Oleh: islam feminis | Mei 16, 2007

Benarkah Ummul-Mukminin Sayyidah Khadijah as Berstatus Janda?

“Sebagian hadis menunjukkan bahwa Rasulullah tidak menikah dengan seorang gadispun kecuali Aisyah. Dalam beberapa riwayat lain menjelaskan bahwa Sy. Khadijah sebelum menikah dengan Nabi Muhamad saww telah menikah sebanyak 2 kali. Namun kami meragukan keshahihan riwayat-riwayat tersebut. Karena pertama, Ibnu Syahr Asyub berkata: “Ahmad Biladzari, Abu al-Qasim Kufi, Sayyid Murtadha dalam Syafi dan Abu Jakfar dalam Talkhis meriwayatkan bahwa Nabi Muhamad saww telah menikah dengan Sy. Khadijah sementara beliau dalam keadaan gadis”. Kedua, tidak jauh kemungkinan pada jangka lama ini beliau tidak menikah dengan siapapun, karena ayahnya telah meninggal di perang Fijar. Dan wali beliau tidak memiliki kekuasaan dalam memaksa beliau untuk menikah. Beliau telah menolak lamaran beberapa pembesar, sampai akhirnya beliau menemukan suami yang diidamkannya yang memiliki sifat-sifat mulia dan kepribadian yang agung. Begitupula, berkaitan dengan usia pernikahan Sy. Khadijah terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama. Meskipun berdasarkan pendapat termasyhur yang beliau menikah dengan Nabi Muhamad saww pada usia pada 40 tahun namun sebagian mengatakan beliau menikah pada usia 25, 28, 30, 35 bahkan ada yang mengatakan pada usia 45 tahun”. 

———————————————

Benarkah Ummul-Mukmin Sayyidah Khadijah as Berstatus Janda?

Sy. Khadijah binti Khuwailid adalah dari keturunan Qusay bin Kilab (kakek ke-4 Rasulullah saww). Ibunya bernama Fathimah binti Zaidah bin Asham. Berdapatkan pendapat masyhur, sebelum menikah dengan Nabi Muhamad saww beliau telah menikah 2 kali, pertama dengan Atiq bin A’id Mahzuni dan sepeninggal suami pertamanya kemudian beliau menikah dengan Abu Halah Tamimi.

Seorang pakar sejarah Islam yang bernama Jakfar Murtadha dalam karyanya yang berjudul ‘ash-shahih min sirati an-nabiyi’ menulis:

“Sebagian hadis menunjukkan bahwa Rasulullah tidak menikah dengan seorang gadispun kecuali Aisyah. Dalam beberapa riwayat lain menjelaskan bahwa Sy. Khadijah sebelum menikah dengan Nabi Muhamad saww telah menikah sebanyak 2 kali. Namun kami meragukan keshahihan riwayat-riwayat tersebut. Karena pertama, Ibnu Syahr Asyub berkata: “Ahmad Biladzari, Abu al-Qasim Kufi, Sayyid Murtadha dalam Syafi dan Abu Jakfar dalam Talkhis meriwayatkan bahwa Nabi Muhamad saww telah menikah dengan Sy. Khadijah sementara beliau dalam keadaan gadis”. Kedua, tidak jauh kemungkinan pada jangka lama ini beliau tidak menikah dengan siapapun, karena ayahnya telah meninggal di perang Fijar. Dan wali beliau tidak memiliki kekuasaan dalam memaksa beliau untuk menikah. Beliau telah menolak lamaran beberapa pembesar, sampai akhirnya beliau menemukan suami yang diidamkannya yang memiliki sifat-sifat mulia dan kepribadian yang agung. Begitupula, berkaitan dengan usia pernikahan Sy. Khadijah terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama. Meskipun berdasarkan pendapat termasyhur yang beliau menikah dengan Nabi Muhamad saww pada usia pada 40 tahun namun sebagian mengatakan beliau menikah pada usia 25, 28, 30, 35 bahkan ada yang mengatakan pada usia 45 tahun”. [1]

Sy. Khadijah sangat kaya raya, setiap tahun beliau mengirim orang-orang ke berbagai tempat untuk berbisnis. Selain kaya raya beliaupun berparas cantik dan menarik, bahkan sifat-sifat dan kepribadian agung yang dimilikinya telah dikenal oleh semua orang, sehingga di Mekkah beliau telah digelari dengan thahirah (yang suci).

Sewaktu Abu Thalib (ayahnya Imam Ali) melamar Sy.Khadijah dalam menggambarkan kepribadian beliau berkata: “Wahai para hadirin ketahuilah bahwa keponakanku, Muhamad bin Abdullah telah melamar kemuliaan kalian (kaum Quraisy), perempuan yang sangat terkenal dengan kedermawanan dan keterjgaan (iffah). Perempuan yang kemuliaannya telah dikenal oleh semua orang, ia agung dan mulia”.[2]

Jakfar Murthada seorang pakar sejarah Islam menulis: “Khadijah merupakan perempuan Quraisy terbaik, termulia, terkaya dan tercantik. Ia diberi gelar thahirah dan sayyidah (penghulu) Quraisy, semua para pembesar kabilah berkeinginan untuk menikah dengannya”. Para pembesar Quraisy untuk melamarnya telah bersedia menyediakan harta yang banyak sebagai maharnya, mereka adalah; Uqbah bin Abi Mui’th, Shalti bin Abi Yahab, Abu Jahal dan Abu Sufyan. Namun Sy. Khadijah –yang terpenting baginya kemulian bathin dan akhlak prilakunya- telah menolak semua lamaran mereka. Beliau menerima lamaran Nabi Muhamad saww karena keluhuran budi pekerti dan kemuliaan jiwa yang dimiliki oleh Nabi Muhamad saww. [3]

Abul Hasan Bakri menulis: “Pada suatu hari Khadijah duduk di antara kumpulan para pelayannya, sementara seorang ulama Yahudi hadir di tempat tersebut. Tiba-tiba Nabi Muhamad saww melewati tempat tersebut. Sewaktu ulama yahudi melihatnya dan mengenalnya, ia memohon kepada Sy. Khadijah untuk mengundang beliau ke acara pertemuan tersebut. Sy. Khadijah mengirim budaknya untuk mengundang Nabi saww hadir di acara itu. Ketika ulama Yahudi melihat tanda kenabian di pundak beliau, lantas ia berkata: “Sumpah demi Tuhan inilah penutup kenabian”.

Sy. Khadijah berkata: “Jika pamannya mengetahui bahwa engkau telah melihat bagian dari tubuhnya maka ia akan menghukum Anda, karena beliau sangat merasa takut kepada ulama Yahudi. Ulama Yahudi berkata: “Siapa yang akan berani berbuat jahat kepadanya, sumpah demi kebenaran kalam Tuhan ia adalah Nabi akhir zaman. Berbahagialah orang yang akan menjadi istrinya, karena beliau orang yang sudah mencapai kemuliaan dunia dan akhirat. Sejak dari sini rasa cinta terhadap Nabi saww telah tumbuh di hati Sy. Khadijah”. [4]

Dengan berlalunya waktu rasa cinta terhadap Nabi saww semakin bertambah. Ini dikarenakan setiap hari beliau menyaksikan kemuliaan pribadi dan keluhuran budi pekertinya. Sampai akhirnya pada suatu hari beliau mendengar bahwa Abu Thalib akan mengirimnya untuk pergi berniaga. Sy. Khadijah segera mengusulkan kepadanya agar Nabi saww pergi ke Syam untuk berniaga dengan membawa barang dagangannya, dengan membagi keuntungan sebagaimana yang telah diberikan kepada yang lainnya. Sy. Khadijah mengirim budaknya yang bernama Maisaroh untuk menemani Nabi saww selama dalam perjalanannya.

Sekembalinya dari perniagaan Maisaroh menceritakan segala keajaiban yang telah disaksikannya selama menemani Nabi saww, yang menunjukkan kedudukan agung yang dimiliki oleh beliau. Dan iapun menyampaikan pesan seorang pendeta tentang Nabi saww kepada tuannya Sy. Khadijah. [5]

Setelah mendengar tentang keajaiban-keajaiban yang terjadi pada Nabi saww dari budaknya sebagai rasa syukur ia membebaskan budaknya yang bernama Maisaroh beserta keluarganya dengan membekali modal untuk memulai kehidupan barunya. [6]

Keesokan harinya ketika Nabi Muhamad saww kembali mendatangi untuk menghitung dan menyerahkan keuntungan hasil perniagaannya, ia memancing Nabi saww sehingga diketahui beliau berencana untuk membangun rumah tangga. Sy. Khadijah bertanya: “Apakah Anda senang, jika saya nikahkan dengan seorang perempuan pilihanku? Nabi saww menjawab: “Ya”. Sy. Khadijah kembali melanjutkan: “Saya telah menemukan seseorang yang sesuai untuk Anda, ia berasal dari bangsa Quraisy. Ia perempuan terkaya, tercantik, termulia, paling dermawan dan baik. Ia akan membantu segala urusanmu, ia rela dengan yang engkau miliki dan ia menyesuaikan hidupnya dengan hidupmu. Padahal apabila orang lain yang melamarnya dengan memberikan harta yang banyak ia tidak akan menerimanya”. Diakhir pembicaraannya Sy. Khadijah berkata: “Perempuan itu, yang akan menjadi pelayan dan milikmu adalah Khadijah”.

Karena Nabi saww mengetahui dan mengenal kemuliaan dan keluhuran budi pekerti Sy. Khadijah, beliaupun menerima usulannya dan akhirnya beliau melamarnya melalui pamannya Abu Thalib. [7] Setelah beliau menikah dengan Nabi saww para perempuan pembesar Quraisy mengucilkannya karena beliau telah menikah dengan orang miskin dan bukan bangsawan. Dari pernikahannya yang suci ini terlahirlah Qosim, Abdullah dan empat anak perempuan diantaranya ialah Sy. Fathimah Zahro. [8]

Rujukan:

1. Ash-Shahih min Sirat an-Nabi al-A’dzam, jil 1, hal 121-126.

2. Bihar al-Anwar, jil 16, hal 69.

3. Ash-Shahih min Sirat an-Nabi al-A’dzam, jil 1, hal 122.

4. Bihar al-Anwar, jil 16, hal 20.

5. Ibid hal 22 dan 44.

6. Ibid, hal 52.

7. Ibid, hal 54

8. Dalam kitab ‘Ash-Shahih min Sirat an-Nabi al-A’dzam’ jil 1, hal 121 dijelaskan bahwa sebagian pakar sejarah mengatakan bahwa hanya Fathimah Zahro putri beliau ,sementara anak perempuan lainnya merupakan keponakannya yang dibesarkan oleh Sy. Khadijah.


[Euis D, Sumber: Buzurg Zanon Shadre Islom (Para perempuan besar awal kemunculan Islam), Pazuhesykadeh Tahqiqote Islomi (penelitian dalam bidang keislaman), hal 38-43]


Responses

  1. Artikelnya sungguh-sungguh sangat menarik.. jika saudara mau, pernah dapat Ijin dari ADMINISTRATOR : http://mediadakwah.com utuk mengelolanya. Saya pernah mendapat hak sebagai Administrator. Cuma saya masih dalam tahap belajar memahami Islam. Jika Saudara Mau. Silahkan Hubungi Administrator http://mediadakwah.com untuk saudara kelola.
    Salam Kenal>:D

    —————————–

    Muslimah:
    Wah terlalu memuji-muji nih…Terima kasih atas sarannya. Sebenarnya insyaAllah saya bersama teman-teman yang lainnya sedang berencana akan membuat situs resmi untuk para muslimah dengan berbagai katagori yang insyaAllah akan lebih sempurna dan lebih bagus. Doakan saja…
    Hatur Nuhun

  2. Salom…
    Artikelnya menarik untuk dibahas, bolehkan saya berikan usulan menggugah? usulan saya seperti yang pernah di katakan oleh Ust. Muhsin Qiraati, status beliau janda atau tidak, pembahasan spt ini tidak begitu penting, artinya tidak akan memberikan pengaruh yang begitu besar, apa faidahnya janda atau gadis?!
    satu lagi sudahkah anti membaca pendapatnya Alamah Tustari dalam hal anak2 rasul selain Fhatimah sa mengenai anak angkat yang diasuh oleh sy khadijah; beliau mengatakan bahwa hal itu adalah sesuatu yang musallame tarikhi yang diterima oleh seluruh para muhakkik…wawllahu a’lam

    ————————–
    Muslimah:
    Wa’alikumsalam…
    Terima kasih atas kunjungan dan sarannya…
    Usulan Ust Muhsin Qira’ati adalah usulan yang sangat baik, apalagi usulan tersebut keluar dari pribadi agung seperti beliau, dan alfaqir menerima hal itu dengan sepenuh hati.
    Hanya saja alfaqir sampaikan kepada antum, artikel ini hanya sebuah pembuka untuk melanjutkan pembahasan tentang Sy. Khadijah as, dan isinyapun tidak terlalu mengkonsentrasikan pada masalah status janda atau gadisnya beliau. Selain itupun para audiens di dunia maya adalah khalayak umum tidak ada salahnya menyampaikan bahwa ada pendapat lain yang berbeda dengan pendapat dan cerita yang didengar selama ini. Selain itupun yang menyampaikan hal itu, adalah pakar sejarah pada masa ini. Hanya saja mungkin judulnya yang sangat menyolok -ya itu khan salah satu cara agar para pembaca tertarik-.
    Alfaqir belum membaca buku karya Allamah Tustari, hanya saja yah sudah membaca beberapa buku lainnya tentang perbedaan pendapat diantara para pakar sejarah tentang anak-anak perempuan Sy. Khadijah as.
    Selain itupun, ini tulisan masih perlu kelanjutannya, karena ada ujian semester akhirnya agak tertunda, insyaAllah apad waktu yang akan datang akan dilanjutkan.
    Sekali lagi terima kasih atas masukannya.

  3. adakah wanita yg sholihah laksana sayyidatina Khadijah…….? semoga 4JJI menganugerahkan padaku.

  4. gak penting emang janda atau bukan, yang kita perlu tau cuma kebenarannya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: