Oleh: islam feminis | April 11, 2007

Menjawab Tafsir Misoginis (2)

Pada zaman jahiliyah, jika masyarakat tidak membunuh anak perempuan niscaya mereka akan mendidiknya dengan berbagai corak dandanan dan perhiasan. Cara mendidik semacam ini menyebabkan kemampuan berpikir, yang didapat melalui akal teoritis anak-anak perempuan tersebut tidak dapat berkembang. Allah swt dalam ayat di atas telah mencela metode pendidikan seperti itu. Berargumen dengan ayat di atas untuk merendahkan martabat wanita sangatlah tidak tepat, karena hukum semacam itu tidak dapat digeneralisasikan.

——————————————————–

Menjawab Tafsir Misoginis (2)

Oleh: Euis Daryati

Selanjutnya, bagaimanakah dengan hadis yang menyatakan bahwa akal perempuan adalah kurang? Apakah perempuan diciptakan dalam keadaan kapasitas akal yang kurang? Jika benar demikian, apakah Tuhan adil? Jika jawabnya tidak, lantas apakah maksud dari hadis tersebut? Untuk menjawab hal ini, terlebih dahulu kita harus mengetahui tentang istilah akal dalam persepsi konteks agama. Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan akal dalam hadis-hadis tadi? Apakah dengan makna akal itu dapat ditarik kesimpulan bahwa kapasitas akal perempuan lemah? Untuk mengetahui maksud hadis imam Ali as di atas, marilah kita menelaah beberapa hadis yang berkenaan dengan akal.

Esensi Akal

Untuk mengetahui esensi akal manusia perlu dianalisa apa yang dimaksud akal dalam prespektif Rasul dan ma’sumin as sebagai pelengkap dalam memahami makna dari teks-teks yang telah disebutkan di atas. Hadis-hadis yang berkenaan dengan akal diantaranya;

Rasul saw bersabda:

“ Sesungguhnya semua kebajikan diketahui melalui akal”.[15]

Imam Ali as berkata:

“Akal adalah merupakan modal alami manusia, melalui belajar dan pengalaman akal dapat bertambah”.[16]

“Akal adalah agama dalam (hujjah bathin) bagi manusia sebagaimana syari’at (hujjah zahir) sebagai agama luar bagi manusia”.[17]

“Akal terbagi kepada dua bagian, akal alami (tabi’i) dan akal yang dihasilkan melalui pengalaman (tajrubi) yang mana hasil keduanya adalah menguntungkan manusia”.[18]

“Akal petunjuk kebenaran”.[19]

Dan siapakah orang yang berakal? Imam Ali as dan Imam Ja’far as memberikan ciri-ciri bagi mereka yang berakal. Imam Ali as berkata:

“Orang berakal bukan hanya sekedar dapat membedakan kebaikan dari keburukan, tapi orang berakal adalah orang yang dapat membedakan kebaikan diantara dua keburukan”.[20]

“Orang yang berakal adalah orang yang meletakan sesuatu pada tempatnya”.[21]

Imam Ja’far Shadiq as berkata:

“Orang yang berakal adalah orang yang mengetahui (situasi dan kondisi) zamannya, posisi (diri)-nya dan menjaga lisannya”.[22]

Melihat hadis-hadis di atas, secara umum, yang dimaksud dengan akal adalah parameter bagi manusia untuk membedakan kebaikan dan keburukan. Dalam hal ini tergantung pada perempuan dan laki-laki itu sendiri sebagai pemilik akal. Beberapa kalangan menyebutkan bahwa salah satu bukti kurangnya akal perempuan adalah kesaksian dua perempuan sama dengan kesaksian seorang laki-laki. Benarkah demikian? Bagaimanakah menurut al-Qur’an?

Dalam al-Qur’an disebutkan, salah satu hikmah dari kesaksian dua orang perempuan yang sama dengan seorang laki-laki adalah, jika salah satu dari perempuan itu lupa maka yang lain dapat mengingatkannya. Sebagaimana yang telah disinyalir dalam surat al-Baqarah ayat:282. Itu berarti al-Qur’an melontarkan persoalan lupa yang secara umum lebih cepat dialami oleh perempuan daripada laki-laki. Tidak dapat dipungkiri lupa merupakan salah satu bentuk kekurangan, tapi bukan berarti sebuah kekurangan yang menyebabkan manusia tidak dapat mencapai kesempurnaan sejati (hakiki) seperti yang dikehendaki Tuhan.

Dari sisi lain, akal manusia jika dilihat dari fungsi dan kegunaannya terbagi atas dua: “akal teoritis” (aql nadzari) yang berfungsi sebagai sumber proses berpikir. Dan “akal praktis” (aql amali) yang dengannya manusia dapat menerima setiap konsep sehingga dapat diaplikasikan dalam prilaku. Akal teoritis berhubungan dengan permasalahan pemikiran, pandangan, berargumentasi dan sebagainya. Adapun akal praktis bersangkutan dengan perihal penerimaan, kecenderungan, kerja keras, dan lain-lain.[23] Sebagaimana terdapat di dalam kitab Ushul-Kafi, pembahasan dalam kitab tersebut adalah masalah “akal dan bala tentaranya dan kebodohan (jahl) beserta bala tentaranya”, dan yang dimaksud dengan akal di sini adalah akal praktis.

Pada dasarnya antara kedua jenis akal tersebut terdapat jarak yang jauh, oleh karenanya sering kita lihat manusia berilmu tapi tidak beramal atau beramal tanpa dilandasi ilmu. Menurut pendapat pertama, maksud dari ungkapan “wanita memiliki lemah akal” adalah, lemah dari sisi akal teoritis.[24] Ini berarti, daya berargumen dan berpikir laki-laki lebih kuat dari perempuan. Untuk menguatkan persepsinya mereka berdalih dengan menggunakan ayat al-Qur’an, adz-Dzuhruf ayat 18, ketika memberikan jawaban kepada Arab jahiliyah tentang keyakinan malaikat sebagai anak perempuan Tuhan:

“Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang ia tidak dapat memberi alasan yang kuat dalam berargumen”.

Pada zaman jahiliyah, jika masyarakat tidak membunuh anak perempuan niscaya mereka akan mendidiknya dengan berbagai corak dandanan dan perhiasan. Cara mendidik semacam ini menyebabkan kemampuan berpikir, yang didapat melalui akal teoritis anak-anak perempuan tersebut tidak dapat berkembang. Allah swt dalam ayat di atas telah mencela metode pendidikan seperti itu. Berargumen dengan ayat di atas untuk merendahkan martabat wanita sangatlah tidak tepat, karena hukum semacam itu tidak dapat digeneralisasikan. Hanya perempuan yang dididik dengan metode yang salah tadi saja yang dicela oleh Allah.[25]

Beberapa kalangan berpendapat akal empiris (aql tajrubi) perempuan tidak sekuat kaum lelaki, karena tugas utama wanita adalah melahirkan dan mendidik anak, sehingga kesempatan untuk mendapatkan pengalaman antara laki-laki dan perempuan berbeda. Jadi perbedaan bukan terletak pada sisi alamiah akan tetapi lebih dikarenakan pembagian kerja antara mereka.[26]

Sebagian lagi berpendapat, yang dimaksud dengan akal dalam riwayat di atas bukanlah tertuju pada kemampuan akal itu sendiri, akan tetapi lebih ditekankan pada cara berpikir pemilik akal. Dengan kata lain, letak perbedaan bukan pada esensi akal tetapi pada pengaktifan potensi akal. Perempuan jarang menganalisa suatu peristiwa dengan akalnya, ini semua dikarenakan jiwa emosional lebih mendominasi dirinya. Sementara untuk berpikir yang benar dibutuhkan suasana tenang dan penguasaan terhadap kestabilan emosional. Di sisi lain karena emosional laki-laki lebih rendah dibanding perempuan maka ia lebih cepat dapat menguasai dirinya. Oleh karena itu, jika ada seorang perempuan mampu mengendalikan emosionalnya maka ia pun dapat berpikir dan menganalisa dengan baik. Jelas sekali, jiwa emosi tidak selamanya buruk. Karena ketika Tuhan menganugrahkan jiwa emosional secara ekstra kepada wanita pastilah didasari alasan tertentu, salah satunya peran ibu yang memerlukan emosi yang lebih. Jelas, jiwa emosional harus ditempatkan pada tempatnya.[27]

Berdasarkan jawaban-jawaban dia atas, secara ringkas dapat kita mengambil beberapa kesimpulan.

Pertama, andaikan hadis tersebut tidak bermasalah dari segi sanad (silsilah para perawi), maka maksud dari hadis di atas bukan tertuju pada substansi perempuan yang dinyatakan lemah iman, karena kalau menunjukkan substansinya maka tidak akan ada satupun perempuan yang mencapai kesempurnaan. Sementara realitanya betapa banyak perempuan yang mencapai kesempurnaan bahkan ia lebih tinggi derajatnya dari para lelaki sebagaimana yang dapat kita lihat dari beberapa ayat dan hadis yang telah disebut di atas.

Kedua, hadis di atas tidak berkenaan dengan semua perempuan, tapi situasi dan kondisilah yang menyebabkan Imam Ali as ketika dalam perang Jamal mengatakan hal itu (lihat kembali kitab Nahjul-Balaghah khutbah ke-80). Dengan istilah lain, ungkapan Imam Ali as berkaitan dengan proposisi eksternal (qadziyqh-kharijiyah) yang maksudnya tidak mencakup semua perempuan secara universal.

Tetapi mungkin muncul pertanyaan lain, kalaulah hadis tersebut tidak mencakup semua perempuan dan merupakan proposisi eksternal lantas kenapa dalam riwayat tersebut kata”nisa” (berarti: perempuan) memakai alif-lam sehingga dibaca ‘an-nisa’. Sementara dalam kaidah bahasa Arab penggunaan alif-lam istighraq digunakan untuk menunjukkan umum dan mencakup semua yang sejenisnya, apakah ini tidak terjadi kontradiksi?

Secara ringkas dapat dijawab bahwa, memang maksud riwayat tersebut tidak mencakup semua perempuan dan maksud dari perkataan Imam Ali as ialah perempuan pada peristiwa perang Jamal, akan tetapi beliau ingin mengisyaratkan bahwa jika ada perempuan yang melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh perempuan di perang Jamal itu maka hadis tersebut pun akan mencakup perempuan itu.

Musyawarah dalam Perspektif al-Qur’an

Masalah terakhir yang akan dianalisa adalah berkenaan dengan larangan musyawarah dengan perempuan, apakah maksud sebenarnya dari hadis tersebut? Apakah secara mutlak tidak dapat bermusyawarah dengan perempuan? Tidak diragukan lagi, bahwa dampak positif yang dihasilkan dari musyawarah, diantaranya dapat ditemukannya jalan keluar terbaik, kemampuan manusia semakin berkembang, mengokohkan jalinan kerjasama antara sesama dan sebagainya. Al-Qur’an sebagai kitab pedoman bagi umat Islam menekankan untuk bermusyawarah dalam menyelesaikan sebuah perkara, sebagaimana yang dapat kita simak dalam ayat berikut ini:

“…Sedang urusan mereka (diputuskan) melalui musyawarah…”, [28]

“…Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…”.[29]

Kedua ayat di atas bersangkutan dengan perintah musyawarah secara umum, artinya mencakup musyawarah antara laki-laki dengan perempuan ataupun sebaliknya. Dalam kaidah bahasa Arab, ketika suatu ungkapan yang obyeknya adalah laki-laki dan perempuan, maka ia akan menggunakan kata ganti (dzamir) laki-laki (mudzakar). Namun, dalam beberapa ayat dengan jelas memerintahkan musyawarah dengan perempuan seperti yang dapat kita simak dari ayat berikut ini:

“…Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun), dengan kerelaan keduanya dan permusyawarahan maka tidak apa-apa atas keduanya.[30]

Ayat tersebut sebagai bukti atas anjuran bermusyawarah dengan perempuan dalam urusan keluarga.

Adapun berkenaan dengan politik, kita lihat dalam ayat yang menjelaskan kisah Ratu Balqis ketika bermusyawarah dengan anggota dewan permusyawaratan kerajaan untuk mengambil keputusan dalam rangka menghadapi usulan Nabi Sulaiman as:

“Dia (Balqis) berkata: “Wahai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusan-ku, aku tidak pernah memutuskan sesuatu perkara sebelum kamu berada dalam majlisku”.[31]

Lalu, para dewan permusyawaratan itu mengusulkan untuk mengirim pasukan:

“Mereka menjawab: “Kita adalah orang yang memiliki kekuatan dan juga keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan ada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”.[32]

Setelah mendengar pendapat para anggota dewannya, Ratu Balqis pun memberikan sebuah usulan:

“Balqis berkata; “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikianlah yang akan mereka perbuat. Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan membawa hadiah, dan aku akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu”.[33]

Berdasarkan ayat di atas, Allah menjelaskan bahwa pendapat Ratu Balqislah yang benar dan yang dapat menghantarkan untuk mendapat hidayah, sehingga Ratu Balqis berkata:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah Tuhan semesta alam”.[34]

Sirah Para Nabi dalam Bermusyawarah dengan Perempuan

Di sini kita hanya menukil beberapa kisah dari para nabi saja diantaranya:

Kisah putri Nabi Syuaib as. Ketika salah satu putri Nabi Syuaib as mengusulkan untuk memperkerjakan Nabi Musa as, seperti yang dinukil dalam ayat berikut ini:

“Wahai bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.[35]

Yang patut diperhatikan dari kisah tersebut ialah, putrid Nabi Syuaib as melontarkan pendapat kepada ayahnya disertai dengan argumen yang logis.

Kisah Sarah, istri Nabi Ibrahim juga menjelaskan bagaimana Islam memandang seorang perempuan, sebagaimana yang diriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq as. Sarah mengusulkan agar Nabi Ibrahim as memohon keturunan kepada Allah dan berkata:

“Wahai Ibrahim, usiamu telah lanjut jika engkau memohon kepada Allah rizki berupa anak yang akan menjadi penyejuk mata kita…lantas Ibrahim memohon kepada Allah agar dianugrahi seorang anak lelaki yang pandai, kemudian Allah mewahyukan kepadanya: “Sesungguhnya aku telah menganugrahkan kepadamu seorang anak lelaki yang pandai”.[36]

Kisah Nabi Muhammad saw beserta Ummu Salamah. Saat itu Rasul bersama para pengikutnya hendaknya menziarahi Ka’bah, tapi karena Mekkah masih dikuasai orang-orang kafir dan mereka tidak memberikan izin kepada Rasul beserta pengikutnya untuk berziarah. Akhirnya terbentuklah sebuah perjanjian damai dimana kaum muslimin harus kembali ke Madinah dan tahun depan mereka baru dapat menzaiarahi Ka’bah. Setelah menandatangani surat perjanjian tersebut, kemudian Rasul memerintahkan pengikutnya untuk menyembelih binatang kurban dan mencukur rambut di tempat tersebut, tapi mereka tidak mendengarkan perintah Rasul. Rasul merasa sedih terhadap pembangkangan yang dilakukan oleh sebagain sahabat beliau, lantas beliau menceritakan perkara tersebut kepada Ummu Salamah. Lalu Ummu Salamah mengusulkan kepada beliau untuk memulainya terlebih dahulu sehingga akhirnya pengikut beliau pun dapat mengikutinya. Rasul melaksanakan apa yang disarankan oleh Ummu Salamah, ketika Rasul berkurban dan mencukur rambutnya lalu para pengikutnya melakukan apa yang telah beliau lakukan.[37]

Dari penjelasan di atas maka ungkapan Iman Ali as yang mengatakan “Jauhilah bermusyawarah dengan perempuan, kecuali dengan perempuan yang dikarenakan mempunyai kesempurnaan akal maka ia telah berpengalaman”[38]turut menguatkan argumen di atas. Pelarangan musyawarah tersebut lebih dikarenakan situasi kondisi wanita saat itu dan bukan pelarangan yang bersifat substansial atas wanita sebagaimana yang dapat kita ketahui dari hadis terakhir.[islamalternatif.com]

Wallahua’lam

Penulis: S2 Jurusan Tafsir al-Quran di Universitas Bintul Huda Qom, Republik Islam-Iran

Rujukan: Rujukan selengkapnya ada pada Redaksi www.islamalternatif.com

________________________________________

[1] Kermani, Syarah Bukhari, 1937-1981,
Beirut: Daaru al-Ihyai at-Turaatsu al-Arabi, jilid 18, Bab Nikah,

hal: 75

[2] Ray Syahri, Muhamad, Miza al-Hikmah, 1416,
Qom: Maktabu al-a’laami al-Islamii, jilid 9, hal: 107

[3] Bobawaeh, Muhamad (Syeikh Shaduq), Man Laa Yahdzur Faqih,
Beirut: Daaru al-Adzwaa, jilid 3, hal:

281, bab 11, hadis ke-6, dan Dar at-Ta’aruf lil Matbu’at, Nahjul-Balaghah wa Mu’jam al-Mufahrast

li Alfadzihi, 1990,
Beirut, Khutbah ke-80, hal: 63

[4] Al-Hur al-Amilii, Muhamad bin Husain, Wasa’il as-Syi’ah, 1413 H,
Beirut: Daaru-al-Ihyai at-Turotsu

al-Arabi, jilid 14, hal: 131, hadis ke-25370

[5] Echols, jhon dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, 1986,
Jakarta, Gramedia, hal: 382

[6] Partanto, Pius A. dan al-Barry M Dahlan, Kamus Ilmiah Populer, 1994,
Surabaya: Arkola hal:473

[7] Bobawaeh, Muhamad (Syeikh Shaduq), opcit, jilid 3, hal:281, bab 11, hadis ke-6

[8] Al-Hur al-Amili, Muhamad bin Husain, opcit, Khitbah ke-80, hal:63

[9] Khaz Ali, Kubra dkk, Zan, Aql, Iman Masywerat, 1380,
Qom: Safir Subh, hal: 231

[10] Al-Musawi al-Khumaeni, Ruhullah, Tahrirul-Wasilah, 1408 H,
Qom: Muaseseye Ismoiliyon, jilid 2,

hal: 13


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: