Oleh: islam feminis | April 13, 2007

Cinta Sejati (2)

Disebutkan dalam al-Qur’an, Asiyah telah memohon kepada Allah swt untuk dibangunkan rumah di surga. Kemudian Allah mengabulkan permohonannya tersebut. Namun kecintaan Asiyah kepada Allah menyebabkan ia disiksa oleh suaminya, Fir’aun. Kecintaan pada Kekasih sejatinya (Allah swt) menjadikan semua siksaan baginya tiadalah artinya. Fir’aun telah memerintahkan untuk memaku badan Asiyah pecinta Sang Kekasih sejati. Tidak cukup sampai di situ, matanya pun telah dipaku. Namun ia tetap tersenyum dan ceria dengan kondisi seperti ini.

(Sumber: Dastanho-ye Mauzui, Kazim Said Pur, hal 58)


Responses

  1. Asyiah, Maryam, Fatimah mendapat sebutan sebagai penghulu para wanita di dunia. Kalo ada profil lengkap tentang mereka bisa minta tolong diposting. Jazakillah

    ——————————-
    Muslimah:

    Terima kasih atas kunjungan dan perhatiannnya. Memang salah satu tujuan blog ini ialah untuk memperkenalkan para tokoh perempuan, baik yang disebutkan dalam al-Qur’an dan hadis maupun yang tercatat dalam sejarah dunia Islam. Tentunnya secara bertahap. Tunggu saja kehadirannya…

  2. Assalamu ‘alaikum
    saya tunggu loh, artikel profil dan jejak langkah tokoh perempuan dalam islam. Pingin meneladani perjuangan, semangat, dan kesabarannya.

    Ukhti tanya ya, Sebenarnya konsep dakwah yg proporsional bagi wanita itu bagaimana c menurut prespektif ukhti?
    (apa via japri *jalur pribadi* saja ya hrsnya pertanyaannya?🙂 )

    Blog yg bagus🙂

    —————————————-
    Muslimah:

    Waalaikum salam…
    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas kunjungannya. InsyaAllah dengan doa ukhti, saya akan berusaha untuk memperkenalkan lebih banyak lagi para tokoh perempuan Islam yang dapat kita jadikan tauladan dalam kehidupan kita.

    Berkenaan dengan dakwah maka ada beberapa hal yang perlu diketahui juru dakwah:

    Pertama, hal-hal yang berhubungan langsung dengan juru dakwah;
    1.Dilakukan dengan ikhlas sehingga dapat berpengaruh pada hati, sebagaimana seorang bijak berkata: “Ungkapan yang keluar dari hati akan mengena di hati. Dan ungkapan yang keluar hanya dari lisan tidak akan lebih dari rongga telinga”.
    2.Memiliki keilmuan yang diperlukan untuk berdakwah.
    3.Mengetahui metode penyampaian yang baik dan benar sesuai dengan sikon audiens. Misal: -cara penyampaian untuk kalangan ibu rumah tangga dan mahasisiwi harus dibedakan, dengan menggunakan bahasa dan pembahasan yang sesederhana mungkin

    4.Sikap yang mencerminkan sesuai dengan apa yang disampaikan. Misal: ramah, membaur serta tidak menjaga jarak dengan para audiens…
    5.Sabar dan lapang dada terhadap reaksi yang akan di hadapi, karena tugas kita hanyalah menyampaikan, adapun hasil kita serahkan kepada Allah swt.

    Kedua, hal-hal yang semestinya diketahui oleh juru dakwah berhubungan dengan audiens:
    1.Mengetahui kondisi audiens, apakah ada potensi untuk didakwahi ataukah tidak? Misal: tidak mendakwahi orang yang lagi sumpek, semrawut, tunggu sampai kondisinya benar-benar mendukung.
    2.Mengetahui background keilmuan (pendidikan), lingkungan dan status sosial audiens, misal: apakah kejahilan terhadap agama karena memang ia tidak tahu tapi ada keinginan untuk tahu, atau memang tidak mau tahu dan bersifat acuh atau karena oknum tertentu yang membuatnya menjauhkan diri dari agama.
    3.Mengetahui kebutuhan audiens dengan mendahulukan yang primer dari pada skunder. Misal: kita lihat apakah yang lebih diperlukan sekarang ini untuk para ibu rumah tangga, atau anak muda yang sesuai dengan tuntutan umurnya? Missal yang lebih diperlukan untuk kalangan anak remaja ialah pengenalan tentang pentingnya agama dalam kehidupan manusia, Falsafah hokum-hukum, menjawab pertanyaan mereka yang berkenaan dengan masalah ketuhanan, kenabian dsb…
    4.Melakukan pendekatan psikologis dan emosional. Kadang-kadang dakwah biar memberi hasil yang diharapkan, maka perlu diadakannya pendekatan dan hubungan kejiwaan dengan audiens. Jika perlu terus mengadakan kontak, jadi kalau ada masalah kita dapat membantunya sambil mendakwahinya…
    5.Dilakukan secara bertahap, sebagaimana yang telah dilakukan Rasul saww. Misal: ingin menyampaikan masalah jilbab dan busana muslimah, maka pertama kali kita lakukan secara dialog, dan jelaskan tentang tujuan dan falsafahnya dalam Islam, hakikat insaniyah manusia menurut Islam dll, yang berhubungan dengan pondasi dan landasan jilbab. Baru setelah itu memasuki hokum jilbab dalam Islam, bahwa wajib hukumnya bagi perempuan yang sudah bailgh untuk mengenakannya. Bukan sejak awal penyampaian. Langsung membahas tentang hukumnya padahal landasannya ia sama sekali tidak tahu. Sekian dulu, selamat mencoba semoga sukses…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: