Oleh: islam feminis | April 15, 2007

Mengenal Ahli Tafsir dan Sufi (‘Arifah) Perempuan: Mujtahidah Banu-ye Isfahani

isfahan.jpg

Beliau satu-satunya perempuan yang mencapai derajat ijtihad pada zamannya. Prestasi beliau yang luar biasa tersebut menyebabkan banyak berdatangannya para tokoh dan ulama dari berbagai negara Islam untuk bertemu dan berbincang-bincang dengan beliau. Diantara para ulama besar yang mendatangi beliau adalah: Ayatullah al-Udzma Mar’asyi Najafi, Allamah M Husein at-Thabathaba’i (pemilik tafsir Mizan), Allamah Muhammad Taqi Jakfari (filsuf muslim ternama) dan para dosen dari berbagai universitas.

—————————————————

Mengenal Ahli Tafsir dan Sufi (‘Arifah) Perempuan; Mujtahidah Banu-ye Isfahani

Oleh: Euis Daryati

 

Sebagian orang beranggapan, bahwa sangat sedikit sekali tokoh perempuan yang dapat dikenal keunggulannya. Ungkapan semacam ini memberikan dua kemungkinan; Pertama, pengetahuan sang pembicara terlampau dangkal sehingga banyak tokoh yang tidak pernah ia ketahui, atau bahkan ia dengar. Hal itu tidak lain dikarenakan kemalasannya dalam menelaah kitab-kitab sejarah masa lalu, atau dikarenakan kejumudan pola pikirnya. Kedua, pembicara terlalu terpengaruh dengan statemen-statemen beberapa “oknum” yang cenderung melecehkan kaum perempuan. Alhasil, dua kemungkinan di atas tadi berpangkal pada “kebodohan” obyek yang kita singgung tadi.

Begitu banyak tokoh perempuan yang dikarenakan tidak mendapat perhatian yang khusus mereka kemudian menjadi kurang dikenal, akhirnya keberadaan mereka seakan hilang ditelan sejarah. Ibarat pepatah yang mengatakan “tak kenal, maka tak sayang”, disini akan kita singgung secara ringkas sejarah kehidupan seorang wanita agung, mujahidah fi sabilillah, penghidup ajaran para manusia suci, pengkhidmat masyarakat, alim dari berbagai disiplin ilmu keagamaan dan tokoh wanita di zamannya, Sayyidah Amin dari kota Isfahan, Iran.

Biografi

Hajjah Sayyidah Nushrat Bigum Amin (terkenal dengan sebutan “Banu-ye Isfahani”) lahir pada tahun 1265 HS (kurang lebih 120 tahun yang lalu .red) di Isfahan, Iran. Ayah beliau bernama Haji Sayyid Muhamad Ali bin Hasan yang dikenal “Amin-e Tujjari Isfahani”, adalah orang yang saleh lagi dermawan. Begitu pula ibu beliau adalah seorang wanita mukminah dan mulia. Beliau adalah seorang Syarifah atau Sayyidah, yang urutan nasabnya kembali ke Rasulullah Saww. melalui putri semata wayang beliau yang digelari penghulu para wanita dari awal hingga akhir penciptaan, Fathimah az-Zahra as. Dengan tiga puluh urutan nasab beliau sampai kepada imam Ali as, beliau merupakan anak terakhir dari empat bersaudara dan semua kakaknya adalah laki-laki.

Sewaktu menginjak umur empat tahun, ibunya mengirim beliau ke Maktab (pusat pendidikan) untuk belajar al-Qur’an dan baca tulis. Padahal, zaman itu, jarang sekali keluarga yang mengirim anak perempuannya ke Maktab untuk belajar, bahkan sebagian keluarga tidak memperbolehkan untuk mengajarkan baca tulis kepada anak perempuan.

Sejak itulah Sayyidah Amin terus melanjutkan pelajarannya, dan beliau belajar bahasa Arab sampai umur sebelas tahun. Dalam menceritakan kenangan masa kecilnya beliau berkata: “Saya masih ingat ketika saya bersama teman-teman sebaya, saya tidak bermain-main dan bersenang-senang seperti mereka. Bahkan saya selalu ingin menyendiri supaya dapat terus berpikir, karena saya merasakan adanya sesuatu yang hilang dari jiwa saya. Begitu pula jika berada di tempat umum, saya selalu dalam keadaan berpikir dan merenung…”.

Setelah menyelesaikan Pendidikan Mukadimah, lantas beliau melanjutkan pelajaran Fiqih, Ushul Fara’id, Kifayah al-Ushul dan Bahsul-kharij Shalat dan Thaharat dalam bidang fiqih, Syawariqu al-Ilham dalam bidang ilmu kalam (teologi) dan Ilahiyat al-Asfar dalam bidang falsafah. Beliau belajar semua bidang ilmu ini kepada Mir Sayyid Ali Najaf Abodi. Ketika berumur lima belas tahun beliau menikah dengan anak pamannya yang bernama Haji Mirza dan dikenal dengan “Mu’in-e Tujjari”, beliau merupakan saudagar terkenal di kota Isfahan. Meskipun beliau telah berkeluarga dan mempunyai anak, namun hal tersebut tidak menghalangi kecintaan beliau terhadap ilmu dan belajar. Dari pernikahannya beliau memiliki delapan anak, namun yang tetap hidup hanyalah seorang. Sementara tujuh anak lainnya telah meninggal dunia dengan cepat, namun beliau menganggap hal itu sebagai ujian Ilahi. Beliau selalu berusaha untuk menyeimbangkan antara keluarga dan pelajaran, dan tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri dan ibu. Oleh karenanya, beliau senantiasa membawa buku ketika bertamu.

Karena amat cintanya kepada ilmu, meskipun hari itu anaknya meninggal beliau tetap hadir untuk belajar. Seorang guru beliau menukil: “Suatu hari anak perempuan Sayyidah Amin telah meninggal dunia. Saya merasa yakin ia tidak akan datang untuk menghadiri pelajarannya, tapi ia datang menghadiri pelajarannya. Kukatakan padanya supaya meliburkan pelajarannya, karena hari ini anaknya telah meninggal dunia”.

Namun ia berujar: “Tidak apa-apa, ia telah pergi ke Rahmat Ilahi, kenapa kita harus meliburkan pelajaran? Allah telah menganugerahkan dua nikmat kepadaku. Lalu Dia mengambil salah satunya dariku, kenapa aku harus kehilangan yang lainnya, yaitu nikmat belajar?”.

Dengan kerja keras dan semangat cinta ilmu, beliau meneruskan pelajarannya sampai ke tingkat yang lebih tinggi. Dengan situasi dan kondisi masyarakat yang masih memandang lain pada pendidikan bagi seorang perempuan, sampai pada akhirnya di usia empat puluh tahun derajat keilmuan dan penguasaan ilmu beliau diakui oleh para ulama besar sehingga beliau pun mencapai derajat ijtihad. Beliau satu-satunya perempuan yang mencapai derajat ijtihad pada zamannya. Prestasi beliau yang luar biasa tersebut menyebabkan banyak berdatangannya para tokoh dan ulama dari berbagai negara Islam untuk bertemu dan berbincang-bincang dengan beliau. Diantara para ulama besar yang mendatangi beliau adalah: Ayatullah al-Udzma Mar’asyi Najafi, Allamah M Husein at-Thabathaba’i (pemilik tafsir Mizan), Allamah Muhammad Taqi Jakfari (filsuf muslim ternama) dan para dosen dari berbagai universitas.

Sepanjang hidupnya Mujtahidah Amin selalu berusaha untuk mencari sesuatu yang hilang dari dirinya, suatu ketika beliau pernah berkata: “Tiada kesengsaraan yang lebih dalam, sedalam jauhnya seseorang dari kekasih sejatinya (Allah swt)”. Mujtahidah Amin dari usia empat puluh sampai akhir hayatnya menghabiskan waktunya untuk menulis kitab, mengajar, menjawab berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan masalah-masalah keagamaan dan membimbing kaum perempuan. Pada tahun 1344 HS dengan dana sendiri beliau mendirikan pusat pendidikan bagi perempuan dengan nama “Maktab-e Fathimeh as” dan Sekolah Menengah Atas (SMA) khusus perempuan. Beliau pun aktif mengajar ilmu-ilmu agama dan tafsir, juga menjawab berbagai pertanyaan di sebuah lembaga yang bernama “Pusat Dakwah dan Pendidikan Agama” di kota Isfahan. Yang jelas beliau sampai akhir hayatnya selalu berusaha untuk membimbing dan meningkatkan perkembangan intelektual dan spiritual kaum perempuan. Akhirnya, setelah perjuangan dan pelayanan yang beliau haturkan kepada Islam -terkhusus bagi kaum perempuan- pada tanggal 23 Khurdad 1362 HS, dalam usia 97 beliau meninggalkan dunia fana menuju Kekasih abadinya (wafat).

Derajat Keilmuan

1. Beliau telah mencapai derajat ijtihad pada umur empat puluh tahun, dan juga mendapatkan ijazah untuk berijtihad berkaitan dengan hukum syariat dari beberapa ulama besar seperti: Ayatullah al-Udzma Abdul Karim Hairi, Ayatullah al-Udzma Muhammad Kadzim Syirazi dan Ayatullah al-Udzma Sayyid Ibrahim Husaini Syirazi Ishthahbanati.

2 . Beliau mendapatkan ijazah untuk meriwayatkan hadis dari beberapa ulama besar seperti:Ayatullah Syeikh Muhammad Ridzo Najafi Isfahani, Hujjatul Islam wa al-Muslimin Madzahiri Najafi Isfahani, Ayatullah al-Udzma Mar’asyi Najafi dan Hujjatul Islam wa al-Muslimin Zuhair al-Hasuun.

3 . Beliau selain pakar dalam bidang fiqih, lebih dari itu beliau juga menguasai bidang filsafat, irfan (mistik) dan tafsir.

Karya-karya Ilmiah

1. Arba’in Hasyimiyah

Ini adalah merupakan karya pertama beliau, yang berisi empat puluh hadis tentang tauhid, sifat-sifat Allah swt, akhlak dan hukum syari’at, sekaligus mengandung keterangan filsafat, irfan, ushul fiqih dan fiqih. Buku ini dijadikan standar para ulama Najaf (Irak) dan sebagian para marja’(mufti besar) untuk menguji beliau sampai akhirnya beliau dapat mencapai derajat “ijtihad”.

2. Jaami’u asy-Syatat

Kitab ini mencakup berbagai pertanyaan yang telah dilontarkan para guru besar seperti: Ayatullah Muhammad Ali Qadzi Thabathaba’i, Syeikh Muhammad Thaha al-Hindawi an-Najafi Zadeh, Sayyid Hasan al-Husaini kepada beliau, dan jawaban- jawabannya yang beliau sampaikan secara tertulis.

3. Ma’ad yo Okharin Sairi Basyar

Dalam kitab ini, dijelaskan bahwa manusia dalam perjalanan menuju kesempurnaannya selain harus melewati alam dunia ini, ia pun harus melewati semua alam lainnya. Sehingga ia sampai kepada yang setelahnya tidak ada alam lagi, yaitu kiamat atau ma’ad. Dalam kitab ini terdapat sembilan makalah, tersusun sebagai berikut:

1- Sair az Alam-e Ula be Alam-e Sufla wa az Sufla be Ula (perjalanan dari alam transenden menuju alam tingkat bawah, dan sebaliknya).

2- Har Dani Qaim be ma Fauq (setiap tingkatan yang berada dibawah bertumpu pada tingkatan yang di atasnya).

3- Insan Majmue-ye Alam-e Wujud (manusia mengandung semua alam wujud).

4- Insan dar Alam-e Barzakh (manusia pada alam barzakh).

5- Insan dar Nasy’at-e Qiamat (manusia pada kebangkitan kiamat).

6- Shirath (‘jembatan’).

7- Mizan (‘timbangan’ amal).

8- Hisab (‘perhitungan’ amal).

9- Behesyt (surga).

10- Jahanam (neraka).

4. An-Nafahaatu ar-Rahmaniyah fii al-Waaridaati al-Qalbiyah

Kitab ini berisi tentang wirid-wirid dan semua kenangan beliau dalam mendapatkan Faidh (pancaran) Ilahi ketika Sair S uluk (perjalanan menuju Allah).

5. Akhlak (terjemah kitab Ibnu Maskawaih)

Kitab ini disadur dari kitab Thaharatu al-A’raq karya Ibnu Maskawaih, dengan diterjemahkan dan ditambahi penjelasan oleh Mujtahidah Amin. Kitab ini memiliki sisi ilmu, amal dan akhlak. Dan juga mengandung argumen dan poin-poin penting filsafat.

6. Tafsir Makhzan al-Irfan

Tafsir ini dicetak menjadi
lima belas jilid, setiap jilid kurang lebih memiliki 400 halaman. Tafsir ini mengandung pembahasan irfan (mistik), pesan-pesan akhlak dan pembahasan menarik lainnya tentang al-Qur’an. Penulis kitab ini, setelah menulis mukaddimah beliau menjelaskan tentang keutamaan al-Qur’an, dan mengingatkan tentang faidah tafsir dan ilmu-ilmu al-Qur’an. Ketika beliau menulis tafsir ini, karena beliau merasa takut ajalnya tiba sebelum tuntas menyelesaikannya, setelah menyelesaikan dua juz pertama dari al-Qur’an, beliau langsung loncat dengan menulis juz ke-30. Namun akhirnya beliau meneruskannya, sampai akhirnya beliau dapat menyelesaikan semuanya pada saat-saat mendekati akhir hayatnya. Sewaktu menulis tafsir ini, beliau selalu berdoa supaya dipanjangkan umurnya sehingga dapat menyelesaikan penulisan tafsir tersebut sebelum tiba ajalnya. Karya tafsir ini kemudian membawa beliau menjadi satu-satunya mufassir perempuan dalam dunia Islam.

7. Rawesy-e Khusybakhti wa Taushiyeh be Khoharan-e Imoni

Dalam kitab ini beliau berusaha untuk menjelaskan arti kebahagiaan dan cara untuk menggapainya dengan bahasa yang mudah. Serta disampaikan juga didalamnya pesan-pesan khusus untuk saudari-saudari seiman nya.

8. Makhzanu al-La’ali fii Manaqib Maula al-Mawali (Ali as)

Kitab ini membahas tentang keutamaan imam Ali as yang tersusun dari mukadimah,
lima bab pembahasan dan diakhiri dengan penutup.

9. Sair wa Suluk dar Rawesy-e Auliya wa Thariq-e Sair Su’ada

Kitab ini membahas tentang pembahasan irfan (mistik), seperti: Kasyf (‘penyingkapan’), Syuhud (‘penyaksian’), fana’ (‘penyatuan’), baqa’ (‘kekekalan’) dan Sair ilallah (‘meniti jalan’ menuju Allah).

Beberapa Cuplikan Wawancara dengan Maktab-e Islam

Soal : Apakah kebanyakan ilmu anda didapatkan melalui belajar, atau didapatkan dari ilham? Silahkan jelaskan tentang ilmu dan cahaya (nur) ilmu!

Jawab : Saya tidak memahami sesuatu yang terdapat pada ilmu dan “maknawiyah” (spiritual) melalui suatu bentuk tekstual, tapi kebanyakan melalui ilham. Jarang sekali isi tulisan saya mengambil bantuan dari luar. Tapi, bukan berarti bahwa saya mengetahui hal-hal yang ghaib atau mengetahui keadaan dan isi batin orang lain. Namun yang jelas, kebanyakan “maknawiyah” dan “makrifah” saya bukan didapatkan dari belajar kepada seorang guru. Dan kebanyakan tulisan saya dihasilkan melalui bimbingan dan pertolongan Allah swt. Adapun ilmu, sebagaimana yang telah disabdakan Rasul saww, dibagi menjadi tiga bagian:

1. “Ayatun Muhkamatun” (tanda-tanda yang kokoh), para ulama mengartikannya sebagai “ilmu mengenal Allah swt”.

2. “Faridzatun A’dilatun” (keharusan yang baik), yang diartikan sebagai ilmu akhlak.

3. “Sunnatun Qa’imatun” (kebiasaan baik yang tegak), yang diartikan sebagai ilmu hukum agama (fiqih). Dan yang dimaksud dengan “cahaya (nur) ilmu”adalah “nur makrifat”(cahaya mengenal) Allah swt, mengenal akhlak baik dan buruk dan mengenal hukum agama (fiqih) itu sendiri.

Soal : Bagaimana cara untuk mendapatkan “nur ilmu” tersebut?

Jawab : Pertama ia harus belajar, karena belajar merupakan mukadimah untuk mendapatkan “nur makrifat”. Ia harus belajar ilmu akhlak dan mengamalkannya. Ia harus mensucikan diri, berperang melawan hawa nafsu dan semua keinginan hatinya, serta memerangi semua sifat tercela yang ada pada dirinya, seperti: hasad (dengki), takabur (sombong), tamak (rakus), cinta dunia dan menjauhkan semua sifat tersebut dari dirinya. Ia harus berusaha untuk mencapai keimanan dengan dalil dan argumen, lantas setelah itu ia harus beramal, menjalankan semua perkara yang telah diwajibkan oleh agama dan menjauhi semua yang telah dilarang oleh agama.

Soal : Kitab terbaik apa yang telah dibaca oleh baca tuan?

Jawab : Kitab pelajaran terbaik yang sangat bermanfaat dan dapat digunakan oleh saya adalah kitab “Asfar Arba’ah” (empat perjalanan spiritual) karya Mulla Sadra. Kitab ini sebanyak empat jilid, tapi saya hanya menela’ah dua jilid saja, dimana kandungan kitab tersebut sesuai dengan semangat dan karakter jiwaku. Kitab tersebut memuat berbagai makrifat (‘pengetahuan’), dimana untuk memahaminya diperlukan menyelesaikan pelajaran filsafat terlebih dahulu. Saya juga menyenangi berbagai kitab hadis dan tafsir, terkhusus beberapa tafsir seperti kitab “Majma’ al-Bayan” karya Allamah Thabarsi.

Soal : Apakah dapat dikatakan bahwa laki-laki lebih baik dari perempuan?

Jawab : Sama sekali tidak dapat dikatakan bahwa semua laki-laki lebih baik dari perempuan. Karena kita telah memiliki para perempuan agung seperti Sayyidah Fathimah Zahra as, Sayyidah Maryam as, Sayyidah Khadijah as dan lainnya, dimana mereka lebih tinggi dan agung kedudukannnya dari kebanyakan laki-laki. Adapun kelebihan yang ditetapkan Allah bagi laki-laki dalam sebagian permasalahan, hanyalah menyangkut dari masalah umum ke hal umum yang lain, bukan dari masalah individual ke individual yang lain, adapun kekurangan perempuan yang telah disebutkan al-Qur’an bahwa perempuan memiliki ‘kesenangan’ untuk berpamer diri, sehingga, dengan hal itu menyebabkan mereka sering lalai dalam menyibukan diri berkaitan dengan perkara yang berhubungan dengan kesempurnaan jiwanya, tentu kecenderungan semacam itu dianugerahkan oleh Allah swt kepada perempuan bukan tanpa hikmah, dan hikmah diwajibkannya hijab pun diantaranya karena permasalahan ini. Namun demikian, ini merupakan perkara umum yang biasanya terjadi diantara kaum perempuan dan tidak mencakup semua perempuan. Karena terdapat perempuan yang dapat mengalahkan kecenderungan tersebut dan hanya menggunakannya dalam perkara yang diperbolehkan oleh agama saja. Sebagaimana kita pun dapat menemukan seorang perempuan yang dapat melerai pertikaian dan dapat menghukumi sesuatu.

Soal : Apakah sifat “pamer diri” yang terdapat pada perempuan harus dimusnahkan?

Jawab : Sifat tersebut, akan menjadi baik jika digunakan dalam perkara yang dihalalkan agama. Tetapi berkaitan dengan permasalahan yang lain, perempuan harus terus berusaha untuk memerangi sifat dan kecenderungan tersebut. Karena, jika tetap hanyut dalam sifat “pamer diri”, maka akan mengakibatkan penyimpangan. Hal itu disebabkan karena sifat “pamer diri” merupakan salah satu bentuk syahwat. Adapun hikmahnya, Tuhan telah menetapkan sifat “pamer diri” pada diri perempuan, supaya lelaki tertarik kepadanya dan menikahinya, yang pada akhirnya akan menghasilkan generasi dan keturunan yang baik. Dari sisi lain, perempuan berada dibawah tanggungan laki-laki.

Soal : Pada masa kini, menurut anda, jihad apa yang terbaik bagi kaum perempuan?

Jawab : Yang terpenting bagi perempuan pada masa sekarang ini adalah untuk selalu berusaha memerangi keinginan hawa nafsunya, dan berusaha untuk memerangi rasa ingin selalu tampil dengan berbagai model, cara berpakain dan berbagai bentuk perhiasan. Walaupun hal tersebut sangat sukar untuk dilakukan, tetapi ini akan memberikan hasil berupa kesempurnaan “maknawiyah” dengan cepat. Oleh karenanya, jihad terbaik bagi perempuan adalah menjaga “hijab” (pakaiannya yang sesuai dengan yang telah diajarkan dan diperintahkan agama .red).

Soal : Silahkan sampaikan, jika anda memiliki pesan tentang syarat kebahagiaan bagi kaum perempuan!

Jawab : Sebagaimana yang telah saya tulis dalam buku “Rawesy-e Khusybakhti” (Cara Hidup Bahagia), bahwa kebahagiaan tergantung pada dua sisi sekaligus; “jasmani” dan “ruhani”, oleh karenanya diharuskan menjaga kedua sisi tersebut. Berkenaan tentang sisi ruhani, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam buku tersebut, bahwa perempuan harus selalu berusaha untuk menggapai sifat-sifat yang baik dan sisi insaniyah (kemanusiaan) pada dirinya. Salah satu sifat luhur yang paling menonjol pada diri perempuan adalah ‘iffah (menjaga harga diri), dari situ akhirnya para ulama akhlak mengatakan: “Pokok dasar kemuliaan wanita adalah al-‘iffah, sementara pokok dasar kemuliaan laki-laki adalah berani (syaja’ah)”.

Oleh karenanya, perempuan harus selalu berusaha untuk menjaga diri dari pandangan lelaki-lelaki yang hina dan ‘mata keranjang’. Karena kemuliaan perempuan dihadapan semua makhluk yang berakal sehat adalah dilihat dari sisi ke-’iffah-annya. Saya tidak menentang perempuan untuk belajar, tapi usahakan dilakukan dengan menjaga harga diri dan kemuliaan Islam. Merobek dan melecehkan hijab (jilbab atau pakaian yang telah diperintahkan agama .red), sama halnya dengan merobek dan melecehkan al-Qur’an. Karena al-Qur’an telah memberikan hukum khusus tentang hijab. Setiap orang yang menentangnya, sama halnya dengan telah menantang dan melecehkan hukum Allah swt yang disampaikan melalui lisan suci Nabi saww. Konsekuensi sebagai orang yang mengaku muslim ialah meyakini dan mengamalkan perintah al-Qur’an, karena dengan hal ini kebahagiaan sejati sebagai seorang muslim akan terwujud. Berkenaan tentang kebahagiaan , Phytagoras pernah berkata: “Sedikit sekali orang yang mengenal jalan kebahagiaan. Kebanyakan mereka hanyalah menjadi bahan bulan-bulanan hasrat dan permainan hawa nafsunya, akhirnya ditelan ombak penentangan dan terus berputar-putar ditengah laut yang tak bertepi, bagaikan orang-orang buta dihadapan badai dan topan”.

Perkara lain yang harus saya ingatkan, terkhusus bagi kaum perempuan, berperang melawan sifat-sifat tercela seperti tipu daya (makar) dan iri dengki (hasud). Karena kedua sifat ini lebih banyak dan lebih dominan pada perempuan. Usahakan untuk menjauhkan diri kita dari sifat-sifat tercela dan hina tersebut. Terakhir, harus saya katakan, wahai para perempuan! Tiada kebahagiaan yang melebihi dari ketenangan jiwa. Dan ketahuilah!?, kebahagiaan sejati terjelma pada segala bentuk keutamaan dan kemuliaan. Kapan kita bisa mendapatkan keutamaan dan ketenangan jiwa? Tentu, kebahagiaan itu akan dapat dicapai oleh manusia dalam lautan tak bertepi di kehidupan dunia ini hanya dengan berpegang teguh pada “tali tauhid”. Hal itu sebagaimana yang telah disebutkan dalam al-Qur’an: “Maka, barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Allah penolong orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang yang kafir, penolong-penolong mereka adalah Thaghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya ”.

Kebahagiaan sejati akan dihasilkan melalui keimanan, tauhid dan ketakwaan. Jika kalian semua menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat, maka kalian harus mengikuti al-Qur’an. Langkah demi langkah yang kalian titi akan menghantarkan kalian kepada-Nya. Disaat itulah kalian akan merasakan kebahagiaan sejati.[ED]

Inilah sekilas tentang kehidupan Sayyidah Amin yang lebih dikenal dengan “Bonuye Ishfahani”, seorang wanita mujtahidah, pakar hadis, tafsir dan ilmu mistik (irfan) yang dapat menjadi teladan bagi kita semua. Semoga Allah merahmati kepergiannya meninggalkan dunia fana ini untuk berjumpa dengan para kekasih sejatinya, Allah swt, Rasul saww dan para manusia suci as junjungannya. Untuk mengenang keluhuran ruh dan jasa mulia beliau, kita persembahkan baginya surat Fatihah yang didahului shalawat.

Semoga Allah mengabulkan, amin.[Islamalternatif]

Penulis: S2 Jurusan Tafsir di Jamiah Bintul Huda Qom, Republik Islam Iran

14jembatan_isf_s.jpg


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: