Oleh: islam feminis | April 18, 2007

Perempuan Iran

pasdaran-perempuan.jpg

Sebagaimana umumnya perempuan Melayu, saya biasanya memendam kekesalan dengan diam atau menangis. Melihat ada perempuan lain dengan gagah berani menampar lelaki kurang ajar membuat saya merasa terwakili. Meskipun sebenarnya pengalaman saya beberapa kali kena colek lelaki kurang ajar terjadi di negeri saya sendiri, bukan di Iran.

 

—————————————————————-

Perempuan Iran

Oleh: Dina Y Suleman

 

Apa yang Anda bayangkan tentang perempuan Iran? Hitam (bajunya), keras, saklek, atau apa lagi? Tujuh tahun lalu, ketika saya pertama kali saya menatap mereka, saya juga punya kesan yang kurang lebih sama. Mata mereka memancarkan ketegasan atau mungkin, kekeraskepalaan. Apalagi, sepertinya mereka sama sekali tidak sungkan untuk berbicara apapun sesuai isi hati mereka. Mereka sama sekali tidak segan untuk mengajukan pertanyaan yang sangat personal kepada saya: dari mana, sedang apa di sini, siapa yang membiayaimu hidup di sini, berapa uang beasiswa perbulan yang kau terima, (atau setelah saya bekerja: berapa gaji yang kau terima)? Pertanyaan-pertanyaan itu sering saya dapatkan di atas bis, di mesjid, atau di salon, dari perempuan-perempuan yang tak saya kenal.

 

Kadang-kadang, saya merasa kesal dihujani pertanyaan personal seperti itu, apalagi dari orang tak dikenal. Namun, kadang-kadang saya merasakan hal itu sebagai sikap hangat. Apalagi bila saya sedang kebingungan berada di tempat asing, misalnya sedang duduk di sebuah pesta yang orang-orangnya tidak saya kenal. Mereka akan menyapa dan dengan hangat bertanya ini-itu. Hal itu membuat saya sedikit lega dan tidak lagi merasa bagai kambing congek. “Keberanian” mulut mereka juga dengan mudah ditemui di antrian pasar. Di pasar dekat rumah kami, setelah mengambil barang belanjaan sesuai keinginan, kami harus mengantri di depan kasir, terutama bila berbelanja di pagi hari yang ramai. Orang-orang Iran memang umumnya patuh pada antrian, namun selalu saja ada yang tebal muka. Pertengkaran pun muncul, dengan suara keras. Yang satu tebal muka, yang lain tidak mau kehilangan hak karena disalip dalam antrian.

 

Terkadang saya salut juga dengan keberanian para perempuan itu menyampaikan pendapat. Misalnya, suatu saat saya pernah melihat seorang perempuan menampar dan memaki-maki dengan galak seorang laik-laki yang mencoleknya. Saya bangga sekali melihat kejadian itu. Soalnya, sebagaimana umumnya perempuan Melayu, saya biasanya memendam kekesalan dengan diam atau menangis. Melihat ada perempuan lain dengan gagah berani menampar lelaki kurang ajar membuat saya merasa terwakili. Meskipun sebenarnya pengalaman saya beberapa kali kena colek lelaki kurang ajar terjadi di negeri saya sendiri, bukan di Iran.

 

Atau, suatu saat saya melihat seorang perempuan Iran dengan suara keras marah-marah di pool taksi di Sadeqieh Square, square terdekat dari rumah kami. Katanya, “ Para pejabat bermunculan di tivi menjanjikan tidak ada kenaikan harga. Mana buktinya?!” Dia lalu berpanjang lebar memaki-maki pemerintah. Benar-benar berani, pikir saya. Meski, terasa aneh juga karena ternyata, tarif taksi untuk trayek Sazman Barnameh-Sadeqieh Square hanya naik 250 Rial (senilai dengan 250 Rupiah).

Seiring dengan berlalunya waktu, saya mulai bisa mengenali jenis-jenis perempuan Iran. Ada yang memang keras dan tegas, dan bisa dibilang tidak berperasaan dalam bersikap (untuk ukuran perempuan
Indonesia). Mereka yang seperti itu biasanya datang dari desa, atau tidak berpendidikan cukup, atau berasal dari daerah-daerah panas. Sebaliknya, perempuan dari Teheran, Isfahan, atau dari utara Iran (yang hawanya dingin), dan yang berpendidikan tinggi, umumnya sangat lemah-lembut dalam bertutur kata atau bersikap. Wajah mereka pun biasanya cantik-cantik dan berkulit putih.

Kelemahlembutan (sebagian) perempuan Iran membuat saya banyak belajar tentang basa-basi dan sikap menyenangkan orang lain. Hanya untuk menanyakan kabar seseorang saja butuh waktu bermenit-menit. Hale shuma khube? Khanevade cheturand? Khube? Dukhtaret cheture? Khuda negares dare.. bla..bla… (Kabarmu baik? Keluarga bagaimana? Baik? Putrimu bagaimana? Semoga Tuhan menjaganya). Bila melihat saya menggendong anak, perempuan-perempuan itu akan menghujani anak saya dengan berbagai puji-pujian, meski terkadang terasa berlebihan. Namun, menyenangkan orang lain termasuk ibadah, bukan? Jadi, saya pun belajar untuk memperbanyak kosa kata puji-pujian dalam bahasa Persia agar bisa balik memuji-muji mereka. Sebaliknya, keberanian mereka untuk memprotes sesuatu dan bertengkar mulut demi mempertahankan hak, membuat saya belajar untuk berani juga. Minimalnya, sekarang saya tidak mengomel dalam hati lagi bila ada yang menyalip antrian di pasar, melainkan dengan tegas mengajari si penyalip itu agar tahu diri. Bahkan kalau perlu, bertengkar mulut dengannya

(Tulisan ini pernah dimuat di Surabaya Post. Tulisan mengenai Perempuan Iran dimuat dalam 3 bagian, ini salah satu di antaranya)


Responses

  1. Mohon maaf jika saya post a comment tidak sesuai pada tempatnya aLias OOT (makLum bingung mo komentar dimana…)

    terimakasih atas artikeL-artikeLnya yang mencerahkan!
    (terimkasih juga teLah berkunjung&berkomentar di BLog saya, saya sudah menjawa pertanyaan)

    oia beberapa saat yang LaLu, saya juga sempat post an articLe mengenai wanita… pada Kategori Renungan Kehidupan, dengan JuduL “Pentingnya Menghargai Istri”
    JikaLau misaLnya ingin dibaca, siLakan
    http://arezk.wordpress.com/2007/03/29/pentingnya-menghargai-istri/

    terimakasih

  2. Coba perhatikan kata2 dalam tulisan itu : “Kelemahlembutan (sebagian) perempuan Iran dstnya … Sebaliknya, keberanian mereka untuk memprotes sesuatu dstnya …” Jadi dalam kehidupan ini diciptakan dalam keadaan seimbang. Bukankah Tuhan tidak suka hal2 yang berlebih2an.

    Kelembutan memang milik perempuan. Tapi bukan berarti perempuan tidak boleh berani / keras. Begitu juga, keberanian diwarisi pada sebagian besar lelaki. Tapi bukan berarti lelaki tidak boleh lembut. Hidup itu justru indah ketika saling melengkapi.

    Oya, terima kasih sudah jalan2 ke blog saya. Blog mbak2 ini sudah saya tambahkan di blogroll saya.

    ————————
    Muslimah:

    Terimakasih banyak

  3. @erander
    tumben romantis kang..hehuhehue
    –perasaan akhwat memang sangat halus–

    makasih juga ya, mampir ke blog ku yg gak mutu itu
    blogroll udah diset…

  4. Nice…….
    hidup girl power!!!!

  5. kebanyakan artikelnya ambil dari blognya mbak Dina di multiply yah …😀

    wah, blog islam feminis itu kalangan syiah yg anti gerakan feminis.

    monggo main ke
    http://wanita-muslimah.com
    http://genderpedia.wanita-muslimah.com
    wanita-muslimah@yahoogroups.com

    —————————
    Muslimah:

    Eh kok kebanyakan sich…? Coba mbak lihat lagi semua tulisan di blog ini…Memang, tulisan mbak Dina masih satu yang telah kami tampilkan, yang lainnya nanti akan menyusul. Lagian mbak Dina termasuk teman karib kami makanya ‘sebagian’ tulisannya pun kami tampilkan di sini, tentu dengan izinnya.
    Makasih atas alamat yang diberikan. Pasti kami akan berkunjung…

  6. iya,, kalo bisa se-stronger itu keren juga kali ya,,🙂

  7. wah, bagus nih menambah wawasan😀
    kalau dibilang bahwa wanita melayu itu umumnya memendam kekesalan dengan diam atau menangis, itu gara2 didikan budaya juga kali yah. kan ada budaya di indonesia yang kurang lebih mengajarkan bahwa “pride” seorang wanita adalah kepatuhan dan kepasifannya. mesti dibudayakan juga nih keberanian seperti ini…

  8. […] hasil dari jalan jalan Ma hari ini dan hari ini, Ma jadi kepikiran juga,, apa emang feminisme itu sejelek itu,, atau kaya kata kata di […]
    ————————————
    Muslimah:

    Gerakan feminisme memiliki berbagai corak, warna dan tujuan. Mulai dari feminis liberal, sosialis, modern, post modern… sampai yang radikal sekalipun. Hanya saja, yang membuat nama feminis buruk salah satunya ialah feminis radikal. gerakan emansifasi wanita yang kebablasan (berlebihan). dengan tujuan ingin mengangkat derajat wanita malah menjatuhkan derajat wanita, mereka menabuh genderang peperangan dengan kaum laki-laki (anti lelaki), masalah anak diselesaikan dengan bayi tabung menafikan masalah keluarga dan menganggap peran sebagai ibu dan istri sebagai penyebab keterzaliman para wanita. …sebenarnya ini bentuk penzaliman para wanita ala baru, dengan menjauhkan wanita dari fitrahnya…selebihnya bisa baca buku, lewat internet berkaitan dengan gerakan feminis. (insyaAllah kami pada kesempatan lain akan membahas gerakan feminis, tunggu saja…)

  9. […] agama, tapi enak dibaca,, ketemu Shan In yang pinter,, belajar tentang feminisme dari beberapa tempat,, ada tukang tindas!!, ketemu temen SD Ma,,!!!,, ada Ali disini,, liat tulisan keren adek kelas Ma […]

  10. wah, masalah colak colek tuh susah diilanginnya…
    saya agak kesulitan menghadapi orang2 yang suka nyoleh.
    Dulu saya tidak berpakaian muslimah, alhamdulillah sekarang sudah dan berusaha lebih mendekatkan diri pada Yang DiAtas tapi sikap temen2 laki2 belum juga sesuai harapan saya kadang masih suka colak colek.
    Saya sering memarahinya dari cara lembut hingga kadang ada yang terpaksa saya tampar karena saya merasa amat tersinggung.
    Apalagi yang harus saya lakukan? sedangkan pertemanan saya dengan teman laki2 juga sudah banyak saya perketat batasannya sejauh pekerjaan saja….

    —————————————————————————-

    Islam Feminis:
    Mbak Katrinada, laki-laki suka iseng itu ada dua kemungkinan;
    Karena emang laki-laki tersebut tangannya gatel dan suka jail (kurang ajar), atau karena penampilan dan gaya perempuan yang menarik perhatian hingga mebuat ia iseng. Kalau melihat kasus Mbak, kemungkinan pertama yang bisa kita ambil karena Mbak sudah berusaha untuk menjaga penampilan dan gaya di hadapan mereka. Khan tidak semua teman kerja Mbak seperti itu?
    Adapun cara menghadapi laki-laki yang suka iseng, dapat dilakukan secara bertahap dengan terus memperketat batasan sikap dan pergaulan dengan mereka. Kalau memungkinkan adakan semacam intimidasi.
    Semoga sukses.

  11. Wah artikelnya menggugah sekali. Kak minta tolong nampil di ‘Blogroll’ kakak boleh ya? Ini alamat pesantren kami kak http://darunnajah-cipining.com/ Mampir ya kak? Silaturahmi gitu.. Sekaligus nostalgia hehe.. Syukran ka

    ——————————————————

    Islam Feminis:

    Terimakasih, silahkan dan insya-Allah.

  12. Menarik ya membandingkan Perempuan Iran dengan Orang Indonesia, meskipun tak ada bedanya sama-sama perempuan. Kelompok yang hingga kini masih ‘dipinggirkan’.

    Mungkin akan lebih kaya jika faktor Revolusi Iran juga diamati sebagai faktor penting-perubahan sosial dan politik yang turut membentuk watak kelas, Individu, warga Iran kini. Dan konon kepercayaan Iran yang Persian-Shiah-mungkin juga memiliki pengaruh besar secara sosial budaya-kepada perempuan-perempuan Iran hingga membentuk kepribadian mereka pada umumnya.

    Tapi saya pikir, pola kepemimpinan politik yang berasaskan Teokrasi dan sistem Mullah di Iran, praktis sampai kapanpun akan memosisikan perempuan sebagai ‘yang kedua’ dalam masyarakat tersebut, takkan pernah ada setara bagi perempuan dalam kesadaran masyarakatnya, apalagi faktor Agama lebih-lebih juga mempersulit dan menjegal ruang gerakan pergerakan kaum perempuan dalam konteks masyarakat moderen saat ini. []

    ————————————————

    Islam Feminis:

    Anda mengatakan; “saya pikir, pola kepemimpinan politik yang berasaskan Teokrasi dan sistem Mullah di Iran, praktis sampai kapanpun akan memosisikan perempuan sebagai ‘yang kedua’ “, silahkan anda baca dulu wawancara yang ada di blog ini dengan peneliti masalah perempuan di Iran. Dan saya kira, maaf, pemikiran anda masih terpola dengan sistem yang konon teokrasi ala Vatikan dan kekhalifahan yang ‘konon’ mendapat hak preogatif Tuhan yang pernah ada itu. Selain itu; di saat anda mengatakan “faktor Agama lebih-lebih juga mempersulit dan menjegal ruang gerakan pergerakan kaum perempuan dalam konteks masyarakat moderen”, sekali lagi agama sebagai kambing hitam…Apakah gerangan agama? Agama yang mana yang konon benar dari Tuhan? Apa yang anda ketahui tentang konsep beragama dan kaitannya dengan kehidupan manusia di zaman apapun, dari zaman batu hingga zaman yang anda anggap moderen itu? Kenapa manusia mesti beragama? Apa yang dijanjikan agama terhadap manusia? …Dst. Jika anda masih memiliki PR berkaitan dengan jawaban2 prinsip filsafat agama ini maka anda akan kebingungan untuk menentukan mana agama yang benar yang harus diyakini. Jika kebingungan itu dibiarkan maka keapatisan akan muncul. Pelajari Filsafat Agama dengan baik sebelum memasuki kajian perbandingan agama secara luas.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: