Oleh: islam feminis | April 22, 2007

Menjawab Mis-Undertanding antara Anjuran dan Kewajiban versi Imam Khumaini ra (3); Pahala Melayani Istri dan Sebaliknya, Melayani Suami

Bahkan dalam beberapa riwayat, dijelaskan pula tentang pahala dan balasan atas pelayanan yang dilakukan istri untuk suaminya, ataupun suami untuk istrinya, yang bukan merupakan kewajibannya. Tetapi mereka lakukan karena Allah, dan karena rasa kasih dan sayang yang terjalin antara satu sama lainnya. Dan pasangan tersebut, tidak mengatakan lagi di antara keduanya aku dan engkau. Tapi, selalu mengatakan kita, seakan-akan sudah menjadi satu jiwa dan satu nafas.

——————————————————

Menjawab Mis-Undertanding antara Anjuran dan Kewajiban versi Imam Khumaini ra (3); Pahala Melayani Istri dan Sebaliknya, Melayani Suami 

Seperti yang dapat kita lihat dalam surat al-A’raf ayat 189 dan surat ar-Ruum ayat 21. Dalam rangka menerangkan salah satu hikmah pernikahan, dalam surat ar-Ruum Allah swt menjelaskan: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia telah menciptakan untuk kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian sendiri (manusia), supaya kalian merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang…”. Roghib al-Isbahani menjelaskan bahwa kata “zauj” yang jamaknya “azwaj” digunakan untuk menunjukkan pasangan, baik itu manusia, hewan ataupun benda. Tidak hanya mendefinisikan istri tapi digunakan untuk suami maupun istri. Oleh karenanya, dalam tafsirnya, Allamah Thaba’thaba’i menjelaskan bahwa Allah telah menciptakan untuk manusia pasangan hidup dari jenisnya sendiri, laki-laki untuk perempuan begitu pula sebaliknya yang satu sama lain saling membutuhkan, saling memberikan ketenangan, masing-masing dari mereka memiliki kekurangan dan dengan hidup berpasanganlah mereka menjadi sempurna.[42] Sedang dalam terjemahan DEPAG edisi revisi tahun 1990, ayat di atas diterjemahkan sebagai berikut: “Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia telah menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri…”. Jadi dalam terjemahan ini, “zauj” diartikan sebagai istri.

Dalam lanjutan ayat dinyatakan, Allah menjadikan rasa kasih dan sayang di antara pasangan tersebut. Ini mengisyaratkan bahwa salah satu pondasi pernikahan atau rumah tangga adalah rasa kasih dan sayang di antara pasangan hidup. Begitupula dalam surat al-Baqarah ayat 187, Allah swt mengibaratkan suami istri seperti pakaian untuk satu sama lainnya. Betapa indah pengibaratan Allah tentang hubungan suami istri karena kita tahu bahwa pakaian memiliki sangat banyak fungsi. Pakaian untuk melindungi diri, maka suami istripunhendaknya saling melindung satu sama lain. Pakaian untuk menutupi aib, membuat cantik, untuk kebanggaan dan fungsi lainnya, maka hendaknya suami istri pun seperti itu juga.

Bahkan dalam beberapa riwayat, dijelaskan pula tentang pahala dan balasan atas pelayanan yang dilakukan istri untuk suaminya, ataupun suami untuk istrinya, yang bukan merupakan kewajibannya. Tetapi mereka lakukan karena Allah, dan karena rasa kasih dan sayang yang terjalin antara satu sama lainnya. Dan pasangan tersebut, tidak mengatakan lagi di antara keduanya aku dan engkau. Tapi, selalu mengatakan kita, seakan-akan sudah menjadi satu jiwa dan satu nafas. Oleh karena itu, dibawah ini adalah beberapa hadis yang walaupun merupakan anjuran, tapi jika dipraktekkan selain akan mendapatkan pahala dari Allah swt, akan menjadikan rumah tangga semakin bahagia dan harmonis.

Balasan Pelayanan (khidmat) Istri terhadap Suami:

– Rasul saw bersabda : “Setiap perempuan yang berkhidmat kepada suaminya selama tujuh hari, maka Allah swt akan menutup tujuh pintu neraka dan membuka tujuh pintu surga baginya. Sehingga ia dapat memasuki surga dari setiap pintu yang ia kehendaki”.[43]

– Rasul saw bersabda : “Allah swt tidak akan memberikan balasan kepada perempuan yang membawakan seteguk air untuk suami, melainkan pahala perbuatan tersebut lebih baik dari ibadah setahun, yang siang harinya diisi dengan berpuasa, sementara malam harinya dipenuhi dengan shalat”.[44]

– Imam Shadiq as berkata : “Ummu Salamah telah bertanya kepada Rasulullah tentang keutamaan istri yang berkhidmat kepada suaminya. Rasul saw menjawab : “Allah swt akan memandang (memberikan perhatian khusus) pada setiap wanita yang mengangkat sesuatu di rumah suaminya, lantas memindahkannya dari satu tempat ke tempat yang lain dengan tujuan untuk penataan. Barang siapa yang dipandang Allah swt, maka akan aman dari siksa-Nya ”.[45]

– Imam Kadzim as berkata : “Jihad seorang perempuan adalah dengan berbuat baik terhadap suaminya”.[46]

– Rasul saww bersabda : “Sebaik-baiknya perempuan ialah perempuan yang selalu berhias untuk suaminya, namun tidak menampakkannya kepada laki-laki asing (bukan muhrim)”.[47]

– Imam Shadiq as berkata : “Sebaik-baiknya perempuan ialah perempuan yang berterima kasih kepada suaminya, ketika suami memberikan sesuatu kepadanya. Dan rela disaat suami tidak memberikan sesuatu kepadanya”.[48]

– Imam Baqir as berkata : “Tidak ada syafa’at yang bermanfaat bagi istri di sisi Allah swt, melainkan kerelaan suami”.[49]

– Rasul saw bersabda : “Tidak selayaknya istri memaksakan sesuatu yang di luar kemampuan suaminya”.[50]

– Rasul saw bersabda : “Allah akan memberikan pahala kepada seorang istri yang membantu suaminya dalam berhaji, jihad dan menuntut ilmu, seperti pahala yang telah diberikan kepada istri nabi Ayub as”.[51]

– Rasul saw bersabda : “Allah akan memberikan pahala kepada seorang istri yang sabar terhadap prilaku buruk suaminya, seperti pahala yang telah diberikan kepada istri Fir’aun Asiyah binti Muzahim”.[52]

– Bahkan dalam sebuah hadis pun dijelaskan, bahwa salah satu pegawai Allah swt di muka bumi, ialah seorang wanita yang selalu menyambut suaminya ketika datang, menghantarkannya ketika hendak pergi, dan menghiburnya ketika sedih.[53]

Balasan Pelayanan (khidmat) Suami terhadap Istri: 

– Rasul saww bersabda : “Setiap kali suami memberikan air minum kepada istrinya, maka Allah swt akan memberikan balasan kepadanya”.[54]

– Rasul saw bersabda : “Duduk seorang laki-laki di samping anak dan istrinya, lebih dicintai Allah swt dari i’tikaf di masjid”.[55]

– Rasul saw bersabda : “Sesungguhnya seorang laki-laki akan mendapat pahala, di saat ia menyuapi istrinya”.[56]

– Rasul saw bersabda : “Barang siapa yang memasuki pasar, lantas ia membeli hadiah dan membawanya untuk keluarganya, maka pahalanya seperti pahala orang yang membawa sedekah untuk orang-orang yang membutuhkan. Dan mulailah pemberian hadiah tersebut dari anak perempuan, lantas anak laki-laki”.[57]

– Rasul saw bersabda : “Ungkapan “aku cinta kamu” yang diucapkan suami kepada istrinya tidak akan pernah sirna dari hati istrinya”.[58]

– Rasul saww bersabda : “Barang siapa yang bersabar atas prilaku buruk istrinya, dan melimpahkannya kepada Allah swt, maka Allah akan memberikan balasan untuk siang dan malam harinya, seperti balasan yang telah diberikan kepada Nabi Ayub as dalam menghadapi segala ujian Allah swt. Sementara, dosa-dosa istrinya untuk siang dan malam harinya seperti kerikil-kerikil yang terdapat di tempat yang penuh kerikil”.[59]

– Rasul saw bersabda : “Saya merasa heran terhadap suami yang memukul istrinya, padahal ia lebih layak untuk dipukul”.[60]

– Imam Ali as berkata : “Istri merupakan amanat Ilahi yang ada di tanganmu, oleh karenanya, jangan menyakitinya dan mempersulitkannya”.[61]

– Perawi berkata : “Imam Kadzim as telah mengenakan pacar (pewarna rambut dan kuku)”. Kemudian aku berkata kepadanya : “Wahai yang jiwaku sebagai tebusannya, apakah tuan juga mengenakan pacar? Beliau menjawab : “Ya, karena penampilan suami akan semakin menyebabkan terjaganya kehormatan (iffah) seorang istri, penyelewengan sering terjadi karena suami tidak menjaga penampilan di hadapan istrinya”. lantas Imam melanjutkan perkataannya : “Apakah engkau senang melihat istrimu tidak berias (tidak menjaga penampilan)? Saya menjawab : “Tidak wahai junjunganku”. Imam berkata kembali : “Istri anda pun seperti itu”.[62]

– Imam Shadiq as berkata : “Imam Ali as memotong-motong kayu, mengambil air dan menyapu. Sementara Sayyidah Fathimah Zahra as membuat tepung, mengadoninya dan membuat roti”.[63]

– Suatu hari Rasul saw memasuki rumah Imam Ali as. Beliau melihat Sayyidah Fathimah sedang membuat tepung yang dibantu oleh Imam Ali as. Kemudian Rasul saw berkata : “Siapa di antara kalian yang sudah lelah? Imam Ali as menjawab : “Fathimah sudah lelah, wahai Rasulullah”. Lantas Rasul saw berkata : “Bangkitlah wahai putriku! Kemudian Sayyidah Fathimah bangkit, dan Rasulullah datang menggantikan beliau untuk membantu Imam Ali as membuat tepung”.[64]

Dan masih banyak lagi hadis dan riwayat lainnya yang tidak mungkin dapat dinukil semuanya di sini, untuk mempersingkat tulisan.  Wallahua’lam. [islamalternatif]

Penulis: Mahasiswi S2 jurusan Tafsir di Bintul Huda – Qom, Republik Islam Iran

________________________________________

Rujukan:  

[1] Amili, Muhammad bin Husain al-Hurr, Wasa’il asy-Syi’ah,
Beirut, Ihya at-Turats al-Arabii, jilid 7, hal:251

[2] Omuli, Jawadi, Hak wa Taklif dar Islam, 1384 QS,
Qom, Markaz-e Nasyr-e Isro, hal: 255

[3] QS an-Nisa :34

[4] Omuli, Jawadi, Hak wa Taklif dar Islam, 1384 QS,
Qom, Markaz-e Nasyr-e Isro, hal: 24-25

[5] Khumaini, Ruhullah, Tahrir al-Wasilah, cetakan pertama, 1421 QH, Qom, Muasese Tanzim wa Nasyre Osor-e Imam Khumaini, bab nikah, Fashl fi Nafaqah, masalah ke-8, hal: 755

[6] Ibid

[7] Ibid, masalah ke-12, hal: 757

[8] Ibid, masalah ke-8, hal: 755

[9] Maksumi, Mas’ud, Ahkam-e Rawabet-e Zan wa Syuhar (dalam pandangan beberapa marja), cetakan ke-7, 1380 QS,
Qom, Syukufeh Yas, hal: 67-68

[10] Tahrir al-Wasilah, masalah ke-15, hal: 757

[11] Ibid, masalah ke-8, hal: 755

[12] Ibid, masalah ke- 9, hal: 756

[13] Ibid, masalah ke-8, hal: 755

[14] Ibid, masalah ke-19, hal: 758

[15] Ibid, masalah ke-8, hal: 755-756

[16] Ibid, Fasal fil Qasam wa Nusyudz wa Syaqaq, sebelum masalah pertama, hal: 745.

[17] Ibid

[18] Khumaini, Ruhullah, Resoley-e Taudzih al-Masail, 1381 HS, Teheran, Kanun Intiysorot-e Payom-e Adolat, masalah ke-2414, hal : 425

[19] Khumaini, Ruhullah, Tahrir al-Wasilah, Kitab Nikah, masalah ke-13, hal: 698

[20] Ibid, Fashl fi al-Qasam wa Nusyuz wa asy-Syaqaq, masalah ke-1, hal: 745-746

[21] Ibid, masalah ke-3-4, hal: 746

[22] Ibid, sebelum masalah pertama, hal: 745

[23] Istifta,/Maksumi, Mas’ud, Ahkam Rawabit-e Zan wa Syuhar (dalam pandangan beberapa marja), hal:82

[24] Khameini, Ruhullah, Risoley-e Taudzih al-Masoil, 1381 HS, Teheran, Konun Intisyorot-e Payom-e Adolat, masalah ke-2414, hal : 426

[25] Tahrir al-Wasilah, al-Qaul fi an-Nazar, masalah ke-3, hal: 599

[26] Khameini, Ruhullah, Risoley-e Taudzih al-masoil, 1381 HS, Teheran, Konun Intisyorot-e Payom-e Adolat, masalah ke-1740, hal : 308

[27] Ibid, masalah ke-2672, hal : 471

[28] Tahrir al-Wasilah, al-Qaul fi an-Nusyuz, sebelum masalah pertama, hal: 747

[29] Ibid

[30] QS an-Nisa : 19

[31] QS al-Baqarah : 231

[32] QS al-Baqarah :233

[33] Majmaul Bahrain jilid 3, hal 159 /Kitab-e Naqd, Huquq-e Zan, volume 12, 1378 QS, Teheran, Muasese Farhanggi-e Donesy wa Andisye-ye Muosir, hal 48-49

[34] Majmaul Bayan jilid 3, hal 25/Ibid

[35] Tahrir al-Wasilah, al-Qaul fi an-Nusyuz, sebelum masalah pertama, hal: 747

(Rujukan selengkapnya, pada Penulis)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: