Oleh: islam feminis | Mei 11, 2007

Hijab dan konsep Kebebasan (Liberalisme) bag-2; Asas-Asas Liberalisme

s_hijab20.jpg

Dalam konsep kebebasan terdapat tiga pertanyaan yang harus dijawab: Siapakah subjek kebebasan? Apa penghalang kebebasan? Apa tujuan kebebasan? Berdasarkan ketiga ini, dapat diambil kesimpulan bahwa kebebasan berarti bebas atau terlepasnya seseorang atau sekelompok orang dari kekangan orang atau hal lainnya untuk melakukan sebuah pekerjaan atau untuk berprilaku tertentu. Secara simbolis dapat dikatan bahwa si A terlepas dari B untuk berprilaku C. Pengertian ini sesuai dengan pernyataan Mack.C yang berbunyi: “X is free from Y to do or be Z” dengan X = subjek, Y = penghalang dan Z = tujuan.

————————————————

 

Hijab dan Konsep Kebebasan (Liberalisme) bag-2; Asas-Asas Liberalisme

Oleh: Euis Daryati

Asas-Asas Konsep Liberalisme

Pada artikel ini hanya akan membahas secara ringkas berkaitan dengan konsep-konsep dasar yang merupakan asas pemikiran kaum liberal, diantaranya:

 

Liberalisme

Bagi penganut liberalisme, kekebasan merupakan asas, ruh dan jantung liberalisme. Bahkan lebih dari itu, para penganut liberalisme menganggap mereka berhutang budi pada konsep kebebasan meskipun terdapat perbedaan dalam pendefinisian kebebasan (makna dari freedom dan liberty) sebagaimana yang diakui oleh G. Bordu: “Kebebasan memiliki berbagai wajah. Bagi orang-orang miskin, kebebasan hanya akan menghadiahkan mati kelaparan baginya. Sementara bagi orang-orang mampu dan cerdas, dengan bantuan kekuatan dan kecerdasannya, mereka dapat menjadi pemilik ikhtiyar prilakunya sendiri. Oleh karena itu, tidak ada kesamaan di antara mereka dalam memahami arti kebebasan”.

Dalam konsep kebebasan terdapat tiga pertanyaan yang harus dijawab: Siapakah subjek kebebasan? Apa penghalang kebebasan? Apa tujuan kebebasan? Berdasarkan ketiga ini, dapat diambil kesimpulan bahwa kebebasan berarti bebas atau terlepasnya seseorang atau sekelompok orang dari kekangan orang atau hal lainnya untuk melakukan sebuah pekerjaan atau untuk berprilaku tertentu. Secara simbolis dapat dikatan bahwa si A terlepas dari B untuk berprilaku C. Pengertian ini sesuai dengan pernyataan Mack.C yang berbunyi: “X is free from Y to do or be Z” dengan X = subjek, Y = penghalang dan Z = tujuan.

Dalam konsep liberalisme, kebebasan harus mencakup pada dataran filsafat-teologi, politik-hak, ekonomi dan kebebasan moral. Berkaitan dengan kebebasan moral, penganut paham ini mengatakan bahwa seseorang bebas dalam berprilaku buruk atau bebas menyebarkan keburukannya. Para penganut paham ini bahkan meminta manusia dibebaskan dari segala bentuk kekangan agama dan moral, sebagaimana yang terjadi pada abad ketujuh belasan.Dalam pandangan mereka kebebasan merupakan sesuatu yang sangat sakral. Lord A sendiri mengatakan: “Kebebasan bukan merupakan sarana untuk mencapai politik ideal, namun secara substansial merupakan tujuan tertinggi politik”.


Individualisme

Menurut liberalisme, manusia merupakan subjek bebas yang dapat mencari argumen substansial dari dalam dirinya sendiri, bukan berdasarkan pada nilai-nilai mulia dan sosial. Kata subject yang dalam bahasa latin berasal dari kata subjectum tidak mereka artikan dengan taat dan hamba tetapi diartikan sebaliknya yaitu bebas dari segala bentuk belenggu dan ikatan asas-asas di luar pemikirannya. Dalam pandangan mereka, individu lebih utama dan realistis daripada masyarakat dan segala jenis lembaga karena dari berbagai sudut, individu lebih bernilai dari masyarakat. Dari sudut waktu, individu lebih dahulu muncul dari masyarakat maka berdasarkan sudut pandang moral, hak-hak dan segala jenis kehendaknya lebih utama dari segala hak dan kehendak masyarakat.Dan menurut Antonio R konsep individualisme inilah yang kemudian menempati pusat metafisik dan ontology paham liberalism.

Humanisme

Humanisme muncul di zaman Yunani klasik dan memiliki beberapa arti yang berbeda-beda. Saat ini, humanisme dikenal sebagai paham yang mengenalkan manusia sebagai esensi independen dan akal menempati kedudukan wahyu serta tidak memerlukan Tuhan karena manusialah yang menjadi tolok ukur segalanya. Pada akhirnya timbullah tolok ukur baik dan buruk yang cukup relatif dan beragam dikarenakan keragaman manusia itu sendiri.Kita dapat memahami dengan jelas esensi humanisme melalui ucapan Foir Bugh, filsuf Jerman: “tuhan manusia ialah manusia”.

Toleransi (Tasahul dan Tasamuh)

Secara terminologi, tolerance berarti toleransi, kesabaran, dan kelapangan dada.Menurut kaum liberal, pemerintah, masyarakat atau individu tidak diperkenankan untuk ikut campur dalam urusan keyakinan dan prilaku orang lain, walaupun perkara tersebut tercela dan buruk. Dengan kata lain mereka tidak boleh ikut campur atau tidak boleh mencegah segala jenis keyakinan yang terdapat dalam ranah agama, politik, akhlak, filsafat atau prilaku, baik itu tercela dan tidak disenangi berdasarkan dasar pengetahuan yang dimiliki, keinginan sendiri atau tujuan tertentu meskipun mereka memiliki kekuatan untuk mencegah perkara tersebut. Biasanya kaum liberal menjadikan ungkapan toleransi berhadap-hadapan dengan kekerasan.

Sekularisme

Sekularisme memiliki berbagai arti dan penggunaan yang berbeda-beda sepanjang sejarah Barat. Namun saat ini, sekularisme berarti pemisahan antara norma-norma sakral keagamaan dan urusan duniawi yang pada titik akhirnya menafikan peran agama dalam berbagai masalah sosial kemasyarakatan, termasuk dalam tataran hidup berbangsa dan bernegara.

Rasionalisme

Terdapat beberapa pokok dasar liberalisme lainnya seperti rasionalisme yang menganggap bahwa akal lebih utama dari iman, memiliki kapabilitas cukup untuk mengetahui dan menyingkap segala rahasia alam raya dan bebas (berdiri sendiri) serta terputus dari wahyu. Hal ini menyebabkan manusia penganut paham ini tidak bisa mendapatkan pancaran sinar illahi.

Utilitarianisme (hedonisme)

Dasar lainnya adalah utilitarianisme (hedonisme) yang mendefenisikan manusia sebagai substansi pencari kelezatan dan kesenangan. Yang menjadi tolok ukur baik dan buruk ialah motivasi atau rasa ingin mencari kelezatan dan kesenangan dalam diri manusia. Semua manfaat hanya diusahakan untuk kesenangan dirinya tanpa memikirkan kesenangan dan kelezatan orang lain.

Bersambung….

————————————————————————————————–

Zarsyenos, Syahriyar, Mabani-e Nazari-e Gharb-e Modern, 1383 QS, Teheran, Kitab-e Subh, cetakan pertama, hal : 134.

Qanbari, DR. Ayat, Naqdi bar Humanisme wa Liberalisme, 1383 QS, Qom, Faroz-e Andisyeh hal : 110-113.

Baratali Poor, Mahdi, Negahe Nu “Liberalism”, 1381 QS, Qom, Bid’atu ar-Rasul, cetakan pertama, hal : 49-50.

Qanbari, DR. Ayat, Naqdi bar Humanisme wa Liberalisme, 1383 QS, Qom, Faroz-e Andisyeh hal : 117.

Syafii’ Surustani, Ibrahim, Jaryan Senasi Difai’ aj Huquqe Zanan, 1379 QS, Qom, Muasese Farhanggi Thaha, hal : 5.

Qanbari, DR. Ayat, Naqdi bar Humanisme va Liberalisme, 1383 QS, Qom, Faroz-e Andisyeh hal : 22.

Echols, Jhon M dan Shadiliy, Hassan, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, hal : 595.

Qanbari, DR Ayat, Naqdi bar Humanisme va Liberalisme, 1383 QS, Qom, Faroz-e Andisyeh hal : 122-124.

Syafii’ Surustani, Ibrahim, Jaryan Senasi Difai’ az Huquqe Zanan, 1379 QS, Qom, Muasese Farhanggi Thaha, hal : 5. untuk lebih jelasnya dapat merujuk pada buku-buku lainnya yang membahas masalah ini secara detail.

Qanbari, DR Ayat, Naqdi bar Humanisme va Liberalism, 1383 QS, Qom, Faroz-e Andisyeh hal : 130-131.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: