Oleh: islam feminis | April 17, 2007

Kami Ingin Memiliki Anak yang Saleh

 safiah-mujtahidah.jpg

Dalam berbagai sistem pendidikan -baik formal maupun informal- pemenuhan kebutuhan materi dan non materi manusia haruslah dipenuhi secara seimbang. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam ketiga hadis di atas. Nama baik yang diberikan orang tua akan berpengaruh pada kepribadian anak. Membaca al-Qur’an dan menulis mengisyaratkann pada perkembangan intelektual anak. Berenang dan memanah mengisyaratkan akan perkembangan jasmani anak. Mencintai Nabi dan keluarganya, membaca al-Quran mengiyaratkan pada perkembangan religius dan sepiritual anak.

——————————————————

Kami Ingin Memiliki Anak yang Saleh

Apakah Tujuan Pendidikan Anak dalam Islam? 

Jawab: Rasul Saww bersabda:

-“Di antara hak-hak anak atas orang tuanya ialah; memberi nama baik, mengajarkan menulis  dan menikahkannya ketika dewasa”. (Makarimal akhlak, dinukil dari Muntakhab Mizan al-Hikmah, hal 614)

-“Ajarkanlah pada anak kalian; mencintai Nabi, mencintai keluarga (Ahly Bayt)Nabi, dan membaca Al-Qur’an”.(Kanzul Umal, dinukil dari Muntakhab Mizan al-Hikmah, hal 614)

– “Ajarilah anak kalian; berenang dan memanah”.(Wasa’il Asy-Syi’ah, dinukil dari Muntakhab Mizan al-Hikmah, hal 614)

 

Manusia merupakan wujud dua dimensi, dimensi jasmani dan ruhani. Kedua dimensi tersebut sama-sama memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi. Jika pemenuhan kebutuhan itu hanya dilakukan sebagian saja, atau tidak sama sekali, akan terjadi kepincangan. Karena sebagaimana jasmani memerlukan makanan, ruhani pun seperti itu.

 

Kita dapat lihat pada masa sekarang ini -terkhusus pada dunia Barat ataupun pada masyarakat kita sendiri- manusia hanya dianggap sebagai robot hidup. Manusia hanya dianggap memiliki tubuh materi, semuanya hanya cenderung ke arah kehidupan materialistis. Krisis spiritual, kehampaan, dan kehilangan jati diri adalah merupakan efek dari kehidupan materialistis.

 

Oleh karena itu, jelaslah bahwa dalam berbagai sistem pendidikan -baik formal maupun informal- pemenuhan kebutuhan materi dan non materi manusia haruslah dipenuhi secara seimbang. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam ketiga hadis di atas. Nama baik yang diberikan orang tua akan berpengaruh pada kepribadian anak. Membaca al-Qur’an dan menulis mengisyaratkann pada perkembangan intelektual anak. Berenang dan memanah mengisyaratkan akan perkembangan jasmani anak. Mencintai Nabi dan keluarganya, membaca al-Quran mengiyaratkan pada perkembangan religius dan sepiritual anak.

 

Namun sayangnya, fenomena yang sering kita saksikan adalah pembatasan arti pendidikan pada pendidikan formal saja, sehingga manusia dianggap terpelajar jika dia telah belajar secara formal. Manusia dianggap sukses bila telah meraih ijazah formalitas dan jarang sekali orang yang meraih pencerahan religiulitas dan spiritualitas disebut sebagai orang sukses.

 

Mungkin inilah tanda akhir zaman seperti yang telah dijelaskan oleh Rasulullah. Dalam hadis disebutkan pada suatu hari Rasulullah menatap anak-anak yang sedang bermain, lantas beliau bersabda: “Celakalah para orang tua akhir zaman! Seorang bertanya: “Wahai Rasulullah apakah mereka menyekutukan Allah swt? Rasulullah menjawab: “Tidak, mereka beriman. Akan tetapi mereka tidak mengajarkan agama. Dan jika anak-anak mereka menginginkan untuk mempelajarinya, para orang tua mengahalanginya. Mereka hanya merasa senang, jika anak mereka berhasil dari sisi harta keindahan dunia saja. Aku berlepas tangan dari mereka, dan mereka… ”.(Dinukil dari buku; diwist doston-e kutoh, hal 48)

 

Oleh karena itu tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk mencetak generasi yang sehat jasmani maupun ruhani. Sebagaimana yang telah disinggung oleh ketiga hadis di atas. Adalah tugas orang tua untuk mendidik anak sebaik mungkin agar kelak si anak tidak tumbuh menjadi seorang berintelektual tinggi, namun berakhlak seperti anak kecil yang tidak tahu mana yang benar, mana yang salah.

 

Manusia yang tidak seimbang inilah yang melakukan korupsi dan penipuan di sana-sini. Bila kita perhatikan, mulai dari koruptor kelas kakap sampai kelas teri di
Indonesia kebanyakan adalah orang-orang yang sehat jasmani dan berpendidikan tinggi. Namun, karena sisi moralitas, spiritualitas, dan religiulitas mereka tidak berkembang dengan baik, manusia-manusia seperti itu bisa disebut sebagai manusia yang cacat. [Euis .D]


Responses

  1. Maaf OOT:
    Kaum feminis menuntut kuota perempuan yang banyak di parlemen karena menganggap laki-laki yang duduk di parlemen kurang mengerti tentang permasalahan perempuan. Tentu ini adalah logika yang keliru. Karena keputusan yang diambil seseorang tidak bergantung pada jenis kelaminnya tapi tergantung pada pandangan hidupnya. Yang keliru lagi ya seharusnya yang membuat aturan bukan manusia. Karena aturan yang dihasilkan pasti sangat dipengaruhi pandangan hidup dan kepentingannya.

    Muslimah:
    Kalau permasalahan yang langsung berurusan dengan perempuan, tentu perempuan lebih mengetahui dari laki-laki. Sebaliknya permasalahan yang langsung berhubungan dengan laki-laki, tentu laki-laki lebih mengetahui dari perempuan. Sekarang permasalahannya adalah obyeknya, mana hal-hal yang hanya berurusan dengan laki-laki ataupun sebaliknya, dan mana obyek yang berurusan dengan keduanya. Tentunya dengan tidak ada pemaksaan peran, dan paranoidisme.

    Gender (lelaki atau perempuan) sedikit banyaknya dapat mempengaruhi keputusan seseorang, lihat saja realitanya seperti itu. Hanya saja untuk mendapatkan keputusan yang baik atau bijak itu dipengaruhi oleh beberapa hal di antaranya: pandangan hidup (Ilahi (bersumber pada keyakinan akan ketuhanan, atau matrealis)), latar belakang, pengalaman hidup dan lain sebagainya. Mungkin saja seorang perempuan akan dapat mngambil keputusan yang lebih baik, dikarenakan pandangan hidupnya, latar belakang, pengalaman…dsb, atau sebaliknya seorang laki-laki seperti itu.

    Memang benar undang-undang yang dapat dijamin kebenarnnya hanyalah undang-undang Tuhan. Karena ia sebagai penciptanya. Sebagimana halnya seorang pembuat computer akan lebih mengetahui tentang aturan computer dibanding yang lainnya.

  2. […] Links: [kami ingin memiliki anak yang saleh] https://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/17/apakah-tujuan-pendidikan/ […]

  3. Assalamualaikum…

    Tulisan yang bagus…terima kasih sudah mengingatkan saya.

    Barangkali kalau berkenan sedikit menambahkan…

    Mungkin selain itu juga perlu diperhatikan asupan gizi yang seimbang dan tentu halalan thoyiban.

    Jadi gizi jasmani dan ruhani.

    Mohon ijin artikelnya saya tempel di blog saya ..kl ndak boleh nanati saya delete.

    jazakallah…

    wassalamualaikum

    ——————————

    Islam Feminis:
    Wa alaikum salam wr wb
    Terimakasih atas masukannya. Dan menjadi kehormatan atas kami jika anda berkenan melakukannya (copy artikel), demi kebaikan bersama…
    Jazakumullah Khairal Jaza’
    Wassalam

  4. […] Diambil dari : https://islamfeminis.wordpress.com […]

  5. bagaimana cara memelihara dan membuat bibit anak yang sholeh dan mengerti keutamaan islam terutama mendahulukan akherat dari pada dunia?

    —————————————————————-

    Islam Feminis:

    Assalamualaikum wr.wb…

    Menghasilkan bibit anak yang soleh, gampang-gambang susah karena selain berhubungan dengan usaha anak itu sendiri juga berkaitan dengan usaha kedua orang tua dalam menghasilkan anak yang soleh.

    Mulai dari pembentukan janin, kedua orang tua paling tidak ketika melakukan hubungan suami istri (seks) dimulai dengan bacaan bismillah dan dalam keadaan wudhu, tidak dilakukan dengan asal-asalan. Sewaktu masa dalam kandungan, seorang ayah harus memberikan padanya rizki yang halal, baik dalam cara menghasilkannya maupun makanan itunya sendiri halal. Seorang ibu juga sangat berhati-hati dalam berprilaku sewaktu hamil dan usahakan senantiasa dekat dengan Allah swt baik melalui doa, maupun solat maupun baca al-Qur’an. Prilaku baik dan buruk seorang ibu hamil sedikit banyaknya akan memberikan dampak pada janin sebagaimana halnya makanan sehat dan tidak sehat akan memberikan pengaruh pada pertumbuhan jasmani janin.

    Setelah lahir kedunia, sejak ia terlahir selalu dengungkan padanya nama-nama Allah swt, ,ayat-ayat suci al-qur’an, kebaikan secara berangsur-angsur…setelah anak dapat berbicara ajarkan nama-nama Allah swt, kebaikan…berdasarkan sebuah hadis Rasulullah saww anak pada usia 7 tahun pertama ialah masa bermain dan sebagai raja, oleh karena itu tanamkan nilai-nilai agama sesuai dengan tuntutan umurnya. Artinya ajarkan nilai-nilai religius dan kebaikan melalui permainan, cerita dan bahasa yang dipahami anak-anak, misal jika kita ingin mengenalkan Tuhan Esa kepada anak maka kita tidak akan berhasil dipahami jika menyampaikannya dengan bahasa orang dewasa. Namun jika jika kita sampaikan seperti ini: “Anakku sayang Tuhan itu Satu, namun ada dimana-mana seperti matahari itu satu namun ada dimana-mana”, maka ia akan mudah memahaminya, dibawa ke tempat suci seperti masjid, pengajian …jadi walaupun anak tidak perhatian terhadap perkataan pembicara namun terdapat beberapa ungkapan seperti Allah swt, Nabi, surga dan ungkapan kebaikan lainnya akan terekam di alam pemikirannya.

    Hendaknya tidak mengajarkan agama pada anak dengan paksaan, namun tanamkan sejak kecil dengan penuh kasih sayang, dengan memberikan motivasi walaupun hanya dengan sebuah pujian, misal anak kita melakukan solat, walaupun melakukannya salah tetap harus diberikan motivasi: “MasyaAllah anak mamah pintar sekali…! Anak mamah tambah bercahaya seperti bidadari..!. Mamah tambah sayang nih…!”. Ataupun jika melakukan kebaikan lainnya seperti ia memberikan sesuatu pada teman seumurnya maka teruslah berikan motivasi jangan langsung diprotes walaupun salah namun beritahukan kesalahan dengan cara tidak langsung setelah memberikan motivasi. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam berbagai buku psikolog tentang pengaruh motivasi terhadap prilaku anak. Dengan adanya motivasi dan disampaikan dengan penuh kasih sayang seorang anak akan merasakan nikmatnya melakukan kebaikan dan pelan-pelan akan tumbuh pada dirinya kecintaan terhadap agama, kebaikan Tuhan, …

    Sampaikan tentang tujuan solat dan ajaran agama lainnya dengan bahasa yang sangat sederhana dan mudah dipahami. Ketika kita ingin menanamkan jiwa sosial kepada anak, ketika kita ingin memberikan sedekah, atau membantu orang maka biarkan anak kita yang melakukannya tentunya dengan pantauan kita. Buatlah kotak sedekah harian di rumah kita, dan biarkan anak kita yang memasukkan uang ke dalamnya setiap hari walaupun hanya 100 Rupiah, dan katakan padanya: “Sayang! Di sana ada teman-teman kamu yang dikarenakan tidak punya ayah, atau tidak punya ayah-ibu seperti kamu juga ingin punya baju, buku, jajan …Tapi mereka nggak bisa beli karena nggak punya uang. Makanya anakku sayang, kamu menaruh uang di kotak sedekah ini untuk teman-temanmu biar mereka pun senang seperti kamu, dengan melakukan ini kamu akan semakin dicintai teman-teman dan Allah swt semakin sayang sama kamu…”.

    Selain itupun orang tua sebagai contoh akan sangat memberikan pengaruh dalam menanamkan nilai-nilai agama, usahakan antara ucapan dan prilaku orang tua janganlah saling bertentangan. Begitupula antara pandangan ibu dan ayah dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan jangan sampai saling bertentangan yang akan menimbulkan rasa bingung pada anak, mana yang benar ucapan ibu ataukah ayahnya…?

    Ini hanyalah penjelasan singkat, mudah-mudahan dapat membantu dan memberikan manfaat pada kita sehingga kita dapat menghasilkan anak yang soleh yang merupakan idaman semua orang tua dan sebagai simpanan untuk kehidupan di kehidupan akhirat nanti.

    Terima kasih

  6. tulisan yg sangat menarik, karena aku sendiri tidak sholeh😦
    tapi untung aja masih berusaha menghindarkan dr makanan2 yg tdk halal… ah seandainya

  7. Assalamu alaikum

    Tulisan yang menarik..Saya sangat mengapresiasi.

    Setidaknya ada dua catatan penting untuk memperoleh anak solih. Pertama, berkenaan dengan bagaimana proses pembentukan semasa pra-kelahiran dan bagaimana proses tarbiyah dilakukan. Soal yang pertama, berkaitan dengan banyak hal, seperti tingkat kehalalan apa yang dikonsumsi oleh orang tua yang menjadi bibit, bagaimana orang tua menjalani proses hubungan intim yang penuh doa. Tentang yang kedua, Berkenaan dengan bagaiaman seorang anak diarahkan untuk dapat mengerti dan menjalani agama dengan baik. Di sini kita akan mengenal beberapa istilah penting, tarbiyah, tahdzib dan ta’dib.

    Hidup di Zaman ini tidak mudah untuk mendidik anak-anak untuk menjadi solih. dengan gempuran televisi dan budaya aneh-aneh, kita harus berupaya lebih untuk mendisiplinkan anak-anak dalam koridor agama. Dalam islam diajarkan dua pendekatan, pertama spiritual dan amal. Artinya, Secara spiritual, kita masih berkeyakinan akan adanya kekuatan doa. Kita patut meminta kepada tuhan supaya anak-anak kita dijadikan sebagai orang-orang Solih. Dan yang kedua amal, atau implementasi nilai-nilai. Dengan ini, kita disyaratkan untuk berupaya dengan maksimal untuk mendidik anak-anak sesuai dengan ajaran Islam. Artinya, doa saja tidak cukup untuk membuat anak-anak jadi solih..

    Demikian..

    Irsyad


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: