Oleh: islam feminis | April 25, 2007

Kebebasan, yang Membikin Gila

Dalam menjawab pertanyaanya ia berujar: “Saya selalu mencari kebebasan, saya senantiasa berkelana mencari sesuatu yang serasa hilang dariku. Kucari kebebasan, ku jelajahi beberapa Negara Eropa (beliau telah menjelajahi beberapa Negara Eropa, seperti Inggris, belanda, Jerman, Prancis, …dsb) untuk mencari kebebasan.

——————————

Kebebasan, yang Membikin Gila

 

Pada suatu saat saya menemani salah satu kawan (keturunan asli Eropa) yang berasal dari Negara Crowasia untuk mengisi acara. Beliau diundang oleh suatu lembaga Islam dalam rangka menceritakan tentang keislamannya. Kawanku ini bernama Maryam. Sebelum masuk Islam namanya ialah Maria. Sebelumnya ia beragama Kristen, begitu juga seluruh keluarganya. Bahkan salah satu paman beliau adalah seorang pendeta.

 

 

 

Ketika telah masuk Islam ia menghadapi berbagai tantangan dari keluarganya yang tidak menyukai ia masuk Islam, terkhusus pamannya yang seorang pendeta. Ia seorang Sarjana Hukum (SH). Ia menjelaskan bahwa pamannya yang pendeta mengatakan kepadanya bahwa jika engkau tidak masuk Islam maka akan jadi pengacara terkenal dan kaya.

 

 

 

Ketika ditanyakan kepadanya kenapa masuk Islam? Dalam menjawab pertanyaanya ia berujar: “Saya selalu mencari kebebasan, saya senantiasa berkelana mencari sesuatu yang serasa hilang dariku. Kucari kebebasan, ku jelajahi beberapa Negara Eropa (beliau telah menjelajahi beberapa Negara Eropa, seperti Inggris, belanda, Jerman, Prancis, …dsb) untuk mencari kebebasan. Namun kebebasan yang kudapatkan di Eropa ialah kebebasan yang membikin manusia menjadi gila. Kebebasan yang berakhir pada nihilisme. Kebebasan yang berakhir pada kebingungan.”

 

 

 

Kembali melanjutkan: “Ketika saya masih beragama Kristen, saya tidak pernah menemukan jawaban yang memuaskan tentang konsep Trinitas (Tiga adalah satu, yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Anak dan Ruhul Kudus) ajaran yang terdapat dalam agamaku. Bagaimana bisa, tiga adalah satu. Ketika kutanyakan hal itu kepada pamanku yang pendeta, beliau hanya menjawab: “Yakinilah jangan engkau tanyakan sebabnya”. Sungguh jawaban yang sangat tidak memuaskan. Bagaimana mungkin aku harus menerima dan meyakini sesuatu yang tidak dapat aku pahami. Sampai akhirnya lewat teman di internet, ia telah memberitahukan kepadaku bahwa terdapat agama yang Tuhannya satu (Esa). Agama itu adalah agama Islam”.

 

 

 

Ada satu hal yang tak pernah hilang dari ingatanku, saat saya menyaksikan teman mualafku (orang yang baru masuk Islam) menceritakan tentang rasa senang karena menemukan agama yang memiliki Tuhan satu (Esa), seraya berkata: “Saya sangat bahagia sekali saat menemukan bahwa ada agama yang hanya memiliki Tuhan Esa, aku tidak harus bingung dan repot seperti dahulu lagi, dengan harus menerima bahwa tiga adalah satu.” Beliau ungkapkan hal ini dengan mimik muka yang sangat berbinar-binar, yang menunjukkan rasa bahagia yang sangat. Sekarang beliau sedang mempelajari dan mendalam ajaran Islam. dan meninggalkan semuanya demi tujuan suci yang ia cari. Betapa bahagianya anda wahai saudariku…! [Euis D]


Responses

  1. Pemahaman tentang Ketuhanan memang tidak bisa dilakukan oleh OTAK tapi dengan hati, jadi tidak perlu dipikir dengan akal. Semua itu hak prerogatif Allah siapa yang diberi hidayah.
    Jadi selalulah memohon Hidayah Allah supaya kita tidak terlepas dari Hidayah Allah.

    Jadi pada prinsipnya pemahaman tentang Trinitas tidak perlu digubris terlalu dalam tidak ada guna dan manfaatnya.

    —————————-
    Muslimah:

    “Dengan hati, bukan dengan otak”, ungkapan ini sama persis dengan ungkapan kaum Kristiani yang menyatakan tentang doktrin Trinitas, dosa turunan, dan sebagainya dengan menyatakan bahwa “Imanilah niscaya engkau akan paham. Bukan, Pahamilah nisacaya engkau akan beriman”. Dalam Islam tidak semacam itu. Islam menyatakan bahwa antara otak (baca: akal) pasti sesuai dengan hati (baca: iman). Bagaimana mungkin kita akan mengimani yang tidak kita pahami dengan akal kita? Hubungan antara hati (iman) dan otak (akal) harus bersifat vertikal. Walau kita juga tetap meyakini keterbatasan akal yang hanya dapat mendeteksi hal-hal universal saja, termasuk masalah Trinitas Tuhan. Berbeda dengan fungsi teks agama yang -kebanyakan- menjelaskan berbagai hal yang bersifat parsial. Dikarenakan antara hal universal dan parsial memiliki tugas masing-masing maka tidak mungkin ada pertentangan antara akal sehat dengan teks yang benar. Masing-masing memiliki tugas dan kelebihannya sendiri-sendiri. Islam tidak menolak argumentasi akal secara mutlak. Terbukti teks agama Islam sangat -terkhusus al-Quran- banyak menyinggung agar kita berpikir dengan menyatakan seperti afalaa ta’qiluun (apakah kalian tidak berakal?), afalaa tatafakkaruun (apakah kalian tidak berfikir?), laayaatin li ulil albab (adalah tanda-tanda bagi orang yang berakal) dsb yang menunjukkan legalitas argumentasi akal dalam menentukan kebenaran, termasuk masalah ketuhanan yang bersifat universal. Kenapa kita tidak bisa mengkritisi doktrin Trinitas dengan menggunakan akal murni? Jika anda ahli matematika umpamanya; akal sehat mana yang dapat menerima bahwa 3×1=1? Lantas dari mana datangnya 3×1=3? Itu kalau kita menggunakan pendekatan rasional matematis dalam menolak doktrin Trinitas. Dan masih banyak lagi pendekatan lainnya yang sesuai dengan tujuan al-Quran, penafian politeisme ketuhanan.

  2. setuju buat jawabannya mbak,,😉

  3. Tentang Matematika🙂 akal sehat saya bisa menerima 3 x 1 = 1 jika pada kondisi perhitungan jam .. masih ingat dengan pelajaran matematika jam 3 an .. he he he sudahlah gak usah dibahas tentang itu.

    Sebenarnya yang ingin saya tekankan bahwa hidayah itu murni datangnya dari Allah .. manusia hanya berusaha dalam artian fisik. Pernahkan Rasulullah membantah dengan keras dalam dakwahnya kepada kaum nasrani ? seperti halnya sekarang ini pembantahan yang banyak dilakukan .. bagaimana sebenarnya cara berdakwah Rasulullah .. nah itu yang seharusnya kita teladani🙂

    Kemudian tentang akal dan iman .. imani dulu segala sesuatu yang datangnya dari Allah dan Rasul-Nya kemudian baru gunakan akal untuk menambah keyakinan. Seperti halnya saat kita dilarang makan daging babi … jangan berpikir dulu mengapa tidak boleh makan daging bagi .. setelah tahu sebabnya baru dilaksanakan .. tapi laksanakan dulu perintah itu kemudian gunakan akal untuk menambah keyakinan tentang itu.🙂

    —————————–
    Muslimah:

    Harus dibedakan antara pembahasan dasar-dasar pokok agama yang biasa diistilahkan dengan ushuluddin dengan cabang-cabang agama yang biasa diistilahkan dengan furu’uddin.

    Dalam kasus yang berkaitan dengan ushuluddin maka kita harus terlebih dahulu mendahulukan akal dari pada iman. Karena bagaimana mungkin kita akan mengimani Allah swt jika akal kita tidak mengenal dan membenarkan siapa itu Allah swt. Kalau sebagian orang mengatakan bahwa dengan ayat-ayat al-Quran kita akan mengenal dan mengetahui keberadaan dan segala atribut Allah swt. Maka akan kita nyatakan, bagaimana mungkin kita akan meyakini menerima argumen ayat-ayat al-Quran sedang Dzat Yang menurunkan al-Quran masih kita ragukan, belum diyakini. Oleh karenanya perlu adanya argumen rasional untuk menetapkan keberadaan Allah swt, adapun ayat-ayat al-Quran dapat menjadi penguat. Jelas kita tidak mungkin mengenalkan Allah swt kepada orang Atheis hanya berdasarkan ayat-ayat dari surat al-Ikhlash saja bukan?

    Karena di saat kita telah menerima Pokok-pokok dasar agama (Ushuludin, ‘Ushul’ berasal dari kata ‘ashl’ yang artinya pangkal) seperti masalah ketuhanan, kenabian, maka dalam furu’uddin (‘furu’’ berasal dari kata ‘far’’ yang artinya cabang) kita harus menerimanya. Sewaktu saya telah menerima Allah swt swt sebagai Tuhan saya maka saya harus menerima segala perintahnya. Oleh karena itu dalam kasus yang berkaitan dengan furu’uddin maka kami setuju dengan pendapat anda, karena banyak hal yang berkaitan dengan furu’uddin ini bersifat doktrinal (baca: Ta’abbudi). Kalaupun akal mau menganalisa lebih dalam itu nanti, setelah mengaimani dan mengamalkannya trlebih dahulu. Selain itu, banyak hal yang berkaitan dengan furu’uddin ini bersifat supra-rasional dimana akal belum mampu menggapai rahasia di baliknya, bukan irrasional (tidak masuk akal). Karena mustahil Allah swt mengajarkan sesuatu yang bersifat irrasional. Selain irrasional ini mustahil akan terwujud di alam realita. Yang ada di alam realita hanya yang bersifat rasional atau supra-rasional. Adapun irrasional mustahil akan ada.

  4. he-eh…..he-eh……
    muantaaabb mbak. sreg aku sama jawabannya.
    karena kalau dalam masalah pokok/ushul kita langsung pake “pokoke iman”, maka gak ada bedanya dengan nasrasni. Sehingga mungkin kita tak akan pernah menyadari kalau akal kita telah tertelikung dibalik iman yang kita yakini dan anggap benar.

    pas sekali kata-kata mbak :

    “Pahamilah, maka engkau akan beriman.”

    Keimanan adalah buah dari kepahaman, buah dari pengetahuan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: