Oleh: islam feminis | Juni 9, 2007

Wawancara dengan Aktifis dan Peneliti Masalah Perempuan di Iran (bag-1)

Pengetahuan masyarakat dunia tentang perempuan muslim sangat minim sekali. Bahkan dapat dikatakan pengetahuan mereka hanya sebatas tentang perempuan Arab, dan hak-hak wanita dalam fikih Ahli Sunnah. Sementara mereka tidak tahu tentang hak-hak perempuan di negara Islam lainnya khususnya di Iran. Bisa dikatakan bahwa pengetahuan mereka tentang hak-hak wanita dalam persfektif Syi’ah adalah nol. Contohnya ketika kami mendatangi pusat penelitian di dua universitas California yang begitu besar, kami hanya menemukan sumber seputar hak-hak wanita dalam persfektif Sunni. Tidak ada satu pun sumber yang mengulas tentang hak-hak perempuan dalam perspektif Syi’ah. Itulah sebabnya mengapa mereka tidak dapat mengenal kondisi seluruh wanita yang berada di negara Islam khususnya di Iran yang bermazhabkan Syi’ah.

———————————————

Kondisi Perempuan Iran secara Umum

Wawancara dengan Aktifis dan Peneliti Masalah Perempuan di Iran

 

 

Wawancara ini dilaksanakan pada hari Kamis, 20 April 2007 di kantor beliau. Beliau adalah aktifis dan peniliti masalah perempuan di Iran yang sering dikirim ke luar negri untuk menghadiri berbagai konfrensi internasional tentang perempuan. Kalimat dalam kurung adalah tambahan Redaksi Jurnal Fathimiah (Lembaga Otonomi Fathimiyah (LOF), Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) – Iran .red). Berikut ini petikan wawancara Tim Redaksi Fathimiyah (Euis Daryati, Novita Tri Andari dan Rabiah Adawiyah) dengan beliau:

Redaksi Fathimiah (R):

Sebelumnya kami ucapkan terima kasih atas waktu yang telah Anda berikan kepada kami. Silahkan perkenalkan diri dan aktifitas anda.

 

Ibu Faribo Alaswand (FA):

Nama saya Faribo Alaswand. Saya telah belajar selama lebih kurang 25 tahun di hauzah. Selain belajar, saya juga mengajar di berbagai dispilin ilmu seperti: Filsafat, Fikih, Ushul dan Sastra Arab di hauzah dan berbagai universitas. Saya telah beraktifitas dalam masalah perempuan selama kurang lebih 12 tahun dan sekarang saya adalah anggota kelompok peneliti di Lembaga Pusat Penelitian Masalah Perempuan (Markaz-e Mutaleat-e Zanan) yang berhaluan Islam. Saya juga merupakan salah satu wakil di Dewan Permusyawaratan Kebudayaan Wanita yang berskala nasional dan berpusat di kota Teheran.

 

R: Apakah anda memiliki karya tulis? Jika ada, tolong jelaskan kepada kami.

 

FA: Saya telah menulis empat buku di antaranya berjudul: Perempuan dalam Sirah Nabi saww (Zan dar Sire-ye Peyombar-e A’zam saww), Perempuan dalam Timbangan Hak dan Tugas (Zanon dar Mawazen-e Hak va Taklif) dan lainnya. Saya juga telah menulis empat puluh artikel yang berkaitan dengan masalah perempuan.

 

R: Kami dengar Anda sering pergi ke luar negeri untuk menghadiri berbagai konfrensi, baik sebagai pemakalah ataupun hanya sebagai undangan. Dapatkah anda menjelaskannya kepada kami?

 

FA: Saya telah mengadakan perjalanan ke luar negeri seperti Swiss, Amerika, Austria, Turki dan Libanon. Sebagian event tersebut berkaitan dengan propaganda kebudayaan. Di antaranya Konfrensi 8 negara Islam di Turki, dalam rangka mengkritisi ‘Proyek Timur Tengah Besar’ gagasan Amerika. Kemudian Konfrensi Perempuan Negara-negara Islam yang diselenggarakan di Turki dalam rangka mengutarakan berbagai solusi untuk peran aktif perempuan muslim dalam berbagai bidang sosial, budaya, politik serta berbagai problem yang akan dihadapinya. Iran juga mengirimkan rombongan resmi dan ikut serta menyampaikan makalah yang berkaitan dengan kekerasan terhadap perempuan, diskriminasi, karier dan masalah lainnya. Selanjutnya, kami diundang secara resmi untuk menghadiri konfrensi ‘Komisi Kedudukan Wanita’ yang berpusat di Amerika pada bulan Maret tahun 2007 Masehi. Tapi, kami tidak bisa menghadiri konfrensi tersebut karena pemerintah Amerika tidak memberikan visa kepada kami. Kami juga telah mengadakan perjalanan ke Swiss dan mengadakan aktifitas selama 8 hari di sana.

 

R: Sewaktu Anda atau duta Iran menghadiri berbagai event tersebut, bagaimana reaksi negara-negara lain khususnya negara-negara Eropa terhadap Iran?

 

FA: Sambutan mereka cukup bagus dan kami pun berusaha agar kehadiran kami dalam konfrensi internasional seperti itu adalah kehadiran yang aktif bukan fasif. Sayangnya, prilaku salah beberapa negara Islam terhadap perempuan dan berita-berita tentang hal itu, juga film-film yang diputar tentang kekerasan terhadap perempuan telah menimbulkan kebencian, emosional dan citra buruk terhadap para perempuan muslim. Namun, secara umum dapat dikatakan bahwa berbagai negara mengakui bahwa perempuan Iran adalah para perempuan yang sukses. Padahal mereka telah mengahadapi berbagai propaganda anti perempuan muslim, khususnya perempuan Iran.

 

Gambaran mereka terhadap perempuan muslim Iran, khususnya pasca revolusi, adalah perempuan yang berwibawa dan sukses dengan berbagai perannya dalam masyarakat. Negara-negara Islam lainnya baik yang berada di kawasan Timur-Tengah maupun Afrika memandang positif terhadap perempuan Iran, meskipun perempuan Iran juga menghadapi berbagai kendala. Dan ini merupakan hal yang tidak disukai oleh Amerika. Sebagai negara Islam, Iran telah menjadi contoh untuk negara-negara Islam lain, khususnya dalam masalah perempuan. Kami berusaha mengetahui secara terperinci data statistik kondisi perempuan Iran, karena bahasa dunia sekarang adalah data statistik dan kita harus berdialog dengan bahasa tersebut untuk melawan berbagai propaganda anti Iran.

 

Pengetahuan masyarakat dunia tentang perempuan muslim sangat minim sekali. Bahkan dapat dikatakan pengetahuan mereka hanya sebatas tentang perempuan Arab, dan hak-hak wanita dalam fikih Ahli Sunnah. Sementara mereka tidak tahu tentang hak-hak perempuan di negara Islam lainnya khususnya di Iran. Bisa dikatakan bahwa pengetahuan mereka tentang hak-hak wanita dalam persfektif Syi’ah adalah nol. Contohnya ketika kami mendatangi pusat penelitian di dua universitas California yang begitu besar, kami hanya menemukan sumber seputar hak-hak wanita dalam persfektif Sunni. Tidak ada satu pun sumber yang mengulas tentang hak-hak perempuan dalam perspektif Syi’ah. Itulah sebabnya mengapa mereka tidak dapat mengenal kondisi seluruh wanita yang berada di negara Islam khususnya di Iran yang bermazhabkan Syi’ah. Ketika saya menerangkan tentang kedudukan perempuan dalam persfektif Islam yang sebenarnya, mereka sangat kagum sekali (tidak ada kata-kata lain lagi yang dapat saya gunakan untuk menggambarkannya). Ketika saya pun menjadi pemakalah di hadapan para pendeta (8-10 orang) yang dilaksanakan di Austria dengan topik ‘Bunda Maryam dalam Persfektif Al-Qur’an’, mereka sangat kagum saat mengetahui pandangan al-Qur’an berkenaan dengan pribadi Bunda Maryam sebagai dirinya sendiri (bukan karena beliau sebagai ibu Nabi Isa al-Masih) dan masalah ini merupakan masalah yang baru bagi mereka.

 

Namun yang jelas, usaha untuk mengubah opini dunia terhadap perempuan muslim tidak dapat dilakukan Iran sendirian, tetapi Iran harus bekerjasama dengan negara-negara lainnya dan kami sedang melakukannya saat ini.

 

R: Sebagai aktifis dan peneliti dalam masalah perempuan di Iran, dapatkah anda jelaskan kepada kami tentang kondisi perempuan Iran secara umum?

 

FA: Kami tidak mengatakan bahwa secara keseluruhan kondisi perempuan Iran sangat ideal. Saya pikir, 28 tahun pasca revolusi bukanlah waktu yang cukup untuk mengadakan perombakan dalam berbagai bidang khususnya masalah perempuan. Jadi, rentang waktu ini adalah awal perjalanan kami. Tetapi, setelah saya mengadakan berbagai perjalanan ke Timur Tengah, Eropa dan Amerika dapat saya katakan bahwa kondisi perempuan Iran dalam berbagai segi lebih baik ketimbang negara lainnya. Maksudnya, masalah pertama yang memandang wanita hanya dari sisi gendernya tidak begitu parah di Iran.

 

Jika anda mengadakan perjalanan ke seluruh dunia maka anda akan lihat bahwa kondisi perempuan sangat menyedihkan. Mereka bahkan tidak mempunyai hak untuk memiliki dirinya sendiri. Sekarang kita bisa melihat bahwa bisnis terbesar dunia ialah bisnis perempuan (pornografi) dan ini merupakan menunjukkan bahwa perempuan tidak dapat memiliki dirinya sendiri. Tetapi perempuan muslim dapat memiliki dirinya sendirinya. Jika mereka mengatakan bahwa jilbab atau busana muslimah adalah perwujudan patriarki, menurut saya justru sebaliknya, buka-bukaan merupakan perwujudan patriarki. Pornografi dan seks merupakan perwujudan dunia patriarki, karena dengan buka-bukaan wanita telah membiarkan tubuhnya dinikmati para lelaki hidung belang. Sementara dengan busana muslimah yang dikenakannya, perempuan muslim telah memploklamirkan bahwa jiwanya adalah milik dirinya sendiri. Jilbab merupakan langkah pertama para perempuan muslim agar dapat mengembangkan segala profesionalisme dan potensi insani yang ada pada dirinya dan ia tidak dilihat dari sisi gendernya.

 

Perempuan Iran tidak menyibukkan diri dengan riasan, mode sebagai tujuan hidupnya. Ia telah mendapat kesuksesan dalam berbagai bidang. Tingkat pendidikan perempuan Iran di universitas sangat maju pesat, sehingga tidak ada satu negarapun yang dapat menyainginya. Hingga kini 50% para pelajar yang diterima di berbagai universitas adalah perempuan. Sepengetahuan saya, pasca revolusi, hampir setiap tahun ditetapkan undang-undang resmi yang membela dan menguntungkan perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa nagara kami sangat memperhatikan masalah perempuan. Mungkin saja partisipasi perempuan di MPR tidak sebanyak di negara lain, namun mereka memiliki pengaruh yang sangat besar di dalamnya. Setiap kantor kementrian memiliki kantor khusus tentang perempuan, yakni pada setiap kementrian harus didirikan sebuah lembaga yang bertugas menyelesaikan berbagai masalah perempuan dalam kementrian tersebut. Mungkin sebagian masalah yang diutamakan misalnya perempuan yang menjadi kepala rumah tangga(ditinggal mati atau cerai). Namun secara umum dapat dikatakan bahwa kondisi perempuan Iran sangat positif. Undang-undang tersebut disosialisasikan dan dijalankan dan mungkin saja terdapat undang-undang yang belum terlaksana.

 

Bersambung…


Responses

  1. harus perempuan cut nyak dhien membaca ini…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: