Oleh: islam feminis | April 10, 2007

Busana Muslimah; antara Mode dan Etika

 gadis-gadis-kecil-berjilbab.jpg 

Agama tidak pernah melarang manusia untuk mengikuti mode. Karena mode dan seni adalah salah satu pengejawantaan dari budaya. Sedang budaya adalah bagian primer dari kehidupan manusia, dimana tanpa budaya manusia tidak akan dapat menuju kesempurnaan yang diidamkan oleh hati sanubari setiap manusia berakal sehat. Akan tetapi, Islam adalah agama yang hendak membebaskan manusia dari berbagai bentuk perbudakan dan keterkekangan dari segala macam belenggu, termasuk diperbudak dan dikekang oleh mode. Mode tidak lebih hanya sekedar sarana untuk mencapai kesempurnaan, bukan tujuan utama.

————————————————————– 

Busana Muslimah; antara Mode dan Etika

Oleh: Euis Daryati 

Prolog 

Sejarah busana lahir seiring dengan dengan sejarah peradaban manusia itu sendiri. Oleh karenanya, busana sudah ada sejak manusia diciptakan. Kesimpulan ini dapat diambil dari firman Allah swt yang berbunyi : “Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syetan sebagaimana ia telah mengeluarkan ibu-bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya…”.[3] 

Busana memiliki fungsi yang begitu banyak, dari menutup anggota tertentu dari tubuh hingga penghias tubuh. Sebagaimana yang telah diterangkan pula oleh Allah dalam al-Qur’an, yang mengisyaratkan akan fungsi busana; “Wahai anak Adam (manusia), sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi (aurat) tubuhmu dan untuk perhiasan…”.[4]  Dari tata cara, bentuk dan mode berbusana, manusia dapat dinilai kepribadiannya. Dengan kata lain, cara berbusana merupakan cermin kepribadian seseorang. 

Konsekwensi sebagai manusia agamis adalah berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan agamanya. Salah satu bentuk perintah agama Islam adalah perintah untuk mengenakan busana yang menutup seluruh aurat yang tidak layak untuk dinampakkan pada orang lain yang bukan muhrim.[5] Dari situlah akhirnya muncul apa yang disebut dengan istilah “Busana Muslimah”. 

Busana muslimah adalah busana yang sesuai dengan ajaran Islam, dan pengguna gaun tersebut mencerminkan seorang muslimah yang taat atas ajaran agamanya dalam tata cara berbusana. Busana muslimah bukan hanya sekedar symbol, melainkan dengan mengenakannya, berarti seorang perempuan telah memproklamirkan kepada makhluk Allah akan keyakinan, pandangannya terhadap dunia, dan jalan hidup yang ia tempuh, dimana semua itu didasarkan pada keyakinan mendalam terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Kuasa. 

 Budaya dan Esensi Manusia 

Berbicara tentang mode, berarti berbicara tentang seni. Berbicara tentang seni berarti berbicara tentang budaya. Sedang pokok bahasan budaya berarti tidak lepas dari pembicaraan tentang manusia, sebagai pelaku sekaligus obyek budaya. Atas dasar itulah, dapat diambil konklusi bahwa, berbicara tentang mode tidak akan lepas dari pembicaraan tentang esensi manusia sebagai pondasi dasarnya, dan kesempurnaan manusia sebagai tujuan akhir segala bentuk ketaatan. Semua ini memiliki hubungan vertikal yang sangat erat kaitannya antara satu dengan lainnya. 

Melihat dari fenomena keragaman budaya yang ada di dunia ini, yang terkadang antara satu budaya dengan yang lain saling bertentangan, maka perlu ada parameter khusus yang menjadi tolok ukur persesuain budaya-budaya yang ada dengan esensi dasar manusia. Sehingga dari situ akan jelas, manakah budaya yang masih sesuai dengan esensi dasar manusia, dan manakah yang telah menyimpang darinya?  Manusia memiliki dua dimensi; dimensi lahiriah (bersifat materi), dan dimensi batiniah (non-materi) yang biasa disebut dengan jiwa/ruh. Menurut pandangan dunia agamis, kesempurnaan sejati manusia bukan terletak pada kesempurnaan sisi materi, akan tetapi, kesempurnaan sisi non-materilah yang menjadi tolok ukur kesempurnaan manusia. Oleh karena itu, dapat diambil kesimpulan bahwa, esensi dasar manusia pun terletak pada sisi non-materi dan jiwanya. Maka, kesempurnaan manusia terletak pada kesempurnaan jiwa dan ruhnya, bukan terletak pada kesempurnaan sisi materinya. Namun, hal ini bukan berarti sisi materi manusia harus diterlantarkan. Karena bagaimanapun juga, sisi materi dan lahiriah manusia pun memiliki peran penting dalam memberikan lahan pada kesempurnaan jiwanya.  Tanpa dimensi materi, kesempurnaan sejati manusia –yang terletak pada sisi non-materi- tidak akan terwujud. Terbukti, semua ajaran agama tidak akan terlaksana tanpa bantuan sisi zahir dan materi manusia. Sisi non-materi yang menjadi esensi terpenting dari manusia adalah; akal dan fitrah. Dengan dua hal itulah akhirnya manusia dinobatkan sebagai makhluk yang paling utama dari sekian banyak makhluk-makhluk Tuhan.

Akal yang lebih banyak berfungsi untuk membedakan baik dan buruk, dan fitrah yang selalu menyeru kepada kebenaran, kebaikan, keindahan dan kesempurnaan, adalah modal utama kesempurnaan manusia. Jika dua hal itu diterlantarkan, niscaya manusia tidak layak disebut sebagai manusia seutuhnya.  Agama tidak pernah melarang manusia untuk mengikuti mode. Karena mode dan seni adalah salah satu pengejawantaan dari budaya. Sedang budaya adalah bagian primer dari kehidupan manusia, dimana tanpa budaya manusia tidak akan dapat menuju kesempurnaan yang diidamkan oleh hati sanubari setiap manusia berakal sehat. Akan tetapi, Islam adalah agama yang hendak membebaskan manusia dari berbagai bentuk perbudakan dan keterkekangan dari segala macam belenggu, termasuk diperbudak dan dikekang oleh mode.

Mode tidak lebih hanya sekedar sarana untuk mencapai kesempurnaan, bukan tujuan utama. Lantas mode, seni dan budaya yang bagaimanakah yang mampu menghantarkan manusia kepada kesempurnaan manusia? Hanya budaya yang bersumber dari akal sehat dan fitrah suci manusia saja yang mampu menghantarkan manusia kepada kesempurnaan sejatinya, bukan dari nafsu hewani yang hanya menjurus pada bidang material saja. Dari situ, dapat diambil benang merah bahwa, segala jenis mode yang bersumber dari akal dan fitrahlah yang mampu menghantarkan manusia untuk dapat menuju kesempurnaannya sebagai manusia.

Dengan kata lain, manusia akan menjadi ‘manusia’ dengan budaya akal dan fitrah. Sebaliknya, manusia akan menjadi ‘hewan’ jika hanya menitikberatkan pada budaya hewani yang lebih menonjolkan keindahan zahir dan sisi glamournya saja.[6]  Sebagaimana yang telah diketahui dalam pokok-pokok bahasan teologi bahwa, gabungan antara ajaran akal dan fitrah ini hanya terwujud pada ajaran agama. Dan karena agama di sisi Allah hanyalah Islam,[7] maka mode, seni dan budaya yang islami-lah yang mampu menghantarkan manusia kepada kesempurnaannya.  Dari penjelasan di atas, akhirnya muncul apa yang disebut dengan mode islami, seni islami dan budaya Islam yang “Busana Muslimah” adalah salah satu bagian dari wujud luaran (ekstensi) konsep tersebut.

Walaupun dalam perwujudan busana muslimah akan berbeda dan dapat disesuaikan dengan kultur wilayah masing-masing, namun terdapat kriteria universal dan batasan umum sebuah busana masuk kategori busana muslimah, antara lain; bukan busana yang membuat ‘menarik perhatian’ atau ‘aneh’ baik dari sisi warna maupun bentuk (syuhrat), tidak transparan, dan lain sebagainya. Semua ini kembali kepada hikmah yang tersirat dalam hijab islami, bahwa hijab berfungsi sebagai penjagaan, bukan bentuk pemenjaraan dan pengekangan. Dengan hijab islami, wanita dikenal dari sisi insaniahnya, bukan sisi gendernya. Dengan hijab islami, wanita dipandang dengan pandangan Ilahi bukan pandangan syahwani.

 Etika dan Agama 

Sebagaimana klaim konsep Islam sebagai agama paripurna, maka konsekuensinya adalah agama tersebut harus mencakup segala aspek kehidupan manusia. Oleh karenanya, tiada satu fenomena pun di alam ini kecuali terdapat hukumnya dalam agama tersebut, termasuk masalah etika dan budaya. Di sisi lain, dilihat dari segi istilah, kata etika mencakup tata krama (adab) yang disesuaikan dengan kearifan lokal dan adat istiadat setempat. Etika juga mencakup akhlak yang banyak dipengaruhi oleh norma-norma agamis yang bersifat global. Etika dengan pengertian pertama di atas tadi, selama tidak bertentangan dengan ajaran dan norma agama, maka selayaknya dijunjung tinggi dan dilestarikan. Jadi, sebagai orang agamis, hanya norma dan ajaran agamalah yang menjadi filter atas tata krama dan adat istiadat lokal. Hal itu dikarenakan, keyakinan kita akan kebenaran agama dan konsekwensi kita sebagai pemeluk agama Ilahi. Sedang berkaitan dengan etika yang berarti akhlak, dimana Islam sendiri sangat menjunjung tinggi akhlak ini -sehingga disebut sebagai penyebab diutusnya Rasul Islam sebagai penyempurna akhlak mulia- maka dapat dipastikan ia sangat sesuai dengan ajaran akal dan seruan fitrah.  Etika dalam pengertian ini bersifat universal, global dan tidak dipengaruhi oleh batasan-batasan geografis, budaya lokal dan adat istiadat setempat. Dari sini jelaslah bahwa antara etika –dengan dua pengertian di atas- tidak mungkin terpisah dengan ajaran agama, harus tetap “dalam bingkai ajaran agama” dengan arti yang luas.[8] Usaha apapun untuk memisahkan antara etika dan agama dengan mendahulukan salah satu dari yang lainnya, sama halnya dengan pencampakkan agama itu sendiri. Dari sini akhirnya, antara berbusana muslimah dengan menjaga etika Islam pun harus ada keselarasan. 

Penutup 

Dari tulisan ringkas ini dapat diambil kesimpulan bahwa, mode, seni, budaya dan etika yang masih masuk dalam bingkai ajaran agamalah yang sanggup menghantarkan manusia pada kesempurnaan hakiki sebagai manusia, termasuk dalam masalah mode busana yang berfungsi menjaga etika kepada Allah dan lingkungan sekitar, terkhusus sesama komunitas manusia. Dari sini pula akhirnya muncul apa yang disebut dengan “Mode Busana Muslimah” yang masih masuk dalam koridor ajaran agama Islam. Dan dikarenakan ajaran agama Islam bersumber dari Dzat Yang Maha Suci dan Sakral,[9] maka mode busana yang bersandar pada ajaran sakral itu pun bersifat sakral pula. Jadi, segala bentuk pelecehan terhadap busana muslimah –dengan berbagai modenya yang masih masuk kategori busana muslimah- sama halnya dengan melecehkan ajaran agama Allah. Selain itu, menyebarkan budaya busana muslimah, sama halnya dengan menyebarkan salah satu ajaran Allah. [islamalternatif.com]  

Penulis: Mahasiswi Pasca Sarjana Jurusan Tafsir al-Quran, Sekolah Tinggi Bintul-Huda – Qom –
Iran.
 

Ket:

Makalah ini disampaikan dalam acara diskusi tentang “Busana Muslimah; antara Mode dan Etika” di aula Hotel Shafa – Qom, yang diselenggarakan pada tanggal 27-Juli-2006 oleh Lembaga Otonomi Fatimiyah (LOF) – [HPI] Himpunan Pelajar Indonesia Republik Islam
Iran. Pembanding Mbak Ratih Sanggarwati (Model, Perancang Busana Muslimah dan Penyiar TV)

[3] QS al-A’raf: 27

[4] QS al-A’raf: 26

[5] QS an-Nur: 31 dan al-Ahzab: 59

[6] QS Muhammad: 12

[7] QS Aali-Imran: 19 dan 85

[8] Ungkapan “selama dalam bingkai ajaran agama” di atas tadi tidak boleh dipahami secara sempit dan tekstual, sebagaimana yang dilakukan sebagian kelompok muslim. Karena hal itu selain akan menyebabkan keluar dari maksud dan tujuan Penurun syariat, juga terjadinya penyimpangan dari hikmah penurunan syariat. Semua mode, seni dan budaya selama tidak ada pelarangan oleh agama maka dihukumi boleh (mubah), karena hal itu masuk kategori taqrir (persetujuan).

[9] QS al-Baqarah: 138


Responses

  1. Salam’alaikum

    Ketika melihat judulnya aku langsung terbayang tentang bagaimana seharusnya seorang muslimah berpakain, tetapi ternyata hal itu tidak dijelaskan disini. Atau memang artikel ini tidak membahas hal itu?

    Bagaimanapun terima kasih untuk artikelnya🙂

    ———————————-
    Islam Feminis:

    Terima kasih juga Mas…
    Memang artikel ini tidak membahas hal itu. Karena harus kita bedakan antara penampilan seorang muslimah di hadapan suami, mahram (dari keluarga, baik tali kekelurgaan tersebut karena pernikahan (seperti mertua laki-laki, ) atau karena keturunan (nasab seperti, ayah, saudara laki-laki, paman, kakek…) dimana seorang muslimah diperkenankan untuk tidak mengenakan busana muslimah dihadapan mereka dan dihadapan sesama perempuan. Dan masalah ini terdapat dalam pembahasan hukum fikih.

    Sebenarnya pembahasan dalam artikel ini hanyalah ingin mengupas, apakah antara mode/etika (budaya) lokal dengan busana muslimah terjadi kontradiksi atau tidak? Dan bagaimana pandangan islam tentang hal itu? karena jika kita menerima terjadi kontradiksi antara keduanya, maka konsekwensinya busana muslimah orang-orang Indonesia harus sama persis dengan busana muslimah orang-orang Arab. Dan dalam artikel ini juga disinggung bahwa tidak terjadi kontradiksi antara keduanya, hanya saja terdapat kriteria-kriteria umum tertentu yang sudah dijelaskan oleh Islam. Sehinggga konklusinya Busana muslimah dapat disesuaikan dengan budaya lokal dengan tetap menjaga kriteria-kritetria umum yang telah disebutkan oleh ajaran Islam.

  2. sya stju pendapat mas dimas diatas

  3. bagaimana kalo materi diatas lebih di spesifikan lagi contohnya bagai mana muslimah berpakaian yang baik dihadpan orang yang bukan muhrimnya.
    Materi diatas juga cukup bagus dan menarik buat saya dan menambah pengetahuan yang mungkin bagi saya itu awam untuk saya (seorang muslim yang baru-baru mengenal apa itu hijab dan gunanya).

    ————————————
    Islam Feminis

    Sepertinya dalam artikel tersebut secara sekilas telah disinggung tentang penampilan seorang muslimah di hadapan seorang laki-laki bukan muhrim. Yang jelas, berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an tentang batasan busana muslimah dan hadis maka syarat-syarat busana muslimah sempurna tersebut ialah:
    1. Menutup aurat seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan.
    2. Tidak transparan, karena memang falsafh hijab ialah menutupi tubuh.
    3. Tidak ketat, sehingga bentuk tubuh terlihat jelas.
    4. Dari segi warna, tidak terlalu mencolok sehingga menarik perhatian (Syahwat) lawan jenis.
    Dalam menjalankan ajaran agama pasti terdapat kesulitan, namun jika dilakukan karena cinta kita kepada-Nya semua itu akan menjadi mudah. Falsafah yang tersirat dari syarat-syarat busana muslimah di atas, ialah agar wanita muslimah dipandang bukan dari tubuh dan gendernya kan tetapi dari segi potensi, keahlian, kemuliaan dan lain-lain…Dengan berhijab wanita muslimah telah memproklamirkan akan kebebasan dirinya dari penguasaan sistem patriarki yang akan menikmati tubuhnya secara ilegal.
    Itu saja, terima kasih atas kunjungannya.

  4. Materi diatas juga cukup bagus dan menarik buat saya dan menambah pengetahuan yang mungkin bagi saya itu awam untuk saya (seorang muslim yang baru-baru mengenal apa itu hijab dan gunanya)
    Bagaimana kalo materi diatas lebih di spesifikan lagi contohnya bagai mana muslimah berpakaian yang baik dihadpan seorang sesama muslimah.
    Saya juga harap ada materi tentang cara berpakaian mode sekarang (mengikuti zaman) yang katanya itu busana muslim dan sesuai dengan akidah islam.
    Materi yang juga sebaiknyaa ada seperti perbedaan cara busana dengan wanita arab (muslimah) dengan kita di Indonesia dimana letak perbedaannya, yang mungkin klo di katakan kita adalah sama wanita (muslimah).

  5. Ass.saya pernah baca disebuah buku,kalau wanita berjilbab dengan bermacam-macam model/gaya dan aksesoris, dikatakan wanita tersebut mengikuti masa jahiliyah. bener ngak sich…..

    ————————————–

    Islam Feminis:
    Waalaikumsalam wr.wb
    Sebaiknya saya jawab pertanyaan di atas dengan beberapa premis berikut ini agar permasalah lebih transparan. Hukum berjilbab sebagaimana hukum lainnya seperti shalat, puasa, zakat dll…memiliki falsafah dan hikmah. Karena Allah swt, Tuhan Maha bijaksana, Maha Mengetahui, Maha sempurna …Pencipta makhluk seluruh alam semesta, ketika menetapkan sebuah hokum pasti berdasarkan ilmu dan kebijaksanaan yang dimiliki-Nya. Dari sisi lain berdasarkan teori logika yang diterima oleh semua manusia, seorang pencipta akan lebih mengetahui tentang ciptaannya dibanding yang lainnya, sebagaimana seorang pembuat computer akan lebih mengetahui tentang computer dibanding yang lainnya.
    Allah swt telah menciptakan manusia yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dari sisi kemanusiaannya tiadalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Tidak dapat dikatakan misal laki-laki lebih manusia dibanding perempuan ataupun sebaliknya. Namun dari segi gender, yang satu laki-laki dan yang satunya perempuan. Oleh karena ada manusia laki-laki dan manusia perempuan. Karena selain memiliki kesamaan juga memiliki perbedaan maka hokum yang ditetapkan oleh Tuhan Yang Maha Bijaksana pun berdasarkan persamaan dan perbedaan yang dimiliki manusia lelaki dan manusia perempuan.
    Dari segi struktur, tubuh lelaki dan perempuan terdapat perbedaan. Anak kecil atau orang bodoh pun pasti mengakui hal ini. Allah menciptakan struktur tubuh laki-laki dan perempuan yang berbeda, tentu berdasarkan hikmah. Setiap hokum memiliki syarat-syarat sehingga diterima. Contoh solat memiliki syarat-syarat sehingga shalatnya syah dan benar. Apakah solat dengan cara apapun dapat dibenarkan diterima? Atau contoh mudah seseorang ingin menulis bulletin, atau jurnal, tentu sebuah bulletin atau jurnal memiliki syarat dan criteria tersendiri. Sama halnya dengan masalah hukum berjilbab, iapun memiliki syarat dan criteria hingga dapat dikatakan busana muslimah yang sempurna. Di antara falsafah busana muslimah ialah menyembunyikan kecantikan untuk tidak ditunjukkan pada yang bukan haknya. Oleh karena itu, jika seorang wanita berbusana muslimah namun bentuk tubuh sangat terlihat dengan jelas dikarenakan bajunya yang ketat dan penampilannya sangat mencolok (menggoda lawan jenis) sehingga tidak ada bedanya dengan yang tidak berbusana muslimah maka belum dikatagorikan busana muslimah yang sempurna.
    Oleh karena itu, dalam al-Qur’an Allah telah berfirman; (Walal tabarujna tabarruj al-jahiliyatil uula)“dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu”. (QS al-Ahzab 33) walaupun dari segi bahasa ‘tabarruj’ berasal dari kata ‘burj’ yang artinya ‘menara’. Dan kita mengetahui menara akan tampak dari mana-mana dan menjadi pusat perhatian.
    Selain itupun, berdasarkan ayat-ayat lain yang berhubungan dengan perintah jilbab seperti dalam surat al-Ahzab ayat 59 dan an-Nur ayat 31 serta beberapa hadis lainnya katagori dan kritria busana muslimah ialah sebagai berikut:
    1. Menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
    2. Busana yang lapang dan tidak ketat, hingga membentuk bentuk tubuh.
    3. Tidak transparan.
    4. Tidak mencolok hingga menarik (syahwat) lawan jenis.
    Tampil rapi dan menarik (bukan mengundang syahwat) khan tidak mesti dengan berias dan berpenampilan mencolok. Kebersihan, kerapian, dan alamiah akan mencerminkan kepribadian yang sebenarnya. Karena hikmah dibalik jilbab ialah agar perempuan tampil dengan lebih berwibawa.
    Minta maaf jika ada kekurangan, mudah-mudahan dapat memberikan pencerahan. Dan terima kasih atas kunjungannya.

  6. Dengan mengucapkan Bismillahhirohmanirrohim, Butik Annisa hadir untuk menyediakan busana muslimah yang sesuai syariah, berkelas, dan anggun di segala suasana.

  7. mohon bantu saya beri penjelasan apabila wanita sdh menggunakan jilbab apa aja larangannya dari segi pakaian dan perilakunya. krn saya sdg mempelajari kenapa wanita berjilbab?. tks

    ———————————————————————————-

    Islam Feminis:
    Sebelumnya saya mengucapkan selamat atas saudariku, masalah jilbab seperti masalah perintah agama lainnya memerlukan pengkajian lebih dalam sehingga keyakinan akan kebenarannya semakin kokoh dan dapat menerima ajaran tersebut dengan penuh keikhlasan dan penghambaan pada Sang Pemilik Perintah. Saya yakin orang yang menjalankan ajaran Allah SWT dengan pengkajian terlebih dahulu akan merasakan kenikmatan tersendiri dalam menjalankan ajaran tersebut.
    Adapun beberapa criteria busana muslimah sempurna berdasarkan al-Qur’an dan hadis di antaranya:

    – Busana tersebut tidak menampakan anggota badan (ketat).
    – Tidak menerawang (tipis).
    – Warna dan bentuknya tidak mencolok.

    Selain perintah mengenakan jilbab zahir (kita mengenakan “pakaian jilbab”) sebaiknya kita pun ‘menjilbabi bathin’ kita juga dan menghiasi dengan akhlak yang mencerminkan seorang muslimah sejati. Dalam pergaulan, wanita muslimah hendaknya menjaga jarak ketika bergaul dengan laki-laki yang bukan muhrim, dalam ucapan dan prilaku. Namun hal ini bukan lantas sama sekali tidak diperkenankan berkomunikasi, khususnya zaman sekarang karena tuntutan kerja dan keperluan lainnya kita tidak akan dapat menghindari secara total berkomunikasi dengan laki-laki yang bukan muhrim. Hanya saja terdapat rambu-rambu dalam berkomunikasi dengan mereka, seperti tidak bergaul bebas dengan mereka, tidak bersentuhan (seperti bersalaman tanpa ada penghalang), tidak sangat akrab dalam bergaul… Oleh karenanya, seorang wanita muslimah tetap dapat bergaul dan berkomunikasi dengan laki-laki non muhrim tapi dengan menjaga ucapan dan prilaku dihadapan mereka, sehingga mereka pun merasa segan untuk berbuat tidak layak pada wanita muslimah.

  8. Kami kebetulan pengelola butik muslimah.
    Semenjak awal buka, sudah diniatkan untuk membantu, memberi teladan dan membimbing mereka yang kesulitan & tengah belajar berbusana menutup aurat yang sesuai tuntunan syar’i. Tidak ketat membentuk body, tidak transparan menerawang, tidak memperlihatkan warna kulit bagian tubuh selain muka dan telapak tangan its oke easy. Tapi ketika masuk kedalam dunia mode, mohon maaf ya teh Euis, sepengalaman kami betul-betul kita akan kesulitan memilah busana dalam pengertian ‘tidak menarik perhatian’ dan ‘aneh’ seperti yang disebut tulisan diatas. Penilaian ini sangat relatif. Menurut kami istilah aneh & menarik perhatian dalam dunia mode berpakaian hanya soal keberanian menghadapi pernbedaan zaman & budaya yang tengah berlaku. Mana yang trendsetter mana yang follower. Nyatanya banyak pakaian yang dahulu diangap aneh sekarang malah biasa dan membudaya. Ini kami kira terjadi dimanapun disetiap budaya. Jadi kalimat “bukan busana yang membuat ‘menarik perhatian’ atau ‘aneh’ baik dari sisi warna maupun bentuk (syuhrat),” ini perlu koreksi atau penjelasan lagi. Kecuali ada penjelasan upaya tampil ‘aneh’ & ‘menarik perhatian’ yang bisa atau dimaksudkan memancing syahwat dan birahi orang lain baik kawan maupun lawan jenis atau ‘aneh’ dan menarik ‘perhatian’ karena berlebihan dan mubadzir mengundang kecemburuan dan permusuhan sosial dalam budaya setempat. Tahu dirilah cara berpakaiannya. Kitu panginten, teh Euis. hapunten kirang langkungna. Selanjutnya… boleh belanja dong ke tempat kami! Rumah Busana Muslim HASAN HUSAIN Griya Prima Asri Baleendah Bandung. Syukron!

    —————————————————————————

    Islam Feminis:
    Assalamualaikum wr.wb
    Istilah “bukan busana yang membuat ‘menarik perhatian’ atau ‘aneh’ baik dari sisi warna maupun bentuk (syuhrat)”, ini berasal dari sebuah hadis yang membahas tentang batasan busana muslimah. Dan ini dapat memiliki beberapa pengertian: Tampil aneh dan menarik perhatian yang dapat memancing syahwat atau memang tampil aneh sehingga orang-orang ketika melihatnya semua mata tertuju kepadanya. Dan pakaian aneh ini kemungkinan dapat berubah-rubah sebagaimana perubahan waktu dan zaman. Mungkin pakaian yang dipakai masa silam akan tampil aneh dan menarik perhatian banyak orang jika dikenakan sekarang, atau sebaliknya. Dan juga setiap daerah atau Negara bisa berbeda, dikarenakan adat dan budaya yang berbeda pula. Mungkin sebagian mode jilbab yang dikenakan di Indonesia ialah biasa, bila dikenakan di Negara lain bisa sangat menarik banyak perhatian orang dan tidak lazim ditempat tersebut.

    Karena kita sudah mengetahui bahwa salah satu filsafat dan hikmah dibalik busana muslimah ialah menyembunyikan kecantikan dari pandangan yang legal. Dan Allah swt memerintahkan agar kecantikan yang kita miliki hanya digunakan pada tempatnya. Oleh karena itu, jika busana yang dikenakan malah tidak ada bedanya ketika ia berbusana muslimah atau tidak, semua mata tertuju kepadanya filsafat dan hikmah yang ada dibalik perintah berjilbab atau berbusana muslimah akan berkurang nilainya. Walau demikian, berkaitan dengan busana muslimah, kita hendaknya benar-benar memperbaiki terlebih dahulu pandangan dunia/dunia dan memperkuat dasar-dasar pemikiran kenapa kita hendak berbusana muslimah? Apa yang akan terjadi, andaikan tidak mengenakannya? Bagaimana pandangan akal sehat kita berkaitan dengan ini? Sehingga dengan sendirinya apabila ia berhasil menjawab semua pertanyaan tersebut, dengan penuh kerelaan akan menerima perintah mengenakan busana muslimah, sebagaimana menerima perintah agama lainnya.

    Adapun sebuah busana hendaknya tidak berlebihan dan mubazir itu sudah jelas dilarang dan merupakan sebuah hokum yang berlaku bukan pada masalah busana muslimah saja Akan tetapi berlaku bagi semua hal dalam berlaku dan bersikap, seperti tidak boleh berlebihan dalam makanan, memakai listrik, air, refresing, tidur bahkan dalam beribadah sekalipun. Semuanya harus dilakukan berdasarkan kadar porsinya.

    Wassalam
    NB: InsyaAllah upami tos uih ka Indonesia tiasa mampir atuh, da ayuena mah abdi masih belajar di Iran. Meuni seneng tos kenal sareng Teteh, insyaAllah usahana tambih maju. Salam kenal…

  9. Ass.
    maaf, saya ingin menanyakan perbedaan busana muslim dihadapan suami, mahram dan keturunan.
    selain itu saya juga ingin mengharapkan solusi tentang busana tersebut dimana kondisi saya yang bekerja sehingga mengharuskan memakai seragam potongan dan celana training untuk OR.
    mohon jawabannya. Jazz.K.
    Wass.

    —————————————————————————-

    Islam Feminis:
    Terdapat perbedaan dalam mengenakan busana ketika tampil dihadapan suami, mahram dan keturunan.

    Dihadapan suami sama tidak ada larangan, maaf sekalipun tanpa busana dan sehelai benangpun.

    Dihadapan mahram (tentang siapa saja mahram kita bisa dilihat dalam al-Qur’an surat Nuur ayat 31, termasuk mertua laki-laki ialah mahram), tidak diwajibkan mengenakan busana muslim (seperti jilbab dan baju panjang yg menutupi semua aurat), namun tetap tampil sopan dan sewajarnya.

    Dihadapan anak, mungkin ketika anak masih kecil yang belum mengerti apa-apa dan ketika menginjak remaja sedikit ada perbedaan. Namun perbedaan ini kembali kepada pengaruh negatif berpenampilan vulgar di hadapan anak-anak yang sedang menginjak dewasa. Artinya seorang ibu, di hadapan anaknya yg sudah menginjak remaja dan mengenal lawan jenis, sebaiknya berbusana sewajarnya di hadapan mereka.

    Berkaitan tentang busana muslimah, sebagaimana yang telah saya sampaikan dalam makalah tersebut dapat disesuaikan dengan budaya lokal. Tentunya dengan tetap memenuhi syarat-syarat busana muslimah yang telah ditentukan oleh Islam. busana muslimah bisa berupa potongan dengan syarat tidak ketat sehingga memperlihatkan lekuk dan bentuk tubuh dan menutupi seluruh aurat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: