Oleh: islam feminis | April 14, 2007

Wanita, Tradisi dan Konsep Keadilan Gender (3)

Jauh-dekatnya seseorang dari Allah berarti kuat-lemahnya realisasi sifat Tuhan pada diri manusia. yang menjadi pertanyaan ialah siapakah yang dapat mencapai kesempurnaan dan dapat sampai ke maqam qurb ? Ayat di atas dengan jelas telah mensinyalir bahwa manusialah yang dapat sampai ke maqam tersebut. Dari sisi lain, manusia terdiri dari lelaki dan perempuan, maka tidak ada bedanya baik lelaki maupun perempuan. Keduanya mempunyai potensi untuk mencapai derajat kedekatan Ilahi ( maqam qurb).

 

———————————————————-

Wanita, Tradisi, dan Konsep Keadilan Gender (3)

Oleh: Euis Daryati

2. Perempuan dan Konsep Kesempurnaan

Apakah tujuan penciptaan? Apakah relasi antara tujuan penciptaan dan kesempurnaan? Untuk menjawab pertanyaan di atas, terlebih dahulu harus diperhatikan beberapa premis di bawah ini:

 

1. Seorang yang bijaksana dan berakal tidak akan mungkin melakukan suatu pekerjaan tanpa tujuan. Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Bijaksana dan Berakal,[12] maka Dia tidak akan menciptakan sesuatu tanpa tujuan.

 

2. Dari sisi lain, Dzat Allah SWT adalah Dzat Yang Mahasempurna, yang kesempurnaan-Nya bersifat Absolut dan tak terbatas. Sebagai sebuah kesempurnaa, penciptaan Allah niscaya bertujuan, yakni penciptaan yang berkebijakasanaan. Jelas, bahwa tujuan dan manfaat penciptaan -terkhusus penciptaan manusia- tidak kembali kepada Tuhan sebagai subjek penciptaan melainkan kepada obyek, yaitu makhluk. Berbeda dengan makhluk yang serba terbatas, semua prilaku dan usahanya untuk menutupi kekurangan yang ada pada dirinya. Kita bisa contohkan, tujuan orang belajar adalah untuk menghilangkan kekurangan yang ada pada dirinya yaitu untuk menghilangkan kebodohan. dengan kata lain, tujuan kembali ke-predikat, sedang Allah karena Maha Mengetahui tidak perlu mencari ilmu apalagi melalui proses belajar karena Allah bukan obyek proses.

 

Berdasarkan dua premis di atas ini, lalu apakah tujuan di balik penciptaan? Tujuan penciptaan ialah untuk menggapai kesempurnaan. Artinya, semua makhluk diciptakan oleh Allah agar mereka dapat mencapai kesempurnaannya yang khas. Untuk mencapai kepada tujuan tersebut, Allah memberikan sarana berupa hidayah takwini (petunjuk alami) yang ada pada semua makhluk, dan hidayah tasri’i (petunjuk nonalami) yang khusus diberikan untuk manusia. “Tuhan kami ialah (Tuhan ) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu penciptaannya, kemudian memberinya petunjuk”.(Thaha:50). Hidayah takwini pada manusia ialah berupa akal dan fitrah, sedangkan hidayah tasri’i ialah berupa pengutusan para rasul.

 

Apa itu kesempurnaan? Kesempurnaan ialah “terealisasinya segala potensi yang ada pada setiap makhluk”, dengan kata yang lebih sederhana kesempurnaan adalah sampainya substansi setiap makhluk pada batas akhir yang harus ditempuh. Dengan mengetahui potensi-potensi yang ada pada setiap mahluk, kita akan mengetahui kesempurnaannya. Dan kita ketahui pula bahwa potensi yang ada pada setiap makhluk tidaklah sama. Potensi yang ada pada makhluk hidup akan berbeda dengan potensi yang ada pada benda mati. begitu pula potensi yang ada pada tumbuhan akan berbeda dengan potensi yang ada pada hewan. Batu mempunyai potensi menjadi padat dan keras, maka kesempurnaan batu terletak pada kekerasannya dan kepadatannya, pohon mempunyai potensi untuk berbuah dan berkembang dengan baik, maka disaat ia berbuah dan berkembang dengan baik itulah kesempurnaannya.

 

Jelas untuk terrealisasinya kesempurnaan ada hal-hal yang harus terpenuhi. Hal itu bisa diringkas pada satu kalimat, yaitu “terpenuhinya semua syarat dan tidak adanya semua kendala”. Pohon akan berkembang baik kalau semua syaratnya terkumpul lengkap seperti: sinar matahari, jenis tanah yang subur, pupuk,…dll, juga tidak ada kendala seperti tidak adanya hama…dll. Tentu, potensi yang terdapat dalam manusia berbeda dengan potensi yang ada pada benda mati, tumbuhan, dan hewan. Disamping itu manusia memiliki nilai plus dan kelebihan jika dibanding dengan makhluk yang lain. manusia merupakan makhluk hidup yang rasional dan ruhnya dinisbatkan kepada Tuhan.[13] maka di saat itu, kesempurnaan yang akan diraihnya lebih unggul dari yang lainnya. Kesempurnaan yang dapat diraih oleh manusia ialah sampainya ke-maqom qurb, yakni tercapainya derajat yang “dekat” dengan Sumber Kesempurnaan; “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah” (Al-Dzariyat:56).

 

Tujuan dari ibadah ialah untuk mendekatkan (qurb) diri kepada Allah sebagai sumber segala kesempunaan. Dengan kata lain, untuk mencapai derajat kedekatan Ilahi )maqam qurb( hanya bisa dicapai melalui ibadah. Salah satu arti qurb ialah “menyerupakan diri” dengan Allah dalam sifat-sifat kesempurnaan. Dialah sumber kesempurnaan mutlak (absolut), semakin dekat kita dengan-Nya semakin banyak pula sifat kesempurnaan Allah yang terjelma dalam diri kita. Yakni, jauh-dekatnya seseorang dari Allah berarti kuat-lemahnya realisasi sifat Tuhan pada diri manusia. yang menjadi pertanyaan ialah siapakah yang dapat mencapai kesempurnaan dan dapat sampai ke maqam qurb ? Ayat di atas dengan jelas telah mensinyalir bahwa manusialah yang dapat sampai ke maqam tersebut. Dari sisi lain, manusia terdiri dari lelaki dan perempuan, maka tidak ada bedanya baik lelaki maupun perempuan. Keduanya mempunyai potensi untuk mencapai derajat kedekatan Ilahi ( maqam qurb).

3. Perempuan dan Persamaan nilai

Sebagaimana yang telah kita ulas dalam pembahasan sebelumnya, bahwa perempuan dalam pandangan al-Quran mempunyai potensi untuk mencapai kesempurnaan sebagaimana halnya lelaki, di bawah pancaran ma’rifat dan amal ia akan dapat mencapai mi’raj dan kedudukan paling tinggi yang mungkin didapat oleh manusia. Dalam masalah ini, tidak ada keraguan lagi dan sebagaimana yang Al-Quran dengan ekplisit telah menyinggungnya. Setiap kali Al-Quran berbicara masalah kesempurnaan dan nilai-nilai tinggi yang akan dicapai oleh manusia, ia akan menyebutkan perempuan bersamaan dengan lelaki: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu, laki-laki dan permpuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut namaAllah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.(Al-Ahzab:35)

 

Dalam ayat tersebut membuktikan betapa Islam tidak membedakan lelaki dan perempuan dari sisi nilai dan kesempurnaan, baik lelaki maupun perempuan –berdasarkan premis di atas- dapat mencapai kesempurnaan dan kenaikan derajat.“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman):Sesungguhnya Aku tidak menia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantara kamu baik laki-laki maupun perempuan, sebagian kamu ialah sebagian yang lain…”.(Al-Imran:195) Dalam ayat lain Allah berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk kedalam sorga dan mereka tidak dianiya walau sedikitpun”. (Al-Nisaa’:124).

 

Demikianlah ayat menjelaskan bahwa Tuhan akan memberikan balasan berdasarkan kerja kerasnya, dan jikalau balasan tersebut dibedakan atas dasar jenis kelamin (gender), berarti Tuhan telah berlaku zalim, sementara kita tahu Tuhan tidak akan melakukan kezaliman[14]. “Barang siapa yang melakukan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kamiberikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.(Al-Nahal:97). Ayat terakhir ini mengisyaratkan pada persamaan dalam mendapatkan pengaruh dan akibat amal saleh, baik didunia maupun akhirat.

 

4. Perempuan dan keteladanan

Manusia dimana pun dan kapan pun berada senantiasa akan mencari sosok yang akan dijadikan figur dan teladan dalam kehidupannya. Dapat kita lihat hal ini dalam perkembangan kehidupan manusia mulai dari masa kanak-kanak sampai masa dewasa, bahkan sampai masa tuapun tetap memerlukan figur. Ketika masa kanak-kanak, karena pergaulannya masih terbatas dalam lingkup keluarga, maka seseorang yang dijadikan figur dan teladan baginya tak lepas dari keluarganya seperti ayah dan ibunya. Namun lain halnya ketika beranjak remaja, dimana pergaulannya lebih meluas begitupula pengetahuannya, ia akan berusaha mencari sosok figur yang lain, begitupula ketika menginjak dewasa dan seterusnya. Ini semua menunjukkan bahwa pencarian figur dan teladan merupakan fitrah manusia (ciri alamiah manusia) yang kembalinya ke fitrah cinta kesempurnaan, dimana fitrah cinta kesempurnaan manusia akan senantiasa berusaha meminimalisasi kekurangan–kekurangan yang ada pada dirinya.

 

Karena ia merasa ada orang yang lebih baik dan utama darinya, maka ia jadikan orang tersebut sebagai figur dan teladan baginya dengan tujuan untuk ditiru dan dicontoh. Ini semua menunjukan betapa pentingnya peranan seorang figur dalam membentuk pribadi seseorang, karena seseorang akan berusaha berprilaku seperti orang yang ia teladani. Berkenaan dengan hal ini, supaya manusia tidak salah dalam memilih seorang figur, Al-Quran memberi petunjuk kepada kita bahwa figur dan teladan kita adalah Rasul: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kamu…(Al-Ahzab:21)

 

Berdasarkan ayat di atas, Rasulullah SAWW ialah manusia sempurna, figur dan tauladan bagi masyarakat, dimana anggota masyarakat terdiri dari laki-laki dan perempuan. Maka, Rasulullah merupakan tauladan bagi laki-laki dan perempuan. Perlu diketahui, bahasa Al-Quran adalah bahasa percakapan, dan dalam bahasa percakapan Arab kata ganti (zamir) ”kum” kadang pula digunakan untuk kata ganti masyarakat, yaitu laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, jangan sampai kita mengambil kesimpulan bahwa ayat di atas khusus untuk kaum lelaki saja.

 

Menurut pandangan Al-Quran, manusia sempurna seperti Rasul SAWW dan para Imam as merupakan tauladan dan figur bagi manusia yang lainnya. Oleh karena itu, jika manusia sempurna tersebut ialah seorang lelaki, maka ia bukan saja teladan dan figur bagi laki-laki bahkan ia juga tauladan bagi semua manusia yang patut diikuti. Begitupula jika manusia sempurna tersebut ialah seorang perempuan, maka ia bukan hanya teladan bagi perempuan saja, bahkan lebih dari itu ia juga tauladan dan figur bagi seluruh manusia –lelaki maupun perempuan- yang harus diikuti. Hal ini dengan jelas disebutkan dalam Al-Quran, dimana dua orang merupakan wanita teladan baik, yaitu Maryam as dan Asiyah (istri fir’aun), sedang dua wanita lagi yang merupakan contoh wanita buruk, yaitu istri nabi Nuh dan istri nabi Luth. Jadi perempuan -baik ataupun buruk- bukan teladan/contoh bagi perempuan saja, akan tetapi merupakan perempuan teladan/contoh bagi segenap masyarakat, sebagaimana yang dapat disinyalir dalam ayat sebagai berikut: “Dan Allah membuat istri Fira’un perumpamaan bagi orang –orang beriman…(Al-Tahrim:11)

 

Dalam ayat di atas, Al-Quran dengan jelas tidak mengatakan bahwa istri Fir’aun merupakan contoh bagi kaum wanita, akan tetapi Al-Quran mengatakan bahwa perempuan baik merupakan contoh dan tauladan bagi orang-orang beriman, baik laki-laki maupun perempuam. Di sini, bukan hanya perempuan yang harus mengambil pelajaran darinya, tetapi segenap masyarakat Islampun demikian.

 

Begitupula Maryam as adalah salah satu wanita yang mencapai derajat kesempurnaan. Ia bukan saja teladan bagi kaum wanita, tapi juga tauladan ketaqwaan dan kemuliaan bagi kaum lelaki dan perempuan. Begitu tinggi derajatnya di sisi Tuhan, sampai-sampai diturunkan kepadanya hidangan dari surga yang membuat takjub Nabi Zakaria as dan membuat beliau terilhami untuk memohon kepada Tuhan agar dikaruniai seorang anak. Dan karena kecintaannya kepada Maryam as, kemudian Tuhan menamai
surat yang berhubungan dengannya dengan nama wanita agung itu;“Dan (ingatlah) ketika malaikat Jibril berkata:”Hai Maryam sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita didunia (pada masa itu) (Al-Imran :42).

 

Begitu pula Fatimah zahra as, putri tunggal Rasul SAWW, adalah manusia sempurna yang merupakan tauladan bagi seluruh manusia. Berdasarkan riwayat, Fatimah bukan hanya penghulu wanita dimasanya, tapi juga penghulu wanita seluruh alam dan seluruh masa, sebagaimana Rasul bersabda:” Adapun anakku Fatimah dia ialahpenghulu wanita seluruh alam dari awal penciptaan sampai hari akhir”.

Dari sini dapat dikatakan bahwa perempuan dengan sendirinya mampu menjadi tauladan bagi yang lainnya, tanpa perlu digandengkan di samping lelaki, misalkan istri yang baik dari seorang suami sebagaimana halnya laki-laki. Kita tidak memungkiri bahwa hal tersebut –yaitu istri yang baik berkat peran suami- merupakan hal yang baik dan bisa diterima, akan tetapi maksud kami di sini hanya ingin mengatakan bahwa secara independen wanita pun dapat menjadi seorang tauladan dan figur bagi masyarakat.

Dan persamaan-persamaan yang lain yang tidak mungkin kita ulas secara detail dalam artikel ringkas ini, seperti persamaan dalam mencapai maqam khalifatullah sebagaimana yang disinggung dalam surat al-Baqarah ayat:30, karena yang bisa mencapai maqam tersebut ialah manusia sempurna dan manusia sempurna terdiri dari laki-laki dan perempuan, atau persamaan dalam mendapatkan taklif (kewajiban) seperti: shalat, puasa, zakat…, atau persamaan untuk berperan serta dalam bidang sosial, politik dan ekonomi, dan lain sebagainya.

Bersambung…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: