misalnya memakai pakaian yang menarik perhatian, ketat dan merangsang…Inilah batasannya. Lainnya bebas. Apalagi kebiasaan di setiap negara berbeda-beda. Misalnya di Afrika, memakai pakaian putih tidak menarik perhatian sedang di negara lain mungkin menarik perhatian. Ini tergantung urf masyarakat. Batasan terkecil yang harus dijaga. Untuk hijab yang lebih sempurna (seperti cadur) harus dilakukan proses budaya sebagaimana yang kami lakukan di negara kami dan undang-undang kami juga demikian (memperhatikan batasan hijab terkecil). Kami menyatakan bahwa cadur adalah hijab terbaik bagi mereka yang ingin lebih teliti memperhatikan masalah hijab. Tapi siapa yang harus menyatakan ini? Undang-undang? Tidak, budaya yang harus melakukannya, atau media massa.

Syahid Mutahhari mengatakan bahwa batasan terkecil hijab tidak akan merugikan siapa pun, tidak akan mengganggu aktivitas wanita sedikitpun. Sebagai bukti adalah para wanita Iran. Anda telah menyaksikan bahwa sejak revolusi, wanita hadir dalam berbagai aktivitas sosial. Dengan hijab kami memahami apa itu aktivitas sosial yang aktif dan berpengaruh, menuntut ilmu, bekerja, beraktivitas dan mealksanakan kegiatan politik dan sosial lainnya. Kami sama sekali tidak merasa terbatas. Mereka yang menyebut hijab sebagai pembatas, menurut saya, itu karena mereka belum mencobanya. Kalaupun jalan terasa sedikit menyempit, itu dikarenakan kelaziman dari setiap aturan. Misalnya anda membuat aturan di kantor ini bahwa orang harus datang pukul 7 dan baru boleh pulang setelah Zhuhur. Ini akan memberikan sedikit pembatasan. Ini adalah salah satu karakter hukum atau aturan yang tidak bisa dihindari.

Coba anda lihat seorang wanita Iran yang berhijab, misalnya yang bercadur seperti saya, dan bandingkan dengan seorang wanita Eropa yang benar-benar bebas, atau seorang wanita Indonesia yang benar-benar bebas. Apa beda di antara kami? Apa yang mereka lakukan juga saya lakukan. Mereka mengajar, saya juga mengajar, saya juga melakukan berbagai aktivitas lainnya, menyetir, menghadiri pertemuan politik dan internasional, berbicara, berani, kuat…semua ada. Lalu bahaya apa yang ditimbulkan hijab dalam hal aktivitas kemanusiaan saya? Yang ada hanyalah bahwa saya tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk memanfaatkan tubuh saya. Hanya dalam hal ini hijab menyebabkan keterbatasan. Oleh karena itu, perang menentang hijab pada dasarnya adalah perang politik.

R: Karena Anda sudah mengungkapkan sedikit, bukankah dalam agama kita memiliki ayat yang berbunyi Lakum diinukum waliyadiin. Tetapi menga di Iran—sebagai negara Islam—tetap mewajibkan mereka yang beragama Yahudi, Nasrani atau Zoroaster untuk memakai hijab? Apa sebabnya?

FA: Tidak…Ayat yang anda sebut itu tidak turun di Madinah. Ayat itu turun di Mekkah ketika para kafir dan musyrik menyiksa serta mengganggu kaum muslimin dan Rasulullah. Tapi Rasulullah mengabaikan gangguan mereka. Rasulullah bersabda kepada kaum kafir: Agama kamu untuk kamu dan agama kami untuk kami. Di sini agama bukan berarti agama sosial tetapi apa-apa yang kamu yakini untuk kamu, menyembah berhala untuk kamu dan keyakinan kami untuk kami. Jangan saling mencampuri urusan orang lain. Merekalah yang mengganggu Rasulullah. Rasulullah sama sekali tidak mengganggu mereka. Maka Rasulullah bersabda: Setidaknya, biarkan kami mengatur urusan kami.

Berbeda setelah Rasulullah datang ke Madinah. Di dalam Islam terdapat sebuah mekanisme ynag bernama jaziah atau pajak islami. Rasulullah bersabda: Kalian tidak menolong kami karena kalian bukan muslim, kalian tidak ikut perang. Sedangkan kami kaum muslim pergi berperang, kami terbunuh sedang kami melindungi kalian, dan kalian menikmati berbagai aspek dari pemerintahan Islami. Maka kalian harus membayar pajak kepada kami dan kalian harus bergerak sesuai aturan kami—aturan utama pemerintahan—kami tidak akan campur tangan dalam urusan kalian dan bahkan kami bersedia membela kalian. Yakni ketika Yahudi dan Nasrani ingin menetap (dalam pemerintahan Islami) muslimin tidak boleh memaksa mereka sekalipun. Rasulullah melangkah dengan logis. Beliau bersabda: Ada satu kata yang sama di antara kita yaitu Tauhid, maka dengan bersandar pada satu kata ini mari sama-sama kita bangun sebuah masyarakat. Dan pada saat itu, hijab bukanlah sebuah masalah karena kebetulan Yahudi dan Nasrani sendiri memiliki hijab. Malah Arab sebelumnya tidak punya hijab. Jika anda tilik dalam sejarah mengapa Rasulullah tidak ada kontak (masalah) dengan mereka dalam masalah hijab, itu disebabkan karena mereka memang punya hijab. Oleh karena itu tidak ada masalah tentang hijab dengan mereka. Namun dalam hal lain, mereka harus menghormati kaum muslim karena mereka hidup dalam pemerintahan Islam.

Dalam pemerintahan kami, kami juga memiliki peraturan sosial. Bukan hanya dalam masalah hijab, tetapi juga dalam aturan sosial lainnya. Misalnya, keharaman riba dan sogok adalah aturan Islam. Mereka juga harus mengamalkannya. Jika mereka melakukan kedua hal ini maka mereja akan dihukum. Kita juga punya hukum keharaman makan di siang Ramadhan. Ini adalah sebuah hukum sosial Islami. Tapi seorang Yahudi juga harus mengamalkannya di bulan Ramadhan. Demikian juga tentang hijab. Tidak ada bedanya. Karena mereka berada dalam negara Islam sedangkan hukum yang dibuat adalah untuk seluruh warga negara maka mereka juga harus mengikuti aturan yang ada.

R: Lalu mengapa Iran membela wanita Jerman yang dilarang berhijab di negaranya, bukankah Iran sendiri meyakini bahwa setiap warga negara harus mengikuti peraturan yang ada di dalamnya?

FA: Ya…Begini, ada dua jenis pemerintahan. Ada pemerintahan sekluer, yaitu pemisahan antara agama dan negara. Pemerintahan Sekuler tidak menentang agama tetapi tidak memerintah sesuai agama. Mereka memiliki asas pemerintahan bernama liberalisme dan salah satu mishdaq liberalis adalah kebebasan. Sedangkan salah satu bentuk kebebasan adalah kebebasan dalam memilih agama. Mereka sendiri yang mengatakan demikian. Maka berdasarkan hal ini, mereka tidak berhak mencegah seorang wanita muslim memakai hijab. Karena ini adalah asas pemerintahan mereka. Sedangkan kami apa? Kami adalah pemerintahan Islami. Sejak awal kami tidak menyebutkan pemerintahan sekuler. Kami menyatakan bahwa kami islami yakni kami akan berjalan sesuai aturan Islam. Kami telah menyatakannya dari awal.

Jadi mereka sebenarnya sedang mempolitikkan masalah hijab. Selain itu, ketika kami mengatakan bahwa selain muslim juga harus memperhatikan hijab di negara kami, di dalam agama mereka tidak behijab bukanlah sebuah kewajiban. Tidak berhijab bukanlah masalah agama bagi mereka, bukan termasuk ajaran agama mereka sehingga dengan aturan kita tadi, kita dinilai merenggut kebebasan beragama mereka. Tetapi ketika di sebuah negara Eropa dikatakan kepada seorang wanita muslim untuk tidak berhijab, maka sebenarnya kebebasan agamanya sedang direnggut. Jadi sungguh sangat berbeda antara kami yang mengatakan: Anda harus berhijab sedangkan tidak berhijab bukanlah sebuah kewajiban dalam agama anda, dengan mereka yang mengatakan kepada wanita muslim untuk tidak berhijab.

R: Menurut anda, apakah hubungan antara hijab dan mode? Apakah jika kita berhijab berarti kita akan terhalang dari mode? Karena gadis-gadis remaja sangat memperhatikan mode.

FA: Saya tidak punya pendapat yang pasti dalam hal ini. Dalam masalah pakaian, gerakan, hijab, dan masalah wanita, al-Qur’an menyebutkan: Jangan bertabarruj. Tabarruj berasal dari kata buruj yaitu bintang. Yaitu jangan sampai kita berprilaku atau berpakaian seolah-olah kita adalah bintang yang bercahaya. Yaitu tidak berpenampilan berlebih-lebihan dan berkaitan dengan masalah seksual. Ini standartnya. Mungkin saja seseorang yang rapi menarik perhatian tetapi masyarakat tidak memandangnya dengan pandangan seksual. Misalnya disebutkan bahwa si fulanah sangat menarik perhatian karena ia sangat jujur. Apakah karena sangat menarik perhatian maka ia tidak boleh jujur? Tidak. Tapi yang dimaksud adalah bahwa dari sisi seksual wanita tidak boleh menjadi pusat perhatian, ia tidak boleh mengirimkan signal seksual. Ini adalah platformnya. Jika dari sisi seksual, mode tidak menarik perhatian, tidak menimbulkan mafsadah maka tidak ada masalah. Misalnya, dalam Kementrian Dalam Negri kami, telah dirancang model pakaian yang keren dan rapi. Dan sampai sekarang tidak ada yang berkata bahwa: Pakaian ini sangat merangsang. Pakaian ini rapi dan memperhatikan mode tetapi tidak memuat pengaruh yang saya sebut tadi.

Saya ingatkan juga bahwa adat dan kebiasaan pakaian di berbagai negara berbeda-beda. Msialnya, memakai pakaian warna-warni di sebuah negara adalah sebuah urf (kebiasaan) dan jika wanita berhijab memakainya tidak ada masalah. Tetapi mungkin saja di negara lain tidak begitu.

R: Jadi standart menarik perhatian di sini adalah ketertarikan seksual. Ini yang sangat ditekankan dalam hal ini?

FA: Benar. Hijab sebenarnya untuk menutupi keindahan, jika hijabnya sendiri sudah sangat indah maka akan bertentangan dengan falsafah hijab.[islamalternatif]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: