Oleh: islam feminis | April 16, 2007

Yang Dimintai Pertanggungjawaban dari Kedua Orang Tua

ama-adik-icut.jpg 

Anak merupakan bagian dari keluarga. Dan berdasarkan ayat di atas orang tua berkewajiban untuk menjaganya dari api neraka. Lantas bagaimana menjaga keluarga terkhusus anak dari api neraka? Ialah dengan cara mendidik dan mengajarkan kepadanya untuk meninggalkan hal-hal yang membuatnya terjerumus ke dalam api neraka. 

 

—————————————————–

Yang Dimintai Pertanggungjawaban dari Kedua Orang Tua 

Pentingkah Pendidikan Anak? 

Jawab: Allah swt dalam surat at-Tahrim ayat 6 telah berfirman:  “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”. Anak merupakan bagian dari keluarga. Dan berdasarkan ayat di atas orang tua berkewajiban untuk menjaganya dari api neraka. Lantas bagaimana menjaga keluarga terkhusus anak dari api neraka? Ialah dengan cara mendidik dan mengajarkan kepadanya untuk meninggalkan hal-hal yang membuatnya terjerumus ke dalam api neraka.

Dengan kata lain mendidiknya hingga menjadi anak yang soleh atau solehah. Yaitu anak yang akan menjadi hiasan keluarga dan cahaya mata kedua orang tua. Allah swt berfirman: “Dan orang orang yang beriman berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai cahaya mata (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS al-Furqon: 74)

Rasul saww bersabda: “Sesungguhnya anak soleh merupakan wewangian di antara wewangian surga”. (al-Kafi, jil 6, hal 3, dinukil dari Muntakhab Mizan al-Hikmah, hal 612)

Anak merupakan amanat Allah swt yang teralhir dalam keadaan suci, Rasul saw bersabda: “Setiap anak terlahir dalam keadaan suci (fitrah)”. (al-Kafi,  jil 7, hal 16, dinukil dari Tarbiyat-e Farzan, hal 39) Yang harus dikembalikan kepada pemiliknya dalam keadaan suci pula. Dengan cara apa? Dengan menjaga dan mendidiknya sehingga anak tetap berjalan pada jalan yang benar. Mungkinkah anak dapat menjalani kehidupannya dan sampai pada tujuan tanpa diberi bekal dan dibimbing? Kedua orang tua bertanggung jawab untuk memberikan bekal hidup dan membimbingnya sehingga ia dapat berjalan pada jalan yang benar. Jangan biarkan anak tumbuh berkembang begitu saja.

Dari sini, jelas pengetahuan tentang pendidikan anak merupakan kebutuhan pokok para orang tua, ataupun calon orang tua. Sehingga anaknya dapat menjadi generasi yang bermanfaat bagi agama dan Negara, bukan menjadi sampah masyarakat.  [Euis .D] 


Responses

  1. Bagaimanakah jika anak sudah menikah? Apakah dia juga masih menjadi tanggung jawab orang tua? Terutama untuk anak wanita.

    Terima kasih.

    ——————————————————–

    Islam Feminis:
    Anak perempuan ketika telah menikah maka ia menjadi tanggung jawab suaminya. Dalam sebuah hadis Rasulullah saww bersabda: “Seagung-agungnya hak yang dimiliki oleh manusia terhadap perempuan adalah suaminya. Dan seagung-agungnya hak yang dimiliki oleh seseorang terhadap seorang lelaki adalah ibunya”.(Lihat kitab Muntakhab Mizan al-Hikmah Halaman: 254 karya Raisyahry).
    Namun tanggung jawab orang tua sebelum anak perempuannya menikah, tetap akan dimintai pertanggungjawaban.

  2. Bagaimana jika anak wanita itu bercerai dengan suaminya? Apakah tanggung jawab orang tua kembali dituntut?

    ————————————————————–

    Islam Feminis:
    Jika kita berbicara secara hukum fikih, anak wanita yang sudah bercerai dengan suaminya (janda), jika janda tersebut dari segi materi tergolong miskin (tidak dapat memenuhi kebutuhan primernya) sementara orangtuanya mampu untuk membiayainya maka wajib atas orang tua untuk menafkahinya. Walaupun secara hukum fikih jika janda hendak menikah lagi maka ia tidak perlu meminta izin kepada ayahnya, namun secara etika ya sebaiknya ia bermusyawarah dengan orang tuanya terlebih dahulu.
    Namun berbeda dengan gadis (yang belum pernah menikah) wajib untuk meminta izin kepada ayahnya sebagai walinya.

    Namun jika berbicara dari sisi pendidikan (orang tua terhadap anak) maka ia sudah dianggap independen. Karena ia sudah merupakan hasil didikkan. Pendidikan dengan arti pendidikan orang tua terhadap anaknya yang sebagaimana mestinya, di sini tidak dapat diterapkan lagi. Di sini ia dianggap sebagai partner orang tua, kewajiban yang dimiliki oleh orang tua hanyalah sebagaimana kewajiban amar makruf nahi munkar (memerintahkan yang baik dan mencegah yang munkar) jika ia melakukan kesalahan maka orang tua lebih diprioritaskan untuk mengingatkannya, atau mengajak kepada kebaikan namun dengan cara yang baik dan benar sesuai dengan tuntutan usianya.

  3. Suami saya, yang sudah saya kenal sejak 12 tahun lalu, berakhlak baik dan rajin beribadah, ternyata sejak 6 bulan lalu berselingkuh. Dia mengakui, berkali-kali berjanji menghentikan tetapi ternyata masih melakukannya bahkan pada bulan puasa ini.
    Kalau tidak mengingat anak2, saya ingin minta cerai saja. Sakit sekali hati saya. Dan saya takut perkembangan jiwa anak saya justru terganggu nantinya bila mereka tahu apa yang sudah dilakukan ayahnya. Saya yakin saya sanggup membesarkan anak-anak saya (2 orang, perempuan).
    Hingga sekarang dia berkeras akan berusaha jadi ayah yang baik. Apakah mungkin?

    —————————————————————

    Islam Feminis:
    Kepribadian seseorang tidak akan bisa dijamin seratus persen tidak akan berubah. Karena Setan tidak akan pernah menganggur untuk menggoda manusia, manusia baik maupun yang berprilaku buruk. Setan akan selalu membisikan pada manusia, kapan dan dimana saja. Oleh karena itu, kenapa para alim ulama yang ahli ibadah dan selalu berbuat kebaikan doanya ialah ‘husnul-khotimah dan aqibatul-bikhair’ kehidupannnya berakhir baik dan berakibat baik. Karena walaupun ia seorang ulama yang rajin ibadah dan berakhlak baik, namun belum tentu kehidupannya berakhir dengan baik. Ini semua dikarenakan Setan selalu berusaha menyesatkan dan memberikan bisikan-bisikan manusia, yang jika bukan karena pertolongan Allah swt tidak mungkin kita akan lepas dari godaannya. Ini juga mungkin yang terjadi pada suami Mbak.
    Di sini juga Mbak perlu mencari sebab perselingkuhan suaminya, apakah penyebabnya murni dia sendiri, atau terdapat faktor-faktor lain, sehingga jika diketahui penyebabnya maka dengan mudah kita dapat menyelesaikan permasalahan dari akarnya.
    Maaf ada pertanyaan, apa maksud selingkuh di sini? Memang benar-benar selingkuh, maaf-maaf ia melakukan perbuatan yang melanggar agama (maaf, sekali lagi seperti zina)? Atau maksudnya ia menikah lagi dengan perempuan lain tanpa sepengetahuan Mbak? Karena keduanya memiliki jalan penyelesaian yang berbeda.
    Jika memang suami Mbak benar-benar mengakui kesalahan dan ingin bertaubat serta ingin kembali memperbaiki kondisi keluarga, tidak ada salahnya Mbak memberikan kesempatan kembali kepadanya untuk membuktikan itikad baiknya. Mohonlah kepada suami anda untuk berjanji dan membuktikan niat baiknya, sehingga bukan hanya sekedar janji-janji belaka. Dengan berbicara dari hati ke hati Mbak dapat menyadarkan suaminya dengan mengingatkan padanya bahwa dia bukanlah tipe orang seperti itu, dan ingatkan kembali kepadanya tentang akhlak baik suaminya pada waktu-waktu sebelumnya.
    Memang tidak mudah untuk menerima kembali orang yang telah menyakiti kita, namun dalam kondisi seperti demi memperbaiki kondisi kehidupan rumah tangga dan demi masa depan anak-anak diperlukan kebesaran hati untuk memaafkannya dan menerimanya kembali. Jika kehidupan keluarga masih dapat diselamatkan, walaupun dengan memerlukan banyak pengorbanan kenapa kita tidak berusaha untuk menyelamatkan dari badai ini?
    Penceraian merupakan jalan penyelesaian terakhir di kala sudah tidak menemukan jalan lain lagi untuk keluar dari kemelut ini. Jika memang Mbak merasa takut perbuatan suaminya diketahui anak-anak yang pada akhirnya akan memberikan dampak negatif pada mereka, jika Mbak dapat menyembunyikan sebaik mungkin masalah ini dari anak-anak, dan jika memang ternyata mereka mengetahuinya dari pihak luar maka berilah penjelasan dan pengertian kepada mereka dengan penjelasan dan bahasa yang baik dan sebijaksana mungkin. Kendatipun seorang ibu saja mampu untuk membesarkan anak-anaknya, namun dari segi psikologis anak-anak memerlukan kasih-sayang dari ayah dan ibu. Peran yang dimainkan oleh seorang ayah dan seorang ibu, keduanya sangat dibutuhkan dalam membentuk kepribadian seorang anak. Kasih sayang, perhatian dan perlakuan seorang ayah tidak dapat digantikan oleh siapapun. Jadi, kami kira untuk mengambil jalan penceraian sebaiknya dipertimbangkan kembali. InsyaAllah Allah SWT akan menolong Mbak untuk keluar dari kemelut ini melalui jalan penyelesaian yang terbaik.
    Kurang lebihnya minta maaf.

  4. Di Iran dan faham mazhab ahlul bait, sejauh mana peran tanggung jawab ayah terhadap anak yang dilahirkan dari hasil nikah mut’ah? Apakah tetap terbebani kewajiban perwalian & menafkahi sebagaimana kewajiban kepada anak dari hasil pernikahan permanen meski telah habis masa nikahnya?

    Atas dasar alasan & hikmah apa negara Iran & faham ahlul bait mengatur hukum yang membolehkan WN-nya melakukan pernikahan mut’ah?

    Adakah situasi kondisi atau hal lain yang disyaratkan ketika seseorang berniat menikah mut’ah?

    Apakah Rasulullah saww pernah nikah mut’ah atau memiliki anak dari hasil nikah mut’ah?

    Tks

    ——————————————————————————-

    Islam Feminis:
    Sebelumnya. sekedar informasi saja bahwa nikah mut’ah di negeri yang bermazhab resmi Islam Syiah itu masih belum secara resmi dilegalisir oleh pihak pemerintah. Namun karena secara syariat terbukti diperbolehkan, jika ada yang hendak melakukanya maka ia harus tercatat pula di kantor resmi, mirip KUA kalau di Indonesia. Dan tentu, belum adanya pelegalisiran bukan berarti pengharaman. Hal itu dikarenakan secara ideologis yang bersandar pada argumen-argumen teologis berdasar teks-teks agama yang disepakati baik oleh Ahlusunnah maupun Syiah sendiri nikah jenis itu memiliki hukum halal. Tidak ada konsekuensi logis antara keduanya (belum adanya legalisir dan pengharaman). Boleh jadi, hal itu memiliki pertimbangan lain yang kembali pada kasus hukum primer yang berubah menjadi hukum sekunder pada masalah pelegalannya (perundang-undangan).

    Secara hukum, dalam masalah ini (tanggungjawab dan perwalian), anak hasil nikah temporer(mut’ah) tidak ada bedanya sama sekali dengan nikah permanen (da’im). Karena perbedaan antara dua jenis nikah ini hanyalah terletak pada; 1- Adanya penentuan masa pernikahan, 2- perempuan pada waktu akad nikah mut’ah bisa menentukan syarat yang tidak mungkin terjadi di nikah da’im berupa “tanpa ada hubungan biologis”, dan 3- suami hasil nikah mut’ah tidak memiliki “kewajiban” (bukan berarti tidak boleh) untuk menafkahi istri dari nikah mut’ahnya. Juga, 4- sang istri hasil nikah mut’ah tidak mewarisi harta benda suaminya jika ia meninggal, begitu juga sebaliknya jika sang istri yang meninggal. Adapun masalah lain-lain -terkhusus yang berkaitan dengan anak- maka tidak ada beda antara nikah permanen dan nikah mut’ah.

    Alhasil, seseorang ketika hendak nikah mut’ah ia harus melaporkan dulu ke KUA tadi. Sehingga ketika mereka memiliki anak hasil nikah mut’ah akan jelas siapa ayahnya dan apa saja kewajiban orang tuanya (ibu-ayah) dalam masalah pengasuhan dan pendidikan anak. Tanpa melapor ke KUA maka pernikahannya bisa terancam dengan hukuman pidana. Jadi praktik mut’ah tidak bisa dilaksanakan dengan sembarangan di Republik Islam Iran, walau secara ideology mereka memperbolehkannya. Dan terbukti, pernikahan jenis ini sangat minim kita jumpai pada masyarakat di Iran. Kasus nikah mut’ah di Iran persis seperti kasus poligami di negara kita. Walau Islam memperbolehkannya, dan negara kita –atau negara muslim lainnya- yang mayoritas berpenduduk muslim yang meyakini legalitas poligami, apa lantas negara membiarkan poligami dengan seenaknya dilakukan? Apalagi buat pegawai negeri. Anda tahu sendiri UU tentang itu dan bagaimana masyarakat –terkhusus para wanita- dalam melihat dan mensikapinya bukan? Itu juga yang terjadi di Iran berkaitan dengan praktik nikah mut’ah dan poligami.

    Teks yang jelas yang menyatakan bahwa Rasulullah telah (pernah) melakukan nikah jenis itu –sebatas yang saya tahu- tidak ada, apalagi memiliki anak hasil nikah tadi. Oleh karenanya terdapat ikhtilaf (perbedaan pendapat) antara ulama dalam masalah ini. Tetapi, secara ringkas, Islam Syiah (mazhab Ahlul Bayt) melihat legalitas nikah jenis itu dari beberapa argumen yang menyatakan bahwa; Pertama: Ayat berkaitan dengan legalitas nikah mut’ah telah turun dan para ulama Ahlusunnah pun meyakini bahwa ayat ini turun berkaitan dengan nikah mut’ah. Kedua: Sahabat-sahabat pernah melakukan jenis nikah ini, dan Rasul mendiamkannya. Dan kaum muslimin sepakat bahwa, diamnya Rasul –dan tidak ada pelarangan darinya- merupakan kesepakatan (taqrir) beliau. Ketiga: Tidak ada kejelasan ayat atau hadis Rasul yang menghapus hukum tersebut, hingga akhir hayat Rasul sebagai pembawa syariat Ilahi terakhir. Keempat: Banyak hadis para sahabat Rasul yang menjelaskan bahwa Nikah Mut’ah dilarang pada zaman kekhalifahan Umar bin Khatab. Ini dapat kita jumpai di buku-buku Standart Ahlussunnah wal Jamaah. Untuk lebih jelasnya lihat situs http://www.islamalternatif.net pada “Arsip Artikel” pada sub Dialog Mazhab dengan judul: “Nikah Mut’ah antara Halal dan Haram”. (atau islamsyiah.wordpress.com yang berjudul: “Nikah Mut’ah sama dengan Zina?”)

  5. Ass.
    saya pernah mendengarkan tausiyah dimana menyebutkan bahwa pendidikan anak menjadi tanggungjawab ibu dan pembiayaan/nafkah menjadi tanggungjawab ayah, adakah hadist yang dapat saya jadikan dasar? dan bagaimana hukumnya jika ibunya bekerja seharian/ bertahun2 diLN sedangkan anaknya bersama pembantu/ neneknya padahal ingin membantu suami mencukup nafkah? J.K.
    Wass.

    —————————————————————————

    Islam Feminis:
    Sebenarnya pembagian tugas semacam ini kembali kepada kelaziman pada sebuah keluarga. Jika kembali merujuk kitab suci al-Qur’an tugas mendidik anak adalah merupakan tugas bersama ibu dan ayah, sebagaimana yang dapat dilihat alam al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”. (QS at-Tahrim : 6) Dalam beberapa tafsir seperti tafsir Thabari dan ad-Durrul-Mansur karya Suyuthi berkaitan dengan ayat ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan menjaga keluarga dari api neraka ialah mengajari mereka akan hal-hal yang diperintahkan Allah SWT dan hal-hal yang dilarang Allah SWT. Dengan kata lain ialah mendidik keluarga yang salah satunya ialah anak, maksud dari ayat di atas. Oleh karena itu, ayah dan ibu akan dimintai pertanggungjawaban atas pendidikan anaknya.

    Dalam kehidupan berumah tangga, Allah SWT telah memberikan tugas kepada laki-laki untuk mencari nafkah dan menafkahi keluarganya. Dan ini merupakan kewajiban seorang suami yang telah ditetapkan oleh Allah. Sementara perempuan tidak memiliki kewajiban seperti itu, jikapun melakukannya maka terserah kehendak istri untuk membantu perekonomian keluarga. Andaikan Allah menetapkan kewajiban tersebut kepada keduanya baik suami maupun istri tanpa mengenal ampun maka apa yang akan terjadi? Kelanggengan keluarga bukan hanya berpondasikan pada masalah ekonomi saja tapi terdapat pondasi-pondasi lainnya. Sebenarnya Allah dengan melepaskan tanggung jawab seperti dari perempuan, sangat bijaksana sekali. Karena jika perempuan seperti laki-laki diberi kewajiban untuk mencari nafkah yang mau tidak mau harus dilakukannya karena merupakan sebuah kewajiban maka akan sangat memberatkan perempuan, dengan kembali melihat kondisi kodrat alamiyah perempuan seperti masa mengandung, menyusui.

    Oleh karena itu, maslah tanggungjawab pendidikan anak adalah tanggungjawab ayah dan ibu, hanya saja karena seorang ibu tidak memiliki kewajiban menafkahi keluarga dan waktunya lebih banyak untuk anak, juga lebih dekat dari sisi kejiwaan, karena masa-masa yang menyebabkan seperti itu seperti masa mengandung, menyusui adalah masa- masa kedekatan ibu dengan anak serta dari sisi kejiwaan lebih telaten, sabar dalam menghadapi anak dan ini sangat diperlukan dalam mendidik anak maka seorang ibu lebih dengan baik dapat mendidik anaknya. Namun bukan berarti lantas seorang ayah tidak memiliki tugas lagi untuk mendidik anaknya, karena dalam pendidikan ayah dan ibu memiliki peranan masing-masing dalam membentuk kepribadian anaknya.

    Islam tidak melarang perempuan untuk berkarier, apalagi untuk membantu suami dalam memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Hanya saja, tidak membuat keluarga terbengkalai, terkhusus anak. Karena kebutuhan anak bukanlah hanya terbatas pada masalah pemenuhan kebutuhan jasmani dan materi saja. Akan tetapi iapun memiliki kebutuhan lainnya seperti kasih sayang, perhatian, spiritual …dsb. Selain itupun, kasih sayang seorang pembantu (terkhusus pembantu yang dari segi agama, pendidikan tidak memenuhi syarat) dan kasih sayang nenek kakek akan sangat berbeda dengan kasih sayang orang tua. Ada istilah yang mengatakan terkadang kasih sayang nenek kakek akan menjerumuskan. Apabila ia meninggalkan anaknya di tangan pembantu untuk beberapa saat dan tetap berhubungan serta memberikan perhatian khusus terhadap anaknya, mungkin hal ini tidak apa-apa. Akan tetapi apabila kedua-duanya super sibuk dan sama sekali tidak ada waktu untuk anaknya, hal ini yang akan membahayakan anak, dan yang akan dipetanyakan adalah kita sendiri sebagai orang tua. Oleh karenanya, semuanya kembali kepada kita semuanya untuk menentukan sebuah keputusan, “mana yang lebih penting dari yang penting”? jelas yang lebih penting harus didahulukan dari yang penting.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: