Oleh: islam feminis | Mei 17, 2007

Hijab dan Konsep Kebebasan (Liberalisme) bag-4; Hijab dan Kebebasan

s_hijab15.jpg

Bila kembali kita cermati ayat al-Qur’an tentang hijab, wanita muslimah diperintahkan untuk mengenakan busana muslimah ketika ia hendak keluar rumah dan berhadapan dengan lelaki non mahram. Karena jika ia berada di dalam rumah dan tidak ada laki-laki non mahram ia tidak perlu mengenakan busana muslimah. Ini berarti al-Qur’an berkata: beraktifitaslah wahai pemakai busana muslimah!

Hak asasi dan kebebasan yang telah dikeluarkan dari kantongnya sendiri. Jika salah seorang dari mereka terbunuh oleh seorang muslim, mereka langsung akan berteriak dan turun tangan untuk menanganinya dengan alasan pembunuhan bertentangan dengan hak-hak asasi manusia. Namun ketika berjuta-juta muslim di Palestina, Afaganistan … dibunuh secara massal oleh tentara Israel, Amerika dan sekutu-sekutunya, mereka yang selalu menggembor-gemborkan hak-hak asasi manusia diam seribu bahasa. Apakah mereka yang terbunuh bukan manusia? Ini semua menunjukkan terjadinya diskriminasi hak-hak asasi manusia. Saat ini, tidak selayaknya lagi digunakan istilah “hak-hak asasi manusia”, namun yang lebih tepat digunakan adalah “hak-hak asasi sebagian manusia”.

————————————————–

Hijab dan Konsep Kebebasan (Liberalisme) bag-4; Hijab dan Kebebasan

                                                                             Euis Daryati 

Lantas bertentangankah hijab dengan kebebasan? Pertanyaan ini dapat mengandung dua pemahaman berikut ini: hijab dapat bertentangan dengan konsep yang dianut kaum liberalis atau hijab dapat membatasi kebebasan aktifitas dan karier wanita. Artinya, dengan mengenakan hijab islami wanita tidak dapat beraktifitas dengan leluasa. Karena hijab telah merampas kebebasan wanita, sementara kebebasan merupakan hak asasi manusia, maka konklusinya adalah hijab dan perintah pemakaian busana muslimah telah bertentangan dengan hak asasi wanita.

Sebenarnya dalam menganalisa kasus ini kita dapat balik bertanya, apakah seseorang tidak berhak berprilaku sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya? Apakah bukan merupakan hak asasi seseorang jika ia berbusana sesuai dengan agama yang dianutnya? Jika kita cermati praduga yang mengatakan bahwa mengenakan busana muslimah bertentangan dengan kebebasan dan hak asasi manusia, maka pelarangan mengenakan hijab sendiri sebenarnya bertentangan dengan hak asasi manusia. Manusia beragama berhak dan bebas mengenakan busana yang sesuai dengan tuntunan ajaran agamanya dan tidak ada seorangpun yang berhak melarangnya. Sering terjadi fallacy (pemutarbalikan) dalam memahami arti kebebasan, termasuk kebebasan dalam berbusana. Seorang perempuan dibolehkan memakai busana seronok dengan dalih hak asasi dan kebebasan tetapi seorang muslimah malah digugat ketika ia mengenakan busana muslimah dengan dalih bertentangan dengan hak asasi dan kebebasan. Apakah memakai hijab bukan merupakan hak asasi dan kebebasan seorang muslimah? Kenapa jika perempuan mengenakan busana muslimah dianggap bertentangan dengan hak-hak asasi manusia, akan tetapi para pengusung kebebasan tidak pernah menggugat dan mengatakan bahwa seorang wanita yang mengenakan busana tidak sopan bertentangan dengan hak-hak asasi manusia?

Para pengusung kebebasan itu hanya melihat suatu permasalahan dari permukaannya saja dan dengan cepat menggugat dan memvonis perkara yang merugikan mereka. Hak asasi dan kebebasan yang sering menjadi semboyan manis mereka, digunakan untuk mengelabui banyak manusia dan merusak fitrahnya. Kebebasan dan hak asasi yang sering digembor-gemborkan itu sebenarnya adalah kebebasan yang dipaksakan. Mereka menggugat suatu perkara dan kemudian membandingkannya dengan kebebasan menurut persepsi mereka. Kebebasan dan hak asasi yang definisinya diolah dan diproduksi oleh mereka sendiri tanpa melibatkan hal lain yang berbeda dari persepsi mereka. Hak asasi dan kebebasan yang telah dikeluarkan dari kantongnya sendiri. Jika salah seorang dari mereka terbunuh oleh seorang muslim, mereka langsung akan berteriak dan turun tangan untuk menanganinya dengan alasan pembunuhan bertentangan dengan hak-hak asasi manusia. Namun ketika berjuta-juta muslim di Palestina, Afaganistan, Irak, Libanon dan penjuru dunia lainnya dibunuh secara massal oleh tentara Israel, Amerika dan sekutu-sekutunya, mereka yang selalu menggembor-gemborkan hak-hak asasi manusia diam seribu bahasa. Apakah mereka yang terbunuh bukan manusia? Ini semua menunjukkan terjadinya diskriminasi hak-hak asasi manusia. Saat ini, tidak selayaknya lagi digunakan istilah “hak-hak asasi manusia”, namun yang lebih tepat digunakan adalah “hak-hak asasi sebagian manusia”.

Di sisi lain, konsep hak asasi manusia dan kebebasan yang salah telah meracuni jiwa para pemuda masa kini dan telah melahirkan sebuah generasi emang gue pikirin dan cuek (ada apa dengan loe, hak asasi gue berprilaku seperti ini) ketika berhadapan dengan sebuah perbuatan yang bertentangan dengan kultur negara kita.Hijab dalam Islam sama sekali tidak bertentangan dengan kebebasan dan hak asasi manusia karena salah satu hak asasi perempuan muslimah adalah mengenakan busana sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya dan ini merupakan sebuah kebebasan insani. Karena hijab merupakan salah satu hukum Islam maka pondasi-pondasi hijab dan kebebasan bertumpu pada pondasi-pondasi kebebasan dalam Islam. Kita akan sulit menemukan titik temu antara kebebasan yang dianut kaum liberal dengan kebebasan yang dimaksud oleh Islam karena epistemology, antopology dan anthropologi keduanya berbeda. Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, kebebasan dalam Islam ialah kebebasan yang berlandaskan kepada Tuhan sebagai poros sedang kebebasan itu merupakan sebuah sarana bukan sebuah tujuan dan berlandaskan pada akal pikiran.Hijab Islami juga tidak bertentangan dengan aktifitas dan karier kaum wanita dan tidak mengikat wanita. Hijab Islami adalah penjaga wanita bukan penjara wanita. “Hijab adalah penjaga wanita yang menyebabkan ia selalu ceria dan kecantikannya tetap langgeng”. [1] Hijab Islami juga bukan penjegal kebebasan. Bahkan dengan mengenakan busana muslimah seorang perempuan dapat beraktifitas dengan bebas di luar rumah.

Ketika seorang muslimah memakai hijab Islami akan tercipta lingkungan kerja yang bersih dari pemikiran-pemikiran negative sehingga laki-laki dan perempuan yang beraktifitas di dalamnya akan lebih konsentrasi pada aktifitasnya masing-masing, tentu saja dengan syarat bahwa wanita berprilaku sesuai dengan pesan hijab Islami.Ketika menjelaskan salah satu falsafah hijab, al-Qur’an menyebutkan: “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal…” [2] Walaupun dalam beberapa penafsiran, arti ayat tersebut adalah agar perempuan berhijab Islami lebih mudah untuk dikenal dan dibedakan bahwa ia bukan budak, [3] namun makna ini pun akan mengandung arti yang lebih luas. Pada zaman sekarang ini yang tidak lagi mengenal perbudakan, maka perempuan yang berhijab Islami akan dikenal dari sisi kedudukan insaniyahnya bukan sisi gender. Ia akan bebas dari belenggu perbudakan busana. Karena ketika ia berbusana muslimah berarti ia telah tunduk dan patuh terhadap perintah pemilik sejatinya yaitu Tuhan. Dengan kecintaan dan kepatuhan kepada kekasih sejatinya ia mengenakan hijab Islami.Bila kembali kita cermati ayat al-Qur’an tentang hijab, wanita muslimah diperintahkan untuk mengenakan busana muslimah ketika ia hendak keluar rumah dan berhadapan dengan lelaki non mahram. Karena jika ia berada di dalam rumah dan tidak ada laki-laki non mahram ia tidak perlu mengenakan busana muslimah. Ini berarti al-Qur’an berkata: beraktifitaslah wahai pemakai busana muslimah! Hijab itu sendiri tidak menghalangi aktifitas wanita berbusana muslimah tetapi lingkungan atau negaralah yang telah membatasi mereka. Bahkan ironisnya, di beberapa daerah atau negara, seorang wanita tidak bisa diterima bekerja karena mengenakan busana muslimah. Misalnya, seperti yang telah terjadi pada tahun-tahun lalu di negara kita atau yang terjadi di Perancis beberapa tahun yang lalu, ketika sekolah-sekolah mengeluarkan para siswi dari karena mereka mengenakan hijab Islami.

Kesimpulan:

1- Tidak mungkin terdapat kebebasan mutlak bagi manusia, baik secara teoritis, karena manusia merupakan substansi terbatas maka semua predikat yang menempel kepadanya akan terbatas pula. Bagaimana mungkin sesuatu yang keberadaannya terbatas (karena manusia didahului oleh ketiadaan, lalu ada), memiliki sifat-sifat yang tidak terbatas (mutlak / absolut).

2- Sedang secara praktis, manusia juga tidak mungkin memiliki kebebasan mutlak karena di mana ada hak dan kebebasan maka di situ ada kewajiban dan keharusan yang membatasi kebebasannya.

3- Telah terjadi diskriminasi dalam penerapan hak-hak asasi manusia dan kebebasan. Hak-hak asasi manusia hanya diberlakukan bagi orang-orang yang dianggap manusia oleh mereka yang meneriakkan hak-hak asasi manusia.

4- Hijab islami tidak bertentangan dengan kebebasan karena mengenakan busana sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya adalah merupakan hak asasi seorang muslimah.

Hijab islami tidak membatasi aktifitas dan karier wanita muslimah karena hijab adalah penjaga bukan penjara. Lingkungan dan negara yang sebenarnya telah membatasi aktifitas dan karier wanita. Wallahua’lam.



[1] Rey Syahri, Muhammad, Muntakhab Mizan al-Hikmah, 1422 HQ,
Qom, Daar al-Hadits, hal : 122, hadis ke-1376.

[2] QS. al-Ahzab : 59.

[3] Al-Thabathaba’i, Muhammad Husein, al-Mizan, 1411 QH,
Beirut, Muasasah al-A’lami lil Mathbua’at, hal :346.
 

 


Responses

  1. Kalau bicara Hak Asasi >> tentang masalah berbusana hak masing-masing individu. Mau Berbuat seperti apa, itu hak masing2 orang.
    Memang dalam Islam Ada aturan-aturannya. Tidak cuma masalah berbusana saja yang diatur. Tidur – Makan – Jalan – berbicara – Bertamu bahkan masuk ke kamar kecilpun ada aturan-aturan nya.
    Dan di dalam Islam sendiri tidak pernah memaksa dan mengharuskan memakai JILBAB. Yang diharuskan adalah menutup Auratnya. Kebetulan kita di jaman Modern jadi untuk Menutup aurat ya pakai Kerudung dan Jilbab…. Kalau ada yang lebih baik lagi cara menutup aurat – ya silahkan saja pakai..
    Anggapan negatif ini membatasi ruang gerak dan kreativitas perempuan dalam semua bidang kehidupan karena semua aturan hidup (hukum yang dibuat penguasa) tidak berpihak kepada perempuan. Misalkan, kewajiban berjilbab bagi perempuan yang diyakini sebagai perintah syariah. Kewajiban berjilbab ini merupakan tindakan pengasingan sosial terhadap perempuan karena mengakibatkan kesulitan bagi perempuan dalam memenuhi fungsi sosialnya. Menurut Qasim Amin (intelektual Mesir), alienasi sosial ini merupakan kejahatan terhadap intelektualitas dan kesehatan, dan yang bertanggung jawab atas kemunduran perempuan muslimah secara umum (Tahrir al-Mar’a, 1928).
    Padahal, penafsiran ayat tentang jilbab ini masih menjadi perdebatan (ikhtilaf) dan silang pendapat oleh para ahli fikih (ra’yul basuar) atau bukan hukum agama yang jelas, tepat, dan pasti. Ada tiga ayat Al Quran yang ditafsirkan sebagai perintah penggunaan jilbab atas perempuan, serta dua hadis nabi yang dijadikan landasannya.
    Pertama, ayat hijab (kewajiban hijab), meskipun ayat tersebut ditujukan untuk istri-istri Nabi, ayat tersebut tetap berlaku bagi perempuan mukminah lainnya karena mengandung perintah kemuliaan akhlak, yang tentu tidak berlaku pengkhususan. Bagi yang menuntut peniadaan hijab, ayat tersebut tidak bersinggungan sama sekali dengan tradisi model penutup rambut bagi perempuan mukminah. Penamaan penutup kepala dengan hijab dan melandaskannya pada ayat tersebut merupakan tindakan salah kaprah karena hijab secara bahasa adalah as-satir (penutup tertentu/sekat), bukan jilbab atau penutup kepala.
    Kedua, ayat khimar, QS 24:31, yakni anjuran untuk menjumbaikan kerudung ke atas dada sebagai koreksi atas tradisi perempuan yang memperlihatkan dadanya. Bagi yang mendukung kewajiban berjilbab, ayat Al Quran tersebut memerintah untuk bertutup dan telapak tangan. Bagi yang mendukung peniadaan kewajiban berjilbab, ayat ini meluruskan tradisi berbusana pada zaman itu dengan penekanan pada penutup dada dan agar tidak memperlihatkannya dan tidak ada sangkut pautnya dengan penutup kepala.
    Ketiga, ayat jalabib, QS 33:59, yakni perintah memanjangkan pakaian perempuan untuk membedakan perempuan merdeka dan budak agar tidak digoda oleh laki-laki. Bagi yang mendukung kewajiban berjilbab, ayat tersebut menyuruh seluruh perempuan mukminah-budak atau bukan-untuk menutup organ tubuh dan bertindak sopan. Bagi yang tidak mendukung, hukum yang tetap dari ayat tersebut adalah kesopanan dan tidak berlaku pamer yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan perintah berjilbab (Muhammad Sa’id al-Asyamawi, 2003).
    PEMAKNAAN tubuh perempuan sebagai aurat adalah suatu tindakan kekerasan oleh kekuatan yang merasa mempunyai otoritas untuk memaksa dan mengatur pihak yang dikuasainya. Pemaknaan itu muncul akibat dari proses budaya yang timpang, yakni tafsir ajaran agama oleh dominasi laki-laki. Tafsir ajaran agama hanya oleh laki-laki menyebabkan kekosongan tafsir perspektif perempuan sehingga tidak ada harmoni dan keseimbangan dalam tafsir keagamaan.
    Dominasi patriarki yang memasuki wilayah agama secara otomatis melahirkan aturan dan dogma agama terhadap tubuh manusia yang bias jender. Bahkan dalam agama seperti Islam dan Kristen, diyakini bahwa problematika tubuhlah yang telah menyebabkan kejatuhan manusia, sebagaimana yang dikisahkan dalam kitab suci tentang dosa Eva dan Hawa. Stereotip atas watak seksualitas Eva dan Hawa (baca: perempuan) inilah yang menciptakan mitologi tubuh dan seksualitas perempuan sebagai yang negatif inferior.
    Tubuh perempuan dianggap sebagai media pembawa dan penyebab kejahatan, seperti tuduhan terhadap korban perkosaan sebagai penyebab terjadinya kejahatan perkosaan terhadap dirinya. Definisi dan gerak tubuh perempuan didefinisikan dan dikontrol sedemikian rupa oleh kuasa patriarki.
    Dalam Islam, kontrol terhadap tubuh perempuan yang dilegitimasi oleh teks- teks keagamaan bukan hanya dalam tafsir (seperti tafsir ayat tentang jilbab), bahkan syariat. Menurut Masdar F Mas’udi (Menakar Harga Perempuan, 1999), pandangan atau wacana agama yang mendiskreditkan perempuan di antaranya:
    Pertama, dalam fikih terdapat ajaran yang menyatakan perempuan adalah kelemahan dan aurat, maka tutuplah kelemahan itu dengan diam, tak banyak bicara, dan tinggal di rumah. (Kitab Makarim Al-Akhlaq karya Syaikh Radhi Ad-Din)
    >>> salam kenal kembali dari http://wargabanten.wordpress.com

    —————————–
    Muslimah:

    Wah menarik nih untuk bahan diskusi…Teh!
    Tanggapanku, saya tampilkan di blog aja yah?

  2. hi..3x >> panjang sekali commentnya.. maaf..!

    —————————-

    Muslimah:
    Tidak apa-apa memberikan komentar merupakan hak asasi Anda.
    Hatur nuhun tos dongkap di blog abdi…tiasa bahasa Sunda sanes?

  3. “karena hijab adalah penjaga bukan penjara …”
    bener… tapi avatar yang diatas itu rupanya dia menikmati betul memakai jilbab.. aku lebih suka melihat wanita seperti dia cantik lagi…🙂 (canda)
    btw.. memang berjilbab dan tidak berjilbab adalah pilihan sebagaimana apakah dia mau berpuasa sunnah atau tidak …? Entahlah..
    ———————————–
    Muslimah:
    Berbusana muslimah berbeda dengan hukum puasa sunnah. Berbusana muslimah sebagaimana yang tercantum dalam al-Qur’an surat An-Nuur ayat-31 dan al-Ahzab ayat 59 hukumnya wajib seperti shalat dan puasa Ramadhan. Artinya jika puasa sunnah berdasarkan kaidah Usul Fikih “dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa”. Namun lain halnya dengan hukumnya yang wajib dalam kaidah usul “dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan maka ia berdosa”.

    Jelas masalah pahala dan dosa kembali kepada manusia itu sendiri. Karena Allah Maha sempurna tidak butuh kepada segala sesuatu pun termasuk kepada ibadahnya manusia. manusia beribadah karena kebutuhan dirinya sendiri. Karena berdasarkan kaidah teologis Sang Pencipta pasti akan lebih tahu hal-hal yang bermanfaat dan merugikan ciptaannya daripada yang lainnya, (seperti halnya pembuat komputer akan lebih mengetahui hal-hal yang akan merusak dan berguna unt komputer daripada yg lainnya) – contoh untuk pendekatan akal-. Tuhan Yang Maha Bijaksana tidak akan memerintahkan sesuatu kecuali karena terdapat maslahatnya, sebaliknya Dia tidak akan melarang sesuatu kecuali karena terdapat bahaya padanya, karena ilmunya Tuhan tidak terbatas (absolut). Namun akal dan ilmu manusia terbatas terkadang tidak mengetahui hikmah yang terdapat didalamnya.

    Perlu dicatat, karena Allah swt Maha bijaksana maka hukum yang menanggalkan hijab pun akan berbeda pula. Orang yang tidak mengenakan busana muslimah karena tidak tahu, maka akan berbeda hukumnya dengan wanita yang tidak mengenakan busana muslimah ia tahu namun membangkang. Atau Penolakan atas dasar pembangkangan.

    Singkat kata, bagaimana mungkin kita mengatakan “Ya Tuhanku, aku mencintai-Mu” namun dalam prilaku bertolak belakang dengan yang telah diperintahkan-Nya, bohong ia telah mengatakan ‘cinta’ . Bukankah ketika mencintai seseorang maka ia akan menuruti segala yang diinginkan oleh kekasihnya, inilah cinta sejati… dan Tuhan Maha Besar adalah kekasih Sejati kita.
    Mas dapat menelaah kembali tentang falsafah ‘hijab (busana muslimah)’, dalam Al-qur’an dan berbagai sumber lainnya.

  4. hei mbak Euis Daryati (nice name)… bukankah menjilbabi lahir itu sama pentingnya dengan menjilbabi hati? entahlah… lalu bagaimana batasan jilbab itu sendiri? aku iklankan bukan di yahoo tapi di blog sini
    Muslimah:

    Benar mas sama pentingnya, semua ibadah memiliki sisi lahir dan bathinnya, contohnya solat, bentuk lahirnya ialah takbir, ruku, sujud, tasyahud dan bagian lainnya, namun sisi bathinnya ialah kehadiran hati dan pengaruh solat dalam kehidupan sehari-hari kita sebagaimana yang telah dijelaskan oleh al-Qur’an yaitu mencegar dari perbuatan yang keji dan munkar. dalam masalah busana muslimah pun seperti itu.
    Terima kasih Anda sudah mengiklankan blog kami. Mengenai pertanyaan anda kala itu yang mengatakan kenapa tidak bikin situs resmi, saya katakan; Sebenarnya kami ingin bikin situs resmi, tapi masih dalam perencanaan. Selain itupun kesibukan kami masing-masing yang belum mengizinkan untuk hal itu. Sebenarnya sih yang ngelola cuma seorang (Euis Daryati), hanya saja akhwat yang lain ikut menyumbangkan tulisan. Karena saya mencoba untuk menangani sendiri terlebih dahulu serta kecil-kecilan, baru setelah itu saya mengajak akhwat lain yang tempatnya saling berjauhan dan memiliki kesibukan masing-masing untuk membuat situs yang resmi, yang tentunya InsyaAllah lebih bagus dan sempurna. Tunggu saja kehadirannya…
    Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih atas masukannya.

  5. Sangat sedih sekali rasanya melihat generasi islam sekarang… jilbab jadi penghalang untuk menampilkan lekuk tubuh. Astaghfirullah…

  6. hijab…adalah awal dari segala perubahan hidup Rie.walaupun niat awal Rie bukan untuk “berhijab” 100%, tapi subhanallah…niat baik yang sedikit inilah yang kemudian di tuntun Allah hingga sekarang, terus memahami hujab itu sendiri secara kaffah dan Rie berusaha untuk dapat memahamkannya kepada orang lain…

    ————————-
    Muslimah:

    Selamat dech mbak, semoga tetap istiqomah…
    Usaha mbak tidak akan sia-sia. Allah akan membalasnya, insya-Allah…

  7. memang kadang terasa berat utk dapat menegakkan apa2 yang di perintahkan Allah swt kepada hambanya..

    yang terpenting adalah tetap istiqamah..

  8. BEgitu menyenangkan dan menguntungkannya agama islam yang selalu memberi banyak jalan kepada ummatNYA agar mendapatkan hidup yang lebih baik ..
    🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: