Oleh: islam feminis | April 17, 2007

Mengenal Keutamaan Sayyidah Fathimah Az-Zahra as (2)

mawar-ilahi.jpg

Pada malam Jumat, aku melihat ibuku sedang beribadah sepanjang malam. Beliau berdiri, ruku’ dan sujud sampai menjelang matahari terbit. Aku mendengar beliau menyebutkan satu persatu nama-nama orang mukmin baik laki-laki maupun perempuan dan mendoakan mereka semua. Sementara beliau tidak berdoa untuk dirinya sendiri. Setelah itu aku bertanya kepadanya, Ibu! Mengapa kau berdoa hanya untuk orang lain? Sementara engkau tidak berdoa untuk dirimu sendiri?. Beliau menjawab, Anakku! Pertama tetangga, kemudian keluarga

————————————–

Mengenal Keutamaan Sayyidah Fathimah Az-Zahra as (2)

Oleh: Fathimah as-Segaff*

Pernikahan Penuh Berkah

Sebagaimana yang dikehendaki Allah swt, Ali as adalah merupakan pasangan sejati Fathimah as. Dalam sebuah hadis Rasul saww bersabda: “Kalau Allah swt tidak menciptakan Ali as maka tidak akan ada (pasangan) yang sesuai untuk Fathimah as”.

 

Secara zahir pernikahan beliau berdua merupakan pernikahan yang sangat sederhana, baik dari sisi mahar maupun perayaannya. Namun pernikahan mereka merupakan pernikahan yang sangat agung dan penting, karena keduanya merupakan manusia agung dan perwujudan segenap kemuliaan dan kesempurnaan. Perayaan pernikahan juga dihadiri oleh para malaikat. Rasul mengetahui Jibril, Mika’il dan Israfil telah datang untuk merayakan pernikahan Fathimah as dan Ali as, lalu Rasul bertanya: “Wahai Jibril untuk apa engkau datang ke mari?” Dia berkata: “Untuk merayakan pernikahan Fathimah”, lalu Jibril mengucapkan takbir. Bahkan di langit pun, pernikahan Fathimah as dirayakan dengan sangat meriah. Allah swt memerintahkan kepada malaikat Jibril untuk membacakan khutbah akad nikah Fathimah as dan Ali as.[10]

 

Mahar beliau adalah hasil penjualan perisai (baju perang) yang dengan itu perayaan diselenggarakan dan mengundang orang yang cukup banyak. Pada malam pernikahan, Imam Ali as melihat istrinya sedang menangis. Imam Ali as menanyakan sebabnya, Fathimah berkata,“Aku sedang mengingat akhir hayatku dan alam kubur, perpindahanku dari rumah ayahku ke rumahmu mengingatkan aku akan hal itu. Berjanjilah kepada Allah pada saat ini kita mulai dengan mengerjakan sholat dan beribadah kepada-Nya”.[11] Ketika esok harinya Rasul bertanya kepada Imam Ali as, “Bagaimana menurutmu tentang Fathimah?” Imam Ali as menjawab, ”Sebaik-baiknya teman untuk beribadah kepada Allah”.[12]

Ibadah Fathimah as

Ibadah yang merupakan sarana penghubung antara makhluk dengan Khaliknya merupakan bentuk penyerahan diri seorang hamba terhadap Sang Khalik. Ibadah sejati adalah ibadah yang didasari dengan makrifat. Fathimah as memiliki makrifat begitu dalam terhadap Tuhannya sehingga ibadahnya pun merupakan perwujudan cintanya. Tiada wanita lain yang mampu menandinginya. Hasan Basri seorang ulama besar berkata: “Tiada yang banyak ibadahnya di dunia ini selain Fathimah as, beliau beribadah sampai kakinya bengkak”. Begitu luasnya ibadah Fathimah hingga setiap prilaku beliau adalah merupakan ibadah. Setiap malam setelah menidurkan anak dan menyelesaikan semua pekerjaan rumah, beliau beribadah untuk menemui Sang Kekasih Sejati sampai kakinya bengkak.[13]

Setelah Fathimah as menikah, beliau menjadi guru para wanita. Mereka mendatangi beliau dan bertanya masalah fiqh serta akidah. Fathimah as juga turut membantu menyelesaikan segala persoalan mereka. Beliau mendidik putra-putri beliau, membangunkan anak-anak di malam Qadar, dan tidak pernah meninggalkan sholat malam. Beliau juga memberi contoh kepada kita cara bersabar. Para Imam berkata:

”Putri Rasulullah bagiku adalah seorang teladan, Fathimah adalah contoh bagiku, bukan karena dia ibuku, akan tetapi karena beliau putri Rasulullah, beliau bagian dari Rasul dan menjadi contoh dalam menjalankan perintah Allah swt”.

Imam Mujtaba as berkata: “Pada malam Jumat, aku melihat ibuku sedang beribadah sepanjang malam. Beliau berdiri, ruku’ dan sujud sampai menjelang matahari terbit. Aku mendengar beliau menyebutkan satu persatu nama-nama orang mukmin baik laki-laki maupun perempuan dan mendoakan mereka semua. Sementara beliau tidak berdoa untuk dirinya sendiri. Setelah itu aku bertanya kepadanya, Ibu! Mengapa kau berdoa hanya untuk orang lain? Sementara engkau tidak berdoa untuk dirimu sendiri?. Beliau menjawab, Anakku! Pertama tetangga, kemudian keluarga!”

Setelah Wafatnya Rasul

Beliau hidup hanya 75 hari setelah wafatnya Rasul. Dalam masa itu malaikat Jibril selalu menemuinya dan mengucapkan belasungkawa kepada Fathimah as. Jibril menyampaikan kepada beliau perkara-perkara yang akan datang dan Imam Ali as mencatatnya, yang kemudian dikenal dengan Mushaf Fathimah.[14]

Kepemilikan Tanah Fadak

Setelah pembukaan fadak, Allah telah memerintahkan Rasul untuk memberikan fadak kepada yang berhak. Rasul bertanya kepada Jibril,”Siapa yang dimaksud dengan dzalqurba dan apa haknya?. Jibril menjawab,Berikan fadak kepada Fathimah!”[15] Lalu Rasul menghadiahkan fadak kepada Fathimah as yang setelah Rasul wafat direbut oleh Abu Bakar. Tapi Fathimah as mempertahankan miliknya. Setelah beliau mengetahui perampasan fadak oleh Abu Bakar, beliau menyampaikan khutbah kepada masyarakat Madinah. Dan beliau bertanya kepada Abu Bakar:

 

”Wahai putra Kuhafah! Apa ada dalam kitab Allah yang engkau katakan, bahwasannya engkau bisa mewarisi dari ayahmu sedangkan aku tidak bisa bisa mewarisi dari ayahku? Kalau memang begitu seperti yang engkau katakan, maka kau telah bertentangan dengan Islam dan engkau telah membuat kebohongan besar kepada Allah atas apa yang telah engkau katakan, yang telah engkau sandarkan kepada kitab-Nya”.

Fathimah as Pembela Hak Imam Ali as

Peran teragung Fathimah as setelah wafatnya Rasul saww adalah pembelaan beliau terhadap keimamahan Imam Ali as yang telah direbut oleh tangan-tangan serakah. Jelas pembelaan beliau terhadap Imam Ali as bukan karena beliau adalah istrinya, tetapi pembelaan yang didasari oleh makrifat beliau terhadap Imam pada zamannya. Fathimah as mengingatkan hari Ghadir, mempertahankan wilayah, dan memerangi orang yang merusak bai’atnya di hari Ghadir. Setiap malam beliau mendatangi Muhajirin dan Anshor untuk mengingatkan kembali bahwa kekhalifahan Imam Ali as telah direbut oleh mereka. Dalam sebuah hadis beliau berkata kepada Imam Ali: “Wahai Abbal Hasan! Jiwaku kukorbankan untukmu dan jiwaku kukorbankan untuk menjaganmu. Jika kau dalam kebaikan aku tetap bersamamu, begitu juga jika kau dalam kesulitan aku akan tetap bersamamu”. Ini adalah suatu bukti kesetiaan beliau terhadap Imam Ali sa.[16]

Karena Imam Ali as tidak mau membaiat khalifah, mereka mendatangi rumah dan ingin membawa Imam Ali as ke mesjid secara paksa, tapi mereka tidak berhasil. Mereka lalu memerintahkan pasukannya untuk mambakar rumah putri Rasul. Umar mendobrak pintu sementara Fathimah as ada di balik pintu. Sampai-sampai daun pintu mengenai bayi yang sedang berada di kandungannya dan beliaupun terjatuh.[17]

Perpisahan dengan Fathimah as

Pada akhirnya waktu berpisah dengan az-Zahra telah tiba. Beliau berpesan kepada Imam Ali as,“Mandikanlah aku pada malam hari dan kenakan kafan dan makamkan aku, jangan kau ijinkan kepada mereka yang telah merampas hakku untuk menyolatkan aku”.[18]

 

Az-Zahra telah kembali kepada-Nya. Imam Ali as beserta anak-anaknya menghadapi kesedihan yang dalam. Atas kejadian ini, Imam Ali as berkata, ”Wujudmu berarti untukku”. Imam Ali as pada malam hari memandikan istri beliau dan mengenakan kafannya dan sebelum mengikat kain kafan itu, beliau memanggil anak-anak beliau,”Wahai Hasan! Wahai Husain! Wahai Zainab! Wahai Ummu Kultsum! Kemarilah, ucapkan selamat tinggal kepada ibu kalian”. Anak-anak mendatangi ayah beliau dan mereka menangis dengan perlahan-lahan hingga kain kafan Fathimah as basah oleh air mata.

 

Imam Ali berkata,”Pada saat itu, Allah aku jadikan saksi, Fathimah bersedih dan mengeluarkan kedua tangannya, Hasan dan Husain digendong olehnya”. Jibril menjerit,”Wahai Ali! Angkatlah keduanya dari badan ibunya, malikat-malaikat tidak sanggup melihatnya!”.

Ilmu Fathimah

Pengetahuan Fathimah terhadap risalah agama tidak dapat diragukan lagi, karena beliau telah berhubungan langsung dengan alam malakuti. Ketika tidak seorang pun yang menjawab pertanyaan Rasulullah,”Apa yang bisa menjadikan wanita dekat kepada Allah?” Sayyidah Fathimah menjawab, ”Pada saat wanita tinggal di dalam rumah dan mengerjakan pekerjaannya dan mendidik anaknya, ia lebih dekat kepada Allah swt”. Demi Allah! Siapa yang mencintai Fathimah as, pasti mencintai Allah dan Rasul-Nya. Kecintaan kita kepada putrinya adalah sesuatu yang manis yang tidak semua orang dapat merasakannya. Satu-satunya yang kita inginkan adalah memperoleh syafaat beliau yang luas. Insya Allah.[islamalternatif.com]

 

*Adalah Mahasiswi jurusan Tarbiyah Islamiyah di Universitas Jami’ah Zahra Qom-Iran.

Rujukan:

——————————————————————————–

[1] Najafi, Muhamad, Shadiqeh Syahideh Fatimeh Zahra, 1381,
Qom: Nasoyeh, hal. 5.

[2] Qazwini, Muhamad Kazim, Fotimeh Zahra az syahodat to wiladat, 1382, Edisi Persi, Qom: Nasyre Murteza, hal. 98-99.

[3] Najafi, Muhamad, opcit, hal. 6-7.

[4] Qazwini, Muhamad Kazim, opcit, hal. 48.

[ [5] Zadeh, Muhamad Reza Amin, Fazaile Ahle Baet az Manabi-e Ahli Sunat, 1377,
Qom: Intisyorot dar Rohe Haq, hal:94.

[6] Ibid, hal. 94.

[7] Ibid, hal. 97.

[8] Yazdi, Muhamad Taqi Misbah, Jami az Zalol-e Kausar, 1381,
Qom: Intisyoroti Muaseseye Omuzes wa Pazuhesyi-e Emom Khomaeni, hal:28.

[9] Najafi, Muhamad, opcit, hal:11-13.

[10] Ibid, hal. 82-84.

[11] Yazdi, Muhamad Taqi Misbah, opcit, hal. 100-101.

[ 12] Kumpulan Makalah Seminar ke-3, Joygohe Zan dar Islom va Gharb, 1381,
Qom: Markaz Jahoni, hal:223.

[13] Yazdi, Muhamad Taqi Misbah, opcit, hal. 99-100.

[14] Ibid, hal. 35-37.

[15] Zadeh, Muhamad Reza Amin, opcit, hal 97-98.

[16] Yazdi, Muhamad Taqi Misbah, opcit, hal: 145-146.

[17] Ibid, hal. 145-146.

[18] Najafi, Muhamad, opcit, hal. 154


Responses

  1. saya pernah membaca di Shahifah Fathimah (Muthahari Press) bahwa mahar yang diberikan pada sayyidah Fathimah bukanlah hasil penjualan pakaian perang milik Imam Ali,namun mahar pernikahan diberikan oleh Allah langsung atas permintaan Sayyidah Fathimah, yaitu ijin dari Allah agar pada Yaumul Akhir kelak beliau diberikan legitimasi untuk memberikan syafaat pada umat Rasulullah, mahar itu tertulis pada sehelai kain putih, yang disimpan oleh beliau.Pada saat beliau wafat, kain itu dibawa serta dalam kuburnya…Baca deh Shahifah Fathimah nya, biar jelas!

    ———————–

    Islam Feminis:

    1- Apa yang anda sebutkan itu bersandarkan hadis (riwayat), sedang apa yang disepakati oleh para sejarawan Suni-Syiah bahwa Imam Ali AS menjual baju perangnya untuk mahar perkawinan adalah bukti sejarah (dirayat). Tentu, derajat antara keduanya dalam penetapan lebih kuat bukti sejarah (dirayat). Apalagi sejarah (dirayat) itu menjadi kesepakatan semua kelompok Islam, bukan hanya Syiah atau Sunni saja.

    2- Dalam syariat Muhammad SAWW, mahar harus berupa sesuatu yang bermanfaat secara langsung. Dalam arti, harus berupa sesuatu yang zahir, walaupun itu hanya berupa segenggam kurma, baik diserahkan kepada mempelai perempuan secara langsung (kontan) maupun menyusul (hutang).

    3- Kalaupun riwayat yang anda sebutkan tadi adalah benar, saya kira tidak ada kontradeksi. Kita bisa contohkan bahwa dalam riwayat disebutkan bahwa Sayidah az-Zahra AS telah dinikahkan dengan Imam Ali AS oleh Allah SWT dengan disaksikan oleh para malaikat di langit, apakah pernikahan ini dari sisi hukum syariat Muhammad SAWW sudah cukup sehingga tidak perlu ada proses ijab-qobul di alam dunia? Dan terbukti dalam sejarah di dunia ini, ada proses pelamaran Imam Ali kepada anak pamannya untuk meminta sayidah Zahra AS, ada ijab-qobul, ada pembayaran mahar dst. Jadi sama sekali tidak ada pertentangan antara keduanya.

    Jadi jelas, berpegangan pada satu riwayat saja tidak akan bisa menyelesaikan permasalahan semacam itu, apalagi lantas terus dianggap sebagai kebenaran mutlak dan menafikan yang lain. Itu saja, kurang lebihnya minta maaf.

  2. Alhamdulillah! Kami mohon diberikan alamatnya penerbit dan atau toko buku tentang riwayat tersebut. Terima kasih Wassalam..

  3. alhamdulillah, saya sudah punya shahifah fathimah itu, dan memang tertulis seperti di atas ttg mahar itu…saya beli bukunya di salah satu toko di Palasari-Bandung, bilang saja kalau kita ingin beli shahifah fathimah, setahun yang lalu harga bukunya Rp.65.000,-


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: