Oleh: islam feminis | April 21, 2007

Menjawab Mis-Undertanding antara Anjuran dan Kewajiban versi Imam Khumaini ra (2); Menjaga Hak dan Kewajiban Suami-Istri

Pemenuhan kebutuhan ibu dari para anak bukan hanya bersifat wajib saja, bahkan lebih dari itu, tolok ukurnya adalah ma’ruf. Kata “ma’ruf”, yang banyak digunakan dalam ajaran agama Islam, memiliki arti yang lebih luas dari ungkapan “sesuai dengan undang-undang dan keadilan”. Karena ia pun mencakup segala perbuatan yang memiliki nilai moral maupun insani. Oleh karenanya, jika dikatakan “berlaku adillah dengan wanita”, artinya berikanlah hak-haknya dan berlaku secara adil dengannya. Namun, jika dikatakan “berlaku ma’ruf terhadapnya”, maksudnya selain berlaku adil dan memberikan hak-hak wanita ia juga hendaknya berlaku sesuai dengan tuntutan nilai insani dan islami.

———————————————————

Menjawab Mis-Undertanding antara Anjuran dan Kewajiban versi Imam Khumaini ra (2); Menjaga Hak dan Kewajiban Suami-Istri 

Hak-hak Suami atas Istri  

Hak-hak suami yang menjadi kewajiban istri : 

1. Pergi keluar rumah dengan izin suami

“Seorang istri tidak boleh keluar rumah kecuali dengan izin suaminya, walaupun hal tersebut berkaitan dengan keluarga istri, ataupun untuk menjenguk orang tuanya, atau untuk menghadiri hari kesedihan keluarganya. Bahkan disebutkan: istri tidak memiliki wewenang dalam urusan, dalam perkara-perkara seperti sedekah, pemberian (hibah) dan nazar dengan harta, istri harus meminta izin suami. Kecuali dalam perkara-perkara seperti: haji, zakat, berbakti kepada kedua orang tua dan menyambung silaturahmi dengan kerabat istri. Perincian masalah tersebut akan dijelaskan pada pembahasan sendiri…”.[22] Dalam kitab istifta imam menjelaskan:“Jika istri merasa yakin bahwa suaminya akan mengizinkannya, maka keluar rumah tanpa meminta izin kepadanya terlebih dahulu, hukumnya tidak apa-apa”.[23]

2. Memenuhi kebutuhan biologis suami

“Seorang istri harus menyerahkan dirinya untuk kenikmatan suaminya, dan tidak boleh menolak ajakan suaminya untuk berhubungan biologis, jika tidak ada uzur”.[24]

3. Bernazar dan bersumpah dengan izin suami

“Tidah sah hukumnya nazar seorang istri, jika nazar tersebut dilakukan tanpa seizin suami, meskipun nazar tersebut dari harta benda miliknya sendiri”.[25] “Jika dengan melaksanakan puasa sunnah, akan menyebabkan hilangnya hak suami atau suami melarang istri untuk melakukan puasa sunnah, maka ihtiyatnya ia tidak boleh berpuasa”.[26] “Jika suami tidak mengizinkan istrinya untuk bersumpah, maka sumpahnya tidak sah”.[27]

4. Menjauhkan dari hal-hal yang tidak disukai suami

“Istri harus menjauhkan dirinya dari hal-hal yang menyebabkan suaminya tidak bergairah kepadanya”.[28]

5. Berhias dan membersihkan diri

“Seorang istri, harus membersihkan dirinya dan berhias jika suaminya menghendakinya”.[29]

Nusyuz

Ajaran Islam telah melarang segala bentuk kekerasan terhadap orang yang tidak bersalah, baik dalam kehidupan sosial maupun individual, dalam kehidupan berkeluarga maupun yang lainnya. Mayoritas korban kekerasan yang bersifat fisik maupun non fisik adalah wanita dan anak-anak. Hal ini merupakan sebuah fenomena internasional. Maka salah satu undang-undang yang diperjuangkan oleh gerakan wanita adalah pembentukan undang-undang anti kekerasan dalam rumah tangga. Undang-undang ini digunakan dalam rangka mencegah berbagai bentuk kekerasan yang menimpa perempuan dalam keluarga.

Berkaitan dengan kehidupan keluarga, Islam telah menegaskan hubungan keluarga yang jauh dari kekerasan. Jika kita memperhatikan ayat dan riwayat, Islam menekankan supaya kekerasan terhadap istri dijauhkan. Sebagaimana dalam al-Qur’an Allah swt berfirman: “Bergaullah dengan para wanita (istri) dengan baik (ma’ruf)”.[30] Bahkan, ketika berbicara tentang penceraian dengan istri, al-Qur’an tetap menekankan pada suami untuk tetap berlaku baik (ma’ruf) terhadap istri. Meskipun di akhir penceraian biasanya muncul permusuhan, dendam dan lain sebagainya, namun al-Qur’an tetap menekankan untuk berlaku baik terhadap istri, seperti yang dapat kita lihat dari ayat berikut ini: “Apabila kamu mentalak istri-istrimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang baik (makruf), atau ceraikanlah mereka dengan cara yang baik (ma’ruf). Dan janganlah kalian menahan para istri di rumah (tidak menceraikannya) dengan tujuan untuk menganiaya (berbuat sewenang-wenang) terhadap mereka. Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri…”.[31] Sedang dalam masalah pemberian nafkah (pemenuhan kebutuhan) istri (ibu dari anaknya), al-Qur’an tetap menekankan atas dasar makruf. Allah swt berfirman: “Dan kewajiban ayah, memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik (ma’ruf)”.[32]

Pemenuhan kebutuhan ibu dari para anak bukan hanya bersifat wajib saja, bahkan lebih dari itu, tolok ukurnya adalah ma’ruf. Kata “ma’ruf”, yang banyak digunakan dalam ajaran agama Islam, memiliki arti yang lebih luas dari ungkapan “sesuai dengan undang-undang dan keadilan”. Karena ia pun mencakup segala perbuatan yang memiliki nilai moral maupun insani. Oleh karenanya, jika dikatakan “berlaku adillah dengan wanita”, artinya berikanlah hak-haknya dan berlaku secara adil dengannya. Namun, jika dikatakan “berlaku ma’ruf terhadapnya”, maksudnya selain berlaku adil dan memberikan hak-hak wanita ia juga hendaknya berlaku sesuai dengan tuntutan nilai insani dan islami. Dengan kata lain ma’ruf telah sampai pada tingkat meta kewajiban(mustahab).

Dalam kitab Majmaul Bahrain dijelaskan: “Ma’ruf adalah kata sangat luas yang mencakup segala perbuatan yang menyebabkan ketaatan kepada Allah swt, atau menyebabkan kedekatan dengan Allah swt dan berbuat kepada orang lain. Atau mencakup setiap perbuatan yang kebaikan dan kelayakannya diterima oleh akal dan syari’at”.[33] Syeikh Thabarsi dalam kitabnya menjelaskan: “Bergaul dengan baik (ma’ruf), yakni berlaku berdasarkan perintah Allah swt, menberikan hak-hak wanita dalam memenuhi kebutuhannya, berkata dan berlaku dengan baik terhadap istrinya”. Bahkan dikatakan “ma’ruf” artinya, janganlah memukul istrimu, janganlah berkata buruk padanya dan bermuka lemah lembutlah dengannya”.[34]

Jika dalam pembahasan di atas, telah dijelaskan bahwa Islam melarang berbagai jenis kekerasan, bahkan berdasarkan beberapa ayat di atas selalu menekankan untuk berlaku secara ma’ruf dengan istri, namun kenapa dalam perkara istri nusyuz Islam memerintahkannya untuk memukulnya? Apakah memukul bukan sebuah bentuk kekerasan? Apakah ini tidak akan menyebabkan para suami melegimitasi perlakuan sewenang-wenang terhadap istrinya dan dengan mudah memukul istrinya dengan dalil al-Qur’an sendiri yang memerintahkannya? Sebenarnya, apakah nusyuz hanya untuk istri saja? Bagaimana pendapat al-Qur’an tentang hall ini? Apakah ada batasan dalam memukul?

Definisi Nusyuz 

1. Istri Nusyuz

Secara bahasa, nusyuz berarti penentangan. Sedangkan, dalam istilah fikih praktis, sebagaimana yang dijelaskan Imam Khameini dalam kitabnya: “Istri nusyuz, adalah istri yang telah keluar dari ketaatan kepada suaminya dan tidak menjalankan segala kewajiban yang telah diperintahkan kepadanya, seperti: tidak memenuhi kebutuhan biologis suami, tidak menjauhkan dirinya dari hal-hal yang tidak disukai dan menyebabkan suami tidak bergairah kepadanya, tidak berhias dan membersihkan dirinya padahal suami menginginkannya dan keluar rumah tanpa izin suaminya. Oleh karenanya, seorang istri tidak masuk dalam katagori nusyuz hanya dengan meninggalkan ketaatan atas sesuatu yang tidak diwajibkan pada seorang istri. Maka, jika ia tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah dan segala kebutuhan suami yang tidak berkaitan dengan kebutuhan biologis seperti: menyapu, menjahit, memasak dan selainnya—walaupun menyiapkan air minum dan menyiapkan tempat tidur—semua itu tidak masuk katagori nusyuz”.[35]

2. Suami Nusyuz

Imam Khameini dalam kitabnya menjelaskan: “Nusyuz pun dapat terjadi pada seorang suami. Yaitu, jika seorang suami tidak menjalankan kewajiban yang menjadi hak-hak istri, seperti tidak memberikan nafkah dan lain sebagainya”.[36]

Langkah-langkah Menghadapi Suami dan Istri Nusyuz dalam al-Qur’an

Terdapat empat ayat yang menggunakan kata nusyuz dalam al-Qur’an. Yaitu dalam surat Mujadalah ayat 11, al-Baqarah ayat 259, al-Imron ayat 128 dan ayat 34. Namun hanya pada dua ayat yang berhubungan dengan pembahasan sekarang ini. Berkenaan langkah menghadapi istri nusyuz al-Qur’an menjelaskan: “…Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka, lalu pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan lalu pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya…”.[37] Jadi menurut al-Qur’an langkah-langkah menghadapi istri yang nusyuz adalah sebagai berikut: pertama, dinasehati. Kedua, jika nasehat tidak memberikan pengaruh, maka masuk langkah kedua yaitu pisah tempat tidur. Ketiga, jika langkah kedua tidak mempan juga, maka memasuki langkah selanjutnya yaitu memukul istri.

Dalam perkara nusyuz suami, al-Qur’an menjelaskan: “Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz, atau sikap tidak acuh suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik…”.[38] Sekilas, dalam kedua ayat tersebut terdapat diskriminatif dan bias gender. Untuk istri nusyuz, jalan terakhirnya adalah berupa pukulan. Sementara, untuk suami nusyuz dituntut untuk berdamai. Dalam makalah sebelumnya, sudah dijelaskan bahwa hukum-hukum dan ajaran-ajaran Islam disusun sesuai fitrah manusia. Adanya perbedaan dalam hukum bukan berarti sebuah diskriminasi tetapi kembali pada perbedaan yang terdapat pada lelaki dan perempuan, misalnya perbedaan dari sisi psikologis. Sebagaimana sebagian ulama mengatakan, salah satu hikmah dari perbedaan dalam menghadapi suami atau istri yang nusyuz adalah kembali pada perbedaan psikologis keduanya.

Sedang dalam masalah batasan pukulan, beberapa ulama menjelaskan : [39]

1. Syahid ats-Tsani, dalam kitab masalik al-Afham menjelaskan : “Dalam sebagian riwayat, dijelaskan memukul wanita dengan kayu miswak, …”.

2. Syeikh Tusi dalam kitab al-Mabsuth mengatakan : “Maksud dari pukulan adalah, memukul dengan kain sapu tangan yang diikatkan, yang tidak boleh menyebabkan memar…”.

3. Fahrurozi, mengatakan : “Dibolehkan memukul, jika cara selain memukul tidak dapat berpengaruh lagi (tidak ada cara lain selain pukulan)”.

4. Menurut as-Suyuthi pukulan tidak boleh keras dan membahayakan.

Langkah-langkah Menghadapi Suami atau Istri Nusyuz dalam Fikih Praktis 

Imam Khameini menjelaskan: “Jika nampak pada istri, tanda-tanda nusyuz atau penentangan, seperti: kebiasaan prilaku dan perkataannya berubah, menjawab perkataan suami dengan kasar padahal sebelumnya berkata dengan lemah lembut, menampakkan muka masam dan marah pada suami, menjengkelkan (menyakitkan hati) dan bersungut-sungut padanya, padahal sebelumnya tidak seperti itu, maka nasehatilah ia. Jika istri tidak mendengarkan nasehat suaminya, lantas iapun melakukan salah satu perbuatan yang menjadikan nusyuz (seperti keluar rumah tanpa izin suami, atau tidak melayani suami…), maka dalam hal ini, diperbolehkan atas suami untuk berpisah tidur dengannya, artinya dapat tidur bersama, tapi dalam keadaan membelakanginya, atau pisah tidur dengannya. Jika nasehat dan pisah tidur tidak berpengaruh padanya, maka suami boleh memukulnya yang menyebabkan ia kembali sadar dan meninggalkan penentangannya. Tidak boleh berlebihan dalam memukul asal tujuan pemukulan terwujud. Jika istri tetap tidak kembali sadar, maka boleh memukul kembali dengan lebih keras, dengan syarat tidak menyebabkan luka, tidak memberikan bekas hitam atau merah di badan. Dan hendaknya, pukulan dilakukan dengan tujuan untuk menyadarkan (ishlah), bukan untuk melampiaskan kemarahan atau untuk membalas dendam. Jika pukulan tersebut menyebabkan luka dan memberikan bekas merah atau hitam (memar), maka suami wajib membayar denda (diyah)”.[40]

Imam melanjutkan: “Jika nampak pada suami tanda-tanda nusyuz dengan tidak memberikan hak-hak istri yang menjadi kewajibannya, maka istri berhak untuk menuntut hak-haknya dan menasehati suami. Jika ternyata cara tersebut tidak memberikan pengaruh, maka ia dapat mengadukan perkaranya pada pengadilan agama (hakim syar’i), tapi tidak terdapat hukuman pisah ranjang, juga tidak terdapat pukulan bagi suami nusyuz…[41] ”

Yang jelas, jika pengetahuan kedua belah pihak atas hak dan kewajiban masing-masing ditingkatkan, maka pelanggaran atas hak-hak pasangan hidup ataupun kekerasan dalam rumah tangga akan dapat diminimalisir. Juga akan dapat diantisipasi pencampuradukan antara anjuran dan kewajiban, penyelewengan hukum dengan dalih hukum (seperti pemukulan istri dengan sewenang-wenang dengan dalih merupakan ajaran Islam sendiri). Suami istri akan saling memahami dan menghormati kedudukan masing-masing. Walaupun demikian, dalam Islam dijelaskan (dalam beberapa hadis dan ayat al-Qur’an) bahwa sebuah rumah tangga tidak dapat dibangun dengan hanya berpijak pada hak-hak dan kewajiban saja tapi melintasi hak-hak dan kewajiban. Rumah tangga bukan ajang untuk saling menuntut dan menggugat. Akan tetapi, harus dibangun berdasarkan rasa kasih dan sayang, pengorbanan, saling memahami, saling memaafkan dan lain-lainnya.

Bersambung…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: