<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>ISLAM FEMINIS</title>
	<atom:link href="http://islamfeminis.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://islamfeminis.wordpress.com</link>
	<description>Islami, Feminim dan Mencerahkan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 17 Jan 2011 21:21:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='islamfeminis.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>ISLAM FEMINIS</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://islamfeminis.wordpress.com/osd.xml" title="ISLAM FEMINIS" />
	<atom:link rel='hub' href='http://islamfeminis.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Singgasana Para Pengantin; Ketegaran yang Berbuah Kebahagian</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/29/singgasana-para-pengantin-ketegaran-yang-berbuah-kebahagian/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/29/singgasana-para-pengantin-ketegaran-yang-berbuah-kebahagian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jan 2009 16:09:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=343</guid>
		<description><![CDATA[Dalam dunia kehidupan rumah tangga, bila pihak suami maupun istri bertindak tak ubahnya seorang majikan yang suka memerintah pembantunya, maka tak ada pilihan lain bagi pasangannya kecuali bersikap taat dan berserah diri. Kita seringkali menemui seorang suami yang memperlakukan istrinya seperti pelayan atau budak yang tidak punya pilihan selain ketaatan. Ini tercermin dari pertanyaan-pertanyaan sinis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=343&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam dunia kehidupan rumah tangga, bila pihak suami maupun istri bertindak tak ubahnya seorang majikan yang suka memerintah pembantunya, maka tak ada pilihan lain bagi pasangannya kecuali bersikap taat dan berserah diri. Kita seringkali menemui seorang suami yang memperlakukan istrinya seperti pelayan atau budak yang tidak punya pilihan selain ketaatan. Ini tercermin dari pertanyaan-pertanyaan sinis sang suami kepada istrinya seperti; mengapa engkau tidak mengerjakan ini, mengapa tidak engkau hidangkan makanan ini, mengapa dan mengapa. Seperti celoteh interogatif jaksa penuntut dihadapan terdakwa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span id="more-343"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="IN">Singgasana Para Pengantin; Ketegaran yang Berbuah Kebahagian</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN">Karya: DR. Ali Qo’imi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kehidupan keluarga hendaklah dipupuk dengan kasih saying. Masing-masing pihak, suami maupun istri, harus saling bertanggung jawab satu sama lain. Karena itu, keduanya harus saling memiliki ketegaran dan kesabaran yang penuh dalam menghadapi kehidupan. Namun sangat disesalkan, kita seringkali menjumpai sebagian orang, lantaran hasutan serta beratnya pekerjaan dan kehidupan yang digeluti, telah kehilangan sikap semacam ini. Mereka tidak mampu bersikap tegar menghadapi pasangan hidupnya dan hanya lantaran sebab yang sepele, ia langsung bertindak di luar batas sehingga mengancam kebahagiaan keluarga. Dalam tulisan ini akan diketengahkan pembahasan tentang akar-akar penyebab terjadinya persoalan tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam perjalanan kehidupan manusia selalu diwarnai oleh berbagai bentuk perilaku, kebiasaan dan sikap domestiknya. Dapat dikatakan bahwa setiap orang memiliki cara bertindak dan perilaku yang khas. Dalam dunia kehidupan rumah tangga, bila pihak suami maupun istri bertindak tak ubahnya seorang majikan yang suka memerintah pembantunya, maka tak ada pilihan lain bagi pasangannya kecuali bersikap taat dan berserah diri. Kita seringkali menemui seorang suami yang memperlakukan istrinya seperti pelayan atau budak yang tidak punya pilihan selain ketaatan. Ini tercermin dari pertanyaan-pertanyaan sinis sang suami kepada istrinya seperti; mengapa engkau tidak mengerjakan ini, mengapa tidak engkau hidangkan makanan ini, mengapa dan mengapa. Seperti celoteh interogatif jaksa penuntut dihadapan terdakwa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sang suami tersebut lupa bahwa istrinya berdasarkan syariat Islam dan undang-undang, tidak wajib menunaikan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Dengan kata lain, pekerjaan-pekerjaan tersebut lebih dipandang sebagai pekerjaan-pekerjaan yang berbobot kemanusian nan mulia yang dilakukan istri karena kasih sayangnya, sehingga patut dipuji dan dihargai bila dilaksanakan sang istri. Sebaliknya pula, kita tak jarang menjumpai seorang istri yang memperlakukan suaminya tak lebih sebagai seorang hamba yang hina dina. Dalam hal ini, keberadaan sang suami tak ubahnya bidak-bidak catur, mengikuti perhitungan, perintah dan larangan istrinya. Dan bila suaminya jatuh miskin, seorang istri akan menyebut-nyebut hal itu seraca memperlihatkan kekayaan dirinya. Perilaku semacam ini jelas tidak sejalan dengan hakikat kemanusiaan serta prinsip dan landasan kehidupan bersama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Akhlak buruk, sikap kasar, serta tidak adanya ketegaran dalam bergaul merupakan penyebab timbulnya pertengkaran yang dapat merusak kehidupan bersama. Sejumlah penelitian membuktikan bahwa akhlak yang buruk dan tidak adanya ketegaran dalam pergaulan akan menyebabkan ketuaan yang bersifat prematur (tua sebelum waktunya). Penelitian lain membuktikan bahwasanya sebagian besar penyakit hati (lever) disebabkan lantaran pertengkaran, dan tidak adanya ketegaran, khususnya diantara pasangan suami-istri yang gemar berpetualang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Suasana kehidupan keluarga yang selalu diliputi ketegangan akibat perilaku kasar dan pengekangan yang berlebihan akan menggiring anak-anak ke dalam situasi yang sangat berbahaya. Jiwa mereka niscaya akan terguncang hebat. Selain itu, mereka juga akan kehilangan perasaan tenang yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan mentalnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Untuk menelaah sebab-sebab yang tersenbunyi di balik segenap apa yang telah dijelaskan, kami akan mengemukakan sejumlah hal yang dapat menjelaskan permasalahan diatas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">1. Tidak adanya saling pengertian.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tidak adanya sikap saling mengerti dan minimnya pengetahuan tentang pelbagai ketentuan yang harus dipelihara dalam pergaulan bersama menyebabkan timbulnya berbagai kesulitan yang menjurus pada pertengkaran. Adapun penyebab tidak adanya saling pengertian dan keharmonisan, sebagiannya bersumber pada kesenjangan usia, pengertian dan pengalaman hidup. Sementara sebagian lainnya bersumber dari perbedaan selera dan gaya hidup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Salah satu hal yang patut disesalkan adalah pasangan suami-istri sekalipun telah menjalani kehidupan bersama selama beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun gagal mengenali kepribadian pasangannya. Padahal, dengan saling mengenal satu sama lain, berbagai persoalan hidup akan dapat diatasi dengan mudah dan keduanya akan selalu bersikap tegar demi menjaga keharmonisan hidup bersama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">2. Kemelut Hidup.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Banyak orang yang memperhatikan dan memnerlakukan aturan-aturan sedemikian rupa hanya demi memenuhi ambisinya semata. Orang-orang semacam ini begitu mudah naik pitam dan marah besar ketika mengetahui adanya kesalahan barang sedikit saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam kasus ini, bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi misalnya, apabila seorang suami yang begitu ketat memberlakukan aturan pulang kerumahnya, sementara ia menganggap segala sesuatu dalam keadaan baik dan rapi. Namun kemudian ia menjumpai keadaan rumah yang begitu kacau balau dan semrawut. Apa lagi yang akan terjadi kalu bukan pertengkaran dan ocehan yang menykitkan hati</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">3. Kerja keras</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Betapa banyak orang yang gampang mengumbar amarah hanya lantaran sebab-sebab yang sangat sepele. Dalam hal ini, kami menemukan alasannya, pekerjaan yang menumpuk dan melelahkan telah melemahkan jaringan saraf mereka, sehingga menghilangkan kemampuan untuk bersikap tegar dan berfikir jernih . Dalam keadaan demikian, mereka acapkali secara tiba-tiba belaku buruk terhadap istrinya tanpa menyertakan belaskasih sedikitpun dan tanpa sebab yang jelas. Situasinya bahkan sedemikian rupa, sampai-sampai kita menjumpai adanya sebagian istri yang harus bekerja rodi di rumahnya, sehingga menjadikan dirinya nampak seperti mayat hidup. Para istri tersebut sungguh telah kehilangan kemampuannya untuk berinteraksi dengan suaminya secara layak, bijak dan berimbang. Kami mewasiatkan kepada seluruh pasangan suami-istri agar senantiasa bersikap seimbang dalam hal pekerjaan serta memelihara pelbagai batasan kehidupan bersama secara konsekuen.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">4. Kekacauan pikiran</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Adakalanya kita menjumpai seseorang yang dilanda banyak masalah dan terus berduka lantaran mengalami kekacauan pikiran dan gangguan mental. Hal tersebut pada gilirannya menimbulkan sejumlah problema lain, seperti rasa was-was yang mendorong amarah, tidak dapat bersikap tegar, dan sering berperilaku sangat kasar, karenanya sedikit saja mereka mengalami benturan, niscaya tapi kemarahan akan segera berkobar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">5. Faktor faktor luar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tak jarang sebuah pertangkaran dalam keluarga dipicu oleh sejumlah faktor yang datang dari luar, misalnya, seorang suami yang bekerja di suatu tempat kemudian bertengkar dengan sejawatnya. Pertengkaran tersebut pada gilirannya begitu membekas dihati sehingga menjadikannya merasa kesal dan mendendam. Kemudian, lantaran suatu sebab, atau bahkan tidak ada sebab sekalipun, ia langsung menumpahkan kemarahan dan dendamnya kepada keluarganya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Begitu pula dengan seorang ibu rumah tangga yang tidak mampu lagi menguasai dirinya lantaran selalu mengamat-amati kehidupan tetangganya yang hidup makmur. Semua itu kemudian melahirkan penyesalan dalam diri yang tak jarang diungkapkan dalam bentuk keluhan dan tangisan. Sungguh tidak masuk akal apabila seorang suami atau istri lantaran diterjang problema diluar rumah, bersikap mementingkan dirinya sendiri, ketika pulang kerumah, dirinya berusaha menghilangkan kekesalannya dengan cara menumpahkan amarahnya kepada orang orang yang tidak bersalah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">6. Minimnya ketegaran</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Seringkali seseorang sampai hilang kesabarannya dan naik pitam ketika menghadapi sejumlah pertanyaan istrinya (yang sebenarnya tidak sampai menyinggung hati). Namun entah mengapa ia langsung gelisah dan berteriak, “Mengapa engkau tidak menjauh dariku?” Biarkanlah aku dengan urusanku! Dalam kasus ini, sang suami sungguh tidak mampu bersikap tegar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">7. Tidak adanya keseimbangan jiwa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Seorang suami yang kehilangan keseimbangan jiwa niscaya akan menderita komplek rendah diri (inferiority complex). Lantaran itu, ia akan selalu menumpahkan segenap problema yang dihadapi pada keluarganya. Dalam hal ini, istri dan anak anaknya akan terjangkit dua hal, penyakit jiwa lantaran ketenangan rohaninya telah hilang sehingga mudah emosi dan menumpahkan amarah kepada segenap hal, dan penyakit sadisme (merasa senang menyaksikan dan menjadikan orang lain menderita).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">8. Tidak adanya kelembutan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tidak adanya kelembutan dan sikap menghargai perasaan orang lain dalam pegaulan acapkali menyulut terjadinya banyak pertengkaran. Keterusterangan tentu merupakan tindakan terpuji asalkan tidak sampai melanggar batas-batas etika dan sopan santun, serta dengan selalu memperhatikan ketegaran pihak lain yang menjadi pendengar. Keterusterangan seperti apakah yang bisa menyulut kobaran api yang melalap seisi rumah atau menjadi pedang beracun dalam diri manusia?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kehidupan rumah tangga menuntut kecermatan dan kehati-hatian dalam berbicara serta bergaul. Adalah bijak menghindari keterusterangan jika itu hanya akan menyebabkan timbulnya pelbagai pengaruh destruktif. Dalam hal ini, masih banyak cara lain yang dapat ditempuh yang tidak sampai membuahkan akibat buruk. Dalam uraian sebelumnya, kita telah mengetahui bahwa sikap irasional dalam kehidupn bersama (suami-istri) merupakan penyebab langsung terjadinya pertengkaran-pertengkaran yang dapat merontokkan sendi-sendi kehidupan rumah tangga. Untuk itu, baik pihak suami maupun istri dituntut untuk selalu bersikap rasional dalam mengarungi lika-liku hidup bersama demi menepis kabut kelam yang menyelubungi cakrawala kehidupan keluarga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">(disarikan oleh Afita, Qom Iran)</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/343/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=343&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/29/singgasana-para-pengantin-ketegaran-yang-berbuah-kebahagian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Islam dan Peran Perempuan di Masyarakat: Perspektif  Imam Khomaini ra</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/29/islam-dan-peran-perempuan-di-masyarakat-perspektif-imam-khomaini-ra/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/29/islam-dan-peran-perempuan-di-masyarakat-perspektif-imam-khomaini-ra/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jan 2009 16:07:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[Tidak sedikit kalangan agamawan yang mencoba memberikan solusi. Alih-alih memberikan solusi, malah sebaliknya menambah kerumitan persoalan. Maka, mengikuti kelaziman, mempercayakan persoalan ini kepada nara sumber yang memiliki kapasitas dalam menguraikan kerumitan sumber hukum, didukung sikap jujur terhadap pandangannya. Imam Khomeini (ra) adalah salah satu sosok yang layak untuk diangkat. Tidak sedikit pernyataan beliau berkaitan dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=340&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tidak sedikit kalangan agamawan yang mencoba memberikan solusi. Alih-alih memberikan solusi, malah sebaliknya menambah kerumitan persoalan. Maka, mengikuti kelaziman, mempercayakan persoalan ini kepada nara sumber yang memiliki kapasitas dalam menguraikan kerumitan sumber hukum, didukung sikap jujur terhadap pandangannya. Imam Khomeini (ra) adalah salah satu sosok yang layak untuk diangkat. Tidak sedikit pernyataan beliau berkaitan dengan persoalan perempuan, baik yang disampaikan dalam berbagai kongres perempuan, hari ibu ataupun pertemuan-pertemuan lainnya. Dengan mengamati berbagai pernyataan Imam tersebut, kita akan mencoba memahami bagaimana sebenarnya pemikiran Imam, terutama berkaitan dengan peran perempuan di masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> <span id="more-340"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;" lang="IN">Islam dan Peran Perempuan di Masyarakat: Perspektif </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;" lang="IN">Imam Khomaini ra</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN">Oleh: Afifah Ahmad </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="IN">“Tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki dari sisi kemanusiaan. Karena perempuan sebagaimana laki-laki memiliki hak yang sama dalam menentukan masa depannya. Adapun perbedaan yang ada diantara keduanya, tidak mengurangi sisi kemanusiaan itu sendiri” </span></em><span lang="IN">Sahifah Nur Jilid 3 hal. 49, Pendahuluan<em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tuhan menciptakan manusia dengan dibekali kekuatan akal serta diiringi kesucian wahyu untuk mencapai kesempurnaan. Di alam ‘azali manusiapun berikrar menjadi khalifah Tuhan di muka bumi. Manusia bersedia mengemban amanat suci langit untuk menebarkan kebaikan serta mencegah kemungkaran di dunia. Sebuah amanat yang tak sanggup diemban oleh makhluk mana pun. Maka, manusia memiliki konsekuensi untuk membangun diri serta lingkungannya, baik pada lingkup keluarga maupun masyarakat secara luas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Demikian halnya dengan perempuan sebagai salah satu misdaq manusia, tak dapat lepas dari amanat tersebut. Perempuan, sebagaimana laki-laki memiliki tanggung jawab terhadap diri dan masyarakatnya. Dari sinilah, muncul ada tiga peran utama yang dimiliki oleh perempuan. Pertama, peran yang terkait dengan kehidupan individu, yaitu hubungan transendental manusia dengan Tuhannya. Kedua, peran perempuan dalam kehidupan keluarga baik sebagai istri maupun ibu dari anak-anaknya. Ketiga, peran perempuan di masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Peran terakhir ini, memunculkan dua tesis berseberangan. Di satu sisi, ada sebagian kelompok yang sama sekali menolak keterlibatan perempuan di ranah publik. Kekhawatiran yang kerap kali dimunculkan adalah terjadinya fitnah serta kekacauan peran. Di sisi lain, tak sedikit kalangan yang memberikan kebebasan seluas-luasnya untuk terjun di masyarakat tanpa adanya pembatasan. Pendapat ini muncul sebagai reaksi terhadap kelompok pertama. Lantas, adakah jalan ketiga? Bagaimana sebenarnya posisi perempuan di dalam masyarakat?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Nampaknya, pertanyaan ini tidak sederhana. Di dalam koridor agama sendiri, persoalan ini memerlukan kajian mendalam melalui penggalian sumber-sumber hukum otentik. Tidak sedikit kalangan agamawan yang mencoba memberikan solusi. Alih-alih memberikan solusi, malah sebaliknya menambah kerumitan persoalan. Maka, mengikuti kelaziman, mempercayakan persoalan ini kepada nara sumber yang memiliki kapasitas dalam menguraikan kerumitan sumber hukum, didukung sikap jujur terhadap pandangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Imam Khomeini (ra) adalah salah satu sosok yang layak untuk diangkat. Tidak sedikit pernyataan beliau berkaitan dengan persoalan perempuan, baik yang disampaikan dalam berbagai kongres perempuan, hari ibu ataupun pertemuan-pertemuan lainnya. Dengan mengamati berbagai pernyataan Imam tersebut, kita akan mencoba memahami bagaimana sebenarnya pemikiran Imam, terutama berkaitan dengan peran perempuan di masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Imam Khomeini dan Konsep Dasar Perempuan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Secara umum, ada dua hal menarik yang dapat dikaji dari pandangan Imam Khomeini berkenaan dengan konsep dasar perempuan.[1] Pertama, sisi persamaan, Imam memandang adanya persamaan antara perempuan dan laki-laki dari sisi esensi kemanusiaan (huviyat ensoni). Perempuan sebagaimana laki-laki, dibedakan dari berbagai makhluk Tuhan lainnya seperti tumbuhan, hewan dan malaikat. Mereka diciptakan dari unsur yang satu (nafs) serta memiliki amanat serupa, yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Imam Khomeini dalam salah satu pernyataannya menyebutkan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki dari sisi kemanusiaan. Karena perempuan sebagaimana laki-laki memiliki hak yang sama dalam menentukan masa depannya. Adapun perbedaan yang ada di antara keduanya, tidak mengurangi sisi kemanusiaan itu sendiri”.[2]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Pandangan Imam ini, seiring dengan apa yang diisyaratkan Tuhan di dalam al-Qur’an. Tuhan menyebutkan persamaan perempuan dan laki-laki setidaknya pada dua level, asal mula penciptaan serta kewajiban menjalankan perintah, taklif. Sebagaimana dijelaskan dalam (QS. 33:35):</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan taat, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar dan tabah (dalam kebajikan), laki-laki dan perempuan yang sederhana, laki-laki perempuan yang memberi sedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara (kesopanan mereka), laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah, bagi mereka Allah menyediakan ampunan dan pahala yang besar”[3]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kedua, di samping sisi persamaan, Imam juga berpendapat bahwa terdapat perbedaan antara perempuan dan laki-laki dari sisi gender (jinsiyyat). Perbedaan ini memiliki konsekuensi adanya pembagian peran di antara perempuan dan laki-laki. Dengan pembagian ini, tidak berarti memperlemah posisi masing-masing, justru dapat saling memberikan kontribusi. Maka, di sinilah urgensi adanya konsep keluarga dalam Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Perempuan pada sisi ini, memiliki karakteristik khusus yang tidak dimiliki laki-laki, sebaliknya laki-laki juga demikian. Salah satu sifat yang menjadi ciri khas perempuan adalah kasih sayang serta kelembutan. Menurut Imam, sifat ini merupakan potensi luar biasa untuk mengantarkan masyarakat pada harkat dan martabatnya yang agung. Imam menyebutkan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Kasih sayang yang ada pada perempuan, merupakan kekhususan yang dimiliki oleh mereka dan tidak ada pada laki-laki. Maka, apa yang dilakukan di belakang layar oleh perempuan bisa jadi lebih berharga ketimbang yang dilakukan laki-laki&#8230;..”[4]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dua konsep di atas, yaitu sisi persamaan serta perbedaan merupakan acuan dasar dalam memahami pandangan Imam Khomeini, terutama yang berkaitan dengan peran perempuan di masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Peran Perempuan di Masyarakat: Perspektif Imam Khomeini</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Manusia terlahir sebagai makhluk sosial. Kebutuhan yang mengiringinya tak hanya sebatas makan, minum serta kebutuhan biologis lainnya. Kasih sayang, berbagi dan bermasyarakat menjadi bagian yang lekat pada fitrah manusia. Maka, dalam konteks ini manusia memiliki peran ganda, individu maupun sosial. Perempuan sebagai bagian dari manusia tentu saja memiliki peran serupa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Di dalam al-Qur’an, persoalan ini secara jelas telah disinggung, misalnya di dalam surat an-Nur ayat 62. Menurut sebagian Mufassir[5], ayat ini berhubungan dengan tugas sosial manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Di samping itu, lebih khusus al-Qur’an juga berbicara tentang keterlibatan perempuan di masyarakat :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Wahai Nabi, apabila datang kepdamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah&#8230;&#8230;..dan terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”[6]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tidak hanya berupa seruan teks, Nabi Muhammad saww secara langsung mengajarkan bagaimana menempatkan posisi perempuan dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak sedikit tokoh perempuan yang kemudian bergerak di bidangnya. Misalnya, ada Ummu Khair yang bergelar oratur ulung Shiffin, Ummu Khalid perawi hadits terkemuka dan ada pula seorang pejuang pemberani, Umaymah dari kabilah al-Ghiffari serta masih banyak nama-nama lainnya.[7] Lebih dari itu, nama Fathimah as dan Zainab as merupakan penghulu dalam berbagai bidang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Di sinilah, penelusuran pandangan Imam Khomeini menemukan relevansinya. Imam, sebagai sosok yang berupaya meneladani sifat serta perilaku Nabi saww, menyerap pesan yang digulirkan oleh Rasulullah saww serta manusia suci lainnya dalam berbagai aspek, termasuk persoalan seputar perempuan. Menurut Imam Khomeini, keberadaan perempuan memiliki andil besar dalam membangun sebuah masyarakat, baik secara fisik maupun spiritual. Imam Khomaini menjelaskan :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Dalam Pandangan Islam, wanita memiliki peranan penting untuk membangun sebuah masyarakat. Islam menjunjung tinggi wanita serta memposisikan kembali kemanusiaannya di tengah masyarakat&#8230;..”[8]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Apakah maksud Imam dengan “memposisikan kembali kemanusiaan perempuan?” Pada pernyataan Imam lainnya, terkandung penafsiran bahwa perempuan berhak memperoleh keadilan peran dalam melakukan aktivitas di tengah masyarakat. Perempuan dapat berdampingan dengan laki-laki sebagaimana kesatuan sistem yang saling berhubungan dan melengkapi satu sama lain. Masing-masing tidak boleh saling merendahkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Dalam undang-undang Islam, wanita (sebagai manusia) dapat ikut serta secara aktif untuk membangun sebuah masyarakat, mereka berdampingan dengan pria. Wanita tidak boleh turun dalam kedudukannya pada tingkat yang lebih rendah. Demikian halnya pria juga tidak boleh memandangnya secara rendah pula”[9]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Lebih jauh, tawaran Imam khomeini berkenaan dengan peran perempuan ini, dapat diturunkan ke dalam beberapa bidang seperti pendidikan, politik dan ekonomi. Sebagaimana dalam pernyataannya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Kami merasa bangga bahwa perempuan tua, muda, besar, kecil berperan aktif pada bidang budaya, ekonomi serta keamanan setara dengan laki-laki bahkan lebih baik di jalan Islam seiring dengan tujuan Qur’an.”[10]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Peran dalam Pendidikan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ada beberapa hal menarik yang dikemukakan Imam sehubungan dengan peran perempuan dalam pendidikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Pertama, tujuan dari sebuah proses pendidikan adalah mengantarkan manusia pada derajat ketakwaan. Sebagaimana seruannya:“Berusahalah untuk memperoleh ilmu dan takwa”. Dalam redaksi lain, Imam juga menekankan bahwa pendidikan harus mengantarkan manusia tidak hanya pada sisi materi, tetapi juga kebahagiaan hakiki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kedua, Imam memandang bahwa pendidikan merupakan hak bagi setiap orang, baik perempuan maupun laki-laki. Imam di sini menekankan adanya kesetaraan pendidikan. “Perempuan kini, seperti halnya laki-laki, hendaklah terlibat dalam berbagai bidang serta memasuki bidang secara tepat seperti belajar dan mengajar”[11]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ketiga, pendidikan menurut Imam Khomeini dapat bermakna luas, yaitu mendidik masyarakat maupun mendidik anggota keluarga. Dalam konteks ini, perempuan diperbolehkan bahkan sangat disarankan untuk terlibat dalam proses belajar-mengajar di luar lingkup keluarga, baik formal maupun non formal. Baik sebagai pengajar resmi di sebuah instansi, ataupun sebagai mubaligh di berbagai daerah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Keempat, dalam pandangan Imam Khomeini, proses pendidikan haruslah berkesinambungan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Saya berharap kepada para pendidik dan pengajar, baik pria maupun wanita, di manapun mereka berada, demikian juga pada kalangan akademis serta ulama, agar mereka menganggap sebagai pelajar dan pengajar pada saat yang sama”.[12]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kelima, jenis pendidikan apapun yang tengah dijalani, dilakukan secara profesional. Di sini, ukuran yang digunakan bukan lagi gender. Tetapi kapasitas serta kapabilitas. “Jika kalian mengemban tanggung jawab pendidikan&#8230;.maka kalian harus mendidik mereka dengan baik&#8230;.Hendaklah setiap kelompok masyarakat di manapun mereka berada menjalankan tugasnya sebaik mungkin”.[13]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Catatan menarik lainnya yang disampaikan oleh Imam Khomeini adalah bahwa keterlbatan perempuan dalam bidang pendidikan, tidak hanya terbatas pada mempelajari ilmu-ilmu agama. Tetapi, perempuan juga dapat mendalami berbagai disiplin ilmu lainnya, seperti teknologi, kedokteran, ilmu sosial serta seni dan budaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Peran dalam Politik dan Ekonomi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Imam Khomeini memandang, persoalan politik tidak hanya hegemoni laki-laki, perempuan pun bisa terlibat didalamnya. Seperti dalam pernyataannya :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Persoalan politik tidak hanya milik kelompok tertentu, seperti halnya ilmu juga tidak dikhususkan untuk golongan tertentu. Jika laki-laki terlibat dalam persoalan politik serta menjaga masyarakatnya, maka hendaknya perempuan juga setara dengan laki-laki dalam aktivitas sosial kemasyarakatan dan politik.[14]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Lingkup politik yang dimaksud, mencakup pula peran langsung dalam lembaga eksekutif, legislatif maupun partisipasi dalam pemilu. Menurut Imam Khomeini, keterlibatan perempuan dalam keputusan politik merupakan hak natural. Dalam salah satu pernyataannya Imam meyebutkan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Wanita memiliki hak untuk memilih. Kita meyakini hak-hak ini lebih dari yang diyakini Barat&#8230;.Wanita memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, memilih serta dipilih ”[15]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tampaknya, ada empat pandangan penting Imam Khomeini terhadap aktivitas politik perempuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Pertama, gerakan politik perempuan memiliki peran penting dalam melakukan sebuah perubahan. (bangsa yang melibatkan perempuan dalam demonstrasi akan memperoleh kemenangan). Kedua, Perempuan sebagaimana laki-laki, hendaknya bertanggung jawab terhadap berlangsungnya sebuah tatanan pemerintah yang adil. Ketiga, perempuan memiliki hak untuk ikut serta dalam keputusan politik. Keempat, keterlibatan politik perempuan merupakan sebuah keharusan agama dan budaya.[16]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sedangkan di bidang ekonomi, perempuan juga dapat berkiprah dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat melalui kerja. Pekerjaan yang dilakukan perempuan dapat dikategorikan ke dalam dua bentuk, pekerjaan di dalam rumah dan di luar rumah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Menurut Imam Khomeini, perempuan dapat memilih pekerjaan yang layak baginya baik di dalam maupun di luar rumah. Imam menyebutkan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Mengapa kita menentang pendidikan bagi perempuan? Mengapa kita tidak sepakat dengan perempuan yang bekerja? Mengapa perempuan tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan di lingkup pemerintahan? Mengapa kita menolak perempuan untuk bepergian? Perempuan sebagaimana laki-laki memiliki hak memilih, tidak ada bedanya dengan laki-laki”.[17]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Batasan Aktivitas di Masyarakat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Menurut pandangan Imam Khomeini, adakah batasan serta ketentuan perempuan dalam melakukan aktivitas di masyarakat? Jika ada, sejauh mana batasan tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita akan menilik pendapat Imam pada beragam aspek. Imam khomeini, pada kesempatan lain menekankan urgensi kehadiran perempuan di tengah keluarga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Jika anak dijauhkan dari pangkuan ibunya, maka ia akan tumbuh menjadi anak yang membuat masalah bagi orang lain di mana pun ia berada. Dan jika ia tumbuh sebagai anak yang membuat masalah, ia akan membawa banyak kerusakan. Sesungguhnya banyak tindakan kriminal yang diakibatkan oleh problem ini yang terdapat pada anak-anak”.[18]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dari pernyataan di atas, jelaslah bahwa perempuan memiliki pengaruh besar dalam menentukan perkembangan serta masa depan anak-anak. Maka, kehadirannya di tengah keluarga menjadi sedemikian penting. Nampaknya, sepintas lalu terlihat adanya kontradiksi antara pendapat Imam yang mendukung aktivitas di masyarakat dengan pendapat yang menekankan pentingnya peran di dalam keluarga. Barangkali dengan menyimak penjelasan Imam lainnya, kita akan mendapat pemahaman yang lebih holistik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Berusahalah kalian dengan sungguh-sungguh untuk menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kalian dan menjadi penasehat baik bagi masyarakat serta bantulah orang yang memerlukan pertolongan dari kalangan mustadh’afin&#8230;..”.[19]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Maka, dapat ditarik benang merah bahwa urgensi perempuan di dalam keluarga, tidak menghalangi perempuan untuk berkiprah di tengah masyarakat. Bahkan, keduanya dapat saling beriringan. Kualitas interaksi dengan anak, kecermatan membaca situasi dan kondisi adalah di antara faktor katalis yang dapat merekatkan dua tesis di atas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Persoalan lain, yang masih menyisakan tanda tanya besar adalah, bagaimana ketentuan hubungan antara perempuan dan laki-laki yang bukan muhrim? Apakah tidak akan menimbulkan fitnah? Mekanisme hubungan yang sehat ini tentu saja dapat terjalin dengan pemahaman kedua belah pihak, baik laki-laki maupun perempuan, misalnya dengan konsep “menjaga pandangan”. Di samping itu, bagi perempuan diwajibkan untuk mengenakan hijab secara sempurna. Imam menyebutkan:“Wanita-wanita bebas memilih pekerjaan dan masa depan mereka, demikian juga jenis pakaian dengan tetap menjaga tolak ukur Islami”[20]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Penutup</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tidak dapat dipungkiri, keterlibatan perempuan di masyarakat memberikan kontribusi besar dalam membangun sebuah masyarakat dan bangsa. Perempuan yang memilih berperan secara langsung di masyarakat tidak lantas terbebas dari berbagai ketentuan agama. Islam, memiliki seperangkat etika untuk mengontrol perilaku manusia, secara individu maupun masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Etika bermasyarakat yang diserukan di dalam Islam di antaranya: Pertama, mengindahkan norma pergaulan lawan jenis. Kedua, mengenakan pakaian sesuai ketentuan syari’ah. Ketiga, cerdas dalam menentukan prioritas baik waktu maupun keserasian aktivitas, sehingga terjadi keseimbangan antara peran di dalam keluarga dan di tengah masyarakat. Akhirnya, aktivitas apapun yang disumbangkan oleh anak manusia, laki-laki maupun perempuan tidak lepas dari tujuan utama penciptaan manusia yaitu menyampaikan diri dan masyarakatnya pada kesempurnaan hakiki. Wallahu’alam.[]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[1] Lebih jauh pandangan Imam Khomeini tentang sisi persamaan dan perbedaan ini, dapat dilihat dalam buku Imam Khomeini va Ulguhoye Din Shenosi Dar Mas’ale-ye Zanon, karya Ziya, Mortazavi hal. 38-50</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[2] Al-Khomeini, Ruhullah, Sahifah Nur, jilid 3 hal. 49</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[3] Ayat lain yang menjelaskan tentang penciptaan manusia (Q.S. 49:13), (Q.S. 7:89). Sedang ayat yang menjelaskan persamaan taklif (Q.S. 3:195 ), (Q.S. 4: 124), (Q.S. 16:97).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[4] Al-Khomeini, Ruhullah, opcit, jilid 14 hal. 23.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[5] Salah satunya adalah Ayatulah Javadi Amuli.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[6] Terjemahan Departeman Agama (Q.S. 60:12)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[7] Penjelasan lebih lanjut bisa dirujuk pada buku Zan dar Oyene Jamol va Kamol karya Ayatulah Javadi Amuli hal. 304-323. Bandingkan juga dengan pendapat Mehdi Mehrizi dalam bukunya Zan dar Andisye Eslam dimuat dalam Jurnal Banuwone Syi’ah hal. 147-148.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[8] Disampaikan oleh Imam pada pertemuan dengan Lembaga Amnesti Iternasional, selengkapnya dapat dirujuk pada buku Makoanah al-Mar’ah fi fikr al-Imam al-Khomeini edisi terjemahan hal. 92.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[9] Ibid hal. 91.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[10] Al-Khomeini, Ruhullah, opcit, jilid 21, hal. 379.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[11] Al-Khomeini, Ruhullah, Tahrirul Wasilah, jilid I hal. 486.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[12] Makanah al-Mar’ah fi fikr al-Iam al-Khomeini, edisi terjemahan hal.100.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[13] Ibid hal. 99.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[14] Al-Khomeini, Ruhullah, Shahifah Nur, jilid 18, hal. 403.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[15] Makanah al-Mar’ah fi fikr al-Iam al-Khomeini, edisi terjemahan hal. 96.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[16] Ilham Bagir, Perempuan Dunia Islam, Makalah Terpilih Seminar ke-3, hal.75.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[17] Al-Khomeini, Ruhullah, opcit,jilid 4, hal.103-104.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[18] Makanah al-Mar’ah fi fikr al-Iam al-Khomein,i edisi terjemahan hal. 164.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[19] Ibid hal. 160.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[20] Ibid hal. 116 . Adapun tolak ukur Islam yang dimaksud adalah menjaga hijab sebagaimana dalam pernyataan Imam “Wanita yang berdandan secara mencolok tidak boleh bekerja di kantor-kantor Islam, wanita boleh bekerja, asalkan ia tetap menggunakan hijab&#8230;&#8230; ”.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/340/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=340&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/29/islam-dan-peran-perempuan-di-masyarakat-perspektif-imam-khomaini-ra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hak Hak Wanita dalam Perspektif Imam Khomeini [ra]</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/29/hak-hak-wanita-dalam-perspektif-imam-khomeini-ra/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/29/hak-hak-wanita-dalam-perspektif-imam-khomeini-ra/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jan 2009 16:05:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=337</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu koresponden Jerman bertemu dan mewancarai Imam. Di bertanya, “Kami mendengar kalau Tasyayyu’ (baca: Syiah) menolak pola yang tidak sesuai dengan pola keberagamaan ?”. Imam menjawab, “Tasyayyu’ adalah aliran revolusioner dan penerus agama Muhammad saww, begitu pula pengikutnya yang selalu menjadi bahan (obyek) teror para pengecut dan penjajah. Tasyayyu’ bukan hanya tidak menolak peranan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=337&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span lang="IN">Salah satu koresponden Jerman bertemu dan mewancarai Imam. Di bertanya, “Kami mendengar kalau Tasyayyu’ (baca: Syiah) menolak pola yang tidak sesuai dengan pola keberagamaan ?”. Imam menjawab, “<em>Tasyayyu’</em> adalah aliran revolusioner dan penerus agama Muhammad saww, begitu pula pengikutnya yang selalu menjadi bahan (obyek) teror para pengecut dan penjajah. <em>Tasyayyu’</em> bukan hanya tidak menolak peranan wanita dalam bidang-bidang kehidupan bahkan dalam kehidupan sosial politik selalu memposisikan wanita pada tempat yang tinggi. Kami menerima kemajuan Barat tapi tidak untuk kejahatan yang mereka sendiri teriakkan untuk itu”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> <span id="more-337"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;" lang="IN">Hak Hak Wanita dalam Perspektif Imam Khomeini [ra]</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN">Oleh: Khairi Fitrian Jamalullail</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dengan menganalisa sejarah di sepanjang abad yang berbeda-beda, kita melihat peremehan terhadap masalah hak-hak kemanusiaan dan sosial serta kezaliman yang terjadi terhadap wanita. Bahkan sebelum munculnya revolusi Industri di Eropa, wanita belum memiliki hak sosial dan politik yang berarti. Bukan hanya itu, para pemuka agama Kristen di Eropa pun menjustifikasi ketidakadilanterhadap wanita ini dengan alasan-alsan teologis. Namun di abad-abad terakhir, muncullah kebangkitan pembelaan hak-hak wanita dan dimulailah era baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kebangkitan-kebangkitan yang muncul akibat dua perang dunia dan kemudian muncullah kelahiran gerakan baru di sekitar tahun tujuh puluhan. Pergerakan wanita tersebut lebih di kenal denga gerakan feminisme.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Feminisme lahir dalam berbagai macam pandangan seperti adanya kezaliman terhadap wanita (dalam segala bidang) yang biasa dijadikan sebagai tolok ukur bangkitnya gerakan feminisme. Namun penjelasan mereka tentang sebab terjadinya kezaliman dan langkah-langkah solusi, serta ide-ide yang mereka kemukakan berbeda-beda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Para pemikir Feminis berkeyakinan dunia akan adil jika wanita bangkit untuk mengambil hak-hak mereka. Meskipun mereka mengemukakan argumentasi secara ilmiah, namun sering tejadi kesalahan persepsi yang menyebabkan penyelewengan pemahaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Walaupun wanita Islam di jamin oleh argumentasi teologis dan rasional untuk memperoleh hak-hak mereka di berbagai macam bidang kemasyarakatan seperti sosial, politik, budaya dan lain sebagainya, akan tetapi mereka memang dituntut untuk lebih memperhatikan masalah rumah tangga dan keluarga, sehingga seringkali secara alamiah terjadi pembatasan ruang gerak dan aktifitas mereka di ruang publik. Untuk itu para wanita Islam pun mencoba mencari jalan keluarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Permasalahan hak-hak wanita terkadang juga menyebabkan pembenaran di berbagai macam segi tanpa melihat kultur dan agama. Sehingga terkadang banyak dikhawatirkan oleh ulama. Hal yang sering disayangkan adalah penentangan para pembela hak wanita terhadap ulama yang berupaya menempatkan hak-hak wanita dalam lingkup budaya dan etika agama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Perlu diingat bahwa kehadiran para wanita di berbagai bidang kemasyarakatan menjadi hal penentu, paling tidak pembahasan masalah wanita memiliki tempat bagi seluruh masyarakat. Lebih dari itu, problem ini sudah mendunia bukan masalah yang lokal sifatnya. Salah satu hasil dari revolusi Islam adalah mampu mendobrak pandangan baru tentang wanita, hak-hak dan peranannya dalam masyarakat sesuai dengan kebutuhan zaman dan kemajuan dalam kemasyarakatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Pemikiran dan pandangan mengenai hak-hak wanita lebih tampak ketika revolusi Iran digaungkan dan Imam Khomeinilah pemimpin yang menjadi pelopor itu semua.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Pada 24 Aban 1357 HS tahun Iran (1979 M), salah satu koresponden Jerman bertemu dan mewancarai Imam. Di bertanya, “Kami mendengar kalau <em>Tasyayyu’</em> (baca: Syiah) menolak pola yang tidak sesuai dengan pola keberagamaan ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Imam menjawab, “<em>Tasyayyu’</em> adalah aliran revolusioner dan penerus agama Muhammad saww, begitu pula pengikutnya yang selalu menjadi bahan (obyek) teror para pengecut dan penjajah. <em>Tasyayyu’ </em>bukan hanya tidak menolak peranan wanita dalam bidang-bidang kehidupan bahkan dalam kehidupan sosial politik selalu memposisikan wanita pada tempat yang tinggi. Kami menerima kemajuan Barat tapi tidak untuk kejahatan yang mereka sendiri teriakkan untuk itu”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Imam dalam cuplikan wasiatnya mengatakan penghalang wanita untuk tampil bersumber dari rencana jahat musuh dan teman-teman yang tidak memahami hukum Islam dan Qur’an, dan menambahkan, juga dari cerita-cerita bohong yang di munculkan oleh musuh untuk kepentingannya dan sampai ketangan orang-orang yang bodoh dan sebagian pelajar agama yang tidak mendapatkan informasi tentang itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Hak-Hak Kemanusiaan Wanita</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Wanita harus memiliki hak-hak kemanusiawian yang sesuai dengan realitasnya. Terkadang hak yang didapat oleh laki-laki tak bisa didapat oleh wanita atau terkadang bisa diraih tapi dalam bentuk yang tidak sempurna atau hanya sebagian saja. Hal ini sama dengan intimidasi hak dan bertentangan dengan kemanusiaan serta hukum Tuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Imam di dalam hal “persamaan” antara pria dan wanita mengatakan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Islam memiliki pandangan khusus terhadap wanita. Islam pertama muncul di jazirah Arab dimana wanita pada masa itu seperti barang dagangan dan perbedaan status yang sangan jauh dengan lelaki. Akan tetapi Islam datang untuk menghapus itu semua dan Islam datang untuk “menyamakan” mereka dengan laki-laki. Beliau menambahkan juga, “wanita dan laki-laki memiliki hak yang sama dalam menentukan masa depannya dan kami ingin wanita sampai pada kedudukan yang tinggi dan wanita harus mampu untuk itu”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Pada wawancara surat kabar Belanda dalam menjawab pertanyaan koresponden</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Apa hak-hak wanita di dalam Negara Islam?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Imam mengatakan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">” Dari sisi hak kemanusiaan (sisi insaniyyah nya) tidak ada beda antara hak lelaki dan wanita, karena dua-duanya adalah manusia dan mereka memiliki hak dalam menentukan masa depannya masing-masing. Dan sebagian hal yang berbeda dari mereka tidak ada hubungan dengan sisi kemanusiaannya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Berusahalah dalam meraih ilmu dan ketaqwaan, karena ilmu adalah milik bersama tanpa pengecualian. Sekarang para wanita menjadi partner dalam belajar atau hal lainnya di dalam semua bidang ilmu pengetahuan begitu juga industri.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Apakah wanita bisa sampai pada tahap ijtihad? Dan apa peranan wanita di dalam negara Islam?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Beliau menjawab:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">”Ada kemungkinan wanita sampai pada tahap ijtihad tapi tidak bisa menjadi marja’ taqlid untuk orang lain. Di dalam aturan Islam wanita memiliki hak yang sama dengan lelaki seperti hak belajar, mengajar, bekerja, kepemilikan, hak memilih, hak dipilih, sehingga di setiap bidang, dimana lelaki memiliki hak untuk itu wanita pun memilikinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Wanita juga memiliki hak berpolitik dan inilah tugas mereka. Seluruh wanita dan laki-laki harus masuk dalam masalah sosial, politik bahkan harus menjadi pemantau perkembangan politik yang ada, dan tidak hanya itu mereka juga di tuntut untuk menyumbangkan ide-ide mereka”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Sekarang wanita harus melaksanakan tugas sosial dan agama mereka dan menjaga kehormatan umum dan di bawah kehormatan tersebut mereka melakukan urusan sosial dan politiknya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">”Wanita di dalam urusan sosial politiknya harus menjadi partner para lelaki, dengan syarat menjaga hal-hal yang telah di atur dalam Islam”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Pandangan Imam tentang Karir dan Pekerjaan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Provokasi jahat sedemikian rupa menyalahartikan kebebasan wanita sehingga mereka menyangka Islam datang hanya memerintahkan wanita diam dirumah saja”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kenapa kita mesti menentang kalau wanita belajar? Kenapa kita mesti menentang kalau wanita bekerja? Apakah wanita tidak mampu melakukan pekerjaan kenegaraan?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Seluruh aktifitasnya ada di dalam ikhtiyar mereka, mereka bebas menentukan masa depannya” [1]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Menjadi jelaslah bahwa Islam menempatkan wanita dalam kedudukan yang tinggi sama dengan laki-laki. Dari sisi insaniyyah-nya wanita dan laki-laki adalah sama, tidak ada penghalang dikarenakan perbedaannya dalam meraih kedudukan yang tinggi disi Allah. Di dalam Islam kita telah mengenal Sayyidah Fatimah Azzahra (putri Rasulullah) yang membela dan mendampingi perjuangan Ayahnya, Sayyidah Maryam yang dengan kelembutannya menjaga sang kekasih Allah, Isa Almasih, juga Sayyidah Asiah (istri Firaun) yang dengan kesabarannya bisa terjaga dari pengaruh buruk Firaun. []</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Catatan Kaki:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[1] Ucapan-ucapan Imam Khomaini diambil dari Majalah Payam Khonewodeh No: 52 hal 14 Urdibhest 1384 Hs</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/337/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=337&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/29/hak-hak-wanita-dalam-perspektif-imam-khomeini-ra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perempuan dalam Perspektif Agama Samawi</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/29/perempuan-dalam-perspektif-agama-samawi/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/29/perempuan-dalam-perspektif-agama-samawi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jan 2009 16:01:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=334</guid>
		<description><![CDATA[Dalam ajaran Injil ulangan 25: 11-12 yang memerintahkan kita untuk memotong tangan perempuan yang menolong suaminya. Sementara dalam &#8220;Keluaran 21:7. Anda akan mendapat informasi bahwa seorang laki-laki dapat menjual anak perempuannya” . Sehingga Marthin Luther pendiri Mazhab Protestan berpesan agar menjauhkan perempuan dari tempat pelajaran, sebab tidak ada gunanya mendidik perempuan. Akhirnya Paus Cregorius VII [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=334&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span lang="IN">Dalam ajaran Injil ulangan 25: 11-12 yang memerintahkan kita untuk memotong tangan perempuan yang menolong suaminya. Sementara dalam &#8220;Keluaran 21:7. Anda akan mendapat informasi bahwa seorang laki-laki dapat menjual anak perempuannya” . Sehingga Marthin Luther pendiri Mazhab Protestan berpesan agar menjauhkan perempuan dari tempat pelajaran, sebab tidak ada gunanya mendidik perempuan. Akhirnya Paus Cregorius VII memberi keputusan,“Para padri Kristen dilarang keras beristri, karena meraba tubuh perempan itu najis”. Dan dalam ajaran Yahudi, martabat wanita sama dengan pembantu. Ayah berhak menjual anak perempuan kalau ia tidak mempunyai saudara laki-laki. Ajaran mereka menganggap wanita sebagai sumber laknat karena dialah yang membuat Adam terusir dari Surga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> <span id="more-334"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;" lang="IN">Perempuan dalam Perspektif Agama Samawi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN">Oleh: Sekha al-Idrus</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Prolog</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Pandangan dunia dan ideologi manusia berkaitan erat dengan pandangan dunia dan ideologi yang disodorkan oleh agama yang dipeluknya. Dalam berbagai hakikat wujud dan substansi yang dimilikinya, pemeluk suatu agama mempunyai perspektif terhadap agama berupa serapan pikiran atas apa yang dibaca atau didengarnya. Ketika proses penerimaan kebenaran terhadap konsep agama tidak dibarengi dengan koreksi dan kritik maka kemungkinan kesalahan memperspektifkan berbagai subtansi wujud akan semakin melebar. Di saat konsep yang sudah menjadi keyakinan atau masih dalam proses berpikir tidak sesuai dengan kenyataan dan kejadian (<em>alam misdaq</em>) maka, sudah pasti manusia akan tergiring jauh dari hakekat wujud dan terjerumuslah ia dalam dunia khayal, kehampaan dan berbagai kesalahan. Dan akar kesalahan dalam keyakinan terhadap idealitas wujud adalah kesalahan dalam memperspektifkannya.Kesalahan perspektif terhadap konsep di dalam Islam telah sampai pada pembahasan perempuan, yang oleh sebagian kalangan masih dianggap tabu. Walaupun pembahasan perspektif gender dalam Islam telah muncul sejak kelahirannya, namun ketika terjadi benturan dengan tuntutan sosial misalnya, diskursus ini ramai dibicarakan kembali. Banyak hal yang harus diluruskan dalam persepsi masyarakat tentang perempuan terutama anggapan kaum laki-laki lebih utama daripada kaum perempuan. Banyak kalangan yang berbicara tentang ketimpangan sosial berdasarkan jenis kelamin. Islam tidak sejalan dengan paham patriarki yang tidak memberikan peluang bagi perempuan untuk berkarya lebih besar di dalam atau di luar rumah. Al-Qur’an tidak mengenalkan konsep dosa warisan dari ibu-bapak umat manusia (Hawa dan Adam) dalam skandal buah terlarang, melainkan itu tanggung jawab bersama keduanya. Perbedaan anatomi fisik dan biologis antara laki–laki dan perempuan tidak mengharuskan adanya perbedaan status dan kedudukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Salah satu langkah membersihkan pikiran dari kesalahan berperspektif terhadap suatu substansi wujud—yang dikenalkan oleh agama atau agama berperan dalam menjelaskan eksistensi wujudnya—dengan mengadakan kajian perbandingan antara berbagai argumentasi agama dalam suatu topik bahasan. Langkah ini mesti didahului oleh penjelasan ukuran kebenaran dan kesalahan suatu argumentasi, supaya mudah bagi kita menentukan mana dalil yang tepat dan memuat perspektif yang benar di antara agama samawi tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ilmu Logika menjelaskan standar kebenaran suatu argumentasi, ditandai oleh kesesuaiannya dengan fakta kejadian di realita (<em>alam misdaq</em>). Dengan membandingkan korelasi <em>mafhum maudhu</em> dan <em>mahmul </em>suatu premis dengan <em>misdaq</em>-nya, kita dapat mengecek kebenaran sebuah argumentasi. Dalam artikel ini, dipaparkan beberapa topik pilihan dengan argumentasi dari agama Yahudi, Nasrani (Kristen) dan Islam mengenai perempuan, disertai koreksi atas muatan kebenarannya. Diharapkan pembaca lebih mudah mempresepsikan mana unsur keyakinan yang benar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Urgensi sebuah keyakinan tidak dapat dipungkiri oleh siapapun. Bahkan Tuhan Yang Maha Kuasa, melihat dan menilai kredibilitas amal manusia berdasarkan keyakinan dan niatnya dalam beramal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8220;Ilahi bukakan mata hati kami untuk mengenal lebih terperinci kebenaran agama-Mu, sehingga dengan itu kami dapat menuju kepada kedekatan diri kepada-Mu sebagai esensi penghambaan kami terhadap-Mu &#8230;. âmîn yâ Rabbal Alamîn &#8220;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Wanita dalam Pandangan Agama</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sebelum menganalisa lebih jauh tentang tentang kedudukan wanita dalam Islam, dalam makalah ini akan dijelaskan secara sekilas pandangan dari berbagai agama sebagai bahan studi komperatif. Sumber yang dijadikan pijakan pertama adalah posted mailist yang memang keakuratannya masih patut dipertanyakan. Akan tetapi pendapat yang muncul dalam mailist disertai juga dengan sumber yang disepakati sebagai rujukan. Ini bukan hanya sekedar untuk mengobati kekahawatiran, tetapi merupakan tuntutan dalam diskusi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dari berbagai pandangan yang muncul tersebut kemudian penulis mencari literatur Islam yang berkaitan dan mencoba menganalisanya dengan pendekatan al-Qur’an berdasarkan kitab-kitab tafsir yang ada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Yang mencolok di sini adalah kutipan terhadap sub topik wanita dalam pandangan Agama Katolik dan Yahudi, menstrual taboo dan perspektif gender dalam Islam yang kami ambil dari Jurnal Paramadina. Akan tetapi kutipan tersebut semata-mata hanya dijadikan acuan dalam studi perbandingan sekaligus melengkapi berbagai sudut pandang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Wanita dalam Pandangan Agama Katholik dan Gereja</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Pertanyaan dan jawaban dari sebuah mailist[1]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Mohon penjelasan pada Romo atau saudara-saudara seiman tentang hal-hal berikut ini. Karena terus terang saya melihat kedudukan dan posisi perempuan tidak sebaik posisi dan kedudukan pria. Apalagi dari buku-buku yang saya baca hal tersebut dilanggengkan oleh mitos &#8220;Hawa Penyebab Dosa&#8221;. Benarkah pendapat-pendapat tersebut? Bagaimanakah sebenarnya kedudukan wanita dan pria dalam pandangan Katholik dan Gereja (Mohon penjelasan dan tanggapan secepatnya).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ini adalah jawaban dari al-Kitab (Saya sadur dari komentarnya Mas Yudhi).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">1. &#8220;Tidaklah Adam yang tertipu tapi Hawalah yang tertipu, sehingga ia termasuk dalam kesalahan&#8221;.( I Timotius 2 : 4 ).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Inilah tuduhan abadi Injil terhadap perempuan. Bukankah mereka berdua sama-sama memakan buah terlarang itu? Padahal menurut al-Qur’an keduanya sama-sama bersalah, kemudian tobat dan diampuni oleh Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">2. &#8220;Adapun perempuan itu belajar dengan senyapnya dan bersungguh-sungguh merendahkan dirinya, tetapi Aku tidak mengijinkan seorang perempuan mengajar dan memerintah atas laki-laki, melainkan hendaklah ia berdiam diri &#8220;.( I Timotius 2: 11-12 )</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Masih adakah orang Kristen yang mau melaksanakan perintah Injil tersebut? Coba bayangkan kalau sekiranya orang-orang Kristen benar-benar melaksanakan dogma itu, tentu wanita Kristen itu akan sangat terbelakang. Benarlah kata orang Barat yang mengatakan Kristen maju karena meninggalkan ajaran Injilnya, sedang Islam mundur karena tidak melaksanakan ajaran al-Qur’an.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">3. &#8220;&#8230;demikianpun hendaknya segala istri tunduk kepada suaminya dalam tiap-tiap perkara&#8221;.( I Ep. Esus 22-24 ).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Benarkah seorang istri harus mengikuti segala perintah suaminya, walaupun dalam hal kejahatan? Silakan renungkan sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">4. &#8220;Tidaklah laki-laki itu diciptakan untuk perempuan tetapi perempuan itulah yang diciptakan untuk laki-laki &#8220;.( Injil Korintus 11:9 ).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Inilah biang tidak adanya kesetaraan gender itu. Bukankah laki-laki dan perempuan sama-sama membutuhkan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">5. &#8220;Keluaran 21:7. Anda akan mendapat informasi bahwa seorang laki-laki dapat menjual anak perempuannya” .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Apakah anda sekalian sebagai orang Kristen akan sependapat dengan dogma al-Kitab tersebut ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">6. Injil ulangan 25: 11-12 yang memerintahkan kita untuk memotong tangan perempuan yang menolong suaminya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Akankah kita melaksanakannya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">7. Bukankah seorang wanita tidak boleh berbicara atau mengeluarkan kata-kata dalam pertemuan jemaat? Bukankah hal itu merupakan ketidaksopanan? Demikianlah kata Injil 1 Korintus 14 : 34-35. Tapi apakah Injil 1 Korintus 14: 34-35 itu masih punya kekuatan hukum? Bukankah orang-orang yang mengaku fanatik al-Kitab dengan enteng sekali melanggar larangan al-Kitab sendiri? Berapa banyak penginjil, pengkhotbah dan evangelis perempuan saat ini? Di luar hitungan jari. Bukankah mereka selalu melanggar al-Kitab tanpa menyadarinya? Bukankah para dombanya juga ikut andil dalam melanggar al-Kitab?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">8. (Tambahan) Perempuan tidak boleh bekerja (kalau tidak salah dalam Matius ).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Bukankah pemimpin seorang perempuan adalah seorang laki-laki? Tapi mengapa para pengikut setia al-Kitab suka sekali memilih pemimpinnya seorang perempuan. Bukankah al-Kitab menegaskan dalam Injil Korintus 11 : 3 bahwa pemimpin perempuan adalah laki-laki?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Itulah ayat-ayat al-Kitab yang menyebabkan wanita terhina dan terkutuk di dunia Barat selama berabad-abad. Mari kita dengar komentar para cendekiawan Barat:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Grigory The Great berkata,&#8221;Perempuan itu mempunyai bisa seperti jelatang jahat, seperti singa”. Bernhard berkata,“Perempuan itu anggota dari syetan”. Jerome dan Tartahan berkata,“Perempuan itu pintu gerbang syetan”. Paus Jeraum mengatakan,“Perempuan itu pokok kejahatan dan sumber perdayaan”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Marthin Luther pendiri Mazhab Protestan berpesan agar menjauhkan perempuan dari tempat pelajaran, sebab tidak ada gunanya mendidik perempuan. Akhirnya Paus Cregorius VII memberi keputusan,“Para padri Kristen dilarang keras beristri, karena meraba tubuh perempan itu najis”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Wanita dalam Pandangan Yahudi</span></strong><span lang="IN">[2]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam ajaran Yahudi, martabat wanita sama dengan pembantu. Ayah berhak menjual anak perempuan kalau ia tidak mempunyai saudara laki-laki. Ajaran mereka menganggap wanita sebagai sumber laknat karena dialah yang membuat Adam terusir dari Surga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam pandangan pemuka/pengamat Nasrani ditemukan bahwa wanita adalah senjata iblis untuk menyesatkan manusia. Pada abad ke-5 Masehi diselenggarakan suatu konsili yang membicarakan apakah wanita mempunyai ruh atau tidak, akhirnya disimpulkan bahwa wanita tidak mempunyai ruh yang suci. Bahkan pada abad ke-6 Masehi diselenggarakan suatu pertemuan untuk membahas apakah wanita manusia atau tidak. Dari pembahasan itu disimpulkan bahwa wanita adalah manusia yang diciptakan semata-mata untuk melayani laki-laki. Sepanjang abad pertengahan, nasib wanita tetap sangat memprihatinkan, bahkan sampai tahun 1805 Undang-Undang Inggris mengakui hak suami untuk menjual istrinya, dan sampai tahun 1882 wanita Inggris belum juga memiliki hak pemilikan harta benda secara penuh, dan hak menuntut ke pengadilan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ketika Elizabeth Blackwill, dokter wanita pertama di dunia, menyelesaikan studinya di Geneve University pada tahun 1849, teman-temannya yang satu tempat tinggal dengannya melakukan pemboikotan dengan dalih bahwa wanita tidak wajar memperoleh pelajaran. Bahkan ketika dokter Elizabeth bermaksud mendirikan Institut Kedokteran untuk wanita di Philadelphia Amerika Serikat, ikatan dokter setempat mengancam akan memboikot semua dokter yang bersedia mengajar di sana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Demikian selayang pandang kedudukan wanita dalam al-Kitab dan pandangan penganut agama Yahudi dan Nasrani. Di sisi lain, sedikit atau banyak pandangan demikian juga mempengaruhi pemahaman sebagian pakar umat Islam terhadap redaksi petunjuk–petunjuk al-Qur’an sebagaimana akan disinggung berikut ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Asal Penciptaan Perempuan dalam Pandangan Islam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Berbicara mengenai kedudukan wanita dalam Islam, mengantarkan kita untuk terlebih dahulu melihat pandangan al-Qur’an tentang asal kejadian perempuan. Dalam hal ini, salah satu ayat yang dapat diangkat adalah firman Allah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8220;Wahai seluruh manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kamu (terdiri) dari laki-laki dan perempuan dan kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa&#8221;. (Al-Hujurat ayat 13)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ayat ini berbicara tentang asal kejadian manusia dari seorang laki-laki dan perempuan, sekaligus berbicara tentang kemuliaan manusia baik laki-laki maupun perempuan yang dasar kemuliaannya bukan keturunan, suku, atau jenis kelamin, tetapi ketakwaan kepada Allah swt. Memang, secara tegas dapat dikatakan bahwa perempuan dalam pandangan al-Qur’an mempunyai kedudukan terhormat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam hal ini Mahmud Syaltut, mantan Syeikh al-Azhar, menulis dalam bukunya <em>Min Tawjihat al-Islam</em> bahwa:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8220;Tabiat kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan hampir dapat dikatakan sama. Allah telah menganugerahkan kepada perempuan sebagaimana menganugerahkan kepada laki-laki potensi dan kemampuan yang cukup untuk memikul tanggung jawab, dan menjadikan kedua jenis kelamin ini dapat melaksanakan aktivitas-aktivitas yang bersifat umum maupun khusus. Karena itu hukum-hukum syariat pun meletakan keduanya dalam satu kerangka. Yang ini (laki-laki) menjual dan membeli, mengawinkan dan kawin, melanggar dan dihukum, menuntut dan menyaksikan, dan yang itu (perempuan) juga demikian dapat menjual dan membeli, mengawinkan dan kawin, melanggar dan dihukum, serta menuntut dan menyaksikan&#8221;.[3]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ayat al-Qur’an yang populer dijadikan rujukan dalam pembicaraan tentang asal kejadian perempuan adalah firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 1 :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8220;Hai sekalian manusia bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari nafs yang satu (sama). Dan darinya Allah menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Banyak sekali pakar tafsir yang memahami kata nafs dengan Adam, seperti Jalaluddin as-Suyuthi, Ibnu Katsir, al-Qurthubi, al-Biqa&#8217;i, Abu as-Su&#8217;ud, dan lain-lain. Bahkan at-Tabarsi (abad ke-6 Hijriah) mengemukakan dalam tafsirnya bahwa seluruh ulama tafsir sepakat mengartikan kata tersebut dengan Adam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Beberapa pakar tafsir seperti Muhammad Abduh, dalam tafsir al-Manar, tidak berpendapat demikian, begitu juga rekannya al-Qosimi, mereka memahami arti nafs dalam arti &#8220;jenis&#8221;. Namun demikian, paling tidak pendapat yang dikemukakan pertama itu, seperti yang ditulis tim penerjemah al-Qur’an Depertemen Agama R.I, adalah sebagai pendapat mayoritas ulama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dari pandangan yang berpendapat bahwa nafs adalah Adam, dipahami pula bahwa kata zaujaha, yang arti harfiahnya adalah (pasangannya) mengacu kepada istri Adam, yaitu Hawa. Karena ayat di atas menerangkan bahwa pasangan tersebut diciptakan dari nafs yang berarti Adam, para penafsir terdahulu memahami bahwa istri Adam (perempuan) diciptakan dari Adam sendiri. Pandangan ini, kemudian melahirkan pandangan negatif terhadap perempuan, dengan mengatakan bahwa perempuan adalah bagian dari laki-laki, tanpa laki-laki perempuan tidak akan ada. Al-Qurthubi, misalnya, menekankan bahwa istri Adam itu diciptakan dari tulang rusuk Adam sebelah kiri yang bengkok, dan karena itu wanita bersifat auja (bengkok atau tidak lurus).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kitab-kitab tafsir terdahulu hampir sepakat mengartikannya demikian. Pandangan ini agaknya bersumber dari sebuah hadis yang mengatakan: &#8220;Saling pesan-memesanlah untuk berbuat baik kepada perempuan, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok&#8221;. (H.R at-Tirmidzi dari Abu Hurairah ).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Hadis di atas dipahami oleh ulama-ulama terdahulu secara harfiah namun beberapa ulama kontemporer memahaminya secara metafora, bahkan ada yang menolak keshahihan (kebenaran) hadis tersebut. Yang memahami secara metafora berpendapat bahwa hadis di atas memperingatkan para laki-laki agar menghadapai perempuan dengan bijaksana, karena ada sifat, karakter dan kecenderungan mereka yang tidak sama dengan laki-laki. Bila tidak disadari akan mengantarkan kaum laki-laki bersikap tidak wajar, mereka juga tidak akan mampu mengubah karakter dan sifat bawaan perempuan, kalau pun mereka berusaha akibatnya akan fatal, sebagaimana fatalnya meluruskan tulang rusuk yang bengkok.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ide ini, seperti ditulis Rasyid Ridha dalam tafsir al-Manarnya, timbul dari apa yang termaktub dalam Perjanjian Lama (Kejadian II: 21-22) yang mengatakan bahwa ketika Adam tidur lelap, maka diambil oleh Allah sebilah tulang rusuknya, lalu ditutupkan pula tempat itu dengan daging. Maka dari tulang yang telah dikeluarkan dari Adam itu, dibuat oleh Tuhan seorang perempuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8220;Seandainya tidak tercantum kisah kejadian Adam dan Hawa dalam kitab perjanjian lama seperti redaksi di atas, niscaya pendapat yang menyatakan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk Adam tidak pernah akan terlintas dalam benak seorang muslim&#8221;. [4]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Alamah Thabathaba’i (ra) dalam tafsirnya al-Mizan menulis, bahwa ayat di atas menegaskan bahwa:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8220;Perempuan (istri Adam) diciptakan dari jenis yang sama dengan Adam, dan ayat tersebut sedikitpun tidak mendukung paham sementara mufasir yang beranggapan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam. Kita dapat berkata, bahwa tidak ada satu petunjuk yang pasti dari ayat al-Qur’an yang dapat mengantarkan kita untuk mengatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk, atau bahwa unsur penciptaannya berbeda dengan laki-laki”.[5]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Bahkan kita dapat berkata bahwa banyak teks keagamaan mendukung pendapat yang menekankan persamaan unsur kejadian Adam dan Hawa, dan persamaan kedudukannya, antara lain surat al-Isra&#8217; ayat 70,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8220;Sesungguhnya kami telah memuliakan anak&#8211;anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan (untuk memudahkan mereka mencari kehidupan). Kami beri mereka rezki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan &#8220;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tentu kalimat anak-anak Adam mencakup laki-laki dan perempuan, demikian pula penghormatan Tuhan yang diberikan itu mencakup anak-anak Adam seluruhnya, baik perempuan maupun laki-laki. Pemahaman ini dipertegas oleh surat al-Imran ayat 195 yang menyatakan :&#8221;Sebagian kamu adalah bagian dari sebagian yang lain.&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ini juga berarti bahwa sebagian kamu (hai umat manusia yang berjenis laki-laki) berasal dari pertemuan ovum perempuan dan sperma laki-laki dan sebagian yang lain (hai umat manusia yang berjenis perempuan) demikian juga halnya. Kedua jenis kalimat ini sama-sama manusia, dan tidak ada perbedaaan di antara mereka dari segi asal kejadian serta kemanusiaannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Menstrual Taboo</span></strong><span lang="IN">[6]<strong> dan Perspektif Gender dalam Islam</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Di antara kutukan terhadap perempuan yang paling monumental ialah menstruasi. Teologi menstruasi ini kemudian menyatu dengan berbagai mitos yang berkembang dari mulut ke mulut di berbagai belahan bumi. Teologi menstruasi dianggap berkaitan dengan pandangan kosmopolitan terhadap tubuh wanita yang sedang menstruasi. Prilaku perempuan di alam mikrokosmos diyakini mempunyai hubungan kausalitas dengan alam makrokosmos. Peristiwa-peristiwa alam seperti bencana alam, kemarau panjang dan berkembangnya hama penyebab gagalnya panen petani, dihubungkan dengan adanya yang salah dalam diri perempuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Darah menstruasi dianggap darah tabu dan perempuan yang sedang menstruasi, menurut kepercayaan agama Yahudi, harus hidup dalam gubuk khusus atau mengasingkan diri dalam goa-goa, tidak boleh bercampur dengan keluarga, tidak boleh berhubungan seks, dan tidak boleh menyentuh jenis makanan tertentu. Yang lebih penting ialah tatapan mata dari mata wanita sedang menstruasi yang biasa disebut dengan “mata iblis”, harus diwaspadai karena diyakini bisa menimbulkan berbagai bencana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Perempuan harus mengenakan identitas diri sebagai isyarat tanda bahaya manakala sedang menstruasi, supaya tidak terjadi pelanggaran terhadap menstrual taboo.[7]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Adapun kata kosmetik berasal dari bahasa Greek, cosmetikos yang arti dan konotasinya berhubungan erat dengan kata cosmos yaitu perihal keteraturan bumi. Istilah kosmetik yang sekarang ini dipakai untuk alat kecantikan wanita, lebih dekat kepada kata cosmetikos itu, yang berarti sesuatu yang harus diletakkan pada anggota tubuh wanita untuk menjaga terpeliharanya keutuhan lingkungan alam.[8]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dari sinilah asal usul penggunaan kosmetik yang semula hanya diperuntukkan kepada perempuan yang sedang menstruasi. Barang-barang perhiasan seperti cincin, gelang, kalung, giwang, anting-anting, sandal, lipstik, shadow, celak termasuk cadar/jilbab ternyata adalah Menstrual Creations.[9]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kalangan antropolog berpendapat menstrual taboo inilah yang menjadi asal usul penggunaan kerudung atau cadar atau semacamnya, bukan seperti yang dikenalkan oleh agama Islam melalui ayat-ayat jilbab dan hadis-hadis tentang aurat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Jauh sebelumnya sudah ada konsep kerudung/cadar yang diperkenalkan dalam agama Yahudi dan selanjutnya dalam Kristen. Dua agama besar sebelum Islam ini telah mewajibkan penggunaan kerudung bagi kaum perempuan. Yang jelas tradisi penggunaan kerudung, jilbab dan cadar sudah ada jauh sebelum ayat-ayat jilbab diturunkan. Islam men-ta&#8217;yid-kannya dalam rangka menyempurnakan cara penutupan atau hijab syar&#8217;i perempuan Islam. Diskursus mengenai jilbab dalam agama Yahudi pernah lebih seru daripada yang belum lama ini diributkan dalam dunia Islam. Dalam agama Yahudi pernah ditetapkan bahwa membuka jilbab dianggap sebagai suatu pelanggaran yang dapat berakibat jatuhnya talak karena hal tersebut dianggap suatu ketidaksetiaan terhadap suami (&#8230; the women going aut in public places with uncovered constituted legitimate cause for divorce&#8230;).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Asal-usul penggunaan cadar atau kerudung dan berbagai macam kosmetik lainnya, menurut kalangan antropolog, berawal dari mitos menstrual taboo, yaitu untuk mencegah si “mata iblis” dalam melakukan aksinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Penggunaan cadar/kerudung pertama kali dikenal sebagai pakaian perempuan menstrual. Kerudung dan semacamnya juga bertujuan untuk menutupi mata dari cahaya matahari dan sinar bulan, karena hal-hal itu dianggap tabu dan dapat menimbulkan bencana di dalam masyarakat dan lingkungan alam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kerudung dan semacamnya juga dimaksudkan sebagai pengganti gubuk pengasingan bagi keluarga raja atau bangsawan. Keluarga bangsawan tidak perlu lagi mengasingkan diri di dalam gubuk pengasingan tetapi cukup menggunakan pakaian khusus yang menutupi anggota badan yang dianggap sensitif. Dahulu kala perempuan yang menggunakan cadar hanya dari keluarga bangsawan atau orang-orang terhormat, kemudian diikuti oleh perempuan non bangsawan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Peralihan dan modifikasi dari gubuk pengasingan menstrual huts menjadi cadar juga dilakukan di New Guinea, British, Colombia, Asia dan Afrika bagian tengah, Amerika bagian tengah dan lain-lain, bentuk dan bahan cadar juga berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat yang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Selain menggunakan cadar wanita haid juga menggunakan cat pewarna hitam (cilla&#8217;) di daerah sekitar mata guna mengurangi ketajaman pandangan matanya. Ada lagi yang menambahkan dengan memakai kalung dari bahan-bahan tertentu seperti dari logam, manik-manik dan bahan dari tengkorak kapala manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Haid dalam Islam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Istilah menstruasi dalam literatur Islam disebut haid. Kata haid adalah istilah khusus dalam al-Qur’an yang tidak ditemukan dalam teks Taurat dan Injil. Dalam Munjid fi al-Lughah kata haid, tanpa menjelaskan asal-usul dan padanannya, dari kata hâdha-haydhan yang diartikan dengan darah yang keluar dari rahim wanita dalam waktu dan jenis tertentu.[10]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam al-Qur’an ia hanya disebutkan sekali dalam bentuk fi&#8217;il mudhori&#8217;/present and future (yahidh) dan tiga kali dalam bentuk isim masdhar (al-Mahidh), yaitu di dalam surat at-Thalak ayat 4 dan al-Baqarah ayat 222.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dari segi penamaannya, kata haid sudah lepas dari konotasi teologis seperti dalam agama-agama dan kepercayaan sebelumnya. Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 222 menjelaskan masalah haid sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8220;Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang haid, katakanlah: Haid adalah kotoran, oleh karena itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci: apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri&#8221; .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sebab turunnya ayat itu dijelaskan dalam hadis riwayat Ahmad dari Anas, bahwa salah seorang sahabat menanyakan kepada Nabi perihal perempuan Yahudi yang apabila sedang haid, masakannya tidak dimakan dan ia tidak boleh berkumpul bersama keluarga di rumahnya. Nabi diam sebentar dan turunlah ayat tersebut. Setelah ayat itu turun, Rasulullah bersabda: &#8220;Lakukanlah segala sesuatu (kepada istri yang sedang haid) kecuali bersetubuh&#8221;. Pernyataan Rasulullah ini sampai kepada orang-orang Yahudi, akibatnya orang-orang Yahudi dan mantan penganut Yahudi shock mendengarkan pernyataan tersebut. Apa yang selama ini dianggap tabu, tiba-tiba dianggap sebagai hal yang alami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Rasulullah saww dalam banyak kesempatan menegaskan kebolehan melakukan kontak sosial dengan wanita haid.&#8221;Segala sesuatu dibolehkan untuknya kecuali kemaluannya (faraj)&#8221;. Rasulullah dalam riwayat lain bersabda: &#8220;Segala sesuatu boleh untuknya kecuali bersetubuh (al-jima&#8217; )&#8221;. Bahkan Rasul seringkali mengamalkan kebolehan itu dalam bentuk praktek. Riwayat lain yang disampaikan A&#8217;isyah, antara lain A&#8217;isyah pernah minum dalam satu bejana yang sama dengan Rasulullah sedang ia dalam keadaan haid. Ia juga pernah menceritakan Rasul melakukan segala sesuatu selain bersetubuh (jima&#8217;) sementara dirinya dalam keadaan haid, Rasul juga sama sekali tidak memperlihatkan perlakuan taboo terhadap darah haid dan bekasnya yang ada di pakaian A&#8217;isyah. [11]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Demikian beberapa cuplikan masalah perempuan yang sempat dimuat dalam tulisan ini yang dianggap kontroversi dalam ketiga agama besar dunia tersebut. Tetapi pandangan terbaik yang menempatkan perempuan pada posisinya dan menghargai nilai kemanusiaannya, dapat kita lihat dari apa yang diutarakan secara gamblang oleh agama Islam. Tentu saja setelah mengadakan pengkajian, mengingat informasi Islam sejak berangkat dari sumber aslinya, telah melintasi perjalanan panjang sejarah sehingga ketika sampai ke tangan kita nilai keasliannya mungkin saja telah terbungkus berbagai pengaruh teologi lain dan pandangan metafora umat.[]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[1] Re: wanita dalam pandangan Al-kitab.htm, posted by Neta on October 24, 2001.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[2] Koleksi Diskusi Internet Desember ‘97, Quraish Shihab Perempuan (1 – 4 ).htm.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[3] Syaltut, Muhammad, Min Tawjihat al-Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[4] Ridha, Rasyid, Tafsir Al-Manar, IV : 330.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[5] Thabataba’i, Muhammad Husein, Tafsir Mizan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[6] Menstrual Taboo, Jurnal Pemikiran Islam Paramadina. HTML Document.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[7] Thomas Buckley.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[8] Judi Grahn, Blood, Bread and Roses.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[9] Ibid, hal: 89-95.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[10] Lonis Ma’luf, al-Munjid, Beirut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[11] Tafsir al-Qur’an al-Azhim, juz I, hal. 258.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/334/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=334&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/29/perempuan-dalam-perspektif-agama-samawi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Feminisme dan Kesalahan Paradigma</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/03/feminisme-dan-kesalahan-paradigma/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/03/feminisme-dan-kesalahan-paradigma/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 07:16:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=327</guid>
		<description><![CDATA[Di sinilah peran penting para talabeh perempuan di Qom Al Muqaddasah (Iran) ini. Kita para pengikut Ahlul Bait meyakini bahwa Islam, Al Quran, hadis-hadis, dan sunnah yang bersumber dari Ahlul Bait adalah benar adanya. Oleh karena itu, tidak mungkin ada ketidakadilan di dalamnya. Tuduhan-tuduhan atas ketidakadilan Islam, sebagaimana telah saya bahas di atas, berakar pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=327&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span lang="IN">Di sinilah peran penting para talabeh perempuan di Qom Al Muqaddasah (Iran) ini. Kita para pengikut Ahlul Bait meyakini bahwa Islam, Al Quran, hadis-hadis, dan sunnah yang bersumber dari Ahlul Bait adalah benar adanya. Oleh karena itu, tidak mungkin ada ketidakadilan di dalamnya. Tuduhan-tuduhan atas ketidakadilan Islam, sebagaimana telah saya bahas di atas, berakar pada kesalahan paradigma kaum muslim sendiri dalam memandang perempuan, yang bersumber dari kesalahpahaman, pencampuran tradisi dengan agama, kejumudan cara berpikir mereka, serta berkuasanya pemerintahan yang despotik. Keunggulan mazhab Ahlul Bait adalah dasar-dasar mantiq (logika)-nya yang kuat serta keluasan penafsiran filosofisnya atas berbagai hukum. Tanpa penafsiran filosofis, hukum Islam akan dipahami secara salah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span id="more-327"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;" lang="IN">Feminisme dan Kesalahan Paradigma</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN">Oleh: Dina Y. Sulaeman</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sekitar bulan Oktober tahun 2004, masyarakat Indonesia diramaikan oleh kontroversi Draft Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang disusun oleh Departemen Agama RI dalam tim khusus bernama Tim Pengarusutamaan Jender. Tim yang dibiayai oleh The Asia Foundation (yang konon punya link dengan Zionisme Internasional) ini menawarkan rumusan baru fiqih Islam yang diselaraskan dengan karakteristik demokrasi dan pluralisme. Di antara pasal-pasal “pembaharuan” yang mereka susun adalah: asas perkawinan adalah monogami (pasal 3 ayat 1), perempuan bisa menjadi saksi sebagaimana laki-laki (pasal 11), calon istri bisa memberikan mahar (pasal 16), perkawinan beda agama diperbolehkan (pasal 54), bagian warisan untuk anak laki-laki dan anak perempuan sama (pasal 8 ayat 3), dan anak di luar nikah (zina) yang diketahui secara pasti ayah biologisnya tetap mendapatkan hak warisan dari ayahnya (pasal 16 ayat 2). Meskipun pelaksanaan dari draft KHI rancangan Depag ini terjegal oleh kritikan keras dari berbagai ormas-ormas Islam, namun kasus ini seolah menjadi bukti bahwa isu-isu jender dan feminisme memang tak akan berhenti dibicarakan. Silih berganti muncul wacana baru, diskursus baru, sudut pandang baru, yang intinya sama, yaitu memperjuangkan hak-hak perempuan yang tertindas atau dianggap tertindas. Gerakan untuk mengangkat harkat perempuan, yang diberi label gerakan feminisme, seolah menjadi sebuah isu atau gerakan yang bernilai jual tinggi. Kata feminisme seolah menjadi sebuah kata yang melambangkan kemodernan dan kemandirian perempuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sebenarnya apakah feminisme itu? Secara umum, feminisme adalah gerakan untuk mencapai kesetaraan politik, sosial, dan pendidikan antara perempuan dan laki-laki. Gerakan ini muncul pertama kali di Eropa dan AS. Pada abad ke-18, kaum perempuan di sana masih dilarang untuk mengikuti pemilu, memperoleh pendidikan tinggi, atau menerjuni profesi-profesi tertentu (misalnya, Elizabeth Blackwill, dokter wanita pertama di dunia yang lulus kuliah tahun 1849, sempat diboikot teman-temannya dengan dalih bahwa wanita tidak wajar memperoleh pelajaran). Isu-isu yang dikemukakan oleh para feminis Eropa dan AS antara lain adalah hak untuk bekerja di luar rumah, hak untuk mendapatkan pendidikan, kesamaan kewajiban untuk mendidik anak (jadi, tugas mendidik anak tidak hanya dibebankan kepada perempuan saja), hak menggunakan kontrasepsi dan melakukan aborsi, kesetaraan gaji dengan laki-laki, perubahan peran dalam keluarga, dan keterwakilan perempuan dalam politik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Namun demikian, di dalam tubuh gerakan feminisme sendiri ada banyak paham, versi, atau sudut pandang. Ada berbagai aliran feminisme, misalnya feminisme liberal yang bertujuan mencapai kesamaan status antara perempuan dan laki-laki dalam ekonomi dan politik (dalam konteks kapitalisme); feminisme radikal yang arus utama gerakannya menentang patriarki dan menganggapnya sebagai sumber penindasan terhadap perempuan; dan adapula gerakan feminisme marxist yang berusaha mengaplikasikan teori Marxisme untuk memahami sumber penindasan terhadap perempuan dalam sistem kapitalis[2]. Belum lagi bila kita sebut, individual feminism (i-feminism), feminisme sosialis, feminisme borjuis, atau bahkan feminisme Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Konsep-konsep feminisme mulai bersentuhan dengan dunia Islam sejak abad ke-19, seiring dengan menyebarnya imperialisme Barat di negara-negara Arab. Pada tahun 1892, pers perempuan Mesir mulai menyuarakan isu-isu feminisme. Sejak satu dekade sebelumnya, kaum perempuan Mesir, Suriah, dan Libanon telah membaca berbagai majalah Eropa berkenaan dengan feminisme dan mendiskusikan relevansinya terhadap situasi di Timur Tengah. Pada tahun 1899, Qasim Amin dari Mesir menerbitkan buku pertama mengenai feminisme berjudul Tahrirul Mar’ah (Pembebasan Perempuan) sehingga dia disebut sebagai Bapak Feminisme Arab. Dalam bukunya tersebut, Amin mengkritik sebagian praktek yang menyebar dalam masyarakat dengan atas nama Islam, misalnya, poligami, hijab, dan pengasingan perempuan. Dalam berbagai karyanya, Amin mengecam praktek-praktek tersebut sekaligus menyebutnya sebagai tidak Islami dan bertentangan dengan spirit Islam. Sebagai contoh, Qasim menyatakan bahwa kaum perempuan yang berhijab akan lebih terisolir dari pada kaum perempuan yang menanggalkan hijabnya. Karya-karya Qasim Amin sangat berpengaruh besar dalam gerakan politik perempuan di dunia Arab dan Islam. Bahkan, hingga hari ini, karya Qasim Amin masih terus disebut-sebut dan dijadikan rujukan oleh para feminis muslim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Di Indonesia pun, gerakan feminisme memiliki beragam bentuk, mulai dari perlindungan terhadap buruh perempuan, hingga yang ekstrim, hak untuk mempergunakan tubuh secara bebas. Namun, yang paling sering menimbulkan kontroversi adalah gerakan untuk membebaskan perempuan muslim dari “ketidakadilan” fiqih Islam, dan inilah yang akan saya bahas lebih lanjut dalam tulisan ini. Salah satu contoh nyata dari gerakan ini adalah diluncurkannya Draft KHI, sebagaimana yang telah saya bahas di awal tulisan ini. Bahkan, para aktivis feminisme muslim Indonesia membuat sebuah istilah atau wacana baru, yaitu “fiqih perempuan”. Fiqih perempuan yang dimaksud di sini bukanlah fiqhunn-nisaa yang kita bahas di hauzah (yang berbicara seputar jenis-jenis air, cara bersuci, haid, istihadhah, dll), melainkan rekonstruksi fiqih agar sesuai dengan kepentingan perempuan. Dengan kata lain, mereka berusaha mengkritisi berbagai masalah fiqih yang dianggap merugikan atau tidak adil terhadap perempuan, antara lain, apakah perempuan wajib berjilbab, mengapa perempuan hak warisnya setengah, mengapa perempuan tidak boleh menikahkan diri sendiri, mengapa perempuan muslim tidak boleh menikah dengan non-muslim, dsb.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Bila kita membahas lebih dalam mengenai penyebab timbulnya gerakan semacam ini, kita bisa membaginya ke dalam dua sub pembahasan. Pertama, kesalahan paradigma masyarakat muslim sendiri dalam memandang perempuan. Kedua, adanya infiltrasi politik asing yang memang ingin menyerang Islam dengan menggunakan perempuan dan aturan-aturan Islam terhadap perempuan sebagai sasaran tembak. Namun mengingat keterbatasan waktu dan ruang, dalam makalah ini, saya hanya akan meneliti lebih jauh tentang kesalahan paradigma masyarakat muslim dalam memandang perempuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Islam Melakukan Revolusi Terhadap Posisi Perempuan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Adalah sebuah fakta yang nyata bahwa Rasulullah datang membawa sebuah revolusi yang mengangkat harkat martabat kaum perempuan jahiliah pada masa itu. Sebelum diturunkannya risalah Islam, kaum Arab jahiliah memiliki tradisi mengubur hidup-hidup anak perempuan, kaum lelakinya berhak untuk menikahi perempuan berapapun jumlahnya tanpa aturan dan kewajiban untuk berlaku adil, dan kaum perempuan tidak memiliki hak waris. Yang lebih mengerikan lagi adalah adanya jenis-jenis pernikahan yang jelas-jelas mendiskreditkan perempuan. Pertama adalah nikah al-dayzan, yaitu, jika suami seorang perempuan meninggal, maka anak laki-laki tertuanya berhak untuk menikahi ibunya. Jika sang anak berkeinginan untuk menikahinya, maka sang anak cukup melemparkan sehelai kain kepada ibunya dan secara otomatis dia mewarisi ibunya sebagai isteri. Kedua, zawj al-balad, yaitu dua orang suami sepakat untuk saling menukar isteri tanpa perlu adanya mahar. Ketiga adalah zawj al istibda. Dalam hal ini seorang suami bisa dengan paksa menyuruh isterinya untuk tidur dengan lelaki lain sampai hamil dan setelah hamil sang isteri dipaksa untuk kembali lagi kepada suami semula. Dengan tradisi ini diharapkan sepasang suami isteri memperoleh &#8216;bibit unggul&#8217; dari orang lain yang dipandang mempunyai kelebihan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Islam datang untuk menyelamatkan kaum perempuan dan umat manusia dari praktek-praktek yang bertentangan dengan harkat kemanusiaan seperti itu. Islam mengecam keras tradisi penguburan hidup-hidup anak perempuan, memberikan aturan dan tatacara pernikahan secara jelas, serta mengatur secara jelas hak perempuan untuk mendapatkan warisan. Sedemikian pentingnya reposisi perempuan dalam masyarakat muslim, sampai-sampai, dari 114 surat dalam Al Quran, ada satu surat khusus dengan nama perempuan (An-Nisaa) yang membahas mengenai perempuan dan menjelaskan secara rinci hak-hak mereka. Berbagai riwayat juga menyebutkan betapa kaum perempuan pada era Rasul secara aktif hadir dalam majelis-majelis ilmu, pendidikan, bahkan perang. Kaum perempuan juga tidak ragu menyuarakan “protes feminisme” mereka dengan mempertanyakan, apakah pekerjaan mereka di rumah setara dengan jihad yang dilakukan kaum laki-laki di medan perang (pertanyaan yang diajukan Ummu Salamah dan Asma binti Yazid kepada Rasulullah)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Bahkan, lebih jauh lagi, Islam telah merekonstruksi total pemahaman manusia tentang perempuan. Sebagaimana yang diungkapkan Ali Syariati, Muhammad SAWW adalah ahli waris Ibrahim, Nuh, Musa, dan Isa (a.s.), tetapi Fathimah (s.a) adalah satu-satunya ahli waris beliau. Padahal, tradisi Arab saat itu menganggap penerus keturunan hanya laki-laki dan orang-orang yang tidak memiliki anak laki-laki disebut abtar (terputus keturunan). Namun Allah berfirman, “Inna a’thainakal kautsar.“ (Al Kautsar: 1). Dalam pandangan Al Quran, Fathimah (s.a) justru adalah nikmat yang banyak. Bahkan, dalam ayat ke-3 surat Al Kautsar, Allah menyebut orang-orang yang menghina Rasulullah SAWW itulah yang abtar, meskipun mereka mempunyai anak laki-laki. Syariati juga memberikan contoh lain dari revolusi ajaran Islam terhadap perempuan, yaitu menjadikan seorang budak perempuan berkulit hitam (yaitu Siti Hajar), sebagai perempuan yang melahirkan Ismail, yang garis keturunannya akan melahirkan Nabi Muhammad SAWW. Bahkan, kuburan beliau sedemikian mulianya dalam pandangan Islam sehingga berada di sisi Ka’bah, dan setiap jemaah haji ketika bertawaf wajib pula mengelilingi kuburan perempuan suci ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam menyifati Siti Hajar, Syariati menulis, “Tuhannya Ibrahim memilih seorang perempuan di antara sedemikian banyak manusia sebagai tentara-Nya; dia (adalah) seorang ibu dan seorang budak. Dengan kata lain, Tuhan memilih seorang makhluk yang dalam semua sistem manusia, dianggap tidak memiliki kehormatan dan kelayakan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Kesalahan Paradigma Dalam Memandang Perempuan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ironisnya, semakin jauh era Rasulullah berlalu, semakin jauh pula umat Islam dari penghormatan kepada perempuan. Kehidupan perempuan muslim di negara-negara Islam terlihat jelas dalam berada dalam “hegemoni Islam”. Atas nama Islam, kaum perempuan mendapat kesulitan dalam bergaul, mengekpresikan kebebasan individunya, terkungkung oleh aturan yang sangat membatasi ruang kerja dan gerak dinamisnya, dan dalam kancah politik, suaranya tidak begitu diperhatikan atau bahkan diabaikan sama sekali. Fenomena ini terlihat jelas di negara-negara Dunia Ketiga yang umumnya adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Hari ini, kita melihat betapa banyak beredar hadis-hadis yang “merendahkan” perempuan, misalnya “Barangsiapa menuruti istrinya, maka ia masuk neraka”, &#8220;Tidak beruntung satu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan,&#8221; atau &#8220;Aku tak menyaksikan orang yang kurang akal dan agamanya, dibanding perempuan,&#8221; Lalu, seorang perempuan bertanya, &#8220;Apa kekurangan kami ?&#8221; &#8220;Kekurangan akalnya, karena kesaksian dua orang wanita dinilai sama seperti kesaksian seorang pria. Kekurangan agamanya, karena seorang di antara kamu tak puasa di bulan Ramadhan (akibat haid), dan beberapa hari diam tanpa shalat.&#8221; (HR Abu Dawud)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Selain hadis-hadis “populer” tadi, hadis-hadis yang banyak beredar adalah hadis-hadis yang hanya difokuskan kepada perempuan, misalnya &#8220;Bila perempuan telah menunaikan shalat lima waktu, puasa sebulan, menjaga kehormatan dan mentaati suami, maka dikatakanlah kepadanya; masuklah ke dalam sorga, dari pintu mana yang kamu suka.&#8221; (HR Ahmad dan At-Thabrani). Lalu bagaimana dengan laki-laki? Mengapa jarang beredar (dengan arti: para ulama jarang menyebarluaskannya) hadis-hadis tentang kewajiban laki-laki untuk berperilaku baik kepada istrinya atau bersikap sabar kepada istri?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Belum lagi bila kita melihat berbagai penafsiran terhadap ayat-ayat Al Quran, misalnya ar-rijaalu qawwamuuna alan-nisaa (QS 4:34), diartikan sebagai laki-laki harus memiliki kedudukan lebih tinggi daripada perempuan, sehingga dalam segala bidang, perempuan dianggap tidak berhak untuk memimpin (ayat ini pula yang banyak dipakai untuk menjegal pencalonan Megawati dalam pemilu tahun 2004), atau ayat alladzi khalaqakum min nafsi wahidah wa khalaqa minha zawjaha (QS 4:1) diartikan bahwa Hawa berasal dari tulang rusuk Adam, yang artinya perempuan itu subordinat-nya lelaki (disebut-sebut pula bahwa tulang rusuk itu bengkok, dan artinya perempuan itu “bengkok” sehingga harus “diluruskan” oleh laki-laki).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Hal tersebut di atas telah menimbulkan kesalahan cara pandang atau paradigma masyarakat muslim terhadap perempuan, termasuk kesalahan kaum perempuan dalam memandang dirinya sendiri. Dari sudut ini, bila kita hendak ber-husnuzh-zhan, sebagian besar para pejuang feminisme di Indonesia sesungguhnya adalah kaum muslimah yang melihat hukum-hukum Islam yang (sepertinya) tidak adil, dan kemudian merasa terpanggil untuk memprotes dan meneriakkan perubahan. Bila kita mau jujur, di sekitar kita dengan mudah bisa ditemukan berbagai bentuk ketidakadilan perilaku masyarakat muslim terhadap perempuan, yang mengatasnamakan Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Bukan hal aneh bila kita mendengar ada anak perempuan yang dipaksa menikah oleh orangtuanya, perempuan yang diterlantarkan oleh suaminya yang mempunyai istri muda, perempuan yang ditalak begitu saja tanpa diberi bantuan keuangan oleh mantan suami, atau prinsip bahwa “perempuan tak perlu sekolah tinggi karena toh akhirnya hanya mengurusi dapur”. Belum lagi kalau kita bahas pula sistem rumah tangga yang dianut oleh sebagian besar masyarakat. Perempuan selalu dianggap memiliki kewajiban domestik (memasak, mencuci, mengurus anak), sehingga meskipun seorang perempuan mempunyai karir di luar rumah (dan mempunyai kontribusi pada penghasilan keluarga), begitu ia pulang ke rumah, sederet pekerjaan rumah sudah menunggu, sementara si suami dianggap berhak untuk beristirahat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Anehnya, paradigma seperti ini diteruskan pula secara turun-temurun oleh perempuan sendiri. Contoh mudahnya, anak laki-laki akan dibelikan mainan mobil-mobilan oleh ibunya, sementara anak perempuan dibelikan mainan “masak-masakan”. Pulang sekolah, anak laki-laki boleh bebas bermain, sementara anak perempuan harus membantu ibu di dapur. Hadis-hadis dan riwayat mengenai Rasulullah (SAWW) yang menjahit sendiri sendalnya yang robek, Imam Ali a.s. yang membantu Sayyidah Fathimah (s.a.) mengerjakan pekerjaan rumah tangga, Imam Khomeini (r.a.) yang mengambil sendiri makanannya di dapur dan mencuci piringnya sendiri, seolah-olah lenyap begitu saja dalam lembaran-lembaran sejarah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Di sekitar kita, kita akan melihat bahwa semakin rendah tingkat perekonomian masyarakat, semakin besar pula penindasan yang terjadi terhadap perempuan. Fenomena banyaknya TKW Indonesia yang terpaksa bekerja di luar negeri (dan harus bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan jam kerja yang panjang, perlindungan kerja yang tidak jelas, serta rentan penyiksaan dan pemerasan), memperlihatkan dengan jelas ketertindasan perempuan. Kaum perempuan yang seharusnya dinafkahi, malah harus membanting tulang untuk membiayai keluarganya, termasuk suaminya sendiri. Para oknum pun dengan kejam memeras uang para TKW itu setibanya mereka di tanah air. Belum lagi bila kita lihat nasib buruh-buruh perempuan di pabrik-pabrik yang tidak mendapat cuti haid atau melahirkan, sehingga setiap saat mereka bisa dipecat ketika terpaksa membolos karena kondisi fisiknya melemah akibat haid atau pasca melahirkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Penyebab Kesalahan Paradigma Dalam Memandang Perempuan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Qasim Amin, Bapak Feminisme Arab, menyatakan bahwa akar dari penindasan perempuan dalam masyarakat muslim adalah bercokolnya pemerintahan yang zalim dan despotik. Menurutnya, di zaman ketika penguasa zalim berkuasa, kezaliman itu tidak hanya akan dilakukan oleh sang raja, melainkan akan diikuti oleh orang-orang sekitarnya, dan seterusnya, sampai ke masyarakat kelas bawah. Proses ini akan berlanjut ke seluruh sendiri masyarakat, sehingga orang yang kuat akan menindas orang yang lemah. Salah satu korban terbesar dalam pemerintahan seperti ini adalah kaum perempuan karena laki-laki memiliki kekuatan fisik yang lebih besar, sehingga dengan leluasa merendahkan perempuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Para feminis Arab lain (yang banyak menjadi rujukan kaum feminis Indonesia) adalah Nawal Sa&#8217;dawi dan Fatima Mernissi, umumnya juga tidak memandang agama sebagai satu-satunya faktor penyebab penindasan terhadap perempuan. Sa&#8217;dawi menyamakan persoalan wanita dengan masalah keterbelakangan. Menurut Sa&#8217;dawi: &#8220;Keduanya bukan masalah agama sebagaimana yang selalu dikatakan oleh kalangan fundamentalis, tetapi masalahnya berkaitan erat dengan masalah ekonomi dan politik negara. Sementara itu, Mernisi menilai struktur sosial-lah yang berperan dalam menyengsarakan nasib perempuan. Yang dimaksud struktur sosial oleh Mernissi adalah termasuk juga doktrin dan ajaran agama yang menjadi salah satu fondasi penting sebuah masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Allamah Thabathabai menulis bahwa masyarakat Ahlul Kitab pada zaman risalah (pada zaman ketika nabi Muhammad menyampaikan Islam), hidup dalam pemerintahan yang despotik. Pada saat itu, masyarakat terbagi antara penguasa dan rakyat. Rakyat pun terbagi menjadi rakyat kaya dan rakyat miskin, sedang rakyat miskin terbagi antara yang miskin dan lebih miskin, seterusnya, sampai pada pembagian antara laki-laki dan perempuan. Dalam masyarakat seperti ini, laki-laki mendapatkan kebebasan dalam berbuat apapun, sementara perempuan diisolir dari berbagai bentuk kebebasan dan semata-mata menjadi pelayan laki-laki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ilmuwan Iran, Doktor Fathiah Fattahizadeh, menyatakan bahwa selain pemerintahan yang zalim dan despotik, penyebab kesalahan paradigma kaum muslimin dalam memandang perempuan adalah juga pencampuran antara ajaran agama dengan tradisi, yang sayangnya justru disebarluaskan oleh para ulama dan cendikiawan. Fattahizadeh menulis, &#8220;Karena sebagian besar masyarakat pada era sebelum Islam berorientasi pada laki-laki, sebagian para pemikir Islam yang terpengaruh oleh orientasi tersebut, alih-alih menyampaikan aturan-aturan Islami, malah menafsirkan teks-teks agama dengan paradigma yang berorientasi kepada laki-laki. Di sisi lain, kebudayaan Islam juga kehilangan kemurniannya karena adanya interaksi dan infiltrasi berbagai peradaban yang berorientasi kepada laki-laki.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Menampilkan Fiqih Yang Bersahabat dengan Perempuan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Bila dikaji lebih cermat, berbagai dalil yang dikemukakan dalam memposisikan perempuan, sering tidak dipaparkan sesuai konteks, atau malah hanya disampaikan sebagian saja. Misalnya, hadis, “Barangsiapa menuruti istrinya, maka ia masuk neraka”, sesungguhnya masih ada lanjutannya: Seseorang lalu bertanya kepada Rasulullah, “Apa yang dimaksud dengan menuruti?” Rasulullah menjawab, “Yaitu, bila suami memperbolehkan istrinya pergi ke kolam renang, pesta perkawinan, perayaan, dan ke tempat orang meninggal, dengan menggunakan pakaian tipis dan sangat halus.” Dengan demikian, jelaslah bahwa “menuruti” di sini adalah mengizinkan perempuan untuk berbuat sesuatu yang melanggar syariat. Mengenakan pakaian tipis keluar rumah memang jelas-jelas dilarang syariat. Namun karena tidak disampaikan secara utuh, hadis ini seolah-olah melarang laki-laki menuruti permintaan atau saran dari istri secara keseluruhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sementara itu, hadis tidak beruntung satu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan, sesungguhnya telah disampaikan tanpa menyebutkan pendahuluannya sbb. “Ketika Rasulullah Saw. mengetahui bahwa masyarakat Persia mengangkat Putri Kisra sebagai penguasa mereka, beliau bersabda, &#8220;Tidak akan beruntung satu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan.&#8221; (Diriwayatkan oleh Bukhari, An-Nasa&#8217;i, dan Ahmad melalui Abu Bakrah). Jadi, hadis tersebut di atas ditujukan kepada masyarakat Persia ketika itu, bukan terhadap semua masyarakat dan dalam semua urusan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Mengenai hadis-hadis tentang kurang akalnya perempuan, mungkin bisa dicari jawabannya dari sisi psikologis atau konteks zaman, (atau mungkin bisa ditelusuri kesahihan hadis tersebut), sehingga kesan yang ditimbulkan bahwa Islam memandang rendah perempuan bisa dieliminasi. Karena, secara jelas dan tegas, Islam memang tidak pernah memandang rendah perempuan. Berbagai ayat Al Quran (3:195, 4:124, 16:97, 9:71-72, 33:35) secara tegas dan jelas memposisikan perempuan dan laki-laki secara setara dalam kewajiban mereka menegakkan nilai-nilai Islam, adanya sanksi yang sama terhadap perempuan dan lelaki untuk semua kesalahan mereka, serta adanya pahala yang sama untuk amal saleh mereka. Satu-satunya faktor yang membedakan perempuan dan laki-laki di hadapan Allah SWT adalah keimanan dan ketakwaan mereka masing-masing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam masalah hukum waris yang sering diperdebatkan oleh kaum feminis, dan dituduh sebagai salah satu bentuk ketidakadilan Islam terhadap perempuan (karena perempuan hanya diberi setengah), sebenarnya bisa dibahas sbb. “Pada dasarnya Islam mensyariatkan untuk memberi imbalan yang sama atas prestasi yang sama, tidak pandang laki-laki atau perempuan, sedangkan soal waris bukanlah soal prestasi. Hukum ini harus didudukkan bersama-sama dengan hukum nafkah. Laki-laki wajib menafkahi saudara perempuannya, sedangkan perempuan tidak wajib menafkahi siapapun. Tanggung jawab keluarga dibebankan pada lelaki. Jika tanggungjawab ini tidak dijalankan, negara berhak campur tangan dan memaksanya sehingga hak-hak si perempuan itu tetap terpenuhi. Jadi, syariat Islam tidak berdiri sendiri-sendiri. Nikah, waris, nafkah saling berkaitan erat. Tidak bisa dipandang secara parsial.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Peran Akhawat Talabeh Hauzah Ilmiah Qom</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam pandangan saya, di sinilah peran penting para talabeh perempuan di Qom Al Muqaddasah ini. Kita para pengikut Ahlul Bait meyakini bahwa Islam, Al Quran, hadis-hadis, dan sunnah yang bersumber dari Ahlul Bait adalah benar adanya. Oleh karena itu, tidak mungkin ada ketidakadilan di dalamnya. Tuduhan-tuduhan atas ketidakadilan Islam, sebagaimana telah saya bahas di atas, berakar pada kesalahan paradigma kaum muslim sendiri dalam memandang perempuan, yang bersumber dari kesalahpahaman, pencampuran tradisi dengan agama, kejumudan cara berpikir mereka, serta berkuasanya pemerintahan yang despotik. Keunggulan mazhab Ahlul Bait adalah dasar-dasar mantiq (logika)-nya yang kuat serta keluasan penafsiran filosofisnya atas berbagai hukum. Tanpa penafsiran filosofis, hukum Islam akan dipahami secara salah. Seperti yang dikemukakan oleh Syahid Murtadha Muthahhari,”Masalah seputar hak-hak dan hukum perempuan dari sudut pandang Islam, yang muncul dalam masyarakat kita hari ini, selain memiliki dimensi praktis juga memiliki akar pada masalah keimanan. Saat ini, ada berbagai kepercayaan dalam masyarakat yang tidak memiliki dasar, tapi kepercayaan itu dinisbatkan kepada Islam. Di sisi lain, berbagai perintah Islam yang hakiki belum dipahami oleh masyarakat karena nilai falsafah yang ada di dalamnya belum dijelaskan. Akibat dari semua itu adalah disalahgunakannya berbagai aturan dalam agama Islam tentang wanita oleh pihak luar, sebagai cara untuk menyerang dasar-dasar agama Islam.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sebagai contoh praktis dalam hal ini adalah dalam menyampaikan masalah kewajiban hijab. Ketika kita hendak membahas masalah jilbab, umumnya, pembahasan yang dikemukakan adalah berkaitan seputar ayat dan hadis yang memberikan perintah hijab kepada kaum muslimah. Cara ini akan terus mendapatkan jawaban negatif dari para pendukung feminisme, karena mereka akan mempersoalkan tafsir ayat dan hadist tersebut dengan mengemukakan penafsiran dari para ulama yang tidak mewajibkan hijab. Coba kita perhatikan bagaimana konsep hijab ini disampaikan oleh Sultana Yusuf Ali, seorang remaja Kanada, berikut ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Saya sangat bersyukur karena tidak pernah menderita nasib harus bersusah-payah menaikkan atau menurunkan berat badan, serta mencari-cari warna lipstik yang sesuai dengan warna kulit saya. Saya telah membuat pilihan tentang apa yang menjadi prioritas, dan hal-hal seperti itu (kelangsingan badan, warna lipstik) bukanlah prioritas saya. Jadi lain kali, jika Anda melihat saya (menggunakan jilbab), jangan memandang saya dengan kasihan. Saya tidak sedang berada dalam paksaan dan saya bukan perempuan pengabdi laki-laki, yang menjadi tawanan di gurun sahara Arab. Saya telah terbebaskan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam kacamata remaja muslimah ini, jilbab justru merupakan simbol kebebasan, yaitu kebebasan dari tatapan orang lain yang menilai postur tubuh, tata rambut, kecocokan baju dengan warna kulit, atau merek T-shirt yang dipakai. Sultana Yusuf Ali mengatakan, “My body is my own business” (Tubuh saya adalah urusan saya sendiri). Dalam bahasa yang sederhana dan “funky”, sesungguhnya Sultana Yusuf Ali tengah menyampaikan filosofi dari jilbab, yaitu membebaskan perempuan dari penilaian “kulit luar” dan perempuan akan dinilai dari akhlak, watak, dan keilmuannya. Nah, penjelasan atas filosofi sebuah hukum syari’i, terutama yang menyangkut tentang perempuan, yang telah disampaikan oleh para ulama Ahlul Bait adalah hal yang penting untuk disebarluaskan oleh para akhawat talabeh Qom.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Para ulama mazhab Ahlul Bait telah sangat banyak melahirkan hasil penelitian mereka berkaitan dengan hak perempuan untuk menjadi presiden, mengapa hak waris perempuan hanya setengah, mengapa perempuan tidak boleh menjadi hakim —padahal sebagian orang menilai bahwa hakim perempuan malah lebih adil dan lebih kebal suap dibanding hakim laki-laki—mengapa perempuan muslim tidak boleh menikahkan diri sendiri, mengapa perempuan tidak boleh menjadi imam atau Rahbar, atau bahkan, mengapa tidak ada perempuan yang diangkat Allah sebagai Nabi, dsb. Bila hasil penelitian para ulama itu dipelajari, dipahami, didiskusikan, lalu ditulis ulang dalam bahasa yang sederhana dan sesuai dengan konteks Indonesia, dan kemudian disebarluaskan, insya Allah akan memberikan kontribusi yang besar bagi kaum muslimah Indonesia yang gelisah dan bingung atas ajaran agamanya sendiri. Pembahasan masalah perempuan yang bersumber dari mazhab Ahlul Bait akan menampilkan Islam yang moderat, tidak ifrath dan tidak pula tafrith sebagaimana yang saat ini terjadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Selain itu, akhawat talabeh Qom juga dapat berperan luas dalam menyebarkan hadis-hadis yang lebih seimbang. Hadis-hadis tentang kewajiban perempuan untuk taat dan melayani suaminya dengan baik, memang harus terus dibacakan kepada kaum perempuan. Namun, sangat banyak hadis tentang laki-laki yang selama ini “diabaikan”, misalnya sbb.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">- Rasullulah SAWW bersabda, “Barang siapa yang lebih baik kelakuannya, maka ia lebih sempurna imannya. Yang terbaik di antara kamu adalah yang berbuat baik kepada keluarganya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">- Imam Ali a.s. bersabda, “Perempuan dipercayakan kepada pria dan mereka (para perempuan) bukanlah pemilik keberuntungan atau kemalangan. Mereka bersamamu sebagai amanat Allah, maka janganlah kamu menyakiti dan membuat hidupnya susah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">- Imam Ridha a.s. mengatakan, “Kaum perempuan Bani Israil telah menyimpang dari jalan yang benar karena kaum pria mereka tidak memperdulikan kebersihan dan penampilan baik. Apa yang kamu harapkan dari istrimu juga diharapkan oleh istrimu terhadapmu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Mazhab Ahlul Bait sangat kaya menyimpan hadis-hadis semacam ini, dan para akhawat yang berada di pusat keilmuan mazhab Ahlul Bait memiliki kewajiban untuk menyebarluaskannya demi kepentingan kaum muslimah di dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Penutup</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Bila kita melakukan kajian secara mendalam dan menyeluruh terhadap hukum-hukum Islam, kita akan menemukan fakta menarik bahwa sesungguhnya Islam adalah agama yang paling feminis. Pembelaan Islam terhadap perempuan adalah pembelaan terbesar yang pernah diberikan oleh agama samawi manapun dan pemerintahan manapun (termasuk pemerintahan yang mengaku beraliran demokrasi dan kebebasan). Kenyataan empiris yang kita temukan dalam masyarakat sama sekali tidak bisa dipakai sebagai parameter dari kebenaran atau kesalahan suatu ajaran. Sebagaimana yang dikatakan Lois Lamya al Faruqi, kita harus membangun suatu Quranic society (masyarakat Qurani), yang menerapkan aturan-aturan yang benar-benar murni dari Al Quran, tidak dicampurkan dengan konsep-konsep pseudo-Islamic, yang meskipun berlabel Islam, namun justru pada hakikatnya malah anti-Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Teheran, Akhir Desember 2004</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[1] Makalah ini pernah dibacakan di Seminar Jurnal Kajian Perempuan Islam [Fathimiah-LOF, HPI] di Sekolah Tinggi Bintul Huda, Qom Iran, Tgl 24 Dzulhijjah 1425 H.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Rujukan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[2] Marxist Feminism / Materialist Feminism&#8221; Martha E. Gimenez. 1998 (www.cddc.vt.edu)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[3] Ahmad Ali Nurdin, Mengkaji Ulang Kedudukan Wanita dalam Islam. (www.pikiran-rakyat.com )</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[4] Ali Syariati, Fatima is Fatima, bab VIII, (www.al-islam.org/fatimaisfatima)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[5] Qasim Amien, al-A’mâl al-Kâmilah, (editor Muhamad ‘Imarah), Kairo: Dâr Al-Syurûq, th.1989, cet. 3, hlm. 45</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[6] Azizah al-Hibri (ed.), Woman and Islam. Pergamon Press, 1982, hal. 202-203.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[7] A. Luthfi Assyaukanie, Tipologi dan Wacana Pemikiran Arab Kontemporer, (www.media.isnet.org/islam)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[8] Allamah Thabathabai, Tafsir Al Mizan, juz 4, hlm 242</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[9] Fathiah Fattahizadeh, Zan dar Tarikh wa Andishe-e Islami. Pusat Penelitian Islam IRIB. Tehran. 1383h.s. hal. 184</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[10] Wasail Al-Syiah jilid 15, hal 21.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[11] Quraish Shihab, Perempuan (http://media.isnet.org/islam)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[12] M. Shiddiq Al-Jawi, Menyoroti Draft KHI Dari Perspektif Ideologis Dan Metodologis. (www.majelis.mujahidin.or.id)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[13] Murthada Muthahhari, Majmu-e-ye Atsar, Shadra Press, 1387 h.s., jilid 19, hal. 600</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[14] Sultana Yusuf Ali, My Body is My Own Business, (www.muslimworld.co.uk)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[15] Bihar al Anwar, jilid 103, hal. 226</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[16] Mustadrak jilid 2, hlm 551</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[17] Bihar al Anwar, jilid 76, hal. 102</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[18] Lois Lamya al Faruqi, Women in a Quranic Society, Jurnal Al Tawhid (www.al-islam.org/al-tawhid)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/327/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=327&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/03/feminisme-dan-kesalahan-paradigma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cut Nyak Dhien Juga Cerdas di Bidang Agama</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/12/01/cut-nyak-dhien-juga-cerdas-di-bidang-agama/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/12/01/cut-nyak-dhien-juga-cerdas-di-bidang-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 12:22:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=325</guid>
		<description><![CDATA[Sudah waktunya kebiasaan kurang baik ditinggalkan dan diganti dengan kebiasaan bernilai multi dalam kehidupan ini. Orang cerdas tidak akan memelihara kebiasaan tanpa multi makna dalam mencapai suatu tujuan. Sebaliknya pemikiran cerdas dimanfaatkan untuk melangkah bersama. Kini, di era globalisasi yang sarat informasi kiranya dapat dikaji nilai bernuansa Islam untuk mewujudkan keberhasilan bersama dalam kehidupan. Cut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=325&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sudah waktunya kebiasaan kurang baik ditinggalkan dan diganti dengan kebiasaan bernilai multi dalam kehidupan ini. Orang cerdas tidak akan memelihara kebiasaan tanpa multi makna dalam mencapai suatu tujuan. Sebaliknya pemikiran cerdas dimanfaatkan untuk melangkah bersama. Kini, di era globalisasi yang sarat informasi kiranya dapat dikaji nilai bernuansa Islam untuk mewujudkan keberhasilan bersama dalam kehidupan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> <span id="more-325"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="IN">Cut Nyak Dhien Juga Cerdas di Bidang Agama</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN">By Republika Contributor</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">JAKARTA&#8211;Pahlawan nasional asal Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) bukan hanya jago dalam mengatur strategi perang melawan penjajah pada masanya, tapi juga cerdas di bidang agama Islam dan bahkan mampu menghafal Al-Quran. Kecerdasan perempuan yang diasingkan penjajah Belanda itu diakui Bupati Sumedang, Jawa Barat, Don Murdono, dalam pertemuan dengan peserta napak tilas seratus tahun meninggalnya Cut Nyak Dhien belum lama ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Bupati mengatakan, Cut Nyak Dhien di masa hidupnya ikut memberi bimbingan ajaran agama Islam kepada masyarakat Sumedang. Menurut dia, perempuan asal Aceh itu juga cepat beradaptasi dengan lingkungan karena memiliki kecerdasan menghafal kitab suci Al-Quran. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kegiatannya sehari-sehari Ibu Perbu (ibu Ratu), demikian sebutan masyarakat Sumedang kepada Cut Nyak Dhien, dipergunakan untuk mengulang kaji ilmu agama dan membaca Al-Quran, meskipun penglihatannya tidak seperti saat terlibat langsung dalam peperangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam usia yang hampir 60 tahun itu tetap mengaji serta mengajarkan ilmu agama Islam kepada masyarakat yang datang bersilaturrahmi ke rumah tempat tinggalnya sekitar Masjid Agung Sumedang dan mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak sekitarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8220;Jadi, kecerdasan Cut Nyak Dhien bukan hanya mengatur prajurit berperang melawan penjajah Belanda yang terjadi sekitar 1873, tetapi juga mahir di bidang agama,&#8221; kata Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Provinsi Aceh Raihan Putry Ali Muhammad.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ini patut menjadi teladan bagi perempuan Aceh sekarang. Kaum perempuan harus menguasai berbagai pengetahuan sejalan kemajuan, namun tetap cerdas di bidang agama Islam dan adat istiadat karena itu merupakan identitas masyarakat Aceh yang terkenal fanatik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kegiatan napak tilas dan ziarah ke makam Cut Nyak Dhien di Sumedang, Jabar, itu sebagai upaya menggali apa yang patut dan perlu diteladani kaum perempuan masa kini. Ternyata banyak hikmah yang dapat dipetik dari kegiatan ini, antara lain terkait kecerdasan Cut Nyak Dhien di bidang agama Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8220;Ini sejalan dengan tujuan dilakukan napak tilas dan ziarah itu sendiri, ya untuk membangkitkan kembali semangat kaum perempuan Aceh di bidang pendidikan, ekonomi, politik dan sosial kemasyarakatan,&#8221; kata Raihan Putry Ali Muhammad yang juga dosen IAINB Ar-Raniry Aceh itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Selain itu, kegiatan yang melibatkan sejumlah perempuan ini dimaksudkan untuk mempererat tali silaturrahmi antara masyarakat Aceh dengan masyarakat Sumedang yang sudah dilakukan pahlawan nasional seabad lalu, tepatnya sekitar Juli 1907 saat diasingkan ke Sumedang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam waktu relatif singkat, Cut Nyak Dhien bisa menjalin dan mempererat tali silaturrahim. Cut Nyak Dhien menjadi perekat dua kelompok masyarakat yang berbeda daerah tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kaum perempuan daerah Aceh perlu mengambil iktibar positif sesuai kondisi seperti diperlihatkan Cut Nyak Dhien di masa hidupnya. Perempuan Aceh yang berjiwa Islami perlu mempersiapkan diri dan menyahuti perkembangan kemajuan teknologi informasi, katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Semua yang mengikuti jejak Cut Nyak Dhien harus cerdas. Tidak ada suatu keturunan sukses tanpa pengetahuan dan kecerdasan, kata istri mantan Gubernur Aceh, Hj Marlinda Abdullah Puteh, yang ikut serta napak tilas dan ziarah yang dipimpin Darwati A Gani, istri Irwandi Yusuf itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Marlinda mengatakan, sosok Cut Nyak Dhien yang cerdas itu hendaknya menjadi teladan bagi perempuan Aceh. Kaum perempuan daerah Serambi Makkah perlu meniru pahlawan nasional yang dapat menjalin silaturrahmi melalui kemahiran bernuansa Islami, tambahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8220;Saya kira, semua apa yang diperlihatkan Cut Nyak Dhien dapat dijadikan teladan dan diaplikasikan dalam kehidupan, baik di bidang agama Islam maupun sosial kemasyarakatan. Kecerdasan dalam pengetahuan agama justru dikagumi dan disegani masyarakat,&#8221; kata Marlinda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Mustahil pengakuan datang tanpa kecerdasan di bidang tertentu. Oleh karena itu, agaknya program napak tilas yang pertama sekali dilakukan Pemerintah Aceh ini lahir dari akal pikiran cerdas, kata istri mantan Wakil Gubernur Aceh Meutia Azwar Abubakar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Hubungan silaturrahim yang dirintis Cut Nyak Dhien antara dua kelompok masyarakat berbeda daerah itu kiranya dapat diaplikasikan dalam kehidupan masa kini. Perempuan daerah Aceh harus bersatu dan saling mendukung untuk mencapai suatu tujuan bersama, katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sudah waktunya pemikiran negatif yang mengarah pada pembunuhan karakter sesama diabaikan dalam kehidupan yang menuntut kecerdasan. Perempuan yang cerdas akan sirna kecerdasannya manakala mengaplikasikan sikap tak simpati terhadap sesama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kekompakan merupakan modal utama untuk mewujudkan kemitraan (gender) berkeadilan dalam kehidupan. Mustahil keinginan kemitraan dapat dicapai jika kaum perempuan tak saling mendukung dan memberi motivasi seperti dilakukan Cut Nyak Dhien seratus tahun silam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Upaya menjaga kekompakan tidak sulit diwujudkan meski era globalisasi menghampiri berbagai suku bangsa di jagad raya ini. Berpikir kreatif dan cerdas dalam kehidupan tanpa pemikiran negatif melihat kesuksesan seseorang tentu salah satu syarat perwujudan kekompakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kecerdasan bernuansa Islami seperti diperlihatkan Cut Nyak Dhien perlu diaplikasikan dalam kehidupan perempuan Aceh masa ini. Kecerdasan akan kurang bermakna manakala pemilknya tidak hati-hati mencermati perkembangan dan bisa keliru tanpa menyadari cerdas sirna.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sudah waktunya kebiasaan kurang baik ditinggalkan dan diganti dengan kebiasaan bernilai multi dalam kehidupan ini. Orang cerdas tidak akan memelihara kebiasaan tanpa multi makna dalam mencapai suatu tujuan. Sebaliknya pemikiran cerdas dimanfaatkan untuk melangkah bersama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kini, di era globalisasi yang sarat informasi kiranya dapat dikaji nilai bernuansa Islam untuk mewujudkan keberhasilan bersama dalam kehidupan. Agaknya sosok Cut Nyak Dhien yang mampu menjalin tali silaturrahmi dengan masyarakat Sumedang menjadi inspirasi perempuan Aceh kini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Pahlawan nasional Cut Nyak Dhien kini telah tiada. Tidak sedikit teladan ditinggalkan dan perlu ditiru dan dikedepankan. Tidak keliru manakala kaum perempuan Aceh membiasakan kebenaran berdasarkan pemikiran cerdas dan jangan membenarkan kebiasaan dalam kehidupan. Ant/Saidulkarnain Ishak/ya</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/325/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=325&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/12/01/cut-nyak-dhien-juga-cerdas-di-bidang-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Zainab Al-Ghazali, Tokoh Pembela Perempuan</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/11/02/zainab-al-ghazali-tokoh-pembela-perempuan/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/11/02/zainab-al-ghazali-tokoh-pembela-perempuan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Nov 2008 06:27:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=319</guid>
		<description><![CDATA[Zainab al-Ghazali adalah wanita luar biasa. Seperti Aisha Abd al-Rahman, tokoh asal Mesir ini begitu gigih memperjuangkan persamaan hak kaum perempuan berdasarkan keyakinannya, sesuai doktrin ajaran Islam yang benar. Oleh karenanya, sejarah mencatat Zainab lebih dikenal sebagai aktivis Islam ketimbang cendekiawan Islam. Saat menginjak usia remaja, Zainab aktif di organisasi Persatuan Kelompok Feminis Mesir yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=319&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span lang="IN">Zainab al-Ghazali adalah wanita luar biasa. Seperti Aisha Abd al-Rahman, tokoh asal Mesir ini begitu gigih memperjuangkan persamaan hak kaum perempuan berdasarkan keyakinannya, sesuai doktrin ajaran Islam yang benar. Oleh karenanya, sejarah mencatat Zainab lebih dikenal sebagai aktivis Islam ketimbang cendekiawan Islam.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Saat menginjak usia remaja, Zainab aktif di organisasi Persatuan Kelompok Feminis Mesir yang dibentuk oleh Huda Al-Sharawi tahun 1923. Namun tak lama dia mengundurkan diri dari organisasi itu karena bersebarangan pendapat mengenai perjuangan menuntut kesetaraan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dia tidak setuju dengan ide-ide sekular tentang gerakan pembebasan perempuan. Meski demikian, Al-Ghazali tetap menghormati Sharawi dan menyebutnya sebagai seorang wanita yang memiliki komitmen dan keimanan yang baik. Saat usianya 18 tahun (1936), dia mendirikan Asosiasi Wanita Muslim untuk mengorganisasi kegiatan-kegiatan kaum perempuan yang sesuai norma-norma Islam dan ditujukan untuk kepentingan-kepentingan Islam.</span></p>
<p><span lang="IN"> </span></p>
<p><span id="more-319"></span></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<h1 style="text-align:center;"><span lang="IN">Zainab Al-Ghazali,  Tokoh Pembela Perempuan</span></h1>
<p><!-- reporter start--></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">By Republika Contributor<br />
Rabu, 15 Oktober 2008 pukul 13:22:00 </span></p>
<p>&lt;!&#8211;</p>
<div class="iklan"><img src="images/ads468x60.jpg" alt="Iklan 468x60" /></div>
<p>&#8211;&gt;</p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Umat Islam berduka. Pada hari Rabu (3/8), dai dan aktivis terkemuka Zainab Al-Ghazali, wafat dalam usia 88 tahun. Dia meninggalkan kenangan tak terlupakan sepanjang aktivitasnya menjalankan dakwah Islam.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Zainab al-Ghazali adalah wanita luar biasa. Seperti Aisha Abd al-Rahman, tokoh asal Mesir ini begitu gigih memperjuangkan persamaan hak kaum perempuan berdasarkan keyakinannya, sesuai doktrin ajaran Islam yang benar. Oleh karenanya, sejarah mencatat Zainab lebih dikenal sebagai aktivis Islam ketimbang cendekiawan Islam.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dia terlahir di wilayah Al-Bihira, Mesir pada 1917, dan merupakan keturunan dari kalifah kedua Islam, Umar bin Khattab dan Hasan bin Ali bin Abi Thalib.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ketika masih berusia sangat muda, 10 tahun, Zainab Al-Ghazali telah memperlihatkan kepandaian dan kelancarannya dalam berbicara di depan umum. Dan sepanjang hidupnya, dia lantas membentuk dirinya sebagai orang yang berhasil belajar secara otodidak. Ambisinya yang kuat dan tekadnya yang membara, membuatnya maju untuk mencapai jenjang pendidikan tinggi, pada saat kaum wanita pada saat itu jarang yang mengenyam pendidikan karena dianggap tabu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Saat menginjak usia remaja, Zainab aktif di organisasi Persatuan Kelompok Feminis Mesir yang dibentuk oleh Huda Al-Sharawi tahun 1923. Namun tak lama dia mengundurkan diri dari organisasi itu karena bersebarangan pendapat mengenai perjuangan menuntut kesetaraan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dia tidak setuju dengan ide-ide sekular tentang gerakan pembebasan perempuan. Meski demikian, Al-Ghazali tetap menghormati Sharawi dan menyebutnya sebagai seorang wanita yang memiliki komitmen dan keimanan yang baik. Saat usianya 18 tahun (1936), dia mendirikan Asosiasi Wanita Muslim untuk mengorganisasi kegiatan-kegiatan kaum perempuan yang sesuai norma-norma Islam dan ditujukan untuk kepentingan-kepentingan Islam.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Zainab Al-Ghazali selalu berusaha mengedepankan masalah keseimbangan antara hal-hal yang bersifat religius dan modern. Ia mendapat pendidikan agama pertama kali dari cendikiawan muslim terkemuka di Al-Azhar, Syeikh Ali Mahfuz dan Mhammad al-Naggar.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tidak lama setelah ia mendirikan Asosiasi Wanita Muslim, Al-Ghazali langsung melakukan sejumlah aksi dan mendapatkan dukungan dari Menteri Wakaf untuk mendirikan 15 mesjid dan belasan mesjid lainnya yang dibiayai oleh masyarakat umum.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Asosiasi yang didirikannya melahirkan generasi dai-dai wanita yang mempertahankan status perempuan dalam Islam serta meyakini bahwa agama mereka memberikan peluang sebesar-besarnya bagi kaum perempuan untuk memainkan peranan penting di tengah masyarakat, memiliki pekerjaan, masuk ke dunia politik dan bebas mengeluarkan pendapatnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam sebuah wawancara tahun 1981, dia mengemukakan bahwa Islam telah memberikan segalanya bagi kaum pria dan wanita. Islam memberikan kebebasan, hak ekonomi, hak politik, hak sosial, maupun hak pribadi kepada kaum Muslimah. Islam memberikan kaum wanita hak-hak tertentu di dalam keluarga yang tidak dimiliki oleh komunitas lain. Para Muslimah harus mempelajari Islam sehingga mereka mengetahui bahwa Islam telah memberikan segalanya kepadanya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Zainab juga meyakini bahwa Islam tidak pernah melarang kaum wanita untuk beraktivitas di masyarakat, bekerja mencari nafkah, masuk ke dunia politik dan mengungkapkan gagasan-gagasannya. Dia percaya Islam mengizinkan mereka untuk memiliki harta benda, berusaha pada bidang perekonomian atau apapun kegiatan demi menunjang perkembangan masyarakat Muslim. Meski begitu, dia berpendapat bahwa tugas utama seorang wanita adalah menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya dan menjadi istri setiap bagi suaminya. Jangan ada apapun yang menghalangi kaum wanita untuk tidak menjalankan tugas yang satu ini.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Al-Ghazali banyak dipengaruhi oleh pendiri Ihkwanul Muslimin, Syekh Hasan al-Banna. Ia memegang teguh pandangannya bahwa tidak ada konflik antara agama dan politik. Al-Ghazali adalah orang yang lantang mempertahankan syariah dan kerap menghadapi masalah dengan rezim Mesir pada saat itu, Presiden Gamal Abdul Naser. Dia mengalami hidup yang penuh siksaan dalam tahanan rezim itu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Penjara dan siksaan, tidak pernah mematahkan tekadnya bahkan membuatnya lebih kuat. Zainab Al-Ghazali meninggalkan warisan berupa perjuangan membela Islam dan reputasinya sebagai aktivis perempuan yang tanpa ragu melawan sekularisme dan liberalisme dan menggantikannya dengan nilai-nilai Islam. ( yus/berbagai sumber )</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/319/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=319&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/11/02/zainab-al-ghazali-tokoh-pembela-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="images/ads468x60.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Iklan 468x60</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Datang Bulan Suci Ramadhan&#8230;!</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/08/31/selamat-datang-bulan-suci-ramadhan/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/08/31/selamat-datang-bulan-suci-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Aug 2008 10:59:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=313</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah SAWW berkhutbah dengan panjang lebar, menjelaskan tentang keutamaan bulan suci tersebut dan amalan-amalan yang selayaknya dilakukan. Di sini, kita akan menyimak isi khutbah tersebut sebagai bekal dan persiapan untuk memasuki bulan suci tersebut, dengan harapan semoga kita dapat menjadi tamu yang baik bagi Pengundang kita, Pemilik bulan suci nan mulia ini, Allah SWT.   [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=313&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/08/kawthar-mobile-pic-9.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-314" src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/08/kawthar-mobile-pic-9.jpg?w=100&#038;h=81" alt="" width="100" height="81" /></a></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Rasulullah SAWW berkhutbah dengan panjang lebar, menjelaskan tentang keutamaan bulan suci tersebut dan amalan-amalan yang selayaknya dilakukan. Di sini, kita akan menyimak isi khutbah tersebut sebagai bekal dan persiapan untuk memasuki bulan suci tersebut, dengan harapan semoga kita dapat menjadi tamu yang baik bagi Pengundang kita, Pemilik bulan suci nan mulia ini, Allah SWT. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> <span id="more-313"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;color:#333333;" lang="IN"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;color:#333333;" lang="IN"><span style="font-family:Times New Roman;">Selamat Datang Bulan Suci Ramadhan&#8230;!</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;color:#333333;" lang="IN"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Berkaitan dengan bulan suci Ramadhan, Rasulullah SAWW berkhutbah dengan panjang lebar, menjelaskan tentang keutamaan bulan suci tersebut dan amalan-amalan yang selayaknya dilakukan. Di sini, kita akan menyimak isi khutbah tersebut sebagai bekal dan persiapan untuk memasuki bulan suci tersebut, dengan harapan semoga kita dapat menjadi tamu yang baik bagi Pengundang kita, Pemilik bulan suci nan mulia ini, Allah SWT. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dengan sanad yang mu’tabar, Syeikh Shaduq (ra) telah menukil dari Imam Ridho (as) yang telah diriwayatkan dari para leluhurnya hingga sampai ke Imam Ali (as) dimana beliau kepada anak-anaknya berkata ; “Sesungguhnya pada suatu hari Rasul berkhutbah:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><em><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Wahai manusia, sesungguhnya bulan Allah<span>  </span>telah menyambut kalian<span>  </span>dengan keberkahan, rahmat dan ampunan. Bulan dimana sebagai paling utamanya bulan. Hari-harinya paling utamanya hari. Malam-malamnya paling utamanya malam. Waktu-waktunya paling utamanya waktu. Dialah bulan dimana padanya kalian diundang menuju perjamuan Allah. Kalian dijadikan pemilik kemuliaan Ilahi. Napas-napas kalian adalah tasbih. Tidur-tidur kalian adalah ibadah. Amal perbuatan kalian diterima di sisi Allah SWT. Doa-doa kalian dikabulkan. Maka mohonlah kalian<span>  </span>kepada Tuhan kalian dengan niat yang benar dan hati yang suci, agar Dia mensukseskan kalian untuk berpuasa dan membaca kitab-Nya. Sesungguhnya sengsaralah orang yang tercegah dari ampunan Allah pada bulan yang agung ini. Ingatlah kalian dengan rasa lapar dan dahaga kalian, yang dengannya akan mengingatkan akan lapar dan dahaga pada hari Kiamat. Bersedekahlah kalian kepada orang-orang fakir dan miskin. Hormatilah orang-orang yang lebih tua dari kalian. Dan sayangilah orang-orang yang lebih muda dari kalian. Hubungkanlah tali silaturahmi. Jagalah lisan kalian. Tundukkanlah penglihatan kalian dari perkara-perkara yang telah dilarang Allah untuk memandangnya. Dan jagalah pendengaran kalian dari perkara-perkara yang dilarang untuk mendengarnya. Berlemah-lembutlah kalian dengan anak-anak yatim hingga nanti mereka akan berlemah lembut dengan anak-anak yatim kalian. Bertaubatlah kalian kepada Allah dari dosa-dosa kalian. Angkatlah tangan kalian untuk berdoa kepada-Nya pada waktu-waktu shalat kalian, karena sesungguhnya pada waktu-waktu itu merupakan paling utamanya kesempatan Allah memandang kepada para hamba-Nya dengan rahmat. Dia akan menjawab mereka apabila mereka memohon pertolongan kepada-Nya. Dia akan memenuhi panggilan mereka apabila mereka memanggil-Nya. Dan Dia akan mengabulkan doa mereka apabila mereka berdoa.</span></span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><em><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><em><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Wahai manusia, sesungguhnya penjamin diri kalian adalah amal perbuatan kalian. Maka cegahlah (diri) kalian dengan beristigfar. Punggung kalian berat dikarenakan dosa-dosa kalian, maka ringankanlah (beban) diri kalian darinya dengan melamakan bersujud (di hadapan-Nya). Dan ketahuilah bahwasanya Allah SWT telah bersumpah dengan kemuliaan-Nya; Ia tidak akan menyiksa orang-orang yang mendirikan shalat dan bersujud dari liputan api neraka, pada hari kebangkitan di hadapan Tuhan Penguasa semesta alam.</span></span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><em><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><em><span style="color:#333333;" lang="IN">Wahai manusia, barangsiapa yang pada bulan ini memberi hidangan buka puasa kepada seorang mukimin yang berpuasa maka pahalanya di sisi Allah SWT bagaikan membebaskan seorang budak serta akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. </span></em></strong><span style="color:#333333;" lang="IN">Seseorang telah bertanya kepada beliau<strong><em>: “Apabila kami tidak mampu melakukan itu? </em></strong>Beliau menjawab<strong><em>: “Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan segenggam kurma. Jagalah diri kalian walaupun hanya dengan seteguk air, karena sesungguhnya Allah SWT akan menganugerahkan pahala kepada orang yang melakukan perbuatan mudah ini, apabila ia tidak mampu melakukan yang lebih besar darinya.</em></strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><em><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><em><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Wahai manusia, barangsiapa di antara kalian yang memperbaiki akhlak kalian pada bulan ini niscaya Allah akan mempermudah baginya ketika meniti jembatan yang pada hari itu kaki-kaki akan mudah tergelincir ketika melewati di atasnya. Barangsiapa yang mencegah keburukan darinya pada bulan ini maka akan tercegah dari murka Allah SWT pada hari pertemuan dengan-Nya. Barangsiapa yang memuliakan anak yatim pada bulan ini maka Allah SWT akan memuliakannya pada hari menemui-Nya. Barangsiapa yang menyambungkan tali silaturahmi pada bulan ini maka Allah SWT akan menyambungkan dengan rahmat-Nya, pada hari ia menemuni-Nya. Barangsiapa yang memutuskan tali silaturahmi pada bulan ini maka Allah SWT akan memutuskan rahmat-Nya darinya, pada hari ia bertemu dengan-Nya. Barangsiapa yang mentaati Allah SWT pada bulan ini dengan mendirikan shalat maka Allah SWT akan menjauhkan ia dari api neraka. Barangsiapa yang melaksanakan kewajibannya pada bulan ini maka Allah SWT akan memberikan padanya pahala orang melaksanakan tujuh puluh kewajiban di bulan-bulan lain. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku (Rasul) maka Allah SWT akan memberatkan timbangan pahalanya di hari yang diringankannya timbangan-timbangan pahala. Barangsiapa yang membaca al-Qur’an maka akan diberikan padanya pahala orang yang menyelesaikan membaca seluruh al-Qur’an pada bulan-bulan lain.</span></span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><em><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><em><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Wahai manusia, sesungguhnya pintu-pintu surga terbuka pada bulan ini, maka mohonlah kepada Allah agar tidak ditutup pintu-pintu tersebut untuk kalian. Dan sesungguhnya pintu-pintu neraka tertutup maka mohonlah kepada Allah agar tidak dibuka untuk kalian pintu-pintu tersebut. Dan sesungguhnya setan-setan terbelenggu maka mohonlah kepada Allah agar mereka tidak dapat menguasai kalian”.</span></span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><em><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Diriwayatkan pula dalam beberapa riwayat bahwa ketika telah memasuki bulan Ramadhan Rasulullah membebaskan tawanan dan memberi bantuan kepada para fakir-miskin. Semuanya sebagai bukti bahwa beliau adalah suri tauladan terbaik buat segenap umat manusia.<strong><em></em></strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><em><span style="color:#333333;" lang="IN"><span> </span></span></em></strong><strong><span style="color:#333333;" lang="IN"><span> </span></span></strong><span style="color:#333333;" lang="IN"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Mudah-mudahan nasihat-nasihat yang keluar dari mulut suci Rasulullah SAWW akan menjadi bekal bagi kita dalam menjalankan ibadah puasa dengan baik dan benar. Mudah-mudahan dengan menjalankan anjuran-anjuran tadi sewaktu kita berpisah dengan bulan suci ini, kita dalam keadaan memiliki jiwa dan kepribadian yang lebih baik hingga rasa lapar dan dahaga yang kita rasakan pada bulan Ramadhan tidaklah sia-sia. Sebagaimana yang telah disinggung dalam khutbah tadi bahwa Rasulullah memerintahkan kepada kita untuk memohon; “<em>Ya Allah, tolonglah hamba-Mu yang naif ini agar berhasil dan mampu menjalan ibadah suci ini dengan sukses sehingga mampu keluar dari belenggu hewani menjadi manusia sejati seperti bayi yang baru keluar dari rahim ibunya, yang terlahir dalam keadaan suci sesuai dengan fitrah manusia</em>”. Amiin. [<strong>ED</strong>]</span></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/313/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/313/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/313/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=313&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/08/31/selamat-datang-bulan-suci-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/08/kawthar-mobile-pic-9.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Ma, Tuhan Berada dimana Sich?</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/08/26/ma-tuhan-berada-di-mana-sich/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/08/26/ma-tuhan-berada-di-mana-sich/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 08:15:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi Keluarga & Pendidikan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=307</guid>
		<description><![CDATA[  “Mama Allah ada di mana?”, kami jawab: “Ada di mana-mana”. Ketika ia mendengar jawaban saya secara spontan ia bertanya kembali: “Berarti kalau gitu Tuhan itu banyak dong, khan katanya ada di mana-mana?!”, ujarnya dengan penuh percaya diri &#8230;   &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; Ma, Tuhan Berada dimana Sich? (Mengenalkan Esensi Tuhan kepada Anak)       “Dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=307&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:left;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-308" src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/08/kawthar-mobile-pic-108.jpg?w=96&#038;h=96" alt="" width="96" height="96" /> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Mama Allah ada di mana?”, kami jawab: “Ada di mana-mana”. Ketika ia mendengar jawaban saya secara spontan ia bertanya kembali: “Berarti kalau gitu Tuhan itu banyak dong, khan katanya ada di mana-mana?!”, ujarnya dengan penuh percaya diri &#8230;</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#333333;"><span id="more-307"></span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></span></span></p>
<div><strong></strong></div>
<div><strong><span style="color:#333333;"></span></strong></div>
<p><strong><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;color:#333333;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ma, Tuhan Berada dimana Sich?</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">(Mengenalkan Esensi Tuhan kepada Anak)</span></span></span></strong></p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#333333;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“<em>Dan Dia bersama Kalian dimanapun kalian berada</em>” (QS al-Hadid : 4)</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“<em>Katakan (wahai Muhamad): Tuhan itu Esa.</em>” (QS al-Ikhlas : 1)</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Rasa ingin tahu (<em>hubbul istithla’</em>) adalah merupakan salah satu fitrah manusia. Artinya manusia terlahir dengan memiliki salah satu ciri khas fitrah tersebut. Rasa ingin tahu akan sekelilinganya dan segala sesuatu yang dilihatnya. Rasa ingin tahu tersebut akan mencapai puncaknya sewaktu masa kanak-kanak. Hal ini wajar dikarenakan rasa ingin tahu mereka akan hal-hal yang baru bagi mereka. Kadang orang tua merasa capek mengahadapi pertanyaan yang dilontarkan anak-anak kepadanya. Sebaiknya dan hendaknya orang tua tidak memarahi ataupun melarang anaknya untuk bertanya, karena jika demikian sama artinya dengan membunuh potensi dan kreatifitas yang terdapat pada anak-anak yang harus terus dikembangkan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Anak-anak pada usia ini kadang-kadang menanyakan hal-hal yang tidak diduga oleh orang tuanya. Lantas apa yang harus dilakukan oleh orang tua ketika menghadapi berbagai pertanyaan anak-anaknya, apakah anak harus dimarahi ataukah memberikan jawaban asal-asalan kepadanya, ataukah dibiarkan saja begitu saja? Kalau kita merujuk akal pikiran kita maka ketiga langkah tersebut semuanya adalah salah. Kita biasa melihat sebagian orang tua yang ketika anak bertanya ia langsung berkata: “Huss, jangan banyak tanya, diam kamu!”.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Orang tua hendaknya berusaha menjawab pertanyaan anak dengan bahasa yang dipahami mereka. Sebagaimana yang dijelaskan dalam ilmu psikologi pada usia kanak-kanak mereka lebih cepat memahami hal-hal yang bersifat inderawi. Berdasarkan hal ini, ketika anak kami bertanya: “Mama Allah ada di mana?”, kami jawab: “Ada di mana-mana”. Ketika ia mendengar jawaban kami secara spontan ia bertanya kembali: “Berarti kalau gitu Tuhan itu banyak dong, khan katanya ada di mana-mana?!”, ujarnya dengan penuh percaya diri. Kembali saya menjawab: “Benar Tuhan ada di mana-mana, akan tetapi tetap satu”, jelas saya. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Anak kami masih bingung ketika mendengar jawaban yang kami berikan kepadanya. Dan dari raut wajahnya masih terlihat rasa penasaran, ia masih berpikir bagaimana bisa, ‘ada di mana-mana tapi satu’. <span> </span>Sewaktu kami melihatnya dalam keadaan termenung dan masih belum puas dengan jawaban kami, dengan penuh kasih sayang dan dengan bahasa yang semudah mungkin kami kembali melontarkan pertanyaan; “Wahai putriku sayang, kamu tahu matahari ada berapa? “Ya, ada satu”, jawabnya. Kami kembali bertanya: “Apakah matahari hanya ada di tempat kamu saja, atau di tempat temanmu (yang ada di negara) lainpun ada? “Tidak, di tempat lain pun ada”. “Wahai putriku, tadi kamu katakan matahari itu hanya ada satu, tapi di manapun kamu berada iapun ada. Nah Tuhan pun seperti itu, satu tapi ada di mana-mana”.[<strong>ED</strong>] </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Catatan:</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Tentu, kami tidak ingin mengatakan bahwa Tuhan persis seperti matahari, ini hanya untuk pendekatan saja. Dan kita menggunakan contoh (analogi) seperti ini hanya melihat dari segi ungkapan ‘satu tapi ada di mana-mana’ sehingga anak dapat memahaminya atau dalam terminologi ilmu logika disebut dengan “Pendekatan (pemahaman) hal yang non materi (Tuhan) dengan melalui hal yang materi atau inderawi” (<em>taqribul ma’qul bil mahsus</em>). Yang dalam kasus ini adalah matahari. Adapun untuk pendekatan yang lain kita bisa menggunakan analogi yang lain, seperti Allah tidak bertempat, Allah meliputi semuanya&#8230;dst. </span></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/307/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/307/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/307/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=307&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/08/26/ma-tuhan-berada-di-mana-sich/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/08/kawthar-mobile-pic-108.jpg?w=96" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>‘Pengkhianatan terhadap Wanita’</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/07/18/%e2%80%98ayat-pengkhianatan-terhadap-wanita%e2%80%99/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/07/18/%e2%80%98ayat-pengkhianatan-terhadap-wanita%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 13:05:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=305</guid>
		<description><![CDATA[‘Pengkhianatan terhadap Wanita’ “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah&#8230;”. [At-Taghabun : 14] &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah&#8230;”. [QS at-Taghabun : 14, al-Qur’an dan terjemahnya, edisi revisi, DEPAG-RI, Mahkota Surabaya] Maksudnya, kadang-kadang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=305&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;" align="center"><strong><span style="color:#333333;" lang="IN">‘Pengkhianatan terhadap Wanita’</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;" lang="IN">“<em>Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara <strong><span style="text-decoration:underline;">istri-istrimu</span></strong> dan anak-anakmu ada yang menjadi <strong><span style="text-decoration:underline;">musuh bagimu</span></strong>, maka berhati-hatilah&#8230;</em>”. [At-Taghabun : 14]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span id="more-305"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span lang="IN"><!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><strong><span style="color:#333333;" lang="IN">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;" lang="IN">“<em>Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara <strong><span style="text-decoration:underline;">istri-istrimu</span></strong> dan anak-anakmu ada yang menjadi <strong><span style="text-decoration:underline;">musuh bagimu</span></strong>, maka berhati-hatilah&#8230;</em>”. [QS at-Taghabun : 14, al-Qur’an dan terjemahnya, edisi revisi, DEPAG-RI, Mahkota Surabaya] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="font-size:10pt;color:#333333;" lang="IN">Maksudnya, kadang-kadang istri atau anak dapat menjerumuskan suami atau ayahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama. [penjelasan dari DEPAG]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;" lang="IN">Terjemahan di atas kami kutip dari terjemahan Depag. Transliting memerlukan keahlian terkhusus dalam kedua bahasa, yaitu bahasa yang diterjemahkan dan bahasa yang menerjemahkan. Dan tidak sembarangan orang dapat menerjemahkan sebuah teks ataupun buku, apalagi berkaitan dengan kitab suci yang menjadi pegangan sebuah agama atau sekte. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;" lang="IN">Terjemahan ayat di atas telah menarik perhatian kami, sewaktu kami melihat pula teks asli ayatnya yang masih berbahasa Arab. Khususnya pada ungkapan “<strong>istri-istrimu</strong>”, dimana berdasarkan ayat di atas -tentunya masih merujuk pada terjemahan versi DEPAG- bahwa hanya istri saja yang bisa menjadi musuh dan menjerumuskan seorang suami untuk melakukukan perbuatan yang tidak dibenarkan agama. Sementara berkaitan dengan suami tidak disinggung sama sekali dalam ayat tersebut. Dengan kata lain suami tidak pernah menjadi musuh dan menjerumuskan istrinya untuk melakukan perbuatan yang tidak dibenarkan agama. Kesimpulan ini dapat kita tarik tatkala merujuk terjemahan versi DEPAG-RI di atas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;" lang="IN">Namun terdapat kesimpulan lain yang bisa kita ambil dengan mengkritisi pola penterjemahan di atas:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#333333;" lang="IN">Pertama</span></span></em><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#333333;" lang="IN">:</span></span><span style="color:#333333;" lang="IN"> Asal kata yang kemudian dalam bahasa Indonesianya diterjemahkan ‘istri-istri’ ialah ‘<strong>azwaj</strong>’ bentuk plural (jamak) dari kata ‘<strong>zauj</strong>’. Dalam ensklopedia bahasa karya Raghib al-Isfahani, beliau menjelaskan bahwa kata ‘<strong>zauj</strong>’ artinya ialah ‘<strong><span style="text-decoration:underline;">pasangan</span></strong>’ yang bisa digunakan untuk <span style="text-decoration:underline;">benda</span> seperti sepasang sepatu, untuk <span style="text-decoration:underline;">hewan </span>seperti sepasang ayam (jantan dan betina), dan untuk <span style="text-decoration:underline;">manusia</span> seperti suami dan istri. Hal inipun dikuatkan pula oleh Allamah Thabathabai mufassir kontemporer dalam karyanya tafsir al-Mizan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;" lang="IN">Dengan demikian, berdasarkan penjelasan di atas, sepatutnya terjemahan ayat di atas akan menjadi seperti ini: “<em>Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara <strong><span style="text-decoration:underline;">pasangan-pasangan kalian</span></strong> dan anak-anak kalian ada yang menjadi <strong><span style="text-decoration:underline;">musuh bagi kalian</span></strong>, maka berhati-hatilah&#8230;</em>”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;" lang="IN">Konklusi berdasarkan terjemahan di atas, sebagaimana sewaktu-waktu seorang <strong>istri</strong> akan bisa menjadi musuh dan menjerumuskan <strong>suami</strong>-nya ke dalam perbuatan yang tidak dibenarkan agama, begitu juga sebaliknya , seorang <strong>suami</strong> pun akan bisa menjadi musuh dan menjerumuskan <strong>istri</strong>-nya ke dalam perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama. Kesimpulan ini diambil karena kata ‘<strong>azwaj</strong>’ diartikan ‘<strong>pasangan-pasangan</strong>’, bukan hanya diartikan untuk istri saja. Dan sebagaimana kita tahu, pasangan dalam bahasa Indonesia pun digunakan untuk laki-laki dan perempuan (suami dan istri).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#333333;" lang="IN">Kedua</span></span></em><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#333333;" lang="IN">:</span></span><span style="color:#333333;" lang="IN"> Dalam realitanya apakah hanya istri saja yang menjadi musuh dan bisa menjerumuskan suaminya? Apakah tidak ada suami yang menjadi musuh dan menjerumuskan istrinya? Contoh gampangnya, Fir’aun suaminya Asiah. Atau para suami lainnya yang pada zaman sekarang ini telang melarang istrinya untuk mengenakan hijab (jilbab), padahal berbusana muslim merupakan perintah agama. Bisa kita lihat diberita ada suami yang menjual istrinya. Lantas apakah mereka (suami-suami tadi) bukan menjadi musuh bagi istrinya dalam ketatan kepada Allah SWT?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#333333;" lang="IN">Ketiga</span></span></em><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#333333;" lang="IN">:</span></span><span style="color:#333333;" lang="IN"> Apabila alasannya menerjemahkan kata tersebut dikarenakan kata ‘<em>azwaj</em>’ digandengkan dengan kata ganti jamak untuk laki-laki (‘<strong><em>kum</em></strong>’, dhamir <em>jamak mudzakar</em>) sehingga menjadi ‘<em>azwajikum</em>’, maka jawabnya ialah; dalam kaidah bahasa Arab (<em>nahwu</em>) ketika audiennya terdiri dari laki-laki dan perempuan maka akan menggunakan kata ganti jamak untuk laki-laki, walaupun jumlah mereka satu berbanding sepuluh. Maksudnya sepuluh perempuan dan seorang laki-laki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#333333;" lang="IN">Keempat</span></span><span style="color:#333333;" lang="IN">: Audien ayat di atas adalah orang-orang yang beriman ‘<em>Wahai orang-orang yang beriman&#8230;’ </em>dan kita ketahui bahwa orang-orang yang beriman bukan monopoli laki-laki semata. Dan kalau alasannya lagi karena seruan di atas menggunakan kata ganti <em>jamak mudzakar</em> maka jawabannya seperti jawaban pada poin ketiga di atas. Dan selain itupun, beberapa perintah Allah menggunakan seruan seperti ayat tadi, yang maksudnya seruan tersebut ditujukan untuk laki-laki dan perempuan yang beriman. Hal itu dapat kita jumpai seperti pada ayat yang berkaitan dengan perintah puasa dan ayat-ayat lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;" lang="IN">Dari sini, demi menjaga amanat dakwah ajaran Ilahi, hendaknya DEPAG merevisi kembali penerjemahan versinya. Karena jika tidak, maka hal itu selain akan berimbas kepada ‘penyesatan pemahaman’ seseorang sewaktu mengkaji al-Quran, juga bertentangan dengan ‘amanat penerjemahan’, apalagi ini berkaitan dengan kitab suci al-Quran. Ini adalah sedikit contoh dari kerancuan penerjemahan versi DEPAG-RI. Kita berharap, ke depan, semoga DEPAG lebih teliti dalam menerjemahkan al-Quran al-Karim, kitab suci kaum muslimin. [<strong>ED</strong>]</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/305/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/305/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/305/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=305&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/07/18/%e2%80%98ayat-pengkhianatan-terhadap-wanita%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8216;Hijab Prosedurer&#8217;</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/06/21/hijab-prosedurer/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/06/21/hijab-prosedurer/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 10:47:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[Suami berperan memimpin keluarga dan tanggung jawabnya dalam menjaga kesucian istri dan keluarga merupakan masalah yang cukup serius. Suami yang tidak cemburu kepada istrinya adalah orang yang telah mengalami metamorfosa nilai-nilai insani, telah kehilangan fitrah dan akan mendapat laknat dari Allah karena mereka tidak menjaga keluarganya dari pandangan tak senonoh pria lain. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Hijab Prosedurer* [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=286&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/06/ya-fathimah3.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-290" src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/06/ya-fathimah3.jpg?w=128&#038;h=96" alt="" width="128" height="96" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Suami berperan memimpin keluarga dan tanggung jawabnya dalam menjaga kesucian istri dan keluarga merupakan masalah yang cukup serius. Suami yang tidak cemburu kepada istrinya adalah orang yang telah mengalami metamorfosa nilai-nilai insani, telah kehilangan fitrah dan akan mendapat laknat dari Allah karena mereka tidak menjaga keluarganya dari pandangan tak senonoh pria lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong><span id="more-286"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="IN">Hijab Prosedurer</span></strong><a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Symbol;"><span>*</span></span></strong></span></a><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN">Oleh: Salimian</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Catatan penerjemah: </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">Kondisi hijab di Indonesia saat ini telah membersitkan kecemasan tentang bagaimana masa depan hijab nantinya. Hijab belum begitu dipahami sebagaimana mestinya oleh kaum muslimin khususnya kaum wanita. Pakaian yang sering dipakai adalah celana jeans ketat, kemeja gantung dan jilbab yang agak mini sehingga kalau tersibak angin, maka leher atau rambut akan jelas terlihat. Atau pakaian dan jilbab yang dikenakan sudah menutupi seluruh tubuh, tetapi masih menggambarkan bentuk tubuh dengan jelas. Pakaian model ini disebut-sebut sebagai hijab gaul atau hijab modis. Mungkin pemakai jilbab ini tidak paham mana batasan hijab yang sebenarnya atau bisa jadi ia tahu tapi tidak mau mengamalkannya dengan alasan tertentu. Walhasil, hijab model ini bisa disebut sebagai ‘hijab buruk’ (Hijab non Prosedurer) karena tidak memenuhi batasan hijab yang telah ditetapkan oleh agama Islam. Dalam makalah ini dijelaskan tentang apa yang dimaksud dengan ‘hijab buruk’, efeknya di dunia dan akhirat serta bagaimana cara menanggulangi ‘hijab buruk’. Penerjemah banyak memotong bagian yang dirasa tidak begitu perlu<span> </span>sehingga makalah ini tidak terlalu panjang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN">&#8211;0&#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">Dalam tulisan ini,<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> yang dimaksud dengan hijab adalah pakaian islami wanita yaitu sebuah hukum wajib dalam Islam yang berarti bahwa ketika wanita hadir di tengah masyarakat dan melakukan interaksi sosial dengan pria non muhrim, wanita harus menutupi tubuhnya, tidak menampakkan atau memamerkan tubuhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Mereka yang ber-‘hijab buruk’ dapat dikategorikan ke dalam beberapa kelompok:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>1.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Kelompok yang tidak mematuhi batasan hijab islami.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Sebenarnya mereka tidak menyukai ketelanjangan. Namun ketika imannya melemah dan mereka tidak bisa mencapai keinginannya lewat hijab maka mereka akan mengabaikan batasan hijab yang telah ditetapkan oleh Islam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Tentang wanita tidak berhijab atau ber-‘hijab buruk’ yang sebenarnya tengah menuju kepada syahwat, Amirul Mukminin Ali as bersabda: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">يظهر فى آخر الزمان و اقتراب القيامه و هو شرّ الازمنه نسوة متبرجات </span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">كاشفات عاريات عن الدين داخلات فى الفتن مائلات الى الشهوات مسرعات الى اللذات مستحلات للمحرّمات فى جهنّم داخلات</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">“Di akhir jaman ketika kiamat sudah dekat dan merupakan jaman yang paling buruk, akan ditemukan wanita-wanita yang berhias, tidak berhijab, tidak beragama, masuk ke dalam berbagai fitnah, mengikuti hawa nafsu dan bersegera menuju kelezatan. Mereka menganggap halal apa yang telah diharamkan oleh Allah dan mereka akan memperoleh tempat khusus di neraka Jahannam.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>2.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Mereka yang memakai pakaian yang menarik perhatian dari segi warna, model dan sebagainya. </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Sebagai pakaian islami, hijab wanita memiliki dua aspek, positif dan negatif. Yang dimaksud dengan aspek positif adalah kewajiban menutupi tubuh, sedang aspek negatif adalah keharaman menampakkan tubuh di hadapan non muhrim. Kedua aspek ini harus selalu terwujud secara bersama-sama sehingga apa yang disebut dengan hijab islami dapat terwujud. Mungkin saja aspek pertama telah terpenuhi<span> </span>tetapi aspek kedua tidak, maka dalam hal ini tidak dapat dikatakan bahwa hijab islami telah terwujud. Terkadang, kita menyaksikan wanita berhijab mengenakan pakaian sedemikian rupa yang memberikan keindahan khusus pada tubuhnya. Ketika pakaian itu menempel di tubuhnya maka keindahan tubuhnya semakin terlihat, malah seolah-olah ia tidak memakai pakaian sama sekali. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>3.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Mereka yang menampakkan perhiasan di wajah dan tangannya serta membiarkan riasannya dilihat oleh pria non mahrim.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Islam memberikan perhatian khusus tentang berhias. Sesuai dengan fitrah ilahi, manusia memang menyukai keindahan. Islam yang merupakan ajaran<span> </span>fitri cukup menghormati keindahan dan memperbolehkan wanita merias dirinya dan memakai parfum tetapi dengan syarat bahwa ia hanya boleh melakukannya di depan muhrim atau di dalam rumah untuk suaminya. Rasulullah saww bersabda: ”Apakah aku sudah memberitahukan wanita yang paling buruk kepada kalian? Wanita paling buruk adalah wanita yang berhias ketika ia berhadapan dengan non muhrim tetapi ketika berhadapan dengan suaminya, ia tidak berhias walaupun hanya riasan seadanya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Penyebab Munculnya Hijab Buruk:<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[2]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>1.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Kecenderungan batin.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Salah satu penyebab munculnya ‘hijab buruk’ adalah kecenderungan batin wanita. Sebagian wanita keluar rumah dengan memakai pakaian tidak pantas yang menunjukkan keinginan kuat mereka untuk memamerkan diri. Jika kehidupan, kepribadian dan kondisi batin mereka ini diperhatikan dengan baik, maka akan ditemukan bahwa di kedalaman jiwanya terdapat perasaan kekurangan yang terjelma dalam ‘hijab buruk’, memamerkan diri dan mencari perhatian orang lain. Kecenderungan lain seperti mencari kemudahan, merasa rendah diri—karena kasih sayang yang kurang atau malah berlebihan—dan putus asa merupakan faktor yang memperkuat kecenderungan ber-‘hijab buruk’. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>2.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Memamerkan diri dan mencari perhatian.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Memamerkan diri merupakan salah satu karakteristik khusus wanita. Sesuai hukum alam, wanita selalu ingin merampas hati pria dan menawannya dalam cinta. Pada remaja putri, karakter ini lebih mudah dilihat. Mereka berusaha memperlihatkan dirinya sebagai sosok yang menawan tetapi mereka lalai atas kepribadian hakiki, batin dan kesempurnaan ruhnya.<span> </span>Syahid Muthahhari qs menuliskan bahwa kemuliaan wanita menuntutnya untuk bersikap tenang ketika ia keluar rumah, tidak memakai pakaian yang menarik perhatian dan merangsang, yang dapat menyebabkan pria mengincarnya. Dengan terhijabnya wanita sebagaimana<span> </span>yang dianjurkan oleh Islam, kemuliaan dan kehormatan wanita akan bertambah sebab ia terjaga dari gangguan orang lain.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>3.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Serangan kebudayaan.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Para penyerang kebudayaan Islam adalah musuh dari luar yang cukup berpengaruh dalam menyebarkan kebudayaan rendah Barat dalam masyarakat. Sebagian orang merasa sangat minder di hadapan kemajuan materi dan industri Barat. Ketika slogan “Dari kepala sampai kuku harus seperti Eropa” disebarkan, mereka berusaha keras meniru Barat baik dalam gerakan, perbuatan, pakaian dan dandanan lahiriah agar mereka tidak dinilai ketinggalan dari karavan peradaban Barat. Bahkan cara berjalannya pun seperti orang-orang Barat. Selain kelompok ini, terdapat pula kelompok lain yang dengan sekuat tenaga berusaha menghilangkan nilai-nilai Islami dan aturan-aturan Ilahi seperti hijab. Dengan memproduksi film-film porno, poster-poster dan foto-foto telanjang, mempublikasikan tulisan-tulisan tentang pakaian modern, berbagai model rambut, baju dan celana ketat dan lain sebagainya, mereka berusaha menggeser metode kehidupan islami dan menggantikannya dengan kebudayaan asing. Saat itulah, yang dianggap sebagai kemajuan wanita adalah ketika wanita menonjolkan dan memamerkan keindahan tubuhnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>4.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Minus pengetahuan tentang pentingnya hijab.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Salah satu penyebab ‘hijab buruk’ dalam sebagian keluarga muslim adalah minusnya pengetahuan tentang ahkam (hukum syari’at), batasan hijab dan pakaian islami, masalah muhrim dan non muhrim, pentingnya hijab dan bahaya tidak berhijab. Anda bisa melihat banyak wanita muslim dan ahli shalat yang berjalan di gang-gang tanpa menggunakan kaos kaki. Sepertinya mereka menyangka bahwa sebagaimana tidak wajib menutupi kaki sampai pergelangan kaki di dalam shalat, maka tidak wajib pula menutupinya dari pandangan non muhrim. Rahbar Mulia Revolusi (Sayid Ali Khamene’i) menyatakan:”Banyak sekali wanita muslimah dan mutadayyin (agamis) yang revolusioner, tetapi masalah hijab bagi mereka masih belum jelas. Meski mereka tetap memperhatikan batasan hijab tetapi sesungguhnya di dalam benak mereka, hijab masih merupakan suatu masalah yang membutuhkan jawaban…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>5.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Rendahnya kecemburuan para suami.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dari sisi bahwa suami merupakan mishdaq dari ayat al-Qur’an yang berbunyi </span><strong><span style="font-size:14pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">الرّجال قوّامون على النّساء</span></strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span><span lang="IN">maka suami memiliki wewenang dan hak dalam kehidupan istri. Suami berperan memimpin keluarga dan tanggung jawabnya dalam menjaga kesucian istri dan keluarga merupakan masalah yang cukup serius.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Suami yang tidak cemburu kepada istrinya adalah orang yang telah mengalami metamorfosa nilai-nilai insani, telah kehilangan fitrah dan akan mendapat laknat dari Allah karena mereka tidak menjaga keluarganya dari pandangan tak senonoh pria lain. Rasulullah saww bersabda: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:5.05pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">المراة اذا خرجت من باب دارها متزينةً متعطرة الزّوج بذلك راض يبنى لزوجها</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">بكل قدم بيت فى النار</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.25in;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span dir="ltr" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">“Istri yang ke luar rumah dengan berhias dan memakai parfum, sedang suaminya ridha akan hal itu, maka setiap langkah sang istri akan disediakan sebuah rumah dari api untuk suaminya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Efek Negatif Hijab Buruk</span></strong><a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="IN"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">‘Hijab buruk’ memiliki berbagai efek negatif di dunia dan di akhirat yang akan dijelaskan sebagiannya di sini. Efek negatifnya berkaitan dengan dimensi pribadi, sosial dan keluarga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>1.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Dimensi pribadi:</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>a.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Kerusakan Jiwa.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Salah satu efek negatif dari ‘hijab buruk’ adalah kerusakan jiwa. Pakaian buruk yang dikenakan sebagian wanita telah menciptakan tekanan luar biasa pada jiwa dan ruh masyarakat. Berkaitan dengan hal ini, Ustad Syahid Muthahhari berkata: ”Ruh manusia sangat mudah dipengaruhi. Salah jika kita mengira bahwa ruh hanya dipengaruhi oleh hal-hal tertentu dan kemudian ruh menjadi tenang. Sebagaimana pemburu harta dan kedudukan tidak akan pernah merasa puas, demikian pula dalam hubungan seksual. Tidak ada pria yang merasa puas meskipun telah memiliki wanita-wanita berwajah cantik dan tidak akan ada wanita yang merasa puas meskipun telah<span> </span>menarik perhatian para pria dan merebut hatinya. Pada akhirnya, ia akan selalu merasa terbatas karena<span> </span>keinginannya yang tidak tercapai dan<span> </span>hal ini akan menjelma menjadi penyakit jiwa. Mengapa di dunia Barat penyakit jiwa begitu banyak? Penyebabnya adalah banyaknya rangsangan seksual yang terdapat di berbagai media massa seperti majalah, bioskop, teater, atau dalam pertemuan resmi dan tidak resmi…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>b.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Penurunan akademis.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Salah satu akibat dari ‘hijab buruk’ adalah penurunan akademis di kalangan pelajar atau mahasiswa. ‘Hijab buruk’ membuat pikiran mahasisiwi terpecah karena ia harus mengenali berbagai mode, riasan rambut dan mengikuti berbagai model yang berbeda. Ia akan lebih banyak menggunakan waktunya untuk mempercantik kepala, wajah dan pakaiannya sebagai ganti membahas pelajaran. Di sisi lain, mahasiswa yang sedang menghadapi krisis seksual dalam dirinya, mungkin saja akan menelantarkan pelajarannya karena menyaksikan wanita-wanita yang berdandan. Setelah melihat sang wanita, ia akan tenggelam dalam lamunannya dan hal ini sungguh berbahaya karena setelah pertemuan itu, maka surat menyurat dan hubungan akan segera dimulai di antara mereka. Penelitian ahli tarbiyah (pendidikan) menunjukkan bahwa dalam sekolah-sekolah yang di dalamnya pria dan wanita belajar bersama, terlihat kemandekan kerja, ketertinggalan dan rasa tanggung jawab yang rendah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>c.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Pelecehan seksual. </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Salah satu akibat ‘hijab buruk’ adalah pelecehan seksual yang dilakukan oleh pria-pria nakal. Pria nakal yang menyaksikan dandanan wanita yang aduhai akan mengikuti sang wanita dan mengganggunya. Banyak remaja putri yang telah dilecehkan secara seksual dan mereka harus menanggung akibatnya seumur hidup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>d.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Hancurnya nilai wanita.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">‘Hijab buruk’ merupakan pintu gerbang kebebabasan dan sarana pendukung bagi pemuasan kelezatan syahwat secara ilegal. Jika wanita tidak berhijab, maka setiap perhatian yang ditujukan kepadanya akan berbau syahwat dan nilai-nilai hakiki dirinya akan dilupakan. Wanita yang memperlihatkan tubuhnya pada semua orang, pada hakikatnya, ingin memperoleh sebuah kedudukan sosial bagi dirinya dalam masyarakat dengan bersandarkan pada kewanitaannya, bukan pada kemanusiaannya. Ia telah mengumumkan bahwa sesuatu yang penting bagi dirinya adalah kewanitaannya bukan kemanusiaannya, bukan pikiran, kemampuan atau efesiensi kerjanya. Jika wanita memiliki karakter maknawi dan keindahan batin yang tinggi maka sebanyak itu pulalah ia melihat bahwa dirinya tidak perlu memamerkan keindahan fisik dan jasmaninya atau merias dan mempercantik dirinya. Dan sebagaimana hijab merupakan simbol kesucian dan karakter wanita muslim, maka wanita seperti ini tidak akan merasakan kekurangan dalam hijabnya. Ia tidak memandang bahwa nilai dirinya terletak pada riasan, pameran tubuh, pakaian warna-warni dan gerakan-gerakan sensual tertentu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>e.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Sarana terciptanya akhlak buruk.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">‘Hijab buruk’ merupakan salah satu sumber terciptanya akhlak buruk dalam jiwa seseorang. Pakaian yang buruk akan menghasilkan akhlak yang buruk dan pemujaan mode akan menghasilkan pemujaan hawa nafsu pula. Banyak orang menderita penyakit sombong, riya dan ujub karena pakaian dan banyak pula orang yang akhirnya terperangkap dalam maksiat karena begitu memuja mode. Ketika menyebutkan ciri-ciri pakaian mukmin yang baik, Imam Shadiq as mencegah kaum mukmin memakai pakaian yang dapat menimbulkan akhlak buruk seperti ujub, riya dan takabbur. Beliau bersabda: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><strong><span style="font-size:14pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">و لا يحملك على العجب و الريا و التزيّن و التفاخر و الخيلاء فانها من آفات الدّين و مورثه القسوة فى لقلب</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Janganlah berpakaian dengan pakaian yang membuatmu ternoda dosa seperti takabbur, riya, sombong karena ini semua merupakan bencana bagi agamamu dan membuat hati menjadi kasar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>2.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Dimensi sosial:</span></strong></span><a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="IN"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>a.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Menimbulkan pandangan tak senonoh.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">‘Hijab buruk’ mampu menyalakan api nafsu dalam jiwa pria sehingga pria yang akidah dan iradahnya lemah akan memandang para wanita dengan tidak senonoh. Perbuatan ini adalah sebuah penyakit mematikan dan merupakan mukaddimah berbagai dosa lainnya. Dengan pandangan seperti itu, sebagian pria lalu menipu perawan lugu serta merampas kesucian dan kehormatan mereka dengan berbagai jebakan dan tipuan. Rasulullah saww telah bersabda: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="IN"><span> </span></span></strong><strong><span style="font-size:14pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">و من ملأعينيه من امرأة حراماً حشاهمااللّه يوم القيمة بمسامير من نار و حشاهما ناراً حتى يقضى بين الناس لم يومر به الى النار</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Barangsiapa yang memenuhi matanya dengan hal-hal haram, maka pada hari kiamat, Allah akan menancapkan dua paku besi pada matanya dan mereka akan dibakar oleh api neraka sampai hisab selesai dilakukan. Setelah itu ia akan dicampakkan dalam api neraka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>b.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Menghilangkan ketenangan para pemuda.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Manusia selalu berusaha menjaga kesehatan jasmani dan rohaninya. Namun sangat disayangkan, hijab buruk sebagian wanita telah menimbulkan penyakit jiwa bagi para pemuda. ‘Hijab buruk’ mampu membakar para pemuda dalam api nafsu dan syahwat, merampas ketenangan mereka, membayangi akal, iradah dan pikiran mereka dalam ketamakan syahwat yang tidak akan pernah bisa dipuaskan. Insting seksual pemuda akan bangkit lebih dini dan ini membuat mereka terperangkap dalam berbagai masalah dan kehancuran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>c.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Penyebab timbulnya berbagai peristiwa berbahaya.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">‘Hijab buruk’ menyebabkan peningkatan kejahatan dalam masyarakat. Tidak bisa dipungkiri, ‘hijab buruk’ dan memamerkan dirilah yang menjadi penyebab dan awal dari sebagian besar peristiwa mematikan, perkelahian pribadi dan keluarga, pembunuhan dan kejahatan lainnya. Ketika di gang-gang, jalanan atau dalam pesta pernikahan yang di dalamnya terjadi <em>ikhtikath</em> (kerumunan), maka pandangan para pria akan jatuh pada wanita tidak berhijab atau yang berhijab buruk. Rambut dan wajah wanita yang terias, sikap dan prilakunya, cara berjalan dan berbicaranya membuat pandangan pria semakin tajam dan lama. Hasilnya, pandangan inilah yang pada akhirnya akan menimbulkan berbagai peristiwa mematikan, kecelakaan, perkelahian dan kejahatan yang tidak terhitung banyaknya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>d.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Penurunan aktivitas sosial.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">‘Hijab buruk’ membuat efesiensi kerja pria menjadi stagnan dan menjadi penghalang aktivitas wanita dalam masyarakat. Wanita yang pikirannya hanya disibukkan oleh tata rias diri tidak akan memiliki konsentrasi pikiran yang tinggi dalam pekerjaan. Padahal kehadiran hati dan konsentrasi panca indra adalah hal yang penting untuk melakukan pekerjaan dan meraih hasil yang efektif. Wanita ber-‘hijab buruk’ juga telah memaksa para pria—yang seharusnya beraktivitas dengan tenang—untuk<span> </span>memandang mereka dengan tidak senonoh. Akibatnya masalah seksual masuk dalam pikiran para pria sehingga akhirnya<span> </span>aktivitas masyarakat menjadi lemah karena pekerjaan dilakukan dengan tidak sempurna.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:-0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>3.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Dimensi keluarga:</span></strong></span><a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="IN"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>a.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Hilangnya minat menikah.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam masyarakat yang di dalamnya tidak terdapat batasan dalam berpakaian dan pada gilirannya berakhir dengan kebebasan seksual, maka kelezatan seksual yang merupakan salah faktor pendorong untuk menikah akan dengan mudah didapat. Hal ini menyebabkan berkurangnya minat dan kecenderungan para pemuda untuk menikah. Sebagian kelezatan seksual, baik melalui indra pendengar, penglihat dan bahkan peraba yang seharusnya diperoleh dalam rumah tangga melalui sebuah prnikahan telah mudah dan gratis didapat melalui hijab buruk. Dalam hal ini, Syahid Muthahhari berkata: “…inilah penyebab mengapa para pemuda di zaman ini menghindari pernikahan dan setiap rencana menikah diajukan kepada mereka, maka mereka selalu menolaknya dan berkata: ‘Terlalu dini, kami masih kecil’ atau dengan alasan lainnya. Padahal di zaman dahulu, menikah merupakan salah satu impian manis para pemuda…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>b.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Meningkatnya angka perceraian.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">‘Hijab buruk’ adalah ancaman kehidupan keluarga. Dalam masyarakat yang didominasi oleh hijab buruk, maka setiap pasangan suami dan istri akan selalu berada dalam kondisi membanding-bandingkan. Membandingkan apa yang dimiliki dengan apa yang tidak dimiliki. Perbandingan inilah yang akan memperbesar api nafsu dalam diri istri dan suami. Ketika istri—yang telah bertahun-tahun hidup dengan suami, bertarung dalam kesulitan hidup, selalu berbagi dalam suka dan duka—pelan-pelan mulai kehilangan keindahan wajah dan tubuhnya, tiba-tiba saja wanita lebih muda ber-‘hijab buruk’ muncul dan memberikan kesempatan kepada suaminya untuk membanding-bandingkan sang istri dengannya. Dan inilah awal kehancuran pondasi rumah tangga. Statistik menunjukkan bahwa seiring dengan meningkatnya hijab buruk di dunia, perceraian dan perpisahan dalam kehidupan suami istri juga semakin meningkat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Efek Negatif ‘Hijab Buruk’ di Akhirat</span></strong><span lang="IN">:<a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Allah dalam al-Qur’anul Karim berfirman: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><strong><span style="font-size:14pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">و ان ليس للانسان الا ما سعى و انّ سعيه سوف يرى</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="IN">Manusia hanya akan memperoleh apa yang diusahakannya dan ia akan segera melihat hasil usahanya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Usaha berarti keseriusan dalam bekerja. Setiap orang akan memperoleh hasil melalui usahanya dan hasil usaha seseorang tidak bisa diberikan kepada orang lain. Demikian juga, kerugian seseorang tidak dapat diberikan kepada orang lain. Jika seseorang memakan makanan maka ia yang akan merasa kenyang, bukan orang lain. Demikian juga halnya dengan akhirat. Sebagian wanita telah tertipu oleh setan. Seharusnya mereka berusaha menyiapkan bekal untuk hari kiamat tetapi mereka malah lalai dan merusak imannya meskipun mereka sudah berkali-kali membaca ayat-ayat hijab atau mendengar hadis Mi’raj. Setan yang merupakan musuh bebuyutan manusia selalu berusaha menipu dan menaklukkan manusia. Ia selalu mencari sarana yang paling baik untuk menipu manusia dan tidak bisa dipungkiri, ‘hijab buruk’ wanita adalah salah satu perangkap dan senjata<span> </span>setan yang paling ampuh sehingga ia mampu menyeret wanita dari surga yang tinggi ke neraka Jahannam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Salah satu efek negatif ‘hijab buruk’ adalah azab akhirat sebab ‘hijab buruk’ seperti menampakkan rambut, berhias di depan non muhrim, menampakkan bentuk tubuh dengan pakaian tipis dan ketat atau memakai model dan warna khusus yang merangsang, merupakan contoh dosa yang telah dijanjikan azabnya. Apalagi ‘hijab buruk’ merupakan salah satu dosa yang dapat menimbulkan berbagai dosa lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Beberapa contoh azab akhirat bagi wanita berhijab buruk:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>1.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Api neraka.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Rasulullah saww telah menyatakan bahwa wanita yang menampakkan perhiasannya kepada non muhrim pantas mendapatkan api neraka. Dalam hadis disebutkan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">نهى النّبى ان تتزيّن المرأة لغير زوجها، فان  فعلت كان حقاً على اللّه ان يحرقها</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Rasulullah saww melarang wanita berdandan untuk selain suaminya. Jika ia berbuat demikian, layak bagi Allah untuk membakarnya dalam api neraka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>2.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Digantung dengan rambutnya sendiri.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Mengenai hal yang disaksikan di malam Mi’raj, Rasulullah saww bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">و رأيت امرأة معلقه بشعرهايغلى دماغ رأسها</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span dir="ltr" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dan aku melihat wanita yang digantung dengan rambutnya sendiri sedang otak dan kepalanya mendidih. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Kemudian beliau menjelaskan tentang prilaku yang menyebabkan siksaan ini:<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">اما المعلقة بشعرها فانها كانت لا تغطى شعرها من الرجال</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Wanita yang digantung dengan rambutnya sendiri adalah wanita yang tidak menutupi rambutnya dari non muhrim. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>3.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Merobek-robek daging tubuhnya sendiri.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Siksaan lain bagi wanita ber-‘hijab buruk’ di hari kiamat adalah mereka akan merobek-robek sendiri daging tubuhnya sebagaimana yang diterangkan dalam lanjutan hadis di atas:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">و رأيت امرأة تقطع لحم جسدها من مقدمها و مؤخرها بالمقاريض من النار</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dan aku melihat wanita yang merobek-robek daging tubuhnya dari depan dan belakang dengan menggunakan gunting yang terbuat dari api neraka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">و اما التى كانت تقرض لحمها بالمقاريض فانها كانت تعرض نفسها على الرجال</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Sedangkan wanita yang merobek-robek daging tubuhnya dengan gunting yang terbuat dari api neraka adalah wanita yang mempertontonkan dirinya di hadapan non muhrim dan menyerahkan dirinya kepada mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>4.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Memakan daging tubuhnya sendiri.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam lanjutan hadis di atas, disebutkan: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">و رأيت امرأة تأكل لحم جسدها و النار توقد من تحتها</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dan aku melihat wanita yang memakan daging tubuhnya sendiri dan api menyala dari bagian bawah tubuhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><strong><span style="font-size:14pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">واما التى تأكل لحم جسدها فانها كانت تزين بدنها للناس</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dan wanita yang memakan daging tubuhnya sendiri adalah wanita yang menghiasi tubuhnya untuk orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Pencegahan dan Pengobatan ‘Hijab Buruk’</span></strong><a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="IN"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">Setelah membahas efek negatif ‘hijab buruk’, kami akan membahas tentang pencegahan dan pengobatan ‘hijab buruk’ dari sudut pandang agama. Metode pencegahan dan pengobatan ‘hijab buruk’ dibagi dalam dua bagian umum berupa metode pengetahuan dan metode prilaku. Maksud dari metode pengetahuan adalah metode yang berusaha menciptakan perubahan dalam sisi pengetahuan dan pandangan individu, sedangkan metode prilaku adalah metode yang berusaha menciptakan perubahan dalam prilaku individu. Dengan kedua metode ini, diharapkan ‘hijab buruk’ dapat dicegah dan diobati. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Pencegahan Hijab Buruk</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Pencegahan lebih utama dari pengobatan demikian juga dalam ‘hijab buruk’, hendaklah kita lebih memperhatikan pencegahannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>1.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Metode Pengetahuan</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Untuk mencegah ‘hijab buruk’, sumber-sumber Islam telah menunjukkan beberapa jalan yang dapat disajikan dalam bentuk tarbiat islami:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>a.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Menciptakan sarana dan pra sarana</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Untuk mencegah ‘hijab buruk’, harus diberikan pengetahuan yang tepat tentang hijab kepada anak-anak dan para pelajar. Karena hijab menjadi sebuah kewajiban bagi anak perempuan (setelah berusia genap 9 tahun) maka sebelumnya, budaya berhijab dan berpakaian islami harus pelan-pelan ditanamkan kepada anak-anak perempuan. Pada usia selanjutnya, sekolah yang merupakan pusat pendidikan dan tazkiah ruh (penyucian jiwa) harus memberikan pelajaran tentang hijab dan menjelaskan falsafahnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>b.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Memberikan pandangan yang benar.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam metode ini, murabbi dapat mengubah pandangan individu dengan memberikan<span> </span>pengetahuan yang luas tentang hakikat ‘hijab buruk’ kepadanya. ‘Hijab buruk’ adalah sebuah perbuatan menentang perintah ilahi sebab dalam al-Qur’anul Karim Allah swt telah berfirman: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">وليضربن بخمرهن على جيوبهّن</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Allah swt memerintahkan para wanita untuk menutupi dada dan lehernya dengan kerudung agar rambut, leher dan bentuk tubuhnya tidak kelihatan. Dengan memberikan pandangan yang benar tentang efek positif hijab yang mampu mencegah kerusakan jiwa, jasmani, akhlak, keluarga dan sosial, tujuan mulia dan falsafah wajibnya hijab (mensucikan diri, terciptanya iffah di dalam masyarakat<span> </span>dan mencegah kefasadan) murabbi dapat mengubah pandangan dan pengetahuan mutarabbi tentang hijab.<span> </span>Bagi mutarabbi akan menjadi jelas bahwa batasan hijab wanita dalam Islam adalah menutupi rambut dan seluruh tubuh (termasuk kaki) di hadapan non muhrim, kecuali wajah dan pergelangan tangan ke bawah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>c.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Memperkuat iman.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam metode ini, iman harus diperkuat untuk mencegah ‘hijab buruk’ sehingga tercipta perasaan memiliki tanggung jawab dan taklif dalam diri individu. Iman mampu mewarnai seluruh wujud manusia. Jika pelita iman dalam hati seorang wanita menyala terang, cahaya iman itu akan terlihat dalam perbuatannya. Dengan hijab yang digunakan, ia telah menunjukkan bahwa di dalam hatinya terdapat iman yang cahayanya terpancar ke luar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>d.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Memperkenalkan tokoh<span> </span>panutan.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam metode ini, kita memberikan sosok panutan kepada individu sehingga ia akan terdorong untuk melakukan perbuatan yang diinginkan. Dari sisi kejiwaan, manusia selalu mencari sosok untuk dijadikan sebagai panutan dalam amal dan perbuatannya. Sayyidah Fathimah Zahra as adalah wanita terbaik di seluruh alam dan yang paling menjunjung tinggi hijab. Kehidupan beliau yang penuh dengan cahaya maknawiat telah menunjukkan bahwa putri Nabi ini sangat memperhatikan masalah hijab dan sangat teliti dalam melaksanakannya. Bahkan ketika beliau harus turun ke jalan untuk membela hak wilayat suaminya, beliau tidak mengurangi hijab dan pakaiannya sedikit pun. Menjelang akhir usianya pun, beliau masih memikirkan sebuah cara agar kelak tubuh sucinya yang tidak bernyawa lagi tertutup dengan rapi di dalam keranda supaya bentuk tubuhnya tidak terlihat oleh orang lain!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>2.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Metode Prilaku.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam sumber-sumber Islam, selain metode pengetahuan juga disebutkan tentang metode prilaku untuk mencegah hijab buruk yang akan kami jelaskan di sini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>a.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Mengingatkan tentang hari kiamat.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Ma’ad adalah salah satu dasar dari agama Islam dan sebagai konsekwensinya manusia harus bertanggung jawab atas segala perbuatannya di akhirat. Maka seorang muslimah harus berhati-hati dalam segala prilakunya, menjaga hijabnya dengan baik di depan non muhrim dan menjalankan kewajibannya sebagai hamba Allah agar ia tidak malu di hari kiamat kelak dan tidak mengalami azab neraka yang menyakitkan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>b.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Menyadarkan bahwa hijab adalah sebuah kewajiban.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam Islam, hijab telah dikenalkan sebagai sebuah<span> </span>kewajiban (faridhah) dan dharurat din (dharurat din yakni sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari agama dan menyakininya adalah sebuah kelaziman dari ushuluddin serta mengingkarinya akan dihukumi kafir). Individu harus disadarkan bahwa hijab buruk berarti menginjak-injak kewajiban yang telah ditetapkan<span> </span>Allah. Seandainya tidak ada hikmat atau maslahat apa pun dalam hijab wanita, maka firman Allah sudah cukup menjadi alasan bagi para wanita beriman untuk melaksanakan kewajiban berhijab ini dengan baik dan benar.<span> </span>Wanita yang beriman tidak akan rela menunjukkan sehelai rambutnya atau menunjukkan anggota tubuhnya kepada non muhrim karena itu berarti ia telah menentang perintah Allah swt. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Pengobatan Hijab Buruk</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Jika dengan metode pengetahuan yang telah disebutkan tidak berpengaruh dalam mencegah ‘hijab buruk’, maka harus dilakukan pengobatan terhadap fenomena ini. Dalam proses ini, pengobatan dapat dilakukan melalui metode pengetahuan, kasih sayang dan prilaku, sebagaimana yang akan kami jelaskan di bawah ini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>1.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Metode pengetahuan</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Yaitu metode mengobati ‘hijab buruk’ dengan menciptakan perubahan dalam pengetahuan dan pandangan individu serta memberikan pandangan yang benar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Memperkuat kemampuan tafakkur, berpikir dan beranalisa logis di kalangan wanita<span> </span>merupakan salah satu jalan untuk mengobati ‘hijab buruk’. Wanita yang melalui tafakkkur dan ta’aqqul mampu menjawab pertanyaan batinnya “Mengapa aku harus berhijab?” maka di dalam batinnya akan tercipta hijab agamis. Tafakkur ini akan memberikan nilai tersendiri dalam perbuatannya dan akan menjamin keberlangsungan amal perbuatannya. Ketika wanita memahami efek positif dan berkah dari hijab maka ia tidak akan merasa berat menjaga hijabnya dan tidak akan merasa kebebasannya tersalib. Bahkan ia akan dengan senang hati melaksanakannya dan tidak memperhatikan godaan setan sedikitpun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>2.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Metode kasih sayang.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Maksudnya adalah metode menarik perasaan individu sebagai salah satu metode pengobatan, seperti menasehati. Nasehat adalah ucapan yang dapat membuat hati lembut, menarik perasaan dan membuat manusia berhenti dari perbuatan buruk. Oleh karena itu, metode menasehati sebenarnya adalah menghilangkan kekerasan hati dan melembutkan hati agar individu menjauhi perbuatan buruk dan berpaling pada keindahan dan kebaikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Ketika menasehati kaum perempuan, Imam Ali as bersabda: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.25in;text-align:right;" align="right"><strong><span style="font-size:14pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">و اياك ان تتزين للناس و تبارزالله بالمعاصى</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Hindarilah menghias diri untuk orang lain dan janganlah berperang dengan Allah melalui dosa-dosa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>3.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Metode prilaku.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Metode ini terdiri dari:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>a.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Metode menanam dan memanen.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Adalah kewajiban orang tua untuk memperhatikan anak-anak perempuannya karena semua kesempurnaan yang dimiliki sang anak. Orang tua harus mendorong anak-anak perempuannya agar mereka memiliki sifat-sifat mulia dan memakai hijab islami. Ketika anak menunjukkan sikap positif, orang tua<span> </span>boleh memberikan hadiah indah yang sesuai dengan kebutuhan logis dan syar’i anak. Dengan demikian anak akan selalu terdorong untuk terus memakai hijab islami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>b.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Metode mengubah kondisi. </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam riwayat Islam, anak perempuan digambarkan sebagai bunga. Bunga lembut dan dapat diserang hama sehingga membutuhkan perawatan tukang kebun, anak perempuan juga memiliki ruh yang lembut. Karena orang tua adalah pemegang amanah Allah, maka orang tua harus sekuat tenaga menjaga bunga-bunga kehidupannya. Jika orang tua merasa bahwa lingkungan sekolah, teman-teman anaknya tidak memiliki iffah, tidak memiliki malu atau tidak berhijab, atau bahkan mereka menjadi pemicu kefasadan sang anak, maka orang tua harus mengganti sekolah sang anak. Orang tua harus mencarikan teman yang berhijab baik, bertakwa dan<span> </span>memiliki akhlak yang baik untuk anaknya.[islamalternatif]</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Symbol;"><span>*</span></span></span></a> Diterjemahkan oleh Novita Tri Andari</p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> http://salimian.com/index2.php?key_m=24</p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <span style="font-size:10pt;"><a href="http://www.salimian.com/index4.php?key=154"><span style="color:#000000;">http://www.salimian.com/index4.php?key=154</span></a></span></p>
<p class="MsoFootnoteText">
<p class="MsoFootnoteText">
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> http://www.salimian.com/index4.php?key=152</p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> http://salimian.com/index4.php?key=151</p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <a href="http://salimian.com/index4.php?key=150"><span style="color:#000000;">http://salimian.com/index4.php?key=150</span></a></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> http://salimian.com/index4.php?key=149</p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:10pt;"> Diterjemahkan dari <a href="http://salimian.com/index4.php?key=155"><span style="color:#000000;">http://salimian.com/index4.php?key=155</span></a></span></p>
<p class="MsoFootnoteText">
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/286/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/286/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/286/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=286&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/06/21/hijab-prosedurer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/06/ya-fathimah3.jpg?w=128" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Arti Berbagai Nama dan Julukan Sayidah Fathimah Zahra AS</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/03/03/arti-berbagai-nama-dan-julukan-sayidah-fathimah-zahra-as/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/03/03/arti-berbagai-nama-dan-julukan-sayidah-fathimah-zahra-as/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Mar 2008 11:38:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2008/03/03/arti-berbagai-nama-dan-julukan-sayidah-fathimah-zahra-as/</guid>
		<description><![CDATA[Imam Shadiq AS bersabda: “Beliau dinamakan Fathimah karena tidak ada keburukan dan kejahatan pada dirinya. Apabila tidak ada Ali AS, maka sampai hari Kiamat tidak akan ada seorangpun yang sepadan dengannya (untuk menjadi pasangannya)”. Para Imam Ahlu-Bayt AS sangat memuliakan pemilik nama Fathimah tersebut. Salah satu pengikut Imam Jakfar as-Shadiq AS telah dikaruniai seorang anak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=266&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:14.4pt;"><a title="035.jpg" href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/03/035.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/03/035.thumbnail.jpg?w=500" alt="035.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Imam Shadiq AS bersabda: “Beliau dinamakan Fathimah karena tidak ada keburukan dan kejahatan pada dirinya. Apabila tidak ada Ali AS, maka sampai hari Kiamat tidak akan ada seorangpun yang sepadan dengannya (untuk menjadi pasangannya)”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Para Imam Ahlu-Bayt AS sangat memuliakan pemilik nama Fathimah tersebut. Salah satu pengikut Imam Jakfar as-Shadiq AS telah dikaruniai seorang anak perempuan, kemudian beliau bertanya kepadanya: “Engkau telah memberikan nama apa kepadanya?”. Ia menjawab: “Fathimah”. Mendengar itu Imam AS bersabda: “Fathimah, salam sejahtera atas Fathimah. Karena engkau telah menamainya Fathimah maka hati-hatilah. Jangan sampai engkau memukulnya, mengucapkan perkataan buruk kepadanya, dan muliakanlah ia.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="font-family:Arial;color:#333333;"> </span><span id="more-266"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="font-family:Arial;color:#333333;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;color:#333333;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;color:#333333;">Arti Berbagai Nama dan Julukan Sayidah Fathimah Zahra AS<span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Wanita mulia nan agung yang menjadi kekasih Allah dan Rasul-Nya itu bernama Fathimah. Keagungannya telah dinyatakan oleh manusia termulia dan makhluk Allah teragung, Muhammad SAW yang segala pernyataannya tidak mungkin salah. Pada kesempatan ini, kita akan melihat beberapa sebutan mulia<span> </span>bagi wanita agung tersebut, disamping banyak nama dan sebutan lagi yang disematkan pada pribadi kekasih Allah dan Rasul-nya itu. Di antaranya ialah;</span> <strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;">A-<strong><span>Fathimah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Syaikh Shaduq dalam kitab “I’lall Asy-Syara’i” dan Allamah al-Majlisi dalam kitab “Bihar al-Anwar” telah menukil riwayat dari Imam Jakfar bin Muhammad as-Shadiq AS, bahwasanya beliau bersabda: “Sewaktu Sayidah Fathimah Zahra AS terlahir, Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk turun ke bumi dan memberitahukan nama ini kepada Rasulullah. Maka Rasulullah SAW pun memberi nama Fathimah kepadanya.” (Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 13)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Dari segi bahasa ’<em>fathama</em>’ berarti “anak yang disapih dari susuan”. Dalam sebuah riwayat dari Imam Muhammad bin Ali al-Baqir AS telah<span> </span>dinyatakan bahwa, setelah kelahiran Fathimah Zahra AS, Allah SWT berfirman kepadanya: “Sesungguhnya aku telah menyapihmu dengan ilmu, dan menyapihmu dari kototan (<em>Inni fathamtuki bil ilmi wa fathamtuki a’nith thomats</em>)”. Hal ini seperti seorang bayi sewaktu disapih dari susu maka ia memerlukan makanan lain sebagai penggantinya. Dan Sayidah Fathimah Zahra AS setelah disapih, sedang makanan pertamanya berupa ilmu.” (Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 13)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Imam Ali bin Musa ar-Ridho AS telah meriwayatkan hadis dari ayahnya, dimana ayahnya telah meriwayatkan dari para leluhurnya hingga sampai ke Rasulullah SAW, bahwasanya beliau bersabda: “Wahai Fathimah, tahukan engkau kenapa dinamakan Fathimah?”. Kemudian Imam Ali AS bertanya: “Kenapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Karena ia dan pengikutnya akan tercegah dari api neraka”. (Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 14). Atau dalam riwayat lain beliau bersabda: “Karena terlarang api neraka baginya dan para pecintanya”.( Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 15) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Imam Ali bin Abi Thalib AS bersabda, “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda: “Ia dinamakan Fathimah karena Allah SWT akan menyingkirkan api neraka darinya dan dari keturunannya. Tentu keturunannya yang meninggal dalam keadaan beriman dan meyakini segala sesuatu yang diturunkan kepadaku.” (Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 18-19)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Imam Shadiq AS bersabda: “Beliau dinamakan Fathimah karena </span><span style="color:#333333;">tidak terdapat</span><span style="color:#333333;"> keburukan dan kejahatan  pada dirinya. Apabila tidak ada Ali AS maka sampai hari Kiamat tidak akan ada seorangpun yang sepadan dengannya (untuk menjadi pasangannya)”. (Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 10)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Dalam beberapa sumber telah dijelaskan bahwa nama Fathimah merupakan nama yang sangat disukai oleh para Maksumin (Ahlu-Bayt) AS. Para Imam Ahlu-Bayt AS sangat memuliakan pemilik nama tersebut. Salah satu pengikut Imam Shadiq AS telah dikaruniai seorang anak perempuan, kemudian beliau bertanya kepadanya: “Engkau telah memberikan nama apa kepadanya?”. Ia menjawab: “Fathimah”. Mendengar itu Imam AS bersabda: “Fathimah, salam sejahtera atas Fathimah. Karena engkau telah menamainya Fathimah, maka hati-hatilah jangan sampai memukulnya, mengucapkan perkataan buruk kepadanya, dan muliakanlah ia.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Salah seorang pengikut Imam Shadiq AS berkata: “Pada suatu hari dengan raut muka sedih, aku telah menghadap Imam Shadiq AS. Beliau bertanya: “Kenapa engkau bersedih?”. Aku menjawab: anakku yang terlahir adalah perempuan. Beliau bertanya kembali: “Engkau beri nama apa ia?”. Aku menjawab: “Fathimah”. Beliau kembali berkata: “Ketahuilah jika engkau telah menamainya Fathimah, janganlah engkau berkata buruk kepadanya dan janganlah memukulnya”.”(Wasa’il as-Syi’ah jilid 15 halaman 200)</span> <strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:14.4pt;">B-<strong><span>Zahra</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"><span> </span></span></p>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><em><span style="color:#333333;">Zahra</span></em><span style="color:#333333;">, artinya ialah “yang bersinar” atau “yang memancarkan cahaya”. Imam Hasan bin Ali al-Askari (imam ke-11) bersabda: “Salah satu sebab Sayidah Fathimah dinamai az-Zahra karena tiga kali pada setiap hari beliau akan memancarkan cahaya bagi Imam Ali AS.” (Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 11) Memancarkan cahaya bagaikan matahari pada waktu pagi, siang dan terbenam matahari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Dalam riwayat lain Imam Shadiq AS bersabda: “Sebab Sayidah Fathimah dinamakan Zahra karena akan diberikan kepada beliau sebuah bangunan di surga yang terbuat dari yaqut merah. Dikarenakan kemegahan dan keagungan bangunan tersebut maka para penghuni surga melihatnya seakan sebuah bintang di langit yang memancarkan cahaya, dan mereka satu sama lain saling mengatakan bahwa bangunan megah bercahaya itu dikhususkan untuk Fathimah AS.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Dalam riwayat lain dikatakan bahwa, orang-orang telah bertanya kepada Imam Shadiq AS: “Kenapa Fathimah AS dinamakan Zahra?” Beliau menjawab: “Karena sewaktu beliau berada di <em>mihrab</em> (untuk beribadah) cahaya memancar darinya untuk para penghuni langit, bagaikan pancaran cahaya bagi para penghuni bumi.” (Namha wa Alqaab Hadzrate Fathimah Zahra halaman: 22)</span> <strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;">C-<strong><span>Muhaddatsah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><em><span style="color:#333333;">Muhaddatsah,</span></em><span style="color:#333333;"> artinya ialah “orang yang malaikat berbicara dengannya”. Telah dijelaskan bahwasanya para malaikat dapat berbicara dengan selain para nabi atau para rasul. Dan orang-orang selain para nabi dan rasul itu dapat mendengar suara dan melihat para malaikat. Sebagaimana dalam al-Qur’an disebutkan bahwa Allah SWT telah menjelaskan bahwasanya Mariam bin Imran AS (bunda Maria) telah melihat malaikat dan berbicara dengannya. Hal ini telah disinyalir dalam surah al-Imran ayat 42, <em>“Dan (Ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata: &#8220;Hai Maryam, Sesungguhnya Allah Telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Dalam sebuah riwayat Imam Shadiq AS bersabda: “Fathimah dijuluki <em>muhaddatsah</em> karena para malaikat selalu turun kepadanya, sebagaimana mereka memanggil Mariam AS, berbicara dengannya, dan mereka mengatakan: “Wahai Fathimah, sesungguhnya Allah SWT telah memilihmu, mensucikanmu dan memilihmu atas perempuan seluruh alam”. Para malaikatpun menyampaikan kepada Fathimah Zahra AS tentang hal-hal yang akan terjadi di masa mendatang, raja-raja yang akan berkuasa, dan hukum-hukum Allah SWT. Fathimah Zahra AS meminta kepada Imam Ali AS untuk menulis semua perkara yang telah disampaikan para malaikat kepadanya. Serta jadilah kumpulan tulisan tersebut dinamakan dengan mushaf Fathimah”. (Bihar al-Anwar jilid 43)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Imam Shadiq AS telah berkata kepada Abu Bashir: “Mushaf Fathimah berada pada kami. Dan tiada yang mengetahui tentang isi mushaf tersebut&#8230;.mushaf tersebut berisikan hal-hal yang telah diwahyukan Allah SWT kepada ibu kami, Fathimah Zahra AS.” (Bihar al-Anwar jilid 43, Fathimah az-Wiladat to Syahadat halaman 111)</span> <strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;">D-<strong><span>Mardhiyah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"><span> </span></span></p>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><em><span style="color:#333333;">Mardiyah</span></em><span style="color:#333333;">, artinya ialah “orang yang segala perkataan dan perilakunya telah diridhoi Allah SWT”. Adapun sebab beliau dijuluki dengan julukan <em>mardiyah</em> karena bersumber pada beberapa hadis yang telah disampaikan Rasulullah SAW berkaitan dengan kedudukan Sayidah Fathimah Zahra AS, dimana beliau telah bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT murka atas murka-mu dan ridho atas keridhoan-mu.” (Riwayat dengan kandungan seperti ini bisa didapati pada beberapa sumber seperti, Mustadrak ash-Shahihain jilid 3 halaman 153, Kanzul Ummal jilid 6 halaman 219, Mizan al-I’tidal jilid 2 halaman 72, Dzakhairu al-‘Uqba halaman 39)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Catatan: Tentunya hadis-hadis Rasulullah tentang Sayidah Fathimah Zahra AS itu bukanlah berasal dari hawa nafsu dan atas dasar nepotisme seorang ayah terhadap anaknya. Karena<span> </span>sebagaimana yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an beliau tidak mengatakan sesuatu berdasarkan hawa nafsu sebagaimana yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an: “</span><span style="font-size:10pt;color:#333333;"> </span><em><span style="color:#333333;">Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya.</span></em><span style="color:#333333;">” (QS an-Najm:3). Maka hadis-hadis itu sebagai bukti akan keistimewaan Fathimah Zahra AS dimata Allah dan Rasul-Nya. </span> <strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;">E-<strong><span>Siddiqah Kubra</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="font-size:10pt;color:#333333;"> </span></p>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><em><span style="color:#333333;">Shiddiqah</span></em><span style="color:#333333;">, artinya ialah “seorang yang sangat jujur”, orang yang tidak pernah berbohong. Atau orang yang perkataannya membenarkan prilakunya. (Lisanul Arab dan Taajul Aruus)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Pada waktu menjelang kepergian (wafat) Rasulullah SAW, beliau berkata kepada Ali AS: “Aku telah menyampaikan berbagai masalah kepada Fathimah. Benarkan (percayailah) segala yang disampaikan Fathimah, karena ia sangat jujur.” (Bihar al-Anwar jilid 22 halaman 490)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Dalam sebuah hadis bahwasanya Ummulmukminin Aisyah berkata: “Tidak aku dapatkan seseorang yang lebih jujur dari Fathimah, selain ayahnya.” (Hilyatul Auliya’ jilid 2 halaman 41 dan atau Mustadrak as-Shahihain jilid 3 halaman 16)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Dan kedudukan ini (<em>Shiddiqiin</em>) berada pada tingkatan para nabi, syuhada dan shalihin sebagaimana yang telah disinyalir al-Qur’an: “<em>Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh, <span> </span>dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.</em>” (QS An-Nisa : 68)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Rasulullah SAW berkata kepada Imam Ali AS: “Tiga hal berharga telah dihadiahkan kepadamu, dan tidak seorangpun yang mendapatkannya termasuk aku; Engkau memiliki mertua seorang rasul, sementara aku tidak memiliki mertua sepertimu.<span> </span>Engkau memiliki istri yang sangat jujur (<em>shiddiqqah</em>) seperti putriku, sementara aku tidak memiliki istri sepertinya. Engkau dikaruniai anak-anak seperti Hasan dan Husein, sementara aku tidak dikaruniai anak-anak seperti mereka. Namun demikian engkau berasal dariku dan aku berasal darimu.” (Ar-Riyadhu an-Nadrah jilid 2 halaman 202)</span> <strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;">F-<strong><span>Raihanah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Dalam sebuah riwayat berkaitan dengan putrinya, Rasulullah SAW bersabda: “Fathimah merupakan wewangianku. Ketika aku merindukan bau surga maka aku akan mencium Fathimah”. (Bihar al-Anwar jilid 35 halaman 45, dan kandungan hadis semacam ini pun bisa didapati dalam tafsir Ad-Durrul Mansur Suyuthi)</span> <strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;">G-<strong><span>Bathul</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Ibnu Atsir dalam karyanya yang berjudul “An-Nihayah” menyatakan: “Kenapa Fathimah dijuluki Al-Bathul? Karena beliau dari segi keutamaan, agama, dan kehormatan lebih dari para perempuan yang ada pada zamannya. Atau karena beliau telah memutuskan hubungannya dengan dunia dan hanyalah mencari kecintaan Allah SWT.” (Hadis dengan redaksi semacam ini juga dapat kita jumpai pada kitab-kitab seperti; Maanil Akhbar hal 54, Ilalu Asy-Syarai’ hal 181, Yanaabi’ al-Mawaddah hal 260)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Dalam kitab “al-Manaqib” pada jilid 3 halaman 133 dijelaskan bahwa seseorang telah bertanya kepada Rasulullah; “Kenapa seseorang dijuluki al-Bathul? Beliau menjawab: “Yaitu perempuan yang tidak keluar darinya darah haid. Sesungguhnya hal itu tidak layak bagi para putri para nabi (lain).” (Al-Manaqib jilid 3 halaman 133, Al-awalim jilid 6 halaman 16)</span> <strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;">H-<strong><span>Rasyidah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><em><span style="color:#333333;">Rasyidah,</span></em><span style="color:#333333;"> artinya ialah “wanita yang telah dianugrahi petunjuk”, selalu berada dalam kebenaran dan pemberi petunjuk bagi yang lain. Rasulullah SAW telah memberikan julukan ini kepada putrinya, Fathimah AS. Dalam sebuah riwayat telah dijelaskan bahwasanya Imam Ali AS bersabda: “Beberapa saat sebelum kepergian Rasulullah (wafat), beliau telah memanggilku. Beliau bersabda kepadaku dan Fathimah: “Ini hanutku (ialah kapur barus yang dioleskan ke anggota sujud seorang jenazah, red) yang telah dibawakan Jibril dari surga untukku. Beliau telah menitip salam untuk kalian berdua dan berkata: “Engkau harus membagikan hanut ini, dan ambillah untukmu. Pada saat itu Fathimah AS berkata: “1/3-nya untuk engkau wahai ayahku. Sedang sisanya, biarlah Ali sendiri yang memutuskannya”. Mendengar itu Rasulullah menangis dan memeluk putrinya seraya bersabda: “Engkau adalah wanita yang telah dianugrahi taufiq (pertolongan khusus) dan rasyidah (petunjuk) yang telah mendapatkan ilham dari-Nya, dan mendapatkan petunjuk dari-Nya. Pada saat itu pula Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Ali, katakan padaku tentang sisa hanut tersebut”. Aku (Ali) berkata: “Setengah dari yang tersisa ialah untuk Zahra (Fathimah). Dan berkaitan dengan sebagian lainnya apa perintahmu, ya Rasulullah?”. Rasulullah SAW bersabda: “Sisanya untukmu, maka peliharalah.” (Bihar al-Anwar jilid 22 halaman 492)</span> <strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;">I-<strong><span>Haura Insiyah (bidadari berbentuk manusia)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:14.4pt;"><strong><span style="color:#333333;"> </span></strong></p>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Sebelum Rasul melakukan salah satu mi’rajnya(dari beberapa riwayat disebutkan <span> </span>Rasulullah tidak melakukan mi’raj sekali saja, bahkan berkali-kali red), Atas perintah Allah SWT, beliau tidak diperkenankan untuk menemui (mengumpuli) istrinya selama 40 hari. Dan pada hari terakhir beliau dalam mi’raj-nya memakan buah-buahan seperti; kurma dan apel yang berasal dari surga. Seusai beliau memakan buah-buahan yang berasal dari surga itu lantas beliau menemui (mengumpuli) istrinya Sayidah Khadijah AS. Dan dari nutfah (sperma) yang berasal dari buah-buahan surga itulah, Sayidah Khadijah AS mengandung janin Sayidah Fathimah Zahra AS. Oleh karena itu, Sayidah Fathimah Zahra AS dijuluki ‘<em>haura Insiyah</em>’ (bidadari berbentuk manusia). (Tafsir Furat Kufi halaman 119, Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 18, riwayat-riwayat semacam inipun bisa didapati dalam sumber-sumber Ahlusunah seperti; Ad-Durrul Mansur, Mustadrak Shahihain, Dzakhairu al-Uqbah, Tarikh Bagdadi dsb) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><em><span style="color:#333333;">Haura insiyah</span></em><span style="color:#333333;">, artinya ialah “bidadari yang berbentuk manusia”, para wanita surga dinamakan bidadari karena putih dan hitam matanya sangat elok dan menarik sekali. Oleh karena itu, seorang wanita yang memiliki mata yang sangat elok seperti bidadari, dijuluki bidadari. (Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 5)</span> <strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;">J-<strong><span>Thahirah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><em><span style="color:#333333;">Thahirah</span></em><span style="color:#333333;"> berarti <span> </span>yang “suci atau maksum dari dosa dan kesalahan”. Hal ini karena beliau telah disucikan dari salah dan dosa, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an surah al-Ahzab ayat 33, “</span><span style="font-size:10pt;color:#333333;">&#8230; </span><em><span style="color:#333333;">Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.</span></em><span style="color:#333333;">”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Berdasarkan ayat di atas Allah SWT telah mensucikan Ahlu-Bayt Nabi SAW. Dan salah satu dari Ahlu-Bayt Nabi SAW tersebut adalah Sayidah Fathimah AS. Ayat di atas diturunkan berkaitan dengan “<em>Ashhabul Kisa</em>” (penghuni kain), yaitu Rasulullah, Imam Ali, Sayidah Fathimah Zahra, Imam Hasan dan Imam Husein. Hal ini dapat dirujuk dalam berbagai sumber seperti, Tafsir at-Thabari, Tafsir Ad-Durrul Mansur, Tarikh al-Bagdadi, Tafsir al-Kasyaf, Usudul Ghabah&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">[<strong>ED</strong>, diambil dari berbagai sumber , <em>Namha wa Alqab Hazrate Fathima Zahra, Fadzaila Khamsah dan lain-lain</em>] </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/266/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/266/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/266/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=266&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/03/03/arti-berbagai-nama-dan-julukan-sayidah-fathimah-zahra-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/03/035.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">035.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku Bangga kepada-mu Sayang…!</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/02/25/aku-bangga-kepada-mu-sayang%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/02/25/aku-bangga-kepada-mu-sayang%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Feb 2008 07:33:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi Keluarga & Pendidikan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS Ar-Ruum:21) Rasulullah bersabda: “Tidak ada bangunan dalam Islam yang lebih aku cintai dan lebih aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=263&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/2040052954_d02f4f70e7_m.jpg" title="2040052954_d02f4f70e7_m.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/2040052954_d02f4f70e7_m.thumbnail.jpg?w=500" alt="2040052954_d02f4f70e7_m.jpg" /></a><span style="font-family:Arial;color:#333333;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><i><span style="color:#333333;">Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.</span></i><span style="color:#333333;"> (QS Ar-Ruum:21)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Rasulullah bersabda: “<i>Tidak ada bangunan dalam Islam yang lebih aku cintai dan lebih aku muliakan dari pernikahan . </i>” (Muntakhab Mizanul-Hikmah<span>  </span>halaman 252)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="font-family:Arial;color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span id="more-263"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="font-family:Arial;color:#333333;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;color:#333333;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;color:#333333;">Aku Bangga kepada-mu Sayang…!</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;color:#333333;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;color:#333333;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><i><span style="color:#333333;">Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.</span></i><span style="color:#333333;"> (QS Ar-Ruum:21)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> Rasulullah bersabda: “<i>Tidak ada bangunan dalam Islam yang lebih aku cintai dan lebih aku muliakan dari pernikahan . </i>” (Muntakhab Mizanul-Hikmah<span>  </span>halaman 252)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Pernikahan merupakan sebuah ikatan suci antara seorang laki-laki dan wanita. Sebelum memasuki jenjang pernikahan dan memutuskan untuk hidup bersama melalui ikatan suci tersebut, sebagai mukaddimah ialah salah satu saling mengenal terlebih dahulu dan ada ketertarikan antara keduanya. Seseorang memutuskan memilih calon pasangan hidupnya karena terdapat berbagai criteria yang menurut pandangannya, criteria yang dimiliki oleh calon pasangan hidup dapat menjadikan mereka hidup bersama dalam mengarungi kehidupan berumah tangga. </span></p>
<p>Setiap orang, laki-laki ataupun perempuan memiliki angan-angan agar kelak di masa depan mendapatkan pasangan ideal yang didambakannya. Harapan dan keinginan untuk mendapatkan pasangan yang idel adalah merupakan &#8216;fitrah&#8217; manusia.  Fitrah akan cinta pada kesempurnaan. Manusia menyukai kesempurnaan.  Oleh karenanya ia selalu ingin mendapatkan pasangan yang sempurna juga. Hanya saja karena terdapat perbedaan dalam memandang kesempurnaan -tergantung backgraound pandangannya terhadap dunia dan tujuan hidup- maka dalam memandang kesempurnaan pun akan berbeda pula. Sewaktu dalam memandang sebuah kesempurnaan terdapat perbedaan maka dalam memandang seorang pasangan ideal pun akan berbeda juga.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Pasangan yang ideal dalam kaca mata sebagian orang ialah seseorang yang sempurna dari sisi lahiriyah saja seperti tampan atau cantik, kaya, sarjana,  keturunan pejabat atau ningrat, bodinya atletis bagi lelaki dan<span>  </span>langsing bagi perempuan. Namun dalam kaca mata sebagian orang, pasangan yang ideal tidak hanya menjadikan tolok ukur sisi lahiriyah saja. Bahkan sisi lahiriyah yang semu tadi hanya dijadikan hal sekunder saja. Yang menjadi ukuran utamanya ialah kepribadiannya seperti baik, penyayang, lemah lembut bagi perempuan, bertanggungjawab, perhatian dan sifat-sifat terpuji lainnya. Akan tetapi terdapat pandangan lainnya lagi dalam memandang sebuah pasangan ideal. Pasangan ideal adalah seorang manusia sempurna baik dari segi jasmani seperti ganteng atau cantik dan juga memiliki kepribadian yang jempol.  Apabila diprosentasekan dengan angka, nilainya ialah seratus persen sempurna. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Dalam sebuah hadis yang disampaikan oleh Rasulullah bahwa seseorang memilih pasangan hidup karena kecantikan / ketampanan, nasab keturunan, harta dan karena agamanya. Dalam akhir ucapannnya beliau mengatakan barang siapa yang memilih pasangan hidup karena agamanya maka berbahagialah ia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Dalam riwayat lain Rasulullah menjelaskan tentang masalah agama dan prilaku calon istri yang ideal bagi seorang laki-laki, “<i>Barangsiapa yang menikahi seorang perempuan karena kecatikannya maka ia tidak akan melihat padanya melainkan apa yang telah ia inginkan. Dan barangsiapa yang menikahi pertempuan karena hartanya maka ia tidak akan mendapatkan yang lainnya melainkan hanya yang diinginkannya. Maka hendaknya kalian menikahi seseorang karena agamnya.</i>” (Muntakhab Mizan al-Hikmah halaman 252)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Apabila seseorang menikah hanya karena tujuan kecantikan atau ketampanan pasangannya, maka hanya untuk beberapa waktu saja ia menikimati kecantikan dan ketampanan pasangannya. Karena setelah itu, disebabkan selalu bersamaan maka kecantikan dan ketampanan yang dimiliki oleh pasangannya tidak seperti ketika awal permulaan mereka bertemu. Pasangannya akan dirasakan biasa saja. Mungkin sebagian merasakan adanya rasa bosan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> Yang menjadi pertanyaan, dapatkan seseorang mendapatkan pasangan hidup yang ideal, sempurna tanpa memiliki kekurang sedikitpun? Karena sebelum memasuki kehidupan berumah tangga dan hidup bersama, maka sebagian kekurangan baik yang dimiliki oleh seorang istri maupun suami semuanya tidak akan tampak. Kekurangan dan kelebihan seseorang akan tampak ketika dia sudah memasuki hidup bersama dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Oleh karena itu, ulama akhlak kontemporer Ayatullah Mudhohiri dalam karyanya yang berjudul ‘Akhlak dalam Rumah&#8217; (kehidupan berumah tangga) mengatakan bahwa tidak mungkin seseorang dapat menemukan pasangan yang seratus persen merupakan idamannya. Tujuh puluh persen saja sesuai yang kita harapkan itu sudah sangat bagus sekali. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Dalam riwayat lain Rasulullah mensyaratkan tentang ‘sepadan&#8217; (<i>sekufu</i>) dalam memilih pasangan hidup. Walaupun pengertian sepadan memiliki pengertian yang luas dapat mencakup masalah status sosial, ekonomi, dalam pemikiran, status keilmuan dan dalam masalah agama dan keyakinan. Namun penekanannnya lebih pada masalah sepadan dari masalah agama. Artinya, pasangan yang akan kita pilih adalah pasangan yang beradarkan kacamata agama adalah orang yang baik yang dapat diajak hidup bersama dalam mengarungi kehidupan rumah tangga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Karena ketika seseorang memilih pasangan hidup berdasarkan tolok ukur agama (dengan penjelasan sederhananya ialah karena Allah), maka ketika ia mendapatkan kekurangan yang dimiliki oleh pasangannya pasca pernikahan. Dan setelah beberapa saat menjalani hidup berumah tangga maka ia akan melihat berbagai kekurangan yang sebelumnya tidak ia diketahui.  Di situ ia tidak akan merasa kecewa. Karena ia baru akan menyadari bahwa setiap manusia (selain para manusia pilihan Tuhan dan para manusia suci) tidak akan pernah lepas dari kekurangan.  Setiap orang dibalik kelebihan yang dimilikinya pasti ia akan memiliki kekurangan. Seringnya jika seorang istri atau suami tidak melihat pasangannya berdasarkan kaca mata agama niscaya ia hanya akan berusaha memandang sisi kekurangan pasangannya saja, dimana apabila hal itu diperbesar -atau bahkan dibesar-besarkan- akan berdampak merusak keutuhan sebuah rumah tangga yang telah dibina dengan susah payah. Satu sama lain akan selalu berusaha mencari kekurangan yang lainnya, saling merendahkan dan tidak saling menghormati. Di saat itu, kehidupan rumah tangga akan terasa pahit bagi pasangan suami-istri tersebut, dan <span> </span>selalu dipenuhi dengan perselisihan.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> Oleh sebab itu, dalam mengatasi masalah ini, agama Islam telah memberikan jalan keluarnya. Yaitu dengan menerima pasangan hidup kita apa adanya. Bagaimana caranya? Dengan melihat sisi-sisi kelebihan yang dimiliki oleh pasangan kita. Dan menyadari bahwa sebagaimana kita sendiri tidak sempurna maka pasangan kita pun pastilah tidak sempurna. Selain memiliki kelebihan pasti ia memiliki kekurangan. Cara yang obyektif dan rril adalah dengan menutupi kekurangan pasangan kita melalui kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Itulah cara paling &#8216;aman&#8217; dalam membangun keharmonisan sebuah rumah tangga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Seorang istri atau suami hendaknya bangga atau membanggakan kelebihan yang dimiliki oleh pasangannya. Dan selalu berusaha menutup mata atas kekurangan yang dimiliki oleh pasangannya, bukan lantas membandingkannya dengan yang lain. Ungkapan seperti; “Lihatin Pa, suaminya tetangga lebih baik dari Papa. Ayo dong Papa juga kaya dia, nyari uang siang-malam. Gimana sih Papa ini, kaya suami tetangga dong…!&#8221;. Atau ucapan seorang suami terhadap istrinya seperti: “Lihatin Ma,  istrinya tetangga pintar masak (istrinya bisa masak hanya tidak semahir istri tetangganya)!.  Lihatin Ma, istrinya fulan pintar membuat kerajinan, keterampilan dan lainnya. Gimana sih Mama ini nggak bisa apa-apa!”. Seorang manusia dengan status apapun (bahkan anak-anak sekalipun) tidak akan pernah senang jika dibandingkan dengan orang lain.  Karena selain akan merasa dijatuhkan harga dirinya, ia juga akan merasa kehilangan rasa percaya diri.  Oleh sebab itu, dalam psikologi pun telah dijelaskan bahwa hendaknya orang tua jangan sekali-kali untuk membanding-bandingkan anaknya dengan anak lain. Karena apabila melakukan hal itu, artinya,  sama dengan membunuh potensi-potensi dan kelebihan yang dimiliki oleh anaknya yang tidak dimiliki oleh yang lainnya.. Ia akan merasa rendah diri, hilang rasa percaya diri, dan tidak memiliki arti apa-apa di hadapan orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Seorang pasangan istri-suami pun demikian pula. Ia hendak berusaha merasa bangga dengan kelebihan yang dimiliki oleh pasangannya. Dan dengan rasa bangga ini, sebaliknya, akan menambah erat hubungan keharmonisan sebuah rumah tangga. Suami-istri harus berusaha selain melakukan pujian terhadap pasangannya yang keluar dari dalam hati, juga harus dibuktikan dalam prilaku dan lisan. Hendaknya tidaklah sungkan mengatakan kepada pasangan: “<i>Aku bangga padamu sayang. Engkau suami yang sangat perhatian terhadap urusan rumah tangga, dan baik sekali. Tidak semua orang seperti kamu lho&#8230;!?</i>&#8220;. Atau ungkapan istri kepada suaminya: &#8220;<i>Aku bangga padamu sayang. Engkau istri yang sangat baik dan pengertian. Engkau pintar menata rumah. (</i>atau misalkan<i>) Engkau pintar memasak. Gak semua istri seperti kamu lho&#8230;.!?”.</i></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Tentunya ungkapan-ungkapan semacam ini, akan lebih berpengaruh dalam jiwa apabila keluar dari hati sanubari. Oleh karena itu, janganlah kita mempersulit diri dan selalu berusaha untuk menjadikan rumah tangga kita seperti rumah tangga orang lain. Nikmatilah hidup apa adanya, dan jangan menyibukan diri memata-matai kehidupan orang lain dan lantas membanding-bandingkannya. Kehidupan akan dirasakan sulit (pahit) atau senang (manis) dimana semua itu kembali kepada kita sendiri dalam berprilaku. Jika kita selalu berusaha untuk menjadikan pasangan kita sebagai manusia yang sempurna seperti orang lain, selain kita dan pasangan kita sendiri akan merasa capek dengan perbuatan sia-sia tersebut (karena mustahil akan bisa diraih), juga tidak akan pernah dapat menikmati kehidupan yang kita alami secara riil.  Sebelum terlambat, marilah kita memulai untuk menjadikan kehidupan ini menjadi lebih indah. Tentunya dengan menjalankan tips-tips yang telah dianjurkan oleh agama Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"> [<b>ED</b>]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/263/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/263/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/263/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=263&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/02/25/aku-bangga-kepada-mu-sayang%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/2040052954_d02f4f70e7_m.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">2040052954_d02f4f70e7_m.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Ringkas : Masjid al-Mukaddas Jamkaran</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/02/16/sejarah-ringkas-masjid-al-mukaddas-jamkaran/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/02/16/sejarah-ringkas-masjid-al-mukaddas-jamkaran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 18:22:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[Sudah selayaknya para penziarah mendatangani tempat suci ini untuk mengambil berkah dan manfaatnya. Ketika kita berziarah ke tempat yang dimuliakan oleh Allah (swt) tersebut, kita harus menjauhkan diri dari segala perbuatan yang tidak diridhoi Allah (swt). Karena hal itu, akan menyebabkan Imam Mahdi (af) mengabaikan kehadiran kita. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-   Sejarah Ringkas : Masjid al-Mukaddas Jamkaran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=261&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/masjid-jamkaran.jpg" title="masjid-jamkaran.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/masjid-jamkaran.thumbnail.jpg?w=500" alt="masjid-jamkaran.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Sudah selayaknya para penziarah mendatangani tempat suci ini untuk mengambil berkah dan manfaatnya. Ketika kita berziarah ke tempat yang dimuliakan oleh Allah (swt) tersebut, kita harus menjauhkan diri dari segala perbuatan yang tidak diridhoi Allah (swt). Karena hal itu, akan menyebabkan Imam Mahdi (af) mengabaikan kehadiran kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-261"></span><br />
<span style="font-size:14pt;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;">Sejarah Ringkas :</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:14pt;"><b>Masjid al-Mukaddas Jamkaran</b></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Allah (swt) berfirman: “<i>Sesungguhnya sesuatu yang telah disiapkan Allah swt buatmu, adalah lebih baik bagimu jika kamu beriman</i>”. (QS Hud :86)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Imam Mahdi (af) berkata: “<i>Katakanlah kepada orang-orang, cintailah tempat ini (Masjid al-Mukaddas Jamkaran) dan muliakanlah</i>”.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span>   </span>Masjid al-Mukaddas Jamkaran terletak di daerah Jamkaran, yang terletak kurang lebih enam kilometer dari kota suci Qom. Masjid ini, sering didatangi penziarah dari berbagai pelosok Iran, bahkan dari berbagai negara. Tempat suci ini, berada dibawah naungan khusus Imam Mahdi (af) yang telah menyatakan bahwa beliau akan bertemu dengan pengikutnya kelak di tempat ini. Tempat suci ini pun, mempunyai kemuliaan karena telah dipilih Allah (swt) diantara tempat-tempat lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span>   </span>Oleh karena itu, sudah selayaknya para penziarah mendatangani tempat suci ini untuk mengambil berkah dan manfaatnya. Ketika kita berziarah ke tempat yang dimuliakan oleh Allah (swt) tersebut, kita harus menjauhkan diri dari segala perbuatan yang tidak diridhoi Allah (swt). Karena hal itu, akan menyebabkan Imam Mahdi (af) mengabaikan kehadiran kita. Kita harus bersikap seakan-akan Imam Mahdi (af) berada dihadapan kita, dan seraya menjaga diri dari segala prilaku yang tidak diridhai oleh Imam Mahdi (af). Kemudian, kitapun harus berdoa dengan penuh keikhlasan supaya Allah (swt)<span>  </span>menyegerakan kemunculan beliau, dan kita harus menyadari dengan sepenuh hati bahwa semua permasalahan yang ada di dunia ini tidak akan terselesaikan secara tuntas jika Imam Mahdi (af) belum muncul. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"></span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-weight:normal;"><b>Sejarah Ringkas</b></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span>   </span>Syeikh Hasan bin Mitslih (ra) berkata: “Pada malam rabu, yaitu bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan 373 H Q, aku tidur di rumahku. Tiba-tiba, orang-orang berdatangan ke rumahku dan membangunkanku seraya berkata: “Beranjaklah dari tempat tidurmu untuk menemui junjunganmu, yaitu Imam Mahdi (af) yang hendak bertemu denganmu”. Kemudian mereka membawaku ke tanah yang sekarang di atasnya didirikan masjid al-Mukaddas Jamkaran. Disana, saya melihat seorang pria muda, yang kira-kira berusia tiga puluh tahun sedang duduk di atas dipan yang beralaskan permadani dan bersandarkan bantal. Beliaulah Imam Mahdi (af). Disampingnya, duduk pula seorang pria tua yang tidak lain beliau adalah nabi Hidhir (as). Setelah itu, lantas Imam mempersilahkanku. Lantas Imam Mahdi (af) memanggil namaku seraya berkata: “Pergilah menemui Hasan Muslim (petani tanah tersebut) dan katakan kepadanya bahwa tanah ini adalah tanah mulia yang telah dipilih Allah (swt) diantara tanah-tanah yang lain. Karena itu, sejak saat ini, dia (Hasan Muslim) tidak berhak lagi untuk bercocok tanam di tanah ini”. Lantas saya berkata: “Wahai tuanku, saya memerlukan bukti dan tanda agar orang-orang dapat menerima ucapanku”. Imam Mahdi (af) menjawab: “Pergilah dan laksanakan perintah ini, nanti aku akan memberikan bukti dan tanda untuk perkara ini. Kemudian, pergilah juga ke rumah sayyid Abul Hasan Ridho (ra) –salah seorang ulama Qom kala itu- dan katakan kepadanya: “Datangkan Abu Muslim, lalu gabungkanlah keuntungan beberapa tahun yang dihasilkan dari tanah itu. Lantas bangunlah masjid di atasnya. Setelah itu, umumkan kepada masyarakat untuk mencintai tempat ini, memuliakannya dan mendirikan shalat empat rakaat di dalamnya”. Lalu, Imam Mahdi (af) memberi petunjuk tentang tata cara shalat di tempat yang disucikan itu dengan tuntunan sebagai berikut; Dua rakaat pertama, adalah shalat dengan niat “<i>shalat tahiyat masjid</i>”. Pada setiap rakaatnya membaca sekali surat al-Fatihah dan tujuh kali surat al-Ikhlas. Saat ruku’, membaca zikir “<i>Subhana rabbiyal adzimi wa bihamdihi</i>” sebanyak tujuh kali. Adapun saat sujud, membaca zikir “<i>Subhana rabbiyal a’la wa bihamdihi</i>” sebanyak tujuh kali. Seusai melaksanakan “<i>shalat tahiyat masjid</i>”, lantas melakukan shalat dua rakaat dengan niat shalat Imam Mahdi (af), dengan tata cara sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span>1-<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">     </span></span></span><span dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Rakaat pertama, dimulai dengan membaca surat al-Fatihah. Ketika sampai pada ayat “<i>Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in</i>” ulangi bacaan ayat tersebut sebanyak seratus kali. Setelah itu, bacalah surat al-Ikhlas sekali. Lantas melakukan ruku’ dan sujud sambil membaca zikir (ruku’ dan sujud) masing-masing sebanyak tujuh kali (sebagaimana yang telah disebutkan dalam tata cara <i>shalat tahiyat masjid</i>).</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span>2-<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">     </span></span></span><span dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Rakaat kedua, dilakukan dengan tata cara yang sama seperti pada rakaat pertama. Kemudian dilanjutkan dengan salam. Setelah membaca salam, lantas membaca satu kali kalimat tauhid “<i>laa ilaha illallah</i>”. Seusai membaca kalimah tauhid, lantas membaca tasbih az-Zahra (<i>Allahu akbar</i> 34x, <i>alhamdulillah</i> 33x dan <i>subhanallah</i> 33x). Setelah mambaca tasbih Zahra, lantas sujud dengan membaca shalawat “<i>Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad</i>” sebanyak seratus kali.</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Imam Mahdi (af) juga berkata: “<i>Jika seseorang mendirikan shalat dua rakaat di tempat ini (masjid Jamkaran), maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana mendirikan shalat dua rakaat di dalam Ka’bah</i>”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><br />
Kemudian saya meninggalkan tempat tersebut, namun baru aku berjalan beberapa langkah, Imam Mahdi (af) kembali memanggilku seraya berkata: “Belilah satu ekor kambing yang digembalakan oleh Jakfar Kasyani, lantas bawalah kemari dan sembelihlah di tempat ini. Setelah itu, bagikanlah dagingnya kepada orang-orang yang sakit. Orang-orang sakit yang memakan daging kambing tersebut akan disembuhkan penyakitnya oleh Allah (swt)”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Akupun kembali ke rumah dan terus berpikir sepanjang malam hingga tiba waktu subuh. Seusai melaksanakan shalat subuh, saya pergi ke rumah Ali Mandzar dan menceritakan semua peristiwa yang telah kualami malam itu. Kemudian, kami pun pergi ke tempat itu. Dengan dipenuhi rasa heran, kami dapati di atas tanah itu terdapat rantai-rantai yang menjadi pembatas bangunan masjid al-Mukaddas Jamkaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Setelah itu, aku pergi ke kota Qom untuk menjumpai sayyid Abul Hasan Ridho (ra). Sesampai di depan pintu rumahnya, pelayan yang membukakan pintu berkata: “Apakah anda orang dari Jamkaran?” Aku mengiyakan. Pelayan itu kembali berkata: “Sejak waktu sahur sayyid telah menanti anda”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Kemudian aku masuk ke dalam rumah itu, dan sayyid menyambutku dengan hormat seraya berkata: “Wahai Hasan bin Mitslih, aku bermimpi seseorang berkata kepadaku; “Akan datang seseorang kepadamu dari daerah Jamkaran yang bernama Hasan bin Mitslih. Percayailah apapun yang dikatakannya, karena ucapannya adalah ucapanku, dan jangan engkau menolaknya”. Sejak bangun tidur hingga sekarang aku menunggu-nunggu kedatanganmu”. Aku pun menceritakan peristiwa yang kualami malam itu. Tidak lama kemudian, sayyid menyiapkan kudanya dan kami pun pergi ke daerah Jamkaran. Sesampai disekitar Jamkaran, kami melihat segerombolan kambing gembalaan Jakfar Kasyani. Tiba-tiba, dari arah belakang gerombolan kambing itu, datanglah seekor kambing dan berlari menuju ke arah kami. Jakfar Kasyani bersumpah, bahwa kambing itu bukan berasal dari gembalaannya, dan iapun tidak pernah melihat kambing sebelumnya. Maka, kami pun membawa kambing tersebut ke tanah yang telah ditunjuk oleh Imam Mahdi (af), dan kemudian menyembelihnya. Lantas kami bagikan daging kambing tersebut kepada orang-orang yang sakit. Dengan pertolongan Allah (swt) dan Imam Mahdi (af), mereka pun mendapat kesembuhan. Setelah itu, lantas sayyid Abul Hasan Ridho (ra) mendatangkan Hasan Muslim dan mengambil keuntungan-keuntungan tanah tersebut darinya. Melalui keuntungan tersebut dibangunlah masjid al-Mukaddas Jamkaran. Sayyid Abul Hasan (ra) pun membawa semua rantai-rantai dan pasak yang menjadi pembatas bangunan masjid Jamkaran ke kota Qom untuk disimpan dirumahnya. Setiap orang sakit yang diusapkan ke rantai tersebut akan disembuhkan oleh Allah (swt) dengan cepat. Namun, setelah sayyid Abul Hasan (ra) wafat, semua rantai tersebut lenyap, dan tidak ada seorangpun yang menemukannya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Ringkasan dari Kitab “<i>Najmus Tsaqib</i>” hal: 383-388.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Alih Bahasa: <b>Euis Daryati</b>.<span>               </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span>            </span><span>                                          </span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/261/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/261/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/261/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=261&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/02/16/sejarah-ringkas-masjid-al-mukaddas-jamkaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/masjid-jamkaran.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">masjid-jamkaran.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peran Perempuan dalam Tragedi Asyuro (bag-III)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/01/21/peran-perempuan-dalam-tragedi-asyuro-iii/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/01/21/peran-perempuan-dalam-tragedi-asyuro-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jan 2008 07:50:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2008/01/21/peran-perempuan-dalam-tragedi-asyuro-iii/</guid>
		<description><![CDATA[Syahidnya Imam Husain as merupakan detik-detik yang paling tragis dan sangat menyayat hati manusia manapun, khususnya bagi orang-orang yang menyaksikan langsung pembantaian dan perlakuan tidak manusiawi Umar bin Sa&#8217;ad serta bala tentaranya terhadap Imam Husain as dan para pembelanya. Bagaimana tidak, Imam Husain as yang merupakan manusia suci, cucu manusia termulia dan tersempurna di seluruh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=250&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"> <a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/asyura1.jpg" title="asyura1.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/asyura1.thumbnail.jpg?w=500" alt="asyura1.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Syahidnya Imam Husain as merupakan detik-detik yang paling tragis dan sangat menyayat hati manusia manapun, khususnya bagi orang-orang yang menyaksikan langsung pembantaian dan perlakuan tidak manusiawi Umar bin Sa&#8217;ad serta bala tentaranya terhadap Imam Husain as dan para pembelanya. Bagaimana tidak, Imam Husain as yang merupakan manusia suci, cucu manusia<span>  </span>termulia dan tersempurna di seluruh alam semesta ini—Rasulullah saw—dibunuh bak hewan najis. Kebiadaban para manusia durjana itu tidak cukup sampai di situ. Mereka menyerang kemah-kemah dan membakarnya. Busana dan perhiasan para perempuan dan laki-laki yang tersisa dari keluarga Imam Husain as dirampas secara paksa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span id="more-250"></span><span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Peran Perempuan dalam Tragedi Asyuro (bag-III)</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span>Oleh: Euis Daryati</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><span> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><span>Ketiga: Pasca Tragedi Asyuro</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Syahidnya Imam Husain as merupakan detik-detik yang paling tragis dan sangat menyayat hati manusia manapun, khususnya bagi orang-orang yang menyaksikan langsung pembantaian dan perlakuan tidak manusiawi Umar bin Sa&#8217;ad serta bala tentaranya terhadap Imam Husain as dan para pembelanya. Bagaimana tidak, Imam Husain as yang merupakan manusia suci, cucu manusia<span>  </span>termulia dan tersempurna di seluruh alam semesta ini—Rasulullah saw—dibunuh bak hewan najis. Kebiadaban para manusia durjana itu tidak cukup sampai di situ. Mereka menyerang kemah-kemah dan membakarnya. Busana dan perhiasan para perempuan dan laki-laki yang tersisa dari keluarga Imam Husain as dirampas secara paksa. Namun Sayyidah Zainab as tampil berwibawa. Keberanian dan kewibawaan yang telah beliau warisi dari kedua orang tuanya yang mulia. Beliau menjadi tempat berlindung para perempuan yang ketakutan menyaksikan sikap-sikap liar para musuh Islam, antek-antek Yazid bin Muawiyah (laknatullah alaihim).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sewaktu Sayyidah Zainab as menyaksikan kemah-kemah telah dibakar, beliau menoleh ke arah Imam Sajjad as seraya berkata: &#8220;Wahai yang merupakan pusaka para pendahulu dan penolong orang-orang yang telah ditinggal, mereka telah membakar kemah-kemah kita semua, apa yang harus kami lakukan?&#8221;. Imam Sajjad as menjawab: &#8220;Kalian semua harus lari meninggalkan kemah&#8221;. Salah seorang saksi tragedi Asyuro menyatakan: “Aku melihat seorang perempuan berwibawa dan agung berdiri di hadapan kemah seraya menoleh ke arah kanan dan kiri, terkadang ia melihat ke arah langit dan bumi lalu masuk ke dalam kemah dan keluar kembali. Sementara kemah tersebut telah dipenuhi kobaran api. Aku bertanya kepadanya kenapa ia berdiri di kemah yang sudah dipenuhi kobaran api, kenapa tidak melarikan dan menyelamatkan diri? Ia menangis seraya berkata : &#8220;Wahai syeikh, di dalam kemah terdapat orang yang sakit parah. Beliau tidak mampu untuk duduk dan bangun. Bagaimana kami akan meninggalkannya sendirian di antara kobaran api?&#8221;. Dalam riwayat lain, Hamid bin Muslim ia berkata: &#8220;Aku melihat Zainab as masuk ke dalam kemah yang telah dipenuhi kobaran api. Kemudian beliau keluar dari dalam kemah dengan membawa seseorang. Aku mengira beliau mengeluarkan jenazah dari dalam kemah. Lalu aku mendekatinya supaya dapat melihat dengan jelas. Ternyata sosok tersebut adalah Imam Sajjad as&#8221;.<span>  </span>Coba perhatikan kembali kisah di atas wahai para pembaca yang budiman! Bagaimana pengorbanan dan perjuangan Sayyidah Zainab as dalam membela imam zamannya, mungkinkah beliau melakukan hal tersebut hanya berdasarkan tendensi kekeluargaan saja padahal beliau memiliki tingkat makrifat yang sangat tinggi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Terdapat dua misi penting yang berada di pundak para perempuan pasca tragedi Asyuro; menjaga keberlangsungan serta menyampaikan keimamahan pasca Imam Husain<b> </b>as—sebagaimana<span>  </span>yang telah diwasiatkan oleh Imam Husain as—dan menyampaikan pesan Asyuro sehingga revolusi Asyuro pun menjadi lebih sempurna. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa para musuh Allah berkali-kali berusaha untuk membunuh Imam Sajjad as karena mereka tidak ingin seorang pun dari keluarga Imam Husain as hidup dan tersisa. Namun Sayyidah Zainab as terus menghalau mereka dan membela Imam Sajjad sehingga mereka tidak jadi membunuhnya. Sayyidah Zainab as pernah berkata: &#8220;Demi Tuhan, selama aku masih hidup niscaya dia tidak akan pernah terbunuh&#8221;<b>.</b>[17] Di sini jelas sekali bagaimana perempuan memainkan peran yang sangat penting dalam peristiwa Asyuro. Sebagaimana mereka membela Imam Husain as dan menganggap beliau sebagai wali Allah di muka bumi dan imam zamannya, mereka pun selalu berusaha membela Imam Sajjad as sehingga garis keimamahan tidak putus dan mereka juga menganggap Imam Sajjad sebagai imam, wali Allah dan al-Qur&#8217;an an-Natiq (Quran yang berbicara). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Para musuh Allah dan Rasul-Nya yang mengaku sebagai umat Nabi Muhammad saww menawan keluarga Rasulullah bak para tawanan tentara kafir yang berhasil dikalahkan. Kepala Imam Husain as serta para syuhada Asyura ditancapkan di ujung tombak, bagaikan membawa kepala-kepala hewan sembelihan. Rombongan tawanan berjalan dengan lunglai, namun ketegaran dan kekokohan tetap terpancar dari raut wajah suci mereka karena mereka meyakini tugas berat masih berada di pundak mereka. Mereka harus membuka kedok busuk Yazid bin Muawiyah serta antek-anteknya dan kemudian menunjukkannya kepada dunia Islam serta mensosialisasikan risalah Asyuro seluas-luasnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dalam kesempatan ini, sebaiknya kita menyinggung nama para tawanan perempuan sehingga kita dapat mengenal duta-duta Karbala tersebut.<span>   </span>Menurut berbagai sumber, jumlah tawanan perempuan lebih banyak dari jumlah tawanan laki-laki. Tawanan laki-laki berjumlah kurang lebih delapan <span> </span>(8) orang saja sementara para tawanan perempuan berjumlah dua puluh satu (21) orang. Sebagian tawanan perempuan adalah keturunan Bani Hasyim dan sebagian lagi bukan keturunan Bani Hasyim. Adapun tawanan dari Bani Hasyim berjumlah lima belas (15) orang: Zainab binti Ali, Ummi Kultsum binti Ali, Fathimah binti Ali, Fathimah binti Husain, Sukainah binti Husain, Rubab istri Imam Husain, Ruqayyah binti Husain, Ruqayyah istri Muslim bin Aqil, Khausha&#8217; istri Aqil, Ummu Kultsum Sughra (anak Zainab binti Ali), Romlah ibu Qosim (istri Imam Hasan Mujtaba), Laila binti Mas&#8217;ud bin Khalid (ibu Abdullah Ashghar), Fathimah binti Hasan Mujtaba dan Syahr-Banu (ibu dari anak kecil yang syahid dibunuh Hani bin Tsabit). Tawanan perempuan yang bukan dari keturunan bani Hasyim: Hasaniyah perawat Imam Ali Zainan Abidin yang berangkat ke Karbala bersama anaknya yang telah meneguk cawan kesyahidan, istri Abdullah bin Umair Kalbi yang berangkat ke Karbala bersama suaminya yang turut syahid di Karbala, Fakihah (pelayan Rubab, istri Imam Husain) ibu dari Abdullah bin Uraiqath yang turut syahid di Karbala, Bahariyyah binti Mas&#8217;ud Khazraji yang berangkat bersama suaminya Junadah bin Ka&#8217;b serta anaknya Amru bin Junadah yang telah turut syahid di Karbala, pembantu Muslim bin Ausjah (sebagian berpendapat beliau adalah Ummu Khalaf istri Muslim bin Ausjah) dan Fidhah Hindi berdasarkan beberapa riwayat.[18]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sewaktu para musuh mengarak tawanan dan melewatkan mereka di antara jasad para syuhada, termasuk badan suci Imam Husain as yang di injak-injak pasukan dan kuda-kuda musuh, saat itu Zainab as mendekati jasad Imam Husain as dengan kesedihan yang mendalam. Sembari mengangkat jasad Imam Husain as dan dengan melihat ke arah langit berkata: &#8221; <i>Allahuma taqabbal minna hadza al-Qurban</i>”. “Ya Allah, terimalah sedikit qurban ini dari kami&#8221;.[19] Sungguh menakjubkan ungkapan beliau. Semua musibah tersebut dianggap kecil jika semuanya dilakukan demi keridhoan Tuhannya. Kemudian para tawanan pun diarak dari Karbala menuju Kufah. Pesta terbunuhnya Imam Husain as akan dirayakan di istana Ubaidillah bin Ziyad (laknat Allah swt atasnya). Sesampainya di kota Kufah, para penduduk Kufah berkumpul mengerumuni para tawanan untuk melihat keadaan mereka dari dekat. Melihat kondisi tawanan, penduduk ikut larut dalam kesedihan lalu melemparkan makanan ke arah mereka. Namun Ummu Kultsum mengatakan kepada mereka bahwa keluarga Rasul saw diharamkan untuk menerima sedekah. Lantas beliau berkata: &#8220;Diamlah wahai penduduk Kufah, para laki-laki kalian telah membunuh orang-orang kami. Apakah pantas para perempuan kalian menangis untuk kami? Ketahuilah, Allah swt akan menjadi hakim di hari pengadilan nanti dan akan mengadili kalian dan kami&#8221;. Sedangkan Fathimah binti Husain as berkata: &#8220;Binasalah mereka yang tidak menolong imamnya. Binasalah mereka yang tidak membela imamnya. Tunggulah laknat Allah swt, laknat atas orang-orang zalim…&#8221;. [20]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Di sini dapat kita saksikan bahwa para perempuan lebih aktif berbicara karena jika Imam Sajjad as yang lebih aktif dan vokal membongkar semua kebusukkan penguasa niscaya jiwa beliau akan terancam bahaya. Setelah itu Sayyidah Zainab as berpidato di hadapan penduduk Kufah. Basyir bin Khuzaim berkata: &#8220;Aku melihat Zainab binti Ali saat itu, tak pernah kusaksikan seorang tawanan yang lebih piawai darinya dalam berbicara. Seakan kata-katanya keluar dari mulut Imam Ali as&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Adapun isi khutbah Sayyidah Zainab as di hadapan masyarakat Kufah adalah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>1.<span>  </span>Menggambarkan dan mengenalkan kondisi dan karakteristik masyarakat Kufah kala itu. Beliau menggunakan perumpamaan sehingga mudah dipahami oleh banyak orang dan menggunakan realitas yang mengisyaratkan sifat-sifat masyarakat Kufah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>2. Sebab-sebab yang menjadikan masyarakat Kufah bernasib seperti itu, di antaranya karena mereka telah membunuh, menyebarkan kejahatan dan kefasadan, cinta dunia, pengecut dan tidak berpendirian (mudzabdzab).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>3. Nasib yang akan menimpa masyarakat Kufah setelah menghianati Imam Husain as berupa kecelakaan dan kesengsaraan di dunia dan akhirat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kemudian, para tawanan dan kepala suci Imam Huseian as di arak ke istana Ubaidillah bin Ziyad. Ubaidillah duduk dengan congkak di atas singgasananya. Setelah memasuki istana, Sayyidah Zainab as duduk dengan wajah yang sulit dikenali. Ibnu Ziyad bertanya: &#8220;Siapakah dia?&#8221;. Sayyidah Zainab as tidak menjawabnya sampai Ibnu Ziyad mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali. Hal ini merupakan sebuah penghinaan terhadap Ibnu Ziyad yang seorang penguasa. Salah seorang dari perempuan menjawab: &#8220;Dia Zainab putra Ali!&#8221;. Dengan penuh kecongkakan dan dengan tujuan untuk merendahkan dan meremehkan mereka, Ibnu Ziyad berpaling kepadanya dan berkata: &#8220;Puji syukur aku panjatkan pada Allah swt yang telah mempermalukan kalian dan telah membuka kedok kebohongan kalian semuanya&#8221;. Zainab as menjawab: &#8220;Yang sebenarnya dipermalukan Allah ialah kalian yang fasik dan yang mempunyai kebohongan ialah para pendusta, bukan kami&#8221;. Ibnu Ziyad menyahut: &#8220;Bagaimana pendapatmu tentang apa yang telah Allah timpakan terhadap saudara dan keluargamu?&#8221;. Tanpa diduga oleh Ibnu Ziyad, dengan tegas Sayyidah Zainab as menajwab dengan ungkapan yang sangat indah: <b>&#8221; </b>Tidaklah kulihat semua ini, melainkan keindahan. Mereka ialah orang-orang yang telah ditakdirkan oleh Allah swt untuk mati terbunuh. Mereka pun bergegas<b> </b>menyongsong kematian itu. Allah swt kelak akan mempertemukanmu dengan mereka. Kelak engkau akan dihujani pertanyaan dan disudutkan. Lihatlah, siapakah yang akan menang pada hari itu? Semoga ibumu memakimu, hai anak Marjanah!!!&#8221;[21] Jawaban beliau yang tegas itu mampu mengurangi kadar kesombongan Ibnu Ziyad dan membuatnya merasa dipermalukan di hadapan masyarakat. Ia menjadi marah setelah mendengar jawaban Sayyidah Zainab as.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Jawaban Sayyidah Zainab as di atas melukiskan bahwa beliau lebih mengutamakan keridhoan Ilahi di atas segalanya. Betapa tinggi derajat makrifat beliau. Jelaslah bahwa beliau adalah seorang arif dan merupakan salah satu wali Allah swt di muka bumi. Baginya, segala ketentuan Allah swt adalah indah dan cantik. <b>&#8220;Tidaklah kulihat semua ini, melainkan keindahan&#8221;.</b> Sungguh ungkapan yang sangat luar biasa, yang tidak tidak akan keluar dari sosok manusia biasa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kini telah tiba saatnya untuk menyampaikan kepada masyarakat akan kebenaran dan hakikat Asyuro. Penguasa zalim berusaha berusaha mengelabuhi masyarakat kepada khalayak umum. bahwa mereka berada di pihak yang benar sedang Imam Husain as bersama para pembelanya adalah pemberontak yang menentang penguasa legal. Yazid dan antek-anteknya selalu berusaha mencari justifikasi atas sikap dan perbuatan kejinya terhadap Imam Husain as bersama para pembelanya. Jika para tawanan Karbala diam seribu bahasa dan tidak berusaha untuk membuka kebusukan-kebusukan Yazid dan antek-anteknya dengan berbagai cara seperti melalui pernyataan, sikap dan peringatan maka opini umum akan selalu bersahabat dan mendukung penguasa zalim yang selalu berusaha melakukan fallacy (memutarbalikkan fakta, menampakkan kebathilan sebagai kebenaran atau sebaliknya).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Seusai berdialog dengan Sayyidah Zainab as, Ibnu Ziyad menoleh ke arah Imam Sajjad as dan bertanya: &#8220;Siapakah anda?&#8221; Imam Sajjad as menjawab: &#8220;Aku adalah Ali bin Husain&#8221;. “Bukankah Allah telah membunuh Ali bin Husain?” tanya Ibnu Ziyad dengan congkak. Imam Sajjad as menjawab: &#8220;Aku memiliki seorang saudara yang bernama Ali bin Husain yang telah dibunuh oleh mereka&#8221;. Ibnu Ziyad dengan sombong berkata: &#8220;Tidak, Allah yang telah membunuhnya&#8221;. &#8220;Allah swt telah mengambil nyawanya ketika ia mati,&#8221; sahut Imam Sajjad as.[22] Jika kita simak baik-baik dialog ini, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Ibnu Ziyad selalu berusaha untuk mengelabui kaum muslimin. Bagaimana tidak, dengan congkaknya ia mengatakan bahwa Allah-lah yang telah membunuh Ali bin Husain as. Artinya, ia ingin menyatakan kepada khalayak; jangan salahkan kami (Ibnu Ziyad), bukan kehendak kami melakukan pembantaian di Karbala tetapi itu adalah kehendak Allah. Argumen pembelaan diri semacam ini ibarat pepatah yang mengatakan: &#8220;Lempar batu sembunyi tangan&#8221;. Artinya dengan berkedok keyakinan determinisme (jabriyah), ia ingin berlepas tangan dari kesalahan yang telah perbuatnya Masyarakat awam mungkin dengan mudah akan membenarkan semua pernyataan Ibnu Ziyad, bahwa Allah-lah yang telah membunuh Imam Husain as—dengan takdir yang telah ditentukan oleh-Nya—sementara pasukan Yazid hanya sebagai pelaksana dari takdir tersebut. Pemikiran jabriyah adalah sebuah pemikiran yang cukup membahayakan Islam kala itu. Pemikiran ini telah merubah fakta, memutarbalikkan kebenaran dan kebathilan sedemikian rupa. Oleh karena itu,<span>  </span>salah satu misi para tawanan tragedi Karbala—khususnya para tawanan perempuan—adalah merubah pemikiran ini. Mereka harus mampu mengubah opini umum yang tidak bertentangan dengan Islam murni yang dibawa oleh Ahlul Bait as.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Selepas mendengar Imam Ali Zainal Abidin Sajjad as, Ibnu Ziyad marah. Lantas ia memerintahkan bawahannya untuk membunuh beliau. Namun Sayyidah Zainab as menghalanginya seraya berkata kepada Ibnu Ziyad: &#8220;Wahai Ibnu Ziyad, belum cukupkah engkau tumpahkan darah kami?&#8221;. Lalu Sayyidah Zainab as memeluk Imam<span>  </span>Sajjad dan berkata: &#8220;Demi Allah, aku tidak akan pernah berpisah darinya. Jika engkau ingin membunuhnya maka bunuh hugalah aku &#8220;.[23]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Inilah risalah pertama yang dilaksanakan para perempuan di kota Kufah. Tugas selanjutnya yang mereka emban adalah menyampaikan misi Asyuro dan mengubah opini umum tentang ahlul bayt Nabi di kota Syam. Saat itu, Syam merupakan ibu kota pemerintahan Bani Umayyah. Islam yang dipeluk oleh penduduk Syam adalah Islam yang dibawa dan dikenalkan Muawiyah yang sejak awal telah membenci Ahlul Bayt Nabi saww. Maka pandangan mereka terhadap Ahlu-Bayt Nabi adalah pandangan yang negatif. Sebagai contoh, dalam sejarah disebutkan bahwa penduduk Syam sangat takjub saat mendengar Imam Ali as dibunuh di mihrab. Dengan takjub mereka berkata: “Ali mendirikan shalat juga?” Sampai sedemikian rupa anggapan mereka terhadap Imam Ali as dan Ahlul Baytnya. Hal ini disebabkan propaganda busuk Muawiyah yang berhasil meracuni otak dan jiwa penduduk Syam. Ketika mereka mengetahui bahwa rombongan tawanan akan dibawa ke Syam, masyarakat Syam segera mengadakan pesta dengan sangat meriah layaknya pesta hari raya. Pesta ini diselenggarakan atas perintah Yazid bin Muawiyah dengan alasan kemenangan pasukannya di Karbala dan untuk menyambut kedatangan para tawanan Karbala.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Diriwayatkan bahwa ketika rombongan tawanan tiba di istana Yazid bin Muawiyah, mereka meletakan kepala suci Imam Husain as di atas nampan dan nampan itu diletakan di hadapan Yazid bin Muawiyah (laknat Allah swt atasnya). Yazid bin Muawiyah memukul gigi-gigi suci Imam Husain as dengan tongkatnya sembari mengucapkan sya&#8217;ir- berikut ini: <b>&#8220;Bani Hasyim (Rasulullah) telah bermain dengan kekuasaan padahal tidak ada berita yang datang dan wahyu yang turun. Andaikan leluhurku yang mati dalam perang Badar menyaksikan keketakutan dan kekalahan kabilah Khazraj maka mereka akan bergembira ria dan memujiku. Kami melakukan perbuatan ini sebagai balasan atas kekalahan kami dalam perang Badar. Sekarang, kedudukan korban<span>  </span>kami (di perang Badar) dan kedudukan musuh kami adalah sama. Jangan katakan diriku dari keturunan Khandaf (nama salah satu leluhur Muawiyah .red) jika aku tidak mampu membalas dendam kepada Bani Ahmad (baca: keturunan Muhammad saww)&#8221;.</b> [24]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dengan tidak sadar, Yazid bin Muawiyah telah membuka kedoknya sendiri melalui syair yang dilantunkannya. Ia menganggap peperangan kaum muslimin dengan kaum musyrikin dalam perang Badar yang telah menyebabkan kematian para leluhurnya adalah perang antar suku. Bukan perang antara hak dan bathil. Lantas apakah orang semacam Yazid bin Muawiyah itu layak menduduki tampuk kepemimpinan Islam, apalagi mengaku sebagai khalifah Rasul saww atas kaum muslimin? Layakkah orang seperti Yazid bin Muawiyah bin Abu Sufyan ini dibela? Apakah salah jika kita meragukan keislaman orang yang membela Yazid bin Muawiyah yang fasik dan pemabuk itu, sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah beserta para pengikutnya yang mengaku menghidupkan kembali ajaran para salaf saleh dan menyebut dirinya sebagai kelompok Salafy(baca: Wahabi)?.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Hati Sayyidah Zainab as amat tersayat sewaktu menyaksikan prilaku kurang ajar Yazid terhadap kepala suci Imam Husain as. Kemudian dengan suara yang sangat menyayat hati beliau berkata: “Wahai Husain, wahai putra Rasul, wahai putra Mekah dan Madinah, wahai putra Fathimah penghulu para wanita dan wahai putra Muhammad manusia pilihan Allah swt”. Orang-orang yang hadir di tempat itu tersentuh hatinya dan merekapun menangis. Bahkan Yazid diam seribu bahasa. Kemudia Sayyidah Zainab as menyampaikan khutbah Ghara’ di hadapan Yazid bin Muawiyah dengan tujuan menyampaikan kepada Yazid dan khalayak umum tentang kedudukan agung Rasul saww<span>  </span>dan menunjukkan kepada mereka bahwa kesabaran para tawanan adalah demi keridhoan Allah swt, bukan karena rasa takut. Dengan bahasa yang sangat fasih Sayyidah Zainab as menyampaikan khutbah tersebut. Adapun isi khutbah beliau adalah sebagai berikut;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>1.<span>  </span>Peringatan kepada Yazid bin Muawiyah agar tidak menganggap musibah yang telah ia timpakan<span>   </span>kepada mereka sebagai sebuah kemenangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>2.<span>  </span>Peringatan kepada Yazid bin Muawiyah akan perlakuan buruknya kepada para tawanan khususnya para perempuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>3. Memberitahukan kepada khalayak umum tentang jati diri Yazid bin Muawiyah. Ialah adalah cucu dari Hindun neneknya yang telah memakan hati Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Rasul) dalam perang Uhud.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>4.<span>  </span>Mengenalkan kepada para hadirin tentang kedudukan Imam Husain as di sisi Rasul saww.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>5.<span>  </span>Mengingatkan pahala yang diberikan Allah swt kepada para syuhada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>6. Mengingatkan nasib dan siksaan yang akan menimpa orang-orang yang telah berbuat zalim, khususnya pembunuhan yang mereka lakukan terhadap hujjah-Nya di muka bumi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Ajaib, Yazid bin Muawiyah yang memegang tampuk kekuasaan Islam saat itu hanya diam seribu bahasa. Ia tidak mampu berkata sepatah kata ketika mendengar khutbah Sayyidah Zainab as. Padahal ia bisa saja memerintahkan bawahannya untuk menghentikan khutbah tersebut. Ia tidak melakukan apa pun dikarenakan kewibawaan yang dimiliki oeh Sayyidah Zainab as. Khutbah Sayyidah Zainab itu terus mengiang-ngiang di telinga Yazid.[25]<span>        </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Diriwayatkan bahwa ketika salah satu sahabat Nabi yang berumur panjang melihat Yazid bin Muawiyah memukul-mukulkan tongkatnya ke gigi suci Imam Husain as, dengan takjub ia berkata: “Engkau memukul gigi Husain dengan kayu ini? Aku melihat kayumu mengenai bagian yang sering dicium oleh Rasul saww. Ingatlah wahai Yazid, pada hari kiamat engkau akan datang dengan Ibnu Ziyad sebagai pensyafa’atmu dan kepala suci ini akan datang sedang Rasul saww<span>  </span>sebagai pensyafa’atnya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kemudian Yazid memerintahkan tentaranya untuk menempatkan para tawanan di tempat terbuka. Wajah-wajah suci mereka terbakar teriknya matahari. Namun mereka tetap mengadakan majlis duka untuk Imam Husain as kendati kondisi mereka sangat sulit. Setelah itu, bukan para tawanan saja yang mengadakan majlis duka atas kesyahidan Imam Husain as tetapi para perempuan bani Umayah dan masyarakat Syam pun mengadakan majlis duka yang sama. Khutbah Sayyidah Zainab as telah mampu menyadarkan masyarakat Syam yang tidur dalam kelalain. Beliau telah membuka kedok kejahatan Yazid di hadapan masyarakat Syam dan mengingatkan mereka tentang Ahlul Bayt Nabi saww. Tidak sampai di situ, Yazid pun menjadi ketakutan<span>  </span>menyaksikan kondisi yang ada, sampai akhirnya ia menyatakan penyesalan atas pembunuhan Imam Husain as dan melemparkan kejahatan tersebut kepada gubernurnya Ibnu Ziyad.[26]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><span>Hasil Risalah Perempuan dalam Tragedi Asyuro :</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>1.<span>      </span>Melenyapkan pengaruh dari agama yang diperkenalkan Bani Umayyah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>2.<span>      </span>Membangkitkan kembali jiwa masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>3.<span>      </span>Menghancurkan pemerintahan zalim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>4.<span>      </span>Menyiapkan lahan untuk terwujudnya gerakan dan revolusi dalam masyarakat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>5.<span>      </span>Menyadarkan para pendukung rezim serta mampu menumbuhkan rasa berdosa di kalangan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>6.<span>      </span>Mengajarkan jiwa tangguh dan bertahan dalam menghadapi kesulitan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>7.<span>      </span>Mewujudkan rasa persatuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>8.<span>      </span>Membersihkan pemikiran yang telah terpolusi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>9.<span>      </span>Menyiapkan lahan keruntuhan rezim zalim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>10.<span>  </span>Menyebarkan ajaran-ajaran Islam, dan lain-lain.[27]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span>Inilah beberapa risalah yang telah disampaikan para duta Karbala, yang tidak kalah pentingnya dengan Asyuro itu sendiri. Karena dengan peranan yang mereka mainkan misi Asyuro menjadi sempurna. Wallahua’lam [islamalternatif.net] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span>“Ya Allah, jadikanlah kami Zainab-Zainab masa kini, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span>Menjadi pembela dan pengusung Asyuro </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span>Menjadi pembela dan pengusung Islam Muhammadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span>Amiin”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><u><span>Daftar Pustaka:</span></u></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[1]<span>  </span>Rey Syahri, Muntkhab Mizan al-Hikmah, hal : 42.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[2] Ali Nazri Munfarid, Qesse-ye Karbalo,<span>  </span>hal : 70.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[3] Allamah Muhammad Kazim Gazwini, Zainab al-Kubro-minal Mahdi ilal Lahdi, edisi Farsi, hal :126. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[4] DR. Ali Qoimi, Naqsye-ye Zanon dar Asyuro.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[5] Ibid.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[6] Muhammad Baqir Sadr, Mengungkap Yang Tak Terungkap-Karbala yang Menyisakan Pertanyaan, edisi terjemahan-hal :46. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[7] Sayyid Nurudin Jazairi, Wizegihoye Hazrate Zainab, hal 79.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[8] Allamah Muhammad Kazim Gazwini, Zainab al-Kubro-minal Mahdi ilal Lahdi, edisi Farsi, hal : 130.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[9] Muhammad Baqir Sadr, Mengungkap Yang Tak Terungkap-Karbala yang Menyisakan Pertanyaan, edisi terjemahan-hal :46.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[10] Ibid hal :126-127</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[11] Ali Nazri Munfarid, Qiseyy-e Karbalo, hal : 126-128</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[12] Ibid, hal : 292-293, 310-311. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[13] DR. Ali Qoimi, Naqsye-ye Zanon dar Asyuro.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[14] Ali Nazri Munfarid, Qiseyy-e Karbalo, hal : 319-320.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[15] DR. Ali Qoimi, Naqsye-ye Zanon dar Asyuro.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[16] Allamah Muhammad Kazim Gazwini, Zainab al-Kubro-minal Mahdi ilal Lahdi, edisi Farsi, hal : 181-184</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[17] Ibid, hal : 210-213 </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[18] Ali Nazri Munfarid, Qese-ye Karbalo, hal : 404-407.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[19] Sayyid Nurudin Jazairi, Wizegihoye Hazrate Zainab, hal : 227. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[20] DR. Ali Qoimi, Naqsye-ye Zanon dar Asyuro.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[21] Allamah Muhammad Kazim Gazwini, Zainab al-Kubro-minal Mahdi ilal Lahdi, edisi Farsi, hal : 305-306</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[22] Ibid, hal : 306-307</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[23] Ibid, hal : 307</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[24] DR. Aisyah binti Syathi’, Banuy-e Karbalo Hazrate Zainab, edisi Persia, hal : 145. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[25] Ibid, hal : 147-148.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[26] Sayyid Nurudin Jazairi, Wizegihoye Hazrate Zainab, hal : 207-208.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[27]DR. Ali Qoimi, Naqsye-ye Zanon dar Asyuro.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/250/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/250/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/250/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=250&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/01/21/peran-perempuan-dalam-tragedi-asyuro-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/asyura1.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">asyura1.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peran Perempuan dalam Tragedi Asyuro (Bag-II)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/01/17/peran-perempuan-dalam-tragedi-asyuro-bag-ii/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/01/17/peran-perempuan-dalam-tragedi-asyuro-bag-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jan 2008 04:46:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2008/01/17/peran-perempuan-dalam-tragedi-asyuro-bag-ii/</guid>
		<description><![CDATA[  Ummu Wahab, istri Abdullah bin Umair, mengambil tiang kemah dan diberikan kepada suaminya seraya berkata:&#8221;Wahai yang jiwaku sebagai tebusannya, berperanglah untuk membela keluarga Rasul&#8221;. Setelah suaminya syahid, ia meletakkan jenazah suami di pangkuannya. Syimr bin Dzil Zausyan–-laknat Allah SWT atasnya—memerintahkan budaknya untuk memukul kepala Ummu Wahab dengan tiang kemah tadi sampai akhirnya Ummu Wahab [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=248&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"> <a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/01/karbala2.jpg" title="karbala2.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/01/karbala2.thumbnail.jpg?w=500" alt="karbala2.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Ummu Wahab, istri Abdullah bin Umair, mengambil tiang kemah dan diberikan kepada suaminya seraya berkata:&#8221;Wahai yang jiwaku sebagai tebusannya, berperanglah untuk membela keluarga Rasul&#8221;. Setelah suaminya syahid, ia meletakkan jenazah suami di pangkuannya. Syimr bin Dzil Zausyan–-laknat<span>  </span>Allah SWT atasnya—memerintahkan budaknya untuk memukul kepala Ummu Wahab dengan tiang kemah tadi sampai akhirnya Ummu Wahab pun turut meneguk cawan kesyahidan sesuai impiannya. Ia adalah perempuan pertama yang syahid dalam membela Imam Husain as.<span>          </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span id="more-248"></span><span><span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Peran Perempuan dalam Tragedi Asyuro II</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span>Oleh: Euis Daryati</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><span> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><span>Kedua: Pada Hari Asyuro</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Hari Asyuro merupakan hari peperangan kedua pasukan yang tidak sebanding. Di satu pihak, pasukan Umar bin Sa&#8217;ad dengan bala tentara yang sangat banyak dan dilengkapi dengan persenjataan lengkap dan di pihak lain, pasukan Imam Husain as dengan tentara amat terbatas dan perlengkapan perang yang sangat sederhana. Sebenarnya peperangan antara pasukan Umar bin Sa&#8217;ad dan Imam Husain as di padang Karbala lebih pantas disebut sebagai &#8220;pembantaian&#8221; daripada peperangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dalam pandangan Islam, jihad memang tidak diwajibkan bagi perempuan namun mereka dapat melakukan hal-hal yang dapat membantu terwujudnya kesuksesan dalam peperangan seperti memberikan semangat, merawat orang-orang yang terluka, membagi-bagikan air kepada tentara dan lain sebaginya. Demikian pula para perempuan ikut hadir di padang Karbala. Kendati mereka tidak mengangkat senjata dan berperang tetapi mereka melakukan hal-hal sesuai dengan kemampuan mereka dalam turut membela imam dan pemimpin mereka, al-Husain as. Berbagai aktivitas yang mereka lakukan pada hari itu, di antaranya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>1. Menemani para syuhada: Mereka memberikan motivasi dan support kepada para suami dan anaknya untuk maju ke medan perang. Seperti istri Zuhair bin Qin Bajali yang berhasil mempengaruhi suaminya yang beraliran Utsmani untuk menjadi pengikut dan pembela Imam Husain as hingga akhirnya kesyahidan diraihnya. Ummu Wahab, istri Abdullah bin Umair, mengambil tiang kemah dan diberikan kepada suaminya seraya berkata:&#8221;Wahai yang jiwaku sebagai tebusannya, berperanglah untuk membela keluarga Rasul&#8221;. Setelah suaminya syahid, ia meletakkan jenazah suami di pangkuannya. Syimr bin Dzil Zausyan–-laknat<span>  </span>Allah SWT atasnya—memerintahkan budaknya untuk memukul kepala Ummu Wahab dengan tiang kemah tadi sampai akhirnya Ummu Wahab pun turut meneguk cawan kesyahidan<span>  </span>sesuai impiannya. Ia adalah perempuan pertama yang syahid dalam membela Imam Husain as.[12]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>2.<span>  </span>Menenangkan jiwa anak-anak sehingga anak-anak tidak menghalangi ayah ataupun saudaranya untuk berjihad.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>3.<span>  </span>Berusaha untuk selalu menguasai diri: Dengan penguasaan diri mereka tidak cepat terpengaruh situasi dan kondisi kala itu. Memang Tuhan telah menganugrahkan kadar emosional lebih kepada perempuan berdasarkan hikmah-Nya sebagaimana yang telah banyak dibahas dalam makalah-makalah yang berkaitan tentang perempuan. Namun yang perlu diperhatikan adalah, seandainya para perempuan pada hari Asyuro tidak pandai menguasai dirinya maka para musuh Allah swt akan dengan mudah mengalahkan pasukan Imam Husain.. Mereka telah tampil dengan kokoh dan tegar walaupun kondisi kala itu sangat menyayat hati.[13]<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>4.<span>  </span>Mentaati perintah Imam Husain as: Istri Abdullah Kalbi dan Ummu Wahab istri Abdullah bin Umair hendak ikut maju ke medan perang, namun mereka megurungkan niatnya karena ketaatan mereka terhadap perintah Imam Husain as. Sedangkan istri Junadah bin Haris Anshari segera kembali ke tendanya sesuai perintah Imam Husain as setelah ia berhasil membunuh dua orang tentara musuh. Setelah kesyahidan suaminya ia memerintahkan anaknya yang masih remaja, Amru bin Junadah Anshari untuk pergi berperang membela Imam Husain as. Musuh melemparkan kepala anaknya yang telah syahid ke pangkuannya. Selepas membersihkan debu dari kepala anaknya, kemudian ia memukulkan kepala tersebut ke salah satu kepala musuh yang berada di dekatnya hingga mati. Setelah itu ia pergi ke kemah untuk mengambil tiang kemah—sebagian mengatakan pedang—seraya membaca sya&#8217;ir perang:&#8221;Akulah seorang nenek tua yang sudah lemah, kurus dan tak berdaya. Akan kupukulkan pukulan keras kepada kalian demi membela keturunan Fathimah yang mulia&#8221;. Lalu ia menyerang musuh-musuh hingga dapat membunuh dua orang dari mereka. Setelah itu, Imam Husain as memerintahkan kepadanya untuk kembali ke tendanya, dan ia pun menta&#8217;ati perintah Imamnya.[14]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>5.<span>  </span>Tidak menangis dan besedih dikala para suami dan anak mereka mati syahid demi membela Imam Husain as. Hal itu karena mereka tahu bahwa gugur dalam membela Imam as merupakan amal kebajikan yang balasannya tiada taranya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>6.<span>  </span>Menghibur para pejuang (mujahid) perihal masa depan keluarganya sehingga mereka tenang dalam berjihad.[15]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>7. Merawat Imam Sajjad as: Memburuknya kondisi Imam Ali Zainal Abidin Sajjad beliau pada waktu itu merupakan hikmah Ilahi, demi keberlangsungan keimamahan pasca Imam Husain as. Jika tidak demikian, maka musuh-musuh Imam Husain as akan membantai habis dan tidak akan menyisakan seorang laki-laki pun dari keturunan Imam Husain as.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>8. Mengemban wasiat Imam Husain as tentang keimamahan sepeninggal beliau: Ini<span>  </span>merupakan tugas terpenting dan terberat di antara tugas-tugas lain yang mereka emban. Pada detik-detik menjelang berakhirnya tragedi Asyuro, Imam Husain as pergi menuju kemah anaknya, Imam Ali Zainal Abidin as yang sedang sakit keras untuk mengucapkan perpisahan dengannya. Beliau mengetahui bahwa ajalnya semakin dekat. Imam Husain as memasuki kemah, sementara Imam Sajjad as tengah terbaring dan tergeletak dalam keadaan sakit di atas tanah yang hanya beralaskan kulit yang sudah dikeringkan. Sayyidah Zainab al-Kubro sedang merawatnya. Sewaktu Imam Sajjad as melihat Imam Husain as datang, beliau hendak berdiri sebagai tanda penghormatan. Namun Imam Husain as tidak mengizinkannya untuk berdiri. Imam Sajjad berkata kepada bibinya, Sayyidah Zainab al-Kubro: &#8220;Sandarkan diriku pada dadamu, karena putra Rasul saww telah datang&#8221;. Sayyidah Zainab as pun menurutinya. Setelah itu Imam Husain as menanyakan kondisi kesehatannya. Terjadilah percakapan antara keduanya. Imam Sajjad as menanyakan tentang pamannya Abul Fadhl al-Abbas, semua saudaranya dan para sahabat. Imam Husain as menjawab: &#8220;Wahai anakku, ketahuilah, tidak ada laki-laki (dewasa) lain yang tersisa di antara kemah-kemah ini melainkan hanya aku dan engkau saja. Dan orang-orang yang telah engkau tanyakan tadi semuanya telah terbunuh dan terjatuh di atas tanah&#8221;. Mendengar hal tersebut Imam Sajjad as menangis dengan penuh kesedihan seraya berkata kepada bibinya, Sayyidah Zainab as: &#8220;Wahai bibiku, berikan kepadaku pedang dan tongkat&#8221;. &#8220;Untuk apa engkau menginginkan benda itu?&#8221; tanya Imam Husain as. Imam Sajjad as menjawab: &#8220;Aku ingin bersandar pada tongkat dan membela putra Rasulullah dengan pedang ini&#8221;. Namun Imam Husain as mencegahnya dan merengkuhnya seraya berkata: &#8220;Wahai anakku, engkau adalah sebaik-baiknya keturunanku, ithrahku yang paling utama…&#8221;. Setelah mengungkapkan keutamaan-keutamaan Imam Sajjad, lantas Imam Husain as memegang tangan Imam Sajjad as dan dengan suara lantang beliau berkata: &#8220;Wahai Zainab, wahai Ummu Kultsum, wahai Ruqayyah, wahai Fathimah dengarkanlah ucapanku dan ketahuilah; sesungguhnya anakku ini adalah khalifahku atas kalian semua dan Imam yang harus dita&#8217;ati&#8221;.[16] Wasiat Imam Husain as ini, dengan jelas menunjukkan keimamahan pasca beliau dan keimamahan ini harus dijaga dan disampaikan kepada masyarakat.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Setelah itu beliau melanjutkan ucapannya seraya berkata: “Wahai anakku, sampaikan salam dariku untuk Syi’ah (pengikut)-ku, dan katakan kepada mereka: “Sesungguhnya ayahku mati dalam keadaan terasing maka berdukalah untuknya, dan telah meninggalkan dunia fana ini dalam keadaan syahid maka menangislah untuknya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Terdapat dua misi penting yang berada di pundak para perempuan pasca tragedi Asyuro; menjaga keberlangsungan serta menyampaikan keimamahan pasca Imam Husain<b> </b>as—sebagaimana<span>  </span>yang telah diwasiatkan oleh Imam Husain as—dan menyampaikan pesan Asyuro sehingga revolusi Asyuro pun menjadi lebih sempurna. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa para musuh Allah berkali-kali berusaha untuk membunuh Imam Sajjad as karena mereka tidak ingin seorang pun dari keluarga Imam Husain as hidup.</span></p>
<p>Bersambung&#8230;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/248/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/248/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/248/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=248&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/01/17/peran-perempuan-dalam-tragedi-asyuro-bag-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/01/karbala2.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">karbala2.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peran Perempuan dalam Tragedi Asyuro (bag I)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/01/10/peran-perempuan-dalam-tragedi-asyuro-i/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/01/10/peran-perempuan-dalam-tragedi-asyuro-i/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2008 07:29:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2008/01/10/peran-perempuan-dalam-tragedi-asyuro-i/</guid>
		<description><![CDATA[Nyawa manusia memang terhormat dan harus dijaga. Namun ketika bahaya menyerang agama, pada saat itu agama harus lebih diutamakan kendati nyawa akan melayang. Itulah yang dilakukan Imam Husain as di Karbala. Tapi yang menjadi pertanyaan ialah; Apakah Asyuro cukup sampai di sini? Siapakah duta-duta di balik tragedi Asyuro yang harus menyampaikan pesan Asyuro? Bagaimanakah peranan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=242&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"> <a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/v_zeinab_9.jpg" title="v_zeinab_9.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/v_zeinab_9.thumbnail.jpg?w=500" alt="v_zeinab_9.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Nyawa manusia memang terhormat dan harus dijaga. Namun ketika bahaya menyerang agama, pada saat itu agama harus lebih diutamakan kendati nyawa akan melayang. Itulah yang dilakukan Imam Husain as di Karbala. Tapi yang menjadi pertanyaan ialah; Apakah Asyuro cukup sampai di sini? Siapakah duta-duta di balik tragedi Asyuro yang harus menyampaikan pesan Asyuro? Bagaimanakah peranan perempuan dalam hal ini?<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span><span id="more-242"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Peran Perempuan dalam Tragedi Asyuro (bag I)</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span>Oleh: Euis Daryati</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>“<b><i>Al-Islam, Muhammaddiyatul Huduts wa husainiyatul Baqa’. &#8216;Asyuro, Husainiyatul Huduts wa Zainabiyatul Baqa</i></b>”. (&#8220;Keberadaan Islam terwujud melalui<span>  </span>Nabi Muhammad saww dan kekal melalui Imam Husain as. Keberadaan Asyuro terwujud melalui Imam Husain as dan kekal melalui Zainab as”.)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Ungkapan di atas merupakan salah satu manifestasi dari hadis Rasul saww yang berbunyi: &#8220;Husain dariku dan aku dari Husain, Allah mencintai orang yang mencintai Husain&#8221;.[1] Ungkapan “Aku dari Husain” mengisyaratkan bahwa kelanggengan Islam Muhammadi terwujud melalui peranan Imam Husain as dalam peristiwa Asyuro. Sedangkan kelanggengan Asyuro terwujud melalui peranan Zainab al-Kubro as. Oleh karena itu, Sayyidah Zainab as<span>  </span>juga memiliki peran penting dalam menjaga kemurnian dan kesucian Islam Muhammadi. Hal ini menunjukkan tiga buah mata rantai yang satu sama lain saling berkaitan erat dan tidak mungkin untuk dapat dipisahkan; Nabi Muhammad saww, Imam Husain as dan Sayyidah Zainab as.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Melalui peristiwa Asyuro, terjadi pelurusan kembali agama Islam yang telah diselewengkan. Kita dapat memahami perihal ini jika kita menelaah kembali apa yang telah terjadi di zaman Imam Husain as. Ketika itu, ajaran-ajaran Islam diselewengkan,<span>  </span>kebenaran diperlihatkan sebagai suatu kebatilan dan sebaliknya. Sang<span>  </span>penguasa melakukan hal-hal yang jelas bertentangan dengan ajaran Islam, padahal ia telah memploklamirkan dirinya sebagai khalifah Rasul saww dan khalifah kaum muslimin. Maka tibalah saatnya Imam Husain as bangkit untuk melawan kezaliman dan memurnikan Islam yang telah dikotori oleh tangan-tangan jahil yang mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad saww. Imam Husain as sendiri telah menjelaskan masalah ini ketika menuliskan wasiat kepada saudaranya Muhammad bin Hanafiah berkaitan dengan sebab-sebab keberangkatannya ke Karbala. Imam mengatakan bahwa keberangkatannya ke Karbala bukan untuk berbuat keonaran dan kerusakan tetapi untuk merevisi kembali kondisi umat kakeknya (Nabi Muhammad saww), menegakkan<span>  </span>yang makruf dan mencegah yang munkar serta menghidupkan kembali jalan serta agama kakek dan ayahnya.[2]<span>  </span>Imam Husain as datang ke Karbala bukan untuk melakukan gerakan harakiri, akan tetapi demi menyelamatkan Islam Muhahammadi. Meskipun proses penyelamatan tersebut dapat merenggut nyawanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Nyawa manusia memang terhormat dan harus dijaga. Namun ketika bahaya menyerang agama, pada saat itu agama harus lebih diutamakan kendati nyawa akan melayang. Itulah yang dilakukan Imam Husain as di Karbala. Tapi yang menjadi pertanyaan ialah; Apakah Asyuro cukup sampai di sini? Siapakah duta-duta di balik tragedi Asyuro yang harus menyampaikan pesan Asyuro? Bagaimanakah peranan perempuan dalam hal ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Tidak dapat dipungkiri bahwa di balik setiap tokoh yang menciptakan peristiwa besar, pasti ada peranan perempuan di sana, baik peranan langsung dalam panggung peristiwa atau peranan di balik layar. Di balik &#8220;Muhammad&#8221; ada &#8220;Khadijah&#8221;. Di balik &#8220;Ali&#8221; ada &#8220;Fathimah az-Zahro&#8221;. Dan dibalik &#8220;Husain&#8221; ada &#8220;Zainab al-Kubro&#8221;. Keberadaan Islam, keimamahan (kepemimpinan pasca Rasulullah) dan kelanggengan pesan Asyuro dijaga dan didukung oleh para wanita pilihan nan berani seperti Khadijah as, Fathimah as, dan Zainab as. Meskipun dalam hal ini kita tidak dapat menafikan peranan para pejuang wanita lainnya yang telah ikut andil dalam membela agama Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Secara global peran perempuan dalam tragedi Asyuro dapat dispesipikasihan dalam tiga fase:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><span>Pertama: Pra Tragedi Asyuro</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sebagian orang yang tidak mengetahui kedudukan Imam Husain as mungkin akan bertanya-tanya mengapa beliau membawa<span>  </span>para perempuan ke Karbala dan menganggap hal tersebut sebagai sebuah sikap yang sangat konyol dan sia-sia.<span>  </span>Beliau sendiri sudah mengetahui keberangkatannya ke Karbala bukan untuk hal-hal yang menyenangkan. Bukankah Imam Husain as mengetahui bahwa bencana dan musibah yang akan menimpa beliau di Karbala? Kenapa beliau tetap bertekad untuk membawa para perempuan dan anak-anak tak berdosa menuju tempat yang tidak memberikan kesenangan buat mereka?[3] Bahkan beberapa para pembesar seperti <b>Ibnu Zubair, Ibnu Umar, Muhammad bin Hanafiah, Abdullah bin Umar </b>dan sebagainya telah melarang Imam Husain as untuk membawa para perempuan ke Karbala. Namun Imam tetap bersikukuh untuk membawa mereka. Bahkan ketika beliau menjawab pertanyaan Muhammad bin Hanafiah tentang sebab dibawanya para perempuan ke Karbala, beliau menjawab:<b><i> “</i>Allah swt telah menghendaki untuk melihat mereka dalam keadaan tertawan</b>&#8220;.[4] Berdasarkan ucapan beliau ini, maka salah satu alasan membawa mereka ke padang Karbala adalah untuk<span>  </span>melaksanakan kewajiban dan perintah Allah swt.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Selain itu, para perempuan yang ikut ke Karbala bukanlah sembarang perempuan. Mereka adalah para perempuan yang sudah terlatih dan terseleksi, baik dari sisi mental maupun spiritual. Sayyidah Zainab as, misalnya, telah mendapat berita tentang tragedi Asyuro dari kakeknya (Nabi saww) dan ayahnya Imam Ali bin Abi Thalib as. Dewi-dewi ini telah mengetahui bahwa para suami, anak dan saudara mereka akan terbunuh di padang Karbala nantinya. Namun mereka tahu bahwa sebagai gantinya, nyala api Islam akan selalu berkobar. Hal ini dapat kita lihat dari berbagai ungkapan mereka yang melambangkan gelora perjuangan. Sewaktu Ibnu Abbas melarang Imam Husain untuk membawa para perempuan ke Karbala, Sayyidah Zainab al-Kubro as dan Ummu Kultsum as berkata kepadanya:&#8221;<b>Wahai Ibnu Abbas, apakah engkau hendak memisahkan kami dari saudara kami? Demi Allah, kami tidak akan pernah berpisah darinya!</b>&#8220;.[5] Oleh karena itu, para perempuan pergi menyertai Imam Husain as atas keinginan mereka sendiri. Ini semua disebabkan kecintaan mereka terhadap Imam Husain as yang tidak dapat dibandingkan dengan kecintaan duniawi apapun. Lebih dari itu, mereka memang mengetahui kedudukan luhur Imam Husain as, sebagai seorang imam, pemimpin dan wali Allah di tengah-tengah mereka.[6]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Oleh karena itu, keikutsertaan para perempuan ke Karbala—khususnya Zainab al-Kubro dan keluarga Imam Husain as—bukan hanya atas dasar kecintaan kepada keluarga saja. Cinta dikarenakan hubungan keluarga bukanlah suatu hal yang salah dan dicela oleh agama. Namun kita juga harus kembali melihat kedudukan tinggi Sayyidah Zainab as, kesempurnaan dan makrifat yang dimilikinya tentang kedudukan Imam Husain as. Ketika<span>  </span>menggambarkan kesempurnaan yang dimiliki Sayyidah Zainab as, Imam Ali Zainal Abidin Sajjad as berkata:<b><i> “</i>Dan engkau wahai bibiku, segala puji sukur bagi Allah swt. Engkau adalah sosok yang berpengetahuan tanpa ada yang mengajari. Dan memahami sesuatu tanpa ada yang memahamkan (menerangkan)</b>&#8220;.[7] Sepertinya kurang layak jika Sayyidah Zainab yang memiliki pengetahuan seperti itu berjuang membela Imam Husain hanya dikarenakan kecintaan kepada saudaranya saja. Beliau membela Imam Husain sedemikian rupa karena beliau menganggap<span>  </span>Imam Husain as sebagai Imam zamannya dimuka bumi, Wali Allah dan al-Qur&#8217;an Natiq (yang berbicara) yang senantiasa harus dibela dan dijaga, dimanapun dan kapanpun ia berada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Bagaimanapun juga, keikutsertaan para perempuan telah mampu menyempurnakan misi dan revolusi Imam Husain as pasca pembantaian di padang tandus Karbala. Hal ini dikemukakan oleh Muhammad Husain Kasyiful-Ghitho, Allamah Baqir al-Qurasyi, dan DR Ahmad Mahmud Shubhi dalam karya-karya mereka berkaitan dengan hal ini.[8] Para perempuan itu aktif sebagai juru bicara di hadapan masyarakat, menyampaikan tujuan kebangkitan Imam Husain as dan sebab penting mengapa beliau sampai dibunuh. Mereka membeberkan berbagai kebusukan musuh-musuh beliau, mensosialisasikan peristiwa Asyuro seluas-luasnya, sebuah usaha yang tidak pernah dilakukan oleh laki-laki manapun sepeninggal mereka. Sosialisasi ini harus dilakukan di tengah masyarakat. Karena jika tidak maka gerakan Imam Husain as akan mudah terlupakan dan segera lenyap begitu saja ditelan waktu. Itu artinya bahwa gerakan Asyuro tidak memberikan dampak yang semestinya di kemudian hari. Oleh karena itu, sesuai dengan hikmah Ilahi, keikutsertaan para perempuan bersama beliau merupakan sebuah keharusan. Ini sangat relevan dengan pernyataan beliau yang menyatakan; &#8220;Allah menghendaki melihat mereka dalam keadaan tertawan&#8221;. Penawanan para perempuan<span>  </span>menjadi bukti konkrit dalam membuka kedok para musuh-musuh Imam Husain as.[9] Mereka akan menjadi saksi hidup kebejatan Bani Umayah dan para sekutunya dan<span>  </span>perlakuan non manusiawi mereka terhadap keluarga Nabi saww serta para sahabat mulia beliau yang turut syahid di Karbala. Andaikan para perempuan itu tidak turut serta pergi ke Karbala, lantas siapa yang akan menyampaikan kepada publik tentang kebejatan, kebiadaban dan perlakuan hewani bani Umayah terhadap para keluarga Nabi saww serta pengikutnya?[10] Inilah salah satu alasan kenapa para perempuan dibawa ke Karbala.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Di sini, perlu disinggung pula tentang peran seorang perempuan yang merelakan rumahnya dijadikan tempat berlindung utusan Imam Husain as, Muslim bin Aqil, ketika tidak ada seorang pun yang bersedia melakukannya disebabkan situasi dan kondisi yang sangat genting kala itu. Mata-mata penguasa zalim Ibnu Ziyad telah ditempatkan di semua sudut kota sehingga mereka dapat memantau segala aktifitas penduduk Kufah. Jika terjadi hal yang mencurigakan, mereka akan segera bertindak.. Muslim bin Aqil keluar dari rumah Muhammad bin Katsir, lalu pergi untuk mencari perlindungan agar ia aman dari pantauan mata-mata Abdullah bin Ziyad. Ia terlunta-lunta di antara gang-gang sampai akhirnya tiba di pintu rumah Thau&#8217;ah, seorang perempuan mantan budak Asy&#8217;ats yang telah dinikahi Usaid bin Hadzrami dan telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Bilal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Saat itu, Thau&#8217;ah sedang menunggu kedatangan anaknya. Sewaktu Muslim melihatnya, beliau memberikan salam kepada Thau&#8217;ah lalu meminta segelas air. Thau&#8217;ah memberikan segelas air kepadanya, setelah itu lantas masuk rumah. Sewaktu keluar, ia melihat Muslim masih berada di depan rumahnya, kemudian bertanya:&#8221;Bukankah anda telah meminum air?” &#8220;Ya&#8221;, jawabnya singkat. &#8220;Bangkit dan pulanglah ke rumahmu!&#8221;, ujar Thau&#8217;ah. Namun Muslim bin Aqil tidak memberikan jawaban. Thau&#8217;ah mengulangi perkataannya tetapi Muslim diam saja. Untuk ketiga kalinya ia berkata:&#8221;Pulanglah ke rumahmu, tidak selayaknya seorang laki-laki asing duduk di depan pintu rumahku. Selain itu pun aku tidak menyukai hal ini, karena ini perbuatan tidak benar.&#8221; Kemudian Muslim bangkit dari tempat duduknya kemudian berkata:&#8221;Wahai hamba Allah, aku adalah orang asing. Aku tidak memiliki rumah di kota ini. Dapatkah anda melakukan kebajikan untukku, sehingga anda pun akan mendapatkan pahalanya? Mudah-mudahan aku dapat membalasnya&#8221;. Thau&#8217;ah bertanya:&#8221;Apa yang dapat kulakukan?&#8221; Muslim menjawab:&#8221;Aku adalah Muslim bin Aqil. Penduduk Kufah telah berbohong kepadaku dan mengkhianatiku&#8221;. &#8220;Engkau Muslim bin Aqil?&#8221; tanya Thau&#8217;ah. &#8220;Ya&#8221;, jawab Muslim singkat. Lantas Thau&#8217;ah mempersilahkan Muslim untuk berlindung di rumahnya. Meskipun akhirnya, Bilal<span>  </span>membocorkan keberadaan Muslim di rumah ibunya kepada mata-mata Abdullah bin Ziyad dikarenakan cinta dunia telah menyelimuti hatinya.[11]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><span> Bersambung&#8230;</span></b></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/242/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/242/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/242/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=242&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/01/10/peran-perempuan-dalam-tragedi-asyuro-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/v_zeinab_9.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">v_zeinab_9.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perincian Hukum bagi Wanita Haid Pemilik Kebiasaan Waktu dan Jumlah (‘Adah Adadiyah wa Waqtiyah)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/12/24/perincian-hukum-bagi-wanita-haid-pemilik-kebiasaan-waktu-dan-jumlah-%e2%80%98adah-adadiyah-wa-waqtiyah/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/12/24/perincian-hukum-bagi-wanita-haid-pemilik-kebiasaan-waktu-dan-jumlah-%e2%80%98adah-adadiyah-wa-waqtiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Dec 2007 07:10:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/12/24/perincian-hukum-bagi-wanita-haid-pemilik-kebiasaan-waktu-dan-jumlah-%e2%80%98adah-adadiyah-wa-waqtiyah/</guid>
		<description><![CDATA[Perempuan yang mempunyai kebiasaan waktu dan jumlah, jika ia melihat darah keluar pada waktu kebiasaannya, atau tiga hari lebih maju, atau tiga hari lebih mundur, sehingga dikatakan waktu haidnya terkadang maju atau mundur, meskipun darah tersebut tidak mempunyai ciri-ciri haid, maka ia harus tetap berprilaku sebagai orang haid. Adapun kalau setelahnya ia mengetahui ternyata bukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=240&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="color:black;"></span></b><span style="color:black;">Perempuan yang mempunyai kebiasaan waktu dan jumlah, jika ia melihat darah keluar pada waktu kebiasaannya, atau tiga hari lebih maju, atau tiga hari lebih mundur, sehingga dikatakan waktu haidnya terkadang maju atau mundur, meskipun darah tersebut tidak mempunyai ciri-ciri haid, maka ia harus tetap berprilaku sebagai orang haid. </span><span style="color:black;">Adapun kalau setelahnya ia mengetahui ternyata bukan haid, seperti sebelum tiga hari sudah suci, maka ibadah yang ia tinggalkan harus ia <i>qadha</i></span><i><span style="color:black;"> </span></i><span style="color:black;">…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-240"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="color:black;font-weight:normal;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;color:black;">Perincian Hukum bagi Wanita Haid Pemilik Kebiasaan Waktu dan Jumlah </span></b><b><span style="font-size:14pt;color:black;font-weight:normal;">(</span></b><i><b><span style="font-size:14pt;color:black;">‘Adah Adadiyah wa Waqtiyah</span></b></i><b><span style="font-size:14pt;color:black;">)</span></b><b><span style="font-size:14pt;"></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><b><span style="font-size:14pt;color:black;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><b><span style="color:black;">Mas</span><span style="color:black;">alah</span></b><b><span style="color:black;"> 1:</span></b><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Perempuan yang mempunyai kebiasaan waktu dan jumlah, jika ia melihat darah keluar pada waktu kebiasaannya, atau tiga hari lebih maju, atau tiga hari lebih mundur, sehingga dikatakan waktu haidnya terkadang maju atau mundur, meskipun darah tersebut tidak mempunyai ciri-ciri haid, maka ia harus tetap berprilaku sebagai orang haid. </span><span style="color:black;">Adapun kalau setelahnya ia mengetahui ternyata bukan haid, seperti sebelum tiga hari sudah suci, maka ibadah yang ia tinggalkan harus ia <i>qadha</i></span><span style="color:black;">(melaksanakan ibadah (seperti shalat)<span>  </span>yang telah ditinggalkan tersebut pada hari-hari lain)</span><span style="color:black;">.</span><span style="color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><b><span style="color:black;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><b><span style="color:black;">Mas</span></b><b><span style="color:black;">alah</span></b><b><span style="color:black;"> 2:</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Perempuan yang mempunyai kebiasaan waktu dan kebiasaan jumlah, jika ia melihat darah beberapa hari sebelum kebiasaannya, pada hari-hari kebiasaannya dan sesudah hari-hari kebiasaannya kalau jumlah seluruhnya tidak lebih dari sepuluh hari, maka semuanya terhitung haid. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Kalau darah keluar lebih dari sepuluh hari,<span>  </span>hanya darah yang keluar pada hari-hari kebiasaannya saja yang dihukumi haid, sedangkan darah pada hari-hari sebelum dan sesudahnya dihukumi </span><span style="color:black;">darah </span><span style="color:black;">istihadah</span><span style="color:black;"> / darah penyakit (bukan haid) </span><span style="color:black;">dan semua ibadah yang ditinggalkan pada hari-hari sebelum dan sesudahnya harus di-<i>qadha</i></span><span style="color:black;"> (</span><span style="color:black;">melaksanakan ibadah (seperti shalat) yang telah ditinggalkan tersebut<span>  </span></span><span style="color:black;">pada hari-hari lain)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">.</span><span style="color:black;">Lihat tabel berikut:</span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="margin-left:5.25pt;border-collapse:collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0">
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:70.25pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="94">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Bulan</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td colspan="6" style="width:307.75pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="410">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Tanggal</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:70.25pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="94">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Rajab</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:43.4pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="58">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>1,2,3</span></b><span></span></p>
</td>
<td colspan="3" style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:128.9pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="172">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:#7f0000;">4,5,6,7,8,9</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td colspan="2" style="width:135.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="181">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>10,11,12,13,14,15,16,.</span></b><span></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:70.25pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="94">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Sya’ban</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:43.4pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="58">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>1,2,3</span></b></p>
</td>
<td colspan="3" style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:128.9pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="172">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:#7f0000;">4,5,6,7,8,9</span></b><span style="color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Kebiasaan haidnya</span></b></p>
</td>
<td colspan="2" style="width:135.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="181">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>10,11,12,13,14,15,16,&#8230;dst</span></b></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:70.25pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="94">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Ramadhan</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td colspan="2" style="background:yellow none repeat scroll 0 50%;width:73.75pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="98">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:#7f0000;">1,2,3</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Istihadhah</span></b></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:1in;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="96">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:10.5pt;text-align:center;" align="center"><b><span style="color:#7f0000;">4,5,6,7,8,9</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:23.25pt;text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Haid</span></b></p>
</td>
<td colspan="2" style="background:yellow none repeat scroll 0 50%;width:67.5pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="90">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:6.75pt;text-align:center;" align="center"><b><span style="color:#7f0000;">10,11,12</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Istihadhah</span></b></p>
</td>
<td style="width:94.5pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="126">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.75pt;text-align:center;" align="center"><b><span>13,14,15,16,&#8230;dst</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:17.25pt;text-align:center;" align="center"><span style="color:black;"> </span></p>
</td>
</tr>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Ataupun darah yang keluar pada hari-hari sebelum kebiasaannya dengan hari-hari kebiasaannya tidak lebih dari sepuluh hari, maka semuanya dihukumi haid. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Tapi kalau lebih dari sepuluh hari, maka darah yang keluar pada hari-hari kebiasaannya saja yang dihukumi haid, sedang pada hari-hari sebelumnya dihukumi </span><span style="color:black;">darah </span><span style="color:black;">istihadhah</span><span style="color:black;"><span>  </span>/ darah penyakit (bukan haid)</span><span style="color:black;">. </span><span style="color:black;">Jika pada hari-hari sebelumnya meninggalkan ibadah maka harus di<i>qadha</i>’</span><span style="color:black;">(melaksanakan ibadah (seperti shalat)<span>  </span>yang telah ditinggalkan tersebut pada hari-hari lain)</span><span style="color:black;">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Lihat tabel dibawah ini:</span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="margin-left:5.25pt;border-collapse:collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0">
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:66.2pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="88">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Bulan</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td colspan="3" style="width:311.8pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="416">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Tanggal</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:66.2pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="88">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Rb Awal</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:76.8pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="102">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>1,2,3,4,5</span></b><span></span></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:144.55pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="193">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:#7f0000;">6,7,8,9,10,11,12</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:90.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="121">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>13,14,15,&#8230;dst</span></b></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:66.2pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="88">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Rab Tsani</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:76.8pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="102">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>1,2,3,4,5</span></b><span></span></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:144.55pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="193">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:#7f0000;">6,7,8,9,10,11,12</span><span style="color:#7f0000;"></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>Kebiasaan </span>H</b><b><span>aidnya</span></b></p>
</td>
<td style="width:90.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="121">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>13,14,15,&#8230;dst</span></b></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:66.2pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="88">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Jm Awal</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="background:yellow none repeat scroll 0 50%;width:76.8pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="102">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:red;">1,2,3,4,5 </span></b><b><span style="color:maroon;">Istihadhah</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:144.55pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="193">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:#7f0000;">6,7,8,9,10</span></b><span style="color:black;"> </span><b><span style="color:#7f0000;">11,12</span><span style="color:#7f0000;"></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>Haid</span></b></p>
</td>
<td style="width:90.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="121">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>13,14,15,&#8230;dst</span></b></p>
</td>
</tr>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Dan jika jumlah hari-hari kebiasaannya dan hari-hari sesudah kebiasaannya tidak lebih dari sepuluh hari, maka semuanya dihukumi haid. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Lihat tabel berikut ini:</span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="margin-left:5.25pt;border-collapse:collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0">
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:71.2pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="95">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Bulan</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td colspan="3" style="width:306.8pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="409">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Tanggal</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:71.2pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="95">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Rajab</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:43.95pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="59">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>1,2,3</span></b><span></span></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:149.5pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="199">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:#7f0000;">4,5,6,7,8,9,10</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:113.35pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="151">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>11,12,13,14,15,&#8230;dst</span></b></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:71.2pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="95">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Sya’ban</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:43.95pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="59">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>1,2,3</span></b><span></span></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:149.5pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="199">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:#7f0000;">4,5,6,7,8,9,10</span><span style="color:#7f0000;"></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>Kebiasaan haidnya</span></b></p>
</td>
<td style="width:113.35pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="151">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>11,12,13,14,15,&#8230;dst</span></b></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:71.2pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="95">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Ramadhan</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:43.95pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="59">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>1,2,3</span></b><span></span></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:149.5pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="199">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:#7f0000;">4,5,6,7,8,9,10</span></b><span style="color:black;"> </span><b><span style="color:#7f0000;">11,12 </span></b><b><span>Semuanya dihukumi haid</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:113.35pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="151">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>13,14,15,&#8230;dst</span></b></p>
</td>
</tr>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Tapi jika lebih dari sepuluh hari, maka hanya pada hari-hari kebiasaannya saja yang dihukumi haid, sedang sisanya adalah istihadhah</span><span style="color:black;"> / darah penyakit (bukan haid).</span><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b> </b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Keterangan:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span>-<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Sewaktu darah dihukumi darah istihadhah / darah penyakit (bukan darah haid), maka pada waktu itu perempuan harus tetap melaksanakan ibadah seperti shalat dan puasa, namun sebelumnya harus melaksanakan amalan perempuan istihadhah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span>-<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Dibawah ini adalah berkaitan dengan hokum dan amalam istihadhah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="font-size:14pt;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span><b><span style="color:black;"></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;color:black;">Darah </span></b><b><span style="font-size:14pt;color:black;">Istihadhah</span></b><b><span style="font-size:14pt;color:black;"> / Darah Penyakit </span><span style="color:black;"></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><b><span style="color:black;">Ciri-ciri:</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Pada umumnya, darah istihadhah berwarna kekuning-kuningan, dingin, keluar tanpa tekanan, tidak kental, tetapi mungkin juga berwarna kehitam-hitaman, kental, hangat dan keluar dengan tekanan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><b><span style="color:black;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><b><span style="color:black;">a. Pembagian istihadhah:</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 9pt;"><b><u><span style="color:black;">Sedikit</span></u></b><b><span style="color:black;">, </span></b><span style="color:black;">yaitu jika perempuan memasukkan kapas</span><span style="color:black;"> (bukan pembalut)</span><span style="color:black;"> ke dalam vagina maka darah tidak akan menetes dan dari arah lain ia tidak nampak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 9pt;"><b><u><span style="color:black;">Sedang</span></u></b><b><span style="color:black;">, </span></b><span style="color:black;">yaitu jika perempuan memasukkan kapas ke dalam vagina maka darah akan menembus dan akan tampak pada arah lain tapi tidak mengalir kedalam pembalut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 9pt;"><b><u><span style="color:black;">Banyak</span></u></b><b><span style="color:black;">, </span></b><span style="color:black;">yaitu<b> </b>jika<b> </b>perempuan memasukkan kapas kedalam vagina maka darah tersebut akan menembus ke dalam kapas dan pembalut.</span><span style="color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 9pt;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 9pt;"><span style="color:black;">Keterangan: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 9pt;"><span style="color:black;">Bagi para gadis apabila membahayakan selaput daranya, maka jangan memasukkan kapas terlalu dalam, masukan secukupnya sampai darah yang keluar jenisnya dapat diketahui.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><b><span style="color:black;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><b><span style="color:black;">b. Amalan Istihadhah</span><span style="color:black;"></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Amalan <b><u>istihadhah-sedikit</u></b> ketika hendak shalat: membersihkan vagina, mengganti kapas (kapas yang dimaksud ini adalah kapas yang dimasukkan ke vagina, bukan softeks), berwudhu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Amalan <b><u>istihadhah-sedang</u></b> ketika hendak shalat: <u>mandi</u> untuk shalat pertama kali dan melakukan amalan istihadhah sedikit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;color:black;"><span>1<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="color:black;">Jika istihadhah keluar sebelum waktu shalat subuh atau di antara waktu shalat subuh, maka ia harus mandi untuk melakukan shalat subuh. Jika istihadhah keluar sebelum shalat zuhur atau di antara waktu shalat zuhur, maka ia harus mandi untuk melakukan shalat zuhur.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;color:black;"><span>2<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="color:black;">Jika lupa ataupun sengaja tidak mandi untuk melakukan shalat subuh, maka ia harus mandi untuk melaksanakan shalat zuhur dan ashar (sholat subuh tidak perl di-<i>qadha</i>).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Amalan <b><u>istihadhah-banyak</u></b> ketika hendak shalat: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;color:black;"><span>1<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="color:black;">mandi untuk setiap dua shalat jika tidak ada jarak antara kedua shalat tersebut, </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;color:black;"><span>2<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="color:black;">wudhu</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;color:black;"><span>3<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="color:black;">membersihkan vagina dan mengganti kapas </span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/240/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/240/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/240/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=240&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/12/24/perincian-hukum-bagi-wanita-haid-pemilik-kebiasaan-waktu-dan-jumlah-%e2%80%98adah-adadiyah-wa-waqtiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pornografi dan Pornoaksi merupakan Taktik Setan dalam Mengeluarkan Manusia dari Esensi Ke-manusiaan-nya (Fitrah)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/12/14/pornografi-dan-pornoaksi-merupakan-taktik-setan-dalam-mengeluarkan-manusia-dari-ke-manusiaan-nya/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/12/14/pornografi-dan-pornoaksi-merupakan-taktik-setan-dalam-mengeluarkan-manusia-dari-ke-manusiaan-nya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Dec 2007 17:26:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/12/14/pornografi-dan-pornoaksi-merupakan-taktik-setan-dalam-mengeluarkan-manusia-dari-ke-manusiaan-nya/</guid>
		<description><![CDATA[Tidak dapat dipungkiri bahwa pornografi dan pornoaksi makin marak mewarnai kehidupan zaman sekarang ini, baik yang berskala nasional maupun internasional. Dan fenomena seperti ini telah membuat khawatir para orang tua, yang merupakan salah satu efek negatif zaman globalisasi&#8230; &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Pornografi dan Pornoaksi merupakan Taktik Setan dalam Mengeluarkan Manusia dari Esensi Ke-manusiaan-nya (Fitrah) Pro dan konta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=236&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/usa-setan.jpg" title="usa-setan.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/usa-setan.thumbnail.jpg?w=500" alt="usa-setan.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Tidak dapat dipungkiri bahwa pornografi dan pornoaksi makin marak mewarnai kehidupan zaman sekarang ini, baik yang berskala nasional maupun internasional. Dan fenomena seperti ini telah membuat khawatir para orang tua, yang merupakan salah satu efek negatif zaman globalisasi&#8230; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span><span id="more-236"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Pornografi dan Pornoaksi merupakan Taktik Setan dalam Mengeluarkan Manusia dari Esensi Ke-manusiaan-nya (Fitrah)<br />
</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Pro dan konta berkaitan dengan undang-undang anti pornografi dan pornoaksi telah menimbulkan berbagai dilema dalam kehidupan masyarakat di tanah air kita. Sebagian menyambutnya dengan antusias diberlakukannya UU tersebut. Sebagian lagi menentangnya dan berpendapat bahwa dalam hal ini pemerintah terlalu ikut campur dalam masalah busana dan penampilan kaum hawa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Jika kita lihat isi undang-undang tersebut maka mayoritas obyeknya berkaitan dengan kamu perempuan. Selain itu, ada opimi bahwa sebenarnya pemerintah dengan adanya UU anti pornografi dan pornoaksi telah berusaha menutupi berbagai permasalahan besar yang sedang terjadi di negara dengan mengalihkan opini publik dari berbagai masalah yang sedang terjadi ke masalah pornografi dan pornoaksi. Walaupun kami sendiri tidak mengetahui secara detail apakah terjadi rekayasa dalam hal ini, karena pabila kita lihat permasalahan di negara kita sekarang ini sangat kompleks sekali. Belum tuntas dari satu permasalahan, permasalahan lain sudah datang lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Tujuan kami sebenarnya bukan untuk mengupas masalah UU anti pornografi dan pornoaksi. Tidak dapat dipungkiri bahwa pornografi dan pornoaksi semakin marak mewarnai kehidupan zaman sekarang ini, baik yang berkala nasional maupun internasional. Fenomena ini yang telah membuat khawatir para orang tua,<span>  </span>yang merupakan salah satu efek negatif globalisasi. Sebenarnya, masalah pornografi dan pornoaksi akan dapat diminimalir dengan membekali diri dan memperkuat dasar-dasar pemikiran, keyakinan dan memperbaiki pandangan hidup terhadap dunia. Dengan disertai jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul dari diri kita sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kita tidak dapat menutup mata dan membiarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut berlalu begitu saja tanpa mencari jawaban-jawabannya. Karena pencarian jawaban-jawaban tersebut sangat berpengaruh dalam penentuan nasib hidup, masa depan, kebahagiaan dan kesengsaraan kita. Pertanyaan utama yang yang terlontar dari dalam lubuk kita adalah; “Siapa kita?”, “Kita berasal dari mana?”, “Berada dimana?”, dan “Akan pergi kemana?”. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus<span>  </span>dicari jawaban-jawabannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Bagaimana tidak, kesengsaraan dan kebahagiaan sejati kita tergantung padanya. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Pemimpin orang-orang yang bertakwa, Imam Ali as yang menyatakan: “Allah akan merahmati orang yang mengetahui dari mana dia berasal (<i>min aena</i>)? Dimana dia berada (<i>fi aina</i>)? Dan hendak kemana dia akan pergi (<i>ila aena</i>)?”. Pertanyaan yang nampak sederhana namun memiliki bobot yang sangat dalam; Darimana kita berasal? Apakah kita ada dengan sendirinya? Ataukah ada yang menciptakan kita? Jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu diperlukan kesadaran penuh setiap manusia yang berakal sehat dan berhati bersih. Akal sehat mengatakan bahwa, mustahil sesuatu ada dengan sendirinya tanpa ada yang membuat dan menciptakannya. Jangankan keberadaan manusia yang penuh dengan keajaiban -sehingga salah seorang tokoh pemikir Barat (Alexis Karel) mengatakan bahwa manusia merupakan “Makhluk tak dikenal”- benda sederhana saja seperti sebuah sebuah kursi mustahil akan ada tanpa ada yang membuatnya. Andaikan kita telah mengetahui bahwa diri kita ada karena ada yang menciptakan yaitu Allah SWT, lantas apa konsekwensi yang harus dilakukan oleh makhluk-Nya? Konsekuensinya adalah menuhankan-Nya, dimana bentuk kesempurnaan penuhanan Dzat tersebut adalah pengesaan dan penghambaan mutlak yang mungkin terealisasi dengan berbagai bentuk dan ragam, termasuk pengesaan dalam menjalankan perintah dan menjauhkan diri dari larangan-Nya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Di sisi lain, Allah SWT telah menciptakan manusia memiliki dua dimensi, dimensi materi dan non materi, atau dengan istilah lain;sisi jasmani dan ruhani. Hanya melihat dimensi materi saja manusia tidak dapat dikatakan manusia. Karena benda, tumbuhan dan hewanpun memiliki dimensi ini. Lantas apa keutamaan manusia dari semua itu? Apakah manusia sama dengan semua hal tadi? manusia yang berakal sehat tentu tidak menghendaki dirinya disamakan dengan semua itu tadi. Oleh sebab itu, dalam filsafat Islam dikatakan bahwa, pada diri manusia terdapat berbagai tingkatan-tingkatan daya (baca: potensi); daya tumbuhan (<i>nabati</i>), daya kehewanan (<i>hewani</i>) dan daya ke-insanan <i>(ruh insani</i>). Daya tumbuhan; tumbuhan dikatakan sempurna sawaktu ia tumbuh berkembang dengan baik, pohonnya kuat, daunnya lebat, dahan, akarnya juga kokoh dan berbuah banyak. Jikalau manusia hanya memperhatikan perkembangan fisiknya saja seperti badannya tumbuh berkembang dari sisi tinggi dan berat yang ideal, sehat dan berotot kuat maka tidak ada bedanya dengan pohon. Maka kesempurnaannya hanya hanya terdapat pada sisi perkembangan nabatinya saja. Dan sewaktu manusia hanya memperhatikan masalah yang berkaitan dengan isi perut, pasangan hidup atau pemuasan libido (seks), sibuk memperbanyak keturunan, mencari tempat tinggal yang enak dengan berbagai fasilitas, singkatnya ia hanya berusaha menjadi manusia hedonis maka ia hanya berkembang sempurna pada sisi hewaninya. Karena hewanpun mencari pasangan hidup, memiliki keturunan, mencari tempat nyaman untuk tinggal dan lain sebagainya yang merupakan instink (<i>gharizah</i>) hewani. Begitu juga dengan daya bendawi, seperti bebatuan dimana kesempurnaan batu terdapat pada kekokohannya, atau dari sisi zahirnya saja. Secara global bahwa semua sisi-sisi tadi bukanlah sifat-sifat kesempurnaan khusus bagi manusia, makhluk yang lainpun memilikinya. Lantas apa kesempurnaan khusus yang dimiliki oleh manusia yang tidak akan dimiliki oleh makhluk lain?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Hanya daya dan potensi khusus yang terdapat pada jiwa ke-manusia-an (<i>ruh insani</i>) yang dapat membedakan manusia dari makhluk lainnya, sehingga manusia dapat dikatakan sebagai manusia. Sementara hakekat ruh insani ini hanya terwujud pada sisi non materi manusia, seperti; daya pikir. Dikarenakan hanya kelompok manusia saja yang dapat berpikir, sementara Allah SWT telah memberikan fasilitas kepadanya berupa akal sebagai sarana untuk berpikir. Dalam ilmu logika dikatakan, ketika mendefinisikan manusia: “<i>Al-insanu hayawun natiq</i>”, manusia adalah hewan (makhluk hidup yang bergerak dengan free-will) yang mampu berpikir. Walaupun secara linguistik kata <i>‘natiq’ </i><span> </span>memiliki makna “berbicara”, namun juga dipakai untuk makna “berpikir”. Oleh karenanya dalam penggunaannya kedua makna tersebut dapat dibenarkan. Karena proses berbicara secara sadar harus didahului dengan proses berpikir. Dan hanya manusia saja makhluk yang berbicara dan berpikir. Oleh karenanya, ketika manusia menggunakan daya pikirnya dengan baik maka baru dapat dikatakan sebagai manusia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sisi dimensi non materi lain manusia adalah fitrah. Fitrah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Singkatnya, fitrah adalah esensi dasar penciptaan manusia. Fitrah manusia ini dapat terus terjaga selamanya dan menjadi pelita kehidupan manusia, atau mungkin akan mengalami kerusakan karena dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya ialah faktor lingkungan. Hewan hidup dengan menggunakan instinknya (<i>gharizah</i>), bukan fitrah. Dan fitrah ini memiliki berbagai perwujudannya, yang utama terdapat pada tiga hal; “Cinta kesempurnaan”, “Cinta kebenaran” dan “Cinta kebaikan”, yang semuanya masing-masing memiliki cabang tersendiri. Salah satu dari cabang yang ada adalah fitrah rasa malu yang rasional dan fitri. Fitrah manusia ini dapat terus terjaga selamanya dan menjadi pelita kehidupan manusia, atau mungkin akan mengalami kerusakan karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya ialah faktor eksternal yang mungkin dikarenakan akibat negatif lingkungan yang tidak mendukung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Ketika manusia memiliki rasa malu yang rasional berarti fitrahnya masih sehat dan belum terpolusi serta tertutup oleh<span>  </span>penghalang unsur negatif akibat faktor eksternal. <span> </span>Menutup aurat dan berbusana merupakan fitrah manusia, untuk menutupi rasa malu rasionalnya. Kita dapat melihat hal ini pada Nabi Adam AS dan Siti Hawa yang merupakan para manusia pertama. Ketika busana mereka terbuka, mereka merasa malu dan lantas menutupinya dengan dedaunan yang ada di surga (eden); <i>“<b>Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga&#8230;</b></i>”(QS Thohaa:121) Manusia yang tidak memiliki rasa malu berarti pancaran cahaya fitrahnya telah tertutup dan ia telah keluar dari jiwa kemanusiaannya yang rasional. Olah karenanya ia lebih pantas disebut dengan hewan berbaju manusia, dikarenakan ia tidak dapat menerangi dirinya dengan sorotan cahaya fitrah insaniyahnya. Pornografi dan pornoaksi yang semakin merebak sekarang ini dikarenakan manusia telah melupakan sisi ke-manusiaan-nya dan mengenakan baju hewani yang tidak layak dikenakan oleh makhluk yang bernama manusia. Karena Allah SWT Pencipta manusia ketika menciptakan manusia Ia menghendaki manusia menjadi ‘manusia’ (sempurna), bukan lantas menjadi ‘hewan’, apalagi hanya sekedar menjadi ‘tumbuhan’. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span>Oleh karena itu, sebagaimana yang terdapat dalam al-Qur’an, pornografi dan pornoaksi sebagai senjata dan tipu daya setan dalam mengeluarkan manusia dari dimensi dan daya ke-manusia-annya. Karena setan tidak menhendaki manusia menjadi ‘manusia’. Setan menghendaki manusia menjadi ‘hewan’ atau ‘tumbuhan’ yang akan menjadi bahan bakar neraka. Bukankah Allah SWT berfirman: “<b><i>Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia Telah mengeluarkan kedua ibu-bapamu dari surga, <u>ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya &#8216;auratnya</u>&#8230;</i></b><i>”</i>(QS Al-A’raf: 27). Dan firman Allah SWT: “<b><i><u>Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya.</u>..</i>” </b>(QS Al-A’raf:20). Sewaktu seseorang melakukan tindak pornografi dan pornoaksi maka secara tidak langsung ia telah menjadikannya dirinya sebagai hamba setan dan menjatuhkan dirinya ke dalam jurang hewani. Bukankah Allah SWT berfirman dalam surah Yasiin ayat 60: <b><i>“Bukankah Aku Telah memerintahkan kepadamu <u>Hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu</u>&#8221; </i></b>(QS Yasiin: 60)? </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Oleh sebab itu, di antara solusi yang dapat dilakukan oleh para orang tua ataupun manusia agar terjaga dari efek globalisasi pornografi ialah dengan membekali dan memperkuan keimanan terhadap Pencipta kita, dan memperbaiki “pandangan dunia”, serta menjawab berbagai pertanyaan (seperti: dari mana kita?, ada dimana?, sekarang ada dimana (yang kehidupan dunia hanyalah ladang akhirat, dan bersifat sementara)?). Kita meyajkini –berdasarkan argumen rasional dan tekstual yang dapat kita pelajari dalam kajian Teology- bahwa kehidupan tidak berakhir pada kematian, lantas selesai. Ini tidak seperti halnya yang dikatakan kaum Atheis dan telah disinyalir dan dijawab oleh Qur’an, “<b><i>Dan mereka berkata: &#8220;Kehidupan Ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa&#8221;, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja</i></b>” (QS al-Jatsiah:24). Adapun yang berkaitan dengan pertanyaan; hendak kemana? Artinya, karena kita hidup di dunia ini sementara dan akan pergi ke tempat lain maka kita memerlukan bekal untuk pergi ke tempat abadi (akhirat) tadi. Betapa bodohnya orang yang mengetahui hendak bepergian jauh namun ia santai-santai dan tidak mempersiapkan bekal yang diperlukan dalam perjalanan menuju tempat tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kembali mengenal “hakikat diri” sebagai manusia dan apa saja yang menjadikan ia dikatakan sebagai manusia adalah merupakan cara lain dalam menghadapi problem ini. Menyadarkan ataupun mengenalkan pada diri kita -dan orang lain- bahwa pada hakekatnya pornografi merupakan tipu daya dan senjata setan untuk menjadikan kita sebagai hambanya. Padahal, ketika di akhirat nanti, setan hendak berlepas tangan dari kita dan ia akan mengatakan; kenapa engkau mengikutiku, wahai manusia? Bukankah aku tidak pernah memaksamu untuk melakukan hal itu? Tanggunglah sendiri hasil perbuatanmu! Allah SWT berfirman: ”<b><i>Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) Telah diselesaikan: &#8220;Sesungguhnya Allah Telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun Telah menjanjikan kepadamu tetapi Aku menyalahinya. <u>sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) Aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca Aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku</u>. Sesungguhnya Aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan Aku (dengan Allah) sejak dahulu&#8221;. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih</i></b></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">.</span><span>”<span>  </span>(QS Ibrahim: 22).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><span>ED / </span></b><span>Islamfeminis <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/236/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/236/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/236/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=236&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/12/14/pornografi-dan-pornoaksi-merupakan-taktik-setan-dalam-mengeluarkan-manusia-dari-ke-manusiaan-nya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/usa-setan.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">usa-setan.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Duduk Santai Bersama ‘Imam Ali Khamanei’, Pemimpin Spiritual dan Politik Republik Islam Iran</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/12/08/duduk-santai-bersama-%e2%80%98imam-ali-khamanei%e2%80%99-pemimpin-spiritual-dan-politik-republik-islam-iran/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/12/08/duduk-santai-bersama-%e2%80%98imam-ali-khamanei%e2%80%99-pemimpin-spiritual-dan-politik-republik-islam-iran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Dec 2007 11:58:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/12/08/duduk-santai-bersama-%e2%80%98imam-ali-khamanei%e2%80%99-pemimpin-spiritual-dan-politik-republik-islam-iran/</guid>
		<description><![CDATA[Beliau mengisyaratkan bahwa; “Kebebasan berpikir dan berpendapat haruslah tetap terjaga dan membudaya di kalangan Hauzah Ilmiah. Karena itu merupakan ciri khas Hauzah Ilmiah mazhab Syi’ah yang memberikan kebebasan berpikir dan berpendapat, kepada murid dan guru, selama masih tetap berada pada koridor adab Islam. Sebab dengan kebebasan berpikirlah ilmu akan semakin berkembang sehingga menelorkan pemikiran-pemikiran cemerlang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=224&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/khamenei.jpg" title="khamenei.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/khamenei.thumbnail.jpg?w=500" alt="khamenei.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Beliau mengisyaratkan bahwa; “Kebebasan berpikir dan berpendapat haruslah tetap terjaga dan membudaya di kalangan Hauzah Ilmiah. Karena itu merupakan ciri khas Hauzah Ilmiah mazhab Syi’ah yang memberikan kebebasan berpikir dan berpendapat, kepada murid dan guru, selama masih tetap berada pada koridor adab Islam. Sebab dengan kebebasan berpikirlah ilmu akan semakin berkembang sehingga menelorkan pemikiran-pemikiran cemerlang baru”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span id="more-224"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Duduk Santai Bersama ‘Imam Ali Khamanei’, Pemimpin Spiritual dan Politik Republik Islam Iran</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/imam-ali-khamenei.jpg" title="imam-ali-khamenei.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/imam-ali-khamenei.thumbnail.jpg?w=500" alt="imam-ali-khamenei.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Tepatnya pada hari Kamis, enam orang dari kampus kami yang berasal dari Amerika, Rusia, Pakistan, Irak, Thailand, dan saya sendiri perwakilan dari pelajar Indonesia mendapat undangan untuk bertemu dengan Pemimpim Tertinggi Spiritual dan Politik Republik Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamanei di Husaeniyah (aula) Imam Khomaeni di Teheran. Kemudian kami bergabung dengan para akhwat Iran yang terdiri dari perwakilan para pelajar, dosen, peneliti, dan kepala sekolah Hauzah Ilmiyah Islam (Pusat Pembelajaran dan Penelitian Ilmu-Ilmu Agama Islam) Jamiah az-Zahra. Sewaktu kami melihat<span>  </span>jadwal acara, ternyata acara tersebut merupakan acara ’Duduk Santai bersama Rahbar’ (<em>nesyaysteh samimoneh hauzeh ilmiyeh bo rahbar</em>) para pembesar<span>  </span>dan tokoh-tokoh Hauzah Ilmiyah (Pusat Pembelajaran dan Penelitian Ilmu-Ilmu Agama Islam) <span> </span>dari berbagai penjuru Republik Islam Iran yang diwakili oleh kota Qom, Teheran, Masyhad dan Isfahan bersama Imam Ali Khamanei, pemimpim tertinggi spiritual dan politik Iran. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kami berangkat menuju kota Teheran pada pukul 13:30, setelah melakukan shalat Dzuhur. Pada pukul 17:30 rombongan tiba di tempat pertemuan. Setelah melampaui petugas pemeriksaan, lantas kami memasuki tempat pertemuan. Karena setiba di sana tepat waktu shalat Magrib, setelah kami mengambil air wudhu, akhirnya kamipun mendirikan shalat Maghrib dan Isya’ secara berjamaah. Kemudian kami menunggu kedatangan Imam Ali Khamanei (Rahbar) dengan tidak sabar dan perasaan dag-dig-dug yang menguasai hati kami. Tepat pada pukul 18:00 malam beliau tiba di tempat pertemuan. Sewaktu beliau datang, secara spontan kami berdiri dan mengucapkan shalawat kepada Rasul dan keluarganya serta yel-yel berbahasa Persia <em>“Allohuma shalli ala Muhammad buye Khomaeni omad</em>” (Solawat atas Muhammad, semerbak wewangian Khomaeni telah tiba) untuk menyambut kedatangannya. Ini merupakan kebiasaan orang Iran ketika menyambut kedatangan orang besar semacam itu, dengan mengucapkan yel-yel. Kami pun berdiri secara berdesak-desakan ingin melihat beliau dari dekat sambil tidak henti-hentinya meneteskan air mata. Rasa haru dan bahagia memenuhi jiwa kami sewaktu melihat beliau, sehingga air mata tidak berhenti mengalir. Wajah beliau yang bersih dan bercahaya menebarkan senyum kepada kami serta mengucapkan selamat datang dengan melambaikan tangan kirinya. Perlu diketahui bahwa tangan kanan beliau tidak bisa berfungsi dengan baik, akibat terkena ledakan bom para teroris sewaktu beliau menyampaikan khutbah Jumat pada masa beliau masih menjabat sebagai presiden Iran. Tatapan penuh kharisma beliau menyejukkan jiwa kami, sehingga rasanya kami tidak ingin melepaskan pandangan kami darinya. Sewaktu memandang beliau kami teringat bunyi sebuah hadis Rasulullah yang berbunyi: “Memandang wajah ulama adalah ibadah”. Tentunya ulama yang dimaksud di situ adalah ulama yang ketika memandangnya akan dapat mengingatkan kita kepada Allah SWT. Dan terbukti, dengan memandang beliau mengingatkan kami pada Allah SWT.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kemudian pembawa acara memulai acara tersebut. Acara berlangsung selama 4 jam yang dimulai dari pukul 18:00-22:00, waktu Iran. Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an dan berlangsung dengan baik dan santai, terlebih karena pembawa acaranya sangat piawai dalam membawakan acara yang kadang diisi gurauan, disela-sela acara tersebut. Acara duduk santai dengan Imam Ali Khamaneipun dimulai. Adapun susunan acaranya ialah pertama merupakan laporan para wakil dari berbagai bidang ilmu agama seperti dibidang Fikih, Filsafat, Teologi, Psikilogi Islam, Tafsir al-Qur’an, Ekonomi Islam, Teologi, Irfan (mistik) Teoritis, dan termasuk kondisi Hauzah Ilmiyah Perempuan seluruh Iran, kepala sekolah Hauzah Ilmiyah, tabligh dan kondisi pensosialisasian Al-Qur’an di Iran beserta hapalan Al-Qur’an, dan laporan salah seorang pelajar asing yang berasal dari Argentina yang ia mewakili pelajar asing dari 90 negara. Oleh karenanya, ia meminta waktu kepada pembawa acara lebih dari yang lainnya dengan nada gurau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Setiap wakil tersebut diberi maksimal sampai 7 menit untuk menyampaikan laporan tentang kondisi masing-masing bidang, baik problem-problem yang dihadapi mereka maupun usulan jalan penyelesaiannya kepada Imam Ali Khamanei. Namun mayoritas berbicara sampai 10 menit, sampai-sampai pembawa acaranya dengan nada bercanda berkata: “Barangsiapa yang berbicara sesuai dengan waktu yang telah disediakan maka akan diberi hadiah”. Kami semua tertawa sewaktu mendengar gurauannya. Ternyata hanya seorang saja yang berbicara sesuai dengan waktu yang disediakan. Imam Ali Khamanei mendengar dengan seksama semua laporan, keluhan dan usulan para wakil tersebut. Tak lupa, beliaupun menulis sendiri poin-poin penting yang disampaikan oleh para pembicara. Kurang lebih selama 3 jam para wakil tersebut menghabiskan waktu untuk memberikan laporan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Setelah pukul 21:00, laporan dari para wakilpun selesai. Kini giliran Imam Ali Khamanei yang menanggapi dan memberikan usulan serta solusi atas laporan-laporan tersebut. Satu jam lamanya beliau berbicara. Di kesempatan itu, selain menanggapi, memberikan usulan, serta memberikan solusi, beliau pun menyampaikan beberapa point penting yang kami kira dapat kita jalankan dalam kehidupan kita semua dalam mencapai kesuksesan dan kemajuan baik dalam kawasan kehidupan personal, keluarga, sosial bahkan negara sekalipun. Sayang sekali, dikarenakan alasan keamanan, kami tidak diperkenankan membawa rekaman, bahkan kami tidak membawa balpoin dan kertas sekalipun. Oleh karenanya kami harus dengan serius menyimak pembicaraan beliau dan menyimpannya di dalam otak. Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan poin-poin garis besar pembicaraan beliau:</span> <strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>1- Pentingnya ‘Berpikiran ke Depan’ (<em>oyandeh      negari</em>)</span></strong><span>. Beliau menyatakan; “Kenapa negara Iran      bersikeras untuk memiliki reaktor nuklir? Karena Iran mengetahui, minyak      bumi di alam ini tidak akan lama lagi akan habis, selain hak segenap      bangsa untuk memilikinya untuk tujuan damai.. Jika negara tidak memikirkan      energi pengganti minyak bumi maka sewaktu masa sulit tersebut tiba niscaya      akan kelabakan. Oleh karena itu, sebelum masa itu tiba, <span> </span>para<span>       </span>pejabat Iran bertanggungjawab untuk memikirkan pengganti minyak      bumi demi keberlangsungan kehidupan generasi yang akan datang”, lanjutnya      menegaskan. Kemudian beliau mengaitkan masalah hal ini dengan perkara Hauzah      Ilmiyah Islam Iran, dimana Hauzah Ilmiyah (Pusat Pembelajaran dan      Penelitian Ilmu-Ilmu Agama Islam) pun harus berpikiran ke depan serta      memikirkan masa depan Hauzah Ilmiyah. “Andaikan Hauzah Ilmiyah tidak      memikirkan masa depan serta kebutuhannya pada masa yang akan datang      tunggulah kehancurannya. Oleh sebab itu, menerowong masa yang akan datang      dan mencoba untuk melihat kebutuhan yang diperlukan pada masa itu, akan      mendorong manusia untuk lebih maju dan bekerja keras”, tandasnya.</span><strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>2- ‘Me-manage perubahan’ (<em>mudiriyate tahawul</em>)</span></strong><span>. Beliau      dalam masalah ini menjelaskan; “Perubahan merupakan perkara yang tidak      dapat dihindari dalam kehidupan manusia. Ia merupakan hal yang pasti,      hanya saja bagaimana kita me-manage perubahan tersebut. Karena terdapat      perubahan yang<span>  </span>benar yang tidak      benar. Dengan segala ragam perubahan yang ada pada kehidupan manusia, baik      itu perubahan pada waktu, gaya hidup, kebutuhan, dan lain sebagainya.      Andaikan seseorang tidak mengikuti perubahan zaman yang ada maka ia tidak      terlepas dari dua kemungkinan berikut ini; Akan segera binasa, atau tetap bertahan      hidup namun akan tersingkir dari lingkungannya. Dengan bergulirnya      zamannya segala sesuatu akan mengalami pasang surut. Pada masa lalu, puncak      kejayaan Hauzah ilmiah berada di kota Hill (salah satu kota di Irak, red)      dengan keberadaan para ulama terkenalnya seperti Allamah Hilli. Para ulama      dari berbagai bidang dan mazhab datang untuk saling mengadakan tukar-menukar      keilmuan dan berdiskusi ilmiah sehingga ilmu-ilmu Islam di sana berkembang      dengan pesat. Tetapi sekarang, Hauzah ilmiah tersebut hanyalah tinggal      nama. Setelah itu pusat Hauzah ilmiah pindah ke kota Najaf (juga berada di      Irak, red). Berbagai ilmu-ilmu agama ditimba di sana dan para pelajar dari      berbagai penjuru dunia datang untuk menuntut dan memperdalami ilmu-ilmu      Islam. Berbagai bidang ilmu keislaman berkembang pesat di Hauzah ilmiah      tersebut. Dan telah banyak melahirkan ulama-ulama kelas papan atas dan      berbobot dari berbagai disiplin ilmu. Namun sekarang hauzah tersebut,      walaupun masih tetap eksis, Hauzah Najaf tidak seperti kejayaannya pada      masa lalu”. Lantas beliau melanjutkan; “Hauzah ilmiah Qom pun akan      mengalami seperti itu apabila tidak mengikuti perubahan dan tuntutan zaman.      Hauzah ilmiah Qom sekarang sebagai pusat Hauzah ilmiah dan mengalami      kejayaan, para pelajar datang dari berbagai penjuru dunia untuk menimba      ilmu keislaman di kota suci ini. Berbagai bidang ilmu, seperti Filsafat,      Teologi, Fikih, Sejarah Islam, Tafsir al-Qur’an, Psikologi Islam, Irfan      Teoritis dan lain sebagainya mengalami perkembangan pesat di Hauzah ilmiah      Qom”. Beliau menandaskan; “Namun apabila Hauzah ilmiah tidak mengikuti      perkembangan dan tuntutan zaman maka tunggulah masa keruntuhannya.. Oleh      karena itu, Hauzah ilmiah hendaknya me-manage perubahan tersebut, sehingga      ia tidak akan sirna ditelan masa atau tersingkir. Karena perubahan      merupakan hal yang pasti dan tidak dapat dihindari tinggal bagaimana kita      me-managenya, menjadi perubahan yang benar”.</span><strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>3- Planing yang tepat (<em>barnmehrizi shahih</em>)</span></strong><span>. Beliau      menegaskan bahwa; “Adanya keharusan untuk kembali menelaah program-program      yang terdapat dalam Hauzah ilmiah. Termasuk dalam hal-hal yang berkaitan      dengan bidang mata pelajaran, ijazah, buku pegangan dan hal lainnya yang      berhubungan dengan Hauzah ilmiah. Apakah program-program tersebut masih      sesuai untuk zaman sekarang atau tidak”. Sebagai contoh, beliau      mengusulkan agar kitab-kitab pegangan dalam bidang fikih seperti kitab <em>al-Makasaib      al-Muharramat</em> (plural dari kata <em>kasbun, </em>yang artinya ialah      berbagai jual-beli yang dilarang, red) karya Syeikh Murtadha al-Anshari dirubah      metode penulisan kitab tersebut agar lebih mudah dipahami lagi oleh para      pelajar agama, (cara penyampaian dalam kitab al-Makasib agak ruwet dan      perlu konsentrasi lebih dalam mempelajarinya, dan terkadang kita tidak      mengetahui pendapat Syeikh Anshari sendiri bagaimana? Karena beliau memang      sedang mengajarkan bagaimana cara berijtihad dan melatih insting ijtihad      seorang pelajar, sebagaimana metode yang terdapat dalam kitab <em>Al-Mughni      </em>(dalam ilmu Nahwu karya Ibnu Hisyam, red). “Karena yang terpenting      bagi para pelajar ialah memahami isi kitab tersebut”, tegasnya. Dan ini      semua memerlukan planing yang tepat.<span></span><span></span></span> <strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>4- Kebebesan Berpikir (<em>ozod andisy</em>)</span></strong><span>. Beliau      mengisyaratkan bahwa; “Kebebasan berpikir dan berpendapat haruslah tetap      terjaga dan membudaya di kalangan Hauzah Ilmiah. Karena itu merupakan ciri      khas Hauzah Ilmiah mazhab Syi’ah yang memberikan kebebasan berpikir dan      berpendapat, kepada murid dan guru, selama masih tetap berada pada koridor      adab Islam. Sebab dengan kebebasan berpikirlah ilmu akan semakin      berkembang sehingga menelorkan pemikiran-pemikiran cemerlang baru”. Beliau      mencontohkan sosok Imam Khomaeni (pemimpin revolusi Iran, red); “Pada masa      beliau, pelajaran filsafat belum dapat diterima secara meluas di kalangan Hauzah      Ilmiah, khususnya di Hauzah Ilmiah kota Masyhad. Sementara Imam Khomaeni      belajar dan bahkan menguasai filsafat transtendental (<em>al-Hikmah al-Muta’aliyah      al-Ilahiyah</em>) Mulla Sadra. Bahkan dapat dikatakan bahwa Imam Khomaeni      sebagai perwujudan filsafat transendental Mulla Sadra itu sendiri.      Beberapa ulama besar dalam hal ini tidak sependapat dengan beliau. Namun      dalam hal lain, para ulama tersebut, ketika revolusi menang dan tentang konsep      negara Islam mereka sangat mendukung Imam Khomaeni. Bolehlah berbeda      pendapat dan pemikiran dengan memiliki argumen-argumen yang benar dan      tidak keluar dari pondasi-pondasi dasar Islam, namun dalam hal lain harus tetap      bersatu. Karena kebesan berpikir dan berpendapat akan menjadi sarana untuk      menghasilkan ide-ide yang gemilang dan bahkan cabang-cabang ilmu baru”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span>Setelah acara selesai, kami menyantap makan malam bersama beliau. Walaupun untuk kedua kalinya saya ikut pertemuan dengan Imam Ali Khamanei, namun karena pada pertemuan pertama, disebabkan saya baru belajar bahasa Persia sehingga tidak dapat menikmati dan memahami pembicaraan dan wejangan-wejangan beliau dengan sempurna. Selain itu, pada pertemuan pertama, secara kuantitas jumlah pengunjung<span>  </span>sangat banyak dan berdesakan sehingga tidak dapat melihat beliau dari jarak dekat. Pertemuan kedua ini sangat menyenangkan, berkesan dan meninggalkan kenangan manis dalam hidup saya. Karena sewaktu saya mendapatkan undangan untuk pertemuan, awalnya sekolah tidak mengizinkan saya untuk pergi dengan alasan bahaya bagi ibu hamil muda yang pernah mengalami keguguran. Saat itu, saya langsung pergi ke dokter spesialis tempat tiap bulan saya mengecek kehamilan saya dan menanyakan hal ini. Alhamdulillah, beliaupun mengizinkan dan bahkan mengatakan bahwa; “Ini merupakan perjalanan dan pertemuan yang penuh berkah yang tidak semua orang bisa mendapatkannya”. Sayapun meminta pertolongan kepada Allah SWT dengan beristikharah kepada-Nya dengan memakai Al-Qur’an, apakah perjalanan ini baik atau tidak bagi saya? Ternyata ayat Al-Qur’anpun mengizinkan saya untuk itu. Ayat yang keluar ialah ayat yang sangat bagus dan berbunyi: “</span><em><span>Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan dia adalah Maha Penyanyang diantara para penyanyang.</span></em><span>” (QS Yusuf:64) Akhirnya sekolah memberikan ijin kepada saya dengan syarat membawa surat keterangan izin dari suami agar jika terjadi hal yang tidak diinginkan pihak kampus \tidak bersedia untuk dituntut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span>Pertemuan kedua ini, adalah pertemuan yang sangat penuh berkah dan sangat memuaskan, selain pengunjungnya tidak terlalu banyak sehingga kami bisa melihat Imam Ali Khamanei dengan jelas dan sayapun dapat memahami semua wejangan-wejangan beliau yang senantiasa bagaikan pelita yang akan menerangi kehidupan kami. Setelah acara tuntas kamipun kembali menuju kota suci Qom. Kami tiba di kota Qom pada pukul 1:00 dinihari. Sesampai di rumah, saya disambut oleh suami dan puteri saya yang belum tidur karena khawatir dengan kondisi saya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Ya Allah, jagalah senantiasa Imam Ali Khamenei, panjangkanlah umurnya dan berkatilah hidupnya”. Amiin</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>ED</span></strong><span>/ Islamfeminis</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/224/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/224/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/224/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=224&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/12/08/duduk-santai-bersama-%e2%80%98imam-ali-khamanei%e2%80%99-pemimpin-spiritual-dan-politik-republik-islam-iran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/khamenei.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">khamenei.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/imam-ali-khamenei.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">imam-ali-khamenei.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Makna Esoteris Haji</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/11/20/makna-esoteris-haji/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/11/20/makna-esoteris-haji/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Nov 2007 12:33:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/11/20/makna-esoteris-haji/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam banyak hadis disebutkan, al-Quran memiliki makna zahir dan batin. Sehingga dari situ dapat dipastikan bahwa semua ayat-ayat yang tercantum di dalamnya pun terkandung muatan zahir dan batin pula. Lantaran hukum haji juga tertera dalam beberapa ayat-ayat al-Quran, oleh karenanya, dapat diambil konklusi bahwa sebagaimana haji memiliki tata cara zahir yang jelas -seperti yang telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=222&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/kabah.jpg" title="kabah.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/kabah.jpg?w=500" alt="kabah.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dalam banyak hadis disebutkan, al-Quran memiliki makna zahir dan batin. Sehingga dari situ dapat dipastikan bahwa semua ayat-ayat yang tercantum di dalamnya pun terkandung muatan zahir dan batin pula. Lantaran hukum haji juga tertera dalam beberapa ayat-ayat al-Quran, oleh karenanya, dapat diambil konklusi bahwa sebagaimana haji memiliki tata cara zahir yang jelas -seperti yang telah diajarkan oleh Rasulullah saww- haji pun memiliki pemaknaan batin yang sangat berpengaruh pada kesempurnaan batin manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span> </span></strong><span id="more-222"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;">Makna Esoteris Haji</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span>Oleh: Euis Daryati</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Haji bukan hanya bentuk ibadah ritual keagamaan belaka, namun ia pun memiliki muatan politis yang harus dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh pelaksananya. Konsep bara’ah min al-Musyrikin (berlepas tangan dari kaum musyrik) yang ditekankan dalam al-Quran merupakan bukti akan ungkapan di atas. Oleh karena itu, imam Khomeini ra menyatakan bahwa haji adalah peribadatan yang bernuansa politik. Sebagaimana dalam hukum Islam, haji tanpa bara’ah dihukumi buntung dan tidak sempurna, maka benar jika dinyatakan bahwa ia adalah ritus peribadatan bernuansa politik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Haji merupakan salah satu bentuk peribadatan terpenting dalam Islam. Secara tekstual, begitu banyak riwayat (hadis) yang menjelaskan tentang keutamaan haji, baik yang berasal dari kitab-kitab standar kalangan Ahlusunah maupun Syiah. Di sisi lain, terdapat banyak juga riwayat-riwayat yang berkenaan dengan ancaman bagi pribadi yang telah mampu melaksanakannya namun ia tidak melakukannya, dan meremehkan pelaksanaan ibadah haji.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dalam banyak hadis disebutkan, al-Quran memiliki makna zahir dan batin. Sehingga dari situ dapat dipastikan bahwa semua ayat-ayat yang tercantum di dalamnya pun terkandung muatan zahir dan batin pula. Lantaran hukum haji juga tertera dalam beberapa ayat-ayat al-Quran, oleh karenanya, dapat diambil konklusi bahwa sebagaimana haji memiliki tata cara zahir yang jelas -seperti yang telah diajarkan oleh Rasulullah saww- haji pun memiliki pemaknaan batin yang sangat berpengaruh pada kesempurnaan batin manusia. Alhasil, ibadah haji bukan hanya sekedar melibatkan jasad zahir dan lahiriah manusia belaka, namun ia juga melibatkan batin manusia. Sehingga dari situ kesempurnaan zahir dan batin manusia seusai melaksanakan ibadah haji akan terwujud dengan sempurna. Ini jika ditinjau dari sisi ritual keagamaannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sedang di sisi lain, haji bukan hanya bentuk ibadah ritual keagamaan belaka, namun ia pun memiliki muatan politis yang harus dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh pelaksananya. Konsep bara’ah min al-Musyrikin (berlepas tangan dari kaum musyrik) yang ditekankan dalam al-Quran merupakan bukti akan ungkapan di atas. Oleh karena itu, imam Khomeyni ra menyatakan bahwa haji adalah peribadatan yang bernuansa politik. Sebagaimana dalam hukum Islam, haji tanpa bara’ah dihukumi buntung dan tidak sempurna, maka benar jika dinyatakan bahwa ia adalah ritus peribadatan bernuansa politik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Untuk menyingkap lebih jauh tentang makna esoteris (batin) haji, berikut akan dinukil ungkapan irfani al-Imam sayyid as-Sajidin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib as dari kitab Mustadrak al-Wasa’il karya Muhaddits an-Nuri tentang rahasia haji yang dinarasikan secara dialogis. Dalam narasi itu, dituturkan bahwa Imam As-sajjad ketika berwasiat terhadap salah seorang sahabat beliau bernama As-syibli yang baru saja usai melaksanakan ibadah haji, menuturkan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Wahai As-syibli, apakah engkau telah menunaikan ibadah haji?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Ya, kami telah menunaikan ibadah haji, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as): Apakah engkau telah beranjak di Miqat (tempat yang ditentukan untuk memakai baju ihram)? Sudahkah engkau lepaskan pakaian berjahit lalu mengenakan pakaian Ihram? Dan apakah engkau telah mandi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Ya, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah niat-mu ketika beranjak di Miqat adalah untuk melepaskan pakaian dosa, lalu menggantinya dengan pakaian takwa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as): Apakah ketika engkau melepaskan pakaian berjahit, niatmu adalah untuk melepaskan baju riya (ingin pujian manusia), bermuka dua dan segala perbuatan yang menjadi penyebab keraguan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau melaksanakan mandi dan membersihkan badanmu, niatmu adalah untuk bertaubat dari segala salah dan dosa, lalu mensucikan dan membersihkan dirimu dengan cahaya taubat?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Kalau seperti itu, berarti engkau tidak melaksanakan miqat, tidak melepaskan pakaian berjahit dan tidak mandi. Sekarang katakanlah, apakah engkau telah membersihkan dirimu, memakai baju ihram dan berniat untuk melakukan haji?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Ya, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau membersihkan badanmu dan menghilangkan daki dan kotoran dari badanmu, niatmu adalah melalui taubat, engkau pun turut hilangkan segala kotoran (batin) dari dirimu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasululullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah sewaktu engkau berniat untuk pergi ke haji dan mengadakan perjanjian dengan Allah, niatmu adalah untuk membatalkan semua perjanjian dengan selain-Nya, lalu melepaskan diri dari segala ikatan dengan selain-Nya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Kalau seperti itu, berarti engkau belum membersihkan diri, berihram dan belum berjanji untuk berhaji. Sebenarnya apakah engkau telah masuk miqat? Apakah engkau telah melaksanakan salat dua rakaat dan telah mengucapkan talbiyah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Ya, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau masuk ke miqat, niatmu adalah untuk menziarahi-Nya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau melaksanakan salat ihram, niatmu adalah melalui salat tadi –yang masuk kategori ibadah yang paling agung- engkau akan mendekatkan diri kepada-Nya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau mengucapkan talbiyah, niatmu adalah hanya dalam ketaatan-Nya, engkau menggunakan lisan-mu dan tidak menggunakannya dalam kemaksiatan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Kalau begitu engkau belum masuk miqat, belum melaksanakan salat ihram dan belum mengucapkan talbiyah. Apakah engkau telah masuk Haram (pelataran suci)? Apakah engkau telah melihat Ka’bah dan melaksanakan salat?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Ya, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau masuk Haram, niatmu adalah untuk mengharamkan dirimu dari ghibah (mengumpat) dari setiap pribadi muslim?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau sampai di Makkah, engkau mengingat bahwa engkau sedang menghadap-Nya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Kalau begitu engkau belum pergi ke Haram, belum melihat Ka’bah dan belum melaksanakan salat. Apakah engkau telah memutari Ka’bah? Apakah engkau telah mengusap semua sudut (rukun) Ka’bah? Apakah engkau telah melaksanakan sa’i (lari-lari kecil) dari Shafa menuju Marwah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Ya, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau melaksanakan sa’i, niatmu untuk berlari menuju Tuhan dan hidup di bawah naungan dan lindungan keamanan-Nya, dan Dia yang mengetahui rahasia menyaksikan hal ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Kalau begitu engkau belum melaksanakan thawaf, belum menyentuh semua sudut Ka’bah dan belum melaksanakan sa’i. Apakah engkau telah menyentuh dan bersalaman dengan Hajar Aswad? Apakah engkau telah berdiri di Maqam Ibrahim (bekas tapak kaki Ibrahim as) dan melaksanakan salat dua rakaat di tempat tersebut?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Ya, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tiba-tiba Imam Sajjad as berteriak sampai-sampai kita merasa takut dengan teriakannya yang seakan dapat memisahkan ruh dari badan hingga mati. Lalu beliau (As-sajjad) berkata: “Ah, barangsiapa yang bersalaman (menyentuh) dengan Hajar Aswad berarti ia telah bersalaman dengan Allah swt. Wahai manusia lemah, sadarlah, jangan-jangan engkau telah menghancurkan kehormatan perihal yang besar ini. Melakukan dosa dengan tangan yang telah engkau berikan kepada Allah swt, dan melalui penentanganmu terhadap-Nya engkau telah menyia-nyiakan pahala dan balasan-Nya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lantas imam as berkata lagi: “Apakah niatmu ketika mendirikan salat di Maqam Ibrahim adalah supaya engkau seperti Ibrahim, dan melalui salat itu berarti engkau telah memoles hidung Setan dengan tanah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Kalau seperti itu berarti engkau belum bersalaman dengan Hajar Aswad, belum berdiri di Maqam Ibrahim dan belum melaksanakan salat. Apakat engkau telah pergi ke sumur Zam-zam dan meminum airnya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Ya, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah niatmu ketika itu untuk mentaati-Nya, dan tidak akan menentang-Nya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Kalau begitu engkau belum pergi ke sumur Zam-zam, dan belum meminum airnya. Apakah engkau telah ber-sa’i antara Shafa dan Marwah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Ya, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah niatmu ketika ber-sa’i antara Shafa dan Marwah, adalah untuk memendarkan perasaan pada dirimu antara rasa takut dan pengharapan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Kalau seperti itu berarti engkau belum ber-sa’i antara Shafa dan Marwah. Lalu apakah engkau telah pergi ke Mina?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Ya, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah niatmu ketika keluar dari Makkah, lalu pergi menuju Mina, adalah supaya orang-orang aman dari tangan, lisan dan hatimu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Kalau begitu engkau belum keluar dari Makkah, dan belum pergi ke Mina. Apakah engkau telah wuquf (berdiam diri) di Arafah, dan mendaki ke atas Jabal Rahmah? Apakah engkau telah mendatangi Wadi Numrah? Apakah engkau memohon kepada Allah di Mil dan Hamarat?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Ya, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika wukuf di Arafah engkau mengetahui bahwa semua pengetahuan dan makrifah berasal dari-Nya, dan berada di sisi-Nya? Apakah engkau mengetahui bahwa keberadaan ada pada tangan-Nya, dan Dia mengetahui semua yang terdapat pada dirimu, baik yang nampak maupun yang tersembunyi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah niatmu ketika menaiki Jabal Rahmah karena Allah akan memberikan rahmat kepada setiap mukmin lelaki dan perempuan, Dia mencintai setiap muslim lelaki dan perempuan, serta melindungi mereka?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah niatmu ketika di masjid Namrah supaya dirimu mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, serta tidak memerintah dan melarang kepada orang lain?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika berhenti di antara dua “tanda” (‘alam) dan masjid Namrah, engkau ingat bahwa semua itu merupakan saksi atas segala ketaatanmu dan senantiasa menjagamu bersama para penjaga Tuhan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Kalau begitu engkau belum wukuf di Arafah, belum menaiki Jabal Rahmah, belum mengenal masjid Namrah, belum tinggal di Namrah dan belum berdoa. Apakah engkau telah melewati antara dua tanda (alam), dan sebelum melewatinya engkau melaksanakan salat dua rakaat? Apakah engkau telah pergi ke Muzdalifah dan telah mengambil kerikil? Apakah engkau telah pergi ke Masy’aril-Haram?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Ya, wahai putra Rasulullah !?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau melaksanakan salat (pada malam ke sepuluh) niatmu adalah, bahwa salat ini merupakan salat syukur, karena Dia telah menghilangkan kesulitan darimu dan mendatangkan kemudahan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika melewati dua ‘alam dimana engkau berusaha supaya tidak melenceng ke arah kanan dan kiri, niatmu adalah melalui hati, lisan dan badanmu supaya dirimu tidak melenceng dari kebenaran?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau mengambil batu dari Muzdalifah, niatmu adalah menjauhkan segala penentangan dan kebodohan dari dirimu. Lalu, mendatangkan setiap ilmu dan amal perbuatan bagi dirimu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau pergi ke Masy’aril-Haram, niatmu adalah untuk menanamkan pada dirimu rasa sebagaimana orang yang bertakwa dan pribadi yang takut kepada Allah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Kalau begitu engkau belum melewati diantara dua alam, belum mendirikan salat, belum pergi ke Muzdalifah untuk mengumpulkan batu kerikil dan belum pergi ke Masy’aril Haram. Apakah engkau telah pergi ke Mina? Apakah engkau telah melempar jumrah? Apakah engkau telah mencukur rambutmu? Apakah engkau telah berkorban? Apakah engkau telah salat di masjid Khaif, lalu kembali ke Makkah dan melakukan tawaf?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Ya, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau telah sampai di Mina dan telah melempar jumrah, niatmu adalah engkau telah sampai ke tujuanmu dan Allah telah memenuhi semua hajatmu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau melempar jumrah, niatmu adalah untuk melempari Setan dan mengusirnya dari dirimu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau mencukur rambutmu, niatmu adalah untuk membersihkan dirimu dari segala kotoran dan keburukan, serta melepaskan semua hak-hak orang lain yang ada pada dirimu, seperti ketika engkau baru terlahir dari ibumu dan engkau lepaskan dirimu dari dosa-dosa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau salat di masjid Khaif, niatmu adalah engkau tidak takut dari sesuatupun kecuali takut dari Allah dan dosa-dosamu, serta tidak akan mengharapkan rahmat kecuali dari-Nya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau menyembelih binatang korbanmu, niatmu adalah dengan wara’ (keterjagaan) dan ketakwaan engkau sembelih tenggorokan kerakusan dan ketamakan dirimu, dan untuk menghidupkan sunah Ibrahim yang telah mengorbankan anak dan belahan jiwanya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau kembali ke Makkah dan telah melaksanakan tawaf, niatmu adalah dengan rahmat dan ketaatan kepada-Nya engkau telah kembali serta berpegang erat pada kecintaan-Nya. Dan engkau telah melaksanakan perintah-Nya serta telah dekat kepada-Nya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Kalau seperti itu engkau belum sampai ke Mina, belum melempar jumrah, belum mencukur rambutmu, belum mendirikan salat di masjid Khaif, belum berkorban, belum melaksanakan thawaf dan belum dekat dengan-Nya. Kembalilah engkau, karena engkau belum menunaikan haji.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dengan rasa penuh penyesalan, As-syibli menangisi semua kekurangan yang terdapat pada ibadah hajinya, lantas ia pun berjanji akan berusaha untuk mempelajari dan menghayati seluruh rahasia haji, sehingga ia dapat melakukan haji selanjutnya dengan penuh makrifat dan dapat melaksanakan haji yang sebenarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pungkas kata, sembari bercermin dengan dialog irfani di atas, semoga para calon jamaah haji kita dapat mengaktulisasikan makna batin ibadah haji tadi secara nyata sehingga mampu menunaikannya secara sempurna dan mendapatkan haji mabrur yang diberkahi dan diridhai oleh Allah swt. Amin! [Islam Alternatif]</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/222/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/222/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/222/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=222&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/11/20/makna-esoteris-haji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/kabah.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kabah.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Terima Kasih Sayang, Engkau memang sangat Baik&#8230;!</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/11/17/hargai-orang-lain-niscaya-ia-akan-menghargai-anda/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/11/17/hargai-orang-lain-niscaya-ia-akan-menghargai-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Nov 2007 06:09:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi Keluarga & Pendidikan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/11/17/hargai-orang-lain-niscaya-ia-akan-menghargai-anda/</guid>
		<description><![CDATA[Hal ini pun hendaknya dilakukan dihadapan anak-anaknya sehingga mereka pun dapat belajar dari kedua orangtuanya dalam memberi penghargaan dan penghormatan kepada orang yang berbuat baik dan bekerja keras. Sehingga kita tidak perlu repot-repot mengajarkan memberikan penghargaan kepada orang lain kepada anak-anak kita. Karena mereka telah melihat pelajaran tersebut secara praktis, bukan hanya sekedar anjuran teoritis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=215&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"> <a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/buanga-ku.jpg" title="buanga-ku.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/buanga-ku.thumbnail.jpg?w=500" alt="buanga-ku.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Hal ini pun hendaknya dilakukan dihadapan anak-anaknya sehingga mereka pun dapat belajar dari kedua orangtuanya dalam memberi penghargaan dan penghormatan kepada orang yang berbuat baik dan bekerja keras. Sehingga kita tidak perlu repot-repot mengajarkan memberikan penghargaan kepada orang lain kepada anak-anak kita. Karena mereka telah melihat pelajaran tersebut secara praktis, bukan hanya sekedar anjuran teoritis dan doktrinal belaka.<span>   </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span id="more-215"></span><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Terima Kasih Sayang, Engkau memang sangat Baik&#8230;!<br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Teringat kejadian sewaktu kami pergi mengunjungi rumah paman dan untuk beberapa hari kami tinggal di rumahnya. Kebetulan suami saya adalah orang yang walaupun tanpa diminta, orangnya suka membantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Kala itu, tanpa dimintai bantuan, ia pergi ke dapur membantu saya untuk membuat sambal dan memotong-motong bahan masakan. Tak lama sewaktu menyaksikan pemandangan seperti itu paman saya langsung menegurku sembari berkata: “Euis, bagaimana sih suaminya kok disuruh kerja di dapur. Pekerjaan dapur bukan pekerjaan seorang suami”, ujarnya dengan serius. “Paman, saya tidak menyuruhnya untuk memasak. Dia sendiri yang mau mengerjakannya”, jawabku. Memang di kampung saya selama saya hidup tidak pernah melihat seorang laki-laki -baik itu sudah menikah maupun masih single- membantu ibunya ataupun istrinya dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Bahkan menganggapnya sebagai hal yang aib jika seorang laki-laki mengerjakan pekerjaan rumah, walaupun suami atau lelaki tadi seorang pengangguran. Ia akan akan menuntut kepada istrinya segalanya; makan serba sedia, pakaian serba sedia pakai, rumah sudah bersih, belum lagi keharusan mengurus anak. Ia tidak ingin membantu sedikitpun istrinya dalam mengerjakan pekerjaan rumah, padahal ia kala itu lagi tidak ada kerjaan bahkan pengangguran sekalipun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Salah satu kawan saya memiliki empat orang saudara laki-laki dan dia merupakan anak perempuan pertama. Sejak pagi hari ia sudah sibuk membersihkan rumah, memasak, mencuci piring, membereskan bekas makan dan mencuci pakaian seluruh keluarganya, tanpa dibantu sedikitpun oleh salah satu saudara lakinya. Padahal mereka selalu memakai pakaian dan celana jins yang sulit untuk dicuci sampai-sampai ia bilang kepadaku: “Aku nanti tidak ingin punya suami yang suka memakai celana jins, capek nyucinya”. Ia akan memulai pekerjaannya setelah melakukan shalat subuh hingga pukul 10-11 siang. Para saudara laki-lakinya santai-santai saja tinggal makan, tidur, memakai pakaian yang sudah siap pakai. Budaya kampung saya tidak membiasakan para anak laki-laki untuk melakukan pekerjaan rumah, katanya itu merupakan kawasan domestik perempuan. Bahkan sebagian para suami berkata: “Buat apa punya istri kalau kita harus mengerjakan pekerjaan rumah. Punya istri fungsinya biar kita tinggal dilayani”, katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Saya kira, budaya kaku tersebut tidak terjadi di semua tempat. Sejak kecil anak-anak perempuan dituntut melaksanakan pekerjaan rumah. Sementara anak-anak lelaki dibiarkan santai dan tidak pernah menyentuh pekerjaan rumah, walau hanya mencuci bajunya sendiri misalnya. Sehingga ketika anak lelaki tersebut telah meninjak usia dewasa dan menjadi seorang suami maka ia akan membawa budaya ‘tinggal dilayani’ di keluarganya, dan menuntut serba sedia kepada istrinya tanpa sedikitpun membantu dan meringankan pekerjaan rumah istrinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Padahal apabila kita merujuk ke ajaran Islam dengan melihat berbagai riwayat dan kehidupan pemimpin Islam seperti Nabi Muhamad SAWW dan para Imam AS, tidaklah terjadi pembagian kerja yang sangat kaku. Meskipun dalam sejarah dikatakan bahwa, Imam Ali AS dan Sayidah Fathimah Zahra AS telah membagi tugas dalam pekerjaan mereka, semua pekerjaan luar rumah dilakukan oleh Imam Ali AS, sementara pekerjaan dalam rumah dilakukan oleh Sayidah Fathimah Zahra AS, namun sesekali waktu dengan melihat kondisi Imam Ali AS tidak segan-segan ikut membantu istri tercintanya Sayidah Fathimah Zahra AS dalam menyelesaikan pekerjaan rumah. Padahal keluarga itu juga memiliki seorang pembantu. Semua itu dilakukan salah satunya adalah untuk menambah kehangatan hidup berkeluarga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Pada suatu hari, Imam Ali AS sedang menumbuik gandum dengan Sayidah Fathimah Zahra AS. Kemudian Rasulullah SAWW datang ke rumah mereka. Menyaksikan pemandangan seperti itu, lantas Rasulullah SAWW bersabda: “Siapakah di antara kalian yang lebih capek?”. Imam Ali AS menjawab: “Fathimah lebih capek dariku wahai Rasulullah!”. Lantas Rasulullah menumbuk gandum menggantikan Sayidah Fathimah Zahra AS. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Oleh karena itu, salah satu cara agar hubungan keluarga dan suami istri semakin harmonis ialah saling membantu dalam menyelesaikan pekerjaan rumah. Pekerjaan rumah, tidak seperti pekerjaan lainnya yang terdapat kata libur dan istirahat. Seorang istri dari sejak pagi hari sampai malam hari mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Pekerjaan rumah mulai dari membersihkan rumah, memasak, memandikan anak-anak, memberi makan anak-anak, melayani suami dan setumpuk pekerjaan rumah lainnya ialah pekerjaan rutinitas yang sedikit banyaknya jika tidak dilakukan karena kecintaan terhadap anak dan suami akan menimbulkan kejenuhan pada jiwa sang istri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Walaupun secara hukum fikih mengerjakan pekerjaan rumah bukanlah merupakan kewajiban seorang istri –lihat, di artikel yang berjudul, “Menjawab Mis-Understanding antara Hak dan Kewajiban-, namun kita mengetahui bahwa hubungan suami-istri dan kehangatan keluarga tidak hanya dapat berpondasikan pada hak-hak dan kewajiban saja. Salah satu anjuran agama agar kehangatan keluarga tetap terjaga ialah dengan menghimbau kepada seorang suami membantu istri dalam mengerjakan pekerjaan rumah, walaupun hanya sekedar memegang anak ketika istri sibuk memasak atau bahkan ikut membantu istri dalam menyediakan hidangan di meja makan. Ikut membantu istri dalam melaksanakan pekerjaan rumah tidak akan menurunkan wibawa seorang suami di hadapan istri atau seorang ayah di hadapan anak-anaknya. Justru istri akan merasakan juga bahwa suaminya sangat mencintainya. Begitu juga anak-anak akan semakin hormat kepadanya, hubungan antara mereka dengan ayahnya akan semakin hangat dan mereka akan merasakan betapa dekat ayahnya dengan mereka yang berakhir pada perasaan betapa ayahnya sangat mencintainya. Terkhusus pada hari libur yang merupakan hari bersama dan hari keluarga. Mengerjakan pekerjaan rumah secara bersama-sama sangatlah menyenangkan dan membuat hubungan keluarga semakin erat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Seorang suami yang baik dan bijak, tidak akan santai dan enak saja sewaktu menyaksikan istrinya sedang sibuk dengan setumpuk pekerjaan, sementara ia duduk santai menontonnya. Ia akan merasakan bahwa kehidupan keluarga merupakan kehidupan milik bersama. Dengan senang hati ia akan membantu meringankan pekerjaan istrinya. Apabila merujuk ajaran Islam, pahala melayani pasangan hidup bukan monopoli seorang istri saja. Seorang suami dapat mendapatkan pahala melayani istrinya. Rasulullah SAWW bersabda: “Barangsiapa yang melayani keluarganya sementara ia tidak mengadunya, hal ini akan menjadi penghapus dosa-dosa besar, peredam kemurkaan Allah SWT, mendapatkan bidadari, penambah kebaikan dan derajatnya.” Dalam hadis lain beliau pun bersabda: “Setiap suami yang membantu istrinya dalam mengerjakan pekerjaan rumah maka akan ditulis pahalanya seperti pahala orang yang syahid di jalan Allah SWT. ” [Biharul-Anwar, jilid 104, halaman 132, dinukil dari buku Raze Esyq –rahasia cinta pasangan suami istri- halaman 17] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Selain dianjurkan agar saling membantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah, terdapat hal lain yang kelihatannya sepele namun jika kita amalkan akan memberikan warna lain terhadap kehidupan suami istri. Yaitu berupa ungkapan-ungkapan manis seorang istri terhadap suaminya, ataupun sebaliknya, seorang suami terhadap istrinya. Kenapa ketika kita masih di awal-awal usia pernikahan sebegitu romantis terhadap pasangan kita. Akan tetapi setelah beberapa tahun dari usia pernikahan, tiada lagi ungkapan kata-kata manis dan sangat berat untuk mengucapkannya pada pasangan hidup kita. Padahal hal itu tidak saja diperlukan pada awal-awal usia pernikahan. Semua itu merupakan sebuah bentuk penghormatan dan penghargaan pada pasangan kita yang akan memompa semangat dan menyegarkan jiwanya, untuk kelanggengan keharmonisan rumah tangga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Tidak ada salahnya ketika seorang istri menyambut suaminya yang baru pulang dari tempat kerja. Ucapkan kepadanya: “Selamat<span>  </span>datang sayang (papa/abah), semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan dan kesehatan kepadamu!”. Bahkan tidak hanya terbatas ketika seorang suami kembali dari tempat kerja yang jelas-jelas pasti merasa lelah. Bahkan sewaktu seorang suami setelah selesai mengerjakan sebuah pekerjaan apapun termasuk ketika selesai membantu pekerjaan rumah, ucapkanlah terima kasih kepadanya, sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas pekerjaannya; “Terima kasih papa/abah, papa ini memang baik banget! Mama akan selalu mendoakan papa semoga Allah SWT selalu melindungi papa!”. Ungkapan kata terima kasih, walaupun itu nampak merupakan hal yang ringan tetapi akan memberikan efek positif yang besar dalam jiwa manusia. Karena sekecil dan seremeh apapun suatu pekerjaan jika dihargai maka akan memberi pengaruh kepada pelaku pekerjaan tersebut. Cinta untuk dihargai dan dihornati merupakan fitrah dan ciri alamiah manusia. Setiap manusia akan merasa senang apabila kerja kerasnya dihargai dan dihormati oleh orang lain. Ungkapan terimakasih kepada pelaku pekerjaan baik menniscayakan terimakasih pula kepada Sang Pencipta. Bukankah dalam sebuah hadis pernah dikatakan “Barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada makhluk (pelaku pekerjaan .red) berarti ia tidak berterima kasih kepada Khalik (Tuhan)”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Begitupula seorang suami terhadap istri. Janganlah dikira pekerjaan rumah merupakan pekerjaan rutin seorang istri yang tidak perlu untuk dihargai. Walaupun kami yakin bahwa para istri mengerjakan pekerjaan rumah bukan untuk dipuji atau dihargai orang lain. Akan tetapi ia lakukan karena kecintaan terhadap Allah SWT dan keluarga. Namun tidak ada salahnya seorang suami berusaha untuk menghargai kerja kerasnya, sehingga ia tambah bersemangat dalam melaksanakannya. Janganlah segan-segan ketika istri selesai mengerjakan pekerjaan rumah tangga katakan padanya: “Terima kasih sayang (mama/umi), semoga Allah SWT senantiasa memberikan berkah dan kekuatan pada mama.” Tentunya hal ini bukan dilakukan dengan dibuat-buat, akan tetapi benar-benar keluar dari hati sanubari. Hal ini pun hendaknya dilakukan dihadapan anak-anaknya sehingga mereka pun dapat belajar dari kedua orangtuanya dalam memberi penghargaan dan penghormatan kepada orang yang berbuat baik dan bekerja keras. Sehingga kita tidak perlu repot-repot mengajarkan memberikan penghargaan kepada orang lain kepada anak-anak kita. Karena mereka telah melihat pelajaran tersebut secara praktis, bukan hanya sekedar anjuran teoritis dan doktrinal belaka. <span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Jika kita menginginkan keluarga kita menjadi keluarga yang tenang (<em>sakinah</em>) dan penuh kasih sayang (<em>mawaddah wa rahmah</em>) sebagaimana yang diidamkan semua keluarga, tidak ada salahnya kita mencoba menjalankan pesan-pesan agama ini dalam kehidupan berkeluarga. InsyaAllah keluarga kita semua menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[<strong>ED</strong> / Islam Feminis]</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/215/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/215/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/215/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=215&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/11/17/hargai-orang-lain-niscaya-ia-akan-menghargai-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/buanga-ku.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">buanga-ku.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat, Hari ini Hari-mu wahai Putri-ku!</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/11/12/selamat-hari-ini-hari-mu-wahai-putri-ku/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/11/12/selamat-hari-ini-hari-mu-wahai-putri-ku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Nov 2007 04:54:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/11/12/selamat-hari-ini-hari-mu-wahai-putri-ku/</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin di beberapa kawasan, masih terdapat budaya salah, yaitu memiliki anak perempuan tidak sebahagia ketika memiliki anak laki-laki. Hal ini, masih terjadi di beberapa negara Timur-Tengah. Walaupun budaya tersebut akarnya kembali ke budaya Arab Jahiliyah yang menomorduakan anak perempuan, bukan dari Islam. Dan tidak semua budaya yang berada di negara-negara Arab mesti berasal dari Islam. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=213&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/888420_daffodils.jpg" title="888420_daffodils.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/888420_daffodils.thumbnail.jpg?w=500" alt="888420_daffodils.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Mungkin di beberapa kawasan, masih terdapat budaya salah, yaitu memiliki anak perempuan tidak sebahagia ketika memiliki anak laki-laki. Hal ini, masih terjadi di beberapa negara Timur-Tengah. Walaupun budaya tersebut akarnya kembali ke budaya Arab Jahiliyah yang menomorduakan anak perempuan, bukan dari Islam. Dan tidak semua budaya yang berada di negara-negara Arab mesti berasal dari Islam. Oleh karenanya, Arab tidak selalu identik dengan Islam. Islam datang dan telah berupaya mengikis budaya salah tersebut dengan menganugerahkan manusia terkasih-Nya (Muhammad Rasulullah SAWW) seorang puteri, Fathimah az-Zahra AS. </span><span style="font-family:Verdana;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;"> </span><span id="more-213"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Verdana;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Verdana;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Verdana;">Selamat, Hari ini Hari-mu wahai Putri-ku!</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Verdana;"></span></strong><span>Kemarin, sewaktu putri kami baru pulang dari sekolah, tiba-tiba ia berkata kepada kami: “Mama, abah, mana hadiah untukku? Esok hari khan ialah hari para putri. Kata ibu guru, besok kami (di sekolah putri kami khusus anak perempuan saja, karena di Iran dari jejang pendidikan SD sampai SMA murid laki-laki dan perempuan dipisahkan) boleh mengenakan baju bagus karena di sekolah akan diselenggarakan perayaan ‘Hari Anak Perempuan’ ”, ujarnya sembari tersenyum. Kami malah lupa jika besok merupakan salah satu hari besar dan penuh berkah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Hari ini, tepatnya tanggal 1 Dzulkaidah HQ merupakan hari lahirnya perempuan suci nan mulia. Beliau adalah Sayidah Fathimah Maksumah AS, putri termulia dan teragung Imam Musa Kadzim AS dan saudari Imam Ridho AS (Imam ke-8). Beliau wafat pada usia muda dan belum menikah. Oleh karena itu, di Iran, hari kelahir beliau dijadikan sebagai ‘Hari Anak Perempuan’.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dalam sebuah hadis Rasulullah SAWW bersabda bahwa anak perempuan merupakan kebaikan (<em>hasanah</em>) dan rahmat, sedang anak laki adalah nikmat. Allah SWT akan mempertanyakan nikmat yang Ia berikan, sedang rahmat-Nya adalah tambahan dari anugerah kebaikan dari-Nya. Mungkin di beberapa kawasan, masih terdapat budaya salah, yaitu memiliki anak perempuan tidak sebahagia ketika memiliki anak laki-laki. Hal ini, masih terjadi di beberapa negara Timur-Tengah. Walaupun budaya tersebut akarnya kembali ke budaya Arab Jahiliyah yang menomorduakan anak perempuan, bukan dari Islam. Dan tidak semua budaya yang berada di negara-negara Arab mesti berasal dari Islam. Oleh karenanya, Arab tidak selalu identik dengan Islam. Islam datang dan telah berupaya mengikis budaya salah tersebut dengan menganugerahkan manusia terkasih-Nya (Muhammad Rasulullah SAWW) seorang puteri, Fathimah az-Zahra AS. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dalam Islam, seorang anak apapun jenis kelaminnya tidaklah ada bedanya, keduanya merupakan amanah Allah SWT yang harus dijaga dan dikembalikan amanah tersebut kepada pemiliknya dengan selamat. Yang terpenting ialah bagaimana mendidik dan membesarkan anak tersebut sehingga ia akan menjadi manusia yang berguna bagi agama, bangsa dan negaranya. Menjadikannya sebagai anak yang soleh yang merupakan hiasan dan cahaya mata bagi kedua orang tua. Anak yang soleh merupakan simpanan berharga bagi orang kelak di hari setelah kematian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Anak laki-laki, sebagaimana anak perempuan, apabila tidak dibesarkan dan dididik dengan benar maka sewaktu ia telah besar akan menjadi fitnah dan bencana bagi kedua orang tua. Oleh karena itu, bekerja keraslah kita dalam mendidik dan membesarkan anak-anak kita dengan nilai-nilai yang mulia dan moral, sehingga sewaktu besar ia akan menjadi kebanggaan dan cahaya mata kita di dunia dan akhirat. Amiin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>NB: Bagi yang ingin mengenal kehidupan Sayidah Fathimah Maksumah AS, silahkan lihat kembali tulisan kami di rubrik profil yang berjudul, ‘Biografi Singkat Sayidah Fathimah Maksumah’.<span>  </span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/213/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/213/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/213/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=213&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/11/12/selamat-hari-ini-hari-mu-wahai-putri-ku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/888420_daffodils.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">888420_daffodils.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hijab dalam Pandangan Irfan (Tasawuf)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/10/19/hijab-dalam-pandangan-irfan-tasawuf/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/10/19/hijab-dalam-pandangan-irfan-tasawuf/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Oct 2007 12:17:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/10/19/hijab-dalam-pandangan-irfan-tasawuf/</guid>
		<description><![CDATA[Semakin kuat seorang perempuan menjaga cintanya kepada Allah maka ia akan semakin berhati-hati menjaga hijab dirinya dari segala sesuatu yang dapat meruntuhkan nilai iffah (penjagaan) dan kehormatan dirinya di hadapan Allah. Ia akan menyadari bahwa hijab adalah salah satu penggalan cintanya kepada Allah dan merupakan jalan untuk meraih cinta Allah. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- Hijab dalam Pandangan Irfan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=210&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/10/aktifis-muslimah.jpg" title="aktifis-muslimah.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/10/aktifis-muslimah.thumbnail.jpg?w=500" alt="aktifis-muslimah.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Semakin kuat seorang perempuan menjaga cintanya kepada Allah maka ia akan semakin berhati-hati menjaga hijab dirinya dari segala sesuatu yang dapat meruntuhkan nilai<em> iffah</em> (penjagaan) dan kehormatan dirinya di hadapan Allah. Ia akan menyadari bahwa hijab adalah salah satu penggalan cintanya kepada Allah dan merupakan jalan untuk meraih cinta Allah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong> </strong><span id="more-210"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;">Hijab dalam Pandangan Irfan (Tasawuf)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">Oleh : Sekha<span>  </span>Alidrus</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Mukaddimah</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Hijab adalah salah satu masalah yang tidak asing dalam kehidupan manusia dan merupakan masalah pokok yang harus diperhatikan manusia selain kebutuhan primer seperti sandang, pangan dan papan. Ketika manusia pertama yaitu Nabi Adam as dan Hawa as diciptakan oleh Allah swt<a href="#_edn1" title="_ednref1" name="_ednref1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span>  </span>badan atau raga keduanya dalam keadaan berhijab atau mengenakan penutup aurat. Ungkapan kesempurnaan penciptaan Nabi Adam as dan Hawa as adalah berbarengan dengan kondisi mereka yang berpakaian/berhijab<span>  </span>atau dengan kata lain hijab/pakaian merupakan nikmat Allah untuk manusia. Dan sebaliknya, ketelanjangan (di depan non muhrim) adalah tipu daya setan dan akan dibalas dengan azab Allah di hari kemudian.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Menyimak kisah hijab di sepanjang sejarah manusia akan mengantarkan kita kepada salah satu poin penting yang layak untuk direnungkan lebih dalam sehingga kita dapat melihat hikmah di balik hukum hijab yang telah Allah tetapkan dan kita mampu menjadi hamba sejati<span>  </span>Tuhan yang Maha Esa, pencipta dan pemilik mutlak manusia serta sekalian alam dan tempat kembali yang abadi bagi manusia bahkan semua makhluk.<a href="#_edn2" title="_ednref2" name="_ednref2"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Setiap muslim hendaknya hendaklah senantiasa mawas diri dan berharap cemas tentang bagaimana akhir kehidupannya kelak. Hendaknya ia selalu menghisab segala sesuatu yang telah dilakukannya berkaitan dengan apa-apa yang telah diperintahkan dan dilarang oleh Allah swt. Hal ini akan berguna dalam upaya memperbaiki prilakunya sehingga prilakunya sesuai dengan apa yang diridhai oleh Allah swt. Dengan demikian, manusia dapat mengurangi kecemasan dan meningkatkan harapannya bahwa ia akan masuk dalam golongan <em>muflihuun</em> (orang-orang yang beruntung).<a href="#_edn3" title="_ednref3" name="_ednref3"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Jika tidak demikian, maka manusia akan merugi.<a href="#_edn4" title="_ednref4" name="_ednref4"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Dalam dunia Islam, irfan adalah sebuah cabang ilmu yang memiliki sejarah cukup panjang. Kandungan irfan pada hakikatnya adalah perjalanan tarbiah Islami yang dilakukan oleh Rasulullah saww dalam membimbing umat Islam menuju Allah swt.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Berbicara tentang hijab dalam pandangan irfan pada dasarnya<span>  </span>membicarakan hijab dalam pandangan Islam karena hijab merupakan salah satu bentuk tarbiah Islam. Tarbiah Islam tanpa dibarengi irfan akan kehilangan esensinya sedangkan irfan tanpa dibarengi istidlal logis dan amal islami akan kehilangan kendali, akan jatuh terperosok dan jauh dari esensi Islam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;">Dalam sejarah, istilah irfan dan tasawwuf mulai muncul pada akhir abad kedua Hijriah. Pada abad ketiga, irfan dan tasawwuf mulai menampakkan wajah barunya.<a href="#_edn5" title="_ednref5" name="_ednref5"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Di sini kita tidak akan membahas kemunculan irfan sebagai cabang ilmu tersendiri secara kronologis dan bagaimana irfan terbagi menjadi irfan teoritis dan irfan praktis tetapi kita akan membahas sisi irfani hijab sebagai salah satu aturan syariat Islam. Namun sebelum memasuki pembahasan, kita terlebih dahulu akan membahas beberapa topik di bawah ini:</p>
<ol>
<li class="MsoNormal">Apakah hijab?</li>
<li class="MsoNormal">Bagaimanakah pensyariatan hijab dalam Islam?</li>
<li class="MsoNormal">Bagaimanakah hijab yang diperintahkan oleh Allah swt      sebagai sebuah taklif syar’i yang wajib ditaati pemeluk agama Islam?</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Hijab</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Pemahaman keirfanan dalam berbagai perihal ajaran agama yang kurang membudaya, atau paling tidak, kurang mendalam dan merata di kalangan sebagian besar umat Islam membuat umat kehilangan ruh ajaran agamanya. Sebagai contoh: shalat. Banyak kaum muslim yang melakukan shalat tanpa memperhatikan muatan maknawi shalat<a href="#_edn6" title="_ednref6" name="_ednref6"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> sehingga shalat mereka mirip dengan unggas yang sedang mematuk biji-bijian yang berserakan di atas sajadah, hampa bahkan melelahkan. Hingga tidak jarang anak-anak berusaha meninggalkan shalat bahkan lebih jauh lagi berlari tunggang langgang menjauhi Islam dan memasuki agama selundupan yang akan menggiringnya ke dalam jurang kesesatan. Atau bisa saja ia lari dari semua agama sehingga ia bisa hidup bebas layaknya binatang dan bisa memenuhi segala hawa nafsunya, menerkam mangsanya di mana saja dan kapan saja demi memenuhi berbagai kebutuhan hewaninya yang bersifat temporal.<a href="#_edn7" title="_ednref7" name="_ednref7"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Shalat adalah salah satu perkara Islam yang karena tidak ditunaikan sesuai dengan keinginan Allah swt, umat Islam tidak dapat meraih berbagai nikmat besar yang ada di dalam shalat dan pada akhirnya hasil akhir dari shalat tidak bisa diraih. Lebih tragis lagi, sebagian kalangan sengaja meninggalkan shalat dan mereka tidak sadar bahwa dengan meninggalkan shalat mereka telah menyiapkan dirinya sebagai bahan bakar api neraka yang apinya tidak hanya menyala di hari kiamat saja tetapi telah menyala dalam kehidupan dunia sedang mereka akan tersulut dalam api tersebut dan terbakarlah segala nilai<span>  </span>kemanusiaannya.<a href="#_edn8" title="_ednref8" name="_ednref8"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Sungguh sayang, shalat yang ditetapkan oleh Islam sebagai salah satu anak tangga peribadatan kepada Sang Maha Sempurna, yang semestinya membuat kita rindu untuk menunaikannya dan kita dirikan dengan penuh rasa suka, tidak meninggalkan kelezatan sukma sedikitpun sehingga kita bisa mengarungi cakrawala makrifat ilahi yang pada akhirnya akan menciptakan semangat dan tekad untuk menjadi anggota umat terbaik, penegak amar ma&#8217;ruf, pencegah kemungkaran dan penyebar rahmat dan penabur benih kedamaian dan keadilan di seluruh dunia.<a href="#_edn9" title="_ednref9" name="_ednref9"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Jika shalat telah dilakukan sesuai dengan keinginan Allah swt, jangankan meninggalkannya, terlambat menunaikannya saja mampu membuat hati menjadi gemetar dan risau. Tubuh dan ruh akan terhuyung-huyung untuk segera merintih atas kelalaian dirinya, hati dan mulutnya akan meraung memanggil-manggil Tuhannya.<a href="#_edn10" title="_ednref10" name="_ednref10"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> &#8220;Wahai Tuhanku!<span>  </span>Wahai Tuhannya Ashabul Kahfi! Wahai Tuhannya Ashabul-Kisa&#8217; <em>Fathimatuzzahra wa abiha wa ba&#8217;liha wa siril mustaudaufiha alahimissalam</em>. Hamba-Mu<span>  </span>yang hina, rendah, miskin, bodoh dan pembangkang ini, selalu lalai dan tertipu oleh fenomena rapuh selain-Mu. Tetapi kerinduanku akan diri-Mu yang memiliki segala kesempurnaan menjadikan diri ini selalu<span>  </span>terkesima dan gembira menjalani dan menekuni titah dan perintah-Mu. Tetapi saat itu juga kemampuan dan kesadaranku lumpuh. Aku hanya tertegun dan batinku hanya mampu menyebutkan beberapa nama dari nama-nama agung-Mu. <em>Ya qudduus, ya dzal-jalaali wal-ikraam, ya muqalibal-quluub wal abshaar, tsabbit qalbį alaa diįnik wa tho&#8217;atik.<span>  </span>Allahu Akbar</em>&#8230;&#8221;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Demikianlah contoh kondisi jiwa seorang muslim yang terpaut pada makna spiritual sholat. Jiwa yang dipenuhi makrifat tentang titah dan perintah Tuhannya akan memiliki ruh semacam itu. Kondisi yang sama juga akan dirasakan berkaitan dengan perintah agama lainnya, misalnya saja hijab. Kondisi jiwa yang memiliki kepekaan spritual atau makrifat hakiki tentang Tuhan, tugas dan akibat dari segala prilaku disebut dengan kondisi irfani jiwa manusia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Perlu diperhatikan bahwa setiap elemen ajaran Islam yang ada dalam tiga cabang besar akidah, akhlak dan fiqih harus memuat nilai-nilai irfan agar dapat dicapai nilai tertinggi dalam tataran prakteknya. Artinya, setiap muslim harus mengenal dan paham tentang kedalaman muatan maknawi serta bekas-bekas yang terbias di dalam setiap ajaran Islam yang di dalam irfan disebut dengan mukasyafah, musyahadah dan pengindraan batin. Seorang muslim semestinya mampu mencapai kedudukan sebagai seorang arif yang melaksanakan ibadahnya atas dasar cinta dan pesona Sang Jalal wa Jamal, ilahi rabbil ‘alamiin. Kalau seorang muslim tidak mampu mencapai kedudukan tersebut maka prilakunya akan sesuai dengan kondisi jiwa yang dimilikinya ketika melaksanakan ajaran Islam. Oleh karena itu, kita dapat melihat posisi kita di sisi Allah swt melalui kondisi jiwa kita sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Setiap ajaran Islam seperti perintah mendirikan sholat dan puasa, membayar zakat dan khumus, menunaikan ibadah haji, berhijab, jihad fi sabillillah, mempertahankan agama, harta dan kehormatan, amar ma&#8217;ruf dan nahyi mungkar, tawalli dan tabarri, menuntut ilmu agama tak ubahnya seperti anak-anak tangga yang jika dinaiki satu persatu dengan tepat akan menghantarkan seseorang pada peringkat spritual berikutnya yang lebih tinggi hingga mencapai puncak ketinggian maknawi yaitu berada di sisi Allah swt yang memiliki segala kesempurnaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Sebagian manusia, seperti para Makshumin as, mendapatkan ketinggian maknawi ini sebagai amugrah langsung dari Allah swt. Anugrah ini memang layak dimiliki oleh beliau-beliau, mengingat tugas berat dan suci yang berada di pundak mereka. Sedangkan manusia lainnya harus mengikuti jejak mereka sehingga dapat dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mentaati perintah Allah swt. Manusia juga harus mengenal hakikat dirinya karena dengan mengenal dirinya ia akan mengenal Tuhannya. Dari sinilah ia dapat memulai kehidupan irfaninya sampai ia dapat masuk dalam kelompok urafa dan arif rabbani.<a href="#_edn11" title="_ednref11" name="_ednref11"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Irfan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Kata irfan berasal dari bahasa Arab <span dir="rtl">عِرفان</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> (pengetahuan yang banyak) yang merupakan <em>sifat musyabbahah</em> berwazan fi&#8217;laan<span dir="rtl"></span><span dir="rtl"></span><span dir="rtl"><span dir="rtl"></span><span dir="rtl"></span>(فِعلان</span><span dir="rtl">)</span><span dir="rtl"> </span><a href="#_edn12" title="_ednref12" name="_ednref12"><span class="MsoEndnoteReference"><span dir="rtl"><span dir="ltr"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> dan memiliki arti yang sama dengan kata ilmu <span dir="rtl"></span><span dir="rtl"></span><span dir="rtl"><span dir="rtl"></span><span dir="rtl"></span>(العلم)</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span>.<a href="#_edn13" title="_ednref13" name="_ednref13"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Lafaz <span dir="rtl">عرف</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span> memiliki 27 buah mustaqat (turunan kata) dan telah disebutkan sebanyak 71 kali di dalam al-Qur’an.<a href="#_edn14" title="_ednref14" name="_ednref14"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Sedangkan arif (jamaknya adalah urafaa) adalah isim faa&#8217;il dari kata kerja arafa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Kata irfan sebanding dengan kata mystic dan metodenya disebut dengan mystisism/mistisisme. Kata mystic berasal dari bahasa Yunani yaitu mistikos yang berarti perkara yang tersembunyi sedang dalam istilah berarti hubungan langsung pribadi dengan Tuhan alam semesta melalui jalan syuhudi/penginderaan dan pengalaman spiritual batin atau melalui jalan lain yang dapat memberikan hasil. Dengan kata lain, irfan adalah suatu jalan berupa kepercayaan akan adanya kemungkinan untuk mencapai hakikat sesuatu melalaui ilmu hudhuri (bersatunya sang aqil dengan ma’qul). Secara praktis, irfan dapat diibaratkan sebagai peribadatan, mujahidah atau kemauan keras untuk menjalani kezuhudan, latihan menyucikan diri dari segala kotoran atau dosa yang ada dan mengarahkan diri kepada alam batin.<a href="#_edn15" title="_ednref15" name="_ednref15"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Mungkin sulit bagi kita untuk mengetahui kapan istilah irfan mulai digunakan di kalangan ulama Islam,<a href="#_edn16" title="_ednref16" name="_ednref16"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> tetapi dengan memperhatikan pendapat Junaid Baghdadi (wafat thn. 298 Hijriah) yang menyatakan bahwa kata irfan pernah digunakan sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan bahwa kata irfan mulai digunakan pada abad ketiga hijriah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Pada mulanya, mafhum irfan, ibadah dan zuhud belum mengalami perbedaan makna. Namun secara perlahan-lahan,<span>  </span>terjadi perbedaan makna antara ketiga kata ini. Setiap kata arif, abid dan zahid memiliki makna khusus dan tersendiri. Berkaitan dengan perbedaan antara ketiga kata ini, dalam kitabnya <em>Isyarat</em>, Syaikh Ra&#8217;is Abu Ali Sina berkata: &#8220;Zahid adalah istilah khusus bagi orang yang menghindari dunia dan kelezatan-kelezatannya. Orang yang menjaga dan selalu mawas diri dalam menekuni amal shaleh seperti sholat, puasa dan lainnya disebut abid. Sedangkan orang yang berusaha keras dan mengerahkan segala kemampuan dan pikirannya untuk menyucikan diri dan selalu berlindung pada kebenaran disebut arif. Namun ketiga istilah ini terkadang dapat saling menyatu.” Dengan demikian, makna irfan telah berubah seiring dengan perjalanan waktu. Terkadang irfan memiliki makna tersendiri dan terkadang semakna dengan tasawuf.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Harus diperhatikan bahwa tasawuf merupakan salah satu mishdaq dan cabang dari irfan, bukan keseluruhan irfan. Irfan dengan makna umumnya mempunyai kesesuaian makna dengan seluruh makna agama dan mazhab yang ada di dunia, baik kecil maupun besar, yang memiliki bentuk beraneka ragam. Bahkan para penyembah Totem pun memiliki rahasia dalam kepercayaannya yang untuk meraihnya mereka harus menempuh jalan rohani. Mereka yakin bahwa alam memiliki hubungan dengan Totem sehingga mereka berusaha untuk menyesuaikan diri dengannya. Dalam tafakkur mereka, dapat dilihat asas-asas irfan di dalamnya. Demikian juga dalam agama-agama kuno India dan Iran, dalam agama Kristen dan Islam, dapat disaksikan hakikat irfan di dalamnya. Bahkan dalam agama Yahudi sekalipun—yang memiliki akidah paling berbeda tentang Tuhan dan memiliki dendam kesumat terhadap manusia—tidak kosong dari hakikat irfani. Hal ini dapat dilihat dalam kitab suci mereka Mazamir Daud, Ghazal Sulaiman serta ungkapan–ungkapan indah mereka yang berasal dari syuhud batin dan jiwa manusia dalam mencari dan mencintai Tuhan.<a href="#_edn17" title="_ednref17" name="_ednref17"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Jika kita katakan bahwa irfan bukanlah sinonim dari kata tasawuf maka ini berarti bahwa irfan mempunyai arti lebih tinggi dan luas dari kata tasawuf. Tasawuf adalah satu cara dan jalan yang mengambil ilham dari irfan dan bermuara ke irfan. Dengan mafhum globalnya, irfan mencakup tasawuf dan berbagai tatacara serta jalan yang lain. Dalam kitab-kitab dan ungkapan-ungkapan para pembesar sufi Islam juga terlihat bahwa arif memiliki makna yang lebih tinggi dan terpisah dari pengertian sufi. Dalam kitab <em>Israr Tauhid</em>, Haji Imam Mudzafar Nu&#8217;ani berkata kepada Syekh Abu Sa&#8217;id: &#8220;Aku tidak berbicara tentang kesufianmu dan aku juga tidak berbicara<span>  </span>tentang kegembelanmu, tetapi aku berbicara tentang kearifanmu dalam rangka meraih<span>  </span>kesempurnaan&#8221;.<span>  </span>Syekh menjawab: &#8220;Dia berkata benar&#8221;. Singkatnya, yang dimaksud dengan irfan adalah cara dan jalan yang dengannya hakikat dapat diperoleh melalui penyingkapan (kasyaf) dan penyaksian batin (syuhud) dan dibarengi dengan pelatihan dan penyucian jiwa. Sedangkan yang menjadi tujuan arif dalam menjalani seir dan suluk hanyalah Allah semata. Sang arif menyembah Tuhan atas dasar cinta,<span>  </span>bukan karena<span>  </span>berharap pahala dan ganjaran surga-Nya dan bukan pula karena takut akan azab dan neraka-Nya.<a href="#_edn18" title="_ednref18" name="_ednref18"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Penyair berkata:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>Perjalanan akal hanyalah liku-liku</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>                        </span>Bagi arif, tiada yang lain kecuali Tuhan</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Di sinilah perbedaan antara arif dan hakim. Seorang hakim (bijak) akan menggunakan argumen/istidlal logis dalam menyingkap hakekat dan meraih kebenaran. Tetapi seorang arif<span>  </span>akan meraihnya melalui pelatihan dan pembersihan jiwa. Batinnya akan jernih sehingga ia dapat menyingkap hakikat itu (kasyaf) dan menyaksikannya sendiri (syuhud). Itulah sebabnya mengapa dalam pertemuan dengan Abu Said (seorang arif), Abu Ali Sina (seorang filosof) berkata: “Apa yang kuketahui, Ia melihatnya.” Sedangkan Abu Said berkata: “Apa yang kulihat, Ia mengetahuinya.&#8221;<a href="#_edn19" title="_ednref19" name="_ednref19"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[19]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Berbekal ilmu yang telah dicapainya melalui istidlal akli, latihan-latihan yang dilakukannya dalam rangka menyucikan ruh, perhatian total kepada al-Haq dan berpegang teguh pada nilai-nilai luhur keagamaan, maka sang arif akan mendapatkan Sang Haq dengan cahaya bashirat. Dengan demikian, ia telah mencapai posisi yang telah disebutkan dalam hadis Maksumin as berikut: &#8221; <em>Al-ilmu nurun, yaqzdifuhullahu fi qalbi man yasya</em>&#8220;<a href="#_edn20" title="_ednref20" name="_ednref20"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[20]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> dan setiap saat ia akan melihat dengan mata bashirat dan cahaya hakekat. Istidlal akli mungkin dapat memuaskan sebagian kalangan, tetapi ia tidak dapat memberikan ketenangan batin. Satu-satunya jalan yang dapat menenangkan dan meyakinkan hati adalah jalan percintaan dengan Tuhan.<a href="#_edn21" title="_ednref21" name="_ednref21"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[21]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Hijab<a href="#_edn22" title="_ednref22" name="_ednref22"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[22]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a> dalam Pandangan Irfan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Membahas masalah hijab dalam pandangan irfan—setelah<span>  </span>mengenal terlebih dahulu apa hijab dan irfan—akan membuat kita lebih mudah memahami pembahasan hijab dalam pandangan irfan. Tentunya hal ini berkaitan dengan dua pembahasan karena irfan sendiri terdiri dari irfan teori/nadzari dan irfan praktis/amali.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Pembahasan irfan teori adalah pembahasan tentang kaidah-kaidah irfan yang akan diterapkan oleh seorang arif ketika ia menjalani seir wa suluk. Sedangkan irfan<span>  </span>amali adalah pelaksanaan kaidah-kaidah irfan dalam bentuk amal perbuatan oleh seorang arif. Maka pembahasan hijab dalam pandangan irfan akan terdiri dari dua pembahasan. Pembahasan pertama; pembahasan hijab dalam irfan teori dan kedua; pembahasan hijab amali dalam pandangan seorang arif.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Pembahasan teoritis hijab dalam pandangan irfan berarti membicarakan hijab berdasarkan kaidah teoritis irfan. Sedangkan pembahasan amali hijab dalam pandangan arif atau arifah berarti membicarakan hijab secara praktis yang dilakukan oleh seorang arif. Hal ini seiring dengan pemahaman kita tentang Islam yang selalu bertumpu pada dua hal yaitu akidah dan amal. Dan karena hakikat irfan sebenarnya adalah hakikat Islam itu sendiri, maka seluruh ajaran yang merupakan akidah atau prinsip kepercayaan adalah irfan teori itu sendiri. Dan semua amal atau praktek islami yang telah ditetapkan oleh Allah swt dan harus ditaati oleh setiap muslim mukallaf<span>  </span>adalah irfan amali itu sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Ketika ketaatan yang dilakukan oleh seorang muslim dibandingkan dengan muslim lainnya, maka sudah pasti nilainya akan berbeda karena kondisi mereka yang memang berbeda. Di sinilah kunci perbedaan derajat ibadah yang dilakukan oleh kaum muslimin yang akhirnya meniscayakan adanya perbedaan maqam sesuai dengan tujuan dan niat mereka dalam melaksanakan<span>  </span>ibadah. Para Makshumin as, jauh-jauh hari telah mengisyaratkan jenis-jenis ibadah yang dilakukan oleh hamba Allah dengan membaginya dalam tiga golongan: golongan pertama adalah mereka yang menyembah Allah karena takut dan ibadah mereka disebut sebagai ibadah budak. Golongan kedua adalah mereka yang menyembah Allah untuk mendapatkan surga atau ganjaran dan ibadah mereka disebut sebagai ibadah pedagang. Sedang golongan ketiga adalah mereka yang menyembah Allah atas dasar cinta dan kerinduan kepada<span>  </span>Allah sehingga ibadah yang mereka lakukan disebut sebagai ibadah orang-orang merdeka dan inilah ibadah yang paling baik di sisi Allah swt.<a href="#_edn23" title="_ednref23" name="_ednref23"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[23]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Para arif melakukan ibadah kepada Allah atas dasar cinta sehingga yang ada di antara mereka hanyalah asyiq(pecinta) dan ma&#8217;syuq (yang dicintai).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Pembahasan Hijab dalam Irfan Teori</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Ketika mengamalkan perintah Allah—baik dalam hal mengenakan hijab islami—setelah seorang muslim memenuhi syarat-syarat dan batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh syariat Islam, maka ia harus mengingat prinsip-prinsip irfan nazari<span>  </span>berikut ini:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<ol>
<li class="MsoNormal">Dunia hanyalah bersifat sementara dan akhirat adalah      kehidupan yang abadi.</li>
<li class="MsoNormal">Akhirat adalah tempat yang berbahagia bagi kaum      beriman dan bencana bagi orang-orang kafir. Kebahagiaan abadi akhirat      diperuntukkan bagi mereka yang mencintai Allah dan tidak menambatkan      hatinya pada kelezatan dunia yang rendah.</li>
<li class="MsoNormal">Kehidupan dunia harus dijalani dengan sikap zuhud dan      menghindari segala<span>  </span>perbuatan dosa.      Dosa dan kemaksiatan harus dilihat sebagai api jahanam yang sedang      berkobar-kobar sedang<span>  </span>manusia      adalah kayu bakarnya.</li>
<li class="MsoNormal">Amal shaleh di dunia adalah penyebab keridhaan Allah      swt.</li>
<li class="MsoNormal">Segala sesuatu selain Allah adalah kecil dan tak      berarti, hanya Allah yang maha besar.</li>
<li class="MsoNormal">Menciptakan dan memelihara kondisi yang dikenal      dengan sebutan 10 ahwal yaitu: berhati-hati, <em>taqarrub ilallah</em>,      cinta, takut, berharap, semangat, setia, ketenangan, bersaksi, dan yakin.      Kesepuluh hal ini berguna dalam rangka mencapai al-Haq, tauhid mutlak dan      kefanaan dalam al-Haq.</li>
<li class="MsoNormal">Adapun maqam-maqam yang akan dilalui oleh seorang      arif terdiri dari tujuh maqam yaitu: taubat, wara&#8217;, hidup dengan      sederhana, zuhud, faqr, sabar, tawakal dan ridha.<a href="#_edn24" title="_ednref24" name="_ednref24"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[24]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Hijab dalam Irfan Praktis</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Seorang muslim dan muslimah yang arif akan mentaati Allah dalam kondisi bercinta<a href="#_edn25" title="_ednref25" name="_ednref25"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[25]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> dengan-Nya dan tujuan mereka hanyalah kecintaan dan keridhoan Allah semata. Oleh karena itu, dalam doanya para Makshumin as berkata: &#8220;Wahai Tuhanku, seandainya Engkau memasukkan aku ke dalam neraka tetapi bersama cinta dan keridhaan-Mu maka aku rela dan tidak gentar menjalani siksaannya. Dan sebaliknya, jika Engkau memasukkan aku ke dalam surga bersama ketidakridhaan-Mu, maka apa arti kenikmatan surga bersama kebencian dan kemarahan-Mu, pastilah aku akan merasa tersiksa karena jauh dari cinta dan keridhaan-Mu.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Ketika hijab diterima sebagai sebuah perintah dalam agama Islam, maka saat mengamalkannya, seorang muslim atau muslimah yang arif hendaknya memiliki pengetahuan yang menyatu dengan keyakinannya bahwa hijab adalah salah satu ajaran yang memiliki kredebilitas hukum yang kuat, wajib ditaati dan merupakan salah satu sarana untuk mencapai keridhaan Allah swt. Di saat itulah, ia tidak akan merasa terbebani dengan hijab bahkan lebih jauh dari itu ia akan menyambut seruan berhijab dengan suka cita karena ia melihat bahwa dengan berhijab ia akan dicintai Allah dan ia juga tengah mencintai Allah dengan hijab yang dikenakannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Semakin kuat ia menjaga cintanya kepada Allah maka ia akan semakin berhati-hati menjaga hijab dirinya dari segala sesuatu yang dapat meruntuhkan nilai iffah dan kehormatan dirinya di hadapan Allah. Ia akan menyadari bahwa hijab adalah salah satu penggalan cintanya kepada Allah dan merupakan jalan untuk meraih cinta Allah. Jadi prilaku arif dalam setiap amalannya selalu didasari oleh niat menggapai cinta Allah dan didorong oleh perasaan cinta kepada Allah yang menggelora di dalam jiwanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Sebagaimana cinta menuntut bukti dan realisasi, maka cinta kepada Allah pun menuntut hal yang sama berupa ketaatan atas segala perintah dan larangan Allah. Sedangkan ketaatan sendiri merupakan salah satu jalan untuk menggapai cinta Allah dan merupakan sarana untuk menunjukkan cinta seorang hamba kepada maulanya, yaitu Allah swt. Maka hijab bagi seorang arif adalah salah satu urat nadi kehidupan cintanya yang mengalirkan kesabaran dan semangat ke seluruh jiwa dan raganya untuk menjalani kehidupan sebagai hamba shaleh Allah swt. Ketika seorang arif telah memandang hijab sedemikian rupa, maka ia akan menjaga segala syarat dan batasan yang telah ditetapkan oleh Kekasih sejatinya. Ia akan berusaha sesempurna mungkin menjaga dan mempertahankan hijabnya dari segala bentuk pengurangan atau pelecehan, baik yang datang dari dirinya sendiri akibat sikap lalai dan lupa atau yang datang dari pihak di luar dirinya. Tentu saja tidak mungkin pengurangan atau pelecahan itu dilakukan oleh sang arif karena jika ia melakukannya maka ia tidak pantas lagi disebut sebagai arif. Yang mungkin terjadi adalah pelecehan hijab dari luar dan ketika hal itu terjadi maka sang arif pasti akan dengan bersemangat membela dan mempertahankan kesucian hijab sebagai salah satu nilai agung Allah, meskipun pembelaan yang dilakukannya akan berakhir dengan kesyahidan. <em>Wassalamu ‘alaa manit taba’al huda….</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><em> </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Pada akhir tulisan ini mari kita berdoa sebagaimana yang telah diajarkan oleh para Makshum as, para penunjuk jalan menuju Allah swt:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:14pt;">اَللهُمَّ عَرِّفنِی نَفسَکَ فَإنَّکَ إِن لَم تُعَرّفنِی نَفسَکَ لَم اَعرِف رَسُولَکَ ، اَللهُمَّ عَرِّفنِی رَسُولَکَ فَإِن لَم تُعَرِّفنِی رَسُولَکَ لَم اَعرِف حُجَّتَکَ، اَللهُمَّ عَرِّفنِی حُجَّتَکَ فَإِن لَم تُعَرِّفنِی حُجَّتَکَ ضَلَلتُ عَن دِینِی</span></strong><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span>!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#8220;Ya Allah! Kenalkan diri-Mu kepadaku. Jika Engkau tidak mengenalkan diri-Mu kepadaku, maka aku tidak akan dapat mengenal Nabi-Mu. Ya Allah! Kenalkan Rasul-Mu kepadaku. Jika Engkau tidak mengenalkan Rasul-Mu kepadaku, maka aku tidak akan dapat mengenal Hujjah-Mu. Ya Allah! Kenalkan Hujjah-Mu kepadaku. Jika Engkau tidak mengenalkan Hujjah-Mu kepadaku, maka akan sesatlah aku dari agamaku&#8221;.<a href="#_edn26" title="_ednref26" name="_ednref26"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[26]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> [islamalternatif.net]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p><!--[if !supportEndnotes]--></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />  <!--[endif]--></p>
<p class="MsoFootnoteText"><a href="#_ednref1" title="_edn1" name="_edn1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Surah as-Shad: 71 – 73, Surah al-A&#8217;raf 27:&#8221; Wahai anak-anak Adam! Janganlah sekali-kali kalian tertipu oleh syetan sebagaimana ia telah (menipu kedua orangtua kalian sehingga) kedua orangtua kalian keluar dari surga, ia menanggalkan pakaian<span>   </span>keduanya, untuk diperlihatkannya aurat keduanya&#8230;&#8221;.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref2" title="_edn2" name="_edn2"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Surah al-Imran: 109.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref3" title="_edn3" name="_edn3"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Surah al-Hasyr: 9.</p>
<p class="MsoFootnoteText"><a href="#_ednref4" title="_edn4" name="_edn4"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Surah al-Asr:1-3. &#8220;Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang beriman dan beramal sholeh, saling berpesan dengan kebenaran dan saling berpesan dengan kesabaran&#8221;.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref5" title="_edn5" name="_edn5"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Lihat artikel &#8221; <em>Relasi antara Irfan Teoritis dan Irfan Praktis</em>&#8221; karya Muchtar Luthfi yang dimuat dalam <a href="http://www.islamalternatif.com/">www.islamalternatif.net</a> pada hari Minggu, 27 Agustus 2006.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref6" title="_edn6" name="_edn6"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Surah ar-Rum: 7.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref7" title="_edn7" name="_edn7"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Surah Maryam: 59.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref8" title="_edn8" name="_edn8"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Surah al-Mudatsir: 43, al-Maun: 5 dan<span>  </span>at-Taubah: 54.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref9" title="_edn9" name="_edn9"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Surah al-Ankabut 45, al-Mu&#8217;minuun: 2.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref10" title="_edn10" name="_edn10"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Surah a-Mu&#8217;minuun: 9,<span>  </span>al-Maarij: 22.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref11" title="_edn11" name="_edn11"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Sebagaimana disebut dalam hadis masyhur:&#8221; Siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal"><a href="#_ednref12" title="_edn12" name="_edn12"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:10pt;"> Muhammad Reza Thabathaba’i, <span> </span><em>Sharf Sadeh</em>, hal: 218.</span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref13" title="_edn13" name="_edn13"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <em>Lisanul</em> <em>Arab</em>, jilid 4, hal. 309, cetakan Darusshadir, Beirut.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref14" title="_edn14" name="_edn14"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Muhammad Reza Thabathaba’i, <em>Sharf Sadeh</em>, hal: 218.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref15" title="_edn15" name="_edn15"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[15]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Doktor Zeinuddin Kiyai Nezad, <em>Seir-e Irfan Dar- Islam</em>, Intisyarot-e Isyroqi.</p>
<p class="MsoNormal"><a href="#_ednref16" title="_edn16" name="_edn16"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[16]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <span style="font-size:10pt;">Maka timbullah berbagai pandangan berbeda tentang sejarah irfan/tasawuf Islam. Sebagian kalangan menyatakan bahwa tasawuf Islam adalah tasawuf independen yang berfondasikan al-Quran dan sunnah Rasulullah saww dan benar-benar terjaga dari pengaruh fikiran luar. Kehidupan irfani umat Islam dapat ditilik sejak awal abad pertama hijriah dan mengalami berbagai perkembangan pada abad-abad berikutnya. Seandainya pun terdapat kesamaan antara tasawuf Islami dengan pandangan irfani/mistisisme agama lain, hal ini tidak bisa menjadi dalil bahwa tasawuf Islam lahir dari pemikiran zuhudi dan irfani agama lain. Yang pasti adalah bahwa agama Islam memang mempunyai warna dan<span>  </span>benih-benih tasawuf.<span>  </span>Ada beberapa pandangan lain berkenaan sejarah kemunculan irfan/tasawuf<span>  </span>dalam Islam yang tidak mungkin untuk dibahas di sini. Yang penting diingat adalah<span>  </span>bahwa pernyataan mereka yang menganggap bahwa irfan/tasawuf Islam merupakan perkara asing bagi agama Islam itu sendiri, adalah sebuah pernyataan yang dapat disanggah secara rasional.</span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref17" title="_edn17" name="_edn17"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[17]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Doktor Zeinuddin Kiyai Nezad, <span> </span><em>Seir-e Irfan Dar- Islam</em>, Intisyarot-e Isyroqi.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref18" title="_edn18" name="_edn18"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[18]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Ibid.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref19" title="_edn19" name="_edn19"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[19]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Ibid.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref20" title="_edn20" name="_edn20"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[20]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> &#8220;Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan oleh Allah ke dalam hati siapa saja yang<span>  </span>Ia kehendaki.&#8221;</p>
<p class="MsoFootnoteText"><a href="#_ednref21" title="_edn21" name="_edn21"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[21]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Doktor Zeinuddin Kiyai Nezad, <em>Seir-e Irfan Dar- Islam</em>, Intisyarot-e Isyroqi.</p>
<p class="MsoNormal"><a href="#_ednref22" title="_edn22" name="_edn22"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[22]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:10pt;"> Hijab yang dimaksud dalam tulisan ini adalah pakaian dan terjaganya iffah (kemuliaan) sebagai sebuah syariat Islam yang wajib dikenakan dan dijaga oleh wanita dan pria muslim. Dalam kajian irfan nadzari, hijab berarti penghalang-penghalang bagi para urafa&#8217; ketika menjalani seir wa suluk menuju Tuhannya. Hijab ini terbagi hijab nurani/cahaya seperti ilmu dan amal shaleh yang<span>  </span>terkadang bisa menjadi hijab bagi urafa&#8217; untuk menuju Tuhannya dan hijab zulmani/kebodohan dan dosa-dosa/maksiat. Tentunya kedua hijab haru ditanggalkan<span>  </span>supaya terjadi mukasyafah.</span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref23" title="_edn23" name="_edn23"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[23]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Perlu diingat bahwa prinsip-prinsip irfan nazdari yang dikemukakan di sini hanya sebagai contoh saja, tidak mencakup semuanya dan hanya bersifat pengenalan karena keterbatasan situasi dan kondisi.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref24" title="_edn24" name="_edn24"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[24]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Setiap prinsip atau kaidah teoritis Irfan membutuhkan penjelasan tersendiri dan dalam kesempatan ini tidak mungkin untuk membahasnya karena situasi dan kondisi tidak mengizinkan.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref25" title="_edn25" name="_edn25"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[25]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Percintaan dengan seluruh sifat-sifatnya yang dimaksud di sini akan berbeda dengan percintaan yang terjadi antara sesama hamba karena dalam percintaan sesama hamba, pecinta dan yang dicinta adalah makhluk yang mengemban berbagai nilai material dan kemanusiaan. Sedangkan percintaan yang terjadi dalam teori irfan adalah percintaan antara hamba dan maulanya yang tidak memiliki sifat-sifat materi sedikit pun. Jadi percintaan ini akan sangat berbeda dan tidak bisa disamakan dengan percintaan yang antara dua materi.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref26" title="_edn26" name="_edn26"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[26]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Doa ini berasal dari Imam Shadiq as yang diriwayatkan oleh Zuroreh dan dinukil oleh almarhum Kulaini, Syekh Thusi dan Nu&#8217;mani, penulis<span>  </span>kitab <em>al-Gaibah.</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/210/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/210/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/210/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=210&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/10/19/hijab-dalam-pandangan-irfan-tasawuf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/10/aktifis-muslimah.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">aktifis-muslimah.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Klasifikasi Perempuan Haid; Pengertian Pemilik Kebiasaan Waktu dan Jumlah</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/10/17/klasifikasi-perempuan-haid-pengertian-pemilik-kebiasaan-waktu-dan-jumlah/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/10/17/klasifikasi-perempuan-haid-pengertian-pemilik-kebiasaan-waktu-dan-jumlah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Oct 2007 04:13:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/10/17/klasifikasi-perempuan-haid-pengertian-pemilik-kebiasaan-waktu-dan-jumlah/</guid>
		<description><![CDATA[Perempuan yang selama dua bulan berturut-turut pada waktu tertentu keluar haid, tapi setelah tiga hari atau lebih darah tersebut berhenti, sementara jumlah secara keseluruhan baik hari yang keluar haid maupun yang terhenti adalah tidak lebih dari sepuluh hari. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Klasifikasi Perempuan Haid; Pengertian Pemilik Kebiasaan Waktu dan Jumlah 1. Pemilik Kebiasaan Waktu dan Jumlah (‘Adah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=208&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Perempuan yang selama dua bulan berturut-turut pada waktu tertentu keluar haid, tapi setelah tiga hari atau lebih darah tersebut berhenti, sementara jumlah secara keseluruhan baik hari yang keluar haid maupun yang terhenti adalah tidak lebih dari sepuluh hari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span id="more-208"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="font-family:Arial;color:black;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;color:black;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;color:black;">Klasifikasi Perempuan Haid; Pengertian Pemilik Kebiasaan Waktu dan Jumlah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">1. Pemilik Kebiasaan Waktu dan Jumlah (<em>‘Adah Adadiyah wa Waqtiyah</em>)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Perempuan pemilik kebiasaan waktu dan jumlah dibagi kepada tiga kelompok:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">1. </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Perempuan yang selama dua bulan berturut-turut keluar haid, dan berhenti dari haid pada waktu tertentu, misalkan dari tanggal lima sampai sepuluh. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Lihat tabel dibawah ini:</span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="margin-left:14.25pt;border-collapse:collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0">
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:74.8pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="100">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Bulan</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"></span></p>
</td>
<td colspan="3" style="width:276.2pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="368">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Tanggal</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:74.8pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="100">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Ramadan</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:71.05pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="95">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1,2,3,4</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">S</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">uci</span></strong></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:90.15pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="120">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:#7f0000;">5,6,7,8,9,10</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:#7f0000;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">H</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">aid</span></strong></p>
</td>
<td style="width:115pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="153">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">11,12,13,14,&#8230;dst</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">S</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">uci</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:74.8pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="100">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Syawal</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:71.05pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="95">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1,2,3,4</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">S</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">uci</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:90.15pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="120">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:#7f0000;">5,6,7,8,9,10</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">,</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">H</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">aid</span></strong></p>
</td>
<td style="width:115pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="153">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">11,12,13,14&#8230;dst</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">S</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">uci</span></strong></p>
</td>
</tr>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">2. </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Perempuan yang tidak pernah berhenti keluar darah, tapi selama dua bulan berturut-turut pada waktu dan jumlah tertentu darah tersebut mempunyai sifat dan ciri-ciri haid, misalkan dia selalu keluar darah akan tetapi dari tanggal enam sampai tanggal sebelas selama dua bulan berturut-turut darah tersebut mempunyai ciri-ciri haid.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Lihat tabel berikut:</span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="margin-left:14.25pt;border-collapse:collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0">
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:77.2pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="103">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Bulan</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"></span></p>
</td>
<td colspan="3" style="width:309.8pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="413">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Tanggal</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:77.2pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="103">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Syawal</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"></span></p>
</td>
<td style="background:yellow none repeat scroll 0 50%;width:80.3pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="107">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:red;">1,2,3,4,5</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:red;"> </span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:maroon;">Istihadhah</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"></span></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:110.9pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="148">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:#7f0000;">6,7,8,9,10,11</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Ciri-ciri   haid</span></strong></p>
</td>
<td style="background:yellow none repeat scroll 0 50%;width:118.6pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="158">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:red;">12,13,14,15,..dst</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:red;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:maroon;">Istihadhah</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:77.2pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="103">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Zulkaidah</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"></span></p>
</td>
<td style="background:yellow none repeat scroll 0 50%;width:80.3pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="107">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:red;">1,2,3,4,5</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:red;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:maroon;">Istihadhah</span></strong></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:110.9pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="148">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:#7f0000;">6,7,8,9,10,11</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:#7f0000;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Ciri-ciri   haid</span></strong></p>
</td>
<td style="background:yellow none repeat scroll 0 50%;width:118.6pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="158">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:red;">12,13,14,15,&#8230;dst</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:red;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:maroon;">Istihadhah</span></strong></p>
</td>
</tr>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">3. </span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Perempuan yang selama dua bulan berturut-turut pada waktu tertentu keluar haid, tapi setelah tiga hari atau lebih darah tersebut berhenti, sementara jumlah secara keseluruhan baik hari yang keluar haid maupun yang terhenti adalah tidak lebih dari sepuluh hari. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Lihat tabel berikut:</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"></span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="margin-left:14.25pt;border-collapse:collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0">
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:66.4pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="89">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Bulan</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"></span></p>
</td>
<td colspan="4" style="width:298.1pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="397">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Tanggal</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:66.4pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="89">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Rb   awal</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"></span></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:41.6pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="55">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:#7f0000;">1,2,3</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Darah</span></strong></p>
</td>
<td style="width:57.4pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="77">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9pt;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">4,5,6</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:5.25pt;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Berhenti</span></strong></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:66pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="88">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.25pt;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:#7f0000;">7,8,9</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:#7f0000;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:13.5pt;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Darah</span></strong></p>
</td>
<td style="width:133.1pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="177">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">10,11,12,13,14,15,&#8230;dst</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:66.4pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="89">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Rb   tsani</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"></span></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:41.6pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="55">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:#7f0000;">1,2,3</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:#7f0000;">,</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:#7f0000;">4</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Darah</span></strong></p>
</td>
<td style="width:57.4pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="77">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:14.25pt;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">5,6</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Berhenti</span></strong></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:66pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="88">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:#7f0000;">7,8,9</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Darah</span></strong></p>
</td>
<td style="width:133.1pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="177">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">10,11,12,13,14,15,&#8230;dst</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45.75pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"> </span></p>
</td>
</tr>
</table>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">(Maka dari tanggal 1 hingga tanggal 9 adalah kebiasaan haidnya)</span></p>
<p style="line-height:14.4pt;"><span style="font-family:Arial;color:#333333;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/208/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/208/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/208/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=208&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/10/17/klasifikasi-perempuan-haid-pengertian-pemilik-kebiasaan-waktu-dan-jumlah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“Sumpah demi Pemilik Ka’bah, Sungguh Aku telah Beruntung&#8230;”</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/10/10/%e2%80%9csumpah-demi-pemilik-ka%e2%80%99bah-sungguh-aku-telah-beruntung%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/10/10/%e2%80%9csumpah-demi-pemilik-ka%e2%80%99bah-sungguh-aku-telah-beruntung%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Oct 2007 14:24:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/10/10/%e2%80%9csumpah-demi-pemilik-ka%e2%80%99bah-sungguh-aku-telah-beruntung%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[Beginilah akhir kehidupan pemimpin para kaum mukmin dan ahli takwa ini. Ali bin Abi Thalib AS yang selama ini selalu dipropagandakan oleh Muawiyah bin Abi Shofyan di wilayah Syam sebagai manusia keji dan pelaku dosa, dengan cara meninggal yang indah (yaitu dalam keadaan sujud di hadapan kekasih sejatinya) dan di tempat yang indah (yaitu masjid [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=204&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"> <a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/10/haji-kecil.jpg" title="haji-kecil.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/10/haji-kecil.thumbnail.jpg?w=500" alt="haji-kecil.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Beginilah akhir kehidupan pemimpin para kaum mukmin dan ahli takwa ini. Ali bin Abi Thalib AS yang selama ini selalu dipropagandakan oleh Muawiyah bin Abi Shofyan di wilayah Syam sebagai manusia keji dan pelaku dosa, dengan cara meninggal yang indah (yaitu dalam keadaan sujud di hadapan kekasih sejatinya) dan di tempat yang indah (yaitu masjid tempat mengungkapkan kecintaan hamba kepada kekasih sejatinya, Allah) menyebabkan keheranan banyak penduduk Syam dan tersingkapnya kebohongan berita-berita buruk yang selama ini dibikin oleh Muawiyah bin Abi Sofyan terhadap pribadi suci Ali bin Abi Thalib AS. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span><span id="more-204"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">“Sumpah demi Pemilik Ka’bah, Sungguh Aku telah Beruntung&#8230;”</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Mama, kenapa besok kita harus mengenakan busana warna hitam? Emangnya ada peristiwa sedih apa?”, tanya putri kecilku dengan penuh rasa penasaran. “Sayang, besok (tanggal 19 Ramadhan) tepatnya pada waktu subuh merupakan hari dimana orang nakal yang bernama Abdurahman bin Muljam menancapkan pedang beracunnya di kepala pemimpin para manusia baik. Orang yang dekat sama anak-anak seperti kamu, penyayang anak-anak yatim, temanmu. Orang yang selalu memberi salam kepada anak-anak kecil dan sahabat orang fakir miskin. Orang yang sangat baik, beliau adalah Imam Ali AS. Biasanya anak-anak yatim di kota Kufah, setiap malam sudah menungggu susu dan buah kurma yang akan dibagi-bagikan Imam Ali AS kepada mereka. Lalu Imam meletakkan susu dan kurma tersebut di depan pintu rumah anak-anak yatim tanpa ada yang mengetahuinya. Namun setelah peristiwa menyedihkan terjadi, tiada lagi orang yang meletakkan susu dan kurma di hadapan rumah mereka. Padahal anak-anak yatim sudah menunggunya, tapi orang baik yang tak mau dikenal itu tak kunjung datang. Dengan terjadinya peristiwa menyedihkan itu, akhirnya mereka mengetahui bahwa orang yang selama ini selalu mengirim susu dan kurma kepada mereka adalah Imam Ali AS. Semenjak anak-anak yatim itu mengetahui bahwa Imam Ali AS mengalami luka parah terkena tusukan pedang beracun, akhirnya giliran mereka yang membawa susu untuk Imam Ali AS, dengan harapan agar sakitnya segera pulih. Imam Ali AS adalah orang yang sangat pengasih dan penyayang terhadap anak-anak seperti kamu, dan anak-anak yatim temanmu”, jawabku panjang lebar menjelaskan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Putriku sayang, orang-orang yang sayang sama Imam Ali AS dari besok (tanggal 19 Ramadhan) sampai tanggal 21 Ramadhan -yang merupakan hari kesyahidan Imam Ali AS yang pergi menemui Tuhan- akan bersedih dan berduka atas ketiadaan beliau”, jelasku. “Putriku sayang, kita bersedih karena orang baik dan orang yang selalu mengajak kita kepada kebaikan telah meninggalkan kita. Orang yang bagaikan cahaya keberadaannya untuk kehidupan kita dan dunia ini telah pergi meninggalkan kita, dibunuh orang jahat. Kita semua sedih khan? Dan kesedihan itulah yang akhirnya kita disuruh (baca: dianjurkan) pakai baju warna hitam”, tambahku melanjutkan.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Andaikan kita menengok kembali kehidupan Imam Ali AS yang dipenuhi dengan berbagai keutamaan. Betapa hebat jika kita bayangkan bagaimana Imam Ali AS datang ke dunia dan pergi dari dunia ini di tempat yang sangat suci yaitu di rumah Tuhan. Beliau <span> </span>lahir di dalam Ka’bah dan syahid di mihrab masjid Kufah.<span>  </span>Berdasarkan kesepakatan para ahli sejarah, Imam Ali AS lahir di rumah Allah SWT (Ka’bah). Sewaktu ibu beliau Fathimah binti Asad melaksanakan tawaf dan berdoa di sisi Ka’bah, dan sewaktu beliau merasakan rasa sakit sebagai tanda waktu melahirkan hampir dekat, beliau langsung bersandar di dinding Baitullah-Ka’bah. Ketika itu, tiba-tiba tembok Ka’bah retak dengan sendirinya seakan mempersilahkan beliau masuk ke dalamnya, dan beliau pun akhirnya masuk ke dalam Ka’bah lewat belahan tembok tersebut. Sampai sekarang bekas retak tersebut masih tampak. Bagi orang yang pernah pergi haji pasti dapat melihat bekas retak tersebut. Apakah ini bukan sebuah mukjizat?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kita mengetahui ka’bah merupakan tempat suci, orang yang dalam keadaan tidah suci seperti dalam keadaan haid dan nifas tidak dapat masuk ke dalamnya, tapi kenapa Allah SWT memberikan izin kepada Fathimah binti Asad dapat memasuki tempat tersebut? Apakah beliaupun seperti Sayidah Maryam AS dan Sayidah Zahra AS yang ketika melahirkan tidak mengeluarkan darah nifas, hal ini dikarenakan kesempurnaan dan kedudukan mulia yang mereka miliki di sisi Allah SWT? Fathimah binti Asad tinggal di dalam Ka’bah selama tiga hari. Siapakah yang memberikan hidangan kepada Fathimah binti Asad sehingga dapat memulihkan kembali rasa letih yang dirasakan pasca melahirkan? Apakah beliau selama tiga hari tidak memakan apa-apa? Tidak seorang pun mengetahui apa yang terjadi di dalam Ka’bah sewaktu Fathimah binti Asad tinggal di dalam Ka’bah. Apakah ini bukan mukjizat yang tidak mungkin dimiliki oleh manusia biasa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Ketika ayah Imam Ali as (Abu Thalib) mengalami kesulitan ekonomi maka beliau mengharap sebagian anggota keluarganya -yaitu Abbas (saudara Abu Thalib) dan Nabi Muhamad SAWW- untuk turut meringankan beban Abu Thalib. Mereka memutuskan untuk mengasuh dua anak Abu Thalib. Nabi Muhamad SAWW mengambil Ali as yang masih kecil untuk diasuhnya. Mungkin merupakan sebuah hikmah Illahi Rasulullah SAWW membesarkan Imam Ali AS di rumahnya yang merupakan tempat lalu lalang para malaikat, sehingga pribadi yang akan menjadi pengganti setelahnya itu tidak tumbuh dan berkembang disembarang rumah, akan tetapi dibesarkan dan dididik di rumah utusan Allah SWT dan tempat turunnya wahyu. Sehingga kepribadian dan kehidupan Nabi Muhamad SAWW berpengaruh dalam membentuk kepribadian dan dalam kehidupannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dalam menggambarkan kondisi dirinya ketika bersama Rasulullah Imam Ali AS berkata: “&#8230;Kalian semua mengetahui kedudukan diriku di sisi Rasulullah, &#8230;.beliau menempatkanku di tempat tidurnya. Sewaktu aku masih kecil beliau menggendongku, serta menidurkan diriku di tempat tidur khususnya. Beliau menempelkan badannya di badanku dan aku mencium bau suci beliau. Kadang beliau meletakan makanan sesuap demi sesuap di mulutku. Beliau tidak pernah mendapatkan aku berbohong dalam ucapanku dan bersalah dalam prilakuku. Sejak Rasulullah menyelesaikan masa menyusu, Allah SWT mengutus Malaikat teragung (Jibril AS) untuk mendidiknya, siang malam beliau mengajarkan kepadanya jalan yang mulia, kejujuran dan akhlak yang terpuji. Aku selalu bersama Rasulullah SAWW seperti anak dengan ibunya. Setiap hari Rasulullah SAWW menunjukkan kepadaku akhlak-akhlak yang terpuji dan beliau memerintahkan kepadaku untuk mengikutinya. Pada setiap tahun Rasulullah untuk beberapa waktu beliau tinggal berkhalwat (mengasingkan diri) di gua Hira, hanya diriku yang menyaksikan beliau dan tidak ada seorang pun yang melihatnya selainku. Pada masa itu, tidak ada satu rumahpun yang agama Islam masuk ke dalamnya kecuali rumah Rasulullah, yang Khadijah AS termasuk di dalamnya dan aku pun sebagai orang ketiga di rumah tersebut yang memeluk agama Islam. <span> </span>Aku menyaksikan cahaya wahyu dan risalah beliau, aku mencium bau kenabian. Ketika wahyu diturunkan kepada Rasulullah SAWW aku mendengar suara jeritan Setan. Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, jeritan siapakah ini? Beliau menjawab: “Setan, yang telah putus asa dengan penyembahan dirinya”. Lantas beliau melanjutkan: “Wahai Ali, sesungguhnya engkau mendengar semua yang aku dengar, dan melihat semua yang aku lihat, hanya saja engkau bukan seorang nabi melainkan engkau sebagai pengganti (<em>wazir</em>) dan engkau berada pada kebaikan”. [kitab Nahjul-Balaghah, Khutbah ke-192]<span>   </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Ali bin Abi Thalib AS adalah pribadi mulia yang terlahir di rumah Tuhan (Ka’bah), dibesarkan di rumah Utusan Tuhan (Rasulullah SAWW) dan pergi dari alam dunia yang fana’ inipun dari rumah Tuhan, tempat bersujudnya para manusia beriman (masjid). Beberapa hari menjelang kesyahidannya Imam Ali AS melaksanakan buka puasa di rumah para putra dan putrinya secara bergiliran. Tepatnya pada malam tanggal 19 Ramadhan tahun 40 HQ beliau berbuka puasa di rumah putri tercintanya Sayidah Zainab AS. Pada buka puasa tersebut beliau hanya mencukupkan dirinya dengan menyantap roti kering dan garam. Padahal pada saat itu beliau merupakan seorang khalifah muslimin. Malam tersebut Imam Ali AS menghabiskan waktu malamnya dengan ibadah dan penghambaan diri ke hadirat Ilahi dan senantiasa dalan keadaan munajat dan merintih. Beliau telah mengetahui dan mencium ajal dan kesyahidan yang akan menjemputnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sayidah Zainab AS mengatakan bahwasanya Imam Ali AS telah mengumpulkan anaknya pada malam itu seraya berkata kepada mereka: “Sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah pada mimipiku saat ini, beliau berkata kepadaku: “Wahai Abu Hasan, dalam waktu dekat engkau akan menyusul kami, akan datang kepadamu orang yang paling celaka dimana ia akan mewarnai parasmu dengan darah yang keluar dari kepalamu. Sumpah demi Tuhan, aku sangat rindu untuk bertemu denganmu, dan engkau akan berada di samping kami pada waktu sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Maka cepatlah engkau bergabung dengan kami, karena perkara yang telah disediakan oleh Allah SWT untukmu ialah lebih baik bagimu dan akan kekal”.<span>  </span>[kitab Biharul-Anwar, jilid 42 Bab 277 dinukil dari buku Zainab Kubro az Wiladah ta Syahadah halaman 49]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Pada malam itu Imam Ali AS senantiasa dalam keadaan munajat dan shalat. Ketika waktu mendekati subuh, beliau keluar dari kamar dan menatap bintang-bintang di langit, setelah itu ketika beliau memasuki kamar dan kembali ke tempat ibadah, beliau berulang-ulang mengucapkan: “Ya Allah, berkahilah kematianku”, dan mengucapkan zikir ‘<em>innalillahi wa inna ilaihi raji’uun</em>’ dan ‘<em>la haula wala quwata illa billah ‘aliyuladzim</em>’, banyak mengucapkan shalawat kepada Rasulullah dan beristighfar. Menyaksikan keadaan ayahnya yang berulang-ulang menyebutkan tentang kematian, Sayidah Zainab AS bertanya: “Wahai ayahku, kenapa malam ini engkau menyampaikan kabar kematianmu? Imam Ali AS menjawab: “Wahai putriku, ajal telah mendekatiku dan terputuslah harapan”. Sayidah Zainab AS menangis setelah mendengar ucapan beliau, lalu Imam Ali AS melanjutkan ucapannya: “Janganlah menangis wahai putriku, ketahuilah aku tidak menyampaikan berita ini melainkan Rasulullah telah menyampaikan kepadaku”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Setelah itu, untuk sesaat Imam Ali AS beristirahat dan lalu menyibukkan kembali dirinya dengan doa, shalat dan membaca zikir. Bahkan beliau pun memohon kepada putrinya untuk mengingatkannya ketika waktu azan subuh telah tiba. Di saat waktu azan subuh telah tiba, kemudian Sayidah Zainab AS memberitahukan ayahnya, sehingga beliau bersiap-siap untuk berangkat ke Masjid Kufah untuk memimpin shalat berjamaah subuh. Sesampainya di masjid, lantas beliau mengumandangkan azan subuh dan seperti biasanya setelah azan beliau membangunkan orang-orang yang tidur di masjid untuk melaksanakan shalat seraya berkata: “Shalat, Allah akan merahmati kalian, bangunlah untuk melaksanakan shalat wajib”. Kemudian beliau membacakan ayat 45 dari surah al-Ankanbut: “<em>Sesungguhnya shalat akan mencegah kalian dari perbuatan keji dan munkar</em>”. Imam Ali As pun pada saat itu telah membangunkan orang yang akan membunuhnya, yaitu Abdurrahman bin Muljam yang tidur di masjid dan telah merencanakan pembunuhan terhadap beliau. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Setelah membangunkan orang-orang yang tidur di masjid lantas beliau pergi ke mihrab untuk melaksanakan shalat sunah. Si pembunuh, Abdurrahman bin Muljam dengan cepat telah mengambil shaf paling depan dalam barisan shalat berjamaah yang akan diimami oleh Imam Ali AS. Ia mengambil posisi tepat di depannya Imam Ali AS berdiri. Shalat berjamaah subuh pun telah dimulai, Abdurrahman bin Muljam sewaktu pelaksanaan shalat telah memasuki raka’at kedua dan Imam Ali telah mengangkat kepala beliau dari sujud pertama, lalu ia menghujamkan pedang beracunnya tepat mengenai kepala suci Imam Ali AS. <span> </span>Sewaktu pedang beracun mengenai kepala suci Imam Ali AS, Imam Ali AS mengucapkan: “<em>Dengan nama Allah, dan demi Allah, dan atas jalan Rasulullah, <u>sumpah demi Tuhan Ka’bah aku telah beruntung</u> (fuztu wa rabb al-ka’bah), ini adalah perkara yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya telah berkata benar</em>”. <span> </span>[Zainab Kubro az Wiladah ta Syahadah halaman 49-55]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sungguh sangat beruntung engkau wahai pemimpin orang-orang yang bertakwa, engkau terlahir di rumah Tuhan (Ka’bah), engkau dibesarkan di rumah utusan Tuhan, engkau syahid di rumah Tuhan (masjid) dan engkau syahid dengan bersumpah pada pemiliki Ka’bah: “<em>Fuztu wa Rabb al-Ka’bah</em>”, “Sumpah demi pemilik Ka’bah sesungguhnya aku telah beruntung”. Beginilah akhir kehidupan pemimpin para kaum mukmin dan ahli takwa ini. Ali bin Abi Thalib AS yang selama ini selalu dipropagandakan oleh Muawiyah bin Abi Shofyan di wilayah Syam sebagai manusia keji dan pelaku dosa, dengan cara meninggal yang indah (yaitu dalam keadaan sujud di hadapan kekasih sejatinya) dan di tempat yang indah (yaitu masjid tempat mengungkapkan kecintaan hamba kepada kekasih sejatinya, Allah) menyebabkan keheranan banyak penduduk Syam dan tersingkapnya kebohongan berita-berita buruk yang selama ini dibikin oleh Muawiyah bin Abi Sofyan terhadap pribadi suci Ali bin Abi Thalib AS. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[<strong>ED</strong> / Islamfeminis]</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/204/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/204/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/204/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=204&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/10/10/%e2%80%9csumpah-demi-pemilik-ka%e2%80%99bah-sungguh-aku-telah-beruntung%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/10/haji-kecil.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">haji-kecil.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ma, Apa itu Lailatul-Qadr?!</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/10/02/ma-apa-itu-malam-lailatul-qadr/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/10/02/ma-apa-itu-malam-lailatul-qadr/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Oct 2007 22:05:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/10/02/ma-apa-itu-malam-lailatul-qadr/</guid>
		<description><![CDATA[Setelah itu ia bilang ingin membaca al-Qur’an lebih dari biasanya, “Mama, malam ini aku ingin membaca al-Qur’an lebih dari biasanya, kalau biasanya sehari hanya baca 1 halaman, malam ini aku pengen baca al-Qur’an sebanyak 2 halaman biar dapat hadiah lebih banyak nanti di surga”, ujarnya dengan mata berbinar. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- Ma, Apa itu Lailatul-Qadr?! Sewaktu putri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=195&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/10/al-quran-turun.jpg" title="al-quran-turun.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/10/al-quran-turun.thumbnail.jpg?w=500" alt="al-quran-turun.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Setelah itu ia bilang ingin membaca al-Qur’an lebih dari<span>  </span>biasanya, “Mama, malam ini aku ingin membaca al-Qur’an lebih dari biasanya, kalau biasanya sehari hanya baca 1 halaman, malam ini aku pengen baca al-Qur’an sebanyak 2 halaman biar dapat hadiah lebih banyak nanti di surga”, ujarnya dengan mata berbinar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span id="more-195"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Ma, Apa itu Lailatul-Qadr?!</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sewaktu putri kecil kami pulang dari sekolah (kelas 1 SD), seusai menceritakan tentang sekolahnya ia bertanya: “Mama, ibu guru bilang, besok sekolahnya setelah zuhur. Alasannya katanya, malam ini adalah Lailatul-Qadr. Terus ibu guru juga bilang, bagi siapa yang memiliki jilbab berwarna hitam, sebaiknya besok mengenakan jilbab warna hitam. Emangnya besok ada peristiwa sedih apa mama, kok kita harus memakai jilbab warna hitam?”. <span> </span>Setelah menarik nafas panjang putriku kembali melanjutkan pertanyaannya: “Mama, apa sih Lailatul-Qadr itu? Dengan penuh semangat, ia kembali berkata: “Mama, Abah, tolong dong ceritakan kepadaku tentang Lailatul-Qadr!”, pintanya mendesak. <span> </span>Mendengar pertanyaannya kami tersenyum dan mengiyakan: “Ya sayang, nanti Mama dan Abah akan menceritakan kepada kamu tentang Lailatul-Qadr dan sebabnya kenapa besok sebaiknya kita mengenakan pakaian warna hitam”. (untuk masalah jilbab hitam, nanti akan kita kisahkan dalam tulisan selanjutnya)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Pada malam harinya tepatnya pada tanggal 19 Ramadhan kami menceritakan tentang Lailatul-Qadr dengan bahasa sesederhana mungkin yang sekiranya dapat dipahami oleh anak-anak. Putriku menanyakan tentang Lailatul-Qadr kepada kami berdua. Selain ia telah mendengarkan penjelasan dari Abahnya, juga dengan seksama putriku itu sudah siap mendengar penjelasan dari Mamanya. Kami mengatakan kepadanya: “Sayang, Lailatul-Qadr ialah malam yang sangat bagus, malam yang lebih baik dari seribu malam. Yang jatuh pada salah satu dari ketiga tanggal ini (tanggal 19, 21 dan 23 Ramadhan). Para malaikat pada  Lailatul-Qadr mendatangi kita, melihat prilaku kita. Mereka senang jika melihat kita menghabiskan Lailatul-Qadr dengan ibadah dan pernuatan baik lainnya. Mereka datang melihat kita, mereka datang untuk melihat amal kita dalam setahun. Putriku sayang,  Lailatul-Qadr malam yang sangat bagus sekali. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Jika kamu membaca al-Qur’an pada Lailatul-Qadr maka pahalanya di surga seperti membaca al-Qur’an seribu kali. Apabila kamu bersedekah 500 Real (mata uang Iran, kurang lebih 500 rupiah) pada malam ini sama halnya dengan<span>  </span>500 dikali seribu kali bersedekah. Apabila kamu sholat nafilah pada malam ini sama halnya dengan seribu kali sholat nafilah. Apabila kamu berbuat baik pada temanmu malam ini, sama halnya dengan seribu kali berbuat baik kepada temanmu. Apabila kamu bersholawat pada malam ini sama halnya dengan seribu kali bersholawat. Dan apabila&#8230;.dan apabila&#8230;”. Kami terus menjelaskan tentang keutamaan  Lailatul-Qadr kepada putri kami. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Tidak lama setelah itu, ada hal yang membuat kami terharu sewaktu menyaksikan prilaku putri kecil kami. Setelah mendengat cerita kami, ia berkata: “Mama, aku mau melaksanakan sholat malam ini, biar dapat hadiah di surga seribu kali. Mama, aku mau baca al-Qur’an lebih dari biasanya malam ini ya? Mama aku mau bersedekah, biar aku dapat hadiah di surga seribu kali. Mama zikir apa yang bisa dibaca malam ini?”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Ketika malam agak larut (sekitar pukul 24.00), putri kecilku dengan semangatnya dan penuh rasa bahagia ia melakukan berbagai ibadah. Pertama kali yang ia lakukan ialah memasukan uang ke dalam kotak sedekah keluarga yang sudah kita sediakan, sembari berkata; “Mama, aku mau memasukan uang ke dalam kotak sedekah ya?!”, tandasnya. “Ya sayang, tapi jangan lupa sebelumnya baca bismillah dan sholawat”, jawabku sembari tersenyum. Setelah itu ia bilang ingin membaca al-Qur’an lebih dari<span>  </span>biasanya, “Mama, malam ini aku ingin membaca al-Qur’an lebih dari biasanya, kalau biasanya sehari hanya baca 1 halaman, malam ini aku pengen baca al-Qur’an sebanyak 2 halaman biar dapat hadiah lebih banyak nanti di surga”, ujarnya dengan mata berbinar. “Ya, terserah kamu sayang, kalau kamu senang melakukannya, ya tidak apa-apa”, jawabku. Lantas ia melanjutkannya dengan melaksanakan sholat nafilah (sunnah), “Mama, aku mau melaksanakan sholat ya?!”. Di sela-sela sholat pun ia banyak membaca sholawat dan istighfar yang memang dianjurkan untuk dibaca pada malam ini. “Mama, zikir apa yang sebaiknya dibaca malam ini?, tanyanya kepadaku. “Bisa baca sholawat dan juga bisa baca istighfar, artinya kita minta maaf sama Allah swt biar kita tambah disayang sama Allah”, jawabku singkat. <span>   </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Perasaan bahagia memenuhi jiwa kami saat menyaksikan putri kecil kami melakukan ibadah dan kebaikan dengan penuh rasa suka, cinta dan dengan keinginannya sendiri. Kami memang selalu berusaha mengajak putri kecil kami sejak kecil (kurang lebih pada usia 3 tahunan) kepada kebaikan (baik berupa ibadah maupun prilaku terpuji) dengan penuh kasih sayang. Kisah-kisah akibat orang-orang yang baik dan yang buruk, pujian, hadiah&#8230;dan metoda lainnya pun kami sampaikan. Hal ini dapat kita lihat dalam berbagai hadis tentang metoda pendidikan anak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Pada malam itu lantas kami memberikan pujian kepadanya atas kebaikan-kebaikan yang ia lakukan, sehingga ia merasakan nikmat dan indahnya berbuat baik. Ia sekarang dapat memahami tentang malam Lailatul-Qadr, tentunya dengan kadar pemahamannya dalam usia kanak-kanak. Sebenarnya ia mengajak kami memenuhi malam Lailatul-Qadr dengan ibadah di masjid. Namun karena kondisi badan saya yang agak kurang sehat maka kami memutuskan untuk mengadakannya di rumah saja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Di Iran, biasanya, orang-orang menghabiskan malam Lailatul-Qadr (tanggal 19, 21, 23 Ramadhan) di berbagai tempat suci seperti masjid, mushola dan haram sayidah Fathimah Maksumah AS. Mereka pergi dengan membawa seluruh anggota keluarganya, baik bayi, anak-anak, remaja maupun dewasa. Para remaja putra dan putri banyak memenuhi tempat suci tersebut dengan tujuan menghabiskan malam Lailatul-Qadr dengan ibadah, hingga menjelang sahur. Karena banyaknya peminat yang ingin menghabiskan malam Lailatul-Qadr dengan ibadah maka pemerintah pun menyediakan sarana transportasi berupa bis dengan menambah jumlah armadanya agar masyarakat yang tidak memiliki kendaraan pribadi tidak bingung memikirkan transpotasi untuk pulang dari acara pada waktu sahur (pada waktu sahur tidak ada taksi) secara gratis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Biasanya acara malam Lailatul-Qadr dimulai sejak pukul 22.00 malam atau pukul 23.00 malam dan diakhiri menjelang sahur. Adapun agenda acaranya ialah;<span>  </span>pertama di isi dengan tadarusan satu juz al-Qur’an, ceramah agama (kurang lebih 1 jam), membaca doa Jausyan Kabir (doa yang berisikan 1000 nama-nama Allah, jumlahnya antara 13-14 halaman, jika dibaca kurang lebih menghabiskan waktu antara 1-2 jam tergantung sipembacanya), melaksanakan sholat nafilah (sendiri-sendiri, tidak berjamaah), zikir, dan sumpah dengan mengangkat al-Quran yang diletakkan di atas ubun-ubun kepala. Sedang jika pada tanggal 21 dan 23 diisi acara mengenang kesyahidan Imam Ali as yang syahid pada tanggal 21 Ramadhan. Setiap acara terdapat istirahat, bahkan sebagian membawa makanan ringan + minuman jika mengantuk atau lapar sembari istirahat dapat menyantapnya. Yang pasti, suasana spiritual, khusyuk menguasai tempat-tempat ibadah ini. Semua orang berdoa, merintih memohon ampunan dari Yang Maha Kuasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Malam Lailatul-Qadr sebagaimana yang telah dijelaskan dalam surah al-Qadr ialah malam yang penuh kemuliaan, malam yang penuh keutamaan dan malam yang lebih baik dari seribu bulan, “<em>Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. <span> </span>Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.</em> [QS al-Qadr: 1-5]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Hanya saja dari segi waktu, tidak diketahui secara pasti jatuhnya pada tanggal berapa? Ketidakjelasan malam Lailatul-Qadr bukanlah tanpa hikmah Tuhan. Ini merupakan salah satu rahasia Tuhan. Terdapat beberapa hadis yang menjelaskan tentang malam Lailatul-Qadr di antaranya; Syeikh al-Kulaini telah meriwayatkan dari Hassan bin Mahran bahwasanya ia telah bertanya kepada Imam Shadiq AS, beliau menjawab: “Carilah malam Lailatul-Qadr pada malam 21 atau 23 Ramadhan”. Namun dalam riwayat lain Zurarah telah meriwayatkan dari Imam Shadiq AS bahwasanya beliau bersabda: “Malam 19 merupakan waktu pengukuran (<em>taqdir</em>), malam 21 merupakan waktu penentuan (<em>ta’yin</em>) dan tanggal 23 sebagai waktu pemutusan (<em>khatm</em>)”. [Wasail asy-Syi’ah, jilid 7, bab hukum-hukum bulan Ramadhan dinukil dari Amuzesy Ulum Qur’ani halaman 21]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Diantara keberkahan lain yang dimiliki oleh malam Lailatul-Qadr ialah malam diturunkannya al-Qur’an sebagaimana yang dapat kita lihat dalam kedua ayat berikut ini: “<em>Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam al-Qadr”</em></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">. [</span><span>QS al-Qadr:1]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span>“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)&#8230;.”. </span></em><span>[QS al-Baqarah: 185]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Mungkin muncul pertanyaan dalam benak kita, bukankah al-Qur’an pertama kali diturunkan pada tanggal 27 Rajab pada pertama kali Rasulullah SAWW diangkat menjadi Nabi di gua Hira? Apakah tidak terjadi kontradiksi antara keduanya? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Berkaitan dengan hal ini terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama, di antaranya:</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span>Permulaan      turun al-Qur’an adalah pada malam Lailatul-Qadr.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Al-Qur’an      diturunkan pada malam Lailatul-Qadr untuk memenuhi kebutuhan selama      setahun. Setelah itu, lantas diturunkan secara berangsur dalam jedah waktu      setahun. [ Muhamad Hadi Makrifat, Amuzesy Qur’an, halaman23-24]</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Sebagian      berpendapat, sebagaimana dalam al-Qur’an menggunakan ungkapan ‘<em>tanziil</em>’      dan ‘<em>inzaal</em>’. Berdasarkan kedua istlah tersebut sebagian mengatakan      bahwa proses penurunan al-Qur’an menjalani dua proses; proses diturunkan      secara langsung secara keseluruhan (<em>daf’i</em>) dan secara      berangsur-angsur (<em>tadriji</em>). Berdasarkan prolog berikut ini yang      dimaksud dengan al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul-Qadr ialah      diturunkan langsung secara langsung dan keseluruhan (<em>daf’i</em>). Allamah      Tabataba’i dengan bersandarkan pada beberapa ayat berkenaan dengan      penurunan al-Qur’an secara keseluruhan ataupun berangsur-angsur      menjelaskan bahwa, hakikat al-Qur’an memiliki dua esensi; <u>esensi      pertama</u>, ia merupakan hakikat yang sederhana (<em>basith</em>) yang      padanya tidak terbagi-bagi (dalam bentuk surah-surah dan kalimat-kalimat)      dan tidak bercabang, berada di Lauh Mahfudz yang diturunkan langsung      secara keseluruhan kepada kalbu suci Nabi Muhamad SAWW. <u>Esensi kedua</u>,      ia merupakan hakikat yang terpisah-pisah, memiliki bagian-bagian dan      diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhamad SAW dalam jedah      waktu 23 tahun. [Mizan, jilid 2, halaman 16-17 dinukil dari Parsemon Ulum      Qur’an halaman 48] </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Namun, para ulama kontemporer lebih cenderung kepada pendapat ketiga, pendapat Allamah Thaba’thaba’i, karena argumennya yang begitu lebih kuat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Keutamaan lain yang dapat kita petik dari malam Lailatul-Qadr ialah karena berdasarkan beberapa riwayat malam Lailatul-Qadr sebagaimana dapat diketahui dari namanya merupakan malam penentuan nasib amal perbuatan manusia (qadr) selama setahun. Malam turunnya para malaikat untuk melihat amal perbuatan manusia. Maka sebaiknya pada malam-malam ini kita memohon kepada Yang Maha Kuasa dengan penuh kerendahan hati dan khusyuk untuk mengampuni dan menutupi segala kesalahan kita. Jangan lupa pada malam-malam inipun kita mendoakan para ulama, orang tua, saudara-saudara kita yang sakit ataupun yang memiliki kendala, yang terjajah seperti Palestina, Irak dan Afghanistan agar mereka segera bebas dari penjajah, dan saudara-saudara kita yang lalai akan kesalahannya agar sadar dan kembali keharibaan-Nya. Illahi Amiin<br />
[<strong>ED</strong> / islamfeminis] </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/195/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/195/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/195/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=195&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/10/02/ma-apa-itu-malam-lailatul-qadr/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/10/al-quran-turun.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">al-quran-turun.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Betapa Sensitifnya Masa Kehamilan…!</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/26/betapa-sensitifnya-masa-kehamilan%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/26/betapa-sensitifnya-masa-kehamilan%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Sep 2007 08:48:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi Keluarga & Pendidikan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/26/betapa-sensitifnya-masa-kehamilan%e2%80%a6/</guid>
		<description><![CDATA[“Apa rahasianya bu, kok anaknya doyan makan dan gemuk seperti ini?”. “Rahasianya ialah karena ketika saya sedang mengandungnya, saya selalu melaksanakan solat Tahajud agar anak saya suka makan”, jawabnya dengan penuh semangat. “Oh itu rahasianya”, gumanku pelan. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- Betapa Sensitifnya Masa Kehamilan…! Ketika saya berbincang-bincang dengan istri salah seorang diplomat di KBRI-Tehran dimana dengan semangatnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=192&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:12pt;line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/891523_water_lilly.jpg" title="891523_water_lilly.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/891523_water_lilly.thumbnail.jpg?w=500" alt="891523_water_lilly.jpg" /></a></p>
<p style="margin-bottom:12pt;line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>“Apa rahasianya bu, kok anaknya doyan makan dan gemuk seperti ini?”. “Rahasianya ialah karena ketika saya sedang mengandungnya, saya selalu melaksanakan solat Tahajud agar anak saya suka makan”, jawabnya dengan penuh semangat. “Oh itu rahasianya”, gumanku pelan.</span></p>
<p style="margin-bottom:12pt;line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span id="more-192"></span></p>
<p style="margin-bottom:12pt;line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p style="margin-bottom:12pt;line-height:150%;text-align:center;" class="MsoNormal" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Betapa Sensitifnya Masa Kehamilan…!</span></strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"></span></p>
<p style="margin-bottom:12pt;line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Ketika saya berbincang-bincang dengan istri salah seorang diplomat di KBRI-Tehran dimana dengan semangatnya ia menceritakan tentang putri kecilnya yang gemuk dan doyan makan sembari memperlihatkan photo imut-imutnya kepadaku. Melihat photo putrinya yang gemuk dan sehat dengan spontanitas saya bertanya kepadanya: “Apa rahasianya bu, kok anaknya doyan makan dan gemuk seperti ini?”. “Rahasianya ialah karena ketika saya sedang mengandungnya, saya selalu melaksanakan solat Tahajud agar anak saya suka makan”, jawabnya dengan penuh semangat. “Oh itu rahasianya”, gumanku pelan.</span></p>
<p style="margin-bottom:12pt;line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Di lain kesempatan salah seorang teman bercerita kepadaku tentang sebab anaknya yang cengeng, “Habis sewaktu saya sedang mengandungnya cengeng banget sih, ya akhirnya sekarang anakku cengeng juga”, katanya tersenyum sambil melirik ke arahku.</span></p>
<p style="margin-bottom:12pt;line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Tak kalah menarik ialah cerita salah satu dosenku tentang anaknya. Ketika beliau mengisi kuliah kami, disela-sela kuliah untuk sedikit refresing beliau bercerita: “Sewaktu saya mengandung anak pertama, saya sedang sibuk belajar mata kuliah Filsafat. Ternyata aktifitasku pada masa itu mempengaruhi anak dalam kandunganku. Tidak lama setelah anakku lahir dan tumbuh dengan sehat, pada saat itu ia kira-kira berusia antara empat atau lima tahunan, ia sangat ambisius menanyakan segala hal yang disaksikannya sampai-sampai saya sendiri kewalahan menjawabnya. Dengan gaya bahasanya ia bertanya: “Apa itu mama? Kenapa begitu mama? Apa sebabnya mama? Tuhan di mana mama? Tuhan bagaimana?&#8230;dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Ia selalu menanyakan tentang esensi segala sesuatu. Ketika saya mendengar berbagai pertanyaan yang sedikit berbau Filsafat telah dilontarkan anak pertamaku, saya sempat tersenyum dan berguman: “Oh mungkin ini dampak karena sewaktu saya mengandungnya sedang sibuk belajar mata kuliah Filsafat&#8230;”.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Terakhir kita beralih ke kisah seorang ulama besar yang bernama Allamah Majlisi pertama yang patut dipertimbangkan sebagai pelajaran kehidupan kita. Berawal dari di sebuah kota, ada seorang ulama besar alim dan saleh. Suatu hari, selepas melaksanakan shalat Jama’ah yang diimami oleh ulama itu sendiri, seorang makmum datang menghadapnya untuk mengadukan ihwal perilaku anaknya yang telah melubangi tempat airnya (tasyk) sehingga airnya habis. Setelah mendengar pengaduan tersebut, ulama besar itupun lantas bergegas kembali ke rumah dan bertanya pada istrinya; apa yang dilakukan semasa mengandung anaknya itu sehingga melakukan perbuatan yang tidak terpuji, ia mendesak, ”Wahai istriku, apa yang engkau lakukan ketika masa hamil sehingga anak kita melakukan perbuatan tercela, padahal aku senantiasa memberikan makanan yang halal kepadamu? Sang istri menjawab: “Aku tidak melakukan apa-apa”. Ulama itupun berkata lagi: “Coba engkau ingat-ingat kembali!”</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Sang istri berusaha mengingat-ngingat kembali, sampai akhirnya ia sadar akan suatu kejadian lalu berkata kepada suaminya: “Ya, aku ingat sekarang apa yang telah aku lakukan sehingga anakku melakukan perbuatan tercela ini. Suatu hari pada masa aku mengidam, aku lewat di sebuah gang. Di pinggir gang itu, ada sebuah pohon delima yang sebagian dahannya merunduk sampai ke gang. Melihat buah delima yang ada di pohon tersebut, belum lagi aku sedang mengidam, rasanya enak sekali kalau memakannya, kemudian aku mengambil penitik (jarum) dan menusukkannya kesalah satu buah delima. Setelah mendengar cerita tersebut, ulama itupun berkata: “Inilah perilakumu yang menyebabkan anak kita (Allamah Majlisi kedua) sampai melakukan perbuatan tercela. Dulu, kau menusuk buah delima dengan penitik, sekarang anak kita menusuk tempat air orang lain”.<a href="#_ftn1" name="_ftnref1" title="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span></span></span></a></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Beberapa kisah di atas merupakan gambaran tentang penting dan sensitifnya masa kehamilan. Kedua orang tua baik sang ayah maupun sang ibu hendaknya memberikan perhatian ekstra pada masa ini. Pada masa hamil yang dalam al-Qur’an fase-fase perkembangannya dimulai dari masa nutfah (gabungan sperma dan sel telur), gumpalan darah (<em>alaqah</em>), gumpalan daging (<em>Mudghah</em>), gumpalan tulang belulang (<em>i’dhomah</em>) lalu tulang belulang dibungkus dengan daging dan setelah itu menjadi janin yang telah sempurna dan ditiupkan padanya ruh, hal ini dapat kita lihat dalam al-Qur’an dimana Allah swt berfirman: “<em>Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.</em> <a href="#_ftn2" name="_ftnref2" title="_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span></span></span></a></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Masa kehamilan yang dimulai dari masa terbentuknya nutfah ibarat fase membuat adonan dalam pembikinan makanan atau lain sebagainya. Apabila jika bahan-bahan dan cara pengadonannya tidak bagus, terpolusi, kotor dan salah maka makanan yang dihasilkannyapun tidak akan bagus pula. Sperma yang dihasilkan harus dari sperma yang dihasilkan dari makanan yang halal dan suci, karena ia merupakan bahan untuk pembuatan anak. Setelah memasuki masa kehamilan yang paling berat dalam menjaga agar adonan atau janin tersebut sehat baik jasmani dan ruhani ialah seorang ibu yang mengandungnya. Sekalipun secara tidak langsung seorang ayah pun dapat memberikan pengaruh, namun pegaruhnya hanya saja secara tidak langsung, seperti ia harus memberikan nafkah kepada istrinya dari hal-hal yang suci dan halal, menjaga sikap agar seorang istri yang hamil dari sisi psikologis senantiasa dalam keadaan tenang dan tentram. <span></span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Segala yang dilakukan seorang ibu hamil sedikit banyak akan mempengaruhi janinnya. Sebagaimana jika seorang ibu hamil merokok, meminum minuman keras atau tidak memperhatikan semua vitamin yang dibutuhkan dalam pertumbuhan jasmani janin akan berakibat buruk terhadap kesehatan dan pertumbuhan janin. Maka apabila ia pun tidak memperhatikan hal-hal yang memberikan dampak terhadap perkembangan ruhani janin maka akan berakibat buruk terhadap perkembangan dan pertumbuhan kepribadian janin di masa yang akan datang. Apabila seorang ibu hamil misalkan, memakan makanan haram –misal minuman keras, narkoba, daging babi&#8230;dan lain-lain- ataupun yang dihasilkan dengan cara haram walaupun itu menurut kesehatan bersih dan sehat –misal membeli daging, tahu tempe dengan uang hasil mencuri, menipu, korupsi dan lain sebagainya- berarti ia telah mengotori dan meracuni janinnya sehingga menjadi terpolusi. Walaupun bukan mustahil dapat dibersihkan akan tetapi hal itu sangat sulit dibanding jika dari awal bahannya telah bersih. </span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Bukan hanya sekedar makanan atau minuman yang dapat mempengaruhi perkembangan jasmani dan ruhani seorang janin dalam rahim, karena memang makanan dan minuman janin tergantung kepada makanan dan minuman ibu yang mengandungnya. Akan tetapi dari sisi psikologis pun kejiwaan seorang ibu akan memberikan efek positif maupun negatif terhadap pertumbuhan jasmani dan ruhani janin yang dikandungnya. Oleh karena itu, kenapa seorang ibu hamil harus sangat berhati-hati dalam berprilaku dan sikap pada masa kehamilan, prilaku baik dan buruk sedikit banyak akan memberikan efek baik dan buruk pula terhadap janin dalam membentuk kepribadiannya di masa mendatang. Jika seorang ibu hamil berbuat tercela (dosa) secara tidak langsung ia telah mengotori janinnya. Sebaliknya jika ia tidak berbuat dosa atau melakukan kebaikan berarti ialah telah menjaga kesucian janinnya dan ini sangat berpengaruh dalam mempermudah mendidiknya menjadi anak yang sehat jasmani dan ruhaninya nanti. Atau singkatnya anak yang saleh yang akan menjadi perhiasan bagi kedua orang tua baik di dunia maupun di akhirat.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Menilik sangat sensitifnya masa kehamilan maka tidak salahlah jika berkaitan dengan hal ini Rasulullah saww bersabda: “<em>Orang bahagia ditentukan kebahagiaannya ketika ia masih diperut ibunya, dan orang sengsara ditentukan kesengsaraannya ketika dalam perut ibunya</em>”.<a href="#_ftn3" name="_ftnref3" title="_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span></span></span></a> </span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Jelasnya, hadis di atas tidak hendak menafikan usaha manusia itu dalam menentukan kebahagiaan dan kesengsaraannya sendiri, tapi ingin mengingatkan bahwa gerak-diam ibu pada masa-masa kehamilannya akan berdampak pada pembentukkan karakter anak yang dikandungnya, serta akan menjadi indikasi apakah karakter anak tersebut saleh atau bejat. Ibu mengandung tidak dapat berperilaku sesuka hati, karena hal ini tak ubahnya meracuni anak yang ada di dalam kandungannya. Disebabkan betapa urgennya masa kehamilan, seorang ibu agar berhati-hati dalam bersikap dan berprilaku dan dianjurkan agar selalu melakukan hal-hal yang baik serta positif dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah swt melalui zikir -selalu mengingat-Nya baik dalam hati maupun lisan- baca doa, al-Qur’an tentunya jika bisa dengan memahami artinya dan ibadah lainnya. Jika terbesit dalam dirinya untuk melakukan kesalahan maka sadarkanlah dirinya bahwa sekarang tidak sendiri lagi, ada jiwa lain yang selalu menyertainya. Ada makhluk lain yang akan menjadi harapannya, dimana perilaku baik dan buruknya akan mempengaruhi dalam membentuk kepribadiannya di masa mendatang. Jika seorang ibu hamil selalu berpikiran seperti ini maka ia akan selalu berusaha menjaga segala tindak tanduknya, karena manusia mana yang mengharapkan bagian jiwanya terlahir dalam keadaan cacat jasmani maupun ruhani.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Mungkin salah satu sebab kenapa korupsi di tanah air kita sulit untuk diberantas karena makanan yang diberikan kepada para janin berasal dari korupsi, baik itu korupsi kelas teri maupun kelas kakap. Bapaknya korupsi akhirnya anaknya pun korupsi., jiwa korupsi telah menyatu dalam jiwanya, sehingga nuraninya telah tertutup untuk merasakan kepedihan rakyat yang hartanya telah dikorupsi.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Mudah-mudahan para ibu hamil selain akan diberi balasan dalam menghadapi masa-masa sulit kehamilan, juga akan senantiasa diberi pertolongan oleh Allah swt untuk menjalankan tugas berat ini dengan sebaik mungkin. InsyaAllah </span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span><span></span>[<strong>ED </strong>/ Islam Feminis]</span></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />&lt;!&#8211;[endif]&#8211;&gt;</p>
<p class="MsoFootnoteText"><a href="#_ftnref1" name="_ftn1" title="_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span></span></span></a> <span>Berbagai kisah tentang pendidikan anak</span></p>
<p class="MsoFootnoteText"><a href="#_ftnref2" name="_ftn2" title="_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span></span></span></a> QS al-Mu’minun : 13-14</p>
<p class="MsoFootnoteText"><a href="#_ftnref3" name="_ftn3" title="_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span></span></span></a> <span>Kanzul Ummal, hadis no. 490</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/192/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/192/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/192/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/192/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/192/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=192&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/26/betapa-sensitifnya-masa-kehamilan%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/891523_water_lilly.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">891523_water_lilly.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Andai Mereka Tahu Keutamaan Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/24/keutamaan-bulan-ramadhan/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/24/keutamaan-bulan-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Sep 2007 07:47:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/24/keutamaan-bulan-ramadhan/</guid>
		<description><![CDATA[“Andaikan seorang hamba mengetahui keutamaan bulan Ramadhan maka ia akan selalu mengharapkan dalam setahun seluruhnya ialah bulan Ramadhan”. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- Keutamaan Bulan Ramadhan Nabi Muhamad saww bersabda: “”Bulan ini dinamakan Ramadhan karena membakar dosa-dosa”.[1] [Muntakhab-Mizan al-Hikmah, halaman 168]. Nabi Muhamad saww bersabda: “Sesungguhnya pintu-pintu langit terbuka diawal bulan Ramadhan dan tidak ditutup hingga akhir bulan Ramadhan”. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=191&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"> <a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/10/ramadhan.jpg" title="ramadhan.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/10/ramadhan.thumbnail.jpg?w=500" alt="ramadhan.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">“Andaikan seorang hamba mengetahui keutamaan bulan Ramadhan maka ia akan selalu mengharapkan dalam setahun seluruhnya ialah bulan Ramadhan”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span id="more-191"></span><br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Keutamaan Bulan Ramadhan</span></strong></p>
<ul>
<li class="MsoNormal">Nabi Muhamad saww bersabda: “”Bulan ini dinamakan      Ramadhan karena membakar dosa-dosa”.<a href="#_ftn1" title="_ftnref1" name="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a>      [Muntakhab-Mizan al-Hikmah, halaman 168].</li>
<li class="MsoNormal">Nabi Muhamad saww bersabda: “Sesungguhnya pintu-pintu      langit terbuka diawal bulan Ramadhan dan tidak ditutup hingga akhir bulan      Ramadhan”. [Muntakhab-Mizan al-Hikmah, halaman 168].</li>
<li class="MsoNormal">Nabi Muhamad saww bersabda: “Andaikan seorang hamba      mengetahui keutamaan bulan Ramadhan maka ia akan selalu mengharapkan dalam      setahun seluruhnya ialah bulan Ramadhan”. [Muntakhab-Mizan al-Hikmah,      halaman 168].</li>
<li class="MsoNormal">Nabi Muhamad saww bersabda: “Ketika bulan Ramadhan      tiba pintu-pintu neraka akan tertutup, pintu-pintu surga akan terbuka dan      para Setan akan dirantai”. [Muntakhab-Mizan al-Hikmah, halaman 168]</li>
<li class="MsoNormal">Imam Ali as bersabda: “Sesungguhnya pada suatu hari      Rasulullah saww dalam khutbahnya bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya      bulan berkah, rahmat dan bulan ampunan telah mendatangi kalian. Yaitu bulan yang      paling utama di sisi Allah swt, hari-harinya ialah hari-hari yang paling      utama, seluruh malamnya ialah malam-malam paling utama, seluruh waktunya ialah      waktu-waktu yang paling utama, pada bulan ini kalian telah diundang dalam      jamuan Allah swt, dan kalian telah dijadikan pada bulan ini sebagai      orang-orang yang mulia, seluruh nafas kalian pada bulan ini ialah tasbih,      tidur kalian padanya ialah ibadah, amal perbuatan kalian pada bulan ini akan diterima, dan doa kalian pada bulan ini akan dikabulkan”. Imam Ali      as melanjutkan, aku berdiri dan bertanya: “Wahai Rasulullah! Apakah amal      perbuatan yang paling utama di bulan ini? Beliau menjawab: “Wahai Abul      Hasan! Amal perbuatan yang paling utama pada bulan ini ialah menjaga diri      dari hal-hal yang diharamkan Allah swt”. [Muntakhab-Mizan al-Hikmah,      halaman 168].</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"> [<strong>ED</strong> / Islam Feminis]</p>
<p><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />  <!--[endif]--></p>
<p class="MsoFootnoteText"><a href="#_ftnref1" title="_ftn1" name="_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Ramadhan berasal dari akar suku kata ‘Ramadha-Yarmadhu’ yang artinya membakar atau menghanguskan.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/191/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/191/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/191/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=191&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/24/keutamaan-bulan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/10/ramadhan.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ramadhan.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hawa Penyebab Keluarnya Adam dari Sorga? (Bag-2)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/22/hawa-penyebab-keluarnya-adam-dari-sorga-bag-2/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/22/hawa-penyebab-keluarnya-adam-dari-sorga-bag-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Sep 2007 02:01:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/22/hawa-penyebab-keluarnya-adam-dari-sorga-bag-2/</guid>
		<description><![CDATA[  Ketika saya membuka-buka kembali kitab suci al-Quran, mata saya tertuju pada surat al-A’raf ayat 27 dimana dengan sangat gamblang menjelaskan tentang hal ini. Dalam ayat ini, Allah swt mengatakan bahwa Setan-lah yang telah mengeluarkan Adam dan Hawa dari surga. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- Hawa Penyebab Keluarnya Adam dari Sorga? (Bag-2) (Argumen Teks Penguat Terakhir) &#160; Namun begitulah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=190&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> <a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/09/crystalquran.jpg" title="crystalquran.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/09/crystalquran.thumbnail.jpg?w=500" alt="crystalquran.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ketika saya membuka-buka<span>  </span>kembali kitab suci al-Quran, mata saya tertuju pada surat al-A’raf ayat 27 dimana dengan sangat gamblang menjelaskan tentang hal ini. Dalam ayat ini, Allah swt mengatakan bahwa Setan-lah yang telah mengeluarkan Adam dan Hawa dari surga.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> <span id="more-190"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;">Hawa Penyebab Keluarnya Adam dari Sorga? (Bag-2)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">(Argumen Teks Penguat Terakhir)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Namun begitulah kenyataannya di berbagai ayat-ayat suci al-Quran, pedoman primer orang yang mengaku sebagai muslim. Sepintas, sepertinya saya ini sangat berambisius sekali mengafirmasikan bahwa bukanlah Hawa yang telah membuat Nabi Adam as terusir dari surga, seperti mitos yang kita dengar selama ini. Mitos yang tidak bersumber dari sumber-sumber primer dan sekunder kaum muslimin yang dapat dipertangggungjawabkan melalui jalur ilmiah. Sebagaimana pada artikel-artikel sebelumnya, kita telah membahas tentang tema ini dengan melihat pandangan al-Qur’an dan kitab Perjanjian Lama dengan membuat perbandingan di antara keduanya. Konklusi dari kajian komparatif antara kedua kitab suci ini ialah bahwa dalam kitab Perjanjian Lama, Hawa (Eva) sebagai penyebab terusirnya Nabi Adam as dari surga. Sedang kitab suci al-Qur’an dengan tegas telah menafikan hal itu, dan menganggap Setan sebagai penyebab terusirnya mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Ketika saya membuka-buka <span> </span>kembali kitab suci al-Quran, mata saya tertuju pada surat al-A’raf ayat 27 dimana dengan sangat gamblang menjelaskan tentang hal ini. Dalam ayat ini, Allah swt mengatakan bahwa Setanlah yang telah mengeluarkan Adam dan Hawa dari surga; “<em>Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia Telah <strong>mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga</strong>, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya &#8216;auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya kami Telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman”.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Al-Qur’an dengan sangat jelas mengatakan bahwa Setan-lah yang telah mengeluarkan ibu-bapa manusia yakni Adam as (dan Hawa) dari surga, bukan Hawa, ibu kaum manusia. Dan ketika kita dapati beberapa hadis-hadis –yang tidak ada jaminan kebenaran dan keterjagaannya dari pendustaan- yang sebagai sumber sekunder (pasca al-Quran) yang bertentangan dengan al-Quran yang dijamin keotentikannya dan keterjagaannya dari pendustaan, maka saya kira sepakat semua kelompok muslimin dalam menindaklanjuti hadis-hadis israiliyat semacam itu, membuangnya jauh-jauh dari ensiklopedia hadis Nabi saww.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>(ED)</strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/190/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/190/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/190/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=190&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/22/hawa-penyebab-keluarnya-adam-dari-sorga-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/09/crystalquran.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">crystalquran.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Biografi Singkat Sayidah Fathimah Maksumah as</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/19/biografi-singkat-sayidah-fathimah-maksumah-as/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/19/biografi-singkat-sayidah-fathimah-maksumah-as/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Sep 2007 08:17:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/19/biografi-singkat-sayidah-fathimah-maksumah-as/</guid>
		<description><![CDATA[   Sayidah Maksumah as merupakan salah satu putri Imam Kazim as dan saudari Imam Ridho as. Beliau terkenal dengan kemuliaan, terpuji, ahli ibadah, memiliki kedudukan tinggi dan sangat bertakwa. Penulis kitab ‘Nasikh-Tawarikh’ dalam menggambar kedudukan beliau mengatakan bahwasanya beliau sebagai kekasih Allah swt (waliyatullah), manusia suci, ahli ibadah, seorang yang zuhud dan sangat bertakwa. Beliau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=188&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/09/makam-sayidah-fathimah-maksumah.jpg" title="makam-sayidah-fathimah-maksumah.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/09/makam-sayidah-fathimah-maksumah.thumbnail.jpg?w=500" alt="makam-sayidah-fathimah-maksumah.jpg" /></a>   <a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/10/kubah-emas-maksumah.jpg" title="kubah-emas-maksumah.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/10/kubah-emas-maksumah.thumbnail.jpg?w=500" alt="kubah-emas-maksumah.jpg" /></a></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal">Sayidah Maksumah as merupakan salah satu putri Imam Kazim as dan saudari Imam Ridho as. Beliau terkenal dengan kemuliaan, terpuji, ahli ibadah, memiliki kedudukan tinggi dan sangat bertakwa. Penulis kitab ‘Nasikh-Tawarikh’ dalam menggambar kedudukan beliau mengatakan bahwasanya beliau sebagai kekasih Allah swt (<em>waliyatullah</em>), manusia suci, ahli ibadah, seorang yang zuhud dan sangat bertakwa. Beliau memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah swt. Abul-Qasim dalam karyanya mengatakan bahwa di antara para putri Imam Kazim as hanyalah Sayidah Fathimah yang bergelar Maksumah (suci dari dosa dan kesalahan). Begitupula Syeikh Abbas Qummi dalam salah satu karyanya menyatakan bahwa berdasarkan sumber yang sampai kepada kita, Sayidah Maksumah merupakan putri termulia di antara para putri Imam Kazim as.</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span id="more-188"></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:center;" class="MsoNormal" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Biografi Singkat Sayidah Fathimah Maksumah as</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:center;" class="MsoNormal" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">(</span><span>Putri Imam Musa Kadzim as</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">) </span></p>
<p style="line-height:150%;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"><span></span></span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"></span></p>
<p style="line-height:150%;" class="MsoNormal"><strong><span></span></strong></p>
<p style="line-height:150%;" class="MsoBodyText2">&nbsp;</p>
<p style="line-height:150%;" class="MsoBodyText2"><strong><span>Mukaddimah<span> </span></span></strong><br />
<span>Ziarah kubur merupakan salah satu perjalanan spiritual manusia menuju Allah swt. Terutama, ketika yang diziarahi tersebut adalah pribadi yang memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah swt. Namun, di satu sisi kita tidak akan merasakan kekhusukan dan hubungan ruhani dengan pribadi yang kita ziarahi, jika tidak mengenal sisi kehidupan, kepribadian dan kedudukannya di sisi Allah swt. Semoga tulisan ringkas ini, dapat membantu para penziarah untuk dapat mencapai kekhusukan dalam berziarah. </span></p>
<p style="line-height:150%;" class="MsoBodyText2">&nbsp;</p>
<p style="line-height:150%;" class="MsoBodyText2"><strong>Biografi</strong></p>
<p style="line-height:150%;" class="MsoBodyText2"><span>Nama: Fathimah Kubro</span></p>
<p style="line-height:150%;" class="MsoBodyText2"><span>Gelar: Maksumah dan Karimah Ahlu-Bayt</span></p>
<p style="line-height:150%;" class="MsoBodyText2"><span>Nama ayah: Musa bin Jakfar (Imam ke-7)</span></p>
<p style="line-height:150%;" class="MsoBodyText2"><span>Nama ibu: Najmah Khatun</span></p>
<p style="line-height:150%;" class="MsoBodyText2"><span>Tempat lahir: Madinah</span></p>
<p style="line-height:150%;" class="MsoBodyText2"><span>Tanggal lahir: Satu Dzulqaidah 173 HQ (berdasarkan pendapat masyhur), dan wafat pada tanggal 10 Rabi’ ats-Tsani 201 HQ (usia beliau ketika wafat adalah dua puluh delapan tahun). Berdasarkan pendapat masyhur beliau meninggal karena diracun.<a href="#_ftn1" name="_ftnref1" title="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a></span></p>
<p style="line-height:150%;" class="MsoBodyText2"><span>Sayidah Maksumah as merupakan salah satu putri Imam Kazim as dan saudari Imam Ridho as. Beliau terkenal dengan kemuliaan, terpuji, ahli ibadah, memiliki kedudukan tinggi dan sangat bertakwa. Penulis kitab ‘Nasikh-Tawarikh’ dalam menggambar kedudukan beliau mengatakan bahwasanya beliau sebagai kekasih Allah swt (<em>waliyatullah</em>), manusia suci, ahli ibadah, seorang yang zuhud dan sangat bertakwa. Beliau memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah swt. Abul-Qasim dalam karyanya mengatakan bahwa di antara para putri Imam Kazim as hanyalah Sayidah Fathimah yang bergelar Maksumah (suci dari dosa dan kesalahan). Begitupula Syeikh Abbas Qummi dalam salah satu karyanya menyatakan bahwa berdasarkan sumber yang sampai kepada kita, Sayidah Maksumah merupakan putri termulia di antara para putri Imam Kazim as. Kuburan beliau merupakan tempat berteduhnya para pendoa, dan kelahiran serta kedudukan mulia beliau telah disampaikan oleh Imam Shadiq as beberapa tahun sebelum kelahirannya.</span></p>
<p style="line-height:150%;" class="MsoBodyText2">&nbsp;</p>
<p style="line-height:150%;" class="MsoBodyText2">&nbsp;</p>
<p style="line-height:150%;" class="MsoBodyText2"><strong><span>Masuknya Sayidah Maksumah ke kota suci Qom</span></strong><br />
<span>Allamah Majlisi berkaitan dengan sejarah kota Qom yang telah dinukil dari para ulama Qom menukil bahwa pada Tahun 200 HQ Imam Ridho as dengan undangan -undangan paksaan, hal ini dapat dilihat dalam sejarah kehidupan Imam Ridho as, dimana orang yang telah meracun Imam Ridho as hingga syahid ialah Makmun Abbasy salah satu khalifah Abassiyah- Makmun Abbasy mendatangi kota Khurasan. Setahun setelahnya, saudari beliau, Sayidah Maksumah as karena rasa rindu yang sangat terhadap kakaknya lantas menyusulnya. Namun, ketika perjalanan Sayidah Maksumah as baru sampai di kota Soweh, beliau jatuh sakit. Sewaktu beliau menyaksikan kondisinya yang buruk, lantas menanyakan kepada rombongan tentang jarak antara Soweh dan Qom.<a href="#_ftn2" name="_ftnref2" title="_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a>Mereka memberitahukan kepada beliau bahwa jaraknya sangat dekat, yaitu kurang lebih 8 Farsakh. Setelah mendengar hal itu, kemudian Sayidah Maksumah meminta kepada rombongan untuk pergi ke Qom dan menjadikannya sebagai tempat tinggal. Sewaktu para putra Sa’ad Asy’ari yang terkenal sebagai pengikut setia para Imam as (para Syi’ah yang setia) mendengar berita kedatangan beliau di kota Soweh, lantas mereka pergi untuk menyambut kedatangannya dan setelah itu membawa beliau ke kota Qom. Di kota Qom Sayidah Maksumah tinggal di rumah Musa bin Khazraj bin Asy’ari. Tidak lama setelah itu, yakni kira-kira setelah 16 atau 17 hari tinggal di kota Qom lantas beliau meninggal dunia menemui kekasih Sejatinya.</span></p>
<p style="line-height:150%;" class="MsoBodyText2"><span>Penulis kitab ‘Tarikh Qom’ mengatakan: “Husein bin Ali bin Bobawaeh telah memberitahukan kepadaku bahwa Muhamad bin Hasan bin Walid berkata: “Sewaktu Sayidah Maksumah as wafat, lantas mereka memandikan dan mengakafani jasad sucinya, setelah itu diletakan di sebuah tempat di bawah tanah yang telah digali sebelumnya dan disediakan untuk kuburan Sayidah Maksumah as. Kemudian keluarga Sa’ad bermusyawarah barang sebentar untuk menentukan siapakah orang yang memiliki kelayakan dalam meletakan jenazah Sayidah Maksumah as ke kuburannya. Akhirnya mereka bersepakat agar jenazahnya diletakkan oleh pelayannya yang bernama Qadir, seorang kakek tua namun terkenal dengan <span></span>kealiman dan kesalehannya. Namun sebelum Qadir tiba, tiba-tiba mereka menyaksikan dua orang menunggang kuda datang dengan cepat menghampiri jenazah Sayidah Maksumah as, lantas mereka turun dari kuda, melakukan solat jenazah dan menguburkan jenazah Sayidah Maksumah di tempat yang telah disediakan di bawah tanah. Seusai itu, kemudian mereka keluar dari bawah tanah dan menunggangi kuda serta pergi dengan cepat tanpa ada seorangpun yang hadir mengenalnya siapakah kedua orang tak dikenal itu? Imam Hasan as dan Imam Husein as kah?, Imam Kazim as atau Imam Ridho as kah? Hanya Allah swt saja yang mengetahuinya”.<a href="#_ftn3" name="_ftnref3" title="_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a></span></p>
<p style="line-height:150%;" class="MsoBodyText2">&nbsp;</p>
<p style="line-height:150%;" class="MsoBodyText2">&nbsp;</p>
<p style="line-height:150%;" class="MsoBodyText2"><strong><span>Keutamaan Ziarah Makam Sayidah Fathimah Maksumah as</span></strong><span></span></p>
<ul>
<li>Telah diriwayatkan dari Imam Shadiq as (Imam ke-6), bahwa beliau berkata : “Allah swt memiliki Haram untuk dirinya, yaitu Mekkah Mukarramah. Begitupula Nabi Muhammad saww memiliki Haram, yaitu Madinah.Imam Ali as pun memiliki Haram, yaitu Kufah (sekarang namanya Najaf), dan kami semuapun memiliki Haram yaitu Qom. Tidak akan lama lagi, perempuan agung dari keturunan kami akan dimakamkan di tempat tersebut. Barang siapa yang menziarahi makamnya, maka pahala surga atasnya”.&lt;!&#8211;[if !supportFootnotes]&#8211;&gt;<span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[4]</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Syeikh Shaduq dalam kitabnya “Tsawabu al-A’mal” telah menukil dari Imam Ridha as (Imam ke-8) bahwa perawi hadis tersebut telah menanyakan tentang kedudukan Sayidah Maksumah kepada Imam Ridha as. Beliau berkata: “Barang siapa yang menziarahi makamnya, maka pahala surga atasnya”.<a href="#_ftn5" name="_ftnref5" title="_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a> </span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Telah diriwayatkan dari Allamah Majlisi, dimana beliau telah menukilnya dari Ali bin Ibrahim dari ayahnya Sa’ad Asy’ari Qumi, dari Imam Ridha as. Imam Ridha as berkata : “Wahai Sa’ad! Makam kami terdapat pada kalian. Sa’ad berkata: “Wahai yang jiwaku sebagai tebusannya, apakah yang dimaksud tuan adalah makam Fathimah putri Imam Musa bin Jakfar (Imam Musa Kadzim)? Imam Ridha as menjawab : “Ya, barang siapa yang menziarahinya dengan pengenalan atas kedudukanya, maka pahala surga atasnya”.<a href="#_ftn6" name="_ftnref6" title="_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a> </span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"></span></span></span><span dir="ltr"><span>Dalam kitab <em>Kamil al-Ziarah</em> telah dinukil bahwa Imam Jawad as (imam ke-9) telah berkata : “Barang siapa yang menziarahi makam bibiku, maka pahala surga atasnya”.<span> </span><a href="#_ftn7" name="_ftnref7" title="_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a></span></span><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"></span></strong></li>
</ul>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>Beberapa Keramat Sayidah Fathimah Maksumah as</span></strong><br />
<span><span></span>Sebenarnya, banyak sekali kisah yang akurat tentang orang-orang yang telah mendapatkan syafa’at beliau. Baik pengkabulan hajat, penyembuhan orang-orang yang sakit dan lainnya. Demi menjaga keringkasan, di sini hanya akan menyebutkan dua cerita saja:</span> <span></span></p>
<ul>
<li><span>Almarhum Ayatullah Mar’asyi Najafi (salah satu marja besar dimasanya, yang memiliki salah satu perpustakaan terbesar di Iran. Perpustakaan beliau terletak tidak jauh dari makam Sayidah Maksumah as) telah menukil: Ayahku, almarhum Ayatullah Sayid Mahmud Mar’asyi, tinggal di kota Najaf (salah satu kota di Irak). Beliau sangat bersemangat untuk dapat menemukan makam neneknya, Sayidah Fathimah Zahro (as) melalui melakukan beberapa amalan. Untuk mencapai tujuannya, lantas beliau menyelesaikan amalan-amalan tertentu selama 40 hari berturut-turut, dengan berharap, melalui pelaksanaan amalan tersebut beliau dapat mengetahui makam Sayidah Fathimah az-Zahra (as). Pada malam ke-40, selepas menyelesaikan amalan dan bertawasul yang banyak, lantas<span> </span>beliau tertidur. Di alam mimpi beliau bertemu dengan Imam Baqir (as) atau Imam Shadiq (as), kemudian Imam berkata kepadanya: “<em>Alaika bi Karimati Ahli Bayt </em>(berpegang teguhlah kepada Karimah Ahlu Bayt)”. Ayahku mengira, maksud dari <em>karimah ahlu-bayt</em> adalah Sayidah Fathimah Zahro (as). Lalu beliau berkata: “Ya, wahai yang jiwaku sebagai tebusannya! Aku telah melakukan semua amalan ini adalah supaya dapat mengetahui dengan jelas kuburannya, sehingga aku dapat menziarahinya”. Kemudian Imam (as) berkata: “Maksudku, makamnya Sayidah Maksumah di Qom”. Imam melanjutkan perkataannya: “Demi kemaslahatan, Allah swt menghendaki kuburan beliau tetap menjadi misteri bagi semuanya. Oleh karena itu, Tuhan telah menetapkan makam Sayidah Maksumah sebagai perwujudan makam Sayidah Fathimah Zahro (as), dan Dia pun menjadikan makamnya semegah dan seagung makam Sayidah Fathimah Zahro (as)”. <span></span><span></span>Setelah mimpi itu, lantas ayahku bertekad berhijrah ke Qom bersama anggota keluarganya, agar selalu dapat menziarahi makam Sayidah Maksumah as.</span><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"></span></strong></li>
<li class="MsoNormal"><span>Kisah ini dinukil secara mutawatir, bahwa seorang yang berkhidmat –menjadi pelayan- di makam Sayidah Maksumah, yang bernama Mirza Asadullah terkena penyakit lumpuh. Dimana kakinya tidak berasa dan lumpuh, dan semua jemari kakinya menjadi berwarna hitam. Sementara tidak ada satupun dokter yang sanggup untuk menyembuhkannya, bahkan mereka sepakat untuk mengamputasi kakinya. Sehari sebelum waktu pengamputasian, Asadullah berkata pada dirinya: “Jika memang besok hari kakiku harus di amputasi, sebaiknya malam ini aku tinggal di haram (makam) Sayidah Maksumah as dan bertawasul –menjadikan beliau sebagai perantara agar Allah swt menyembuhkan penyakitnya. pen- kepadanya”. Lantas setelah itu, seseorang membawanya ke haram Sayidah Maksumah as. Ketika tengah malam tiba, dimana waktunya Haram ditutup, Asadullah meletakan dirinya di kaki kuburan Sayidah Maksumah as. Ia mengadukan semua penyakitnya kepada Sayidah Maksumah as, dan memohon kepadanya supaya beliau memohonkan kepada Allah swt agar penyakitnya dapat disembuhkan. Ia berdoa, bertawasul dan merintih sampai pagi. Di saat pagi masih gelap, tiba-tiba para pelayan (pengkhidmat) Haram mendengar suara jalan Asadullah dari balik pintu dan seraya berteriak: “Tolong Buka pintu, Allah swt telah mengasihiku, dengan syafa’at Sayidah Maksumah as penyakitku telah sembuh”. Lantas mereka membukakan pintu, dan mereka pun melihat Asadullah dalam keadaan senang, serta penyakitnya telah sembuh. Kemudian Asadullah menceritakan peristiwa tersebut: “Seorang perempuan agung telah mendatangiku, sambil berkata: “Ada apa?” saya menjawab: “Penyakit telah menyebabkan kakiku lumpuh, aku memohon kepada Allah swt, hidup atau mati”. Lalu perempuan agung tersebut, mengusapkan beberapa kali ujung kerudungnya ke kakiku, seraya berkata: “Allah swt telah menyembuhkanmu”. Setelah itu aku merasakan kakiku sudah sembuh, dan sama sekali tidak merasakan sakit apapun. Kemudian aku bertanya kepada perempuan agung tersebut: “Siapakah anda?” beliau menjawab: “Apakah kamu tidak mengenalku! Padahal engkau adalah penghidmat di tempatku ini, aku adalah Fathimah binti Musa bin Jakfar (Sayidah Fathimah Maksumah as)”.<a href="#_ftn8" name="_ftnref8" title="_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a> <span></span><span></span></span><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"></span></strong></li>
</ul>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>Tata</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span>Cara</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span>dan Adab</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><strong><span>Berziarah</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"></span></strong></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span>Membaca doa masuk berikut ini :</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Menghadap kiblat ketika telah sampai di makam Sayidah Maksumah. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Membaca Tasbih Zahra (<em>Allahu Akbar 34x, Alhamdulillah 33x, dan Subhanallah 33x</em>)<em>.</em></span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Membaca doa Ziarah berikut ini :</span></li>
</ol>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoBodyText"><em><span>Salam sejahtera atas Adam as, manusia pilihan Allah swt. Salam sejahtera atas Nuh as, sebagai nabi Allah swt. Salam sejatera atas Ibrahim as, manusia pilihan Allah swt. Salam sejahtera atas Musa as, kalimullah (obyek perkataan Allah swt). Salam sejahtera atas Isa as, Ruh Allah swt. Salam sejahtera atas-mu wahai Rasulullah saww, salam sejahtera atas-mu wahai sebaik-baiknya makhluk Allah swt, salam sejahtera atas-mu wahai manusia pilihan Allah swt, salam sejahtera atas-mu wahai Muhammad bin Abdullah, penutup para nabi.</span></em></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoBodyText"><em><span>Salam sejahtera atas-mu wahai Amirulmukminin Ali bin Abu Thalib as, sebagai pengganti Rasulullah saww. Salam sejahtera atas-mu Wahai Fathimah as, penghulu para wanita seluruh alam. Salam sejahtera atas engkau sekalian, wahai cucu Rasulullah saww (Imam Hasan as dan Imam Husain as). Salam sejahtera atas-mu, wahai Ali bin Husain as, penghulu orang-orang yang beribadah dan cahaya mata bagi orang-orang yang melihatnya. Salam sejahtera atas-mu wahai Muhammad bin Ali as, pembelah ilmu pasca Rasulullah saww. Salam sejahtera atas-mu wahai Jakfar bin Muhammad as, yang sangat benar perkataannya, yang sangat baik dan<span> </span>terpercaya. </span></em></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoBodyText"><em><span>Salam atas-mu wahai Musa bin Jakfar as, yang suci dan disucikan. Salam sejahtera atas-mu wahai Ali bin Musa as, yang meridhai dan diridhai. Salam sejahtera atas-mu wahai Muhammad bin Ali as, yang yang suci. Salam sejahtera atasmu wahai Ali bin Muhammad as, yang suci, penasehat dan yang terpercaya. Salam sejatera atas-mu wahai Hasan bin Ali as, dan salam sejahtera atas penggantinya setelahnya. Ya Allah, curahkanlah salam sejahtera atas cahaya-Mu, pelita-Mu, wali kekasih-Mu, penerus washi-Mu (Nabi Muhammad), dan bukti bagi seluruh makhluk-Mu. Salam sejahtera atas-mu, wahai putri Rasulullah saww. Salam sejahtera atas-mu, wahai putri Fathimah as dan Khadijah as. Salam sejahtera atasmu, wahai putri Amirulmukminin as.</span></em></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoBodyText"><em><span>Salam sejahtera atas-mu, wahai putri Hasan as dan Husain as. Salam sejahtera atas-mu, wahai putri kekasih Allah swt. Salam sejahtera atas-mu, wahai saudari kekasih Allah swt. Salam sejahtera atas-mu, wahai bibi kekasih Allah swt. Salam sejahtera atas-mu, wahai putri Musa bin Jakfar as, semoga salam dan berkah senantiasa dicurahkan atasnya. Salam sejahtera atas-mu, Allah swt hendak memperkenalkan antara engkau dan kami kelak di surga, membangkitkan kami dibarisan-mu, memasukkan kami ke telaga-mu, dan memberi kami air dengan menggunakan cawan kakek-mu Rasulullah saww melalui tangan Ali bin Abu Thalib as -semoga shalawat Allah swt senantiasa tercurahkan atas engkau sekalian-diriku memohon kepada Allah swt untuk <span></span>menunjukkan kegembiraan dan kelapangan-mu kepada kami, mengumpulkan kami dan engkau sekalian berada pada barisan kakek-mu, Nabi Muhammad saww, untuk tidak mencabut dari kami <span></span>pengenalan terhadap-mu, sesungguhnya Dia adalah pemilik kekuatan. </span></em></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoBodyText"><em><span>Aku mendekatkan diri kepada Allah swt dengan cara mencintai-mu, dengan berlepas tangan dari semua musuh-mu. Aku Menerima (semua perintah Allah swt) atas dasar kerelaan, bukan atas dasar penolakan dan kesombongan. Aku meyakini segala apa yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad saww, dengan penuh kerelaan. Dan dengan segala (keyakinan-ku itu), aku menginginkan diri-Mu, wahai junjungan-ku! Ya Allah! Hamba memohon keridhoan-Mu dan kehidupan akhirat. Wahai junjungan-ku Sayidah Maksumah! Syafa’atilah diri-ku di surga, karena engkau memiliki kedudukan yang sangat agung di sisi Allah swt. </span></em></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoBodyText"><span><em>Ya Allah! Hamba memohon kepada-Mu, akhirilah (kehidupan)-ku dengan kebahagiaan. Janganlah Engkau cabut segala apa yang aku miliki, tiada daya dan upaya melainkan dengan kekuatan Allah Yang Maha Tinggi dan Agung. Ya Allah! Kabulkanlah segala permohonan-kami, dan kabulkanlah hal tersebut dengan melalui kemurahan-Mu, kemuliaan-Mu, kasih sayang-Mu dan &#8230;.,dan curahkanlah shalawat dan salam atas Muhammad saww dan seluruh keluarga-nya, yang sebanyak-banyaknya salam, wahai Yang Maha Pengasih lagi Penyayang.</em></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoBodyText"><span style="font-style:normal;">Catatan:</span></p>
<ul>
<li><span style="font-style:normal;"><span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"></span></span></span><span dir="ltr"><span style="font-style:normal;">Melihat kedudukan agung yang dimiliki oleh Sayidah Maksumah as, tidak mungkin beliau hanya karena kecintaan kepada kakaknya saja, hanya karena sebagai saudaranya menyusul Imam Ridho as dengan menempuh perjalanan yang sangat jauh dan sulit antara kota Madinah dan Qom (Iran). Namun lebih dari itu, dari pengenalan yang dimiliki oleh Sayidah Maksumah as terhadap kedudukan Imam Ridho as, beliau mencintai Imam Ridho as selain sebagai kakaknya yang lebih penting ialah sebagai Imam Zamannya dan kecintaan yang tinggi terhadap Imam Zamannya. Seperti halnya kecintaan Sayidah Zainab Kubro as terhadap Imam Husein as sebagai Imam zaman -masa- nya.<span> </span></span></span></li>
</ul>
<ul>
<li><span dir="ltr"><span style="font-style:normal;">Makam suci Sayidah Fathimah Maksumah (adiknya Imam Ridho as) terletak di kota suci Qom. Para penziarah datang dari berbagai penjuru dunia untuk menziarahi tempat suci ini. Mudah-mudahan para pecinta Ahlu-Bayt as dimana pun berada diberikan inayah untuk dapat menziarahinya. Amiin<span> </span></span></span></li>
</ul>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoBodyText"><span style="font-style:normal;">[Euis Daryati]</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoBodyText"><span style="font-style:normal;"></span></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<p class="MsoFootnoteText"><a href="#_ftnref1" name="_ftn1" title="_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a>Hijazi Zadeh, Muhsin, Syajare Thayyibeh, hal : 26.</p>
<p class="MsoFootnoteText"><a href="#_ftnref2" name="_ftn2" title="_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a>Mehdi Sahafi, Zendegani Hazrat-e Maksumeh wa Tarikh-e Qom, hal: 37, 41.</p>
<p class="MsoFootnoteText"><a href="#_ftnref3" name="_ftn3" title="_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a> Ibid, hal:42</p>
<p class="MsoFootnoteText"><a href="#_ftnref4" name="_ftn4" title="_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a>Ibid, hal:</p>
<p class="MsoFootnoteText"><a href="#_ftnref5" name="_ftn5" title="_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a>Haidari, Ahmad, B<em>uzurg-e Zanan Sadre Islam</em>, hal:179</p>
<p class="MsoFootnoteText"><a href="#_ftnref6" name="_ftn6" title="_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a>Ibid, hal :256</p>
<p class="MsoFootnoteText"><a href="#_ftnref7" name="_ftn7" title="_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a>Mehdi Sahafi, Zendegani Hazrat-e Maksumeh wa Tarikh-e Qom, hal:39</p>
<p class="MsoFootnoteText"><a href="#_ftnref8" name="_ftn8" title="_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a>Hijazi Zadeh, Muhsin, Syajareh Thayyibeh, hal: 266-269</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/188/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/188/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/188/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=188&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/19/biografi-singkat-sayidah-fathimah-maksumah-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/09/makam-sayidah-fathimah-maksumah.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">makam-sayidah-fathimah-maksumah.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/10/kubah-emas-maksumah.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kubah-emas-maksumah.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengelompokan Perempuan Haid</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/18/pengelompokan-perempuan-haid/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/18/pengelompokan-perempuan-haid/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Sep 2007 10:13:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/18/pengelompokan-perempuan-haid/</guid>
		<description><![CDATA[Pemilik kebiasaan waktu dan jumlah (‘adah adadiyah wa waqtiyah) yaitu perempuan yang selama dua bulan berturut-turut waktu (hari) dan jumlah (masa haid) adalah sama, contoh: seorang perempuan selama dua bulan berturut-turut selalu keluar haid dari tanggal satu sampai tanggal tujuh. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- Bab III: Pengelompokan Perempuan Haid &#160; Perempuan haid dibagi kepada enam kelompok: 1. Pemilik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=186&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">Pemilik kebiasaan waktu dan jumlah </span></strong><span style="color:black;">(<em>‘adah adadiyah wa waqtiyah) </em>yaitu perempuan yang selama dua bulan berturut-turut waktu (hari) dan jumlah (masa haid) adalah sama, contoh: seorang perempuan selama dua bulan berturut-turut selalu keluar haid dari tanggal satu sampai tanggal tujuh. </span></p>
<p class="MsoNormal"> <span id="more-186"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;color:black;">Bab III: Pengelompokan Perempuan Haid</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;color:black;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;" align="center"><strong><span style="color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">Perempuan haid dibagi kepada enam kelompok:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">1. Pemilik kebiasaan waktu dan jumlah </span></strong><span style="color:black;">(<em>‘adah adadiyah wa waqtiyah) </em>yaitu perempuan yang selama dua bulan berturut-turut waktu (hari) dan jumlah (masa haid) adalah sama, contoh: seorang perempuan selama dua bulan berturut-turut selalu keluar haid dari tanggal satu sampai tanggal tujuh. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Lihat contoh berikut:</span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="margin-left:-1.45pt;border-collapse:collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0">
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:62.7pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="84">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span style="color:black;">Bulan</span></strong></p>
</td>
<td style="width:100.25pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="134">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span style="color:black;">Tanggal</span></strong><strong><span style="color:black;"> </span></strong><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:147.25pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="196">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span style="color:black;">Tanggal</span></strong><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="border:medium none;padding:0;" width="15">
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:62.7pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="84">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span style="color:black;">Rajab</span></strong><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:100.25pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="134">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span style="color:#7f0000;">1, 2, 3, 4, 5, 6, 7,</span></strong><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:147.25pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="196">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span>8,   9,10,11,12,13,14, &#8230;.dst<span>                 </span></span></strong><span></span></p>
</td>
<td rowspan="3" style="width:11.5pt;border-style:none none solid;border-width:medium medium 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="15">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:62.7pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="84">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span style="color:black;">Sya’ban</span></strong><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:100.25pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="134">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span style="color:#7f0000;">1, 2, 3, 4, 5, 6, 7,</span></strong><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:147.25pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="196">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span>8,   9,10,11,12,13,14,&#8230;dst</span></strong><span></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:62.7pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="84">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span style="color:black;"> </span></p>
</td>
<td style="width:100.25pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="134">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="color:#7f0000;">Haid</span></strong><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:147.25pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="196">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span>Suci</span></strong></p>
</td>
</tr>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:5pt 0;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">2. Pemilik kebiasaan waktu </span></strong><span style="color:black;">(<em>‘adah</em> <em>waqtiyah)</em> yaitu perempuan yang selama dua bulan berturut-turut waktu haidnya sama tapi jumlahnya tidak sama, contoh: seorang perempuan selama dua bulan berturut-turut waktu mulai haidnya selalu sama yaitu selalu tanggal dua. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Lihat tabel berikut:</span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="margin-left:5.25pt;border-collapse:collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0">
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:69.6pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="93">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="color:black;">Bulan</span></strong><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td colspan="3" style="width:281.4pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="375">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="color:black;">Tanggal</span></strong><span style="color:black;"></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:69.6pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="93">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="color:black;">Rajab</span></strong><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:41.8pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="56">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span>1</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong>S</strong><strong><span>uci</span></strong><span></span></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:110.2pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="147">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="color:#7f0000;">2,3,4,5,6,</span><span style="color:#7f0000;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong>H</strong><strong><span>aid</span></strong></p>
</td>
<td style="width:129.4pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="173">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span>7, 8,9,10,11,12,13,14,&#8230;dst</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong>S</strong><strong><span>uci</span></strong><span></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:69.6pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="93">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="color:black;">Sya’ban</span></strong><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:41.8pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="56">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span>1</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong>S</strong><strong><span>uci</span></strong><span></span></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:110.2pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="147">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="color:#7f0000;">2,3,4,5,6,7,8,</span><span style="color:#7f0000;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong>H</strong><strong><span>aid</span></strong></p>
</td>
<td style="width:129.4pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="173">
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span>9,10,11,12,13,14,   ,,&#8230;dst</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong>S</strong><strong><span>uci</span></strong><span></span></p>
</td>
</tr>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:5pt 0;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">3. Pemilik kebiasaan jumlah</span></strong><span style="color:black;"> (<em>‘adah adadiyah)</em> yaitu perempuan yang selama dua bulan berturut-turut jumlah haidnya sama, namun waktu mulai keluar haidnya tidak sama, contoh: seorang perempuan selama dua bulan berturut-turut jumlah haidnya enam hari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Lihat tabel dibawah ini:</span><span style="color:black;"></span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="margin-left:5.25pt;border-collapse:collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0">
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:75.1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="100">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="color:black;">Bulan</span></strong><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td colspan="3" style="width:344.2pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="459">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="color:black;">Tanggal</span></strong><span style="color:black;"></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:75.1pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="100">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="color:black;">Rajab</span></strong><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:0.7in;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="67">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span>1,2,3, </span>S</strong><strong><span>uci</span></strong><span></span></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:106.35pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="142">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="color:#7f0000;">4,5,6,7,8</span><span style="color:#7f0000;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong>H</strong><strong><span>aid</span></strong><span></span></p>
</td>
<td style="width:187.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="250">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span>9,10,11,12,13,14,&#8230;dst</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong>S</strong><strong><span>uci</span></strong><span></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:75.1pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="100">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="color:black;">Sya’ban</span></strong><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:0.7in;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="67">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span>1</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong>s</strong><strong><span>uci</span></strong><span></span></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:106.35pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="142">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="color:#7f0000;">2,3,4,5,6</span><span style="color:#7f0000;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong>H</strong><strong><span>aid</span></strong><span></span></p>
</td>
<td style="width:187.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="250">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span>7,8,9,10,11,12,13,&#8230;dst</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong>S</strong><strong><span>uci</span></strong><span></span></p>
</td>
</tr>
</table>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:5pt 0;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">4. Yang tidak mempunyai kebiasaan tetap</span></strong><em><span style="color:black;"> (mudhtharibah)</span></em><span style="color:black;"> yaitu perempuan yang tidak mempunyai kebiasaan haid yang tetap baik waktu maupun jumlah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:5pt 0;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:5pt 0;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">5. <em>Mubtadi’ah </em></span></strong><span style="color:black;">yaitu perempuan yang baru pertama kali keluar haid.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:5pt 0;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:5pt 0;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">6. <em>Nasiyah </em></span></strong><span style="color:black;">yaitu perempuan yang lupa kebiasaan haidnya.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/186/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/186/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/186/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=186&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/18/pengelompokan-perempuan-haid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hijab; sebuah Telaah Umum</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/12/hijab-sebuah-telaah-umum/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/12/hijab-sebuah-telaah-umum/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Sep 2007 08:19:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/12/hijab-sebuah-telaah-umum/</guid>
		<description><![CDATA[Menggunakan hijab merupakan suatu permasalahan yang berhubungan dengan hukum dan aturan kehidupan manusia, baik hubungan manusia dengan Khaliq-nya, diri sendiri maupun orang lain. Di satu sisi, hijab merupakan aturan Ilahi. Di sisi lain ia juga merupakan aturan manusia dan juga merupakan kebutuhan dirinya. Alangkah baiknya jika sang pengguna hijab mengetahui dengan benar alasan penggunaan hijab. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=183&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/09/polwan-iran.gif" title="polwan-iran.gif"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/09/polwan-iran.gif?w=500" alt="polwan-iran.gif" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Menggunakan hijab merupakan suatu permasalahan yang berhubungan dengan hukum dan aturan kehidupan manusia, baik hubungan manusia dengan Khaliq-nya, diri sendiri maupun orang lain. Di satu sisi, hijab merupakan aturan Ilahi. <span>Di sisi lain ia juga merupakan aturan manusia dan juga merupakan kebutuhan dirinya. </span>Alangkah baiknya jika sang pengguna hijab mengetahui dengan benar alasan penggunaan hijab. Mengetahui faedah, kemuliaan dan kewajiban hijab akan mendorong sang pengguna untuk berpegang teguh dalam menjaga hijabnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong> </strong><span id="more-183"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;">Hijab; sebuah Telaah Umum</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">Oleh: Husna Thahirah</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>&#8220;Katakanlah kepada wanita yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung di dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra putra suami mereka atau saudara-saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka&#8230;&#8221; </em>(QS. an-Nur:<span>  </span>31)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Muqadimah</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Dilihat dari bentuk fisik, hijab hanya merupakan pakaian penutup bagi wanita. Tapi di sisi lain, ia memiliki makna lebih dari itu. Hijab juga memberikan nilai ruhani (spiritual) dan dapat membentuk kehidupan yang lebih baik bagi pemakai hijab itu sendiri dan lingkungannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Menggunakan hijab merupakan suatu permasalahan yang berhubungan dengan hukum dan aturan kehidupan manusia, baik hubungan manusia dengan Khaliq-nya, diri sendiri maupun orang lain. Di satu sisi, hijab merupakan aturan Ilahi. <span>Di sisi lain ia juga merupakan aturan manusia dan juga merupakan kebutuhan dirinya. </span>Alangkah baiknya jika sang pengguna hijab mengetahui dengan benar alasan penggunaan hijab. Mengetahui faedah, kemuliaan dan kewajiban hijab akan mendorong sang pengguna untuk berpegang teguh dalam menjaga hijabnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Defenisi Hijab</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><em>Satar</em> atau yang sering juga dikenal sebagai hijab, dalam bahasa Arab sama-sama memiliki makna penutup.<a href="#_edn1" title="_ednref1" name="_ednref1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Lalu apakah hijab hanya diperuntukkan bagi muslim saja atau tidak? Hijab sebenarnya diperuntukkan bagi siapa saja, hanya saja muslim mengenakannya karena merupakan sebuah kewajiban, sedang orang-orang selainnya dikarenakan adat atau hanya untuk bergaya. Hijab dikenal sebagai pakaian wanita yang menganut agama samawi atau yang tidak beragama sekalipun. Kegunaan hijab berubah dengan adanya tujuan yang berbeda-beda serta adat istiadat yang ada, sehingga jadilah hijab sebagai hiasan. Sedang yang dimaksud Islam bahwa wanita diwajibkan berhijab yaitu: wanita harus menutup seluruh auratnya kecuali wajah dan tangan dari pandangan orang-orang yang bukan muhrimnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Sejarah Hijab</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Sebelum datangnya agama samawi:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;">Sebenarnya tidak diketahui secara pasti kapan hijab itu dikenakan dan muncul dari mana, hanya saja dapat diperkirakan bahwa sebelum datangnya agama, hijab sudah dikenakan dan dikenal di kalangan para wanita. Gambar-gambar bersejarah peninggalan zaman Fir’aun memperlihatkan bahwa wanita-wanita zaman itu menggunakan penutup kepala. Hijab juga dikenakan oleh orang orang Yunani, Arab, Yahudi dan India. Sedangkan pada zaman Arab jahiliah, laki-laki dan perempuan sama-sama mengenakan hijab (walaupun namanya berbeda tapi fungsinya sama). Orang-orang Arab sendiri memang menganggap hijab sebagai lambang kemuliaan dan martabat bagi wanita yang mengenakannya, sehingga tak heran jika pada zaman itu pun banyak wanita yang mengenakan hijab. Selain itu, hijab juga merupakan pakaian yang sering digunakan oleh orang-orang Arab untuk menghindari badai, angin dan debu yang beterbangan saat mereka melakukan perjalanan</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Ketika datangnya agama samawi:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;">Saat itu, hijab sering digunakan oleh wanita yang menganut agama samawi untuk beribadah dan penyucian diri. Dalam kepercayaan mereka, hijab merupakan sarana penyucian dan merupakan sebuah hal yang suci untuk dilakukan. Dalam Kitab Injil, Perjanjian Lama, Kitab Kejadian ayat 24 diceritakan bahwa ada seorang wanita yang membuka penutup mukanya. Ketika wanita itu melihat Ishaq, ia segera turun dari untanya. Wanita itu bertanya kepada seorang budak perihal Ishaq. Budak itu mengatakan bahwa Ishaq adalah tuannya. Kemudian wanita itu<span>  </span>kembali menutup wajahnya.<a href="#_edn2" title="_ednref2" name="_ednref2"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Dari sini dapat dipahami, bahwa wanita pada waktu itu tidak akan ke luar kecuali mengenakan hijab (penutup) terlebih dahulu dan bahkan mengenakannya ketika ingin bertemu dengan seseorang. Jadi, hijab memang sudah terkenal di kalangan wanita sebelum dan sesudah datangnya agama samawi</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Wacana Hukum: Hijab sebagai Hukum Allah</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>Pada dasarnya, manusia selalu mencari kesempurnaan melalui berbagai wasilah. Ia akan selalu berupaya untuk mengetahui apa dan bagaimanakah jalan yang dapat membawanya untuk menjadi manusia sempurna. Di sisi lain, Allah telah mengutus para Nabi, Rasulullah saww dan Aimmah Makshumin as untuk menuntun manusia menuju kesempurnaan hakiki atau kepada hal-hal yang maslahat bagi manusia itu sendiri sehingga manusia tidak salah melangkah dan dapat sampai kepada tujuan penciptaan yaitu Allah swt.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Nabi saww telah menjelaskan cara-cara dan bahkan langsung mencontohkannya agar kita dapat berjalan di jalan yang dikehendaki Allah dan tidak menyeleweng darinya. Cara yang telah Nabi jelaskan dan contohkan adalah berupa ketaatan kepada hukum-hukum Allah. Ketaatan inilah yang merupakan jalan agar<span>  </span>kita sampai kepada Allah swt. Hukum-hukum inilah yanga akan membawa manusia menuju cahaya Ilahi.<a href="#_edn3" title="_ednref3" name="_ednref3"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Mengapa harus Hukum Allah?</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Manusia memang memiliki kemampuan berfikir dan membuat hukum-hukum sendiri. Akan tetapi hukum-hukum itu tidak akan mampu<span>  </span>membawa manusia kepada kesempurnaan karena hukum-hukum itu dibuat sesuai keinginan manusia dan sebatas kemampuan berfikirnya. Apakah hukum itu merupakan maslahat atau tidak bagi manusia, akan terikat erat dengan kepentingan dan pandangan yang dimilikinya. Sehingga kesempurnaan, nilai maksimal dari hasil berfikir dan rencana pelaksanaan dari fikiran itu akan dilaksanakan sebatas nilai yang terikat oleh keterbatasan kemampuan manusia itu sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Hukum atau aturan bukan saja merupakan perintah atau larangan tapi juga dapat merupakan tuntunan dan arahan untuk sampai pada tujuan tertentu. Allah-lah yang menciptakan manusia dengan lengkap dan menyediakan semua sarana bagi kehidupannya. Maka Allah-lah yang lebih tahu apa yang terbaik untuk kehidupan manusia. Maka hukum-hukum yang datang dari Allah merupakan sarana yang sempurna untuk sampai pada tujuan sempurna yaitu Kesempurnaan Yang Maha Sempurna. Ketika manusia (baik individu maupun komunitas) berpegang teguh pada hukum-Nya maka ketaatan tersebut akan mendekatkan dirinya kepada Allah dan akan terciptalah sebuah kehidupan ilahi. Jika sudah demikian, Allah pun akan mencurahkan berkat dan rahmat-Nya bagi mereka: &#8220;Dan kalau saja penduduk desa tersebut beriman dan bertaqwa pasti akan Kami bukakan bagi mereka berkat dari langit&#8221;. (QS: al-A&#8217;raf : 96)<br />
<span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Hijab dalam Islam</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Islam telah menjelaskan apa sebenarnya yang dimaksud berhijab, karena pada jaman sebelum Islam terdapat sebagian kecil wanita yang menggunakan hijab dengan benar dan sebagian besar lainnya menggunakan hijab secara salah, baik dalam alasan pemakaian dan pelaksanaan hijab itu sendiri. Disebutkan bahwa wanita pada pra dan awal Islam sering menggunakan gelang kaki dan perhiasan-perhiasan lainnya. Mereka kadang-kadang menunjukkan perhiasan yang mereka kenakan itu dan tidak menutup aurat mereka dengan benar. Ketika mereka berjalan, suara gemerincing gelang kaki membuat wanita-wanita ini menjadi pusat perhatian orang banyak.<a href="#_edn4" title="_ednref4" name="_ednref4"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Pada dasarnya<span>  </span>wanita-wanita ini tidak dapat dikatakan menutup atau berhijab karena mereka membuat aib sendiri. Maka turunlah surat yang mewajibkan wanita-wanita ini menutup seluruh auratnya kecuali wajah dan telapak tangan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Setelah turunnya ayat al-Qur’an yang memerintahkan penggunaan hijab, maka wanita-wanita beserta suami atau sanak saudara dan yang ada di sekitar mereka saling mengingatkan satu sama lain untuk menggunakan hijab dengan baik. Wanita-wanita ini menggunakan kain hitam yang panjang dan lebar sehingga tertutup seluruh auratnya. Kain yang dikenakan wanita-wanita itu dulu, sekarang kita kenal sebagai aba&#8217;ah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Satu hal yang harus diperhatikan adalah bahwa di dalam Islam wanita bukannya tidak diperbolehkan menggunakan perhiasan sama sekali. Yang tidak diperbolehkan adalah memamerkan perhiasan yang dikenakan dengan tujuan untuk menarik perhatian orang lain. Islam bahkan menganjurkan wanita untuk memakai perhiasan dan memamerkannya kepada suaminya. Dan ganjaran pahala yang dijanjikan untuk perbuatan ini juga tidaklah sedikit.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Para ulama sepakat bahwa wanita wajib berhijab karena adanya ayat al-Qur’an yang memerintahkan wanita untuk berhijab. Salah satu ayat yang di gunakan sebagai dalil adalah Surah an-Nur ayat 31: “…Katakanlah kepada wanita yang beriman hendaknya mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” Sayyid Miqdad (Ketua Maktab Perwakilan Wali Amr Muslimin, Sayyid Ali Khamene’i di Libanon) berpendapat bahwa yang maksud dari ayat ini adalah bahwa wanita harus menutupi dirinya dengan baju yang dapat menutupi seluruh auratnya dan melarang menggunakan perhiasan di wajah ataupun di tangan.<a href="#_edn5" title="_ednref5" name="_ednref5"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Jika seorang wanita keluar dari rumahnya lalu masuk dalam kumpulan masyarakat dan dia menyebabkan pria melihatnya sedang ia juga melihat pria tersebut, maka wanita ini tidak akan terlepas dari dua kemungkinan:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Ia keluar bukan karena suatu keperluan penting tapi atas dasar keinginannya sendiri untuk mencari perhatian pria atau agar wajah, bentuk tubuh dan gerak-geriknya dilihat dan diperhatikan. Islam memerintahkan wanita-wanita seperti ini untuk meninggalkan dan menghindari hal ini karena dapat memberikan kesan yang buruk bagi pria atau wanita. Dalam sebuah hadist disebutkan: &#8220;Sesungguhnya pandangan (kepada wanita) merupakan salah satu panah dari panah iblis yang mengenai hati.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Ia keluar karena suatu keperluan penting sehingga keperluan itulah yang memaksanya untuk keluar. Hal ini diperbolehkan dalam Islam, asalkan keluarnya itu tidak menyalahi hukum-hukum Allah swt yakni diiringi dengan<span>  </span>hukum syariah yang mewajibkannya menggunakan hijab ketika berkumpul bersama masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>      </span><span>      </span>Islam hanya mewajibkan wanita menggunakan hijab ketika ia ingin keluar dari rumah dan akan bertemu dengan orang yang bukan muhrimnya. Hijab diperlukan untuk mencegah terjadinya kefasadan dan akhlak buruk yang pada akhirnya akan memberikan efek buruk pada masyarakat. Dengan hijabnya, wanita dapat bekerja dengan leluasa, terhormat dan dapat berkumpul dengan masyarakat tanpa ada keburukan atau hal yang buruk akan menimpanya atau menghalangi kerjanya karena ia bebas melaksanakan kegiatannya. Ia akan terjaga dan merasa aman, demikian juga dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.<a href="#_edn6" title="_ednref6" name="_ednref6"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>     </span><span>       </span>Hijab wanita bukan menjadi pembatas kebebasan di dalam berkarir malah memberikan wanita peluang yang bagus dan mudah dalam beribadah sekaligus bekerja. Banyak peluang kerja seperti dokter, guru, petani dan lainnya yang dapat diambil wanita tanpa harus melepas hijabnya. Orang lainpun akan menghormati kegigihan mereka yang selalu menjaga hijabnya dan dapat menjadi pedoman bagi wanita-wanita lain untuk selalu taat di dalam melaksanakan kewajiban agama Islam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>      </span><span>      </span>Islam mewajibkan wanita menggunakan hijab agar wanita selalu terjaga kehormatanya karena wanita memiliki peran yang penting di dalam masyarakat. Islam juga ingin menyatakan bahwa wanita memiliki posisi yang sama dengan laki laki di dalam berjihad dan beribadah ataupun bekerja. Wanita merupakan bagian dari masyarakat yang jika wanita di dalamnya berubah maka masyarakat akan berubah pula. Adanya perubahan tersebut mungkin akan menyebar, cepat atau lambat, tetapi pada akhirnya ia akan merubah keseluruhan masyarakat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>      </span><span>      </span>Sebagian wanita masa kini menganggap hijab adalah adat kuno atau pakaian orang-orang yang berpikiran kuno dan fanatik terhadap agama. Wanita begini beranggapan bahwa sekarang adalah masa modern yang tidak memerlukan hijab lagi untuk menjaga kehormatan, orang akan menghormati orang lain karena pangkat, harta atau kekuasaan yang mereka miliki, bukan karena menggunakan hijab ataupun tidak. Pandangan mereka ini dapat dikritisi karena sebenarnya wanita yang menggunakan hijab lebih modern dari wanita yang tidak berhijab. Kenapa? Karena arus pikir wanita berhijab<span>  </span>lebih tajam dengan memikirkan hal lebih jauh yaitu hari perhitungan. Wanita yang menggunakan hijab sudah mengetahui masa depan mereka bahwa kelak akan ada hari akhir. Dengan berhijab wanita siap menghadapi masa depan yang menjanjikan kemenangan serta kebahagiaan yang abadi. Jadi wanita yang modern adalah wanita yang menggunakan hijab.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Pangkat, harta ataupun kekuasaan bukanlah sebab orang menjadi terhormat karena harta atau kekuasaan sebenarnya tidak pernah dimiliki oleh manusia. Pada hakikatnya harta dan kekuasaan hanya milik Allah swt semata. Orang yang beranggapan bahwa materilah jalan satu-satunya untuk dapat menjadi terhormat, maka ia akan selalu mengejar materi. Cara berfikir begini sangat naif. Individu yang demikian sebenarnya tidak dapat melihat hakikat materi sehingga dengan mudah dia dapat mengatakan bahwa hanya dengan materi orang akan menjadi terhormat. Pada kenyataannya banyak orang menjual diri sehingga dapat dikatakan bahwa harga diri (kehormatan) sudah tidak ada harganya karena mereka menjualnya dengan harga yang rendah. Bagaimana mereka dapat melihat harta sebagai suatu kehormatan dan kekuatan untuk menjadi sempurna?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>      </span><span>      </span>Dapatkah uang atau harta membeli kehormatan seseorang? Jawabannya tidak. Kehormatan bukanlah sesuatu yang dapat dibeli dengan uang. Contoh di atas hanya berupa sebuah kiasan saja karena ada wanita yang mau menerima uang dengan balasan memberikan atau menunjukkan apa saja yang ada pada dirinya kepada orang yang telah memberikan uang. Mereka disebut sebagai orang yang &#8220;murah&#8221;atau &#8220;rendah&#8221; dan dianggap sebagai wanita-wanita yang telah menjual kehormatannya. Karena pada wanita terdapat hal-hal yang seharusnya disembunyikan atau ditutupi dari orang-orang yang tidak berhak melihatnya. Akan tetapi mereka mau menunujukkannya asal ada uang untuk membayar &#8220;kerugian&#8221;.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>      </span><span>      </span>Maka wanita yang mampu menutup dirinya dan menjaga dirinya memiliki suatu kehormatan besar dalam dirinya. Wanita yang tidak menganggap hijab sebagai hal yang penting maka yang akan ia dapatkan adalah celaan dan hal-hal rendah yang akan menjadikannya lemah dan orang lain akan dengan leluasa mengambil kesempatan dari kelemahan ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>     </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Keutamaan Berhijab</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>     </span><span>       </span>Di dalam kehidupannya, setiap manusia memiliki beberapa hubungan:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Hubungan antara dirinya dengan Allah, seperti sholat, puasa serta kewajiban-kewajiban lainnya yang telah diberikan Allah sehingga ia dapat membangun hubungan yang kuat antara dirinya dengan Allah swt.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Hubungan manusia dengan manusia lain, seperti menikah, jual beli dan lain sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span>3.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Hubungan manusia dengan dirinya sendiri, seperti apa yang harus dimakan dan diminum. Hubungan ini merupakan hal penting dalam membangun keperibadian yang kukuh dan kuat serta menanamkan kemauan dalam melaksanakan suatu perbuatan karena perbuatan itu akan memberikan efek tertentu pada dirinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span>4.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Hubungan manusia dengan masyarakat, seperti menjaga kebersihan atau keamanan bersama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span>5.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Hubungan masyarakat dengan Allah swt, seperti melaksanakan hukum Allah dan mengetahui kewajiban dan larangan umum sehingga terbentuk hubungan yang kuat dengan Allah dan tercipta kesejahteraan bersama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dari hubungan-hubungan di atas muncullah beberapa hak-hak, antara lain:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Hak manusia untuk taat kepada perintah Allah swt dan membangun dirinya, seperti ibadah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Hak keluarga dan masyrakat, seperti warisan dan lain sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span>3.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Hak ekonomi, seperti khumus, zakat dan lain sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span>4.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Hak berjihad, berperang dan wajib militer untuk mempertahankan agamanya dan menjaga saudara sesama muslim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span>5.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Hak politik dan yang berhubungan dengannya.<a href="#_edn7" title="_ednref7" name="_ednref7"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Dengan mempertimbangkan hal-hal di atas dan menghubungkannya dengan permasalahan hijab, maka<span>  </span>kita dapat menyimpulkan bahwa:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;">1.<span>   </span>Wajib bagi kita membangun masyarakat yang islami (ilahi). Untuk membangun masyarakat islami, harus dimulai dari dari hal-hal kecil terlebih dahulu yaitu dimulai dari individu-individu, sehingga ketika individu-individu ini digabungkan akan terbentuk sebuah gabungan yang besar (masyarakat). Masalah hijab dengan sisi ketaatannya merupakan masalah yang asas (penting) dari suatu bangunan individu kemanusiaan. Maka untuk membangun suatu bangunan masyarakat yang kokoh dan kuat kita harus menguatkan pondasinya terlebih dahulu sehingga dapat membangun bangunan yang kokoh di atasnya. Hijab merupakan pondasi karena hijab tak lain adalah iman dan takwa. Hijab dapat membawa manusia sampai kepada tingkat spiritual yang tinggi dan memahami jati dirinya yang real dan menjadikannya manusia yang sempurna. Hijab merupakan penolong atau wasilah untuk sampainya manusia kepada tingkat pemahaman maknawi yang tinggi dan agung.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;">2 <span>   </span>Hijab merupakan perisai bagi wanita, karena dengan hijab kehormatan wanita akan terjaga. Islam menganggap hijab merupakan suatu hal yang penting dalam menjaga kehormatan wanita. Bukan berarti kehormatan pria tidak penting karena masalah kehormatan bukan hanya dimiliki oleh wanita saja. Hanya saja kehormatan wanita lebih ditekankan untuk terus dijaga karena pria memiliki kekuatan yang lebih besar dibanding wanita (terkadang pria menzalimi wanita), maka untuk mengimbangi kekuatan ini wanita harus menjaga dirinya dengan berhati-hati melalui pemakaian hijab.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;">3. <span>  </span>Dengan menjaga hijab wanita akan lepas dari dosa dan pria yang melihatnya pun tidak akan berdosa. Wanita muslim yang tidak menjaga hijabnya akan mendapat dosa dan pria bukan muhrim yang melihatnya pun akan terkena dosa. Wanita yang membuka hijabnya sama saja dengan wanita yang tidak berpakaian sama sekali dan menjadikannya rendah di hadapan orang lain. Maka hijab merupakan pengaman atau penjaga nilai kemanusiaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;">4.<span>   </span>Kewajiban berhijab sama halnya dengan kewajiban sholat dan puasa, hanya saja kewajiban berhijab ini dikhususkan untuk wanita. Sebenarnya dengan berhijab wanita dapat membangun suatu ikatan dengan Allah swt sekaligus ikatan yang lebih luas dan besar dengan masyarakat. Manusia tidak dapat dapat membangun atau melakukan sesuatu pekerjaan besar jika hidup sendiri karena itu manusia<span>  </span>tidak dapat dipisahkan dari kelompoknya (masyarakat). Manusia memiliki hubungan dan kebutuhan dengan manusia lainnya untuk bertahan hidup dan mencapai kesempurnaan. Dengan menggunakan hijab wanita telah membuktikan komitmennya kepada Allah dan juga kepada masyarakat dalam rangka membentuk masyarakat yang sempurna sebagaimana yang diinginkan Allah. Ketika manusia melaksanakan hukum-hukum Allah swt dengan penuh disiplin, maka ia akan dapat membangun diri dan masyrakatnya. Dengan mengetahui hubungannya dengan Allah dan adanya hak-hak dalam setiap perbuatan, manusia dapat mentaati Allah swt sehingga ia dapat menjadi manusia sempurna (insan kamil). Ketika manusia telah menjadi insan kamil, ia akan melihat dengan mata Allah dan kuat dengan kekuatan Allah swt. Contoh insan kamil adalah Nabi Muhammad saw, beliau mengetahui berbagai hal<span>  </span>karena beliau<span>  </span>mengetahui kebenaran dan memiliki hubungan yang kuat dengan Allah swt. Beliau juga amat memahami hak Allah swt dan manusia lainnya sehingga beliau menjadi<span>  </span>manusia yang tidak berbuat kesalahan dan terjaga dari kesalahan (makshum).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>      </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Hijab di Masa Kini</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Banyak wanita di zaman ini menganggap hijab membatasi kebebasan wanita di dalam beraktivitas dan berkomunikasi dengan masyarakat. Wanita seperti ini ingin menyingkirkan hijab dan menjadi wanita yang bebas. Yang mereka sebut sebagai kebebasan adalah tidak adanya larangan terhadap setiap perbuatan yang ingin mereka lakukan, seperti berkumpul dengan pria, bersenang-senang kemana saja dengan pria, atau bahkan melakukan hubungan tanpa nikah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Padahal wanita yang menggunakan hijab bukan berarti dia tidak bebas dalam melakukan segala aktivitas yang ia inginkan atau berkomunikasi dengan orang yang ada di sekitarnya. Hijab menyelamatkan wanita dari kerusakan yang ada. Di zaman modern ini nilai akhlak mulai hilang dan banyak manusia yang keluar dari aturan agama. Harga diri hancur melalui interaksi bebas dan tanpa batasan hukum antara wanita dan pria. Inikah yang disebut sebagai kebebasan? Atau ia malah menghancurkan keperibadian seseorang dan memasukkannya ke dalam lembah kegelapan?<span>  </span>Jika ini yang disebut sebagai kebebasan maka ini adalah suatu hal yang sangat sangat buruk. Kebebasan bukan berarti kita dapat menghancurkan sesuatu dengan leluasa dan berbuat seenaknya terhadap diri sendiri ataupun orang lain. Setiap manusia memiliki hak atas diri sendiri dan terhadap orang lain,<span>  </span>maka untuk memberikan hak masing-masing yang harus dilakukan adalah mengikuti aturan yang disepakati bersama sehingga tidak terjadi kerugian apa pun dalam penerimaan hak itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Wanita memiliki hak yang sama seperti halnya pria, wanita dapat bekerja dan beraktivitas seperti pria. Wanita yang berhijab dapat bekerja dengan terhormat dan terjaga haknya dari hal-hal yang tidak diinginkan. Islam tidak mengajarkan bahwa wanita yang berhijab tidak boleh berkomunikasi dengan yang lain atau tidak boleh beraktivitas seperti halnya pria. Islam ingin menjaga kehormatan, akhlak dan hak wanita. Islam menjaga wanita dengan mengajarkan bahwa wanita dapat keluar karana ada kepentingan bukan keluar untuk dapat menjadi pusat perhatian, berghibah dan menjadi celaan orang lain. Namun sayangnya, sebagian wanita menggunakan hijab dengan menggunakan pakaian yang tidak menutupi dirinya dengan baik dari pandangan orang lain, karena pakaian yang dikenakannya amat ketat atau trasparan, sehingga bentuk tubuhnya terlihat dengan jelas. Dalam hal ini, sama saja ia<span>  </span>tidak menutup dirinya atau berhijab. Karena masih mempertunjukkan tubuhnya, tidak ada bedanya ia menggunakan baju yang transparan atau baju yang ketat karena tujuan keduanya yaitu untuk menarik perhatian orang lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Yang seharusnya dilakukan wanita adalah menggunakan baju yang dapat menutup seluruh auratnya tanpa memperlihatkan bentuk tubuhnya. Kita dapat melihat perbedaan antara masyrakat yang wanitanya lebih banyak menggunakan hijab, seperti Iran, dengan yang lebih sedikit, seperti di Amerika. Kerusakan dan kezaliman terhadap wanita di Iran lebih sedikit dibanding Amerika. Iran memberikan hak-hak pada wanita dengan memberikan peluang dan kebebasan dalam melaksanakan semua kegiatan yang mereka inginkan tanpa harus melepas hijab. Sedangkan di Amerika, wanita kehilangan hak untuk dapat memperbaiki sisi spiritualnya dan hak untuk menggunakan hijab tidak diberikan. Seyogyanya, berdasarkan &#8220;konsep kebebasan&#8221; model mereka, kezaliman,<span>  </span>kerusakan fisik dan spiritual akan berkurang di Amerika. Namun nyatanya semakin meningkat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Di Amerika, banyak orang yang kehilangan hubungan saudara satu sama lain atau tidak akan diterima lagi oleh orang-orang yang ada di sekitarnya karena hijab yang dikenakan dan karena ketaatan mereka kepada syariat dan hukum-hukum Allah swt. Ini terjadi karena sedikitnya pemahaman masyarakat terhadap hukum Ilahi terutama dalam masalah hijab. Hijab wajib dikenakan oleh wanita dan merupakan hak wanita untuk menggunakan hijab dan taat serta berpegang teguh terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi saww. Kebanyakan orang tidak memahami akan kewajiban ini, mereka menganggap bahwa hijab hanya akan menyusahkan kehidupan atau menyebutnya sebagai hal kuno. Mereka tidak memahami bahwa hijab adalah aturan Allah. Pada dasarnya mereka tidak takut pada Allah melainkan takut pada tanggapan orang-orang yang tidak tahu menahu akan kewajiban ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Manusia sebenarnya sudah diberikan akal untuk berfikir dan mencari kebenaran agama ilahi. Dengan akal pula manusia dapat melihat bahwa hijab bukan hanya diperuntukkan pada zaman Nabi saja melainkan untuk selamanya, hingga hari kiamat nanti. Allah pasti mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh seluruh manusia baik jaman sekarang atau yang akan datang. Semuanya sudah diatur oleh Allah swt. Tidak mungkin Allah membiarkan manusia begitu saja tanpa diberi petunjuk. Maka apa yang Allah swt perintahkan pasti berguna, baik untuk masa sekarang dan masa akan datang. Jadi hijab adalah kebutuhan wanita mulai dulu sampai saat ini dan untuk yang akan datang. Jangan takut kehilangan saudara atau takut dengan tanggapan orang-orang yang tidak mengetahui kebenaran hijab dan<span>  </span>bersyukurlah karena anda mengetahui kebenaran dan melaksanakannya sehingga anda berada dalam kebenaran. Perlu diingat bahwa wajib bagi wanita muslim yang memiliki potensi (kemampuan ilmu dan retorika) untuk menyampaikan kebenaran dan mengajak masyarakat yang tidak tahu agar dapat berjalan bersama menuju kebenaran.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>     </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Hijab dan Tantangan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Para pencari harta yang haus akan kekuasaan duniawi selalu menginginkan orang lain agar tunduk dalam kekuasaannya. Mereka melihat bahwa orang-orang yang taat kepada agamanya akan sulit untuk tunduk dan dikuasai dan bahkan mereka berpotensi untuk menjadi pemberontak, bahkan menjadi benalu bagi kekuasaan mereka. Maka penguasa-penguasa itu berusaha menghilangkan atau merubah pemahaman orang-orang yang taat dengan agamanya. Mereka melakukan berbagai cara, memberi janji-janji kebahagiaan dunia ataupun intimidasi, dengan harapan orang-orang beragama itu lupa akan kewajibannya sebagai hamba Allah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Seperti yang terjadi di Prancis saat ini, mereka (pemerintah Prancis) melarang wanita-wanita menggunakan hijab dan mempersulit semua urusan mereka. Dalam pandangan mereka, keberadaan wanita-wanita yang masih menjaga hijabnya akan menumbuhkan manusia yang taat dan menghalangi kesempatan mereka untuk menguasai dunia. Hal inilah yang mereka takutkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>      </span>Hijab bukanlah sebuah masalah tetapi merupakan pembebas manusia dari kekuatan zalim. Yang haus akan kekuasaanlah yang akan menyelewengkan pemahaman manusia dari kebenaraan agama Islam, sehingga apa saja yang muncul dari agama Islam menjadi hal yang bermasalah di dalam pandangan orang-orang awam. Karena sesungguhnya mereka(penguasa zalim) takut dengan kekuatan orang-orang beriman yang taat kepada perintah Allah swt.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Orang-orang yang haus akan kekuasaan ini tidak akan berhenti sebelum mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka akan selalu melakukan berbagai cara untuk memusnahkan segala sesuatu yang menghambat cita-cita mereka. Salah satu cara yang mereka lakukan adalah melarang penggunaan hijab. Atau menyuruh orang-orang yang tidak berakhlak untuk menggunakan hijab sehingga masyrakat kemudian menilai bahwa orang yang menggunakan hijab itu buruk akhlaknya. Banyak cara lain lagi yang dilakukan oleh penguasa zalim.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;">Yang harus dilakukan ulama Islam adalah memberikan pemahaman yang jelas<span>  </span>bagi orang-orang awam sehingga mereka mampu menilai bahwa hukum-hukum Allah merupakan penyelamat dan pembebas manusia. Semua ini merupakan tantangan bagi orang-orang yang taat beragama dan perlu diketahui bahwa musuh-musuh Islam tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan apa yang mereka kehendaki. Maka kita, muslimin, harus waspada dan selalu berpegang teguh kepada hukum-hukum Allah swt sehingga tidak terjerumus dan menjadi budak orang-orang yang zalim.<a href="#_edn8" title="_ednref8" name="_ednref8"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kesimpulan:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:'Courier New';"><span>o<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Hijab merupakan salah satu hukum Allah yang wajib dilaksanakan oleh seluruh wanita muslimah. Kewajiban ini tidak ada hubungannya dengan kekunoan atau tidak, kewajiban ini merupakan hal yang harus dikerjakan. Dalih kuno atau modern bukan merupakan alasan untuk tidak menggunakan hijab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:'Courier New';"><span>o<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Hijab juga merupakan wasilah bagi manusia untuk sampai kepada kesempurnaan maka wanita membutuhkan hijab dalam perjalanannya menuju kesempurnaan karena menggunakan hijab pada dasarnya merupakan permasalahan ta&#8217;abudi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:'Courier New';"><span>o<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Pembahasan sejarah atau alasan-alasan lain yang bukan syar&#8217;i tentang hijab menunjukkan bahwa hijab memang perlu dan harus digunakan. Ketika manusia melaksanakan kewajiban ini kemudian orang lain mendapatkan faedahnya atau sebaliknya, orang lain tidak mendapatkan faedah sama sekali bukanlah merupakan dalil untuk menggunakan hijab atau tidak menggunakannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:'Courier New';"><span>o<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Hijab juga tidak membatasi wanita dalam berkarir sebaliknya wanita dapat berkarir dengan leluasa tanpa ada hal-hal yang membuatnya berdosa bahkan ia dapat berkarir sekaligus menjalankan hukum Allah swt.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:'Courier New';"><span>o<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Hijab bukanlah sebuah masalah, tetapi karena sebagian kalangan yang tidak menyukai orang-orang yang taat kepada hukum Allah swt, atau menganggap mereka telah menghalangi jalan untuk meraih kenikamatan duniawi maka hijab menjadi sebuah permasalahan di mata mereka. Jadi, hijab adalah suatu kewajiban Ilahi yang harus dikerjakan. Allah memerintahkan manusia untuk melakukan segala sesuatu yang pasti berguna dan memiliki maslahat bagi hidup manusia. Inilah jalan yang dibutuhkan oleh manusia untuk mencapai kesempurnaan maka manusia harus melaksanakannya untuk sampai kepada kesempurnaan tersebut.[]<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p><!--[if !supportEndnotes]--></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />  <!--[endif]--></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref1" title="_edn1" name="_edn1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Lisanul Arab, jilid 1, hal 298.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref2" title="_edn2" name="_edn2"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Perjanjian Lama, Penciptaan, pasal 28 ayat 65-66.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref3" title="_edn3" name="_edn3"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> &#8212;&#8212;, <em>Al-Jadid fi Tadrisil Fiqh</em>, hal 2.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref4" title="_edn4" name="_edn4"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Zamakhsyari, <em>Al Kasyaf</em>, jilid 2, hal 62.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref5" title="_edn5" name="_edn5"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Majalah Baqiatullah, No. 149, hal 32, Zulhijjah 1424 H.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref6" title="_edn6" name="_edn6"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Idem, No. 129, hal 1, Shafar 1424 H.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref7" title="_edn7" name="_edn7"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> &#8212;&#8212;, <em>Al-Jadid fi Tadrisil Fiqh</em>, hal 2.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref8" title="_edn8" name="_edn8"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Majalah Baqiatullah, No. 149, hal. 37-39.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/183/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/183/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/183/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=183&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/12/hijab-sebuah-telaah-umum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/09/polwan-iran.gif" medium="image">
			<media:title type="html">polwan-iran.gif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum-Hukum bagi Perempuan Haid</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/07/hukum-hukum-bagi-perempuan-haid/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/07/hukum-hukum-bagi-perempuan-haid/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Sep 2007 08:59:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/07/hukum-hukum-bagi-perempuan-haid/</guid>
		<description><![CDATA[Jima’ pada hari-hari haid perempuan kategori ‘haidnya tidak tentu’ (lihat Bab III Pengelompokan Perempuan Haid, bagian 4) yang menurut syari’at harus ditetapkan sebagai haid, hukumnya adalah haram. Oleh karena itu, perempuan yang keluar darah lebih dari sepuluh hari dan berdasarkan ketentuan (yang nanti akan dijelaskan) harus ditetapkan sebagai haid, pada waktu itu suaminya tidak dapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=182&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> <em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Jima’</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"> pada hari-hari haid perempuan kategori ‘haidnya tidak tentu’ (lihat Bab III Pengelompokan Perempuan Haid, bagian 4) yang menurut syari’at harus ditetapkan sebagai haid, hukumnya adalah haram. Oleh karena itu, perempuan yang keluar darah lebih dari sepuluh hari dan berdasarkan ketentuan (yang nanti akan dijelaskan) harus ditetapkan sebagai <u>haid</u>,<span>  </span>pada waktu itu suaminya tidak dapat berhubungan dengannya.</span></p>
<p><span id="more-182"></span></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;" align="center"><strong><span style="font-family:Arial;color:black;">BAB II: Hukum-Hukum bagi Perempuan Haid</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Masalah</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"> 1</span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Hal-hal yang diharamkan bagi perempuan haid:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Melaksanakan semua ibadah yang harus dilaksanakan dengan wudhu, mandi atau tayamum seperti shalat, tawaf&#8230;namun melakukan ibadah yang tidak diwajibkan padanya wudhu atau mandi ataupun tayamum, maka tidak apa-apa hukumnya seperti melaksanakan shalat mayat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Tidak melakukan Segala sesuatu yang diharamkan bagi orang yang <u>junub</u> yang terdiri dari:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 1in;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">a-<span>   </span></span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Sampainya (menyentuh) salah satu dari anggota badan ketulisan al-Qur’an, nama Allah dan begitupula berdasarkan ihtiyat wajib semua nama para nabi dan para imam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 1in;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">b-<span>   </span></span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Melewati Masjidil-Haram dan masjid Nabawi, meskipun masuk dari satu pintu dan keluar dari pintu yang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 1in;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">c-<span>   </span></span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Berdiri (diam) di selain Masjidil-Haram, tetapi kalau masuk dari satu pintu dan keluar dari pintu yang lain, atau pergi hanya sekedar untuk mengambil sesuatu, maka hukumnya tidak apa-apa. Dan ihtiyat wajib tidak boleh berdiam diri di haram (makam) para imam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 1in;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">d-<span>   </span></span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Meletakkan sesuatu di dalam masjid.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 1in;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">e-<span>   </span></span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Membaca surat-surat Al Quran yang diwajibkan sujud atasnya, yaitu: surat ke-32 (<em>surat as-Sajdah</em>),<span>  </span>surat ke-41 (<em>surat Fusshilat</em>), surat ke-53 (<em>surat an-Najm</em>), dan surat ke-96 (<em>surat al-Alaq</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 1in;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Catatan</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">: meskipun hanya satu huruf dengan tujuan membaca salah satu dari surat ini (ketika haid/junub), hukumnya tetap haram.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><span>3.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Tidak boleh melakukan<em> jima’</em> (hubungan suami istri) melalui kemaluan, baik bagi laki-laki maupun perempuan meskipun hanya seukuran tempat dikhitan (<em>hasyafah</em>) dan tidak disertai keluarnya mani. Bahkan <em>ihtiyat wajib</em> janganlah memasukkan kemaluan, meskipun hanya seukuran <u>kurang</u> dari tempat khitan. Serta sangat dimakruhkan (<em>karahah</em> <em>syadidah</em>) untuk memasukkan kemaluan melalui dubur perempuan yang sedang haid. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Masalah 2:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Jima’</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"> pada hari-hari haid perempuan kategori ‘haidnya tidak tentu’ (lihat Bab III Pengelompokan Perempuan Haid, bagian 4) yang menurut syari’at harus ditetapkan sebagai haid, hukumnya adalah haram. Oleh karena itu, perempuan yang keluar darah lebih dari sepuluh hari dan berdasarkan ketentuan (yang nanti akan dijelaskan) harus ditetapkan sebagai <u>haid</u>,<span>  </span>pada waktu itu suaminya tidak dapat berhubungan dengannya. </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/182/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/182/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/182/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/182/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/182/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=182&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/09/07/hukum-hukum-bagi-perempuan-haid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hijab; Menuju Keshalihan Sosial</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/08/28/hijab-menuju-keshalihan-sosial/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/08/28/hijab-menuju-keshalihan-sosial/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Aug 2007 19:29:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/08/28/hijab-menuju-keshalihan-sosial/</guid>
		<description><![CDATA[Islam, memandang masyarakat sebagai jalinan kuat antara satu individu dengan individu lainnya. Pria maupun wanita sebagai bagian dari komponen masyarakat, saling bekerjasama dalam mewujudkan keseimbangan sosial di antaranya dengan cara menerapkan mekanisme hijab. Sehingga hijab tidak hanya dipahami sebagai kewajiban individu, tetapi sebuah kesadaran publik yang akan menghantarkan pada keshalihan sosial. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- Hijab; Menuju Keshalihan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=178&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> <a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/08/gadis-gadis-berjilbab.jpg" title="gadis-gadis-berjilbab.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/08/gadis-gadis-berjilbab.thumbnail.jpg?w=500" alt="gadis-gadis-berjilbab.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">Islam, memandang masyarakat sebagai jalinan kuat antara satu individu dengan individu lainnya. Pria maupun wanita sebagai bagian dari komponen masyarakat, saling bekerjasama dalam mewujudkan keseimbangan sosial di antaranya dengan cara menerapkan mekanisme hijab. Sehingga hijab tidak hanya dipahami sebagai kewajiban individu, tetapi sebuah kesadaran publik yang akan menghantarkan pada keshalihan sosial.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"> </span><span id="more-178"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span><span style="font-size:14pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:14pt;">Hijab; Menuju Keshalihan Sosial</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">Oleh: Afifah Ahmad</span><a href="#_ftn1" title="_ftnref1" name="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;font-weight:normal;"><span>*</span></span></span></a><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">Pendahuluan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"><span>            </span>Dewasa ini, hijab kembali menjadi isu hangat, seiring menguatnya fenomena semangat menerapkan nilai-nilai keagamaan di tanah air. Berbagai perda yang memuat peraturan hijab telah disahkan, seperti </span><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">Instruksi Walikota Nomor 451.422/Binsos-III/2005, tertanggal 7 Maret di Padang. Sebelumnya beberapa tempat lain, termasuk Aceh, telah lebih dahulu memulai. Tentu saja, beberapa perda ini memancing silang pendapat hebat di berbagai lapisan masyarakat. Bahkan, ada pula yang memandangnya sebagai upaya pemenjaraan terhadap hak-hak perempuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-weight:normal;"><span>            </span><span style="color:black;">Terlepas dari pro kontra yang mengemuka, nampaknya ada celah positif yang perlu ditanggapi secara serius; spirit memperbaiki moralitas masyarakat. Meskipun tidak hanya cukup sampai di sini. Kerja besar lainnya yang lebih penting adalah memberikan pemahaman secara benar tentang makna, hukum serta hikmah hijab kepada <span> </span>masyarakat.</span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;color:black;font-weight:normal;"><span>            </span>Di tingkat internasional, persoalan hijab pun tengah mendapat perhatian luas menyusul undang-undang pelarangan hijab di berbagai instansi Perancis serta beberapa negara Barat lainnya. Peristiwa ini pun, tak kalah mengundang reaksi hebat dari berbagai elemen masyarakat dunia. Bahkan beberapa kalangan, dengan sinis menempatkan hijab sebagai simbol keagamaan yang dapat memicu semangat radikalisme Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"><span>            </span>Berangkat dari sinilah, tampaknya eksplorasi pembahasan hijab, terutama hikmah penerapannya menjadi sedemikian <em>urgent</em>. Karena, hijab kerap kali dipahami secara keliru. Dalam konteks internal, banyak ditemukan para muslimah yang mengenakan jilbab hanya dilandasi ‘’keterpaksaan” ataupun “ikut-ikutan”, tidak berangkat dari kesadaran rasional. Sehingga banyaknya pemakai jilbab, seringkali tidak berbanding lurus dengan peningkatan kualitas masyarakat. Dalam konteks eksternal,<span>  </span>muncul stigma tentang pemakai hijab yang bersanding mesra dengan kekerasan dan terorisme yang meresahkan masyarakat. Selain itu, hijab juga kerap dipahami sebagai terali besi yang memasung kebebasan wanita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"><span>            </span>Lalu, bagaimana posisi Islam sebagai agama <em>rahmatan lil alamin</em>? Bukankan seluruh syariat Tuhan mengandung kemaslahatan bagi ummat, termasuk hijab di dalamnya? Benarkah hijab memberikan dampak kemunduran sosial ataukah sebaliknya, hijab memberikan jaminan sosial?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">Berangkat dari beberapa pertanyan tersebut, makalah ini berupaya menawarkan analisis terhadap problematika seputar hijab, bersandar pada aspek filosofis penerapannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">Pengertian dan Dasar Hukum Hijab</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">Hijab, secara etimologis memiliki arti: tabir, penutup, pakaian, tersembunyi serta terhalang dari tujuan.<a href="#_edn1" title="_ednref1" name="_ednref1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Pada mulanya, hijab dipahami sebagai kain tabir yang membatasi antara pria dan wanita. Hal ini bisa dilacak dalam al-Qur’an, terutama pada ayat hijab yang ditujukan kepada para istri Nabi Saw untuk mengenakan tabir ketika berbicara dengan non muhrim. Tetapi dewasa ini, kata “hijab” mengalami pergeseran makna. Syamsuddin<a href="#_edn2" title="_ednref2" name="_ednref2"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> menyebutkan hijab sebagai pakaian yang menutup anggota badan wanita baligh di hadapan non muhrim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"><span>            </span>Berkenaan dengan hukum hijab, terdapat kesepakatan di kalangan sebagian besar ulama Ahli Sunnah maupun Syiah bahwa seorang muslimah diharuskan menutup anggota tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan.<a href="#_edn3" title="_ednref3" name="_ednref3"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a> Penetapan hukum ini berangkat dari berbagai ayat al-Qur’an, riwayat serta berbagai sumber hukum Islam lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"><span>            </span>Setidaknya, terdapat dua kelompok ayat al-Qur’an yang biasa digunakan sebagai landasan berhijab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">Pertama</span></em><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">, Ayat <em>Ghaddul Bashar</em> (QS 24: 30) dan (QS 24: 31)<em>.</em> Dua ayat tersebut, masing-masing ditujukan kepada pria maupun wanita untuk menjaga pandangannya. Kata “<em>Ghaddul Bashar</em>” bukan berarti menutup mata,<a href="#_edn4" title="_ednref4" name="_ednref4"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> tetapi <span style="color:black;">tidak melihat dengan pandangan syahwat kepada non muhrim</span>. Sedangkan kata “<em>Hifzh Faraj</em>” dalam al-Quran kebanyakan mengandung pengertian kesucian dan menjaganya dari kemunkaran. Tetapi pada ayat ini, terdapat arti khusus yaitu menjaga pandangan serta kewajiban mengenakan hijab di hadapan non muhrim.<a href="#_edn5" title="_ednref5" name="_ednref5"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">Kedua</span></em><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">, Ayat-ayat yang hanya dikhususkan kepada wanita, misalnya ayat <em>Khimar</em> (QS 24:31) dan ayat <em>Jalabib</em> (QS 33: 59). Pada ayat <em>Khimar</em>, terdapat dua poin penting dalam konsep berhijab yaitu keharusan menutup bagian kepala serta leher dan menutup perhiasan (<em>Zinat</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"><span>            </span>Belakangan, mulai bermunculan upaya untuk melakukan penafsiran ulang terhadap ayat-ayat hijab, misalnya yang digagas oleh Shahrour dan dikutip banyak oposan hijab.<a href="#_edn6" title="_ednref6" name="_ednref6"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Mereka menyebutkan bahwa kepala dan leher tidak termasuk bagian yang harus ditutupi.<span>  </span>Nampaknya pendapat yang hanya didukung oleh sebagian kelompok kecil ini, tidak memiliki argumentasi yang cukup kokoh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><em><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">Pertama</span></em><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">, jika ditelusuri situasi turunnya ayat tersebut, wanita Madinah saat itu mengenakan semacam kain atau selendang yang menutupi bagian kepala mereka. Sedangkan leher dan telinga dibiarkan terbuka. Maka, istilah yang digunakan al-Qur&#8217;an adalah “menutup dada”. Karena, menurut konteks budaya lokal saat itu, mereka telah mengenakan penutup kepala. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"><span>            </span><em>Kedua</em>, penjelasan Ibnu Abbas berkenaan dengan ayat tersebut: “Perempuan harus menutupi rambut, dada, sekitar leher dan bawah tenggorokan.”<a href="#_edn7" title="_ednref7" name="_ednref7"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Demikian pula, beberapa riwayat lain yang menjelaskan batasan hijab. Jika mereka menegasikan berbagai hadis dan hanya berpegang pada al-Qur’an, <span style="color:black;">bagaimana bisa dilakukan penarikan hukum partikular yang paling penting seperti jumlah rakaat dalam shalat?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"><span>            </span>Adapun <em>Zinat</em> pada ayat tersebut, mengandung dua pengertian. <em>Pertama</em>, jenis perhiasan yang nampak jelas, seperti pakaian dan cincin. <em>Kedua</em>, perhiasan yang tersembunyi, kecuali jika si pemakai sengaja membukanya. Al-Qur’an melarang untuk menampakkan perhiasan pada pengertian kedua.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"><span>            </span>Pada akhir ayat <em>Jalabib</em> (QS 33: 59), Tuhan mengisyaratkan ketika seorang muslimah keluar rumah dengan mengenakan hijab serta menjaga <em>iffah</em>, ia akan terhindar dari berbagai gangguan.<a href="#_edn8" title="_ednref8" name="_ednref8"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"><span>            </span>Dengan menganalis berbagai ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa hijab memiliki dua pengertian. Pengertian khusus adalah pakaian yang menutup seluruh bagian badan wanita kecuali wajah dan telapak tangan. Sedangkan, hijab dalam pengertian umum adalah batasan bagi wanita maupun pria dalam berinteraksi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">Prinsip Umum dalam Berhijab</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"><span>            </span>Di dalam al-Qur’an, perintah untuk menutup aurat seringkali disandingkan dengan keharusan menjaga diri (</span><em><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">Iffah</span></em><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">).<a href="#_edn9" title="_ednref9" name="_ednref9"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Maka, pembahasan hijab tidak dapat dilepaskan dari penjelasan iffah. Hijab yang dimaksud terkait dengan pakaian lahiriah maupun batiniah. Karena sejatinya spirit berhijab adalah mengontrol perilaku dengan berbagai perangkat nilai. Jika seorang muslimah hanya mengenakan hijab zahir, tanpa diimbangi sifat takwa, hijab seperti halnya jantung tanpa denyut. Ia tidak akan memberikan pengaruh apapun dalam kehidupan bermasyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">Prinsip penting lainnya, menjaga hijab tidak hanya menjadi tanggung jawab wanita. Tetapi seorang pria pun memiliki peran yang tidak kalah besar. Misalnya, memberikan pemahaman kepada para wanita di sekitarnya mengenai urgensi berhijab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">Seorang pria tidak seharusnya membiarkan pergeseran nilai yang terjadi di masyarakat, sebagaimana ia juga tidak menghendaki kerusakan moral dalam kelurganya. Maka, ia bertanggung jawab untuk mengendalikan berbagai sarana yang dapat memicu diabaikannya hijab. Sebagaimana pesan Imam Shadiq as: “Berbuat baiklah kepada ayah-ayahmu, sehingga anak-anakmu kelak akan berbuat serupa kepadamu. Benahilah pakaian wanita di masyarakat, sehingga orang lain pun akan menjaga para wanita di rumahmu”<a href="#_edn10" title="_ednref10" name="_ednref10"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">Falsafah Hijab di Masyarakat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"><span>            </span>Ketika manusia telah meyakini secara rasional pilihan keberagamaannya, tugas selanjutnya adalah menerima berbagai hukum serta ketentuan Tuhan dengan totalitas penuh. <span style="color:black;">Karena seluruh ketentuan serta undang-undang-Nya</span>, mengandung<span>  </span>sejumlah hikmah serta kebaikan di dalamnya. Manusia tidak selamanya secara utuh dapat mengungkapkan rahasia hukum Tuhan tersebut, mengingat keterbatasan ilmu serta pengetahuan yang dimilikinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"><span>            </span>Demikian pula dengan hijab yang merupakan salah satu aturan Tuhan. Sebagaimana penjelasan di atas, melalui penelusuran sumber hukum Islam, hijab merupakan sebuah kewajiban. Adapun beberapa hikmah yang akan dikemukakan berikut, hanyalah sebuah upaya untuk memaknai hukum secara lebih rasional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"><span>            </span>Muthahhari,<a href="#_edn11" title="_ednref11" name="_ednref11"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> dalam bukunya menyebutkan hikmah berhijab dari berbagai aspek, baik psikologis maupun sosial. Berbagai hikmah tersebut bertujuan untuk menjaga keseimbangan sosial serta mengatur pola interaksi lawan jenis di tengah masyarakat. Karena, masih menurut Muthahhari, interaksi lawan jenis dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan manusia. Dengan adanya hijab, individu dalam masyarakat, baik pria maupun wanita, dapat dengan leluasa menjalankan berbagai aktivitas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"><span>            </span>Berikut kesaksian Muslimah asal Inggris, mahasiswi kedokteran yang memutuskan mengenakan hijab pada usia muda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 13.7pt 0.0001pt 0.5in;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">“Pilihan untuk mengenakan hijab, merupakan keputusan terpenting dalam hidup saya. Tanpa hijab, saya selalu merasa dalam bahaya. Ketika seseorang mampu melakukan aktivitas sosial<span>  </span>serta menjalin kerja sama dengan banyak orang tanpa harus mempertontonkan dirinya, itulah makna kebebasan yang hakiki. Bagi saya, hijab merupakan identitas serta manifestasi dari pola beragama saya.”<a href="#_edn12" title="_ednref12" name="_ednref12"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"><span>            </span>Demikian halnya dengan penjelasan Mariam, wanita asal al-Jazair yang hidup di pemukiman imigran Perancis dan bekerja sebagai buruh pabrik. Wanita ini memutuskan mengenakan hijab setelah menyaksikan berbagai fenomena dunia Islam, termasuk Revolusi Islam Iran. Dalam sebuah pengakuannya, ia menyebutkan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 13.7pt 0.0001pt 0.5in;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">“&#8230;.Ketika saya keluar dari rumah dengan mengenakan hijab, saya merasa terhindar dari ancaman bahaya. Suami saya juga merasa lebih tenang dan tidak terlampau khawatir. Hijab memberikan kebebasan lebih kepada saya. Tidak jarang, hijab juga mengandung arti politik, siapa saja yang mengenakannya, ia akan mengatakan bahwa saya adalah seorang muslim. Hijab, selain memberikan rasa aman juga menunjukkan kecintaan pada Islam.”<a href="#_edn13" title="_ednref13" name="_ednref13"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"><span>            </span>Dari pengakuan kedua muslimah tersebut, dapat dipahami bahwa pilihan mereka untuk berhijab berangkat dari sebuah kesadaran, bukan keterpaksaan. Karena, mereka menyadari bahwa hijab memberikan kenyamanan baik dalam konteks individu maupun sosial.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"><span>            </span>Lebih jauh, peran hijab dalam konteks sosial akan memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan kualitas masyarakat, di antaranya: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"><span>            </span>Pertama, menjaga keseimbangan sosial. </span></em><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">Salah satu kecenderungan yang mengakar kuat dalam diri manusia adalah kecenderungan seksual. Tetapi jika ia diarahkan secara positif, selain berfungsi untuk melanjutkan silsilah kehidupan manusia, ia juga dapat menjadi sarana terciptanya ketentraman jiwa. Dalam aturan Islam, hijab merupakan salah satu mekanisme paling efektif untuk mengendalikan kecenderungan tersebut. Islam memberlakukan aturan ini masing-masing kepada pria maupun wanita. Dalam hal ini, tugas bersama pria dan wanita adalah menjaga pandangan kepada non muhrim. Sedangkan wanita memiliki tugas yang khusus,<a href="#_edn14" title="_ednref14" name="_ednref14"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> mengenakan pakaian sesuai batas dan ketentuan syariah. Dengan mengindahkan ketentuan tersebut, di satu sisi, kaum pria akan terbantu dalam mengendalikan kecenderungan seksual. Di sisi lain, seorang muslimah merasa lebih aman. Situasi demikian, akan melahirkan pola interaksi sosial yang sehat dan seimbang di tengah masyarakat.</span><em><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"><span>            </span></span><em><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">Kedua, memperkuat pondasi keluarga</span></em><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">. Tidak dapat disangkal bahwa keluarga merupakan pranata tersuci dalam masyarakat. Keluarga memiliki peran yang tak tergantikan dalam mewujudkan masyarakat yang shalih. Sedangkan, peran hijab dalam mempererat ikatan keluarga tidak diragukan lagi. Betapa banyak persoalan keluarga yang berakhir dengan perceraian akibat diabaikannya aturan hijab. Longgarnya batasan hijab, akan membuka peluang kepada individu lain untuk memasuki wilayah yang sangat privasi itu. Sehingga lambat laun sekat suci keluarga akan menipis bahkan hilang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"><span> </span><span>           </span></span><em><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">Ketiga, memotivasi aktivitas publik. </span></em><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">Wanita merupakan asset besar dari sebuah masyarakat. Ia dapat memberikan kontribusi berharga dalam berbagai bidang seperti: budaya, sosial, ekonomi dan politik. Islam, dengan tawaran hijabnya, pada dasarnya telah memberikan peluang kepada kaum wanita untuk berpartisipasi dalam ruang publik. Hijab inilah yang akan mencegah ketidakseimbangan yang bersumber dari interaksi antar lawan jenis. Maka hijab merupakan faktor terpenting dalam menyumbangkan kebebasan pada kaum hawa, bukan malah membelenggunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"><span>            </span>Keempat, mengurangi eksploitasi wanita. </span></em><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;">Salah satu korban terbesar dari kapitalisme industri adalah kaum wanita. Setiap hari penawaran berbagai model baju dan alat kecantikan di pasaran terus meningkat. Dalam hal ini kaum wanita menderita dua kerugian, selain harus mengeluarkan anggaran besar untuk dapat terus mengikuti perkembangan mode, tak jarang, ia juga dijadikan sebagai sarana untuk melariskan barang dagangan. Sehingga posisi wanita lambat laun hanya sebatas alat komoditas. Hijab tidak hanya dapat menyelamatkan wanita dari penindasan budaya kapitalis seperti ini, bahkan mengangkatnya pada posisi yang mulia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">Catatan Akhir</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-weight:normal;"><span>            </span>Islam, memandang masyarakat sebagai jalinan kuat antara satu individu dengan individu lainnya. Pria maupun wanita sebagai bagian dari komponen masyarakat, saling bekerjasama dalam mewujudkan keseimbangan sosial di antaranya dengan cara menerapkan mekanisme hijab. Sehingga hijab tidak hanya dipahami sebagai kewajiban individu, tetapi sebuah kesadaran publik yang akan menghantarkan pada keshalihan sosial.[islamalternatif]</span></p>
<p><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />  <!--[endif]--></p>
<p class="MsoFootnoteText"><a href="#_ftnref1" title="_ftn1" name="_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Symbol;font-weight:normal;"><span>*</span></span></span></a><span style="font-family:'Book Antiqua';font-weight:normal;"> </span><span style="font-weight:normal;">Mahasiswi program Budaya dan Pemikiran Islam, Sekolah Tinggi Bint Huda Qom, Iran</span><span style="font-family:'Book Antiqua';font-weight:normal;"></span></p>
<p><!--[if !supportEndnotes]--></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />  <!--[endif]--></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref1" title="_edn1" name="_edn1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> </span><span style="font-weight:normal;">Isfahani,</span><span> </span><span style="font-weight:normal;">Raghib, <em>Mufradat alfadzil Qur</em>an, Qom: Dzawil Qurba, 1423 Hq</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="#_ednref2" title="_edn2" name="_edn2"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-weight:normal;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:10pt;font-weight:normal;"> <em>Hudud Pusyes va Negah dar Islam</em>, hal. 53 penerjemah: Muhsin Abidi, Tehran: Intisyarat-e bainal Milal al-Huda, 1378 Hs<span></span></span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref3" title="_edn3" name="_edn3"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-weight:normal;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-weight:normal;"> </span><span style="font-weight:normal;">Di kalangan ulama, terdapat perbedaan pendapat tentang diperbolehkan atau tidaknya membuka wajah dan kedua telapak tangan. Perbedaan ini, berangkat dari penafsiran ayat. Lebih jauh dapat dirujuk pada buku <em>Hijab az didgahe Quran va Sunnah</em>, karya: Fatahiyyah Fattahi Zadeh, Qom: Markaz Intisyarat-e Daftar Tabighat Islam, 1379 Hs</span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref4" title="_edn4" name="_edn4"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-weight:normal;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-weight:normal;"> Isfahani,</span><span> </span><span style="font-weight:normal;">Raghib, <em>Mufradat al-Fadzil Quran</em>, Qom: Dzawil Qurba, 1423 Hq</span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref5" title="_edn5" name="_edn5"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-weight:normal;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-weight:normal;"> </span><em><span style="font-weight:normal;">Tafsir Majma’ul Bayan</span></em><span style="font-weight:normal;"> hal. 191, Beirut: Dar al-Kitoob al-Ilmiyah, 1418 Hq/1997 M</span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref6" title="_edn6" name="_edn6"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-weight:normal;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-weight:normal;"> Di Indonesia pemikiran ini, banyak dikembangkan oleh kalangan Islam Liberal</span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref7" title="_edn7" name="_edn7"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-weight:normal;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-weight:normal;"> </span><em><span style="font-weight:normal;">Tafsir Majma’ul Bayan</span></em><span style="font-weight:normal;"> hal. 192, Beirut: Dar al-Kitoob al-Ilmiyah, 1418 Hq/1997 M</span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref8" title="_edn8" name="_edn8"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-weight:normal;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[8]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-weight:normal;"> Muthahhari, Murtadha, <em>Masaleh-e Hijab</em> hal. 162, Qom: Intisyarate Shadra, 1381 Hs/1423 Hq</span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref9" title="_edn9" name="_edn9"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-weight:normal;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[9]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-weight:normal;"> Misalnya dalam surat Nur ayat 30 dan 56, demikian juga surat ahzab ayat 13</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="#_ednref10" title="_edn10" name="_edn10"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-weight:normal;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[10]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:10pt;font-weight:normal;"> Amali jilid 6 hal. 288 lihat juga Fattahi Zadeh, Fatahiyyah, <em>Hijab az didgahe Quran va Sunnah</em> hal. 41, Qom: Markaz Intisyarat-e Daftar Tabighat Islam, 1379 Hs</span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref11" title="_edn11" name="_edn11"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-weight:normal;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[11]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-weight:normal;"> <em>Masaleh-e Hijab</em> hal. 76, Qom: Intisyarate Shadra, 1381 Hs/1423 Hq</span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref12" title="_edn12" name="_edn12"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-weight:normal;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[12]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-weight:normal;"> Watson, Helen, <em>Women and Veil</em>, Majalah Ketabe Zanan, edisi 20 Musim Panas 1382 Hs</span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref13" title="_edn13" name="_edn13"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-weight:normal;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[13]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-weight:normal;"> Ibid</span><span style="font-weight:normal;"></span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref14" title="_edn14" name="_edn14"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-weight:normal;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[14]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-weight:normal;"> Tugas khusus ini berangkat dari asumsi bahwa wanita memiliki perbedaan dengan pria baik dari sisi fisiologis maupun psikologis. Di dunia manapun, wanitalah yang biasa mengenakan perhiasan dan sebagainya.<span>   </span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/178/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/178/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/178/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=178&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/08/28/hijab-menuju-keshalihan-sosial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/08/gadis-gadis-berjilbab.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gadis-gadis-berjilbab.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>16 Nasehat Imam Khomeini untuk Membina Pribadi Muslim</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/08/09/16-nasehat-imam-khomeni-untuk-membina-pribadi-muslim/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/08/09/16-nasehat-imam-khomeni-untuk-membina-pribadi-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Aug 2007 13:23:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/08/09/16-nasehat-imam-khomeni-untuk-membina-pribadi-muslim/</guid>
		<description><![CDATA[Sedapat-dapatnya berpuasalah setiap hari Senin dan Kamis. Shalat lima waktu tepat pada waktunya, dan berusahalah shalat Tahajjud. Kurangilah waktu tidur, dan perbanyaklah membaca Al-Qur’an. Perhatikan dan tepatilah sungguh-sungguh janji Anda. Berinfaklah kepada fakir-miskin. Hindarilah tempat-tempat maksiat. Hindarilah tempat-tempat pesta pora, dan janganlah mengadakannya. Berpakaianlah secara sederhana. Janganlah banyak bicara dan seringlah berdo’a, khususnya hari Selasa. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=176&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="left"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/08/imam-berdoa.jpg" title="imam-berdoa.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/08/imam-berdoa.thumbnail.jpg?w=500" alt="imam-berdoa.jpg" /></a><strong><br />
</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong> </strong></p>
<ol>
<li class="MsoNormal">Sedapat-dapatnya berpuasalah setiap hari Senin dan Kamis.</li>
<li class="MsoNormal">Shalat lima      waktu tepat pada waktunya, dan berusahalah shalat Tahajjud.</li>
<li class="MsoNormal">Kurangilah waktu tidur, dan perbanyaklah membaca      Al-Qur’an.</li>
<li class="MsoNormal">Perhatikan dan tepatilah sungguh-sungguh janji Anda.</li>
<li class="MsoNormal">Berinfaklah kepada fakir-miskin.</li>
<li class="MsoNormal">Hindarilah tempat-tempat maksiat.</li>
<li class="MsoNormal">Hindarilah tempat-tempat pesta pora, dan janganlah      mengadakannya.</li>
<li class="MsoNormal">Berpakaianlah secara sederhana.</li>
<li class="MsoNormal">Janganlah banyak bicara dan seringlah berdo’a, khususnya      hari Selasa.</li>
<li class="MsoNormal">Berolahragalah (senam, marathon, mendaki gunung dan      lain-lain).</li>
<li class="MsoNormal">Banyak-banyaklah menelaah berbagai buku (agama,      sosial, politik, sains, falsafah, sejarah, sastra dan lain-lain).</li>
<li class="MsoNormal">Pelajarilah ilmu-ilmu tehnik yang dibutuhkan negara      Islam.</li>
<li class="MsoNormal">Pelajarilah ilmu Tajwid dan Bahasa Arab, serta      perdalamlah.</li>
<li class="MsoNormal">Lupakan pekerjaan-pekerjaan baik Anda, dan ingatlah      dosa-dosa Anda yang lalu.</li>
<li class="MsoNormal">Pandanglah fakir-miskin dari segi material, dan ulama      dari segi spiritual.</li>
<li class="MsoNormal">Ikuti perkembangan umat Islam.</li>
</ol>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/176/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/176/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=176&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/08/09/16-nasehat-imam-khomeni-untuk-membina-pribadi-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/08/imam-berdoa.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">imam-berdoa.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hijab dalam Syariat Islam</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/08/04/hijab-dalam-syariat-islam/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/08/04/hijab-dalam-syariat-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Aug 2007 12:42:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/08/04/hijab-dalam-syariat-islam/</guid>
		<description><![CDATA[Hijab adalah sebuah proteksi yang dapat menjaga seorang wanita dari pelecehan.. Hanya saja ungkapan semacam ini cakupannya sempit dan hanya akan dimengerti dan diamalkan oleh mereka yang meyakini Islam. Sedang bagi yang tidak meyakininya, terlebih mereka yang senantiasa mengusung panji feminisme dan atribut-atribut semisalnya akan sangat sulit menerima ungkapan di atas. Karena secara emosional penjagaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=174&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/08/muslimah.jpg" title="muslimah.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/08/muslimah.thumbnail.jpg?w=500" alt="muslimah.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Hijab adalah sebuah proteksi yang dapat menjaga seorang wanita dari pelecehan.. Hanya saja ungkapan semacam ini cakupannya sempit dan hanya akan dimengerti dan diamalkan oleh mereka yang meyakini Islam. Sedang bagi yang tidak meyakininya, terlebih mereka yang senantiasa mengusung panji feminisme dan atribut-atribut semisalnya akan sangat sulit menerima ungkapan di atas. Karena secara emosional penjagaan memberikan konotasi defensif, sebuah perlawanan yang terpaksa dilakukan. Ini jelas sulit diterima oleh kelompok-kelompok tadi yang selalu meneriakkan yel-yel kebebasan (menurut asumsi mereka). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;"><span> </span></span></strong><span id="more-174"></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:14pt;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:0.3in;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:0.3in;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:0.3in;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:0.3in;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;">Hijab dalam Syariat Islam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:0.3in;" align="center"><span style="font-size:10pt;">Oleh: Rabiah Adhawiah Beik</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:0.3in;" align="center"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:0.3in;" align="center"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;">Pendahuluan </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Buah nangka yang sudah dibelah, selain akan kehilangan cita rasa, aroma dan keistimewaan yang dimiliki, juga tidak akan selamat dari serbuan lalat dan serangga lainnya. Begitu juga dengan perempuan, ketika dia selalu memamerkan kecantikan dan keindahan tubuhnya, laki-laki hidung belang dan makhluk jenis ini akan segera datang untuk menikmatinya.<a href="#_edn1" title="_ednref1" name="_ednref1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[i]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <span> </span>Dan Islam sebagai agama yang sempurna datang menawarkan solusinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Hijab adalah sebuah proteksi yang dapat menjaga seorang wanita dari pelecehan.. Hanya saja ungkapan semacam ini cakupannya sempit dan hanya akan dimengerti dan diamalkan oleh mereka yang meyakini Islam. Sedang bagi yang tidak meyakininya, terlebih mereka yang senantiasa mengusung panji feminisme dan atribut-atribut semisalnya akan sangat sulit menerima ungkapan di atas. Karena secara emosional penjagaan memberikan konotasi defensif, sebuah perlawanan yang terpaksa dilakukan. Ini jelas sulit diterima oleh kelompok-kelompok tadi yang selalu meneriakkan yel-yel kebebasan (menurut asumsi mereka). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Atas dasar ini, mungkin ungkapan yang sesuai dengan konteks kekinian adalah pernyataan bahwa hijab adalah sebuah bentuk kasih sayang. Allah swt menciptakan manusia dengan bentuk<span>  </span>terbaik dan kaum hawa merupakan cerminan terbaik dari hal tersebut. Namun, sebagaimana kita saksikan di dunia nyata kecantikan dan keelokan setiap wanita berbeda satu sama lain. Dari sini, apakah perempuan yang dikenal sebagai makhluk yang penuh perasaan tidak akan tersentuh hatinya saat dikatakan kepadanya: Tidakkah engkau merasa kasihan<span>  </span>pada sesama jenismu yang tidak memiliki keelokan seperti dirimu? Tidakkah engkau merasa iba terhadap mereka yang kehilangan cinta dan kasih sayang suaminya karena penampakan tubuhmu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Agama Islam selain agama yang penuh kasih, juga merupakan agama yang paling komplit; tidak ada sebuah perbuatan kecuali memiliki hukum tersendiri. Begitu pula masalah hijab. Perlu diperhatikan, hijab (menutup aurat) sudah ada pada agama-agama sebelum Islam, jadi hijab bukan inovasi agama terakhir ini. Bahkan, lebih jauh lagi manusia pertama, Adam a.s. yang pada saat itu belum memiliki syariat telah memahami bahwa penampakan aurat adalah hal yang sangat buruk dan aurat tak seharusnya ditampakkan, sebagaimana al-Qur’an menyebutnya dengan <em>sau’at</em>.<a href="#_edn2" title="_ednref2" name="_ednref2"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[ii]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span>  </span>Dalam kesempatan ini kita akan<span>  </span>mencoba membahas pensyariatan hijab dalam Islam beserta batasan-batasannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">Pensyariatan Hijab </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Pensyariatan hijab di dalam Islam, dapat ditetapkan dengan empat dalil; dalil al-Quran, hadis, sirah (sejarah) dan akal. Masing-masing dari empat dalil tersebut cukup bagi kita untuk menetapkan pensyariatan hijab bagi kaum wanita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;"><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Menurut al-Quran</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Ayat terpenting yang menetapkan kewajiban berhijab pada kaum wanita yang akan kita bahas adalah ayat ke-31 surat an-Nur dan ayat ke-59 surat al-Ahzab. Allah swt dalam surat an-Nur<em> </em>ayat ke 31<em> </em>berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.3in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 1.45pt 0.0001pt 0.25in;"><em><span style="font-size:11pt;">(Wahai Rasulullah) Dan katakanlah kepada kaum wanita yang beriman<span>  </span>agar mereka menahan pandangan mereka dan menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali sesuatu yang (biasa) tampak darinya. Hendaknya mereka menutupkan kerudung mereka ke dada mereka (sehingga dada mereka tertutupi), janganlah menampakkan perhiasan mereka kecuali untuk suami-suami mereka, atau ayah dari suami-suami mereka atau putra-putra mereka, atau anak laki-laki dari suami-suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara-saudara laki-laki mereka, atau anak laki-laki dari saudara-saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita mereka atau budak-budak mereka atau laki-laki (pembantu di rumah) yang tidak memiliki syahwat atau anak kecil yang tidak paham terhadap aurat wanita. Dan janganlah kalian mengeraskan langkah kaki kalian sehingga diketahui perhiasan yang tertutupi (gelang kaki). Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kalian semua kepada Allah swt supaya kalian termasuk orang-orang yang beruntung</span></em><span style="font-size:11pt;">.<a href="#_edn3" title="_ednref3" name="_ednref3"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[iii]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:1.45pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Para ahli tafsir menyebutkan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah sebuah kisah yang dinukil dari Imam Muhammad Baqir a.s. Beliau bersabda: “Pada satu hari, di kota Madinah ada seorang wanita cantik yang sedang berjalan dengan mengikatkan kerudungnya ke telinganya (yang menjadi kebiasaan wanita pada saat itu) sehingga tampak leher dan dadanya. Seorang laki-laki dari golongan Anshar berpapasan dengannya, karena kecantikan wanita tersebut dia terpesona dan tidak peduli akan keadaan sekelilingnya, dia telah mabuk akan kemolekan wanita tersebut.<span>  </span>Sang wanita memasuki gang sempit, sedang pandangan laki-laki tersebut terus membuntutinya sampai tak terasa dia terbentur sebuah benda keras dan tajam sejenis tulang atau kayu yang menjorok dari tembok sehingga kepala dan dadanya mengucurkan darah segar yang melumuri pakaiannya.Dalam keadaan seperti itu dia datang menghadap Rasulullah saw dan menuturkan semua yang terjadi. Pada saat itulah, malaikat Jibril a.s. datang membawa ayat ini.”<a href="#_edn4" title="_ednref4" name="_ednref4"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[iv]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Dalam ayat di atas kita mendapatkan kata</span><strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">ابصار</span></strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;"> </span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:11pt;"><span dir="ltr"></span><span> </span>yang merupakan bentuk<span>  </span>jamak dari kata </span><strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">بصر</span></strong><span dir="ltr"></span><span style="font-size:11pt;"><span dir="ltr"></span>. Untuk<span>  </span>memahami ayat tersebut secara mendalam, lazim bagi kita mengetahui perbedaan antara </span><strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">بصر</span></strong><span dir="ltr"></span><span style="font-size:11pt;"><span dir="ltr"></span> dan </span><strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">عين</span></strong><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-size:11pt;"><span dir="ltr"></span>.</span></strong><span style="font-size:11pt;"> Walaupun keduanya sama-sama dipakai untuk nama dari anggota tubuh manusia yaitu mata, akan tetapi keduanya memiliki makna yang berbeda. </span><strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">عين</span></strong><span dir="ltr"></span><span style="font-size:11pt;"><span dir="ltr"></span> hanya bermakna mata bukan penggunaannya, sedang </span><strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">بصر</span></strong><span dir="ltr"></span><span style="font-size:11pt;"><span dir="ltr"></span> memiliki makna mata dengan penggunaannya yang dalam bahasa Indonesia kita sebut dengan pandangan. Kita perlu membahas perbedaan kedua kalimat di atas untuk mengetahui bahwa maksud dari ayat di atas adalah menutup pandangan bukan menutup mata<span>  </span><strong>(</strong></span><strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">ان يغضضن من ابصارهن</span></strong><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-size:11pt;"><span dir="ltr"></span>). </span></strong><span style="font-size:11pt;">Begitu juga dengan kata </span><strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">يغضضن</span></strong><span dir="ltr"></span><span style="font-size:11pt;"><span dir="ltr"></span><span>  </span>yang bersumber dari </span><strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">غضي</span></strong><span dir="ltr"></span><span style="font-size:11pt;"><span dir="ltr"></span>, kita harus mengetahui perbedaan dengan kata </span><strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">غمض</span></strong><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-size:11pt;"><span dir="ltr"></span>; </span></strong><span style="font-size:11pt;">arti dari<strong> </strong>kata terakhir adalah menutup mata sedang </span><strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">غض </span></strong><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-size:11pt;"><span dir="ltr"></span><span>  </span></span></strong><span style="font-size:11pt;">adalah<strong> </strong>menundukkan pandangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Dari ayat di atas kita dapat menyimpulkan beberapa poin penting, di antaranya: </span><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span>Ø<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Hendaknya kaum wanita menutup pandangan mereka dari pandangan yang penuh syahwat kepada laki-laki non muhrim.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span>Ø<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Wajib bagi kaum wanita menutupi auratnya dari laki-laki non muhrim.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span>Ø<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Wajib bagi kaum wanita menutupi badan dan perhiasan mereka.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span>Ø<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Diperbolehkan bagi kaum wanita untuk menampakkan badan dan perhiasan mereka di hadapan para muhrimnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Setelah Allah swt memerintahkan kewajiban menutup pandangan kaum wanita dari laki-laki non muhrim dan menutup aurat mereka dari pandangan orang lain, Allah swt memerintahkan untuk menutupi perhiasan wanita. Mungkin masalah menutup perhiasan merupakan masalah yang penting sehingga disebutkan dua kali dalam satu ayat. Makna perhiasan juga sangat jelas bagi kita yaitu setiap sesuatu yang menambah keindahan wanita dan dipahami oleh masyarakat umum, seperti gelang, kalung, anting dan lainnya. Perhiasan ini ada yang dapat dipisahkan dari badan wanita dan ada yang tidak dapat dipisahkan dari badan seperti<span>  </span>dandanan pada wajah seorang wanita atau perhiasan alami/natural<span>  </span>seperti rambut wanita atau yang lain. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Contoh larangan Allah swt terhadap penampakan perhiasan di awal-awal Islam adalah larangan-Nya terhadap para wanita untuk memperlihatkan kakinya ketika berjalan sehingga perhiasan yang tersembunyi (gelang kaki) terdengar oleh non muhrim.<a href="#_edn5" title="_ednref5" name="_ednref5"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[v]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span>  </span>Di da<span style="letter-spacing:-0.4pt;">lam surat an-Nur juga tertera larangan Allah bagi kaum wanita untuk tidak menampakkan perhiasan dengan pengecualian yaitu “kecuali yang sudah tampak </span></span><strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;letter-spacing:-0.4pt;">الا ما ظهر من</span></strong><strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;letter-spacing:-0.4pt;">ها</span></strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;letter-spacing:-0.4pt;"> </span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:-0.4pt;"><span dir="ltr"></span><span> </span></span><span style="font-size:11pt;letter-spacing:-0.4pt;">“. </span><span style="font-size:11pt;">Dari kalimat ini, kita dapat memahami bahwa perhiasan wanita ada dua macam, perhiasan yang tampak dan yang tidak tampak (juga jika wanita secara sengaja menampakkannya).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Para ahli tafsir berbeda pendapat satu sama lain dalam menjelaskan kalimat ini </span><strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">الا ما </span></strong><strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">ظ</span></strong><strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">هر منها</span></strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">)</span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:11pt;"><span dir="ltr"></span> </span><span dir="rtl"></span><span dir="rtl" style="font-size:11pt;"><span dir="rtl"></span>(</span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:11pt;"><span dir="ltr"></span>, dan memaknainya dengan makna yang beragam. Thabari dalam tafsirnya menyebut hampir dua puluh macam pendapat<strong> </strong>dari ungkapan<strong><span>  </span></strong></span><strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">الا ما ظهر منها</span></strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;"> </span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:11pt;"><span dir="ltr"></span><span> </span>.<a href="#_edn6" title="_ednref6" name="_ednref6"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[vi]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Di antaranya adalah: </span></p>
<ul>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Baju luar wanita.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Cincin, gelang dan gelang kaki.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Celak, cincin dan pacar kuku.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Wajah dan telapak tangan.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Hanya wajah saja.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Oleh karena itu, dalam hal ini kita harus merujuk kepada <em>Marja’</em> kita masing-masing untuk menentukan apa saja yang diperbolehkan terlihat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Akan tetapi, dari ayat di atas dan juga menurut kesepakatan para ahli fiqih Islam, dapat disimpulkan bahwa haram memakai segala sesuatu yang menurut <em>uruf</em> (tradisi) sebagai perhiasan di hadapan non muhrim seperti gelang, kalung, anting, kaca mata, jam tangan (yang menurut tradisi dianggap sebagai perhiasan), dandanan wajah dan tangan, kuku panjang atau kuku yang diwarnai, gelang kaki, cincin, baju dan sepatu yang dari segi warna, model, dan semacamnya dihitung sebagai perhiasan.<a href="#_edn7" title="_ednref7" name="_ednref7"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[vii]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Ayat lain yang berisi larangan menunjukkan perhiasan adalah ayat ke 33 surat al-Ahzab. Dalam surat ini Allah swt berfirman:<span>  </span><em>“&#8230;Dan diamlah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian tunjukkan perhiasan kalian sebagaimana<span>  </span>yang dilakukan di zaman jahiliyah.” </em>Walaupun pada dasarnya ayat ini ditujukan kepada istri-istri Rasulullah saw, akan tetapi perintahnya juga mencakup semua wanita muslim. Oleh karena itu, di akhir ayat ke-31 dari surat an-Nur dapat dipahami bahwa wanita yang menunjukkan<span>  </span>perhiasannya termasuk orang-orang yang berdosa, sehingga Allah swt memerintahkannya untuk bertaubat: <em>“Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kalian kepada Allah swt sehingga kamu termasuk orang-orang yang menang.” </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><em><span style="font-size:11pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Interpretasi<span>  </span>dari penggalan ayat </span><strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">وليضربن بخمرهن علي جيوبهن</span></strong><span dir="ltr"></span><span style="font-size:11pt;"><span dir="ltr"></span> </span><span style="font-size:11pt;">adalah bahwa al-Qur’an juga menjelaskan kepada kita tentang batasan hijab yang diinginkan oleh Islam. Karena pada zaman dahulu, wanita-wanita jahiliah memakai pakaian yang tidak menutupi leher dan dada. Oleh karenanya Allah berfirman: <em>“Dan tutuplah leher kalian dengan kerudung kalian</em>”. Ibnu Abbas, dalam menafsirkan ayat tersebut mengatakan: ”<em>Wanita hendaknya menutupi rambut, leher dan bawah dagu mereka</em>.”<a href="#_edn8" title="_ednref8" name="_ednref8"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[viii]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Maksud dari </span><strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">او نسائهن</span></strong><span dir="ltr"></span><span style="font-size:11pt;"><span dir="ltr"></span> dari ayat di atas memiliki tiga kemungkinan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Mereka adalah wanita muslim, maka maksudnya wanita non muslim tidak termasuk muhrim dan wanita muslim wajib menutup auratnya di hadapan mereka.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Mereka adalah wanita secara mutlak baik itu wanita muslim atau selain muslim.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Maksud dari kata <em>nisa’</em> itu adalah wanita-wanita yang berada di dalam rumah seperti para pembantu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Ayatullah Murthadha Muthahari menolak mentah-mentah makna yang ketiga, menganggap lemah makna yang kedua dan meyakini bahwa makna yang pertama lebih kuat. Karena makna pertama ini juga dikuatkan oleh beberapa riwayat yang melarang wanita muslim untuk membuka auratnya di hadapan wanita-wanita Yahudi dan Nasrani karena dikhawatirkan mereka akan menceritakan kecantikan wanita muslim kepada suami atau saudara mereka.<a href="#_edn9" title="_ednref9" name="_ednref9"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[ix]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Sedangkan kalimat </span><strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">او ما ملكت ايمانهن</span></strong><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-size:11pt;"><span dir="ltr"></span> </span></strong><span style="font-size:11pt;">memiliki dua kemungkinan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Yang dimaksudkan oleh ayat tersebut adalah khusus budak perempuan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Budak secara mutlak, yang mencakup budak perempuan atau laki-laki.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Jika kita merujuk pada berbagai riwayat, tampaknya pendapat kedua (budak laki-laki dan perempuan) lebih kuat, seperti dalam suatu riwayat dari Imam Shadiq as. Seseorang menceritakan kepada Imam Shadiq a.s. bahwa orang-orang Madinah selalu mengirim budak-budak laki-laki mereka untuk menemani istri-istri mereka pergi ke satu tempat dan terkadang ketika istri-istri mereka ingin menunggangi kuda, mereka meminta bantuan budak mereka dengan memegang pundaknya. Imam Shadiq a.s. ketika mendengar hal ini menjawab: “Hal ini tidak dilarang berdasarkan ayat 55 surah al-Ahzab.”<a href="#_edn10" title="_ednref10" name="_ednref10"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[x]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Selanjutnya, dari kalimat </span><strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">التابعين غير اولي الاربة</span></strong><span dir="ltr"></span><span style="font-size:11pt;"><span dir="ltr"></span> </span><span style="font-size:11pt;">terlihat jelas bahwa maksud dari kalimat tersebut adalah orang-orang gila dan orang yang terbelakang secara mental yang tidak memiliki syahwat dan tidak tertarik dengan keindahan wanita.<a href="#_edn11" title="_ednref11" name="_ednref11"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[xi]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Adapun tentang anak kecil yang tidak tahu menahu tentang aurat wanita, memiliki dua penafsiran: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:11pt;">Pertama</span></em></strong><strong><span style="font-size:11pt;">: </span></strong><span style="font-size:11pt;">anak-anak kecil yang tidak tahu tentang perkara-perkara yang tersembunyi dari seorang wanita dan biasa kita sebut anak kecil yang belum <em>mumayyiz.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:11pt;">Kedua</span></em></strong><strong><span style="font-size:11pt;">: </span></strong><span style="font-size:11pt;">anak-anak kecil yang tidak mampu memanfaatkan perkara-perkara yang tersembunyi dari seorang wanita dan bisa kita sebut anak kecil yang belum <em>baligh</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><em><span style="font-size:11pt;"><span> </span></span></em><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Berkenaan dengan penggalan ayat </span><strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">ولا يضربن</span></strong><span dir="ltr"></span><span style="font-size:11pt;"><span dir="ltr"></span> wanita-wanita pada zaman dahulu biasanya memakai gelang kaki, dan supaya gelang kaki mereka diketahui orang lain mereka mengeraskan langkah mereka. Sebenarnya penggalan ayat ini ingin mengatakan bahwa Allah melarang segala sesuatu yang menarik perhatian laki-laki non muhrim, seperti memakai parfum yang wanginya dapat tercium orang lain ataupun menghias wajah dan semua yang membuat hati laki-laki tergerak dan menjadi pusat perhatian mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Ayat lain yang menyinggung tentang pensyariatan hijab adalah ayat ke-59 surah Ahzab. Allah swt dalam ayat tersebut berfirman: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu dan kepada wanita-wanita mukmin agar mereka mendekatkan diri kepada mereka dengan jilbab mereka supaya mereka mudah dikenal dan supaya mereka tidak diganggu maka sesungguhnya Allah Maha mengampuni dan Maha Penyayang.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Berkenaan dengan kondisi turunnya ayat ini, dalam tafsir Ali bin Ibrahim al-Qumi disebutkan: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 14.05pt 0.0001pt 0.75in;"><span style="font-size:11pt;">Pada saat itu kaum wanita pergi ke masjid dan shalat di belakang Rasulullah. Saat mereka menuju masjid untuk menunaikan shalat Magrib atau Isya’ para remaja nakal yang duduk di pinggir jalan, mengejek atau mengolok-olok mereka. Lalu turunlah ayat ini<a href="#_edn12" title="_ednref12" name="_ednref12"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[xii]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> yang memerintahkan mereka memakai hijab sempurna supaya mereka dikenal seutuhnya dan tidak ada alasan lagi untuk mengolok-olok mereka.<a href="#_edn13" title="_ednref13" name="_ednref13"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[xiii]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Dalam ayat ini ada dua poin yang harus diperhatikan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;letter-spacing:-0.1pt;">Pertama, </span></em><span style="font-size:11pt;letter-spacing:-0.1pt;">apakah maksud dari jilbab yang disebutkan dalam ayat? Dan apakah maksud dari kalimat “hendaknya mereka<span>  </span>mendekatkan diri dengannya”?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;letter-spacing:-0.1pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Kedua, </span></em><span style="font-size:11pt;">apa maksud dari faedah perintah hijab yang dalam kalimat di atas disebutkan (<em>agar mereka dapat dikenal dan tidak diganggu</em>)? Namun karena poin kedua ini harus dibahas secara tersendiri dalam <span> </span>filsafat hijab, maka kami tidak akan mengulasnya.<a href="#_edn14" title="_ednref14" name="_ednref14"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[xiv]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Menjawab poin pertama merupakan hal yang terasa cukup sulit, karena terjadi silang pendapat di antara para mufassir dan ahli bahasa. Ragib Isfahani dalam kitabnya, <em>Mufradat al-Fadzil Qur’an </em>menyebutkan, <span> </span>jilbab<em> </em>adalah baju kurung dan kerudung.<a href="#_edn15" title="_ednref15" name="_ednref15"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[xv]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Makna jilbab menurut para mufassir<span>  </span>adalah sebagai berikut; <em>pertama, </em>kerudung panjang yang menutupi kepala (rambut) dan dada. <em>Kedua, jilbab </em>(kerudung biasa). <em>Ketiga, </em>baju yang besar.<em> </em>Namun titik temu dari semua arti di atas adalah kain yang dapat menutupi badan. Namun, mayoritas mufassir<span>  </span>berkeyakinan bahwa maksud dari jilbab dalam ayat tersebut adalah kain yang lebih besar dari kerudung dan lebih kecil dari <em>chadur, </em>sebagaimana ditegaskan oleh penulis kitab <em>Lisanul Arab</em>.<a href="#_edn16" title="_ednref16" name="_ednref16"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[xvi]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Kemudian, kata </span><strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">يدنين</span></strong><span dir="ltr"></span><span style="font-size:11pt;"><span dir="ltr"></span> di sini berarti memakai. Tidak di semua tempat kata ini berarti demikian, kita harus melihat konteks kalimatnya sebagaimana dalam ayat ini. Maksud dari kata </span><strong><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">يدنين</span></strong><span dir="ltr"></span><span style="font-size:11pt;"><span dir="ltr"></span> adalah agar para wanita mendekatkan jilbab mereka ke badan mereka supaya dapat dikontrol, tidak terlalu besar sehingga terkadang tersingkap<a href="#_edn17" title="_ednref17" name="_ednref17"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[xvii]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> (jika tertiup angin atau lainnya). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.3in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;"><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Menurut Hadis</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Banyak hadis-hadis atau riwayat-riwayat yang membahas tentang hijab, oleh karenanya perlu kita pilah-pilah dan kelompokkan riwayat-riwayat tersebut dalam beberapa kategori.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;"><span>a.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Hadis tidak diwajibkannya menutup wajah dan telapak tangan</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Mas’adah bin Ziyad menukil dari Imam Ja&#8217;far Shadiq a.s. ketika beliau ditanya tentang perhiasan yang boleh untuk ditampakkan, Imam menjawab:”Wajah dan telapak<span>  </span>tangan.”<a href="#_edn18" title="_ednref18" name="_ednref18"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[xviii]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Mufaddhal bin Umar bertanya kepada Imam Shadiq a.s. tentang wanita yang meninggal di perjalanan dan di sana tidak ada laki-laki muhrim atau wanita yang memandikannya. Imam menjawab: “Anggota-anggota tubuh yang wajib untuk ditayamumi hendaklah dibasuh akan tetapi tidak boleh menyentuh badannya, dan juga tidak boleh menampakkan kecantikan yang Allah <span style="letter-spacing:-0.1pt;">wajibkan</span> untuk ditutupi. Mufaddhal bertanya kembali: “Bagaimana caranya?” Imam menjawab: “Pertama membasuh bagian dalam telapak tangan, kemudian wajah dan bagian luar tangannya.”<a href="#_edn19" title="_ednref19" name="_ednref19"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[xix]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Dari sini kita dapat memahami bahwa tangan dan wajah bukan termasuk anggota badan yang wajib untuk ditutupi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Ali bin Ja&#8217;far ditanya tentang<span>  </span>batasan seorang laki-laki dapat melihat wanita non muhrim, Imam menjawab: “Wajah, telapak tangan dan pergelangan tangan.”<a href="#_edn20" title="_ednref20" name="_ednref20"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[xx]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Dalam hadis lain <span style="letter-spacing:-0.2pt;">juga disebutkan bahwa pada suatu hari Jabir bin Abdullah bersama Rasulullah menuju rumah putrinya Sayyidah Fathimah. Sesampainya di pintu rumah, Rasulullah mengucapkan salam dan meminta izin kepada putrinya untuk masuk sambil memberitahukan bahwa dia bersama Jabir bin Abdullah. Sayyidah Fathimah meminta beliau untuk menunggu sebentar karena pada waktu itu beliau belum menutup rambutnya. Setelah Sayyidah Fathimah menutup rambutnya, Rasulullah dan Jabir masuk ke rumah Sayyidah Fathimah. Rasulullah melihat wajah putrinya pucat dan kekuning-kuningan, kemudian bertanya mengapa hal ini terjadi. Sayyidah Fathimah menjawab bahwa wajah pucatnya <span> </span>dikarenakan rasa lapar yang menderanya. Mendengar hal itu Rasulullah langsung berdoa kepada Allah agar menghilangkan rasa lapar yang diderita oleh putriny</span>a.<a href="#_edn21" title="_ednref21" name="_ednref21"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[xxi]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span>   </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Dari hadis di atas kita dapat mengambil dua kesimpulan: <em>pertama</em>, Sayyidah Fathimah<span>  </span>tidak menutup wajahnya di hadapan laki-laki non muhrim. <em>Kedua</em>, tidak wajib menutup wajah di hadapan laki-laki non muhrim.<span>    </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.3in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.3in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.3in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;"><span>b.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Hadis tentang diwajibkannya<span>  </span>berhijab di hadapan Yahudi dan Nasrani</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Imam Shadiq a.s. bersabda: “Tidak dibenarkan seorang wanita muslim menampakkan auratnya di hadapan wanita Yahudi dan Nasrani, karena mereka akan menceritakan ciri-ciri jasmaninya kepada suami-suami mereka.”<a href="#_edn22" title="_ednref22" name="_ednref22"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[xxii]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.3in;"><strong><span style="font-size:11pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;"><span>c.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Hadis tentang ciri-ciri dan waktu hijab</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Imam Shadiq a.s. bersabda: “Bukan termasuk maslahat jika wanita memakai kerudung dan baju yang tipis.”<a href="#_edn23" title="_ednref23" name="_ednref23"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[xxiii]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib bersabda: “Selamat bagi kalian yang memakai baju yang tebal, karena sebenarnya orang yang memakai baju yang tipis maka imannya pun tipis.”<a href="#_edn24" title="_ednref24" name="_ednref24"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[xxiv]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span><span dir="rtl" style="font-size:11pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Imam Shadiq a.s. bersabda: “Cukuplah sebagai tolok ukur kehinaan seseorang ketika dia memakai baju yang menyebabkan kemasyhurannya.”<a href="#_edn25" title="_ednref25" name="_ednref25"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[xxv]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Imam Shadiq bersabda: “Rasulullah Saw selalu melarang laki-laki untuk menyerupai wanita dan melarang wanita untuk menyerupai laki-laki dalam segi berpakaian.”<a href="#_edn26" title="_ednref26" name="_ednref26"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[xxvi]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.3in;"><strong><span style="font-size:11pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;"><span>d.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Hadis tentang balasan bagi mereka yang tidak berhijab</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Rasulullah saw bersabda: “Wanita yang di neraka menggantungkan dirinya dengan rambutnya adalah wanita yang tidak menutup rambutnya di hadapan selain muhrim.”<a href="#_edn27" title="_ednref27" name="_ednref27"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[xxvii]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Rasulullah saw bersabda: “Dua golongan penghuni Jahanam belum pernah aku lihat. Kelompok yang disiksa dengan sebuah pecut (menyerupai ekor sapi). Kedua para wanita yang berbusana namun telanjang (mereka yang mengenakan baju tipis dan transparan)&#8230;”<a href="#_edn28" title="_ednref28" name="_ednref28"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[xxviii]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><span>  </span></span><span dir="rtl" style="font-size:11pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Dengan melihat dan memperhatikan beberapa hadis di atas, maka jelaslah bagi kita bahwa Allah swt telah mewajibkan<span>  </span>hijab bagi wanita muslimah. </span><span dir="rtl" style="font-size:11pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:0.3in;" align="right"><span dir="rtl" style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;"><span>3.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Menurut Sirah (Sejarah) dan Akal</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Untuk menetapkan kewajiban hijab bagi kaum wanita, kita juga bisa merujuk <em>sirah</em> kaum wanita muslimah pada zaman Rasulullah. Mereka selalu menutupi tubuh dan rambut mereka ketika berada di hadapan non muhrim,<a href="#_edn29" title="_ednref29" name="_ednref29"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[xxix]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> seperti yang kita lihat dari hadis tentang kedatangan Rasulullah bersama Jabir ke rumah Sayyidah Fathimah<span>  </span>as.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Begitu juga dengan akal manusia, akal manusia juga dapat membuktikan kewajiban hijab bagi kaum wanita. Akal akan senantiasa memerintahkan segala perbuatan yang membawa manfaat dan akan memerintahkan untuk melakukan hal itu, begitu juga sebaliknya akal akan selalu memperingatkan manusia dari hal-hal yang membahayakan manusia. [islamalternatif]</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"><span>            </span></span></p>
<p><!--[if !supportEndnotes]--></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />  <!--[endif]--></p>
<p class="MsoEndnoteText" style="text-align:justify;"><a href="#_ednref1" title="_edn1" name="_edn1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[i]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Mungkin perumpamaan ini tidak terlalu tepat, (q<em>iyas ma’al fariq</em>), namun yang jelas salah satu hikmah dari hijab adalah hal tersebut <em>La Jidala fil misal.</em></span><span></span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref2" title="_edn2" name="_edn2"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[ii]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> QS. 7: 22.</span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref3" title="_edn3" name="_edn3"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[iii]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> QS. 24:31.</span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref4" title="_edn4" name="_edn4"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[iv]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Syirazi, Nasir Makarim, <em>Tafsir Nemuneh, cetakan pertama,</em> Darul Kutubil Islamiyah<em>, </em>Teheran<em>,<span>  </span></em>tahun<em> </em>1374<em>,<span>  </span></em>jilid 14, hal 435-436.</span></p>
<p class="MsoEndnoteText" style="text-align:justify;"><a href="#_ednref5" title="_edn5" name="_edn5"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[v]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Thabrisi, Fadhl bin Hasan, <em>Majma’al-Bayan, </em>cetakan pertama, Darul Makrifah, Bairut, tahun 1406 H.Q, juz 7, hal 138.</span><span></span></p>
<p class="MsoEndnoteText" style="text-align:justify;"><a href="#_ednref6" title="_edn6" name="_edn6"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[vi]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Thabari, Muhammad bin Jarir, <em>Jamiul Bayan fi Tafsiril Quran, </em>cetakan pertama, Darul Makrifah, Bairut, tahun 1412 H.Q, juz 18.</span><span></span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref7" title="_edn7" name="_edn7"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[vii]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> <em>‘Urwah al-Wutsqa</em>, juz pertama, Assatr wa as-Satir, masalah keempat. <em>Ahkam Banuwan</em>, hal 19.</span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref8" title="_edn8" name="_edn8"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[viii]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> <em>Majma’ al-Bayan,</em> juz 7.</span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref9" title="_edn9" name="_edn9"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[ix]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Lihat: Muthahari, Murtadha, <em>Masale-ye-Hijab</em>, Syirkat-e Sahami Intisyar, tahun 1362 H. Sy, hal 141.</span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref10" title="_edn10" name="_edn10"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[x]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Kulaini, Muhammad bin Yakub, <em>Al-Kâfi</em>, cetakan ke-4, Darul Kutubi Islamiyah, Tehran, tahun 1365 H. Sy, jilid 5, hal 531.</span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref11" title="_edn11" name="_edn11"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[xi]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> <em>Masaele Hijab, </em>hal<em><span>  </span></em>144.</span></p>
<p class="MsoEndnoteText" style="text-align:justify;"><a href="#_ednref12" title="_edn12" name="_edn12"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[xii]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Qumi, Ali bin Ibrahim, <em>Tafsir Ali bin Ibrahim al-Qummi, </em>cetakan ke-4, Darul Kitab<em>, </em>Qum, Tahun 1367 H. Sy,<em><span>  </span></em>jilid 2, halaman 196.</span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref13" title="_edn13" name="_edn13"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[xiii]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> <em>Tafsir Nemuneh, </em>jilid 17, hal 426.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoEndnoteText" style="text-align:justify;"><a href="#_ednref14" title="_edn14" name="_edn14"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[xiv]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Tentang maksud dari ungakapan bahwa jika wanita memakai hijab sempurna maka ia akan lebih dikenal, Ayatullah Makarim Syirazi dalam tafsirnya menyebut dua kemungkinan yang keduanya tidak bertentangan satu dengan yang lain. <em>Pertama, </em>saat itu para budak wanita jika keluar tidak memakai<span>  </span>penutup kepala dan leher, para pemuda nakal yang mengetahui mereka (para budak wanita) dan tidak memiliki kepribadian yang tinggi, kerap kali menggoda dan mengejek. Nah, di sini diperintahkan agar para wanita yang <em>Hur </em>(bukan budak) memakai hijab sempurna. (ini bukan berarti seorang laki-laki dapat melihat rambut atau kepala budak wanita orang lain, akan tetapi maksudnya adalah agar para pria nakal tidak memiliki alasan lagi). <em>Kedua,</em> tujuannya adalah supaya para wanita tidak menyepelekan masalah hijab sebagaimana mereka yang berhijab namun begitu tidak perhatiannya sehingga sebagian badannya tampak dan menjadi bahan olok-olokan para pemuda tersebut. (<em>Tafsir Nemuneh, </em>jilid 17, hal 428).<span>  </span>Selain dua kemungkinan itu Allamah Fadhlullah dalam tafsirnya, mengatakan, mereka dapat dikenal dan dibedakan dari wanita non muslim. (Fadzlullah, Muhammad Husain, <em>Tafsir Min Wahyil Quran, </em>cetakan kedua, Darul Milak lithabah wa Nasyr<em>,<span>  </span></em>Bairut, tahun 1419 H. Q,<span>  </span>jilid 18, hal 349).</span></p>
<p class="MsoEndnoteText" style="text-align:justify;"><a href="#_ednref15" title="_edn15" name="_edn15"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[xv]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Isfahani, Ragib, <em>Mufradat</em> <em>Alfadzil Qurani Karim</em>, cetakan kedua, Syari’at, Qum, tahun 1423 H. Q, hal 199, akar kata <em>Jalaba</em>.</span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref16" title="_edn16" name="_edn16"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[xvi]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> <em>Tafsir Nemuneh, </em>jilid 17, hal 428.</span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref17" title="_edn17" name="_edn17"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[xvii]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Ibid.</span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref18" title="_edn18" name="_edn18"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[xviii]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Himyari, Abdullah bin Ja’far, <em>Qurb al-Isnad, </em><span> </span>Nainawa, Tehran, juz 2, hal 40.</span></p>
<p class="MsoEndnoteText" style="text-align:justify;"><a href="#_ednref19" title="_edn19" name="_edn19"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[xix]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Ibnu Babuwaih Qumi, Muhammad bin Ali, <em>Man La Yahdhuruhul Faqih,</em> Intisyarat Jamiah Mudarrisin, Qom, tahun 1413 H. Q,<em> </em>jilid 1, hal 156.<em> </em></span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref20" title="_edn20" name="_edn20"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[xx]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> <em>Qurb al-Isnad, </em>hal 102.</span><span></span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref21" title="_edn21" name="_edn21"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[xxi]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> <em>Al-Kafi</em>, jilid 5, hal 528</span><span></span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref22" title="_edn22" name="_edn22"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[xxii]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Al-Hurr al-Amili, Muhammad bin Hasan, <em>Wasail as-Syiah</em>, cetakan pertama, Muassasah Alul Bait li Ihya’i Turats, Qum, tahun 1409 H. Q, juz 20, hal 184.</span><span></span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref23" title="_edn23" name="_edn23"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[xxiii]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Ibid, juz 4, hal 388.</span><span></span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref24" title="_edn24" name="_edn24"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[xxiv]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Akbari, Muhammad Ridha, <em>Tahlil-e Nu wa ‘Amali az Hejab dar Ashre Hazer</em>, cetakan keempat, Payame Itrat, Isfahan tahun 1377 H. Sy,<span>  </span>hal 60.</span><span></span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref25" title="_edn25" name="_edn25"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[xxv]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> <em>Wasail as-Syiah</em>, juz 5, hal 24.</span><span></span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref26" title="_edn26" name="_edn26"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[xxvi]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Ibid, juz 5, hal 25.</span><span></span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref27" title="_edn27" name="_edn27"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[xxvii]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> <em>Tahlil-e Nu wa ‘Amali az Hejab dar Ashre Hazer</em>, hal 88.</span><span></span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref28" title="_edn28" name="_edn28"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[xxviii]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> <em>Sahih Muslim, </em>juz 3, hal 1680, sesuai penukilan kitab <em>Tahlile Nu wa ‘Amali az Hejab dar Ashre Hazer</em>.</span></p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref29" title="_edn29" name="_edn29"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[xxix]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span> Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di <em>Tahlile nu wa Amali az Hijab dar Asre Hadzir,</em> hal 49.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/174/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/174/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/174/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=174&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/08/04/hijab-dalam-syariat-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/08/muslimah.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">muslimah.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hijab sebagai Pilar Keluarga</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/08/01/hijab-sebagai-pilar-keluarga/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/08/01/hijab-sebagai-pilar-keluarga/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Aug 2007 10:43:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/08/01/hijab-sebagai-pilar-keluarga/</guid>
		<description><![CDATA[Hijab bukan dimaksudkan untuk menghalangi perempuan keluar dari rumahnya tapi kewajiban hijab bagi perempuan adalah untuk melindungi diri di dalam masyarakat  ketika ia berada di antara laki-laki asing (non muhrim) dan menghalangi perempuan dari memamerkan keindahan dirinya. Ketika aturan hijab ini dilaksanakan maka ia menjadi tolok ukur kemuliaan perempuan dalam Islam. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-   Hijab sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=172&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/08/jilbab-pembebasan.jpg" title="jilbab-pembebasan.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/08/jilbab-pembebasan.thumbnail.jpg?w=500" alt="jilbab-pembebasan.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Hijab bukan dimaksudkan untuk menghalangi perempuan keluar dari rumahnya tapi kewajiban hijab bagi perempuan adalah untuk melindungi diri di dalam masyarakat<span>  </span>ketika ia berada di antara laki-laki asing (non muhrim) dan menghalangi perempuan dari memamerkan keindahan dirinya. Ketika aturan hijab ini dilaksanakan maka ia menjadi tolok ukur kemuliaan perempuan dalam Islam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span id="more-172"></span><span style="font-size:11pt;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;">Hijab sebagai Pilar Keluarga</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">Oleh: Siti Rabiah Aidhiah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">Pendahuluan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Hijab seperti tema yang berkaitan dengan isu perempuan semisal poligami, mahar dan hak talak dalam perceraian di kalangan dan di luar umat Islam masih diperdebatkan sebagai aturan yang hari ini tidak perlu dilaksanakan lagi, dipermasalahkan karena ia bukan berasal dari Islam, atau didakwa sebagai pemasung kebebasan bahkan pencerabutan hak wanita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Seiring dengan pemahaman tentang keadilan dan hikmah Tuhan, maka setiap aturan berupa perintah dan larangan-Nya tentu memiliki tujuan yang tidak lain adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. </span><span style="font-size:11pt;">Pemahaman akan hal ini menjadi sangat penting, terutama di era<span>  </span>ini ketika peradaban manusia telah berkembang sejalan dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Segala sesuatu yang hanya bersifat doktrin kaku tanpa dibarengi penjelasan hikmah dan alasan ilmiah akan tertolak, sebagaimana seorang anak yang beranjak dewasa tidak lagi percaya bahwa di dalam gelap ada sesuatu yang menakutkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Masalah kontroversial hijab hanyalah merupakan sebuah reaksi alamiah masyarakat yang telah meninggalkan tradisi mitos dan takhayul. Maka menjadi penting untuk mengemukakan falsafah aturan hijab sehingga ia dapat dipahami dengan mudah dan diterima secara teori dan praktis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Islam adalah agama Ilahi yang berpijak pada keseimbangan dan menjadikan pola tersebut sebagai jalan meraih kesempurnaan. Islam menghendaki tercapainya kesempurnaan pada individu dan masyarakat sehingga terwujud pula peradaban yang sempurna untuk menyongsong kehadiran Sang Mahdi yang merupakan aktualisasi Kesempurnaan Ilahi. Hijab yang secara tekstual hadir sebagai aturan individual memiliki makna dan sumbangan yang besar bagi keberlanjutan masyarakat dan peradaban. Selain sebagai hubungan ketaatan hamba pada Tuhan, pelaksanaan aturan hijab memberi sumbangan besar bagi keutuhan masyarakat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Tulisan ini akan membahas hubungan hijab dengan keluarga yang merupakan<span>  </span>unit terkecil dalam masyarakat namun sekaligus menjadi motor penggerak masyarakat yang sehat. Islam menghendaki kelanjutan peradaban manusia melalui utuhnya kehidupan keluarga dan perkawinan yang berazas hukum sebagai jalan untuk melanjutkan generasi manusia. Hijab sebagai salah satu perangkat untuk mencapai<span>  </span>tujuan tersebut dan berkaitan dengan kesucian sebagai fondasi keutuhan keluarga, telah ditetapkan sebagai aturan yang mengikat setiap pribadi muslim. Tanggung jawab hijab bukan hanya berada di atas pundak perempuan, tetapi juga meliputi laki-laki sebagai sel inti dari sebuah keluarga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">Pengertian Hijab</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Secara etimologis, hijab adalah kata yang berasal dari kata <em>satar </em>yang berarti sesuatu yang membatasi antara dua benda (Darul Maarif). Di dalam al-Qur’an kata hijab terdapat pada surat al-Ahzab ayat 53 yang bermakna sitir atau tabir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;margin:0 -3.95pt 0.0001pt 0.5in;" align="right"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;margin:0 -3.95pt 0.0001pt 0.5in;" align="right"><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا</span><span dir="rtl" style="font-size:11pt;"> </span><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">فَاسْأَلُوهُنَّ مِن وَرَاء حِجَابٍ</span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:11pt;"><span dir="ltr"></span> </span><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 37.65pt 0.0001pt 0.5in;"><em><span style="font-size:11pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:-3.95pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">”Setiap kali kamu meminta kepada mereka (istri-istri nabi), maka mintalah dari belakang tabir.”</span></em><span style="font-size:11pt;"> (QS. al-Ahzab: 53)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:-3.95pt;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Selain itu ada beberapa kata hijab yang terdapat dalam al-Qur’an seperti dalam<span>  </span>surat al-Fushilat ayat 5, surat as-Syura ayat 51, surat al-Isra’ ayat 45, surat Maryam ayat 17, surat as-Shad ayat 32 yang semuanya bermakna pembatas atau penghalang terlihatnya sesuatu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Mahdi Zadeh (1382 Hs) menjabarkan makna hijab sebagai pakaian Islami perempuan. Sedangkan Syahid Muthahari (1382 Hs) menyatakan bahwa hijab adalah istilah baru yang digunakan oleh para ahli Fiqih pada abad mutakhir yang sebelumnya digunakan terminologi sitir untuk pakaian tersebut. Dalam buku yang membahas masalah ini para ahli fiqih menyatakan bahwa mereka tidak menggunakan kata hijab yang bermakna tabir karena dapat menimbulkan pemahaman tempat perempuan adalah di balik tabir. Pada akhirnya ia menjadi sebab mengapa sebagian orang berfikir bahwa Islam menghendaki perempuan selalu berada di balik tabir di dalam rumahnya, sementara hal ini bertentangan dengan tujuan diwajibkannya hijab. Hijab bukan dimaksudkan untuk menghalangi perempuan keluar dari rumahnya tapi kewajiban hijab bagi perempuan adalah untuk melindungi diri di dalam masyarakat<span>  </span>ketika ia berada di antara laki-laki asing (non muhrim) dan menghalangi perempuan dari memamerkan keindahan dirinya. Ketika aturan hijab ini dilaksanakan maka ia menjadi tolok ukur kemuliaan perempuan dalam Islam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Sebuah riwayat dalam Biharul Anwar, jilid 103 disebutkan bahwa kemuliaan perempuan adalah: ”Yang tidak melihat (aurat) laki-laki lain (bukan muhrim) dan yang (auratnya) tidak dilihat oleh laki-laki lain (bukan muhrim)”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">Sebab Berlakunya Aturan Hijab</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Ilmuwan Barat merumuskan beberapa penyebab berlakunya aturan hijab dalam Islam, selanjutnya menyimpulkan bahwa saat ini sebab tersebut sudah tidak ditemukan lagi sehingga pemakaian hijab hari ini sudah kadaluarsa dan layak ditinggalkan. </span><span style="font-size:11pt;">Namun Syahid Muthahhari (1383 Hs) mengumpulkan pendapat sebab berlakunya aturan hijab (di luar falsafah hijab dalam Islam) antara lain :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Kecenderungan kepada kehidupan biara dan rahbaniat (akar falsafah).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Ketidakamanan dan ketidakadilan sosial (akar sosial).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Budaya Patriarkhi (penguasaan laki-laki atas perempuan) dan kekerasan laki-laki terhadap perempuan atas dasar penguasaan ekonomi (akar ekonomi)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Rasa iri dan <span> </span>kesombongan di antara para laki-laki.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Periode mensturasi yang mengakibatkan perempuan merasa kurang sempurna dalam penciptaannya dibanding laki-laki sehingga dalam hari-hari mensturasi ia membiasakan diri untuk menghindar dari masyarakan (akar psikologis).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;"><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Akar Falsafah</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Pola kehidupan biara didasari pada falsafah anti kesenangan dunia dan meninggalkan kehidupan dunia dengan segala fasilitasnya. Kehidupan para rohaniawan agama sebelum Islam seperti Kristen, Budha, Zoroaster (Iran kuno) menyatakan bahwa kecenderungan pada lawan jenis adalah sesuatu yang hina dan membawa kehancuran. Tetapi Islam menyatakan bahwa ketertarikan antara laki-laki dan perempuan merupakan pengejawantahan rahmat Ilahi. Islam juga menganjurkan untuk memanfaatkan secara maksimal kesenangan dalam kehidupan pasangan suami istri di keluarga, misalnya dengan menganjurkan istri berhias untuk suami dan suami juga berusaha untuk menyenangkan istrinya. Islam tidak memiliki nilai kehidupan biara yang mengekang dorongan biologis dan melarang pernikahan seorang laki-laki atau perempuan. Bahkan pernikahan merupakan anjuran yang dikenal sebagai sunnah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;"><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Akar Sosial</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Sebab pemberlakuan aturan hijab adalah kondisi yang tidak nyaman di masa lalu, karena para penguasa; kepala suku, raja atau sultan akan mengambil setiap wanita yang disukainya sehingga perempuan terpaksa menyembunyikan diri di balik hijab. Namun yang menjadi sebab pemakaian hijab dalam Islam bukan kondisi tersebut, karena dalam masyarakat Arab sebelum masa Risalah Nabi Salallahu Alaihi wa Alihi kondisi tidak aman yang dinyatakan tersebut di atas tidak berlaku. Kondisi tidak aman pada masa itu mengancam keselamatan jiwa secara umum, bukan khusus terhadap perempuan. Selain itu pelaksanaan pemakaian hijab dalam Islam tidak bertujuan untuk menyembunyikan perempuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;"><span>3.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Akar Ekonomi</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Penguasaan laki-laki atas perempuan menyebabkan laki-laki membatasi perempuan untuk selalu bekerja di dalam rumah tanpa memberi kesempatan keluar rumah. Pendapat ini didasari teori dialektika sejarah yang dibagi dalam 4 fase:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Masa kesamaan antara laki-laki dan perempuan secara alamiah. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Masa penguasaan laki-laki terhadap perempuan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Masa revolusi dan perlawanan kaum perempuan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Masa terwujudnya kembali komunisme jenis kelamin.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Syahid Muthahari mengugurkan teori dialektika sejarah dengan menyatakan bahwa masa kesamaan laki-laki dan perempuan secara alamiah memang pernah ada tetapi tidak berkaitan dengan relasi gender antar laki-laki dan perempuan. Selanjutnya jika yang dimaksud adalah komunisme jenis kelamin, dalam perjalanan sejarah masa ini tidak pernah terjadi. Meskipun ahli sejarah mencatat adanya budaya Matriarkhi (kebalikan dari patriarkhi), namun hal itu bukan komunisme jenis kelamin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;"><span>4.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Rasa Iri dan Kesombongan</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Pendapat ini menyatakan bahwa karena setiap laki-laki memiliki ketertarikan kepada perempuan, maka rasa iri dan persaingan di antara mereka menjadi sebab pemakaian hijab pada perempuan, yaitu dengan menutupi perempuan dan menjadikan perempuan sebagai tawanan laki-laki. Islam sama sekali tidak menjadikan hal tersebut di atas sebagai sebab pemakaian hijab. Baik laki-laki dan perempuan, keduanya sama-sama memiliki ketertarikan satu dengan lainnya dan meninginkan kesucian dari pasangannya. Selain itu Islam juga mengajarkan manusia untuk tidak menuruti hawa nafsu yang mengarah pada sikap dan perbuatan tercela, semisal rasa iri atau lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;"><span>5.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;">Akar Psikologis</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Dalam masyarakat kuno perempuan yang mengalami periode menstruasi menjadi hina dan kotor sehingga mereka merasa rendah dan kemudian menutupi dirinya. Tetapi dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 222 mensturasi dijelaskan dengan baik:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:0.5in;" align="right"><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِي</span><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:0.5in;" align="right"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: ‘Haidh adalah kotoran’. Oleh karena itu hendaklah kamu menjauhkan diri (dari berhubungan suami istri) dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci.” </span></em><span style="font-size:11pt;">(QS. Al-Baqarah: 222)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Dalam Islam perempuan yang mengalami periode mensturasi dikelompokkan sebagai orang yang terhalang dari wudhu dan kesucian (secara fiqih) yang membebaskannya dari melaksanakan kewajiban shalat dan puasa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Tidak satupun dari kelima hal di atas yang merupakan sebab pemakaian hijab dalam Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">Hijab dalam Aturan Islam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Aturan hijab dalam al-Qur’an terdapat dalam surat Nur ayat 30 dan 31, serta surat al-Ahzab ayat 59.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:0.5in;" align="right"><span dir="rtl" style="font-size:11pt;">قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ</span><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 37.7pt 0.0001pt 0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:1.65pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">”Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”</span></em><span style="font-size:11pt;">(QS. an-Nur: 30). </span></p>
<p dir="rtl" style="margin-right:1.65pt;text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;">وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاء بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُوْلِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاء وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</span><span dir="ltr" style="font-size:11pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:1.65pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">”Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaknya mereka menahan pandangannya, dan memelihari kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali pada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” </span></em><span style="font-size:11pt;">(QS: an-Nur: 31). </span></p>
<p dir="rtl" style="margin-right:1.65pt;text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;">يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا</span><span dir="ltr" style="font-size:11pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21.55pt;"><em><span style="font-size:11pt;">“Wahai nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu dan kepada wanita-wanita mukmin agar mereka mendekatkan diri kepada mereka dengan jilbab mereka supaya mereka mudah dikenal dan supaya mereka tidak diganggu maka sesungguhnya Allah Maha mengampuni dan Maha Penyayang”.</span></em><span style="font-size:11pt;"> <span>(QS. al-Ahzab: 59)</span></span><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Dalam ayat tersebut beberapa poin yang dapat dijabarkan adalah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Peringatan kepada laki-laki untuk tidak melihat hal yang diharamkan dan menjaga kesucian dirinya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Peringatan kepada perempuan untuk tidak melihat hal yang diharamkan dan menjaga kesucian dirinya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Larangan terhadap perempuan untuk memamerkan keindahan dirinya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Menutup leher dan dada dengan jilbab. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Penyebutan tentang pengecualian terhadap beberapa kelompok dalam aturan hijab. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Menghindar dari pamer diri dan menarik perhatian laki-laki.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;font-family:Wingdings;"><span>§<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;">Pakaian perempuan dengan jelas disebutkan sebagai kesucian dan cara untuk menjaga kemuliaan masyarakat, meskipun dalam ayat lain disebutkan berbagai cara untuk meraih hal itu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">Hijab dan Kesucian</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Telah disebutkan bahwa hijab bermakna pakaian wanita Islami yang menghalanginya dari pandangan bukan muhrim dengan beberapa ketentuan. Pemahaman penghalang dalam kata hijab juga bermakna kesucian. Dengan demikian kata hijab dan kesucian dalam akar makna memiliki kesamaan. Perbedaanya adalah hijab memiliki makna penghalang secara fisiologis sedangkan kesucian berhubungan dengan kondisi psikis, karena kesucian adalah suatu keadaan batiniah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Mahdi Zadeh (1382 Hs) menyatakan bahwa hijab lahiriah dan <span> </span>kesucian batiniah adalah dua hal yang memiliki hubungan seiring (korelasi positif) yang dapat digambarkan sebagai berikut: hijab lahiriah yang dipakai secara sempurna akan menjadi penguat dalam penjagaan kesucian diri dan sebaliknya dalam pribadi yang menjaga kesucian pemakaian hijab lahiriahnya akan lebih sempurna.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Dalam aturan hijab surat al-Ahzab ayat 59, pesan kesucian dapat dinyatakan sebagai berikut:</span></p>
<p dir="rtl" style="margin-right:1.65pt;text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;">يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا</span><span dir="ltr" style="font-size:11pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">“Wahai nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu dan kepada wanita-wanita mukmin agar mereka mendekatkan diri kepada mereka dengan jilbab mereka supaya mereka mudah dikenal dan supaya mereka tidak diganggu maka sesungguhnya Allah Maha mengampuni dan Maha Penyayang.”</span></em><span style="font-size:11pt;"> <span>(QS. al-Ahzab: 59)</span></span><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Perintah hijab disampaikan kepada wanita mukmin untuk dilaksanakan secara sempurna sehingga di antara para perempuan, dapat dibedakan antara yang menjaga kesucian dengan yang tidak. Ayat ini mengisyaratkan bahwa ketika perempuan menghijabi dirinya dengan sempurna dan menjaga kesucian dirinya ketika berada di masyarakat, dia akan terlindung dari pandangan tidak hormat, bahkan masyarakat akan menghargainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Fatahi Zadeh (1379 Hs) mengemukakan bahwa masyarakat Islam, dengan pengutamaan kesucian secara umum, telah mengkondisikan kenyamanan pribadi dan sosial perempuan melalui aturan yang mengontrol dorongan pada laki-laki dan memanfaatkan rasa malu pada perempuan, demi terwujudnya kesucian masyarakat. Ketika kelaziman kesucian telah dipahami, sedang hijab memiliki pengaruh dan kontribusi besar dalam hal tersebut, maka ketidakpahaman tentang aturan hijab tidak akan terjadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">Hijab, Kesucian dan Keluarga</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Pandangan Syahid Muthahhari mengenai hijab dan kesucian meliputi beberapa hal:</span></p>
<ul>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Kesucian keturunan. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Keharmonisan keluarga      dan tercegahnya perceraian </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Ketenangan jiwa      individu. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Tidak benarnya      pendapat tentang penghindaran aktifitas sosial. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Pemuliaan derajat      perempuan. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Penguatan rasa kasih      sayang.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Dengan alasan laki-laki dan perempuan diciptakan satu untuk lainnya, maka aturan relasi di antara keduanya harus berdasar pada hubungan khusus yang orang asing di luar pasangan tidak memiliki tempat di antara keduanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Dalam Islam, aturan hijab dan haramnya pergaulan bebas adalah pengantar bagi keutuhan bangunan keluarga. Kokohnya bangunan keluarga akan menyebabkan kesucian keturunan dalam sistem kelanjutan generasi manusia. Kesucian dan kejelasan garis keturunan adalah kebutuhan alami manusia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Hubungan pasangan yang tidak semata bertumpu pada pemuasan dorongan biologis, tetapi berpijak pada jalinan kasih sayang, lebih bermanfaat bagi keduanya. Konselor perkawinan menyatakan bahwa pola hubungan ini akan lebih bertahan dalam badai masalah dan lebih awet hingga masa tua kedua pasangan. </span><span style="font-size:11pt;">Selanjutnya pola hubungan yang bersahabat antara suami dan istri, memberi pengaruh positif dalam relasi anak dengan kedua orang tuanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Syaikh Mahmud Jally (1380 Hs) menyatakan bahwa setelah melarang laki-laki dari pandangan yang tidak halal, untuk mencegah kehancuran keluarga, Islam menetapkan bahwa seorang perempuan yang dengan kesuciannya memasuki kehidupan suami, hanya boleh menyalurkan kecenderungan biologisnya kepada suami dan ia bisa keluar rumah dengan batasan tertentu. Demikian pula suami tidak berhak untuk berhubungan dengan perempuan lain di luar. Aturan timbal balik ini terus berlanjut hingga keduanya selamat dari cela ketidaksucian, sehingga suami memiliki kasih sayang penuh terhadap istri tanpa kekhawatiran akan kesetiaan istri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Sebagai argumen yuridis atas kondisi ini ayat al-Qur’an memuat aturan wanita muslim dalam kehidupannya dalam surat Nur setelah sebelumnya menyebutkan hal yang berkaitan dengan laki-laki: <em>”Hai Rasul, katakanlah kepada wanita muslim untuk memelihara pandangan mereka dan tidak memamerkan keindahan perhiasan mereka agar tidak memancing nafsu laki-laki kecuali hal yang biasa terlihat, dan menutupi leher mereka. Pelaksanaan semua ini memerlukan pengorbanan.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:5.05pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Diriwayatkan bahwa Rasulullah saww bersabda kepada seorang wanita: ”Gunakan parfum sedemikian rupa sehingga suamimu menyukaimu.” Hal ini diartikan bahwa perempuan bisa berhias dan memakai parfum sehingga suami mereka tidak lagi memiliki kecenderungan terhadap wanita lain. Secara singkat dapat dinyatakan bahwa selain untuk menyenangkan suami yang akan bermuara pada keutuhan keluarga dan berhias adalah hal terlarang bagi perempuan kecuali untuk<span>  </span>beberapa golongan yang telah dirinci dalam al-Qur’an surat an-Nur ayat 31. Demikianlah<span>  </span>praktek hijab dalam kehidupan Islami yang berdasar pada aturan Ilahi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">Penutup</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Keutuhan keluarga menjadi syarat keberlanjutan generasi manusia dari peradaban masyarakat sederhana menuju kesempurnaan. Tidak cukup seperti yang dikatakan kaum kapitalis bahwa masyarakat terdiri dari individu-individu, tetapi masyarakat juga memiliki jiwa sendiri. Masyarakat yang sedang mengalami proses perkembangan sering rentan akan virus perusak yang mengganggu proses kematangannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Islam sebagai agama sosial berusaha menjaga peradaban dari kehancuran dengan berbagai aturan individu dan sosialnya. Hijab adalah salah satu aturan yang mengikat individu sekaligus masyarakat sosial. Islam menghendaki masyarakat yang terus berkembang dinamis secara sehat, sehingga potensi kemampuan setiap anggotanya dapat teraktualisasi sempurna dan bebas dari penyakit-penyakit sosial, semisal perbuatan yang didasari naluri rendah. Islam mengedepankan kesucian sebagai motif dari setiap gerakan manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Islam sebagai agama yang berbasis pada argumen-argumen ilmiah, hanya dapat dipahami secara akal dan rasional. Kehadiran Nabi Muhammad saww, pembawa pesan Ilahi di bumi adalah untuk meluruskan mitos-mitos dan takhayul masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Memahami hikmah hijab dari sudut pandang kesucian dalam keluarga hanyalah berupa setetes air di samudera hikmah dan falsafah hijab itu sendiri. Di sisi lain, kesucian dan hubungannya dengan keluarga juga memiliki ribuan dimensi yang masih harus dikuak secara lebih sempurna. [islamalternatif]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Daftar Pustaka:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Darul Ma’arif .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Usul Kafi, jilid 5 hal.496 (dalam Ja’farian).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">&#8212;, <em>Yad Dasteh-e Ustad Muthahari</em>, Intisarate Shadr, Qom, 1387. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Muthahari, Syahid Murtadha<strong>, </strong><em>Mas’ale-ye Hejab</em>, Intisarat-e Shadr, Qom, 1383. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Zadeh, Mahdi Husain,<strong> </strong><em>Hejab Syenasi</em>, Intisarat-e Markaze Mudiriat-e Hauzah, Qom, 1382.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Hujati, Mahdi Said, <em>Zan Zibatarin Gul wa Afarinas</em>, Nasr-e Nakhsayas, Qom 1379 </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Zadeh, Fatahi Fathiyah, <em>Hijab az Didagah-e Qur’an Wa Sunnat</em>, Markaz-e Intisyarat-e Daftar-e Tablighat-e Islami, Qom, 1374 Hs. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Niya, Muhammad Asadullah, <em>Behesyt-e Jawanan</em>, Sabt Akbar, Qom 1381 Hs. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Adoltiyan, Mahdi, Gul Muhammadi,<strong> </strong><em>Nameh be Khaharan</em>, Mashad, 1382 Hs. </span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/172/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/172/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/172/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=172&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/08/01/hijab-sebagai-pilar-keluarga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/08/jilbab-pembebasan.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jilbab-pembebasan.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sifat Sombong, Kikir dan Penakut Baik buat Perempuan, Kenapa?</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/26/sifat-sombong-kikir-dan-penakut-baik-buat-perempuan-kenapa/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/26/sifat-sombong-kikir-dan-penakut-baik-buat-perempuan-kenapa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jul 2007 14:29:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/26/sifat-sombong-kikir-dan-penakut-baik-buat-perempuan-kenapa/</guid>
		<description><![CDATA[“Terdapat tiga sifat terpuji jika dimiliki oleh perempuan dan buruk jika dimiliki oleh laki-laki &#8230; &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; Sifat Sombong, Kikir dan Penakut Baik buat Perempuan, Kenapa? Bulan Rajab merupakan salah satu bulan yang penuh dengan berkah. Karena di bulan ini terdapat beberapa kejadian besar yang menjadikan bulan ini penuh berkah seperti ; kelahiran Imam ke-9 Ahlul [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=169&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/892220_flower_4.jpg" title="892220_flower_4.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/892220_flower_4.thumbnail.jpg?w=500" alt="892220_flower_4.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>“<em>Terdapat tiga sifat terpuji jika dimiliki oleh<span>  </span>perempuan dan buruk jika dimiliki oleh laki-laki &#8230; </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> <span id="more-169"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span>Sifat Sombong, Kikir dan Penakut Baik buat Perempuan, Kenapa?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Bulan Rajab merupakan salah satu bulan yang penuh dengan berkah. Karena di bulan ini terdapat beberapa kejadian besar yang menjadikan bulan ini penuh berkah seperti ; kelahiran Imam ke-9 Ahlul Bayt yaitu Imam Jawad as yang jatuh pada tanggal 10 Rajab, beliau merupakan Imam termuda yang telah menjadi Imam pada usia 8 tahun. Hari kelahiran Imam pertama yaitu Imam Ali as yang jatuh pada tanggal 13 Rajab dan hari Mab’ats yang merupakan hari diangkatnya Nabi Muhamad saww sebagai nabi yang jatuh pada tanggal 27 Rajab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Salah satu yang telah membuat bulan ini penuh berkah ialah kelahiran Imam Ali as. Oleh karena itu tidak ada salahnya kita menelaah kembali<span>  </span>untaian-untaian mutiara yang telah keluar dari mulut suci Imam Ali as. Kita dapat mendapatkannya mengenai pembahasan ini pada kitab Nahjul-Balaghah (puncak kefasihan) yang telah ditulis oleh Syarif Rodhi Alamul-Huda. Siapa yang tidak kenal dengan kitab Nahjul-Balaghah, kitab yang kandungannya syarat dengan kefasihan dan makna-makna tinggi. Syarah terkenal Nahjul-Balaghah dari kalangan Ahlusunah ialah karya yang ditulis oleh Ibnu Abi al-Hadid al-Mu’tazili. Sementara isi dan kandungan Nahjul-Balaghah berupa:</span></p>
<ul>
<li class="MsoNormal"><span>Kumpulan      khutbah Imam Ali as.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Kumpulan      surat Imam Ali as.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Kumpulan      hikmah dan ungkapan ringkas Imam Ali (kata-kata mutiara).</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Seseorang akan menikmati keindahan dan kefasihan kitab Nahjul-Balaghah sewaktu memahami bahasa Arab dan artinya. Mari simak petuah-petuah Imam Ali yang tertuang dalam kumpulan hikmah-Nahjul Balaghah, dan kami yakin berbagai petuah tersebut akan menjadi bekal dan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><span style="font-family:Symbol;"> <span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span>Sifat-sifat terpuji bagi perempuan,</span></strong></span><span> <strong>dalam hikmahnya Imam Ali as berkata:</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span> “<em>Terdapat tiga sifat terpuji jika dimiliki oleh<span>  </span>perempuan, dan buruk jika dimiliki oleh laki-laki; sombong, penakut dan bakhil (kikir). Apabila<span>  </span>seorang<span>  </span>perempuan sombong maka ia tidak akan mengizinkan laki-laki asing (non muhrim) memasuki kehidupannya, apabila ia bakhil maka ia dapat menjaga hartanya dan harta suaminya, dan apabila ia penakut maka ia akan selalu menjauhkan diri dari segala sesuatu<span>  </span>yang membahayakannya”</em>.<em><span>  </span></em>[Nahjul-Balaghah, hikmah ke-234 ]</span></p>
<ul>
<li class="MsoNormal"><strong><span>Kiat      mengenal teman dan musuh, Imam Ali as berkata: </span></strong></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><strong><span> </span></strong><span>“<em>Terdapat tiga jenis teman dan musuh; temanmu, temannya temanmu dan musuhnya musuhmu ialah merupakan temanmu. Sementara musuhmu, musuhnya temanmu dan temannya musuhmu ialah merupakan musuhmu </em>”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-295] </span></p>
<ul>
<li class="MsoNormal"><strong><span>Kiat<span>  </span>untuk diam, Imam Ali as berkata</span></strong><span>:</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><strong><span> “</span></strong><em><span>Janganlah engkau mengatakan sesuatu yang tidak diketahui olehmu. Bahkan janganlah pula engkau mengatakan segala sesuatu yang engkau ketahui, karena Allah swt telah mewajibkan kepada seluruh anggota tubuhmu agar menjadi saksi kelak di hari Kiamat</span></em><strong><span>”. [</span></strong><span>Nahjul-Balaghah, hikmah ke-382<strong>]</strong></span><br />
<strong><span></span></strong></p>
<ul>
<li class="MsoNormal"><strong><span>Aneka      ragam rezeki, Imam Ali as berkata:</span></strong><strong><span> </span></strong></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span>“<em>Terdapat dua jenis rezeki; rezeki yang mencarimu, dan rezeki yang dicari olehmu. Barangsiapa yang mencari dunia maka kematian akan mencarinya hingga ia keluar dari dunia. Dan barangsiapa yang mencari akherat maka dunia akan mencarinya hingga rezeki yang menjadi bagiannya di dunia akan sempurna</em>”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-431] </span></p>
<ul>
<li class="MsoNormal"><strong><span>Kiat      mengenalkan diri, Imam Ali as berkata:</span></strong><strong><span> </span></strong></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span>“<em>Berbicaralah, hingga anda dapat dikenal. Karena sesungguhnya hakekat seseorang tersembunyi dibalik lisannya (Pen- Jika seseorang semakin banyak bicara niscaya akan nampak kepribadiannya yang selama ini tersembunyi)</em>”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-392] </span></p>
<ul>
<li class="MsoNormal"><strong><span>Kiat      bergaul, Imam Ali as berkata:</span></strong><strong><span> </span></strong></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span>“<em>Bergaullah dengan orang lain, dimana jika kalian meninggal mereka akan menangisimu, dan jika kalian berada di antara mereka, mereka akan mengasihi kalian</em>”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-10]</span></p>
<ul>
<li class="MsoNormal"><strong><span>Dan      berbagai ungkapan mutiara hikmah pendek lainnya:</span></strong><strong><span> </span></strong></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><strong><span>“</span></strong><em><span>Seburuk-buruknya manusia ialah orang yang naif dalam mencari teman, dan lebih buruk lagi darinya ialah orang yang kehilangan temannya</span></em><strong><span>”. [</span></strong><span>Nahjul-Balaghah, hikmah ke-12<strong>]</strong></span><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><strong><span>“</span></strong><em><span>Terdapat dua macam kesabaran; sabar terhadap sesuatu yang tidak disukai, dan sabar terhadap sesuatu yang disukai</span></em><strong><span>”. [</span></strong><span>Nahjul-Balaghah, hikmah ke-55<strong>]</strong></span><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><strong><span>“</span></strong><em><span>Tiada kekayaan seperti akal, <span> </span>tiada kefakiran seperti kebodohan, tiada warisan seperti adab sopan santun, dan tiada penolong seperti musyawarah</span></em><strong><span>”. [</span></strong><span>Nahjul-Balaghah, hikmah ke-54<strong>]</strong></span><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span>“<em>Seburuk-buruknya bekal untuk akherat ialah berbuat zalim kepada para hamba-Nya</em>”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-221]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span>“<em>Semakin banyak (panjang lebar) suatu jawaban niscaya kebenaran akan (kian) tersembunyi</em>”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-243]<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span>“<em>Kesehatan jasad (badan) karena sedikitnya hasad (hasud/ iri dengki)</em>”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-256]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span>“<em>Dua kelompok manusia yang tidak akan pernah merasa puas; pencari ilmu dan pencari harta dunia</em>”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-457] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span>“<em>Sedikit tapi kontinyu lebih baik daripada banyak tapi tidak terlaksana</em>”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-444]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span>“<em>Musuh manusia ialah kebodohannya</em>”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-438]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span><span> </span>“<em>Pada setiap hari dimana padanya tidak bermaksiat kepada Allah swt maka itulah hari raya yang sebenarnya</em>”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-428]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span>“<em>Tak ada kebaikan pada diam sewaktu ia harus berbicara, dan tak ada kebaikan pada bicara sewaktu ia harus diam karena tidak tahu</em>”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-471]</span><em><span> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><em><span>“Dosa</span></em><span> <em>terbesar ialah menganggap remeh dosa</em>”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-477]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span>“<em>Seburuk-buruknya teman ialah orang yang banyak merepotkan temannya</em>”. [Nahjul-Balaghah, hikmah ke-479]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>[Euis D/ islam feminis]</span></strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/169/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/169/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/169/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=169&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/26/sifat-sombong-kikir-dan-penakut-baik-buat-perempuan-kenapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/892220_flower_4.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">892220_flower_4.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cara Mendeteksi Darah Keperawanan dan Darah Haid</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/25/cara-mendeteksi-darah-keperawanan-dan-darah-haid/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/25/cara-mendeteksi-darah-keperawanan-dan-darah-haid/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jul 2007 11:59:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/25/cara-mendeteksi-darah-keperawanan-dan-darah-haid/</guid>
		<description><![CDATA[Jika seorang perempuan melihat darah keluar dan ia tidak mengetahui, darah haidkah atau darah keperawanan, maka ia harus menelitinya dengan cara memasukkan kapas secukupnya … &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- Cara Mendeteksi Darah Keperawanan dan Darah Haid Masalah 7: Jika seorang perempuan melihat darah keluar dan ia tidak mengetahui, darah haidkah atau darah keperawanan, maka ia harus menelitinya dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=167&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Jika seorang perempuan melihat darah keluar dan ia tidak mengetahui, darah <u>haidkah</u> atau darah <u>keperawanan,</u> maka ia harus menelitinya dengan cara memasukkan kapas secukupnya</span><span style="color:black;"> …</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;"> </span><span id="more-167"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;color:black;"></span></strong><strong><span style="font-size:14pt;color:black;">Cara Mendeteksi Darah Keperawanan dan</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;color:black;"> Darah Haid</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;color:black;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">Masalah 7:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Jika seorang perempuan melihat darah keluar dan ia tidak mengetahui, darah <u>haidkah </u>atau darah <u>keperawanan,</u> maka ia harus menelitinya dengan cara memasukkan kapas secukupnya ke dalam vagina lalu tunggulah sejenak dan keluarkanlah kapas tersebut, maka jika :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;color:black;"><span>1<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="color:black;">Darah melingkari <u>sekitar</u> kapas tersebut , maka dihukumi darah keperawanan,</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;color:black;"><span>2<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="color:black;">Darah membasahi <u>seluruh</u> kapas maka dihukumi darah haid.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">Mas</span></strong><strong><span style="color:black;">alah</span></strong><strong><span style="color:black;"> 8:</span></strong><u><span style="color:black;"> </span></u><span style="color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Jika seorang perempuan melihat darah keluar kurang dari tiga hari lalu berhenti, lantas setelah tiga hari kemudian ia melihat darah keluar kembali, maka darah<u> kedua adalah darah haid</u> dan darah <u>pertama</u> (meskipun darah itu keluar pada <u>hari-hari kebiasaannya)</u> maka bukan haid.</span><span>Lihat bagan berikut :</span><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span> </span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="margin-left:5.25pt;border-collapse:collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0">
<tr style="height:32.1pt;">
<td style="border:1pt solid windowtext;width:0.75in;height:32.1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="72">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:black;"><span>  </span></span></strong><strong><span style="color:black;">Hari</span></strong><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="background:yellow none repeat scroll 0 50%;width:81pt;height:32.1pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="108">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:#ff9900;">Ke-1 dan 2 Keluar darah</span></strong><span style="color:#ff9900;"></span></p>
</td>
<td style="width:63pt;height:32.1pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="84">
<p class="MsoNormal"><strong><span>   </span></strong><strong><span>Ke-3,4,5 </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Tak   ada darah</span></strong><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:1.25in;height:32.1pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="120">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:#7f0000;">Ke- 6,7,8,9 </span><span style="color:#7f0000;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Keluar   darah</span></strong><span></span></p>
</td>
<td style="width:63pt;height:32.1pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="84">
<p class="MsoNormal"><strong><span>Ke-10,11</span>…</strong><strong><span>dst</span></strong><span></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:0.75in;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="72">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:black;">Hukum</span></strong></p>
</td>
<td style="width:81pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="108">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:red;"><span>  </span></span><span style="color:#ff9900;">Dih</span></strong><strong><span style="color:#ff9900;">ukumi</span><span style="color:#ff9900;"> </span></strong><strong><span style="color:#ff9900;">istihadhah</span></strong><span style="color:#ff9900;"></span></p>
</td>
<td style="width:63pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="84">
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;"> </span></p>
</td>
<td style="width:1.25in;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="120">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:maroon;">D</span></strong><strong><span style="color:maroon;">ihukumi haid</span></strong><span style="color:maroon;"></span></p>
</td>
<td style="width:63pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="84">
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;"> </span></p>
</td>
</tr>
</table>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">Catatan : </span></strong><span style="color:black;">Selama tiga hari t</span><span style="color:black;">ersebut</span><span style="color:black;">,<span>  </span>apakah perempuan itu tetap sholat atau tidak? (Apakah ketika pertama keluar darah langsung tidak sholat?) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><u><span style="color:black;">Jawab</span></u><span style="color:black;">: lihat ciri-cirinya, kalau ciri-cirinya adalah darah haid,<span>  </span>dia langsung berhenti </span><span style="color:black;">dari melaksanakan </span><span style="color:black;">sholat. </span><span style="color:black;">Tapi, bila kemudian<span>  </span>baru ketahuan ternyata bukan haid (misalnya,<span>  </span>2 hari sdh berhenti),<span>  </span>sholat yang dia tinggalkan selama dua hari itu harus di-<em>qadha</em></span><em><span style="color:black;"> </span></em><span style="color:black;">(diulang pada waktu lain)</span><span style="color:black;">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">[<strong>ED </strong>/ islamfeminis, sesuai dengan fatwa Imam Khomaeni dan Sayid Ali Khamene'i ]</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/167/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/167/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/167/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=167&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/25/cara-mendeteksi-darah-keperawanan-dan-darah-haid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Permata itu adalah Wanita Muslimah</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/22/permata-itu-adalah-wanita-muslimah/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/22/permata-itu-adalah-wanita-muslimah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jul 2007 16:33:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/22/permata-itu-adalah-wanita-muslimah/</guid>
		<description><![CDATA[Selayaknya batu mulia, intan dan permata akan dikenal nilai dan harganya saat ‘dipamerkan’, bukan dikunci rapat-rapat dalam lemari besi. Akan tetapi, walau dipamerkan, namun harus tetap diletakkan di kotak yang tertutup, sehingga orang-orang yang melihatnya tidak dapat dengan sembarangan menjamah dan mengusiknya. Wanita muslim bagaikan intan dan permat. Namun bukan berarti lantas ia harus dikurung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=162&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"> <a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/07/wanita-muslimah.jpg" title="wanita-muslimah.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/07/wanita-muslimah.thumbnail.jpg?w=500" alt="wanita-muslimah.jpg" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Selayaknya batu mulia, intan dan permata akan dikenal nilai dan harganya saat ‘dipamerkan’,</span><span style="color:green;"> <span> </span></span><span style="color:black;">bukan dikunci rapat-rapat dalam lemari besi. Akan tetapi, walau dipamerkan, namun harus tetap diletakkan di kotak yang tertutup, sehingga orang-orang yang melihatnya tidak dapat dengan sembarangan menjamah dan mengusiknya. Wanita muslim bagaikan intan dan permat. Namun bukan berarti lantas ia harus dikurung dan dipenjara dalam rumah saja. Artinya, ia boleh beraktifitas di luar, namun dalam beraktifitas ia harus selalu ‘menjaga penampilan’ sesuai yang dianjurkan agama. Bukan memamerkan tubuhnya dengan murah di depan khalayak.</span></p>
<p><span id="more-162"></span><br />
<strong><span style="color:green;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span></strong></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;color:green;">‘Permata itu adalah Wanita Muslimah ’</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:green;">Prolog </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Dengan tetap menjaga rasa hormat kami terhadap komentar para pengunjung setia nan budiman blog sederhana kami ini, dan dengan niat baik dan tulus kami, juga bukan karena merasa sok pintar dan benar sendiri, izinkan kami untuk berusaha mengkritisi kembali sebagian dari komentar para pengunjung. Tujuan kami ialah agar permasalahan menjadi lebih transparan, dan kami berusaha kembali menggalinya dengan merujuk ke berbagai sumber dan menganalisanya. Karena jika yang ‘kita ketahui’ langsung disetujui tanpa melihat kembali apakah hal itu sesuai dengan apa yang kita pelajari dan kita ketahui selama ini, atau selama tidak bersumberkan pada sumber-sumber otentik dan analisa yang sesuai dengan hakekat riil dan rasional, rasanya tidak bijak apabila menyetujui semua komentar tersebut secara langsung.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Pada kesempatan ini kami akan mengkritisi komentar untuk tulisan saya yang bertema; <strong>“Dilema; Karier atau Kelurga”</strong> yang telah ditulis oleh saudara saya yang terhormat, <strong><u>AbdulSomad.wordpress.com</u></strong> berikut ini:<span>  </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span>Assalamualaikum<br />
<strong>Wanita Muslim itu seperti Mutiara, Diamond, barang mahal, memperlakukannya pun semestinya sangat lah hati-hati. Karena kalau tidak hati hati, Wanita Muslim bisa menjadi murah, bahkan tak ada harga.</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:green;">Islam Feminis:</span></strong><span style="color:green;"> Waalaikum salam wr wb. Islam adalah agama pamungkas yang diturunkan oleh Allah sebagai <em>Rahmatan lil Alamiin</em>. Atas dasar itu Islam adalah agama bijak, diturunkan oleh Dzat Yang Maha bijak (Allah) kepada makhluk yang sangat bijak (Muhammad), melalui perantara makhluk bijak (Jibril), dengan membawa kitab bijak (al-Quran), untuk didengar oleh kaum yang bijak (muslim sejati). Salah satu tanda kebijakan agama ini adalah ia memerintahkan umatnya untuk berlaku bijak. Pengejawantahan dari ke-bijak-an dalam hal ini adalah, berupa perintah untuk bersikap proporsional dalam segala hal, tidak berlaku ekstrim. Dalam arti, Islam adalah agama yang berada pada garis normal dan mengajak kepada umatnya untuk meniti garis tersebut, artinya, tidak berlebih-lebihan dalam segala hal. Keseimbangan adalah merupakan ciri khas agama Islam. Dalam sebuah riwayat Rasulullah bersabda: “Sebaik-baiknya urusan ialah yang berada pada garis tengan (seimbang)” (<em>khairal umuuri awshatuhaa</em>).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Keseimbangan dapat diterapkan pada segala hal, termasuk; cinta, benci, suka harta, amal ibadah, dan sebagainya. Singkatnya, baik yang berhubungan dengan masalah duniawi maupun ukhrawi Islam memerintahkan untuk bersikap seimbang, termasuk dalam masalah memperlakukan dan perlakuan terhadap wanita. Benar bahwa dalam kaca mata Islam, wanita bagaikan mutiara. Namun bukan berarti Islam ‘menuhankan’ wanita. Wanita dalam Islam diletakkan pada posisinya secara proporsional, ‘sama’ seperti lelaki. Islam telah mengangkat derajat wanita dari jurang kehinaan, dimana kala itu (pra-Islam) wanita tidak dianggap sebagai manusia. Dalam kaca mata Islam, pada perkara nilai (normatif) dan kemuliaan, tiada perbedaan antara laki-laki dan wanita, keduanya adalah sama. Kemuliaan dan keutamaan dalam Islam tidak ditentukan oleh gendernya, tetapi dari sisi amal perbuatan yang mampu menghantarkan makhluk Allah menuju Kekasih sejatinya. Hal itu sebagaimana yang dapat kita lihat dalam ayat berikut ini: </span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em><span style="color:green;">Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS al-Ahzab: 35) </span></em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Wanita muslimah bagaikan mutiara, persis sebagaimana yang dapat dilihat dalam sebuah riwayat yang telah diungkapkan oleh Imam Ali as: “Wanita adalah wewangian, bukan pahlawan perkasa”. Salah satu falsafah hijab (baca: jilbab) adalah, karena perempuan muslimah bagaikan mutiara. Artinya, dengan mengenakan hijab ia dapat ‘dikenal’ kedudukannya. Dan dengan berjilbab seakan-akan seorang perempuan telah memplokamirkan di hadapan khalayak bahwa perempuan muslimah tadi telah dapat memiliki dirinya sendirinya. Ia tidak ingin seorang laki-laki melihat kepadanya dengan pandangan gendernya, akan tetapi memandangnya dari segi <em>insaniah</em>-nya (sisi<span>  </span>kemanusiaan). Kenapa wanita muslimah yang berhijab harus diperlakukan bak mutiara (batu mulia)? Karena dengan berhijab perempuan muslimah tidak dapat dijamah sembarangan. Ia memiliki harga (diri) dan kehormatan yang tinggi, yang tidak dimiliki oleh sembarang batu. <span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Selayaknya batu mulia, intan dan permata akan dikenal nilai dan harganya saat ‘dipamerkan’, bukan dikunci rapat-rapat dalam lemari besi. Walau dipamerkan, namun harus tetap diletakkan di kotak yang tertutup, sehingga orang-orang yang melihatnya tidak dapat dengan sembarangan menjamah dan mengusiknya. Wanita muslim bagai batu permata, namun bukan berarti lantas ia harus dikurung dan dipenjara dalam rumah saja. Artinya, ia boleh beraktifitas di luar, namun dalam beraktifitas ia harus selalu ‘menjaga penampilan’ sesuai yang dianjurkan agama. Bukan memamerkan tubuhnya dengan murah di depan khalayak sehingga lekuk tubuhnya dapat dinikmati dengan mudah dan menjadi obyek pemuas nafsu birahi lelaki mata keranjang. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Islam sebagai agama terakhir dimana tidak akan ada agama lain pasca penurunannya. Hal itu meniscayakan bahwa Islam harus mampu memberikan sebuah solusi dalam menyelesaikan berbagai permasalahan. Karena jika kita dituntut harus berbicara secara obyektif maka jikalau terdapat seorang wanita yang hanya memilih menjadi ibu rumah tangga saja -yang merupakan profesi yang paling agung karena ibarat pabrik yang berfungsi membangun kepribadian manusia masa depan- itu merupakan haknya yang mulia yang harus dihormati. Namun Islam harus mampu berbicara pada skup dan skala yang lebih besar. Dan iapun harus mampu menjawab berbagai postulat dan kemungkinan yang akan terjadi. Ini semua adalah konsekuensi logis dan riil dari sebuah ‘agama pamungkas’. Lantas bagaimana jika terdapat seorang wanita yang selain berprofesi sebagai ibu rumah tangga, iapun memiliki kemampuan profesional lainnya ataupun berkeinginan untuk berkreatifitas? Islam harus bisa menjawab tantangan tersebut. Jika semua wanita ‘dipaksa’ hanya menjadi ibu rumah tangga saja maka akan muncul berbagai dampak negatif, termasuk pemberontakan para wanita. Selain hal itu tidak sesuai dengan ajaran Islam yang up to date dan universal, hal itupun dapat menjadi obyek Barat dalam menjelek-jelekkan Islam. Padahal Islam telah memiliki solusinya. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Citra buruk dari hal tersebut (pelarangan secara mutlak aktifitas wanita di luar rumah) akan dapat memburukkan reputasi Islam di mata pengikutnya sendiri dan ‘pihak luar’. Islam akan dicap sebagai agama yang kolot, tidak ramah terhadap perempuan dan tidak memikirkan kemajuan intelektual, kreativitas dan aktivitas perempuan. Semua itu akan meniscayakan bahwa Islam pun akan dijauhi oleh semua pihak. Padahal Islam adalah agama rahmat bagi semuanya, tanpa terkecuali. Contoh konkrit dari kasus tersebut, lihatlah kasus Nawel Sa’adawi (tokoh feminis perempuan Mesir) ataupun Fatimah Mernisi (tokoh feminis perempuan Maroko). Padahal jika kita kembali menganalisa tentang backgraound dan biografi mereka (para tokoh feminis) tadi maka akan kita dapati bahwa, bagaimana perlakuan para laki-laki Arab terhadap para wanita, terkhusus yang telah menimpa para tokoh tersebut. Sayangnya, bahkan sedihnya, sekarang ini, selalunya Arab diidentikkan dengan Islam. Padahal banyak tindak-tanduk masyarakat dan kebijakan negara Arab yang tidak mencerminkan ajaran Islam yang sebenarnya. Akan tetapi ajaran Islam yang telah terkontaminasi dengan budaya lokal Arab yang tidak ada kaitannya dengan Islam. Ajaran yang cenderung ‘menuhankan’ lelaki dan ‘merendakan’ perempuan. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span>Wanita Muslim sudah ditentukan Fitrahnya, Kemuliaannya, Fitrah wanita muslim adalah dirumah, mendidik anak, menjadi ustadzah, menjadi pendamping suami, khodimah.</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:green;">Islam Feminis:</span></strong><span style="color:green;"> Benar, kodrat dan fitrah wanita ialah menjadi seorang ibu. Kodrat keibuan dan kelembutan ialah yang sangat melekat pada seorang wanita. Ini jika obyek kajian kita berkaitan dengan semua wanita. Karena fitrah berhubungan dengan semuanya. Fitrah artinya ialah; sistem dan bentukan dari penciptaan, yang karenanya tuntutan demi keberlangsungan kehidupan manusia terwujud. Namun di situ terdapat perbedaan kodrat penciptaan antara laki-laki dan perempuan. Wanita dapat mengalami menstruasi, hamil dan menyusui. Dan dari segi kejiwaan sifat kesabaran dan ketelatenan perempuan lebih dibanding seorang laki-laki. Ini semua sebagai pondasi dasar untuk menjadi seorang ibu dan pendidik yang perlu terhadap kesabaran dan ketelatenan yang lebih. Sementara laki-laki kodratnya tidak seperti itu. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Namun selain memiliki kodrat, para wanita pun memiliki potensi dan bakat yang berbeda. Jika kodrat bersifat universal dan dimiliki oleh semua wanita secara sama, namun potensi dan bakat dimiliki para wanita secara berbeda. Artinya tidak mungkin semua wanita memiliki potensi dan bakat yang sama. Dan apakah salah jika wanita mengembangkan potensi dan bakat yang dimilikinya dengan tetap tidak melupakan kodrat dan tugas utamanya? Apakah sama sekali ia tidak dapat melakukan aktifitas di luar rumah? Murtadha Muthahari yang memiliki berbagai karya, terkhusus yang membahas tentang masalah “hak-hak perempuan dalam Islam” mengatakan: “Salah satu falsafah hijab (baca-jilbab) agar seorang muslimah dalam beraktifitas sosial. Karena jika berada di dalam rumah dan tidak ada non muhrim maka tidak lagi diwajibkan atasnya berhijab. Ketika dikatakan pada seorang muslimah “berhijablah”, artinya ialah “beraktifitaslah” “.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Islam sebagai agama yang terakhir dan sempurna (universal), serta sesuai tuntutan zaman (up to date) harus mampu memberikan solusi terhadap permasalahan yang muncul pada zaman sekarang. Karena tidak mungkin pada zaman sekarang semua perempuan di suruh (wajib) untuk menjadi ibu rumah tangga saja. Jika Islam memperlakukan mereka dengan kaku dan bersifat doktrinitas bahwa perempuan tidak berhak untuk berkarier padahal ia selain sebagai ibu rumah tangga mampu melakukannnya, maka benarlah anggapan orang bahwa Islam ialah agama patriarki dan tidak ramah dengan perempuan. Selama karier perempuan tersebut tidak bertentangan dengan kodrat perempuan kenapa tidak diizinkan untuk melakukannya?<span>  </span>Bahkan sebagain karier merupakan <em>Fardu kifai</em> (seperti shalat mayat, harus ada diantara mereka yang melakukannya) bagi wanita untuk melakukannya, seperti dokter spesialis kandungan. Mana mungkin seorang wanita muslimah yang sangat menjaga hubungan dan pesan ajaran agama mengizinkan dirinya untuk memeriksakan hal-hal yang sangat privasi kepada laki-laki asing (non mahram). </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Oleh karena itu, kenapa Iran yang memploklamirkan dirinya sebagai negara Islam dengan tetap menjaga kodrat wanita, juga memberikan kesempatan dan lahan yang cukup kepada para wanita untuk berkarya dan beraktifitas. Salah satu caranya ialah dengan menyediakan tempat penitipan anak di tempat kerja yang<span>  </span>terdapar karyawan perempuan. Sehingga anak-anak, khususnya usia balita yang masih sangat tergantung kepada ibunya dan memerlukan perhatian ekstra masih tetap dapat berhubungan dengan ibunya dan tetap menyusu ASI hingga usia dua tahun. Dan tentu, seorang wanita beraktifitas bukan hanya karena tuntuan materi saja, akan tetapi pada sebagaian ranah adalah merupakan suatu keharusan. Walaupun dalam sistem ekonomi keluarga seorang istri tidak wajib untuk menghidupi keluarga, akan tetapi seorang suamilah yang berkewajiban untuk menghidupi keluarga maka sang suami harus bekerja. Akan tetapi dalam hal kepemilikan, seorang perempuan pun mempunyai ‘hak milik’ sebagaimana yang telah di jelaskan dalam al-Qur’an: </span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em><span style="color:green;">“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan <u>bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan</u>, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. (QS an-Nisaa: 32)</span></em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span>Tengoklah di negara bagian di Bangladesh, India, Pakistan, wanita tak ada yg bekerja, <u>tiap rumah</u> anak umur 15 tahun sudah hafal Al-QURAN dan sudah faham Hukum-Hukum Agama.</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:green;">Islam Feminis:</span></strong><span style="color:green;"> Apakah data ini cukup akurat? Hal itu karena saya juga memiliki banyak teman yang berasal dari ketiga negara tersebut (Bangladesh, India dan Pakistan), dan terbukti, tidak seperti yang saudara katakan. Kita pun sering berbicara tentang sikon negara masing-masing. Selain itu, saya kira tidak semuanya para wanita di Bangladesh, India dan Pakistan semuanya tidak bekerja. Dan saya kira tidak semua wanita yang tidak bekerja dapat mendidik anaknya menjadi penghapal al-Qur’an pada usia 15 tahun. Betapa banyak para wanita yang tidak bekerja namun tetap tidak dapat mendidik anaknya dengan baik. Ini menunjukkan mendidik anak merupakan sebuah keahlian yang memerlukan bekal dan pengetahuan. Dan sebagaimana saya pun tidak yakin wanita pekerja yang juga memiliki profesi sebagai ibu rumah tangga lantas tidak dapat mendidik anaknya, baik dari segi kecerdasan religius, intelektual dan moral. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Bekerja dan tidaknya seorang wanita tidak dapat menjadi tolok ukur keberhasilan dalam mendidik anak dengan baik. Beberapa dosen saya semasa S1 mayoritas ialah wanita. Dosen sastra Arab, filsafat, irfan (mistic Islam), teologi, sejarah, kristologi, ialah para wanita. Bahkan sebagian mereka merupakan dosen terbagus (teladan) diantara para dosen laki-laki sekalipun. Namun mereka memiliki anak-anak yang sangat sukses baik dalam hal spiritualitas. moralitas maupun inteltualitas. Salah satu idola saya ialah dosen filsafat dan teologi. Beliau sangat menguasai filsafat, baik Islam maupun Barat, bahkan teologi dan irfan sekalipun. Yang saya kagumi dari beliau, karena beliau sangat menjaga sekali jika berhubungan dengan laki-laki Jika tidak darurat, beliau tidak akan berbicara dengan laki-laki dan kadang ketika berbicara tentang Allah beliau akan menangis karena makrifat yang beliau miliki tentang Tuhan. Saya kira disinilah wanita bagaikan mutiara. Wanita dikenal bukan karena tubuhnya tapi keilmuan dan keahliannya.<span>  </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Ataupun mungkin di Indonesia telah tersebar buku tentang seorang anak yang sejak usia 5 tahun telah mampu menghapal al-Qur’an dengan cara yang ‘aneh’ plus penafsiranya sehingga mendapat gelar doktor di usia 7 tahun. Tidak sampai disitu, iapun kala itu, ketika ditanya oleh seseorang maka ia akan menjawab pertanyaan tadi dengan ayat-ayat al-Qur’an, sampai akhirnya, sekarang di Iran, salah satu metode unggul pengajaran hafalan al-Qur’an ialah dengan menggunakan sistem isyarat. Termasul anak saya pun sempat dimasukan ke kelas hapalan al-Qur’an dengan metoda isyarat tersebut sehingga anak dengan mudah akan memahami dan menghapal ayat-ayat tersebut.<span>  </span>Dan sekarang ayah doktor 7 tahun itu memiliki sekolah hafalan al-Qur’an, dapat dikatakan sebagai sekolahan al-Quran terbesar di Iran, yang kelasnya dimulai dari berbagai usia (min 2 tahun). Perlu diketahui, ibu anak kecil yang bernama Sayyid Husein Thaba’thabai itu selain sebagai ibu rumah tangga, beliaupun bertugas sebagai dosen. Sebagaimana pengakuan orang yang pernah melihat beliau mengajar, ketika hendak mengajar, beliau selalu membawa anaknya. Keajaiban yang dimiliki oleh DR kecil ini merupakan hasil kerja keras ibu dan bapaknya karena kedua ibu bapaknya pengahafal (hafidz) al-Qur’an. Walaupun yang lebih banyak bekerja keras mendidiknya ialah ibunya, karena semasa mengandung anak tersebut beliau selalu menjaga kesucian (<em>hadats</em>) dan melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">(<strong>Tambahan:</strong> Sedikit promosi, bisa dicari bukunya berjudul “Mukjizat abad 20, Wonderful Propile of Husein Tabataba’i. Malah saya dengar langsung dari temanku (Dina Y Sulaiman yang sekaligus sebagai penulisnya) dalam jangka waktu beberapa bulan buku itu telah memasuki cetakan ke-4).<span>  </span></span></p>
<p><strong><span>Dan jangan lupa.. pintu rezeki yg paling tinggi Derajatnya adalah TAQWA bukan kerja. Buka Surat AT-THALAQ ayat 2 … 3. Barang SIAPA ber-TAQWA …bukan barang siapa bekerja …</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:green;">Islam Feminis:</span></strong><span style="color:green;"> Pertama, coba saudara lihat kembali isi ayat yang saudara sebutkan di atas: </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">“<strong><em>Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.(QS ath-Thalaq 2-3)</em></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Ayat di atas berbicara tentang ketakwaan dan efek yang didapatkan darinya. Dimana orang yang bertakwa selain akan mendapatkan rezeki yang yang dihasilkan melalui usaha (<em>yahtashib</em>) dan tanpa usaha (<em>la yahtasib</em>) pula. Bagian kedualah yang menjadi penekanan ayat tersebut. Dan yang perlu digarisbawahi adalah, bahwa ayat di atas bukan dikhusukan untuk wanita saja, tetapi untuk umum, baik <span> </span>laki-laki dan wanita yang bertakwa. Sewaktu saudara berargumen dengan ayat di atas bahwa seorang wanita tidak boleh bekerja, lantas apakah seorang laki-laki juga tidak boleh bekerja, cukup bertakwa saja? Selain itu, kita tidak hanya dapat menggunakan satu ayat di atas untuk menentukan satu hukum. Misal kita ingin mengetahui bahwa manusia itu memiliki ikhtiar maka kita tidak cukup hanya menggunakan satu ayat seperti: “Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri&#8230;”. (QS ar-Ra’ad:11)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Sementara dalam ayat lain Allah berfirman: “Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki&#8230;”. (QS Ibrahim:4) Ayat kedua secara sekilas dengan ayat pertama saling bertentangan. Dalam ayat pertama secara sekilas menjelaskan tentang ikhtiar manusia secara mutlak sehingga Tuhan dalam perbuatan manusia sama sekali tidak ikut campur. Akan tetapi dalam ayat kedua sebaiknya, manusia tidak memiliki ihtiyar. Apakah benar antara satu ayat dengan yang lainnya saling bertentangan? Padahal dalam al-Qur’an sendiri dikatakan tidak saling betentangan. Yaitu dengan melihat kedua ayat tersebut dan menggabungkannya baru kita dapat mengambil kesimpulan. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Dalam ayat di atas menerangkan tentang tawakal (menyerahkan dan bersandar kepada Allah termasuk dalam masalah rezeki), namun dalam ayat sebelumnya menjelaskan tawakal setelah bertakwa (takwa bukan hanya omongan saja banyak perwujudan takwa seperti berusaha untuk mendapatkan uang halal adalah salah satu pengejawantahan takwa).<span>   </span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Kedua;: Ketakwaan bukanlah rezeki. Aakan tetapi ia merupakan hasil dari sebuah usaha seorang muslim dan muslimah. Sebagaimana yang diterangkan Allah dalam al-Qur’an: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian ialah orang yang bertakwa”. Takwa merupakan sebuah derajat tertinggi yang hendak dicapai oleh seorang muslim atau muslimah. Hanya saja untuk mencapai ketakwaan terdapat berbagi cara yang dilalui. Dan dengan berbagai status dan profesi seseorang dapat mencapai ketakwaan. Imam Ali dalam khutbahnya telah menjelaskan tentang ciri-ciri orang yang bertakwa sampai-sampai orang yang mendengarkan khutbah beliau setelah mendengarnya setelah itu langsung meninggal dunia. (dapat dilihat dalam Nahju-Balaghah yang dikenal khutbah Muttaqiin (orang-orang yang bertakwa) atau dikenal juga dengan sebutan khutbah Hamam (karena disampaikan kepada Hamam yang seusai mendengar khutbah tersebut, beliau langsung meninggal dunia).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Bekerja juga merupakan salah satu pintu menuju ketakwaan, jika ia melakukan tugasnya dengan baik dan benar sesuai dengan kehendak Allah swt. </span></p>
<p><strong><span>Ingatlah Siti Maryam, Ibu Nabi Isa, Karena Ke-TAQWA-annya ALLAH turun kan rezeki dari surga untuk beliau. Kenapa para wanita melupakan contoh ini? kenapa ragu pada janji ALLAH..? kenapa bekerja?</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Dalam menilai sesuatu tidak selayaknya kita melihat dan menilainya secara sempit.</span><span> <span style="color:green;">Apakah selamanya wanita bekerja itu negatif? Terus bagaimana dengan Ummul Mukminin Khadijah as yang beliau terkenal sebagai pebisnis? Dan terbukti, Rasulullah saww pun tidak pernah melarangnya, padahal jika tidak sesuai dengan ajaran Islam pasti beliau akan melarangnya sejak semula. Begitu juga dengan peristiwa salah seorang istri sahabat yang telah saya nukilkan dalam artikel yang berjudul : “Dilema; karier atau Keluarga” dimana beliau (Rasul) tidak melarangnya, bahkan beliau mengatakan engkau mendapatkan dua pahala: “pahala infak di jalan Allah dan pahala berbuat baik kepada saudara kerabat”. </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Jadi, sekali lagi, kami kira tidak selamanya para wanita bekerja, negatif. Semua itu sangat bergantung pada pribadi wanita tadi dan kerjasama yang baik dengan suaminya, sebagai pemimpin keluarga.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Kita jangan terlalu kaku dalam mengartikan ketakwaan. Ketakwaan tidak hanya dibatasi oleh perbuatan-perbuatan seperti shalat, puasa, haji, sedekah dan sebagainya. Namun lebih umum dari itu, ketakwaan merupakan kedudukan yang dapat dicapai oleh siapapun dan dengan status apapun. Prilaku seorang presiden akan masuk kategori takwa jika ia menjalankan tugasnya dengan baik dan benar. Seorang guru akan bertakwa jika menjadi pendidik yang baik dan benar. Seorang pedagang akan bertakwa jika tidak menipu dan berbohong kepada pembelinya. Seorang suami akan dikatakan bertakwa jika ia menjalankan tugasnya dengan baik dan benar. Dan sebaliknya, seorang istri akan dikatakan bertakwa jika menjalankan tanggungjawabnya secara baik dan benar. Takwa sebagaimana yang telah kita ketahui definisinya; “menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya”, memiliki perwujudan yang sangat luas sekali. Wanita bekerja jika ia dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan benar, dan tentu tidak melupakan tugas utamanya sebagai ibu rumah tangga sehingga rumah tangganya dapat berlangsung dengan baik, juga bekerja dengan tetap menjaga dan menjalankan ajaran agamanya, maka hal itu akan sangat bisa dikategorikan sebagai ketakwaan dan sangat mulia.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Kurang lebihnya saya minta maaf.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Terima kasih</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:green;">[Euis D/ islamfeminis]</span></strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/162/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/162/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/162/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=162&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/22/permata-itu-adalah-wanita-muslimah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/07/wanita-muslimah.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">wanita-muslimah.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Awas! Televisi Rusak Anak-Anak</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/22/televisi-rusak-anak-anak/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/22/televisi-rusak-anak-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jul 2007 09:43:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/22/televisi-rusak-anak-anak/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam tayangan sinetron remaja, acapkali seks bebas dan berbagai bentuk kenalakan remaja dipertontontan. Itu disuguhkan seolah sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat kita. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; Awas! Televisi Rusak Anak-Anak &#160; Sekarang banyak sekali tayangan televisi yang kurang mendidik terhadap anak. Ironisnya, tayangan tersebut disiarkan pada jam ‘prime time’ dimana anak sedang di rumah dan menonton televisi. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=161&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/07/setan-perusak.jpg" title="setan-perusak.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/07/setan-perusak.thumbnail.jpg?w=500" alt="setan-perusak.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;font-weight:normal;">Dalam tayangan sinetron remaja, acapkali seks bebas dan berbagai bentuk kenalakan remaja dipertontontan. Itu disuguhkan seolah sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat kita. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> <span id="more-161"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;font-weight:normal;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;color:black;font-weight:normal;">Awas! Televisi Rusak Anak-Anak</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;font-weight:normal;">Sekarang banyak sekali tayangan televisi yang kurang mendidik terhadap anak. Ironisnya, tayangan tersebut disiarkan pada jam ‘prime time’ dimana anak sedang di rumah dan menonton televisi. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;font-weight:normal;">“Tayangan yang sangat tidak mendidik anak antara lain tayangan film-film remaja, film dewasa dan film horor atau mistis,” ujar Dirjen Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) Depdiknas Ace Suryadi, di sela pengumuman lomba penulisan pendidikan anak usia dini (PAUD), Jumat (20/7). </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;font-weight:normal;">Dalam tayangan sinetron remaja, acapkali seks bebas dan berbagai bentuk kenalakan remaja dipertontontan. Itu disuguhkan seolah sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat kita. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;font-weight:normal;">Karena itu, dia meminta agar Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menyeleksi atau menegur stasiun televisi yang menyiarkan tontonan yang tidak layak untuk konsumsi anak-anak. Sebab Depdiknas sendiri tidak memiliki kewenangan secara langsung untuk ikut menyeleksi tayangan-tayangan televisi. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;font-weight:normal;">KPI menurutnya harus bertanggungjawab dengan munculnya tayangan-tayangan yang membahayakan perkembangan anak seperti sekarang ini. Solusinya menghentikan acara yang sekiranya tidak mendidik anak atau mengubah jam tayang menjadi tengah malam dimana anak-anak sudah tidur. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;font-weight:normal;">Selain itu, Ace juga mengusulkan agar Depdiknas kembali dilibatkan dalam hal pemantauan tayangan televisi. Karena tayangan televisi sebenarnya merupakan bagian dari pendidikan non formal dan itu harus diawasi secara ketat. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;">BOIKOT </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;font-weight:normal;">Sementara itu, puluhan warga yang tergabung dalam forum peduli krisis moral berunjukrasa di bundaran HI. Mereka meminta agar masyarakat peduli terhadap bahaya televisi terutama merusak moralitas anak-anak. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;font-weight:normal;">Mereka membawa sejumlah poster antara lain berbunyi monster TV sedang menyerang anak anda dan sebagainya. Para pengunjukrasa meminta agar masyarakat memboikot tontonan televisi karena banyak acara televisi yang semakin hari semakin tidak mendidik.<span>  </span>[Sumber:http://www.poskota.co.id/news]</span></strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/161/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/161/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/161/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=161&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/22/televisi-rusak-anak-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/07/setan-perusak.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">setan-perusak.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“Tapi Perempuan itu telah Dirajam”</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/21/%e2%80%9ctapi-perempuan-itu-telah-dirajam%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/21/%e2%80%9ctapi-perempuan-itu-telah-dirajam%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jul 2007 06:51:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/21/%e2%80%9ctapi-perempuan-itu-telah-dirajam%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[Kemudian dia mendatanginya dan bertanya, ‘apa yang engkau lakukan?’ Usman menjawab, ‘Dia melahirkan setelah enam bulan pernikahannya. Apakah ini lazim?’ … &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; “Tapi Perempuan itu telah Dirajam” &#160; Imam Malik meriwayatkan di dalam kitab Al-Muwaththa’, juga para tokoh Ahlusunah lainnya meriwayatkan di dalam kitab-kitab tafsir maupun kitab hadis melalui sanad dari Ba’jah bin Abdullah Jahanni [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=160&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/890499_roses_1.jpg" title="890499_roses_1.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/890499_roses_1.thumbnail.jpg?w=500" alt="890499_roses_1.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Kemudian dia mendatanginya dan bertanya, ‘apa yang engkau lakukan?’ Usman menjawab, ‘Dia melahirkan setelah enam bulan pernikahannya. Apakah ini lazim?’ …</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-160"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;color:black;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;color:black;"><span> </span>“Tapi Perempuan itu telah Dirajam”</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Imam Malik meriwayatkan di dalam kitab <em>Al-Muwaththa’</em>, juga para tokoh Ahlusunah lainnya meriwayatkan di dalam kitab-kitab tafsir maupun kitab hadis melalui sanad dari Ba’jah bin Abdullah Jahanni yang berkata, “Seseorang dari kami menikahi wanita dari Juhainah. Setelah enam bulan dia melahirkan seorang bayi. Karena itu, suaminya pergi menemui Usman bin Affan dengan menceritakan kisah itu. Kemudian Usman memerintahkan untuk merajam wanita itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Ali bin Abi Thalib mendengar hukum yang dikeluarkan Usman tersebut. Kemudian dia mendatanginya dan bertanya, ‘apa yang engkau lakukan?’ Usman menjawab, ‘Dia melahirkan setelah enam bulan pernikahannya. Apakah ini lazim?’</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Tidakkah kamu mendengar firman Allah, “<em>Dan perempuan-perempuan menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh. </em>(QS Al-Baqarah: 233)<em> “Masa mengandung dan menyapihnya selama tiga puluh (30) bulan”. </em>(QS Al- Ahqaf:15). Hitunglah sisanya, tidak ada kecuali enam (6) bulan’.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Usman bin Affan berkata. “Demi Allah, aku tidak memahaminya. Hadirkan perempuan itu.’ ‘Tapi dia telah dirajam. ‘Jawab salah seorang. Saudara perempuan itu pernah mendengar ucapannya sebelum dirajam, ‘Wahai saudaraku, demi Allah tiada seorang pun menyentuh kemaluanku, kecuali suamiku.’</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Maka bayi yang lahir itu pun tumbuh dewasa. Lelaki yang menuduh istrinya berzina itu mengaku bocah yang tumbuh sangat mirip dengannya. Kemudian anggota tubuh lelaki itu satu persatu copot di pembaringannya.”[1]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">[1] Al-Muwaththa’ 2: 625 kitab al-hudud, Sunan al-Baihaqi, Jami’ Bayan al-Ilmi wa Fadhilihi, Tafsir Ibnu Katsir, Taysir al-Wushul, Ad-Durr al-Mansur, Umdah al-Qaqi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Keterangan, berdasarkan ayat al-Qur’an:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><span style="color:black;">-</span><span style="font-size:7pt;color:black;"> </span><span style="color:black;">Masa menyusui, ialah 2 tahun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><span style="color:black;">-</span><span style="font-size:7pt;color:black;"> </span><span style="color:black;">2 tahun = 24 bulan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><span style="color:black;">-</span><span style="font-size:7pt;color:black;"> </span><span style="color:black;">Masa menyusui + masa hamil = 30 bulan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><span style="color:black;">-</span><span style="font-size:7pt;color:black;"> </span><span style="color:black;">Sementara masa menyusui ialah 24 bulan, maka sisanya ialah 6 bulan yang merupakan masa hamil. Dan 6 bulan merupakan waktu minimal masa hamil. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">[ED / islam feminis, dinukil dari buku ‘Kenapa Mesti Ali’ karya Mehdi Faqih Imani halaman 148]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/160/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/160/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/160/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=160&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/21/%e2%80%9ctapi-perempuan-itu-telah-dirajam%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/890499_roses_1.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">890499_roses_1.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemerintah Wajib Mendorong Pemenuhan Kuota Perempuan di Legislatif</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/20/pemerintah-wajib-mendorong-pemenuhan-kuota-perempuan-di-legislatif/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/20/pemerintah-wajib-mendorong-pemenuhan-kuota-perempuan-di-legislatif/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jul 2007 07:55:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/20/pemerintah-wajib-mendorong-pemenuhan-kuota-perempuan-di-legislatif/</guid>
		<description><![CDATA[Pemerintah harus mendorong terpenuhinya kuota 30 persen perempuan di legislatif karena tugas pemerintah adalah untuk menjamin perlakuan adil dan tidak diskriminatif terhadap perempuan&#8230; &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;   Pemerintah Wajib Mendorong Pemenuhan Kuota Perempuan di Legislatif Pemerintah harus mendorong terpenuhinya kuota 30 persen perempuan di legislatif karena tugas pemerintah adalah untuk menjamin perlakuan adil dan tidak diskriminatif terhadap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=159&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pemerintah harus mendorong terpenuhinya kuota 30 persen perempuan di legislatif karena tugas pemerintah adalah untuk menjamin perlakuan adil dan tidak diskriminatif terhadap perempuan&#8230;</span><span style="color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-159"></span><span style="color:black;"><br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;">Pemerintah Wajib Mendorong Pemenuhan Kuota Perempuan di Legislatif</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:14pt;"><br />
</span></strong><span><br />
Pemerintah harus mendorong terpenuhinya kuota 30 persen perempuan di legislatif karena tugas pemerintah adalah untuk menjamin perlakuan adil dan tidak diskriminatif terhadap perempuan, sesuai dengan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (CEDAW) yang diratifikasi oleh Pemerintah lewat UU No.7/1984.</p>
<p>&#8220;Pasal 4 CEDAW menyebutkan mengenai &#8216;affirmative action&#8217; bahwa negara wajib membuat kebijakan khusus terkait kondisi sementara di negara tersebut,&#8221; papar Komisioner Reformasi Hukum Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Sri Wiyati Eddyono di Jakarta, Kamis.</p>
<p>Saat ini, Sri menilai bahwa kondisi politik di Indonesia kurang kondusif bagi perempuan untuk ikut berkiprah, sehingga kuota 30 persen menjadi salah satu solusi yang dapat mendorong lebih banyak keterlibatan perempuan diranah politik. </span>&#8220;Kalau bisa tidak hanya 30 persen tapi lebih dari itu,&#8221; lanjut Sri. Kuota bukanlah satu-satunya hal yang patut mendapat perhatian jika menyangkut keterlibatan perempuan di politik, namun persiapan yang dilakukan untuk dapat memenuhi hal tersebut.</p>
<p>&#8220;Kuota itu sebenarnya memaksa, tapi dalam rangka CEDAW itu benar. Di Indonesia masih ada hambatan kultural bagi  perempuan untuk terlibat dalam politik, jadi memang tugas pemerintah untuk merubah budaya politik tersebut,&#8221; papar Sri.  Pada akhirnya, keterlibatan lebih jauh perempuan diranah politik diharapkan dapat berpengaruh terhadap kebijakan publik yang dinilai bersifat diskriminatif terhadap perempuan, demikian Sri.<strong></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-weight:normal;">[Sumber: http://www.republika.co.id/online]</span></strong><strong><br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></strong><strong><span style="font-size:14pt;color:black;font-weight:normal;"></span></strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/159/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/159/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/159/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=159&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/20/pemerintah-wajib-mendorong-pemenuhan-kuota-perempuan-di-legislatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“Ya Allah, Sucikan Perut-Perut Kami dari Perkara Haram dan Syubhat”</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/19/%e2%80%9cya-allah-sucikan-perut-perut-kami-dari-perkara-haram-dan-syubhat%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/19/%e2%80%9cya-allah-sucikan-perut-perut-kami-dari-perkara-haram-dan-syubhat%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jul 2007 14:58:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rintihan Doa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/19/%e2%80%9cya-allah-sucikan-perut-perut-kami-dari-perkara-haram-dan-syubhat%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[Dan muliakan kami dengan petunjuk dan istiqomah Dan tutuplah lisan kami dengan (kata-kata) yang benar dan hikmah Dan penuhilah hati kami dengan ilmu dan makrifat Dan sucikan perut-perut kami dari perkara haram dan syubhat &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- “Ya Allah, Sucikan Perut-Perut Kami dari Perkara Haram dan Syubhat” Ya Allah, anugrahkan taufik keta’atan kepada kami&#8230; Dan jauhkan kami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=156&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/07/ya-allah.jpg" title="ya-allah.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/07/ya-allah.thumbnail.jpg?w=500" alt="ya-allah.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan muliakan kami dengan petunjuk dan istiqomah</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan tutuplah lisan kami dengan (kata-kata) yang benar dan hikmah</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan penuhilah hati kami dengan ilmu dan makrifat</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan sucikan perut-perut kami dari perkara haram dan syubhat </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;"> </span><span id="more-156"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><em><span style="font-size:14pt;color:black;">“Ya Allah, Sucikan Perut-Perut Kami dari Perkara Haram dan Syubhat”</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><em><span style="color:black;"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Ya Allah, anugrahkan taufik keta’atan kepada kami&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan jauhkan kami dari kemaksiatan&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan anugrahkan niat yang benar kepada kami&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan anugrahkan pengenalan terhadap perkara-perkara yang telah dilarang (haram) oleh-Mu kepada kami&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan muliakan kami dengan petunjuk dan istiqomah&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan tutuplah lisan kami dengan (kata-kata) yang benar dan hikmah&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan penuhilah hati kami dengan ilmu dan makrifat&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan sucikan perut-perut kami dari perkara haram dan syubhat (meragukan)&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan tahanlah tangan kami dari penzaliman dan pencurian&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan tundukkan mata kami dari dosa dan penghianatan&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan tutuplah telinga kami dari perkataan sia-sia dan ghibah (mengupat orang lain)&#8230; </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan utamakan para ulama kami dengan kezuhudan serta <span> </span>nasehat&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan utamakan para pencari ilmu dengan kesungguhan <span> </span>dan keinginan&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan atas para pendengar dengan mengikuti (yang telah disampaikan) dan mauidhah&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan anugrahkan kesembuhan dan kesenangan kepada orang sakit dari kaum muslimin&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan anugrahkan rahmat dan kasih sayang <span> </span>kepada orang-orang yang telah wafat dari mereka&#8230; </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan anugrahkan kewibawaan dan ketenangan kepada para sesepuh kami&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan anugrakan kepada pemuda dan pemudi kembali (kepada-Nya) dan taubat&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan anugrahkan rasa malu dan penjagaan diri (iffah kepada para wanita)&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan anugrahkan kerendahan hati dan keluasan kepada orang-orang kaya&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan anugrahkan kesabaran dan merasa cukup diri (qona’ah) kepada orang-orang fakir&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan anugrahkan pertolongan dan kemenangan kepada pasukan perang&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan anugrahkan keikhlasan dan rasa senang kepada para tawanan&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan anugrahkan perlakuan <span> </span>adil dan penuh kasih sayang kepada para pemimpin&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan anugrahkan sikap bijaksana dan jalan yang baik kepada rakyat&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan berkahilah para haji dan penziarah dalama masalah bekal dan fasilitasnya&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;">Dan tuntaskan dengan keutamaan-Mu dan rahmat-Mu apa yang telah Engkau wajibkan kepada mereka dari haji dan umrah, wahai Yang Paling Pengasih di antara para pengasih&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="color:black;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">[ED/Islam Feminis, dinukil dari buku doa, Mafatihul Jinan halaman 170-171]</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/156/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/156/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/156/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=156&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/19/%e2%80%9cya-allah-sucikan-perut-perut-kami-dari-perkara-haram-dan-syubhat%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/07/ya-allah.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ya-allah.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Waktu-Waktu yang Baik Untuk Melakukan Hubungan (Biologis) Suami-Istri</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/15/waktu-waktu-yang-baik-untuk-melakukan-hubungan-biologis/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/15/waktu-waktu-yang-baik-untuk-melakukan-hubungan-biologis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jul 2007 19:38:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi Keluarga & Pendidikan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/15/waktu-waktu-yang-baik-untuk-melakukan-hubungan-biologis/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam wasiatnya terhadap Imam Ali as Nabi Muhamad saww bersabda: “Wahai Ali, jika engkau melakukan hubungan biologis dengan istrimu pada malam kamis maka anak yang terlahir darinya akan menjadi penguasa yang adil dari para penguasa dan atau akan menjadi salah seorang ulama dari para ulama”. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Waktu-Waktu yang Baik Untuk Melakukan Hubungan (Biologis) Suami-Istri &#160; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=155&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/07/bunga-ku.jpg" title="bunga-ku.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/07/bunga-ku.thumbnail.jpg?w=500" alt="bunga-ku.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam wasiatnya terhadap Imam Ali as Nabi Muhamad saww bersabda: “Wahai Ali, jika engkau melakukan hubungan biologis dengan istrimu pada malam kamis maka anak yang terlahir darinya akan menjadi penguasa yang adil dari para penguasa dan atau akan menjadi salah seorang ulama dari para ulama”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;"> </span></strong><span id="more-155"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></strong></p>
<h2 align="center"><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;">Waktu-Waktu yang Baik Untuk Melakukan Hubungan (Biologis) Suami-Istri<br />
</span></h2>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Beberapa waktu yang dianjurkan untuk melakukan hubungan biologis </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Setelah kita mengetahui beberapa waktu dan kondisi yang dimakruhkan untuk melakukan hubungan suami istri yang beresiko negatif atas pertumbuhan janin yang mungkin dihasilkan darinya, kini, kita akan melihat beberapa riwayat yang menekankan (sunah/mustahab) akan pelaksanaan hubungan suami-istri untuk memunculkan generasi yang baik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:75pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong>Malam Senin (Minggu malam)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam wasiatnya terhadap Imam Ali as, Nabi Muhamad saww bersabda: “Wahai Ali, dan hendaknya engkau melakukan hubungan dengan istrimu pada malam senin. Karena apabila anak terlahir darinya maka ia menjadi penghapal al-Qur’an dan rela terhadap yang telah ditentukan Allah swt atasnya”. [Syeikh Radhiyuddin Abi Nashril Hasan bin Al-Fadl ath-Thabarsi, ulama besar pada abad ke-6 HQ, Makarimal-Akhlak, hal 211, Wasail asy-Syi’ah, al-Hurr al-Amili jilid 20 halaman 254 dinukil dari Adab Zafaf halaman 84]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:75pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong>Malam Selasa (Senin malam)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam wasiatnya terhadap Imam Ali as Nabi Muhamad saww bersabda: “Wahai Ali, jika engkau melakukan hubungan dengan istrimu pada malam selasa, maka anak yang terlahir darinya akan dikaruniai kesyahidan, ia tidak akan menyimpang dari kebenaran. Manusia suci dan bersih, wangi, pengasih , penyayang, serta lisannya akan tersucikan dari ghibah, bohong dan menuduh”. [Wasail asy-Syi’ah, al-Hurr al-Amili jilid 20 halaman 254 dinukil dari Adab Zafaf halaman 84]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:75pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong>Malam Kamis (Rabu malam)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam wasiatnya terhadap Imam Ali as Nabi Muhamad saww bersabda: “Wahai Ali, jika engkau melakukan hubungan dengan istrimu pada malam kamis maka anak yang terlahir darinya akan menjadi penguasa yang adil dari para penguasa dan atau akan menjadi salah seorang ulama dari para ulama”. [Syeikh Radhiyuddin Abi Nashril Hasan bin Al-Fadl ath-Thabarsi, ulama besar pada abad ke-6 HQ, Makarimal-Akhlak, hal 211, Wasail asy-Syi’ah, al-Hurr al-Amili jilid 20 halaman 254 dinukil dari Adab Zafaf halaman 84]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:75pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong>Hari Kamis; ketika menjelang tergelincir matahari (menjelang dhuhur)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam wasiatnya terhadap Imam Ali as Nabi Muhamad saww bersabda: “Wahai Ali, jika engkau melakukan hubungan dengan istrimu pada malam kamis maka anak yang terlahir darinya maka syetan tidak akan mendekatinya, ia akan memiliki pemahaman yang sangat (cerdas) dan Allah swt akan menganugrahkan kepadanya keselamatan dalam agama dan dunia. [Syeikh Radhiyuddin Abi Nashril Hasan bin Al-Fadl ath-Thabarsi, ulama besar pada abad ke-6 HQ, Makarimal-Akhlak, hal 211, Wasail asy-Syi’ah, al-Hurr al-Amili jilid 20 halaman 254 dinukil dari Adab Zafaf halaman 85]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:75pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong>Malam Jum’at (Kamis malam)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam wasiatnya terhadap Imam Ali as, Nabi Muhamad saww bersabda: “Wahai Ali, jika engkau melakukan hubungan dengan istrimu pada malam jum’at maka anak yang terlahir darinya akan menjadi seorang orator ulung”. [Syeikh Radhiyuddin Abi Nashril Hasan bin Al-Fadl ath-Thabarsi, ulama besar pada abad ke-6 HQ, Makarimal-Akhlak, hal 211]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:75pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong>Jum’at sore (setelah ashar, sebelum maghrib)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam wasiatnya terhadap Imam Ali as, Nabi Muhamad saww bersabda: “Wahai Ali, jika engkau melakukan hubungan dengan istrimu pada waktu jum’at sore maka anak yang akan terlahir darinya akan menjadi seorang figur yang terkenal dan atau ilmuwan (ulama).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:75pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong>Malam Jum’at; setelah waktu isya’ berlalu (akhir malam/dekat subuh)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam wasiatnya terhadap Imam Ali as Nabi Muhamad saww bersabda: “Wahai Ali, jika engkau melakukan hubungan biologis dengan istrimu pada akhir malam jum’at maka anak yang akan terlahir darinya akan menjadi seorang wali (<em>ibdal</em>)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:75pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong>Pada malam awal (tanggal satu) Ramadhan</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Berkenaan dengan hal ini Imam Ali as berkata: “Disunahkan pada malam awal bulan Ramadhan laki-laki berhubungan  dengan istrinya; karena Allah dalam surat al-Baqarah ayat 187 telah berfirman: “<span style="font-size:10pt;"><span>  </span></span>Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu…”. [Wasail asy-Syi’ah, al-Hurr al-Amili jilid 20 halaman 254 dinukil dari Adab Zafaf halaman 85]<br />
<strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Catatan: Waktu-waktu di atas merupakan waktu-waktu yang dianjurkan, artinya adalah waktu yang sebaiknya (<em>mustahab/sunnah</em>) padanya hubungan biologis dilakukan, bukan wajib. Begitu juga, sewaktu disebutkan kata ‘jangan’ dalam waktu-waktu dan tata cara persetubuhan dalam hadis di atas adalah merupakan anjuran untuk meninggalkan (makruh), yang belum sampai pada derajat haram. </strong>[<strong>ED/Islam feminis</strong>]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/155/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/155/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/155/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=155&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/15/waktu-waktu-yang-baik-untuk-melakukan-hubungan-biologis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/07/bunga-ku.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bunga-ku.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“Aku Membenci Kebenaran dan Menyukai Fitnah”</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/14/%e2%80%9cdan-aku-membenci-kebenaran%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/14/%e2%80%9cdan-aku-membenci-kebenaran%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jul 2007 01:53:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/14/%e2%80%9cdan-aku-membenci-kebenaran%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[“Bagaimana engkau menginginkanku pagi hari ini? Pagi ini, demi Allah, aku membenci kebenaran, menyukai fitnah, bersaksi dengan apa yang tidak aku lihat, menghafal selain makhluk, bershalat tanpa wudhu, di bumi aku memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Allah.” &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; “Aku Membenci Kebenaran dan Menyukai Fitnah” &#160; Allamah Kanji Syafi’i meriwayatkan melalui sanadnya dari Huzaifah bin Yaman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=154&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">“Bagaimana engkau menginginkanku pagi hari ini? Pagi ini, demi Allah, aku membenci kebenaran, menyukai fitnah, bersaksi dengan apa yang tidak aku lihat, menghafal selain makhluk, bershalat tanpa wudhu, di bumi aku memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Allah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;"> </span><span id="more-154"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="color:black;">“Aku Membenci Kebenaran dan Menyukai Fitnah”</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Allamah Kanji Syafi’i meriwayatkan melalui sanadnya dari Huzaifah bin Yaman yang bertemu Umar bin Khatab. Saat itu Umar bin Khatab bertanya kepadanya, “Bagaimana kabarmu pagi ini, wahai Ibnu Yaman?”<span>  </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Dia menjawab, “Bagaimana engkau menginginkanku pagi hari ini? Pagi ini, demi Allah, aku membenci kebenaran, menyukai fitnah, bersaksi dengan apa yang tidak aku lihat, menghafal selain makhluk, bershalat tanpa wudhu, di bumi aku memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Allah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Maka Umar bin Khatab marah mendengar jawabannya dan segera berlalu darinya. Umar bin Khatab bertekad menghukumi Huzaifah karena mengeluarkan pendapat tersebut. Dalam perjalanan Umar bin Khatab berpapasan dengan Ali bin Abi Thalib yang melihat amarah di wajah Umar bin khatab. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Ali bertanya, “Apa yang telah membuatmu marah, wahai Umar?”, Umar menjawab, “Aku bertemu Huzaifah bin Yaman, lalu bertanya tentang kabarnya pagi ini? Dia menjawab bahwa pagi ini dia membenci kebenaran.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Ali bin abi Thalib menjawab, “Dia benar. Dia membenci kematian, dan kematian adalah haq (benar).” Umar berkata, “Tidak, dia berkata, “Aku mencintai fitnah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Ali menjawab, “Dia benar, dia mencintai harta dan anaknya. Bukankah Allah swt telah berfirman dalam al-Qur’an, “Sesungguhnya harta kalian dan anak-anak adalah fitnah&#8230;(al-Anfal:28).”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Umar berkata lagi, “Wahai Ali, dia berkata, “Aku bersaksi atas apa yang tidak aku lihat.” Ali menjawab, “Dia benar, dia bersaksi atas keesaan, kematian, kebangkitan, kiamat, surga, neraka dan shirath, padahal dia tidak dan belum melihat semua itu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Umar berkata lagi, “Wahai Ali, dia berkata, “Sesungguhnya aku menghafal selain makhluk Allah.” Ali menjawab, “Dia benar, dia hapal kitab Allah swt, al-Qur’an dan itu bukan makhluk Allah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Umar berkata, “Dia berkata, “Aku bershalat tanpa wudhu.” Ali menjawab, “Dia benar, shalat (shalat memiliki dua arti; shalat dan shalawat, maksud Huzaifah adalah shalawat –Allohuma shalli ala Muhamad wa aali Muhamad-) kepada putra pamanku, Rasulullah saww tanpa harus berwudhu, seperti itu diperbolehkan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Umar berkata, “Wahai Aba Hasan, dia berkata lebih dari itu.” “Apa yang dia katakan?” tanya Ali. Umar berkata, “Sesungguhnya di bumi ini, aku memiliki apa yang tidak dimiliki Allah swt.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">Ali menjawab, “Dia benar, dia memiliki anak istri dan Allah tidak memiliki anak dan tidak pula memiliki istri.” Lalu Umar berkata, “hampir saja putra Khatab celaka kalau tidak ada Ali bin Abi Thalib.” Kanji berkata, “Kisah ini banyak dinukil oleh para perawi, disebut oleh para sejarah”. [Kifayah ath-Thalib, Nudzum Durar as-Simthain, Nur al-Abshar, Faraid as-Simthain, Al-Fushul al-Muhimmah Ibnu Shibagh] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">[ED, dinukil dari ‘Kenapa Mesti Ali’, karya Medi Fakih Imani halaman 129-130]</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/154/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/154/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/154/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=154&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/14/%e2%80%9cdan-aku-membenci-kebenaran%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cara Mendeteksi Darah Haid dan Bisul</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/13/cara-mendeteksi-darah-haid-dan-bisul/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/13/cara-mendeteksi-darah-haid-dan-bisul/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jul 2007 05:28:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/13/cara-mendeteksi-darah-haid-dan-bisul/</guid>
		<description><![CDATA[Jika seorang perempuan melihat darah yang jumlahnya tidak kurang dari tiga hari dan tidak lebih dari sepuluh hari dan ia tidak tahu apakah darah tersebut darah haid atau darah bisul, dan ia pun tidak tahu bisul di sebelah kanan ataukah di sebelah kiri kalau memungkinkan maka masukkanlah kapas secukupnya&#8230; &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Cara Mendeteksi Darah Haid dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=153&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Jika seorang perempuan melihat darah yang jumlahnya tidak kurang dari tiga hari dan tidak lebih dari sepuluh hari dan ia tidak tahu apakah darah tersebut darah haid atau darah bisul, dan ia pun tidak tahu bisul di sebelah kanan ataukah di sebelah kiri kalau memungkinkan maka masukkanlah kapas secukupnya</span><span style="color:black;">&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span id="more-153"></span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"><br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;" align="center"><strong><span style="font-family:Arial;color:black;">Cara Mendeteksi Darah Haid dan Bisul</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">Mas</span></strong><strong><span style="color:black;">alah</span></strong><strong><span style="color:black;"> </span></strong><strong><span style="color:black;">5</span></strong><strong><span style="color:black;">:<u> </u></span></strong><strong><u><span style="color:black;"><span> </span></span></u></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Jika seorang perempuan melihat darah yang jumlahnya tidak kurang dari tiga hari dan tidak lebih dari sepuluh hari dan ia tidak tahu apakah darah tersebut darah haid atau darah bisul, dan ia pun tidak tahu bisul di sebelah kanan ataukah di sebelah kiri kalau memungkinkan maka masukkanlah kapas secukupnya, lalu keluarkan kembali maka <u>kalau darah membasahi</u>: </span><span style="color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 0.5in;"><span style="color:black;">a- <u>Arah kiri</u> kapas, dihukumi <u>darah haid</u>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 0.5in;"><span style="color:black;">b- <u>Arah kanan</u> kapas, dihukumi <u>darah bisul</u>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Dan jika tidak memungkinkan untuk menelitinya, maka kalau ia tahu: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">a- Darah sebelumnya adalah darah haid maka dihukumi haid. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">b- Darah sebelumnya adalah darah bisul maka dihukumi bisul.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Dan jika tidak mengetahui darah haid</span><span style="color:black;">-</span><span style="color:black;">kah atau bisul, maka ia harus meninggalkan semua hal yang diharamkan bagi perempuan haid dan melaksanakan amalan perempuan istihadhah (di antaranya: tetap melaksanakan shalat tetapi tidak boleh menyentuh tulisan al-Qur’an).</span><span style="color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">Mas</span></strong><strong><span style="color:black;">alah</span></strong><strong><span style="color:black;"> </span></strong><strong><span style="color:black;">6</span></strong><strong><span style="color:black;">: </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Jika seorang perempuan melihat darah yang jumlahnya tidak kurang dari tiga hari dan tidak lebih dari sepuluh hari sementara ia tidak mengetahui apakah itu darah haid atau luka:<u></u></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;color:black;"><span>1<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="color:black;">Bila sebelumnya ia<span>  </span>luka dan berdarah, darah itu dihukumi sebagai darah <u>luka</u>.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 0.5in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;color:black;"><span>2<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="color:black;">Bila sebelumnya ia tidak mengalami luka, darah itu dihukumi sebagai darah <u>haid</u>.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Bila ia tidak mengetahui apakah suci atau sedang haid, ia harus meninggalkan semua yang diharamkan bagi orang haid dan melakukan semua ibadah yang dilakukan oleh perempuan yang tidak haid (artinya, melaksanakan amalan istihadhah).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">Mas</span></strong><strong><span style="color:black;">alah 7</span></strong><strong><span style="color:black;">:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Jika seorang perempuan melihat darah keluar sedang ia ragu apakah itu darah <u>haid</u> ataukah darah <u>nifas</u>:<span>  </span>kalau memenuhi syarat-syarat haid maka dihukumi darah haid.</span></p>
<p><span> </span></p>
<p><span> (Islamfeminis, sesuai fatwa Imam Khomaeni dan Ayatullah Khamanei)</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/153/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/153/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/153/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=153&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/13/cara-mendeteksi-darah-haid-dan-bisul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ya Tuhanku&#8230;!</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/12/ya-tuhanku/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/12/ya-tuhanku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jul 2007 07:33:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rintihan Doa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/12/ya-tuhanku/</guid>
		<description><![CDATA[Ya Tuhanku&#8230;! Betapa hatiku tertutup (dosa), Jiwaku penuh cacat (kesalahan), Akal pikiranku telah terkalahkan (hawa nafsu), Hawa nafsuku telah menguasai (diri) ku, &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Ya Tuhanku&#8230;! Ya Tuhanku&#8230;! Betapa hatiku tertutup (dosa), Jiwaku penuh cacat (kesalahan), Akal pikiranku telah terkalahkan (hawa nafsu), Hawa nafsuku telah menguasai (diri) ku, Keta’atanku hanyalah sedikit, Kemaksiatanku banyak, Lisanku terlumuri dosa, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=152&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>Ya Tuhanku&#8230;!</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>Betapa hatiku tertutup (dosa),</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>Jiwaku penuh cacat (kesalahan),</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>Akal pikiranku telah <span> </span>terkalahkan (hawa nafsu),</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>Hawa nafsuku telah menguasai (diri) ku,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span> </span></em><span id="more-152"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span>Ya Tuhanku&#8230;!<br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>Ya Tuhanku&#8230;!</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>Betapa hatiku tertutup (dosa),</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>Jiwaku penuh cacat (kesalahan),</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>Akal pikiranku telah <span> </span>terkalahkan (hawa nafsu),</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>Hawa nafsuku telah menguasai (diri) ku,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>Keta’atanku hanyalah sedikit, <span> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>Kemaksiatanku banyak,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>Lisanku terlumuri dosa,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>Dan bagaimana keadaanku wahai Penutup segala aib dan cacat?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>Wahai Yang Mengetahui yang semua yang ghaib&#8230;!</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>Wahai Penyingkap segala kesedihan&#8230;!</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>Demi kehormatan Muhamad dan keluarga Muhamad, ampunilah semua dosa hamba&#8230;!</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>Wahai Yang Maha Pengampun&#8230;!</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>Wahai Yang Maha Pengampun&#8230;!</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>Wahai Yang Maha Pengampun&#8230;!</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span>Dengan rahmat-Mu, wahai Yang paling Pengasih dari para pengasih&#8230;!</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>[ED, kutipan doa shabah, Mafatihul Jinan (kunci-kunci surga-surga)]</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/152/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/152/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/152/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=152&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/12/ya-tuhanku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Panduan Hubungan (Biologis) Suami-Istri (bag-3)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/11/pnduan-hubungan-biologis-suami-istri-bag-3/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/11/pnduan-hubungan-biologis-suami-istri-bag-3/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jul 2007 18:04:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi Keluarga & Pendidikan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/11/pnduan-hubungan-biologis-suami-istri-bag-3/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang suami atau istri tidak selayaknya ketika sedang melakukan hubungan biologis membayangkan laki-laki atau perempuan lain dengan syahwat. Karena hal itu, selain berdosa bagi pelakunya, juga sedikit banyaknya akan memberikan dampak negatif pada kepribadian anak yang dilahirkan dari cara hubungan seperti ini. &#160; &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Panduan Hubungan (Biologis) Suami-Istri (bag-3) Menyambung dan menyempurnakan pembahasan sebelumnya berkaitan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=151&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/kuncup-kembar.jpg" title="kuncup-kembar.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/kuncup-kembar.thumbnail.jpg?w=500" alt="kuncup-kembar.jpg" /></a></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Seorang suami atau istri tidak selayaknya ketika sedang melakukan hubungan biologis membayangkan laki-laki atau perempuan lain dengan syahwat. Karena hal itu, selain berdosa bagi pelakunya, juga sedikit banyaknya akan memberikan dampak negatif pada kepribadian anak yang dilahirkan dari cara hubungan seperti ini.</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span id="more-151"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<h2 align="center"><span style="color:black;font-style:normal;font-family:'Times New Roman';"><a href="http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/20/panduan-hubungan-biologis-suami-istri-2/" title="Panduan Hubungan (Biologis) Suami-Istri (2)"><span style="color:black;">Panduan Hubungan (Biologis) Suami-Istri</span><span style="color:black;text-decoration:none;"> (</span></a>bag-3)</span></h2>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="color:black;"></span><br />
Menyambung dan menyempurnakan pembahasan sebelumnya berkaitan dengan panduan hubungan (biologis) suami istri, maka disini terdapat beberapa anjuran (sunnah) lagi yang telah dinukil dalam beberapa hadis berikut ini. Dan sebaliknya, terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan akan beberapa hal yang terdapat penekanan untuk ditinggalkan (makruh) sewaktu melakukan persenggamaan:</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:14pt;">I. Hal-hal yang dimakruhkan dalam melakukan hubungan biologis:</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="margin-left:39pt;text-indent:-0.25in;text-align:justify;" class="MsoNormal">   <strong><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><span dir="ltr"><strong>Membayangkan perempuan (untuk suami) atau laki-laki (untuk istri) lain selain pasangannya.</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Seorang suami atau istri tidak selayaknya ketika sedang melakukan hubungan biologis membayangkan laki-laki atau perempuan lain dengan syahwat. Karena hal itu, selain berdosa bagi pelakunya, juga sedikit banyaknya akan memberikan dampak negatif pada kepribadian anak yang dilahirkan dari cara hubungan seperti ini.</p>
<ul>
<li><span dir="ltr">Dalam wasiatnya kepada Imam Ali as, Rasulullah saww bersabda: “Wahai Ali, janganlah engkau melakukan hubungan biologis dengan istrimu dalam keadaan membayangkan perempuan lain. Karena aku takut jika ternyata (dari hubungan itu) menghasilkan anak maka ia akan menjadi banci, dan anggota tubuh serta akalnya akan cacat”. [Syeikh Radhiyuddin Abi Nashril Hasan bin Al-Fadl ath-Thabarsi, ulama besar pada abad ke-6 HQ, Makarimal-Akhlak, hal 209, Wasail asy-Syi’ah, Syeikh al-Hurr al-Amili jilid 20 halaman 252] </span></li>
</ul>
<p style="margin-left:39pt;text-indent:-0.25in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><span dir="ltr"><strong>Berbicara sewaktu berhubungan</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Usahakan suami dan istri ketika sedang melakukan hubungan biologis tidak berbicara. Adapun sebelumnya dan sesudahnya tidaklah apa-apa.</p>
<ul>
<li><span dir="ltr">Berkenaan dengan hal ini, Imam Shadiq as meriwayatkan dari Rasulullah saww dimana beliau berwasiat kepada Imam Ali as: “Wahai Ali, janganlah berbicara ketika engkau sedang melakukan hubungan biologis. Karena jika (dari hasil hubungan semacam itu) anak terlahir darinya maka ia tidak akan terjaga dari kebisuan (akan menyebabkan bisu .red)”. [Wasail asy-Syi’ah, Syeikh al-Hurr al-Amili jilid 20 halaman 123 dinukil dari Adab Zafaf halaman 77] </span></li>
</ul>
<p style="margin-left:39pt;text-indent:-0.25in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>3.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><span dir="ltr"><strong>Memakai Satu Kain </strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Selayaknya suami istri memiliki kain (pengusap kemaluan) yang digunakan setelah melakukan hubungan biologis secara terpisah. Dan hendaklah menjauhi menggunakan satu kain secara bergantian. Karena jika hal demikian dilakukannya maka akan menyebabkan permusuhan di antara pasangan suami-istri tersebut.</p>
<ul>
<li><span dir="ltr">Berkaitan dengan hal ini, dalam wasiatnya kepada Imam Ali as, Rasulullah saww bersabda: “Wahai Ali, janganlah engkau melakukan hubungan biologis dengan istrimu melainkan engkau dan istrimu memiliki kain yang terpisah. Janganlah kalian berdua menggunakan satu kain setelah berhubungan (jima’). Karena hal itu menyebabkan (terjadinya) syahwat terletak pada syahwat lainnya, dan hal tersebut akan menyebabkan permusuhan di antara kalian berdua yang kemudian akan mengantarkan pada penceraian (thalak).” [Syeikh Radhiyuddin Abi Nashril Hasan bin Al-Fadl ath-Thabarsi, ulama besar pada abad ke-6 HQ, Makarimal-Akhlak, hal 210, Wasail asy-Syi’ah, al-Hurr al-Amili jilid 20 halaman 252]</span></li>
</ul>
<p style="margin-left:39pt;text-indent:-0.25in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>4.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><span dir="ltr"><strong>Melihat kemaluan (kelamin) istri.</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Ketika sedang melakukan hubungan biologis, hendaknya sang suami tidak melihat alat kemaluan pasangannya. Karena hal itu akan mewariskan kebutaan pada anak yang terlahir darinya.</p>
<ul>
<li><span dir="ltr">Berkaitan dengan hal ini, Nabi saww dalam wasiatnya kepada Imam Ali as, beliau bersabda: “Dan hendaklah kalian tidak melihat kemaluan istri. Dan tundukkanlah pandangan dari memandang vagina istri ketika sedang melakukan hubungan biologis (persetubuhan). Karena memandang vagina ketika sedang berhubungan intim akan mewariskan kebutaan pada anak (yang dihasilkan darinya)”. [Syeikh Radhiyuddin Abi Nashril Hasan bin Al-Fadl ath-Thabarsi, ulama besar pada abad ke-6 HQ, Makarimal-Akhlak, hal 209, Wasail asy-Syi’ah, al-Hurr al-Amili jilid 20 halaman 121]</span></li>
</ul>
<p style="margin-left:39pt;text-indent:-0.25in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>5.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><span dir="ltr"><strong>Setelah Dhuhur</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Ditekankan agar tidak melakukan hubungan dengan pasangan di waktu dzuhur karena hal itu memungkinkan anak yang dihasilkan dari hubungan tersebut terlahir dalam keadaan ‘jereng’ (juling mata).</p>
<ul>
<li><span style="font-family:Symbol;"><span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"></span></span></span><span dir="ltr">Rasul saww dalam sebuah wasiat beliau kepada Imam Ali as bersabda: “Wahai Ali, jangan engkau berhubungan biologis dengan istrimu pada waktu selepas dzuhur. Karena jika kalian (engkau dan istri .red) lakukan hal tersebut maka, kalaulah kalian dikarunia seorang anak dari hasil hubungan tersebut maka akan terlahir dalam keadaan juling. Dan Setan sangat menyukai manusia yang juling”. [Syeikh Radhiyuddin Abi Nashril Hasan bin Al-Fadl ath-Thabarsi, dalam kitab Makarimal-Akhlak, hal 209]</span></li>
</ul>
<p style="margin-left:39pt;text-indent:-0.25in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>6.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><span dir="ltr"><strong>Malam Hari Raya Iedul Fitri dan Iedul Adha</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Ditekankan untuk menghindari hubungan seksual dengan istri di saat malam Iedul Fitri dan Iedul Adha. Kedua Malam itu (Iedul Fitri dan Iedul Adha) adalah salah satu waktu yang dimakruhkan dalam melakukan hubungan biologis antara suami-istri. Dikarenakan jika hal itu dilakukan maka andai Allah mengaruniai keturunan dari hubungan tersebut maka ia akan terlahir dalam keadaan yang tidak dikehendaki.</p>
<ul>
<li><span style="font-family:Symbol;"><span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"></span></span></span><span dir="ltr">Rasul saw telah berwasiat kepada Imam Ali as: “Ya Ali, jangan engkau kumpuli istrimu pada malam (Ied) Fitri. Karena jika kalian (suami-istri .red) dikaruniai seorang anak dari perbuatan tersebut niscaya ia tidak akan terlahir kecuali dalam keadaan menjadi sumber malapetaka” [Syeikh Radhiyuddin Abi Nashril Hasan bin Al-Fadl ath-Thabarsi, dalam kitab Makarimal-Akhlak, hal 210] </span></li>
</ul>
<ul>
<li><span dir="ltr">Rasul saw telah berwasiat kepada Imam Ali as: “Ya Ali, jangan engkau kumpuli istrimu pada malam (Ied) Adha. Karena jika kalian (suami-istri) dikaruniai seorang anak dari perbuatan tersebut niscaya ia akan terlahir memiliki jari jemari berjumlah empat atau enam (kurang/lebih dalam ciptaan .red)” [Syeikh Radhiyuddin Abi Nashril Hasan bin Al-Fadl ath-Thabarsi, dalam kitab Makarimal-Akhlak, hal 210] </span></li>
</ul>
<p style="margin-left:39pt;text-indent:-0.25in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>7.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><span dir="ltr"><strong>Di bawah Pohon Berbuah</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Termasuk yang dimakruhkan dalam melakukan hubungan biologis adalah dengan melakukannya di bawah pohon berbuah.</p>
<ul>
<li><span style="font-family:Symbol;"><span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"></span></span></span><span dir="ltr">Rasul saww dalam sebuah wasiatnya kepada Imam Ali bersabda: “Ya Ali, janganlah engkau berhubungan biologis dengan istrimu di bawah pohon berbuah karena hal itu menyebabkan; jika engkau dikaruniai seorang anak yang terlahir darinya akan menjadi preman, pembunuh dan pelaku keburukan” [Syeikh Radhiyuddin Abi Nashril Hasan bin Al-Fadl ath-Thabarsi, dalam kitab Makarimal-Akhlak, hal 210]</span></li>
</ul>
<p><strong><span>      8.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><span dir="ltr"><strong>Di bawah Terik dan atau Sorotan Sinar Matahari</strong></span></p>
<p>Hal yang dimakruhkan dalam berhubungan seksual dengan pasangan hidup adalah melakukannya di bawah sorotan sinar Matahari.</p>
<ul>
<li><span dir="ltr">Rasul saww berwasiat kepada Imam Ali as: “Ya Ali, janganlah engkau berhubungan biologis dengan istrimu di bawah terik dan atau sorotan sinar Matahari, kecuali dengan menutupi (melindungi) diri kalian darinya. Karena hal itu menyebabkan jika engkau dikaruniai seorang anak yang terlahir darinya akan menjadi anak yang selalu sengsara dan fakir hingga akhir hayatnya”. [Syeikh Radhiyuddin Abi Nashril Hasan bin Al-Fadl ath-Thabarsi, dalam kitab Makarimal-Akhlak, hal 210]</span><strong> </strong></li>
</ul>
<p style="margin-left:39pt;text-indent:-0.25in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>9.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><span dir="ltr"><strong>Antara Adzan dan Iqamat</strong></span></p>
<ul>
<li><span dir="ltr">Rasul saww berwasiat kepada Imam Ali as: “Ya Ali, janganlah engkau melakukan hubungan biologis dengan istrimu pada waktu antara adzan dan iqomat, karena hal itu menyebabkan jika kalian dikaruniai seorang anak yang terlahir darinya akan menjadi orang yang haus darah (orang yang suka menumpahkan darah .red). [Syeikh Radhiyuddin Abi Nashril Hasan bin Al-Fadl ath-Thabarsi, dalam kitab Makarimal-Akhlak, hal 210] </span></li>
</ul>
<p style="margin-left:39pt;text-indent:-0.25in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>10.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><span dir="ltr"><strong>Di bawah Pohon Berbuah</strong></span></p>
<ul>
<li><span style="font-family:Symbol;"><span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"></span></span></span><span dir="ltr">Rasul saww berwasiat kepada Imam Ali as: “Ya Ali, janganlah engkau melakukan hubungan biologis dengan istrimu di bawah pohon berbuah,<span> </span>karena hal itu menyebabkan; jika kalian dikaruniai seorang anak yang terlahir darinya akan menjadi pembunuh berdarah dingin dan sangat buruk prilakunya. [Syeikh Radhiyuddin Abi Nashril Hasan bin Al-Fadl ath-Thabarsi, dalam kitab Makarimal-Akhlak, hal 210 </span></li>
</ul>
<p style="margin-left:39pt;text-indent:-0.25in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>11.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><span dir="ltr"><strong>Di atas Atap Rumah</strong></span></p>
<ul>
<li><span dir="ltr">Rasul saww berwasiat kepada Imam Ali as: “Ya Ali, janganlah engkau melakukan hubungan biologis dengan istrimu di atas atap rumah, karena hal itu menyebabkan; jika kalian dikaruniai seorang anak yang terlahir darinya akan menjadi orang munafik, riya dan ahli bid’ah. [Syeikh Radhiyuddin Abi Nashril Hasan bin Al-Fadl ath-Thabarsi, dalam kitab Makarimal-Akhlak, hal 210]</span></li>
</ul>
<p style="margin-left:39pt;text-indent:-0.25in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>12.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><span dir="ltr"><strong>Malam Perjalanan</strong></span></p>
<ul>
<li><span style="font-family:Symbol;"><span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"></span></span></span><span dir="ltr">Rasul saww berwasiat kepada Imam Ali as: “Ya Ali, jika engkau dalam perjalanan, janganlah engkau melakukan hubungan biologis dengan istrimu pada malam itu karena hal itu menyebabkan; jika kalian dikaruniai seorang anak yang terlahir darinya akan menjadi orang yang suka menghambur-hamburkan uang bukan pada tempatnya”. Kemudian Rasulullah membacakan ayat:</span><span style="font-size:10pt;"> </span><strong><em><span>“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.</span></em></strong><span>(QS al-Israa: 27)</span><span> </span>[Syeikh Radhiyuddin Abi Nashril Hasan bin Al-Fadl ath-Thabarsi, dalam kitab Makarimal-Akhlak, hal 211]</li>
</ul>
<p style="margin-left:39pt;text-indent:-0.25in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>13.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><span dir="ltr"><strong>Permulaan Malam</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Melakukan hubungan biologis pada awal bulan Qomariyah merupakan hal yang dimakruhkan, kecuali pada bulan Ramadhan, sesuai dengan zahir ayat al-Quran dalam surat 187 ayat al-Baqarah: “<strong><em><span>Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu</span></em></strong>”.</p>
<ul>
<li><span dir="ltr">Rasul saww telah berwasiat kepada Imam Ali as: “Ya Ali, janganlah engkau berhubungan biologis dengan istrimu pada permulaan malam, karena hal itu menyebabkan; jika kalian dikaruniai seorang anak yang terlahir darinya akan menjadi orang yang tidak akan beriman dan menjadi seorang penyihir dan tukang onar, yang memberikan dampak buruk dikehidupan dunia dan akhiratnya. <span></span>[Syeikh Radhiyuddin Abi Nashril Hasan bin Al-Fadl ath-Thabarsi, dalam kitab Makarimal-Akhlak, hal 211] </span></li>
</ul>
<p style="margin-left:39pt;text-indent:-0.25in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>14.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><span dir="ltr"><strong>Tanpa Wudhu</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Hal lain yang dimakruhkan adalah melakukan hubungan intim tanpa bersuci (berwudhu).</p>
<ul>
<li><span dir="ltr">Rasul saww telah berwasiat kepada Imam Ali as: “Ya Ali, janganlah engkau berhubungan intim dengan istrimu melainkan engkau dalam keadaan memiliki wudhu (suci). Karena jika tidak maka hal itu menyebabkan; kalaulah engkau dikaruniai seorang anak yang terlahir darinya maka akan menjadi anak yang buta mata hatinya dan kikir”. (Syeikh Radhiyuddin Abi Nashril Hasan bin Al-Fadl ath-Thabarsi, dalam kitab Makarimal-Akhlak, hal 210)</span></li>
</ul>
<p style="margin-left:39pt;text-indent:-0.25in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>15.<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><span dir="ltr"><strong>Malam Pertengahan Bulan Sya’ban</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Malam pertengahan bulan Sya’ban adalah salah satu masa yang dimakruhkan dalam melakukan hubungan seksual, dari awal malam (maghrib) hingga akhir malam (menjelang subuh).</p>
<ul>
<li><span style="font-family:Symbol;"><span></span></span><span dir="ltr">Rasul saww telah berwasiat kepada Imam Ali as: “Ya Ali, janganlah engkau berhubungan intim dengan istrimu pada malam pertengahan bulan Sya’ban. Karena jika tidak maka hal itu menyebabkan; kalaulah kalian dikaruniai seorang anak yang terlahir darinya maka akan menjadi anak yang buruk dimana rambut dan kepalanya berbercak”. [Syeikh Radhiyuddin Abi Nashril Hasan bin Al-Fadl ath-Thabarsi, dalam kitab Makarimal-Akhlak, hal 210] </span><strong><span></span></strong></li>
</ul>
<p><strong><span>     16. <span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"></span></span></strong><span dir="ltr"><strong>Menjelang Dua Hari di Akhir Bulan</strong></span></p>
<ul>
<li><span style="font-family:Symbol;"><span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"></span></span></span><span dir="ltr">Rasul saww berwasiat kepada Imam Ali as: “Ya Ali, janganlah engkau melakukan hubungan biologis dengan istrimu dua hari menjelang akhir bulan, kalaulah kalian dikaruniai seorang anak yang terlahir darinya maka akan menjadi orang bodoh dan penolong orang zalim yang berakibat kebinasaan sekelompok manusia”. [Syeikh Radhiyuddin Abi Nashril Hasan bin Al-Fadl ath-Thabarsi, dalam kitab Makarimal-Akhlak, hal 210] </span></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Dan anjuran-anjuran lainnya yang secara kesehatan sangat membahayakan seperti: berjima’ dalam keadaan menahan kencing, terlampau kenyang, terlampau lapar dan hal-hal lain –yang pernah kita singgung dalam penjelasan yang lalu- dimana kesemuanya hukumnya adalah makruh. Dan dalam beberapa hal, terbukti bahwa berdasarkan kesehatan (medis) pun ilmu kedokteran modern telah membuktikan kebenaran akan adanya beberapa resiko tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong>[ED/Islam feminis]</strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/151/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/151/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/151/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=151&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/11/pnduan-hubungan-biologis-suami-istri-bag-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/kuncup-kembar.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kuncup-kembar.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Poligami; antara Pro dan Kontra</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/10/poligami-antara-pro-dan-kontra/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/10/poligami-antara-pro-dan-kontra/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jul 2007 07:11:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/10/poligami-antara-pro-dan-kontra/</guid>
		<description><![CDATA[Satu poin menarik dari ayat diatas adalah, ayat itu langsung mengisyaratkan tentang poligami dengan mengatakan: “Nikahilah, dua, tiga, dan empat, … baru hanya satu istri saja jika terdapat rasa khawatir (takut) tidak dapat berlaku adil”. Sekilas, seakan yang menjadi dasar dalam hukum Islam dalam ayat tadi adalah ber-poligami, bukan ber-monogamy (satu istri). Hal itu dikarenakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=150&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/mawar-kering.jpg" title="mawar-kering.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/mawar-kering.thumbnail.jpg?w=500" alt="mawar-kering.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Satu poin menarik dari ayat diatas adalah, ayat itu langsung mengisyaratkan tentang poligami dengan mengatakan: “Nikahilah, dua, tiga, dan empat, … baru hanya satu istri saja jika terdapat rasa khawatir (takut) tidak dapat berlaku adil”. Sekilas, seakan yang menjadi dasar dalam hukum Islam dalam ayat tadi adalah ber-poligami, bukan ber-monogamy (satu istri). Hal itu dikarenakan monogami merupakan hak semua manusia, dan tentu semua dapat menerimanya, tidak ada seorangpun yang akan menggugatnya.</p>
<p class="MsoNormal"> <span id="more-150"></span></p>
<p class="MsoNormal">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;">Poligami; antara Pro dan Kontra</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">Oleh : Euis Daryati</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Saya teringat ketika kami sedang membahas tentang poligami di bangku kuliah, dosen saya[3] menceritakan tentang seorang perempuan terpelajar berwarga negara Jepang yang masuk Islam karena hukum poligami setelah membaca sebuah buku yang membahas permasalahan tersebut secara detail dan jelas. Lalu sambil bercanda beliau mengatakan: “Kenapa kita (kaum muslimah) justru sebaliknya, ‘keluar’ dari agama Islam karena hukum poligami”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pembahasan poligami merupakan salah satu pembahasan yang tidak pernah kehilangan peminatnya. Apalagi baru-baru ini, Indonesia dihebohkan oleh pelaksanaan poligami oleh salah seorang mubaligh kondang tanah air, Abdullah Gymnastiar (Aa’ Gym). Pro dan kontra terus mengalir menanggapi praktek poligami Aa’ Gym, hingga akhirnya merembet ke pembahasan untuk melihat dan mempertimbangkan kembali Undang-undang No: 10 tahun 1983 tentang pelarangan praktek poligami. Ternyata, berdasarkan jajak pendapat, mayoritas suara (60% lebih) mengusulkan untuk merevisi kembali undang-undang pelarangan tersebut sedang selebihnya setuju dan abstain[4]. Hal ini membuktikan bahwa praktek poligami tidak mungkin dilarang secara total. Karena jika dilarang secara total akan timbul dampak yang sangat negatif seperti meratanya perselingkuhan dan hubungan di luar nikah (zina). Ini jika kita hanya berpegang atas poling yang ada. Begitu sensitifnya permasalahan ini, hingga presiden RI (Bapak S.B Yudhoyono) pun sempat hendak secara langsung turut menangani masalah ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Jika kita hendak kembali menelusuri sejarah, diperbolehkannya praktek poligami bukanlah hukum baru yang dibawa oleh Islam karena ia sudah ada sebelum datangnya agama Islam. Islam datang lalu memberikan syarat-syarat dan batasan yang lebih jelas dalam praktek poligami. Oleh karena itu, dalam istilah fikih, hukum poligami bukan merupakan hukum ta’sisi melainkam hukum imdha’i [5].</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Dasar Teologis Poligami </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dari sisi teori, mayoritas kaum muslimin sudah mengetahui hukum poligami, atau paling tidak, pernah mendengarnya. Praktek poligami merupakan salah satu hukum yang telah disahkan oleh agama Islam dan hukum ini merupakan salah satu dari kejelasan fikih Islam (dzaruriyaatul-fiqh) yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Hanya saja, dari sisi prakteknya, mayoritas kaum Hawa—termasuk kaum muslimah sendiri—merasa gerah dan keberatan. Kita akan selalu berharap, mudah-mudahan ‘kebencian’ kaum hawa terhadap praktek poligami tidak berakhir dengan kebencian kepada hukum tersebut. Karena jika demikian, secara tidak langsung berarti kita telah membenci sang penetap hukum poligami tersebut, Allah swt. Kita semua mengetahui apa konsekuensi dari kebencian terhadap Allah swt bukan? Tentu saja anti praktek poligami yang disebabkan oleh penyalahgunaan para oknum—seperti yang terjadi pada kasus nikah mut’ah—tidak secara otomatis meniscayakan kebencian kepada hukum Allah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dan tentu saja, segala problem yang timbul bukan berasal dari ajaran Islam itu sendiri tetapi berasal dari oknum pelaku yang telah mengetahui ajaran Islam namun tidak mampu melaksanakannya atau mereka yang tidak tahu dan salah dalam mempraktekannya. Oleh karena itu, dalam kasus-kasus yang ada, terkadang kita terpaksa harus memisahkan antara ajaran asli agama dan pelaku yang mengaku sebagai penganut ajaran tersebut. Sudah seharusnya kita bersikap “dewasa” dalam menghadapi setiap permasalahan, agar kita tidak terjerumus ke dalam jurang ekstrimitas berpikir dan bertindak (ifrath-tafrith). Dari banyak argumen yang ada, dengan jelas Islam telah mengajarkan pengikutnya untuk berpikir dan bertindak secara logis dan proporsional (wajar dan pada tempatnya).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sebagai penyembah Tuhan yang Esa, kita meyakini bahwa Allah swt adalah Dzat yang maha Bijaksana dan Sempurna. Meng-Esa-kan Allah swt memiliki banyak bentuk dan mencakup segala hal, termasuk meyakini bahwa hanya Allah-lah yang berhak menentukan hukum, inil-hukmu illa lillah. Dia Maha Pencipta dan Dia pulalah yang Mengetahui segala apa yang “dibutuhkan” oleh setiap hasil ciptaan-Nya. Dia pun Maha Bijak, dalam arti segala prilaku-Nya memiliki tujuan dan hikmah tertentu bagi hamba-Nya. Dia tidak pernah melakukan perbuatan yang sia-sia dan tanpa dasar. Segala bentuk kesia-siaan adalah keburukan yang dihasilkan oleh dzat yang memiliki kekurangan. Karena Allah swt merupakan Dzat Maha Sempurna dan Sumber segala kesempurnaan, maka Ia harus disucikan dari segala bentuk kekurangan. Tak ada satupun dari ciptaan-Nya yang luput dari pantauan-Nya, karena Ia Maha Menyaksikan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Berdasarkan sifat Maha Bijaksana dan Maha Sempurna-Nya, Dia telah menetapkan berbagai hukum dalam al-Qur’an dan salah satunya adalah diperbolehkannya praktek poligami. Tidak ada yang berhak merubah hukum-hukum Allah, melainkan Allah swt sendiri. Ini merupakan jenis pentauhidan (baca: pengesaan) Allah dari sisi otoritas penentu hukum (at-Tauhid fil-hakimiyah). Jika ada seseorang yang mengaku muslim dan meng-Esa-kan Tuhan lantas tidak setuju atau ingin merubah hukum tersebut berdasarkan bisikan “ego-emosional” ataupun “ego-intelektual” yang bersumber dari hawa nafsunya, niscaya ia telah mempersekutukan Allah swt (musyrik) dengan emosi dan perasaan intelektualnya. Naudzubillah min dzalik</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam berbagai kitab ushul-fikih dijelaskan, swt dalam menentukan sebuah hukum pada obyek-obyeknya Allah selalu memiliki landasan dari sisi maslahat dan bahaya (mafsadah)-nya. Sebagai contoh; sebuah obyek hukum akan diharamkan karena terdapat dampak negatif yang sangat kuat (mafsadah syadidah) di dalamnya. Dan sebaliknya, sebuah obyek hukum akan diwajibkan karena terdapat kemaslahatan yang sangat kuat (maslahah syadidah)[6] di dalamnya. Demikian seterusnya dengan hukum-hukum fikih yang lain (mubah, mustahab/sunah dan makruh). Di saat kita meyakini bahwa Allah swt tidak mungkin menetapkan suatu hukum melainkan terdapat hikmah di baliknya, maka keyakinan tersebut berlaku pula pada hukum Allah tentang diperbolehkannya praktek poligami.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Artinya, tentu terdapat kemaslahatan dan hikmah dibalik diperbolehkannya praktek poligami. Ringkasnya, jika seseorang benar-benar meyakini akan sifat Maha Sempurna dan Maha Bijaksananya Allah swt, niscaya tidak akan pernah “terbesit kebencian” dalam hatinya atas hukum yang telah ditetapkan Tuhan-Nya, baik secara terang-terangan dan diungkapkan melalui lisan dan prilaku, baik yang dikemas dalam kemasan intelektual ataupun emosional, ataupun hanya dipendam dalam hati yang sewaktu-waktu siap dimuntahkan keluar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Hukum Poligami</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam Islam, hukum poligami adalah diperbolehkan dan bukan diwajibkan. Artinya, poligami boleh dilakukan dan boleh ditinggalkan. Jika kmelihat zahir ayat tentang poligami, penggunaan bentuk perintah “fankihuu” yang berarti “maka nikahilah”[7], berarti di situ Allah swt menggunakan kalimat perintah (amr). Dimana dalam kaidah ushul fikih dijelaskan, “bentuk perintah menunjukkan wajib” (shighatu fi’lil-amr tadullu alal wujub)[8], berarti ayat itu meniscayakan suatu kewajiban. Jelas, penentuan akan “hukum wajib” dari ayat tersebut akan terjadi jika seseorang tidak mengetahui (baca: bodoh) atas kaidah ilmu ushul fikih dan hanya melihat ayat di atas dengan sepenggal-sepenggal, tanpa memperhatikan potongan ayat sebelumnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Padahal jika diperhatikan potongan ayat sebelumnya yang berupa larangan menikahi perempuan yatim[9] dan karena alasan takut tidak dapat berlaku adil terhadap mereka, kemudian Allah swt –dalam ayat yang sama- memerintahkan untuk menikahi perempuan ke-dua, ke-tiga atau ke-empat, hal ini akan menjadi tanda tanya buat sebagian orang. Padahal, jawabannya sudah jelas, berdasarkan kaidah ushul fikih, jika suatu perintah datang setelah larangan maka akan memberi makna dan menunjukkan hukum “boleh“ (Jaiz), bukan wajib ataupun haram. Tentu itu jika kita berbicara pada dataran hukum primer (hukmul- awwaly) poligami. Sedang pada dataran hukum sekunder (hukmul-tsnawy) maka hukum poligami bisa berubah menjadi hukum yang lain (makruh, haram, wajib dan sunah) dengan melihat situasi dan kondisi pelakunya, karena faktor eksternal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Satu poin menarik dari ayat diatas adalah, ayat itu langsung mengisyaratkan tentang poligami dengan mengatakan: “Nikahilah, dua, tiga, dan empat, … baru hanya satu istri saja jika terdapat rasa khawatir (takut) tidak dapat berlaku adil”. Sekilas, seakan yang menjadi dasar dalam hukum Islam dalam ayat tadi adalah ber-poligami, bukan ber-monogamy (satu istri). Hal itu dikarenakan monogami merupakan hak semua manusia, dan tentu semua dapat menerimanya, tidak ada seorangpun yang akan menggugatnya. Oleh karenanya praktek monogami tidak dijelaskan kembali dalam ayat al-Qur’an tersebut, karena sudah bersifat badihi [aksiomatis].</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Syarat-Syarat Poligami</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Terdapat dua ayat dalam-Qur’an yang menjelaskan tentang poligami; ayat 3 dan ayat 129 yang keduanya terdapat dalam surat an-Nisa’. Dalam ayat ke-3 dijelaskan tentang syarat poligami dengan menyatakan: “…jika kalian takut tidak dapat berlaku adil, hendaknya nikahilah seorang saja,…”. Jadi, berdasarkan ayat di atas, syarat poligami adalah; jika “dapat berlaku adil”. Dalam tafsir al-Mizan, Allamah Thabatha’i ra menjelaskan; Allah swt telah melarang orang untuk poligami di saat “takut” (baca: khawatir) tidak dapat berlaku adil, bukan atas dasar “tahu” (memiliki pengetahuan)[10]. Ini menunjukkan betapa sensitifnya keadilan tersebut. Seorang lelaki yang akan melaksanakan praktek poligami lantas terlintas “perasaan khawatir” untuk tidak dapat berlaku adil, maka –berdasarkan ayat tadi- ia harus melaksanakan anjuran al-Quran untuk menikahi satu permpuan saja. Apalagi buat lelaki yang “mengetahui” bahwa jika dia menikah lebih dari satu niscaya dia tidak akan bisa berbuat adil. Maka berdasarkan kaidah prioritas hukum (qiyas awlawiyah), ia tidak bisa untuk menikah lebih dari satu, dikarenakan syarat utamanya tidak terpenuhi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sedang, dalam ayat ke-129, Allah swt menyatakan bahwa seorang suami tidak akan pernah dapat berlaku adil. Atau dengan bahasa lain, seorang lelaki “mustahil” dapat berlaku adil: ”Dan kamu sekali-kali tidak dapat berlaku adil di antara istri-istri-(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian…”. Dalam ayat di atas menggunakan kata “lan, abadiyah” yang artinya “Tidak akan pernah (untuk selamanya)”, dimana dalam tata bahasa Arab, kata tersebut digunakan untuk sesuatu yang tidak akan pernah dapat dilakukan[11]. Lantas, bukankah ini paradoks? Mungkinkah menetapkan hukum yang bersifat paradoks, dan mungkinkah Allah swt menetapkan sesuatu akan tetapi sesuatu tersebut di luar batas kemampuan seluruh lelaki (taklif bimaa laa yuthoq) yang ada di muka bumi ini?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bukankah hal itu meniscayakan bahwa Allah swt telah melakukan perbutan sia-sia dan tidak proposional (zalim) terhadap hamba-Nya, terkhusus kaum lelaki? Tentu berdasarkan ajaran teologi Islam –yang berlandaskan pada argument akal maupun teks- jawabannya sudah sangat jelas, Allah swt tidak mungkin melakukan semua hal tersebut, dengan bentuk apapun. Lantas, keadilan yang bagaimana yang disyaratkan dalam praktek poligami, dan keadilan mana yang sama sekali diluar batas kemampuan manusia (baca: lelaki)? Keadilan yang telah disyaratkan dalam (ayat) poligami adalah keadilan yang bersifat “lahiriyah”, seperti memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan, giliran waktu, perhatian semua istri dan anak dari semua istri, dan lainnya yang bersifat primer maupun sekunder. Namun harus diingat bahwa “keadilan bukan berarti harus sama (baca: menyamaratakan)”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam banyak kasus hal itu terbukti kebenarannya. Karena tidak mungkin menyamakan biaya hidup istri yang memiliki anak tiga dengan istri yang hanya memiliki anak satu misalnya. Tidak mungkin menyamakan ukuran baju istri yang tinggi dengan istri yang pendek. Menyamaratakan kekhususan rumah istri satu dengan yang lain dari segala bentuk dan sisinya. Singkat kata, tidak mungkin (baca: mustahil) menyamaratakan antara kedua istrinya dalam semua hal. Selain tidak mungkin, bukan itu tuntutan Islam dalam memberikan syarat adil dalam berpoligami. Syarat adil dalam praktek poligami menurut Islam bersifat rasional dan mungkin dipenuhi dan dilaksanakan. Sangat tidak bijak jika Islam mensyaratkan adil dalam praktek poligami adalah menyamaratakan dalam semua hal, karena itu mustahil dilakukan oleh manusia siapapun. Dan hal ini sesuai dengan kaidah filsafat (akal) yang menyatakan “sesuatu yang asli tidak akan mendua dan berbilang” (shirfus-syai’ laa yatatsanna wa laa yatakarrar). Namun berbuat adil yang diisyaratkan dalam Islam adalah “memberikan haknya sesuai dengan kelayakan penerimanya” atau “menempatkan sesuatu pada tempatnya”. Hal ini juga yang menjadi acuan dalam syarat poligami.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sementara keadilan yang mustahil dapat diberlakukan diantara para istri ialah keadilan yang bersifat “batiniyah”, yang berkaitan dengan urusan hati. Itu semua karena prilaku dan urusan hati tidak dapat dikontrol secara penuh (diluar sadar). Dan inilah yang dimaksudkan oleh ayat ke-129 tadi[12]. Karena cinta bukan hal materi yang dapat dibagi secara rata. Kita lihat dalam sejarah, betapa cinta (prilaku batin) Rasul terhadap ummul-mukminin sayyidah Khadijah as yang telah meninggal, sehingga beliau selalu mengenang segala cinta, kasih dan pengorbanannya dengan tetap menghormati teman-teman dekat Khadijah as, mengundang mereka dan selalu menyebut nama Khadijah as. Hal ini yang membuat cemburu sebagian istri Rasul lainnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Namun, walau begitu, harus tetap ada usaha zahir secara maksimal dalam melaksanakan pengontrolan prilaku hati (batiniyah). Rasul saww sebagai penjelmaan paling sempurna dari keadilan telah menjalankan konsep tersebut dengan sebaik-baiknya di antara para istrinya. Dalam sejarah dijelaskan, Urwah bin Zubair (keponakan ummulmukminin Aisyah) telah bertanya kepada bibinya tentang prilaku Rasul saww terhadap para istrinya. Lantas Aisyah menjawab: “Kebiasaan Rasul ialah memperlakukan kita secara sama dan tidak ada yang lebih diutamakan. Beliau berlaku adil terhadap semua istrinya. Jarang sekali terjadi beliau tidak menengok dan menanyakan keadaan kami semua. Dan ketika sampai giliran salah seorang dari kami,maka yang bukan gilirannya hanya cukup dengan menanyakan keadaannya saja.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dan ketika hendak pergi atau ada perlu dengan istri yang bukan gilirannya, maka beliau akan meminta izin terlebih dahulu kepada istri yang mendapat giliran tersebut. Beliau menyatakan, jika diizinkan maka beliau akan pergi, namun jika tidak maka beliau pun tidak akan melakukannya. Dan aku adalah istri yang ketika Rasul meminta izin kepadaku niscaya aku tidak akan mengizinkannya. Bahkan ketika dalam keadaan sakit sekalipun, beliau tetap berlaku adil secara sempurna dan tetap menjaga giliran tersebut. Hingga akhirnya, pada suatu hari ketika beliau sakit beliau telah parah, beliau mengumpulkan segenap istrinya dan meminta izin kepada mereka untuk tinggal menetap di satu rumah saja. Dan merekapun mengizinkannya untuk tinggal di rumahku (Aisyah)”[13]. Begitu juga apa yan diakukan oleh imam Ali as, murid dan sahabat yang paling mewarisi segala keutamaan Rasul. Ketika imam Ali as memiliki dua istri, beliau tidak melakukan sesuatu di tempat istri yang bukan gilirannya, meskipun hanya untuk berwudhu[14].</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Menggugat balik atas Gugatan Poligami (argument lain)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dapat kita lihat banyaknya berbagai gugatan terhadap hukum poligami dari berbagai kelompok yang mengatasnamakan diri sebagai ‘pembela hak asasi wanita’ yang berbasis feminisme. Mereka menyerukan untuk memerangi hukum poligami yang sebagai salah satu bentuk dari penindasan atas hak asasi wanita. Sayangnya, di Tanah Air pelopor dari gerakan ini adalah justru para kaum muslimah yang mengaku peng-Esa Tuhan dan pengaku al-Quran sebagai kitab sucinya, bahkan terdapat istri seorang pemuka agama. Selama ini, tiada argument kokoh –baik tekstual maupun rasional- yang mereka lontarkan. Yang mereka kemukakan tidak lebih dari “argument emosional” dalam melihat beberapa “kasus penyimpangan praktek poligami” yang lantas dijeneralisasikan pada satu kaidah umum yang menghasilkan satu bentuk hukum universal, penghapusan hukum dan pelarangan praktek poligami secara total.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Terlepas dari status kita sebagai makhluk agamis (peng-Esa Tuhan), siapapun dan apapun agamanya, jika ternyata kita menghadapi pertanyaan-pertanyaan di bawah ini yang memiliki konsekuensi masing-masing, lantas apakah jawaban kita; Apa dampak sosial dan moral jika poligami dihapuskan? Dapatkah poligami dilarang secara total? Apakah selamanya istri muda selalu disebut sebagai perebut suami dan perusak rumahtangga orang? Apakah seorang wanita perlu terhadap seorang lelaki (suami) hanya terbatas kepada masalah pemenuhan kebutuhan biologis atau materi saja? Terbukti bahwa jumlah wanita lebih banyak (secara kuantitas) daripada jumlah lelaki, sedang semua manusia –lelaki maupun perempuan- memiliki libido seksual yang harus disalurkan melalui jalan yang legal yang sesuai dengan keridhoan Tuhan, lantas bagaimana pemenuhan kebutuhan biologis sebagian wanita yang tidak mendapat bagian dalam memperoleh pasangan hidup, jika poligami dilarang secara total? Apakah kecenderungan untuk memenuhi kebutuhan biologis mereka harus dikebiri? Sebagaimana setiap manusia pun memiliki rasa cinta (ketertarikan) terhadap lawan jenis yang harus disalurkan dengan cara yang legal, lantas jika setiap lelaki harus tetap pada satu istri saja, lantas hendak dikemanakan ketertarikan alami (rasa cinta) para wanita yang belum mendapat pasangan hidup itu? Apakah rasa ketertarikan itu harus dihalau sehingga hanya boleh berada di alam khayal saja? Bagaimana jika salah satu dari wanita itu adalah kita, siapkah kita menerima hal itu? Jika dengan tegas kita menolaknya, apakah kita tidak egois dengan menerima kenyataan ini?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sebagian wanita mengatakan: “Saya tidak dapat menerima poligami karena saya merasa cemburu. Dan bukankah Tuhan sendiri yang telah memberikan rasa cemburu kepada saya?”. Bisa dijawab; benar, Tuhan jualah yang telah menganugrahkan rasa cemburu. Hal itu karena rasa cemburu merupakan salah satu perwujudan rasa cinta, kasih dan sayang terhadap yang dicintai. Akan tetapi, rasa cemburu yang mana dan yang bagaimana? Apakah cemburu yang berlebihan yang membuat mata kita buta sehingga ‘tidak dapat menerima’ hukum Tuhan -walaupun dengan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh-Nya, sehingga kita menyangka bahwa cemburu tadi bisa dijadikan sebagai tameng menentang hukum Allah- pun termasuk anugerah Tuhan? Hanya rasa cemburu yang sesuai dengan kadarnya (sesuai dengan ajaran akal sehat) saja yang anugerah Tuhan, bukan semua cemburu. Atas dasar itu, imam Ali as pernah bersabda: “Kecemburuan seorang wanita adalah kekufuran, sedang kecumburuan seorang lelaki adalah keimanan”[15]. Hanya “cemburu yang pada batas kewajaran” saja yang merupakan anugerah Ilahi. Hal itu sesuai hadis Imam Musa Kadzim as berkata :“Sebaik-baiknya perkara ialah yang berada di pertengahan”[16].</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Walau tanpa melakukan sensus secara ilmiyah, namun secara umum dari realitas yang ada, pasangan yang lebih dahulu meninggal adalah suami (lelaki), bukan istri. Hal itu salah satunya disebabkan karena pekerjaan mereka (suami) lebih keras dan sulit dibanding perempuan. Belum lagi dengan adanya peperangan yang lebih banyak melibatkan kaum lelaki. Selain itu, menurut medis, daya tahan tubuh perempuan lebih kuat dibanding laki-laki dalam menghadapi banyak penyakit[17]. Lantas bagaimana nasib para janda yang ditinggal oleh suaminya, serta serta anak-anak yatim yang diasuhnya? Mungkin dan boleh jadi anda akan mengatakan; “Asuh saja anak yatimnya, urusan akan selesai!”. Sekali lagi, apakah kebutuhan seorang janda akan suami hanya terbatas pada memenuhi kebutuhan materi (baca: harta) saja sehingga akan selesai dengan mengasuh anaknya yang yatim? Jadi ungkapan seseorang yang mengatakan: “Toch menolong bukan berarti harus menikahinya. Berikan saja bantuan dana untuk mencukupi kehidupannya!!!”, merupakan ungkapan yang egois. Coba kita tanyakan kembali kepada hati nurani kita; Apakah kasih sayang seorang ayah dapat diganti atau hanya berupa uang (harta) saja? Apakah kita perlu terhadap keberadaan seorang suami hanya karena masalah memenuhi kebutuhan biologis dan materi saja? Jawabannya mari kita kembalikan kepada diri kita masing-masing. Tentu anda akan setuju dengan saya bahwa fungsi suami lebih dari itu. Suami berfungsi sebagai teman hidup, tempat curhat, pelindung dan sebagainya. Coba sekali lagi kita lihat diri kita, apakah kita membutuhkan keberadaan suami hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis kita saja, ataukah hanya untuk memenuhi kebutuhan materi saja, ataukah lebih umum dari itu?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kita juga harus melihat, bagaimana nasib seorang gadis yang karena alasan tertentu tidak dapat lekas mendapat pasangan hidup, sementara ia tidak bisa mendapatkan yang sama-sama single (bujang). Padahal ia juga punya hak untuk memiliki pasangan dan teman hidup? Bukankah memiliki pasangan hidup merupakan hak setiap wanita? Namun karena berbagai alasan seperti yang telah disebutkan di atas, sebagian wanita tidak sampai kepada haknya tersebut, melainkan dengan status bukan istri pertama. Silahkan dibayangkan jika perempuan itu adalah kita!? Jika kita tetap gelap mata dan bersikeras untuk tetap ‘menolak’ hukum dan pelaksanaan hukum Allah tersebut oleh pribadi-pribadi (lelaki) yang telah merasa mampu untuk berlaku adil terhadap seorang wanita-wanita muslimah sebagai istrinya, lantas masihkah kita marah jika disebut egois? Tidakkah kita layak disebut egois ketika kita ingin memiliki teman hidup, teman curhat, dan sekaligus pelindung, sementara wanita lain dilarang untuk mendapatkan hak-haknya tersebut, walau melalui cara poligami yang diperbolehkan Allah swt, “Tuhan” kita semua?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Salah satu gugatan lagi yang sering dilontarkan kepada poligami , bahwa poligami menyebabkan keluarga berantakan, anak-anak Broken-Home dan permusuhan. Bisa kembali balik ditanyakan kepada pelontar gugatan tersebut, apakah hanya poligami saja yang menjadi penyebab hal tersebut? Dan sebaliknya, apakah semua yang berpoligami memiliki efek negative semacam itu, walaupun orang tersebut telah menjalankan semua yang telah dianjurkan agama? Kalau jawabannya positif, maka silahkan buktikan secara konkrit!? Dan kalaulah jawabannya adalah negatif berarti hal itu kembali kepada pribadi dan oknumnya itu sendiri. Kita semua mengetahui, sebagaimana seorang suami sebagai kepala rumah tangga yang bertanggungjawab terhadap keluarganya baik dalam urusan material (jasmani) maupun spiritual (rohani) seperti yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an :”…jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (Quu anfusakum wa ahlikum naaro)[18], maka pada kondisi semacam ini tentu orang yang berpoligami akan memiliki tanggungjawab lebih besar dibanding para pelaku monogamy. Karena disamping secara materi ia harus menghidupi istri lebih dari satu, iapun harus mendidik mereka beserta para anaknya. Tentu ini bukan tugas yang ringan dan tentulah tidak mudah, diperlukan kerjasama dengan segenap anggota keluarga, terkhusus dari para istrinya . Tanpa ada kerjasama yang baik, niscaya dampak negative akan selalu mengancam keutuhan keluarga tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Walaupun hal di atas mungkin juga terjadi pada pernikahan monogamy, namun pada poligami akan memberikan kemungkinan yang lebih besar. Karena permusuhan yang terjadi di antara para anak dari para istrinya –terkhusus pasca meninggalnya sang suami- biasanya karena sulutan dari para ibunya. Inilah tugas berat suami untuk dapat mengontrol dan mendidik mereka tetap menjadi keluarga sakinah (tentram) yang berasaskan pada mawaddah wa rahmah (kasih dan sayang). Sudah seharusnya bagi seorang suami ketika hendak ber-poligami untuk memiliki kesiapan matang dengan memberikan jalan keluar yang bijak terhadap segala kemungkinan terpahit yang mungkin bakal dihadapinya sewaktu berpoligami. Sehingga dari situ ketika ia melakukan poligami bukan hanya sekedar untuk koleksi istri, pelampiasan nafsu syahwat ataupun untuk sekedar kebanggaan, akan tetapi untuk tujuan yang lebih rasional dalam menggapai kesempurnaan spiritual berupa “ridho Ilahi”. Bukankah dunia adalah ladang untuk kehidupan akherat (mazra’atul-akhirah)?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Penutup</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Praktek poligami tidak mungkin untuk dilarang. Berdasarkan hikmah Ilahi, pasti akan terdapat efek samping yang bahaya dari pelarangan tersebut. Dengan ditiadakan praktek poligami niscaya akan banyak praktek mesum illegal di antara para suami pemilik istri. Dan itu terbukti pasca diberlakukannya undang-undang no:10 tahun: 1983 pada masa Orde Baru dimana banyak pegawai negeri yang melakukan “hubungan gelap” dengan wanita lain akibat pelarangan berpoligami. Saat diberlakukan undang-undang itu, mereka lebih memilih untuk berhubungan gelap ketimbang menikah secara resmi (poligami) yang memiliki syarat-syarat yang teramat memberatkan, tidak sesuai dengan “konsep keadilan”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Penyalahgunaan praktek hukum, tentu yang salah bukan hukumnya, akan tetapi oknumnya. Islam dengan jelas telah membolehkan poligami, dengan syarat-syarat tertentu. Masalah syarat berlaku adil sangat ditekankan sekali, bahkan menjadi syarat utama dalam ber-poligami. Syahid Ayatullah Muthahari ra menuliskan[19]; terdapat sabda Rasul saww -yang telah disepakati oleh kelompok Sunni maupun Syi’ah- dimana beliau bersabda: “<em><strong>Barangsiapa yang memiliki dua istri sedangkan ia tidak berlaku adil diantara keduanya, maka di hari kiamat ia akan dibangkitkan dalam keadaan sebelah badannya terseret sampai masuk ke dalam api neraka”. Sebaiknya, bahkan seharusnya, riwayat-riwayat semacam inipun harus dijadikan bahan renungan dan pertimbangan bagi para suami yang berencana dan ingin untuk berpoligami. Jangan sampai mereka hanya melihat “sisi enak” praktek poligami saja.</strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dan jangan sampai prilaku mereka dalam berpoligami menjadi penyebab tercorengnya Islam dan hukum Islam. Apalagi jika praktek poligami menyebabkannya melupakan istri tua, tidak mengindahkan hak-hak istri muda, tidak berlaku adil di antara beberapa istrinya atau menyebabkan putusnya hubungan silaturahmi antar sesama muslim atau muslimah yang semua itu diharamkan oleh ajaran agama Islam. Tanpa diragukan lagi, praktek poligami yang didasari oleh hal-hal semacam ini akan menjadi haram hukumnya, berdasarkan hukum sekunder (al-hukmul-tsanawi). Jika itu yang terjadi maka celakalah lelaki yang berpoligami semacam ini, celaka di dunia sebelum merasakan celaka pula di akherat kelak.[islamalternatif.net]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Wallahu a’lam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">-Tulisan ini disampaikan dalam diskusi bulanan LOF di kediaman sdri Syarifah Fadhilah Alathas, Ozodegon – Qom -Iran. Kamis, <strong>29-Desember-2006</strong>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">-Penulis adalah ketua Lembaga Otonomi Fathimiyah (LOF)–Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Qom,Republik Islam Iran 2006-2007, Mahasiswi Pasca Sarjana jurusan Tafsir al-Quran di Bintul-Huda Qom, Republik Islam Iran.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Rujukan:</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[3] Mrs Darwisyi, staf pengajar Bintul-Huda saat mengisi mata kuliah “Metode Berdebat” (rawesy-e munozereh).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[4] Dapat dilihat di berbagai surat kabar ataupun situs-situs yang mengulas atau mem-poling berbagai tanggapan tentang pelaksanaan poligami yang baru-baru ini dilakukan oleh Aa’ Gym.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[5] Hukum Imdha’i berkenaan dengan satu obyek hukum (perbuatan) yang telah ada, namun setelah kedatangan Islam hukum pelaksanaan obyek tersebut di-acc oleh Islam. Berbeda halnya dengan hukum Ta’sisi yang obyeknya baru ada setelah datangnya Islam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[6] Lihat, dalam kitab Durus fi ilmil-ushul karya Syahid Ayatullah Muhammad Bagir Sadr, pembahasan ini terdapat dalam kitab al-Halaqah ats-Tsaniyah dalam pembahasan Mabadi’ul-Ahkam (hal: 9)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[7] QS An-Nisa :3</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[8] Lihat, Duruusu Ilmi Ushul dalam kitab al-Halaqah al-Uula karya Syahid Ayatullah Bagir Sadr dalam pembahasan Shighotul-Amr (hal: 79).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[9] Pada zaman jahiliyah, orang-orang Arab menikahi para perempuan yatim untuk diambil hartanya , setelah itu lantas diterlantarkan. Allah mencela perbuatan mereka. (Zanan wa 3 purses-e asasi, DR Said Dawudi, hal : 402)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[10] Tafsir al-Mizan, jilid: 4, hal: 174.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[11] Lihat kembali pada buku-buku yang membahas tentang tata bahasa Arab, terkhusus kitab Tahdzibul-Mughni pada makna huruf “lan”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[12] Zanan wa 3 purses-e asasi, DR Said Dawudi, hal: 406</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[13] Ibid, hal: 415</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[14] Ibid, hal : 416</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[15] Lihat di kumpulan kata-kata pendek imam Ali as di akhir kitab Nahjul Balaghah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[16] Muntakhab Mizan al-Hikmah, hal: 192</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[17] Ibid hal : 412</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[18] QS at-Tahrim : 6</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[19] Lihat karya beliau yang berjudul Huquq-e zan dar Islam (hak-hak wanita dalam Islam), dinukil oleh DR Said Dawudi dalam Zanan wa 3 purses-e asasi, hal: 215</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/150/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/150/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/150/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=150&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/10/poligami-antara-pro-dan-kontra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/mawar-kering.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mawar-kering.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Haid; Jumlah Hari</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/08/hukum-haid-jumlah-hari/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/08/hukum-haid-jumlah-hari/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jul 2007 07:37:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/08/hukum-haid-jumlah-hari/</guid>
		<description><![CDATA[Pada tiga hari pertama, darah haid harus keluar secara berturut-turut (tidak boleh berhenti). Oleh karena itu, kalau seseorang melihat darah keluar selama dua hari, kemudian hari ketiga berhenti dan lalu keluar kembali, maka dihukumi bukan darah haid. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Hukum Haid Batasan Waktu (jumlah hari) 2. Batasan waktu (jumlah hari): Masalah 1: Lama waktu haid tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=149&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Pada tiga hari pertama, darah haid harus keluar secara berturut-turut (tidak boleh berhenti). </span><span style="color:black;">Oleh karena itu, kalau seseorang melihat darah keluar selama dua hari, kemudian hari ketiga berhenti dan lalu keluar kembali, maka dihukumi bukan </span><span style="color:black;">darah </span><span style="color:black;">haid.<strong> </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-149"></span><span style="color:green;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:green;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;color:black;">Hukum Haid</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="color:black;">Batasan Waktu (jumlah hari)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">2. Batasan waktu (</span><span style="color:black;">jumlah </span></strong><strong><span style="color:black;">hari): </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">Mas</span><span style="color:black;">alah</span></strong><strong><span style="color:black;"> 1: </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Lama waktu haid tidak kurang dari tiga (3) hari dan tidak lebih dari sepuluh hari (10). Oleh karena itu, kalau kurang dari tiga hari dan lebih dari sepuluh hari maka dihukumi bukan darah haid.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">Mas</span><span style="color:black;">alah</span></strong><strong><span style="color:black;"> 2:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Pada tiga hari pertama, darah haid harus keluar secara berturut-turut (tidak boleh berhenti). </span><span style="color:black;">Oleh karena itu, kalau seseorang melihat darah keluar selama dua hari, kemudian hari ketiga berhenti dan lalu keluar kembali, maka dihukumi bukan </span><span style="color:black;">darah </span><span style="color:black;">haid.<strong> </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">Mas</span><span style="color:black;">alah</span></strong><strong><span style="color:black;"> 3:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Darah tidak mesti harus keluar selama tiga hari secara utuh. Tetapi, meskipun darah hanya ada di kemaluan saja, itu sudah cukup. Dan jika diantara tiga hari tersebut darah berhenti keluar, sementara masa berhentinya adalah sejenak, sehingga tetap dapat dikatakan darah keluar selama tiga hari, meski darah hanya ada pada vagina, maka tetap dihukumi haid.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">Batasan Tiga Hari Berturut-Turut:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Darah tidak mesti harus keluar pada malam pertama dan keempat, namun pada malam kedua dan ketiga darah tidak boleh berhenti. </span><span style="color:black;">Oleh karena itu, kalau ia melihat darah keluar secara berturut-turut dari waktu azan subuh di hari pertama sampai <em>ghurub</em> (matahari terbenam) hari ketiga, atau kalau darah keluar dimulai dari pertengahan hari pertama dan selesai pada waktu itu juga pada hari keempat, sementara pada malam kedua dan ketiga darah tidak terhenti, maka dihukumi darah haid</span><span style="color:black;">.</span><span style="color:black;"> Lihat bagan berikut ini:</span><span style="color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;"> </span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="margin-left:5.25pt;border-collapse:collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0">
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:45pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="60">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;">Wa</span><span style="color:black;">k</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;">tu</span></strong><strong><span style="color:black;"></span></strong></p>
</td>
<td style="width:0.75in;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="72">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#007f00;">Malam ke-1</span></strong></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:0.5in;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="48">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="background:red none repeat scroll 0 50%;color:#007f00;">hari </span><span style="background:red none repeat scroll 0 50%;color:#007f00;"></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="background:red none repeat scroll 0 50%;color:#007f00;">ke-1 </span></strong></p>
</td>
<td colspan="2" style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:0.75in;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="72">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="background:red none repeat scroll 0 50%;color:#007f00;">malam ke-2</span></strong></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:45pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="60">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="background:red none repeat scroll 0 50%;color:#007f00;">hari </span><span style="background:red none repeat scroll 0 50%;color:#007f00;"></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="background:red none repeat scroll 0 50%;color:#007f00;">ke-2 </span></strong></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:0.75in;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="72">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#007f00;">malam<span>  </span>ke-3</span></strong></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:45pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="60">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="color:#007f00;">hari </span><span style="color:#007f00;"></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#007f00;">ke-3 </span></strong></p>
</td>
<td style="background:white none repeat scroll 0 50%;width:63pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="84">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#007f00;">malam ke-4</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:45pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="60">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:black;"><span>  </span>Tanda</span></strong><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:0.75in;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="72">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#007f00;">tak ada darah</span><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td colspan="2" style="width:45pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="60">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="color:#7f0000;">darah </span></em></strong><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:45pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="60">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#7f0000;">d</span></strong><strong><span style="color:#7f0000;">arah</span></strong><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:45pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="60">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="color:#7f0000;">darah</span></em></strong><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:0.75in;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="72">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#7f0000;">darah </span></strong><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:45pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="60">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="color:#7f0000;">darah</span></em></strong><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:63pt;border-color:rgb(0,;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="84">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:#007f00;">tak ada darah</span><span style="color:black;"></span></p>
</td>
</tr>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">Masalah 4:</span></strong><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Jika seorang perempuan melihat darah keluar selama tiga hari berturut-turut, kemudian suci (berhenti) lantas melihat darah keluar lagi, kalau jumlah hari yang keluar darah dengan yang tidak keluar darah (berhenti) semuanya tidak lebih dari sepuluh hari maka semuanya dihukumi darah haid.</span><strong><span style="color:black;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">[</span><span style="color:black;">Islam Feminis, s</span><span style="color:black;">esuai dengan fatwa Imam Khomaeni dan Ayatullah Khamanei (Rahbar)]</span><span style="color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:50%;"><span style="color:black;">Bersambung…</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/149/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/149/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/149/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/149/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/149/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=149&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/08/hukum-haid-jumlah-hari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Az-Zahra (as) Suri Tauladan Umat Manusia</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/04/az-zahra-as-suri-teladan-umat-manusia/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/04/az-zahra-as-suri-teladan-umat-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jul 2007 19:57:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/04/az-zahra-as-suri-teladan-umat-manusia/</guid>
		<description><![CDATA[Ketaatan kepada Allah, pengorbanan, kesabaran, menjaga hak dan kehormatan merupakan sifat yang disandang oleh az-Zahra, bahkan lebih dari itu az-Zahra adalah lambang kehormatan, wanita pilihan, ibu rumah tangga, istri yang selalu menjaga hak dan kewajibannya, wanita yang malam-malam harinya selalu diisi dengan dzikir dan taqarrub kepada Allah swt. Rasul saww bersabda: &#8220;Sesungguhnya Fatimah as penghulu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=145&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> <a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/10/azzahraa.jpg" title="azzahraa.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/10/azzahraa.thumbnail.jpg?w=500" alt="azzahraa.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ketaatan kepada Allah, pengorbanan, kesabaran, menjaga hak dan kehormatan merupakan sifat yang disandang oleh az-Zahra, bahkan lebih dari itu az-Zahra adalah lambang kehormatan, wanita pilihan, ibu rumah tangga, istri yang selalu menjaga hak dan kewajibannya, wanita yang malam-malam harinya selalu diisi dengan dzikir dan taqarrub kepada Allah swt. Rasul saww bersabda: &#8220;Sesungguhnya Fatimah as penghulu para wanita alam semesta&#8221;.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> <span id="more-145"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;">Az-Zahra (as) Suri Tauladan Umat Manusia</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">Oleh: Najibah Salim Ghanim</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Manusia dengan bekal fitrah yang telah Allah tetapkan dalam dirinya, senantiasa berjalan untuk mencari kesempurnaan. Perjalanan menuju kesempurnaan adalah sebuah proses mencari nilai-nilai kebesaran dan keagungan sehingga sampai pada titik final yang sebenarnya. Mencari suri teladan merupakan salah satu proses pencarian nilai kebesaran dan keagungan dalam jatidiri manusia sehingga manusia dapat sampai pada titik kesempurnaan. Al-Quran memberikan jalan bahwa dalam pribadi Rasul saww terdapat suri teladan &#8220;sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah saww itu suri teladan yang baik bagimu&#8221;. Allah swt ingin menjelaskan kepada manusia bahwa Rasul merupakan panutan dan suri teladan bagi umat sepanjang masa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Begitu halanya dengan Ahlul bait as, keberadaan Ahlul bait as tidak sebatas hanya sebagai keluarga Rasul saww semata, namun di samping itu mereka juga sebagai pelanjut misi kenabian, penerus risalah suci, dan pribadi-pribadi yang memiliki keutamaan serupa dengan Rasul saww. Hadis kisa&#8217; adalah bukti sejarah yang menjelaskan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan antara Nabi Muhammad saww dan Ahlul bait as, sebagaimana hubungan al-Quran dan al-Itrah. Bukankah dalam al-Quran telah dipaparkan bahwa pribadi imam Ali as dinyatakan secara manunggal dengan jiwa Rasul saw dalam ayat mubahalah dengan kalimat &#8220;anfusana wa anfusakum&#8221;. Para mufassirin bersepakat bahwa ayat tersebut turun kepada Ahlul bait as pada peristiwa mubahalah bersama pemuka kaum Nasrani Najran. Kalimat &#8220;anfusana&#8221; sendiri ditujukan kepada Rasulullah saww dan Imam Ali as. Dengan demikian ketika kita meyakini bahwa pribadi Rasul saww adalah suri teladan bagi umat manusia, maka demikian pula dengan pribadi Imam Ali as karena al-Quran telah menyatakan keduanya sebagai jiwa yang satu dalam kalimat &#8220;anfusana&#8221;.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Salah satu sosok pribadi Ahlul bait as yang hadir dalam peristiwa hadist kisa&#8217; adalah Sayyiidah Zahra as putri Rasul saww yang selalu dinanti kelahiranya, dan dia merupakan hujjah bagi para imam suci serta pelanjut suri teladan Nabi saww. Suatu hari Imam Mahdi as ketika ditanya oleh salah satu sahabatnya tentang sosok figur yang dapat dijadikan suri teladan, beliau menjawab: &#8220;Dalam diri putri Rasullah saww terdapat suri teladan yang baik bagiku&#8221;. Ditambahkan juga dalam riwayat lain yang menyatakan: &#8220;Kami Ahlulbait as sebagai hujjatnya Allah di muka bumi dan Fatimah sebagai hujjat bagi Kami&#8221;. Pernyataan Imam Mahdi -sosok pribadi yang selalu dinantikan kehadirannya bagi pengikut syiahnya yang setia, penegak kebenaran, pengancur kebatilan- mengisyaratkan bahwa dalam diri putri Rasulullah saww Sayyidah Zahra&#8217; terdapat suri teladan yang dapat diikuti dan sebagai hujjat bagi para imam suci. Dalam makna lain, keberadaan az-Zahra as merupakan kelanjutan suri teladan dan risalah suci Rasul saww, karena para imam suci yang melanggengkan serta mengabadikan ajaran suci Rasulullah saww merupakan keturunan dari az-Zahra as. Hal ini yang menyebakan ia dijuluki sebagai &#8220;al-Kautsar&#8221; yang artinya sesuai dengan qarinah dalam ayat al-Kautsar yaitu keturunan yang banyak, sejak jaman itu sampai sekarang, dan maksud dari kata tersebut hanya bisa difahami kepada keturunannya az-Zahra as.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tanpa diragukan lagi bahwa Sayyidah az-Zahra as mempunyai keutamaan yang luar biasa, baik keutamaan dari sisi nasab sebagai putri Rasul saww -sosok pribadi agung sepanjang perjalanan hidup manusia- maupun dari sisi spritualnya. Rasul saww dalam menjelaskan pribadi suci az-Zahra berkata kepada Salman- sahabat setia Rasul saww-: &#8220;Wahai Salman sesungguhnya putriku Fatimah, Allah telah memenuhkan hatinya, anggota tubuhnya sampai pada tulang sumsumnya keyakinan dan keimanan sehingga ia menghabiskan waktunya untuk menyelami ketaatan kepada Allah swt&#8221;. Dalam riwayat lain Rasul Saww bersabda: &#8220;Dia (Fatimah) sepenggal dariku dan Dia hati ruhku&#8221;. Dalam riwayat yang telah disebutkan tadi dapat dijelaskan bahwa kedudukan az-Zahra yang begitu tinggi bukan hanya sekedar karena beliau putri Rasul saww namun karena keluhuran nilai spritual yang yang dimilikinya melalui proses perjalanan maknawi sehingga beliau mendapat kedudukan yang luar biasa di mata Allah swt.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ketaatan kepada Allah, pengorbanan, kesabaran, menjaga hak dan kehormatan merupakan sifat yang disandang oleh az-Zahra, bahkan lebih dari itu az-Zahra adalah lambang kehormatan, wanita pilihan, ibu rumah tangga, istri yang selalu menjaga hak dan kewajibannya, wanita yang malam-malam harinya selalu diisi dengan dzikir dan taqarrub kepada Allah swt. Rasul saww bersabda: &#8220;Sesungguhnya Fatimah as penghulu para wanita alam semesta&#8221;.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Diceritakan dalam sejarah ketika Az-Zahra memberikan hadiah pakaian dan barang lainnya yang disukainya kepada seorang fakir, salah satu dari mereka sempat bertanya: kenapa anda melakukan hal yang demikian? Beliau as menjawab dengan berdasarkan ayat al-Quran: &#8220;kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai&#8221;. Begitu besar nilai pengorbanan dan rasa kepedulian Az-Zahra kepada fakir miskin sehingga menafkahkan harta yang dicintainya dijalan Allah swt &#8220;dan mereka (Ahlul bait as) mengorbankan jiwanya sekalipun mereka membutuhkan&#8221;.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Karenanya, berbicara tentang Az-Zahra tidak mungkin digambarkan secara utuh, sosok pribadi yang telah sampai kepada maqam kesempurnaan bagaimana bisa untuk dilukiskan dengan kata-kata, namun yang terpenting adalah bagaimana prilaku kita yang mengaku sebagai pengikutnya? Apakah kita sudah menjadikan az-Zahra sebagai figur suri teladan dalam kehidupan kita? Apakah kita -sebagai ibu- sudah mengamalkan kewajiban kita dalam rumah tangga?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">20 Jumaditsani merupakan hari kelahiran az-Zahra, moment yang sangat penting dalam sejarah Islam khususnya bagi para ibu, dan akan sangat tepat jika hari yang mulia itu disebut dengan hari ibu. Penamaan hari tersebut sebagai hari ibu -sebagaimana yang diresmikan oleh pemerintah Republik Islam Iran- merupakan kebanggaan bagi pengikut Ahlulbait as. Ketika kita menerima bahwa tanggal 20 jumaditsani merupakan hari ibu mau tidak mau segala bentuk pertanggungjawaban dan konsekuensinya harus kita terima, sebagaimana kalau saja pada tanggal, bulan dan hari tertentu kita menganggapnya sebagai hari pengorbanan. Maka kita harus menerima sebuah konsekuensi dari hari tersebut, kalau tidak maka hari itu tidak dapat dianggap sebagai hari pengorbanan. Begitu juga dengan hari ibu, segala kelazimannya harus diterima. Dengan pengertian bahwa segala bentuk pola kehidupan az-Zahra as dalam kehidupan sehari-harinya baik kehidupan berumah tangga dan sosial, serta kepribadian yang mencakup ketakwaan, kezuhudan, kehormatan (iffah) yang dimilikinya harus juga dimiliki bagi setiap ibu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Hari kelahiran az-Zahra merupakan hari yang sangat menentukan nasib para wanita, bukankah wanita pada saat itu tidak lagi dianggap sebagai manusia rendah yang mana keberadaanya diyakini sebagai mala petaka bagi kaumnya sebagaimana yang dipercaya oleh orang-orang jahiliah? dan seketika dengan kelahiran az-Zahra, tradisi dan budaya tersebut terkikis. Az-Zahra suatu sosok yang dapat membuktikan bahwa wanita adalah manusia yang juga mampu untuk mencapai nilai-nilai kesempurnaan sebagaimana dirinya yang telah sampai kepada maqam tersebut dengan perjalanan spritualnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Selamat atas kelahiran wanita suci putri Rasul az-Zahra al-Batul as, selamat kepada para kaum ibu yang mengikuti jejaknya dan menjadikan kepribadiannya sebagai lambang jati diri mereka. Semoga kita selalu ditambahkan pengetahuannya untuk lebih mengenal kembali tentang Ahlulbait as, terlebih pemuka wanita jagat raya Az-Zahra as dan dapat mengamalkan segala jejak dan langkahnya di jalan Allah swt.[islamalternatif]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Wallahu a&#8217;lam!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Penulis: s1Tarbiyah Islamiyah di Jamiah Zahra, Qom Republik Islam Iran</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/145/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/145/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/145/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=145&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/04/az-zahra-as-suri-teladan-umat-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/10/azzahraa.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">azzahraa.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kutipan Ceramah Imam Khomaeni pada Hari Wanita; Hari Lahir Sy. Fathimah Zahra as</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/04/kutipan-ceramah-imam-khomaeni-pada-hari-wanita-hari-lahir-sy-fathimah-zahra-as/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/04/kutipan-ceramah-imam-khomaeni-pada-hari-wanita-hari-lahir-sy-fathimah-zahra-as/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jul 2007 16:36:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/04/kutipan-ceramah-imam-khomaeni-pada-hari-wanita-hari-lahir-sy-fathimah-zahra-as/</guid>
		<description><![CDATA[Wanita merupakan substansi yang dengan kekuatannya mampu menghancurkan kekuatan Setan&#8230;Wahai para wanita yang terhormat! Janganlah kalian terperdaya oleh rayuan Setan. Mereka hendak menjerumuskan kalian ke jurang kehinaan. Mereka senantiasa mencari tipu daya&#8230; &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- Kutipan Ceramah Imam Khomaeni pada Hari Wanita; Hari Lahir Sy. Fathimah Zahra as &#160; &#8230;Sejarah telah membuktikan para perempuan di dunia dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=141&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> <a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/07/fathimah-zahra-as.jpg" title="fathimah-zahra-as.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/07/fathimah-zahra-as.thumbnail.jpg?w=500" alt="fathimah-zahra-as.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Wanita merupakan substansi yang dengan kekuatannya mampu menghancurkan kekuatan Setan&#8230;Wahai para wanita yang terhormat! Janganlah kalian terperdaya oleh rayuan Setan. Mereka hendak menjerumuskan kalian ke jurang kehinaan. Mereka senantiasa mencari tipu daya&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span><span id="more-141"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;">Kutipan Ceramah Imam Khomaeni pada<span>  </span>Hari Wanita; Hari Lahir Sy. Fathimah Zahra as</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>&#8230;Sejarah telah membuktikan para perempuan di dunia dan siapakah perempuan? Kita sendiri telah menyaksikan bagaimana Islam telah mendidik para wanita agung&#8230;mereka yang telah dididik oleh Islam telah memberikan darahnya, terbunuh, turun ke jalan-jalan untuk berdemo, dan telah memenangkan revolusi&#8230;kemenangan revolusi kita berhutang budi kepada para wanita. Para lelaki telah turun ke jalan-jalan untuk berdemo. Sementara para wanita telah memberikan suport kepada mereka.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Wanita merupakan substansi yang dengan kekuatannya mampu menghancurkan kekuatan Setan&#8230;Wahai para wanita yang terhormat! Janganlah kalian terperdaya oleh rayuan Setan. Mereka hendak menjerumuskan kalian ke jurang kehinaan. Mereka senantiasa mencari tipu daya&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Islam telah menghaturkan kebahagiaan untuk kalian. Esok hari (tanggal 20 Jumadiattsani adalah hari kelahiran Fathimah Zahra as .red) merupakan hari wanita. Hari wanita yang seluruh alam membanggakan keberadannya. Hari wanita yang putrinya (Zainab al-Kubro as .red) berdiri tegas di hadapan penguasa zalim, dan berkhutbah di hadapannya. Ia berdiri tegas di hadapan orang yang apabila para laki-laki bernafas di hadapannya maka mereka<span>  </span>akan dibunuh olehnya. Ia tidak merasa takut dalam menghujat penguasa zalim (Yazid bin Muawiyah .red) seraya berkata: “Engkau bukan manusia!”. Wanita selayaknya memiliki kedudukan seperti ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Wanita pun memiliki hak dalam berbagai hal, sebagaimana<span>  </span>laki-laki. Akan tetapi, sebagaimana terdapat hal-hal yang dilarang bagi laki-laki maka terdapat pula hal-hal yang dilarang bagi perempuan (dikarenakan kemaslahatan dan kemafsadahan .red). Islam menghendaki wanita tidak menjadi bahan permainan tangan laki-laki&#8230;<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>[ED cuplikan ceramah Imam Khomaeni di hari wanita yang disampaikan pada tahun 1358 HS dinukil dari Zanan Mard Overin Tarikh halaman 210]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tambahan:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Merupakan sebuah kebahagiaan yang tak terhingga bagi Imam Khomaeni, karena beliau pun lahir  tepat pada hari lahirnya  penghulu para wanita Bunda Fathimah Zahra as (yang sekaligus sebagai nenek moyangnya karena Imam Khomaeni dari keturunan beliau / sayyid) yaitu pada hari ini, tepatnya pada hari yang penuh berkah tanggal 20 Jumadi-Tsani.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Islam feminis mengucapkan selamat atas kelahiran putri tercinta Rasulullah, penghulu para wanita dan idadari berbentuk manusia , Sayyidah Fathimah Zahra as kepada seluruh muslim dan muslimah di mana pun berada terkhusus para pengunjung setia blog ini. Mudah-mudahan kita dijadikan pecinta dan pengikut setianya, sehingga kita dapat meneladani segala prilaku mulia serta mendapatkan syafa&#8217;atnya di akhirat kelak. Amin&#8230;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Imam khomaeni telah menjadikan hari kelahiran beliau sebagai hari wanita, pada hari ini para wanita dengan status apapun (sebagai ibu, istri, nenek atau saudari) akan dimuliakan dan dihaturkan kepadanya sekuntum mawar sebagai ungkapan rasa terima kasih dan penghormatan. Sekuntum mawar itu akan dihaturkan dari seorang anak kepada seorang ibu, dari seorang cucu kepada seorang nenek, dari seorang saudara kepada seorang saudari dan dari seorang suami kepada seorang istri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ucapkan kepada ibu kita tercinta: &#8220;Selamat atasmu wahai bundaku tercinta, segala jasamu tak akan pernah dapat dibalas oleh apapun&#8221;.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ucapkanlah kepada seorang istri anda: &#8220;Selamat atasmu wahai istriku tersayang, engkau telah&#8230;(silahkan teruskan sendiri)&#8221;.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Selamat&#8230;selamat&#8230;selamat&#8230;kepada seluruh wanita&#8230;!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/141/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/141/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/141/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=141&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/04/kutipan-ceramah-imam-khomaeni-pada-hari-wanita-hari-lahir-sy-fathimah-zahra-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/07/fathimah-zahra-as.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">fathimah-zahra-as.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Haid; Definisi, Sifat dan Batasan Haid</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/04/hukum-haid-definisi-sifat-dan-batasan-haid/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/04/hukum-haid-definisi-sifat-dan-batasan-haid/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jul 2007 16:16:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/04/hukum-haid-definisi-sifat-dan-batasan-haid/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika seorang perempuan ragu, apakah ia sudah menginjak usia menopause (sudah berusia 50 bagi yang bukan syarifah / sayyidah atau 60 bagi syarifah tahun) atau belum, bila ia melihat darah dan ia tidak tahu apakah darah haid atau bukan, darah itu dihukumi sebagai darah haid dan dia dianggap belum menopause.   &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- Hukum Haid BAB [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=140&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Ketika seorang perempuan ragu, apakah ia sudah menginjak usia menopause (sudah berusia 50</span><span style="color:black;"> </span><span style="color:black;">bagi yang bukan syarifah / sayyidah </span><span style="color:black;">atau 60 </span><span style="color:black;">bagi syarifah </span><span style="color:black;">tahun) atau belum, bila ia melihat darah dan ia tidak tahu apakah darah haid atau bukan, darah itu dihukumi sebagai darah haid dan dia dianggap belum menopause.</span><span style="color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:50%;"><span style="font-family:Arial;color:black;"> </span><span id="more-140"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:50%;"><span style="font-family:Arial;color:black;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;color:black;">Hukum Haid</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;" align="center"><strong><span style="color:black;">BAB I: Definisi,  dan Batasan Haid</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">Definisi<em>:</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Haid adalah darah yang keluar dari rahim perempuan yang umumnya terjadi di setiap bulan selama beberapa hari (karena mungkin saja dua bulan sekali atau sebulan dua kali). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">Sifat-sifat (ciri-ciri) haid:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Pada umumnya (karena mungkin saja pada suatu waktu tidak terlihat ciri-ciri seperti ini) darah haid memiliki beberapa sifat seperti: <em>kental, hangat, warna merah kehitam-hitaman atau merah</em> <em>membara<strong>,</strong></em><strong> </strong><em>keluar dengan tekanan dan sedikit menusuk</em><strong>. </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">Batasan katagori haid: </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">1-Batasan Umur</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">Masalah</span><span style="color:black;"> (Mas)</span></strong><strong><span style="color:black;"> 1</span></strong><span style="color:black;">:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Seorang <u>syarifah</u> dianggap mengalami haid sejak berusia sembilan (9) tahun yang merupakan awal masa <em>baligh</em> sampai umur enam puluh (60) tahun, yang disebut sebagai<span>  </span>usia menopause. Artinya, kalau ia melihat darah keluar dari rahimnya <u>sebelum</u> umur sembilan tahun dan <u>sesudah</u> umur enam puluh tahun, darah tersebut tidak disebut haid, melainkan darah <em>istihadhah.</em><span>   </span></span><span style="color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Ket: </span><span style="color:black;">Syarifah</span><span style="color:black;"> ialah </span><span style="color:black;">perempuan yang nasab keturunannya sampai kepada Rasulullah saww atau disebut juga dengan sayyidah</span><span style="color:black;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><strong><span style="color:black;">Masalah 2:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Seorang yang <u>bukan syarifah</u>, masa <em>baligh</em>-nya diukur sejak usia sembilan (9) tahun sampai lima puluh (50) tahun. Oleh karena itu, kalau ia melihat darah keluar dari rahimnya sebelum umur sembilan tahun dan sesudah lima puluh tahun, darah tersebut tidak disebut darah haid, melainkan darah <em>istihadhah</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Ketika seorang anak perempuan (gadis) tidak mengetahui, apakah dia sudah menginjak usia sembilan tahun atau belum, lalu ia melihat darah yang <u>tidak</u> mempunyai ciri-ciri haid, maka darah tersebut dihukumi <u>bukan</u> haid. Namun bila darah itu mempunyai ciri-ciri haid dan ia yakin bahwa itu adalah darah haid, darah itu dihukumi darah haid (bila diketahui ia telah masuk usia sembilan tahun). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Ketika seorang perempuan ragu, apakah ia sudah menginjak usia menopause (sudah berusia 50 atau 60 tahun) atau belum, bila ia melihat darah dan ia tidak tahu apakah darah haid atau bukan, darah itu dihukumi sebagai darah haid dan dia dianggap belum menopause.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Penghitungan masa baligh diketahui melalui jam, tanggal, bulan dan tahun Hijriah. contoh: </span><span style="color:black;">Z</span><span style="color:black;">ahra lahir pada jam: 5 subuh tanggal 20 rajab tahun 1420 hijriah, maka ia dihukumi sudah balig</span><span style="color:black;">h </span><span style="color:black;">ketika pada jam :5 subuh, 20 rajab pada tahun 1429 hijriah</span><span style="color:black;">.</span><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">* </span><span style="color:black;">Perempuan hamil atau menyusui mungkin saja dapat mengalami haid.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="color:black;">[</span><span style="color:black;">Islam Feminis, s</span><span style="color:black;">esuai dengan fatwa Imam Khomaeni dan Ayatullah Khamanei (Rahbar)]</span><span style="color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:50%;"><span style="color:black;">Bersambung…</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/140/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/140/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/140/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=140&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/04/hukum-haid-definisi-sifat-dan-batasan-haid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Falsafah Hukum-Hukum dalam Perspektif Fathimah Zahra as</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/03/falsafah-hukum-hukum-dalam-persfektif-fathimah-zahra-as/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/03/falsafah-hukum-hukum-dalam-persfektif-fathimah-zahra-as/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jul 2007 07:47:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/03/falsafah-hukum-hukum-dalam-persfektif-fathimah-zahra-as/</guid>
		<description><![CDATA[Dan Allah telah menjadikan iman bagimu sebagai penyuci kesyirikan, Dan Allah telah menjadikan shalat bagimu sebagai pembersih kesombongan, Dan Allah telah menjadikan zakat untuk pensucian jiwa dan menambah rejeki, Dan Allah telah menjadikan puasa sebagai pengokoh keikhlasan, &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; &#160; Falsafah Hukum-Hukum dalam Perspektif Fathimah Zahra as Dalam kehidupannya pasca wafat ayahnya Nabi saww kurang lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=139&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><span>Dan Allah telah menjadikan iman bagimu sebagai penyuci kesyirikan,</span></em><br />
<em><span>Dan Allah telah menjadikan shalat bagimu sebagai pembersih kesombongan,</span></em><br />
<em><span>Dan Allah telah menjadikan zakat untuk pensucian jiwa dan menambah rejeki,</span></em><br />
<em><span>Dan Allah telah menjadikan puasa<span>  </span>sebagai pengokoh keikhlasan,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> <span id="more-139"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span>Falsafah Hukum-Hukum dalam Perspektif Fathimah Zahra as </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dalam kehidupannya pasca wafat ayahnya Nabi saww kurang lebih sebanyak tiga kali Sy. Fathimah Zahra as menyampaikan khutbah, di antaranya ialah;</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span>Kala      pengepungan dan pendobrakan rumahnya</span></li>
<li>Di masjid Madinah (masjid Nabawi)</li>
<li class="MsoNormal"><span>Di hadapan      perempuan dari Muhajirin dan Anshar</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Khutbah yang terpanjang ialah khutbah yang disampaikan di masjid Madinah. Sebagaimana Imam Ali as yang semua khutbahnya (terkumpul dalam kitab Nahjul-Balaghah) sarat akan makna dan kefasihan, khutbah Sy. Fathimah Zahra as pun sarat akan makna yang tinggi dan kefasihan. Pada kesempatan sekarang ini kita akan menyimak kembali secara seksama tentang falsafah hukum-hukum dalam perspektif Sy. Fathimah Zahra as yang telah beliau sampaikan perihal tersebut dalam khutbahnya yang paling panjang yaitu khutbah yang disampaikan di masjid Madinah. Teks khutbah yang kita sampaikan sekarang ini tidaklah secara keseluruhan, melainkan hanya sebagian saja yang berkaitan erat dengan pembahasan kita:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p><em><span>Dan Allah telah menjadikan iman bagimu sebagai penyuci kesyirikan,<br />
</span></em><br />
<em><span>Dan Allah telah menjadikan shalat bagimu sebagai pembersih kesombongan,<br />
</span></em><br />
<em><span>Dan Allah telah menjadikan zakat untuk pensucian jiwa dan menambah rejeki,<br />
</span></em><br />
<em><span>Dan Allah telah menjadikan puasa<span>  </span>sebagai pengokoh keikhlasan,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span> </span></em><em><span>Dan Allah telah menjadikan haji<span>  </span>sebagai pembangun agama,</span></em><em><span>Dan Allah telah menjadikan keadilan sebagai penghubung <span> </span>para hati,</span></em><em><span>Dan Allah telah menjadikan keta’atan terhadap kami <span> </span>sebagai pengatur bagi umat,</span></em><em><span>Dan Allah telah menjadikan kepemimpinan (imamah) kami sebagai pengaman dari perpecahan,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p><em><span></span></em><em><span>Dan Allah telah menjadikan jihad di jalan-Nya sebagai kemuliaan untuk Islam,<br />
</span></em><em><span></span></em><br />
<em><span>Dan Allah telah menjadikan kesabaran <span> </span>sebagai penolong untuk mendapatkan pahala,<br />
</span></em><br />
<em><span>Dan Allah telah menjadikan amar ma’ruf dan nahi munkar <span> </span>(menyuruh kebaikan dan mencegah kemunkaran) demi kemaslahatan umat,</span></em></p>
<p><em><span></span></em><em><span>Dan Allah telah menjadikan berbuat baik terhadap orang tua <span> </span>sebagai pencegah dari kemurkaan-Nya,<br />
</span></em><em><span></span></em><br />
<em><span>Dan Allah telah menjadikan silaturahmi <span> </span>untuk memperpanjang umur dan memperbanyak jumlah (orang),</span></em></p>
<p><em><span>Dan Allah telah menjadikan qishash <span> </span>untuk mencegah tertumpahnya <span> </span>darah,<br />
</span></em><br />
<em><span>Dan Allah telah menjadikan tepat <span> </span>janji sebagai lahan untuk mendapatkan ampunan-Nya,<br />
</span></em><br />
<em><span>Dan Allah telah menjadikan memenuhi timbangan dan neraca pemusnah penipuan dalam timbangan dan neraca,</span></em></p>
<p><em><span>Dan Allah telah menjadikan pencegahan terhadap meminum minuman keras sebagai pembersih perbuatan keji dan kotor,<br />
</span></em><br />
<em><span>Dan menjauhi dari menuduh seseorang akan menghalanginya <span> </span>dari laknat Allah swt, Dan meninggalkan pencurian akan menyebabkan terjaganya harga diri (iffah)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span></span></em><em><span>Dan Allah swt telah melarang syirik, sehingga yang patut disembah hanyalah diri-Nya (“Maka bertakwalah dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah mati melainkan dalam keadaan muslim”), dan ta’atilah Allah dalam hal-hal yang telah diperintahkan dan dilarang-Nya, karena sesungguhnya ; “Sesungguhnya di antara hamba-hamba-Nya yang takut terhadap Allah ialah para ulama”.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[ED, Cesyme dar Bastar (kajian tentang segi-segi kehidupan Sy. Fathimah Zahra as), 378-379]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span> </span></strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/139/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/139/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/139/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=139&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/07/03/falsafah-hukum-hukum-dalam-persfektif-fathimah-zahra-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perempuan Penghuni Surga</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/30/perempuan-penghuni-surga/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/30/perempuan-penghuni-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jun 2007 06:11:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/30/perempuan-penghuni-surga/</guid>
		<description><![CDATA[Perempuan berkata: “Itu bukan diriku, mungkin perempuan lain yang namanya sama denganku, karena saya tidak memiliki kelayakan untuk itu”. Nabi Daud as bersabda: “Perempuan itu adalah engkau”. Perempuan berkata: “Sumpah demi Tuhan, saya tidak merasa melakukan perbuatan yang membuatku mencapai derajat tinggi seperti ini”. Nabi Daud as kembali bersabda: “Coba anda ceritakan sekilas tentang kehidupanmu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=137&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/mawar-suci.jpg" title="mawar-suci.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/mawar-suci.thumbnail.jpg?w=500" alt="mawar-suci.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Perempuan berkata: “Itu bukan diriku, mungkin perempuan lain yang namanya sama denganku, karena saya tidak memiliki kelayakan untuk itu”. Nabi Daud as bersabda: “Perempuan itu adalah engkau”. Perempuan berkata: “Sumpah demi Tuhan, saya tidak merasa melakukan perbuatan yang membuatku mencapai derajat tinggi seperti ini”. Nabi Daud as kembali bersabda: “Coba anda ceritakan sekilas tentang kehidupanmu padaku!”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span></span><span id="more-137"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span>Perempuan Penghuni Surga</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span></span></strong><span>Dalam satu riwayat Imam Shadiq as berkata: Allah swt telah mewahyukan kepada Nabi Daud as untuk pergi menyampaikan kabar gembira kepada Khalawah binti Aus bahwa ia merupakan calon penghuni surga. Dan beritahukan kepadanya bahwa ia di surga berada di sampingmu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> Kemudian Nabi Daud as pergi menuju rumah perempuan tersebut. Sewaktu tiba di rumahnya lantas ia mengetuk pintu rumah. Mendengar ketukan pintu lalu Khalawah bangkit dan membuka pintu. Ketika ia melihat Nabi Daud as, lantas ia berkata: “Apakah telah turun wahyu tentangku sehingga tuan mendatangiku?”. Nabi Daud as menjawab:“Ya, benar”. Perempuan bertanya kembali: “Apakah itu?”.Nabi Daud as menjawab: “Wahyu tersebut berkaitan dengan keutamaanmu”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> Perempuan berkata: “Itu bukan diriku, mungkin perempuan lain yang namanya sama denganku, karena saya tidak memiliki kelayakan untuk itu”. Nabi Daud as bersabda: “Perempuan itu adalah engkau”. Perempuan berkata: “Sumpah demi Tuhan, saya tidak merasa melakukan perbuatan yang membuatku mencapai derajat tinggi seperti ini”. Nabi Daud as kembali bersabda: “Coba anda ceritakan sekilas tentang kehidupanmu padaku!”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Perempuan berkata: “Saya selalu bersabar atas segala penyakit, kerugian, dan kesulitan yang telah menimpaku. Bahkan saya tidak pernah memohon kepada Tuhan untuk menghilangkan segala ujian dan cobaan dariku, melainkan Dia sendiri menghendaki-Nya. Saya juga tidak mengharapkan pahala dan balasan dari-Nya atas segala kesabaranku ini. Akan tetapi saya selalu mensyukuri-Nya”. Nabi Daud as bersabda: “Karena perbuatanmu inilah engkau telah mencapat derajat tinggi di sisi-Nya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[<strong>Euis D, Biharulanwar jilid 71 halaman 89 dinukil dari buku Zanan Mardan overina Tarikh halaman 228</strong>]</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/137/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/137/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=137&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/30/perempuan-penghuni-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/mawar-suci.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mawar-suci.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dilema; Karier atau Keluarga?</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/29/dilema-karier-atau-keluarga/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/29/dilema-karier-atau-keluarga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jun 2007 12:31:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/29/dilema-karier-atau-keluarga/</guid>
		<description><![CDATA[Bilal pergi menghadap Rasulullah dan mengutarakan pertanyaan para perempuan tersebut. Sekembalinya dari menemui Rasulullah, kemudian Bilal berkata: “Rasulullah telah bersabda: “Dengan profesi baru tersebut, kalian telah mendapatkan dua pahala; pertama pahala karena berinfak di jalan Allah swt. Kedua pahala karena membantu keluarga (suami dan anak) yang merupakan salah satu perwujudan silaturahmi”. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; Dilema; Karier atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=135&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/06/jilbab-dan-kreatifitas.jpg" title="jilbab-dan-kreatifitas.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/06/jilbab-dan-kreatifitas.thumbnail.jpg?w=500" alt="jilbab-dan-kreatifitas.jpg" /></a></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Bilal pergi menghadap Rasulullah dan mengutarakan pertanyaan para perempuan tersebut. Sekembalinya dari menemui Rasulullah, kemudian Bilal berkata: “Rasulullah telah bersabda: “Dengan profesi baru tersebut, kalian telah mendapatkan dua pahala; pertama pahala karena berinfak di jalan Allah swt. Kedua pahala karena membantu keluarga (suami dan anak) yang merupakan salah satu perwujudan silaturahmi”.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span></span><span id="more-135"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p align="center" style="text-align:center;" class="MsoNormal"><strong><span>Dilema; Karier atau Keluarga? </span></strong></p>
<p align="center" style="text-align:center;" class="MsoNormal"><strong><span>(Undang-Undang Pekerja Wanita di Iran)</span></strong></p>
<p align="center" style="text-align:center;" class="MsoNormal"><strong><span></span></strong></p>
<p align="center" style="text-align:center;" class="MsoNormal"><strong><span></span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Suatu hari saya bertemu dengan seorang ibu dan bapak (umurnya antara 50-60 tahunan) tengah menunggu cucunya yang sedang sekolah TK. Tidak lama, kemudian saya membuka perbincangan dengannya. Ia mengatakan kepada saya bahwa mereka jadi ‘kacung’ (pembantu) untuk cucunya. Rasa ingin tahu menyebabkan saya bertanya kepadanya, “emang ibunya kemana?”. Beliau menjawab: “ibunya kerja di salah satu bank ternama. Ia tidak memiliki waktu lagi untuk anaknya. Begitu pula ayahnya, sibuk. Ibunya berangkat dari pukul 7 pagi dan kembali ke rumah pada pukul 5 sore. Ya, terpaksa akhirnya kami, nenek dan kakeknya, yang menjadi kacungnya setiap hari”. Lanjutnya bercerita kepada saya.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Kisah lainnya, salah satu teman dikarenakan kariernya akhirnya ia memberi bayinya susu kering (kalengan). Padahal menurut kesehatan, ASI merupakan susu terbaik bagi anak yang tidak dapat digantikan oleh apapun. Ia mengatakan; “Jika saya menyusui anakku sampai usia 2 tahun maka saya akan kehilangan pekerjaanku. Padahal saya telah bersusah payah untuk mendapatkannya. Karena di tempat kerjaku tidak disediakan tempat penitipan anak, sehingga aku dapat membawanya dan tetap memberikan ASI kepadanya. Sebenarnya hati saya berat untuk melakukannya, tapi harus bagaimana lagi? Tidak ada cara lain, saya harus merelakannya bayiku tidak meminum ASI”. <span></span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span></span></strong><span>Di atas hanyalah beberapa contoh kecil dilema yang dihadapi oleh para wanita karier. Sebenarnya salahkah wanita berkarier? Apakah Islam membolehkan para wanita berkarier? Apabila kita analisa, motif wanita berkarier terdapat beberapa hal berikut ini:</span></p>
<ul>
<li><span dir="ltr"><span>Berkarier demi membantu perekonomian keluarga, agar lebih baik.</span></span></li>
<li><span dir="ltr"><span>Berkarier demi mengembangkan bakat dan semua potensi yang dimilikinya.</span></span></li>
<li><span dir="ltr"><span>Berkarier demi mengembangkan keahlian dan keterampilan yang ia miliki, setelah menyelesaikan jenjang pendidikan formal.</span></span></li>
<li><span dir="ltr"><span>Berkarier, karena memang wanita sangat dibutuhkan untuk melakukan hal itu. Dan itu dianggap suatu yang amat emergensi (darurat), seperti hal-hal yang khusus berkaitan dengan perempuan, maka sebaiknya perempuan yang melakukan.</span></span></li>
</ul>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Dan beberapa motif lainnya. </span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Pada zaman Rasulullah saww terdapat seorang sahabat beliau yang bernama Abdullah bin Mas’ud dan istrinya bernama Zainab Tsaqafiyah. Mereka memiliki banyak anak sedang kondisi perekonomi keluarga mereka sangat sulit. Melihat kondisi ekonomi seperti itu, lantas Zainab memutuskan untuk membantu suaminya dalam memperbaiki kondisi ekonomi keluarga dengan cara berwira-swasta sehingga dapat menghasilkan uang. Dengan kesibukan barunya, Zainab tetap dapat mengatur rumah tangga dengan baik dan melaksanakan ibadah secara sempurna. Dengan profesi barunya dan uang yang dihasilkan, ia juga dapat membantu perekonomian orang-orang yang membutuhkan. Lantas Zainab berkata kepada suaminya: “Apakah dengan profesi baruku saya dapat menadapatkan pahala di sisi-Nya?”.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span><span></span>Abdullah menyuruh istrinya menghadap Nabi saww untuk menanyakan hal tersebut. Kemudian Zainab pergi untuk menghadap Nabi saww, sesampainya<span> </span>di hadapan beliau ternyata terdapat perempuan lain juga hendak menanyakan perihal sepertinya. Akhirnya mereka menjadikan Bilal Habasyi sebagai perantara untuk menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah. Lantas Bilal pergi menghadap Rasulullah dan mengutarakan pertanyaan para perempuan tersebut. Sekembalinya dari menemui Rasulullah, kemudian Bilal berkata: “Rasulullah telah bersabda: “Dengan profesi baru tersebut, kalian telah mendapatkan dua pahala; pertama pahala karena berinfak di jalan Allah swt. Kedua pahala karena membantu keluarga (suami dan anak) yang merupakan salah satu perwujudan silaturahmi”. (Hilyatul-Auliya jil 2 halaman 69 dinukil dari Zanan Mardan Ofarine Tarikh halaman 233)</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Kisah di atas adalah salah satu contoh motif berkarier, karena untuk membantu perekonomian keluarga. Sesungguhnya tidak semua karier menjadi problem bagi para wanita yang telah berkeluarga. Karena terdapat karier yang dilakukan sendiri, tergantung masalah pembagian waktu. Atau dengan istilah lain seorang perempuan dapat berwira-swasta seperti misal kisah di atas tadi. Pembagian waktu ada ditangannya, sehingga ia tetap memegang tanggungjawab pula sebagai istri dan ibu dalam keluarga. Atau menjadi seorang penulis, penerjemah yang dapat dilakukan di rumah. Dilema akan muncul di saat ia bekerja di tempat yang waktunya sudah ditentukan, seperti jam kerja yang sekarang terjadi. Jam kerja mulai dari jam 7. 00 pagi sampai jam 5.00 sore. Belum lagi jika jalanan macet seperti yang sering terjadi di kota-kota besar yang lebih membuat penat dan melelahkan. Sehingga sesampai di rumah, perempuan karir sudah merasakan lelah dan kecapaian, sehingga menyebabkan ia tidak lagi memiliki waktu luang yang banyak untuk keluarga. Dan akhirnya keluarga pun terbengkalai. Inilah yang sering terjadi dan dijumpai di negeri kita tercinta. Dilema yang dihadapi para wanita karier. </span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Sebenarnya dilema semacam ini bisa diatasi jika dilakukan secara kerja sama semua pihak. Walaupun tidak seratus persen, namun paling tidak dapat mengurangi dampak negatif terhadap keluarga dikarenakan kesibukan dalam berkarier. Iran dapat dijadikan salah satu contoh dalam kasus ini, karena hal itu telah diberlakukan di Iran. Saya tidak bertujuan untuk membesar-besarkan Iran, tapi apa salahnya jika dalam hal-hal positif kita dapat menirunya. Dilema antara keluarga dan karier sedikit banyaknya sudah dapat teratasi di Iran. Karena Iran sebagai negara yang telah memplokamirkan diri sebagai negara Islam maka ia harus berusaha untuk menyesuaikan setiap hukum dan perundang-undangannya dengan undang-undang hukum Islam. </span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Dalam Islam tugas utama yang berada di pundak perempuan ialah keluarga, khususnya masalah pendidikan anak. Jika terjadi kontradiksi antara keluarga <span></span>dengan kariernya maka hendaknya ia mendahulukan keluarga. Karena keluarga merupakan komunitas terkecil untuk mewujudkan sebuah masyarakat yang sehat dan saleh. </span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span><span></span>Dari sisi lain, tidak mungkin para wanita dikurung di dalam rumah hanya mengurusi rumah tangga. Meski profesi sebagai ibu rumah tangga sendiri bukankanlah merupakan pekerjaan yang mudah, tetapi merupakan pekerjaan yang agung dan memerlukan keahlian khusus. Terkhusus berkaitan dengan keahlian dalam mendidik anak. Hal itu dikarenakan manusia bukan robot yang dapat diatur dengan mudah. Mendidik anak merupakan profesi mudah tapi sulit. Dengan kekurangan dan kelebihan yang dimiliki olehnya, seorang ibu dapat mengejawantahkan segala potensi yang dimilikinya untuk menjadikan generasi mendatang menjadi generasi yang cerdas, intelektual maupun spiritual. Imam Khomaeni pernah mengatakan bahwa; “Jangan dikira mendidik anak merupakan profesi mudah, ia merupakan profesi yang sangat berat dan agung”.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Namun para perempuan pun memiliki hak untuk berkarya dan berkarier sebagaimana para lelaki. Atau memang terdapat profesi yang tidak selayaknya dilakukan yang lain, kecuali oleh para perempuan, seperti spesialis kandungan dan masalah lain yang khusus berkaitan dengan perempuan. Maka solusinya pemerintah adalah membuat undang-undang yang berkaitan khusus dengan pekerja perempuan, sehingga mereka dengan tetap dapat mengatur rumah tangga sekaligus dapat pula berkarier.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Berdasarkan undang-undang kerja khusus perempuan di republik Islam Iran, seorang ibu selain tetap dapat memberi minum ASI kepada anaknya hingga sampai pada usia 2 tahun, ia pun tetap pula dapat melanjutkan profesinya dalam berkarir. Sehingga mayoritas instansi pemerintah, baik rumah sakit, radio-televisi, perkantoran, bahkan sebagian universitas telah menyediakan tempat penitipan anak sehingga memungkinkan bagi seorang ibu untuk tetap dapat berhubungan dengan anak selama bekerja. Dan bahkan tidak sedikit para perempuan meneruskan jenjang pendidikannya ke sekolah tinggi swasta -seperti Hauzah- atau universitas, setelah ia berkeluarga. Ataupun memulai kariernya setelah berkeluarga. Berkeluarga tidak menjadi penghalang baginya untuk melanjutkan jenjang pendidikannya. Ini dikarenakan di tempat pendidikan atau kerjanya disediakan tempat penitipan anak. Ia dapat membawa anaknya ke kampus ataupun tempat kerja dan dapat pula memberikan ASI pada anaknya pada waktu jam istirahat. Atau diberi waktu khusus bagi pekerja wanita untuk melakukan hal yang menjadi hak anaknya. Yang penting, selama para perempuan siap sedikit capek karena kesibukan ekstranya, maka karirnya tidak akan pernah terhambat. Karena ketika ia hendak berangkat ke tempat kerja atau kampusnya maka ia terlebih dahulu harus menyiapkan anak sekaligus bekalnya. Biasanya tempat penitipan anak disediakan untuk bayi menyusui sampai Taman Kanak-Kanak (TK). </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Beberapa Contoh Undang-Undang Pekerja Wanita di Iran (Tahun 1375 HS / 1996 M)</span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Pasal 75:</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Pekerja perempuan dilarang mengerjakan pekerjaan berbahaya, berat&#8230; </span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Pasal 76:</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Pekerja perempuan mendapatkan cuti hamil dan melahirkan selama 90 hari. Sedapat mungkin 45 hari dari masa cuti tersebut dimanfaatkan untuk cuti melahirkan. Bagi yang melahirkan anak kembar, maka masa cutinya ditambah sebanyak 14 hari.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Pasal 78:</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Di tempat kerja yang sebagian pekerjanya adalah perempuan, maka harus memberikan waktu kepada para pekerja perempuan untuk menyusui anaknya, dalam setiap 3 jam sekali sebanyak setengan jam sampai menjelang usia 2 tahun dengan tetap dimasukan jam tersebut sebagai waktu kerja. Begitupula harus menyediakan tempat penitipan anak yang sesuai dengan jumlah anak dan usia mereka (seperti untuk bayi menyusui, anak-anak &#8230;). [Muhamad Amin, undang-undang kerja jaminan sosial, dinukil dari buku Hamoyesy-e Ilmi Islam wa Feminis jilid 1 halaman 368]</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Di atas hanyalah beberapa isi undang-undang pekerja perempuan di Iran. Karena terdapat beberapa undang-undang dan aturan tambahan lainnya yang tidak perlu saya jelaskan di sini, untuk menyingkat waktu. Jelasnya, dengan undang-undang semacam ini, sedikit banyak dapat mengurangi dilema kontradiksi antara karier dan keluarga. Dengan tetap dapat mendidik anak dan mengatur rumah tangga, seorang perempuan (ibu) tetap dapat memiliki profesi lainnya yang dapat menunjang <span></span>perkembangan profesi dan membantu perekonomian keluarga. </span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span><span></span>Salah satu solusi lain untuk mengantisipasi dampak negatif yang muncul karena istri berkarier di luar rumah ialah, adanya pengertian dan bantuan (dukungan riil) dari seorang suami. Segala permasalahan yang berkaitan dengan keluarga selayaknya diselesaikan bersama. Karena bagaimanapun juga, ketika seorang perempuan selain ia berprofesi sebagai ibu rumah tangga, ia juga memiliki profesi lain maka tugas akan lebih berat dibanding perempuan yang hanya berstatus sebagai ibu rumah tangga saja. Selain perempuan karir harus bertanggungjawab pada urusan rumah-tangganya, ia pun memiliki tanggungjawab terhadap urusan pekerjaannya, konsentrasinya akan terpecah dan sangat menyibukkan. Mungkin saja sekali waktu ia akan menghadapi permasalahan yang berkaitan dengan profesinya. Maka di sini bantuan dan pengertian seorang suami dapat membantu dalam menyelesaikan problem istri yang berkarir, paling tidak dapat meringankannya. Keluarga yang baik adalah keluarga yang di dalamnya terdapat kerjasama dan pengertian antar anggotanya dalam melaksanakan tugas masing-masing, berdasarkan kasih yang tulus dan sayang sejati. [<strong>Euis Daryati</strong>]</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/135/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/135/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/135/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=135&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/29/dilema-karier-atau-keluarga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/06/jilbab-dan-kreatifitas.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jilbab-dan-kreatifitas.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DiBalik Keagungan Imam Khomaeni; Kesetiaan Imam Terhadap Istrinya</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/21/dibalik-keagungan-imam-khomaeni-kesetiaan-imam-terhadap-istrinya/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/21/dibalik-keagungan-imam-khomaeni-kesetiaan-imam-terhadap-istrinya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jun 2007 11:17:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/21/dibalik-keagungan-imam-khomaeni-kesetiaan-imam-terhadap-istrinya/</guid>
		<description><![CDATA[Aku melihat Imam sedang menyiapkan alas untuk makan, itu pun ketika salah satu anggota rumah melihat bahwa istri Imam telah datang. Istri Imam  berkata kepada Imam; “Kami baru tiba, apakah engkau sudah makan?”. Dengan lembut dan penuh penghormatan Imam menjawab, “Engkau tidak mengatakan kalau tidak akan pulang secepatnya. Kalau tidak, kami pasti sudah makan, kami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=133&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/06/main-dengan-cucu.jpg" title="main-dengan-cucu.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/06/main-dengan-cucu.thumbnail.jpg?w=500" alt="main-dengan-cucu.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Aku melihat Imam sedang menyiapkan alas untuk makan, itu pun ketika salah satu anggota rumah melihat bahwa istri Imam telah datang. Istri Imam<span>  </span>berkata kepada Imam; “Kami baru tiba, apakah engkau sudah makan?”. Dengan lembut dan penuh penghormatan Imam menjawab, “Engkau tidak mengatakan kalau tidak akan pulang secepatnya. Kalau tidak, kami pasti sudah makan, kami menunggumu”. Imam yang lantas berkata kepada Sayyid Ahmad; “Sekarang belum waktunya makan siang”, meskipun hanya kurang satu menit. Namun kali itu beliau tidak makan walaupun terlambat sampai setengah jam, karena menunggu kedatangan istrinya.</p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-133"></span></p>
<p class="MsoNormal">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;">Dibalik Keagungan Imam Khomaeni; Kesetiaan Imam Terhadap Istrinya.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> Agenda kehidupan Imam Khomeini benar-benar teratur. Hal itu berlaku juga dalam masalah waktu makan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Putranya, Sayyid Ahmad Khomeini mengatakan; “Aku berkata kepadanya: “Ayah waktunya makan. Aku siapkan makanan?”. Imam melihat jamnya seraya menjawab; “Tidak, sekarang belum waktunya”. Aku berbincang-bincang sebentar dengan Imam, kemudian pergi hingga sampai di depan pintu. Lantas beliau memanggilku dan aku mendatanginya. Beliau berkata; “Kamu bilang siapkan makan siang? Iya, siapkanlah. Sekarang sudah waktunya!”. Mungkin selisih waktunya tidak sampai satu menit, tetapi Imam begitu teratur sehingga bagi keluarganya juga mengherankan. Dan bisa diambil kesimpulan bahwa Imam Khomeini begitu teratur dalam semua urusan hidupnya.<span> </span></p>
<p>Aku ingat bahwa suatu hari Istri Imam Khomeini pergi ziarah ke kuburan Sayyid Abdul Azhim, keturunan Imam Hasan as (yang dimakamkan di Rey, luar kota Tehran .red). Pada saat itu aku sebagai sopirnya. Waktu pulang dari ziarah kira-kira mendekati zuhur. Istri Imam Khomeini berkata; “Secepatnya kita pulang, karena aku tidak bilang kepada Imam untuk makan. Imam pasti bakal menunggu sampai aku selesai (pulang) dari ziarah. Secepatnya kita pulang supaya Imam tidak telat makan”. Pada waktu itu jalanan macet. Hingga akhirnya kita sampai di rumah Imam kira-kira dua puluh lima menit agak lambat, sedang waktu makan siang sudah lewat setengah jam.</p>
<p>Istri Imam Khomeini berkata; “Sepertinya Imam sudah makan siang?!”. Namun hakekatnya Imam belum menyantap makan siang. Aku melihat Imam sedang menyiapkan alas untuk makan, itu pun ketika salah satu anggota rumah melihat bahwa istri Imam telah datang. Istri Imam<span>  </span>berkata kepada Imam; “Kami baru tiba, apakah engkau sudah makan?”. Dengan lembut dan penuh penghormatan Imam menjawab, “Engkau tidak mengatakan kalau tidak akan pulang secepatnya. Kalau tidak, kami pasti sudah makan, kami menunggumu”. Imam yang lantas berkata kepada Sayyid Ahmad; “Sekarang belum waktunya makan siang”, meski hanya kurang satu menit. Namun kali itu beliau tidak makan walaupun terlambat sampai setengah jam, karena menunggu kedatangan istrinya.</p>
<p>Muhammad Hashemi (Penjaga rumah Imam Khomeini). [infosyiah]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/133/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/133/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=133&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/21/dibalik-keagungan-imam-khomaeni-kesetiaan-imam-terhadap-istrinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/06/main-dengan-cucu.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">main-dengan-cucu.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peran Perempuan dalam Membangun Masyarakat Religius (3); Perempuan dan Religiusitas</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/18/peran-perempuan-dalam-membangun-masyarakat-religius-3-perempuan-dan-religiusitas/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/18/peran-perempuan-dalam-membangun-masyarakat-religius-3-perempuan-dan-religiusitas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jun 2007 05:45:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/18/peran-perempuan-dalam-membangun-masyarakat-religius-3-perempuan-dan-religiusitas/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang ibu yang cerdas akan berusaha mencari tahu bagaimana cara agar anaknya mencintai ibadah, suka menolong sesama, tidak egois, dan sikap-sikap mulia lainnya. Jika seorang ibu melakukan kesalahan dalam mendidik anak, bukannya kecintaan yang akan tumbuh, melainkan kebencian. Dengan kata lain, walaupun bertujuannya baik, namun bila cara yang ditempuh adalah cara yang salah, tujuan benar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=132&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Seorang ibu yang cerdas akan berusaha mencari tahu bagaimana cara agar anaknya mencintai ibadah, suka menolong sesama, tidak egois, dan sikap-sikap mulia lainnya. Jika seorang ibu melakukan kesalahan dalam mendidik anak, bukannya kecintaan yang akan tumbuh, melainkan kebencian. Dengan kata lain, walaupun bertujuannya baik, namun bila cara yang ditempuh adalah cara yang salah, tujuan benar itu tidak akan tercapai.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span id="more-132"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>Peran Perempuan dalam Membangun Masyarakat Religius (3); Perempuan dan Religiusitas</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">Oleh: Euis Daryati</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Mungkin terdapat sebuah pertanyaan, bukankah anak kecil suci dari dosa, lantas untuk apa kita menanamkan religiulitas pada anak? Perlu diketahui, memang benar anak kecil itu suci dari dosa, namun masa kecil merupakan masa perekaman. Dengan kata lain, segala sesuatu yang dialami anak di masa kecil akan terekam terus dalam jiwanya. Oleh karena itu, hendaknya orang tua menanamkan kepada diri anak semenjak usia dini tentang makna kejujuran, pengorbanan, menolong sesama, dan nilai-niali religiulitas lainnya seperti ketaatan beribadah kepada Allah. Jika semua nilai-nilai ini ditanamkan sejak kecil, nilai-nilai tersebut akan mengakar dalam jiwa anak dan dapat menjadi pencegah dirinya dalam melakukan hal-hal yang buruk.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>Metode Menanamkan Nilai-Nilai Religius</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dalam melakukan segala sesuatu, jika kita tidak mengetahui cara dan taktiknya, bukan kesuksesan yang akan kita dapatkan, melainkan justru kegagalan. Seorang ibu yang cerdas akan berusaha mencari tahu bagaimana cara agar anaknya mencintai ibadah, suka menolong sesama, tidak egois, dan sikap-sikap mulia lainnya. Jika seorang ibu melakukan kesalahan dalam mendidik anak, bukannya kecintaan yang akan tumbuh, melainkan kebencian. Dengan kata lain, walaupun bertujuannya baik, namun bila cara yang ditempuh adalah cara yang salah, tujuan benar itu tidak akan tercapai.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Kini, marilah kita meninjau ajaran Islam berkenaan dengan metode pengajaran akhlak kepada anak. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis, hingga usia tujuh tahun adalah masa bermain anak. Bagi anak, bermain merupakan kebutuhan dan dia akan tumbuh berkembang dengan bermain. Hal ini pula yang disampaikan oleh surat al-Hadid ayat 20 yang berbunyi:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-bangaan tentang banyaknya harta dan anak”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sebagian ulama menafsirkan ayat ini sebagai jenjang kehidupan kebanyakan manusia. Permainan (la’ibun), mengisyaratkan pada masa kanak-kanak yang merupakan dunia bermain. Melalaikan (lahwun), mengisyaratkan pada masa remaja sebagai masa penuh kelalaian dan hura-hura. Perhiasan (Zinatun), mengisyaratkan kaum muda yang senantiasa berhias dan memperhatikan penampilan. Bermegah-megahan (tafakhur), mengisyaratkan pada masa dewasa, yaitu manusia umumnya ketika telah berkeluarga cenderung untuk berbangga-bangga kepada orang lain atau keluarganya dengan memamerkan harta yang telah dimilikinya. Memperbanyak harta dan anak dan keturunan (cucu dan buyut), mengisyaratkan pada masa tua, dimana kecenderungan manusia yang semakin tua, menjadi semakin rakus. Oleh karena itu, jika kita ingin sukses dalam menanamkan nilai-nilai religius terhadap anak, kita harus mendidik dengan sesuai tingkat perkembangan anak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Selain itu, seorang ibu harus menjadi contoh bagi anak. Bagaimana mungkin seorang ibu bisa mendidik anak berlaku jujur sementara ia sendiri suka berbohong. Dengan cara bermain dan penuh kasih sayang, seorang ibu harus menanamkan kebaikan kepada anak. Sebaliknya, cara yang kasar justru akan menimbulkan kebencian di hati anak. Misalnya, jika anak dipaksa dengan perlakuan keras untuk melakukan sholat, anak akan merasa benci kepada sholat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dalam riwayat kita mengetahui bahwa Rasulpun ketika shalat membiarkan anak-anak bebas menunggangi punggungnya, sehingga sujudnya menjadi lama.[xviii] Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa pendidikan pada masa kanak-kanak hendaknya dilakukan dengan kasih sayang dan lemah lembut, sehingga anak-anak dengan keinginannya sendiri melakukan suatu perbuatan baik. Cara lain adalah dengan memberikan motivasi kepada anak untuk melakukan perbuatan baik, mungkin berupa pujian ataupun hadiah sehingga ia merasakan nikmatnya melakukan kebaikan. Melalui penyampaian cerita-cerita orang-orang bijak, kisah akibat orang yang melakukan kebaikan atau keburukan, serta membawa anak ke majlis-majlis keagamaan dan do’a adalah merupakan contoh trik-trik yang dapat dilakukan dalam menerapkan nilai- nilai keagamaan pada anak-anak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Selain itu, seorang ibu harus mampu memberikan jawaban atas pertanyaan anak yang berkenaan dengan siapa dirinya, siapa Tuhan, dan pertanyaan-pertanyaan lain tentang ajaran agama, seperti, mengapa kita harus sholat, untuk apa berdo’a, apakah dosa itu? Pertanyaan-pertanyaan sejenis ini merupakan pertanyaan alami yang umumnya muncul di benak anak dan seorang ibu yang bijak dan cerdas, hendaknya tidak melarang anaknya untuk bertanya tentang hal itu semua. Bila ibu memilih menjawab seadanya atau malah memarahi anak untuk bertanya, artinya dia telah membunuh rasa ingin tahu anak, yang merupakan fitrahnya. Oleh karena itu, jelaslah bahwa seorang ibu haruslah berpendidikan dan berpengetahuan. Artinya, membangun masyarakat religius harus diawali dengan mendidik para ibu dan memberikan kesempatan belajar bagi kaum perempuan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>Kendala-Kendala Pendidikan di Indonesia</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Zaman teknologi selain memberikan kemudahan bagi manusia, juga memberikan efek negatif yang tidak dapat dihindari. Jika manusia tidak membekali dirinya dengan keimanan yang kuat, dia akan terjerumus ke dalam jurang krisis moral dan spiritual. Fenomena seperti ini dapat kita saksikan di tanah air, yang mengakibatkan bertambahnya beban berat para pendidik untuk mencetak generasi yang sehat jasmani dan ruhani. Beberapa kendala dalam pendidikan anak adalah sbb.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">1. Minimnya pengetahuan masyarakat tentang nilai luhur pendidikan, terkhusus pendidikan agama.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">2. Kurang meratanya sarana-sarana penunjang dalam peningkatan kualitas pendidikan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">3. Maraknya acara-acara televisi dan media massa yang kebanyakan memberikan efek negatif bagi kepribadian anak. Sebagai contoh, penayangan gambar maupun film-film yang belum waktunya dilihat anak-anak, seperti film kekerasan atau pornografi. Acara-acara seperti ini berpotensi besar dalam menyebabkan dekadensi moral dan spiritual bangsa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">4. Banyaknya acara-acara mistik dan khurafat yang akan merusak mental masyarakat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">5. Semakin gencarnya impor kultur asing, yang mayoritas tidak sesuai dengan kultur bangsa dan agama. Dewasa ini kita melihat bahwa kultur asing sedikit demi sedikit telah berhasil menggeser nilai-nilai moralitas bangsa, terutama kaum muda. Melalui tiga “F” yaitu fashion, food, dan fun, para penjajah modern telah sukses dalam menciptakan krisis identitas bangsa Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">6. Krisis figur spiritual yang benar-benar dapat mewakili amanat agama untuk menjadi teladan dalam hidup beragama, berbangsa, dan bernegara.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Cara menanggulangan semua kendala di atas tidak dapat dilakukan dengan secara individual, melainkan harus dilakukan dengan cara melibatkan semua pihak, baik itu pemerintahan, ulama, maupun masyarakat itu sendiri. Di bawah ini ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam menanggulangi kendala pendidikan, yaitu sbb.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">A. Mengingatkan kembali fungsionalitas agama bagi kehidupan dan kebahagian hakiki manusia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">B. Mengadakan training keluarga dan pendidikan anak, yang diadakan pada masa pra-nikah untuk generasi muda, sebagai bekal untuk kehidupan berkeluarga.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">C. Pemerintah hendaknya membatasi acara-acara televisi dan media massa lain yang berpotensi merusak mental dan spiritual bangsa. Pemerintah harus mewajibkan pemilik media massa untuk melibatkan psikolog dan ruhaniwan dalam memproduksi sebuah program, terutama program untuk anak-anak dan remaja, agar program acara tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>2. Sebagai Istri</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Allah telah menciptakan hewan dan tumbuhan dalam keadaan berpasang-pasangan, sehingga melalui cara itulah komunitas mereka dapat terus berkembang dan berlanjut. Allah juga telah menciptakan manusia dari jenis laki-laki dan perempuan, lalu menyatukan mereka melalui sebuah pernikahan. Berbeda dengan hewan dan tumbuhan, pernikahan manusia selain untuk sarana untuk menjaga kelanggengan komunitas manusia, juga dapat dijadikan sarana untuk mencapai kesempurnaan serta sarana untuk bekerja sama dalam mencapai kebahagiaan hakiki. Seorang istri, selain ia sendiri dapat melalui semua jalan yang harus ditempuhnya untuk mencapai kesempurnaan, iapun dapat menjadi teman seperjalanan suami untuk mencapai kebahagiaan hakiki. Seorang istri dapat menjadi motivator bagi suami untuk melakukan suatu kebaikan dan meninggalkan keburukan. Dalam sejarah disebutkan, setelah pernikahan Imam Ali as dan Fatimah Az-Zahra as, Rasulullah saww bertanya kepada Imam Ali as tentang istrinya, “Wahai Ali, bagaimana engkau melihat Fatimah Zahra putriku? Imam Ali menjawab, “Aku melihatnya sebagai teman dan penolong terbaik dalam ketaatan kepada Allah swt.”[xix]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sungguh indah ucapan Imam Ali as tentang Fatimah Az-Zahra as sebagai istrinya. Di dalam kalimat itu terkandung makna yang agung, yaitu bahwa istri yang baik adalah istri yang menjadi teman suaminya dalam meningkatkan moralitas, spiritualitas, dan religiulitas. Begitupula sebaliknya, istri yang buruk adalah istri yang menjadi penghalang suami dalam meningkatkan moral, spiritualitas, dan religiusitasnya. Sebagai contoh, istri yang banyak menuntut di luar kemampuan suaminya, sangat mungkin akan menyebabkan si suami terjebak dalam perbuatan dosa, bila sang suami tidak kuat iman. Banyak terjadi suami yang melakukan korupsi, mencuri, atau merampok demi memenuhi tuntutan istri. Sa’di (penyair Iran) berkata, “Perempuan buruk bagi suami yang baik semenjak di dunia inipun ibarat neraka baginya.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>Peran sebagai Anggota Masyarakat</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Pembahasan di atas merupakan pembahasan peran perempuan secara tidak langsung dalam mewujudkan sebuah masyarakat religius. Adapun peran langsung (straight role) yang dapat dimainkan oleh perempuan adalah peran sebagai anggota masyarakat. Perempuan sebagai segmen sigifikan dari sebuah masyarakat hendaknya ikut andil dalam menjaga kesehatan dan keamanan masyarakat. Sebagai anggota masyarakat, saat seorang perempuan melihat bahwa masyarakatnya mengalami gangguan stabilitas atau terkena penyakit, maka ia harus segera mencari jalan penanggulangannya. Dalam posisi sebagai anggota masyarakat, perempuan dan laki-laki mempunyai hak dan kewajiban yang sama dan setara, yaitu sama-sama berhak menerima perlakuan yang baik dari masyarakat dan sama-sama berkewajiban menciptakan masyarakat yang sehat. Peran langsung perempuan dalam masyarakat antara lain berupa pekerjaan sebagai dokter, pakar ekonomi, atau mubalig.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>Berkarir dalam Perspektif Islam</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dalam Islam tidak ada larangan bagi perempuan untuk berperan aktif dalam masyarakat. Perempuan berhak untuk mengekspresikan dan mengembangkan potensi dan kemampuan yang ada pada dirinya. Bahkan, dalam kondisi tertentu, perempuan diharuskan terjun ke masyarakat, misalnya, harus ada perempuan yang bekerja sebagai dokter untuk melayani kebutuhan kaum perempuan. Hanya saja, Islam menganjurkan agar aktifitas perempuan di luar rumah tidak sampai mengorbankan tugas utamanya sebagai seorang istri dan ibu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>Kendala Berkarir </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Salah satu kendala bagi perempuan karir di Indonesia adalah adanya kontradiksi antara karir dan keluarga. Perempuan seolah-olah diharuskan memilih karir atau keluarga. Jika memilih karir, kondisi pekerjaan di Indonesia seringkali tidak mendukung peran seorang ibu. Misalnya, umumnya perkantoran dan perusahan menetapkan jam kerja yang mulai pagi sampai sore dan tidak menyediakan tempat penitipan anak yang mudah dijangkau oleh pekerja perempuan. Akibatnya pekerja perempuan tidak dapat memenuhi kebutuhan primer anaknya, seperti pemberian ASI dan dengan terpaksa ia harus menitipkan anaknya kepada baby sitter atau pembantu. Dalam kondisi seperti ini, anak akan menjadi anak pembantu dan dididik oleh pembantu rumah tangga yang umumnya berpendidikan rendah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Padahal, pada tahun-tahun pertama usianya, anak sangat membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan belaian seorang ibu. Dalam psikologi dijelaskan, tahun-tahun pertama kehidupan anak adalah masa-masa ketergantungan yang sangat besar dari seorang anak kepada ibunya. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, anak akan cenderung mengalami krisis kepercayaan diri.[xx] Problema kenakalan anak-anak atau kaburnya anak dari rumah adalah di antara efek yang muncul akibat kurangnya kasih sayang dan perhatian orang tua.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sementara itu, bila perempuan mengambil pilihan kedua, yaitu memilih keluarga dan meninggalkan karirnya, ia akan berhadapan pada kegamangan. Dia merasa bahwa segala jerih payahnya selama ini, misalnya menuntut ilmu di sekolah tinggi atau universitas, telah tersia-siakan. Belum lagi bila ia berhadapan dengan problema keuangan keluarga karena gaji suami yang tidak mencukupi. Dengan kata lain, perempuan karir di Indonesia umumnya menghadapi dilema besar, yang hanya bisa terpecahkan bila pemerintah turun tangan untuk memberikan fasilitas yang memberi kesempatan kepada perempuan agar tetap bisa berkarir sekaligus melaksanakan tugas sebagai ibu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>Fenomena Perempuan Masa Kini</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Secara umum, Indonesia dewasa ini sedang mengalami berbagai krisis. Selain sedang mengalami krisis ekonomi, tanah air kita pun sedang dilanda krisis moral, mental, dan spiritual. Sayangnya, kebanyakan obyek dan sekaligus penyebab krisis tadi adalah para perempuan, mulai kasus pornografi, komersialisasi seks, pamer tubuh (iklan), tarian erotis, dan banyak hal lagi yang sasaran utama dan umpannya adalah perempuan. Sebagaimana perempuan dapat menjadi sumber daya jitu untuk memperbaiki sebuah masyarakat, iapun dapat menjadi sarana jitu untuk merusak dan menghancurkan sebuah masyarakat. Sungguh indah ayat menjelaskan tentang tipu daya perempuan dalam surat Yusuf ayat 28 yang berbunyi: “Sesungguhnya tipu daya mereka adalah sangat besar&#8230;”. Jika perempuan menjadikan dirinya sebagai penggoda lelaki untuk melakukan perbuatan buruk, maka tipu dayanya lebih besar dari tipu daya syetan. Oleh karenanya, jarang lelaki yang dapat lolos dari tipu dayanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dalam sepanjang sejarah perempuan telah berjuang untuk mendapatkan hak-haknya. Namun sekarang, kembali mereka terjerumus ke dalam penjajahan yaitu berupa penjajahan modern. Perempuan menganggap dirinya merdeka di saat dapat memamerkan tubuh moleknya untuk dinikmati laki-laki hidung belang. Perempuan sekarang telah lupa akan hakekat dirinya, hanya menonjolkan kecantikan wajah dan kemolekan tubuhnya. Lantas mana essensinya sebagai seorang manusia? Lantas apa yang dapat diharapkan dari para perempuan seperti ini? Ini merupakan salah satu tugas perempuan sebagai anggota masyarakat untuk kembali mengingatkan sesama kaumnya. Lisan perempuan akan lebih dapat mengena ke dalam sanubari mereka dibanding lisan pihak lain, untuk mengembalikan identitas mereka sebagai manusia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dalam kondisi ini, perempuan yang sadar memiliki tugas untuk menjelaskan kembali fungsi agama dalam menghantarkan manusia dalam menuju kebahagiaan hakiki (sesuai agama masing-masing). Perempuan yang tercerahkan harus mengingatkan saudara-saudara mereka akan peran dan tugas yang dipikul perempuan, baik melalui pendekatan, media, pelatihan, dan cara lainnya. Tugas ini akan berhasil jika dilakukan oleh perempuan itu sendiri, karena persamaan yang dimiliki, yaitu sebagai perempuan yang sama-sama memiliki kekuatan emosional dan akal. Adapun peran secara umum yang dapat dilakukan perempuan untuk membangun sebuah masyarakat religius antara lain adalah ssebagai berikut:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">1. Sebagai guru, baik guru anak-anak (TK) maupun guru agama, dengan sepenuh hati tanamkan pada anak-anak tentang pentingnya nilai-nilai moralitas, spiritualitas dan religiusitas bagi kehidupan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">2. Pencetakan para mubalig dan juru dakwah perempuan yang dengan sepenuh hati memberikan bimbingan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">3. Pengadaan klinik keluarga dalam masalah spiritualitas dan religiusitas.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">4. Adanya pakar perempuan dalam bidang agama (sesuai agama masing-masing) terkhusus dalam masalah keperempuanan, sehingga ia mampu memberikan jawaban atas problema-problema yang muncul dalam masalah keperempuanan. Menangani kasus yang menimpa perempuan. Selain membantu menyelesaikan dari sisi hukum, juga membantu mengembalikan semangat hidup mereka, melalui bantuan spirit, moril, spiritual, dan material. [<a href="http://islamalternatif.net" target="_blank">islamalternatif</a>]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
___________________________________</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Catatan Kaki:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">* Disampaikan dalam Seminar dan Loka Karya BKPPI (Badan Kerjasama persatuan Pelajar Indonesia) se-Timur Tengah dan Sekitarnya dengan Topik “Membangun Masyarakat Religius”, pada 23-30 Agustus 2005, di Kota Suci Qom-Iran.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">** Penulis: Mahasiswi s1 jurusan al-Ma’arif al-Islamiyah pada Bint al-Huda Qom-Iran.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">[i] Misalnya, kita sempat kaget dan heran ketika mendengar berita dari televisi, kalau kaum perempuan negara Kuwait baru tahun ini mendapatkan hak suara. Inipun masih harus berhadapan dengan beberapa penentang yang tidak menyetujui akan pemberian hak suara kepada perempuan</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">[ii] Lebih detailnya berkenaan dengan kondisi perempuan zaman renaissance, dapat merujuk ke karyanya William J. Durant dalam bukunya yang berjudul: Of the story of civilization, tetapi khusus pembahasan zaman renaisans, edisi terjemahan, 1381 Sy, Tehran, Syerkat-e intisyarat-e ilmi wa farhanggi., cetakan ke-8, jil ke-5 hal: 116. (Selengkapnya pada penulis)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/132/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/132/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=132&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/18/peran-perempuan-dalam-membangun-masyarakat-religius-3-perempuan-dan-religiusitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peran Perempuan dalam Membangun Masyarakat Religius (2); Perempuan dan Pendidikan</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/17/peran-perempuan-dalam-membangun-masyarakat-religius-2-perempuan-dan-pendidikan/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/17/peran-perempuan-dalam-membangun-masyarakat-religius-2-perempuan-dan-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jun 2007 08:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/17/peran-perempuan-dalam-membangun-masyarakat-religius-2-perempuan-dan-pendidikan/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang ibu yang merupakan pendidik pertama dan utama, seharusnya memahami hal ini karena masa kanak-kanak merupakan masa pembentukan kepribadian manusia. Seorang ibu berperan dalam langkah awal untuk menghasilkan generasi yang berkembang dari sisi tubuh, intektualitas, kecerdasan sosial, maupun religiusitasnya, sehingga tidak lahir ‘generasi kartun’. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Peran Perempuan dalam Membangun Masyarakat Religius (2); Perempuan dan Pendidikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=129&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/06/kanak-kanak-berjilbab.jpg" title="kanak-kanak-berjilbab.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/06/kanak-kanak-berjilbab.thumbnail.jpg?w=500" alt="kanak-kanak-berjilbab.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Seorang ibu yang merupakan pendidik pertama dan utama, seharusnya memahami hal ini karena masa kanak-kanak merupakan masa pembentukan kepribadian manusia. Seorang ibu berperan dalam langkah awal untuk menghasilkan generasi yang berkembang dari sisi tubuh, intektualitas, kecerdasan sosial, maupun religiusitasnya, sehingga tidak lahir ‘generasi kartun’.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span id="more-129"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>Peran Perempuan dalam Membangun Masyarakat Religius (2); Perempuan dan Pendidikan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">Oleh: Euis Daryati</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>Peran Perempuan </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Bruce J. Cohen dalam karyanya yang berjudul “Introduction To Sociology” mendefinisikan peran sebagai berikut, “Setiap perilaku yang diharapkan (dinantikan) oleh pihak lain terhadap setiap pemilik kedudukan tertentu.”[viii] Berdasarkan definisi di atas, ketika kita berbicara tentang peran perempuan, berarti kita berbicara tentang harapan dan penantian orang lain terhadap perempuan. Dengan kata lain, berbicara tentang apa yang dapat dilakukan perempuan dengan status dan kedudukannya sebagai perempuan. Secara umum, peran perempuan (women’s role) dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok; peran yang dimainkan secara langsung (straight role), dan peran tidak langsung (no straight role). Yang dimaksud dengan peran secara langsung adalah peran yang secara langsung dilakukan oleh perempuan dan pengaruhnya langsung dapat dirasakan. Adapun peran secara tidak langsung adalah peran yang secara tidak langsung dilakukan perempuan, dan pengaruhnya pun dirasakan secara tidak langsung.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dalam mewujudkan masyarakat religius, kita harus menilik kembali peran perempuan baik yang dilakukan secara langsung maupun secara tidak langsung. Peran yang secara langsung dapat langsung mempengaruhi dalam proses pembangunan sebuah tatanan masyarakat religius. Walau mungkin peran secara langsung kurang membantu dalam pembangunan sebuah masyarakat religius, akan tetapi lambat laun dan dengan berlalunya waktu, pengaruh tersebut akan dapat dirasakan. Adapun peran secara tidak langsung (no straight role) secara global dapat dibagi ke dalam dua kelompok sebagai berikut:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>1. Sebagai Ibu (Pendidik Pertama)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>1.1- Tujuan Pendidikan </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Manusia merupakan wujud dua dimensi, dimensi materi dan non materi. Sisi materi maupun non materi manusia sama-sama memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi. Jika pemenuhan kebutuhan itu hanya dilakukan sebagian saja, atau tidak sama sekali, akan terjadi kepincangan. Kita dapat lihat pada masa sekarang ini -terkhusus pada dunia Barat ataupun pada masyarakat kita sendiri- manusia hanya dianggap sebagai robot hidup. Manusia hanya dianggap memiliki tubuh materi, semuanya hanya cenderung ke arah kehidupan materialistis. Krisis spiritual, kehampaan, dan kehilangan jati diri adalah merupakan efek dari kehidupan materialistis.[ix] Menjamurnya pusat-pusat kajian keagamaan di kota-kota besar merupakan bukti bahwa pemenuhan kebutuhan satu sisi saja tidak akan memberikan ketenangan kepada manusia dan hal ini menjadi pertanda babak baru terbukanya kesadaran religius pada masyarakat kita.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Oleh karena itu, jelaslah bahwa dalam berbagai sistem pendidikan -baik formal maupun informal- pemenuhan kebutuhan materi dan non materi manusia haruslah dipenuhi secara seimbang. Namun sayangnya, fenomena yang sering kita saksikan adalah pembatasan arti pendidikan pada pendidikan formal saja, sehingga manusia dianggap terpelajar jika dia telah belajar secara formal. Manusia dianggap sukses bila telah meraih ijazah formalitas dan jarang sekali orang yang meraih pencerahan religiulitas dan spiritualitas disebut sebagai orang sukses.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sementara itu, dalam pandangan Islam, tujuan pendidikan adalah mencapai nilai-nilai dan norma-norma yang ada. Secara umum nilai-nilai yang ingin dicapai melalui pendidikan dapat dibagi kepada dua bagian:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Nilai-nilai sementara (berupa materi). Ini adalah nilai-nilai yang harus dicapai dalam rangka memenuhi kebahagiaan dan kebutuhan materi manusia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Nilai-nilai absolut (berupa nilai-nilai maknawiyah dan spiritualitas). Kesempurnaan dan kebahagiaan ini dapat dicapai oleh manusia melalui perilaku baik, pembersihan jiwa dan hal-hal lain yang bersifat religius.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sebetulnya, dalam makalah ini saya tidak bermaksud memfokuskan pembahasan pada Islam saja, tetapi ada berbagai faktor yang membuat kajian ini, mau tidak mau, harus terfokus kepada Islam. Pertama, dikarenakan mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, maka dalam rangka mencari solusi dan penyembuhan masyarakat harus dengan merujuk kembali kepada tataran ajaran Islam. Tentu saja, hak-hak pemeluk agama lain di Indonesia tetap harus diperhatikan karena bukankah Islam mengajarkan toleransi sosial keagamaan dan memerintahkan kepada pemeluknya untuk menghormati pemeluk agama lain? Kedua, kalau dilihat secara cermat apa yang tertuang dalam butir-butir Pancasila, akan kita dapati adanya keselarasan dengan ajaran Islam. Untuk menguatkan hal ini, marilah kita kembali menelaah isi Pancasila dan membandingkannya dengan Islam:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Ketuhanan Yang Maha Esa. Islam adalah ajaran yang sangat menekankan monoteisme, semua ajaran Islam teringkas dalam tauhid atau keyakinan atas keesaan Tuhan.[x]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Kemanusiaan yang adil dan beradab. Islam sangat menjunjung tinggi nilai keadilan, bahkan salah satu sebab utama pengutusan para nabi adalah menegakkan keadilan dan melawan kezaliman. Secara umum keadilan dimaknai sebagai “menempatkan sesuatu pada tempatnya, atau memberikan sesuatu kepada yang berhak”. Islam juga sangat menekankan masalah adab dan akhlak. Banyak sekali hadis yang menerangkan tentang adab, antara lain, Imam Ali as berkata, “Adab menunjukkan kesempurnaan seseorang”.[xi]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Persatuan Indonesia. Islampun sangat menekankan masalah persatuan dan mencela perpecahan. Sebagai warga negara, seseorang harus menjaga persatuan tanah airnya serta menghindari perpecahan dan keonaran. Sikap seperti ini merupakan salah satu bentuk kecintaan kepada tanah air. Sedangkan cinta tanah air dan membela tanah air hal-hal yang dianjurkan oleh Islam. Karena, jika umat tidak bersatu, dengan mudah mereka akan diporakporandakan oleh musuh-musuhnya. Imam Ali as berkata, “Cinta tanah air sebagian dari iman”.[xii]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dalam hadis lain berkenaan dengan anjuran membela tanah air, Imam Ali as</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">berkata, “Jika kamu sekalian menyerah, maka akan hina kalian sehingga para</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">penjarah menyerbu kepadamu dan negerimu pun akan mereka kuasai.”[xiii]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Musyawarah merupakan cara terbaik untuk menyelesaikan suatu permasalahan dalam sebuah komunitas karena di sana pasti ada berbagai karakter, latarbelakang, sudut pandang, dan pengalaman. Islam menekankan cara musyawarah dalam menyelesaikan urusan kita, sebagaimana yang dapat kita simak dari kedua ayat berikut:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">(Al-Imron 159)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">“Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">(Asy-Syuaraa 38)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Agama Islam memerintahkan manusia untuk memberantas kesenjangan sosial. Islam sangat membenci monopoli kekayaan oleh segelintir orang, serta melarang adanya jarak antara si kaya dan si miskin. Kekayaan merupakan anugrah Allah dan amanat yang akan diminta pertanggungjawabannya. Allah sangat mencintai orang menggunakan hartanya untuk membantu orang yang memerlukan, baik sebagai sesama manusia maupun sesama muslim. Zakat dan sedekah adalah merupakan salah satu perwujudan dari sila ini, dan cara untuk mewujudkan keadilan sosial.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dari poin-poin di atas, dapat kita simpulkan bahwa tujuan pendidikan -baik menurut Islam maupun Pancasila- adalah untuk mencetak generasi yang sehat jasmani maupun ruhani. Seorang ibu yang merupakan pendidik pertama dan utama, seharusnya memahami hal ini karena masa kanak-kanak merupakan masa pembentukan kepribadian manusia. Seorang ibu berperan dalam langkah awal untuk menghasilkan generasi yang berkembang dari sisi tubuh, intektualitas, kecerdasan sosial, maupun religiusitasnya, sehingga tidak lahir ‘generasi kartun’. Dalam film kartun kita menyaksikan tampilan tokoh-tokoh berkepala besar dan berbadan kecil, atau sebaliknya, berbadan besar namun berkepala sangat kecil.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">‘Generasi kartun’ merupakan simbol dari tidak adanya keseimbangan dalam perkembangan manusia. Adalah tugas ibu untuk mendidik anak sebaik mungkin agar kelak si anak tidak tumbuh menjadi seorang berintelektual tinggi, namun berakhlak seperti anak kecil yang tidak tahu mana yang benar, mana yang salah. Manusia yang tidak seimbang inilah yang melakukan korupsi dan penipuan di sana-sini. Bila kita perhatikan, mulai dari koruptor kelas kakap sampai kelas teri di Indonesia kebanyakan adalah orang-orang yang sehat jasmani dan berpendidikan tinggi. Namun, karena sisi moralitas, spiritualitas, dan religiulitas mereka tidak berkembang dengan baik, manusia-manusia seperti itu bisa disebut sebagai manusia yang cacat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>1.2- Faktor-Faktor yang Berpengaruh dalam Pendidikan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Pondasi sebuah masyarakat adalah individu-individu, yaitu individu yang dididik dan dibesarkan dalam sebuah keluarga. Untuk menjadikan sebuah masyarakat yang sehat dan religius, maka yang pertama kali harus dibenahi adalah individu-individu sebuah keluarga. Dengan kata lain, sebuah keluarga harus memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anaknya dengan memperhatikan dua sisi kebutuhan manusia, sisi materi dan non materi. Perempuanlah yang pertama kali memainkan peran penting ini ketika ia berperan sebagai seorang ibu. Ibu merupakan pendidik dan sekolah pertama bagi seorang anak. Ibu merupakan pembentuk pertama kepribadian seorang anak. Berkenaan dengan ini J. Russo berkata:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">“Anak dapat terdidik sesuai dengan keinginan ibunya, jika engkau ingin dia mengetahui makna keutamaan dan kemuliaan, maka didiklah ibunya&#8221;[xiv]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Melalui pendidikan di rumah, seorang ibu mampu membantu anak dalam perkembangan kepribadiannya sehingga ia nanti akan menjadi seorang pribadi yang sehat jasmani maupun ruhani. Tentu saja, seorang anak memiliki ikhtiar untuk menentukan sendiri jalan yang akan ditempuhnya. Namun, sebelum mendapatkan pengaruh dari lingkungan, karakteristik dan kepribadian anak dipengaruhi oleh keluarga, terutama oleh ibunya. Hal ini dikarenakan ibu lebih banyak memiliki waktu bersama anaknya, dan sisi psikologis, kebanyakan anak lebih dekat kepada ibunya, mulai dari masa kehamilan, masa menyusui bahkan masa sesudahnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dalam hal ini terdapat dua teori dari para psikolog yang saling bertentangan, tentang faktor-faktor yang memberikan pengaruh pada perkembangan anak. Satu teori mengatakan bahwa hanya faktor genetik yang mempengaruhi perkembangan anak, termasuk perkembangan kepribadian maupun karakteristik. Teori ini dikenal dengan teori Developmentalists yang diwakili oleh Arnodl Gessel (1880-1961), kendati pada tahun 1940 ia mengadakan perubahan dalam teorinya dengan menganggap bahwa lingkunganpun mempengaruhi terhadap perkembangan anak, namun dengan tetap menitik beratkan pada faktor genetik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Teori lainnya menganggap bahwa faktor lingkungan saja yang mempengaruhi perkembangan anak, teori ini dikenal dengan teori Environmentalists yang diwakili oleh Jhon B. Watson (1878-1958). Ungkapannya yang terkenal dalam buku Child Psychology:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">“Serahkan kepadaku beberapa anak yang sehat dengan fasilitas yang memadai, maka aku dapat menjadikan satu dari mereka menjadi seorang pakar, seperti dokter, menjadi seorang seniman, menjadi seorang pengusaha, bahkan menjadi seorang pengemis dan menjadi seorang pencuri&#8230;” [xv]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Namun sebagian ilmuwan lainnya menganggap bahwa ada tiga faktor yang berpengaruh dalam membentuk kepribadian anak, yaitu faktor genetik, lingkungan, dan kehendak pribadi si anak. Dalam kondisi seperti ini, perbedaan kapasitas ketiga faktor tersebut yang memberikan pengaruh terhadap perkembangan anak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>1.3- Fase-Fase Pendidikan </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Pendidikan anak dimulai sejak masa pra-kelahiran sekalipun. Dalam sebuah hadisnya, Imam Ali as berkata, “Karena jiwa anak-anak seperti tanah kosong, apapun yang ditanam padanya akan tumbuh. Aku memulai pendidikan kalian sejak kecil, sejak sebelum hati (jiwa) menjadi keras dan pikiran menjadi penat&#8230;”.[xvi]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Menarik sekali bila kita perhatikan istilah yang digunakan Imam Ali as, yaitu ‘tanah kosong’, bukan ‘lembaran putih bersih’. Tidak semua tanah dapat ditanami, karena ada tanah subur dan tanah gersang. Tanah subur yang memiliki potensi untuk ditanami, ungkapan tanah menunjukkan akan pengaruh genetik terhadap pendidikan anak. Hadis inipun menunjukkan akan urgennya memulai pendidikan sejak kecil. Bahkan dalam Islam fase-fase pendidikan diterangkan secara detail dan dimulai sejak sebelum pernikahan. Dalam makalah ini, fase-fase tersebut hanya akan kami sebutkan secara ringkas, yaitu sbb.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Fase pra-kelahiran (sebagai lahan atau mukadimah untuk mempermudah pendidikan anak pada fase selanjutnya) yang mencakup; memilih pasangan hidup, adab hubungan suami istri, dan sikap selama masa kehamilan. Pada masa kehamilan, segala prilaku seorang ibu akan memberikan pengaruh terhadap janin.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>2. Fase pasca-kelahiran</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Islam mengajurkan banyak beberapa hal yang sebaiknya dilakukan pada masa tujuh hari pertama usia anak, yang dapat memberikan pengaruh terhadap kesehatan jasmani dan ruhani anak, yaitu: membacakan adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri, memakankan padanya sedikit kurma dan air, memakaikan pakaian warna putih, dan tidak memakaikan pakaian berwarna kuning (dalam ilmu psikologi pun diakui adanya pengaruh warna terhadap kejiwaan), mendoakan anak yang baru lahir, memberikan nama yang baik, mengakikahkan, mengkhitankan, serta mencukur rambut bayi dan mengeluarkan sedekah berupa emas atau perak seharga berat rambut bayi tersebut.[xvii]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Masa kanak-kanak adalah masa yang sangat sensitif dan merupakan masa pertumbuhan. Pertumbuhan badan, tulang, otak harus diupayakan sedemikian rupa agar tumbuh dengan baik. Anak harus dihindarkan dari kekurangan gizi karena akan berakibat buruk terhadap perkembangan selanjutnya. Sebagaimana jasmani anak harus diperhatikan, maka kebutuhan ruhaninyapun harus diperhatikan. Kasih sayang, perhatian, dan spiritualitas adalah kebutuhan ruhani anak yang harus dipenuhi orang tua. Betapa banyak kita saksikan anak yang mencari pelarian dengan menjadi pecandu narkoba dan terjerumus kepada perbuatan buruk lainnya, akibat kurangnya kasih sayang dari orang tua?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Bersambung…<span>  </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/129/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/129/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/129/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=129&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/17/peran-perempuan-dalam-membangun-masyarakat-religius-2-perempuan-dan-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/06/kanak-kanak-berjilbab.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kanak-kanak-berjilbab.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peran Perempuan dalam Membangun Masyarakat Religius (1); Sebuah Pengantar</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/16/peran-perempuan-dalam-membangun-masyarakat-religius-1-sebuah-pengantar/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/16/peran-perempuan-dalam-membangun-masyarakat-religius-1-sebuah-pengantar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jun 2007 14:38:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/16/peran-perempuan-dalam-membangun-masyarakat-religius-1-sebuah-pengantar/</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah hal yang aksioma bahwa eksistensi perempuan merupakan segmen yang urgen dari sebuah masyarakat. Dengan demikian, kita tidak akan dapat menutup mata dari peran penting yang dimainkan oleh perempuan. Bukan zamannya lagi perempuan hanya dianggap sebagai alat reproduksi untuk keberlangsungan komunitas manusia. Hal ini pun telah dibuktikan sendiri oleh perempuan dengan menunjukkan kredibilitasnya dalam ranah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=127&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/06/bocah-bocah-berjilbab.jpg" title="bocah-bocah-berjilbab.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/06/bocah-bocah-berjilbab.thumbnail.jpg?w=500" alt="bocah-bocah-berjilbab.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sebuah hal yang aksioma bahwa eksistensi perempuan merupakan segmen yang urgen dari sebuah masyarakat. Dengan demikian, kita tidak akan dapat menutup mata dari peran penting yang dimainkan oleh perempuan. Bukan zamannya lagi perempuan hanya dianggap sebagai alat reproduksi untuk keberlangsungan komunitas manusia. Hal ini pun telah dibuktikan sendiri oleh perempuan dengan menunjukkan kredibilitasnya dalam ranah sosial, politik, ekonomi, sains, dan lain-lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span id="more-127"></span><br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>Peran Perempuan dalam Membangun Masyarakat Religius (1); Sebuah Pengantar</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">Oleh: Euis Daryati</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<em>Rusak dan tidaknya sebuah masyarakat bersumber dari perempuan. Perempuan adalah eksistensi yang mampu menghaturkan pribadi-pribadi yang unggul kepada masyarakat, sehingga masyarakat tersebut menjadi sebuah masyarakat yang kokoh dan masyarakat yang menjunjung norma-norma agama&#8230;. </em>(Imam Khomaeni ra, sahifeh nur jil:16 hal:125)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"> Sebuah hal yang aksioma bahwa eksistensi perempuan merupakan segmen yang urgen dari sebuah masyarakat. Dengan demikian, kita tidak akan dapat menutup mata dari peran penting yang dimainkan oleh perempuan. Bukan zamannya lagi perempuan hanya dianggap sebagai alat reproduksi untuk keberlangsungan komunitas manusia. Hal ini pun telah dibuktikan sendiri oleh perempuan dengan menunjukkan kredibilitasnya dalam ranah sosial, politik, ekonomi, sains, dan lain-lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"> Munculnya tokoh, ilmuwan, politikus, pakar ekonomi, atau pakar hukum perempuan, merupakan bukti bahwa perempuan pun memiliki kemampuan intelektualitas yang sejajar dengan kaum lelaki. Meskipun demikian, jumlah mereka tidak sebanding dengan kaum lelaki, karena terbatasnya lahan dan keleluasaan yang diberikan kepada kaum perempuan untuk mengekspresikan segenap potensi yang ada pada dirinya, ataupun karena adanya dominasi kaum lelaki dalam segala bidang. Dalam sejarah, perempuan membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk dapat mencapai kemajuaannya karena mereka sering dihadang oleh dogma ‘ketidakwajaran’ dan ‘ketidakpantasan’ (misalnya, Elizabeth blakcwill, dokter perempuan pertama di dunia yang lulus tahun 1849, sempat diboikot teman-temannya dengan alasan perempuan tidak sewajarnya mendapatkan pelajaran).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"> Di banyak kawasan, kebebasan serta hak-hak untuk maju baru bisa didapatkan oleh kaum perempuan setelah melalui perjuangan yang sangat panjang dan heroik. Bahkan, sampai sekarangpun di beberapa kawasan, perempuan masih belum mendapatkan angin kebebasan dan hak-hak yang semestinya.[i] Gerakan perempuan di Barat (Eropa) dimulai dengan munculnya gerakan feminisme, yang kendati mencuatnya pada abad ke-18 masehi, namun benih-benih gerakan ini berakar pada masa renaissance, yaitu abad ke-15 masehi. Will Durant dalam menggambarkan kondisi perempuan era renaissance menulis sbb.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">“Para perempuan tertentu di era renaissance, melepaskan dirinya dari segala kungkungan abad pertengahan dan penghinaan para rahib melalui cara menghiasai diri dengan segala perhiasan dan penampilan yang sangat menarik, begitu mengangkat derajatnya sehingga sama dengan laki-laki. Mereka membahas tentang sastra dan filsafat dengan kaum laki-laki, memimpin sebuah negara melalui rasio seperti Isabella, atau melalui kekuatan bagaikan laki-laki seperti Catherina S, dan kadang mereka memakai baju perang lalu pergi ke medan perang untuk mencari suaminya&#8230;” [ii]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Gerakan kemajuan perempuan di kawasan Timur diawali dengan datangnya Islam. Islampun mengadakan perombakan besar-besaran atas perilaku yang selama ini ditujukan terhadap perempuan, serta mengangkat harkat dan martabat perempuan. Revolusi ini langsung dilakukan oleh Rasul saww sendiri dan putri beliau, Fathimah Zahra as, yang merupakan simbol manusia sempurna (insan kamil). Berkenaan tentang Fathimah Zahra as, sejarawan bernama Hasan Basri pernah berkata, “Di antara umat ini tidak ada orang yang ibadahnya yang lebih banyak dari putri Rasul saww. Begitu banyaknya beliau beribadah dan bermunajat kepada Allah swt sampai memberikan bekas pada kedua kakinya.”[iii]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Islam memberikan kepada perempuan beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki oleh laki-laki[iv], dan memberikan peluang kepada para perempuan untuk aktif dalam berbagai bidang. Sumpah setia (Bai’at) para perempuan kepada Rasulullah saww adalah di antara bukti peran mereka dalam politik. Para perempuan muslimah juga aktif di medan perang untuk mengobati para tentara yang terluka, atau bahkan ikut terjun berperang melawan musuh jika keadaan mendesak sebagaimana yang dilakukan oleh Nasibah dalam perang Uhud. Orang pertama yang gugur (syahid) membela Islam adalah seorang perempuan, yaitu Sumayyah ibunda Ammar bin Yasir.[v] Bahkan, sepeninggal Rasulullah saww pun bermunculan para perempuan yang menguasai keilmuan baik ilmu agama maupun lainnya. Dengan munculnya perawi hadis perempuan, para perempuan yang mencapai derajat ijtihad.[vi] Tradisi keilmuan agama di kalangan perempuan masih terus berkembang sampai sekarang, dan bahkan di Iran kini banyak ditemukan perempuan yang sudah mencapai derajat ijtihad (disebut dengan Mujtahidah), atau ahli dalam bidang mistisisme (baca: tasawuf).[vii]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Di Indonesia kita dapat melihat berbagai gerakan dan sepak terjang para perempuan, baik di era pra-kemerdekaan RI dengan munculnya para tokoh perempuan yang ikut gigih melawan kolonialis dan imperialis, seperti Dewi Sartika, Cut Nya’ Din, R.A Kartini dan sebagainya. R.A Kartini dikenal sebagai tokoh emansipasi perempuan Indonesia. Ungkapan R.A Kartini “habis gelap terbitlah terang” mampu memberikan inspirasi kepada para perempuan Indonesia untuk ikut andil dalam membangun negaranya, dengan cara tekun menempuh pendidikan hingga ke jenjang yang tinggi, dan kemudian terjun langsung dalam pembangunan bangsa. Kaum perempuan Indonesia dewasa ini merupakan penerus kaum perempuan era Kartini yang gigih menghilangkan anggapan dan kultur lama yang menganggap perempuan tidak perlu sekolah setinggi mungkin, karena tugasnya hanyalah di sumur, kasur, dan dapur. Itu pula yang dilakukan oleh Dewi Sartika dengan mengalakkan pendidikan di kalangan perempuan Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Gerakan perjuangan perempuan juga sangat marak di Indonesia. Banyak lembaga atau LSM perempuan yang aktif melakukan pembahasan dan turun ke lapangan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Namun, terkadang sebagian dari mereka jatuh ke dalam jurang paranoidisme dan radikalisme. Dengan berdalih emansipasi perempuan, perempuan dijauhkan dari identitas dan kedudukan yang sebenarnya. Semua aktivitas perempuan tersebut, meskipun dengan berbagai perbedaan prespektif dan sudut pandang, jelas berangkat dari kesadaran akan peran penting yang diemban oleh kaum Hawa. Jikalau hak, kewajiban, dan sepak terjang kaum perempuan yang merupakan separoh dari tubuh masyarakat ini tidak diindahkan, mungkinkah target yang akan dituju oleh sebuah negara akan berhasil dengan gemilang? Mungkinkah masyarakat religius dapat terwujud di tanah air kita tanpa mengikutsertakan peran perempuan?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan masyarakat religius? Secara umum yang dimaksud dengan masyarakat religius adalah masyarakat yang menjunjung norma-norma agama, berpegang teguh kepada ajaran agama dan dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-sehari dalam berinteraksi sesama anggota masyarakat. Setelah mengetahui secara umum pengertian masyarakat religius dan karakteristiknya, lantas apa peran perempuan, dan apa yang harus dilakukan sehingga dapat diwujudkan masyarakat religius yang ideal?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Bersambung…</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"> </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/127/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/127/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=127&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/16/peran-perempuan-dalam-membangun-masyarakat-religius-1-sebuah-pengantar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/06/bocah-bocah-berjilbab.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bocah-bocah-berjilbab.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wawancara dengan Aktifis dan Peneliti Masalah Perempuan di Iran (bag-2)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/11/wawancara-dengan-aktifis-dan-peneliti-masalah-perempuan-di-iran-bag-2/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/11/wawancara-dengan-aktifis-dan-peneliti-masalah-perempuan-di-iran-bag-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jun 2007 12:19:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/11/wawancara-dengan-aktifis-dan-peneliti-masalah-perempuan-di-iran-bag-2/</guid>
		<description><![CDATA[Fungsi minimal hijab ialah tidak mengizinkan kepada pihak lain untuk menikmati dirinya secara tidak sah dan ini akan membuat manusia selalu mencari kelezatan rasionalis. Mari kita lihat negara-negara Eropa yang tidak memiliki hijab dan lebih buka-bukaan, di sana kelezatan seks tidak lagi memiliki arti. Pada akhirnya timbullah kelompok homoseksual atau lesbi dan ini dikarenakan adanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=126&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Fungsi minimal hijab ialah tidak mengizinkan kepada pihak lain untuk menikmati dirinya secara tidak sah dan ini akan membuat manusia selalu mencari kelezatan rasionalis. Mari kita lihat negara-negara Eropa yang tidak memiliki hijab dan lebih buka-bukaan, di sana kelezatan seks tidak lagi memiliki arti. Pada akhirnya timbullah<span>  </span>kelompok homoseksual atau lesbi dan ini dikarenakan adanya overdosis dalam masalah seks. Karena bosan dengan lawan jenis, akhirnya<span>  </span>ingin mencoba sesama jenis. Inilah ciri khas kelezatan materi yang tidak akan pernah terpuaskan dan selalu menginginkan variasi, begitu juga<span>  </span>masalah seksual. Jika anda telah merasakan kelezatan sampai puncaknya maka anda akan menginginkan bentuk dan model lainnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> <span id="more-126"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;">Hijab; Hukum Sosial</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>Wawancara dengan Aktifis dan Peneliti Masalah Perempuan di Iran</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>R: Karena pokok pembahasan jurnal kali ini berkisar masalah hijab, pertanyaan saya adalah mengapa kita harus berhijab? Apakah tanpa hijab kita tidak bisa berpakain sopan dan baik?</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">FA: Secara umum, dalam masalah furu’uddin (masalah fikih) kita tidak diharuskan untuk bertanya ‘kenapa’. Tempat bertanya adalah dalam masalah ushuluddin (akidah). Kita harus meneliti dan bertanya terus tentang pokok-pokok dasar agama. Jika seseorang telah meneliti dan menerima ushuluddin, maka secara otomatis ia akan menerima furu’uddin dengan sepenuh hati tanpa menanyakan sebabnya. Tapi, bukan berarti bahwa pertanyaan tersebut sama sekali tidak terlintas dalam akal pikiran manusia sehinggga kita tidak boleh menjawabnya. Kita memiliki buku berjudul ‘Ilal as-Syara’i’ (sebab-sebab pensyariatan hukum) yang memuat pertanyaan masyarakat kepada para Imam tentang sebab-sebab sebuah hukum dan jawaban yang beliau berikan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> Sekaitan masalah hijab, secara umum, busana apapun dan di manapun pasti memiliki standar sendiri. Misalnya kenapa kita memakai baju tidur ketika hendak tidur, kenapa mengenakan pakaian formal ketika hendak bertamu. Jika semua hal ditanyakan standarnya apa, maka masalah yang lain pun tidak dapat dibela lagi. Oleh karena itu, kita memakai busana muslimah dengan alasan perintah Islam. Ada sebuah ungkapam Murthadha Muthahhari yang sangat menarik tentang hal. Beliau mengatakan: “Coba anda bayangkan dua masyarakat. Yang satu, orang-orang dan pergaulannya sangat bebas, sementara di dalam masyarakat satunya para perempuan mengenakan busana muslimah, para pria menghormati mereka dan menjalankan hukum-hukum Islam. Maka dalam masyarakat pertama, jika orang-orangnya menikah maka ia menjadi terpenjara dan tidak bebas. Karena para lelaki pada masyarakat tersebut dapat menikmati perempuan dengan leluasa tanpa harus melaksanakan pernikahan dan dibebani tanggung jawab. Namun pada masyarakat kedua, pernikahan merupakan harapan dan kebebasan, karena di hadapan pasangannya wanita dapat melepaskan hijabnya dan tidak terdapat larangan untuk melakukan hubungan apapun.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pada langkah pertama, hijab telah memberikan kebebasan dalam berprilaku kepada wanita. Yang jelas, ketika seorang perempuan berhijab maka ia dipandang bukan dari segi gendernya. Oleh karena itu, hijab sebagai penjaga, memudahkan dan mengeluarkan dirinya dari pandangan seksual. Ada sebuah ungkapan dari Imam Ali as yang menyatakan bahwa perempuan harus menjaga dirinya, karena jika perempuan menjaga dirinya maka ia akan aman dari berbagai gangguan. Dengan berhijab, bukan saja ia telah menjaga dirinya atau mengembangkan semua potensi yang dimilikinya dan berperan serta secara aktif, akan tetapi hijab sangat membantu pembangunan kondisi masyarakat, sebagiamana ciri khas keibuan perempuan sangat membantu perkembangan sebuah masyarakat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> Menurut saya, hijab sangat memberikan pengaruh pada perjalanan spiritual kaum perempuan, karena dalam ajaran Islam dikatakan bahwa jika seseorang mengontrol nafsu seksualnya maka sisi spiritual dan ruhaninya akan berkembang, karena hijab mampu mengontrol nafsu syahwani manusia. Pada setiap perempuan terdapat kecenderungan suka memamerkan diri dan menunjukkan kecantikannya. Sewaktu mengenakann hijab, berarti ia telah mengontrol diri dan keinginannya dan pada akhirnya akan menghasilkan kesempurnaan sejati dalam dirinya. Oleh karena itu, hijab memiliki berbagai pengaruh positif.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> Seandainya anda keluar dari pembahasan ini, ada satu hal yang tetap harus diperhatikan bahwa Islam membatasi kelezatan materi. Sedangkan dalam masalah kelezatan dan kesempurnaan spiritual tidak seperti itu. Tidak<span>  </span>hanya dalam masalah busana, tetapi dalam segala hal Islam tidak mengenal “sesuatu yang tanpa batas”. Fungsi minimal hijab ialah tidak mengizinkan kepada pihak lain untuk menikmati dirinya secara tidak sah dan ini akan membuat manusia selalu mencari kelezatan rasionalis. Mari kita lihat negara-negara Eropa yang tidak memiliki hijab dan lebih buka-bukaan, di sana kelezatan seks tidak lagi memiliki arti. Pada akhirnya timbullah<span>  </span>kelompok homoseksual atau lesbi dan ini dikarenakan adanya overdosis dalam masalah seks. Karena bosan dengan lawan jenis, akhirnya<span>  </span>ingin mencoba sesama jenis. Inilah ciri khas kelezatan materi yang tidak akan pernah terpuaskan dan selalu menginginkan variasi, begitu juga<span>  </span>masalah seksual. Jika anda telah merasakan kelezatan sampai puncaknya maka anda akan menginginkan bentuk dan model lainnya. Misalnya saja, anda sekarang makan sejenis makanan, besok anda makan lagi, besoknya lagi…sampai seminggu anda nanti tidak akan sanggup lagi memakannya. Karena selera materi itu memang menuntut variasi. Begitu juga selera seksual. Ketika anda secara gila-gilaan memenuhinya maka ia tidak akan terpuaskan lagi dengan cara yang ada.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Islam tidak hanya memiliki hijab tetapi dalam Islam ada sebuah pohon iffah yang salah satu cabangnya adalah hijab. Ada cabang lain seperti menjaga pandangan mata, hubungan antara pria dan wanita, ikhtilath antara pria dan wanita serta cabang-cabang lainnya. Ada cabang yang khusus membahas hubungan antara pria dan wanita dari sisi ahkam dan akhlak sehingga dalam masalah insting, mereka selalu berjalan dalam jalur yang seimbang. Sekarang anda bisa lihat berbagai media informasi menyajikan masalah seksual sehingga saat ini cara-cara alami hubungan seksual tidak lagi memuaskan masyarakat umum. Coba anda bayangkan jika di dunia tidak ada pornografi, tidak ada media informasi yang demikian, tidak ada pornoaksi dari internet, maka masyarakat akan menjalani kehidupannya dengan alami. Kondisi yang ada sekarang membuat masyarakat terpaksa menghancurkan batas keseimbangannya dalam masalah seksual. Ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan Islam secara umum dalam masalah iffah merupakan pengontrol yang sangat baik dan memberikan kenyamanan kepada manusia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> Sekarang, apakah sebenarnya pengaruh hijab? Misalnya sekarang hijab kita hilangkan, lalu kita harus berlandaskan pada apa? Norma apa? Aturan apa? Yang satu mengatakan, batasan pakaian adalah ini. Jika undang-undang dan pemerintah membuat hukum yang mewajibkan wanita menutupi seluruh tubuhnya kecuali kepala, maka undang-undang itu juga bisa menetapkan agar wanita menutupi kepalanya. Bagaimana bisa undang-undang pertama diterima dan undang-undang kedua tidak? Atau jika pemerintah yang memberi batasan, maka bisa saja pemerintah mengeluarkan hukum yang melarang mengenakan pakaian.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> <strong>R: Sebagain wanita berkata bahwa mereka tidak mau mengenakan hijab, tetapi hati dan ruh mereka sangat baik dan shaleh. Apa pendapat anda dalam hal ini?</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> FA: Bisa saja. Wanita yang tidak berhijab tidak berarti bahwa ia adalah wanita yang buruk. Tapi harus diingat bahwa masalah hijab adalah masalah agama yang tidak ada hubungannya dengan hati. Hijab adalah sebuah hukum luar dan tak ada hubungannya dengan hati. Apa yang dikatakan sebagian orang bahwa hati mereka baik dan berkaitan dengan iffah bathin seperti takwa, kesabaran dan lainnya, ini memiliki tempat tersendiri. Bukan berarti bahwa ketika seseorang memakai hijab tapi hatinya buruk tetapi ia bisa disebut sebagai individu yang baik. Ia dinilai baik hanya karena hijabnya, jika ia berhijab dan batinnya buruk maka ia juga tengah berbuat dosa. Hijab adalah sebuah hukum sosial. Setiap wanita yang ingin keluar rumah, setiap wanita yang baik, hendaknya memperhatikan aturan hijab. Anda bisa sebutkan 30, 10 atau 2 saja manfaat hijab yang tidak dimiliki oleh iffah kalbu. Misalkan saja, dari sisi kalbu saya adalah orang baik, tetapi ketika keluar rumah saya berhias dan tidak memakai hijab maka saya akan memiliki pengaruh dalam masyarakat, sama dengan seseorang yang melakukan perbuatan seperti saya dan hatinya juga buruk. Yakni dari sisi luar, keduanya tidak ada bedanya. Tidak akan ada yang berkata: Karena hatimu baik, maka aku tidak akan tertarik secara seksual kepadamu. Tidak ada yang bisa melihat hati kita ketika kita berada dalam masyarakat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> <strong>R: Sebagian kalangan di negara kami, Indonesia, menginginkan dibentuknya negara Islam. Tapi sebagian lagi ketakutan karena mereka harus memakai hijab nantinya, hukum had harus dilaksanakan dan sebagainya. Menurut anda, apakah ketakutan mereka ini logis? Dan jika negara Islam ini terbentuk, apakah peranan mereka? Apakah hijab, hukum had dan lainnya harus dilaksanakan?</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> FA: Tentu saja. Negara Islam dibentuk agar hukum-hukum dan syiar-syiar Islam terlaksana. Dari Mekkah, Rasulullah saww datang ke Madinah supaya syiar-syiar Islam bisa terlaksana. Ketika muslimin diperintahkan untuk menunaikan shalat Jum’at maka muslimin bisa melaksanakannya. Ketika muslimin diperintahkan untuk bermuamalah dengan adil maka orang-orang yang tidak berbuat adil dapat diadili dan dihukum sesuai dengan perbuatannya. Ketika muslimin dilarang berzina, maka saat ada yang berzina mereka dapat dihukum. Pemerintahan islami memang berdiri untuk mengurusi masalah-masalah sosial. Oleh karena itu, tidak ada artinya jika pemerintahan islami terbentuk tetapi syiar-syiar Islam tidak diperhatikan karena ini berarti kemandekan ahkam Islam. Kita bisa melihat beberapa negara Islam, dengan pemerintahan Islam, tetapi tidak ada bekas islami sedikitpun di dalamnya. Pelacuran tetap ada, atau setiap orang yang mau berbuat dosa apa saja bisa melakukannya. Lalu apa gunanya pemerintahan islami seperti ini? Jika pemerintahan islami tidak ada apa yang akan terjadi? Masyarakat harus melaksanakan shalat, mereka dapat melaksanakannya di rumah, mereka harus berpuasa, mereka pun berpuasa, lalu bagaimana dengan masalah-masalah penting lainnya?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ketika anda menanyakan Sunni dan Syiah tentang ahkam mereka maka mereka akan menunjukkan ahkamnya dari mulai taharah sampai qisash dan seandainya<span>  </span>mereka tidak mengakui bahwa 2/3 dari ahkam berkaitan dengan masalah sosisal politik maka paling tidak ½ nya berkaitan dengan masalah sosial politik. Lalu 50 % ahkam yang bersifat sosial politik ini, akan ditegakkan oleh siapa? Tentu saja ini adalah tugas pemerintah Islam, jika tidak dilaksanakan berarti pemerintahan itu bukan pemerintahan islami dan pada akhirnya separuh dari ahkam agama akan libur. Dan ini tidak ada artinya sama sekali.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> Namun perlu diingat, dalam penetapan hal-hal yang berkaitan dengan masalah islami dan jika kita ingin menyusun rencana yang berkaitan dengan pemerintahan dan masalah sosial, maka kita harus berjalan di jalur yang terkecil. Misalnya, ketika pemerintah ingin mewajibkan dipakainya hijab dalam masyarakat maka tidak perlu pemerintah mewajibkan cadur (kain hitam panjang yang menutupi seluruh tubuh wanita, kecuali wajah, yang biasa dipakai wanita Iran). Tapi pemerintah harus mewajibkan batasan terkecil hijab. Yakni undang-undang yang dibuat meliputi batasan terkecil hijab. Dalam undang-undang ini warna tidak boleh ditentukan harus warna apa, harus model seperti apa, atau harus memakai penutup wajah. Batasan terkecil hijab adalah batasan yang telah ditetapkan oleh Qur’an yaitu wanita harus menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Tentu saja wanita juga tidak boleh berhias, misalnya memakai pakaian yang menarik perhatian, ketat dan merangsang…Inilah batasannya. Lainnya bebas. Apalagi kebiasaan di setiap negara berbeda-beda. Misalnya di Afrika, memakai pakaian putih tidak menarik perhatian sedang di negara lain mungkin menarik perhatian. Ini tergantung urf masyarakat. Batasan terkecil yang harus dijaga. Untuk hijab yang lebih sempurna (seperti cadur) harus dilakukan proses budaya sebagaimana yang kami lakukan di negara kami dan undang-undang kami juga demikian (memperhatikan batasan hijab terkecil). Kami menyatakan bahwa cadur adalah hijab terbaik bagi mereka yang ingin lebih teliti memperhatikan masalah hijab. Tapi siapa yang harus menyatakan ini? Undang-undang? Tidak, budaya yang harus melakukannya, atau media massa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> Syahid Mutahhari mengatakan bahwa batasan terkecil hijab tidak akan merugikan siapa pun, tidak akan mengganggu aktivitas wanita sedikitpun. Sebagai bukti adalah para wanita Iran. Anda telah<span>  </span>menyaksikan bahwa sejak revolusi, wanita hadir dalam berbagai aktivitas sosial. Dengan hijab kami memahami apa itu aktivitas sosial yang aktif dan berpengaruh, menuntut ilmu, bekerja, beraktivitas dan mealksanakan kegiatan politik dan sosial lainnya. Kami sama sekali tidak merasa terbatas. Mereka yang menyebut hijab sebagai pembatas, menurut saya, itu karena mereka belum mencobanya. Kalaupun jalan terasa sedikit menyempit, itu dikarenakan kelaziman dari setiap aturan. Misalnya anda membuat aturan di kantor ini bahwa orang harus datang pukul 7 dan baru boleh pulang setelah Zhuhur. Ini akan memberikan sedikit pembatasan. Ini adalah salah satu karakter hukum atau aturan yang tidak bisa dihindari.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> Coba anda lihat seorang wanita Iran yang berhijab, misalnya yang bercadur seperti saya, dan bandingkan dengan seorang wanita Eropa yang benar-benar bebas, atau seorang wanita Indonesia yang benar-benar bebas. Apa beda di antara kami? Apa yang mereka lakukan juga saya lakukan. Mereka mengajar, saya juga mengajar, saya juga melakukan berbagai aktivitas lainnya, menyetir, menghadiri pertemuan politik dan internasional, berbicara, berani, kuat…semua ada. Lalu bahaya apa yang ditimbulkan hijab<span>  </span>dalam hal aktivitas kemanusiaan saya? Yang ada hanyalah bahwa saya tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk memanfaatkan tubuh saya. Hanya dalam hal ini hijab menyebabkan keterbatasan. Oleh karena itu, perang menentang hijab pada dasarnya adalah perang politik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> <strong>R: Karena Anda sudah mengungkapkan sedikit, bukankah dalam agama kita memiliki ayat yang berbunyi Lakum diinukum waliyadiin. Tetapi menga di Iran—sebagai negara Islam—tetap mewajibkan mereka yang beragama Yahudi, Nasrani atau Zoroaster untuk memakai hijab? Apa sebabnya?</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> FA: Tidak…Ayat yang anda sebut itu tidak turun di Madinah. Ayat itu turun di Mekkah ketika para kafir dan musyrik menyiksa serta mengganggu kaum muslimin dan Rasulullah. Tapi Rasulullah mengabaikan gangguan mereka. Rasulullah bersabda kepada kaum kafir: Agama kamu untuk kamu dan agama kami untuk kami. Di sini agama bukan berarti agama sosial tetapi apa-apa yang kamu yakini untuk kamu, menyembah berhala untuk kamu dan keyakinan kami untuk kami. Jangan saling mencampuri urusan orang lain. Merekalah yang mengganggu Rasulullah. Rasulullah sama sekali tidak mengganggu mereka. Maka Rasulullah bersabda: Setidaknya, biarkan kami mengatur urusan kami.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> Berbeda setelah Rasulullah datang ke Madinah. Di dalam Islam terdapat sebuah mekanisme ynag bernama jaziah atau pajak islami. Rasulullah bersabda: Kalian tidak menolong kami karena kalian bukan muslim, kalian tidak ikut perang. Sedangkan kami kaum muslim pergi berperang, kami terbunuh sedang kami melindungi kalian, dan kalian menikmati berbagai aspek dari pemerintahan Islami. Maka kalian harus membayar pajak kepada kami dan kalian harus bergerak sesuai aturan kami—aturan utama pemerintahan—kami tidak akan campur tangan dalam urusan kalian dan bahkan kami bersedia membela kalian. Yakni ketika Yahudi dan Nasrani ingin menetap (dalam pemerintahan Islami) muslimin tidak boleh memaksa mereka sekalipun. Rasulullah melangkah dengan logis. Beliau bersabda: Ada satu kata yang sama di antara kita yaitu Tauhid, maka dengan bersandar pada satu kata ini mari sama-sama kita bangun sebuah masyarakat. Dan pada saat itu, hijab bukanlah sebuah masalah karena kebetulan Yahudi dan Nasrani sendiri memiliki hijab. Malah Arab sebelumnya tidak punya hijab. Jika anda tilik dalam sejarah mengapa Rasulullah tidak ada kontak (masalah) dengan mereka dalam masalah hijab, itu disebabkan karena mereka memang punya hijab. Oleh karena itu tidak ada masalah tentang hijab dengan mereka. Namun dalam hal lain, mereka harus menghormati kaum muslim karena mereka hidup dalam pemerintahan Islam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> Dalam pemerintahan kami, kami juga memiliki peraturan sosial. Bukan hanya dalam masalah hijab, tetapi juga dalam aturan sosial lainnya. Misalnya, keharaman riba dan sogok adalah aturan Islam. Mereka juga harus mengamalkannya. Jika mereka melakukan kedua hal ini maka mereja akan dihukum. Kita juga punya hukum keharaman makan di siang Ramadhan. Ini adalah sebuah hukum sosial Islami. Tapi seorang Yahudi juga harus mengamalkannya di bulan Ramadhan. Demikian juga tentang hijab. Tidak ada bedanya. Karena mereka berada dalam negara Islam sedangkan hukum yang dibuat adalah untuk seluruh warga negara<span>  </span>maka mereka juga harus mengikuti aturan yang ada.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> <strong>R: Lalu mengapa Iran membela wanita Jerman yang dilarang berhijab di negaranya, bukankah Iran sendiri meyakini bahwa setiap warga negara harus mengikuti peraturan yang ada di dalamnya?</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> FA: Ya…Begini, ada dua jenis pemerintahan. Ada pemerintahan sekluer, yaitu pemisahan antara agama dan negara. Pemerintahan Sekuler tidak menentang agama tetapi tidak memerintah sesuai agama. Mereka memiliki asas pemerintahan bernama liberalisme dan salah satu mishdaq liberalis adalah kebebasan. Sedangkan salah satu bentuk kebebasan adalah kebebasan dalam memilih agama. Mereka sendiri yang mengatakan demikian. Maka berdasarkan hal ini, mereka tidak berhak mencegah seorang wanita muslim memakai hijab. Karena ini adalah asas pemerintahan mereka. Sedangkan kami apa? Kami adalah pemerintahan Islami. Sejak awal kami tidak menyebutkan pemerintahan sekuler. Kami menyatakan bahwa kami islami yakni kami akan berjalan sesuai aturan Islam. Kami telah menyatakannya dari awal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> Jadi mereka sebenarnya sedang mempolitikkan masalah hijab. Selain itu, ketika kami mengatakan bahwa selain muslim juga harus memperhatikan hijab di negara kami, di dalam agama mereka tidak behijab bukanlah sebuah kewajiban. Tidak berhijab bukanlah masalah agama bagi mereka, bukan termasuk ajaran agama mereka sehingga dengan aturan kita tadi, kita dinilai merenggut kebebasan beragama mereka. Tetapi ketika di sebuah negara Eropa dikatakan kepada seorang wanita muslim untuk tidak berhijab, maka sebenarnya kebebasan agamanya sedang direnggut. Jadi sungguh sangat berbeda antara kami yang mengatakan: Anda harus berhijab sedangkan tidak berhijab bukanlah sebuah kewajiban dalam agama anda, dengan mereka yang mengatakan kepada wanita muslim untuk tidak berhijab.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> <strong>R: Menurut anda, apakah hubungan antara hijab dan mode? Apakah jika kita berhijab berarti kita akan terhalang dari mode? Karena gadis-gadis remaja sangat memperhatikan mode. </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> FA: Saya tidak punya pendapat yang pasti dalam hal ini. Dalam masalah pakaian, gerakan, hijab, dan masalah wanita, al-Qur’an menyebutkan: Jangan bertabarruj. Tabarruj berasal dari kata buruj yaitu bintang. Yaitu jangan sampai kita berprilaku atau berpakaian seolah-olah kita adalah bintang yang bercahaya. Yaitu tidak berpenampilan berlebih-lebihan dan berkaitan dengan masalah seksual.<span>  </span>Ini standartnya. Mungkin saja seseorang yang rapi menarik perhatian tetapi masyarakat tidak memandangnya dengan pandangan seksual. Misalnya disebutkan bahwa si fulanah sangat menarik perhatian karena ia sangat jujur. Apakah karena sangat menarik perhatian maka ia tidak boleh jujur? Tidak. Tapi yang dimaksud adalah bahwa dari<span>  </span>sisi seksual wanita tidak boleh menjadi pusat<span>  </span>perhatian, ia tidak boleh mengirimkan signal seksual. Ini adalah platformnya. Jika dari sisi seksual, mode tidak menarik perhatian, tidak menimbulkan mafsadah maka tidak ada masalah. Misalnya, dalam Kementrian Dalam Negri kami, telah dirancang model pakaian yang keren dan rapi. Dan sampai sekarang tidak ada yang berkata bahwa: Pakaian ini sangat merangsang. Pakaian ini rapi dan memperhatikan mode tetapi tidak memuat pengaruh yang saya sebut tadi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Saya ingatkan juga bahwa adat dan kebiasaan pakaian di berbagai negara berbeda-beda. Msialnya, memakai pakaian warna-warni di sebuah negara adalah sebuah urf (kebiasaan) dan jika wanita berhijab memakainya tidak ada masalah. Tetapi mungkin saja di negara lain tidak begitu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> <strong>R: Jadi standart menarik perhatian di sini adalah ketertarikan seksual. Ini yang sangat ditekankan dalam hal ini?</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">FA: Benar. Hijab sebenarnya untuk menutupi keindahan, jika hijabnya sendiri sudah sangat indah maka akan bertentangan dengan falsafah hijab.[<a href="http://islamalternatif.net" title="islam feminis" target="_blank">islamalternatif</a>]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/126/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/126/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/126/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=126&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/11/wawancara-dengan-aktifis-dan-peneliti-masalah-perempuan-di-iran-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wawancara dengan Aktifis dan Peneliti Masalah Perempuan di Iran (bag-1)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/09/wawancara-dengan-aktifis-dan-peneliti-masalah-perempuan-di-iran-bag-1/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/09/wawancara-dengan-aktifis-dan-peneliti-masalah-perempuan-di-iran-bag-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jun 2007 10:06:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/09/wawancara-dengan-aktifis-dan-peneliti-masalah-perempuan-di-iran-bag-1/</guid>
		<description><![CDATA[Pengetahuan masyarakat dunia tentang perempuan muslim sangat minim sekali. Bahkan dapat dikatakan pengetahuan mereka hanya sebatas tentang perempuan Arab, dan hak-hak wanita dalam fikih Ahli Sunnah. Sementara mereka tidak tahu tentang hak-hak perempuan di negara Islam lainnya khususnya di Iran. Bisa dikatakan bahwa pengetahuan mereka tentang hak-hak wanita dalam persfektif Syi’ah adalah nol. Contohnya ketika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=125&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;                                                    --><!--[if !vml]-->Pengetahuan masyarakat dunia tentang perempuan muslim sangat minim sekali. Bahkan dapat dikatakan pengetahuan mereka<span>  </span>hanya sebatas tentang perempuan Arab, dan hak-hak wanita dalam fikih Ahli Sunnah. Sementara mereka tidak tahu tentang hak-hak perempuan di negara Islam lainnya khususnya di Iran. Bisa dikatakan bahwa pengetahuan mereka tentang hak-hak wanita dalam persfektif Syi’ah adalah nol. Contohnya ketika kami mendatangi pusat penelitian di dua universitas California yang begitu besar, kami hanya menemukan sumber seputar hak-hak wanita dalam persfektif Sunni. Tidak ada satu pun sumber yang mengulas tentang hak-hak perempuan dalam perspektif Syi’ah. Itulah sebabnya mengapa mereka tidak dapat mengenal kondisi seluruh wanita yang berada di negara Islam khususnya di Iran yang bermazhabkan Syi’ah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-125"></span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>Kondisi Perempuan Iran secara Umum </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>Wawancara dengan Aktifis dan Peneliti Masalah Perempuan di Iran </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Wawancara ini dilaksanakan pada hari Kamis, 20 April 2007 di kantor beliau. Beliau adalah aktifis dan peniliti masalah perempuan di Iran yang sering dikirim ke luar negri untuk menghadiri berbagai konfrensi internasional tentang perempuan. Kalimat dalam kurung adalah tambahan Redaksi Jurnal Fathimiah (Lembaga Otonomi Fathimiyah (LOF), Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) &#8211; Iran .red). Berikut ini petikan wawancara Tim Redaksi Fathimiyah (Euis Daryati, Novita Tri Andari dan Rabiah Adawiyah) dengan beliau:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Redaksi Fathimiah (R): </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Sebelumnya kami ucapkan terima kasih atas waktu yang telah Anda berikan kepada kami. Silahkan perkenalkan diri dan aktifitas anda.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ibu Faribo Alaswand (FA):</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Nama saya Faribo Alaswand. Saya telah belajar selama lebih kurang 25 tahun di hauzah. Selain belajar, saya juga mengajar di berbagai dispilin ilmu seperti: Filsafat, Fikih, Ushul dan Sastra Arab di hauzah dan berbagai universitas. Saya telah beraktifitas dalam masalah perempuan selama kurang lebih 12 tahun dan sekarang saya adalah anggota kelompok peneliti di Lembaga Pusat Penelitian Masalah Perempuan (Markaz-e Mutaleat-e Zanan) yang berhaluan Islam. Saya juga merupakan salah satu wakil di Dewan Permusyawaratan Kebudayaan Wanita yang berskala nasional dan berpusat di kota Teheran.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>R: Apakah anda memiliki karya tulis? Jika ada, tolong jelaskan kepada kami.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">FA: Saya telah menulis empat buku di antaranya berjudul: Perempuan dalam Sirah Nabi saww (Zan dar Sire-ye Peyombar-e A’zam saww), Perempuan dalam Timbangan Hak dan Tugas (Zanon dar Mawazen-e Hak va Taklif) dan lainnya. Saya juga telah menulis empat puluh artikel yang berkaitan dengan masalah perempuan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>R: Kami dengar Anda sering pergi ke luar negeri untuk menghadiri berbagai konfrensi, baik sebagai pemakalah ataupun hanya sebagai undangan. Dapatkah anda menjelaskannya<span>  </span>kepada kami?</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">FA: Saya telah mengadakan perjalanan ke luar negeri seperti Swiss, Amerika,  Austria, Turki dan Libanon. Sebagian event tersebut berkaitan dengan propaganda kebudayaan. Di antaranya<span>  </span>Konfrensi 8 negara Islam di Turki, dalam rangka mengkritisi ‘Proyek Timur Tengah Besar’ gagasan Amerika. Kemudian Konfrensi Perempuan Negara-negara Islam yang diselenggarakan di Turki dalam rangka mengutarakan berbagai solusi untuk peran aktif perempuan muslim dalam berbagai bidang sosial, budaya, politik serta berbagai problem yang akan dihadapinya. Iran juga mengirimkan rombongan resmi dan ikut serta menyampaikan makalah yang berkaitan dengan kekerasan terhadap perempuan, diskriminasi, karier dan masalah lainnya. Selanjutnya, kami diundang secara resmi untuk menghadiri konfrensi ‘Komisi Kedudukan Wanita’ yang berpusat di Amerika pada bulan Maret tahun 2007 Masehi. Tapi, kami tidak bisa menghadiri konfrensi tersebut karena pemerintah Amerika tidak memberikan visa kepada kami. Kami juga telah mengadakan perjalanan ke Swiss dan mengadakan aktifitas selama 8 hari di sana.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>R: Sewaktu Anda atau duta Iran menghadiri berbagai event tersebut, bagaimana reaksi negara-negara lain khususnya negara-negara Eropa terhadap Iran?</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">FA: Sambutan mereka cukup bagus dan kami pun berusaha agar kehadiran kami dalam konfrensi internasional seperti itu adalah kehadiran yang aktif bukan fasif. Sayangnya, prilaku salah beberapa negara Islam terhadap perempuan dan berita-berita tentang hal itu, juga film-film yang diputar tentang kekerasan terhadap perempuan telah menimbulkan kebencian, emosional dan citra buruk terhadap para perempuan muslim. Namun, secara umum dapat dikatakan bahwa berbagai negara mengakui bahwa perempuan Iran adalah para perempuan yang sukses. Padahal mereka telah mengahadapi berbagai propaganda anti perempuan muslim, khususnya perempuan Iran.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Gambaran mereka terhadap perempuan muslim Iran, khususnya pasca revolusi, adalah perempuan yang berwibawa dan sukses dengan berbagai perannya dalam masyarakat. Negara-negara Islam lainnya baik yang berada di kawasan Timur-Tengah maupun Afrika memandang positif terhadap perempuan Iran, meskipun perempuan Iran juga menghadapi berbagai kendala. Dan ini merupakan hal yang tidak disukai oleh Amerika. Sebagai negara Islam,  Iran telah menjadi contoh untuk negara-negara Islam lain, khususnya dalam masalah perempuan. Kami berusaha mengetahui secara terperinci data statistik kondisi perempuan Iran, karena bahasa dunia sekarang adalah data statistik dan kita harus berdialog dengan<span>  </span>bahasa tersebut untuk melawan berbagai propaganda anti Iran.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pengetahuan masyarakat dunia tentang perempuan muslim sangat minim sekali. Bahkan dapat dikatakan pengetahuan mereka<span>  </span>hanya sebatas tentang perempuan Arab, dan hak-hak wanita dalam fikih Ahli Sunnah. Sementara mereka tidak tahu tentang hak-hak perempuan di negara Islam lainnya khususnya di Iran. Bisa dikatakan bahwa pengetahuan mereka tentang hak-hak wanita dalam persfektif Syi’ah adalah nol. Contohnya ketika kami mendatangi pusat penelitian di dua universitas California yang begitu besar, kami hanya menemukan sumber seputar hak-hak wanita dalam persfektif Sunni. Tidak ada satu pun sumber yang mengulas tentang hak-hak perempuan dalam perspektif Syi’ah. Itulah sebabnya mengapa mereka tidak dapat mengenal kondisi seluruh wanita yang berada di negara Islam khususnya di Iran yang bermazhabkan Syi’ah. Ketika saya menerangkan tentang kedudukan perempuan dalam persfektif Islam yang sebenarnya, mereka sangat kagum sekali (tidak ada kata-kata lain lagi yang dapat saya gunakan untuk menggambarkannya). Ketika saya pun menjadi pemakalah di hadapan para pendeta (8-10 orang) yang dilaksanakan di Austria dengan topik ‘Bunda Maryam dalam Persfektif Al-Qur’an’, mereka sangat kagum saat mengetahui pandangan al-Qur’an berkenaan dengan pribadi Bunda Maryam sebagai dirinya sendiri (bukan karena beliau sebagai ibu Nabi Isa al-Masih) dan masalah ini merupakan masalah yang baru bagi mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Namun yang jelas, usaha untuk mengubah opini dunia terhadap perempuan muslim tidak dapat dilakukan Iran sendirian, tetapi Iran harus bekerjasama dengan negara-negara lainnya dan kami sedang melakukannya saat ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>R: Sebagai aktifis dan peneliti dalam masalah perempuan di Iran, dapatkah anda jelaskan kepada kami tentang kondisi perempuan Iran secara umum?</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">FA: Kami tidak mengatakan bahwa secara keseluruhan kondisi perempuan Iran sangat ideal. Saya pikir, 28 tahun pasca revolusi bukanlah waktu yang cukup untuk mengadakan perombakan dalam berbagai bidang khususnya masalah perempuan. Jadi, rentang waktu ini adalah awal perjalanan kami. Tetapi, setelah saya mengadakan berbagai perjalanan ke Timur Tengah, Eropa dan Amerika dapat saya katakan bahwa kondisi perempuan Iran dalam berbagai segi lebih baik ketimbang negara lainnya. Maksudnya, masalah pertama yang memandang wanita hanya dari sisi gendernya tidak begitu parah di Iran.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Jika anda mengadakan perjalanan ke seluruh dunia maka anda akan lihat bahwa kondisi perempuan sangat menyedihkan. Mereka bahkan tidak mempunyai hak untuk memiliki dirinya sendiri. Sekarang kita bisa melihat bahwa bisnis terbesar dunia ialah bisnis perempuan (pornografi) dan ini merupakan menunjukkan bahwa perempuan tidak dapat memiliki dirinya sendiri. Tetapi perempuan muslim dapat memiliki dirinya sendirinya. Jika mereka mengatakan bahwa jilbab atau busana muslimah adalah perwujudan patriarki, menurut saya justru sebaliknya, buka-bukaan merupakan perwujudan patriarki. Pornografi dan seks merupakan perwujudan dunia patriarki, karena dengan buka-bukaan wanita telah membiarkan tubuhnya dinikmati para lelaki hidung belang. Sementara dengan busana muslimah yang dikenakannya, perempuan muslim telah memploklamirkan bahwa jiwanya adalah milik dirinya sendiri. Jilbab merupakan langkah pertama para perempuan muslim agar dapat mengembangkan segala profesionalisme dan potensi insani yang ada pada dirinya dan ia tidak dilihat dari sisi gendernya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Perempuan Iran tidak menyibukkan diri dengan riasan, mode sebagai tujuan hidupnya. Ia telah mendapat kesuksesan dalam berbagai bidang. Tingkat pendidikan perempuan Iran di universitas sangat maju pesat, sehingga tidak ada satu negarapun yang dapat menyainginya. Hingga kini 50% para pelajar yang diterima di berbagai universitas adalah perempuan. Sepengetahuan saya, pasca revolusi, hampir setiap tahun ditetapkan undang-undang resmi yang membela dan menguntungkan perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa nagara kami sangat memperhatikan masalah perempuan. Mungkin saja partisipasi perempuan di MPR tidak sebanyak di negara lain, namun mereka memiliki pengaruh yang sangat besar di dalamnya. Setiap kantor kementrian memiliki kantor khusus tentang perempuan, yakni pada setiap kementrian harus didirikan sebuah lembaga yang bertugas menyelesaikan berbagai masalah perempuan dalam kementrian tersebut. Mungkin sebagian masalah yang diutamakan misalnya perempuan yang menjadi kepala rumah tangga(ditinggal mati atau cerai). Namun secara umum dapat dikatakan bahwa kondisi perempuan Iran sangat positif. Undang-undang tersebut disosialisasikan dan dijalankan dan mungkin saja terdapat undang-undang yang belum terlaksana.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bersambung&#8230;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/125/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/125/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/125/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=125&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/09/wawancara-dengan-aktifis-dan-peneliti-masalah-perempuan-di-iran-bag-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wow Hebat Sekali&#8230;! Al-Qur&#8217;an Berjalan</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/07/wow-hebat-sekali-al-quran-berjalan/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/07/wow-hebat-sekali-al-quran-berjalan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jun 2007 09:04:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/07/wow-hebat-sekali-al-quran-berjalan/</guid>
		<description><![CDATA[Laki-laki bertanya; “Apakah anda jin atau manusia?”. Ia menjawab: “Ya bani Adam khuzduu zinatakum”; “ Hai anak Adam, pakailah pakainmu yang indah”. [al-A’raf: 31] Maksudnya, ia adalah manusia. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Wow Hebat Sekali…! Al-Qur’an Berjalan Masih ingatkah akan sejarah hidup pembantu putri Rasulullah saww Sy. Fathimah Zahra as? Mungkin anda jarang sekali menemukan buku sejarah tentangnya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=118&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"> <a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/06/ya-fathimah-zahra.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/06/ya-fathimah-zahra.thumbnail.jpg?w=500" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Laki-laki bertanya; “Apakah anda jin atau manusia?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Ia menjawab: “<strong><em>Ya <u>bani Adam</u> khuzduu zinatakum</em></strong>”; “<span>  </span>Hai <u>anak Adam</u>, pakailah pakainmu yang indah”. [al-A’raf: 31] Maksudnya, ia adalah manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span id="more-118"></span><strong><span><br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span>Wow Hebat Sekali…! Al-Qur’an Berjalan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Masih ingatkah akan sejarah hidup pembantu putri Rasulullah saww Sy. Fathimah Zahra as? Mungkin anda jarang sekali menemukan buku<span>  </span>sejarah tentangnya. Ia seorang pembantu,<span>  </span>namun bukan sembarang pembantu. Ia menjadi pembantu di rumah wanita termulia dan teragung. Siapakah dia, dan apa kelebihannya sehingga kita layak untuk mengenalnya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dialah Fidhah Hindi. Ia berasal dari Negara India. Ia datang ke kota Madinah pada zaman Rasulullah saww masih hidup. Dimana statusnya pada saat itu ialah sebagai budak perempuan. Adapun mengenai sebab kedatangannya ke Madinah terdapat perbedaan pendapat dalam berbagai sumber sejarah. Sebagian mengatakan bahwa Fidhah merupakan putri raja India. Akan tetapi tidak ada seorang pun yang mengetahui secara jelas mengenai kedatangannya ke Madinah. Karena, pasukan Islam pada saat itu belum pernah memasuki wilayah India. Karena wilayah tersebut baru ditaklukan pada zaman Abdul Malik bin Marwan. [Biharul-Anwar jilid 41 halaman 272 dinukil dari Cesyme dar Bastar halaman 314]<span>  </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sementara dalam sumber lain dijelaskan tentang beberapa kemungkinan, di antaranya; Kemungkinan pertama, Raja Najasyi berperang dengan kerajaan India dan akhirnya Fidhah Hindi ditawan, lalu raja Najasyi menghadiahkannya kepada Rasulullah saww. Kemungkinan kedua, Raja Romawi telah memberikan berbagai hadiah kepada Rasulullah, di antaranya ialah menghadiahkan Fidhah Hindi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kemungkinan ketiga, karena cahaya Islam telah terpancar dalam hatinya akhirnya ia membiarkan dirinya tertawan agar dapat sampai ke Negara pusatnya Islam…hanya Allahlah yang mengetahui yang sebenarnya. [Riyahanu asy-Syari’ah jilid 2 halaman 320 <span> </span>dinukil dari Cesyme dar Bastar halaman 314] itulah kemungkinan-kemungkinan yang menyebabkan Fidhah Hindi sampai di kota Madinah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sempat terbesit dalam hati Fidhah mengharapkan kematian, karena seringnya mendengar berbagai cerita kekejaman para majikan kepada para budak. Fidhah Hindi akan pergi menuju rumah majikan barunya<span>  </span>yaitu Sy. Fathimah Zahra as. Dalam perjalanan menuju rumah majikannya, Fidhah menangis karena teringat akan kasih sayang, kelembutan, belaian dan pelukan hangat ibunya. Namun akhirnya, ia pun pasrah atas nasib yang telah menimpanya. Fidhah terus larut dalam lamunannya, sampai akhirnya tiba-tiba ia mendengar seseorang memberikan salam kepadanya. Tidak salah mendengarkah saya? Apaka ada orang yang memberikan salam kepada seorang budak. Ternyata ia tidak salah mendengar, kembali ia mendengar sambutan hangat yang telah memberikan salam kepadanya, seraya berkata: “Assalamualaikum, saya adalah Fathimah. Selamat datang di rumah barumu!”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kemudian Sy. Fatimah Zahra membawa masuk ke dalam rumah dan mempersilahkannya<span>  </span>duduk. Setelah itu, lantas beliau menyuguhi ia dengan segala hidangan yang terdapat di dalam rumah. Seusai menyaksikan sambutan hangat majikan barunya, pikiran buruk yang telah terbesit dalam pikiran Fidhah pun hilang dari ingatannya. Ia telah datang di rumah wanita termulia dan penghulu para wanita sebagaimana yang telah dijelaskan dalam berbagai riwayat, yang telah memperlakukan pembantu dengan sebaik-baiknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Fidhah Hindi sangat terkesima sewaktu menyaksikan wajah suci dan menarik Fathimah Zahra. Ia kembali larut dalam lamunannya: “Betapa bercahaya perempuan ini. Betapa berkharisma perempuan ini. Walaupun ia calon majikanku, namun ia pun sangat baik dan hangat dalam menyambutku…sepertinya aku telah mengenalnya”. Tiba-tiba Fidhah merasakan tangan majikannya telah memegang tanggannya dengan lembut, seraya berkata: “Janganlah sungkan di rumah barumu! Anggaplah aku sebagai saudarimu! Engkau pasti lelah. Oleh karena itu, istirahatlah dulu untuk beberapa hari. Setelah itu, baru kita bergantian dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Ketika giliran saya yang mengerjakan pekerjaan rumah, engkau harus beristirahat. Dan sebaliknya, ketika giliranmu tiba, engkau yang bekerja dan saya akan beribadah”. <span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Untuk pertama kali dalam hidupnya, Fidhah melihat seorang majikan yang membagi pekerjaan dengan seorang pembantu secara adil. Memberi makan pembantu sama dengan makanannya sendiri . Setiap malam, ia mendengar munajat doa dan tangisan Fathimah Zahra a, yang sedang bermunajat dengan Tuhannya. Menyaksikan pemandangan seperti itu, lalu ia pun bangun mengambil air wudhu dan beribadah. Di rumah majikannya ia telah mendapatkan berbagai ilmu. Ia telah belajar tentang keutamaan, pengorbanan, kedermawanan dan kemanusiaan dari majikannya, Fathimah Zahra as. Fidhah telah menyaksikan majikannya ketika sedang bekerja dan menumbuk gandum selalu terlantun dari bibir sucinya ayat-ayat suci al-Qur’an. Oleh karenanya, ia telah belajar untuk selalu dekat dan bersama al-Qur’an dari Fathimah Zahra as. Bahkan ia tidak pernah berbicara melainkan dengan ayat-ayat al-Qur’an sampai akhir hayatnya. Ketika ia ingin mengatakan atau menanyakan sesuatu maka akan menggunakan ayat-ayat suci al-Qur’an. <span> </span><span> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Disebutkan dalam sejarah, pada suatu hari di padangan pasir Hijaz seorang laki-laki tertinggal dari rombongannya dan ia telah bertemu dengan Fidhah Hindi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>- Laki-laki tersebut bertanya kepadanya: “Siapakah anda?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>- Fidhah Hindi menjawab: “<strong><em>Wa qul <u>salaamun</u> fa saufa ya’lamun</em></strong><em>”</em>; “dan Katakanlah: &#8220;<u>Salam</u> kelak mereka akan mengetahui”. [Az-Zuhruf: 89] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>- Dari ayat itu, laki-laki telah memahami bahwa ia harus mengucapkan salam terlebih dahulu. Oleh Karena itu, ia mengucapkan salam kepada Fidhah Hindi. Lalu ia bertanya kembali: “Apa yang anda lakukan di tempat ini sendirian? Apakah anda tersesat?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>- Fidhah Hindi menjawab: “<strong><em>Man yahdillahu fa ma lahu min<span>  </span><u>mudhilin</u></em></strong>”; “Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka tidak seorangpun yang <u>dapat menyesatkannya</u>”. [az-Zumar:37]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>- Laki-laki bertanya; “Apakah anda jin atau manusia?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>- Fidhah Hindi menjawab: “<strong><em>Ya <u>bani Adam</u> khuzduu zinatakum</em></strong>”; “<span>  </span>Hai <u>anak Adam</u>, pakailah pakainmu yang indah”. [al-A’raf: 31] Maksudnya, ia adalah manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>- Laki-laki bertanya; “Anda berasal dari mana?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>- Fidhah Hindi menjawab: “<strong><em>Yunaduuna min <u>makanin b’aiidin</u></em></strong>”; “mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari <u>tempat yang jauh</u>&#8220;. [Fushilat:44] Maksudnya, ia berasal dari tempat jauh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>- Laki-laki bertanya: “Anda mau pergi kemana?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>- Fidhah Hindi menjawab: “<strong><em>Walillahi ‘alannasi hijjul baeti</em></strong>”; “ Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah”. [Ali-Imron: 97] Maksudnya, ia hendak pergi ke kota suci Mekkah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>- Laki-laki bertanya: “Sudah berapa lama anda di perjalanan?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>- Fidhah Hindi menjawab: “<strong><em>Wa laqad kholaqna as-samawaati walardhi fi <u>sitati ayyaami</u></em></strong> “; “Dan Sesungguhnya Telah kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam <u>enam masa</u><strong><em>”.</em></strong> [Qaaf: 38] Maksudnya, telah 6 hari lamanya ia berada dalam perjalanan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>- Laki-laki bertanya: “Apakah anda sudah makan?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Fidhah Hindi menjawab: “<strong><em>Wa ma ja’alna hum jasadan <u>la ya’kuluun at-tha’ami</u></em></strong>”; “Dan tidaklah kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang <u>tiada memakan makanan</u><strong><em>”</em></strong></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">. </span><span>[al-Anbiyaa: 8] Maksudnya, ialah belum makan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>- Lalu laki-laki tersebut memberi makan kepadanya, seraya bertanya: “Kenapa anda tidak berjalan cepat sehingga tidak tertinggal?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>- Fidhah Hindi menjawab: “<strong><em>La yukalifullahu nafsan illa wus’ahaa</em></strong>”; “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. [al-Baqarah: 286] Maksudnya, ia tidak mampu berjalan dengan cepat karena usianya yang telah lanjut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>- Lalu laki-laki bertanya: “Apakah anda berkenan menaiki tungganganku -unta-?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>- Fidhah Hindi menjawab: “<strong><em>Lau kaan fiihima aalihatun illallah lafasadata</em></strong>”; “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu Telah rusak binasa</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">”. </span><span>[al-Anbiya: 22] Maksudnya, tidak mungkin menunggangi tunggangan (onta) secara bersamaan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>- Lalu laki-laki turun dari tunggangannya dan mempersilahkan Fidhah menaikinya, lalu bergerak untuk melanjutkan perjalanannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>- Setelah menaiki tunggangan, lantas Fidhah berkata: “<strong><em>Subhana alladzi sakhkhaara lanaa hadza”</em></strong>; “Maha Suci Tuhan yang Telah menundukkan semua Ini bagi kami”. [az-Zuhruf: 13] Maksudnya, ia memohon kepada laki-laki tersebut untuk menghantarkan ke rombongannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>- Lalu laki-laki mengantarkan Fidhah sampai bertemu dengan rombongannya, dan bertanya kepadanya; “Apakah di antara rombongan ini ada yang anda kenal?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>- Fidhah Hindi menjawab: “<strong><em>Ya <u>Daud</u> innaa ja’alnaaka khalifatan filardhi</em></strong>”; “<u>Hai Daud,</u> Sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi”. [Shaad: 26] “<strong><em>Wa ma <u>Muhamadun</u> illa rasulun</em></strong>”; “<u>Muhammad</u> itu tidak lain hanyalah seorang rasul”. [Ali Imron: 144] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“<strong><em>Ya <u>Yahya </u>khudi alkitaba</em></strong>”; “<u>Hai Yahya</u>, ambillah Al Kitab (Taurat)&#8230;”. [Maryam:12] ”<strong><em>Ya <u>Musa</u> innii anaa Rabbuka</em></strong> &#8230;”; “Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: &#8220;<u>Hai Musa</u>. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu”. [Thaha: 11-12]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>- Laki-laki pun memahami maksud Fidhah bahwa nama-nama yang telah disebutkannya (Daud, Muhamad, Musa dan Yahya) ialah orang-orang yang dikenalnya. Lantas laki-laki memanggil keempat orang tersebut. Tidak lama datanglah empat orang laki-laki muda. Laki-laki itu kembali menengok ke arah Fidhah seraya bertanya: “Apakah hubungan mereka denganmu?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>- Fidhah Hindi menjawab: “<strong><em>Almaalu wa <u>albanuunu </u>zinatul hayaati dunya</em></strong>”; “Harta dan <u>anak-anak</u> merupakan perhiasan dunia”. [Kahfi: 46] Maksudnya, keempat anak muda tersebut ialah anak-anaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>- Ketika anak-anak Fidhah menghampirinya, lantas ia berkata kepada mereka: “<strong><em>Ya abati <u>ista’jirhu </u><span> </span>inna khaira man <u>ista’jarta</u> alqawiyu alamiinu</em></strong>”</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span><span>&#8220;Wahai ayahku ambillah ia sebagai <u>orang yang bekerja</u> (pada kita), Karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang Kuat lagi dapat dipercaya&#8221;. [Qashas: 26] Maksudnya, karena laki-laki tersebut telah susah payah dalam menghantarkannya ke rombongan, sebagai gantinya ia harus diberi upah. Lantas para anaknya memberikan upah kepada laki-laki tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>- Namun Fidhah kembali berkata; “<strong><em>Wallahu <u>yudhaifu</u> liman yasya’u</em></strong>”; “Dan Allah akan <u>melipat gandakan (diberi lebih</u>) bagi yang dikehendakinya”. [al-Baqarah; 263] Para anak Fidhah memahami maksud ibunya, yaitu agar memberikan uang lebih dari bayaran yang seharusnya. Lantas mereka pun melipat gandakan bayaran laki-laki tadi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sewaktu laki-laki menyaksikan Fidhah sangat menguasai al-Qur’an, dengan penuh rasa takjub ia bertanya: “Siapakah sebenarnya perempuan ini?”. Mereka menjawab: “Dia adalah ibu kami Fidhah, mantan pembantu Fathimah Zahra as. Dua puluh (20) tahun lamanya tidak pernah berbicara melainkan dengan al-Qur’an. [Biharul-Anwar jilid 43 halaman 46 dinukil dari Cesyme dar Bastar halaman 310-312] Laki-laki tadi masih tertegun setelah menyaksikan kelihaian Fidhah dalam menguasai al-Qur’an. Dalam hati ia bertanya: “Sebenarnya bagaimana Fathimah Zahra as memperlakukan pembantunya, sehingga pembantunya menjadi seperti ini? Andaikan aku memiliki anak seperti ini”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[ED, sumber buku Cesyme dar Bastar; analisa tentang berbagai sisi kehidupan Sy. Fathimah Zahra as, karya Pur Sayyid Oghoi]</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/118/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/118/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/118/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=118&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/07/wow-hebat-sekali-al-quran-berjalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/06/ya-fathimah-zahra.thumbnail.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Dibalik Keagungan Imam Khomaeni; Surat Cinta Imam</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/05/dibalik-keagungan-imam-khomaeni-surat-cinta-imam/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/05/dibalik-keagungan-imam-khomaeni-surat-cinta-imam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jun 2007 08:06:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/05/dibalik-keagungan-imam-khomaeni-surat-cinta-imam/</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; &#160; &#160; &#160; Sejujurnya, ketiadaanmu di sisiku membuat perjalanan ini menjadi sepi. Dengan hanya melihat kota dan laut yang ada merupakan pemandangan yang sedap dipandang mata. Aku tak dapat menghitung betapa besar keharuanku ketika mengingat kekasihku tidak di sisiku menemaniku menatap pemandangan indah yang meresap di kalbu. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Surat cinta Khomeini muda kepada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=115&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left" style="text-align:center;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p align="center" style="text-align:center;" class="MsoNormal"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/06/momong-cucu.gif" title="momong-cucu.gif"><img align="left" src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/06/momong-cucu.thumbnail.gif?w=500" alt="momong-cucu.gif" /></a></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left">Sejujurnya, ketiadaanmu di sisiku membuat perjalanan ini menjadi sepi. Dengan hanya melihat kota dan laut yang ada merupakan pemandangan yang sedap dipandang mata. Aku tak dapat menghitung betapa besar keharuanku ketika mengingat kekasihku tidak di sisiku menemaniku menatap pemandangan indah yang meresap di kalbu.</p>
<p align="center" style="text-align:center;" class="MsoNormal"><span id="more-115"></span></p>
<p align="left">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p align="center" style="text-align:center;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:14pt;">Surat</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;"> cinta Khomeini muda kepada istri terkasih</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Dear kasihku&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Kupersembahkan jiwaku untukmu&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Saat ini, ketika aku diuji berpisah dari anak-anakku tersayang dan penguat hatiku, aku kemudian teringat padamu dan keindahan wajahmu yang terlukis di dalam cermin hatiku.</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Kasihku&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Aku berharap semoga Allah senantiasa menjagamu dan memberikan kesehatan dan kebahagiaan dalam lindungan-Nya. Sementara untukku, segala kesulitan yang ada telah berlalu. Alhamdulillah apa yang terjadi sampai saat ini adalah kebaikan dan sekarang aku tengah berada di kota Beirut yang asri.[1]</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Sejujurnya, ketiadaanmu di sisiku membuat perjalanan ini menjadi sepi. Dengan hanya melihat kota dan laut yang ada merupakan pemandangan yang sedap dipandang mata. Aku tak dapat menghitung betapa besar keharuanku ketika mengingat kekasihku tidak di sisiku menemaniku menatap pemandangan indah yang meresap di kalbu.</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Dar har hal, malam ini adalah malam kedua aku menanti kapal yang akan membawa kami. Sesuai dengan ketentuan yang ada, keesokan hari akan ada kapal yang bertolak dari sini ke Jeddah. Sayangnya, karena kami agak terlambat sampai di sini<span> </span>harus menanti kapal yang lain. Untuk saat ini apa yang harus dilakukan belum jelas. Aku berharap semoga Allah dengan belas kasih-Nya kepada kakek-kakekku yang suci, sebagaimana Ia mensukseskan perjalanan seluruh hamba-Nya untuk melaksanakan haji, memberikan kesempatan yang sama pula kepada kami.</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Dari sisi ini aku agak sedikit sedih dan gelisah, namun Alhamdulillah kondisiku sehat bahkan semakin baik dan lebih meyakinkan. Sebuah perjalanan yang indah, sayangnya dan sekali lagi sayangnya, engkau tidak bersamaku di sisiku. Hatiku merindukan putramu (Sayyid Musthafa). Aku sangat berharap bahwa mereka berdua[2] senantiasa selamat dan bahagia di bawah lindungan dan bimbingan Allah swt.</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Bila engkau menulis surat kepada ayahmu dan ibu serta nenekmu sampaikan salamku juga kepada mereka. Aku telah menyiapkan diriku menjadi pengganti ziarah kalian semua. Sampaikan juga salamku kepada adikmu Khanum Shams Afagh. Dan lewat adikmu sampaikan salamku kepada Agha Alavi. Sampaikan salamku kepada Khavar Sultan dan Rubabeh Sultan. Katakanlah kepada mereka tentang lembaran lain dari surat ini untuk disampaikan kepada Agha Syaikh Abdul Husein.</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Semoga hari-hari kalian dilalui dengan panjang umur dan kemuliaan.</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Duhai kasihku&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Belahan jiwaku&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Ruhullah saat ini bak gambar kosong yang sedang menanti keberangkatan yang tak kunjung datang.[3]</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong>NB</strong>: Surat ini ditulis pada bulan Farvardin tahun 1312 H.S. (sekitar 73 tahun yang lalu) sambil menanti kelahiran putra keduanya.</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">Sumber: http://baztab. com/news/ 40128.php (Saleh L &gt;&gt;&gt; Infosyiah.wordpress.com)</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">[1] . Keberadaan beliau di sana untuk menanti kapal yang akan membawa beliau dan rombongan ke Arab Saudi guna melakukan ibadah haji.</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">[2] . Kata berdua maksudnya kepada Sayyid Musthafa dan anak laki beliau yang lain yang sampai saat surat ini ditulis belum lahir ke dunia. Beberapa hari setelah Imam menulis surat ini anak kedua beliau lahir dan diberi nama Ali. Anak kedua Imam ini karena terserang penyakit semasa kecilnya meninggal dunia.</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">[3] . Menjelaskan akan ketiadaan kapal yang akan membawa beliau dan rombongan ke Jeddah.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/115/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/115/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/115/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=115&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/05/dibalik-keagungan-imam-khomaeni-surat-cinta-imam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/06/momong-cucu.thumbnail.gif" medium="image">
			<media:title type="html">momong-cucu.gif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beginilah Majikan Ideal&#8230;!</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/04/sungguh-indah-segala-perilaku-mu-ya-zahra-beginilah-sebenarnya-memperlakukan-seorang-pembantu/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/04/sungguh-indah-segala-perilaku-mu-ya-zahra-beginilah-sebenarnya-memperlakukan-seorang-pembantu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jun 2007 17:32:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/04/sungguh-indah-segala-perilaku-mu-ya-zahra-beginilah-sebenarnya-memperlakukan-seorang-pembantu/</guid>
		<description><![CDATA[Salman al-Farisi (salah satu sahabat Rasulullah yang berasal dari Persia) berkata: “Saya telah menyaksikan Fathimah Zahra sedang menumbuk gandum. Kemudian saya menghampiri dan berkata kepadanya; “Wahai putri Rasulullah, kenapa merepotkan diri anda sendiri, sementara pembantumu Fidhah Hindi sedang berdiri di sampingmu? Kenapa tidak pembantumu saja yang mengerjakannya?”. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- Beginilah Majikan Ideal&#8230;! &#160; &#160; Memiliki seorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=113&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"> <a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/06/assalamu-alaiki-ya-fathimah-zahra-as2.jpg" title="assalamu-alaiki-ya-fathimah-zahra-as2.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/06/assalamu-alaiki-ya-fathimah-zahra-as2.thumbnail.jpg?w=500" alt="assalamu-alaiki-ya-fathimah-zahra-as2.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Salman al-Farisi (salah satu sahabat Rasulullah yang berasal dari Persia) berkata: “Saya telah menyaksikan Fathimah Zahra sedang menumbuk gandum. Kemudian saya menghampiri dan berkata kepadanya; “Wahai putri<span>  </span>Rasulullah, kenapa merepotkan diri anda sendiri, sementara pembantumu Fidhah Hindi sedang berdiri di sampingmu? Kenapa tidak pembantumu saja yang mengerjakannya?”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong> </strong><span id="more-113"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>Beginilah Majikan Ideal&#8230;!</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Memiliki seorang pembantu pada sebagian kelompok masyarakat kadang kala merupakan kebutuhan primer, yang tidak kalah pentingnya dengan keperluan lainnya terutama pada kalangan para wanita karier. Kesibukan yang telah menyita banyak waktunya, mengahruskan mereka untuk memiliki seorang pembantu sehingga dapat meringankan pekerjaan rumahnya. Ataupun mungkin pada kalangan menengah ke atas, memiliki seorang pembantu sudah merupakan sebuah kelayakan bagi mereka. Namun, yang perlu diketahui oleh para pemilik pembantu ialah bagaimana cara memperlakukan mereka. Apakah karena mereka telah dibayar lantas dapat diperlakukan semena-mena?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Lantas bagaimana pula dengan nasib para pembantu khususnya para TKW (Tenaga Kerja<span>  </span>Wanita) yang telah diperlakukan semena-mena, padahal mereka bekerja di Negara-Negara Islam yang bernota bene islam dan tempat kelahirannya Islam? Apakah yang dilakukan mereka sesuai dengan islam? Ataukah kita harus membedakan antara Islam dan para oknum yang walaupun mereka berasal dari tempat kelahiran Islam. Mungkin karena keluguan kita saja yang menganggap segala produk Arab dan hal-hal yang berbau Arab adalah sesuai dengan Islam. Padahal antara keduanya tidaklah memiliki relasi keniscayaan, maksudnya pernyataan Islam adalah Arab dan Arab adalah Islam tidaklah dapat dibenarkan. Walaupun Arab merupakan tempat tumbuh berkembangnya agama Islam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sebenarnya saya tidak ingin membahasnya secara panjang lebar berkenaan dengan relasi antara Arab dan Islam, karena selain memerlukan pengulasan yang meluas juga memerlukan sebuah riset yang amat serius. Di sini kita hanya ingin mengetahui bagaimana seharusnya kita memperlakukan seorang pembantu? Dan bagaimanapula para pembesar dan tauladan kita memperlakukan mereka sehingga kita dapat mencontoh dan menauladaninya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Tokoh yang akan kita ketengahkan ialah Sy. Fathimah Zahra putri Rasulullah, yang pada artikel-artikel sebelumnya telah kita singgung setetes keagungan di antara lautan keagungan yang beliau miliki.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Salman al-Farisi (salah satu sahabat dekat Rasulullah yang berasal dari Persia) berkata: “Saya telah menyaksikan Fathimah Zahra sedang menumbuk gandum. Kemudian saya menghampiri dan berkata kepadanya; “Wahai putri<span>  </span>Rasulullah, kenapa merepotkan diri anda sendiri, sementara pembantumu Fidhah Hindi sedang berdiri di sampingmu? Kenapa tidak pembantumu saja yang mengerjakannya?”. <span> </span>Mendengar hal itu lantas Fathimah Zahra berkata: “Rasulullah telah memberikan pesan kepadaku agar bergantian dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Sehari ia bekerja, dan keesokannya giliranku. Kemarin adalah gilirannya, sedangkan sekarang merupakan giliranku”. [Ini terdapat dalam beberapa sumber diantaranya; Biharul-Anwar jil 43 hal 28, Dalailu al-Imamah hal 48, Musnad Ahmad jil 3 hal 150, Majmau-Zawaid jil 10 hal 316, Riyahin asy-Syari’ah jil 1 hal 126, Zahairu al-Uqba hal 51 dinukil dari Cesymeh dar Bastar hal 286 karya sayyid Pur Oghoi hal 285]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dalam hadis di atas, berdasarkan pesan Rasulullah beliau bergantian dengan pembantunya dalam melakukan pekerjaan rumah. Namun terdapat dalam riwayat lainnya beliau melakukan hal itu tidak karena pesan Rasulullah. Mari kita perhatikan riwayat berikut ini:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Telah diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah menyaksikan pembantu putrinya sedang istirahat, sementara putrinya sedang sibuk melakukan pekerjaan rumah. Ketika Fathimah Zahra melihat ayahnya sementara beliau dalam kondisi seperti itu, lantas beliau berkata: “Wahai Rasulullah, saya telah membagi giliran <span> </span>waktu kerja, sehari saya yang mengerjakannya dan hari lainnya adalah dia”. Mendengar ucapan putrinya, Rasulullah menangis terharu seraya bersabda: “Allah Maha Mengetahui di rumah mana seharusnya risalah kenabian diturunkan”. [Ahqaqu al-Haq jil 10 hal 277 dinukil dari Cesymeh dar Bastar (analisa tentang berbagai segi kehidupan Sy. Fathimah Zahra as) hal 286 karya sayyid Pur Oghoi]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Point penting yang dapat kita ambil dari riwayat di atas, betapa beliau sangat memperhatikan nilai-nilai moral agama dan kemanusiaan. Jelas semua ini berasal dari sumber pancaran wahyu, karena beliau tumbuh berkembang di rumah yang dimulaikan Tuhan dan pendidiknya ialah makhluk tersempurna di seluruh alam yaitu Nabi Muhamad saww. Sedikit banyaknya telah memberikan pengaruh pada kepribadian dan keagungan beliau.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Kembali pada kita sebagai orang yang menauladani segala prilaku beliau, apakah sudah memperlakukan pembantu dengan sebaik-baiknya? Sy. Fathimah Zahra telah memberikan waktu untuk beristirahat dan untuk beribadah kepada pembantunya. Sebagaimana nampak dari kata ‘pembantu’ itu sendiri, tugasnya ialah sekedar membantu, bukan semua pekerjaan lantas dilimpahkan kepadanya tanpa memberikan waktu untuk beristirahat, ibadah dan mengerjakan kepentingan pribadi lainnya. Andaikan semua majikan seperti Sy. Fathimah Zahra, tidak akan pernah ada pembantu yang nasibnya naas seperti para TKW, ataupun para pembantu lainnya.</p>
<ul>
<li><!--[if !supportLists]--><span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Hormatilah pembantu anda, karena iapun manusia seperti anda yang perlu terhadap penghormatan.</span></li>
</ul>
<ul>
<li><!--[if !supportLists]--><span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Perlakukan mereka dengan baik sebagaimana yang dapat kita simak dari riwayat di atas.</span></li>
</ul>
<ul>
<li><!--[if !supportLists]--><span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Berikan waktu untuk melakukan kepentingan pribadinya, sebagaimana pesan hadis di atas.</span></li>
</ul>
<ul>
<li><!--[if !supportLists]--><span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">‘Pembantu’ artinya tugasnya hanyalah &#8216;membantu&#8217;. Ia memiliki keterbatasan dalam melakukan   pekerjaan, maka tidak selayaknya melimpahkan pekerjaan yang di luar batas kemampuan dan tugasnya.</span></li>
</ul>
<ul>
<li><!--[if !supportLists]--><span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Menjadi majikan akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah, maka janganlah berlaku semena-mena.</span></li>
</ul>
<ul>
<li><!--[if !supportLists]--><span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Jagalah hak-hak mereka (pembantu). Jangan sampai menzaliminya. Ingat, Tuhan akan mengabulkan doa setiap orang yang terzalimi. [ED]</span></li>
</ul>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/113/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/113/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=113&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/04/sungguh-indah-segala-perilaku-mu-ya-zahra-beginilah-sebenarnya-memperlakukan-seorang-pembantu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/06/assalamu-alaiki-ya-fathimah-zahra-as2.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">assalamu-alaiki-ya-fathimah-zahra-as2.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Jika ia tidak dapat melihat-ku, namun saya dapat melihat-nya&#8221;</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/02/jika-ia-tidak-dapat-melihat-ku-namun-saya-dapat-melihat-nya/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/02/jika-ia-tidak-dapat-melihat-ku-namun-saya-dapat-melihat-nya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jun 2007 09:20:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/02/jika-ia-tidak-dapat-melihat-ku-namun-saya-dapat-melihat-nya/</guid>
		<description><![CDATA[&#160; “Apabila ia tidak dapat melihat-ku (buta), namun saya dapat melihat-nya (tidak buta) dan ia dapat mencium aroma-ku”. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; “Jika ia tidak dapat melihat-ku, namun saya dapat melihat-nya&#8221; Pada suatu hari, seorang lelaki buta setelah mendapat izin dari Imam Ali as lantas masuk ke dalam rumah. Di kala itu, Rasulullah saww melihat Sy. Fathimah Zahra [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=111&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"> <a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/10/ya-zahra.jpg" title="ya-zahra.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/10/ya-zahra.thumbnail.jpg?w=500" alt="ya-zahra.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">“Apabila ia tidak dapat melihat-ku (buta), namun saya dapat melihat-nya (tidak buta) dan ia dapat mencium aroma-ku”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span id="more-111"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;">“Jika ia tidak dapat melihat-ku, namun saya dapat melihat-nya&#8221;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:14pt;">  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Pada suatu hari, seorang lelaki buta setelah mendapat izin dari Imam Ali as lantas masuk ke dalam rumah. Di kala itu, Rasulullah saww melihat Sy. Fathimah Zahra as langsung bangkit dan mengenakan hijab (menutup seluruh auratnya). Menyaksikan hal itu, lantas Rasulullah saww bersabda: “Puriku, laki-laki ini tidak dapat melihat (buta)”. Sy. Fathimah Zahra as menjawab: “Apabila ia tidak dapat melihat-ku (buta), namun saya dapat melihat-nya (tidak buta) dan ia dapat mencium aroma-ku”. Seusai mendengar jawaban putrinya kemudian Rasulullah saww bersabda: “’Aku bersaksi bahwa engkau adalah belahan jiwaku”. [Biharul-Anwar jil 43 hal 91, Mustadrak al-Wasail jil 14 hal 289, Riyahin asy-Syari’ah jil 1 hal 216, Ahqaqu-alHaq jil 10 hal 258 dinukil dari Cesyme dar Bastar (tentang analisa seluruh segi kehidupan Sy. Fathimah Zahra as hal 287]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"> [ED]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/111/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/111/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=111&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/02/jika-ia-tidak-dapat-melihat-ku-namun-saya-dapat-melihat-nya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/10/ya-zahra.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ya-zahra.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beberapa Nasihat Penghulu Para Wanita (Sy. Fathimah Zahra as)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/02/beberapa-nasihat-penghulu-para-wanita-sy-fathimah-zahra-as/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/02/beberapa-nasihat-penghulu-para-wanita-sy-fathimah-zahra-as/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jun 2007 06:22:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/02/beberapa-nasihat-penghulu-para-wanita-sy-fathimah-zahra-as/</guid>
		<description><![CDATA[“Sebaik-baiknya kalian adalah orang yang paling ramah dalam berhadapan dengan yang lainnya. Dan sebaik-baiknya kalian adalah orang-orang yang memuliakan para istrinya”. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; Beberapa Nasehat Sy. Fathimah Zahra (Penghulu para Wanita) Untuk mengambil berkah di hari-hari Fathimiyah, tidak ada salahnya kita menelaah kembali beberapa nasihat Bunda Fathimah Zahra as berikut ini: · Sy. Fathimah Zahra as [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=109&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"> <a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/08/ya-zahraas.jpg" title="ya-zahraas.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/08/ya-zahraas.thumbnail.jpg?w=500" alt="ya-zahraas.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">“Sebaik-baiknya kalian adalah orang yang paling ramah dalam berhadapan dengan yang lainnya. Dan sebaik-baiknya kalian adalah orang-orang yang memuliakan para istrinya”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span id="more-109"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong>Beberapa Nasehat Sy. Fathimah Zahra (Penghulu para Wanita)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Untuk mengambil berkah di hari-hari Fathimiyah, tidak ada salahnya kita menelaah kembali beberapa nasihat Bunda Fathimah Zahra as berikut ini:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:58.5pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Sy. Fathimah Zahra as berkata: “Barang siapa yang beribadah kepada Allah swt dengan penuh keikhlasan maka Allah swt akan menurunkan kemaslahatan yang teragung kepadanya”. [Biharul-Anwar jil 67 hal 249 dinukil dari Cesyme dar Bastar (penelitian tentang seluruh segi kehidupan Sy. Fathimah Zahra as) Pur Sayyid Oghoi, hal 451]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:58.5pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Sy. Fathimah Zahra as berkata: “Sebaik-baiknya kalian adalah orang yang paling ramah dalam berhadapan dengan yang lainnya. Dan sebaik-baiknya kalian adalah orang-orang yang memuliakan para istrinya”. [Al-Amali Syeikh Shaduq, hal 402 telah dinukil dari Cesyme dar Bastar (penelitian ttg seluruh segi kehidupan Sy. Fathimah Zahra as) Pur Sayyid Oghoi, hal 450] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:58.5pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Sy. Fathimah Zahra as berkata: “Berbuat baiklah kepada ibu, karena surga berada di bawah telapak kaki ibu”. [Musnad Fathimah As-Suyuti hal 116 dinukil dari Cesyme dar Bastar (penelitian tentang seluruh segi kehidupan Sy. Fathimah Zahra as) Pur Sayyid Oghoi, hal 451]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:58.5pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Sy. Fathimah Zahra as berkata: “Sebaik-baiknya perkara untuk para perempuan ialah mereka tidak melihat para laki-laki bukan murim, dan para laki-laki bukan muhrim tidak melihat kepada mereka”. [Adz-Dzuriyah ath-Thahirah hal 147 dinukil dari Cesyme dar Bastar (penelitian ttg seluruh segi kehidupan Sy. Fathimah Zahra as) Pur Sayyid Oghoi, hal 451]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:58.5pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Sy. Fathimah Zahra as berkata: “Tidaklah seseorang dikatakan berpuasa, jika ia tidak menjaga lidah, pendengaran, mata dan seluruh anggota tubuhnya. [Biharul-Anwar jil 2 hal 3 dinukil dari Cesyme dar Bastar (penelitian ttg seluruh segi kehidupan Sy. Fathimah Zahra as) Pur Sayyid Oghoi, hal 451]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">[ED]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/109/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/109/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=109&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/06/02/beberapa-nasihat-penghulu-para-wanita-sy-fathimah-zahra-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/08/ya-zahraas.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ya-zahraas.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Detik-Detik Terakhir Menjelang Penghulu para Wanita Wafat</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/29/detik-detik-menjelang-wafat-penghulu-para-wanita/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/29/detik-detik-menjelang-wafat-penghulu-para-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 May 2007 21:23:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/29/detik-detik-menjelang-wafat-penghulu-para-wanita/</guid>
		<description><![CDATA[Beliau yang merupakan wanita paling mulia dan tergolong manusia pilihan kenapa di akhir hayatnya berwasiat seperti itu? Jawaban dari pertanyaan ini akan dapat menyingkap berbagai hakekat akan kebenaran agama Allah yang diturunkan kepada manusia suci Muhammad bin Abdillah saww. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Detik-Detik Terakhir Menjelang Penghulu para Wanita Wafat Kumulai tulisan ini dengan sebuah hadis Rasulullah, dimana [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=106&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"> <a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/06/ya-zahra.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/06/ya-zahra.thumbnail.jpg?w=500" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Beliau yang merupakan wanita paling mulia dan tergolong manusia pilihan kenapa di akhir hayatnya berwasiat seperti itu? Jawaban dari pertanyaan ini akan dapat menyingkap berbagai hakekat akan kebenaran agama Allah yang diturunkan kepada manusia suci Muhammad bin Abdillah saww.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-106"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span>Detik-Detik Terakhir Menjelang Penghulu para Wanita Wafat<br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kumulai tulisan ini dengan sebuah hadis Rasulullah, dimana beliau telah bersabda kepada putrinya, Fathimah Zahro: “Sesungguhnya Allah SWT akan murka karena murka-mu (Fathimah .red), dan akan ridho karena ridho-mu”. (Lihat: Kanzul-Ummal hadis ke- 37725 karya al-Muttaqi al-Hindi al-Hanafi yang dinukil dari Kitab Muntakhab Mizan al-Hikmah hal: 16). Jelas hadis tadi tidaklah keluar dari Nabi Muhamad saww karena nepotisme sebagai putrinya, akan tetapi berdasarkan kehendak Tuhannya. Bukankah dalam surah Najm ayat 3-4 Allah swt telah berfirman: “Dan tidaklah ia (Muhammad .red) berkata melainkan wahyu yang telah diturankan kepadanya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Langit berkabung menyertai duka cita akan kepergian perempuan mulia penghulu para wanita,<span>  </span>bagian jiwa Nabi saww, pemilik syafa’at, penghulu para wanita ahli surga, neraca keridhoan dan kemurkaan Allah, putri makhluk paling sempurna dan penutup para nabi; dialah Bunda Fathimah Zahro as. Lidah kelu untuk mengucapkan kata-kata pujian untuknya. Bunda Fathimah Zahro as ialah salah satu jalan manusia untuk mendapat keridhoan Tuhannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Berdasarkan salah satu riwayat, hari ini (13 Jumadil-Awal) merupakan hari wafat beliau, karena terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama tentang hari wafat beliau. Sebagian berpendapat, beliau wafat 75 hari setelah wafat Nabi Muhamad saww. Sebagian lagi mengatakan beliau wafat 95 hari setelah wafat ayahanda beliau. Salah satu penyebab perbedaan pendapat ini adalah karena wafat beliau dirahasiakan oleh keluarga beliau. Begitu pula pelaksanaan memandikan, mengkafani dan memakamkan jasad suci beliau. Oleh karenanya, hingga saat ini tidak seorangpun yang mengetahui secara pasti dimana makam beliau, kecuali Imam Mahdi aj yang masih keturunan beliau. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Di sini, kita akan mencoba kembali melihat detik-detik menjelang wafat beliau. Sewaktu beliau sudah merasakan ajalnya akan tiba, lalu beliau mandi merapihkan keadaan rumah dan membersihkan anak-anaknya. Setelah itu, kemudian beliau kembali membaringkan tubuhnya yang sangat lemah, akibat sakit parah yang dideritanya. Dengan penuh rasa hormat lalu beliau berkata kepada suami tercintanya, Imam Ali as: “Wahai anak pamanku, hari ini aku akan berpisah dengan dunia. Aku yakin tidak lama lagi aku akan meninggalkan dunia ini, dan aku akan pergi menyusul ayahku. Oleh karena itu aku akan berwasiat kepadamu”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Imam Ali as berkata: “Wahai putri Rasulullah, semoga Alloh memberi keselamatan kepadamu. Katakan apa yang engkau inginkan!?”. Kemudian Imam Ali as duduk di sampingnya dan menyuruh beberapa orang yang sempat berkumpul di tempat itu untuk <span> </span>keluar dari kamar tempat pembaringan istrinya sehingga beliau dapat leluasa mengutarakan semua rahasianya. Kemudian Sayyidah Fathimah Zahro as berkata: “Wahai anak pamanku, bukankah tidak engkau dapatkan diriku berbohong dan berkhianat kepadamu? Dan bukankah aku tidak pernah menentangmu?”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Imam Ali as berkata: “Aku berlindung kepada Allah, engkau adalah orang yang lebih mengenal Allah. Engkau adalah orang yang terbaik, orang yang paling bertakwa dan orang yang paling mulia&#8230;yang paling aku takutkan dari Tuhanku ialah&#8230;.. Sungguh telah membuatku sedih dan berduka atas perpisahan dan kepergianmu. Namun harus bagaimana lagi, ini merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Sumpah demi Allah, kepergianmu telah menambah kesedihanku atas musibah kepergian Rasulullah. Dan ketahuilah, sungguh agung musibah yang kuhadapi dengan kepergianmu dan ketiadaanmu. Dan sesungguhnya kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kemudian kedua insan mulia lagi sempurna tersebut menangis karena perpisahan yang akan mereka hadapi. Setelah itu, Imam Ali as meletakkan tubuh suci Sayyidah Fathimah Zahro as di dadanya seraya berkata: “Wahai wanita mulia, ibu terbaik bagi anak-anakku, katakan jika engkau ingin berwasiat. Dan ketahuilah, Ali lelaki setia yang akan melaksanakan segala perintahmu. Dan aku akan mendahulukan keinginanmu dari pada keinginanku, sesulit apapun keinginanmu itu”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sayyidah Fathimah Zahro berkata: “Tuhan Maha Pengasih akan memberikan pahala teragung kepadamu. Wahai Ali sayang, wasiat pertamaku setelah kepergianku adalah, engkau harus menikah dengan anak saudariku (bernama Ummul Banin .red), karena ia merupakan ibu yang sangat penyayang terhadap anak-anakku yang masih kecil-kecil itu. Selain itu, dalam mengatur urusan rumahmu engkau memerlukan keberadaan seorang istri”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Beliau melanjutkan: “Wahai anak pamanku, mandikanlah jenazahku pada malam hari (dalam riwayat lain dikatakan beliau berwasiat agar dimandikan dalam keadaan mengenakan pakaian karena badannya telah suci dan bersih .red). Dan kafani jenazahku pada malam hari. Serta kuburkan jasadku pada waktu malam hari. Janganlah engkau izinkan orang-orang yang telah menzalimiku menghadiri pengiringan jenazahku dan menshalatinya, karena mereka adalah musuh-musuh Allah swt dan Rasul-Nya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Seusai berwasiat, lantas beliau memerintahkan untuk memindahkan pembaringannya di tengah ruangan. Lantas beliau berbaring menghadap kiblat dan merenung. Dalam sebagian hadis dikatakan bahwa beliau telah mengirim para putrinya Zainab dan Ummu Kultsum ke rumah perempuan Bani Hasyim, agar mereka tidak menyaksikan detik-detik kepergiannya yang akan menyedihkan mereka. Bahkan dalam sebagian riwayat dijelaskan pula bahwa kala itu karena ada keperluan yang mendesak, atau karena yang lainnya Imam Ali as dan kedua putranya (Hasan dan Husein as .red) pergi keluar rumah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Oleh karena itu, kedua putra beliau diakhir ajal beliau tidak berada di sisi ibundanya, sehingga harus menyaksikan kepergian ibu yang sangat mereka cintai. Hanya Asma’ (sebagian mengatakan Fiddhah al-Hindi, murid dan pembantunya .red) yang berada di sampingnya. Detik-detik menjelang ajal beliau telah tiba. Lantas beliau mengucapkan: “Salam atasmu wahai malaikat Jibril. Salam atasmu wahai Rasulullah. Ya Allah, hamba bersama Rasul-Mu. Ya Allah, tempatkan selalu hamba pada keridhoan-Mu, di sisi-Mu, di rumah-Mu, yaitu rumah keselamatan dan kedamaian”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Lantas beliau bertanya: “Apakah kalian tidak melihat yang sedang aku lihat?”. “Aku melihat rombongan para malaikat langit. Itu malaikat Jibril dan itu adalah ayahku yang berkata: “Wahai putriku, cepatlah kemari. Apa yang ada dihadapnmu lebih baik bagimu&#8230;”. Setelah itu beliau menutup kedua belah matanya seraya bibirnya berkomat-kamit: “Hamba kembali menuju-Mu wahai Tuhan-ku, bukan menuju api neraka”. Dan akhirnya beliaupun pergi meninggalkan alam fana ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Menyaksikan hal itu Asma’ merangkul tubuh bunda Fathimah Zahro as sambil menangis dan memanggil nama mulia beliau: “Wahai junjunganku, wahai Fathimah, ketika engkau bertemu dengan ayahmu sampaikan salamku kepadanya”. Di saat terdengar suara teriakan, maka datanglah Imam Hasan dan Imam Husein as. Ketika mereka melihat ibunya terbaring, lantas mereka berkata: “Wahai Asma’, ibuku tidak pernah tidur pada jam-jam segini, kenapa beliau diam saja?”. Asma’ dengan raut wajah sedih berkata: “Ibu kalian tidaklah tidur, melainkan ia telah meninggalkan dunia yang fana ini”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Mendengar hal itu lantas Imam Hasan as (saat itu kurang lebih berusia 7 tahun .red) menjatuhkan tubuhnya di tubuh ibundanya seraya menciumi berkali-kali kedua kakinya. Lalu beliau berkata: “Wahai ibunda, berbicaralah denganku sebelum terpisahnya jiwaku dari ragaku”. Lantas Imam Husein as (saat itu kurang lebih berusia 6 tahun .red) pun melakukan hal yang sama seraya berkata: “Wahai ibunda, aku adalah Husein puteramu. Berbicaralah denganku sebelum jantungku berhenti berdetak, maka kala itu aku meninggal”. Dan seterusnya, saya tidak sanggup untuk meneruskannya. Pada kesempatan lain kita teruskan lagi, sekarang yang hanya dapat kita lakukan hanyalah sekedar untuk mengambil berkah dan mengenang kepergian putri Rasulullah saww. Sebagai perwujudan rasa duka cita atas kepergiannya manusia termulia penghulu para wanita. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Wasiat terakhir beliau yang mungkin membuat kita bertanya-tanya; kenapa beliau berwasiat seperti itu? Dan memang setelah itu Imam Ali as membuat kurang lebih 40 gundukan yang mirip seperti kuburan, sehingga tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui kuburannya kecuali orang tertentu yang turut mengusung jenazahnya. Dan hingga sekarang ini tidak seorangpun mengetahui dengan jelas di mana makam suci wanita paling mulia tersebut kecuali para Imam maksum as dari keluarga Rasul. Beliau yang merupakan wanita paling mulia dan tergolong manusia pilihan kenapa di akhir hayatnya berwasiat seperti itu? <span> </span>Jawaban dari pertanyaan ini akan dapat menyingkap berbagai hakekat akan kebenaran agama Allah yang diturunkan kepada manusia suci Muhammad bin Abdillah saww.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span>Wahai bunda Fathimah&#8230;!</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span>Engkau penjelmaan cahaya Tuhan&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span>Engkau Penjelmaan kesempurnaan-Nya&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span>Dan engkau neraca keridhoan dan kemurkan-Nya&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span>Syafa’ati kami di hari penghisaban semua amal&#8230;. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[Euis D]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sumber:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[1] Muhamad Kazim Qazwini, Fathimah minal Mahdi ilal Lahdi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[2] Pur Sayyid Oghoi, Cesyme dar Bastar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[3] Muhamad Rey Syahri, Muntakhab Mizan al-Hikmah. </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/106/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/106/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/106/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=106&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/29/detik-detik-menjelang-wafat-penghulu-para-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/06/ya-zahra.thumbnail.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sungguh Ajaib&#8230;!, Perempuan Malaikat</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/25/sungguh-ajaib-perempuan-malaikat/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/25/sungguh-ajaib-perempuan-malaikat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 May 2007 09:27:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/25/sungguh-ajaib-perempuan-malaikat/</guid>
		<description><![CDATA[Tuhan mewahyukan kepada Nabi Uzair as akan menurunkan azab bagi kaumnya. Nabi Uzair as menyampaikan kabar tersebut kepada kaumnya. Kaumnya meminta kepadanya, untuk memohonkan kepada Tuhan agar menangguhkan azab-Nya. Tuhan mewahyukan kepada Nabi Uzair as bahwa azab tersebut tidak dapat ditangguhkan kecuali mereka dimaafkan oleh salah satu hamba-Nya yang tinggal di sebuah pulau. Kemudian mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=105&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/mawar-salju.jpg" title="mawar-salju.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/mawar-salju.thumbnail.jpg?w=500" alt="mawar-salju.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Tuhan mewahyukan kepada Nabi Uzair as akan menurunkan azab bagi kaumnya. Nabi Uzair as menyampaikan kabar tersebut kepada kaumnya. Kaumnya meminta kepadanya, untuk memohonkan kepada Tuhan agar menangguhkan azab-Nya. Tuhan mewahyukan kepada Nabi Uzair as bahwa azab tersebut tidak dapat ditangguhkan kecuali mereka dimaafkan oleh salah satu hamba-Nya yang tinggal di sebuah pulau. Kemudian mereka pergi ke pulau tersebut dan mereka menemui seorang perempuan yang wajahnya sangat bercahaya dan memiliki kharisma yang selalu terpancar darinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span id="more-105"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span>Sungguh Ajaib&#8230;!, Perempuan Malaikat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Imam Baqir as berkata: “Pada zaman Nabi Uzair as (nama beliau terdapat dalam al-Qur’an, dalam surat al-Baqarah dan at-Taubah ayat 30) terdapat seorang Hakim Agung yang memiliki hubungan sangat erat dengan raja.  Sayangnya, ia sangat mata keranjang. Ia telah mendengar dari istrinya bahwa istri salah satu saudaranya sangat cantik (makanya kenapa agama melarang kepada seorang istri untuk tidak menceritakan keadaan -yang berhubungan dengan penampilan fisik- kepada suaminya, karena mungkin saja hal tersebut dapat menjerumuskan suami berbuat dosa). Sewaktu mendengar bahwa istri salah satu saudaranya sangat cantik, tersirat rasa penasaran untuk melihatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Ketika istri saudaranya mendengar bahwa Hakim Agung mata keranjang, maka ia berusaha sedapat mungkin untuk selalu menjauhinya. Sampai akhirnya pada suatu hari raja mengutarakan kepada Hakim Agung bahwa ia memerlukan seorang duta untuk ditugaskan di sebuah kota atau negeri, seraya berkata: “Wahai Hakim Agung, apakah engkau dapat memperkenalkan kepadaku seseorang untuk menjadi duta?&#8221;. Hakim menjawab: “Ya, ia adalah saudaraku, tidak ada yang lebih baik darinya”. Saudaranya telah mengetahui bahwa Hakim Agung mata keranjang, tetapi karena diiming-imingi bayaran yang berjumlah banyak akhirnya iapun menerima tawaran tersebut untuk menjadi duta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Hari kedua dari kepergian saudaranya, Hakim Agung mendatangi rumah saudaranya, sesampai di rumahnya lalu ia mengetok pintu. Dan dari dalam rumah terdengar suara seorang perempuan bertanya: “Siapa?”. “Saya Hakim Agung”, jawabnya.  Perempuan kembali bertanya:  “Ada perlu apa?”. “Saya datang untuk menengok istri saudaraku”, jawab Hakim Agung. Perempuan kembali berkata: “Silahkan anda datang kemari ketika suamiku telah datang. Saya perempuan bukan mahram-mu sehingga tidak diizinkan untuk memasukkan anda ke dalam rumah. Dan Anda sebagai seorang Hakim Agung pasti tidak suka berbuat dosa”. Sewaktu Hakim Agung menyaksikan istri saudaranya sangat tegas, akhirnya ia pergi meninggalkan rumah tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Empat hari setelahnya, Hakim Agung kembali mendatangi rumah saudaranya dan berkata: “Saya datang untuk menengok istri saudaraku”. Perempuan berkata: “Istri saudaramu?, memangnya ada urusan apa dengan istri saudaramu? Saya tidak mengerti, apakah Anda suamiku?”. Hakim kembali bertanya: “Apakah engkau tidak ada perlu?”. Perempuan menjawab:  “Apabila saya ada perlu, terdapat orang yang dapat menolongku. Saya tidak ingin merepotkan Anda”. Perempuan tersebut tidak membuka pintu dan berkata dari balik pintu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sewaktu Hakim tidak berhasil melakukan niat jahatnya, akhirnya ia mencari tipu muslihat lain dan kembali mendatangi rumah saudaranya sambil tergopoh-gopoh, kemudian ia mengetuk pintu dan berkata: “Tolong bukakan pintu, tolong bukakan pintu&#8230;!?”. Perempuan bertanya: “Ada apa?”. “Cepat, tolong bukakan pintu, cepat tolong bukakan pintu, saya ingin pergi ke WC&#8230;!?”,  kata <span> </span>Hakim Agung. Kemudian perempuan membuka pintu dan mempersilahkannya masuk. Hakim pergi ke WC dan kembali seraya berkata: “Sebenarnya ada satu hal yang ingin saya utarakan kepadamu”. “Saya menginginkan Anda tidak mengatakan apa-apa. Anda telah kembali dari wc, pintupun terbuka, silahkan keluar!&#8221;, sahut perempuan muda itu dengan tegas. Hakim Agung kembali bertanya: “Tahukan Anda siapakah saya?  Saya adalah Hakim Agung ”. “Siapapun diri Anda, apakah Anda datang kemari untuk menyalahgunakan kedudukan anda? Saya bukan orang yang bersalah sehingga harus takut pada Anda. Dan sayapun tidak mempunyai masalah, sehinggga Anda kujadikan perantara untuk menyelesaikan masalahku (nepotisme)”, ujar perempuan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Apabila engkau tidak melayaniku maka saya akan membuatmu celaka”, ancam Hakim. “Jika sedetik lagi Anda tinggal di sini, maka saya akan berteriak sehingga semua orang tahu siapa dirimu dan akhirnya harga dirimu akan jatuh di hadapan masyarakat”, jawab perempuan kembali mengancamnya. Hakim kembali berkata: “Anda telah mengusirku?”. “Ya, pergilah, pergilah dari sini”, sahut perempuan itu. Kemudian Hakim keluar dari rumah sambil menutup pintu dengan keras. Ia pergi menuju istana raja. Sewaktu raja melihatnya dalam keadaan murung, kemudian ia bertanya: “Apa yang telah terjadi? Kenapa Anda murung?”. “Tidak ada apa-apa, hanya sedikit masalah keluarga”, jawab Sang Hakim. Namun raja terus memaksanya untuk menjelaskan kepadanya. Akhirnya ia berujar: “Istri saudaraku telah menghianati kami. Ia telah menyeleweng dengan seorang laki-laki lain”. “Apa, ia telah berkhianat?”, tanya raja kaget. “Ya&#8221;, jawab Sang Hakim. “Harus diberi pelajaran dia”, ujar raja. “Ya, benar”, sahut Hakim bersemangat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Keesokan harinya, raja memerintahkan untuk menangkap perempuan itu dan dibawa ke hadapannya. Perempuan muda itu bertanya:  “Ada apa Tuan raja?”. “Engkau telah mengkhianati dutaku”, jawab raja.  Dikala itu, perempuan melihat Hakim dari kejauhan yang sedang memandang kepadanya dengan penuh perasaan puas. Perempuan kembali berkata:  “Siksalah diriku tuan!? Namum saya katakan lagi, bahwa saya tidak bersalah. Saya rela menyerahkan jiwa dan raga untuk disiksa. Tetapi saya tidak akan pernah menyerahkan kesucian dan kehormatanku”. Berdasarkan keputusan raja akhirnya perempuan diberi hukuman rajam (diletakan di sebuah lubang dan kemudian ditutup tanah dalam posisi berdiri hingga lehernya, dan orang-orang melemparinya dengan batu .red). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Pada sore hari, ketika kepala perempuan itu telah dipenuhi dengan batu, orang-orang mengira ia telah meninggal. Kemudian mereka meninggalkannya dan berencana akan menguburkannya pada keesokan harinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Imam Baqir as berkata: “Perempuan tersebut tidak mati. Pada tengah malam ia berusaha mengeluarkan diri dari lobang dan lari untuk menyelamatkan diri dengan tubuh yang dipenuhi luka. Ia berjalan sampai akhirnya tidak sadarkan diri. Ia telah diselamatkan oleh seorang rahib (orang yang selalu beribadah .red).  Ketika sadar, ia sangat kaget seraya bertanya:  “Dimanakah saya?”.  “Ini tempat ibadah”, jawab rahib. “Engkau telah menyelamatkanku. Apa yang dapat saya lakukan untuk membalas kebaikan tuan?”, tanyanya kembali. “Saya sudah tua dan tidak berniat untuk menikah lagi, Akan tetapi saya memiliki anak-anak kecil sementara ibu mereka telah meninggal dunia. Jadilah engkau ibu bagi mereka. Selain itu aku mmepunyai pembantu yang akan membantumu pekerjaanmu”, kata rahib lanjutnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Imam Baqir as berkata: “Namun sayangnya ternyata pembantu laki-laki tersebut pun bermata keranjang. Pada suatu hari, ia mengajak perempuan muda nan cantik jelita itu untuk melakukan perbuatan mesum. Mendengar ajakannya, perempuan itupun tertawa. “Kenapa engkau tertawa?”, tanya sang pembantu.  “Nasibku sampai di sini karena saya tidak ingin berbuat mesum”, katanya lirih. “Akan kulempar engkau dengan batu jika tidak mau melayaniku”, ancam pembantu. Perempuan kembali tertawa seraya berkata: “Saya telah dilempari beribu-ribu batu. Apakah saya harus takut hanya dengan satu batu saja”, tegasnya. Ternyata benar, pembantu itu melemparnya dengan batu. Namun batu itu mengenai anak rahib yang akhirnya menyebabkannya meninggal dunia karena lemparan batu tersewbut. Mendengar hal itu Rahib sangat marah sekali. Pembantu melemparkan perbuatannya itu kepada sang perempuan muda. Dan akhirnya rahib pun mengusirnya. Sebelum pergi, perempuan kembali berkata:  “Sumpah demi Tuhan, saya tidak melakukannya tuan&#8221;. “Enyahlah engkau dari sini! Saya tidak ingin melihatmu lagi! Apakah saya harus mempercayai ucapanmu yang baru tinggal di sini dan tidak mempercayai ucapan pembantuku yang sudah bertahun-tahun tinggal di rumahku?!”, ujar sang rahib. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> Akhirnya perempuan itu pergi meninggalkan rumah sang rahib dengan dibekali uang sejumlah 120 dinar. Ia berjalan hingga sampai di sebuah kota. Di kota tersebut ia menyaksikan seorang laki-laki yang digantung setengah badan sedang berteriak-teriak meminta tolong. Rasa penasaran membuat perempuan bertanya: “Kenapa ia diperlakukan seperti itu?”. “Pengadilan telah memberikan hukum seperti itu bagi yang tidak dapat membayar hutang, hingga ada orang yang merasa belas kasihan dan membayari hutangnya”, jelas orang-orang. “Berapa jumlah hutangnya?”, tanyanya lagi. “120 Dinar”,  jawab orang-orang. Kemudian perempuan mengelurkan uang yang dimilikinya untuk membayar hutang laki-laki tersebut.  Setelah bebas, laki-laki itu berterima kasih kepada perempuan seraya bertanya: “Engkau dari mana?”. “Saya sendirian dan asing di kota ini”, jawab perempuan tersebut. Ketika laki-laki mengetahui perempuan itu asing dan sendirian, akhirnya ia memiliki pikiran jahat. Tanpa sepengetahuan perempuan muda tadi, ia telah menjual perempuan tersebut ke tempat jual-beli para budak.  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Tidak lama kemudian, tiba-tiba pembeli budak mengikat tangannya. “Lepaskan saya”, ujar perempuan itu.  “Bukankah engkau seorang budak? Saya telah membelimu dari laki-laki itu”, tanya pembeli budak. Mendengar hal itu, kemudian perempuan menatap ke arah langit dan berguman: “Ya Tuhan, sungguh mengherankan orang-orang ini, diselamatkan malah seperti ini balasannya”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Imam Baqir as berkata: Kala itu, di pelabuhan terdapat dua kapal. Satu kapal barang dan satunya lagi kapal penumpang. Pembeli budak menempatkan perempuan di kapal barang, karena kecantikannya sehingga ia takut perempuan itu diganggu oleh para penumpang. Perempuan menempati kapal barang. Tetapi di tengah perjalanan, kapal itu berhadapan dengan badai dan topan laut. Kapal oleng dan akhirnya perempuan dengan kapalnya terdampar di sebuah pulau, sementara penumpang lainnya tenggelam. Perempuan itu kahirnya tinggal di pulau tersebut. Bertahun-tahun lamanya ia beribadah kepada Kekasih Sejatinya (Allah SWT) di pulau tersebut”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Imam Baqir as berkata: Tuhan mewahyukan kepada Nabi Uzair as bahwa, Ia akan menurunkan azab bagi kaumnya. Nabi Uzair as menyampaikan kabar tersebut kepada kaumnya. Kaumnya meminta kepadanya untuk memohonkan kepada Tuhan agar menangguhkan azab-Nya tadi. Tuhan mewahyukan kepada Nabi Uzair as bahwa azab itu tidak akan dapat ditangguhkan kecuali jika mereka dimaafkan oleh salah seorang hamba-Nya yang tinggal di sebuah pulau. Kemudian mereka berbondong-bondong pergi ke pulau tersebut hingga akhirnya mereka menemui seorang perempuan yang sangat bercahaya wajahnya dan memiliki kharisma yang terpancar darinya. Satu persatu dari mereka meminta maaf kepada perempuan tersebut. Namun tidak seorangpun mengetahui siapa perempuan tadi. Raja berkata: “Saya dulu telah merajam seorang perempuan muda yang tidak bersalah, karena saya tidak mengira Hakim Agungku seperti itu. Maka mohonkankan kepada Tuhan agar Ia sudi memaafkanku”. Perempuan itu berkata:  “Ya Tuhanku, ampunilah dia!?”. Tiba giliran Hakim Agung berkata: “Aku bukanlah orang yang baik. Aku telah menuduh istri saudaraku yang baik dan taat itu. Maka mohonkankan kepada Tuhan agar Ia memaafkanku”.  “Ya Tuhanku, ampunilah ia”, doanya. Kemudian datanglah seorang rahib sambil berkata:  “Aku tidak mengetahui jika pembantuku telah berpikiran busuk. Aku telah mengusir seorang perempuan yang tidak bersalah. Maka mohonkankan dari Tuhan agar memaafkanku”. “Ya Tuhanku, ampunilah ia”, doanya. Kini giliran pembantu rahib datang sambil berkata: “Saya telah menuduh perempuan tidak bersalah dengan tuduhan membunuh. Mohonkankan kepada Tuhan agar memaafkanku”.  “Ya Tuhanku, ampunilah ia”, doanya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Akhirnya tiba giliran laki-laki yang telah dibayarkan semua hutangnya tadi. Ia datang seraya berkata: “Saya telah menjual perempuan asing dan sendirian itu, dan telah merusak kehormatannya sebagai seorang yang baik. Maka mohonkankan kepada Tuhan agar sudi memaafkanku”. “Ya Tuhan, janganlah Engkau ampuni penjual kehormatan seorang perempuan ini!”, doa sang perempuan.  Setelah itu, bumi pun terbelah dan laki-laki tersebut masuk ke dalamnya dan akhirnya binasa. Setelah menyaksikan kejadian itu, mereka yang datang ke pulau itu berkata: “Wahai tuan, silahkan datang ke kota kami, istana tersedia untuk tuan&#8221;. “Tidak usah repot-repot. Azab tidak jadi diturunkan kepada kalian. Silahkan pergi dari pulau ini!?”,  jawab sang perempuan. Mereka kembali bertanya: “Tuan, siapakah Anda sebenarnya?”.  “Aku adalah perempuan yang telah kalian zalimi itu. Aku telah mengatakan bahwa tidak bersalah, namun tipu daya syetan telah menguasai diri dan jiwa kalian. Sekarang pergilah kalian semua dari sini!”. <span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[ED, sumber: Karamat wa Hikayat Asyiqane- Khuda, Jibrail Haji Zadeh, jil 2, hal 218-228]</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/105/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/105/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/105/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=105&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/25/sungguh-ajaib-perempuan-malaikat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/mawar-salju.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mawar-salju.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Apakah Hawa Penyebab Terusirnya Nabi Adam dari Surga?&#8221;; Study Komparatif antara Al-Qur&#8217;an dengan Perjanjian Lama (Bag I)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/22/apakah-hawa-penyebab-terusirnya-nabi-adam-dari-surga-study-komparatif-antara-al-quran-dengan-perjanjian-lama/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/22/apakah-hawa-penyebab-terusirnya-nabi-adam-dari-surga-study-komparatif-antara-al-quran-dengan-perjanjian-lama/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 May 2007 02:48:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/22/apakah-hawa-penyebab-terusirnya-nabi-adam-dari-surga-study-komparatif-antara-al-quran-dengan-perjanjian-lama/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kesempatan ini saya berusaha untuk menganalisa kembali tentang ‘apakah benar bahwa Hawa sebagai penyebab terusirnnya Nabi Adam dari surga?”, dengan mengadakan perbandingan antara dua kitab suci yaitu al-Qur’an dan Perjanjian Lama (Taurat) &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; “Apakah Hawa Penyebab Terusirnya Nabi Adam dari Surga?” (Bag I) (Study komparatif antara kitab suci Al-Qur’an dengan kitab suci Perjanjian Lama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=102&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/05/kitab-suciku-al-quran.gif" title="kitab-suciku-al-quran.gif"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/05/kitab-suciku-al-quran.thumbnail.gif?w=500" alt="kitab-suciku-al-quran.gif" /></a></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-weight:normal;">Dalam kesempatan ini saya berusaha untuk menganalisa kembali tentang ‘apakah benar bahwa Hawa sebagai penyebab terusirnnya Nabi Adam dari surga?”, dengan mengadakan perbandingan antara dua kitab suci yaitu al-Qur’an dan Perjanjian Lama (Taurat)</span></strong><span></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p><span id="more-102"></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:center;" class="MsoNormal" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">“Apakah Hawa Penyebab Terusirnya Nabi Adam dari Surga?” (Bag I)</span></strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:center;" class="MsoNormal" align="center"><span>(Study komparatif antara kitab suci Al-Qur’an dengan kitab suci Perjanjian Lama (Taurat))</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:center;" class="MsoNormal" align="center">&nbsp;</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;">Dalam kesempatan ini saya berusaha untuk menganalisa kembali tentang ‘apakah benar bahwa Hawa sebagai penyebab terusirnya Nabi Adam dari surga?”, dengan mengadakan perbandingan antara dua kitab suci yaitu al-Qur’an dan Perjanjian Lama (Taurat). Mungkin sebagian menganggap hal ini merupakan permasalahan yang telah usang. Namun bagi saya tidak ada salahnya kita kembali menganalisanya masalah tersebut. Benarkah Hawa sebagai penggoda yang menyebabkan Nabi Adam berbuat dosa (dosa di sini ialah melakukan yang sebaiknya ditinggalkan atau istilah lainnya ialah <em>tarkul aula </em>(meninggalkan yang utama untuk kemaslahatan)<em>, </em>bukan dosa dalam artian berbuat haram karena di surga sana belum terdapat taklif untuk manusia) dan akhirnya terusir dari surga?</span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;">Namun sebelum memasuki pembahasan, terlebih dahulu terdapat satu pertanyaan yang harus kita jawab sebagai prolog untuk memasuki pembahasan pokok, sehingga permasalahan menjadi lebih transparan.</span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span>Pertanyaan:</span></strong><strong><span style="font-weight:normal;"> “</span></strong><strong><span>Apakah sejak semula Adam diciptakan untuk tinggal di muka bumi, atau untuk tinggal di surga?” </span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span>Jawab:</span></strong><strong><span style="font-weight:normal;"> Sejak semula Nabi Adam dan Hawa (manusia) telah diciptakan Tuhan untuk tinggal di bumi, bukan untuk tinggal di surga</span></strong><strong><span>, </span></strong><span>sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah 30 yang berbunyi: </span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;">“<em>Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah <strong>di muka bumi</strong></em>.”</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;">Dalam ayat di atas ungkapan <strong>“<em>Fil Ardhy”</em></strong> yang artinya dalam bahasa Indonesia ialah <strong>“di muka bumi”. </strong>Dalam ayat tadi, Allah swt telah mengatakan kepada para malaikat bahwa Dia hendak menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, dan tidak mengatakan untuk tinggal di surga. Hal itu terjadi terjadi sebelum penciptaan Nabi Adam dan Hawa, yang akhirnya para malaikat protes kepada Allah swt tentang hal itu, namun Allah swt memberikan jawaban kepada mereka bahwa Dia lebih mengetahui hal-hal yang tidak diketahui oleh para malaikat. Perihal ini dapat anda lihat dalam lanjutan ayat di atas.</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;">Namun, sebelum turun ke muka bumi, Allah telah menempatkan Adam dan Hawa di surga untuk ditraining dan diuji sebelum memasuki kehidupan dunia yang tentunya lebih sulit dibanding kehidupan di surga tersebut. Ujian serta training tersebut sebagai bekal mereka dalam kehidupan di muka bumi. Di sisi lain, para ahli tafsir Qur’an mengatakan bahwa surga tempat Nabi Adam dan Hawa tinggal bukanlah surga setelah kiamat. Dengan alasan;</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><em>Pertama</em></strong>; Surga pasca Kiamat penghuninya akan kekal di dalamnya dan tidak akan keluar darinya, sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa ayat al-Qur’an seperti dalam surat Fath ayat 5, al-Hadid ayat 12, al-Mujadalah ayat 22, at-Taghabun ayat 9 dan lain sebagainya. Sementara surga yang ditempati oleh Nabi Adam dan Hawa, mereka tidaklah kekal di dalamnya, buktinya akhirnya mereka keluar dari surga tersebut.</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><em>Kedua</em></strong>; Syetan tidak dapat masuk ke dalamnya. Sementara surga Nabi Adam dan Hawa dapat dimasuki oleh syetan yang telah menggoda mereka.</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><em>Ketiga</em></strong><em><span style="font-style:normal;">;</span></em> Surga pasca Kiamat adalah yang disediakan sebagai balasan amal manusia, artinya surga adalah balasan untuk orang-orang yang telah berbuat baik. Namun surga Nabi Adam dan Hawa tidak seperti itu, sebelum mereka beramal (<em>taklif</em>) telah dimasukan ke dalam surga.</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><em><strong>Keempat</strong>; </em>S<em><span style="font-style:normal;">u</span></em>rga di akherat kelak bersifat bebas mutlak untuk para penghuninya. Dalam arti, tidak ada larangan sedikitpun, berbeda dengan surga Adam-Hawa dimana mereka dilarang untuk memakan buah Khuldi yang ada di surga tersebut.</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong>Setelah menyelesaikan prolog di atas, marilah kita memasuki pembahasan pokok yaitu menjawab sebuah pertanyaan: “Apakah benar Hawa penyebab turunnya Adam dari surga?” dengan mengadakan study komparatif antara Al-Qur’an dan Perjanjian Lama .</strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;">Apabila kita merujuk ke kitab suci Al-Qur’an maka jawabannya ialah negative. Terdapat dalam beberapa surat yang telah menjelaskan penciptaan Nabi Adam dan Hawa dalam al-Qur’an, seperti dalam surat al-Baqarah dari ayat 34-38, an-Nisa ayat 1, al-A’raf, 19-24 dan Thoha ayat 115-122. Namun yang telah menjelaskan secara terperinci ialah terdapat dalam surat al-A’raf. Dimana dalam surat tersebut telah dijelaskan pula sebab terusirnya Nabi Adam dan Hawa dari surga. Dalam surat tersebut telah dijelaskan pula bahwa sumpah palsu syetan yang menyebabkan mereka dikeluarkan dari surga. Allah swt telah menegur kedua-duanya (Nabi Adam dan Hawa) atas perlakuannya. Mari kita perhatikan kandungan ayat-ayat berikut ini, apakah dapat diambil kesimpulan bahwa Hawa sebagai penyebab turunnya Adam dari surga?:</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;">“(<em>dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim. Maka <strong>syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya</strong> untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: </em><strong><em>“Tuhan kamu tidak melarang kalian dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kalian berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”</em></strong><em>. </em><strong><em>Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kalian berdua</em></strong><em>. </em><strong><em>Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya</em></strong><em>. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “<strong>Bukankah Aku Telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu</strong>: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami Telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya Pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”(al-A’raf 19-22)</em></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;">Berdasarkan ayat di atas, sumpah palsu syetan dengan mengatakan kepada Adama dan Hawa bahwa sebab pelarangan Tuhan untuk memakan buah tersebut ialah, karena Tuhan tidak ingin mereka menjadi malaikat dan kekal di dalamnya. Tidak cukup di situ, bahkan syetan pun telah bersumpah dengan mengatakan bahwa ia melakukan hal itu karena demi kebaikan mereka berdua. Silahkan kembali cermati secara seksama ayat di atas!<strong> </strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;">Lebih jelas lagi terdapat dalam surat Thoha ayat 117-121 yang berbunyi:</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><em>“Maka Kami berkata: “Hai Adam, Sesungguhnya Ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, Maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan Sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya. <strong>Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata:</strong> </em><strong><em>“Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?</em></strong><em>“. <strong>Maka keduanya memakan dari buah pohon itu</strong>, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya Maka dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.</em></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"><strong>Keterangan</strong>; Yang dimaksud dengan durhaka di sini ialah melanggar larangan Allah Karena lupa dan dengan tidak sengaja, sebagaimana disebutkan dalam ayat 115 surat ini. Dan yang dimaksud dengan sesat ialah mengikuti apa yang dibisikkan syaitan. Kesalahan Adam a.s meskipun tidak begitu besar menurut ukuran manusia biasa sudah dinamai durhaka dan sesat, Karena tingginya martabat Nabi Adam a.s. dan untuk menjadi teladan bagi orang besar dan pemimpin-pemimpin agar menjauhi perbuatan-perbuatan yang terlarang Bagaimanapun kecilnya.</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;">Mari kita bandingkan ayat di atas dengan yang terdapat dalam kitab perjanjian lama (Taurat) yang sudah terjadi banyak penyelewengan berkaitan dengan isinya, niscaya akan kita dapati bahwa jawabannya adalah positif, Hawa-lah penyebab terusirkannya Nabi Adam dari surga. Dalam kitab perjanjian lama dalam ‘bab penciptaan Adam dan Hawa’ telah dijelaskan bahwa Hawa sebagai penyebab diturunkannya Adam dari surga. Bahkan Tuhan menegur Adam kenapa mengikuti ucapan istrinya untuk memakan buah terlarang. Dengan kata lain, Hawa yang telah menyebabkan Nabi Adam melakukan kesalahan. Saya dapatkan hal ini dari terjemahan (edisi Arab dan juga edisi Persia) Perjanjian Lama. Namun saya yakin, edisi terjemahan kitab tersebut dapat dipertanggungjawabkan karena merupakan terjemahan resmi. Dan insyaAllah pemahaman saya dari terjemahan tersebut tidak akan melenceng dari isinya. Kurang lebih isinya seperti ini:</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;">“<em>Telah berkata ular kepada </em><strong><em>wanita (Hawa)</em></strong><em>: “Kenapa telah memerintahkan Tuhan kalian untuk tidak memakan semua (buah) pepohonan surga? Lantas </em><strong><em>wanita (Hawa)</em></strong><em> tersebut menjawab pertanyaan ular; “Kami memakan buah-buahan pepohonan yang ada di surga. </em><strong><em>Namun dari buah pohon yang ada di tengah surga, Tuhan telah melarang kami untuk memakannya, dan kami tidak boleh mendekatiya karena kami akan mati. Ular berkata; “Kalian berdua tidak akan mati</em></strong><em>. Karena sesungguhnya Tuhan mengetahui bahwasanya setiap saat kalian memakan dari buah pohon itu, maka mata kalian akan terbuka dan kalian akan menjadi seperti Tuhan, akan mengetahui kebaikan dan kejahatan. </em><strong><em>Wanita (Hawa) melihat buah pohon tersebut baik untuk dimakan dan enak dipandang. Maka ia mengambil dari buah pohon tersebut dan memakannya, ia memberikan buah pohon tersebut kepada suaminya (Adam), dan iapun (Adam) memakannya</em></strong><em>. Maka terbukalah mata mereka, dan ketika mereka mengetahui dalam keadaan telanjang maka mereka menyambungkan dedaunan dari pohon tin dan mereka membuat sarung untuk mereka berdua. Di saat itu terdengarlah suara Tuhan yang sedang berjalan di surga ketika mendekati sepoi-sepoi angin setelah zuhur. Maka bersembunyilah Adam dan Hawa dari wajah Tuhan di antara pepohonan surga. Lantas Tuhan memanggil Adam seraya berkata: “Dimana engkau? Adam menjawab: “Aku mendengar suara-Mu di surga, maka aku takut karena aku dalam keadaan telanjang , karena aku malu (telanjang) maka aku sembunyi. Tuhan berkata kepadanya (Adam): “Siapa yang telah memberitahukan kepadamu bahwa engkau telanjang? Apakah engaku telah memakan buah yang telah Aku larang untuk tidak memakan darinya? Adam menjawab: </em><strong><em>“Tuhanku, wanita (Hawa) ini yang telah Engkau jadikan teman untukku yang telah memberikan buah dari pohon itu kepadaku lalu aku memakannya</em></strong><em>. Kemudian Tuhan berkata kepada wanita (Hawa): “Kenapa engkau melakukan hal ini?. Wanita (Hawa) menjawab: “Ular itu yang telah menipuku, lalu aku memakannya.” Kemudian Tuhan berkata kepada Ular: “Karena engkau telah melakukan hal ini, maka akan terlaknatlah (terusir) engkau dari seluruh binatang dan semua binatang melata. Engkau akan berjalan pada dadamu dan engkau akan makan tanah selama hidupmu…kemudian Tuhanpun berkata kepada </em><strong><em>wanita (Hawa):</em></strong><em> </em><strong><em>“Akan kuperbanyak rasa sakitmu, dan kehamilanmu, engkau akan melahirkan anak dengan rasa sakit dan engkau akan berada di bawah kekuasaan laki-laki (di bawah perintah laki-laki), serta ia akan menguasaimu. </em></strong><em>Dan berkata Tuhan kepada </em><strong><em>Adam: “Karena engkau telah menuruti ucapan istrimu</em></strong><em>, dan engkau telah memakan buah dari pohon yang telah aku larang untuk memakan darinya, maka setelah itu bumi terlaknat dalam pekerjaanmu, dengan susah payah engkau akan makan darinya pada seluruh hari-hari kehidupanmu…lantas Tuhan mengeluarkan Adam dari surga… ”</em> .</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;">Silahkan bandingkan dengan surat Thaha dari kitab suci al-Qur’an di atas! Dimana syetan telah menggoda dan membisikan kepada Adam secara langsung (yang ditulis tebal). Namun dalam Perjanjian Lama, ular (syetan) pertama menggoda Hawa, kemudian Hawa membujuk Nabi Adam untuk memakan buah khuldi yang akhirnya Adam ditegur oleh Tuhan karena telah menuruti dan tergoda ucapan istrinya yang akhirnya menyebabkan ia terusir dari surga. Namun dalam al-Qur’an kedua-duanya telah ditegur oleh Allah swt, karena baik Nabi Adam maupun Hawa telah tergoda oleh sumpah palsu syetan. Lihat dalam al-Qur’an sejak semula syetan telah menggoda Adam dan Hawa dengan mengatakan ‘kalian berdua’ (karena dalam ayat tersebut menggunakan &#8216;dhamir mutsana&#8217;, yaitu kata ganti orang yang menunjukkan dua orang) ), bukan syetan hanya menggoda kepada Hawa, lalu Hawa menggoda Nabi Adam:<span style="font-size:10pt;line-height:150%;"> </span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"></span><em><strong>“Tuhan kamu tidak melarang kalian dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kalian berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”</strong>. </em><strong><em>Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kalian berdua”.</em> </strong><em><strong>Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya</strong>.</em><strong> (al-A’raf 19-21</strong>)<em> </em></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span>Kesimpulan:</span></strong></p>
<ul>
<li><span dir="ltr"><strong><span style="font-weight:normal;">Dalam al-Qur’an Hawa bukanlah penyebab Nabi Adam as terusir dari surga, akan tetapi sejak semula Nabi Adam as pun sebagaimana Hawa telah tertipu oleh sumpah palsu syetan.</span></strong></span></li>
<li><span dir="ltr"><strong><span style="font-weight:normal;">Sumpah palsu ialah; pertama, syetan telah bersumpah bahwa tidaklah Allah swt telah melarang Nabi Adam dan Hawa untuk memakan buah khuldi melainkan karena Dia tidak ingin mereka kekal seperti para malaikat. Kedua, syetan bersumpah bahwa ia melakukan hal ini hanyalah demi kebaikan mereka berdua.</span></strong></span></li>
<li><span dir="ltr"><strong><span style="font-weight:normal;">Karena kedua-duanya telah bersalah maka Allah swt menegur kedua-duanya.</span></strong></span></li>
<li><span dir="ltr"><strong><span style="font-weight:normal;">Namun dalam kitab Perjanjian Lama, pertama syetan (yang dalam kitab tesebut disebut ular) menipu Hawa, kemudian Hawa menggoda Nabi Adam untuk memakan buah khuldi.</span></strong></span></li>
<li><span dir="ltr"><strong><span style="font-weight:normal;">Oleh karena itu, setelah Tuhan mengetahui pelanggaran atas pelarangannya, pertama Tuhan menegur Adam. Sewaktu Tuhan menegur <span></span>Nabi Adam karena kesalahannya, Nabi Adam mengatakan bahwa perempuan yang Engkau ciptakan untuk jadi temanku (Hawa) yang telah membujukku untuk memakannya. Jadi, secara tidak langsung Hawa sebagai penyebab ia berbuat salah dan akhirnya terusir dari surga.</span></strong></span></li>
<li><span dir="ltr"><strong><span style="font-weight:normal;">Setelah itu, kemudian Tuhan menegur Hawa, kenapa telah menggoda Adam untuk memakan buah terlarang?</span></strong></span></li>
<li><span dir="ltr"><strong><span style="font-weight:normal;">Oleh karena itu, secara tidak langsung menurut kitab Perjanjian Lama Hawa sebagai penyebab terusirnya Nabi Adam dari surga, sebagaimana yang selalu kita dengar selama ini. <span></span></span></strong></span></li>
</ul>
<p style="margin-left:0.25in;line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;"></span></strong></p>
<p style="margin-left:0.25in;line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;"></span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong>Sumber:</strong></p>
<ol>
<li class="MsoNormal">Al-Qur’an</li>
<li class="MsoNormal">Perjanjian Lama (Taurat) edisi bahasa Arab.</li>
<li class="MsoNormal">Tafsir Mizan karya Allamah Thabathabai’</li>
<li class="MsoNormal">Tafsir Tasnim, karya Ayatullah jawadi Amuli</li>
<li class="MsoNormal">Tafsir Nemuneh, Ayatullah Makarim Syirazi</li>
</ol>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span>Catatan:</span></strong></p>
<ul>
<li>Kenapa Hawa dinamakan Hawa? Karena ia merupakan ibu para Makhluk hidup (maksudnya manusia). Karena Hawa berasal dari akar kata ‘Hayun’ yang artinya hidup.</li>
</ul>
<ul>
<li>Adam dinamakan Adam, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis dari Imam Shadiq ia berasal dari akar kata: ‘<em>Adim</em>’ yang artinya bagian permukaan tanah. <strong><span style="font-weight:normal;"></span></strong></li>
</ul>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;">Bagi yang dapat memahami bahasa Arab dapat langsung merujuk sendiri kepada 2 sumber (al-Quran dan Perjanjian lama edisi Arab) tersebut. Sebenarnya saya ingin sekali melihat kitab aslinya yang berbahasa Ibrani, namun percuma saja, karena saya sendiri tidak bisa memahami bahasa Ibrani. Saya pun telah berusaha men-search kitab Perjanjian Lama yang berbahasa Indonesia di internet, khususnya yang berkaitan dengan pembahasan ini, namun tidak mendapatkannya. Jalan terakhir saya menggunakan rujukan saya ke kitab Perjanjian Lama edisi bahasa Arab dan Persia.</span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;" class="MsoNormal">[Euis Daryati, mahasiswi Pasca Sarjana jurusan Tafsir al-Qur’an]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/102/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/102/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/102/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=102&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/22/apakah-hawa-penyebab-terusirnya-nabi-adam-dari-surga-study-komparatif-antara-al-quran-dengan-perjanjian-lama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/05/kitab-suciku-al-quran.thumbnail.gif" medium="image">
			<media:title type="html">kitab-suciku-al-quran.gif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat! Hari ini, Hari Perawat</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/22/selamat-hari-ini-hari-perawat/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/22/selamat-hari-ini-hari-perawat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 May 2007 01:48:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/22/selamat-hari-ini-hari-perawat/</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini ialah tanggal 5 Jumadil-Awal dalam tanggalan Hijriyah Qomariyah. Lantas apa hubungannya antara “hari perawat” dengan tanggalan ini? Pada hari ini telah lahir seorang wanita besar dan agung yang patut menjadi contoh bagi para wanita pada khususnya dan bagi kaum pria pada umumnya. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; Selamat! Hari ini, Hari Perawat Hari ini ialah tanggal 5 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=100&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Hari ini ialah tanggal 5 Jumadil-Awal dalam tanggalan Hijriyah Qomariyah. Lantas apa hubungannya antara “hari perawat” dengan tanggalan ini? Pada hari ini telah lahir seorang wanita besar dan agung yang patut menjadi contoh bagi para wanita pada khususnya dan bagi kaum pria pada umumnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span id="more-100"></span><strong><span><br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span>Selamat! Hari ini, Hari Perawat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Hari ini ialah tanggal 5 Jumadil-Awal dalam tanggalan Hijriyah Qomariyah. Lantas apa hubungannya antara ‘hari perawat’ dengan tanggalan ini? Pada hari ini telah lahir seorang wanita besar dan agung yang patut menjadi contoh bagi para wanita khususnya dan bagi para laki-laki pada umumnya. Siapakah dia? Dia adalah Sy. Zainab al-Kubro putri dari pasangan manusia suci Sy. Fathimah Zahro dengan Imam Ali bin abi Thalib. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kecerdikannya, sehingga pada usia kanak-kanak beliau telah memahami konsep kontradiksi dualisme pada Tuhan, ini dapat dilihat pada percakapan beliau dengan ayahnya.<span>  </span>Kefasihannya (orator ulung) dalam berpidato, mengingatkan orang-orang akan pidato ayahnya yang merupakan orator ulung (Kumpulan khutbah, hikmah dan surat Imam Ali yang syarat dengan kefasihannya dapat dilihat dalam kitab “Nahjul-Balaghah (Puncak Kefasihan)” karya Sayyid Ridho). Keberaniannya di hadapan penguasa zalim yang tidak segan-segan akan membunuh orang yang melawannya. Ketegeran dan ketabahannya dalam menghadapi musibah yang dihadapi, yaitu pembantaian yang terjadi di hadapan matanya. Ibadahnya yang tidak pernah mengenal sikon, lebih jelasnya dapat saudara / saudari lihat tentang kepribadian beliau pada katagori profil yang berjudul “Dan Dia-lah Sayyidah Zainab Kubro”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dengan tetap menjaga kenasionalisme-anku sebagai warga negara<span>  </span>Indonesia yang sangat aku cintai, terkadang terdapat tokoh yang keberadaannya tidak mengenal batas geografis dan teroterial. Sy. Zainab al-Kubro merupakan tokoh meta-geografis, tokoh agung yang kepribadiannya dapat dicontoh oleh seluruh manusia dengan berbagai ras dan dimana saja berada. Imam khomaeni merupakan tokoh yang sangat menghargai kaum Hawa telah menjadikan hari kelahiran beliau sebagai ‘hari perawat’. Oleh karena itu, pada hari ini di Iran diadakan berbagai acara untuk mengenang jasa-jasa para perawat. Mulai dari pemutaran film tentang perawat, interviu, penobatan perawat teladan, menanyakan kepada pemerintah tentang perlindungannya terhadap para perawat dan ucapan selamat untuk para perawat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kenapa hari lahir Sayyidah Zainab al-Kubro? Apa sisi kesamaan antara keduanya? Pada tragedi Karbala, sewaktu orang-orang yang diperintah oleh penguasa kala itu (Yazid bin Muawiyah) membantai semua anggota keluarga Rasulullah yang berada di tanah Karbala. Mereka membunuh semua keluarga Rasul yang menyertai Imam Husen (cucu Rasulullah dan saudara Sy. Zainab al-Kubro), mulai dari bayi yang berumur 6 bulan (bernama Ali Ashgar yang kehausan, namun ketika Imam Husen memperlihatkan bayi yang menjerit-jerit karena kehausan kepada musuh, para musuh malah memanah bayi tersebut dan panah telah menancap tepat ditenggorokan bayi, yang menyebabkan bayi tersebut mati syahid.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Semua laki-laki dibunuh, mulai dari bayi, remaja, dewasa dan Imam Husen yang kala itu berusia 63 tahun. Mereka tidak menyisakan seorang laki-laki pun kecuali Ali Aushat yaitu Imam Ali Zainal Abidin (salah satu putra Imam Husen), yang kala itu sedang sakit parah. Sayyidah Zainab merawat beliau, bahkan ketika para musuh hendak membunuhnya Sayyidah Zainab menghadangnya. Selain itupun beliau menjadi ketua rombongan para tawanan yang diarak dibawa keliling dari kota Karbala, Kuffah (sekarang Najaf) sampai ke Syam (Suriah). Karena salah satu tugas Sayyidah Zainab al-Kubro kala itu ialah merawat Imam Ali Zainal Abidin yang dengan hikmah Tuhan beliau sakit, sehingga garis keimamahan terus berlangsung<span>  </span>maka pada hari kelahiran beliau dijadikan sebagai hari perawat. Dalam hal baik bukankah tidak ada salahnya kita belajar dari yang lain?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Bagi yang ingin mengenal beliau lebih jauh maka dapat merujuk pada buku:</span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><span>Bathlatu      Karbala (pahlawan Karbala) karya penulis handal Dr. Aisyah binti Syathi      yang berasal dari Mesir.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Sayyidah Zainab      minal Mahdi ilal Lahdi (Sy. Zainab dari lahir hinggga wafat) karya      Ayatullah Muhamad Qazwini. </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Selamat atas para perawat dimanapun berada”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Senyuman, ketelatenan yang selalu engkau tunjukkan pada para pasien”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Jasa-jasamu akan selalu dikenang”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Mari kitapun mengucapkan selamat kepada para perawat Indonesia, semoga mereka selalu bersabar dalam menjalankan tugasnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[Euis Daryati] </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/100/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/100/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=100&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/22/selamat-hari-ini-hari-perawat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Panduan Hubungan (Biologis) Suami-Istri (2)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/20/panduan-hubungan-biologis-suami-istri-2/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/20/panduan-hubungan-biologis-suami-istri-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 May 2007 18:15:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi Keluarga & Pendidikan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/20/panduan-hubungan-biologis-suami-istri-2/</guid>
		<description><![CDATA[Berkaitan dengan hal ini Rasulullah saww bersabda: “Janganlah kalian berhubungan biologis dalam keadaan berdiri karena itu merupakan prilaku keledai. Dan jika bayi terlahir darinya maka ia akan kencingan (ketika tidur ia akan kencingan) diranjang, ia tidak dapat menahan kencingnya seperti keledai yang kencingan disemua tempat”. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- Panduan Hubungan (Biologis) Suami-Istri (2) Beberapa Anjuran lainnya: Setelah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=99&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/mawar-sejoli.jpg" title="mawar-sejoli.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/mawar-sejoli.thumbnail.jpg?w=500" alt="mawar-sejoli.jpg" /></a></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Berkaitan dengan hal ini Rasulullah saww bersabda: “Janganlah kalian berhubungan biologis dalam keadaan berdiri karena itu merupakan prilaku keledai. Dan jika bayi terlahir darinya maka ia akan kencingan (ketika tidur ia akan kencingan) diranjang, ia tidak dapat menahan kencingnya seperti keledai yang kencingan disemua tempat”. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span></span><span id="more-99"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span></p>
<p style="text-align:center;" class="MsoNormal" align="center"><strong><span>Panduan Hubungan (Biologis) Suami-Istri (2)</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>Beberapa Anjuran lainnya:</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Setelah menyebut nama Allah swt, selanjutnya mari kita simak anjuran lainnya:</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>1.Tidak menghadap dan membelakangi kiblat</span></strong><span></span></p>
<ul>
<li><span dir="ltr"><span>Dalam hal ini Imam Shadiq as bersabda; “Janganlah anda melakukan hubungan biologis dalam keadaan menghadap dan membelakangi kiblat”. [1] </span></span></li>
</ul>
<ul>
<li><span dir="ltr"><span>Begitupun beliaupun telah menukil dari para leluhurnya bahwa Rasulullah saww telah melarang hal dan seraya bersabda: “Barang siapa yang melakukan hal ini maka laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia atasnya”.[2]</span></span></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>2.Tidak dalam Keadaan Kenyang</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Berhubungan biologis dalam keadaan kenyang akan merusak metabolisme badan dan berbahaya untuk kesehatan badan.</span></p>
<ul>
<li class="MsoNormal"><span>Imam Shadiq as bersabda: “Tiga perkara yang akan merusak metabolisme tubuh manusia, bahkan mungkin saja akan membinasakannya; mandi dalam keadaan kenyang, berhubungan biologis dalam keadaan kenyang, dan berhubungan biologis dengan perempuan tua (manula)”.[3]</span></li>
</ul>
<ul>
<li class="MsoNormal"><span>Imam Ridho as bersabda: “Janganlah kalian berhubungan pada awal malam dalam keadaan kenyang, karena lambung dan semua nadimu dalam keadaan penuh dan berhubungan dalam keadaan seperti ini tidaklan terpuji karena hal itu akan menimbulkan berbagai penyakit seperti lumpuh, kencing batu, &#8230;dan akan melemahkan pandangan (mata). Lakukanlah hubungan pada akhir malam, karena hal itu sangat bermanfaat untuk tubuh kalian juga akan menambah kecerdasan dan akal janin”. [4]</span></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span>3.Tidak dalam Keadaan Berdiri</span></strong></p>
<ul>
<li class="MsoNormal"><span>Berkaitan dengan hal ini Rasulullah saww bersabda: “Janganlah kalian berhubungan biologis dalam keadaan berdiri karena itu merupakan prilaku keledai. Dan jika bayi terlahir darinya maka ia akan kencingan (ketika tidur ia akan kencingan) diranjang, iatidak dapat menahan kencingnya seperti keledai yang kencingan disemua tempat”.[5] </span></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Catatan :</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Perlu diketahui, berkaitan dengan adab hubungan suami istri dari segi hukum fikih ada hal-hal yang ‘<em>di-mustahab-kan’</em> artinya jika dilaksanakan akan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa, namun lebih baiknya dilaksanakan karena di saat Allah menganjurkan sesuatu pasti ada maslahat dan hikmahnya. Yang terkadang kita tidak mengetahui hikmah dan maslahat tersebut. Hal-hal yang hukumnya makruh, artinya lebih baik ditinggalkan kendatipun apabila dilaksanakan tidak berdosa. [ED]<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span><span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>[1] Allamah Thabarsi, Makarimal-Akhlak, hal 212</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>[2] Syeikh Amuli, Wasa’il Syi’ah, jilid 20, hal 138</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>[3] Ibid, hal 255</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>[4]Ar-Risalah adz-Dzahabiyah, hal 65</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>[5] Syeikh Amuli, Wasa’il Syi’ah, jilid 20, hal 252</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>[Sumber: Adab Zafaf, Hujjatulislam Dr. Ali Thohmasibi Amuli]</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/99/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/99/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/99/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=99&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/20/panduan-hubungan-biologis-suami-istri-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/mawar-sejoli.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mawar-sejoli.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hijab dan Konsep Kebebasan (Liberalisme) bag-4; Hijab dan Kebebasan</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/17/hijab-dan-konsep-kebebasan-liberalisme-bag-4-hijab-dan-kebebasan/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/17/hijab-dan-konsep-kebebasan-liberalisme-bag-4-hijab-dan-kebebasan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2007 09:04:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/17/hijab-dan-konsep-kebebasan-liberalisme-bag-4-hijab-dan-kebebasan/</guid>
		<description><![CDATA[Bila kembali kita cermati ayat al-Qur’an tentang hijab, wanita muslimah diperintahkan untuk mengenakan busana muslimah ketika ia hendak keluar rumah dan berhadapan dengan lelaki non mahram. Karena jika ia berada di dalam rumah dan tidak ada laki-laki non mahram ia tidak perlu mengenakan busana muslimah. Ini berarti al-Qur’an berkata: beraktifitaslah wahai pemakai busana muslimah! Hak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=94&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/05/s_hijab15.jpg" title="s_hijab15.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/05/s_hijab15.thumbnail.jpg?w=500" alt="s_hijab15.jpg" /></a></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Bila kembali kita cermati ayat al-Qur’an tentang hijab, wanita muslimah diperintahkan untuk mengenakan busana muslimah ketika ia hendak keluar rumah dan berhadapan dengan lelaki non mahram. Karena jika ia berada di dalam rumah dan tidak ada laki-laki non mahram ia tidak perlu mengenakan busana muslimah. Ini berarti al-Qur’an berkata: beraktifitaslah wahai pemakai busana muslimah! </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Hak asasi dan kebebasan yang telah dikeluarkan dari kantongnya sendiri. Jika salah seorang dari mereka terbunuh oleh seorang muslim, mereka langsung akan berteriak dan turun tangan untuk menanganinya dengan alasan pembunuhan bertentangan dengan hak-hak asasi manusia. Namun ketika berjuta-juta muslim di Palestina, Afaganistan &#8230; dibunuh secara massal oleh tentara Israel, Amerika dan sekutu-sekutunya, mereka yang selalu menggembor-gemborkan hak-hak asasi manusia diam seribu bahasa. Apakah mereka yang terbunuh bukan manusia? Ini semua menunjukkan terjadinya diskriminasi hak-hak asasi manusia. Saat ini, tidak selayaknya lagi digunakan istilah “<strong>hak-hak asasi manusia</strong>”, namun yang lebih tepat digunakan adalah “<strong>hak-hak asasi sebagian manusia”.</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span id="more-94"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p align="center" style="text-align:center;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:14pt;">Hijab dan Konsep Kebebasan (Liberalisme) bag-4; Hijab dan Kebebasan</span></strong></p>
<p align="center" style="text-indent:0.5in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;"></span></strong></p>
<p><strong><span style="font-family:Georgia;"><font size="3">                                                                             Euis Daryati</font></span></strong><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Lantas bertentangankah hijab dengan kebebasan? Pertanyaan ini dapat mengandung dua pemahaman berikut ini: hijab dapat bertentangan dengan konsep yang dianut kaum liberalis atau hijab dapat membatasi kebebasan aktifitas dan karier wanita. Artinya, dengan mengenakan hijab islami wanita tidak dapat beraktifitas dengan leluasa. Karena hijab telah merampas kebebasan wanita, sementara kebebasan merupakan hak asasi manusia, maka konklusinya adalah hijab dan perintah pemakaian busana muslimah telah bertentangan dengan hak asasi wanita.</font></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;text-align:justify;"><font size="3" face="Times New Roman">Sebenarnya dalam menganalisa kasus ini kita dapat balik bertanya, apakah seseorang tidak berhak berprilaku sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya? Apakah bukan merupakan hak asasi seseorang jika ia berbusana sesuai dengan agama yang dianutnya? Jika kita cermati praduga yang mengatakan bahwa mengenakan busana muslimah bertentangan dengan kebebasan dan hak asasi manusia, maka pelarangan mengenakan hijab sendiri sebenarnya bertentangan dengan hak asasi manusia. Manusia beragama berhak dan bebas mengenakan busana yang sesuai dengan tuntunan ajaran agamanya dan tidak ada seorangpun yang berhak melarangnya. Sering terjadi fallacy (pemutarbalikan) dalam memahami arti kebebasan, termasuk kebebasan dalam berbusana. Seorang perempuan dibolehkan memakai busana seronok dengan dalih hak asasi dan kebebasan tetapi seorang muslimah malah digugat ketika ia mengenakan busana muslimah dengan dalih bertentangan dengan hak asasi dan kebebasan. Apakah memakai hijab bukan merupakan hak asasi dan kebebasan seorang muslimah? Kenapa jika perempuan mengenakan busana muslimah dianggap bertentangan dengan hak-hak asasi manusia, akan tetapi para pengusung kebebasan tidak pernah menggugat dan mengatakan bahwa seorang wanita yang mengenakan busana tidak sopan bertentangan dengan hak-hak asasi manusia?</font></p>
<p style="line-height:15.6pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span style="font-size:11pt;">Para</span><span style="font-size:11pt;"> pengusung kebebasan itu hanya melihat suatu permasalahan dari permukaannya saja dan dengan cepat menggugat dan memvonis perkara yang merugikan mereka. Hak asasi dan kebebasan yang sering menjadi semboyan manis mereka, digunakan untuk mengelabui banyak manusia dan merusak fitrahnya. Kebebasan dan hak asasi yang sering digembor-gemborkan itu sebenarnya adalah kebebasan yang dipaksakan. Mereka menggugat suatu perkara dan kemudian membandingkannya dengan kebebasan menurut persepsi mereka. Kebebasan dan hak asasi yang definisinya diolah dan diproduksi oleh mereka sendiri tanpa melibatkan hal lain yang berbeda dari persepsi mereka. Hak asasi dan kebebasan yang telah dikeluarkan dari kantongnya sendiri. Jika salah seorang dari mereka terbunuh oleh seorang muslim, mereka langsung akan berteriak dan turun tangan untuk menanganinya dengan alasan pembunuhan bertentangan dengan hak-hak asasi manusia. Namun ketika berjuta-juta muslim di Palestina, Afaganistan, Irak, Libanon dan penjuru dunia lainnya dibunuh secara massal oleh tentara Israel, Amerika dan sekutu-sekutunya, mereka yang selalu menggembor-gemborkan hak-hak asasi manusia diam seribu bahasa. Apakah mereka yang terbunuh bukan manusia? Ini semua menunjukkan terjadinya diskriminasi hak-hak asasi manusia. Saat ini, tidak selayaknya lagi digunakan istilah “<strong>hak-hak asasi manusia</strong>”, namun yang lebih tepat digunakan adalah “<strong>hak-hak asasi sebagian manusia”.</strong></span></font></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"><font size="3">Di sisi lain, konsep hak asasi manusia dan kebebasan yang salah telah meracuni jiwa para pemuda masa kini dan telah melahirkan sebuah generasi emang gue pikirin dan cuek (ada apa dengan loe, hak asasi gue berprilaku seperti ini) ketika berhadapan dengan sebuah perbuatan yang bertentangan dengan kultur negara kita.</font></span><span style="font-family:Georgia;"><font size="3">Hijab dalam Islam sama sekali tidak bertentangan dengan kebebasan dan hak asasi manusia karena salah satu hak asasi perempuan muslimah adalah mengenakan busana sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya dan ini merupakan sebuah kebebasan insani. Karena hijab merupakan salah satu hukum Islam maka pondasi-pondasi hijab dan kebebasan bertumpu pada pondasi-pondasi kebebasan dalam Islam. Kita akan sulit menemukan titik temu antara kebebasan yang dianut kaum liberal dengan kebebasan yang dimaksud oleh Islam karena epistemology, antopology dan anthropologi keduanya berbeda. Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, kebebasan dalam Islam ialah kebebasan yang berlandaskan kepada Tuhan sebagai poros sedang kebebasan itu merupakan sebuah sarana bukan sebuah tujuan dan berlandaskan pada akal pikiran.</font></span><span style="font-family:Georgia;"><font size="3">Hijab Islami juga tidak bertentangan dengan aktifitas dan karier kaum wanita dan tidak mengikat wanita. Hijab Islami adalah penjaga wanita bukan penjara wanita. “Hijab adalah penjaga wanita yang menyebabkan ia selalu ceria dan kecantikannya tetap langgeng”. [1] Hijab Islami juga bukan penjegal kebebasan. Bahkan dengan mengenakan busana muslimah seorang perempuan dapat beraktifitas dengan bebas di luar rumah. </font></span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"><font size="3">Ketika seorang muslimah memakai hijab Islami akan tercipta lingkungan kerja yang bersih dari pemikiran-pemikiran negative sehingga laki-laki dan perempuan yang beraktifitas di dalamnya akan lebih konsentrasi pada aktifitasnya masing-masing, tentu saja dengan syarat bahwa wanita berprilaku sesuai dengan pesan hijab Islami.</font></span><span style="font-family:Georgia;"><font size="3">Ketika menjelaskan salah satu falsafah hijab, al-Qur’an menyebutkan: “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal…” [2] Walaupun dalam beberapa penafsiran, arti ayat tersebut adalah agar perempuan berhijab Islami lebih mudah untuk dikenal dan dibedakan bahwa ia bukan budak, [3] namun makna ini pun akan mengandung arti yang lebih luas. Pada zaman sekarang ini yang tidak lagi mengenal perbudakan, maka perempuan yang berhijab Islami akan dikenal dari sisi kedudukan insaniyahnya bukan sisi gender. Ia akan bebas dari belenggu perbudakan busana. Karena ketika ia berbusana muslimah berarti ia telah tunduk dan patuh terhadap perintah pemilik sejatinya yaitu Tuhan. Dengan kecintaan dan kepatuhan kepada kekasih sejatinya ia mengenakan hijab Islami.</font></span><span style="font-family:Georgia;"><font size="3">Bila kembali kita cermati ayat al-Qur’an tentang hijab, wanita muslimah diperintahkan untuk mengenakan busana muslimah ketika ia hendak keluar rumah dan berhadapan dengan lelaki non mahram. Karena jika ia berada di dalam rumah dan tidak ada laki-laki non mahram ia tidak perlu mengenakan busana muslimah. Ini berarti al-Qur’an berkata: beraktifitaslah wahai pemakai busana muslimah! Hijab itu sendiri tidak menghalangi aktifitas wanita berbusana muslimah tetapi lingkungan atau negaralah yang telah membatasi mereka. Bahkan ironisnya, di beberapa daerah atau negara, seorang wanita tidak bisa diterima bekerja karena mengenakan busana muslimah. Misalnya, seperti yang telah terjadi pada tahun-tahun lalu di negara kita atau yang terjadi di Perancis beberapa tahun yang lalu, ketika sekolah-sekolah mengeluarkan para siswi dari karena mereka mengenakan hijab Islami.</font></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Kesimpulan:</font></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">1- Tidak mungkin terdapat kebebasan mutlak bagi manusia, baik secara teoritis, karena manusia merupakan substansi terbatas maka semua predikat yang menempel kepadanya akan terbatas pula. Bagaimana mungkin sesuatu yang keberadaannya terbatas (karena manusia didahului oleh ketiadaan, lalu ada), memiliki sifat-sifat yang tidak terbatas (mutlak / absolut). </font></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">2- Sedang secara praktis, manusia juga tidak mungkin memiliki kebebasan mutlak karena di mana ada hak dan kebebasan maka di situ ada kewajiban dan keharusan yang membatasi kebebasannya.</font></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">3- Telah terjadi diskriminasi dalam penerapan hak-hak asasi manusia dan kebebasan. Hak-hak asasi manusia hanya diberlakukan bagi orang-orang yang dianggap manusia oleh mereka yang meneriakkan hak-hak asasi manusia.</font></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">4- Hijab islami tidak bertentangan dengan kebebasan karena mengenakan busana sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya adalah merupakan hak asasi seorang muslimah. </font></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"><font face="Times New Roman">Hijab islami tidak membatasi aktifitas dan karier wanita muslimah karena hijab adalah penjaga bukan penjara. Lingkungan dan negara yang sebenarnya telah membatasi aktifitas dan karier wanita. Wallahua’lam.</font></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-family:Georgia;"><font face="Times New Roman"><br />
<hr SIZE="1" width="33%" align="left" /></font></span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"><font size="3">[1] Rey Syahri, Muhammad, <em><span style="font-family:Georgia;">Muntakhab Mizan al-Hikmah</span></em>, 1422 HQ,<br />
Qom, Daar al-Hadits, hal : 122, hadis ke-1376.</font></span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;"><font size="3">[2] QS. al-Ahzab : 59.</font></span></p>
<p><span style="font-family:Georgia;"></span><span style="font-family:Georgia;"><font size="3">[3] Al-Thabathaba’i, Muhammad Husein, <em><span style="font-family:Georgia;">al-Mizan</span></em>, 1411 QH,<br />
Beirut, Muasasah al-A’lami lil Mathbua’at, hal :346.</font></span><font size="3" face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/94/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/94/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=94&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/17/hijab-dan-konsep-kebebasan-liberalisme-bag-4-hijab-dan-kebebasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/05/s_hijab15.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">s_hijab15.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Benarkah Ummul-Mukminin Sayyidah Khadijah as Berstatus Janda?</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/16/benarkah-ummul-mukminin-sayyidah-khadijah-as-berstatus-janda/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/16/benarkah-ummul-mukminin-sayyidah-khadijah-as-berstatus-janda/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2007 03:50:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/16/benarkah-ummul-mukminin-sayyidah-khadijah-as-berstatus-janda/</guid>
		<description><![CDATA[“Sebagian hadis menunjukkan bahwa Rasulullah tidak menikah dengan seorang gadispun kecuali Aisyah. Dalam beberapa riwayat lain menjelaskan bahwa Sy. Khadijah sebelum menikah dengan Nabi Muhamad saww telah menikah sebanyak 2 kali. Namun kami meragukan keshahihan riwayat-riwayat tersebut. Karena pertama, Ibnu Syahr Asyub berkata: “Ahmad Biladzari, Abu al-Qasim Kufi, Sayyid Murtadha dalam Syafi dan Abu Jakfar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=92&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">“Sebagian hadis menunjukkan bahwa Rasulullah tidak menikah dengan seorang gadispun kecuali Aisyah. Dalam beberapa riwayat lain menjelaskan bahwa Sy. Khadijah sebelum menikah dengan Nabi Muhamad saww telah menikah sebanyak 2 kali. Namun kami meragukan keshahihan riwayat-riwayat tersebut. Karena pertama, Ibnu Syahr Asyub berkata: “Ahmad Biladzari, Abu al-Qasim Kufi, Sayyid Murtadha dalam <em>Syafi </em>dan Abu Jakfar dalam <em>Talkhis </em>meriwayatkan bahwa Nabi Muhamad saww telah menikah dengan Sy. Khadijah sementara beliau dalam keadaan gadis”. Kedua, tidak jauh kemungkinan pada jangka lama ini beliau tidak menikah dengan siapapun, karena ayahnya telah meninggal di perang Fijar. Dan wali beliau tidak memiliki kekuasaan dalam memaksa beliau untuk menikah. <span> </span>Beliau telah menolak lamaran beberapa pembesar, sampai akhirnya beliau menemukan suami yang diidamkannya yang memiliki sifat-sifat mulia dan kepribadian yang agung. Begitupula, berkaitan dengan usia pernikahan Sy. Khadijah terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama. Meskipun berdasarkan pendapat termasyhur yang beliau menikah dengan Nabi Muhamad saww pada usia pada 40 tahun namun sebagian mengatakan beliau menikah pada usia 25, 28, 30, 35 bahkan ada yang mengatakan pada usia 45 tahun”. <span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span id="more-92"></span><strong><span style="font-family:'Book Antiqua';">  </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="left"><strong><span style="font-family:'Book Antiqua';">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
</span></strong></p>
<p align="left"><strong><span style="font-family:'Book Antiqua';"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-family:'Book Antiqua';">Benarkah Ummul-Mukmin Sayyidah Khadijah as Berstatus Janda?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:'Book Antiqua';"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Sy. Khadijah binti Khuwailid adalah dari keturunan Qusay bin Kilab (kakek ke-4 Rasulullah saww). Ibunya bernama Fathimah binti Zaidah bin Asham. Berdapatkan pendapat masyhur, sebelum menikah dengan Nabi Muhamad saww beliau telah menikah 2 kali, pertama dengan Atiq bin A’id Mahzuni dan sepeninggal suami pertamanya kemudian beliau menikah dengan Abu Halah Tamimi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Seorang pakar sejarah Islam yang bernama Jakfar Murtadha dalam karyanya yang berjudul ‘<em>ash-shahih min sirati an-nabiyi</em>’ menulis: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';"> “Sebagian hadis menunjukkan bahwa Rasulullah tidak menikah dengan seorang gadispun kecuali Aisyah. Dalam beberapa riwayat lain menjelaskan bahwa Sy. Khadijah sebelum menikah dengan Nabi Muhamad saww telah menikah sebanyak 2 kali. Namun kami meragukan keshahihan riwayat-riwayat tersebut. Karena pertama, Ibnu Syahr Asyub berkata: “Ahmad Biladzari, Abu al-Qasim Kufi, Sayyid Murtadha dalam <em>Syafi </em>dan Abu Jakfar dalam <em>Talkhis </em>meriwayatkan bahwa Nabi Muhamad saww telah menikah dengan Sy. Khadijah sementara beliau dalam keadaan gadis”. Kedua, tidak jauh kemungkinan pada jangka lama ini beliau tidak menikah dengan siapapun, karena ayahnya telah meninggal di perang Fijar. Dan wali beliau tidak memiliki kekuasaan dalam memaksa beliau untuk menikah. <span> </span>Beliau telah menolak lamaran beberapa pembesar, sampai akhirnya beliau menemukan suami yang diidamkannya yang memiliki sifat-sifat mulia dan kepribadian yang agung. Begitupula, berkaitan dengan usia pernikahan Sy. Khadijah terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama. Meskipun berdasarkan pendapat termasyhur yang beliau menikah dengan Nabi Muhamad saww pada usia pada 40 tahun namun sebagian mengatakan beliau menikah pada usia 25, 28, 30, 35 bahkan ada yang mengatakan pada usia 45 tahun”. [1]<span>  </span><br />
<span></span><br />
Sy. Khadijah sangat kaya raya, setiap tahun beliau mengirim orang-orang ke berbagai tempat untuk berbisnis.<span>  </span>Selain kaya raya beliaupun berparas cantik dan menarik, bahkan sifat-sifat dan kepribadian agung yang dimilikinya telah dikenal oleh semua orang, sehingga di Mekkah beliau telah digelari dengan <em>thahirah </em>(yang suci). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Sewaktu Abu Thalib (ayahnya Imam Ali) melamar Sy.Khadijah dalam menggambarkan kepribadian beliau berkata: “Wahai para hadirin ketahuilah bahwa keponakanku, Muhamad bin Abdullah telah melamar kemuliaan kalian (kaum Quraisy), perempuan yang sangat terkenal dengan kedermawanan dan keterjgaan (<em>iffah</em>). Perempuan yang kemuliaannya telah dikenal oleh semua orang, ia agung dan mulia”.[2]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Jakfar Murthada seorang pakar sejarah Islam menulis: “Khadijah merupakan perempuan Quraisy terbaik, termulia, terkaya dan tercantik. Ia diberi gelar <em>thahirah dan sayyidah </em>(penghulu) Quraisy, semua para pembesar kabilah berkeinginan untuk menikah dengannya”. Para pembesar Quraisy untuk melamarnya telah bersedia menyediakan harta yang banyak sebagai maharnya, mereka adalah; Uqbah bin Abi Mui’th, Shalti bin Abi Yahab, Abu Jahal dan Abu Sufyan. Namun Sy. Khadijah –yang terpenting baginya kemulian bathin dan akhlak prilakunya- telah menolak semua lamaran mereka. Beliau menerima lamaran Nabi Muhamad saww karena keluhuran budi pekerti dan kemuliaan jiwa yang dimiliki oleh Nabi Muhamad saww. [3]<span>   </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Abul Hasan Bakri menulis: “Pada suatu hari Khadijah duduk di antara kumpulan para pelayannya, sementara seorang ulama Yahudi hadir di tempat tersebut. Tiba-tiba Nabi Muhamad saww melewati tempat tersebut. Sewaktu ulama yahudi melihatnya dan mengenalnya, ia memohon kepada Sy. Khadijah untuk mengundang beliau ke acara pertemuan tersebut. Sy. Khadijah mengirim budaknya untuk mengundang Nabi saww hadir di acara itu. Ketika ulama Yahudi melihat tanda kenabian di pundak beliau, lantas ia berkata: “Sumpah demi Tuhan inilah penutup kenabian”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Sy. Khadijah berkata: “Jika pamannya mengetahui bahwa engkau telah melihat bagian dari tubuhnya maka ia akan menghukum Anda, karena beliau sangat merasa takut kepada ulama Yahudi. Ulama Yahudi berkata: “Siapa yang akan berani berbuat jahat kepadanya, sumpah demi kebenaran kalam Tuhan ia adalah Nabi akhir zaman. Berbahagialah orang yang akan menjadi istrinya, karena beliau orang yang sudah mencapai kemuliaan dunia dan akhirat. Sejak dari sini rasa cinta terhadap Nabi saww telah tumbuh di hati Sy. Khadijah”. [4]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Dengan berlalunya waktu rasa cinta terhadap Nabi saww semakin bertambah. Ini dikarenakan setiap hari beliau menyaksikan kemuliaan pribadi dan keluhuran budi pekertinya. Sampai akhirnya pada suatu hari beliau mendengar bahwa Abu Thalib akan mengirimnya untuk pergi berniaga. Sy. Khadijah segera mengusulkan kepadanya agar Nabi saww pergi ke Syam untuk berniaga dengan membawa barang dagangannya, dengan membagi keuntungan sebagaimana yang telah diberikan kepada yang lainnya. Sy. Khadijah mengirim budaknya yang bernama Maisaroh untuk menemani Nabi saww selama dalam perjalanannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Sekembalinya dari perniagaan Maisaroh menceritakan segala keajaiban yang telah disaksikannya selama menemani Nabi saww, yang menunjukkan kedudukan agung yang dimiliki oleh beliau. Dan iapun menyampaikan pesan<span>  </span>seorang pendeta tentang Nabi saww kepada tuannya Sy. Khadijah. [5] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Setelah mendengar tentang keajaiban-keajaiban yang terjadi pada Nabi saww dari budaknya sebagai rasa syukur ia membebaskan budaknya yang bernama Maisaroh beserta keluarganya dengan membekali modal untuk memulai kehidupan barunya. [6]<span>  </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Keesokan harinya ketika Nabi Muhamad saww kembali mendatangi untuk menghitung dan menyerahkan keuntungan hasil perniagaannya, ia memancing Nabi saww sehingga diketahui beliau berencana untuk membangun rumah tangga. Sy. Khadijah bertanya: “Apakah Anda senang, jika saya nikahkan dengan seorang perempuan pilihanku? Nabi saww menjawab: “Ya”. Sy. Khadijah kembali melanjutkan: “Saya telah menemukan seseorang yang sesuai untuk Anda, ia berasal dari bangsa Quraisy. Ia perempuan terkaya, tercantik, termulia, paling dermawan dan baik. Ia akan membantu segala urusanmu, ia rela dengan yang engkau miliki dan ia menyesuaikan hidupnya dengan hidupmu. Padahal apabila orang lain yang melamarnya dengan memberikan harta yang banyak ia tidak akan menerimanya”. Diakhir pembicaraannya Sy. Khadijah berkata: “Perempuan itu, yang akan menjadi pelayan dan milikmu adalah Khadijah”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Karena Nabi saww mengetahui dan mengenal kemuliaan dan keluhuran budi pekerti Sy. Khadijah, beliaupun menerima usulannya dan akhirnya beliau melamarnya melalui pamannya Abu Thalib. [7] Setelah beliau menikah dengan Nabi saww para perempuan pembesar Quraisy mengucilkannya karena beliau telah menikah dengan orang miskin dan bukan bangsawan. Dari pernikahannya yang suci ini terlahirlah Qosim, Abdullah dan empat anak perempuan diantaranya ialah Sy. Fathimah Zahro. [8]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Rujukan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">1. Ash-Shahih min Sirat an-Nabi al-A’dzam, jil 1, hal 121-126.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">2. Bihar al-Anwar, jil 16, hal 69.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">3. Ash-Shahih min Sirat an-Nabi al-A’dzam, jil 1, hal 122.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">4. Bihar al-Anwar, jil 16, hal 20.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">5. Ibid hal 22 dan 44.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">6. Ibid, hal 52.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">7. Ibid, hal 54</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">8. Dalam kitab ‘Ash-Shahih min Sirat an-Nabi al-A’dzam’ jil 1, hal 121 dijelaskan bahwa sebagian pakar sejarah mengatakan bahwa hanya Fathimah Zahro putri beliau ,sementara anak perempuan lainnya merupakan keponakannya yang dibesarkan oleh Sy. Khadijah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';"><br />
[Euis D, Sumber: Buzurg Zanon Shadre Islom (Para perempuan besar awal kemunculan Islam), Pazuhesykadeh Tahqiqote Islomi (penelitian dalam bidang keislaman), hal 38-43] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';"><span> </span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/92/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/92/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=92&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/16/benarkah-ummul-mukminin-sayyidah-khadijah-as-berstatus-janda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dibalik Keagungan Imam Khomaeni (2)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/15/dibalik-keagungan-imam-khomaeni-2/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/15/dibalik-keagungan-imam-khomaeni-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2007 08:13:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/15/dibalik-keagungan-imam-khomaeni-2/</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu hari, saya duduk di samping ibu mertuaku (istri Imam Khomaeni). Imam Khomaeni berkata: “Khonum (yang dalam bahasa Indonesia artinya ialah ibu) sudah minum obat? Atau jika belum saya ambilkan air untuk minum obat. Sekarang sudah waktunya minum obat”. “Belum, saya belum minum obat. Biar saya sendiri yang mengambil air untuk minum obat” kata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=88&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> <a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/05/imam-khomeini.jpg" title="imam-khomeini.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/05/imam-khomeini.thumbnail.jpg?w=500" alt="imam-khomeini.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pada suatu hari, saya duduk di samping ibu mertuaku (istri Imam Khomaeni). Imam Khomaeni berkata: “<em>Khonum </em>(yang dalam bahasa Indonesia artinya ialah ibu) sudah minum obat? Atau jika belum saya ambilkan air untuk minum obat. Sekarang sudah waktunya minum obat”. “Belum, saya belum minum obat. Biar saya sendiri yang mengambil air untuk minum obat” kata ibu mertuaku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span><span id="more-88"></span></p>
<p align="left"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span>Dibalik Keagungan Imam Khomaeni (2) </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pada suatu hari, saya duduk di samping ibu mertuaku (istri Imam Khomaeni). Imam Khomaeni berkata: “<em>Khonum </em>(yang dalam bahasa Indonesia artinya ialah ibu) sudah minum obat? Atau jika belum saya ambilkan air untuk minum obat. Sekarang sudah waktunya minum obat”. “Belum, saya belum minum obat. Biar saya sendiri yang mengambil air untuk minum obat” kata ibu mertuaku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Saya sebagai mantunya (Fathimah Thaba’thaba’i, istri Ahmad Khomaeni .red) yang tahu diri lalu bangkit dari duduk untuk mengambilkan obat untuk ibu mertuaku. Lalu sambil tersenyum saya berkata: “Malam ini bapak yang mengambilkan air untuk ibu, dan besoknya adalah giliran ibu yang mengambilkan air untuk bapak&#8230;”. Itulah kehidupan pribadi agung Imam Khomaeni yang sangat begitu perhatian kepada keluarga, walaupun hal tersebut kelihatannya masalah kecil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>[ED, sumber: <em>Yek Sagir az Hezor,</em> bagian ‘Wawancara Mantu Imam Khomaeni (Dr, Fathimah Thabathaba’i) tentang Imam Khomaeni’]<span>   </span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/88/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/88/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=88&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/15/dibalik-keagungan-imam-khomaeni-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/05/imam-khomeini.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">imam-khomeini.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hijab dan Konsep Kebebasan (Liberalisme) bag-3; Islam dan Konsep Kebebasan</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/14/hijab-dan-konsep-kebebasan-liberalisme-bag-3-islam-dan-konsep-kebebasan/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/14/hijab-dan-konsep-kebebasan-liberalisme-bag-3-islam-dan-konsep-kebebasan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2007 18:06:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/14/hijab-dan-konsep-kebebasan-liberalisme-bag-3-islam-dan-konsep-kebebasan/</guid>
		<description><![CDATA[Islam tidak menerima kebebasan tanpa batas karena kebebasan hanyalah sebuah sarana, bukan tujuan. Berbeda dengan ucapan Lord yang mengatakan bahwa kebebasan adalah sebuah tujuan yang berarti manusia dapat melakukan apa saja demi tercapainya tujuan berupa kebebasan. Islam tidak menerima kebebasan mutlak karena fitrah, akal dan agama telah membatasi kebebasan. Manusia sendiri adalah obyek yang terbatas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=87&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/05/s_hijab19.jpg" title="s_hijab19.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/05/s_hijab19.thumbnail.jpg?w=500" alt="s_hijab19.jpg" /></a></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Islam tidak menerima kebebasan tanpa batas karena kebebasan hanyalah sebuah sarana, bukan tujuan. Berbeda dengan ucapan Lord yang mengatakan bahwa kebebasan adalah sebuah tujuan yang berarti manusia dapat melakukan apa saja demi tercapainya tujuan berupa kebebasan. Islam tidak menerima kebebasan mutlak karena fitrah, akal dan agama telah membatasi kebebasan. Manusia sendiri adalah obyek yang terbatas sehingga tidak mungkin memiliki kebebasan tanpa batas<span> </span>. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span id="more-87"></span><strong><span style="font-size:11pt;"><span> </span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;"></span></strong></p>
<p align="center" style="text-align:center;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:14pt;">Hijab dan Konsep Kebebasan (Liberalisme) bag-3; Islam dan Konsep Kebebasan</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;"></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">                                                                                 <strong>Euis Daryati</strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;">Islam dan Konsep Kebebasan </span></strong></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Lalu bagaimana Islam memandang kebebasan? Apakah kebebasan dalam Islam<span> </span>sesuai dengan kebebasan yang dianut kaum liberal? Ataukah memiliki batasan tertentu? Pada dasarnya, pandangan yang berbeda tentang esensi manusia akan menyebabkan terjadinya perbedaan pandangan terhadap semua predikat yang menempel pada manusia. Perbedaan ini sendiri akan kembali pada dasar-dasar pokok ontologi dan epistemologi. Pendapat kelompok yang menganggap bahwa manusia hanya memiliki dimensi dan kebutuhan jasmani saja, akan berbeda dengan pendapat mereka yang menganggap bahwa selain memiliki sisi jasmani manusia memiliki sisi ruhani dan kebutuhannya sesuai dengan kedua dimensi tersebut. Berkaitan dengan masalah kebebasan, kaum materialis akan berbeda pandangannya dengan kaum agamis. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Islam tidak menentang kebebasan karena kebebasan merupakan anugrah Tuhan. Namun yang perlu dipertanyakan adalah kebebasan yang mana? Kebebasan insani atau hewani? Kebebasan dalam Islam ialah kebebasan yang berasaskan pada Tuhan sebagai poros dan tolok ukur, bukan manusia (humanisme). Allah swt bersabda: “Wahai manusia kamulah yang memerlukan (Faqir) terhadap Allah, dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan kepada selain-Nya) lagi Maha Terpuji”.[1] Namun demikian, manusia memiliki kemuliaan yang sangat tinggi dibanding makhluk lainnya. Allah telah menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya untuk manusia: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan”.[2]<span> </span>Jika dalam paham liberalis kepentingan individual lebih diutamakan, dalam Islam kepentingan umum lebih diutamakan dengan tetap memperhatikan kepentingan individu.</span></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Dalam masalah toleransi, ada beberapa poin yang harus dijelaskan. Pertama, Islam menerima toleransi agama yang berarti bahwa seorang muslim harus hidup rukun dan berdampingan dengan penganut agama lain. Al-Qur’an bersabda: “Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”.[3]Islam juga menerima toleransi ajaran agama dalam arti bahwa ajaran agama tidak menyulitkan penganutnya. Penganut agama dapat melakukan perintah agama yang sesuai dengan kemampuannya: “Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.[4] Namun, hal ini bukan berarti seorang muslim boleh berleha-leha dalam menjalankan ajaran agamanya.[5] <span> </span>Islam tidak menerima kebebasan tanpa batas karena kebebasan hanyalah sebuah sarana, bukan tujuan. Berbeda dengan ucapan Lord yang mengatakan bahwa kebebasan adalah sebuah tujuan yang berarti manusia dapat melakukan apa saja demi tercapainya tujuan berupa kebebasan. Islam tidak menerima kebebasan mutlak karena fitrah, akal dan agama telah membatasi kebebasan. Manusia sendiri adalah obyek yang terbatas sehingga tidak mungkin memiliki kebebasan tanpa batas<span> </span>. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"><span></span>Berkaitan dengan kebebasan dalam kaca mata Islam, Ayatullah Syahid Dr. Behesyti berkata: “Islam memperkenalkan kebebasan sebagai puncak kekuatan dari penciptaan manusia. Manusia yang bebas dan berpengetahuan selalu menganggap lahan yang tersedia banyak, kekuatannya akan berkembang, akan selalu memotivasi diri dan menemukan jalan keluar. Lalu Islam mengajak manusia untuk bergerak di bawah naungan cahaya kenabian internal berupa akal pikiran. Dengan bantuan akal pikirannya, manusia berusaha untuk mengenal sumber mata air yang lebih agung yaitu wahyu, kenabian, kitabullah dan sunnah para nabi. Setelah melewati tahap ini, ia bukan sekedar manusia berakal saja tetapi merupakan manusia berwahyu. Dengan sarana akal dan wahyu, manusia dapat terbang bebas menuju pada kesempurnaan. Islam<span> </span>menganggap manusia sebagai makhluk yang bebas. Bahkan Islam selalu menekankan jangan sampai manusia berhenti atau mati<span> </span>dalam setiap kondisi yang dihadapinya. Paling tidak berhijrahlah dan jangan menerima begitu saja kondisi lingkungan fasad. Ringkasnya, manusia adalah makhluk bebas. Namun kebebasannya di bawah ruang lingkup undang-undang Tuhan”.[6]<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;">Makna Kebebasan dalam Islam</span></strong></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Hak untuk mendapatkan kebebasan sama pentingnya seperti hak untuk hidup. Kebebasan dapat diterapkan secara purna pada niat pribadi, kehendak dan penguasaan atas prilaku. Sedangkan kekuasaan penggunaannya secara praktis tergantung pada apakah kebebasan itu membahayakan orang lain atau tidak. Imam Ali as bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya kalian tidak terlahir sebagai budak ataupun pelayan. Dan sesungguhnya manusia seluruhnya adalah bebas”.[7]<span> </span>Oleh karena itu, hendaklah manusia tidak menjadi budak yang lainnya. Imam Ali as kembali bersabda: “Dan janganlah menjadi budak yang lainnya, karena Allah SWT telah menciptakan kalian dalam kondisi bebas”.[8]<span> </span>Tidak selayaknya manusia bersimpuh di hadapan yang lain, kecuali di hadapan Sang Pencipta yang telah memberikan wujud (keberadaan) padanya. Ibadah dan penghambaan hanya layak untuk Dzat Yang Maha Suci dan ini sesuai dengan fitrah suci manusia. Sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Qur’an: “Dan tidaklah Aku cipatakan manusia dan jin melainkan untuk beribadah kepada-Ku”.[9]<span> </span>“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwa tiada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah<span> </span>Aku.”[10]<br />
</span></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Menyembah orang lain dan hawa nafsu atau tunduk patuh hadapan para penguasa tanpa perlawanan sedikit pun bertentangan dengan fitrah suci manusia. Meskipun demikian, hal ini pernah terjadi pada jangka waktu tertentu. Berkenaan dengan perkara itu, dalam al-Qur’an Allah menjelaskan: “Kamu tidak menyembah Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”[11]<span> </span><br />
</span></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Oleh karena itu, yang dimaksud dengan kebebasan bukan kebebasan mutlak<span> </span>sehingga seseorang dapat melakukan segala sesuatu yang dikehendakinya. Karena kebebasan berkehendak dan berprilaku atas dasar hawa nafsu merupakan kebejatan, kerusakan moral dan keburukan dan bukan merupakan kebebasan insani.<span> </span>Selain itu,<span> </span>kebebasan semacam ini sama artinya dengan membatasi dan membahayakan kebebasan orang lain karena di saat ada hak di situ juga ada kewajiban. Jika seseorang berhak untuk menghirup udara sehat maka di saat itu pula orang lain berkewajiban untuk tidak melakukan pencemaran udara. Jika seorang muslim memiliki hak agar matanya tidak<span> </span>melihat pemandangan dosa (misalnya melihat aurat wanita yang tidak mestinya ditutupi), maka wajib bagi sang wanita untuk tidak membuka aurat di hadapannya. Oleh karena itu dapat dipahami bahwa secara praktis, kebebasan mutlak tidak mungkin terealisasi. </span></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Hendaknya tidak dicampuradukan antara kebebasan insani dengan kerusakan dan kebejatan moral, sebagaimana halnya yang telah terjadi pada masa kini, terjadi falaci antara keduanya. Seorang dibiarkan melakukan perbuatan amoral dengan alasan hak asasi. Kebebasan yang berlandaskan unsur-unsur seperti akal pikiran -yang akan menyebabkan tersingkapnya segala hakihat alam semesta dan amal soleh- mengajak manusia pada kebajikan, memperhatikan kepentingan dan maslahat orang lain, menjaga keberaturan dan hukum akal. </span></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Dengan demikian, kebebasan berkehendak dan berprilaku yang sebenarnya dapat terwujud apabila berlandaskan akal dan pikiran. Namun jika berasaskan kehendak dan kecenderungan hawa nafsu, maka ia hanyalah kebebasan bohong belaka. Dalam kitab-Nya, Allah berfirman : “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) :”Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun”. [12] Kehendak buruk (batil) dan prilaku zalim, ialah untuk orang-orang yang tidak menggunakan akal pikirannya. Terrealisasinya kehendak seperti ini, tidak termasuk katagori kebebasan berprilaku, karena kehendaknya tidak dibarengi oleh akal pikiran.[13]</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Bersambung….</span></p>
<hr SIZE="1" width="33%" align="left" />
<p class="MsoEndnoteText">[1] QS. Faathir :15</p>
<p class="MsoEndnoteText">[2] QS. al-A’raf : 70.</p>
<p class="MsoEndnoteText"> [3] QS. al-Kaafirun : 6.</p>
<p class="MsoEndnoteText"> [4] QS. al-Baqarah : 286.</p>
<p class="MsoEndnoteText"> [5] Qanbari, DR Ayat, <em>Naqdi bar Humanisme wa Liberalisme</em>, 1383 QS, Qom, Faroz-e Andisyeh hal: 125-126.</p>
<p class="MsoEndnoteText"> [6] Ibid hal:114-116.</p>
<p class="MsoEndnoteText">[7] Rey Syahri, Muhammad, <em>Muntakhab Mizan al-Hikmah</em>, 1422 HQ, Qom, Daar al-Hadits, hah : 132, hadis ke-1485.</p>
<p class="MsoEndnoteText"> [8] Ibid, hadis ke-1486.</p>
<p class="MsoEndnoteText"> [9] QS. Adz-Dzariyat : 56.</p>
<p class="MsoEndnoteText"> [10] QS. Al-Anbiya : 25.</p>
<p class="MsoEndnoteText"> [11] QS. Yusuf : 40.</p>
<p class="MsoEndnoteText"> [12] QS. Ali-Imron : 191-192.</p>
<p class="MsoEndnoteText"> [13]Omuli, Javadi, <em>Hak wa Taklif dar Islam</em>, 1384 QS, Qom, Markaz-e Nasyr-e Isro, hal : 290-291.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/87/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/87/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/87/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=87&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/14/hijab-dan-konsep-kebebasan-liberalisme-bag-3-islam-dan-konsep-kebebasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/05/s_hijab19.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">s_hijab19.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Perjalanan Sy. Nargis Khatun (Ibunda Imam Mahdi aj)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/11/kisah-perjalanan-sy-nargis-khatun-ibunda-imam-mahdi-aj/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/11/kisah-perjalanan-sy-nargis-khatun-ibunda-imam-mahdi-aj/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2007 15:31:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/11/kisah-perjalanan-sy-nargis-khatun-ibunda-imam-mahdi-aj/</guid>
		<description><![CDATA[Syeihk Abbas Qumi berkata: “Salah satu nama dari pada ibu Imam Mahdi aj adalah Shaqil, nama ini diberikan karena diwaktu cahaya, wujud janin beliau diletakaan dalam rahim Bunda yang mulia ini, cahaya kemilau memancar meliputi seluruh badannya. Karena ia dinamai Shaqil yang berarti “pemberi kecemerlangan”. Nama-nama lain Bunda Nargis ialah; Raihanah dan Susan. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Kisah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=85&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Syeihk Abbas Qumi berkata: “Salah satu nama dari pada ibu Imam Mahdi aj adalah Shaqil, nama ini diberikan karena diwaktu cahaya, wujud janin beliau diletakaan dalam rahim Bunda yang mulia ini, cahaya kemilau memancar meliputi seluruh badannya. Karena ia dinamai Shaqil yang berarti “pemberi kecemerlangan”. Nama-nama lain Bunda Nargis ialah; Raihanah dan Susan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span></span></strong><span id="more-85"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-family:'Book Antiqua';"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-family:'Book Antiqua';">Kisah Perjalanan Sy. Nargis Khatun (Ibunda Imam Mahdi aj)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:'Book Antiqua';">(Dari Keturunan Washi- Nabi Isa as)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Oleh: Syeikha Al-Idrus</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Imam Mahdi aj adalah satu-satunya putra Imam Hasan Askari as (Imam ke-11). Berdasarkan konsesus (<em>ijma’</em>) para ulama besar beliau dilahirkan di kota Samara’ pada pertengahan Sya’ban, 255 H. Ibunda beliau bernama Narjis Khatun, namun sebagian menyebutnya Nargis khatun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Syeihk Abbas Qumi berkata: “Salah satu nama dari pada ibu Imam Mahdi aj adalah Shaqil, nama ini diberikan karena diwaktu cahaya, wujud janin beliau diletakaan dalam rahim Bunda yang mulia ini, cahaya kemilau memancar meliputi seluruh badannya. Karena ia dinamai Shaqil yang berarti “pemberi kecemerlangan”. Nama-nama lain Bunda Nargis ialah; Raihanah dan Susan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:'Book Antiqua';">Surat Imam Hasan Askari</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Imam menulis surat dengan tulisan bahasa Romawi yang disertai satu kantung berisikan dua ratus dua puluh mata uang Asyraf. Beliau berkata kepada Basyar bin Sulaiman, “Ambillah ini, dua ratus dua puluh Asyraf, perhatikanlah! Dengan uang ini pergilah ke Bagdad dan hadirlah di jembatan laluan sungai Furat yang di sana kamu akan mendapati perahu-perahu yang membawa para tawanan. Di sana kamu akan dapati tawanan-tawanan manita dan kelompok pembeli dari kalangan wakil kerajaan Bani Abbas dan beberapa gelintir dari pemuda-pemuda Arab. Dikala kamu menyaksikan yang demikian, perhatikanlah dari jauh seorang yang bernama Amar bin Yazid Nahhas.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Tibalah para pembeli diperlihatkan kepada tawanan wanita (<em>Kaniz</em>) yang mempunyai sifat begini dan begitu. Beliau (Sy. Nargis Khatun) mengenakan dua lapis baju dari kain sutra yang dijahit dengan kuat tertampal di atas dadanya sehingga menghalangi pandangan para pembeli yang diperkenankan kepadanya untuk melihat, dan menghalangi peletakkan tangan ke atasnya, serta ia tidak mengizinkan siapapun dari para pembeli itu untuk menyentuh dirinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Dengarlah keluhannya dengan bahasa Romawi dibalik tabir halusnya dengan mengatakan: “Aduh! Tabir keterjagaan-ku (<em>iffah</em>) tercampakkan”. Dalam kondisi demikian ia tidak mengizinkan pada siapapun untuk menyentuh dan merabanya. Salah seorang dari pembeli itu berkata: “Tawanan (<em>Kaniz</em>) ini berikan kepada saya, saya bersedia membelinya seharga 300 Asyraf. Dikarenakan keterjagan (<em>Iffah</em>) nya saya berkeinginan untu membelinya”. Lalu beliau (Sy. Nargis Khatun) berkata dengan bahasa Arab: “Jika Anda mempunyai kekayaan seperti Sulaiman bin Daud as pun dengan kebesaran kerajaannya, sedikitpun tidak membuat aku berkeinginan ikut dengan-mu. Oleh karena itu takutlah dengan keinginan-mu”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Basyar bin Sulaiman berkata: “Setelah aku mendengarkan dengan seksama pesan junjunganku (Imam Hasan Askari) akupun berangkat menuju Bagdad dan untuk menunaikan pesan Imam as dan menyerahkan surat tersebut”. Setelah beliau membaca suarat tersebut, iapun menangis di atas surat tersebut seraya berkata kepada Amar bin Yazid: “Jual-lah aku kepada pemilik surat ini”. Sambil bersumpah, dengan mengatakan bahwa beliau akan membunuh dirinya jika tidak menjualnya kepada pemilik surat tersebut”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Basyar berkata: “Saya disusahkan dengan harga, sehingga sang penjual menerima harga sejumlah uang Imam as yaitu 220 Asyraf. Beliaupun (Sy. Nargis Khatun) tersenyum dan senang. Aku mengantarkannya dengan sebuah tempat (kendaraan) yang sudah aku persiapkan semenjak berada di Bagdad. Ketika berada di dalam tempat tersebut beliau membuka surat dari Imam as untuk kedua kalinya dan menciumnya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Aku bertanya: “Engkau mencium surat itu? Padahal engkau tidak mengenal pemiliknya”. Beliaupun menyahut: “Wahai orang yang lemah dan sedikit pengetahuan, demi kebesaran putra dan washi para Nabi, arahkanlah pendengaran dan kosongkanlah hatimu demi mendengarkan perkataanku, sehingga aku dapat menjelasklan keadaan diriku kepadamu”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Sang penjual tawanan itu berkata: “Maka jalan keluarnya bagaimana? Aku tiada jalan lain kecuali akan menjual kamu, aku adalah penjual yang mengharuskan menjual kamu”. Beliau berkata: “Betapa tergesa-gesanya Anda! Aku harus menunggu pembeli yang hati-ku berkenan kepadanya dan yakin terhadap janji dan agamanya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Setelah Imam Hasan Askari menjelaskan kepada Basyar bin Sulaiman, lantas beliau berkata: “ Disaat itu kamu bergerak dan datangilah Amar bin Yazid (sang penjual para tawanan) dan katakanlah kepadanya: “Saya datang bersama sepucuk tulisan yang ditulis oleh seorang yang terhormat, yang didasari keramahan, berbahasa dan berhuruf Romawi, di dalamnya ia menjelaskan kemuliaan, kesetiaan, kebesaran dan kedermawanan dirinya. Berikanlah surat ini kepada tawanan tersebut, supaya ia merenungkan akhlak dan pensifatan surat ini. Jika engkau mau dan merelakannya maka aku adalah wakil beliau dalam pembelian tawanan ini dari Anda”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:'Book Antiqua';">Kisah Yasyua’ ( Sy. Nargis Khatun)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Lantas beliau (Sy. Nargis Khatun) berkata: “Aku adalah anak putri Yasyua’, , putra dari kaisar kerajaan Romawi. Ibuku adalah keturunan dari Syam’un (Samson) bin Ashfa, beliau adalah Washinya Nabi Isa as”. Kakekku meminta kepada kaisar suapaya menikahkan aku dengan anak saudaranya. Sewaktu aku berusia 13 tahun, dia mengundang 300 orang dari kalangan hawariyun (penolong) Isa as, 700 orang dari kalangan pemilik derajat dan kedudukan, 4000 orang dari kalangan pemimpin tentara serta para pembesar kabilah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Mereka menyiapkan tahta yang berhiaskan aneka permata yang didirian di atas 40 kaki, mereka menancapkan patung-patung dan salib-salib di atas tetinggian-tetinggian, serta menghantar anak putra saudaranya ke atas tahta. Ketika padri merekamengambil injil dan membacanya, salib-salib itu roboh, kaki tahta patah sehingga jatuh ke atas tanah. Anak saudara raja-pun terjatuh dari tahta yang menyebabkan ia tak sadarkan diri. Raut wajah para padri berubah dan seluruh anggota badannya bergetar, sehingga pembesar mereka meminta supaya acara ini dibatalkan, dan dia berkata peristiwa-peristiwa nahas yang terjadi menunjukkan atas kepunahan agama Masehi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Sy. Nargis Khatun berkata: “Kakekku menganggap peristiwa itu merupakan alamat buruk, dan dia berkata: “Perayaan ini akan diadakan pada waktu lain, sehingga anak putri ini akan kita akad(nikah)kan pada waktu lain dengan anak saudara ini”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Namun pada kali kedua terjadi hal yang sama, sehingga mereka menganggap terdapat alamat buruk dari tindakan mereka ini. Masyarakat bercerai-berai, kakekku kembali ke tempatnya dengan memasang tabir malu. Setelah kejadian itu aku menyaksikan dalam tidurku bahwa Nabi Isa as dan Hawariyyun berkumpul menyediakan sebuah meja dari cahaya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Nabi Muhamad saww, Imam Ali as disertai para Imam dan anak keturunan mulia beliau, menjadikan istana semarak dengan cahaya kehadiran indah mereka. Nabi Isa as dengan pelayanan akan keagungan beliau menyambut kedatangan Nabi Muhamad saww dengan meletakkan tangan di bahu Nabi Muhamad saww, lalu Nabi Muhamad saww berkata: “Wahai Ruhullah (salah satu gelar Nabi Isa as yang telah disinyalir dalam Al-Qur’an-pen), aku datang untuk meminang anak putri Washi-mu Syam’un (Samson) bin Ashafa yang diperuntukkan kepada putraku ini”’ dengan menunjuk isyarat kepada Imam Hasan Askari as. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Syam’un (Samson) pun menerima lalu semua menuju suatu mimbar dan Rasulullah membaca khutbah pernikahan, beliau bersabda: “Akad nikah telah selesai”. Lalu aku terbangun dari tidur. Mimpi ini tidak pernah aku ceritakan kepada siapapun, karena takut akan dibunuh, akan tetapi cinta akan surya falak Imamah berkobar menyala dalam dadaku, membuatku mengharamkan makan dan minum selama keterpisahan dari beliau, sehingga dari hari ke hari keadaanku semakin kurus lemah. Kondisi seperti ini menyebabkanku harus memeriksakan diri dari seluruh tabib, sehingga tak seorang tabib-pun tertinggal melainkan aku telah mendatanginya. Akan tetapi semia telah putus asa dalam mengobatiku. Kakek berkata kepadaku: “Wahai cahaya mataku, apakah engkau mempunyai keinginan yang harus aku lakukan (aku tunaikan sehingga menggembirakanmu)”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Aku berkata: “Pintu-pintu kegembiraan telah tertutup di hadapnku, berhentilah untuk menyiksa dan menganiaya para tawanan muslimin, lepaskan para tahanan, bahkan Tuhannya al-Masih dan bundanya saja, Yang Maha Tinggi memaafkan-kita”. Setelah itu, badanku mulai tampak sehat dan aku dapat menjamah makanan”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:'Book Antiqua';">Melihat Penghulu Wanita (Sy. Fathimah Zahro as) </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Setelah menyaksikan wanita terbaik Sy. Fathimah Zahro as di alam tidur selama empat malam yang datang untuk melihatku bersama Sy. Maryam as yang disertai 1000 seribu pelayan dari bidadari surga, Sy. Maryam berkata: “Wanita ini adalah ibu dari suami kamu”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Lalu aku berlutut di hadapan pangkuannya sambil menangis dan mengeluskan bahwa Imam hasan Askari as mengabaikan aku, dan menghindari untuk melihatku. Sy Fathimah Zahro berkata: “Bagaimana ia akan mendatangimu sedang kamu masih dalam kemusyrikan. Jika kamu suka Tuhan Yang Maha Tinggi, Nabi Isa as dan Sy. Meridhoimu dan<span>  </span>Imam Hasan Askari akan datang melihatmu.mari ucapkanlah dua syahadat”. Aku pun mengucapkan dua kalimat Syahadah itu, lalu Sy Fathimah mendekapkan aku ke dadanya dan berkata: “Tunggulah kedatangan putraku”. <span> </span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Pada malam berikutnya dalam tidur, mentari indah kemilau itu muncul. Aku berkata: “Wahai kekasihku setelah Anda menawan jiwaku dengan cinta kepadamu, kenapa engkau menjauh dan mengabaikan aku?” beliau berkata: “Sebabnya hanya karena kemusyrikanmu, sekarang kamu telah masuk Islam, aku akan datang setiap malam”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Basyar bertanya, apa gerangan yang menyebabkan Anda terjatuh di tengan para tawanan? Beliau menjawab: “Imam Askari telah memberitahukan kepadaku dengan menunjuk suatu hari bahwa kakekku akan mengirim pasukan ke arah kaum muslimin, beliau menganjurkan hendaknya aku menggabungkan diri ke tengah-tengah para tawanan dan para pelayannya, dengan cara yang mereka tidak dapat mengenali-mu dan menyelinap”. Setelah berhadapan dengan kaum muslimin aku ditawan dan akhirnya seperti yang engkau lihat”. (Najmun Naqib, 23-175) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Setelah Sy. Nargis Khatun tiba, lantas Imam Hadi as (ayahnya Imam Hasan Askari as) menyambutnya dan menanyakan tentang keadaannya. Beliaupun berkata kepada saudarinya Sy. Hakimah Khatun: “Inilah perempuan mulia yang sedang engkau tunggu-tunggu”.<span>  </span>Kemudian Sy Hakimah memeluknya dan mengucapkan selamat kepadanya. Imam Hadi as kembali bertanya: “Bagaimana engkau melihat keagungan Islam?”. Sy Nargis menjawab: “Bagaimana aku dapat menjelaskan sesuatu yang engkau lebih mengetahui dari aku?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Imam Hadi as kembali berkata kepada saudarinya: “Bawalah beliau ke rumah, ajarkan ajaran Islam kepadanya, karena ia akan menjadi istri anakku, Hasan Askari dan ibunya Mahdi (Imam mahdi as Imam ke-12)”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Disarikan dari kitab”Nesyonehoi az qaim Ali Muhamad” Sayyid Yahya Ma’ruf Fazil Hamedani. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Ket: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:'Book Antiqua';"><span>-<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">          </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Kisah Sy. Nargis Khatun dapat ditemui pula dalam kitab Biharul Anwar jil 51 hal 6-10, dan kitab Riyahin asy-Syari’ah jil 3 hal 24-32.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:'Book Antiqua';"><span>-<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">          </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Beliau sebelumnya bernama Malika.</span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/85/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/85/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=85&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/11/kisah-perjalanan-sy-nargis-khatun-ibunda-imam-mahdi-aj/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hijab dan konsep Kebebasan (Liberalisme) bag-2; Asas-Asas Liberalisme</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/11/hijab-dan-konsep-kebebasan-liberalisme-bag-2-asas-asas-konsep-liberalisme/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/11/hijab-dan-konsep-kebebasan-liberalisme-bag-2-asas-asas-konsep-liberalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2007 14:54:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/11/hijab-dan-konsep-kebebasan-liberalisme-bag-2-asas-asas-konsep-liberalisme/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam konsep kebebasan terdapat tiga pertanyaan yang harus dijawab: Siapakah subjek kebebasan? Apa penghalang kebebasan? Apa tujuan kebebasan? Berdasarkan ketiga ini, dapat diambil kesimpulan bahwa kebebasan berarti bebas atau terlepasnya seseorang atau sekelompok orang dari kekangan orang atau hal lainnya untuk melakukan sebuah pekerjaan atau untuk berprilaku tertentu. Secara simbolis dapat dikatan bahwa si A [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=84&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/05/s_hijab20.jpg" title="s_hijab20.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/05/s_hijab20.thumbnail.jpg?w=500" alt="s_hijab20.jpg" /></a> </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Dalam konsep kebebasan terdapat tiga pertanyaan yang harus dijawab: Siapakah<span>  </span>subjek kebebasan? Apa penghalang kebebasan? Apa tujuan kebebasan? Berdasarkan ketiga ini, dapat diambil kesimpulan bahwa kebebasan berarti bebas atau terlepasnya seseorang atau sekelompok orang dari kekangan orang atau hal lainnya untuk melakukan sebuah pekerjaan atau untuk berprilaku tertentu. Secara simbolis dapat dikatan bahwa si A terlepas dari B untuk berprilaku C. Pengertian ini sesuai dengan pernyataan Mack.C yang berbunyi: “X is free from Y to do or be Z” dengan X = subjek, Y = penghalang dan Z = tujuan.<br />
</span></p>
<p><span id="more-84"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;" class="MsoNormal" align="center"><strong>Hijab dan Konsep Kebebasan (Liberalisme) bag-2; Asas-Asas Liberalisme</strong></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:center;" class="MsoNormal" align="center"><span style="font-size:11pt;">Oleh: Euis Daryati</span></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;">Asas-Asas Konsep Liberalisme</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Pada artikel ini hanya akan membahas secara ringkas berkaitan dengan konsep-konsep dasar yang merupakan asas pemikiran kaum liberal, diantaranya:</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;">Liberalisme</span></strong></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Bagi penganut liberalisme, kekebasan merupakan asas, <strong>ruh dan jantung </strong>liberalisme. Bahkan lebih dari itu, para penganut liberalisme menganggap mereka berhutang budi pada konsep kebebasan meskipun terdapat perbedaan dalam<span>  </span>pendefinisian kebebasan (makna dari freedom dan liberty) sebagaimana yang diakui oleh G. Bordu: “Kebebasan memiliki berbagai wajah. Bagi orang-orang miskin, kebebasan hanya akan menghadiahkan mati kelaparan baginya. Sementara bagi orang-orang mampu dan cerdas, dengan bantuan kekuatan dan kecerdasannya, mereka dapat menjadi pemilik ikhtiyar prilakunya sendiri. Oleh karena itu, tidak ada kesamaan di antara mereka dalam memahami arti kebebasan”.  </span></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Dalam konsep kebebasan terdapat tiga pertanyaan yang harus dijawab: Siapakah<span>  </span>subjek kebebasan? Apa penghalang kebebasan? Apa tujuan kebebasan? Berdasarkan ketiga ini, dapat diambil kesimpulan bahwa kebebasan berarti bebas atau terlepasnya seseorang atau sekelompok orang dari kekangan orang atau hal lainnya untuk melakukan sebuah pekerjaan atau untuk berprilaku tertentu. Secara simbolis dapat dikatan bahwa si A terlepas dari B untuk berprilaku C. Pengertian ini sesuai dengan pernyataan Mack.C yang berbunyi: “X is free from Y to do or be Z” dengan X = subjek, Y = penghalang dan Z = tujuan.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"><span>            </span>Dalam konsep liberalisme, kebebasan harus mencakup pada dataran filsafat-teologi, politik-hak, ekonomi dan kebebasan moral. Berkaitan dengan kebebasan moral, penganut paham ini mengatakan bahwa seseorang bebas dalam berprilaku buruk atau<span>  </span>bebas menyebarkan keburukannya. Para penganut paham ini bahkan meminta manusia dibebaskan dari segala bentuk kekangan agama dan moral, sebagaimana yang terjadi pada abad ketujuh belasan.<a href="#_edn1" name="_ednref1" title="_ednref1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a>Dalam pandangan mereka kebebasan merupakan sesuatu yang sangat sakral. Lord A sendiri mengatakan: “Kebebasan bukan merupakan sarana untuk mencapai politik ideal, namun secara substansial merupakan tujuan tertinggi politik”.<a href="#_edn2" name="_ednref2" title="_ednref2"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;">Individualisme</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"><span>            </span>Menurut liberalisme, manusia merupakan subjek bebas yang dapat mencari argumen substansial dari dalam dirinya sendiri, bukan berdasarkan pada nilai-nilai mulia dan sosial. Kata subject yang dalam bahasa latin berasal dari kata subjectum tidak mereka artikan dengan taat dan hamba tetapi diartikan sebaliknya yaitu bebas dari segala bentuk belenggu dan ikatan asas-asas di luar pemikirannya. Dalam pandangan mereka, individu lebih utama dan realistis daripada masyarakat dan segala jenis lembaga karena dari<span>  </span>berbagai sudut, individu lebih bernilai dari masyarakat. Dari sudut waktu, individu lebih dahulu muncul dari masyarakat maka berdasarkan sudut pandang moral, hak-hak dan segala jenis kehendaknya lebih utama dari segala hak dan kehendak masyarakat.<a href="#_edn3" name="_ednref3" title="_ednref3"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a><span></span>Dan menurut Antonio R konsep individualisme inilah yang kemudian menempati pusat metafisik dan ontology paham liberalism.<a href="#_edn4" name="_ednref4" title="_ednref4"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a><span>  </span></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;">Humanisme</span></strong></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Humanisme muncul di zaman Yunani klasik dan memiliki beberapa arti yang berbeda-beda. Saat ini, humanisme dikenal sebagai paham yang mengenalkan manusia sebagai esensi independen dan akal menempati kedudukan wahyu serta tidak memerlukan Tuhan karena manusialah yang menjadi tolok ukur segalanya. Pada akhirnya timbullah tolok ukur baik dan buruk yang cukup relatif dan beragam dikarenakan keragaman manusia itu sendiri.<a href="#_edn5" name="_ednref5" title="_ednref5"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a><span></span>Kita dapat memahami dengan jelas esensi humanisme melalui ucapan Foir Bugh, filsuf Jerman: “tuhan manusia ialah manusia”.<a href="#_edn6" name="_ednref6" title="_ednref6"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a><span>  </span></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;">Toleransi (<em>Tasahul</em> dan <em>Tasamuh</em>)</span></strong></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Secara terminologi, tolerance berarti toleransi, kesabaran, dan kelapangan dada.<a href="#_edn7" name="_ednref7" title="_ednref7"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a><span></span>Menurut kaum liberal, pemerintah, masyarakat atau individu tidak diperkenankan untuk ikut campur dalam urusan keyakinan dan prilaku orang lain, walaupun perkara tersebut tercela dan buruk. Dengan kata lain mereka tidak boleh ikut campur atau tidak boleh mencegah segala jenis keyakinan yang terdapat dalam ranah agama, politik, akhlak, filsafat atau prilaku, baik itu tercela dan tidak disenangi berdasarkan dasar pengetahuan yang dimiliki, keinginan sendiri atau tujuan tertentu meskipun mereka memiliki kekuatan untuk mencegah perkara tersebut. Biasanya kaum liberal menjadikan ungkapan toleransi berhadap-hadapan dengan kekerasan.<a href="#_edn8" name="_ednref8" title="_ednref8"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a><span>  </span></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;">Sekularisme</span></strong></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Sekularisme memiliki berbagai arti dan penggunaan yang berbeda-beda sepanjang sejarah Barat. Namun saat ini, sekularisme berarti pemisahan antara norma-norma sakral keagamaan dan urusan duniawi yang pada titik akhirnya menafikan peran agama dalam berbagai masalah sosial kemasyarakatan, termasuk dalam tataran hidup berbangsa dan bernegara.<a href="#_edn9" name="_ednref9" title="_ednref9"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;">Rasionalisme <span></span></span></strong></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Terdapat beberapa pokok dasar liberalisme lainnya seperti rasionalisme yang menganggap bahwa akal lebih utama dari iman, memiliki kapabilitas cukup untuk mengetahui dan menyingkap segala rahasia alam raya dan bebas (berdiri sendiri) serta<span>  </span>terputus dari wahyu. Hal ini menyebabkan manusia penganut paham ini tidak bisa mendapatkan pancaran sinar illahi. </span></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;">Utilitarianisme (hedonisme)</span></strong></p>
<p style="text-indent:0.5in;text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Dasar lainnya adalah utilitarianisme (hedonisme) yang mendefenisikan manusia sebagai substansi pencari kelezatan dan kesenangan. Yang menjadi tolok ukur baik dan buruk ialah motivasi atau rasa ingin mencari kelezatan dan kesenangan dalam diri manusia. Semua manfaat hanya diusahakan untuk kesenangan dirinya tanpa memikirkan kesenangan dan kelezatan orang lain.<a href="#_edn10" name="_ednref10" title="_ednref10"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a> </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;">Bersambung….</span></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref1" name="_edn1" title="_edn1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a>Zarsyenos, Syahriyar, Mabani-e Nazari-e Gharb-e Modern, 1383 QS, Teheran, Kitab-e Subh, cetakan pertama, hal : 134.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref2" name="_edn2" title="_edn2"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a> Qanbari, DR. Ayat, Naqdi bar Humanisme wa Liberalisme, 1383 QS, Qom, Faroz-e Andisyeh hal : 110-113.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref3" name="_edn3" title="_edn3"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a>Baratali Poor, Mahdi, <em>Negahe Nu “Liberalism”</em>, 1381 QS, Qom, Bid’atu ar-Rasul, cetakan pertama, hal : 49-50.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref4" name="_edn4" title="_edn4"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a>Qanbari, DR. Ayat, Naqdi bar Humanisme wa Liberalisme, 1383 QS, Qom, Faroz-e Andisyeh hal : 117.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref5" name="_edn5" title="_edn5"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a>Syafii’ Surustani, Ibrahim, <em>Jaryan</em> <em>Senasi Difai’ aj Huquqe Zanan, </em>1379 QS, Qom, Muasese Farhanggi Thaha, hal : 5.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref6" name="_edn6" title="_edn6"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a>Qanbari, DR. Ayat, <em>Naqdi bar Humanisme va Liberalisme</em>, 1383 QS, Qom, Faroz-e Andisyeh hal : 22.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref7" name="_edn7" title="_edn7"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a>Echols, Jhon M dan Shadiliy, Hassan, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, hal : 595.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref8" name="_edn8" title="_edn8"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a>Qanbari, DR Ayat, <em>Naqdi bar Humanisme va Liberalisme</em>, 1383 QS, Qom, Faroz-e Andisyeh hal : 122-124.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref9" name="_edn9" title="_edn9"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a> Syafii’ Surustani, Ibrahim, <em>Jaryan</em> <em>Senasi Difai’ az Huquqe Zanan, </em>1379 QS, Qom, Muasese Farhanggi Thaha, hal : 5. untuk lebih jelasnya dapat merujuk pada buku-buku lainnya yang membahas masalah ini secara detail.</p>
<p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref10" name="_edn10" title="_edn10"><span class="MsoEndnoteReference"><span><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';"></span></span></span></span></a>Qanbari, DR Ayat, <em>Naqdi bar Humanisme va Liberalism</em>, 1383 QS, Qom, Faroz-e Andisyeh hal : 130-131.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/84/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/84/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/84/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=84&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/11/hijab-dan-konsep-kebebasan-liberalisme-bag-2-asas-asas-konsep-liberalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/05/s_hijab20.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">s_hijab20.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Karena Allah swt</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/11/karena-allah-swt/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/11/karena-allah-swt/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2007 14:36:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/11/karena-allah-swt/</guid>
		<description><![CDATA[Pada keesokan harinya, para pembangun masjid sangat marah sewaktu menyaksikan tulisan ‘Masjid Buhlul’ di atas masjid. Kemudian mereka mencari Buhlul. ketika mereka menemukan Buhlul, lalu mereka memukulinya seraya bertanya kepadanya: “Kenapa engkau telah menyia-nyiakan kerja keras kami dan menamai masjid dengan namamu?”. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Karena Allah swt Pada suatu hari, Buhlul melewati orang-orang yang sedang membangun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=82&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Pada keesokan harinya, para pembangun masjid sangat marah sewaktu menyaksikan tulisan ‘Masjid Buhlul’ di atas masjid. Kemudian mereka mencari Buhlul. ketika mereka menemukan Buhlul, lalu mereka memukulinya seraya bertanya kepadanya: “Kenapa engkau telah menyia-nyiakan kerja keras kami dan menamai masjid dengan namamu?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-82"></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:'Book Antiqua';"> </span><strong><span style="font-family:'Book Antiqua';">Karena Allah swt</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-family:'Book Antiqua';"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Pada suatu hari, Buhlul melewati orang-orang yang sedang membangun masjid. <span> </span>Ia bertanya, “Sedang apa kalian?”. “Kami sedang membangun masjid” jawab mereka. Kemudian Buhlul kembali bertanya, “Dengan tujuan apa kalian membangun masjid?” Mereka menjawab: “Ikhlas karena Allah swt?”. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Mendengar jawaban mereka, lantas pada malam hari secara diam-diam Buhlul menyediakan sebuah batu yang tertulis padanya ‘Masjid Buhlul’ dan meletakkannya pada masjid tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Pada keesokan harinya, para pembangun masjid sangat marah sewaktu menyaksikan tulisan ‘Masjid Buhlul’ di atas masjid. Kemudian mereka mencari Buhlul. ketika mereka menemukan Buhlul, lalu mereka memukulinya seraya bertanya: “Kenapa engkau telah menyia-nyiakan kerja keras kami dan menamai masjid dengan namamu?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">Buhlul menjawab: “Bukankah kalian sendiri yang mengatakan bahwa kalian membangun masjid ikhlas karena Allah swt? Jika dengan melihat tulisan itu, orang-orang akan mengira aku yang telah membangun masjid, akan tetapi Allah swt tidak akan pernah salah mengira, dan Dia akan mengetahui pembangun masjid”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Book Antiqua';">[ED, sumber: Dantanha-ye Mauzu, Kazim Said Pur, hal 23]</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/82/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/82/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/82/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=82&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/11/karena-allah-swt/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hijab dan Konsep Kebebasan (Liberalisme) bag-1; Sebuah Pengantar</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/10/hijab-dan-konsep-kebebasan-liberalisme-bag-1-sebuah-pengantar/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/10/hijab-dan-konsep-kebebasan-liberalisme-bag-1-sebuah-pengantar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2007 03:49:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/10/hijab-dan-konsep-kebebasan-liberalisme-bag-1-sebuah-pengantar/</guid>
		<description><![CDATA[Penganut liberalisme selalu berusaha mengagung-agungkan masalah kebebasan. Segala sesuatu yang membatasi kebebasan mereka anggap bertentangan dengan hak asasi manusia. Salah satu hal yang dianggap bertentangan dengan kebebasan adalah hijab (jilbab). Perintah mengenakan busana muslimah kepada perempuan muslimah dianggap bertentangan dengan kebebasan dan hak asasi wanita. Mengapa pakaian perempuan muslimah harus dibatasi? Bukankah ia bebas untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=81&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/05/hijab-dan-kebebasan.jpg" title="hijab-dan-kebebasan.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/05/hijab-dan-kebebasan.thumbnail.jpg?w=500" alt="hijab-dan-kebebasan.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Penganut liberalisme selalu berusaha mengagung-agungkan masalah kebebasan. Segala sesuatu yang membatasi kebebasan mereka anggap bertentangan dengan hak asasi manusia. Salah satu hal yang dianggap bertentangan dengan kebebasan adalah hijab (jilbab). Perintah mengenakan busana muslimah kepada perempuan muslimah dianggap bertentangan dengan kebebasan dan hak asasi wanita. Mengapa pakaian perempuan muslimah harus dibatasi? Bukankah ia bebas untuk berbusana apapun? Bukankah jilbab membatasi aktifitasnya? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-81"></span><strong> </strong>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong>Hijab dan Konsep Kebebasan (Liberalisme) bag-1; Sebuah Pengantar</strong><span style="font-size:10pt;"> <br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;">Oleh: Euis Daryati</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span><strong><span style="font-size:11pt;"><br />
Pengantar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><strong><span style="font-size:11pt;"></span></strong><br />
<span style="font-size:11pt;">Secara global, pemikiran yang menguasai cara pandang Barat pasca renaissance bertumpu pada<span>  </span>tiga asas berikut ini:<a href="#_edn1" name="_ednref1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[i]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Pertama:</span></em><span style="font-size:11pt;"> Humanisme, yang mengenalkan manusia sebagai esensi independen dan akal yang menempati kedudukan wahyu serta tidak memerlukan Tuhan karena manusia adalah tolok ukur segalanya. Hal ini menimbulkan tolok ukur relatif dan<span>  </span>beragam tentang baik dan buruk karena keragaman manusia. Pada saat itu, menurut Nitch, manusia akan sampai pada nihilisme.<a href="#_edn2" name="_ednref2"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[ii]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;"> Kedua:</span></em><span style="font-size:11pt;"> Liberalisme, yang menjunjung tinggi kebebasan terutama kebebasan individual. Segala sesuatu yang membatasi kebebasan moral, agama maupun sosial dianggap telah bertentangan dengan hak asasi manusia dan kebebasan yang nota bene merupakan milik setiap indivudu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;"> Ketiga:</span></em><span style="font-size:11pt;"> Sekularisme, pemisahan antara norma-norma sakral keagamaan dan urusan duniawi yang pada akhirnya menafikan peran agama dalam berbagai masalah sosial kemasyarakatan, termasuk dalam tataran hidup berbangsa dan bernegara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> Jika kita analisa dengan teliti, maka kedua asas terakhir di atas pada akhirnya akan<span>  </span>kembali pada asas pertama. Manusia harus bebas karena yang menjadi tolok ukur segalanya adalah manusia. Manusia harus sekuler karena akal menempati kedudukan<span>  </span>wahyu dan terputus dari kekuatan metafisik.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Sayangnya, pola pikir Barat dengan mudah diterima oleh sebagian pemikir Islam. Produk-produk Barat dianggap benar dan tidak perlu lagi disensor. Masyarakat awam juga sudah termakan berbagai isu dan dogma Barat. Pada saat ini liberalisme atau kebebasan merupakan hal yang dianggap sangat sakral seperti halnya demokrasi, khususnya di tanah kelahirannya di Eropa. Kita menyaksikan sendiri bagaimana Amerika menyerang Afghanistan dan Irak pada dua atau tiga tahun yang lalu hanya dengan alasan ingin menerapkan demokrasi di sana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Namun demokrasi yang mereka maksudkan telah membingungkan kita karena bukannya demokrasi yang berhasil mereka terapkan di sana tetapi hanya melahirkan ketidakamanan dan kesemerawutan yang terus berkepanjangan sejak pasukan Amerika dan sekutunya bercokol di sana.  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Penganut liberalisme selalu berusaha mengagung-agungkan masalah kebebasan. Segala sesuatu yang membatasi kebebasan mereka anggap bertentangan dengan hak asasi manusia. Salah satu hal yang dianggap bertentangan dengan kebebasan adalah hijab (jilbab). Perintah mengenakan busana muslimah kepada perempuan muslimah dianggap bertentangan dengan kebebasan dan hak asasi wanita. Mengapa pakaian perempuan muslimah harus dibatasi? Bukankah ia bebas untuk berbusana apapun? Bukankah jilbab membatasi aktifitasnya? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">Definisi Kebebasan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;">Kebebasan, liberty-freedom dan hurriyyah merupakan tiga kata yang berasal dari<span>  </span>bahasa Indonesia, Inggris dan Arab dan memiliki arti yang sama. Aliran dan paham yang mengusung kebebasan disebut dengan paham liberalisme. Liberalisme sendiri merupakan salah satu aliran filsafat dan politik kuno namun cukup terkenal di saat ini. Dalam kamus politik, liberalisme adalah sebuah aliran filsafat yang berpondasikan keyakinan pada esensi kebebasan. Liberalisme lahir secara tidak langsung di masa renaisanse dan reformasi agama yang diprakarsai oleh Martin Luther dan Jhon Calvin. Kata liberty sendiri diambil dari bahasa latin yaitu liberte. Berdasarkan definisi di atas, maka yang dimaksud dengan penganut liberalisme adalah orang-orang pengusung kebebasan.<a href="#_edn3" name="_ednref3"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[iii]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Dengan kata lain, liberalisme merupakan sebuah aliran yang memiliki idelogi, pandangan dan metode yang tujuan utamanya ialah menyiapkan kebebasan semaksimal mungkin bagi manusia dengan bersandar pada konsep individualisme. Manusia harus terlepas dari segala belenggu dan kekangan—lingkungan maupun sosial, bahkan syariat agama dan Tuhan sekalipun—dan<span>  </span>manusia merupakan pemilik kehendaknya sendiri.<a href="#_edn4" name="_ednref4"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';">[iv]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Bersambung….</span></p>
<p><!--[if !supportEndnotes]--><br /> <br />
<hr align="left" size="1" width="33%" />  <!--[endif]--></p>
<p><p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref1" name="_edn1"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[i]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Syafii’ Surustani, Ibrahim, <em>Jaryan</em> <em>Senasi Difai’ az Huquqe Zanan, </em>1379 QS, Qom, Muassese Farhanggi Thaha, hal :5, pembahasan seperti inipun dapat ditemui pada buku-buku yang lainnya.</p>
<p><p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref2" name="_edn2"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[ii]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Ibrahimiyan, Sayyid Husain, <em>Insan Syenasi Islam, Ekzistansialism,Humanism,</em> 1381 QS, Tehran, Daftar Nasyre Ma’arif, cetakan pertama hal :104, untuk lebih jelasnya mengenai pembahasan Humanisme dapat merujuk ke dalam buku ini.</p>
<p><p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref3" name="_edn3"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[iii]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Baratali Poor, Mahdi, <em>Negahe Nu “Liberalism”</em>, 1381 QS, Qom, Bid’atu ar-Rasul, cetakan pertama, hal : 13.</p>
<p><p class="MsoEndnoteText"><a href="#_ednref4" name="_edn4"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[iv]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Qanbari, DR. Ayat, Naqdi bar Humanisme wa Liberalisme, 1383 QS, Qom, Faroz-e Andisyeh, hal : 90.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/81/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/81/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/81/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=81&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/10/hijab-dan-konsep-kebebasan-liberalisme-bag-1-sebuah-pengantar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/05/hijab-dan-kebebasan.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hijab-dan-kebebasan.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Wah Matching Banget Penampilanmu, Sayang?!&#8221;</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/07/dan-katakanlah-wah-matching-banget-penampilanmu-sayang/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/07/dan-katakanlah-wah-matching-banget-penampilanmu-sayang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2007 09:01:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi Keluarga & Pendidikan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/07/dan-katakanlah-wah-matching-banget-penampilanmu-sayang/</guid>
		<description><![CDATA[Hasan bin Jaham berkata: “Imam Kazim (Imam ke-7) as telah mewarnai rambutnya (dengan pacar) dan merias (menyisir dan merapihkan penampilan) dirinya, lantas aku berkata: “Wahai yang jiwaku sebagai tebusannya, apakah tuan juga mewarnai rambut (dengan pacar)? Beliau menjawab: “Ya, karena penampilan rapih suami akan menyebabkan kehormatan dan keterjagaan (Iffah) para istri. Ketidakterjagaan (penyelewengan) para istri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=78&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span>Hasan bin Jaham berkata: “Imam Kazim (Imam ke-7) as telah mewarnai rambutnya (dengan pacar) dan merias (menyisir dan merapihkan penampilan) dirinya, lantas aku berkata: “Wahai yang jiwaku sebagai tebusannya, apakah tuan juga mewarnai rambut (dengan pacar)? Beliau menjawab: “Ya, karena penampilan rapih suami akan menyebabkan kehormatan dan keterjagaan (<em>Iffah</em>) para istri. Ketidakterjagaan (penyelewengan) para istri dikarenakan penampilan yang tidak terawat para suami.”Imam melanjutkan; “Apakah engkau senang melihat istrimu tampil tidak rapih dan cantik (berias)? Aku menjawab: “Tidak, wahai junjunganku”. Imam as kembali berkata: “Istrimu juga seperti itu, tidak senang melihatmu dalam keadaan tidak rapih.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span></span><span id="more-78"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span></span></strong></p>
<p style="text-align:center;" class="MsoNormal" align="center"><strong><span><span></span>“Wah Matching Banget Penampilanmu, Sayang?!”</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span><br />
</span></strong><span>Salah satu tips untuk menjaga kehangatan dan keharmonisan pasangan suami istri, tampil cantik dan rapih di hadapan pasangan hidupnya. Sekarang yang menjadi pertanyaan, apakah Islam juga memberikan perhatian khusus pada masalah ini? Jika kita melihat dan menela’ah kembali hadis-hadis, maka akan kita dapati banyak hadis-hadis yang menjelaskan masalah ini. Bahkan sebagian darinya memberikan penekanan yang khusus. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Sebagaimana juga kita sering mendengar di berbagai pengajian bahwa seorang istri harus berdandan dan berias untuk suaminya. Bukan sebaliknya, ketika hendak keluar rumah baru para istri mengenakan busana bagus, rapih, dan memakai minyak wangi. Akan tetapi, ketika berada di hadapan suaminya, mengenakan pakaian yang telah sobek, bau keringat&#8230;dan lain sebagainya. Menyepelekan masalah ini sedikit banyaknya akan memberikan dampak negatif. Karena jika kita berbicara tentang fitrah manusia maka fitrah manusia menyenangi kecantikan, rapih, bersih&#8230;dan Islam pun sangat menekankan akan kebersihan sebagaimana dalam beberapa hadis berikut ini: </span></p>
<ul>
<li><span></span><span>Rasulullah saww bersabda: “&#8230;Sesungguhnya Allah bersih dan mencintai Kebersihan.” [Muntakhab Mizan al-Hikmah, Rey Syahri, hal 560]</span></li>
</ul>
<ul>
<li><span>Rasulullah saww bersabda: “Seburuk-buruknya hamba, ialah hamba yang kotor (badannya karena tidak mandi-pen).” [Muntakhab Mizan al-Hikmah, Rey Syahri, hal 560]</span></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Dengan tampil rapih dan cantik di hadapan pasangan hidup maka ia akan merasa dihormati. Ketika kita mengetahui bahwa rumah kita akan didatangi tamu, maka kita akan berusaha untuk menjaga penampilan serapih mungkin, dan tidak mungkin kita akan berpenampilan semrawut di hadapannya. Hal ini dilakukan karena atas dasar rasa hormat kita terhadap seorang tamu. Seorang istri maupun suami meskipun senantiasa hidup bersamaan, namun tetap memiliki kepribadian dan harga diri yang harus kita hormati. <span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Tampil rapih, cantik dan menarik khan tidak mesti bagus, mahal, baru dan lain-lain. Sesuai dengan kemampuan dan yang kita miliki. Jika hanya mampu membeli sebuah bedak, lipstik, dan parfum yang murah, atau hanya mampu membeli sebuah sisir dan minyak rambut untuk laki-laki dan minyak yang murah meriah, maka belilah sesuai dengan kemampuan. Dan hendaknya tidak memaksakan diri untuk membeli yang harganya lebih mahal yang tidak sesuai dengan kemampuan kita. Karena hal itu sebagaimana pepatah mengatakan ,”besar pasak dari pada tiang” adalah perbuatan yang dicela oleh agama. </span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Dengan tetap memperhatikan kemampuan ekonomi, seseorang akan tetap dapat merawat penampilannya yang membuat senang pasangannya. Karena mungkin saja kita akan menemukan sebuah keluarga menjadi retak dan hampir-hampir saja berakhir dengan penceraian. Namun setelah dianalisa ternyata sebabnya hanyalah masalah remeh seperti pernyataan berikut ini: “Suamiku tidak pernah memperhatianku, ia berangkat dan kembali ke rumah tanpa memperhatikan pakaian kerjanya. Ia tidak memperhatikan dan menjaga penampilannya di hadapanku, kotor, bau keringat. Memang aku ini dianggap apa? Yang hanya disuguhi yang kotor dan bau saja &#8230;”. Atau mungkin sebaliknya, seorang suamipun akan mengadukan hal tersebut: “Istriku tidak pernah berias untukku, ia tampil rapih dan cantik ketika hendak pergi ke undangan, jalan-jalan dan pesta saja. Sementara di hadapanku ia hanya mengenakan daster yang telah robek, bau keringat dan wajah yang tidak karuan. Padahal aku ingin sekali ia memakai gaun yang paling aku sukai di hadapanku, serta tampil cantik dan wangi.”</span> <span></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Cerita di atas hanyalah sebuah contoh kasus yang mungkin telah terjadi atau mungkin akan terjadi. Oleh karena itu, tampil rapih dan menarik di hadapan pasangannya merupakan hal patut diperhatikan, dan tidak selayaknya untuk dianggap remeh. Dan hal ini dituntut dari kedua belah pihak (suami &amp; istri). Sebagaimana seorang suami menghendaki istrinya tampil cantik dan rapih di hadapannya, maka seorang istri pun seperti itu. Sebagaimana yang telah disinyalir dalam beberapa riwayat berikut ini: </span></p>
<p><span dir="ltr"><span>Imam Shadiq as berkata: “Sebagaimana para lelaki akan merasa senang di saat menyaksikan para istrinya tampil cantik dan rapih. Maka para perempuan pun akan merasa senang sewaktu menyaksikan para suaminya tampil rapih dan menarik.”[Makarim-Akhlak, hal: 80, dinukil dari <em>Raze-Esyq once Hamsaran Boyad Bedonad, </em>hal 13]</span></span></p>
<ul>
<li><span dir="ltr"><span>Hasan bin Jaham berkata: “Imam Kazim (Imam ke-7) as telah mewarnai rambutnya (dengan pacar) dan merias (menyisir dan merapihkan penampilan) dirinya, lantas aku berkata: “Wahai yang jiwaku sebagai tebusannya, apakah tuan juga mewarnai rambut (dengan pacar)? Beliau menjawab: “Ya, karena penampilan rapih suami akan menyebabkan kehormatan dan keterjagaan (<em>Iffah</em>) para istri. Ketidakterjagaan (penyelewengan) para istri dikarenakan penampilan yang tidak terawat para suami.”Imam melanjutkan; “Apakah engkau senang melihat istrimu tampil tidak rapih dan tidak menarik (berias)? Aku menjawab: “Tidak, wahai junjunganku”. Imam as kembali berkata: “Istrimu juga seperti itu, tidak senang melihatmu dalam keadaan tidak rapih.” [Wasa’il Asy-Syi’ah, hal 183 dinukil dari<em> Raze-Esyq once Hamsaran Boyad Bedonad, </em>hal 14] </span></span></li>
</ul>
<ul>
<li><span dir="ltr"><span> Imam Shadiq as berkata: “Tidak selayaknya perempuan membiarkan dirinya tanpa perhiasan meskipun hanya dengan sebuah kalung. Dan tidak selayaknya membiarkan tangannya tanpa pewarna, meskipun hanya dengan pacar.” [Wasa’il Asy-Syi’ah, hal 409 dinukil dari<em> Raze-Esyq once Hamsaran Boyad Bedonad, </em>hal 14]</span></span></li>
</ul>
<ul>
<li><span style="font-family:Symbol;"><span><span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"></span></span></span><span dir="ltr"><span>Bahkan dalam sebuah hadis telah disebutkan merupakan salah satu kewajiban istri ialah harus merias dirinya, memakai wangi-wangian dan mengenakan gaun yang terbagus untuk suaminya. [Mustadrak Wasa’il, jil 14, hal 280] </span></span></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Coba praktikkan tips berikut ini, tentu dengan tetap meminta pendapat pasangan anda. “Sayang, bagaimana baju ini cocok atau tidak untuk saya? Bagaimana mode rambut saya, senangkah dinda dengan model seperti ini? Bagaimana riasanan saya, cocok atau tidak untuk orang seperti saya?” dan lain sebagainya. Sehingga jika saling meminta pendapat tentang penampilan pasangan maka tidak akan terjadi salah paham. Karena mungkin saja seorang istri telah repot-repot berdandan agar suaminya merasa senang, akan tetapi ternyata suaminya tidak menyukai bentuk dandanannya. Akhirnya bukan kehangatan yanga ada, bahkan mungkin akan timbul pertengkaran.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Seorang suami hendaknya tidak sungkan mengatakan ungkapan-ungkapan berikut ini: “Wah dinda cantik sekali dengan penampilan seperti ini!”, “Dinda, menarik sekali dengan dandan seperti ini!” “Dinda sangat anggun dengan mengenakan perhiasan ini!, jadi tambah sayang nih”. Begitupula seorang istri pun hendaknya tidak usah merasa malu memberikan pendapat tentang penampilan suaminya, dan tidak selayaknya dipendam di dalam hati, namun ungkapkan apa yang ada di dalam hatimu, “Aku senang kanda memakai baju ini”, “Aku senang kanda memakai minyak wangi ini”, “Aku senang kanda memakai berpenapilan rapi seperti ini”, “Kanda, tambah ganteng lho jika rapih seperti ini!”&#8230;dan ungkapan lainnya. Berikanlah pujian untuk pasangan anda, dan jangan dipendam dalam hati. Pujian anda terhadap penampilan pasangan anda sangat memberikan dampak positif pada hubungan keharmonisan anda. Karena pasangan anda akan merasa diperhatikan. Senang akan perhatian orang, bukan monopoli anak-anak kecil saja. Orang dewasa pun memerlukan hal itu, karena itu merupakan fitrah manusia sebatas berada pada garis normal.<span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span>Singkat kata, pesan-pesan hadis di atas tentang masalah ini sangatlah bagus untuk dipraktikan dalam kehidupan pasangan suami istri. [ED]</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><em><span><br />
</span></em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/78/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/78/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=78&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/07/dan-katakanlah-wah-matching-banget-penampilanmu-sayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kunci Kesuksesan &#8216;Murthadha Muthahari&#8217;</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/05/kunci-kesuksesan-murthadha-muthahari/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/05/kunci-kesuksesan-murthadha-muthahari/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 May 2007 07:46:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/05/kunci-kesuksesan-murthadha-muthahari/</guid>
		<description><![CDATA[“Salah satu kunci kesuksesan beliau yang sangat menarik, sejak usia 15 tahun beliau selalu mencatat semua yang telah dibaca (poin-poin penting dan garis besar pembahasan), sampai-sampai beliau memiliki buku catatan berdasarkan Abjad. Bahkan beliau selalu menyarankan kepada kita ketika ingin membaca sebuah buku maka bacalah sebanyak tiga kali: Pertama, bacalah! Kedua, pahamilah! Dan ketiga, perdalamilah. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=77&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/05/motahhari.jpg" title="motahhari.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/05/motahhari.thumbnail.jpg?w=500" alt="motahhari.jpg" /></a></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman">“Salah satu <strong>kunci kesuksesan beliau yang sangat menarik, sejak usia 15 tahun beliau selalu mencatat semua yang telah dibaca (poin-poin penting dan garis besar pembahasan)</strong>, sampai-sampai beliau memiliki buku catatan berdasarkan Abjad. Bahkan beliau selalu menyarankan kepada kita ketika ingin membaca sebuah buku maka bacalah sebanyak tiga kali:<strong> Pertama, bacalah! Kedua, pahamilah! Dan ketiga, perdalamilah</strong>. Sampai beliau menghapal setiap buku yang beliau baca”, Lanjutnya.</font></span></p>
<p><span><font face="Times New Roman"><span id="more-77"></span> </font></span><strong><span><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</font></span></strong></p>
<p align="center"><strong><span></span></strong><strong><span><font face="Times New Roman"> Kunci Kesuksesan’ Murtadha Muthahari’</font></span></strong><strong><span><font face="Times New Roman"> </font> </span></strong><strong><span><font face="Times New Roman"> </font> </span></strong></p>
<p><strong><span></span></strong><span><font face="Times New Roman">Ketika melihat berbagai karya beliau yang telah diterjemahkan dan dicetak ke dalam bahasa Indonesia, sebagian menulis nama beliau dengan tulisan ‘Murteza Muthahari’, dan adapula yang menulis nama beliau dengan tulisan ‘Murthadha Muthahari’. Pada ejaan pertama maupun kedua, orangnya adalah satu. Hanya saja, nama pertama dengan ejaan bahasa Persia yang sudah diIndonesiakan, sementara nama kedua dengan ejaan bahasa Arab yang telah diIndonesiakan.</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font> </span><span><font face="Times New Roman">Sebenarnya kita tak perlu berdebat berkaitan dengan nama beliau. </font></span></p>
<p><span><font face="Times New Roman">Pada hari ini, di kampus kami diselenggarakan peringatan hari kesyahidan Murthada Muthahari. Di Negara Iran hari kesyahidan (beliau mati syahid .red) beliau dijadikan sebagai hari guru. Pada hari tersebut, para murid membawa bunga dan hadiah untuk dipersembahkan kepada para guru sebagai tanda terima kasih atas jasa-jasa mereka. </font></span><span><font face="Times New Roman"> </font> </span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Bertepatan dengan ‘hari guru’ dan untuk mengenang Murtadha Muthahari, kampus kami mengundang salah satu putri beliau yang bernama Dr. Wahidi Muthahari. Sewaktu ayahnya syahid, beliau berusia 14 tahun. Kemudian beliau memulai pembicaraannya dengan penuh ketawadhuan (rendah hati) seraya berkata: “Aku tidak memiliki kelebihan yang dimiliki oleh ayahku. Aku hanya ingin menyampaikan yang kuketahui tentang beliau dari perannya sebagai seorang ayah dan seorang guru. </font></span><span><font face="Times New Roman"> </font> </span><span><font face="Times New Roman">Selama 14 tahun kami hidup bersamanya. <strong>Kelahiran dan kematian beliau dimulai dengan sebuah mimpi (mimpi benar).</strong> Nenekku (ibu Murthadha Muthahari) berkata: ”Semasa aku hamil, aku telah bermimpi terdapat banyak perempuan telah berkumpul. Tiba-tiba seorang perempuan datang memberi air bunga kepada kami, para perempuan. Namun anehnya, ada yang disirami hanya setetes saja, bahkan ada yang sama sekali tidak disirami air bunga tesebut. Namun ketika tiba giliranku, beliau menyiramiku dengan air bunga yang sangat banyak. Untuk menghilangkan rasa keheranan yang telah meliputiku, akhirnya aku bertanya: “Kenapa tuan menyiramiku banyak sekali? Beliau menjawab: “<strong>Ini dikarenakan janin yang ada di dalam rahimmu.”</strong></font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span> </span><span><font face="Times New Roman">Putri Murtadha Muthahari melanjutkan; “Jiwa dan raganya, beliau serahkan kepada Kekasih Sejatinya (Allah swt). <strong>Beliau benar-benar pandai membagi waktu untuk keluarga, ibadah, dan tugas</strong> beliau lainnya. Segala sesuatu dilakukan berdasarkan <strong>planing dan program</strong> terlebih dahulu. Kesabaran beliau sebagai ayah, l<strong>emah lembut tapi tegas.</strong> Beliau <strong>meluangkan waktu untuk acara keluarga</strong>, memperhatikan dan mengontrol tugas-tugas anak-anaknya, dan mengontrol dengan cermat tugas-tugas yang berkaitan dengan kewajiban agama anak-anaknya (shalat, puasa dan ibadah lainnya).</font></span><span> </span><span><font face="Times New Roman"><span> </span>“Beliau selalu <strong>bangun dari tidurnya 2 jam sebelum adzan Subuh</strong>, untuk bermunajat dengan Kekasih Sejatinya dan melakukan shalat malam (tahajud) dengan melakukan sujud yang sangat panjang. Beliau <strong>tidak pernah meninggalkan shalat malam sejak muda sampai ketika beliau mendekati kesyahidannya.</strong> <strong>Seusai shalat Subuh beliau</strong> melaksanakan ibadah mustahab lainnya <strong>seperti zikir dan membaca al-Qur’an sampai terbit matahar</strong>i.”</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span><font face="Times New Roman">Putri Murtadha Muthahari mengatakan bahwa salah seorang mantan tetangganya telah berkata: “Aku melihat cahaya lampu yang berasal dari salah satu tempat tetanggaku setiap 2 jam sebelum adzan subuh. Rasa heran mendorongku untuk mengatahuinya. Lantas aku bangun dan mengikuti tempat berasal cahaya lampu tersebut. Ternyata, aku melihat orang yang setiap hari aku melihat beliau keluar dari rumah pagi-pagi sekali dengan aktifitas yang padat dan kembali pada malam hari. Saat itu beliau sedang melaksanakan <strong>shalat malam dengan sujud yang sangat lama</strong>. Setelah menyaksikan hal itu, akhirnya aku melaksanakan shalat subuh dan selalu melaksanakan shalat, padahal sebelumnya aku tidak pernah melakukan shalat (ia menjadi orang yang baik).”</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font> </span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Dalam melanjutkan pembicaraannya kembali berkata: “Ayahku selalu <strong>membaca al-Qur’an sebelum tidur, kurang lebih selama 20 menit.</strong> Beliau pun <strong>selalu dalam keadaan wudhu</strong> (Murtadha Muthahari berwudhu bukan untuk ketika hendak mendirikan shalat saja), dan <strong>tidak pernah melakukan pekerjaan apapun tanpanya (tanpa berwudhu)</strong>. Beliau sangat berani, walaupun posisi sulit dan tekanan yang beliau hadapi baik yang berasal dari rezim Pahlavi maupun dari orang yang mengaku Islam tapi Islam marxis. Kebebasan pemikiran beliau. Beliau menjauhi ketenaran dan tidak cinta kedudukan. Salah satu contoh konkrit ketawadhuannya ialah beliau tidak pernah mau menerima selain namanya dicantumkan (Tidak suka gelarnya dicantumkan) dalam berbagai karyanya, seraya berkata: “Namaku hanyalah ‘Murthadha Muthahari’. Beliau lakukan semuanya yaitu menulis berbagai buku dalam berbagai bidang seperti: Tafsir al-Qur’an, Filsafat Islam dan Barat (studi komparasi dan kritisi pemikiran dan berbagai aliran filsafat Barat), Teologi, Mistik (Tasawuf/Irfan), Sosiologi, Politik, Ushul-Fikih, Fikih, Ilmu Logika&#8230;dll, dengan penuh keikhlasan dan karena Allah swt (demi menjalankan tugas yang ada di pundaknya).”</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font> </span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Dan kelebihan yang beliau miliki yang tidak mungkin disebutkan semuanya dalam kesempatan sekarang ini. “Namun salah satu <strong>kunci kesuksesan beliau yang paling menarik, sejak usia 15 tahun beliau selalu mencatat semua yang telah dibaca (poin-poin penting dan garis besar pembahasan)</strong>, sampai-sampai beliau memiliki buku catatan berdasarkan Abjad. Bahkan beliau selalu menyarankan kepada kita ketika ingin membaca sebuah buku maka bacalah sebanyak tiga kali: <strong>Pertama, bacalah! Kedua, pahamilah! Dan ketiga, perdalamilah!</strong> Sampai beliau menghapal setiap buku yang beliau baca”, Lanjutnya.</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font> </span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Salah satu karya beliau yang sangat menarik yang telah membahas isu-isu perempuan ialah: Hijab (baca; jilbab), tentang sejarah, falsafah, pensyariatan ..dll. begitupula karyanya tentang hak-hak perempuan dalam Islam. Berulang-ulang saya membaca buku tersebut, penjelasan serta analisa beliau yang sangat menarik yang membuat buku tersebut akan terasa selalu baru dan menarik. Terutama ketika saya langsung membaca buku dari bahasa aslinya (bukan terjemahan), terasa lebih lezat (emang makanan) dan enak sekali. Buku-buku ini sebelumnya bukanlah berbentuk sebuah buku, akan tetapi berupa makalah yang beliau tulis dalam rangka menjawab berbagai gugatan terhadap Islam berkenaan dengan perempuan di kala itu. Begitupun karya beliau yang berkaitan dengan filsafat,<span>  </span>beliau menulis itu dalam rangka menjawab pemikiran marxisme yang berkembang kala itu di Iran. </font></span><span><font face="Times New Roman"> </font> </span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Di akhir pembicaraannya putri Murtadha Muthahari melanjutkan: “Di awal pembicaraan telah saya katakan, bahwa kelahiran dan kesyahidan ayahku selalu dimulai dengan sebuah mimpi. Tiga hari sebelum kesyahidan menjemputnya beliau bermimpi, lantas beliau menceritakan mimpinya kepada ibuku seraya berkata: “Aku telah bermimpi melihat Rasulullah saww keluar dari Masijil Haram. Sementara Imam Khomaini telah berdiri di samping kananku. Rasulullah saww datang mendekati kami. Aku berkata: “Wahai Junjunganku, ini adalah keturunan Engkau!” Kataku sambil menunjuk ke arah Imam Khomaini. Beliau menjawab: “Ya, tentu”. Lantas beliau memeluk dan menciumi Imam Khomaini. Setelah itu beliau mendatangiku, memeluk dan menciumku kurang lebih ¼ jam lamanya. Aku terbangun sementara hangat pelukan Rasulullah saww masih terasa oleh diriku. Lantas aku ceritakan mimpiku kepada istriku, ia mengatakan mungkin itu pertanda baik dan Rasulullah saww meridhoi sepak terjangmu”.<span>  </span></font></span></p>
<p><span><font face="Times New Roman">Imam Khomaeni menangis ketika mendengar kabar tentang kesyahidan Murtadha Muthahari, padahal ketika anak terbesarnya telah syahid beliau tidak menangis ataupun menunjukkan kesedihan. Dalam kutipan ucapan Imam Khomaeni setelah kesyahidan Murtadha Muthahri beliau berkata: “&#8230;Aku mengucapkan duka atas kesyahidan seseorang yang telah menghabiskan umurnya untuk membela tujuan-tujuan suci agama Islam&#8230;seseorang yang dalam menguasai berbagai keilmuan Islam, dan metodologinya tidak ada yang membandinginya. Aku telah kehilangan seorang anak yang sangat mulia&#8230;”.</font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span><font face="Times New Roman">Ringkasnya kita akan menikmati karya-karya Murtadha Muthahri sewaktu kita membacanya. ‘Manusia Sempurna’, ‘Islam dan Tuntutan Zaman’, ‘Keadilan Tuhan’, Falsafah Akhlak, Hak-Hak Perempuan dalam Islam, Hijab (baca:jilbab), sejarah dan masyarakat&#8230;dll di antara karya-karyanya yang telah diterjemahkan. Lebih menarik lagi jika membaca karya beliau yang menyerempet pembahasan filsafat, sebelumnya kita sudah mengetahui (ada basic) paling tidak ilmu logika dan dasar-dasar filsafat.<span>  </span></font></span><span><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span> </span><span><font face="Times New Roman">[Euis D, sumber: Ceramah Dr. Wahidi Muthahari-salah satu putri Murtadha Muthahari-]</font></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/77/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/77/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=77&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/05/kunci-kesuksesan-murthadha-muthahari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/05/motahhari.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">motahhari.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8216;Super-Women&#8217;</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/02/super-women/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/02/super-women/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2007 15:48:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/02/super-women/</guid>
		<description><![CDATA[Ummu Sulaim berkata: “Beberapa waktu lalu engkau telah diberi amanat oleh seseorang. Sekarang telah aku kembalikan amanat tersebut kepada pemiliknya. Engkau tidak merasa khawatir khan?”. “Kenapa aku harus merasa khawatir, memang sudah semestinya sebuah amanat harus dikembalikan kepada pemiliknya”, jawab Thalhah. Mendengar hal itu lantas Ummu Sulaim melanjutkan ucapannya; “Allah swt telah menitipkan kepada kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=75&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ummu Sulaim berkata: “Beberapa waktu lalu engkau telah diberi amanat oleh seseorang. Sekarang telah aku kembalikan amanat tersebut kepada pemiliknya. Engkau tidak merasa khawatir khan?”. “Kenapa aku harus merasa khawatir, memang sudah semestinya sebuah amanat harus dikembalikan kepada pemiliknya”, jawab Thalhah. Mendengar hal itu lantas Ummu Sulaim melanjutkan ucapannya; “Allah swt telah menitipkan kepada kita amanat berupa seorang anak. Dan sekarang, amanat tersebut telah diambil kembali oleh Pemiliknya”.</span><br />
<strong><span> </span></strong><span id="more-75"></span></p>
<p align="left"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span>‘Super-women’</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ummu Sulaim adalah salah seorang perempuan yang telah masuk Islam semasa Rasulullah saww masih tinggal di Makkah dan belum hijrah ke Madinah. Ia dikenal sebagai salah satu sahabat setia Rasulullah saww. Salah seorang anak muda bernama Thalhah al-Anshari telah kehilangan istrinya (telah meninggal). Ia seorang laki-laki berparas tampan dan berasal dari keluarga terhormat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tidak lama setelah istrinya meninggal, ia melamar Ummu Sulaim. Sebenarnya Ummu Sulaim mencintai Thalhah, akan tetapi karena ia belum masuk Islam maka dengan tegas Ummu Sulaim dalam menjawab lamarannya berkata: “Aku akan menerima lamaranmu dengan syarat engkau harus masuk Islam terlebih dahulu”. Setelah itu Ummu Sulaim pun menjelaskan kepadanya tentang kesesatan penyembahan berhala. Akhirnya Thalhah masuk Islam dan menikahi Ummu Sulaim dengan mas kawin ‘masuk Islam’.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> Setelah berapa lama dari pernikahannya, akhirnya mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang sangat dicintainya. Pada suatu hari, anaknya menderita penyakit parah yang berakhir dengan kematiannya. Padahal waktu itu, Thalhah sedang berada di luar rumah. Lantas Ummu Sulaim menutupi mayat anaknya dengan kain dan diletakkannya di sudut kamar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> Tidak lama kemudian Thalhah kembali ke rumahnya. Ummu Sulaim tidak memberitahukan kepada suami tentang kematian anaknya. Ia menyediakan dan menghidangkan makanan untuk suaminya. Selagi menyantap makanan, Thalhah menanyakan tentang kondisi anaknya kepada Ummu Sulaim; “Ia baik-baik saja dan sedang tidur”, jawab Ummu Sulaim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> Ummu Sulaim berusaha tetap tegar dan dalam keadaan ceria sehingga membuat suaminya senang dengan senyuman dan ucapannya. Kemudian Ummu Sulaim berkata: “Beberapa waktu lalu engkau telah diberi amanat oleh seseorang. Sekarang telah aku kembalikan amanat tersebut kepada pemiliknya. Engkau tidak merasa khawatir khan?”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> “Kenapa aku harus merasa khawatir, memang sudah semestinya sebuah amanat harus dikembalikan kepada pemiliknya”, jawab Thalhah. Mendengar hal itu lantas Ummu Sulaim melanjutkan ucapannya; “Allah swt telah menitipkan kepada kita amanat berupa seorang anak. Dan sekarang, amanat tersebut telah diambil kembali oleh Pemiliknya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> Thalhah sangat takjub saat menyaksikan ketabahan, kesabaran dan ketawakalan yang dimiliki oleh istrinya. Lantas ia berkata: “Seharusnya aku yang harus lebih sabar dan tabah darimu dalam menghadapi musibah ini”. Kemudian ia bangkit untuk memandikan, mengkafani dan menguburkan mayat anak yang sangat dicintainya tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> [Euis D; Isytihardy, M Muhammady, Zanan Mardofarin-e Tarikh, hal:90] <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/75/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/75/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=75&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/02/super-women/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perempuan dan Syarat Keunggulan Masyarakat</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/01/perempuan-dan-syarat-keunggulan-masyarakat/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/01/perempuan-dan-syarat-keunggulan-masyarakat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 May 2007 06:20:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/01/perempuan-dan-syarat-keunggulan-masyarakat/</guid>
		<description><![CDATA[Mengingat begitu fundamentalnya peranan wanita dalam membentuk karakter pribadi sebuah bangsa, ia pun sanggup menjadikan bangsa tersebut unggul atau hancur. Kenapa demikian? Karena sebuah bangsa atau masyarakat adalah komunitas yang terbentuk dari pribadi-pribadi, sedangkan yang membentuk karakter pribadi adalah keluarga. Mustahil ada sebuah masyarakat kalau di sana tak ada keluarga. Lantas siapa yang lebih banyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=73&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--> <span lang="IN">Mengingat begitu fundamentalnya peranan wanita dalam membentuk karakter pribadi sebuah bangsa, ia pun sanggup menjadikan bangsa tersebut unggul atau hancur. Kenapa demikian? Karena sebuah bangsa atau masyarakat adalah komunitas yang terbentuk dari pribadi-pribadi, sedangkan yang membentuk karakter pribadi adalah keluarga. Mustahil ada sebuah masyarakat kalau di sana tak ada keluarga. Lantas siapa yang lebih banyak berperan dalam sebuah keluarga? Tentu wanita, yaitu tatkala ia berperan sebagai seorang ibu. Dalam hal ini Imam Khomaeni berkata; “Dalam pangkuan seorang wanita, lelaki dapat mencapai <em>mi’raj </em>(perjalanan langit)”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-73"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;">Perempuan dan Syarat Keunggulan Masyarakat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">Euis Daryati</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sudah merupakan suatu hal yang aksiomatis kiranya bahwa wanita adalah bagian dari tubuh masyarakat. Maka itu, sekiranya komunitas manusia hanya terdiri dari kaum lelaki saja, maka kepunahanlah yang akan terjadi. Hal tadi akan menyebabkan tertahannya proses reproduksi dan tak terwujudnya sebuah komunitas manusia. Ini poin pertama yang cukup menunjukkan betapa pentingnya wujud wanita. Sekali lagi, wanita adalah bagian sebuah masyarakat, bangsa dan komunitas manusia.</p>
<p>Oleh sebab itu, tak syak lagi bahwa wanita mempunyai peran yang sangat urgen dan fundamental dalam memcoraki karakter pribadi-pribadi suatu masyarakat dan bangsa. Mau dibawa kemana masyarakat tersebut, menjadi masyarakat agamis ataukah ateis? Menjadi masyarakat yang korup ataukah yang berjiwa sehat dan bersih? Menjadi bangsa yang pengecut ataukah kesatria? Dalam sebuah mutiara hikmah, seorang bijak berkata: “Wanita adalah pendidik manusia, kebaikan suatu bangsa berporos pada kebaikan wanita, dan kebejatan suatu bangsa berporos pada kebejatan wanita”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mengingat begitu fundamentalnya peranan wanita dalam membentuk karakter pribadi sebuah bangsa, ia pun sanggup menjadikan bangsa tersebut unggul atau hancur. Kenapa demikian? Karena sebuah bangsa atau masyarakat adalah komunitas yang terbentuk dari pribadi-pribadi, sedangkan yang membentuk karakter pribadi adalah keluarga. Mustahil ada sebuah masyarakat kalau di sana tak ada keluarga. Lantas siapa yang lebih banyak berperan dalam sebuah keluarga? Tentu wanita, yaitu tatkala ia berperan sebagai seorang ibu. Dalam hal ini Imam Khomaeni berkata; “Dalam pangkuan seorang wanita, lelaki dapat mencapai mi’raj”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Barangkali perlu catatan kecil sehingga tidak terjadi kesalahpahaman lalu mengambil kesimpulan keliru. Maksud di sini adalah yang paling banyak berperan. Jelas, kita tidak menafikan peranan ayah dalam keluarga. Ayah memiliki peranan yang khas dalam posisinya. Apa mungkin dapat menghasilkan generasi yang saleh kalau makanan yang berikan kepada anaknya, baik ketika masih di dalam kandungan ibu maupun setelah lahir hasil, dari keberhasilan berkorupsi, menipu, ataupun makanan haram lainnya, baik substansi makanan itu sendiri haram seperti babi, atau cara pengusahaannya yang haram seperti melalui korupsi, mencuri, menyuap. Ini sebuah peran penting seorang ayah dalam pembinaan anak. Ataupun segala prilaku seorang ayah yang akan memberikan dampak negatif maupun positif terhadap kepribadian anak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Namun maksud kita disini adalah peranan wanita sendiri tanpa dikaitkan dengan yang lainnya, di mana jika ia tidak dapat memainkan peran itu dengan baik, justru akan berakibat fatal terhadap kebahagiaan dan kesengsaraan masa depan anaknya. Dalam sebuah hadis, Rasul saww. bersabda: “Orang bahagia ditentukan kebahagiaannya ketika ia masih diperut ibunya, dan orang sengsara ditentukan kesengsaraannya ketika dalam perut ibunya”. (Kanzul Ummal, hadis no. 490)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Jelasnya, hadis di atas tidak hendak menafikan usaha manusia itu dalam menentukan kebahagiaan dan kesengsaraannya sendiri, tapi ingin mengingatkan bahwa gerak-diam ibu pada masa-masa kehamilannya akan berdampak pada pembentukkan karakter anak yang dikandungnya, serta akan menjadi indikasi apakah karakter anak tersebut saleh atau bejat. Ibu mengandung tidak dapat berperilaku sesuka hati, karena hal ini tak ubahnya meracuni anak yang ada di dalam kandungannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ada sebuah kisah ulama besar yang bernama Allamah Majlisi pertama yang patut dipertimbangkan sebagai pelajaran kehidupan kita. Berawal dari di sebuah kota, ada seorang ulama besar alim dan saleh. Suatu hari, selepas melaksanakan shalat Jama’ah yang diimami oleh ulama itu sendiri, seorang makmum datang menghadapnya untuk mengadukan ihwal perilaku anaknya yang telah melubangi tempat airnya (tasyk) sehingga airnya habis. Setelah mendengar pengaduan tersebut, ulama besar itupun lantas bergegas kembali ke rumah dan bertanya pada istrinya; apa yang dilakukan semasa mengandung anaknya itu sehingga melakukan perbuatan yang tidak terpuji,, ia mendesak, ”Wahai istriku, apa yang engkau lakukan ketika masa hamil sehingga anak kita melakukan perbuatan tercela, padahal aku senantiasa memberikan makanan yang halal kepadamu? Sang istri menjawab: “Aku tidak melakukan apa-apa”. Ulama itupun berkata lagi: “Coba engkau ingat-ingat kembali!”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sang istri berusaha mengingat-ngingat kembali, sampai akhirnya ia sadar akan suatu kejadian lalu berkata kepada suaminya: “Ya, aku ingat sekarang apa yang telah aku lakukan sehingga anakku melakukan perbuatan tercela ini. Suatu hari pada masa aku mengidam, aku lewat di sebuah gang. Di pinggir gang itu, ada sebuah pohon delima yang sebagian dahannya merunduk sampai ke gang. Melihat buah delima yang ada di pohon tersebut, belum lagi aku sedang mengidam, rasanya enak sekali kalau memakannya, kemudian aku mengambil penitik (jarum) dan menusukkannya kesalah satu buah delima. Setelah mendengar cerita tersebut, ulama itupun berkata: “Inilah perilakumu yang menyebabkan anak kita (Allamah Majlisi kedua) sampai melakukan perbuatan tercela. Dulu, kau menusuk buah delima dengan penitik, sekarang anak kita menusuk tempat air orang lain”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sekilas, apa yang telah dilakukan istri ulama besar tersebut tampak sepele, tapi bagaimana akibatnya. Dan kita dapat mengambil pelajaran dari cerita di atas untuk kembali mengintropeksi diri kita sendiri, kenapa negara kita dilanda krisis ekonomi, budaya, moral dan sosial, dan tak mampu keluar dari kemelut ini? bukankah semua ini lantaran perbuatan kita sendiri? krisis moral telah merajalela pada semua lapisan masyarakat sehingga orang sulit untuk menjauh darinya, orang alim dikatakan kuno, orang bejat dikatakan modern, sungguh aneh memang zaman sekarang ini. Apakah kita sudah melalaikan tugas utama/ kita dan membiarkan generasi kita dikuasai oleh tangan-tangan asing yang tak bertanggung jawab?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Coba kita kembali intropeksi diri, jangan biarkan anak-anak kita lari dari kita? Jangan biarkan pemikiran, gaya hidup anak-anak kita dijajah oleh kepentingan-kepentingan setan? Mari kita kembalikan anak-anak kita ke pangkuan kita! Sungguh benar nasihat seorang bijak: “Jika ingin memperbaiki sebuah masyarakat maka perbaikilah perempuannya”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Menjadi seorang ibu merupakan peran secara tidak langsung dalam membangun sebuah masyarakat yang sehat jasmani maupun ruhani, maju dan unggul. Sebab, begitu beratnya tugas menjadi seorang ibu. Tuhan memberikan keistimewaan kepada ibu sebagai balasan atas tugas berat di pundaknya, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasul saww.: “Syurga di bawah telapak kaki ibu”. Kalau kita coba teliti lagi redaksi hadis di atas, mungkin beliau ingin mengatakan juga bahwa di telapak kaki ibulah terbentuk kepribadian surgawi (baik) atau jahanami (buruk). Maksudnya, seorang ibu mampu melahirkan pribadi-pribadi yang baik dan masyarakat yang sehat dan saleh.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dari sinilah -paling tidak- kaum wanita harus berperan aktif mendidik anak-anaknya dengan prinsip-prinsip takwa, dan melatih mereka dengan cara hidup demikian. Seperti cara hidup bersih, baik lahir maupun batin, mengajari kejujuran, tidak sombong, tidak menipu, merampas hak orang lain, dan memupuknya dengan akhlak mulia. Singkatnya, mendidik mereka dalam rangka menjauhi larangan Allah dan menjalankan perintah-Nya. Bukan hanya sekedar mendidik anak dalam bentuk pendidikan formal saja dan melalaikan sisi ruhani dan spritualnya. Bukan hanya memenuhi kebutuhan kesehatan jasmaninya saja tanpa memperhatikan kebutuhan kesehatan ruhaninya. Inilah langkah awal untuk menciptakan masyarakat yang sehat dan saleh.[<a href="http://islamalternatif.com" target="_blank">islamalternatif</a>]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/73/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/73/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=73&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/01/perempuan-dan-syarat-keunggulan-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menanggapi Tulisan &#8216;Blog SangOtak&#8217; tentang Perempuan</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/29/menanggapi-tulisan-blog-sangotak-tentang-perempuan/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/29/menanggapi-tulisan-blog-sangotak-tentang-perempuan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Apr 2007 09:27:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/29/70/</guid>
		<description><![CDATA[Menanggapi tulisan SangOtak yang menyatakan: &#8220;Dan tentu saja jika pertanyaan ini terlontarkan apakah benar “Wanita tercipta untuk Lelaki ?” pasti mereka akan menolak mentah-mentah. Padahal tidak ada yang membenarkan bahwa Wanita itu tercipta untuk Lelaki. Seperti pepatah mengatakan “Wanita itu terbuat dari tulang rusuk laki &#8211; laki”. Dilihat dari karakteristik tulang rusuk adalah bengkok, jika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=70&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/perempuan-terpelajar.jpg" title="perempuan-terpelajar.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/perempuan-terpelajar.thumbnail.jpg?w=500" alt="perempuan-terpelajar.jpg" /></a> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span>Menanggapi tulisan SangOtak yang menyatakan: &#8220;Dan tentu saja jika pertanyaan ini terlontarkan apakah benar “Wanita tercipta untuk Lelaki ?” pasti mereka akan menolak mentah-mentah. Padahal tidak ada yang membenarkan bahwa Wanita itu tercipta untuk Lelaki. Seperti pepatah mengatakan “Wanita itu terbuat dari tulang rusuk laki &#8211; laki”. Dilihat dari karakteristik tulang rusuk adalah bengkok, jika diluruskan akan patah akan tetapi jika dibiarkan akan tetap bengkok “Kasihan”. <!--[if gte vml 1]&amp;gt;                                                  -->Inilah salah satu tugas para Lelaki untuk meluruskan tulang rusuknya yang bengkok tanpa harus mematahkannya&#8221;.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-70"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p style="text-align:center;" class="MsoNormal" align="center"><strong><span style="color:green;">Menanggapi Tulisan ‘Blog SangOtak’ tentang  Perempuan</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><strong><span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="color:green;">Tentu, kami bukan atas dasar emosional menanggapi blog SangOtak berkaitan dengan judul di bawah ini. Namun kiranya sudah bukan zamannya lagi menggembor-gemborkan permasalahan perempuan dengan cara merendahkan derajatnya dan hanya berargumen <span> </span>dengan ‘katanya, pepatah mengatakan, dan sejenisnya’, tanpa dasar-dasar argumentasi yang kuat dan logis. Yang menarik lagi untuk saya tanggapi adalah karena ia mengatasnamakan agama Islam, sebagai agama SangOtak. Namun ketika melihat tulisannya, ternyata tidak satupun tercantum teks-teks yang menjadi sumber agama seperti Al-qur’an atau As-Sunah, karena permasalahan yang dibahas berkaitan dengan teks-teks agama yang menyinggung tentang perempuan. Kalaupun permasalahnnya tidak berhubungan dengan teks, oke-lah, kita pun menerima jika hanya menggunakan argument akal dan rasional, karena Al-qur.an dalam beberapa ayatnya pun telah melegalisir kebenaran hasil argumentasi akal. Tentu dengan tetap mengakui keterbatasan yang dimiliki oleh akal, yang dalam bahasa SangOtak sebagai Otak.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="color:green;"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="color:green;">Teks-teks yang berkaitan dengan masalah perempuan bukan masalah yang harus diterima begitu saja, tanpa membuka dan menganalisa kembali apa yang secara realita tersembunyi di baliknya. Kita dapat menganalisa kembali teks-teks yang berhubungan dengan hal itu, tanpa hanya mengatut argument ‘katanya, sepertinya,..’. Kami juga tidak lantas menyalahkan semua isi tulisannya, yang benar tentu akan kami benarkan. Silahkan para pembaca yang budiman mengikuti tanggapan ini. Dan jika ada kekurangan maka silahkan memberi masukan pada kami. Kami jelaskan sekali lagi, tujuan kami bukan untuk menabuh genderang peperangan antara kaum lak-laki dan perempuan. Kami hanya ingin meluruskan saja, sesuai yang kami pelajari dari Islam. Jika terdapat kesalahan maka hal itu berasal dari kami bukan dari Islam.</span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="color:green;"></span></p>
<p style="text-align:justify;" class="MsoNormal"><span style="color:green;">Selamat Membaca!</span></p>
<h3><span><a href="http://otaklelaki.wordpress.com/2007/04/17/wanita-tercipta-untuk-lelaki/">Wanita tercipta untuk Lelaki ?</a></span></h3>
<p class="MsoNormal"><span>17Apr07</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span>Posting sebelumnya SangOtak bertanya apakah wanita memang diciptakan untuk lelaki ?<br />
Disini, mari kita simak sekilas tujuan dan maksud Tuhan menciptakan wanita. Didalam Islam yang menjadi agama SangOtak,</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:green;">Islam feminis:</span></strong><strong><span style="color:maroon;"> </span></strong><span style="color:green;">Seringnya, harus dibedakan antara esensi agama dan pemahaman seseorang (pemeluk suatu agama) dari agama. Artinya harus dibedakan antara agama Islam dan pemahaman pemeluk agama Islam, yang dalam kasus sini adalah SangOtak. Karena relasi keduanya bukanlah hal yang sama persis. Realita membuktikan betapa jarak jauh antara ajaran agama dan pemeluk agama. Zaman sekarang saja buktinya, Islam diidentikan dengan agama teroris, terbelakang, bodoh, miskin dan titel-titel buruk lainnya. Padahal agama Islam tidak seperti itu. Dan ternyata hanya oknumlah (para pemeluk agama Islam) yang telah merusak citra Islam. Kesimpulan harus dibedakan perkara yang dipahami oleh SangOtak tentang Islam dan esensi Islam itu sendiri. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span>Tuhan menciptakan makhluk hidup dengan satu tujuan, yaitu menyembah kepada-Nya lain tidak. Semua makhluk selain manusia dan jin tidak kemampuan untuk berpikir yang tentu saja tempatnya di OTAK bukan di Dengkul.<!--[if gte vml 1]&amp;gt;   --></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:green;">Islam feminis: </span></strong><span style="color:green;">Benar, sesuai dengan Firman Allah swt dalam suarat adz-Dzariyat ayat 56 yang berbunyi: “<em>Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia melainkan untuk beribadah (Menyembah kepada-Nya)</em>.” Otak sendiri tidak cukup menjadi pembeda antara manusia dengan yang lainnya, karena hewanpun memiliki OTAK. Otak hanya sebagai sarana materi tempat manusia berpikir yaitu AKAL. Melalui akal ini, yang menyebabkan manusia memiliki kemampuan untuk berpikir. Dan karena manusia merupakan makhluk yang berakal maka segala prilaku mereka akan dimintai pertanggungjawaban. Namun apabila manusia tidak menggunakan akalnya maka derajatnya lebih rendah dari binatang melata, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an Surat al-A’raf ayat 179: <span> </span>“Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai”.</span><span style="font-size:10pt;color:green;"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span>Mengapa Tuhan menciptakan Siti Hawa (Wanita) yang pada akhirnya membuat sang Adam terjun bebas ke Bumi karena terbujuk oleh setan untuk memakan buah khuldi. Jika tanya mengapa jawabnya hanya Tuhan yang tahu, Wallahualam</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:green;">Islam feminis:</span></strong><span style="color:green;"> Janganlah bertanya kenapa Tuhan menciptakan Hawa (Wanita), dan kenapa Tuhan menciptakan Adam. Tapi tanyakanlah kenapa Tuhan menciptakan manusia? Apakah Tuhan perlu kepada manusia, sehingga Dia harus menciptakan manusia. Apakah Tuhan seperti makhluknya, ketika melakukan sesuatu maka manfaatnya akan kembali kepada sipelaku. Misal, manusia mencari ilmu dengan tujuan untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya, …Dalam<span>  </span>Al-Qur’an sendiri telah dijelaskan bahwa Tuhan sebagai sumber segala kesempurnaan, Dia Maha Mengetahui, Dia Maha Perkasa, Dia Yang Awal dan Yang Akhir, …dan sifat-sifat kesempurnaan yang lainnya. Ringkasnya Tuhan merupakan sebagai sumber segala kesempurnaan absolut. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Bersadarkan prolog di atas, dimana Tuhan sebagai sumber segala kesempurnaan konsekwensinya tidak ada kesempurnaan yang tidak dimiliki-Nya, maka salah satu perwujudan dari kesempurnaanya ialah menciptakan manusia. Manusia makhluk yang dimulikan dari makhluk yang lainnya karena kelebihan yang dimilikinya yaitu akal. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Sementara di sisi lain manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan, dengan perwujudan manusia pertama dari laki-laki dan perempuan adalah Adam dan Hawa. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:green;">Sejak semula Adam dan Hawa (manusia) diciptakan Tuhan untuk tinggal di bumi, bukan untuk tinggal di surga</span></strong><span style="color:green;">, sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah 30 yang berbunyi: </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">“<em>Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: &#8220;Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi</em>.”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Dalam ayat di atas ungkapan ‘<em>Fil Ardhy</em>’ yang arti bahasa Indonesianya adalah ‘di muka bumi’Allah swt mengatakan kepada para malaikat bahwa Dia hendak menjadikan khalifah di muka bumi, dan tidak mengatakan untuk tinggal di surga. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Namun, sebelum turun ke muka bumi Allah telah menempatkan Adam dan Hawa di surga untuk ditraining dan diuji sebelum memasuki kehidupan dunia yang tentunya lebih sulit dibanding kehidupan di surga tersebut. Ujian serta training tersebut sebagai bekal mereka dalam kehidupan di muka bumi. Di sisi lain, para ahli tafsir Qur’an mengatakan bahwa surga tempat Adam dan Hawa tinggal bukanlah surga setelah kiamat. Dengan alasan </span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:green;">Pertama</span></em><span style="color:green;">; surga setelah hari Kiamat <span> </span>penghuninya akan kekal di dalamnya dan tidak akan keluar darinya sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa ayat al-Qur’an seperti dalam surat Fath ayat 5, al-Hadid ayat 12, al-Mujadalah ayat 22, at-Taghabun ayat 9 dan lain sebagainya. Sementara surga yang ditempati oleh Adam dan Hawa, mereka <span> </span>tidaklah kekal di dalamnya, buktinya akhirnya mereka keluar dari surga tersebut. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:green;">Kedua</span></em><span style="color:green;">: Syetan tidak dapat masuk ke dalamnya, sementara surga adam dan Hawa dapat dimasuki oleh syetan yang telah menggoda mereka. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:green;">Ketiga</span></em><span style="color:green;"> surga nanti adalah yang disediakan sebagai balasan amal manusia, artinya surga adalah balasan untuk orang-orang yang telah berbuat baik, namun surga Adam dan Hawa tidak seperti itu, sebelum mereka beramal (taklif) telah dimasukan ke dalam surga.<span>  </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:green;">Keempat: </span></em><span style="color:green;">Sorga yang di akherat kelak bersifat bebas mutlak buat penghuninya. Dalam arti tidak ada larangan sedikitpun. Berbeda dengan sorga Adam-Hawa yang mereka dilarang untuk memakan buah Khuldi yang ada di sorga tersebut.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span>Apakah benar Wanita yang menyebabkan Adam diturunkan dari surga? Pada kenyataannya memang ya, akan tetapi pada esensinya Adam tidak kuat akan godaan setan hingga akhirnya turun ke bumi dan tinggal bersama Hawa.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:green;">Islam feminis:</span></strong><span style="color:green;"> Apabila kita merujuk ke kitab suci sebagai penganut agama Islam yaitu Al-Qur’an maka jawabannya tidak seperti itu. Terdapat dalam beberapa surat yang telah menjelaskan penciptaan Adam dan Hawa dalam al-Qur’an, seperti dalam surat al-Baqarah dari ayat 34-38, an-Nisa ayat 1, al-A’raf, 19-24 dan Thoha ayat 115-122. Namun yang menjelaskan secara terperinci dalam surat al-A’raf dan dijelakan pula kenapa Adam dan Hawa sampai turun dari surga. Dalam suart al-A’raf dijelaskan bahwa sumpah palsu syetan yang menyebabkan mereka dikeluarkan dari surga. Allah swt telah menegur kedua-duanya (Adam dan Hawa) atas perlakuannya dengan memakan buah terlarang. Mari perhatikan kandungan ayat-ayat berikut ini apakah dapat diambil kesimpulan bahwa Hawa sebagai penyebab turunnya Adam dari surga?: </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">“(<em>dan Allah berfirman): &#8220;Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim. Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: <strong>&#8220;Tuhan kamu tidak melarang kalian dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kalian berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)&#8221;</strong>. <strong>Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. &#8220;Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kalian berdua</strong>. <strong>Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya</strong>. tatkala keduanya Telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: &#8220;Bukankah Aku Telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: &#8220;Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?&#8221;<span>  </span>Keduanya berkata: &#8220;Ya Tuhan kami, kami Telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya Pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”(al-A’raf 19-22)</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Berdasarkan ayat di atas sumpah palsu syetan dengan mengatakan bahwa sebab pelarangan Tuhan untuk memakan buah tersebut ialah karena Tuhan tidak ingin mereka tidak menjadi malaikat dan kekal di dalamnya. Tidak cukup di situ, bahkan syetan bersumpah bahwa ia mengatakan hal itu karena demi kebaikan mereka berdua. Silahkan SangOtak kembali cermati secara seksama ayat di atas. </span><strong><span style="color:maroon;"><span>     </span></span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Lebih jelas lagi dalam surat Thoha ayat 117-121 yang berbunyi:</span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:green;">“Maka kami berkata: &#8220;Hai Adam, Sesungguhnya Ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, Maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang.<span>  </span>Dan Sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya.<span>  </span>Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: <strong>&#8220;Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?</strong>&#8220;.<span>  </span>Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.<span>  </span>Kemudian Tuhannya memilihnya Maka dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.</span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:green;">Keterangan;<span>  </span>yang dimaksud dengan durhaka di sini ialah melanggar larangan Allah Karena lupa, dengan tidak sengaja, sebagaimana disebutkan dalam ayat 115 surat ini. dan yang dimaksud dengan sesat ialah mengikuti apa yang dibisikkan syaitan. kesalahan Adam a.s. meskipun tidak begitu besar menurut ukuran manusia biasa sudah dinamai durhaka dan sesat, Karena tingginya martabat Adam a.s. dan untuk menjadi teladan bagi orang besar dan pemimpin-pemimpin agar menjauhi perbuatan-perbuatan yang terlarang Bagaimanapun kecilnya.</span><span style="color:green;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Mari kita bandingkan ayat di atas dengan yang terdapat dalam kitab perjanjian lama (Taurat) yang sudah terjadi banyak penyelewengan berkaitan dengan isinya, niscaya akan kita dapati bahwa jawabannya adalah; benar Hawa penyebab diturunkannya Adam dari surga. Dalam kitab perjanjian lama dalam ‘bab penciptaan Adam dan Hawa’ telah dijelaskan bahwa Hawa sebagai penyebab diturunkannya Adam dari surga. Bahkan Tuhan menegur Adam kenapa mengikuti ucapan istrinya untuk memakan buah terlarang. Dengan kata lain, Hawa yang telah menyebabkan Adam melakukan kesalahan. Saya dapatkan hal ini dari terjemahan perjanjian lama, namun saya kira terjemahan tersebut dapat dipertanggungjawabkan karena merupakan terjemahan resmi. Dan insyaAllah pemahaman saya dari terjemahan tesebut tidak akan melenceng dari isinya. Kurang lebih isinya seperti ini:</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">“<em>Telah berkata ular kepada <strong>wanita (Hawa)</strong>: “Kenapa telah memerintahkan Tuhan<span>  </span>kalian untuk tidak memakan semua (buah) pepohonan surga? Lantas <strong>wanita (Hawa)</strong> tersebut menjawab pertanyaan ular; “Kami memakan buah-buahan pepohonan yang ada di surga. <strong>Namun dari buah pohon yang ada di tengah surga, Tuhan telah melarang kami untuk memakannya, dan kami tidak boleh mendekatiya karena kami akan mati. Ular berkata; “Kalian berdua tidak akan mati</strong>. Karena sesungguhnya Tuhan mengetahui bahwasanya setiap saat kalian memakan dari buah pohon itu, maka mata kalian akan terbuka dan kalian akan menjadi seperti Tuhan, akan mengetahui kebaikan dan kejahatan. <strong>Wanita (Hawa) melihat buah pohon tersebut baik untuk dimakan dan enak dipandang. Maka ia mengambil dari buah pohon tersebut dan memakannya, ia memberikan buah pohon tersebut kepada suaminya (Adam), dan iapun (Adam) memakannya</strong>. Maka terbukalah mata mereka, dan ketika mereka mengetahui dalam keadaan telanjang maka mereka menyambungkan dedaunan dari pohon tin dan mereka membuat sarung untuk mereka berdua. Di saat itu terdengarlah suara Tuhan yang sedang berjalan di surga ketika mendekati sepoi-sepoi angin setelah zuhur. Maka bersembunyilah Adam dan Hawa dari wajah Tuhan di antara pepohonan surga. <span> </span>Lantas Tuhan memanggil Adam seraya berkata: “Dimana engkau? Adam menjawab: “Aku mendengar suara-Mu di surga, maka aku takut karena aku dalam keadaan telanjang , karena aku <span> </span>malu (telanjang) maka aku sembunyi. Tuhan berkata kepadanya (Adam): “Siapa yang telah memberitahukan kepadamu bahwa engkau telanjang? Apakah engaku telah memakan buah yang telah Aku larang untuk tidak memakan darinya? Adam menjawab: <strong>“Tuhanku, wanita (Hawa) ini yang telah Engkau jadikan teman untukku yang telah memberikan buah dari pohon<span>  </span>itu kepadaku lalu aku memakannya</strong>. Kemudian Tuhan berkata kepada wanita (Hawa): “Kenapa engkau melakukan hal ini?. Wanita (Hawa) menjawab: “Ular itu yang telah menipuku, lalu aku memakannya.” Kemudian Tuhan berkata kepada Ular: “Karena engkau telah melakukan hal ini, maka akan <span> </span>terlaknatlah (terusir) engkau dari seluruh binatang dan semua binatang melata. Engkau akan berjalan pada dadamu dan<span>  </span>engkau akan makan tanah selama hidupmu&#8230;kemudian Tuhanpun berkata kepada <strong>wanita (Hawa):</strong> <strong>“Akan kuperbanyak rasa sakitmu, dan kehamilanmu, engkau akan melahirkan anak dengan rasa sakit dan engkau akan berada di bawah kekuasaan laki-laki (di bawah perintah laki-laki), serta ia akan menguasaimu. </strong>Dan berkata Tuhan kepada <strong>Adam: “Karena engkau telah menuruti ucapan istrimu</strong>, dan engkau telah memakan buah dari pohon yang telah aku larang untuk memakan darinya, maka setelah itu bumi terlaknat dalam pekerjaanmu, dengan susah payah engkau akan makan darinya pada seluruh hari-hari kehidupanmu&#8230;lantas Tuhan mengeluarkan Adam dari surga&#8230; ”</em> (terjemahan bebas dari ‘Perjanjian Lama’ berbahasa Arab)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Silahkan bandingkan dengan surat Thaha dari kitab suci al-Qur’an di atas,<span>  </span>Syetan langsung menggoda dan membisikan kepada Adam (yang ditulis tebal), namun dalam perjanjian lama awal ular (syetan) menggoda Hawa, kemudian Hawa membujuk Adam untuk memakannya sampai akhirnya Adam ditegur oleh Tuhan karena menuruti atau tergoda ucapan istrinya yang akhirnya menyebabkan ia terusir dari surga. Dalam namun dalam al-Qur’an kedua-duannya ditegur oleh Allah swt, karena baik Adam maupun Hawa telah tergoda oleh sumpah palsu syetan. Lihat dalam al-Qur’an sejak semula syetan telah menggoda Adam dan Hawa dengan mengatakan kalian berdua, bukan syetan hanya menggoda kepada Hawa, lalu Hawa menggoda Adam:</span><span style="font-size:10pt;color:green;"> </span><strong><em><span style="color:green;">&#8220;Tuhan kamu tidak melarang kalian dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kalian berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)&#8221;</span></em></strong><em><span style="color:green;">. <strong>Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. &#8220;Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kalian berdua”.</strong></span></em><strong><span style="color:green;"> <em>Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya</em></span></strong><em><span style="color:green;">.</span></em><strong><span style="color:green;"> (al-A’raf 19-21</span></strong><span style="color:green;">)<em> </em>(Terjemahan ini bisa dipertanggungjawabkan, jika SangOtak paham bahasa Arab dapat merujuk langsung ayat di atas tanpa menggunakan terjemahan)</span><span> </span></p>
<p><span>Dari sini bisa dengan bisa kita reka &#8211; reka bahwa wanita diciptakan berdampingan dengan lelaki untuk menjalani hidup di dunia. Lelaki tidak dapat hidup dengan “sempurna”tanpa kehadiran seorang wanita, demikian pula dengan wanita.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:green;">Islamfeminis:</span></strong><span style="color:green;"> Benar, satu sama lain saling membutuhkan dan saling menyempurnakan. Contoh konkritnya, keberlangsungan generasi manusia tidak akan terwujud jika hanya ada laki-laki saja, begitu juga sebaliknya. Melalui keduanya generasi manusia terus berlangsung, sebagaimana yang telah ditegaskan dalam al-Qur’an surat an-Nisa ayat 1 Allah swt telah berfirman: </span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:green;">“&#8230;dan dari pada keduanya (Adam dan Hawa) Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.”</span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Oleh karena itu, sebagai laki-laki saja atau sebagai perempuan saja bukanlah merupakan suatu keutamaan. Sebagai seorang laki-laki tidaklah dapat berbangga karena ia sebagai seorang laki-laki, atau sebagai orang perempuan tidaklah dapat berbangga karena ia sebagai perempuan. Karena nilai keutamaan bukanlah pada gender, melainkan nilai kesempurnaan hanyalah keimanan dan ketakwaan yang dimiliki seseorang laki-laki maupun perempuan. Dan untuk mencapai derajat tersebut tidak disyaratkan haruslah laki-laki. Para ahli mistik (irfan/tasawuf) mengatakan lelaki sebagai perwujudan sifat keperkasaan (<em>jalaliyah</em>) Allah swt dan perempuan sebagai perwujudan sifat kelembutan (<em>jamaliyah</em>) Allah swt. Keberlangsungan dunia memerlukan pada keperkasaan dan kelembutan. Ini dalam ajaran Islam. Saya telah membaca bahwa dalam salah satu firqoh (sekte) dari agama Hindu yang menjelaskan bahwa seorang perempuan tidak dapat mencapai kesempurnaan kecuali melalui proses reinkarnasi menjadi seorang laki-laki. Selama ia masih perempuan maka tidak akan dapat mencapai kesempurnaan. </span></p>
<p><span>Pada masa lampau sebelum Rasulullah SAW hadir didunia, dearajat wanita amat sangat terpuruk. Wanita hanya dibuat sebagai pelengkap penderita, sebagai pemuas nafsu lelaki yang diperlakukan sangat tidak hormat. Hingga akhirnya ISLAM memberikan wacana baru dengan tatanan yang lebih baik dan mengangkat derajat kaum wanita. maka bersyukurlah para wanita telah diangkat derajatnya oleh Allah melalui Rasulullah SAW.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:green;">Islam feminis: </span></strong><span style="color:green;">Kami telah bersyukur, dengan datangnya agama Islam derajat kami telah diangkat. Namun perlu SangOtak ketahui pula, siapa yang telah merendahkan derajat wanita pada zaman Jahiliyah dan sebelum kedatangan Islam, dan memperlakukannya secara sewenang-wenang bak hewan? Jawabannya ialah para laki-laki juga. Tentunya tidak semua lelaki. Akan tetapi para lelaki yang jahiliyah, dan jelas jauh dari ajaran agama yang benar. Oleh karena itu, Islam terkhusus Rasulullah saww telah menyelamatkan para lelaki juga dari kehidupan hewani, yang telah semena-mena memperlakukan para perempuan, hanya sebagai pemuas nafsu, menjadikan perempuan sebagai manusia derajat kedua. Bersyukurlah para lelaki yang telah diselamatkan perlakuannya oleh Allah melalui pengutusan Rasulullah saww. Dan tirulah perlakuan beliau terhadap perempuan. Bukan hanya sekedar merasa bangga diri karena Rasulullah adalah lelaki. Beliau diutus untuk segenap manusia, lelaki maupun perempuan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span>Masih ingatkah kalian tentang kisah para istri Rasulullah SAW yang antara lain Siti Khodijah yang selalu support suaminya berjuang dijalan Allah. Apakah Siti Khodijah diam diri dirumah ? tidak, beliau penyandang dana dari perjuangan Rasul dalam berdakwah. Beliau seorang business woman yang handal. Akan tetapi beliau tidak pernah lupa bahwa beliau adalah seorang istri yang harus mengabdikan dirinya untuk suaminya. Beliau tidak pernah lupa untuk selalu mengsupport suaminya. Beliau tidak pernah  membantah apa yang diperintahkan Rasulullah. Beliau ini adalah contoh seorang wanita karir yang “sempurna” menurut saya. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:green;">Islam feminis: </span></strong><span style="color:green;">Sangat benar</span><span>, <span style="color:green;">dan sangat setuju. Namun ada satu point yang perlu diketahui jangan dilihat dari satu sudut saja dong. Masalah mengabdi bukan monopoli seorang istri. Sebagaimana istri harus mengabdi kepada suami, seorang suamipun dianjurkan untuk mengabdi kepada seorang istri. Pahala dan balasan pengabdian bukan monopoli seorang istri. Seorang suami pun jika ia berkhidmat kepada seorang istri maka akan mendapatkan balasan. <span> </span>(lihat hadis-hadis Rasul tentang hal ini dalam blog islamfeminis -Mis-understanding antara kewajiban dan anjuran bag-3) </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span>Bagaimana dengan kondisi saat ini, yang mana digembar &#8211; gemborkan emansipasi wanita, dimana dikatakan wanita sejajar dengan kaum pria sampai &#8211; sampai lupa bahwa mereka itu punya tanggung jawab, punya kewajiban yang harus ditunaikan dengan baik. Kemandirian seorang wanita membuat wanita itu lupa akan kodratnya, merasa bisa menjadi superior hingga menganggap remeh seorang lelaki hanya karena derajat, status sosial ekonomi, golongan darah dan lain sebagainya. Mereka lupa bahwa yang dianggap remeh dan rendah adalah sosok yang harus mereka taati, patuhi, dan hormati sebagai seorang suami.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:green;">Islam feminis:</span></strong><span style="color:green;"> Kami kira, gerakan emansifasi wanita yang (berlebih-lebihan) paranoidisme yang sedang<span>  </span>gencar sekarang ini, dikarenakan ketertindasan yang menimpa para wanita dalam sepanjang sejarah. Andaikan mereka bisa bergerak dan beraktifitas secara alamiyah, tidak mungkin muncul reaksi seperti ini. Seperti anak kecil yang selalu dikekang segala gerak-geriknya, ketika menghirup udara kebebasan ia akan melakukan apa saja yang selama ini tidak bisa lakukan yang terkadang lepas kontrol, apabila tidak ada yang membimbing secara benar. Seolah-olah ingin balas dendam, mengeluarkan apa saja yang ada dalam hatinya. Seperti yang dikatakan Sigmun Freud. Walaupun saya seratuspersen tidak menerima teorinya tentang kasus tersebut.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Kami kira, tuntutan untuk sejajar dengan laki-laki dalam pengetahuan, beraktifitas, karier tidaklah salah, selama tetap berada pada koridor yang benar dan tidak bertentangan dengan kodrat wanita sebagai perwujudan kelembutan. Seperti, angkat besi, binaragawati dan pekerjaan berat lainnya yang tidak sesuai dengan fisik dan kejiwaan perempuan tidaklan perlu ikut-ikutan seperti laki-laki. Namun kalaulah jadi seorang direktur, menteri, dokter, peneliti dan aktifitas lainnya tidaklah disalahkan. Jika berbicara berdasarkan agama Islam, Islam pun tidak melarang perempuan untuk berkarier dan beraktifitas, dengan catatan tetap harus menjaga keseimbangan antara karier dan keluarga. Tidak selayaknya keutuhan keluarga menjadi korban karier. Dan ini semua perlu adanya kerjasama yang baik antara suami dan istri. Mungkin seorang istri di luar rumah ia sebagai seorang direktur perusahaan, yang membawahi beratus bahkan mungkin beribu orang. Namun ketika di dalam rumah terdapat kepala rumah tangga yaitu suami yang senantiasa dihormati sebagai apapun statusnya di luar rumah. Namun perlu dicatat seorang suami yang bijaksana bukanlah seorang suami yang semena-mena terhadap istri. Akan tetapi ia menjadikan istri sebagai partner kerja di dalam kehidupan berumah tangga.<span></span><span></span></span><span style="color:green;"><span><br />
</span></span><span><br />
Seperti pepatah mengatakan “Wanita itu terbuat dari tulang rusuk laki &#8211; laki”. Dilihat dari karakteristik tulang rusuk adalah bengkok, jika diluruskan akan patah akan tetapi jika dibiarkan akan tetap bengkok “Kasihan”.<!--[if gte vml 1]&amp;gt;   --><span> </span>Inilah salah satu tugas para Lelaki untuk meluruskan tulang rusuknya yang bengkok tanpa harus mematahkannya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:green;">Islam feminis: </span></strong><span style="color:green;">Tentunya, sumber yang paling jelas bahwa ‘perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki’ adalah Kitab Perjanjian Lama (Taurat) dan hadis-hadis Israiliyat. Dalam Kitab tersebut setelah Tuhan menciptakan Adam dan menempatkannya di surga, dibawah ini potongan isi kitab Perjanjian Lama berkaitan dengan masalah penciptaan Hawa: </span></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:green;">Tuhan berfirman</span></em><span style="color:green;">:<span>  </span><em>“Tidak baik manusia (Adam) sendirian. Maka Kami harus menciptakan baginya teman yang sepertinya dirinya&#8230;dan Adam memberikan nama kepada seluruh hewan dengan nama yang sekarang mereka miliki&#8230;Namun Adam belum menemukan baginya teman yang mirip dengannya. Lantas Tuhan melemparkan rasa tidur yang nyenyak kepadanya (menidurkan Adam), maka tertidurlah Adam. Lalu Tuhan mengambil (mengeluarkan)<span>  </span>tulang rusuk dari tulang-tulang rusuknya dan kemudian dipenuhinya tempat tersebut dengan daging. Dan kemudian Tuhan membuat wanita (Hawa)<span>  </span>dari tulang rusuk yang diambil dari Adam, dan menghadirkannya di hadapan Adam. Setelah Adam melihatnya lantas ia berkata; “Ini tulang dari tulangku, dan daging dari dagingku&#8230;”.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Berdasarkan di atas Hawa diciptakan ketika Adam tidur, dan Tuhan mengambil tulang rusuk dari Adam ketika ia tidur.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Namun dalam al-Qur’an tidak ada satpun ayat yang menyatakan secara jelas bahwa Hawa tercipta dari tulang rusuk. Hanya para penafsir Al-Qur’an sebagian mengatakan “Tercipta dari tulang rusuk“, sebagian “dari esensi dan jenis Adam itu sendiri yaitu tanah atau esensinya sebagai manusia”.<span>  </span>Dengan mengatakan hadis yang menyatakan wanita (hawa) diciptakan dari ‘tulang rusuk Adam’ adalah hadis Israiliyat yakni hadis yang berasal dari ajaran Yahudi dan dimasukan ke Islam yang dibawa oleh orang-orang Yahudi yang telah masuk Islam yang aktif meriwayatkan hadis-hadis palsu yang diambil dari ajaran Yahudi, seperti pribadi yang bernama Ka’bul Akhbar pada zaman khalifah Umar bin Khatab. (Silahkan lihat di blog kami –Wanita, budaya dan keadilan gender (3)- pendapat para mufasir tentang ayat penciptaan Hawa)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Jadi anda tidak perlu repot-repot ‘meluruskan tulang rusuk anda yang telah berkurang’. Apabila SangOtak menerima tulang rusuknya telah berkurang karena terambil untuk penciptaan perempuan, maka perempuan itu ialah ibu, istri, anak, dan saudari anda sendiri. Tidak perlu mengasihani mereka (anggota keluarga anda itu) dan kami. Sepertinya SangOtak kecewa terhadap para wanita yang berkarier terus lupa diri, lantas semuanya dipukul rata (generalisir), “Seperti inilah semua perempuan!”. Bukan dengan cara seperti ini anda mengingatkan dan menyadarkan para perempuan, karena dengan cara arogansi akan menambah permasalahan menjadi parah. Peringatkanlah para perempuan yang menurut anda lupa diri dan lupa kodratnya itu dengan cara yang baik dan benar, serta berilah solusinya. Ingat, orang yang bijak adalah bukan hanya sekedar pinter kritik tapi tak bisa kasih jalan keluarnya. Ini<strong> </strong>solusi kami terhadap cara anda.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span>Tidak sedikit para Lelaki memanfaatkan dalih &#8211; dalih seperti ini untuk kembali mengulang masa kejayaan Jahiliyahnya dimana mereka memuaskan hawa Nafsunya kepada para Wanita. Dengan dalih harus mentaati sang suami, bertingkah polah semaunya sendiri tanpa mengindahkan aturan yang berlaku sampai terjadi KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) dan yang menjadi korban adalah WANITA.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:green;">Islam feminis: </span></strong><span style="color:green;">Apa yang dapat dibanggakan wahai para lelaki dari zaman jahiliyah! Orang muslim kok mau mengamalkan ajaran jahiliyah. Menurut kami, yang pengetahuannya terbatas, untuk menyelesaikan masalah seperti ini harus di lakukan kerjasama antara laki-laki dan perempuan. Selain itupun karena mayoritas masyarakat Indonesia beragama islam, maka sudah semestinya para ulama memberikan pengetahuan islam tentang kehidupan rumah tangga, dan tentunya kepada kedua belah pihak baik calon istri maupun calon suami ataupun sudah berkeluarga.<span>  </span>Selama ini yang kami dengar dari pengajian-pengajian tentang rumah tangga dari dulu sampai sekarang hanya yang dititikberatkan pada kewajiban perempuan. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Padahal dalam berumah tangga ada tugas bersama yang harus diketahui oleh pihak istri maupun perempuan. Banyak para istri yang tidak mengetahui yang sebenarnya mana kewajibannya, dan mana yang bukan tapi terjadi campur aduk. Walaupun kehidupan berkeluarga bukanlah hanya berlandaskan pada hak dan kewajiban saja. Tapi lebih dari itu perlu adanya pengorbanan kedua belah pihak. Istri hendaknya mengerti kondisi suaminya, begitupula sebaliknya. Pada suatu saat istri yang harus mengalah dan berkorban demi keberlangsungan keluarganya. Atau sebaliknya. Bukannya egoisme yang berkuasa dalam kehidupan berumah tangga. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Kami kira, jika kedua pasangan memiliki pengetahuan pembekalan agama yang benar tentang kehidupan berumah tangga, maka tidak akan pernah terjadi KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Seorang laki-laki yang memahami dengan benar ajaran Islam tidak akan pernah memukul istrinya, begitu juga seorang istri jika memahami dengan benar ia tidak akan membangkang kepada suaminya, kecuali dalam hal yang telah dilarang Allah swt untuk melakukannya, itupun ditolak dengan cara yang baik dan benar. (cobalah praktikan usulan kami, bukan dengan cara yang malah membikin masalah semakin keruh)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;"><span> </span></span><span>Sebenarnya Lelaki itu bersifat setia dan wanita cenderung tidak setia. Kita ulas di posting berikutnya.<!--[if gte vml 1]&amp;gt;   --></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:green;">Islam feminis: </span></strong><span style="color:green;">Jangan-jangan SangOtak untuk membuktikan hal di atas cuma memakai dasar ‘reka-reka dan kira-kira’ lagi, yang tidak jelas sumber dan dasarnya. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:green;">Tambahan: </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">-Kenapa Hawa dinamakan Hawa? Karena ia merupakan ibu para Makhluk hidup (maksudnya manusia).<span>  </span>Karena Hawa berasal dari akar kata ‘Hayun’ yang artinya hidup.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">- Adam dinamakan Adam, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis dari Imam Shadiq ia berasal dari akar kata: ‘<em>Adim</em>’ yang artinya bagian permukaan tanah.<span>   </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Hal-hal yang membuat keotentikan isi Perjanjian Lama dipertanyakan di antaranya:</span></p>
<p style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;text-align:justify;"><span style="color:green;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><span dir="ltr"><span style="color:green;">Nabi Nuh as diceritakan minum-minuman dan telanjang di hadapan anaknya.</span></span></p>
<p style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;text-align:justify;"><span dir="ltr"><span style="color:green;"></span></span><span style="color:green;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><span dir="ltr"><span style="color:green;">Nabi Lut as diceritakan berzina dengan anak perempuannya.</span></span></p>
<p style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;text-align:justify;"><span style="color:green;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">       </span></span></span><span dir="ltr"><span style="color:green;">Tuhan telah lupa.</span></span></p>
<p style="margin-left:0.5in;text-indent:-0.25in;text-align:justify;"><span style="color:green;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">      </span></span></span><span dir="ltr"><span style="color:green;">Tuhan telah bergulat dengan Nabi Daud as dan kalah, dll.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">Silahkan tela’ah sendiri dan bandingkan isinya dengan kitab suci al-Qur’an, niscaya anda akan lebih menyaksikan keagungan al-Qur’an. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:green;">[Euis D (Penanggungjawab islamfeminis), mahasiswi Pasca Sarjana Jurusan Tafsir Qur'an]</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/70/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/70/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/70/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=70&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/29/menanggapi-tulisan-blog-sangotak-tentang-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/perempuan-terpelajar.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">perempuan-terpelajar.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Balasan Sedekah</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/27/balasan-sedekah/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/27/balasan-sedekah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2007 14:45:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/27/balasan-sedekah/</guid>
		<description><![CDATA[“Wahai hamba Allah, relakah anda, suapan ini (anaknya hampir saja jadi santapan srigala) sebagai gantinya suapan itu (suapannya yang telah diberikan kepada seorang pengemis)?”  &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-  Balasan Sedekah  &#160; Imam Ridha as (Imam ke-8) berkata: “Pada zaman dahulu telah terjadi kemarau yang sangat panjang pada kaum Bani Israil. Seorang wanita dari mereka telah meletakan sesuap roti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=68&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Wahai hamba Allah, relakah anda, suapan ini (anaknya hampir saja jadi santapan srigala) sebagai gantinya suapan itu (suapannya yang telah diberikan kepada seorang pengemis)?”</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman"><span id="more-68"></span></font></strong><strong> </strong><strong><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</font></strong><strong><font face="Times New Roman"> </font></strong><strong></p>
<p align="center"><strong><font face="Times New Roman">Balasan Sedekah</font></strong><strong><font face="Times New Roman"> </font></strong><strong> </strong></p>
<p></strong></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Imam Ridha as (Imam ke-8) berkata: “Pada zaman dahulu telah terjadi kemarau yang sangat panjang pada kaum Bani Israil. Seorang wanita dari mereka telah meletakan sesuap roti di mulutnya. Tiba-tiba datang seorang pengemis yang mengetuk pintu rumahnya sembari meminta-minta, sementara wanita itu tidak memiliki sesuatupun kecuali sesuap roti tersebut. <span> </span>Dalam menjawab permintaannya, wanita berkata: “Maafkan aku, lalu ia mengeluarkan suapan roti dan diberikan kepada pengemis.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Tidak berapa lama, di padangan sahara anaknya telah diterkam oleh srigala. Kemudian, srigala meletakkan anak tersebut ke dalam mulutnya dan melarikan diri. Setelah mengetahui hal itu, wanita tersebut mengejar anaknya yang diterkam srigala seraya berteriak-teriak. Di saat itu Allah swt telah mengutus Jibrail as untuk menyelamatkan anaknya dan mengelurkannya dari mulut srigala. Malaikat Jibrail as mengembalikan kepada ibunya, seraya berkata: “Wahai hamba Allah, relakah anda, suapan ini (anaknya hampir saja jadi santapan srigala) sebagai gantinya suapan itu (suapannya yang telah diberikan kepada seorang pengemis)?”</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[Euis D, sumber: Dastanha-ye Mauzui, Kazim Said Pur, hal 43-44]</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/68/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/68/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=68&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/27/balasan-sedekah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wanita dalam Perspektif Fathimah az-Zahra as</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/27/wanita-dalam-perspektif-fathimah-az-zahra-as/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/27/wanita-dalam-perspektif-fathimah-az-zahra-as/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2007 08:47:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/27/wanita-dalam-perspektif-fathimah-az-zahra-as/</guid>
		<description><![CDATA[Fathimah az-Zahra as telah sampai kepada tingkat ubudiyyah yang tinggi di mana manusia paling ‘abid (penghamba) selainnya hanyalah Rasulullah saww dan Imam Ali as. Ketika malam tiba, beliau selalu sibuk dan asyik memuja Allah swt di mihrabnya hingga fajar menjelang, sampai-sampai kakinya bengkak. Beliau pulalah yang beruntung dengan penyucian yang diberikan Allah seperti yang terekam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=67&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/ya-zahra.jpg" title="ya-zahra.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/ya-zahra.thumbnail.jpg?w=500" alt="ya-zahra.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Fathimah az-Zahra as telah sampai kepada tingkat ubudiyyah yang tinggi di mana manusia paling <i>‘abid</i> (penghamba) selainnya hanyalah Rasulullah saww dan Imam Ali as. Ketika malam tiba, beliau selalu sibuk dan asyik memuja Allah swt di mihrabnya hingga fajar menjelang, sampai-sampai kakinya bengkak. Beliau pulalah yang beruntung dengan penyucian yang diberikan Allah seperti yang terekam di dalam ayat Thathhir. Imam Ali as sendiri, sang suami, ketika ditanya Rasulullah saww tentang az-Zahra, menggambarkannya sebagai penolong paling baik dalam ketaatan kepada Allah SWT. Imam Khomeini ra berkata: “Seandainya Fathimah as itu laki-laki, maka dia akan menjadi Nabi dan seandainya dia laki-laki, dia akan berada di posisi Rasulullah saww”.</p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-67"></span><b><span style="font-size:14pt;"></span></b><br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;">Wanita dalam Perspektif Fathimah az-Zahra as</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">Oleh: *Novita Tri Andari</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b>Sekilas tentang Fathimah az-Zahra as</b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sudah masyhur di kalangan kita, ucapan sang Khatamul Anbiya, Muhammad saww tentang sosok wanita yang memainkan peranan penting dalam keberlangsungan risalah:“Fathimah adalah wanita surga termulia”.[1] Di lain waktu, Rasulullah saww bersabda:“Hai Ali, Fathimah adalah bagian dari diriku, cahaya mataku dan buah hatiku. Siapa yang membuatnya marah, berarti membuatku marah dan siapa yang membuatnya gembira, berarti membuatku gembira”.[2]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ya, Fathimah az-Zahra as adalah sosok wanita paling mulia yang pernah hidup di muka bumi. Beliau lahir di dalam rumah suci nubuwwah dan tumbuh besar dalam lingkaran wahyu. Beliau yang saat kecil tidak gemar permainan anak-anak, bahkan ketika bermain lebih banyak berzikir kepada Allah swt. Beliau juga yang menyaksikan bagaimana perlakuan musyrikin Mekkah terhadap ayah tercintanya. Dan beliau pulalah yang dengan bahasa lembut kekanakannya dan air mata bercucuran, mencoba menghibur dan meringankan derita sang ayah.[3]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Babak-babak kehidupan az-Zahra as tidak pernah lepas dari episode penting perjalanan Islam. Di antaranya, ketika Rasulullah menantang para pendeta Bani Najran, yang berkeras dan tidak mau mengakui kebenaran Islam, untuk bermubahalah hanya Fathimah as yang mewakili wanita keluarga Nabi yang hadir dalam peristiwa bersejarah itu.[4] Nabi sama sekali tidak mengajak istri-istrinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Fathimah az-Zahra as telah sampai kepada tingkat ubudiyyah yang tinggi di mana manusia paling <i>‘abid</i> (penghamba) selainnya hanyalah Rasulullah saww dan Imam Ali as. Ketika malam tiba, beliau selalu sibuk dan asyik memuja Allah swt di mihrabnya hingga fajar menjelang, sampai-sampai kakinya bengkak.[5] Beliau pulalah yang beruntung dengan penyucian yang diberikan Allah seperti yang terekam di dalam ayat Thathhir.[6] Imam Ali as sendiri, sang suami, ketika ditanya Rasulullah saww tentang az-Zahra, menggambarkannya sebagai penolong paling baik dalam ketaatan kepada Allah SWT.[7] Imam Khomeini ra berkata: “Seandainya Fathimah as itu laki-laki, maka dia akan menjadi Nabi dan seandainya dia laki-laki, dia akan berada di posisi Rasulullah saww”.[8]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b>Kedudukan Hadis Fathimah az-Zahra as</b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Secara bahasa, hadis berarti baru. Jika seseorang menceritakan kembali keadaan yang telah lalu, maka bagi pendengar kejadian itu seolah-olah baru terjadi. Hadis memiliki peranan yang penting oleh karena hadis memberikan sumbangan untuk kemajuan hidup manusia. Hadis juga merupakan wasilah bagi penyampaian ide, fikiran, pengalaman dan ilmu masyarakat zaman dahulu kepada masyarakat di saat ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Namun secara istilah Islam, hadis berarti penyebutan suatu materi yang berasal dari para nabi dan berhubungan dengan ilmu samawi, ahkam, undang-undang, akhlak atau adab. Dalam sejarah Islam, penulisan hadis sudah dimulai sejak zaman Rasulullah saww. Imam Ali as adalah orang pertama yang menulis hadis, langsung dari apa yang didiktekan oleh Rasulullah SAW. Metode penulisan ini berasal dari Rasulullah dan terus berlangsung sampai ke Imam Mahdi afs. Beberapa sahabat juga ada yang menulis hadis, misalnya Abu Rafi’, yang menulis bab khusus tentang wudhu. Para Imam as pun memberikan perhatian khusus tentang penulisan hadis. Imam Shadiq as dan Imam Ja’far as yang aktif mengajar, berkata kepada murid-muridnya:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">”Tulislah materi ini, dan sampaikan lagi kepada yang lainnya. Suatu hari nanti, tulisan itu akan menjadi bahasan utama dan ukuran bagi penafsiran dan pemahaman al-Qur’an serta penjelasan ahkam”.[9]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Hadits dan al-Qur’an ibarat 2 sisi mata uang, saling berhubungan dan terkait. Al-Qur’an yang merupakan kitab suci abadi hanya memuat hal-hal yang bersifat umum. Untuk mengetahui maksud al-Qur’an secara terperinci, hendaklah merujuk kepada penjelasan orang yang kepadanya diturunkan al-Qur’an, yaitu Rasulullah saww. Rasulullah sendiri pernah bersabda:”Sepeninggalku, umat harus mengikuti al-Qur’an dan itratku”. Rasulullah meletakkan itratnya sebagai padanan al-Qur’an sehingga mereka menjadi penjelas makna al-Qur’an.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sementara itu, hadis juga tidak dapat berdiri sendiri tanpa al-Qur’an. Kendati hadis ditulis langsung secara cermat, tidak dapat dipungkiri, ketika hadis disampaikan kembali terkadang si pendengar salah memahami makna dan maksud si pembicara. Selain itu ada juga orang-orang yang menjual agamanya dengan harga yang murah dengan membuat hadis-hadis palsu. Oleh karena itu materi hadis harus diperiksa, apakah sesuai dengan al-Qur’an atau tidak. Apabila tidak sesuai maka hadis itu tidak dapat diterima. Para Aimmah as sendiri selalu menekankan bahwa hadits yang tidak sesuai dengan al-Qur’an, bukanlah hadis dari mereka.[10]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Maka jelaslah bahwa kejujuran perawi hadis merupakan faktor penting untuk mengetahui kedudukan hadis yang disampaikan agar selanjutnya kita dapat mengambil sikap untuk menerima atau menolak hadis yang disampaikannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Adapun hadis yang diriwayatkan oleh Fathimah az-Zahra as dalam kurun waktu hidupnya yang relatif singkat itu, ternyata cukup banyak. hadis &#8211; hadis tersebut ada yang didengar langsung dari Rasulullah saww dan ada pula yang berasal dari tulisan yang diperintahkan Rasulullah untuk menulisnya.[11] Untuk menilai kedudukan hadits az-Zahra as, maka kita juga harus meneliti tentang kejujurannya, sehingga kita dapat menilai apakah hadis tersebut dapat dijadikan sebagai penjelas al-Qur’an atau tidak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Aisyah pernah berkata:”Setelah Rasulullah, aku tidak pernah melihat orang yang lebih jujur dari Fathimah”.[12] Bukan hanya jujur, sebenarnya Fathimah az-Zahra as merupakan orang yang ma’shum.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ma’shum secara lughawi berarti terlindung dan terhalang. Sedang dalam istilah, seseorang disebut sebagai ma’shum apabila terlindung dari kesalahan dan dosa. Seseorang disebut ma’shum apabila ia dapat menyaksikan hakikat dunia dan berhubungan dengan alam malakuti, sehingga mencegah dirinya dari perbuatan dosa. Kalangan Syiah meyakini bahwa selain Rasulullah saww dan para Aimmah as, az-Zahra as juga merupakan oarng yang ma’shum.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Berikut ini adalah dalil yang membuktikan kema’shuman Fathimah as: Ayat Thathhir.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“…Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan kenistaan dari kalian, hai ahlul bait dan menyucikan kalian, sesuci-sucinya”. (Al Ahzab ayat 34)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Banyak hadits yang menyebutkan bahwa ayat tersebut turun berkaitan Rasulullah saww, Imam Ali as, Imam Hasan as, Imam Husein as dan Sayyidah Zahra as. Misalnya, Ummu Salamah berkata:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Suatu hari, Fathimah Azzahra as membawa semangkuk bubur untuk Rasulullah SAW . Rasulullah bersabda: Panggillah juga Ali, Hasan dan Husein. Ketika semuanya datang dan sedang makan, ayat yang disebutkan di atas turun. Kemudian, Rasulullah SAW meletakkan kain khaibarinya ke atas kepala mereka dan 3 kali berkata: Ya Allah, mereka ini adalah ahli baitku, bersihkanlah mereka dari kotoran dan sucikanlah mereka”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Setelah ayat ini turun, selama 6 bulan berturut-turut, Rasulullah selalu melewati rumah az-Zahra as ketika hendak menunaikan shalat shubuh dan membacakan ayat tersebut.[13]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Namun sebagian kalangan ada yang menyatakan bahwa ayat tersebut tidak menunjukkan kema’shuman siapapun karena sebelum dan sesudah ayat itu berbicara mengenai istri-istri Rasulullah. Dan di ayat itu yang menjadi mukhatab (orang yang diajak bicara) adalah mereka, dan jika ayat itu memang menunjukkan kema’shuman, maka harus dikatakan bahwa istri-istri Rasulullah juga ma’shum.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Untuk menjawab isykal ini, Allamah Sayyid Husein Syarifuddin menyatakan:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">1. Dari beberapa riwayat disebutkan bahwa ayat ini memang turun khusus untuk Imam Ali as, Fathimah as, Imam Hasan dan Imam Husain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">2. Jika ayat tersebut untuk istri-istri Rasulullah, maka hendaknya berbentuk khitab untuk wanita dengan kata “<i>kunna</i>”, tidak dalam bentuk jama’ muzakkar “<i>kum</i>”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">3. Dalam bahasa Arab fasih, adalah hal yang biasa meletakkan satu kalimat i’tiradh yaitu penyisipan kalimat lain di tengah rangkain kalimat yang sedang menjadi pembicaraan utama. Maka tidak ada salahnya jika kita berkata:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Allah swt meletakkan ayat ini di antara ayat yang berbicara tentang istri-istri Rasulullah sehingga terlihatlah pentingnya hal tersebut. Ini juga sebuah isyarat bahwa tidak boleh ada yang melakukan agresi kepada ahli bait Rasulullah karena mereka adalah orang-orang yang ma’shum, bahkan para istri Rasulullah juga tidak berhak melakukan yang demikian”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">4. Bisa saja terjadi bahwa ayat itu turun khusus untuk ahli bait Nabi, namun ketika ayat itu dikumpulkan ia masuk ke dalam kumpulan ayat yang berbicara tentang istri-istri Nabi.[14]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Setelah meyakini tentang kema’shuman Fathimah as, maka kita dapat memperhatikan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Fathimah az-Zahra as. Berikut ini, 2 hadits yang cukup mewakili perspektif beliau tentang wanita:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">1. Imam Ali as bersabda: “Kami sedang bersama Rasulullah, beliau bertanya: Apakah yang paling baik bagi wanita? Fathimah as menjawab: Yang terbaik bagi wanita adalah dia tidak melihat non mahram dan dia juga tidak dilihat oleh pria non mahram”.[15]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">2. Rasulullah Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya: “Saat apakah wanita itu lebih dekat dengan Tuhannya?” Fathimah Azzahra as berkata: Ketika wanita tinggal di rumahnya”.[16]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kalau kita membaca hadis tersebut sekilas, maka akan terlihat seolah-olah ada pembatasan yang sangat ketat bagi wanita yang pada akhirnya dapat menimbulkan prasangka buruk dalam diri kita bahwa Islam berlaku tidak adil terhadapa wanita, seperti yang banyak didakwakan oleh kalangan lain. Misalnya saja kalangan feminis yang menyebutkan:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Feminisme berusaha melawan berbagai tindakan diskriminasi, termasuk diskriminasi peran yang didasarkan pada stereo type gender dan dominasi kaum lelaki dalam berbagai sektor kehidupan, baik ekonomi, sosial keluarga bahkan agama (Islam). Bagaimana pun agama masih merupakan norma tertinggi dalam masyarakat sehingga dalam penyusunan struktur masyarakat dan kaidah-kaidahnya, agama masih dipandang sebagai ukuran normatif. Tetapi dalam pandangan kaum feminis, posisi dan kondisi kaum perempuan saat ini masih belum sepenuhnya mencapai tataran normatif yang sebenarnya dikehendaki dalam Islam”.[17]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Agar kita tidak terjebak pada tuduhan yang sama seperti di atas, maka ada baiknya kita menyimak penjelasan ulama berkaitan dengan hadits az-Zahra as di atas.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ayatullah Ibrahim Amini menyebutkan bahwa apa yang disampaikan oleh Fathimah Azzahra as itu adalah contoh prilaku yang paling baik yang mampu memberikan keuntungan bagi wanita dan menjaga kedudukan mereka dalam masyarakat. Karena jika wanita keluar dari rumah dan berhubungan dengan pria, di mana pria dapat menyaksikan keindahan dirinya, para pemuda akan lebih lama lagi menikah. Akibatnya wanita tanpa suami akan bertambah dari hari ke hari.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sedang para pria yang menyaksikan keindahan wanita ini, jika ia tidak mampu memenuhi kebutuhannya berkaitan dengan hal tersebut, akan mengalami gangguan kejiwaan dan keputusasaan akan semakin menumpuk di kalangan mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Selain itu, wanita bersuami yang menyaksikan bahwa suaminya memperhatikan wanita lain, maka ia akan jatuh dalam cemburu dan buruk sangka. Bangunan protes dan ketidakcocokan akan muncul, yang pada gilirannya akan menggoncangkan keselarasan rumah tangga. Akhirnya akan terjadi perceraian atau mereka tetap dalam penjara rumah dan terus menunggu berakhirnya masa tahanan, selalu menghitung waktu, ibarat polisi yang terus mewaspadai targetnya.[18]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Masih menurut Allamah Ibrahim Amini, pria beristri yang menyaksikan keindahan wanita lain akan menemukan bahwa wanita lain itu lebih cantik dan lebih menarik daripada istrinya, yang akan menyebabkan ketidaktenangan istrinya. Dengan alasan yang dibuat-buat, ia akan menukar ketenangan rumah tangganya dengan jahannam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sementara para pria pekerja di mana dalam aktivitas kerja, ia berpapasan dengan wanita setengah telanjang atau yang berhias, otomatis akan terpengaruh secara seksual. Pria ini tidak akan bisa memfokuskan dirinya dalam pekerjaan atau pelajaran dan mereka akan tertinggal dalam bidang ekonomi.[19]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Habibullah Ahmadi menyebutkan bahwa hadis tersebut tidak berarti pengasingan diri wanita muslimah, tetapi bahwa dalam aktivitas sosialnya wanita melaksanakan aturan Islam sedemikian rupa sehingga tidak menyebabkan pandangan haramnya pria non mahram dan dia juga jauh dari pandangan haram kepada yang bukan mahramnya. Atau bisa juga berarti bahwa para wanita sendirilah yang mengurus urusannya sehingga tidak perlu berhubungan dengan pria non mahram apalagi sampai ber-ikhthilath (bercampur) dengannya.[20]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Jelaslah bahwa hadits Fathimah az-Zahra as di atas bukan berarti penetapan ketidakadilan terhadap perempuan. Yang harus diingat adalah bahwa Fathimah as adalah wanita mulia, yang disebutkan Rasulullah saww sebagai penghulu seluruh wanita dunia dan akhirat. Maka dalam segi ilmu beliau juga lebih unggul dari wanita lain. Apalagi az-Zahra as sudah berhubungan langsung dengan alam malakuti. Ilham yang diberikan Allah dalam menjawab pertanyaan Rasulullah itu adalah bukti makrifatnya. Fathimah az-Zahra as telah merangkum perspektifnya tentang wanita dalam sebuah kalimat yang singkat, namun memiliki makna yang dalam. Wallahu a’lam [<a href="http://islamalternatif.com" target="_blank">islamalternatif</a>]</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">*Mahasiswi Jurusan Tarbiyah Islamiyah di Jami&#8217;ah Zahra, Qom-Iran</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[1] Ibrahim Amini, Bonuye Nemunehe Islom, 1369, hal. 95</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[2] Ibid, hal. 99</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[3] Ghulam Ali Musawi Sistani, Partu-yi az Zendegone Do Bonuye Buzurge Islom, 1377, hal 57-61</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[4] Ibrahim Amini, opcit, hal 101</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[5] Abdul Husein Asghari, Simoye Fotimeh dar Qur’an va Etrat, hal. 11</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[6] Ibrahim Amini, opcit, hal 123</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[7] Ibid, hal. 118</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[8] Husein Imani Yomci, Manam Fotimeh, 1376, hal. 21</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[9] Muhammad Yazdi, Siri dar Torikhe Hadis, 1396, hal. 10-17</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[10] Idem, hal.26-28</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[11] Ali Akbar Saduqi, Fotimeh Zahra as, terjemah, 1364, hal. 11</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[12] Ibrahim Amini, opcit, hal. 96</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[13] Ibid, hal. 122-124</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[14] Ibid, hal. 127</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[15] Muhammad Dasyti, Farhangge Sukhananone Hazrate Fotimehh, 1380, hal. 123</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[16] Ibid, hal. 125</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[17] Elfiatur Roikhah, Feminisme Dalam Perspektif Islam dan Konsep &#8220;Two in one&#8221; http://www.hidayatullah.com/sahid/9804/opini01.htm</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[18] Ibrahim Amini, opcit, hal.131</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[19] Ibid, hal.132-133</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[20] Habibullah Ahmadi, Fotimeh Ulguye Zendegi, 1374, hal.227</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/67/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/67/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=67&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/27/wanita-dalam-perspektif-fathimah-az-zahra-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/ya-zahra.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ya-zahra.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Panduan Islam tentang Hubungan (biologis) Suami Istri. (Bag-1)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/26/panduan-islam-dalam-hubungan-biologis-suami-istri/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/26/panduan-islam-dalam-hubungan-biologis-suami-istri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Apr 2007 08:33:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi Keluarga & Pendidikan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/26/panduan-islam-dalam-hubungan-biologis-suami-istri/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam artikel ini, akan dibahas tentang adab islami (panduan Islam) berkaitan dengan hubungan biologis suami istri. Meskipun sebelumnya saya merasa hal yang sangat privasi dan mungkin hal yang tabu, tetapi ketika melihat ternyata pengetahuan yang benar sesuai dengan anjuran Islam tentang hal ini akan dapat memberikan pengaruh kepada anak yang akan dididik maka saya kira [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=63&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/2037620558_74b23d9331_m.jpg" title="2037620558_74b23d9331_m.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/2037620558_74b23d9331_m.thumbnail.jpg?w=500" alt="2037620558_74b23d9331_m.jpg" /></a></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dalam artikel ini, akan dibahas tentang adab islami (panduan Islam) berkaitan dengan hubungan biologis suami istri. Meskipun sebelumnya saya merasa hal yang sangat privasi dan mungkin hal yang tabu, tetapi ketika melihat ternyata pengetahuan yang benar sesuai dengan anjuran Islam tentang hal ini akan dapat memberikan pengaruh kepada anak yang akan dididik maka saya kira sebaiknya hal ini kita singgung juga</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman"><span id="more-63"></span></font></strong><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</font></p>
<p align="center"><strong><font face="Times New Roman">Panduan Islam tentang Hubungan (biologis) Suami Istri. (Bag-1) </font></strong><strong><font face="Times New Roman"> </font></strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Melanjutkan panduan untuk mendapatkan anak yang saleh, dengan memperhatikan hal-hal yang berpengaruh dalam mempermudah pendidikan anak di masa yang akan datang. Dalam pembahasan sebelumnya dibahas tentang pentingnya pendidikan, tujuan pendidikan dan mencari pasangan hidup, sebagai salah satu factor yang sedikit banyaknya dapat berpengaruh dalam pendidikan anak. Karena pasangan ini pada waktu yang akan datang akan menjadi orang tua anak yang akan dididik.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Islam bukan agama yang mengkebiri seks manusia, begitupula bukan agama yang memperbolehkan pemeluknya untuk mengumbar seks. Akan tetapi ia memberikan jalan penyaluran seks melalui jalan yang benar yaitu pernikahan. Walaupun pernikahan dalam Islam tidak dipandang dari segi seksualnya saja. Bahkan lebih dari itu, ia pun dianggap sebagai salah satu pintu untuk menuju kesempurnaan dan kebahagiaan yang ingin dicapai oleh manusia. Setelah mereka memasuki kehidupan berumah tangga, maka peranan kedua orang tua semakin terasa.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dalam artikel ini, akan dibahas tentang adab islami (panduan Islam) berkaitan dengan hubungan biologis suami istri. Meskipun sebelumnya saya merasa hal ini merupakan masalah yang sangat privasi dan mungkin hal yang tabu, tetapi ketika melihat ternyata pengetahuan yang benar sesuai dengan anjuran Islam tentang hal ini akan dapat memberikan pengaruh kepada anak yang akan dididik maka saya kira sebaiknya hal ini kita singgung juga. Dan mudah-mudahan akan menambah wawasan dan dapat diamalkan oleh para orang tua sebagai lahan terbentuknya generasi yang sehat, saleh dan cerdas.. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Telah dijelaskan dalam banyak hadis tentang adab hubungan biologis suami istri yang hendaknya diketahui oleh pasangan suami istri. Adab hubungan biologis suami istri dapat sedikit banyaknya akan memberikan pengaruh pada jasmani dan ruhani anak. Rasulullah telah memberikan pesan kepada Imam Ali tentang adab dan tata cara hubungan biologis suami istri dari sisi waktu, tempat dan kondisi kejiwaan yang meliputi kedua pasangan. Rasulullah bersabda: “Wahai Ali, Jagalah (dan amalkan) wasiatku ini, sebagaimana aku telah menjaga (dan mempelajarinya) dari saudaraku Jibra’il as.” (Makarimal Akhlak, hal 219, dinukil dari buku<em> Tarbiyate Farzan </em>(Pendidikan Anak), Sayyid Ali Husaini Zadeh, hal 50]<strong><span style="font-size:10pt;"> </span></strong></font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Rasulullah saww sendiri sebelum memiliki putri tercintanya Sayyidah fathimah Zahro , berpisah selama 40 hari dengan istrinya Sayyidah Khadijah. Setelah itu menemui istrinya dan sebelumnya memakan apel surga yang diberikan malaikat Jibrail as kepadanya. Yang darinya kemudian terlahir manusia sempurna bunda Fathimah Zahro as. Berkenaan dengan beliau Rasulullah bersabda:: “Sesungguhnya wanita ahli surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad saww, Maryam binti ‘Imron, dan Asiyah binti Mazahi.” (Mustadrak Ash Shahihain 2:497). </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Walaupun mungkin kita tidak dapat melakukan secara sepenuhnya apa yang telah dilakukan oleh Nabi kita, namun tak ada salahnya yang mampu kita lakukan ya sebaiknya kita lakulan dan amalkan. Seorang perempuan mendatangi Rasulullah saw, seraya berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana Allah swt dapat dikatakan adil, padahal Dia telah memberikan anak yang buta kepadaku?” Dalam menjawab protesnya beliau menjawab: “Apakah ketika kalian berhubungan, suamimu meminum minuman keras (khamar)?” “Ya, wahai Rasulullah.” Jawabnya. Lantas beliau kembali bersabda: “Jika demikian maka cercalah diri kalian sendiri”.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Pengaruh menjaga adab hubungan suami istri dalam beberapa riwayat dibagi kepada dua bagian:</font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">1. Memberikan Pengaruh kepada keselamatan dan kesehatan jasmani anak:</font></strong></p>
<ul>
<li class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Iman Ali Zainal Abidin (Imam Ke-4) berkata: “Jika seoarng suami melakukan hubungan biologis dengan istrinya dalam keadaan tenang, tidak dalam keadaan rasa khawatir dan tidak grogi maka sperma akan masuk ke dalam rahim istrinya dalam keadaan tenang pula. Dan paras anak akan mirip dengan ayah dan ibunya. Namun jika seorang suami melakukan hubungan biologis dengan istrinya dalam keadaan tidak tenang, ada rasa khawatir dan grogi maka sperma akan masuk ke dalam rahin dalam keadaan tidak tenang pula. Serta paras anak mirip dengan paman, bibi dari kedua belah pihak dan anggota keluarga yang lainnya.” (Bihar al-Anwar, jil 60, hsl 359, dinukil dari<em> Tarbiyate Farzan </em>(Pendidikan Anak), Sayyid Ali Husaini Zadeh<strong><span style="font-size:10pt;"> </span></strong>)Ini sebagian dari riwayat, dan ada beberapa hadis lagi bisa didapatkan dalam kitab <em>makarimal akhlaq, </em>berkaitan dengan adab hubungan suami istri.<strong><span style="font-size:10pt;"></span></strong></font></li>
</ul>
<p><strong><span style="font-size:10pt;"></span></strong></p>
<ul>
<li class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dalam hadis lain Rasulullah saw bersabda; “Wahai Ali, janganlah melakukan hubungan biologis dengan istrimu pada awal bulan, pertengahan dan akhir bulan. Karena ada kemungkinan besar akan menyebabkan gila, terkena penyakit kusta, cacat anggota tubuh dan akal istri dan anak.”(Makarimal Akhlak, hal 219)</font></li>
</ul>
<p><strong><font face="Times New Roman">2. Hal-Hal yang Memberikan Pengaruh pada Ruhani dan Kejiwaan Anak:</font></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Diantara hal-hal yang hendaknya dilakukan sebelum melakukan hubungan suami istri ialah berwudhu atau dalam keadaan suci, menyebut nama Allah swt dan berdoa akan mencegah dari campur tangan syetan. Syetan setelah diusir dari surga ia bersumpah untuk menjerumuskan manusia melalui harta dan anak, seraya berkata: “Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. (Al-Israa: 64)</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Campur tangan syetan dalam harta mungkin sudah jelas bagi kita. Namun apa yang dimaksud campur tangan syetan dalam anak-anak kita? Dalam menjawab hal ini dalam tafsir Shafi karya Faiz Kasyani, telah dinukil dari Imam Shadiq as bahwa beliau berkata: “Sewaktu kalian memulai hubungan suami istri dengan nama Allah swt maka syetan akan menjauh dari kalian. Namun jika tidak memulai dengan menyebut nama Allah swt maka syetan akan ikut campur dalam dalam perbuatan kalian.”</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Tentu mendidik anak yang ketika pembentukannya terdapat campur tangan syetan, akan lebih sulit dibanding anak yang tidak seperti itu. Begitupula hendaknya berhati-hati ketika melaukan hubungan suami istri secara hati-hati, jangan sampai anak kita menyaksikannya. Dalam sebuah riwayat Imam Shadiq as yang telah dinukil dari kakeknya Rasulullah saw berkata; “Sumpah demi Tuhan yang jiwaku berada di bawah kekuasaannya, jika seorang suami hubungan biologis dengan istrinya, sementara anaknya ada di kamarnya melihatnya, mendengar omongan dan desah nafasnya, ketahuilah anak tersebut tidak akan bahagia, baik anak laki-laki maupun perempuan maka akan menjadi penzina. ” (Wasa’il Asy-Syi’ah, jil 14, hal 94)</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Mudah-mudahan kita dapat mengamalkan panduan ini, paling tidak bagi anak kita yang akan datang. InsyaAllah </font></p>
<p><span dir="rtl"></span><span dir="rtl"><span dir="rtl"></span><font face="Times New Roman"></font></span><font face="Times New Roman"><span dir="rtl"> </span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span>[Euis D dari buku <em>Tarbiyate Farzan </em>(Pendidikan Anak), Sayyid Ali Husaini Zadeh]<strong><span style="font-size:10pt;"></span></strong></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/63/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/63/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=63&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/26/panduan-islam-dalam-hubungan-biologis-suami-istri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/2037620558_74b23d9331_m.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">2037620558_74b23d9331_m.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kebebasan, yang Membikin Gila</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/25/kebebasan-yang-membikin-gila/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/25/kebebasan-yang-membikin-gila/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2007 08:42:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/25/kebebasan-yang-membikin-gila/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam menjawab pertanyaanya ia berujar: “Saya selalu mencari kebebasan, saya senantiasa berkelana mencari sesuatu yang serasa hilang dariku. Kucari kebebasan, ku jelajahi beberapa Negara Eropa (beliau telah menjelajahi beberapa Negara Eropa, seperti Inggris, belanda, Jerman, Prancis, …dsb) untuk mencari kebebasan. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; Kebebasan, yang Membikin Gila &#160; Pada suatu saat saya menemani salah satu kawan (keturunan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=61&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Dalam menjawab pertanyaanya ia berujar: “Saya selalu mencari kebebasan, saya senantiasa berkelana mencari sesuatu yang serasa hilang dariku. Kucari kebebasan, ku jelajahi beberapa Negara Eropa (beliau telah menjelajahi beberapa Negara Eropa, seperti Inggris, belanda, Jerman, Prancis, …dsb) untuk mencari kebebasan.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"><strong><span id="more-61"></span></strong></font><font face="Times New Roman"><strong> </strong></font><strong><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</font></strong><strong><font face="Times New Roman"> </font></strong></p>
<p align="center"><strong><font face="Times New Roman">Kebebasan, yang Membikin Gila</font></strong></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Pada suatu saat saya menemani salah satu kawan (keturunan asli Eropa) yang berasal dari Negara Crowasia <span> </span>untuk mengisi acara. Beliau diundang oleh suatu lembaga Islam dalam rangka menceritakan tentang keislamannya. Kawanku ini bernama Maryam. Sebelum masuk Islam namanya ialah Maria. Sebelumnya ia beragama Kristen, begitu juga seluruh keluarganya. Bahkan salah satu paman beliau adalah seorang pendeta.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Ketika telah masuk Islam ia menghadapi berbagai tantangan dari keluarganya yang tidak menyukai ia masuk Islam, terkhusus pamannya yang seorang pendeta. Ia seorang Sarjana Hukum (SH). Ia menjelaskan bahwa pamannya yang pendeta mengatakan kepadanya bahwa jika engkau tidak masuk Islam maka akan jadi pengacara terkenal dan kaya.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Ketika ditanyakan kepadanya kenapa masuk Islam? Dalam menjawab pertanyaanya ia berujar: “Saya selalu mencari kebebasan, saya senantiasa berkelana mencari sesuatu yang serasa hilang dariku. Kucari kebebasan, ku jelajahi beberapa Negara Eropa (beliau telah menjelajahi beberapa Negara Eropa, seperti Inggris, belanda, Jerman, Prancis, …dsb) untuk mencari kebebasan. Namun kebebasan yang kudapatkan di Eropa ialah kebebasan yang membikin manusia menjadi gila. Kebebasan yang berakhir pada nihilisme. Kebebasan yang berakhir pada kebingungan.”</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Kembali melanjutkan: “Ketika saya masih beragama Kristen, saya tidak pernah menemukan jawaban yang memuaskan tentang konsep Trinitas (Tiga adalah satu, yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Anak dan Ruhul Kudus) ajaran yang terdapat dalam agamaku. Bagaimana bisa, tiga adalah satu. Ketika kutanyakan hal itu kepada pamanku yang pendeta, beliau hanya menjawab: “Yakinilah jangan engkau tanyakan sebabnya&#8221;. Sungguh jawaban yang sangat tidak memuaskan. Bagaimana mungkin aku harus menerima dan meyakini sesuatu yang tidak dapat aku pahami. Sampai akhirnya lewat teman di internet, ia telah memberitahukan kepadaku bahwa terdapat agama yang Tuhannya satu (Esa). Agama itu adalah agama Islam”.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Ada satu hal yang tak pernah hilang dari ingatanku, saat saya menyaksikan teman mualafku (orang yang baru masuk Islam) menceritakan tentang rasa senang karena menemukan agama yang memiliki Tuhan satu (Esa), seraya berkata: “Saya sangat bahagia sekali saat menemukan bahwa ada agama yang hanya memiliki Tuhan Esa, aku tidak harus bingung dan repot seperti dahulu lagi, dengan harus menerima bahwa tiga adalah satu.” Beliau ungkapkan hal ini dengan mimik muka yang sangat berbinar-binar, yang menunjukkan rasa bahagia yang sangat. Sekarang beliau sedang mempelajari dan mendalam ajaran Islam. dan meninggalkan semuanya demi tujuan suci yang ia cari. Betapa bahagianya anda wahai saudariku…! [Euis D]</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/61/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/61/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/61/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=61&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/25/kebebasan-yang-membikin-gila/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jilbab, Yang Membebaskan</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/24/jilbab-yang-membebaskan/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/24/jilbab-yang-membebaskan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 16:57:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/24/jilbab-yang-membebaskan/</guid>
		<description><![CDATA[  Nong Darol Mahamada memulai tulisannya dengan pertanyaan “Benarkah jilbab itu adalah syariat Islam?” Kemudian, dengan menelaah buku “Kritik Atas Jilbab” karya Muhammad Said Al-Asymawi yang diterbitkan oleh JIL bulan April 2003, Nong Darol menemukan jawabannya, yaitu sebagai berikut. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-  Jilbab, Yang Membebaskan&#8230;. Pada tanggal 4 Juni 2003 yang lalu, website Jaringan Islam Liberal memuat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=60&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/belajar.jpeg" title="belajar"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/belajar.thumbnail.jpeg?w=500" alt="belajar" /></a><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/belajar.jpeg" title="belajar"></a><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/belajar.jpeg" title="belajar"></a> </span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Nong Darol Mahamada memulai tulisannya dengan pertanyaan “Benarkah jilbab itu adalah syariat Islam?” Kemudian, dengan menelaah buku “<em>Kritik Atas Jilbab</em>” karya <em>Muhammad Said Al-Asymawi </em>yang diterbitkan oleh JIL bulan April 2003, Nong Darol menemukan jawabannya, yaitu sebagai berikut.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span><span><span id="more-60"></span></span><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span></strong></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p align="center" style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><strong> Jilbab, Yang Membebaskan</strong>&#8230;.</span></p>
<p align="center" style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p align="center" style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Pada tanggal 4 Juni 2003 yang lalu, website Jaringan Islam Liberal memuat sebuah tulisan mengenai jilbab yang berjudul <strong>Kritik Atas Jilbab </strong>yang ditulis oleh Nong Darol Mahmada. Berikut ini, kami sarikan beberapa poin penting dari tulisan  Nong Darol Mahmada tersebut.</span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Nong Darol Mahamada memulai tulisannya dengan pertanyaan “Benarkah jilbab itu adalah syariat Islam?” Kemudian, dengan menelaah buku “<em>Kritik Atas Jilbab</em>” karya <em>Muhammad Said Al-Asymawi </em>yang diterbitkan oleh JIL bulan April 2003, Nong Darol menemukan jawabannya, yaitu sebagai berikut.</span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">“Sebenarnya konsep hijab bukanlah milik Islam. Dalam kitab Taurat, Injil, bahkan sebelum munculnya agama-agama Samawi, (seperti zaman Asyria), tradisi penggunaan jilbab sudah dikenal. Pelembagaan hijab dalam Islam didasarkan pada ayat 24 Surat An-Nur. Menurut Nong, kalimat dalam ayat itu “<em>hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya” </em>adalah merupakan reaksi dari tradisi pakaian perempuan Arab jahiliah karena menurut tafsir Ibnu Katsir, perempuan zaman jahiliah biasa memperlihatkan lehernya. Artinya, ayat jilbab di atas bersifat kondisional.”</span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Lalu, dengan mengutip Abu Syuqqah, Nong menulis bahwa kalimat “<em>yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal</em>…” dalam ayat 33:59, menunjukkan bahwa maksudnya, penggunaan jilbab adalah untuk membedakan perempuan merdeka dan perempuan budak. Bahkan lebih jauh lagi, Nong mengomentari bahwa ayat ini menunjukkan ambiguitas Islam dalam melihat posisi budak. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span><span></span> <span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Berikut ini tanggapan atas tulisan Nong Darol Mahmada tersebut. Tulisan ini sudah pernah dikirim ke website JIL, namun tidak dimuat. Setelah tulisan ini dimuat di website IRIB dan dibaca banyak orang, baru dimuat oleh JIL, itupun diselipkan di antara sekian banyak komentar, dgn catatan, &#8220;Redaksi tidak pernah menerima tulisan ini.&#8221;</span><span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Selamat membaca!</span><span></span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">***</span></strong><span></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sayang sekali, saya tidak (atau belum) bisa mendapatkan buku “Kritik Atas Jilbab” yang ditulis M.Said Al-Asymawi. Namun, membaca tulisan Nong Darol Mahmada yang diakuinya berdasarkan pengalaman subyektifnya, saya jadi tergelitik untuk berbagi pengalaman subyektif saya sendiri. Dan mungkin, pengalaman ini cukup menarik dibaca karena saya sudah empat tahun hidup di Iran, sebuah negeri yang, kesannya, “serba hitam”.</span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Pertama kali saya datang ke Iran empat tahun yang lalu, saya bertanya-tanya, apakah saya akan diwajibkan ber-<em>chadur</em> (kain hitam yang diselubungkan di seluruh tubuh kecuali muka)? Ternyata benar, semasa saya belajar bahasa Parsi di Int’l Univ. Of Imam Khomeini, kami-kami mahasiswa asing, apapun agama dan mazhabnya, wajib ber-<em>chadur</em>. Baru sebulan belajar, ada beberapa mahasiswa Kristen asal Afrika mempelopori surat protes atas kewajiban pemakaian <em>chadur</em> terhadap mahasiswa asing. Alasannya, <em>wong </em>orang Iran saja tidak wajib ber-<em>chadur</em> mengapa mahasiswi asing diwajibkan? Akhirnya, kami dibebaskan dari <em> chadur</em>.</span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Namun, lulus kuliah bahasa Parsi, saya pindah ke Tehran University, saya kembali diikat oleh kewajiban ber-<em>chadur </em>ini. Saya masuk fakultas teologi dan semua mahasiswi teologi wajib ber-<em>chadur</em>. Sebagian mahasiswi Iran dengan patuh mengenakan <em>chadur </em>di lingkungan kampus, tapi, di luar kampus, <em>chadur</em>-nya dilepas dan dimasukkan ke tas (dan ini pun terkadang saya lakukan karena saya merasa <em>ribeut</em> ber-<em>chadur</em>). <em>Chadur </em>memang tidak diwajibkan oleh pemerintah Iran, yang wajib adalah berjilbab. Semua perempuan di atas sembilan tahun, apapun agamanya, apapun warga negaranya, yang berada di Iran harus mengenakan jilbab bila keluar rumah.  Inipun, akhir-akhir ini tidak begitu dipatuhi lagi oleh banyak perempuan Iran (khusunya di Teheran). Sebagian dari mereka kini lebih suka mengenakan jilbab ala Mbak Tutut, artinya sebagian rambutnya tetap terlihat. Mode baju yang semakin ketat juga mulai meraja-lela, sampai-sampai akhir-akhir ini pemerintah mengadakan razia ke toko-toko baju dan menyita baju-baju yang dianggap tidak sesuai syariat.</span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Walhasil, Iran memang tidak bisa dijadikan contoh sebagai negara yang –secara praktis&#8211; benar-benar ketat menerapkan aturan hijab. Tapi, ada satu bukti tak terbantahkan yang berhasil ditunjukkan Iran, yaitu: jilbab dihadirkan bukan untuk mengekang perempuan. Apa buktinya? Di Iran, semua lapangan pekerjaan bisa dipegang oleh perempuan, mulai dari wakil presiden (menjadi presiden memang belum pernah terjadi, meskipun dibenarkan oleh undang-undang),  pilot, insinyur, dokter, sopir taksi, petani, penyanyi, olahragawan, dan bintang film. Jangan bayangkan bahwa film Iran berkisar pada tema-tema religius atau diperankan anak-anak melulu sebagaimana beberapa film pemenang festival yang pernah diputar di Indonesia. Tema film apapun, termasuk kisah cinta ala Rano Karno dan Yessi Gusman bisa dibuat di Iran dengan bintang film berjilbab atau ber-chadur sekalipun. Tentu saja adegan pelukan dan ciuman antar bintang film tidak dilakukan, tapi itu sama sekali tidak mengurangi keseruan—kecuali kalau niat kita menonton film adalah menyaksikan adegan-adegan panas demi memuaskan nafsu syahwat. Pada Asian Games di Busan yang lalu, seorang perempuan Iran –lengkap dengan jilbabnya—berhasil meraih medali perunggu taekwondo.</span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Karena itu, kalimat yang ditulis Nong “<em>Bila jilbab itu wajib dipakai perempuan, dampaknya akan besar&#8230;.Implikasinya, perempuan tidak bisa melakukan apa-apa sebagai manusia yang diciptakan Allah karena serba manusia</em>.” jelas bertentangan dengan realitas di sebuah negara yang jilbab bukan saja dianggap sebagai kewajiban agama, tetapi juga diwajibkan oleh pemerintah.</span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Meminjam logika Murtadha Muthahhari (di bukunya “Hak-Hak Wanita dalam Islam”),  bila perempuan diwajibkan oleh Islam untuk berkurung diri di rumah, tidak perlu ada aturan berjilbab. Buat apa? Toh yang melihat si perempuan hanya suaminya sendiri atau ayahnya. Jilbab itu justru dipakai bila perempuan akan keluar rumah. Artinya, wajib jilbab berarti ‘wajib’ keluar rumah dan wajib beraktivitas untuk memaksimalkan potensi kemanusiaannya. </span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">            Nah, bila diskusi ini diteruskan dari poin ini, mungkin akan melebar ke mana-mana. Perkenankan saya agak “meng-ilmiahkan” tulisan saya ini. Namun, saya tidak mau bersusah payah adu argumentasi ayat Quran atau hadis (atau, sejujurnya, saya sedang malas membuka-buka buku-buku agama). Bisa dianalogikan dengan orang Islam dan Kristen saling beradu argumen tentang kebenaran agamanya masing-masing. Si Muslim menyodorkan ayat-ayat Quran sebagai argumennya, sementara  si Kristen menyodorkan ayat-ayat Injilnya. Jelas tidak akan ada titik temu. Kalimat terakhir mereka akan berbunyi: bagimu agamamu, bagiku agamaku. Diskusi antara mereka berdua hanya bisa mencapai titik temu bila alat yang dipakainya adalah alat yang universal, dimiliki semua orang dari semua agama, yaitu akal. </span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Tulisan saya ini pun hanya akan memberikan argumentasi <em>mantiqi</em> (logika, akal). Karena, mungkin saya dan Nong, meskipun sama-sama muslim, tidak sepakat dalam masalah teologis, masalah penafsiran ayat, hadis, sumber-sumber hadis mana yang bisa dipercaya, dan sejenisnya. Jadi, tidak ada gunanya berdebat dari sudut ini. Setuju?</span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">            Premis pertama yang harus sama-sama diakui ketika kita ingin membicarakan masalah jilbab adalah apakah Islam itu agama hukum (syariat) atau bukan? Artinya, apakah kita mengakui Islam itu adalah agama dengan seperangkat aturan hukum atau tidak? Bila tidak, jilbab malah sama sekali tidak perlu dibahas. Buat apa? Ketika kita menganggap bahwa ayat-ayat Al-Quran tidak bisa dijadikan landasan utama batasan atau hukum – atau dalam istilah Ulil Abshar-Abdalla dalam artikelnya Agama, Akal, dan Kebebasan, wahyu hanyalah sekedar ”&#8230;<em>membawa suatu wawasan tertentu mengenai yang baik dan yang jahat. Wahyu dapat mengangkat derajat akal manusia ke tingkat yang lebih tinggi dan bermutu untuk dapat lebih memahami batas-batas</em>. “—adalah non-sense membicarakan aspek-aspek hukum dalam Islam. Artinya, sah-sah saja bila kita menafikan semua aturan yang (dianggap) ada dalam Islam. Tidak perlu kita capek-capek sholat lima kali sehari semalam bila kita tidak meyakini adanya syariat itu. Tidak perlu takut dianggap kafir, karena istilah kafir itupun akan menjadi bias dalam konteks ini.</span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Murtadha Muthhari dalam bukunya &#8220;Keadilan Tuhan&#8221; menulis bahwa orang yang tidak kenal Tuhan sekalipun bisa masuk surga bila memang orang itu telah mengerahkan segala daya upayanya untuk menemukan Tuhan, tapi tetap tak bertemu dengan Tuhan. </span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Bila kita sudah menyepakati bahwa Islam adalah agama yang memberikan segenap aturan yang berupa syariat, mana yang boleh, mana yang tidak, (dengan pembahasan filosofis yang panjang, dan saya kira amat dangkal bila disimpulkan “O&#8230;kalau begitu, Islam itu hanya buat keledai, yang harus diatur-atur, dikasih tahu mana yang benar, mana yang salah), kita bisa melangkah ke premis kedua, bagaimana proses <em>tasyri’</em> (penetapan hukum) terjadi? </span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Proses <em>tasyri’</em> dalam masalah ibadah (misalnya, mengapa haji harus mengelilingi Ka’bah) terjadi –ringkasnya—secara arbitrer alias: suka-suka Tuhan, Dia yang menentukan. Tapi, proses <em>tasyri’ </em>dalam masalah sosial selalu bersifat kontekstual (dan masuk akalnya memang seharusnya begitu). Proses ini bisa saja berupa <em>imdha’ </em>(pengukuhan—budaya yang ada memang sesuai dengan prinsip islam lalu diadopsi dan ditetapkan sebagai hukum Islam) atau sebaliknya, berupa <em>rad</em> (penolakan). Seluruh fenomena budaya direspons secara proaktif oleh hukum Islam (kadang-kadang hukum yang muncul melebar melebihi keperluan temporer). Justru inilah yang menjadi salah satu ciri progresivitas hukum Islam. </span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">            Dari sini, bisa disimpulkan bahwa ayat jilbab (QS 33:59) memang kontekstual. Bisa dicatat di sini, artinya, mengenakan jilbab bukan berasal dari budaya orang Arab, tapi, justru Islam yang memerintahkan kepada perempuan Arab saat itu untuk mengubah cara berpakaiannya. Nah, di sinilah proses <em>tasyri’  </em>Islam terjadi. Ketika sudah ditetapkan, maka akan menjadi hukum abadi, tidak peduli bagaimana asalnya dan bagaimana konteksnya ketika diturunkan.</span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">            Bila kita membantah proses ini, pada saat yang sama akan terbantah pula seluruh proses <em>tasyri’</em> yang lain dalam bangunan Islam. Misalnya dalam budaya Arab Jahiliah, anak angkat tidak ada bedanya dengan anak kandung. Tuhan memberikan respon <em>syar’i</em> dengan memerintahkan Rasul menikahi Zainab binti Jahsy, mantan istri anak angkatnya. Dengan demikian terjadi aturan <em>syar’i</em> baru bahwa anak angkat tetaplah anak angkat, yang bukan muhrim dan tidak berhak dimasukkan dalam pembagian warisan mendapatkan warisan (tentu saja, berhak mendapat hibah harta dari orang tua angkatnya—hibah berbeda aturannya dengan waris). Atau, kaum Arab Jahiliah dulu tidak punya aturan dalam menikah (boleh berapa saja), Islam memberi aturan, maksimal empat.</span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dengan demikian, pernyataan Mernisi yang dikutip Nong bisa dijawab “So, what?”. Nong menulis, “<em>Seperti yang dikemukakan Fatima Mernisi dalam buku Wanita dalam Islam, dalam masa-masa awal kehidupan Islam, ruang yang diciptakan Nabi sepertinya tidak ada dikotomi antara ruang privat Nabi dan isteri-isterinya dengan kaum muslimin lainnya. QS 33:53 menegaskan akan ruang privat Nabi dan isteri-isterinya yang berarti diduga sebelumnya tidak dikotomi publik dan privat.”</em></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Ya, <em>so what</em>? Memang mungkin, sebelum Islam datang, tidak ada pemisahan antara laki-laki dan perempuan dalam interaksi publik maupun privat. Lalu? Ketika kita memeluk agama Islam, apa itu artinya kita bersedia mematuhi aturan-aturan yang ditetapkan setelah Islam turun atau lebih memilih melaksanakan kebiasaan sebelum Islam turun? Jangankan soal agama, ketika kita bekerja di sebuah instansi, kita harus mau mematuhi peraturan-peraturan di instansi itu, bila tidak, direktur pasti bilang, “Silahkan keluar.”</span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">            Saya tergelitik juga untuk mengomentari pendapat Nong tentang ayat jilbab (QS 33:59). Nong menulis: &#8230;<em> Inilah yang dipahami bersifat elitis dan diskriminatif. Karena dengan ayat ini, ingin membedakan status perempuan dengan budak. Di sini dapat dilihat ambiguitas Islam dalam melihat posisi budak. Satu sisi ingin menghancurkan perbudakan, di sisi lain masih mempertahankannya dalam strata masyarakat Islm misalnya dalam perbedaan pakaian di atas</em></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Saya yakin, Nong bukanlah ahli tafsir –dalam keilmuan konvensional Islam, yang berhak menjadi penafsir Al-Quran haruslah orang yang sudah menguasai berbagai cabang keilmuan Islam, bukan sekedar paham bahasa Arab—begitu pula saya. Tapi, karena dalam wacana Islib sepertinya semua orang berhak menafsirkan ayat Quran sesuai pemahamannya sendiri, saya pun tidak mau ketinggalan memberikan kemungkinan penafsiran menurut versi saya sendiri, dengan basis logika.</span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">            <em>Pertama</em>, sebagaimana saya sebutkan di atas, syariat Islam memang responsif terhadap kondisi masyarakat. Di zaman jahiliah, yang namanya budak itu dikuasai sepenuhnya, jiwa dan raga oleh tuannya. Islam hadir dengan seruan memerdekakan budak, atau bila tidak, izinkan budakmu untuk memeluk keyakinannya sendiri. Tenaga si budak memang milik tuannya, tapi jiwa dan nuraninya adalah miliknya sendiri. Bahkan, dalam hukum waris disebutkan, bila si tuan tidak punya ahli waris (dan disebutkan perinciannya,siapa saja yang berhak menjadi ahli waris), maka warisan itu akan jatuh ke tangan budaknya yang digunakannya untuk memerdekakan dirinya. Walhasil, saya menolak adanya kesan ambigu itu.</span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">            <em>Kedua</em>, bila ayat jilbab boleh ditafsirkan sebagai pembeda antara budak dengan orang merdeka, berarti boleh pula ditafsirkan dengan cara lain, misalnya “Lho&#8230; maksudnya, bukan membedakan antara budak dengan merdeka, (toh ayat itu sama sekali tidak menyebut kata budak, berarti sah-sah saja, dong, saya memberikan kemungkinan penafsiran yang lain) tapi, membedakan antara yang muslim dengan yang bukan muslim.”  </span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">            Mungkin sampai di sini perdebatan akan dilanjutkan dengan argumen Nong bahwa penafsiran ayat itu berasal dari ahli tafsir Abu Syuqqah. Masalahnya, saya tidak mengakui kevalidan Abu Syuqqah, sebagaimana mungkin Nong tidak akan mau mengakui kevalidan Muhsin Qiraati, misalnya, seorang ahli tafsir kontemporer Iran yang sangat saya akui kehebatannya. Jadi, terpaksa kita kembali ke fasilitas universal yang sudah disediakan Tuhan untuk semua umat manusia, yaitu akal dan logika.</span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">            Terakhir, penafsiran Nong tentang ayat itu bisa saya simpulkan sebagai berikut: kaum perempuan Jahiliah punya kebiasaan pakai kain di kepala tapi tidak ditutupkan ke dadanya (ini juga diakui oleh Murtadha Muthahhari yang mengutip catatan sejarah Will Durrant “Sejarah Peradaban”). Berarti, ayat yang berbunyi “<em>hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya</em>” adalah perintah bagi “mereka” itu yang memang asalnya sudah mengenakan kain di kepalanya. Kesimpulannya, perintah jilbab bukan untuk semua muslimah sepanjang zaman.</span></p>
<p style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Argumen bantahan untuk ini, bisa dari dua sisi. <em>Pertama</em>, dalam ilmu<em> ushul </em>(yurisprudensi Islam), ada pembahasan khusus tentang redaksi hukum dan ini amat berkaitan dengan logika, yaitu <em>mafhum muwaffaqah</em>.<strong> </strong>Misalnya, dalam Al-Quran hanya disebutkan ”<em>Wa la taquuluu lahuma uffin</em>” –janganlah berkata “<em>uff</em>” (kepada orangtuamu). Logikanya, kalau berkata <em>uff</em> saja tidak boleh, apalagi memaki, memukul, atau menelantarkan orangtua. Dari sudut pandang ini, sangat masuk akal bila ayat-ayat Quran seringkali hanya berupa isyarat hukum dan tidak terperinci. Adalah sangat tidak masuk akal bila sebuah undang-undang dasar harus memuat segala aturan secara detil dan terperinci, karena pasti akan memakan ribuan atau puluhan ribu halaman. Berarti, masuk akal pula bila dalam ilmu Islam puluhan ribu buku telah ditulis—dan akan terus ditulis—untuk menafsirkan Quran.</span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sehubungan dengan jilbab, bila diperintahkan untuk mengulurkan kain (yang semula sudah melekat di kepala) ke dada, logikanya, mengenakan kain jilbab (yang tadinya sama sekali tidak ada di kepala) lebih wajib lagi.</span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Argumen kedua, Nong (atau siapa saja yang menganggap jilbab tidak wajib dalam Islam) berdalil bahwa perintah itu adalah untuk “mereka”, bukan kamu (meskipun, selengkapnya ayat ini berbunyi, “Hai Nabi, katakanlah kepada istrimu, anak-anakmu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, yang demikian itu supaya mereka mudah dikenal dan tidakdiganggu dan sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”—artinya, yang dimaksud dengan “mereka” itu sudah amat eksplisit).</span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> Dalam ilmu tafsir Quran, kita bisa pelajari bahwa kata perintah dalam Quran tidak selalu menggunakan kata ganti kedua (kamu) atau <em>dhamir mukhatab</em>, melainkan kadang-kadang dipakai juga kata ganti orang ketiga (<em>dhamir ghaib</em>). Jika perintah dalam Al-Quran harus menggunakan <em>dhamir</em> yang jelas, baru dianggap berterima, maka banyak sekali perintah dalam Quran yang tertolak. Contoh gampangnya, <em>qul huwallahu ahad</em>. (Katakanlah  [hai Nabi] bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.) Bisa saja kita berdalih, “Lho&#8230;yang disuruh berkata bahwa tidak ada tuhan selain Allah itu cuma Nabi kok, bukan kita&#8230;”</span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Surat Al-Hajj ayat 29 juga bisa dipakai sebagai bukti bahwa perintah Tuhan tidak selalu menggunakan kata ganti orang kedua. “<em>Walyatawwafuu bil baitil atiiq</em>” (dan hendaklah mereka bertawaf di sekitar Ka’bah). Artinya, ada hukum bahwa dalam haji, bertawaf itu bukan di <em>dalam </em>Ka’bah, tapi <em>mengelilingi</em> Ka’bah. Perintah itu bukan buat “mereka” saja, tapi, seluruh umat Islam sampai hari ini tidak ada yang bertawaf di dalam Ka’bah, melainkan mengelilingi Ka’bah.</span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Walhasil, bisa disimpulkan bahwa perintah jilbab itu bukan hanya buat “mereka” tetapi juga buat  “kamu”, yaitu muslimah sepanjang zaman.  </span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:left;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dari sini, mungkin kita bisa menyepakati bahwa memahami syariat tidaklah semudah membaca satu buku saja. Banyak cabang ilmu yang harus dijadikan pertimbangan. Karena itu, bila perdebatan ini dilanjutkan pada pertanyaan, “Yang jadi masalah, manakah yang kita akui sebagai syariat, mana yang bukan? Mana yang benar-benar diturunkan Tuhan, mana yang di-institutionalized oleh sebagian ulama picik?”, ada sederet proposisi yang harus disepakati dulu. Bila proposisi-proposisi itu tidak disepakati, hasilnya adalah debat kusir yang tidak akan berujung kemana-mana. Di antara proposisi-proposisi tersebut adalah: mana yang diakui sebagai sumber hukum dalam Islam? </span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sebagian orang akan menjawab: Quran, sunnah, ijma’, qiyas. Sebagian akan menolak sunnah, sebagian malah mungkin menolak Quran itu sendiri. Yang saya pelajari di Iran, sumber hukum itu ada empat, yaitu Quran, dua sunnah, yaitu sunnah Nabi (tapi itupun dengan batasan-batasan tersendiri versi Syiah yang jelas berbeda dengan mazhab lainnya) dan sunnah 12 Imam (12 keturunan Rasul), ijma’ (dengan batasan bahwa yang dimaksud ijma’ adalah kesepatan para ulama tentang apa yang terkandung dalam Quran dan Sunnah, bukan kesepakatan arbitrer di antara para ulama), dan akal (juga dalam pengertian yang khas, yaitu berbagai kaidah akal untuk memahami logika hukum, bukannya pendapat akal <em>an sich</em>). Untuk memutusan mana syariat, mana yang bukan, semua fasilitas itu harus dikuasai (dan itu artinya sebuah proses belajar puluhan tahun dan “menelan” ribuan buku). </span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dalam mazhab Syiah, kesulitan ini teratasi dengan konsep “taklid”, artinya, orang-orang yang memang tidak berkesempatan (atau tidak mampu) mempelajari semua itu, diwajibkan untuk patuh kepada kata-kata para ulama yang memang sudah diakui oleh civitas akademi keilmuan Islam sebagai ulama tingkat tinggi yang sudah boleh ditaklidi. Dan, proses penetapan syariat itu hingga kini terus berjalan karena dalam mazhab ini, pintu ijtihad tidak dinyatakan tertutup. Hal ini jelas lebih masuk akal karena zaman berputar dan banyak masalah-masalah baru yang timbul, misalnya bolehkah kloning pada manusia, dll? </span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Terlepas dari apapun mazhab saya, inilah yang menurut saya jalan keluar terbaik dan cenderung mengurangi perbedaan pendapat di antara umat. Masuk akal karena, bila semua orang sibuk mempelajari agama, siapa yang harus jadi dokter, insinyur, tukang becak, tukang bangunan, presiden, politikus, dll? Karena itulah, di Iran, saya lihat orang cenderung tidak pusing-pusing soal fiqih. Bila dia ber-taklid pada Ayatullah Sistani, misalnya, (ulama besar yang juga ditaklidi sebagian besar umat Syiah Irak), dia akan membuka buku petunjuk fiqih yang ditulis oleh sang Ayatullah (atau, menelpon langsung ke kantor perwakilan sang Ayatullah)  dan tidak perlu repot-repot berdebat dengan sesama orang awam atau orang yang sedikit-sedikit tahu agama lalu mengaku sebagai ustadz. Dan, saya pikir ini adalah salah satu yang diberontak oleh islib, bukan? Dunia ini ruwet ketika hampir semua orang merasa berhak memutuskan ini haram, ini halal.</span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Terakhir, bila di Iran kini sebagian perempuan dan beberapa orang yang mengaku ulama menyuarakan agar dibebaskannya kaum perempuan Iran dari jilbab, itu sama sekali tidak bisa dijadikan <em>hujjah</em> (argumen) benar atau tidaknya sebuah negara mewajibkan pemakaian jilbab. Pengalaman subyektif saya yang ingin saya sampaikan terakhir adalah masalah keterbebasan dari mode (dan inilah yang saya angkat sebagai judul tulisan ini). </span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p style="direction:ltr;text-indent:0.5in;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Ya, berjilbab di Iran (yang artinya juga mengenakan pakaian panjang dengan warna yang gelap  atau minimalnya kalem) saya lihat justru membebaskan kaum perempuan dari mode. Pergi kuliah atau ke kantor memakai baju dan jilbab yang itu-itu selama bertahun-tahun bukanlah aib atau aneh. Tidak ada yang peduli. Bahkan, bila seorang perempuan ber-<em>chadur</em>, dia akan lebih merdeka lagi dari yang namanya mode. Mau pakai pakaian apapun tidak akan terlihat orang. Tapi, fitrah perempuan pun bukannya hilang. Berdandan adalah fitrah perempuan. Kompensasinya, perempuan Iran cenderung berpakaian cantik dan seksi di rumah. Hasilnya, secara sosial kaum laki-laki (terutama yang belum menikah) terbebas dari “siksaan batin” menonton keindahan tubuh perempuan yang tidak bisa dia “jamah”, kaum perempuan tidak perlu sibuk-sibuk berdandan ketika akan keluar rumah, dan di rumah, suami-suami disuguhi istri dengan pakaian seksi. </span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span><span></span> <span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Saya merasakan sendiri kemerdekaan berpakaian seperti ini. Tidak ada yang peduli saya pakai apa, atau bila saya pakai baju dan jilbab yang sama selama tiga hari berturut-turut sekalipun. Juga, bila saya pakai baju dan jilbab baru pun, tak ada yang peduli, karena ketiadaan mode membuat orang sulit mengenali mana jilbab baru, mana jilbab lama. Menurut saya, inilah satu versi lain dari kebebasan. Tentu, kebebasan seperti ini tidak didapat bila seseorang yang berjilbab pun ingin tetap menarik perhatian orang lain dengan jilbabnya itu. Dan, kebebasan seperti ini jelas tidak didapatkan oleh mereka yang tidak berjilbab, yang tiap saat harus pusing dengan penampilan dan model (atau minimalnya, kerapihan) rambutnya.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[Dina Sulaiman, ]</span><span></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Tehran, Akhir Musim Semi, 2003]</span><span></span><span dir="ltr"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/60/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/60/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=60&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/24/jilbab-yang-membebaskan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/belajar.thumbnail.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">belajar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>20 Tahun Sebelum Kelahiran &#8230;</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/24/20-tahun-sebelum-kelahiran/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/24/20-tahun-sebelum-kelahiran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2007 08:18:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi Keluarga & Pendidikan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/24/20-tahun-sebelum-kelahiran/</guid>
		<description><![CDATA[Ia menjawab: “20 tahun sebelum kelahirannya. Jika tidak berhasil, maka harus dimulai lebih cepat dari itu”. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- 20 Tahun Sebelum Kelahirannya …  Sejak Kapankah Pendidikan Anak dimulai? Jawab: Sebagian mengatakan sejak umur 6 / 7 tahun, karena pada usia tersebut anak telah dapat menyampaikan kepada orang lain berkaitan dengan apa yang terdapat di benaknya. Pendapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=59&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Ia menjawab: “20 tahun sebelum kelahirannya. Jika tidak berhasil, maka harus dimulai lebih cepat dari itu”.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span id="more-59"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</font></p>
<p align="center"><strong><font face="Times New Roman">20 Tahun Sebelum Kelahirannya …</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Sejak Kapankah Pendidikan Anak dimulai?</font></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><strong>Jawab: </strong>Sebagian mengatakan sejak umur 6 / 7 tahun, karena pada usia tersebut anak telah dapat menyampaikan kepada orang lain berkaitan dengan apa yang terdapat di benaknya.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Pendapat lain mengatakan pendidikan dimulai sejak anak lahir. Seorang psikolog mengatakan bahwa ketika seorang bijak ditanya, “Sejak kapan pendidikan anak dimulai? Ia menjawab: “20 tahun sebelum kelahirannya. Jika tidak berhasil, maka harus dimulai lebih cepat dari itu”.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Inilah beberapa pendapat berkenaan dengan jawaban soal di atas. Sebenarnya, pertanyaan sejak kapan pendidikan dimulai. Jika kita lihat makna pendidikan, maka harus ada yang jadi obyek (yang dididik). Bagaimana mungkin mau mendidik, akan tetapi obyek yang dididiknya tidak ada. Oleh karena itu. Maksud pendidikan dimulai sejak sebelum kelahiran bayi ialah, factor-faktor yang jika dilakukan maka akan mempermudah dalam pendidikan anak di masa yang akan datang. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Oleh karenanya dalam sebuah hadis Imam Ali as berkata; “Sesunggguhnya hati sanubari anak-anak seperti tanah kosong. Apa saja yang ditanam padanya maka akan tumbuh…” (Nahjul-Balaghah, karya Muhamad Abduh, jil 3, hal 40, dinukil dari <em>Tarbiyate Farzan </em>(Pendidikan anak, Syed Ali Hasan Zadeh, hal 32). Menariknya Imam Ali menggunakan ibarat tanah kosong. Kita ketahui bahwa tidak setiap tanah dapat ditanami, karena ada yang tanah subur dengan hanya melemparkan biji pohon maka akan tumbuh. Namun adapula tanah<span>  </span>gersang, yang sulit ditanami, kalau ingin menanam sesuatu padanya, maka memerlukan kerja keras yang sangat.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Hal di atas menerangkan tentang pengaruh genetic pada kepribadian seoarng anak di masa yang akan datang. Pengaruh kedua orang tua terhadap kepribadiannya. Namun bukan berarti hal ini meniadakan usaha dan ikhtiyar anak dan membangun kepribadiannya. Dalam Islam kepribadian anak dapat dibentuk melalui factor-faktor genetic, lingkuangan dan usaha ia sendiri. perbedaan pada tiga factor di sini hanyalah dari sisi presentase saja. <span> </span><span>  </span></font></p>
<p><font face="Times New Roman">Dan factor genetik berkaitan sebelum kelahiran anak yaitu berkaitan dengan kedua orang tua. Oleh karena itu, Islam memberikan beberapa kiat agar kelak anaknya menjadi anak yang sehat dan saleh. Di antaranya memilih calon istri atau suami yang sehat jasmani dan ruhani. Karena suami kita akan menjadi bapak dari anak kita di waktu yang akan datang. Sebaliknya istri kita akan menjadi ibu dari anak kita di waktu yang akan datang.Mereka akan memberikan pengaruh pada kepribadian anak kita. </font></p>
<ul>
<li><font face="Times New Roman">Dalam sebuah Hadis Rasulullah saw telah bersabda: “Nikahkanlah anak laki-lakimu dengan (perempuan) yang sepadan denganya (keimanan), begitu pula anak perempuanmu…”.(Wasa’il, jil 14 hal 29, dinukil dari<em> Tarbiyate Farzan </em>(Pendidikan anak), Syed Ali Hasan Zadeh, hal 42)</font></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<ul>
<li>
<p class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dalam hadis lain beliau bersabda: “Jika ada seseorang yang beriaman dan berakhlak baik<span>  </span>melamar anak perempuamu maka terimalah”.(Al-Kafi, jil 5 hal 347, dinukil dari<em> Tarbiyate Farzan </em>(Pendidikan anak), Syed Ali Hasan Zadeh, hal 48)</font></p>
</li>
</ul>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<ul>
<li class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dalam hadis lain beliau bersabda: “Lihatlah dimana engkau letakkan anakmu, karena nadi dan akar keturunannya akan berpengaruh terhadap anakmu”.(Kanzul-Umal, jil 15, hal 855, dinukil dari<em> Tarbiyate Farzan </em>(Pendidikan anak), Syed Ali Hasan Zadeh, hal 48)</font></li>
</ul>
<p><font face="Times New Roman">Beberapa hadis di atas mengisyaratkan akan pentingnya memilih pasangan hidup dan pengaruhnya bagi kepribadian anak. Bagi yang belum memiliki pasangan maka akan menjadi bekal dalam mencari ibu atau ayah anaknya di masa yang akan datang. Dan untuk yang sudah memiliki pasangan hidup, tidak usah pesimis insyaAllah masih ada cara lain agar anak kita menjadi anak kita harapkan dan cahaya mata kita. Insya Allah</font></p>
<p><font face="Times New Roman">[Euis D,<span>  </span><em>Tarbiyate Farzan </em>(Pendidikan anak), Syed Ali Hasan Zadeh]</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/59/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/59/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=59&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/24/20-tahun-sebelum-kelahiran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8216;Hak Tuhan Berada di atas Hak Suami&#8217;</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/22/hak-tuhan-berada-di-atas-hak-suami/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/22/hak-tuhan-berada-di-atas-hak-suami/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Apr 2007 17:56:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/22/hak-tuhan-berada-di-atas-hak-suami/</guid>
		<description><![CDATA[Ia memahami maksud pertanyaanku, seusai menarik nafas lantas ia berujar: “Suamiku telah melarangku mengenakan jilbab, dan memerintahkanku untuk menanggalkannya. Ia tidak menyukai aku berbusana muslimah. Sebenarnya, aku ingin sekali memakai busana muslimah, tapi bagaimana lagi seorang istri harus mentaati perintah suaminya”.   &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;  ‘Hak Tuhan Berada di atas Hak Suami’ Pada suatu hari, tanpa terduga saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=58&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="line-height:15.6pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Ia memahami maksud pertanyaanku, seusai menarik nafas lantas ia berujar: “Suamiku telah melarangku mengenakan jilbab, dan memerintahkanku untuk menanggalkannya. Ia tidak menyukai aku berbusana muslimah. Sebenarnya, aku ingin sekali memakai busana muslimah, tapi bagaimana lagi seorang istri harus mentaati perintah suaminya”.   </font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span id="more-58"></span></font><font face="Times New Roman"><strong><strong><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; </font></strong></strong></font></p>
<p align="center"><strong><span style="font-family:Georgia;"></span></strong><font face="Times New Roman"><strong>‘Hak Tuhan Berada di atas Hak Suami’</strong></font></p>
<p><font face="Times New Roman">Pada suatu hari, tanpa terduga saya bertemu dengan teman lama. Rasa senang telah meliputi kami, mengingatkan akan masa lalu ketika kami masih bersama-sama. Setelah melepasan rasa kangen, lalu kami menceritakan tentang keadaan masing-masing selama berpisah. Ia dengan bersemangat menceritakan tentang keadaan anak dan suaminya kepadaku. Begitu pula akupun dengan penuh semangat menceritakan tentang keadaan keluargaku. </font><font face="Times New Roman"><br />
</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Ada satu hal yang telah membuatku heran, perubahan yang telah terjadi pada teman lamaku ini. Selagi kami bersama ia selalu mengenakan busana muslimah. Namun sekarang ia telah menanggalkannya. Ia merasakan keherananku, dan kulihat ada perasaan grogi saat berbicara denganku. Setelah berbicara lama, untuk menghilangkan rasa heranku, akhirnya aku tanyakan juga kepadanya tentang hal itu. “Temanku, maaf sebelumnya bukan aku mau ikut campur dalam urusanmu. Sepertinya ada perubahan pada dirimu, dan ada sesuatu yang hilang darimu?” ujarku kepadanya. <span style="font-family:Georgia;"></span></font><font face="Times New Roman">Ia memahami maksud pertanyaanku, seusai menarik nafas, lantas ia berujar: “Suamiku telah melarangku mengenakan jilbab, dan memerintahkanku untuk menanggalkannya. Ia tidak menyukai aku berbusana muslimah. Sebenarnya, aku ingin sekali memakai busana muslimah, tapi bagaimana lagi seorang istri harus mentaati perintah suaminya”.   </font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-family:Georgia;"></span></font><font face="Times New Roman">Sebetulnya, fenomena semacam ini banyak kita temui pada masyarakat kita. Kisah di atas hanyalah sebagai salah satu contoh atas ketidaktahuan batasan ketaatan istri pada suami. Tujuan kami di sini, bukan untuk mengajari para istri untuk membangkang kepada perintah suaminya dan merusak rumah tangga orang. Kami hanya ingin memberikan pemahaman yang benar tentang ketaatan pada suami, serta menjelaskan batasannya. Sehingga para istri tidak terjerumus kepada perbuatan yang sebenarnya pada saat itu Allah tidak memerintahkan seorang istri untuk mentaati perintah suaminya. Namun, ia melakukannya karena ketidaktahuan dan menurutnya dalam rangka menjalankan perintah Allah swt untuk mentaati suami.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-family:Georgia;"></span></font><font face="Times New Roman">Sebuah pertanyaan<strong>: “Apakah seorang istri harus tetap mentaati perintah suaminya meskipun perintah tersebut bertentangan dengan perintah Allah swt?”. </strong></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-family:Georgia;"></span></font><font face="Times New Roman">Agar permasalahan menjadi jelas, maka sebelumnya harus diketahui terlebih dahulu jawaban dari pertanyaan berikut ini: “Kenapa istri harus taat kepada suami? Siapa yang yang telah memerintahkan hal itu? Dan siapa yang telah memberikan hak untuk dita’ati kepada seorang suami?”<span style="font-family:Georgia;"></span></font><font face="Times New Roman">Sebagaimana diketahui dalam ajaran Islam, istri harus taat kepada suaminya karena perintah Allah swt. Dan yang memberikan hak kepada seorang suami  untuk ditaati oleh istrinya adalah Allah swt. Seperti halnya kasus hukum ketaatan seorang anak kepada orang tuanya sebagaimana telah dijelaskan dalam ayat al-Qur’an dan hadis. Jika Allah swt tidak memerintahkan dan memberikan hak kepada suami untuk ditaati, maka seorang suami ataupun orang tua tidak mememiliki hak untuk ditaati.<span style="font-family:Georgia;"></span></font><font face="Times New Roman">Kenapa seorang istri harus mentaati suaminya? Karena Allah swt telah memerintahkannya. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Oleh karena itu, ketaatan pada suami tidak bersifat independen. Dengan arti lain, jika perintah suami bertentangan dengan perintah Allah swt, istri tidak diperbolehkan untuk melaksanakannya. Suami memerintahkan istrinya untuk menanggalkan jilbab, sementara Allah swt telah memerintahkan seorang muslimah untuk mengenakan jilbab, maka dalam hal ini istri tidak boleh mentaati perintah suaminya. Karena perintah suaminya bertentangan dengan perintah Allah swt, yaitu seorang muslimah hendaknya mengenakan jilbab. Suami memiliki hak untuk ditaati istrinya tersebut, dikarenakan anugerah dari Allah swt. Maka secara otomatis perintahnya akan menjadi gugur jika bertentangan dengan pemiliki asli hak untuk ditaati, yaitu Allah swt..<span style="font-family:Georgia;"></span></font><font face="Times New Roman">Seorang istri dilarang mengenakan jilbab, seperti halnya dilarang melakukan shalat. Maka ia tidak wajib mentaati perintah suaminya.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Kesimpulan obyek-obyek kewajiban dan larangan (yang diharamkan), maka suami tidak memiliki hak untuk memerintah ataupun melarangnya. <span style="font-family:Georgia;"></span></font><font face="Times New Roman">Dalam sebuah hadis Imam Shadiq as (Imam ke-6) Bersabda: “<em>La Tha’ata li Makhlukin fi Ma’shiyati al-Khalik </em>(Tiada keta’atan pada makhluk, dalam kemaksiatan (berbuat dosa) terhadap Allah swt)”. <span style="font-family:Georgia;"></span></font><font face="Times New Roman">Tentunya, menolak perintah suami yang bertentangan dengan perintah Allah swt dilakukan dengan cara yang baik, dan tidak menggunakan cara yang arogan serta tetap dilakukan dengan rasa hormat. Seorang istri yang cerdas tentu akan dapat mengetahui dan memberikan penjelasan dengan berbagai trik kepada suaminya, untuk menolak perintah suaminya yang tidak sesuai dengan perintah Allah swt dengan memohon pertolongan kepada Allah swt.. Sehingga kondisi keluarga tidak goyah dan tetap terjaga keutuhan serta keharmonisannya. InsyaAllah…   </font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-family:Georgia;"></span></font><font face="Times New Roman">[Euis Daryati, Mahasiswi S2 Jurusan Tafsir, Bintul Huda – Qom - Iran]  <span style="font-family:Georgia;"></span></font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/58/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/58/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/58/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=58&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/22/hak-tuhan-berada-di-atas-hak-suami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjawab Mis-Undertanding antara Anjuran dan Kewajiban versi Imam Khumaini ra (3); Pahala Melayani Istri dan Sebaliknya, Melayani Suami</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/22/menjawab-mis-undertanding-antara-anjuran-dan-kewajiban-versi-imam-khumaini-ra-3-pahala-melayani-istri-dan-sebaliknya-melayani-suami/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/22/menjawab-mis-undertanding-antara-anjuran-dan-kewajiban-versi-imam-khumaini-ra-3-pahala-melayani-istri-dan-sebaliknya-melayani-suami/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Apr 2007 17:50:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/22/menjawab-mis-undertanding-antara-anjuran-dan-kewajiban-versi-imam-khumaini-ra-3-pahala-melayani-istri-dan-sebaliknya-melayani-suami/</guid>
		<description><![CDATA[Bahkan dalam beberapa riwayat, dijelaskan pula tentang pahala dan balasan atas pelayanan yang dilakukan istri untuk suaminya, ataupun suami untuk istrinya, yang bukan merupakan kewajibannya. Tetapi mereka lakukan karena Allah, dan karena rasa kasih dan sayang yang terjalin antara satu sama lainnya. Dan pasangan tersebut, tidak mengatakan lagi di antara keduanya aku dan engkau. Tapi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=57&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Bahkan dalam beberapa riwayat, dijelaskan pula tentang pahala dan balasan atas pelayanan yang dilakukan istri untuk suaminya, ataupun suami untuk istrinya, yang bukan merupakan kewajibannya. Tetapi mereka lakukan karena Allah, dan karena rasa kasih dan sayang yang terjalin antara satu sama lainnya. Dan pasangan tersebut, tidak mengatakan lagi di antara keduanya aku dan engkau. Tapi, selalu mengatakan kita, seakan-akan sudah menjadi satu jiwa dan satu nafas. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span id="more-57"></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</font></p>
<p align="center"><strong><span style="font-size:14pt;color:black;"><a href="http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/19/menjawab-mis-undertanding-antara-anjuran-dan-kewajiban-versi-imam-khumaini-ra-1-relasi-hak-dan-kewajiban/" title="Permanent Link to Menjawab Mis-Undertanding antara Anjuran dan Kewajiban versi Imam Khumaini ra (1); Relasi Hak dan Kewajiban"><span style="color:black;text-decoration:none;"><font face="Times New Roman">Menjawab Mis-Undertanding antara Anjuran dan Kewajiban versi Imam Khumaini ra (3); </font></span></a><font face="Times New Roman">Pahala Melayani Istri dan Sebaliknya, Melayani Suami</font></span></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Seperti yang dapat kita lihat dalam surat al-A’raf ayat 189 dan surat ar-Ruum ayat 21. Dalam rangka menerangkan salah satu hikmah pernikahan, dalam surat ar-Ruum Allah swt menjelaskan: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia telah menciptakan untuk kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian sendiri (manusia), supaya kalian merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang&#8230;”. Roghib al-Isbahani menjelaskan bahwa kata “<em>zauj</em>” yang jamaknya “<em>azwaj</em>” digunakan untuk menunjukkan pasangan, baik itu manusia, hewan ataupun benda. Tidak hanya mendefinisikan istri tapi digunakan untuk suami maupun istri. Oleh karenanya, dalam tafsirnya, Allamah Thaba’thaba’i menjelaskan bahwa Allah telah menciptakan untuk manusia pasangan hidup dari jenisnya sendiri, laki-laki untuk perempuan begitu pula sebaliknya yang satu sama lain saling membutuhkan, saling memberikan ketenangan, masing-masing dari mereka memiliki kekurangan dan dengan hidup berpasanganlah mereka menjadi sempurna.[42] Sedang dalam terjemahan DEPAG edisi revisi tahun 1990, ayat di atas diterjemahkan sebagai berikut: “Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia telah menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri…”. Jadi dalam terjemahan ini, “<em>zauj</em>” diartikan sebagai istri.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Dalam lanjutan ayat dinyatakan, Allah menjadikan rasa kasih dan sayang di antara pasangan tersebut. Ini mengisyaratkan bahwa salah satu pondasi pernikahan atau rumah tangga adalah rasa kasih dan sayang di antara pasangan hidup. Begitupula dalam surat al-Baqarah ayat 187, Allah swt mengibaratkan suami istri seperti pakaian untuk satu sama lainnya. Betapa indah pengibaratan Allah tentang hubungan suami istri karena kita tahu bahwa pakaian memiliki sangat banyak fungsi. Pakaian untuk melindungi diri, maka suami istripunhendaknya saling melindung satu sama lain. Pakaian untuk menutupi aib, membuat cantik, untuk kebanggaan dan fungsi lainnya, maka hendaknya suami istri pun seperti itu juga. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Bahkan dalam beberapa riwayat, dijelaskan pula tentang pahala dan balasan atas pelayanan yang dilakukan istri untuk suaminya, ataupun suami untuk istrinya, yang bukan merupakan kewajibannya. Tetapi mereka lakukan karena Allah, dan karena rasa kasih dan sayang yang terjalin antara satu sama lainnya. Dan pasangan tersebut, tidak mengatakan lagi di antara keduanya aku dan engkau. Tapi, selalu mengatakan kita, seakan-akan sudah menjadi satu jiwa dan satu nafas. Oleh karena itu, dibawah ini adalah beberapa hadis yang walaupun merupakan anjuran, tapi jika dipraktekkan selain akan mendapatkan pahala dari Allah swt, akan menjadikan rumah tangga semakin bahagia dan harmonis. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"><strong>Balasan Pelayanan (khidmat) Istri terhadap Suami:</strong> </font></p>
<p><font face="Times New Roman">- Rasul saw bersabda : “Setiap perempuan yang berkhidmat kepada suaminya selama tujuh hari, maka Allah swt akan menutup tujuh pintu neraka dan membuka tujuh pintu surga baginya. Sehingga ia dapat memasuki surga dari setiap pintu yang ia kehendaki”.[43]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">- Rasul saw bersabda : “Allah swt tidak akan memberikan balasan kepada perempuan yang membawakan seteguk air untuk suami, melainkan pahala perbuatan tersebut lebih baik dari ibadah setahun, yang siang harinya diisi dengan berpuasa, sementara malam harinya dipenuhi dengan shalat”.[44]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">- Imam Shadiq as berkata : “Ummu Salamah telah bertanya kepada Rasulullah tentang keutamaan istri yang berkhidmat kepada suaminya. Rasul saw menjawab : “Allah swt akan memandang (memberikan perhatian khusus) pada setiap wanita yang mengangkat sesuatu di rumah suaminya, lantas memindahkannya dari satu tempat ke tempat yang lain dengan tujuan untuk penataan. Barang siapa yang dipandang Allah swt, maka akan aman dari siksa-Nya ”.[45]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">- Imam Kadzim as berkata : “Jihad seorang perempuan adalah dengan berbuat baik terhadap suaminya”.[46]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">- Rasul saww bersabda : “Sebaik-baiknya perempuan ialah perempuan yang selalu berhias untuk suaminya, namun tidak menampakkannya kepada laki-laki asing (bukan muhrim)”.[47]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">- Imam Shadiq as berkata : “Sebaik-baiknya perempuan ialah perempuan yang berterima kasih kepada suaminya, ketika suami memberikan sesuatu kepadanya. Dan rela disaat suami tidak memberikan sesuatu kepadanya”.[48]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">- Imam Baqir as berkata : “Tidak ada syafa’at yang bermanfaat bagi istri di sisi Allah swt, melainkan kerelaan suami”.[49]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">- Rasul saw bersabda : “Tidak selayaknya istri memaksakan sesuatu yang di luar kemampuan suaminya”.[50]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">- Rasul saw bersabda : “Allah akan memberikan pahala kepada seorang istri yang membantu suaminya dalam berhaji, jihad dan menuntut ilmu, seperti pahala yang telah diberikan kepada istri nabi Ayub as”.[51]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">- Rasul saw bersabda : “Allah akan memberikan pahala kepada seorang istri yang sabar terhadap prilaku buruk suaminya, seperti pahala yang telah diberikan kepada istri Fir’aun Asiyah binti Muzahim”.[52]</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">- Bahkan dalam sebuah hadis pun dijelaskan, bahwa salah satu pegawai Allah swt di muka bumi, ialah seorang wanita yang selalu menyambut suaminya ketika datang, menghantarkannya ketika hendak pergi, dan menghiburnya ketika sedih.[53]</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Balasan Pelayanan (khidmat) Suami terhadap Istri:</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">- Rasul saww bersabda : “Setiap kali suami memberikan air minum kepada istrinya, maka Allah swt akan memberikan balasan kepadanya”.[54]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">- Rasul saw bersabda : “Duduk seorang laki-laki di samping anak dan istrinya, lebih dicintai Allah swt dari i’tikaf di masjid”.[55]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">- Rasul saw bersabda : “Sesungguhnya seorang laki-laki akan mendapat pahala, di saat ia menyuapi istrinya”.[56]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">- Rasul saw bersabda : “Barang siapa yang memasuki pasar, lantas ia membeli hadiah dan membawanya untuk keluarganya, maka pahalanya seperti pahala orang yang membawa sedekah untuk orang-orang yang membutuhkan. Dan mulailah pemberian hadiah tersebut dari anak perempuan, lantas anak laki-laki”.[57] </font></p>
<p><font face="Times New Roman">- Rasul saw bersabda : “Ungkapan “aku cinta kamu” yang diucapkan suami kepada istrinya tidak akan pernah sirna dari hati istrinya”.[58]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">- Rasul saww bersabda : “Barang siapa yang bersabar atas prilaku buruk istrinya, dan melimpahkannya kepada Allah swt, maka Allah akan memberikan balasan untuk siang dan malam harinya, seperti balasan yang telah diberikan kepada Nabi Ayub as dalam menghadapi segala ujian Allah swt. Sementara, dosa-dosa istrinya untuk siang dan malam harinya seperti kerikil-kerikil yang terdapat di tempat yang penuh kerikil”.[59]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">- Rasul saw bersabda : “Saya merasa heran terhadap suami yang memukul istrinya, padahal ia lebih layak untuk dipukul”.[60]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">- Imam Ali as berkata : “Istri merupakan amanat Ilahi yang ada di tanganmu, oleh karenanya, jangan menyakitinya dan mempersulitkannya”.[61]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">- Perawi berkata : “Imam Kadzim as telah mengenakan pacar (pewarna rambut dan kuku)”. Kemudian aku berkata kepadanya : “Wahai yang jiwaku sebagai tebusannya, apakah tuan juga mengenakan pacar? Beliau menjawab : “Ya, karena penampilan suami akan semakin menyebabkan terjaganya kehormatan (<em>iffah</em>) seorang istri, penyelewengan sering terjadi karena suami tidak menjaga penampilan di hadapan istrinya”. lantas Imam melanjutkan perkataannya : “Apakah engkau senang melihat istrimu tidak berias (tidak menjaga penampilan)? Saya menjawab : “Tidak wahai junjunganku”. Imam berkata kembali : “Istri anda pun seperti itu”.[62]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">- Imam Shadiq as berkata : “Imam Ali as memotong-motong kayu, mengambil air dan menyapu. Sementara Sayyidah Fathimah Zahra as membuat tepung, mengadoninya dan membuat roti”.[63]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">- Suatu hari Rasul saw memasuki rumah Imam Ali as. Beliau melihat Sayyidah Fathimah sedang membuat tepung yang dibantu oleh Imam Ali as. Kemudian Rasul saw berkata : “Siapa di antara kalian yang sudah lelah? Imam Ali as menjawab : “Fathimah sudah lelah, wahai Rasulullah”. Lantas Rasul saw berkata : “Bangkitlah wahai putriku! Kemudian Sayyidah Fathimah bangkit, dan Rasulullah datang menggantikan beliau untuk membantu Imam Ali as membuat tepung”.[64] </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Dan masih banyak lagi hadis dan riwayat lainnya yang tidak mungkin dapat dinukil semuanya di sini, untuk mempersingkat tulisan. <span> </span><em>Wallahua’lam</em>. [<a target="_blank" href="http://islamalternatif.com" title="islam feminis">islamalternatif</a>]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Penulis: Mahasiswi S2 jurusan Tafsir di Bintul Huda &#8211; Qom, Republik Islam Iran</font></p>
<p><font face="Times New Roman">________________________________________</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Rujukan: </font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[1] Amili, Muhammad bin Husain al-Hurr, Wasa’il asy-Syi’ah,<br />
Beirut, Ihya at-Turats al-Arabii, jilid 7, hal:251</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[2] Omuli, Jawadi, Hak wa Taklif dar Islam, 1384 QS,<br />
Qom, Markaz-e Nasyr-e Isro, hal: 255</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[3] QS an-Nisa :34</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[4] Omuli, Jawadi, Hak wa Taklif dar Islam, 1384 QS,<br />
Qom, Markaz-e Nasyr-e Isro, hal: 24-25</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[5] Khumaini, Ruhullah, Tahrir al-Wasilah, cetakan pertama, 1421 QH, Qom, Muasese Tanzim wa Nasyre Osor-e Imam Khumaini, bab nikah, Fashl fi Nafaqah, masalah ke-8, hal: 755 </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[6] Ibid</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[7] Ibid, masalah ke-12, hal: 757</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[8] Ibid, masalah ke-8, hal: 755</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[9] Maksumi, Mas’ud, Ahkam-e Rawabet-e Zan wa Syuhar (dalam pandangan beberapa marja), cetakan ke-7, 1380 QS,<br />
Qom, Syukufeh Yas, hal: 67-68</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[10] Tahrir al-Wasilah, masalah ke-15, hal: 757</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[11] Ibid, masalah ke-8, hal: 755</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[12] Ibid, masalah ke- 9, hal: 756</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[13] Ibid, masalah ke-8, hal: 755</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[14] Ibid, masalah ke-19, hal: 758</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[15] Ibid, masalah ke-8, hal: 755-756</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[16] Ibid, Fasal fil Qasam wa Nusyudz wa Syaqaq, sebelum masalah pertama, hal: 745.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[17] Ibid </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[18] Khumaini, Ruhullah, Resoley-e Taudzih al-Masail, 1381 HS, Teheran, Kanun Intiysorot-e Payom-e Adolat, masalah ke-2414, hal : 425</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[19] Khumaini, Ruhullah, Tahrir al-Wasilah, Kitab Nikah, masalah ke-13, hal: 698</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[20] Ibid, Fashl fi al-Qasam wa Nusyuz wa asy-Syaqaq, masalah ke-1, hal: 745-746</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[21] Ibid, masalah ke-3-4, hal: 746</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[22] Ibid, sebelum masalah pertama, hal: 745</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[23] Istifta,/Maksumi, Mas’ud, Ahkam Rawabit-e Zan wa Syuhar (dalam pandangan beberapa marja), hal:82 </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[24] Khameini, Ruhullah, Risoley-e Taudzih al-Masoil, 1381 HS, Teheran, Konun Intisyorot-e Payom-e Adolat, masalah ke-2414, hal : 426</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[25] Tahrir al-Wasilah, al-Qaul fi an-Nazar, masalah ke-3, hal: 599 </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[26] Khameini, Ruhullah, Risoley-e Taudzih al-masoil, 1381 HS, Teheran, Konun Intisyorot-e Payom-e Adolat, masalah ke-1740, hal : 308</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[27] Ibid, masalah ke-2672, hal : 471</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[28] Tahrir al-Wasilah, al-Qaul fi an-Nusyuz, sebelum masalah pertama, hal: 747</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[29] Ibid</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[30] QS an-Nisa : 19</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[31] QS al-Baqarah : 231</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[32] QS al-Baqarah :233</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[33] Majmaul Bahrain jilid 3, hal 159 /Kitab-e Naqd, Huquq-e Zan, volume 12, 1378 QS, Teheran, Muasese Farhanggi-e Donesy wa Andisye-ye Muosir, hal 48-49</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[34] Majmaul Bayan jilid 3, hal 25/Ibid</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[35] Tahrir al-Wasilah, al-Qaul fi an-Nusyuz, sebelum masalah pertama, hal: 747</font></p>
<p><font face="Times New Roman">(Rujukan selengkapnya, pada Penulis)</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/57/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/57/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=57&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/22/menjawab-mis-undertanding-antara-anjuran-dan-kewajiban-versi-imam-khumaini-ra-3-pahala-melayani-istri-dan-sebaliknya-melayani-suami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tidaklah Sia-Sia Persembahan-ku!?</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/22/tidaklah-sia-sia-persembahan-ku/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/22/tidaklah-sia-sia-persembahan-ku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Apr 2007 16:18:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/22/tidaklah-sia-sia-persembahan-ku/</guid>
		<description><![CDATA[  Tolong khabari aku bagaimana keadaannya? Setelah melihat ketegaran perempuan tersebut lalu anak muda menjawab pertanyaannya, seraya berkata: “Alhamdulillah Nabi Muhamad saww selamat”. Wajah perempuan menjadi cerah ceria sewaktu mendengar perihal keadaan Nabi Muhamad saww. Kemudian ia berkata: “Persembahan kami tidaklah sia-sia”.   &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; &#160; Tidaklah Sia-Sia Persembahan-ku!? Pada perang Uhud (perang antara musyrikin Mekah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=55&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/rasulullah.jpg" title="rasulullah.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/rasulullah.thumbnail.jpg?w=500" alt="rasulullah.jpg" /></a> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Tolong khabari aku bagaimana keadaannya? Setelah melihat ketegaran perempuan tersebut lalu anak muda menjawab pertanyaannya, seraya berkata: “Alhamdulillah Nabi Muhamad saww selamat”. Wajah perempuan menjadi cerah ceria sewaktu mendengar perihal keadaan Nabi Muhamad saww. Kemudian ia berkata: “Persembahan kami tidaklah sia-sia”.</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman"><span id="more-55"></span> </font></strong><strong> </strong><strong><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</font></strong></p>
<p align="center" style="text-align:center;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p align="center" style="text-align:center;margin:0;" class="MsoNormal"><strong><font face="Times New Roman">Tidaklah Sia-Sia Persembahan-ku!?</font></strong></p>
<p><font face="Times New Roman">Pada perang Uhud (perang antara musyrikin Mekah dengan Muslimin) dari pasukan Islam banyak yang terluka, termasuk Nabi Muhamad saww dan Imam Ali as pun mengalami luka berat. Bahkan para kaum Musyrikin telah menyebarkan isyu, bahwa Nabi Muhamad saww telah syahid.<span>  </span>Hal ini telah membuat sedih para perempuan Islam Madinah. Lantas mereka pergi untuk mencari kabar yang sebenarnya tentang keadaan pemimpinnya dan junjungannya, Nabi Muhamad saww. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Salah satu dari muslimah Madinah telah bertemu dengan seorang anak muda yang baru kembali dari perang Uhud. Lantas ia menemuinya seraya bertanya: “Bagaimana keadaan junjunganku, Nabi Muhamad saww?”.<span>  </span>Anak muda tersebut karena mengetahui Nabi Muhamad saww selamat ia tidak menjawab pertanyaannya, namun ia berkata: “Wahai saudariku ayahmu telah mati syahid”. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Perempuan Madinah sedikit terenyuh seusai mendengar tentang kesyahidan ayahnya, namun ia bertanya kembali: “Bagaimana keadaan junjunganku Nabi saww?”. Anak muda tersebut kembali tidak menjawab pertanyaan, akan tetapi ia berkata: “Wahai saudariku, saudaramu telah mati syahid”. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Setelah mendengar khabar itu, ia seperti keadaan sebelumnya, tenang. Dan kembali bertanya: “Bagaimana keadaan junjunganku, Nabi saww?”. Anak muda seperti sebelumnya tidak menjawab pertanyaan, namun ia berkata: “Wahai saudariku, suamimu telah mati syahid”.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Perempuan muslimah sangat marah di saat anak muda tersebut tidak pernah menjawab pertanyaannya, lalu ia berkata: “Aku tidak ingin menanyakan kepadamu tentang keluargaku yang masih hidup ataupun yang telah syahid. Aku hanya ingin mengetahui <span> </span>keadaan junjunganku, Nabi saww. Tolong khabari aku bagaimana keadaannya? Setelah melihat ketegaran perempuan tersebut lalu anak muda menjawab pertanyaannya, seraya berkata: “Alhamdulillah Nabi Muhamad saww selamat”. Wajah perempuan menjadi cerah ceria sewaktu mendengar perihal keadaan Nabi Muhamad saww. Kemudian ia berkata: “Persembahan kami tidaklah sia-sia”.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[Euis D, Zanan Mard Overine Tharikh, Muhahad Isytihardi, hal, 95-96] <span> </span></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/55/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/55/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=55&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/22/tidaklah-sia-sia-persembahan-ku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/rasulullah.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">rasulullah.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjawab Mis-Undertanding antara Anjuran dan Kewajiban versi Imam Khumaini ra (2); Menjaga Hak dan Kewajiban Suami-Istri</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/21/menjawab-mis-undertanding-antara-anjuran-dan-kewajiban-versi-imam-khumaini-ra-2-menjaga-hak-dan-kewajiban-suami-istri/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/21/menjawab-mis-undertanding-antara-anjuran-dan-kewajiban-versi-imam-khumaini-ra-2-menjaga-hak-dan-kewajiban-suami-istri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2007 16:32:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/21/menjawab-mis-undertanding-antara-anjuran-dan-kewajiban-versi-imam-khumaini-ra-2-menjaga-hak-dan-kewajiban-suami-istri/</guid>
		<description><![CDATA[Pemenuhan kebutuhan ibu dari para anak bukan hanya bersifat wajib saja, bahkan lebih dari itu, tolok ukurnya adalah ma’ruf. Kata “ma’ruf”, yang banyak digunakan dalam ajaran agama Islam, memiliki arti yang lebih luas dari ungkapan “sesuai dengan undang-undang dan keadilan”. Karena ia pun mencakup segala perbuatan yang memiliki nilai moral maupun insani. Oleh karenanya, jika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=54&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Pemenuhan kebutuhan ibu dari para anak bukan hanya bersifat wajib saja, bahkan lebih dari itu, tolok ukurnya adalah ma’ruf. Kata “ma’ruf”, yang banyak digunakan dalam ajaran agama Islam, memiliki arti yang lebih luas dari ungkapan “sesuai dengan undang-undang dan keadilan”. Karena ia pun mencakup segala perbuatan yang memiliki nilai moral maupun insani. Oleh karenanya, jika dikatakan “berlaku adillah dengan wanita”, artinya berikanlah hak-haknya dan berlaku secara adil dengannya. Namun, jika dikatakan “berlaku ma’ruf terhadapnya”, maksudnya selain berlaku adil dan memberikan hak-hak wanita ia juga hendaknya berlaku sesuai dengan tuntutan nilai insani dan islami. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span id="more-54"></span></font><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</font></p>
<p align="center"><strong><span style="font-size:14pt;color:black;"><a href="http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/19/menjawab-mis-undertanding-antara-anjuran-dan-kewajiban-versi-imam-khumaini-ra-1-relasi-hak-dan-kewajiban/" title="Permanent Link to Menjawab Mis-Undertanding antara Anjuran dan Kewajiban versi Imam Khumaini ra (1); Relasi Hak dan Kewajiban"><span style="color:black;text-decoration:none;"><font face="Times New Roman">Menjawab Mis-Undertanding antara Anjuran dan Kewajiban versi Imam Khumaini ra (2); Menjaga Hak dan Kewajiban</font></span></a><font face="Times New Roman"> Suami-Istri</font></span></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Hak-hak Suami atas Istri </font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Hak-hak suami yang menjadi kewajiban istri :</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">1. Pergi keluar rumah dengan izin suami</font></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Seorang istri tidak boleh keluar rumah kecuali dengan izin suaminya, walaupun hal tersebut berkaitan dengan keluarga istri, ataupun untuk menjenguk orang tuanya, atau untuk menghadiri hari kesedihan keluarganya. Bahkan disebutkan: istri tidak memiliki wewenang dalam urusan, dalam perkara-perkara seperti sedekah, pemberian (hibah) dan nazar dengan harta, istri harus meminta izin suami. Kecuali dalam perkara-perkara seperti: haji, zakat, berbakti kepada kedua orang tua dan menyambung silaturahmi dengan kerabat istri. Perincian masalah tersebut akan dijelaskan pada pembahasan sendiri…”.[22] Dalam kitab istifta imam menjelaskan:“Jika istri merasa yakin bahwa suaminya akan mengizinkannya, maka keluar rumah tanpa meminta izin kepadanya terlebih dahulu, hukumnya tidak apa-apa”.[23]</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">2. Memenuhi kebutuhan biologis suami</font></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Seorang istri harus menyerahkan dirinya untuk kenikmatan suaminya, dan tidak boleh menolak ajakan suaminya untuk berhubungan biologis, jika tidak ada uzur”.[24]</font></p>
<p><strong></strong><strong><strong><font face="Times New Roman">3. Bernazar dan bersumpah dengan izin suami</font></strong></p>
<p></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Tidah sah hukumnya nazar seorang istri, jika nazar tersebut dilakukan tanpa seizin suami, meskipun nazar tersebut dari harta benda miliknya sendiri”.[25] “Jika dengan melaksanakan puasa sunnah, akan menyebabkan hilangnya hak suami atau suami melarang istri untuk melakukan puasa sunnah, maka ihtiyatnya ia tidak boleh berpuasa”.[26] “Jika suami tidak mengizinkan istrinya untuk bersumpah, maka sumpahnya tidak sah”.[27] </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">4. Menjauhkan dari hal-hal yang tidak disukai suami</font></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Istri harus menjauhkan dirinya dari hal-hal yang menyebabkan suaminya tidak bergairah kepadanya”.[28]</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">5. Berhias dan membersihkan diri </font></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Seorang istri, harus membersihkan dirinya dan berhias jika suaminya menghendakinya”.[29]</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Nusyuz </font></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Ajaran Islam telah melarang segala bentuk kekerasan terhadap orang yang tidak bersalah, baik dalam kehidupan sosial maupun individual, dalam kehidupan berkeluarga maupun yang lainnya. Mayoritas korban kekerasan yang bersifat fisik maupun non fisik adalah wanita dan anak-anak. Hal ini merupakan sebuah fenomena internasional. Maka salah satu undang-undang yang diperjuangkan oleh gerakan wanita adalah pembentukan undang-undang anti kekerasan dalam rumah tangga. Undang-undang ini digunakan dalam rangka mencegah berbagai bentuk kekerasan yang menimpa perempuan dalam keluarga. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Berkaitan dengan kehidupan keluarga, Islam telah menegaskan hubungan keluarga yang jauh dari kekerasan. Jika kita memperhatikan ayat dan riwayat, Islam menekankan supaya kekerasan terhadap istri dijauhkan. Sebagaimana dalam al-Qur’an Allah swt berfirman: “Bergaullah dengan para wanita (istri) dengan baik (ma’ruf)”.[30] Bahkan, ketika berbicara tentang penceraian dengan istri, al-Qur’an tetap menekankan pada suami untuk tetap berlaku baik (ma’ruf) terhadap istri. Meskipun di akhir penceraian biasanya muncul permusuhan, dendam dan lain sebagainya, namun al-Qur’an tetap menekankan untuk berlaku baik terhadap istri, seperti yang dapat kita lihat dari ayat berikut ini: “Apabila kamu mentalak istri-istrimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang baik (makruf), atau ceraikanlah mereka dengan cara yang baik (ma’ruf). Dan janganlah kalian menahan para istri di rumah (tidak menceraikannya) dengan tujuan untuk menganiaya (berbuat sewenang-wenang) terhadap mereka. Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri…”.[31] Sedang dalam masalah pemberian nafkah (pemenuhan kebutuhan) istri (ibu dari anaknya), al-Qur’an tetap menekankan atas dasar makruf. Allah swt berfirman: “Dan kewajiban ayah, memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik (ma’ruf)”.[32]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Pemenuhan kebutuhan ibu dari para anak bukan hanya bersifat wajib saja, bahkan lebih dari itu, tolok ukurnya adalah ma’ruf. Kata “ma’ruf”, yang banyak digunakan dalam ajaran agama Islam, memiliki arti yang lebih luas dari ungkapan “sesuai dengan undang-undang dan keadilan”. Karena ia pun mencakup segala perbuatan yang memiliki nilai moral maupun insani. Oleh karenanya, jika dikatakan “berlaku adillah dengan wanita”, artinya berikanlah hak-haknya dan berlaku secara adil dengannya. Namun, jika dikatakan “berlaku ma’ruf terhadapnya”, maksudnya selain berlaku adil dan memberikan hak-hak wanita ia juga hendaknya berlaku sesuai dengan tuntutan nilai insani dan islami. Dengan kata lain ma’ruf telah sampai pada tingkat meta kewajiban(mustahab).</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Dalam kitab Majmaul Bahrain dijelaskan: “Ma’ruf adalah kata sangat luas yang mencakup segala perbuatan yang menyebabkan ketaatan kepada Allah swt, atau menyebabkan kedekatan dengan Allah swt dan berbuat kepada orang lain. Atau mencakup setiap perbuatan yang kebaikan dan kelayakannya diterima oleh akal dan syari’at”.[33] Syeikh Thabarsi dalam kitabnya menjelaskan: “Bergaul dengan baik (ma’ruf), yakni berlaku berdasarkan perintah Allah swt, menberikan hak-hak wanita dalam memenuhi kebutuhannya, berkata dan berlaku dengan baik terhadap istrinya”. Bahkan dikatakan “ma’ruf” artinya, janganlah memukul istrimu, janganlah berkata buruk padanya dan bermuka lemah lembutlah dengannya”.[34] </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Jika dalam pembahasan di atas, telah dijelaskan bahwa Islam melarang berbagai jenis kekerasan, bahkan berdasarkan beberapa ayat di atas selalu menekankan untuk berlaku secara ma’ruf dengan istri, namun kenapa dalam perkara istri nusyuz Islam memerintahkannya untuk memukulnya? Apakah memukul bukan sebuah bentuk kekerasan? Apakah ini tidak akan menyebabkan para suami melegimitasi perlakuan sewenang-wenang terhadap istrinya dan dengan mudah memukul istrinya dengan dalil al-Qur’an sendiri yang memerintahkannya? Sebenarnya, apakah nusyuz hanya untuk istri saja? Bagaimana pendapat al-Qur’an tentang hall ini? Apakah ada batasan dalam memukul? </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Definisi Nusyuz</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">1. Istri Nusyuz</font></strong></p>
<p><font face="Times New Roman">Secara bahasa, nusyuz berarti penentangan. Sedangkan, dalam istilah fikih praktis, sebagaimana yang dijelaskan Imam Khameini dalam kitabnya: “Istri nusyuz, adalah istri yang telah keluar dari ketaatan kepada suaminya dan tidak menjalankan segala kewajiban yang telah diperintahkan kepadanya, seperti: tidak memenuhi kebutuhan biologis suami, tidak menjauhkan dirinya dari hal-hal yang tidak disukai dan menyebabkan suami tidak bergairah kepadanya, tidak berhias dan membersihkan dirinya padahal suami menginginkannya dan keluar rumah tanpa izin suaminya. Oleh karenanya, seorang istri tidak masuk dalam katagori nusyuz hanya dengan meninggalkan ketaatan atas sesuatu yang tidak diwajibkan pada seorang istri. Maka, jika ia tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah dan segala kebutuhan suami yang tidak berkaitan dengan kebutuhan biologis seperti: menyapu, menjahit, memasak dan selainnya—walaupun menyiapkan air minum dan menyiapkan tempat tidur—semua itu tidak masuk katagori nusyuz”.[35]</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">2. Suami Nusyuz</font></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Imam Khameini dalam kitabnya menjelaskan: “Nusyuz pun dapat terjadi pada seorang suami. Yaitu, jika seorang suami tidak menjalankan kewajiban yang menjadi hak-hak istri, seperti tidak memberikan nafkah dan lain sebagainya”.[36]</font></p>
<p><font face="Times New Roman"><strong>Langkah-langkah Menghadapi Suami dan Istri Nusyuz dalam al-Qur’an</strong></font></p>
<p><font face="Times New Roman">Terdapat empat ayat yang menggunakan kata nusyuz dalam al-Qur’an. Yaitu dalam surat Mujadalah ayat 11, al-Baqarah ayat 259, al-Imron ayat 128 dan ayat 34. Namun hanya pada dua ayat yang berhubungan dengan pembahasan sekarang ini. Berkenaan langkah menghadapi istri nusyuz al-Qur’an menjelaskan: “…Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka, lalu pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan lalu pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya…”.[37] Jadi menurut al-Qur’an langkah-langkah menghadapi istri yang nusyuz adalah sebagai berikut: pertama, dinasehati. Kedua, jika nasehat tidak memberikan pengaruh, maka masuk langkah kedua yaitu pisah tempat tidur. Ketiga, jika langkah kedua tidak mempan juga, maka memasuki langkah selanjutnya yaitu memukul istri.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Dalam perkara nusyuz suami, al-Qur’an menjelaskan: “Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz, atau sikap tidak acuh suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik…”.[38] Sekilas, dalam kedua ayat tersebut terdapat diskriminatif dan bias gender. Untuk istri nusyuz, jalan terakhirnya adalah berupa pukulan. Sementara, untuk suami nusyuz dituntut untuk berdamai. Dalam makalah sebelumnya, sudah dijelaskan bahwa hukum-hukum dan ajaran-ajaran Islam disusun sesuai fitrah manusia. Adanya perbedaan dalam hukum bukan berarti sebuah diskriminasi tetapi kembali pada perbedaan yang terdapat pada lelaki dan perempuan, misalnya perbedaan dari sisi psikologis. Sebagaimana sebagian ulama mengatakan, salah satu hikmah dari perbedaan dalam menghadapi suami atau istri yang nusyuz adalah kembali pada perbedaan psikologis keduanya. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Sedang dalam masalah batasan pukulan, beberapa ulama menjelaskan : [39]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">1. Syahid ats-Tsani, dalam kitab masalik al-Afham menjelaskan : “Dalam sebagian riwayat, dijelaskan memukul wanita dengan kayu miswak, …”.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">2. Syeikh Tusi dalam kitab al-Mabsuth mengatakan : “Maksud dari pukulan adalah, memukul dengan kain sapu tangan yang diikatkan, yang tidak boleh menyebabkan memar…”.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">3. Fahrurozi, mengatakan : “Dibolehkan memukul, jika cara selain memukul tidak dapat berpengaruh lagi (tidak ada cara lain selain pukulan)”.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">4. Menurut as-Suyuthi pukulan tidak boleh keras dan membahayakan.</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Langkah-langkah Menghadapi Suami atau Istri Nusyuz dalam Fikih Praktis</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Imam Khameini menjelaskan: “Jika nampak pada istri, tanda-tanda nusyuz atau penentangan, seperti: kebiasaan prilaku dan perkataannya berubah, menjawab perkataan suami dengan kasar padahal sebelumnya berkata dengan lemah lembut, menampakkan muka masam dan marah pada suami, menjengkelkan (menyakitkan hati) dan bersungut-sungut padanya, padahal sebelumnya tidak seperti itu, maka nasehatilah ia. Jika istri tidak mendengarkan nasehat suaminya, lantas iapun melakukan salah satu perbuatan yang menjadikan nusyuz (seperti keluar rumah tanpa izin suami, atau tidak melayani suami…), maka dalam hal ini, diperbolehkan atas suami untuk berpisah tidur dengannya, artinya dapat tidur bersama, tapi dalam keadaan membelakanginya, atau pisah tidur dengannya. Jika nasehat dan pisah tidur tidak berpengaruh padanya, maka suami boleh memukulnya yang menyebabkan ia kembali sadar dan meninggalkan penentangannya. Tidak boleh berlebihan dalam memukul asal tujuan pemukulan terwujud. Jika istri tetap tidak kembali sadar, maka boleh memukul kembali dengan lebih keras, dengan syarat tidak menyebabkan luka, tidak memberikan bekas hitam atau merah di badan. Dan hendaknya, pukulan dilakukan dengan tujuan untuk menyadarkan (ishlah), bukan untuk melampiaskan kemarahan atau untuk membalas dendam. Jika pukulan tersebut menyebabkan luka dan memberikan bekas merah atau hitam (memar), maka suami wajib membayar denda (diyah)”.[40] </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Imam melanjutkan: “Jika nampak pada suami tanda-tanda nusyuz dengan tidak memberikan hak-hak istri yang menjadi kewajibannya, maka istri berhak untuk menuntut hak-haknya dan menasehati suami. Jika ternyata cara tersebut tidak memberikan pengaruh, maka ia dapat mengadukan perkaranya pada pengadilan agama (hakim syar’i), tapi tidak terdapat hukuman pisah ranjang, juga tidak terdapat pukulan bagi suami nusyuz…[41] ” </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Yang jelas, jika pengetahuan kedua belah pihak atas hak dan kewajiban masing-masing ditingkatkan, maka pelanggaran atas hak-hak pasangan hidup ataupun kekerasan dalam rumah tangga akan dapat diminimalisir. Juga akan dapat diantisipasi pencampuradukan antara anjuran dan kewajiban, penyelewengan hukum dengan dalih hukum (seperti pemukulan istri dengan sewenang-wenang dengan dalih merupakan ajaran Islam sendiri). Suami istri akan saling memahami dan menghormati kedudukan masing-masing. Walaupun demikian, dalam Islam dijelaskan (dalam beberapa hadis dan ayat al-Qur’an) bahwa sebuah rumah tangga tidak dapat dibangun dengan hanya berpijak pada hak-hak dan kewajiban saja tapi melintasi hak-hak dan kewajiban. Rumah tangga bukan ajang untuk saling menuntut dan menggugat. Akan tetapi, harus dibangun berdasarkan rasa kasih dan sayang, pengorbanan, saling memahami, saling memaafkan dan lain-lainnya. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Bersambung…</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/54/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/54/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=54&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/21/menjawab-mis-undertanding-antara-anjuran-dan-kewajiban-versi-imam-khumaini-ra-2-menjaga-hak-dan-kewajiban-suami-istri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Katakan, &#8220;Aku Cinta Padamu&#8221;</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/20/katakan-aku-cinta-padamu/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/20/katakan-aku-cinta-padamu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 00:33:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi Keluarga & Pendidikan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/20/katakan-aku-cinta-padamu/</guid>
		<description><![CDATA[Pasangan suami istri sudah sewajarnya ingin mengetahui hal ini, terkhusus istri yang akan merasa senang disaat yang dicintainya menunjukkan kecintaan kepadanya. Islam telah memberikan tips agar tetap mesra dan harmonis, meskipun usia perkawinan telah lama. Salah satu trik untuk menunjukkan rasa cinta kepada pasangan kita ialah dengan mengucapkan, “aku cinta padamu”. Ungkapan “aku cinta padamu” [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=51&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/cinta-suci.jpg" title="cinta-suci.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/cinta-suci.thumbnail.jpg?w=500" alt="cinta-suci.jpg" /></a></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Pasangan suami istri sudah sewajarnya ingin mengetahui hal ini, terkhusus istri yang akan merasa senang disaat yang dicintainya menunjukkan kecintaan kepadanya. Islam telah memberikan tips agar tetap mesra dan harmonis, meskipun usia perkawinan telah lama. Salah satu trik untuk menunjukkan rasa cinta kepada pasangan kita ialah dengan mengucapkan, “aku cinta padamu”. Ungkapan “aku cinta padamu”<span>  </span>suami kepada istrinya tidak akan menurunkan kewibawaan suami.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span id="more-51"></span></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<span>        </span></font></p>
<p align="center"><strong><font face="Times New Roman">Katakan, “Aku Cinta Padamu”; Tips<span>  </span>Islami agar Keluarga tetap Harmonis</font></strong><strong><font face="Times New Roman"> </font></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Pasangan baru, karena baru memulai kehidupannya maka serasa dunia hanya milik mereka berdua. Segala indah bagi kedua pasangan tersebut Sebagaimana halnya awal-awal pernikahan disebut sebagai ‘bulan madu’ karena terasa manis bagaikan madu. Kedua pasangan masih belum menyaksikan kekurangan satu sama lain. Perselisihan muncul ketika pasangan suami istri sudah saling mengenal kekurangan dan kelebihan masing-masing. </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Ketika sudah saling mengenal akhlak, kepribadian dan kebiasaan masing-masing. Dikarenakan kebiasaan satu sama lain yang saling berbeda, maka muncullah perbedaan pendapat yang mungkin sesekali akan memancing pertengkaran pasangan suami istri. Dan akan mengurangi keharmonisan dan kehangatan hubungan keluarga. Cinta dan kasih sayang yang akan terus menjadikan rumah tangga semakin penuh kehangatan dan harmonis. Hal ini harus dilakukan oleh kedua belah pihak suami maupun istri. Pasangan suami istri pasti ingin mengetahui apakah pasangannya masih tetap mencintainya atau tidak? Apakah dengan bertambahnya usia pernikahan rasa cinta akan pudar atau tidak? Aku ingin tahu apakah pasanganku masih mencintaiku atau tidak? Begitupun ia ingin mengetahui aku masih mencintainya atau tidak?</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Pasangan suami istri sudah sewajarnya ingin mengetahui hal ini, terkhusus istri yang akan merasa senang disaat yang dicintainya menunjukkan kecintaan kepadanya. Islam telah memberikan tips agar tetap mesra dan harmonis, meskipun usia perkawinan telah lama. Salah satu trik untuk menunjukkan rasa cinta kepada pasangan kita ialah dengan mengucapkan, “aku cinta padamu”. Ungkapan “aku cinta padamu”<span>  </span>suami kepada istrinya tidak akan menurunkan kewibawaan suami dan merendahkan harga diri suami.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Trik dan anjuran semacam ini telah disinyalir dalam beberapa hadis berikut ini:</font></p>
<p style="text-indent:-0.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 0.5in;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>-<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span><span dir="ltr">Rasulullah bersabda: “”Seorang hamba yang semakin bertambah imannya kepada Allah SWT, maka kecintaan kepada istri pun akan semakin bertambah”. (Bihar-Anwar, jil 103, hal 228)</span></font></p>
<p style="text-indent:-0.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 0.5in;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>-<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span><span dir="ltr">Rasulullah bersabda: “Ungkapan manis suami kepada istrinya “aku cinta padamu” maka tidak akan pernah sirna dari hati perempuan”. (Wasa’il Asyi’ah, jil 14, hal 10, hadis ke-9).</span></font></p>
<p style="text-indent:-0.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 0.5in;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>-<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span><span dir="ltr">Imam Shadiq berkata: “Apabila engkau mencintai seseorang maka katakanlah (aku cinta padamu), karena menunjukkan dan mengungkapkan rasa cinta akan menambah hubungan kalian semakin erat”. (Ushul-Kafi, jil, 2, hal 644)</span></font></p>
<p style="text-indent:-0.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 0.5in;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span dir="ltr"></span></font></p>
<p style="text-indent:-0.25in;text-align:justify;margin:0 0 0 0.5in;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span dir="ltr"></span></font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Walaupun usia perkawinan Anda telah usang. Namun rasa cinta dan kasih sayang anda berdua tidak akan pernah usang dan lapuk ditelan waktu. Jangan ragu katakan kepada pasangan Anda ‘Aku cinta padamu’…’Aku cinta padamu’…’aku cinta padamu’…</font></strong><strong><font face="Times New Roman"> </font></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">(Euis D, <em>Roz-e Esyq; once hamsaron-e jawon boyad bedonat</em>, hal 10-11)</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/51/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/51/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=51&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/20/katakan-aku-cinta-padamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/cinta-suci.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">cinta-suci.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bincang dengan Putri Imam Khomaeni (DR. Zahro Mustafawi)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/19/bincang-dengan-putri-imam-khomaeni-dr-zahro-mustafawi/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/19/bincang-dengan-putri-imam-khomaeni-dr-zahro-mustafawi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2007 23:12:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/19/bincang-dengan-putri-imam-khomaeni-dr-zahro-mustafawi/</guid>
		<description><![CDATA[“Ringkas saja, saya ingin mengetahui bagaimana Anda dapat mencapai kesuksesan seperti ini?”. Sejenak beliau tersenyum, dengan rendah hati beliau menjawab: “Kesuksesan apa? Mungkin dari segi keilmuan saya dapat dikatakan sukses”. Lantas beliau menjelasakan bahwa, dalam masalah piritual dan keimanan kita semua senantiasa memerlukan bimbingan-Nya. Tidak ada seorang pun yang berani mengatakan: “Saya sukses dalam spiritual [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=50&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ringkas saja, saya ingin mengetahui bagaimana Anda dapat mencapai kesuksesan seperti ini?”. <span> </span>Sejenak beliau tersenyum, dengan rendah hati beliau menjawab: “Kesuksesan apa? Mungkin dari segi keilmuan saya dapat dikatakan sukses”. Lantas beliau menjelasakan bahwa, dalam masalah piritual dan keimanan kita semua senantiasa memerlukan bimbingan-Nya. Tidak ada seorang pun yang berani mengatakan: “Saya sukses dalam spiritual dan keimanan”.</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman"><span id="more-50"></span></font></strong><strong> </strong><strong><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</font></strong><strong><font face="Times New Roman"> </font></strong></p>
<p align="center"><strong><strong><font face="Times New Roman">Bincang dengan DR. Zahro Mustafawi (putri Imam Khomaeni)</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Bersama beberapa teman dari Negara Cina, Bosnia, Turki, Kazakistan, Thailand, India, Pakistan dan Iran kami berangkat drai kota Qom menuju Teheran untuk mengadakan pertemuan dengan DR. Zahro Mustafawi (salah satu putri Imam Khomaeni). Rencananya pertemuan tersebut dilaksanakan di tempat dinas beliau. Sesampainya di tempat dinas beliau, kami disambut para stap beliau dengan hangat sehingga dapat menghilangkan rasa lelah karena perjalanan jauh (jarak antara Qom dan Teheran ditempuh antara 2-3 jam).</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Setelah kami beristirahat sejenak, acara dimulai dan DR. Zahro pun datang untuk mengisi pertemuan tersebut. Perasaan senang dan haru bercampur jadi satu, ketika melihat beliau secara langsung. Beliau memiliki berbagai aktifitas yang padat seperti menulis, sebagai dosen, mengisi di berbagai event Setelah memperkenalkan diri, beliau memperkenalkan badan organisasi yang beliau pimpin. Saat ini beliau menempati posisi sebagai ketua umum “International Union of NGO’s for Suport Palestinian Right’s” (Persatuan LSM-LSM Internasional untuk Solidaritas Palestina). Badan ini telah menyebar di 20 negara di 4 benua, yaitu benua Asia, Amerika, Eropa dan Afrika. <span> </span>Badan ini bergerak di bidang pengenalan produk-produk Israel dan segenap badan yang telah mendapat dukungan Israel. Program kerja lainnya adalah turut serta dalam usaha pembenbasan tawanan muslim yang ditawan oleh Israel, baik dengan bantuan pengacara ataupun dengan cara lainnya.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dalam akhir pembicaraannya, beliau <span> </span>mengimbau kepada kami untuk seoptimal mungkin menjauhi dan tidak mengkonsumsi produk Israel (seperti; Sprite, Coca-Cola, Fanta, Nestle, Sara Lee, Gohnson&amp;Gohnson, L’Oreal, Kit Kat, Mc Donald’s, Tommy, Hlifiger, Ibm, dan lain sebagainya) karena, membeli produk Israel sama halnya dengan menyumbangkan dana kepada Israel untuk turut meluncurkan peluru mereka saudara kita di Palestina. <span> </span>Percuma saja kita ikut berdemontrasi al-Quds setiap tahun, kalau kita sendiri ternyata turut andil dalam membunuh saudara kita di Palestina dengan cara membeli dan mengkonsumsi produk Israel karena laba dari penjualan barang mereka pakai sebagian untuk biaya memerangi dan mendholimi saudara-saudara kita di Palestina.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Selepas berpidato, beliau memberikan waktu kepada kami untuk memperkenalkan diri dan mengajukan pertanyaan. Saya berpikir, ini merupakan kesempatan emas yang harus dimanfaatkan untuk memperkenalkan aktifitas “Lembaga Otonom Fathimiyah-HPI”, serta visi dan misinya kepada beliau.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Beliau menyambut dengan senang dan memberikan dorongan untuk segala jenis bentuk aktifitas demi kemajuan spiritual dan intelektuan kaum Hawa. Setelah itu, saya memberanikan diri untuk mewawancari beliau. “Pertama-tam saya ucapkan terima kasih kepada ibu yang telah memberikan waktu kepada saya. Terus terang saja, saat melihat ibu mengingatkan saya kepada Imam Khomaeni. Oleh karenanya, perasaan senang dan haru meliputi diri saya ketika melihat Anda. Ringkas saja, saya ingin mengetahui bagaimana Anda dapat mencapai kesuksesan seperti ini?”. <span> </span>Sejenak beliau tersenyum, dengan rendah hati beliau menjawab: “Kesuksesan apa? Mungkin dari segi keilmuan saya dapat dikatakan sukses”. Lantas beliau menjelasakan bahwa, dalam masalah piritual dan keimanan kita semua senantiasa memerlukan bimbingan-Nya. Tidak ada seorang pun yang berani mengatakan: “Saya sukses dalam spiritual dan keimanan”.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Lantas beliau melanjutkan pembicaraannya: “Kondisi zaman saya dahulu-pra revolusi Islam- anak perempuan tidak diizinkan belajar. Saya sendiri menyelesaikan SMA pada usia 29 tahun dan dalam keadaan memiliki 2 orang anak laki-laki. Saya belajar pada malam hari. Seperti yang telah saya katakana sebelumnya. Masyarakat kala itu menganggap aib jika anak perempuan belajar.Namun karena semangat dan cinta ilmu, saya mampu mengalahkan dan menghadapi segala bentuk rintangan untuk belajar.tekad yang kuat dan kerja keras itulah kunci kesuksesan saya”. Kemudian beliau menambahkan: “Kaum perempuan harus mengurangi waktunya untuk acara-acara tsayrifati (seremonial)…”.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span></span></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span> </span>Di akhir pertemuan itu, saya memohon kepada beliau agar memberikan pesan dan nasehat kepada kami. Seusai menebar senyum kemudian beliau berkata: “Bersungguh-sungguhlah dalam mencari ilmu, penyucian jiwa, dalam menjaga kejujuran keikhlasan, serta mengetahui posisi dan tugas kita dalam masyarakat”. Seuasai acara kami bersama teman-teman kembali ke kota Qom.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">(Euis Daryati, S2 jurusan Tafsir sementara ini menjabat sebagai ketua LOF-HPI (Himpunan Pelajar Putri di Qom-Iran))</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/50/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/50/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=50&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/19/bincang-dengan-putri-imam-khomaeni-dr-zahro-mustafawi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjawab Mis-Undertanding antara Anjuran dan Kewajiban versi Imam Khumaini ra (1); Relasi Hak dan Kewajiban</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/19/menjawab-mis-undertanding-antara-anjuran-dan-kewajiban-versi-imam-khumaini-ra-1-relasi-hak-dan-kewajiban/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/19/menjawab-mis-undertanding-antara-anjuran-dan-kewajiban-versi-imam-khumaini-ra-1-relasi-hak-dan-kewajiban/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2007 14:23:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/19/menjawab-mis-undertanding-antara-anjuran-dan-kewajiban-versi-imam-khumaini-ra-1-relasi-hak-dan-kewajiban/</guid>
		<description><![CDATA[Setelah mereka menjadi pasangan suami-istri, maka terdapat hak-hak dan kewajiban masing-masing yang harus dihormati dan dilaksanakan. Sebagaimana seorang istri mempunyai hak dan kewajiban, begitu pula seorang suami. Jika pihak suami ataupun istri melalaikan kewajiban tersebut, maka dalam bahasa fikih dan al-Quran dianggap istri atau suami nusyuzd.[3] Walaupun penerapan kata ini sering digunakan untuk pihak perempuan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=47&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Setelah mereka menjadi pasangan suami-istri, maka terdapat hak-hak dan kewajiban masing-masing yang harus dihormati dan dilaksanakan. Sebagaimana seorang istri mempunyai hak dan kewajiban, begitu pula seorang suami. Jika pihak suami ataupun istri melalaikan kewajiban tersebut, maka dalam bahasa fikih dan al-Quran dianggap istri atau suami nusyuzd.[3] Walaupun penerapan kata ini sering digunakan untuk pihak perempuan, akan tetapi juga dapat dipraktekkan untuk pihak lelaki. Dalam al-Qur’an dengan jelas menyebutkan bahwa istilah ini juga digunakan untuk kedua belah pihak, baik suami maupun istri. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span id="more-47"></span></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</font></p>
<p align="center"><strong><font face="Times New Roman">Menjawab Mis-Understanding antara Anjuran dan Kewajiban; Pandangan Imam Khameini ra (1)</font></strong></p>
<p align="center" style="text-align:center;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Oleh: Euis Daryati</font></p>
<p><font face="Times New Roman">“Barang siapa yang telah menyia-nyiakan hak-hak keluargany , maka ia telah terlaknat dan terlaknat”[1] (Muhammad Rasulullah saww)</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Salah satu faktor penyebab terjadinya kezaliman adalah ketidaktahuan pelaku atas perbuatan tersebut. Dan ini dapat terjadi dalam berbagai hal, termasuk dalam hukum agama. Kesalahan pemahaman dalam hukum akan menimbulkan sebuah problema. Bahkan mungkin akan menyebabkan terjadinya sebuah kezaliman, meskipun hal itu mungkin tidak disengaja. Salah satu kesalahan pemahaman adalah kesalahan dalam memahami antara perkara yang merupakan sebuah “kewajiban” atau “anjuran”. Akan terjadi percampuradukan antara kewajiban dan anjuran, yang pada akhirnya salah satu pihak obyek hukum akan terzalimi. Tidak hanya sampai di situ, bahkan hukum mungkin saja terputar balik dengan menganggap anjuran sebagai kewajiban atau sebaliknya. Contoh konkrit yang akan dibahas dalam makalah ini adalah kesalahan dalam memahami antara kewajiban dan anjuran hidup berkeluarga antara suami-istri. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Hal ini penting untuk ditelaah kembali agar kesalahan di masa lalu tidak terulang lagi sekaligus menjawab berbagai serangan yang dilakukan oleh kelompok orang yang menamakan dirinya pembela hak-hak kaum perempuan. Karena memang obyek yang sering dirugikan dalam hal ini adalah kaum perempuan.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Ketika kita membaca beberapa buku yang membahas tentang tata cara berkeluarga atau ketika masalah keluarga diajarkan di pesantren-pesantren atau di pusat-pusat pengkajian, maka yang banyak menjadi sorotan adalah perempuan atau calon istri saja. Jarang sekali yang membahas kedua belah pihak sekaligus, yaitu calon suami dan istri. Dalam banyak ceramah dan pengajian yang telah kita dengar, para<br />
nara sumber lebih banyak membahas penekanan pada perempuan saja, seperti bagaimana menjadi istri yang baik, istri harus begini dan begitu, kalau tidak nanti akan menjadi “istri nusyuz”. Seolah-olah menjadi istri malah akan menjadi momok. Nusyuz adalah istilah fikih (hukum Islam) yang diambil dari bahasa Arab untuk seseorang yang tidak lagi mengindahkan kewajiban pada pasangannya. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Di sisi lain, dalam banyak kesempatan, jarang sekali disinggung atau dibawakan hadis-hadis yang membahas bagaimana semestinya perlakuan suami terhadap istri, atau perlakuan Nabi, para Imam dan orang besar terhadap istrinya. Alhamdulillah, sekarang ini telah muncul banyak buku tentang keluarga yang membahas kedua belah pihak, suami istri, dalam upaya membangun sebuah keluarga yang harmonis. Semoga keberadaan buku-buku seperti ini mampu merubah secara bertahap cara berpikir kaum muslim terhadap tata cara menegakkan keluarga secara Islami yang shahih. Di antara para ulama kontemporer yang membahas masalah tersebut adalah Ayatullah Ibrahim Amini, Ayatullah Madzahiri dan lain-lain.</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Urgensi Pengenalan Hak-hak dan Kewajiban Suami Istri</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan terdapat pembahasan yang berkaitan dengan hak dan kewajiban. Dua hal itu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Karena hubungan antara keduanya merupakan konsekwensi logis dan realistis, maka jika terdapat kewajiban di sampingnya pasti terdapat hak, atau sebaliknya. Kecuali hak-hak dan kewajiban Tuhan, yang mana keduanya dapat dipisahkan. Ha ini disebabkan kekuasaan-Nya dan keadilan-Nya yang berlaku bagi hamba-hamba-Nya, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam Ali as dalam khutbah ke-216-nya.[2] Pemisahan antara hak dan kewajiban akan mengakibatkan rusaknya tatanan hidup bermasyarakat, karena hal itu merupakan satu bentuk kezaliman yang tidak bisa diterima oleh akal sehat manusia manapun. Keluarga merupakan sebuah tatanan masyarakat terkecil yang dibangun oleh seorang wanita dan laki-laki melalui sebuah upacara sakral yang bernama pernikahan. Setelah berlangsungnya akad nikah, kedua mempelai tersebut menjadi “halal” antara satu dengan yang lainnya, dan dinamailah hubungan mereka dengan suami-istri.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Setelah mereka menjadi pasangan suami-istri, maka terdapat hak-hak dan kewajiban masing-masing yang harus dihormati dan dilaksanakan. Sebagaimana seorang istri mempunyai hak dan kewajiban, begitu pula seorang suami. Jika pihak suami ataupun istri melalaikan kewajiban tersebut, maka dalam bahasa fikih dan al-Quran dianggap istri atau suami nusyuzd.[3] Walaupun penerapan kata ini sering digunakan untuk pihak perempuan, akan tetapi juga dapat dipraktekkan untuk pihak lelaki. Dalam al-Qur’an dengan jelas menyebutkan bahwa istilah ini juga digunakan untuk kedua belah pihak, baik suami maupun istri. Hanya perbedaan terdapat dalam menangani pihak yang berbuat nusyuzd, antara laki-laki dan perempuan terdapat perbedaan, sebagaimana yang akan kita ulas dalam pembahasan berikutnya. </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Dampak atas Pembahasan “Hak dan Kewajiban”Suami Istri</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Sebagian orang mungkin tidak memberikan respon positif ketika kepadanya dilontarkan pembahasan “hak dan kewajiban” suami istri, karena mereka menganggap hal tersebut akan merusak tatanan sebuah keluarga. Mereka menganggap bahwa dengan mengetahui hak dan kewajibannya, akhirnya istri akan banyak menuntut dan bermalasan-malasan dengan alasan bukan kewajibannya, akan muncul para istri yang egois dan sok pintar, para istri yang tidak mematuhi suami dan lain sebagainya. Tapi, di sisi lain jika tidak dijelaskan, maka yang akan terjadi adalah percampuradukan antara anjuran dan kewajiban. Karena ketidaktahuan, kewajiban yang seharusnya dilaksanakan malah ditinggalkan. Padahal kewajiban harus lebih diutamakan di atas segalanya. Atau terjadi penyelewengan terhadap hukum Islam dengan melegimitasi perbuatannya dengan hukum Islam. Walau demikian, kita tidak mengatakan bahwa karena suatu hal bukanlah sebuah kewajiban, lantas kita tidak perlu melakukannya. Contoh kongkritnya, masalah izin suami. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Maksudnya, istri harus meminta izin suami ketika hendak keluar rumah. Walaupun dalam masalah izin suami, terdapat beberapa pengecualian. Yang perlu kita ketahui adalah, sampai di mana masalah izin dapat diketahui, dipahami dan dilaksanakan oleh masyarakat kita terutama para istrinya? Jadi, sebenarnya kita tidak perlu merasa resah atas dampak yang akan muncul dari pembahasan masalah ini. Karena kita dapat menjadikan pembahasan ini sebagai sebuah wacana yang akan menambah wawasan dan membuka cakrawala alam pemikiran kita. </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Definisi Hak </font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dalam teks-teks ilmu ushul dan fikih, terdapat perbedaan pendapat dalam mendefinisikan kata “hak”. Di antaranya, ada yang mengartikan hak sebagai sebuah kepemilikan (milkiyah), kepenguasaan (sulthaniyah), sesuatu yang bersifat abstrak, dan sebagian lainnya mengartikan sebagai kebebasan (ikhtiyar) dalam bertindak. Namun, dapat dikatakan definisi hak yang terbaik adalah bahwa hak merupakan sebuah penguasaan (sulthaniyah), bukan suatu kepemilikan (milkiyah). Kita dapat mencermati hal ini dari definisi hak yang terdapat dalam fikih yang memiliki makna kepenguasaan, “Alhaqqu sulthanatun fi’liyatun la yu’qal tharafaiha bi asy-syakhsyin wahidin , la yajra li ahadin illa jaraa alaihi wa la yajraa alaihi illa jaraa lahu” (Hak adalah penguasaan realistis yang kedua sisinya tidak dapat diterima jika terdapat dalam satu pribadi. Tidak akan terlaksana pada satu pribadi, kecuali telah dilaksanakan atasnya. Dan tidak akan dilaksanakan atasnya, kecuali telah terlaksana baginya).</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Jadi jelas bahwa hak merupakan kekuasaan atas sesuatu yang tidak mungkin dapat diterapkan kedua sisinya pada satu orang. Akan tetapi, ia harus berdiri tegak pada dua orang: orang pertama sebagai pemilik hak yang dapat mengambil manfaat dan orang kedua sebagai pemenuh hak orang lain. Oleh karena itu, secara fikih, hak tidak bisa dimasukkan pada kategori kepemilikan. Karena ada tiga perbedaan mendasar antara hak dan kepemilikan. Pertama, selain pemilik hak dapat memakai dan meninggalkan haknya tersebut, iapun dapat pula menggugurkan haknya tersebut. Atas dasar tersebut, maka dikatakan; “li kulli dzi haqqin an yusqoth haqqahu” (setiap pemilik hak dapat menggugurkan haknya). Perbedaan kedua, obyek hak selalu berupa pekerjaan, sedang kepemilikan bisa juga berbentuk selain pekerjaan, termasuk kepemilikan atas benda. Perbedaan ketiga adalah, kepemilikan masuk dalam kategori kekuasaan secara penuh dan bersifat kuat, tidak seperti hak. Maksudnya, pemilik sesuatu dapat membelanjakan apapun yang dimilikinya selama tidak bertentangan dengan syariat, sedang hak hanya dapat dilaksanakan pada hal-hal tertentu yang berkaitan dengannya saja.[4] </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Hak-hak dan Kewajiban Suami dan Istri dalam Perspektif Hukum Fikih</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dalam pembahasan ini, penulis tidak berusaha untuk membahas beberapa kewajiban dan hak-hak suami istri berdasarkan fikih argumentatif, tetapi akan membawakan bahasan fikih praktis salah satu marja. Sebagaimana kita ketahui, dalam madzhab Syi’ah terdapat konsep taqlid dan berdasarkan konsep tersebut, orang-orang yang belum mencapai derajat ijtihad, harus merujuk kepada ijtihad salah satu marja yang telah memenuhi semua syarat yang telah ditentukan dalam praktek dan pelaksanaan hukum kesehariannya (Jami’ li as-Syara’ith). Dengan berbagai argumen, penulis hanya akan membawakan pendapat imam Khameini tentang masalah ini, di antaranya: Pertama, karena beliau adalah pencetus revolusi Islam<br />
Iran yang nota bene Syiah. Kedua, beliau merupakan sosok yang cukup dikenal di dunia. </font></p>
<p><strong></strong><strong><strong><font face="Times New Roman">Hak-hak Istri atas Suami:</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Di mana ada hak, di situ ada kewajiban. Di bawah ini adalah hak-hak istri yang menjadi kewajiban bagi suami.</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">1. Memberi nafkah, yang mencakup:</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">a. Pangan (makan).</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">berkenaan dengan memberi makan kepada istri, Imam Khameini dalam kitabnya menjelaskan: “Ukuran makan, adalah dapat mengenyangkan. Adapun jenisnya adalah merujuk pada pandangan umum (urf) masyarakat untuk orang sepertinya”.[5] Masih berkenaan dengan hal ini Imam menjelaskan: “Jika seorang istri terbiasa memakan jenis makanan tertentu dan meninggalkan jenis makanan tersebut akan membahayakannya, maka wajib atas suami untuk menyediakan jenis makanan tersebut”. “Wajib atas suami untuk menyediakan sesuatu selain makanan yang sudah biasa dikonsumsi istri, seperti: teh, kopi,…di mana jika istri meninggalkan kebiasaan tersebut, akan membahayakannya”.[6] “Istri tidak berhak memaksa suami untuk memberi uang sebagai ganti makanan. Tapi, jika hal tersebut berdasarkan kesepakatan bersama, maka istri dapat meminta uang kepada suami sebagai ganti makanan, dan uang tersebut pun menjadi miliknya, dan suami telah terlepas dari kewajibannya”.[7]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">b. Sandang (pakaian). Berkaitan dengan hal ini Imam Khameini menjelaskan: “Wajib atas suami menyediakan pakaian untuk istrinya, sedang tolok ukur dan jenisnya harus sesuai dengan status sosialnya (Sya’niat). Begitu pula wajib atas suami, untuk menyediakan pakaian untuk berbagai musim. Bahkan jika istrinya merupakan orang yang suka berganti penampilan (tajammul), maka wajib atas suami untuk menyediakan pakaian yang sesuai dengan pandangan masyarakat (urf) untuk orang sepertinya”.[8] Keterangan: Suami harus menyediakan pakaian yang sesuai dengan status istrinya dalam pandangan (urf) masyarakat, jika perkara tersebut tidak menyebabkan perbuatan haram, misalnya pakaian untuk diperlihatkan kepada laki-laki yang bukan mahram. Atau menyebabkan berlebih-lebihan (israf), seperti setiap ada undangan harus memakai baju baru, maka dalam ini suami tidak wajib untuk menyediakannya.[9]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">c. Papan (tempat tinggal). Imam Khameini menjelaskan: “Wajib atas suami menyediakan rumah yang layak untuk istri. Baik rumah milik sendiri, menyewa atau dengan cara lainnya. Begitupula istri dapat memohon kepada suami agar tidak ada yang tinggal di rumahnya kecuali ia dan suaminya”.[10] ”Menyediakan perkakas rumah yang diperlukan istri adalah kewajiban suami…”.[11] ”Menyediakan obat-obatan untuk istri yang sesuai dengan kebutuhan yang wajar…”.[12] “Menyediakan pelayan, jika istrinya orang yang terhormat dan sebelumnya terbiasa memiliki pelayan…”.[13] “Diwajibkan atas suami untuk memberikan nafkah kepada kepada istrinya, baik istrinya membutuhkan maupun tidak. Walaupun istrinya merupakan orang yang terkaya pula”.[14] Dalam pembahasan seterusnya imam Khameini menjelaskan bahwa sebaiknya yang menjadi tolok ukur dalam penentuan semua nafkah yang telah disebutkan di atas adalah merujuk kepada kebiasaan dan pandangan masyarakat umum (urf) tempat tinggal (<br />
kota) istri, yang ia tinggali sekarang…”.[15]</font></p>
<p><strong></strong><strong><strong><font face="Times New Roman">2. Memaafkan Kesalahan Istri</font></strong></p>
<p></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dalam Tahrir al-Wasilah imam Khameini menjelaskan: “Memaafkan kesalahan Istri, jika kesalahan tersebut dilakukan karena ketidaktahuan(jahl)”.[16]</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">3. Berlaku Baik terhadap Istri</font></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Diwajibkan atas suami untuk berlaku baik terhadap istrinya, dan bertutur sapa dengan baik sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadis…”.[17] “Suami tidak berhak memaksa istrinya, untuk melakukan pekerjaan rumah”.[18]</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">4. Hak untuk mendapatkan Nafkah Batin (Hubungan Biologis)</font></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Seorang suami tidak boleh meninggalkan hubungan biologis dengan istrinya lebih dari empat bulan, bahkan untuk nikah mut’ah sekalipun. Kecuali istrinya merelakannya, atau karena ada uzur (halangan) yang dapat membahayakan suami atau istri. Salah satu uzur adalah suami tidak dapat berhubungan karena terdapat gangguan dalam alat kelamin. Adapun meninggalkan hubungan biologis atas dasar tidak ada uzur seperti hal-hal yang disebutkan di atas, maka bagi seseorang yang tidak musafir (tidak bepergian) wajib untuk melaksanakannya. Adapun, bagi orang yang musafir, selama kepergian adalah untuk keperluan darurat menurut pandangan umum (urf), seperti untuk berdagang, berziarah, belajar dan sebagainya, maka ia dapat meninggalkan kewajibannya tersebut. Tetapi, jika kepergiannya bukan karena urusan darurat, seperti untuk berrekreasi dan bersenang-senang, maka ia harus melakukan kewajiban tersebut”.[19] </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Seorang suami tidak dapat membiarkan istrinya sehingga ia seperti seorang perempuan yang tidak dapat dikatakan bersuami juga tidak dapat dikatakan tidak bersuami. Tapi, walaupun demikian tidak harus tinggal bersama istrinya sekali dalam empat malam”.[20] “Jika istrinya seorang gadis, maka pada tujuh hari pertama pernikahannya, suami harus tidur bersama istrinya Namun jika istrinya seorang janda, maka hanya pada tiga hari pertama saja, kecuali istrinya merelakannya hak-haknya”.[21]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Bersambung….</font><strong><font face="Times New Roman"> </font></strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/47/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/47/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=47&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/19/menjawab-mis-undertanding-antara-anjuran-dan-kewajiban-versi-imam-khumaini-ra-1-relasi-hak-dan-kewajiban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perempuan Iran</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/18/perempuan-iran/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/18/perempuan-iran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Apr 2007 02:46:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/18/perempuan-iran/</guid>
		<description><![CDATA[Sebagaimana umumnya perempuan Melayu, saya biasanya memendam kekesalan dengan diam atau menangis. Melihat ada perempuan lain dengan gagah berani menampar lelaki kurang ajar membuat saya merasa terwakili. Meskipun sebenarnya pengalaman saya beberapa kali kena colek lelaki kurang ajar terjadi di negeri saya sendiri, bukan di Iran.   &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- Perempuan Iran Oleh: Dina Y Suleman &#160; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=43&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/pasdaran-perempuan.jpg" title="pasdaran-perempuan.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/pasdaran-perempuan.thumbnail.jpg?w=500" alt="pasdaran-perempuan.jpg" /></a></font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Sebagaimana umumnya perempuan Melayu, saya biasanya memendam kekesalan dengan diam atau menangis. Melihat ada perempuan lain dengan gagah berani menampar lelaki kurang ajar membuat saya merasa terwakili. Meskipun sebenarnya pengalaman saya beberapa kali kena colek lelaki kurang ajar terjadi di negeri saya sendiri, bukan di Iran.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span id="more-43"></span> </font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- </font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p align="center"><strong><span style="font-size:14pt;"><font face="Times New Roman">Perempuan Iran</font></span></strong></p>
<p align="center" style="text-align:center;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Oleh: Dina Y Suleman</font></p>
<p align="center" style="text-align:center;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Apa yang Anda bayangkan tentang perempuan Iran? Hitam (bajunya), keras, saklek, atau apa lagi? Tujuh tahun lalu, ketika saya pertama kali saya menatap mereka, saya juga punya kesan yang kurang lebih sama. Mata mereka memancarkan ketegasan atau mungkin, kekeraskepalaan. Apalagi, sepertinya mereka sama sekali tidak sungkan untuk berbicara apapun sesuai isi hati mereka. Mereka sama sekali tidak segan untuk mengajukan pertanyaan yang sangat personal kepada saya: dari mana, sedang apa di sini, siapa yang membiayaimu hidup di sini, berapa uang beasiswa perbulan yang kau terima, (atau setelah saya bekerja: berapa gaji yang kau terima)? Pertanyaan-pertanyaan itu sering saya dapatkan di atas bis, di mesjid, atau di salon, dari perempuan-perempuan yang tak saya kenal. </font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Kadang-kadang, saya merasa kesal dihujani pertanyaan personal seperti itu, apalagi dari orang tak dikenal. Namun, kadang-kadang saya merasakan hal itu sebagai sikap hangat. Apalagi bila saya sedang kebingungan berada di tempat asing, misalnya sedang duduk di sebuah pesta yang orang-orangnya tidak saya kenal. Mereka akan menyapa dan dengan hangat bertanya ini-itu. Hal itu membuat saya sedikit lega dan tidak lagi merasa bagai kambing congek. “Keberanian” mulut mereka juga dengan mudah ditemui di antrian pasar. Di pasar dekat rumah kami, setelah mengambil barang belanjaan sesuai keinginan, kami harus mengantri di depan kasir, terutama bila berbelanja di pagi hari yang ramai. </font><font face="Times New Roman">Orang-orang Iran memang umumnya patuh pada antrian, namun selalu saja ada yang tebal muka. Pertengkaran pun muncul, dengan suara keras. Yang satu tebal muka, yang lain tidak mau kehilangan hak karena disalip dalam antrian. </font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Terkadang saya salut juga dengan keberanian para perempuan itu menyampaikan pendapat. Misalnya, suatu saat saya pernah melihat seorang perempuan menampar dan memaki-maki dengan galak seorang laik-laki yang mencoleknya. Saya bangga sekali melihat kejadian itu. Soalnya, sebagaimana umumnya perempuan Melayu, saya biasanya memendam kekesalan dengan diam atau menangis. Melihat ada perempuan lain dengan gagah berani menampar lelaki kurang ajar membuat saya merasa terwakili. Meskipun sebenarnya pengalaman saya beberapa kali kena colek lelaki kurang ajar terjadi di negeri saya sendiri, bukan di Iran. </font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Atau, suatu saat saya melihat seorang perempuan Iran dengan suara keras marah-marah di pool taksi </font><font face="Times New Roman">di Sadeqieh Square, square terdekat dari rumah kami. Katanya, “ Para pejabat bermunculan di tivi menjanjikan tidak ada kenaikan harga. Mana buktinya?!” Dia lalu berpanjang lebar memaki-maki pemerintah. Benar-benar berani, pikir saya. Meski, terasa aneh juga karena ternyata, tarif taksi untuk trayek Sazman Barnameh-Sadeqieh Square hanya naik 250 Rial (senilai dengan 250 Rupiah). </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Seiring dengan berlalunya waktu, saya mulai bisa mengenali jenis-jenis perempuan Iran. Ada yang memang keras dan tegas, dan bisa dibilang tidak berperasaan dalam bersikap (untuk ukuran perempuan<br />
Indonesia). Mereka yang seperti itu biasanya datang dari desa, atau tidak berpendidikan cukup, atau berasal dari daerah-daerah panas. Sebaliknya, perempuan dari Teheran, Isfahan, atau dari utara Iran (yang hawanya dingin), dan yang berpendidikan tinggi, umumnya sangat lemah-lembut dalam bertutur kata atau bersikap. Wajah mereka pun biasanya cantik-cantik dan berkulit putih.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Kelemahlembutan (sebagian) perempuan Iran membuat saya banyak belajar tentang basa-basi dan sikap menyenangkan orang lain. Hanya untuk menanyakan kabar seseorang saja butuh waktu bermenit-menit. Hale shuma khube? Khanevade cheturand? Khube? Dukhtaret cheture? Khuda negares dare.. bla..bla&#8230; (Kabarmu baik? Keluarga bagaimana? Baik? Putrimu bagaimana? Semoga Tuhan menjaganya). Bila melihat saya menggendong anak, perempuan-perempuan itu akan menghujani anak saya dengan berbagai puji-pujian, meski terkadang terasa berlebihan. Namun, menyenangkan orang lain termasuk ibadah, bukan? Jadi, saya pun belajar untuk memperbanyak kosa kata puji-pujian dalam bahasa Persia agar bisa balik memuji-muji mereka. Sebaliknya, keberanian mereka untuk memprotes sesuatu dan bertengkar mulut demi mempertahankan hak, membuat saya belajar untuk berani juga. Minimalnya, sekarang saya tidak mengomel dalam hati lagi bila ada yang menyalip antrian di pasar, melainkan dengan tegas mengajari si penyalip itu agar tahu diri. Bahkan kalau perlu, bertengkar mulut dengannya</font></p>
<p><font face="Times New Roman">(Tulisan ini pernah dimuat di Surabaya Post. Tulisan mengenai Perempuan Iran dimuat dalam 3 bagian, ini salah satu di antaranya)</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/43/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/43/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=43&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/18/perempuan-iran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/pasdaran-perempuan.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pasdaran-perempuan.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cinta Sejati (3)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/17/cinta-sejati-3/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/17/cinta-sejati-3/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 15:58:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/17/cinta-sejati-3/</guid>
		<description><![CDATA[Tiba giliran anak terkecil yaitu balita menyusui. Ia bersabar sewaktu anak-anak lainnya dilempar ke dalam tungku api. Namun hatinya teriris di saat menyaksikan bayinya akan dilempar ke dalam tungku api. Fir’aun berkata: “Jika tetap beriman kepada Tuhanmu, maka bayi ini akan aku lemparkan ke dalam tungku”. Hampir saja ia hendak berkata, tiba-tiba bayinya berkata: “Bersabarlah, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=42&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Tiba giliran anak terkecil yaitu balita menyusui. Ia bersabar sewaktu anak-anak lainnya dilempar ke dalam tungku api. Namun hatinya teriris di saat menyaksikan bayinya akan dilempar ke dalam tungku api. Fir’aun berkata: “Jika tetap beriman kepada Tuhanmu, maka bayi ini akan aku lemparkan ke dalam tungku”. Hampir saja ia hendak berkata, tiba-tiba bayinya berkata: “Bersabarlah, engkau benar wahai ibuku!”. Akhirnya Fir’aun melemparkan bayinya ke dalam tungku. Terakhir Fir’aun melemparkan perias tersebut ke dalam tungku api, sampai akhirnya mati syahid dan menemui Kekasih sejatinya.. </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman"><span id="more-42"></span></font></strong></p>
<p><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</font><strong></p>
<p align="center"><strong><font face="Times New Roman">Cinta Sejati (3)</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Tukang rias putri Fir’aun (Masyithoh) telah beriman kepada Allah swt dan mengikuti Nabi Musa as. Pada suatu hari ia sedang menyisiri rambut putri Fir’aun, tiba-tiba sisir jatuh dari tangannya. Lantas ia mengambil sisir tersebut dengan menyebut nama Allah swt. Menyaksikan hal itu, putri Fir’aun bertanya: “Apakah ada Tuhan selain ayahku?” ia <span> </span>menjawab: “Tuhanku, Tuhan ayahmu, Tuhan langit dan bumi adalah satu, tiada sekutu bagi-Nya”. </font><font face="Times New Roman">Setelah mendengar jawaban pelayannya, putri Fir’aun enyah dari tempat itu dalam keadaan menangis. Sewaktu Fir’aun melihat ia menangis, lantas bertanya tentang sebab tangisannya kepadanya. Ia menjawab: “Periasku mengatakan bahwa Tuhanku, Tuhannmu dan Tuhan langit dan bumi adalah satu”.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Fir’aun murka mendengar hal itu, dan ia memerintahkan kepada bawahannya untuk membawa perias itu ke hadapannya. Fir’aun berkata: “Jika engkau tidak mengingkari ucapanmu maka engkau akan binasa”.<span>  </span>Namun perias itu tidak keluar dari keimanannya. Fir’aun memerintahkan kepada para bawahannya untuk menyediakan tungku api, dan berkata: “Lemparkan semua anak perias ini ke dalamnya”. Lantas satu persatu anak perias putri Firaun tersebut dilemparkan ke dalam tungku api.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Tiba giliran anak terkecil yaitu balita menyusui. Ia bersabar sewaktu anak-anak lainnya dilempar ke dalam tungku api. Namun hatinya teriris di saat menyaksikan bayinya akan dilempar ke dalam tungku api. Fir’aun berkata: “Jika tetap beriman kepada Tuhanmu, maka bayi ini akan aku lemparkan ke dalam tungku”. Hampir saja ia hendak berkata, tiba-tiba bayinya berkata: “Bersabarlah, engkau benar wahai ibuku!”. Akhirnya Fir’aun melemparkan bayinya ke dalam tungku. Terakhir Fir’aun melemparkan perias tersebut ke dalam tungku api, sampai akhirnya mati syahid dan menemui Kekasih sejatinya.. </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dalam sebuah hadis disebutkan, sewaktu Rasulullah bermi’raj, beliau mencium bau yang sangat harum sekali. Lantas beliau bertanya kepada Jibrail as, “Harum apakah ini, sampai harum begini?”, “Ini harum yang berasal dari abu jasad perias anak perempuan Fir’aun dan anak-anaknya, yang telah disebarkan di sini. Bau harum ini akan terus berlangsung sampai hari kiamat” jawabnya. </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[Euis D, dari Zanon Mardon Ofarin-e Tarikh, hal: 54-55] </font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/42/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/42/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=42&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/17/cinta-sejati-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Keutamaan Sayyidah Fathimah Az-Zahra as (2)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/17/mengenal-keutamaan-sayyidah-fathimah-az-zahra-as-2/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/17/mengenal-keutamaan-sayyidah-fathimah-az-zahra-as-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 15:48:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/17/mengenal-keutamaan-sayyidah-fathimah-az-zahra-as-2/</guid>
		<description><![CDATA[Pada malam Jumat, aku melihat ibuku sedang beribadah sepanjang malam. Beliau berdiri, ruku’ dan sujud sampai menjelang matahari terbit. Aku mendengar beliau menyebutkan satu persatu nama-nama orang mukmin baik laki-laki maupun perempuan dan mendoakan mereka semua. Sementara beliau tidak berdoa untuk dirinya sendiri. Setelah itu aku bertanya kepadanya, Ibu! Mengapa kau berdoa hanya untuk orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=41&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/mawar-ilahi.jpg" title="mawar-ilahi.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/mawar-ilahi.thumbnail.jpg?w=500" alt="mawar-ilahi.jpg" /></a></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Pada malam Jumat, aku melihat ibuku sedang beribadah sepanjang malam. Beliau berdiri, ruku’ dan sujud sampai menjelang matahari terbit. Aku mendengar beliau menyebutkan satu persatu nama-nama orang mukmin baik laki-laki maupun perempuan dan mendoakan mereka semua. Sementara beliau tidak berdoa untuk dirinya sendiri. Setelah itu aku bertanya kepadanya, Ibu! Mengapa kau berdoa hanya untuk orang lain? Sementara engkau tidak berdoa untuk dirimu sendiri?. Beliau menjawab, Anakku! Pertama tetangga, kemudian keluarga</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman"> <span id="more-41"></span></font></strong><strong> </strong><strong><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</font></strong><strong><font face="Times New Roman"> </font></strong></p>
<p align="center"><strong><strong><font face="Times New Roman">Mengenal Keutamaan Sayyidah Fathimah Az-Zahra as (2)</font></strong></strong></p>
<p style="text-align:center;margin:0;" class="MsoNormal" align="center"><font face="Times New Roman">Oleh: Fathimah as-Segaff*</font></p>
<p><strong><strong><font face="Times New Roman">Pernikahan Penuh Berkah</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Sebagaimana yang dikehendaki Allah swt, Ali as adalah merupakan pasangan sejati Fathimah as. Dalam sebuah hadis Rasul saww bersabda: “Kalau Allah swt tidak menciptakan Ali as maka tidak akan ada (pasangan) yang sesuai untuk Fathimah as”. </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Secara zahir pernikahan beliau berdua merupakan pernikahan yang sangat sederhana, baik dari sisi mahar maupun perayaannya. Namun pernikahan mereka merupakan pernikahan yang sangat agung dan penting, karena keduanya merupakan manusia agung dan perwujudan segenap kemuliaan dan kesempurnaan. Perayaan pernikahan juga dihadiri oleh para malaikat. Rasul mengetahui Jibril, Mika’il dan Israfil telah datang untuk merayakan pernikahan Fathimah as dan Ali as, lalu Rasul bertanya: “Wahai Jibril untuk apa engkau datang ke mari?” Dia berkata: “Untuk merayakan pernikahan Fathimah”, lalu Jibril mengucapkan takbir. Bahkan di langit pun, pernikahan Fathimah as dirayakan dengan sangat meriah. Allah swt memerintahkan kepada malaikat Jibril untuk membacakan khutbah akad nikah Fathimah as dan Ali as.[10]</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Mahar beliau adalah hasil penjualan perisai (baju perang) yang dengan itu perayaan diselenggarakan dan mengundang orang yang cukup banyak. </font><font face="Times New Roman">Pada malam pernikahan, Imam Ali as melihat istrinya sedang menangis. Imam Ali as menanyakan sebabnya, Fathimah berkata,“Aku sedang mengingat akhir hayatku dan alam kubur, perpindahanku dari rumah ayahku ke rumahmu mengingatkan aku akan hal itu. Berjanjilah kepada Allah pada saat ini kita mulai dengan mengerjakan sholat dan beribadah kepada-Nya”.[11] </font><font face="Times New Roman">Ketika esok harinya Rasul bertanya kepada Imam Ali as, “Bagaimana menurutmu tentang Fathimah?” Imam Ali as menjawab, ”Sebaik-baiknya teman untuk beribadah kepada Allah”.[12]</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Ibadah Fathimah as </font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Ibadah yang merupakan sarana penghubung antara makhluk dengan Khaliknya merupakan bentuk penyerahan diri seorang hamba terhadap Sang Khalik. Ibadah sejati adalah ibadah yang didasari dengan makrifat. Fathimah as memiliki makrifat begitu dalam terhadap Tuhannya sehingga ibadahnya pun merupakan perwujudan cintanya. Tiada wanita lain yang mampu menandinginya. Hasan Basri seorang ulama besar berkata: “Tiada yang banyak ibadahnya di dunia ini selain Fathimah as, beliau beribadah sampai kakinya bengkak”. Begitu luasnya ibadah Fathimah hingga setiap prilaku beliau adalah merupakan ibadah. Setiap malam setelah menidurkan anak dan menyelesaikan semua pekerjaan rumah, beliau beribadah untuk menemui Sang Kekasih Sejati sampai kakinya bengkak.[13] </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Setelah Fathimah as menikah, beliau menjadi guru para wanita. Mereka mendatangi beliau dan bertanya masalah fiqh serta akidah. Fathimah as juga turut membantu menyelesaikan segala persoalan mereka. </font><font face="Times New Roman">Beliau mendidik putra-putri beliau, membangunkan anak-anak di malam Qadar, dan tidak pernah meninggalkan sholat malam. Beliau juga memberi contoh kepada kita cara bersabar. </font><font face="Times New Roman">Para Imam berkata:</font></p>
<p><font face="Times New Roman">”Putri Rasulullah bagiku adalah seorang teladan, Fathimah adalah contoh bagiku, bukan karena dia ibuku, akan tetapi karena beliau putri Rasulullah, beliau bagian dari Rasul dan menjadi contoh dalam menjalankan perintah Allah swt”.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Imam Mujtaba as berkata: </font><font face="Times New Roman">“Pada malam Jumat, aku melihat ibuku sedang beribadah sepanjang malam. Beliau berdiri, ruku’ dan sujud sampai menjelang matahari terbit. Aku mendengar beliau menyebutkan satu persatu nama-nama orang mukmin baik laki-laki maupun perempuan dan mendoakan mereka semua. Sementara beliau tidak berdoa untuk dirinya sendiri. Setelah itu aku bertanya kepadanya, Ibu! Mengapa kau berdoa hanya untuk orang lain? Sementara engkau tidak berdoa untuk dirimu sendiri?. Beliau menjawab, Anakku! Pertama tetangga, kemudian keluarga!”</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Setelah Wafatnya Rasul</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Beliau hidup hanya 75 hari setelah wafatnya Rasul. Dalam masa itu malaikat Jibril selalu menemuinya dan mengucapkan belasungkawa kepada Fathimah as. Jibril menyampaikan kepada beliau perkara-perkara yang akan datang dan Imam Ali as mencatatnya, yang kemudian dikenal dengan Mushaf Fathimah.[14]</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Kepemilikan Tanah Fadak </font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Setelah pembukaan fadak, Allah telah memerintahkan Rasul untuk memberikan fadak kepada yang berhak. Rasul bertanya kepada Jibril,”Siapa yang dimaksud dengan dzalqurba dan apa haknya?. Jibril menjawab,Berikan fadak kepada Fathimah!”[15]  </font><font face="Times New Roman">Lalu Rasul menghadiahkan fadak kepada Fathimah as yang setelah Rasul wafat direbut oleh Abu Bakar. Tapi Fathimah as mempertahankan miliknya. Setelah beliau mengetahui perampasan fadak oleh Abu Bakar, beliau menyampaikan khutbah kepada masyarakat Madinah. Dan beliau bertanya kepada Abu Bakar:</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">”Wahai putra Kuhafah! Apa ada dalam kitab Allah yang engkau katakan, bahwasannya engkau bisa mewarisi dari ayahmu sedangkan aku tidak bisa bisa mewarisi dari ayahku? Kalau memang begitu seperti yang engkau katakan, maka kau telah bertentangan dengan Islam dan engkau telah membuat kebohongan besar kepada Allah atas apa yang telah engkau katakan, yang telah engkau sandarkan kepada kitab-Nya”.</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Fathimah as Pembela Hak Imam Ali as</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Peran teragung Fathimah as setelah wafatnya Rasul saww adalah pembelaan beliau terhadap keimamahan Imam Ali as yang telah direbut oleh tangan-tangan serakah. Jelas pembelaan beliau terhadap Imam Ali as bukan karena beliau adalah istrinya, tetapi pembelaan yang didasari oleh makrifat beliau terhadap Imam pada zamannya. Fathimah as mengingatkan hari Ghadir, mempertahankan wilayah, dan memerangi orang yang merusak bai’atnya di hari Ghadir. Setiap malam beliau mendatangi Muhajirin dan Anshor untuk mengingatkan kembali bahwa kekhalifahan Imam Ali as telah direbut oleh mereka. Dalam sebuah hadis beliau berkata kepada Imam Ali: “Wahai Abbal Hasan! Jiwaku kukorbankan untukmu dan jiwaku kukorbankan untuk menjaganmu. Jika kau dalam kebaikan aku tetap bersamamu, begitu juga jika kau dalam kesulitan aku akan tetap bersamamu”. </font><font face="Times New Roman">Ini adalah suatu bukti kesetiaan beliau terhadap Imam Ali sa.[16]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Karena Imam Ali as tidak mau membaiat khalifah, mereka mendatangi rumah dan ingin membawa Imam Ali as ke mesjid secara paksa, tapi mereka tidak berhasil. Mereka lalu memerintahkan pasukannya untuk mambakar rumah putri Rasul. Umar mendobrak pintu sementara Fathimah as ada di balik pintu. Sampai-sampai daun pintu mengenai bayi yang sedang berada di kandungannya dan beliaupun terjatuh.[17]</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Perpisahan dengan Fathimah as </font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Pada akhirnya waktu berpisah dengan az-Zahra telah tiba. Beliau berpesan kepada Imam Ali as,“Mandikanlah aku pada malam hari dan kenakan kafan dan makamkan aku, jangan kau ijinkan kepada mereka yang telah merampas hakku untuk menyolatkan aku”.[18] </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Az-Zahra telah kembali kepada-Nya. Imam Ali as beserta anak-anaknya menghadapi kesedihan yang dalam. Atas kejadian ini, Imam Ali as berkata, ”Wujudmu berarti untukku”. Imam Ali as pada malam hari memandikan istri beliau dan mengenakan kafannya dan sebelum mengikat kain kafan itu, beliau memanggil anak-anak beliau,”Wahai Hasan! Wahai Husain! Wahai Zainab! Wahai Ummu Kultsum! Kemarilah, ucapkan selamat tinggal kepada ibu kalian”. Anak-anak mendatangi ayah beliau dan mereka menangis dengan perlahan-lahan hingga kain kafan Fathimah as basah oleh air mata.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Imam Ali berkata,”Pada saat itu, Allah aku jadikan saksi, Fathimah bersedih dan mengeluarkan kedua tangannya, Hasan dan Husain digendong olehnya”. Jibril menjerit,”Wahai Ali! Angkatlah keduanya dari badan ibunya, malikat-malaikat tidak sanggup melihatnya!”.</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Ilmu Fathimah</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Pengetahuan Fathimah terhadap risalah agama tidak dapat diragukan lagi, karena beliau telah berhubungan langsung dengan alam malakuti. Ketika tidak seorang pun yang menjawab pertanyaan Rasulullah,”Apa yang bisa menjadikan wanita dekat kepada Allah?” Sayyidah Fathimah menjawab, ”Pada saat wanita tinggal di dalam rumah dan mengerjakan pekerjaannya dan mendidik anaknya, ia lebih dekat kepada Allah swt”. </font><font face="Times New Roman">Demi Allah! Siapa yang mencintai Fathimah as, pasti mencintai Allah dan Rasul-Nya. Kecintaan kita kepada putrinya adalah sesuatu yang manis yang tidak semua orang dapat merasakannya. </font><font face="Times New Roman">Satu-satunya yang kita inginkan adalah memperoleh syafaat beliau yang luas. Insya Allah.[<a href="http://islamalternatif.com" target="_blank" title="islam feminis">islamalternatif.com</a>]</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">*Adalah Mahasiswi jurusan Tarbiyah Islamiyah di Universitas Jami&#8217;ah Zahra Qom-Iran.</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Rujukan:</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[1] Najafi, Muhamad, Shadiqeh Syahideh Fatimeh Zahra, 1381,<br />
Qom: Nasoyeh, hal. 5.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[2] Qazwini, Muhamad Kazim, Fotimeh Zahra az syahodat to wiladat, 1382, Edisi Persi, Qom: Nasyre Murteza, hal. 98-99.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[3] Najafi, Muhamad, opcit, hal. 6-7.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[4] Qazwini, Muhamad Kazim, opcit, hal. 48.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[ [5] Zadeh, Muhamad Reza Amin, Fazaile Ahle Baet az Manabi-e Ahli Sunat, 1377,<br />
Qom: Intisyorot dar Rohe Haq, hal:94.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[6] Ibid, hal. 94.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[7] Ibid, hal. 97.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[8] Yazdi, Muhamad Taqi Misbah, Jami az Zalol-e Kausar, 1381,<br />
Qom: Intisyoroti Muaseseye Omuzes wa Pazuhesyi-e Emom Khomaeni, hal:28.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[9] Najafi, Muhamad, opcit, hal:11-13.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[10] Ibid, hal. 82-84.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[11] Yazdi, Muhamad Taqi Misbah, opcit, hal. 100-101.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[ 12] Kumpulan Makalah Seminar ke-3, Joygohe Zan dar Islom va Gharb, 1381,<br />
Qom: Markaz Jahoni, hal:223.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[13] Yazdi, Muhamad Taqi Misbah, opcit, hal. 99-100.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[14] Ibid, hal. 35-37.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[15] Zadeh, Muhamad Reza Amin, opcit, hal 97-98.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[16] Yazdi, Muhamad Taqi Misbah, opcit, hal: 145-146.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[17] Ibid, hal. 145-146.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[18] Najafi, Muhamad, opcit, hal. 154</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/41/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/41/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=41&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/17/mengenal-keutamaan-sayyidah-fathimah-az-zahra-as-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/mawar-ilahi.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mawar-ilahi.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kami Ingin Memiliki Anak yang Saleh</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/17/apakah-tujuan-pendidikan/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/17/apakah-tujuan-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 15:41:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi Keluarga & Pendidikan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/17/apakah-tujuan-pendidikan/</guid>
		<description><![CDATA[  Dalam berbagai sistem pendidikan -baik formal maupun informal- pemenuhan kebutuhan materi dan non materi manusia haruslah dipenuhi secara seimbang. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam ketiga hadis di atas. Nama baik yang diberikan orang tua akan berpengaruh pada kepribadian anak. Membaca al-Qur’an dan menulis mengisyaratkann pada perkembangan intelektual anak. Berenang dan memanah mengisyaratkan akan perkembangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=40&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"> <a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/safiah-mujtahidah.jpg" title="safiah-mujtahidah.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/safiah-mujtahidah.thumbnail.jpg?w=500" alt="safiah-mujtahidah.jpg" /></a></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dalam berbagai sistem pendidikan -baik formal maupun informal- pemenuhan kebutuhan materi dan non materi manusia haruslah dipenuhi secara seimbang. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam ketiga hadis di atas. Nama baik yang diberikan orang tua akan berpengaruh pada kepribadian anak. Membaca al-Qur’an dan menulis mengisyaratkann pada perkembangan intelektual anak. Berenang dan memanah mengisyaratkan akan perkembangan jasmani anak. Mencintai Nabi dan keluarganya, membaca al-Quran mengiyaratkan pada perkembangan religius dan sepiritual anak. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span id="more-40"></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</font></p>
<p align="center"><strong>Kami Ingin Memiliki Anak yang Saleh</strong></p>
<p><strong><strong><font face="Times New Roman">Apakah Tujuan Pendidikan Anak dalam Islam?</font></strong><strong><font face="Times New Roman"> </font></strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><strong>Jawab: </strong>Rasul Saww bersabda:</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">-“Di antara hak-hak anak atas orang tuanya ialah; memberi nama baik, mengajarkan menulis<span>  </span>dan menikahkannya ketika dewasa”. (Makarimal akhlak, dinukil dari Muntakhab Mizan al-Hikmah, hal 614)</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">-“Ajarkanlah pada anak kalian; mencintai Nabi, mencintai keluarga (Ahly Bayt)Nabi, dan membaca Al-Qur’an”.(Kanzul Umal, dinukil dari Muntakhab Mizan al-Hikmah, hal 614)</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">- “Ajarilah anak kalian; berenang dan memanah”.(Wasa’il Asy-Syi’ah, dinukil dari Muntakhab Mizan al-Hikmah, hal 614)</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Manusia merupakan wujud dua dimensi, dimensi jasmani dan ruhani. Kedua dimensi tersebut sama-sama memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi. Jika pemenuhan kebutuhan itu hanya dilakukan sebagian saja, atau tidak sama sekali, akan terjadi kepincangan. Karena sebagaimana jasmani memerlukan makanan, ruhani pun seperti itu.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Kita dapat lihat pada masa sekarang ini -terkhusus pada dunia Barat ataupun pada masyarakat kita sendiri- manusia hanya dianggap sebagai robot hidup. Manusia hanya dianggap memiliki tubuh materi, semuanya hanya cenderung ke arah kehidupan materialistis. Krisis spiritual, kehampaan, dan kehilangan jati diri adalah merupakan efek dari kehidupan materialistis. </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Oleh karena itu, jelaslah bahwa dalam berbagai sistem pendidikan -baik formal maupun informal- pemenuhan kebutuhan materi dan non materi manusia haruslah dipenuhi secara seimbang. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam ketiga hadis di atas. Nama baik yang diberikan orang tua akan berpengaruh pada kepribadian anak. Membaca al-Qur’an dan menulis mengisyaratkann pada perkembangan intelektual anak. Berenang dan memanah mengisyaratkan akan perkembangan jasmani anak. Mencintai Nabi dan keluarganya, membaca al-Quran mengiyaratkan pada perkembangan religius dan sepiritual anak. </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Namun sayangnya, fenomena yang sering kita saksikan adalah pembatasan arti pendidikan pada pendidikan formal saja, sehingga manusia dianggap terpelajar jika dia telah belajar secara formal. Manusia dianggap sukses bila telah meraih ijazah formalitas dan jarang sekali orang yang meraih pencerahan religiulitas dan spiritualitas disebut sebagai orang sukses.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Mungkin inilah tanda akhir zaman seperti yang telah dijelaskan oleh Rasulullah. Dalam hadis disebutkan pada suatu hari Rasulullah menatap anak-anak yang sedang bermain, lantas beliau bersabda: “Celakalah para orang tua akhir zaman! Seorang bertanya: “Wahai Rasulullah apakah mereka menyekutukan Allah swt? Rasulullah menjawab: “Tidak, mereka beriman. Akan tetapi mereka tidak mengajarkan agama. Dan jika anak-anak mereka menginginkan untuk mempelajarinya, para orang tua mengahalanginya. Mereka hanya merasa senang, jika anak mereka berhasil dari sisi harta keindahan dunia saja. Aku berlepas tangan dari mereka, dan mereka… ”.(Dinukil dari buku; diwist doston-e kutoh, hal 48)</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Oleh karena itu tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk mencetak generasi yang sehat jasmani maupun ruhani. Sebagaimana yang telah disinggung oleh ketiga hadis di atas. Adalah tugas orang tua untuk mendidik anak sebaik mungkin agar kelak si anak tidak tumbuh menjadi seorang berintelektual tinggi, namun berakhlak seperti anak kecil yang tidak tahu mana yang benar, mana yang salah. </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Manusia yang tidak seimbang inilah yang melakukan korupsi dan penipuan di sana-sini. Bila kita perhatikan, mulai dari koruptor kelas kakap sampai kelas teri di<br />
Indonesia kebanyakan adalah orang-orang yang sehat jasmani dan berpendidikan tinggi. Namun, karena sisi moralitas, spiritualitas, dan religiulitas mereka tidak berkembang dengan baik, manusia-manusia seperti itu bisa disebut sebagai manusia yang cacat. [Euis .D]</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/40/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/40/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=40&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/17/apakah-tujuan-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/safiah-mujtahidah.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">safiah-mujtahidah.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yang Dimintai Pertanggungjawaban dari Kedua Orang Tua</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/16/pentingkah-pendidikan-anak/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/16/pentingkah-pendidikan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Apr 2007 09:08:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi Keluarga & Pendidikan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/16/pentingkah-pendidikan-anak/</guid>
		<description><![CDATA[  Anak merupakan bagian dari keluarga. Dan berdasarkan ayat di atas orang tua berkewajiban untuk menjaganya dari api neraka. Lantas bagaimana menjaga keluarga terkhusus anak dari api neraka? Ialah dengan cara mendidik dan mengajarkan kepadanya untuk meninggalkan hal-hal yang membuatnya terjerumus ke dalam api neraka.    &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Yang Dimintai Pertanggungjawaban dari Kedua Orang Tua  Pentingkah Pendidikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=38&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/ama-adik-icut.jpg" title="ama-adik-icut.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/ama-adik-icut.thumbnail.jpg?w=500" alt="ama-adik-icut.jpg" /></a> </font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Anak merupakan bagian dari keluarga. Dan berdasarkan ayat di atas orang tua berkewajiban untuk menjaganya dari api neraka. Lantas bagaimana menjaga keluarga terkhusus anak dari api neraka? Ialah dengan cara mendidik dan mengajarkan kepadanya untuk meninggalkan hal-hal yang membuatnya terjerumus ke dalam api neraka.<span>  </span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span id="more-38"></span> </font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</font></p>
<p><strong></p>
<p align="center"><strong><font face="Times New Roman">Yang Dimintai Pertanggungjawaban dari Kedua Orang Tua </font></strong></p>
<p align="left"><strong><font face="Times New Roman">Pentingkah Pendidikan Anak?</font></strong><strong><font face="Times New Roman"> </font></strong></p>
<p></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><strong>Jawab: </strong>Allah swt dalam surat at-Tahrim ayat 6 telah berfirman:<span>  </span>“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”. Anak merupakan bagian dari keluarga. Dan berdasarkan ayat di atas orang tua berkewajiban untuk menjaganya dari api neraka. Lantas bagaimana menjaga keluarga terkhusus anak dari api neraka? Ialah dengan cara mendidik dan mengajarkan kepadanya untuk meninggalkan hal-hal yang membuatnya terjerumus ke dalam api neraka. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Dengan kata lain mendidiknya hingga menjadi anak yang soleh atau solehah. Yaitu anak yang akan menjadi hiasan keluarga dan cahaya mata kedua orang tua. Allah swt berfirman: “Dan orang orang yang beriman berkata: &#8220;Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai cahaya mata (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS al-Furqon: 74)</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Rasul saww bersabda: “Sesungguhnya anak soleh merupakan wewangian di antara wewangian surga”. (al-Kafi, jil 6, hal 3, dinukil dari Muntakhab Mizan al-Hikmah, hal 612)</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Anak merupakan amanat Allah swt yang teralhir dalam keadaan suci, Rasul saw bersabda: “Setiap anak terlahir dalam keadaan suci (<em>fitrah</em>)”. (al-Kafi,<span>  </span>jil 7, hal 16, dinukil dari Tarbiyat-e Farzan, hal 39) Yang harus dikembalikan kepada pemiliknya dalam keadaan suci pula. Dengan cara apa? Dengan menjaga dan mendidiknya sehingga anak tetap berjalan pada jalan yang benar. Mungkinkah anak dapat menjalani kehidupannya dan sampai pada tujuan tanpa diberi bekal dan dibimbing? Kedua orang tua bertanggung jawab untuk memberikan bekal hidup dan membimbingnya sehingga ia dapat berjalan pada jalan yang benar. Jangan biarkan anak tumbuh berkembang begitu saja. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Dari sini, jelas pengetahuan tentang pendidikan anak merupakan kebutuhan pokok para orang tua, ataupun calon orang tua. Sehingga anaknya dapat menjadi generasi yang bermanfaat bagi agama dan Negara, bukan menjadi sampah masyarakat.<span>  </span>[Euis .D]<span>  </span></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/38/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/38/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=38&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/16/pentingkah-pendidikan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/ama-adik-icut.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ama-adik-icut.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Untuk-mu Ya Fathimah Zahra as</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/16/untuk-mu-ya-fathimah-zahra-as/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/16/untuk-mu-ya-fathimah-zahra-as/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Apr 2007 06:25:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/16/untuk-mu-ya-fathimah-zahra-as/</guid>
		<description><![CDATA[Kini kutahu siapakah dirimu Engkau jelmaan cahaya Tuhan Engkau manifestasi kasih sayang Tuhan Engkau lambang kebesaran Tuhan   &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-     Untuk-mu Ya Fathimah Zahra as  Bunga bersemi menyibak harum wewangi di sela tiupan angin Bunga Muhamad pun menebar harum di tengah persada bumi Perkebuanan Mustofa kini menjadi tempat berlindung yang alami Siapakah engkau di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=37&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><font face="Times New Roman">Kini kutahu siapakah dirimu</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Engkau jelmaan cahaya Tuhan</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Engkau manifestasi kasih sayang Tuhan</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Engkau lambang kebesaran Tuhan </font></em><em><font face="Times New Roman"><span id="more-37"></span> </font> </em></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</font></p>
<p align="center"><strong><font face="Times New Roman"> </font> </strong><strong><font face="Times New Roman"> </font> </strong><strong><font face="Times New Roman">Untuk-mu Ya Fathimah Zahra as</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Bunga bersemi menyibak harum wewangi di sela tiupan angin</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Bunga Muhamad pun menebar harum di tengah persada bumi</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Perkebuanan Mustofa kini menjadi tempat berlindung yang alami</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Siapakah engkau di balik fenomena ini?</font></em><em><font face="Times New Roman"> </font> </em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Kaulah Kautsar telaga surgawi</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Aliran sungaimu menghilangkan haus dahaga</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Menghirupmu membawa berkah,</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Berkah dalam menelusuri sebuah hakikat</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Di alam fana yang penuh tanda tanya</font></em><em><font face="Times New Roman"> </font> </em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Engkaulah bungaku dan penyelamatku</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Penyelamat umat yang mengikutimu</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Engkaulah kebunku dan pelindungku,</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Pelindung dari sengatan panas yang akan membakarku</font></em><em><font face="Times New Roman"> </font> </em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Hari demi hari kucoba,</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Tuk telusuri sejarahmu</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Kuhayati setiap tragedy dan peristiwa yang menimpamu</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Tuk mengenal sosok dirimui</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Tuk mengenal kepribadianmu</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Demi langkahku mencari ridho kekasihmu</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Kini kutahu siapakah dirimu</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Engkau jelmaan cahaya Tuhan</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Engkau manifestasi kasih sayang </font></em><em><font face="Times New Roman">Tuhan</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Engkau lambang kebesaran Tuhan </font></em><em><font face="Times New Roman"> </font> </em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Engkau dapatkan syafa’at Tuhan </font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Engkau universitas ilmu Tuhan</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Engkau symbol kesempurnaan Tuhan</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Engkau Az-Zahro kekasih Tuhan</font></em><em><font face="Times New Roman"><span> </span></font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman"><span></span></font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman"><span></span></font></em><em><font face="Times New Roman">Az-Zahro Ummu Abiiha…</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Pembela sang ayah Rasul pilihan</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Mencintaimu mencintai Tuhan</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Membencimu membenci Tuhan</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Akupun siap tuk berkorban,</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Demi kekasih Tuhan</font></em><em><font face="Times New Roman"> </font> </em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Oh ternyata…</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Hamba yang berlumuran dosa ini,</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Telah mengagumimu ya Zahro…</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Layakkah diri ini mencintaimu?</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Kududuk termenung di kegelapan malam nan sunyi</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Kumenangis atas segala dosaku,</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Tuk sesali semua kekhilafanku</font></em><em><font face="Times New Roman"> </font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Kuambil secarik kertas dan sebuah pena</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Kucoba tuk melukiskanmu dengan kata-kata,</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Di lembaran tak berharga ini</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Dan kutulis sebuah puisi “Untukmu ya Fathimah Zahra”</font></em></p>
<p><em><font face="Times New Roman">Sebagai salah satu perwujudan cinta suciku padamu</font></em><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[Hayati Muhamad]</font></p>
<p><em><font face="Times New Roman"> </font> </em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/37/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/37/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=37&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/16/untuk-mu-ya-fathimah-zahra-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pesan Seorang Dokter Spesialis Kandungan</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/16/pesan-seorang-dokter-spesialis-kandungan/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/16/pesan-seorang-dokter-spesialis-kandungan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Apr 2007 05:36:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/16/pesan-seorang-dokter-spesialis-kandungan/</guid>
		<description><![CDATA[  Oleh karenanya salah satu penghambat kebebasan berbusana muslimah untuk berkarier, maju dan beraktifitas hanyalah lingkungannya yang kurang sehat, bukanlah busana. “Busana muslimah bukan hanya merupakan symbol keislaman, namun lebih dari itu, ia perwujudan dari penjagaan jati diri insani perempuan. Busana muslimah bukan bentuk pemenjaraan perempuan, namun pembebasan. Di balik busana muslimah, perempuan dikenal siapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=36&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/10gadis2_s.jpg" title="10gadis2_s.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/10gadis2_s.thumbnail.jpg?w=500" alt="10gadis2_s.jpg" /></a> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Oleh karenanya salah satu penghambat kebebasan berbusana muslimah untuk berkarier, maju dan beraktifitas hanyalah lingkungannya yang kurang sehat, bukanlah busana. “<strong>Busana muslimah bukan hanya merupakan symbol keislaman, namun lebih dari itu, ia perwujudan dari penjagaan jati diri insani perempuan. Busana muslimah bukan bentuk pemenjaraan perempuan, namun pembebasan. Di balik busana muslimah, perempuan dikenal siapa jati dirinya, bukan tubuhnya”.</strong></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span id="more-36"></span> </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</font></strong><strong><font face="Times New Roman"> </font></strong><strong><font face="Times New Roman"><strong>                                            </strong></font></strong></p>
<p align="center"><strong><font face="Times New Roman"><strong> Pesan Seorang Dokter Spesialis Kandungan</strong></font><strong><font face="Times New Roman"> </font></strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Di kota yang kami tinggali, terdapat banyak dokter spesialis kandungan yang kesemuanya (yang saya tahu selama ini) adalah perempuan. Dan sebagaimana dikenal oleh dunia, Iran banyak mengalami kemajuan dalam bidang kedokteran, mulai dari penemuan obat Talasemia, Aids hingga mengatasi masalah kemandulan. Banyak para ibu yang berhasil mengobati masalah kandungannya dan berhasil memiliki anak. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">“Suatu hari saya mengantar teman untuk cek kandungan. Bayaran dokter spesialis kandungan jika dirupiahkan kurang lebih jumlahnya 50 ribu Rupiah. Itupun, sebagian pembayaran akan diganti oleh asuransi kesehatan yang dimiliki oleh mayoritas penduduk Iran. Saya hanya akan menceritakan ucapan dokter perempuan tersebut yang selalu terngiang di ingatanku. Setelah giliran kami tiba, kami pun memasuki ruangan dokter. Namun sebelum tiba giliran temanku, ada seorang ibu hamil berumur 40 tahun lebih mengadu kepada dokter bahwa suaminya malu jika ia hamil lagi pada usia ini. Katanya sudah tua, bukan waktunya lagi punya anak, tapi harusnya menggendong cucu. Mendengar hal itu, dokter berkata kepadanya: “Katakan pada suamimu, kenapa mesti malu? Kalau memang mampu memiliki anak agak banyak dan dapat mendidiknya, kenapa tidak mau? Karena Imam Mahdi as (Imam ke-12) memerlukan banyak bala tentara untuk memerangi kebathilan. Kalau kita mampu mendidiknya hingga menjadi anak yang soleh dan taat beragama kenapa hanya memiliki anak sedikit?”</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Yang membuatku salut pada dokter tersebut, disamping karena ia orangnya amat ramah, pinter dan kadang juga memberi saran para pasiennya, sehingga mereka kembali dengan penuh keceriaan dan bahagia. Keimanannya terpancar darinya. Menurut saya keimanan dan ketaatan pada agama tidak menghalangi kemajuan. Justru keimanan kepada Allah swt akan membantu seseorang menuju kemajuan spritualitas, moralitas dan intelektualitas. <span> </span>Busana muslimah sebagai bentuk pengejawantahan ketaatan pada Allah SWT, tidak pernah bertentangan dengan kemajuan dan kebebasan perempuan. Para perempuan muslimah Iran telah membuktikannya. Mereka ikut terjun dalam berbagai bidang ekonomi, politik, keilmuan, olahraga, sosial dan lainnya, dengan tetap mengenakan busana muslimah.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Oleh karenanya salah satu penghambat kebebasan berbusana muslimah untuk berkarier, maju dan beraktifitas hanyalah lingkungannya yang kurang sehat, bukanlah busana. “<strong>Busana muslimah bukan hanya merupakan symbol keislaman, namun lebih dari itu, ia perwujudan dari penjagaan jati diri insani perempuan. Busana muslimah bukan bentuk pemenjaraan perempuan, namun pembebasan. Di balik busana muslimah, perempuan dikenal siapa jati dirinya, bukan tubuhnya”</strong><em>.</em> </font><font face="Times New Roman">[Euis Daryati] <span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/36/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/36/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=36&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/16/pesan-seorang-dokter-spesialis-kandungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/10gadis2_s.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">10gadis2_s.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Keutamaan Sayyidah Fathimah Az-Zahra as</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/16/mengenal-keutamaan-sayyidah-fathimah-az-zahra-as-1/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/16/mengenal-keutamaan-sayyidah-fathimah-az-zahra-as-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Apr 2007 05:06:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/16/mengenal-keutamaan-sayyidah-fathimah-az-zahra-as-1/</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu hari ummul mukminin Aisyah berkata: “Rasulullah (pada waktu ajalnya sudah mendekat) berkata:“Wahai Fathimah! Apakah engkau tidak bahagia sebagai penghulu para wanita dua alam dan penghulu para wanita beriman? &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; Mengenal Keutamaan Sayyidah Fathimah Az-Zahra as Oleh: Fathimah as-Segaff* Pendahuluan Keberadaan seorang figur bagi manusia adalah sebuah fitrah. Hal ini dapat dilihat dalam fase-fase [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=34&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/895735_rose.jpg" title="895735_rose.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/895735_rose.thumbnail.jpg?w=500" alt="895735_rose.jpg" /></a></p>
<p><font face="Times New Roman">Pada suatu hari ummul mukminin Aisyah berkata: “Rasulullah (pada waktu ajalnya sudah mendekat) berkata:“Wahai Fathimah! Apakah engkau tidak bahagia sebagai penghulu para wanita dua alam dan penghulu para wanita beriman?</font></p>
<p><span id="more-34"></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</font></p>
<p align="center"><strong><font face="Times New Roman">Mengenal Keutamaan Sayyidah Fathimah Az-Zahra as </font></strong></p>
<p style="text-align:center;margin:0;" class="MsoNormal" align="center"><font face="Times New Roman">Oleh: Fathimah as-Segaff*</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Pendahuluan </font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Keberadaan seorang figur bagi manusia adalah sebuah fitrah. Hal ini dapat dilihat dalam fase-fase kehidupan manusia mulai dari kanak-kanak, remaja sampai dewasa yang senantiasa mencari seorang model yang akan ia jadikan cermin bagi kehidupannya. Pada masa kanak-kanak karena ruang lingkup pergaulan terbatas, maka yang menjadi figur adalah orang yang ada di sekitarnya seperti; ayah, ibu, guru dan lainnya. Pada usia remaja dan dewasa, karena pengetahuan pengalaman dan pergaulan semakin bertambah, maka ada kemungkinan ia akan mencari model dan figur yang ideal baginya</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Sebenarnya kebutuhan terhadap seorang figur adalah kembali pada fitrah cinta pada kesempurnaan, dengan kata lain manusia senantiasa mencari kesempurnaan dengan meniru prilaku serta tindak tanduk figurnya. Begitu besarnya pengaruh seorang figur, ia mampu menjadikan seorang manusia bahkan masyarakat menjadi baik atau buruk. Manusia sendiri, dikarenakan keterbatasannya, terkadang salah dalam memilih seorang figur. Untuk mengatasi hal ini Tuhanl, Pencipta yang mengetahui segala kebutuhan, memberikan seorang contoh agar manusia tidak salah dalam memilih seorang figur. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Berkenaan dengan Nabi Muhammad saww, Allah berfirman:“Dan pada diri Rasul terdapat tauladan yang baik”.(al-Ahzab: 21). Allah telah memperkenalkan Rasul sebagai tauladan dan figur bagi kita. Sementara Rasul memperkenalkan Sayyidah Fathimah pula sebagai tauladan. Akan tetapi mungkinkah kita dapat meneladani seseorang tanpa mengenali kepribadiannya, sebagaimana pepatah yang mengatakan,“tak kenal maka tak sayang”. Di sini kita akan mencoba mengenal setetes dari lautan kehidupan Bunda Fathimah az-Zahra as, karena kita tidak akan mampu mengenal sisi kehidupan beliau secara keseluruhan. Namun bukan berarti kita tidak berusaha untuk mengenalnya, seperti kaidah yang mengatakan “tidak dapat diketahui semuanya bukan berarti ditinggal semuanya”.</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Siapakah Fathimah az-Zahra as?</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Sayiddah Fathimah as adalah putri Rasulullah, dan Khodijah. Beliau lahir pada tanggal 20 Jumadits-Tsani tahun 5 Bi’sat di kota suci Mekkah. Beliau memiliki empat orang anak yang bernama: Hasan, Husain, Zainab dan Ummu Kultsum. Suami beliau adalah manusia mulia dan pribadi paling utama pada zamannya setelah Rasulullah yaitu Imam Ali as. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Beliau adalah penerus berlangsungnya keturunan Rasulullah. Ketika salah seorang musyrik mengatakan kepada Rasul: “Wahai abtar!” Rasul mengadukan hal tersebut kepada Allah. Lalu Allah menurunkan<br />
surat al-Kautsar dan memberikan berita kepada Rasul bahwa akan terlahir darinya kebaikan yang sangat banyak yaitu Fathimah sebagai penerus generasi beliau. Beliau juga dikatakan sebagai ibu para imam, karena semua para imam terlahir darinya.[1] Fathimah memiliki 9 buah nama di antaranya yaitu: Fathimah, Shadiqah, Mubaraqah, Thaahirah, Zakiyyah, Raadziyah, Mardziyah, Muhadatsah.[2] </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Beberapa Keutamaan Fathimah as</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Banyak keutamaan-keutamaan Sayyidah Fathimah yang disebutkan dalam riwayat-riwayat. Dalam tulisan ini hanya dipaparkan beberapa riwayat yang menyebutkan keutamaan-keutamaan pribadi agung tersebut. Di antaranya sebagai berikut: </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Sebab Penciptaan Alam Semesta</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Pada saat Nabi Adam as belum tercipta, Allah swt telah menciptakan nur beberapa manusia suci. Mereka adalah Nabi Muhamad, Ali as, Hasan as dan Husain as. Dalam sebuah hadis Rasul bersabda: “Aku, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain bertasbih kepada Tuhan dibalik arsy-Nya dan para malaikatpun bertasbih mengikuti kami..”.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Inilah nama-nama orang ketika Tuhan berkata kepada Adam as: “Lihatlah ke atas arsy! Di<br />
sana tertulis: Tiada Tuhan selain Allah Muhamad utusan Allah, Ali bin Abu Thalib pemimpin para mukmin, istrinya Fathimah adalah penghulu para wanita serta Hasan dan Husain adalah penghulu para pemuda surga”. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Lalu Nabi Adam bertanya, “Wahai Tuhanku! Siapakah mereka? Allah berfirman,“Mereka adalah keturunanmu, kalau tidak karena mereka maka tidak akan Aku ciptakan kamu”.[3] </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Fathimah Bidadari Manusia</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda:“Fathimah adalah bidadari surga yang berbentuk manusia, di kala aku merindukan surga maka aku akan menciumnya”.[4]</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Penghulu para Wanita Dua Alam</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Pada suatu hari ummul mukminin Aisyah berkata: “Rasulullah (pada waktu ajalnya sudah mendekat) berkata:“Wahai Fathimah! Apakah engkau tidak bahagia sebagai penghulu para wanita dua alam dan penghulu para wanita beriman?[5]</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Wanita Surga Terbaik</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Ibnu Abbas meriwayatkan hadis dari dimana Rasul di mana beliau bersabda: “Fathimah adalah wanita penghuni surga terbaik”.[6]</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Parameter Kemurkaan Tuhan</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Imam Ali as berkata: “Rasulullah suatu hari berkata kepada Fathimah: “Karena kemurkaanmu Allah menjadi murka dan karena keridhoanmu Allah menjadi ridho.”[7]</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Keluasan Syafa’at Fathimah as</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa syafa’at beliau sangat luas sekali. Syafa’at beliau bukan hanya untuk para pencintanya tapi juga mencakup teman para pencinta beliau dan teman-teman para pecinta beliau.[8]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Dan hadis lain yang jumlahnya cukup banyak, seperti sabda Rasul: “Fathimah adalah bagian dariku”. Yang harus diingat, hadis-hadis kemuliaan beliau yang diriwayatkan Rasul bukan dikarenakan Rasul adalah ayahnya, lantas memuji-muji beliau. Hadis tersebut diucapkan bukan secara emosional, karena kita tahu apa yang diucapkan oleh Rasul semuanya berdasarkan wahyu sebagaimana yang tercantum dalam surat an-Najm ayat: 3.</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Kelahiran Fathimah as</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Sebagaimana keberadaan beliau adalah sosok yang agung, maka tidak mengherankan kalau kelahiran beliaupun berbeda dengan kelahiran lainnya. Beliau tercipta setelah ayahnya berpuasa empat puluh hari dan memakan jamuan buah-buahan surga yang dibawa Jibril. Setelah Rasul memakan buah tersebut, beliau diperintahkan Allah untuk menemui istrinya. Akhirnya Khadijah mengandung. Ketika dalam kandungan pun, Fathimah memperlihatkan kekhususan di mana beliau dapat berbicara dengan ibunya. Beliau bahkan menjadi teman sang ibu yang sedang bersedih akibat perkataan para wanita Quraisy yang menyalahkannya atas kesediaan menikah dengan si miskin dan yatim piatu, Muhamad.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Hal ini terbukti dari riwayat yang menyatakan bahwa pada suatu hari Rasul memasuki rumah, beliau melihat Khadijah berbicara dengan seseorang lantas beliau berkata:“Wahai Khadijah sedang berbicara dengan siapa? Beliau menjawab:“Aku berbicara dengan anak yang ada dalam kandunganku”. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Saat kelahiran beliau pun tiba, empat wanita teladan datang dan meperkenalkan diri sebagai utusan Tuhan untuk membantu Khadijah as melahirkan Fathimah as. Mereka adalah Sarah (istri Nabi Ibrahim), Asyiah (istri Firaun), Kulsumah (saudari Nabi Musa as) dan Maryam (ibu Nabi Isa as).[9]</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Kecintaan Rasul pada Fathimah </font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Sebagaimana yang telah disinggung di atas bahwa kecintaan dan perhatian Rasul kepada Fathimah as bukan semata berdasarkan emosi seorang ayah terhadap anak, tetapi dikarenakan perintah Allah dan kelayakan pribadi Fathimah as itu sendiri. Hadis di bawah ini merupakan bukti kecintaan Rasul terhadap Fathimah yang tiada taranya. Ummul mukminin Aisyah berkata:</font></p>
<p><font face="Times New Roman">“Setiap kali Fathimah mengunjungi Rasul maka Rasul akan mengucapkan selamat dan sebagai penghormatan terhadap Fathimah beliau akan bangun dari tempat duduk, lalu mencium tangannya dan mendudukkan Fathimah di tempat duduknya”.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Demikian pula ketika Rasul hendak bepergian, maka orang yang terakhir melepas kepergiannya adalah Fathimah dan orang pertama yang dikunjungi Rasul setelah kembali dari bepergian adalah Fathimah, putri tercintanya. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Cinta Rasul kepada beliau tiada taranya, dan Rasul bersabda: “Fathimah bagian dari diriku, barangsiapa membuat dia marah, maka telah membuat marah diriku”. Begitu seringnya Rasul menampakkan kecintaan terhadap Fathimah as sehingga menyebabkan Aisyah Ummul Mukminin merasa iri terhadap Fathimah as, seraya berkata kepada Rasul: “Wahai Rasul kenapa engkau sering menciumnya&#8230;seolah-olah engkau ingin memberi makan madu padanya? Lalu Rasul menjawab: “Ya”, lalu beliau menceritakan peristiwa mi’raj dan mengatakan bahwa Fathimah tercipta dari buah surga.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Bersambung…</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=34&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/16/mengenal-keutamaan-sayyidah-fathimah-az-zahra-as-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/895735_rose.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">895735_rose.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wanita, Tradisi dan Konsep Keadilan Gender (4); Hikmah Dibalik Perbedaan Hak-Hak Lelaki dan Perempuan</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/15/wanita-tradisi-dan-konsep-keadilan-gender-4/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/15/wanita-tradisi-dan-konsep-keadilan-gender-4/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Apr 2007 17:30:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/15/wanita-tradisi-dan-konsep-keadilan-gender-4/</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian orang kadang terjerumus dalam kesalahan di saat mendefinisikan kata adil dengan mengartikan dan mengidentikkannya dengan persamaan, padahal tidak ada konsekuensi antara keadilan dengan persamaan. Memang sebagian keadilan mempunyai arti persamaan tapi tidak semua persamaan itu berarti keadilan. Oleh karena itu, definisi yang tepat untuk keadilan ialah “memberikan hak kepada pemiliknya” atau “menempatkan sesuatu pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=33&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Sebagian orang kadang terjerumus dalam kesalahan di saat mendefinisikan kata adil dengan mengartikan dan mengidentikkannya dengan persamaan, padahal tidak ada konsekuensi antara keadilan dengan persamaan. Memang sebagian keadilan mempunyai arti persamaan tapi tidak semua persamaan itu berarti keadilan. Oleh karena itu, definisi yang tepat untuk keadilan ialah “memberikan hak kepada pemiliknya” atau “menempatkan sesuatu pada tempatnya”. Berdasarkan definisi di atas, Islam telah berlaku adil dengan memberikan hak dan menempatkan perempuan pada tempatnya sesuai dengan kodrat yang ia miliki. </font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span id="more-33"></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><strong><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</font></strong><strong><font face="Times New Roman"> </font></strong></p>
<p align="center"><strong> </strong><strong><font face="Times New Roman">Wanita, Tradisi, dan Konsep Keadilan Gender (4)</font></strong></p>
<p align="center" style="text-align:center;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><strong><em>(Hikmah Dibalik Perbedaan Hak-Hak Lelaki dan Perempuan)</em></strong> </font></p>
<p align="center" style="text-align:center;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Oleh: Euis Daryati</font></p>
<p align="center" style="text-align:center;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Penjelasan di artikel sebelumnya ini menunjukkan bahwa betapa tingginya kedudukan wanita dalam Islam. Dari sisi substansinya, nilai dan kemuliaan antara lelaki dan perempuan tidak ada beda, namun kenapa dalam beberapa hal hak-hak lelaki dan perempuan dibedakan sehingga menyebabkan munculnya protes dari orang-orang yang mengaku pembela hak-hak wanita dengan mengatakan bahwa disaat keduanya sama-sama manusia, maka dalam segala hal harus sama pula? apa landasan hak-hak wanita dalam Islam?</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Untuk menjawab pertanyaan diatas ada beberapa hal yang harus kita pahami terlebih dahulu;</font></p>
<p><font face="Times New Roman"><strong>Pertama</strong>: kita harus bedakan antara nilai dan hak. Kita harus tahu di mana letak nilai? dan di mana letak hak? Oleh karena itu, kalau seseorang mencari hak insaninya sebatas dalam kemampuan materi saja dan dianggapnya sebagai kesempurnaan hakiki, maka pemikiran semacam ini jelas sangat tidak benar, dan dengan berpikiran semacam ini kita tidak akan mampu menganalisa dengan benar segala yang berkenaan dengan persamaan atau perbedaan hak antara laki-laki dan perempuan. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"><strong>Kedua</strong>: mari kita mengingat kembali premis-premis yang telah disebutkan di atas, telah kita sebutkan bahwa ajaran Islam sesuai dengan fitrah manusia, maka landasan hukum-hukum dan hak-hak wanita dalam Islampun adalah berdasarkan fitrah -yakni sesuai dengan kodrat penciptaannya. Dan telah menjadi realita yang tidak dapat dipungkiri bahwa berdasarkan penciptaan tersebut ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, perbedaan tersebut merupakan ciri khas masing-masing yang tidak dimiliki oleh yang lainnya. Maksudnya, kekhususan yang dimiliki oleh laki-laki berbeda dengan kekhususan yang dimiliki oleh perempuan. Contoh, kondisi fisik perempuan memungkinkannya mengandung, menyusui, sementara laki-laki tidak demikian. kulit perempuan lebih lembut dan sebagainya. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Kemudian dari sisi kejiwaan (psikis) antara laki-laki dan perempuan terdapat perbedaan, perempuan merupakan simbol kelembutan, dan laki-laki adalah simbol keperkasaan. perbedaan yang ada ini tidak menunjukan bahwa salah satu lebih utama dari pada yang lainnya, akan tetapi justru dengan perbedaan yang ada ini menunjukan salah satu dengan yang lainnya saling membutuhkan dan saling menyempurnakan. Selain dari itu juga adanya perbedaan antara keduanya merupakan suatu keharusan untuk berlangsungnya kehidupan. </font><font face="Times New Roman">Coba kita bayangkan andaikan di dunia ini hanya dari jenis laki-laki saja atau sebaliknya hanya dari jenis perempuan saja, apa yang akan terjadi? Oleh karena itu, dalam Irfan disebutkan bahwa perempuan merupakan perwujudan (madzhar) isim jamal Tuhan, yaitu perwujudan kasih sayang dan kelembutan Tuhan, sementara laki-laki merupakan perwujudan isim jalal Tuhan yaitu perwujudan hikmah Tuhan. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Berdasarkan penjelasan di atas, maka selain ada persamaan juga dituntut adanya perbedaan hak antara laki-laki dan perempuan, karena kalau disamakan dalam segala hal, berarti Allah SWT telah berlaku tidak adil. Sebagian orang kadang terjerumus dalam kesalahan di saat mendefinisikan kata adil dengan mengartikan dan mengidentikkannya dengan persamaan, padahal tidak ada konsekuensi antara keadilan dengan persamaan. Memang sebagian keadilan mempunyai arti persamaan tapi tidak semua persamaan itu berarti keadilan. Oleh karena itu, definisi yang tepat untuk keadilan ialah “memberikan hak kepada pemiliknya” atau “menempatkan sesuatu pada tempatnya”. Berdasarkan definisi di atas, Islam telah berlaku adil dengan memberikan hak dan menempatkan perempuan pada tempatnya sesuai dengan kodrat yang ia miliki. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"><strong>Ketiga</strong>: di alam materi (dunia), pembagian tugas berdasarkan kekhususan alamiah (kudrat alamiah) yang dimiliki juga kondisi fisik-lahiriyah. Sebagian tugas dapat dilakukan oleh laki-laki dan perempuan, sebagian lagi hanya dapat dilakukan oleh laki-laki saja atau perempuan saja. Pembagian tadi hanya sebatas dalam pelaksanaan dan pembagian tugas saja. maka itu, jika perempuan dalam melaksanakan tugasnya tersebut lebih bagus dari aspek ibadahnya,[15] baik secara kualitas maupun kuantitas, maka posisinya akan lebih baik dari laki-laki. Begitupula sebaliknya.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Masalah lain yang perlu disinggung disini ialah berkenaan dengan sebagian hadis yang secara zahir menunjukan kekurangan (baca: kelemahan) perempuan yang menimbulkan pro dan kontra seperti: jauhilah bermusyawarah dengan perempuan karena pendapat dan tekadnya lemah”[16], atau “perempuan memiliki kekurangan dari sisi iman dan akal&#8230;”dll. Apakah ini menunjukan sama sekali tidak bolehnya bermusyawarah dengan perempuan? Apakah menunjukan kekurangan wanita secara eksistensial? Jika menunjukan kekurangan eksistensial perempuan, bagaimana halnya dengan pribadi-pribadi seperti: Maryam as, Asyiah as, Masyithah as, Khadijah as, Fathimah Zahra as dll, dimana mereka merupakan manusia sempurna dan sewaktu mereka adalah manusia sempurna maka akal dan iman merekapun pasti sempurna? Untuk menjawab pertanyaan di atas terdapat beberapa jawaban sebagai berikut:</font></p>
<p><font face="Times New Roman"><strong>Pertama</strong>: kita harus terlebih dahulu menganalisa hadis tersebut dari sisi sanadnya, apakah ia memenuhi standar yang diperlukan atau tidak? Jika ternyata dari sisi sanad tidak ada cacat, maka langkah selanjutnya ialah memahami teks hadis tersebut, dan untuk memahami teks suatu hadis terutama seperti hadis di atas tentunya kita tidak boleh langsung terburu-buru mengambil kesimpulan dari satu hadis itu saja tapi kita harus melihat semua teks hadis-hadis yang berkenaan dengan masalah tersebut. Misalkan, hadis berkenaan dengan masalah yang telah kita sebutkan diatas bahwa perempuan mempunyai kekurangan dari sisi iman dan akal, sedangkan dalam riwayat lain menunjukan akan kesempurnaan akal sebagian perempuan seperti hadis sebagai berikut dimana mengatakan “Jauhilah bermusyawarah dengan perempuan kecuali dengan perempuan yang dikarenakan mempunyai kesempurnaan akal maka ia telah berpengalaman&#8230;”[17] atau riwayat lain yang mengatakan “Tidak beragama orang yang tidak berakal” dimana kita ketahui bahwa orang yang beragama bukan laki-laki saja. Atau bahkan sebaliknya, dalam riwayat-riwayat lain disebutkan sebagian laki-laki bukan hanya akalnya kurang bahkan ada yang akalnya telah rusak. Selain itu kita juga dianjurkan untuk melihat kondisi-kondisi ketika haids tersebut diriwayatkan sehingga dapat mempermudah untuk memahaminya. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Oleh karena itu, banyak riwayat yang menjelaskan bahwa maksud dari akal tersebut bukanlah hakikat akal (dzat aql), tetapi aql-iktisabi (akal subjektif) yang diupayakan seseorang melalui pengetahuan dan pengalaman. Begitupula hadis mengenai kekurangan iman perempuan, dimana di antara empat hadis itu tiga hadis menggunakan ungkapan; “memiliki kurangan dan kelemahan dari sisi agama “ dan satu hadis menggunakan ungkapan; “Memiliki kekurangan dari sisi iman “.Kekurangan dari sisi agama yakni berkurangnya taklif (kewajiban) dan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan nilai kemuliaan. Oleh karena hal itu merupakan kemurahan yang diberikan oleh Allah kepada wanita seperti tidak melaksanakan shalat dan puasa ketika dalam keadaan haid, yang dalam bahasa hadis tersebut diungkapkan sebagai kekurangan, walaupun jelas salah jika ada yang menganggap hal tersebut satu bentuk kekurangan dari sisi agama. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Sebenarnya, adanya kemurahan tersebut tidak menunjukan rendahnya kedudukan perempuan karena; pertama, perempuan tidak melaksanakan shalat dan puasa ketika sedang haid, sebenarnya hal ini adalah dalam rangka mentaati perintah Tuhan karena Tuhanlah yang melarang wanita shalat dan puasa dalam keadaan seperti itu. Dan tiada yang bernilai kecuali ketaatan pada perintah-Nya. Bukankah Iblis bisa beribadah sampai akhir, tapi akhirnya terusir karena Tuhan menginginkan ketaatan dari makhluk yang bernama Iblis.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"><strong>Kedua</strong>, meskipun perempuan mendapatkan kemurahan dalam beberapa ibadah, tapi bukankah perempuan lebih cepat mencapai usia taklif -dimana perempuan pada umur sembilan tahun mencapai umur balig dan laki-laki pada umur lima belas tahun- dan melaksanakan ibadah. Oleh karena itu, dari sisi ukuran ibadah antara laki-laki dan perempuan tidak jauh berbeda. </font><font face="Times New Roman">Dari sini kita tahu bahwa maksud dari riwayat yang mengatakan bahwa perempuan mempunyai kekurangan dari sisi iman ialah ingin mengisyaratkan, bahwa dengan adanya kemurahan dalam beberapa jenis ibadah akan menjadikan lahan (baca: potensi) untuk melemahnya iman. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Untuk menghindari hal itu, para maksumin as memberikan pesan kepada para wanita yang sedang haid ketika waktu shalat tiba untuk membersihkan dirinya kemudian berwudhu setelah itu menghadap kiblat untuk berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT. Cara-cara seperti ini akan mengganti hubungan maknawi yang terputus akibat datang haid. </font><font face="Times New Roman">Dari penjelasan tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa hadis-hadis di atas tidak berkenaan dengan semua perempuan, tapi situasi dan kondisi yang menyebabkan Imam Ali as ketika dalam perang Jamal mengatakan seperti ini -bisa dirujuk lebih lanjut dalam kitab Nahjul-Balaghah khotbah ke-80. Sebagaimana yang dikatakan oleh ulama besar, faqih, arif dan mufasir besar Ayatullah Jawadi Amuli bahwa Khutbah Imam Ali as berkenaan dengan perempuan merupakan proposisi eksternal (qadziyah-kharijiyah) maksudnya tidak mencakup semua jenis perempuan. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Riwayat yang berkenaan dengan larangan bermusyawarah dengan perempuan merujuk pada situasi dan kondisi pada waktu itu kebanyakan wanita hanya sibuk dalam mengurus urusan rumah tangga saja, dan jarang sekali –walau tidak menutup adanya beberapa figur yang terjun kebidang sosial dan politik akan tapi jarang sekali- perempuan yang terjun di bidang sosial politik, ekonomi. Adapun sebab ketidakmampuan mayoritas perempuan saat itu untuk terjun di bidang-bidang itu karena keterbatasan tingkat pendidikan yang mereka dapati kala itu. Oleh karena itu, pelarangan tersebut lebih di karenakan kondisi wanita saat itu dan bukan pelarangan mutlak atas wanita. wallahu-a&#8217;lam [<a target="_blank" href="http://islamalternatif.com" title="islam feminis">islamalternatif.com</a>] </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Penulis: Mahasiswi S1 Jurusan Pendidikan Islam di Jamiah Bintul Huda Qom, Republik Islam-Iran</font> <strong><font face="Times New Roman"> </font></strong></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Rujukan:</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">[1] Allamah Thababa’i, Islam dan sosial/Yahya Nuri, hak-hak wanita dalam Islam dan dunia.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">[2] Tarikh-e tamaddun (sejarah peradaban) hal:519, dan huquuq-e zan dar Islam wa erupa, karya:Hasan Sadr,hal:32. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">[3] Islam wa aqayid wa araa-e basyar, hal:30.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">[4] Syakhsiat-e zan az didgah-e qur’an, karya:Hadi dust muhamadi hal:35-36.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">[5] .Nabi Muhamad mempunyai beberapa anak, tapi yang tetap hidup sampai dewasa hanyalah satu yaitu Fatimah az-Zahra AS adapun yang lainnya seperti Ibrahim dan Qosim meninggal pada usia yang relatif kecil.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">[6] Kata “Fitrah” berasal dari kata “fitrun” yang artinya; terbelahnya sesuatu dari arah panjangnya, dan kemudian kata ini digunakan untuk setiap yang terbelah. Salah satu arti dari kata fitrun adalah” penciptaan” oleh karena itu arti kata fitrat yang merupakan masdar nau’ (kata benda yang menunjukkan jenis) adalah jenis penciptaan manusia seperti ini (ciri almiah manusia).</font></p>
<p><font face="Times New Roman">[7]Sebagaimana yang telah kita singgung bahwa manusia selain memiliki tubuh jasmani iapun memiliki tubuh ruhani. Sebagaimana tubuh jasmani perlu makanan untuk kelangsungan hidupnya maka tubuh rohanipun memerlukan makan pula untuk kelangsungan hidupnya. Dikarenakan tubuh rohani bersifat imaterial maka jenis makanan yang ia butuhkanpun berjenis imaterial pula. Ketaqwaan adalah eksistensi nyata dari makanan imaterial yang diperlukan tubuh ruhani, sebagaimana yang telah banyak disinggung dalam pembahasan filsafat etika dalam Islam. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">[8] Kita bisa merujuk pada ayat-ayat yang berhubungan dengan proses penciptaan manusia dimana disebutkan bahwa substansi manusia mempunyai dua dimensi. Sebagai contoh yang tercantum dalam surat an-Nur ayat 12 dimana pertama Allah berfirman: “aku ciptakan manusia dari mani,kemudian aku jadikannya segumpal darah,&#8230;kemudian aku ciptakan dalam bentuk yang lain” . Proses pertama adalah sisi jasmaniah-nya setelah itu Allah berfirman :“kemudian aku ciptakan dalam bentuk yang lain“ menunjukkan proses penciptaan yang lain diluar dari sisi jasmaniah-nya. Atau dalam surat al-A’raf ayat: 11 Allah berfirman “sesungguhnya kami telah menciptakan kamu, lalu kami bentuk (shurat/form) kamu”. </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p><font face="Times New Roman">[9] Tafsir Mizan karya Allamah Thaba’thaba’i dalam penafsiran ayat an-Nisaa’ ayat:1, dan wawancara Ayatullah Jawadi Amuli tentang Islam dan Feminisme.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">[10] Tentu yang dimaksud dengan tangan Tuhan adalah bukan arti sesungguhnya yang berarti arti materi, karena Allah bukan materi maka yang dimaksud dengan tangan disitu adalah kekuasaanNya (kudrat). Dan karena kanan diidentikkankan dengan hal yang baik maka setiap tangan yang dimiliki oleh Allah adalah tangan kanan.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">[11] Tafsir al-Mizan jil:4 hal:151</font></p>
<p><font face="Times New Roman">[12] Kenapa Tuhan harus bijaksana dan berakal? argumen ringkasnya; Dikarena Dzat Allah Maha Sempurna dimana kesempurnaan-Nya absolut dan tidak terbatas, sewaktu kesempurnaanNya absolut dan tidak terbatas maka segala bentuk kesempurnaan ada pada-Nya, disisi lain bijaksana dan berakal adalah kesempurnaan maka konklusinya Tuhan pasti Maha Bijaksana dan Berakal.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">[13] Dalam surat Shaad ayat:72 Allah berfirman:”…dan Kutiupkan kepadanya ruhKu…”.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">[14] Kenapa Tuhan tidak mungkin berbuat zalim? Karena kalau kita teliti kenapa seseorang bisa berbuat zalim maka akan kita dapati beberapa sebab yang menyebabkan seseorang bisa berbuat zalim di antaranya: Pertama: Karena dia tidak tahu kalau hal tersebut adalah perbuatan zalim, sementara kita tahu bahwa Tuhan Maha Mengetahui, maka berdasarkan hal ini tidak mungkin Tuhan melakukan kezaliman dikarenakan ketidaktahuan. Kedua: Seseorang berbuat zalim dikarenakan butuh atau perlu, sementara kita tahu Tuhan Maha Kaya, maka berdsarkan hal ini tidak mungkin Tuhan berbuat zalim dikarenakan perlu. Ketiga: seseorang berbuat zalim dikarenakan terpaksa, sementara kita tahu Tuhan Maha Kuat tidak ada dzat lainpun dapat memaksa-Nya, maka berdasarkan hal ini tidak mungkin Tuhan berbuat zalim karena terpaksa. Berdasarkan premis-premis diatas konklusinya tidak mungkin Tuhan berbuat zalim. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">[15]Yang dimaksud dengan ibadah di sini adalah ibadah dalam arti yang luas yang tidak terbatas pada peribadatan ritual saja. Karena fungsi setiap ibadah adalah untuk pembersihan jiwa agar bisa sampai pada tujuan penciptaan manusia –yaitu kebahagiaan abadi- maka niat adalah kunci segala bentuk peribadatan. Dikarena kualitas peribadatan diukur dari kualitas niat, sedang kualitas niat didapat melalui pengetahuan tentang yang Dzat yang diibadahi juga tentang arti ibadah itu sendiri, maka pengetahuan turut menentukan kualitas ibadah. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">[16] Nahjul-balaghah surat ke-31 </font></p>
<p><font face="Times New Roman">[17] Nahjul balaghah surat ke:31, Biharul-anwar jil:100 hal:253.</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=33&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/15/wanita-tradisi-dan-konsep-keadilan-gender-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perempuan Buta, Tuli, Bisu dan Lumpuh</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/15/kisah-bijak-3/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/15/kisah-bijak-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Apr 2007 07:53:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/15/kisah-bijak-3/</guid>
		<description><![CDATA[  Maksud ayahku, bahwa aku buta karena aku tidak pernah melihat laki-laki yang bukan muhrim. Aku tuli karena aku tidak pernah mendengar perkataan buruk. Aku bisu karena aku tidak pernah menggunjing orang dan mengatakan perkataan buruk, serta aku lumpuh karena aku tidak pernah melangkahkan kakiku menuju tempat-tempat maksiat”.   &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-  Perempuan Buta, Tuli, Bisu dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=31&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font face="Times New Roman"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/desa-iran.jpg" title="desa-iran.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/desa-iran.thumbnail.jpg?w=500" alt="desa-iran.jpg" /></a> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Maksud ayahku, bahwa aku buta karena aku tidak pernah melihat laki-laki yang bukan muhrim. Aku tuli karena aku tidak pernah mendengar perkataan buruk. Aku bisu karena aku tidak pernah menggunjing orang dan mengatakan perkataan buruk, serta aku lumpuh karena aku tidak pernah melangkahkan kakiku menuju tempat-tempat maksiat”.</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman"> <span id="more-31"></span></font></strong><strong> </strong><strong><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</font></strong><strong><font face="Times New Roman"> </font></strong><strong></p>
<p align="center"><strong><font face="Times New Roman">Perempuan Buta, Tuli, Bisu dan Lumpuh</font></strong></p>
<p></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Muhammad ayahnya seorang ulama besar yang bernama Al-Mukaddas AL-Ardibily hidup di desa Nayar-Ardibil (salah satu nama kota di Iran). Pada suatu hari, beliau sedang sibuk menyirami ladangnya, tiba-tiba melihat sebuah buah apel yang terbawa air yang menyirami ladangnya. Lantas beliau mengambil apel tersebut dan memakannya. Namun setelah berlalu satu jam, beliau merasa menyesal karena telah memakan apel tersebut tanpa sebelumnya meminta izin kepada pemiliknya. </font><font face="Times New Roman">Kemudian beliau berjalan menelusuri aliran air sampai akhirnya tiba di kebun apel. <span> </span>Beliau menemui pemilik pohon apel dan memohon kerelaan darinya. Pemilik apel berkata: “Aku merelakannya, namun pohon apel ini milik aku dan saudaraku. Sementara aku tidak tahu apakah ia merelakannya atau tidak? Dan sekarang ia tinggal di<br />
kota Najaf (Irak)”. Mendengar hal itu Muhamad Ardibily merasa sedih. Lalu dengan berniat untuk berziarah ke makam Imam Ali as dan demi meminta kerelaan pemilik pohon apel, akhirnya beliau berangkat ke kota Najaf. Sesampainya di kota Najaf, beliau menceritakan semua peristiwa yang telah terjadi kepada pemilik pohon apel tersebut, serta memohon kerelaan darinya. </font><font face="Times New Roman">Namun, pemilik pemohon apel tersebut akan menerima permohonan kerelaannya dengan syarat ia harus menikah dengan putrinya. Dalam memperkenalkan keadaan putrinya beliau berkata<strong>: “Ia buta, tuli, bisu dan lumpuh”.</strong> <span> </span>Karena ia telah bersusah payah untuk mendapatkan kerelaannya, dan tidak mungkin kembali tanpa membawa hasil, akhirnya beliau menerima syarat tersebut. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Kemudian setelah itu, upacara pernikahanpun dilaksanakan. Pada malam pengantin Muhamad sangat kaget karena tidak mendapatkan istrinya sebagaimana yang telah disifati oleh ayahnya. Bahkan ia mendapatkan istri yang cantik dan tidak cacat. Dengan penuh keheranan ia menanyakan sebab perkataan ayah istrinya kepadanya, dalam menjawab pertanyaan suaminya ia berkata: “<strong>Maksud ayahku, bahwa aku buta karena aku tidak pernah melihat laki-laki yang bukan muhrim. Aku tuli karena aku tidak pernah mendengar perkataan buruk. Aku bisu karena aku tidak pernah menggunjing orang dan mengatakan perkataan buruk, serta aku lumpuh karena aku tidak pernah melangkahkan kakiku menuju tempat-tempat maksiat”.</strong></font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dari pernikahan ini lahirlah seorang ulama besar yang bernama Ahmad yang kemudian dikenal dengan Syeikh Al-Mukaddas Al-Ardibily. Beliau telah mendapat kehormatan berjumpa dengan Imam Mahdi aj. </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">(Euis Daryati, sumber: Ahklak Ijtimai Dukhtaran, Ali Ashghar Zahiri, hal 106) </font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=31&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/15/kisah-bijak-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/desa-iran.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">desa-iran.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Ahli Tafsir dan Sufi (&#8216;Arifah) Perempuan: Mujtahidah Banu-ye Isfahani</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/15/mengenal-mufassir-dan-arifah-perempuan-mujtahidah-banu-ye-isfahani/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/15/mengenal-mufassir-dan-arifah-perempuan-mujtahidah-banu-ye-isfahani/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Apr 2007 07:31:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/15/mengenal-mufassir-dan-arifah-perempuan-mujtahidah-banu-ye-isfahani/</guid>
		<description><![CDATA[Beliau satu-satunya perempuan yang mencapai derajat ijtihad pada zamannya. Prestasi beliau yang luar biasa tersebut menyebabkan banyak berdatangannya para tokoh dan ulama dari berbagai negara Islam untuk bertemu dan berbincang-bincang dengan beliau. Diantara para ulama besar yang mendatangi beliau adalah: Ayatullah al-Udzma Mar’asyi Najafi, Allamah M Husein at-Thabathaba’i (pemilik tafsir Mizan), Allamah Muhammad Taqi Jakfari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=28&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"> <a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/isfahan.jpg" title="isfahan.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/isfahan.thumbnail.jpg?w=500" alt="isfahan.jpg" /></a></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Beliau satu-satunya perempuan yang mencapai derajat ijtihad pada zamannya. Prestasi beliau yang luar biasa tersebut menyebabkan banyak berdatangannya para tokoh dan ulama dari berbagai negara Islam untuk bertemu dan berbincang-bincang dengan beliau. Diantara para ulama besar yang mendatangi beliau adalah: Ayatullah al-Udzma Mar’asyi Najafi, Allamah M Husein at-Thabathaba’i (pemilik tafsir Mizan), Allamah Muhammad Taqi Jakfari (filsuf muslim ternama) dan para dosen dari berbagai universitas.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span id="more-28"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</font></p>
<p align="center"><strong><font face="Times New Roman"><span> </span></font></strong><strong><font face="Times New Roman">Mengenal Ahli Tafsir dan Sufi (‘Arifah) Perempuan; Mujtahidah Banu-ye Isfahani</font></strong></p>
<p style="text-align:center;margin:0;" class="MsoNormal" align="center"><font face="Times New Roman">Oleh: Euis Daryati</font></p>
<p style="text-align:center;margin:0;" class="MsoNormal" align="center">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Sebagian orang beranggapan, bahwa sangat sedikit sekali tokoh perempuan yang dapat dikenal keunggulannya. Ungkapan semacam ini memberikan dua kemungkinan; Pertama, pengetahuan sang pembicara terlampau dangkal sehingga banyak tokoh yang tidak pernah ia ketahui, atau bahkan ia dengar. Hal itu tidak lain dikarenakan kemalasannya dalam menelaah kitab-kitab sejarah masa lalu, atau dikarenakan kejumudan pola pikirnya. Kedua, pembicara terlalu terpengaruh dengan statemen-statemen beberapa “oknum” yang cenderung melecehkan kaum perempuan. Alhasil, dua kemungkinan di atas tadi berpangkal pada “kebodohan” obyek yang kita singgung tadi. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Begitu banyak tokoh perempuan yang dikarenakan tidak mendapat perhatian yang khusus mereka kemudian menjadi kurang dikenal, akhirnya keberadaan mereka seakan hilang ditelan sejarah. Ibarat pepatah yang mengatakan “tak kenal, maka tak sayang”, disini akan kita singgung secara ringkas sejarah kehidupan seorang wanita agung, mujahidah fi sabilillah, penghidup ajaran para manusia suci, pengkhidmat masyarakat, alim dari berbagai disiplin ilmu keagamaan dan tokoh wanita di zamannya, Sayyidah Amin dari kota Isfahan, Iran. </font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Biografi</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Hajjah Sayyidah Nushrat Bigum Amin (terkenal dengan sebutan “Banu-ye Isfahani”) lahir pada tahun 1265 HS (kurang lebih 120 tahun yang lalu .red) di Isfahan, Iran. Ayah beliau bernama Haji Sayyid Muhamad Ali bin Hasan yang dikenal “Amin-e Tujjari Isfahani”, adalah orang yang saleh lagi dermawan. Begitu pula ibu beliau adalah seorang wanita mukminah dan mulia. Beliau adalah seorang Syarifah atau Sayyidah, yang urutan nasabnya kembali ke Rasulullah Saww. melalui putri semata wayang beliau yang digelari penghulu para wanita dari awal hingga akhir penciptaan, Fathimah az-Zahra as. Dengan tiga puluh urutan nasab beliau sampai kepada imam Ali as, beliau merupakan anak terakhir dari empat bersaudara dan semua kakaknya adalah laki-laki. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Sewaktu menginjak umur empat tahun, ibunya mengirim beliau ke Maktab (pusat pendidikan) untuk belajar al-Qur’an dan baca tulis. Padahal, zaman itu, jarang sekali keluarga yang mengirim anak perempuannya ke Maktab untuk belajar, bahkan sebagian keluarga tidak memperbolehkan untuk mengajarkan baca tulis kepada anak perempuan.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Sejak itulah Sayyidah Amin terus melanjutkan pelajarannya, dan beliau belajar bahasa Arab sampai umur sebelas tahun. Dalam menceritakan kenangan masa kecilnya beliau berkata: “Saya masih ingat ketika saya bersama teman-teman sebaya, saya tidak bermain-main dan bersenang-senang seperti mereka. Bahkan saya selalu ingin menyendiri supaya dapat terus berpikir, karena saya merasakan adanya sesuatu yang hilang dari jiwa saya. Begitu pula jika berada di tempat umum, saya selalu dalam keadaan berpikir dan merenung&#8230;”.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Setelah menyelesaikan Pendidikan Mukadimah, lantas beliau melanjutkan pelajaran Fiqih, Ushul Fara’id, Kifayah al-Ushul dan Bahsul-kharij Shalat dan Thaharat dalam bidang fiqih, Syawariqu al-Ilham dalam bidang ilmu kalam (teologi) dan Ilahiyat al-Asfar dalam bidang falsafah. Beliau belajar semua bidang ilmu ini kepada Mir Sayyid Ali Najaf Abodi. Ketika berumur lima belas tahun beliau menikah dengan anak pamannya yang bernama Haji Mirza dan dikenal dengan “Mu’in-e Tujjari”, beliau merupakan saudagar terkenal di kota Isfahan. Meskipun beliau telah berkeluarga dan mempunyai anak, namun hal tersebut tidak menghalangi kecintaan beliau terhadap ilmu dan belajar. Dari pernikahannya beliau memiliki delapan anak, namun yang tetap hidup hanyalah seorang. Sementara tujuh anak lainnya telah meninggal dunia dengan cepat, namun beliau menganggap hal itu sebagai ujian Ilahi. Beliau selalu berusaha untuk menyeimbangkan antara keluarga dan pelajaran, dan tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri dan ibu. Oleh karenanya, beliau senantiasa membawa buku ketika bertamu. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Karena amat cintanya kepada ilmu, meskipun hari itu anaknya meninggal beliau tetap hadir untuk belajar. Seorang guru beliau menukil: “Suatu hari anak perempuan Sayyidah Amin telah meninggal dunia. Saya merasa yakin ia tidak akan datang untuk menghadiri pelajarannya, tapi ia datang menghadiri pelajarannya. Kukatakan padanya supaya meliburkan pelajarannya, karena hari ini anaknya telah meninggal dunia”. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Namun ia berujar: “Tidak apa-apa, ia telah pergi ke Rahmat Ilahi, kenapa kita harus meliburkan pelajaran? Allah telah menganugerahkan dua nikmat kepadaku. Lalu Dia mengambil salah satunya dariku, kenapa aku harus kehilangan yang lainnya, yaitu nikmat belajar?”.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Dengan kerja keras dan semangat cinta ilmu, beliau meneruskan pelajarannya sampai ke tingkat yang lebih tinggi. Dengan situasi dan kondisi masyarakat yang masih memandang lain pada pendidikan bagi seorang perempuan, sampai pada akhirnya di usia empat puluh tahun derajat keilmuan dan penguasaan ilmu beliau diakui oleh para ulama besar sehingga beliau pun mencapai derajat ijtihad. Beliau satu-satunya perempuan yang mencapai derajat ijtihad pada zamannya. Prestasi beliau yang luar biasa tersebut menyebabkan banyak berdatangannya para tokoh dan ulama dari berbagai negara Islam untuk bertemu dan berbincang-bincang dengan beliau. Diantara para ulama besar yang mendatangi beliau adalah: Ayatullah al-Udzma Mar’asyi Najafi, Allamah M Husein at-Thabathaba’i (pemilik tafsir Mizan), Allamah Muhammad Taqi Jakfari (filsuf muslim ternama) dan para dosen dari berbagai universitas.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Sepanjang hidupnya Mujtahidah Amin selalu berusaha untuk mencari sesuatu yang hilang dari dirinya, suatu ketika beliau pernah berkata: “Tiada kesengsaraan yang lebih dalam, sedalam jauhnya seseorang dari kekasih sejatinya (Allah swt)”. Mujtahidah Amin dari usia empat puluh sampai akhir hayatnya menghabiskan waktunya untuk menulis kitab, mengajar, menjawab berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan masalah-masalah keagamaan dan membimbing kaum perempuan. Pada tahun 1344 HS dengan dana sendiri beliau mendirikan pusat pendidikan bagi perempuan dengan nama “Maktab-e Fathimeh as” dan Sekolah Menengah Atas (SMA) khusus perempuan. Beliau pun aktif mengajar ilmu-ilmu agama dan tafsir, juga menjawab berbagai pertanyaan di sebuah lembaga yang bernama “Pusat Dakwah dan Pendidikan Agama” di kota Isfahan. Yang jelas beliau sampai akhir hayatnya selalu berusaha untuk membimbing dan meningkatkan perkembangan intelektual dan spiritual kaum perempuan. Akhirnya, setelah perjuangan dan pelayanan yang beliau haturkan kepada Islam -terkhusus bagi kaum perempuan- pada tanggal 23 Khurdad 1362 HS, dalam usia 97 beliau meninggalkan dunia fana menuju Kekasih abadinya (wafat).</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Derajat Keilmuan </font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">1. Beliau telah mencapai derajat ijtihad pada umur empat puluh tahun, dan juga mendapatkan ijazah untuk berijtihad berkaitan dengan hukum syariat dari beberapa ulama besar seperti: Ayatullah al-Udzma Abdul Karim Hairi, Ayatullah al-Udzma Muhammad Kadzim Syirazi dan Ayatullah al-Udzma Sayyid Ibrahim Husaini Syirazi Ishthahbanati.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">2 . Beliau mendapatkan ijazah untuk meriwayatkan hadis dari beberapa ulama besar seperti:Ayatullah Syeikh Muhammad Ridzo Najafi Isfahani, Hujjatul Islam wa al-Muslimin Madzahiri Najafi Isfahani, Ayatullah al-Udzma Mar’asyi Najafi dan Hujjatul Islam wa al-Muslimin Zuhair al-Hasuun.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">3 . Beliau selain pakar dalam bidang fiqih, lebih dari itu beliau juga menguasai bidang filsafat, irfan (mistik) dan tafsir. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"><strong>Karya-karya Ilmiah</strong> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">1. Arba’in Hasyimiyah</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Ini adalah merupakan karya pertama beliau, yang berisi empat puluh hadis tentang tauhid, sifat-sifat Allah swt, akhlak dan hukum syari’at, sekaligus mengandung keterangan filsafat, irfan, ushul fiqih dan fiqih. Buku ini dijadikan standar para ulama Najaf (Irak) dan sebagian para marja’(mufti besar) untuk menguji beliau sampai akhirnya beliau dapat mencapai derajat “ijtihad”. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">2. Jaami’u asy-Syatat</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Kitab ini mencakup berbagai pertanyaan yang telah dilontarkan para guru besar seperti: Ayatullah Muhammad Ali Qadzi Thabathaba’i, Syeikh Muhammad Thaha al-Hindawi an-Najafi Zadeh, Sayyid Hasan al-Husaini kepada beliau, dan jawaban- jawabannya yang beliau sampaikan secara tertulis.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">3. Ma’ad yo Okharin Sairi Basyar </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Dalam kitab ini, dijelaskan bahwa manusia dalam perjalanan menuju kesempurnaannya selain harus melewati alam dunia ini, ia pun harus melewati semua alam lainnya. Sehingga ia sampai kepada yang setelahnya tidak ada alam lagi, yaitu kiamat atau ma’ad. Dalam kitab ini terdapat sembilan makalah, tersusun sebagai berikut:</font></p>
<p><font face="Times New Roman">1- Sair az Alam-e Ula be Alam-e Sufla wa az Sufla be Ula (perjalanan dari alam transenden menuju alam tingkat bawah, dan sebaliknya). </font></p>
<p><font face="Times New Roman">2- Har Dani Qaim be ma Fauq (setiap tingkatan yang berada dibawah bertumpu pada tingkatan yang di atasnya).</font></p>
<p><font face="Times New Roman">3- Insan Majmue-ye Alam-e Wujud (manusia mengandung semua alam wujud).</font></p>
<p><font face="Times New Roman">4- Insan dar Alam-e Barzakh (manusia pada alam barzakh).</font></p>
<p><font face="Times New Roman">5- Insan dar Nasy’at-e Qiamat (manusia pada kebangkitan kiamat). </font></p>
<p><font face="Times New Roman">6- Shirath (‘jembatan’). </font></p>
<p><font face="Times New Roman">7- Mizan (‘timbangan’ amal).</font></p>
<p><font face="Times New Roman">8- Hisab (‘perhitungan’ amal).</font></p>
<p><font face="Times New Roman">9- Behesyt (surga).</font></p>
<p><font face="Times New Roman">10- Jahanam (neraka). </font></p>
<p><font face="Times New Roman">4. An-Nafahaatu ar-Rahmaniyah fii al-Waaridaati al-Qalbiyah </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Kitab ini berisi tentang wirid-wirid dan semua kenangan beliau dalam mendapatkan Faidh (pancaran) Ilahi ketika Sair S uluk (perjalanan menuju Allah).</font></p>
<p><font face="Times New Roman">5. Akhlak (terjemah kitab Ibnu Maskawaih)</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Kitab ini disadur dari kitab Thaharatu al-A’raq karya Ibnu Maskawaih, dengan diterjemahkan dan ditambahi penjelasan oleh Mujtahidah Amin. Kitab ini memiliki sisi ilmu, amal dan akhlak. Dan juga mengandung argumen dan poin-poin penting filsafat. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">6. Tafsir Makhzan al-Irfan</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Tafsir ini dicetak menjadi<br />
lima belas jilid, setiap jilid kurang lebih memiliki 400 halaman. Tafsir ini mengandung pembahasan irfan (mistik), pesan-pesan akhlak dan pembahasan menarik lainnya tentang al-Qur’an. Penulis kitab ini, setelah menulis mukaddimah beliau menjelaskan tentang keutamaan al-Qur’an, dan mengingatkan tentang faidah tafsir dan ilmu-ilmu al-Qur’an. Ketika beliau menulis tafsir ini, karena beliau merasa takut ajalnya tiba sebelum tuntas menyelesaikannya, setelah menyelesaikan dua juz pertama dari al-Qur’an, beliau langsung loncat dengan menulis juz ke-30. Namun akhirnya beliau meneruskannya, sampai akhirnya beliau dapat menyelesaikan semuanya pada saat-saat mendekati akhir hayatnya. Sewaktu menulis tafsir ini, beliau selalu berdoa supaya dipanjangkan umurnya sehingga dapat menyelesaikan penulisan tafsir tersebut sebelum tiba ajalnya. Karya tafsir ini kemudian membawa beliau menjadi satu-satunya mufassir perempuan dalam dunia Islam.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">7. Rawesy-e Khusybakhti wa Taushiyeh be Khoharan-e Imoni </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Dalam kitab ini beliau berusaha untuk menjelaskan arti kebahagiaan dan cara untuk menggapainya dengan bahasa yang mudah. Serta disampaikan juga didalamnya pesan-pesan khusus untuk saudari-saudari seiman nya. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">8. Makhzanu al-La’ali fii Manaqib Maula al-Mawali (Ali as)</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Kitab ini membahas tentang keutamaan imam Ali as yang tersusun dari mukadimah,<br />
lima bab pembahasan dan diakhiri dengan penutup. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">9. Sair wa Suluk dar Rawesy-e Auliya wa Thariq-e Sair Su’ada </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Kitab ini membahas tentang pembahasan irfan (mistik), seperti: Kasyf (‘penyingkapan’), Syuhud (‘penyaksian’), fana’ (‘penyatuan’), baqa’ (‘kekekalan’) dan Sair ilallah (‘meniti jalan’ menuju Allah).</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">Beberapa Cuplikan Wawancara dengan Maktab-e Islam</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Soal : Apakah kebanyakan ilmu anda didapatkan melalui belajar, atau didapatkan dari ilham? Silahkan jelaskan tentang ilmu dan cahaya (nur) ilmu!</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Jawab : Saya tidak memahami sesuatu yang terdapat pada ilmu dan “maknawiyah” (spiritual) melalui suatu bentuk tekstual, tapi kebanyakan melalui ilham. Jarang sekali isi tulisan saya mengambil bantuan dari luar. Tapi, bukan berarti bahwa saya mengetahui hal-hal yang ghaib atau mengetahui keadaan dan isi batin orang lain. Namun yang jelas, kebanyakan “maknawiyah” dan “makrifah” saya bukan didapatkan dari belajar kepada seorang guru. Dan kebanyakan tulisan saya dihasilkan melalui bimbingan dan pertolongan Allah swt. Adapun ilmu, sebagaimana yang telah disabdakan Rasul saww, dibagi menjadi tiga bagian:</font></p>
<p><font face="Times New Roman">1. “Ayatun Muhkamatun” (tanda-tanda yang kokoh), para ulama mengartikannya sebagai “ilmu mengenal Allah swt”.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">2. “Faridzatun A’dilatun” (keharusan yang baik), yang diartikan sebagai ilmu akhlak.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">3. “Sunnatun Qa’imatun” (kebiasaan baik yang tegak), yang diartikan sebagai ilmu hukum agama (fiqih). Dan yang dimaksud dengan “cahaya (nur) ilmu”adalah “nur makrifat”(cahaya mengenal) Allah swt, mengenal akhlak baik dan buruk dan mengenal hukum agama (fiqih) itu sendiri.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Soal : Bagaimana cara untuk mendapatkan “nur ilmu” tersebut?</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Jawab : Pertama ia harus belajar, karena belajar merupakan mukadimah untuk mendapatkan “nur makrifat”. Ia harus belajar ilmu akhlak dan mengamalkannya. Ia harus mensucikan diri, berperang melawan hawa nafsu dan semua keinginan hatinya, serta memerangi semua sifat tercela yang ada pada dirinya, seperti: hasad (dengki), takabur (sombong), tamak (rakus), cinta dunia dan menjauhkan semua sifat tersebut dari dirinya. Ia harus berusaha untuk mencapai keimanan dengan dalil dan argumen, lantas setelah itu ia harus beramal, menjalankan semua perkara yang telah diwajibkan oleh agama dan menjauhi semua yang telah dilarang oleh agama.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Soal : Kitab terbaik apa yang telah dibaca oleh baca tuan?</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Jawab : Kitab pelajaran terbaik yang sangat bermanfaat dan dapat digunakan oleh saya adalah kitab “Asfar Arba’ah” (empat perjalanan spiritual) karya Mulla Sadra. Kitab ini sebanyak empat jilid, tapi saya hanya menela’ah dua jilid saja, dimana kandungan kitab tersebut sesuai dengan semangat dan karakter jiwaku. Kitab tersebut memuat berbagai makrifat (‘pengetahuan’), dimana untuk memahaminya diperlukan menyelesaikan pelajaran filsafat terlebih dahulu. Saya juga menyenangi berbagai kitab hadis dan tafsir, terkhusus beberapa tafsir seperti kitab “Majma’ al-Bayan” karya Allamah Thabarsi.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Soal : Apakah dapat dikatakan bahwa laki-laki lebih baik dari perempuan?</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Jawab : Sama sekali tidak dapat dikatakan bahwa semua laki-laki lebih baik dari perempuan. Karena kita telah memiliki para perempuan agung seperti Sayyidah Fathimah Zahra as, Sayyidah Maryam as, Sayyidah Khadijah as dan lainnya, dimana mereka lebih tinggi dan agung kedudukannnya dari kebanyakan laki-laki. Adapun kelebihan yang ditetapkan Allah bagi laki-laki dalam sebagian permasalahan, hanyalah menyangkut dari masalah umum ke hal umum yang lain, bukan dari masalah individual ke individual yang lain, adapun kekurangan perempuan yang telah disebutkan al-Qur’an bahwa perempuan memiliki ‘kesenangan’ untuk berpamer diri, sehingga, dengan hal itu menyebabkan mereka sering lalai dalam menyibukan diri berkaitan dengan perkara yang berhubungan dengan kesempurnaan jiwanya, tentu kecenderungan semacam itu dianugerahkan oleh Allah swt kepada perempuan bukan tanpa hikmah, dan hikmah diwajibkannya hijab pun diantaranya karena permasalahan ini. Namun demikian, ini merupakan perkara umum yang biasanya terjadi diantara kaum perempuan dan tidak mencakup semua perempuan. Karena terdapat perempuan yang dapat mengalahkan kecenderungan tersebut dan hanya menggunakannya dalam perkara yang diperbolehkan oleh agama saja. Sebagaimana kita pun dapat menemukan seorang perempuan yang dapat melerai pertikaian dan dapat menghukumi sesuatu.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Soal : Apakah sifat “pamer diri” yang terdapat pada perempuan harus dimusnahkan?</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Jawab : Sifat tersebut, akan menjadi baik jika digunakan dalam perkara yang dihalalkan agama. Tetapi berkaitan dengan permasalahan yang lain, perempuan harus terus berusaha untuk memerangi sifat dan kecenderungan tersebut. Karena, jika tetap hanyut dalam sifat “pamer diri”, maka akan mengakibatkan penyimpangan. Hal itu disebabkan karena sifat “pamer diri” merupakan salah satu bentuk syahwat. Adapun hikmahnya, Tuhan telah menetapkan sifat “pamer diri” pada diri perempuan, supaya lelaki tertarik kepadanya dan menikahinya, yang pada akhirnya akan menghasilkan generasi dan keturunan yang baik. Dari sisi lain, perempuan berada dibawah tanggungan laki-laki. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Soal : Pada masa kini, menurut anda, jihad apa yang terbaik bagi kaum perempuan? </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Jawab : Yang terpenting bagi perempuan pada masa sekarang ini adalah untuk selalu berusaha memerangi keinginan hawa nafsunya, dan berusaha untuk memerangi rasa ingin selalu tampil dengan berbagai model, cara berpakain dan berbagai bentuk perhiasan. Walaupun hal tersebut sangat sukar untuk dilakukan, tetapi ini akan memberikan hasil berupa kesempurnaan “maknawiyah” dengan cepat. Oleh karenanya, jihad terbaik bagi perempuan adalah menjaga “hijab” (pakaiannya yang sesuai dengan yang telah diajarkan dan diperintahkan agama .red).</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Soal : Silahkan sampaikan, jika anda memiliki pesan tentang syarat kebahagiaan bagi kaum perempuan! </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Jawab : Sebagaimana yang telah saya tulis dalam buku “Rawesy-e Khusybakhti” (Cara Hidup Bahagia), bahwa kebahagiaan tergantung pada dua sisi sekaligus; “jasmani” dan “ruhani”, oleh karenanya diharuskan menjaga kedua sisi tersebut. Berkenaan tentang sisi ruhani, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam buku tersebut, bahwa perempuan harus selalu berusaha untuk menggapai sifat-sifat yang baik dan sisi insaniyah (kemanusiaan) pada dirinya. Salah satu sifat luhur yang paling menonjol pada diri perempuan adalah ‘iffah (menjaga harga diri), dari situ akhirnya para ulama akhlak mengatakan: “Pokok dasar kemuliaan wanita adalah al-‘iffah, sementara pokok dasar kemuliaan laki-laki adalah berani (syaja’ah)”. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Oleh karenanya, perempuan harus selalu berusaha untuk menjaga diri dari pandangan lelaki-lelaki yang hina dan ‘mata keranjang’. Karena kemuliaan perempuan dihadapan semua makhluk yang berakal sehat adalah dilihat dari sisi ke-’iffah-annya. Saya tidak menentang perempuan untuk belajar, tapi usahakan dilakukan dengan menjaga harga diri dan kemuliaan Islam. Merobek dan melecehkan hijab (jilbab atau pakaian yang telah diperintahkan agama .red), sama halnya dengan merobek dan melecehkan al-Qur’an. Karena al-Qur’an telah memberikan hukum khusus tentang hijab. Setiap orang yang menentangnya, sama halnya dengan telah menantang dan melecehkan hukum Allah swt yang disampaikan melalui lisan suci Nabi saww. Konsekuensi sebagai orang yang mengaku muslim ialah meyakini dan mengamalkan perintah al-Qur’an, karena dengan hal ini kebahagiaan sejati sebagai seorang muslim akan terwujud. Berkenaan tentang kebahagiaan , Phytagoras pernah berkata: “Sedikit sekali orang yang mengenal jalan kebahagiaan. Kebanyakan mereka hanyalah menjadi bahan bulan-bulanan hasrat dan permainan hawa nafsunya, akhirnya ditelan ombak penentangan dan terus berputar-putar ditengah laut yang tak bertepi, bagaikan orang-orang buta dihadapan badai dan topan”.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Perkara lain yang harus saya ingatkan, terkhusus bagi kaum perempuan, berperang melawan sifat-sifat tercela seperti tipu daya (makar) dan iri dengki (hasud). Karena kedua sifat ini lebih banyak dan lebih dominan pada perempuan. Usahakan untuk menjauhkan diri kita dari sifat-sifat tercela dan hina tersebut. Terakhir, harus saya katakan, wahai para perempuan! Tiada kebahagiaan yang melebihi dari ketenangan jiwa. Dan ketahuilah!?, kebahagiaan sejati terjelma pada segala bentuk keutamaan dan kemuliaan. Kapan kita bisa mendapatkan keutamaan dan ketenangan jiwa? Tentu, kebahagiaan itu akan dapat dicapai oleh manusia dalam lautan tak bertepi di kehidupan dunia ini hanya dengan berpegang teguh pada “tali tauhid”. Hal itu sebagaimana yang telah disebutkan dalam al-Qur’an: “Maka, barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Allah penolong orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang yang kafir, penolong-penolong mereka adalah Thaghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya ”.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Kebahagiaan sejati akan dihasilkan melalui keimanan, tauhid dan ketakwaan. Jika kalian semua menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat, maka kalian harus mengikuti al-Qur’an. Langkah demi langkah yang kalian titi akan menghantarkan kalian kepada-Nya. Disaat itulah kalian akan merasakan kebahagiaan sejati.[ED]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Inilah sekilas tentang kehidupan Sayyidah Amin yang lebih dikenal dengan “Bonuye Ishfahani”, seorang wanita mujtahidah, pakar hadis, tafsir dan ilmu mistik (irfan) yang dapat menjadi teladan bagi kita semua. Semoga Allah merahmati kepergiannya meninggalkan dunia fana ini untuk berjumpa dengan para kekasih sejatinya, Allah swt, Rasul saww dan para manusia suci as junjungannya. Untuk mengenang keluhuran ruh dan jasa mulia beliau, kita persembahkan baginya surat Fatihah yang didahului shalawat. </font></p>
<p><font face="Times New Roman">Semoga Allah mengabulkan, amin.[<a href="http://islamalternatif.com" target="_blank" title="islam feminis">Islamalternatif</a>]</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Penulis: S2 Jurusan Tafsir di Jamiah Bintul Huda Qom, Republik Islam Iran</font></p>
<p><font face="Times New Roman"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/14jembatan_isf_s.jpg" title="14jembatan_isf_s.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/14jembatan_isf_s.thumbnail.jpg?w=500" alt="14jembatan_isf_s.jpg" /></a></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=28&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/15/mengenal-mufassir-dan-arifah-perempuan-mujtahidah-banu-ye-isfahani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/isfahan.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">isfahan.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/04/14jembatan_isf_s.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">14jembatan_isf_s.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di Balik Keagungan Imam Khomaeni (1)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/14/di-balik-keagungan-imam-khomaeni/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/14/di-balik-keagungan-imam-khomaeni/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Apr 2007 19:48:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/14/di-balik-keagungan-imam-khomaeni/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika saya ikut hadir dalam pertemuan dengan salah satu putri imam Khomaeni, beliau berkata: “Imam tidak pernah memberikan perintah kepada istrinya, di saat beliau memerlukan sesuatu maka beliau akan mengatakan seperti ini: “Siapa yang akan membuatkan teh untukku? Siapa yang akan menjahitkan bajuku?” (ini diantara contoh-contohnya). Ternyata keagungan imam khomaeni tidak hanya pada masalah-masalah besar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=27&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/05/bikin-teh-sendiri.gif" title="bikin-teh-sendiri.gif"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/05/bikin-teh-sendiri.thumbnail.gif?w=500" alt="bikin-teh-sendiri.gif" /></a></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Ketika saya ikut hadir dalam pertemuan dengan salah satu putri imam Khomaeni, beliau berkata: “Imam tidak pernah memberikan perintah kepada istrinya, di saat beliau memerlukan sesuatu maka beliau akan mengatakan seperti ini: “Siapa yang akan membuatkan teh untukku? Siapa yang akan menjahitkan bajuku?” (ini diantara contoh-contohnya). Ternyata keagungan imam khomaeni tidak hanya pada masalah-masalah besar saja, semua gerak-gerik beliau mengisyaratkan akan keagungan pribadi beliau. </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<p><font face="Times New Roman"><span id="more-27"></span></font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</font></strong><strong><font face="Times New Roman"> </font></strong></p>
<p align="center"><strong><strong><font face="Times New Roman">Di balik Keagungan Imam Khomaeni (1)</font></strong><font face="Times New Roman"> </font></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Imam Khomaeni sangat menghormati istrinya. Beliau tidak akan memulai menyantap makan jika istrinya belum tiba di tempat makan untuk menyantap makan. Istri imam Khomaeni berkata: “Selama 60 tahun saya hidup bersama imam Khomaeni, namun tidak pernah sekalipun beliau menyantap makan sebelumku. Imam tidak seperti laki-laki lain yang berpaham patriarki. Imam tidak pernah memerintahku dengan sewenang-wenang. Pada masa usia seminggu pernikahan kami, imam berkata kepadaku: “Saya tidak akan mengekangmu, apabila ingin membeli pakaian, belilah dan pakailah. Tapi, yang saya harapkan darimu adalah laksanakan semua kewajibanmu dan tinggalkan semua yang dilarang Allah kepadamu”. Betapa setianya istri imam khomaeni kepadanya, sehingga imam Khomaeni merasa bangga kepadanya seraya berkata: “Betapa bahagianya diriku, memiliki istri sepertinya. Kesetiaan dan pengorbanannya tidak ada yang menyainginya”. </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">(Dinukil dari majalah “Afaq”, edisi bahasa Farsi, tentang imam Khomaeni, volume 13-14, 1384 QS).</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Ketika saya ikut hadir dalam pertemuan dengan salah satu putri imam Khomaeni (Faridah Mustafawy)</font><font face="Times New Roman">, beliau berkata: “Imam tidak pernah memberikan perintah kepada istrinya, di saat beliau memerlukan sesuatu maka beliau akan mengatakan seperti ini: “Siapa yang akan membuatkan teh untukku? Siapa yang akan menjahitkan bajuku?” (ini diantara contoh-contohnya). Ternyata keagungan imam khomaeni tidak hanya pada masalah-masalah besar saja, semua gerak-gerik beliau mengisyaratkan akan keagungan pribadi beliau. [Euis Daryati]</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=27&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/14/di-balik-keagungan-imam-khomaeni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/05/bikin-teh-sendiri.thumbnail.gif" medium="image">
			<media:title type="html">bikin-teh-sendiri.gif</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wanita, Tradisi dan Konsep Keadilan Gender (3)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/14/wanita-tradisi-dan-konsep-keadilan-gender-3/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/14/wanita-tradisi-dan-konsep-keadilan-gender-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Apr 2007 19:45:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/14/wanita-tradisi-dan-konsep-keadilan-gender-3/</guid>
		<description><![CDATA[Jauh-dekatnya seseorang dari Allah berarti kuat-lemahnya realisasi sifat Tuhan pada diri manusia. yang menjadi pertanyaan ialah siapakah yang dapat mencapai kesempurnaan dan dapat sampai ke maqam qurb ? Ayat di atas dengan jelas telah mensinyalir bahwa manusialah yang dapat sampai ke maqam tersebut. Dari sisi lain, manusia terdiri dari lelaki dan perempuan, maka tidak ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=26&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Jauh-dekatnya seseorang dari Allah berarti kuat-lemahnya realisasi sifat Tuhan pada diri manusia. yang menjadi pertanyaan ialah siapakah yang dapat mencapai kesempurnaan dan dapat sampai ke maqam qurb ? Ayat di atas dengan jelas telah mensinyalir bahwa manusialah yang dapat sampai ke maqam tersebut. Dari sisi lain, manusia terdiri dari lelaki dan perempuan, maka tidak ada bedanya baik lelaki maupun perempuan. Keduanya mempunyai potensi untuk mencapai derajat kedekatan Ilahi ( <em>maqam qurb</em>).</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> <span id="more-26"></span></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</font></p>
<p align="center"><strong><font face="Times New Roman">Wanita, Tradisi, dan Konsep Keadilan Gender (3)</font></strong></p>
<p align="center" style="text-align:center;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Oleh: Euis Daryati</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">2. Perempuan dan Konsep Kesempurnaan</font></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Apakah tujuan penciptaan? Apakah relasi antara tujuan penciptaan dan kesempurnaan? Untuk menjawab pertanyaan di atas, terlebih dahulu harus diperhatikan beberapa premis di bawah ini: </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">1. Seorang yang bijaksana dan berakal tidak akan mungkin melakukan suatu pekerjaan tanpa tujuan. Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Bijaksana dan Berakal,[12] maka Dia tidak akan menciptakan sesuatu tanpa tujuan.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">2. Dari sisi lain, Dzat Allah SWT adalah Dzat Yang Mahasempurna, yang kesempurnaan-Nya bersifat Absolut dan tak terbatas. Sebagai sebuah kesempurnaa, penciptaan Allah niscaya bertujuan, yakni penciptaan yang berkebijakasanaan. Jelas, bahwa tujuan dan manfaat penciptaan -terkhusus penciptaan manusia- tidak kembali kepada Tuhan sebagai subjek penciptaan melainkan kepada obyek, yaitu makhluk. Berbeda dengan makhluk yang serba terbatas, semua prilaku dan usahanya untuk menutupi kekurangan yang ada pada dirinya. Kita bisa contohkan, tujuan orang belajar adalah untuk menghilangkan kekurangan yang ada pada dirinya yaitu untuk menghilangkan kebodohan. dengan kata lain, tujuan kembali ke-predikat, sedang Allah karena Maha Mengetahui tidak perlu mencari ilmu apalagi melalui proses belajar karena Allah bukan obyek proses.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Berdasarkan dua premis di atas ini, lalu apakah tujuan di balik penciptaan? Tujuan penciptaan ialah untuk menggapai kesempurnaan. Artinya, semua makhluk diciptakan oleh Allah agar mereka dapat mencapai kesempurnaannya yang khas. Untuk mencapai kepada tujuan tersebut, Allah memberikan sarana berupa hidayah takwini (petunjuk alami) yang ada pada semua makhluk, dan hidayah tasri’i (petunjuk nonalami) yang khusus diberikan untuk manusia. “Tuhan kami ialah (Tuhan ) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu penciptaannya, kemudian memberinya petunjuk”.(Thaha:50). Hidayah takwini pada manusia ialah berupa akal dan fitrah, sedangkan hidayah tasri’i ialah berupa pengutusan para rasul. </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Apa itu kesempurnaan? Kesempurnaan ialah “terealisasinya segala potensi yang ada pada setiap makhluk”, dengan kata yang lebih sederhana kesempurnaan adalah sampainya substansi setiap makhluk pada batas akhir yang harus ditempuh. Dengan mengetahui potensi-potensi yang ada pada setiap mahluk, kita akan mengetahui kesempurnaannya. Dan kita ketahui pula bahwa potensi yang ada pada setiap makhluk tidaklah sama. Potensi yang ada pada makhluk hidup akan berbeda dengan potensi yang ada pada benda mati. begitu pula potensi yang ada pada tumbuhan akan berbeda dengan potensi yang ada pada hewan. Batu mempunyai potensi menjadi padat dan keras, maka kesempurnaan batu terletak pada kekerasannya dan kepadatannya, pohon mempunyai potensi untuk berbuah dan berkembang dengan baik, maka disaat ia berbuah dan berkembang dengan baik itulah kesempurnaannya. </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Jelas untuk terrealisasinya kesempurnaan ada hal-hal yang harus terpenuhi. Hal itu bisa diringkas pada satu kalimat, yaitu “terpenuhinya semua syarat dan tidak adanya semua kendala”. Pohon akan berkembang baik kalau semua syaratnya terkumpul lengkap seperti: sinar matahari, jenis tanah yang subur, pupuk,&#8230;dll, juga tidak ada kendala seperti tidak adanya hama&#8230;dll. Tentu, potensi yang terdapat dalam manusia berbeda dengan potensi yang ada pada benda mati, tumbuhan, dan hewan. Disamping itu manusia memiliki nilai plus dan kelebihan jika dibanding dengan makhluk yang lain. manusia merupakan makhluk hidup yang rasional dan ruhnya dinisbatkan kepada Tuhan.[13] maka di saat itu, kesempurnaan yang akan diraihnya lebih unggul dari yang lainnya. Kesempurnaan yang dapat diraih oleh manusia ialah sampainya ke-maqom qurb, yakni tercapainya derajat yang “dekat” dengan Sumber Kesempurnaan; “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah” (Al-Dzariyat:56).</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Tujuan dari ibadah ialah untuk mendekatkan (qurb) diri kepada Allah sebagai sumber segala kesempunaan. Dengan kata lain, untuk mencapai derajat kedekatan Ilahi )maqam qurb( hanya bisa dicapai melalui ibadah. Salah satu arti qurb ialah “menyerupakan diri” dengan Allah dalam sifat-sifat kesempurnaan. Dialah sumber kesempurnaan mutlak (absolut), semakin dekat kita dengan-Nya semakin banyak pula sifat kesempurnaan Allah yang terjelma dalam diri kita. Yakni, jauh-dekatnya seseorang dari Allah berarti kuat-lemahnya realisasi sifat Tuhan pada diri manusia. yang menjadi pertanyaan ialah siapakah yang dapat mencapai kesempurnaan dan dapat sampai ke maqam qurb ? Ayat di atas dengan jelas telah mensinyalir bahwa manusialah yang dapat sampai ke maqam tersebut. Dari sisi lain, manusia terdiri dari lelaki dan perempuan, maka tidak ada bedanya baik lelaki maupun perempuan. Keduanya mempunyai potensi untuk mencapai derajat kedekatan Ilahi (<em> maqam qurb</em>).</font></p>
<p><strong><font face="Times New Roman">3. Perempuan dan Persamaan nilai</font></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Sebagaimana yang telah kita ulas dalam pembahasan sebelumnya, bahwa perempuan dalam pandangan al-Quran mempunyai potensi untuk mencapai kesempurnaan sebagaimana halnya lelaki, di bawah pancaran ma’rifat dan amal ia akan dapat mencapai mi’raj dan kedudukan paling tinggi yang mungkin didapat oleh manusia. Dalam masalah ini, tidak ada keraguan lagi dan sebagaimana yang Al-Quran dengan ekplisit telah menyinggungnya. Setiap kali Al-Quran berbicara masalah kesempurnaan dan nilai-nilai tinggi yang akan dicapai oleh manusia, ia akan menyebutkan perempuan bersamaan dengan lelaki: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu, laki-laki dan permpuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut namaAllah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.(Al-Ahzab:35)</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dalam ayat tersebut membuktikan betapa Islam tidak membedakan lelaki dan perempuan dari sisi nilai dan kesempurnaan, baik lelaki maupun perempuan –berdasarkan premis di atas- dapat mencapai kesempurnaan dan kenaikan derajat.“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman):Sesungguhnya Aku tidak menia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantara kamu baik laki-laki maupun perempuan, sebagian kamu ialah sebagian yang lain&#8230;”.(Al-Imran:195) Dalam ayat lain Allah berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk kedalam sorga dan mereka tidak dianiya walau sedikitpun”. (Al-Nisaa’:124).</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Demikianlah ayat menjelaskan bahwa Tuhan akan memberikan balasan berdasarkan kerja kerasnya, dan jikalau balasan tersebut dibedakan atas dasar jenis kelamin (gender), berarti Tuhan telah berlaku zalim, sementara kita tahu Tuhan tidak akan melakukan kezaliman[14]. “Barang siapa yang melakukan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kamiberikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.(Al-Nahal:97). Ayat terakhir ini mengisyaratkan pada persamaan dalam mendapatkan pengaruh dan akibat amal saleh, baik didunia maupun akhirat. </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p><strong><font face="Times New Roman">4. Perempuan dan keteladanan</font></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Manusia dimana pun dan kapan pun berada senantiasa akan mencari sosok yang akan dijadikan figur dan teladan dalam kehidupannya. Dapat kita lihat hal ini dalam perkembangan kehidupan manusia mulai dari masa kanak-kanak sampai masa dewasa, bahkan sampai masa tuapun tetap memerlukan figur. Ketika masa kanak-kanak, karena pergaulannya masih terbatas dalam lingkup keluarga, maka seseorang yang dijadikan figur dan teladan baginya tak lepas dari keluarganya seperti ayah dan ibunya. Namun lain halnya ketika beranjak remaja, dimana pergaulannya lebih meluas begitupula pengetahuannya, ia akan berusaha mencari sosok figur yang lain, begitupula ketika menginjak dewasa dan seterusnya. Ini semua menunjukkan bahwa pencarian figur dan teladan merupakan fitrah manusia (ciri alamiah manusia) yang kembalinya ke fitrah cinta kesempurnaan, dimana fitrah cinta kesempurnaan manusia akan senantiasa berusaha meminimalisasi kekurangan–kekurangan yang ada pada dirinya. </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Karena ia merasa ada orang yang lebih baik dan utama darinya, maka ia jadikan orang tersebut sebagai figur dan teladan baginya dengan tujuan untuk ditiru dan dicontoh. Ini semua menunjukan betapa pentingnya peranan seorang figur dalam membentuk pribadi seseorang, karena seseorang akan berusaha berprilaku seperti orang yang ia teladani. Berkenaan dengan hal ini, supaya manusia tidak salah dalam memilih seorang figur, Al-Quran memberi petunjuk kepada kita bahwa figur dan teladan kita adalah Rasul: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kamu&#8230;(Al-Ahzab:21)</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Berdasarkan ayat di atas, Rasulullah SAWW ialah manusia sempurna, figur dan tauladan bagi masyarakat, dimana anggota masyarakat terdiri dari laki-laki dan perempuan. Maka, Rasulullah merupakan tauladan bagi laki-laki dan perempuan. Perlu diketahui, bahasa Al-Quran adalah bahasa percakapan, dan dalam bahasa percakapan Arab kata ganti (zamir) ”kum” kadang pula digunakan untuk kata ganti masyarakat, yaitu laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, jangan sampai kita mengambil kesimpulan bahwa ayat di atas khusus untuk kaum lelaki saja. </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Menurut pandangan Al-Quran, manusia sempurna seperti Rasul SAWW dan para Imam as merupakan tauladan dan figur bagi manusia yang lainnya. Oleh karena itu, jika manusia sempurna tersebut ialah seorang lelaki, maka ia bukan saja teladan dan figur bagi laki-laki bahkan ia juga tauladan bagi semua manusia yang patut diikuti. Begitupula jika manusia sempurna tersebut ialah seorang perempuan, maka ia bukan hanya teladan bagi perempuan saja, bahkan lebih dari itu ia juga tauladan dan figur bagi seluruh manusia –lelaki maupun perempuan- yang harus diikuti. Hal ini dengan jelas disebutkan dalam Al-Quran, dimana dua orang merupakan wanita teladan baik, yaitu Maryam as dan Asiyah (istri fir’aun), sedang dua wanita lagi yang merupakan contoh wanita buruk, yaitu istri nabi Nuh dan istri nabi Luth. Jadi perempuan -baik ataupun buruk- bukan teladan/contoh bagi perempuan saja, akan tetapi merupakan perempuan teladan/contoh bagi segenap masyarakat, sebagaimana yang dapat disinyalir dalam ayat sebagai berikut: “Dan Allah membuat istri Fira’un perumpamaan bagi orang –orang beriman&#8230;(Al-Tahrim:11)</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Dalam ayat di atas, Al-Quran dengan jelas tidak mengatakan bahwa istri Fir’aun merupakan contoh bagi kaum wanita, akan tetapi Al-Quran mengatakan bahwa perempuan baik merupakan contoh dan tauladan bagi orang-orang beriman, baik laki-laki maupun perempuam. Di sini, bukan hanya perempuan yang harus mengambil pelajaran darinya, tetapi segenap masyarakat Islampun demikian. </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Begitupula Maryam as adalah salah satu wanita yang mencapai derajat kesempurnaan. Ia bukan saja teladan bagi kaum wanita, tapi juga tauladan ketaqwaan dan kemuliaan bagi kaum lelaki dan perempuan. Begitu tinggi derajatnya di sisi Tuhan, sampai-sampai diturunkan kepadanya hidangan dari surga yang membuat takjub Nabi Zakaria as dan membuat beliau terilhami untuk memohon kepada Tuhan agar dikaruniai seorang anak. Dan karena kecintaannya kepada Maryam as, kemudian Tuhan menamai<br />
surat yang berhubungan dengannya dengan nama wanita agung itu;“Dan (ingatlah) ketika malaikat Jibril berkata:”Hai Maryam sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita didunia (pada masa itu) (Al-Imran :42).</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Begitu pula Fatimah zahra as, putri tunggal Rasul SAWW, adalah manusia sempurna yang merupakan tauladan bagi seluruh manusia. Berdasarkan riwayat, Fatimah bukan hanya penghulu wanita dimasanya, tapi juga penghulu wanita seluruh alam dan seluruh masa, sebagaimana Rasul bersabda:” Adapun anakku Fatimah dia ialahpenghulu wanita seluruh alam dari awal penciptaan sampai hari akhir”.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Dari sini dapat dikatakan bahwa perempuan dengan sendirinya mampu menjadi tauladan bagi yang lainnya, tanpa perlu digandengkan di samping lelaki, misalkan istri yang baik dari seorang suami sebagaimana halnya laki-laki. Kita tidak memungkiri bahwa hal tersebut –yaitu istri yang baik berkat peran suami- merupakan hal yang baik dan bisa diterima, akan tetapi maksud kami di sini hanya ingin mengatakan bahwa secara independen wanita pun dapat menjadi seorang tauladan dan figur bagi masyarakat.</font></p>
<p><font face="Times New Roman">Dan persamaan-persamaan yang lain yang tidak mungkin kita ulas secara detail dalam artikel ringkas ini, seperti persamaan dalam mencapai maqam khalifatullah sebagaimana yang disinggung dalam surat al-Baqarah ayat:30, karena yang bisa mencapai maqam tersebut ialah manusia sempurna dan manusia sempurna terdiri dari laki-laki dan perempuan, atau persamaan dalam mendapatkan taklif (kewajiban) seperti: shalat, puasa, zakat&#8230;, atau persamaan untuk berperan serta dalam bidang sosial, politik dan ekonomi, dan lain sebagainya.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Bersambung…..</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=26&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/14/wanita-tradisi-dan-konsep-keadilan-gender-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cinta Sejati (2)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/13/cinta-sejati-2/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/13/cinta-sejati-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 14:46:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/13/cinta-sejati-2/</guid>
		<description><![CDATA[Disebutkan dalam al-Qur’an, Asiyah telah memohon kepada Allah swt untuk dibangunkan rumah di surga. Kemudian Allah mengabulkan permohonannya tersebut. Namun kecintaan Asiyah kepada Allah menyebabkan ia disiksa oleh suaminya, Fir’aun. Kecintaan pada Kekasih sejatinya (Allah swt) menjadikan semua siksaan baginya tiadalah artinya. Fir’aun telah memerintahkan untuk memaku badan Asiyah pecinta Sang Kekasih sejati. Tidak cukup [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=17&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Disebutkan dalam al-Qur’an, Asiyah telah memohon kepada Allah swt untuk dibangunkan rumah di surga. Kemudian Allah mengabulkan permohonannya tersebut. Namun kecintaan Asiyah kepada Allah menyebabkan ia disiksa oleh suaminya, Fir’aun. Kecintaan pada Kekasih sejatinya (Allah swt) menjadikan semua siksaan baginya tiadalah artinya. Fir’aun telah memerintahkan untuk memaku badan Asiyah pecinta Sang Kekasih sejati. Tidak cukup sampai di situ, matanya pun telah dipaku. Namun ia tetap tersenyum dan ceria dengan kondisi seperti ini. </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">(Sumber: Dastanho-ye Mauzui, Kazim Said Pur, hal 58)</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/islamfeminis.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/islamfeminis.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/islamfeminis.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/islamfeminis.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=17&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/13/cinta-sejati-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wanita, Tradisi dan Konsep Keadilan Gender (2); Benarkah Hawa Diciptakan dari Tulang Rusuk Nabi Adam as?</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/13/wanita-tradisi-dan-konsep-keadilan-gender-2/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/13/wanita-tradisi-dan-konsep-keadilan-gender-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2007 14:39:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/04/13/wanita-tradisi-dan-konsep-keadilan-gender-2/</guid>
		<description><![CDATA[Dari zahir ayat ini kita tidak bisa mengambil kesimpulan bahwa Hawa tercipta dari tulang rusuk nabi Adam, sebagaimana yang disebutkan oleh beberapa hadis. Selain itu juga ada hadis yang menunjukan proses penciptaan Hawa terpisah dari penciptaan Adam, dimana seseorang bertanya kepada Imam Baqir ;”wahai imam dari apakah Tuhan menciptakan Hawa? Imam seraya berkata:”Apa pendapat orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&amp;blog=789422&amp;post=16&amp;subd=islamfeminis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/06/s_e9.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-295" src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/06/s_e9.jpg?w=110&#038;h=74" alt="" width="110" height="74" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;">
