Oleh: islam feminis | April 17, 2007

Cinta Sejati (3)

Tiba giliran anak terkecil yaitu balita menyusui. Ia bersabar sewaktu anak-anak lainnya dilempar ke dalam tungku api. Namun hatinya teriris di saat menyaksikan bayinya akan dilempar ke dalam tungku api. Fir’aun berkata: “Jika tetap beriman kepada Tuhanmu, maka bayi ini akan aku lemparkan ke dalam tungku”. Hampir saja ia hendak berkata, tiba-tiba bayinya berkata: “Bersabarlah, engkau benar wahai ibuku!”. Akhirnya Fir’aun melemparkan bayinya ke dalam tungku. Terakhir Fir’aun melemparkan perias tersebut ke dalam tungku api, sampai akhirnya mati syahid dan menemui Kekasih sejatinya..

————————————————————-

Cinta Sejati (3) 

Tukang rias putri Fir’aun (Masyithoh) telah beriman kepada Allah swt dan mengikuti Nabi Musa as. Pada suatu hari ia sedang menyisiri rambut putri Fir’aun, tiba-tiba sisir jatuh dari tangannya. Lantas ia mengambil sisir tersebut dengan menyebut nama Allah swt. Menyaksikan hal itu, putri Fir’aun bertanya: “Apakah ada Tuhan selain ayahku?” ia  menjawab: “Tuhanku, Tuhan ayahmu, Tuhan langit dan bumi adalah satu, tiada sekutu bagi-Nya”. Setelah mendengar jawaban pelayannya, putri Fir’aun enyah dari tempat itu dalam keadaan menangis. Sewaktu Fir’aun melihat ia menangis, lantas bertanya tentang sebab tangisannya kepadanya. Ia menjawab: “Periasku mengatakan bahwa Tuhanku, Tuhannmu dan Tuhan langit dan bumi adalah satu”.

 

Fir’aun murka mendengar hal itu, dan ia memerintahkan kepada bawahannya untuk membawa perias itu ke hadapannya. Fir’aun berkata: “Jika engkau tidak mengingkari ucapanmu maka engkau akan binasa”.  Namun perias itu tidak keluar dari keimanannya. Fir’aun memerintahkan kepada para bawahannya untuk menyediakan tungku api, dan berkata: “Lemparkan semua anak perias ini ke dalamnya”. Lantas satu persatu anak perias putri Firaun tersebut dilemparkan ke dalam tungku api.

 

Tiba giliran anak terkecil yaitu balita menyusui. Ia bersabar sewaktu anak-anak lainnya dilempar ke dalam tungku api. Namun hatinya teriris di saat menyaksikan bayinya akan dilempar ke dalam tungku api. Fir’aun berkata: “Jika tetap beriman kepada Tuhanmu, maka bayi ini akan aku lemparkan ke dalam tungku”. Hampir saja ia hendak berkata, tiba-tiba bayinya berkata: “Bersabarlah, engkau benar wahai ibuku!”. Akhirnya Fir’aun melemparkan bayinya ke dalam tungku. Terakhir Fir’aun melemparkan perias tersebut ke dalam tungku api, sampai akhirnya mati syahid dan menemui Kekasih sejatinya..

 

Dalam sebuah hadis disebutkan, sewaktu Rasulullah bermi’raj, beliau mencium bau yang sangat harum sekali. Lantas beliau bertanya kepada Jibrail as, “Harum apakah ini, sampai harum begini?”, “Ini harum yang berasal dari abu jasad perias anak perempuan Fir’aun dan anak-anaknya, yang telah disebarkan di sini. Bau harum ini akan terus berlangsung sampai hari kiamat” jawabnya.

[Euis D, dari Zanon Mardon Ofarin-e Tarikh, hal: 54-55]


Responses

  1. […] agak sulit bagi saya memberi penjelasan yang pas atas postingan Agorsiloku ini, diperlukan sedikit kearifan, namun demikian saya coba buatkan analogi,  ditengah kemarahan, kekalutan , kebingungan, bahkan […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: