<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>ISLAM FEMINIS</title>
	<atom:link href="http://islamfeminis.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://islamfeminis.wordpress.com</link>
	<description>Islami, Feminim dan Mencerahkan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Jan 2009 16:10:25 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='islamfeminis.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/6f5d148880c7c8173cf7820e025a32dc?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>ISLAM FEMINIS</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Singgasana Para Pengantin; Ketegaran yang Berbuah Kebahagian</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/29/singgasana-para-pengantin-ketegaran-yang-berbuah-kebahagian/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/29/singgasana-para-pengantin-ketegaran-yang-berbuah-kebahagian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jan 2009 16:09:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=343</guid>
		<description><![CDATA[
Dalam dunia kehidupan rumah tangga, bila pihak suami maupun istri bertindak tak ubahnya seorang majikan yang suka memerintah pembantunya, maka tak ada pilihan lain bagi pasangannya kecuali bersikap taat dan berserah diri. Kita seringkali menemui seorang suami yang memperlakukan istrinya seperti pelayan atau budak yang tidak punya pilihan selain ketaatan. Ini tercermin dari pertanyaan-pertanyaan sinis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=343&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam dunia kehidupan rumah tangga, bila pihak suami maupun istri bertindak tak ubahnya seorang majikan yang suka memerintah pembantunya, maka tak ada pilihan lain bagi pasangannya kecuali bersikap taat dan berserah diri. Kita seringkali menemui seorang suami yang memperlakukan istrinya seperti pelayan atau budak yang tidak punya pilihan selain ketaatan. Ini tercermin dari pertanyaan-pertanyaan sinis sang suami kepada istrinya seperti; mengapa engkau tidak mengerjakan ini, mengapa tidak engkau hidangkan makanan ini, mengapa dan mengapa. Seperti celoteh interogatif jaksa penuntut dihadapan terdakwa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span id="more-343"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="IN">Singgasana Para Pengantin; Ketegaran yang Berbuah Kebahagian</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN">Karya: DR. Ali Qo’imi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kehidupan keluarga hendaklah dipupuk dengan kasih saying. Masing-masing pihak, suami maupun istri, harus saling bertanggung jawab satu sama lain. Karena itu, keduanya harus saling memiliki ketegaran dan kesabaran yang penuh dalam menghadapi kehidupan. Namun sangat disesalkan, kita seringkali menjumpai sebagian orang, lantaran hasutan serta beratnya pekerjaan dan kehidupan yang digeluti, telah kehilangan sikap semacam ini. Mereka tidak mampu bersikap tegar menghadapi pasangan hidupnya dan hanya lantaran sebab yang sepele, ia langsung bertindak di luar batas sehingga mengancam kebahagiaan keluarga. Dalam tulisan ini akan diketengahkan pembahasan tentang akar-akar penyebab terjadinya persoalan tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam perjalanan kehidupan manusia selalu diwarnai oleh berbagai bentuk perilaku, kebiasaan dan sikap domestiknya. Dapat dikatakan bahwa setiap orang memiliki cara bertindak dan perilaku yang khas. Dalam dunia kehidupan rumah tangga, bila pihak suami maupun istri bertindak tak ubahnya seorang majikan yang suka memerintah pembantunya, maka tak ada pilihan lain bagi pasangannya kecuali bersikap taat dan berserah diri. Kita seringkali menemui seorang suami yang memperlakukan istrinya seperti pelayan atau budak yang tidak punya pilihan selain ketaatan. Ini tercermin dari pertanyaan-pertanyaan sinis sang suami kepada istrinya seperti; mengapa engkau tidak mengerjakan ini, mengapa tidak engkau hidangkan makanan ini, mengapa dan mengapa. Seperti celoteh interogatif jaksa penuntut dihadapan terdakwa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sang suami tersebut lupa bahwa istrinya berdasarkan syariat Islam dan undang-undang, tidak wajib menunaikan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Dengan kata lain, pekerjaan-pekerjaan tersebut lebih dipandang sebagai pekerjaan-pekerjaan yang berbobot kemanusian nan mulia yang dilakukan istri karena kasih sayangnya, sehingga patut dipuji dan dihargai bila dilaksanakan sang istri. Sebaliknya pula, kita tak jarang menjumpai seorang istri yang memperlakukan suaminya tak lebih sebagai seorang hamba yang hina dina. Dalam hal ini, keberadaan sang suami tak ubahnya bidak-bidak catur, mengikuti perhitungan, perintah dan larangan istrinya. Dan bila suaminya jatuh miskin, seorang istri akan menyebut-nyebut hal itu seraca memperlihatkan kekayaan dirinya. Perilaku semacam ini jelas tidak sejalan dengan hakikat kemanusiaan serta prinsip dan landasan kehidupan bersama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Akhlak buruk, sikap kasar, serta tidak adanya ketegaran dalam bergaul merupakan penyebab timbulnya pertengkaran yang dapat merusak kehidupan bersama. Sejumlah penelitian membuktikan bahwa akhlak yang buruk dan tidak adanya ketegaran dalam pergaulan akan menyebabkan ketuaan yang bersifat prematur (tua sebelum waktunya). Penelitian lain membuktikan bahwasanya sebagian besar penyakit hati (lever) disebabkan lantaran pertengkaran, dan tidak adanya ketegaran, khususnya diantara pasangan suami-istri yang gemar berpetualang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Suasana kehidupan keluarga yang selalu diliputi ketegangan akibat perilaku kasar dan pengekangan yang berlebihan akan menggiring anak-anak ke dalam situasi yang sangat berbahaya. Jiwa mereka niscaya akan terguncang hebat. Selain itu, mereka juga akan kehilangan perasaan tenang yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan mentalnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Untuk menelaah sebab-sebab yang tersenbunyi di balik segenap apa yang telah dijelaskan, kami akan mengemukakan sejumlah hal yang dapat menjelaskan permasalahan diatas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">1. Tidak adanya saling pengertian.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tidak adanya sikap saling mengerti dan minimnya pengetahuan tentang pelbagai ketentuan yang harus dipelihara dalam pergaulan bersama menyebabkan timbulnya berbagai kesulitan yang menjurus pada pertengkaran. Adapun penyebab tidak adanya saling pengertian dan keharmonisan, sebagiannya bersumber pada kesenjangan usia, pengertian dan pengalaman hidup. Sementara sebagian lainnya bersumber dari perbedaan selera dan gaya hidup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Salah satu hal yang patut disesalkan adalah pasangan suami-istri sekalipun telah menjalani kehidupan bersama selama beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun gagal mengenali kepribadian pasangannya. Padahal, dengan saling mengenal satu sama lain, berbagai persoalan hidup akan dapat diatasi dengan mudah dan keduanya akan selalu bersikap tegar demi menjaga keharmonisan hidup bersama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">2. Kemelut Hidup.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Banyak orang yang memperhatikan dan memnerlakukan aturan-aturan sedemikian rupa hanya demi memenuhi ambisinya semata. Orang-orang semacam ini begitu mudah naik pitam dan marah besar ketika mengetahui adanya kesalahan barang sedikit saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam kasus ini, bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi misalnya, apabila seorang suami yang begitu ketat memberlakukan aturan pulang kerumahnya, sementara ia menganggap segala sesuatu dalam keadaan baik dan rapi. Namun kemudian ia menjumpai keadaan rumah yang begitu kacau balau dan semrawut. Apa lagi yang akan terjadi kalu bukan pertengkaran dan ocehan yang menykitkan hati</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">3. Kerja keras</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Betapa banyak orang yang gampang mengumbar amarah hanya lantaran sebab-sebab yang sangat sepele. Dalam hal ini, kami menemukan alasannya, pekerjaan yang menumpuk dan melelahkan telah melemahkan jaringan saraf mereka, sehingga menghilangkan kemampuan untuk bersikap tegar dan berfikir jernih . Dalam keadaan demikian, mereka acapkali secara tiba-tiba belaku buruk terhadap istrinya tanpa menyertakan belaskasih sedikitpun dan tanpa sebab yang jelas. Situasinya bahkan sedemikian rupa, sampai-sampai kita menjumpai adanya sebagian istri yang harus bekerja rodi di rumahnya, sehingga menjadikan dirinya nampak seperti mayat hidup. Para istri tersebut sungguh telah kehilangan kemampuannya untuk berinteraksi dengan suaminya secara layak, bijak dan berimbang. Kami mewasiatkan kepada seluruh pasangan suami-istri agar senantiasa bersikap seimbang dalam hal pekerjaan serta memelihara pelbagai batasan kehidupan bersama secara konsekuen.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">4. Kekacauan pikiran</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Adakalanya kita menjumpai seseorang yang dilanda banyak masalah dan terus berduka lantaran mengalami kekacauan pikiran dan gangguan mental. Hal tersebut pada gilirannya menimbulkan sejumlah problema lain, seperti rasa was-was yang mendorong amarah, tidak dapat bersikap tegar, dan sering berperilaku sangat kasar, karenanya sedikit saja mereka mengalami benturan, niscaya tapi kemarahan akan segera berkobar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">5. Faktor faktor luar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tak jarang sebuah pertangkaran dalam keluarga dipicu oleh sejumlah faktor yang datang dari luar, misalnya, seorang suami yang bekerja di suatu tempat kemudian bertengkar dengan sejawatnya. Pertengkaran tersebut pada gilirannya begitu membekas dihati sehingga menjadikannya merasa kesal dan mendendam. Kemudian, lantaran suatu sebab, atau bahkan tidak ada sebab sekalipun, ia langsung menumpahkan kemarahan dan dendamnya kepada keluarganya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Begitu pula dengan seorang ibu rumah tangga yang tidak mampu lagi menguasai dirinya lantaran selalu mengamat-amati kehidupan tetangganya yang hidup makmur. Semua itu kemudian melahirkan penyesalan dalam diri yang tak jarang diungkapkan dalam bentuk keluhan dan tangisan. Sungguh tidak masuk akal apabila seorang suami atau istri lantaran diterjang problema diluar rumah, bersikap mementingkan dirinya sendiri, ketika pulang kerumah, dirinya berusaha menghilangkan kekesalannya dengan cara menumpahkan amarahnya kepada orang orang yang tidak bersalah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">6. Minimnya ketegaran</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Seringkali seseorang sampai hilang kesabarannya dan naik pitam ketika menghadapi sejumlah pertanyaan istrinya (yang sebenarnya tidak sampai menyinggung hati). Namun entah mengapa ia langsung gelisah dan berteriak, “Mengapa engkau tidak menjauh dariku?” Biarkanlah aku dengan urusanku! Dalam kasus ini, sang suami sungguh tidak mampu bersikap tegar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">7. Tidak adanya keseimbangan jiwa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Seorang suami yang kehilangan keseimbangan jiwa niscaya akan menderita komplek rendah diri (inferiority complex). Lantaran itu, ia akan selalu menumpahkan segenap problema yang dihadapi pada keluarganya. Dalam hal ini, istri dan anak anaknya akan terjangkit dua hal, penyakit jiwa lantaran ketenangan rohaninya telah hilang sehingga mudah emosi dan menumpahkan amarah kepada segenap hal, dan penyakit sadisme (merasa senang menyaksikan dan menjadikan orang lain menderita).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">8. Tidak adanya kelembutan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tidak adanya kelembutan dan sikap menghargai perasaan orang lain dalam pegaulan acapkali menyulut terjadinya banyak pertengkaran. Keterusterangan tentu merupakan tindakan terpuji asalkan tidak sampai melanggar batas-batas etika dan sopan santun, serta dengan selalu memperhatikan ketegaran pihak lain yang menjadi pendengar. Keterusterangan seperti apakah yang bisa menyulut kobaran api yang melalap seisi rumah atau menjadi pedang beracun dalam diri manusia?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kehidupan rumah tangga menuntut kecermatan dan kehati-hatian dalam berbicara serta bergaul. Adalah bijak menghindari keterusterangan jika itu hanya akan menyebabkan timbulnya pelbagai pengaruh destruktif. Dalam hal ini, masih banyak cara lain yang dapat ditempuh yang tidak sampai membuahkan akibat buruk. Dalam uraian sebelumnya, kita telah mengetahui bahwa sikap irasional dalam kehidupn bersama (suami-istri) merupakan penyebab langsung terjadinya pertengkaran-pertengkaran yang dapat merontokkan sendi-sendi kehidupan rumah tangga. Untuk itu, baik pihak suami maupun istri dituntut untuk selalu bersikap rasional dalam mengarungi lika-liku hidup bersama demi menepis kabut kelam yang menyelubungi cakrawala kehidupan keluarga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">(disarikan oleh Afita, Qom Iran)</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/343/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=343&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/29/singgasana-para-pengantin-ketegaran-yang-berbuah-kebahagian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Islam dan Peran Perempuan di Masyarakat: Perspektif  Imam Khomaini ra</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/29/islam-dan-peran-perempuan-di-masyarakat-perspektif-imam-khomaini-ra/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/29/islam-dan-peran-perempuan-di-masyarakat-perspektif-imam-khomaini-ra/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jan 2009 16:07:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[
Tidak sedikit kalangan agamawan yang mencoba memberikan solusi. Alih-alih memberikan solusi, malah sebaliknya menambah kerumitan persoalan. Maka, mengikuti kelaziman, mempercayakan persoalan ini kepada nara sumber yang memiliki kapasitas dalam menguraikan kerumitan sumber hukum, didukung sikap jujur terhadap pandangannya. Imam Khomeini (ra) adalah salah satu sosok yang layak untuk diangkat. Tidak sedikit pernyataan beliau berkaitan dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=340&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tidak sedikit kalangan agamawan yang mencoba memberikan solusi. Alih-alih memberikan solusi, malah sebaliknya menambah kerumitan persoalan. Maka, mengikuti kelaziman, mempercayakan persoalan ini kepada nara sumber yang memiliki kapasitas dalam menguraikan kerumitan sumber hukum, didukung sikap jujur terhadap pandangannya. Imam Khomeini (ra) adalah salah satu sosok yang layak untuk diangkat. Tidak sedikit pernyataan beliau berkaitan dengan persoalan perempuan, baik yang disampaikan dalam berbagai kongres perempuan, hari ibu ataupun pertemuan-pertemuan lainnya. Dengan mengamati berbagai pernyataan Imam tersebut, kita akan mencoba memahami bagaimana sebenarnya pemikiran Imam, terutama berkaitan dengan peran perempuan di masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> <span id="more-340"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;" lang="IN">Islam dan Peran Perempuan di Masyarakat: Perspektif </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;" lang="IN">Imam Khomaini ra</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN">Oleh: Afifah Ahmad </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="IN">“Tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki dari sisi kemanusiaan. Karena perempuan sebagaimana laki-laki memiliki hak yang sama dalam menentukan masa depannya. Adapun perbedaan yang ada diantara keduanya, tidak mengurangi sisi kemanusiaan itu sendiri” </span></em><span lang="IN">Sahifah Nur Jilid 3 hal. 49, Pendahuluan<em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tuhan menciptakan manusia dengan dibekali kekuatan akal serta diiringi kesucian wahyu untuk mencapai kesempurnaan. Di alam ‘azali manusiapun berikrar menjadi khalifah Tuhan di muka bumi. Manusia bersedia mengemban amanat suci langit untuk menebarkan kebaikan serta mencegah kemungkaran di dunia. Sebuah amanat yang tak sanggup diemban oleh makhluk mana pun. Maka, manusia memiliki konsekuensi untuk membangun diri serta lingkungannya, baik pada lingkup keluarga maupun masyarakat secara luas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Demikian halnya dengan perempuan sebagai salah satu misdaq manusia, tak dapat lepas dari amanat tersebut. Perempuan, sebagaimana laki-laki memiliki tanggung jawab terhadap diri dan masyarakatnya. Dari sinilah, muncul ada tiga peran utama yang dimiliki oleh perempuan. Pertama, peran yang terkait dengan kehidupan individu, yaitu hubungan transendental manusia dengan Tuhannya. Kedua, peran perempuan dalam kehidupan keluarga baik sebagai istri maupun ibu dari anak-anaknya. Ketiga, peran perempuan di masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Peran terakhir ini, memunculkan dua tesis berseberangan. Di satu sisi, ada sebagian kelompok yang sama sekali menolak keterlibatan perempuan di ranah publik. Kekhawatiran yang kerap kali dimunculkan adalah terjadinya fitnah serta kekacauan peran. Di sisi lain, tak sedikit kalangan yang memberikan kebebasan seluas-luasnya untuk terjun di masyarakat tanpa adanya pembatasan. Pendapat ini muncul sebagai reaksi terhadap kelompok pertama. Lantas, adakah jalan ketiga? Bagaimana sebenarnya posisi perempuan di dalam masyarakat?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Nampaknya, pertanyaan ini tidak sederhana. Di dalam koridor agama sendiri, persoalan ini memerlukan kajian mendalam melalui penggalian sumber-sumber hukum otentik. Tidak sedikit kalangan agamawan yang mencoba memberikan solusi. Alih-alih memberikan solusi, malah sebaliknya menambah kerumitan persoalan. Maka, mengikuti kelaziman, mempercayakan persoalan ini kepada nara sumber yang memiliki kapasitas dalam menguraikan kerumitan sumber hukum, didukung sikap jujur terhadap pandangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Imam Khomeini (ra) adalah salah satu sosok yang layak untuk diangkat. Tidak sedikit pernyataan beliau berkaitan dengan persoalan perempuan, baik yang disampaikan dalam berbagai kongres perempuan, hari ibu ataupun pertemuan-pertemuan lainnya. Dengan mengamati berbagai pernyataan Imam tersebut, kita akan mencoba memahami bagaimana sebenarnya pemikiran Imam, terutama berkaitan dengan peran perempuan di masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Imam Khomeini dan Konsep Dasar Perempuan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Secara umum, ada dua hal menarik yang dapat dikaji dari pandangan Imam Khomeini berkenaan dengan konsep dasar perempuan.[1] Pertama, sisi persamaan, Imam memandang adanya persamaan antara perempuan dan laki-laki dari sisi esensi kemanusiaan (huviyat ensoni). Perempuan sebagaimana laki-laki, dibedakan dari berbagai makhluk Tuhan lainnya seperti tumbuhan, hewan dan malaikat. Mereka diciptakan dari unsur yang satu (nafs) serta memiliki amanat serupa, yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Imam Khomeini dalam salah satu pernyataannya menyebutkan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki dari sisi kemanusiaan. Karena perempuan sebagaimana laki-laki memiliki hak yang sama dalam menentukan masa depannya. Adapun perbedaan yang ada di antara keduanya, tidak mengurangi sisi kemanusiaan itu sendiri”.[2]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Pandangan Imam ini, seiring dengan apa yang diisyaratkan Tuhan di dalam al-Qur’an. Tuhan menyebutkan persamaan perempuan dan laki-laki setidaknya pada dua level, asal mula penciptaan serta kewajiban menjalankan perintah, taklif. Sebagaimana dijelaskan dalam (QS. 33:35):</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan taat, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar dan tabah (dalam kebajikan), laki-laki dan perempuan yang sederhana, laki-laki perempuan yang memberi sedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara (kesopanan mereka), laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah, bagi mereka Allah menyediakan ampunan dan pahala yang besar”[3]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kedua, di samping sisi persamaan, Imam juga berpendapat bahwa terdapat perbedaan antara perempuan dan laki-laki dari sisi gender (jinsiyyat). Perbedaan ini memiliki konsekuensi adanya pembagian peran di antara perempuan dan laki-laki. Dengan pembagian ini, tidak berarti memperlemah posisi masing-masing, justru dapat saling memberikan kontribusi. Maka, di sinilah urgensi adanya konsep keluarga dalam Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Perempuan pada sisi ini, memiliki karakteristik khusus yang tidak dimiliki laki-laki, sebaliknya laki-laki juga demikian. Salah satu sifat yang menjadi ciri khas perempuan adalah kasih sayang serta kelembutan. Menurut Imam, sifat ini merupakan potensi luar biasa untuk mengantarkan masyarakat pada harkat dan martabatnya yang agung. Imam menyebutkan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Kasih sayang yang ada pada perempuan, merupakan kekhususan yang dimiliki oleh mereka dan tidak ada pada laki-laki. Maka, apa yang dilakukan di belakang layar oleh perempuan bisa jadi lebih berharga ketimbang yang dilakukan laki-laki&#8230;..”[4]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dua konsep di atas, yaitu sisi persamaan serta perbedaan merupakan acuan dasar dalam memahami pandangan Imam Khomeini, terutama yang berkaitan dengan peran perempuan di masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Peran Perempuan di Masyarakat: Perspektif Imam Khomeini</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Manusia terlahir sebagai makhluk sosial. Kebutuhan yang mengiringinya tak hanya sebatas makan, minum serta kebutuhan biologis lainnya. Kasih sayang, berbagi dan bermasyarakat menjadi bagian yang lekat pada fitrah manusia. Maka, dalam konteks ini manusia memiliki peran ganda, individu maupun sosial. Perempuan sebagai bagian dari manusia tentu saja memiliki peran serupa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Di dalam al-Qur’an, persoalan ini secara jelas telah disinggung, misalnya di dalam surat an-Nur ayat 62. Menurut sebagian Mufassir[5], ayat ini berhubungan dengan tugas sosial manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Di samping itu, lebih khusus al-Qur’an juga berbicara tentang keterlibatan perempuan di masyarakat :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Wahai Nabi, apabila datang kepdamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah&#8230;&#8230;..dan terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”[6]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tidak hanya berupa seruan teks, Nabi Muhammad saww secara langsung mengajarkan bagaimana menempatkan posisi perempuan dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak sedikit tokoh perempuan yang kemudian bergerak di bidangnya. Misalnya, ada Ummu Khair yang bergelar oratur ulung Shiffin, Ummu Khalid perawi hadits terkemuka dan ada pula seorang pejuang pemberani, Umaymah dari kabilah al-Ghiffari serta masih banyak nama-nama lainnya.[7] Lebih dari itu, nama Fathimah as dan Zainab as merupakan penghulu dalam berbagai bidang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Di sinilah, penelusuran pandangan Imam Khomeini menemukan relevansinya. Imam, sebagai sosok yang berupaya meneladani sifat serta perilaku Nabi saww, menyerap pesan yang digulirkan oleh Rasulullah saww serta manusia suci lainnya dalam berbagai aspek, termasuk persoalan seputar perempuan. Menurut Imam Khomeini, keberadaan perempuan memiliki andil besar dalam membangun sebuah masyarakat, baik secara fisik maupun spiritual. Imam Khomaini menjelaskan :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Dalam Pandangan Islam, wanita memiliki peranan penting untuk membangun sebuah masyarakat. Islam menjunjung tinggi wanita serta memposisikan kembali kemanusiaannya di tengah masyarakat&#8230;..”[8]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Apakah maksud Imam dengan “memposisikan kembali kemanusiaan perempuan?” Pada pernyataan Imam lainnya, terkandung penafsiran bahwa perempuan berhak memperoleh keadilan peran dalam melakukan aktivitas di tengah masyarakat. Perempuan dapat berdampingan dengan laki-laki sebagaimana kesatuan sistem yang saling berhubungan dan melengkapi satu sama lain. Masing-masing tidak boleh saling merendahkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Dalam undang-undang Islam, wanita (sebagai manusia) dapat ikut serta secara aktif untuk membangun sebuah masyarakat, mereka berdampingan dengan pria. Wanita tidak boleh turun dalam kedudukannya pada tingkat yang lebih rendah. Demikian halnya pria juga tidak boleh memandangnya secara rendah pula”[9]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Lebih jauh, tawaran Imam khomeini berkenaan dengan peran perempuan ini, dapat diturunkan ke dalam beberapa bidang seperti pendidikan, politik dan ekonomi. Sebagaimana dalam pernyataannya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Kami merasa bangga bahwa perempuan tua, muda, besar, kecil berperan aktif pada bidang budaya, ekonomi serta keamanan setara dengan laki-laki bahkan lebih baik di jalan Islam seiring dengan tujuan Qur’an.”[10]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Peran dalam Pendidikan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ada beberapa hal menarik yang dikemukakan Imam sehubungan dengan peran perempuan dalam pendidikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Pertama, tujuan dari sebuah proses pendidikan adalah mengantarkan manusia pada derajat ketakwaan. Sebagaimana seruannya:“Berusahalah untuk memperoleh ilmu dan takwa”. Dalam redaksi lain, Imam juga menekankan bahwa pendidikan harus mengantarkan manusia tidak hanya pada sisi materi, tetapi juga kebahagiaan hakiki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kedua, Imam memandang bahwa pendidikan merupakan hak bagi setiap orang, baik perempuan maupun laki-laki. Imam di sini menekankan adanya kesetaraan pendidikan. “Perempuan kini, seperti halnya laki-laki, hendaklah terlibat dalam berbagai bidang serta memasuki bidang secara tepat seperti belajar dan mengajar”[11]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ketiga, pendidikan menurut Imam Khomeini dapat bermakna luas, yaitu mendidik masyarakat maupun mendidik anggota keluarga. Dalam konteks ini, perempuan diperbolehkan bahkan sangat disarankan untuk terlibat dalam proses belajar-mengajar di luar lingkup keluarga, baik formal maupun non formal. Baik sebagai pengajar resmi di sebuah instansi, ataupun sebagai mubaligh di berbagai daerah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Keempat, dalam pandangan Imam Khomeini, proses pendidikan haruslah berkesinambungan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Saya berharap kepada para pendidik dan pengajar, baik pria maupun wanita, di manapun mereka berada, demikian juga pada kalangan akademis serta ulama, agar mereka menganggap sebagai pelajar dan pengajar pada saat yang sama”.[12]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kelima, jenis pendidikan apapun yang tengah dijalani, dilakukan secara profesional. Di sini, ukuran yang digunakan bukan lagi gender. Tetapi kapasitas serta kapabilitas. “Jika kalian mengemban tanggung jawab pendidikan&#8230;.maka kalian harus mendidik mereka dengan baik&#8230;.Hendaklah setiap kelompok masyarakat di manapun mereka berada menjalankan tugasnya sebaik mungkin”.[13]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Catatan menarik lainnya yang disampaikan oleh Imam Khomeini adalah bahwa keterlbatan perempuan dalam bidang pendidikan, tidak hanya terbatas pada mempelajari ilmu-ilmu agama. Tetapi, perempuan juga dapat mendalami berbagai disiplin ilmu lainnya, seperti teknologi, kedokteran, ilmu sosial serta seni dan budaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Peran dalam Politik dan Ekonomi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Imam Khomeini memandang, persoalan politik tidak hanya hegemoni laki-laki, perempuan pun bisa terlibat didalamnya. Seperti dalam pernyataannya :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Persoalan politik tidak hanya milik kelompok tertentu, seperti halnya ilmu juga tidak dikhususkan untuk golongan tertentu. Jika laki-laki terlibat dalam persoalan politik serta menjaga masyarakatnya, maka hendaknya perempuan juga setara dengan laki-laki dalam aktivitas sosial kemasyarakatan dan politik.[14]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Lingkup politik yang dimaksud, mencakup pula peran langsung dalam lembaga eksekutif, legislatif maupun partisipasi dalam pemilu. Menurut Imam Khomeini, keterlibatan perempuan dalam keputusan politik merupakan hak natural. Dalam salah satu pernyataannya Imam meyebutkan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Wanita memiliki hak untuk memilih. Kita meyakini hak-hak ini lebih dari yang diyakini Barat&#8230;.Wanita memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, memilih serta dipilih ”[15]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tampaknya, ada empat pandangan penting Imam Khomeini terhadap aktivitas politik perempuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Pertama, gerakan politik perempuan memiliki peran penting dalam melakukan sebuah perubahan. (bangsa yang melibatkan perempuan dalam demonstrasi akan memperoleh kemenangan). Kedua, Perempuan sebagaimana laki-laki, hendaknya bertanggung jawab terhadap berlangsungnya sebuah tatanan pemerintah yang adil. Ketiga, perempuan memiliki hak untuk ikut serta dalam keputusan politik. Keempat, keterlibatan politik perempuan merupakan sebuah keharusan agama dan budaya.[16]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sedangkan di bidang ekonomi, perempuan juga dapat berkiprah dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat melalui kerja. Pekerjaan yang dilakukan perempuan dapat dikategorikan ke dalam dua bentuk, pekerjaan di dalam rumah dan di luar rumah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Menurut Imam Khomeini, perempuan dapat memilih pekerjaan yang layak baginya baik di dalam maupun di luar rumah. Imam menyebutkan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Mengapa kita menentang pendidikan bagi perempuan? Mengapa kita tidak sepakat dengan perempuan yang bekerja? Mengapa perempuan tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan di lingkup pemerintahan? Mengapa kita menolak perempuan untuk bepergian? Perempuan sebagaimana laki-laki memiliki hak memilih, tidak ada bedanya dengan laki-laki”.[17]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Batasan Aktivitas di Masyarakat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Menurut pandangan Imam Khomeini, adakah batasan serta ketentuan perempuan dalam melakukan aktivitas di masyarakat? Jika ada, sejauh mana batasan tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita akan menilik pendapat Imam pada beragam aspek. Imam khomeini, pada kesempatan lain menekankan urgensi kehadiran perempuan di tengah keluarga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Jika anak dijauhkan dari pangkuan ibunya, maka ia akan tumbuh menjadi anak yang membuat masalah bagi orang lain di mana pun ia berada. Dan jika ia tumbuh sebagai anak yang membuat masalah, ia akan membawa banyak kerusakan. Sesungguhnya banyak tindakan kriminal yang diakibatkan oleh problem ini yang terdapat pada anak-anak”.[18]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dari pernyataan di atas, jelaslah bahwa perempuan memiliki pengaruh besar dalam menentukan perkembangan serta masa depan anak-anak. Maka, kehadirannya di tengah keluarga menjadi sedemikian penting. Nampaknya, sepintas lalu terlihat adanya kontradiksi antara pendapat Imam yang mendukung aktivitas di masyarakat dengan pendapat yang menekankan pentingnya peran di dalam keluarga. Barangkali dengan menyimak penjelasan Imam lainnya, kita akan mendapat pemahaman yang lebih holistik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Berusahalah kalian dengan sungguh-sungguh untuk menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kalian dan menjadi penasehat baik bagi masyarakat serta bantulah orang yang memerlukan pertolongan dari kalangan mustadh’afin&#8230;..”.[19]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Maka, dapat ditarik benang merah bahwa urgensi perempuan di dalam keluarga, tidak menghalangi perempuan untuk berkiprah di tengah masyarakat. Bahkan, keduanya dapat saling beriringan. Kualitas interaksi dengan anak, kecermatan membaca situasi dan kondisi adalah di antara faktor katalis yang dapat merekatkan dua tesis di atas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Persoalan lain, yang masih menyisakan tanda tanya besar adalah, bagaimana ketentuan hubungan antara perempuan dan laki-laki yang bukan muhrim? Apakah tidak akan menimbulkan fitnah? Mekanisme hubungan yang sehat ini tentu saja dapat terjalin dengan pemahaman kedua belah pihak, baik laki-laki maupun perempuan, misalnya dengan konsep “menjaga pandangan”. Di samping itu, bagi perempuan diwajibkan untuk mengenakan hijab secara sempurna. Imam menyebutkan:“Wanita-wanita bebas memilih pekerjaan dan masa depan mereka, demikian juga jenis pakaian dengan tetap menjaga tolak ukur Islami”[20]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Penutup</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tidak dapat dipungkiri, keterlibatan perempuan di masyarakat memberikan kontribusi besar dalam membangun sebuah masyarakat dan bangsa. Perempuan yang memilih berperan secara langsung di masyarakat tidak lantas terbebas dari berbagai ketentuan agama. Islam, memiliki seperangkat etika untuk mengontrol perilaku manusia, secara individu maupun masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Etika bermasyarakat yang diserukan di dalam Islam di antaranya: Pertama, mengindahkan norma pergaulan lawan jenis. Kedua, mengenakan pakaian sesuai ketentuan syari’ah. Ketiga, cerdas dalam menentukan prioritas baik waktu maupun keserasian aktivitas, sehingga terjadi keseimbangan antara peran di dalam keluarga dan di tengah masyarakat. Akhirnya, aktivitas apapun yang disumbangkan oleh anak manusia, laki-laki maupun perempuan tidak lepas dari tujuan utama penciptaan manusia yaitu menyampaikan diri dan masyarakatnya pada kesempurnaan hakiki. Wallahu’alam.[]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[1] Lebih jauh pandangan Imam Khomeini tentang sisi persamaan dan perbedaan ini, dapat dilihat dalam buku Imam Khomeini va Ulguhoye Din Shenosi Dar Mas’ale-ye Zanon, karya Ziya, Mortazavi hal. 38-50</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[2] Al-Khomeini, Ruhullah, Sahifah Nur, jilid 3 hal. 49</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[3] Ayat lain yang menjelaskan tentang penciptaan manusia (Q.S. 49:13), (Q.S. 7:89). Sedang ayat yang menjelaskan persamaan taklif (Q.S. 3:195 ), (Q.S. 4: 124), (Q.S. 16:97).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[4] Al-Khomeini, Ruhullah, opcit, jilid 14 hal. 23.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[5] Salah satunya adalah Ayatulah Javadi Amuli.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[6] Terjemahan Departeman Agama (Q.S. 60:12)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[7] Penjelasan lebih lanjut bisa dirujuk pada buku Zan dar Oyene Jamol va Kamol karya Ayatulah Javadi Amuli hal. 304-323. Bandingkan juga dengan pendapat Mehdi Mehrizi dalam bukunya Zan dar Andisye Eslam dimuat dalam Jurnal Banuwone Syi’ah hal. 147-148.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[8] Disampaikan oleh Imam pada pertemuan dengan Lembaga Amnesti Iternasional, selengkapnya dapat dirujuk pada buku Makoanah al-Mar’ah fi fikr al-Imam al-Khomeini edisi terjemahan hal. 92.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[9] Ibid hal. 91.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[10] Al-Khomeini, Ruhullah, opcit, jilid 21, hal. 379.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[11] Al-Khomeini, Ruhullah, Tahrirul Wasilah, jilid I hal. 486.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[12] Makanah al-Mar’ah fi fikr al-Iam al-Khomeini, edisi terjemahan hal.100.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[13] Ibid hal. 99.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[14] Al-Khomeini, Ruhullah, Shahifah Nur, jilid 18, hal. 403.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[15] Makanah al-Mar’ah fi fikr al-Iam al-Khomeini, edisi terjemahan hal. 96.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[16] Ilham Bagir, Perempuan Dunia Islam, Makalah Terpilih Seminar ke-3, hal.75.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[17] Al-Khomeini, Ruhullah, opcit,jilid 4, hal.103-104.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[18] Makanah al-Mar’ah fi fikr al-Iam al-Khomein,i edisi terjemahan hal. 164.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[19] Ibid hal. 160.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[20] Ibid hal. 116 . Adapun tolak ukur Islam yang dimaksud adalah menjaga hijab sebagaimana dalam pernyataan Imam “Wanita yang berdandan secara mencolok tidak boleh bekerja di kantor-kantor Islam, wanita boleh bekerja, asalkan ia tetap menggunakan hijab&#8230;&#8230; ”.</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/340/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/340/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/340/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=340&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/29/islam-dan-peran-perempuan-di-masyarakat-perspektif-imam-khomaini-ra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hak Hak Wanita dalam Perspektif Imam Khomeini [ra]</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/29/hak-hak-wanita-dalam-perspektif-imam-khomeini-ra/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/29/hak-hak-wanita-dalam-perspektif-imam-khomeini-ra/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jan 2009 16:05:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=337</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu koresponden Jerman bertemu dan mewancarai Imam. Di bertanya, “Kami mendengar kalau Tasyayyu’ (baca: Syiah) menolak pola yang tidak sesuai dengan pola keberagamaan ?”. Imam menjawab, “Tasyayyu’ adalah aliran revolusioner dan penerus agama Muhammad saww, begitu pula pengikutnya yang selalu menjadi bahan (obyek) teror para pengecut dan penjajah. Tasyayyu’ bukan hanya tidak menolak peranan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=337&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span lang="IN">Salah satu koresponden Jerman bertemu dan mewancarai Imam. Di bertanya, “Kami mendengar kalau Tasyayyu’ (baca: Syiah) menolak pola yang tidak sesuai dengan pola keberagamaan ?”. Imam menjawab, “<em>Tasyayyu’</em> adalah aliran revolusioner dan penerus agama Muhammad saww, begitu pula pengikutnya yang selalu menjadi bahan (obyek) teror para pengecut dan penjajah. <em>Tasyayyu’</em> bukan hanya tidak menolak peranan wanita dalam bidang-bidang kehidupan bahkan dalam kehidupan sosial politik selalu memposisikan wanita pada tempat yang tinggi. Kami menerima kemajuan Barat tapi tidak untuk kejahatan yang mereka sendiri teriakkan untuk itu”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> <span id="more-337"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;" lang="IN">Hak Hak Wanita dalam Perspektif Imam Khomeini [ra]</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN">Oleh: Khairi Fitrian Jamalullail</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dengan menganalisa sejarah di sepanjang abad yang berbeda-beda, kita melihat peremehan terhadap masalah hak-hak kemanusiaan dan sosial serta kezaliman yang terjadi terhadap wanita. Bahkan sebelum munculnya revolusi Industri di Eropa, wanita belum memiliki hak sosial dan politik yang berarti. Bukan hanya itu, para pemuka agama Kristen di Eropa pun menjustifikasi ketidakadilanterhadap wanita ini dengan alasan-alsan teologis. Namun di abad-abad terakhir, muncullah kebangkitan pembelaan hak-hak wanita dan dimulailah era baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kebangkitan-kebangkitan yang muncul akibat dua perang dunia dan kemudian muncullah kelahiran gerakan baru di sekitar tahun tujuh puluhan. Pergerakan wanita tersebut lebih di kenal denga gerakan feminisme.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Feminisme lahir dalam berbagai macam pandangan seperti adanya kezaliman terhadap wanita (dalam segala bidang) yang biasa dijadikan sebagai tolok ukur bangkitnya gerakan feminisme. Namun penjelasan mereka tentang sebab terjadinya kezaliman dan langkah-langkah solusi, serta ide-ide yang mereka kemukakan berbeda-beda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Para pemikir Feminis berkeyakinan dunia akan adil jika wanita bangkit untuk mengambil hak-hak mereka. Meskipun mereka mengemukakan argumentasi secara ilmiah, namun sering tejadi kesalahan persepsi yang menyebabkan penyelewengan pemahaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Walaupun wanita Islam di jamin oleh argumentasi teologis dan rasional untuk memperoleh hak-hak mereka di berbagai macam bidang kemasyarakatan seperti sosial, politik, budaya dan lain sebagainya, akan tetapi mereka memang dituntut untuk lebih memperhatikan masalah rumah tangga dan keluarga, sehingga seringkali secara alamiah terjadi pembatasan ruang gerak dan aktifitas mereka di ruang publik. Untuk itu para wanita Islam pun mencoba mencari jalan keluarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Permasalahan hak-hak wanita terkadang juga menyebabkan pembenaran di berbagai macam segi tanpa melihat kultur dan agama. Sehingga terkadang banyak dikhawatirkan oleh ulama. Hal yang sering disayangkan adalah penentangan para pembela hak wanita terhadap ulama yang berupaya menempatkan hak-hak wanita dalam lingkup budaya dan etika agama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Perlu diingat bahwa kehadiran para wanita di berbagai bidang kemasyarakatan menjadi hal penentu, paling tidak pembahasan masalah wanita memiliki tempat bagi seluruh masyarakat. Lebih dari itu, problem ini sudah mendunia bukan masalah yang lokal sifatnya. Salah satu hasil dari revolusi Islam adalah mampu mendobrak pandangan baru tentang wanita, hak-hak dan peranannya dalam masyarakat sesuai dengan kebutuhan zaman dan kemajuan dalam kemasyarakatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Pemikiran dan pandangan mengenai hak-hak wanita lebih tampak ketika revolusi Iran digaungkan dan Imam Khomeinilah pemimpin yang menjadi pelopor itu semua.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Pada 24 Aban 1357 HS tahun Iran (1979 M), salah satu koresponden Jerman bertemu dan mewancarai Imam. Di bertanya, “Kami mendengar kalau <em>Tasyayyu’</em> (baca: Syiah) menolak pola yang tidak sesuai dengan pola keberagamaan ?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Imam menjawab, “<em>Tasyayyu’</em> adalah aliran revolusioner dan penerus agama Muhammad saww, begitu pula pengikutnya yang selalu menjadi bahan (obyek) teror para pengecut dan penjajah. <em>Tasyayyu’ </em>bukan hanya tidak menolak peranan wanita dalam bidang-bidang kehidupan bahkan dalam kehidupan sosial politik selalu memposisikan wanita pada tempat yang tinggi. Kami menerima kemajuan Barat tapi tidak untuk kejahatan yang mereka sendiri teriakkan untuk itu”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Imam dalam cuplikan wasiatnya mengatakan penghalang wanita untuk tampil bersumber dari rencana jahat musuh dan teman-teman yang tidak memahami hukum Islam dan Qur’an, dan menambahkan, juga dari cerita-cerita bohong yang di munculkan oleh musuh untuk kepentingannya dan sampai ketangan orang-orang yang bodoh dan sebagian pelajar agama yang tidak mendapatkan informasi tentang itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Hak-Hak Kemanusiaan Wanita</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Wanita harus memiliki hak-hak kemanusiawian yang sesuai dengan realitasnya. Terkadang hak yang didapat oleh laki-laki tak bisa didapat oleh wanita atau terkadang bisa diraih tapi dalam bentuk yang tidak sempurna atau hanya sebagian saja. Hal ini sama dengan intimidasi hak dan bertentangan dengan kemanusiaan serta hukum Tuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Imam di dalam hal “persamaan” antara pria dan wanita mengatakan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Islam memiliki pandangan khusus terhadap wanita. Islam pertama muncul di jazirah Arab dimana wanita pada masa itu seperti barang dagangan dan perbedaan status yang sangan jauh dengan lelaki. Akan tetapi Islam datang untuk menghapus itu semua dan Islam datang untuk “menyamakan” mereka dengan laki-laki. Beliau menambahkan juga, “wanita dan laki-laki memiliki hak yang sama dalam menentukan masa depannya dan kami ingin wanita sampai pada kedudukan yang tinggi dan wanita harus mampu untuk itu”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Pada wawancara surat kabar Belanda dalam menjawab pertanyaan koresponden</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Apa hak-hak wanita di dalam Negara Islam?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Imam mengatakan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">” Dari sisi hak kemanusiaan (sisi insaniyyah nya) tidak ada beda antara hak lelaki dan wanita, karena dua-duanya adalah manusia dan mereka memiliki hak dalam menentukan masa depannya masing-masing. Dan sebagian hal yang berbeda dari mereka tidak ada hubungan dengan sisi kemanusiaannya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Berusahalah dalam meraih ilmu dan ketaqwaan, karena ilmu adalah milik bersama tanpa pengecualian. Sekarang para wanita menjadi partner dalam belajar atau hal lainnya di dalam semua bidang ilmu pengetahuan begitu juga industri.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Apakah wanita bisa sampai pada tahap ijtihad? Dan apa peranan wanita di dalam negara Islam?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Beliau menjawab:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">”Ada kemungkinan wanita sampai pada tahap ijtihad tapi tidak bisa menjadi marja’ taqlid untuk orang lain. Di dalam aturan Islam wanita memiliki hak yang sama dengan lelaki seperti hak belajar, mengajar, bekerja, kepemilikan, hak memilih, hak dipilih, sehingga di setiap bidang, dimana lelaki memiliki hak untuk itu wanita pun memilikinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Wanita juga memiliki hak berpolitik dan inilah tugas mereka. Seluruh wanita dan laki-laki harus masuk dalam masalah sosial, politik bahkan harus menjadi pemantau perkembangan politik yang ada, dan tidak hanya itu mereka juga di tuntut untuk menyumbangkan ide-ide mereka”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Sekarang wanita harus melaksanakan tugas sosial dan agama mereka dan menjaga kehormatan umum dan di bawah kehormatan tersebut mereka melakukan urusan sosial dan politiknya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">”Wanita di dalam urusan sosial politiknya harus menjadi partner para lelaki, dengan syarat menjaga hal-hal yang telah di atur dalam Islam”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Pandangan Imam tentang Karir dan Pekerjaan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Provokasi jahat sedemikian rupa menyalahartikan kebebasan wanita sehingga mereka menyangka Islam datang hanya memerintahkan wanita diam dirumah saja”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kenapa kita mesti menentang kalau wanita belajar? Kenapa kita mesti menentang kalau wanita bekerja? Apakah wanita tidak mampu melakukan pekerjaan kenegaraan?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Seluruh aktifitasnya ada di dalam ikhtiyar mereka, mereka bebas menentukan masa depannya” [1]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Menjadi jelaslah bahwa Islam menempatkan wanita dalam kedudukan yang tinggi sama dengan laki-laki. Dari sisi insaniyyah-nya wanita dan laki-laki adalah sama, tidak ada penghalang dikarenakan perbedaannya dalam meraih kedudukan yang tinggi disi Allah. Di dalam Islam kita telah mengenal Sayyidah Fatimah Azzahra (putri Rasulullah) yang membela dan mendampingi perjuangan Ayahnya, Sayyidah Maryam yang dengan kelembutannya menjaga sang kekasih Allah, Isa Almasih, juga Sayyidah Asiah (istri Firaun) yang dengan kesabarannya bisa terjaga dari pengaruh buruk Firaun. []</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Catatan Kaki:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[1] Ucapan-ucapan Imam Khomaini diambil dari Majalah Payam Khonewodeh No: 52 hal 14 Urdibhest 1384 Hs</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/337/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=337&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/29/hak-hak-wanita-dalam-perspektif-imam-khomeini-ra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perempuan dalam Perspektif Agama Samawi</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/29/perempuan-dalam-perspektif-agama-samawi/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/29/perempuan-dalam-perspektif-agama-samawi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jan 2009 16:01:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=334</guid>
		<description><![CDATA[Dalam ajaran Injil ulangan 25: 11-12 yang memerintahkan kita untuk memotong tangan perempuan yang menolong suaminya. Sementara dalam &#8220;Keluaran 21:7. Anda akan mendapat informasi bahwa seorang laki-laki dapat menjual anak perempuannya” . Sehingga Marthin Luther pendiri Mazhab Protestan berpesan agar menjauhkan perempuan dari tempat pelajaran, sebab tidak ada gunanya mendidik perempuan. Akhirnya Paus Cregorius VII [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=334&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span lang="IN">Dalam ajaran Injil ulangan 25: 11-12 yang memerintahkan kita untuk memotong tangan perempuan yang menolong suaminya. Sementara dalam &#8220;Keluaran 21:7. Anda akan mendapat informasi bahwa seorang laki-laki dapat menjual anak perempuannya” . Sehingga Marthin Luther pendiri Mazhab Protestan berpesan agar menjauhkan perempuan dari tempat pelajaran, sebab tidak ada gunanya mendidik perempuan. Akhirnya Paus Cregorius VII memberi keputusan,“Para padri Kristen dilarang keras beristri, karena meraba tubuh perempan itu najis”. Dan dalam ajaran Yahudi, martabat wanita sama dengan pembantu. Ayah berhak menjual anak perempuan kalau ia tidak mempunyai saudara laki-laki. Ajaran mereka menganggap wanita sebagai sumber laknat karena dialah yang membuat Adam terusir dari Surga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> <span id="more-334"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;" lang="IN">Perempuan dalam Perspektif Agama Samawi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN">Oleh: Sekha al-Idrus</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Prolog</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Pandangan dunia dan ideologi manusia berkaitan erat dengan pandangan dunia dan ideologi yang disodorkan oleh agama yang dipeluknya. Dalam berbagai hakikat wujud dan substansi yang dimilikinya, pemeluk suatu agama mempunyai perspektif terhadap agama berupa serapan pikiran atas apa yang dibaca atau didengarnya. Ketika proses penerimaan kebenaran terhadap konsep agama tidak dibarengi dengan koreksi dan kritik maka kemungkinan kesalahan memperspektifkan berbagai subtansi wujud akan semakin melebar. Di saat konsep yang sudah menjadi keyakinan atau masih dalam proses berpikir tidak sesuai dengan kenyataan dan kejadian (<em>alam misdaq</em>) maka, sudah pasti manusia akan tergiring jauh dari hakekat wujud dan terjerumuslah ia dalam dunia khayal, kehampaan dan berbagai kesalahan. Dan akar kesalahan dalam keyakinan terhadap idealitas wujud adalah kesalahan dalam memperspektifkannya.Kesalahan perspektif terhadap konsep di dalam Islam telah sampai pada pembahasan perempuan, yang oleh sebagian kalangan masih dianggap tabu. Walaupun pembahasan perspektif gender dalam Islam telah muncul sejak kelahirannya, namun ketika terjadi benturan dengan tuntutan sosial misalnya, diskursus ini ramai dibicarakan kembali. Banyak hal yang harus diluruskan dalam persepsi masyarakat tentang perempuan terutama anggapan kaum laki-laki lebih utama daripada kaum perempuan. Banyak kalangan yang berbicara tentang ketimpangan sosial berdasarkan jenis kelamin. Islam tidak sejalan dengan paham patriarki yang tidak memberikan peluang bagi perempuan untuk berkarya lebih besar di dalam atau di luar rumah. Al-Qur’an tidak mengenalkan konsep dosa warisan dari ibu-bapak umat manusia (Hawa dan Adam) dalam skandal buah terlarang, melainkan itu tanggung jawab bersama keduanya. Perbedaan anatomi fisik dan biologis antara laki–laki dan perempuan tidak mengharuskan adanya perbedaan status dan kedudukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Salah satu langkah membersihkan pikiran dari kesalahan berperspektif terhadap suatu substansi wujud—yang dikenalkan oleh agama atau agama berperan dalam menjelaskan eksistensi wujudnya—dengan mengadakan kajian perbandingan antara berbagai argumentasi agama dalam suatu topik bahasan. Langkah ini mesti didahului oleh penjelasan ukuran kebenaran dan kesalahan suatu argumentasi, supaya mudah bagi kita menentukan mana dalil yang tepat dan memuat perspektif yang benar di antara agama samawi tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ilmu Logika menjelaskan standar kebenaran suatu argumentasi, ditandai oleh kesesuaiannya dengan fakta kejadian di realita (<em>alam misdaq</em>). Dengan membandingkan korelasi <em>mafhum maudhu</em> dan <em>mahmul </em>suatu premis dengan <em>misdaq</em>-nya, kita dapat mengecek kebenaran sebuah argumentasi. Dalam artikel ini, dipaparkan beberapa topik pilihan dengan argumentasi dari agama Yahudi, Nasrani (Kristen) dan Islam mengenai perempuan, disertai koreksi atas muatan kebenarannya. Diharapkan pembaca lebih mudah mempresepsikan mana unsur keyakinan yang benar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Urgensi sebuah keyakinan tidak dapat dipungkiri oleh siapapun. Bahkan Tuhan Yang Maha Kuasa, melihat dan menilai kredibilitas amal manusia berdasarkan keyakinan dan niatnya dalam beramal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8220;Ilahi bukakan mata hati kami untuk mengenal lebih terperinci kebenaran agama-Mu, sehingga dengan itu kami dapat menuju kepada kedekatan diri kepada-Mu sebagai esensi penghambaan kami terhadap-Mu &#8230;. âmîn yâ Rabbal Alamîn &#8220;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Wanita dalam Pandangan Agama</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sebelum menganalisa lebih jauh tentang tentang kedudukan wanita dalam Islam, dalam makalah ini akan dijelaskan secara sekilas pandangan dari berbagai agama sebagai bahan studi komperatif. Sumber yang dijadikan pijakan pertama adalah posted mailist yang memang keakuratannya masih patut dipertanyakan. Akan tetapi pendapat yang muncul dalam mailist disertai juga dengan sumber yang disepakati sebagai rujukan. Ini bukan hanya sekedar untuk mengobati kekahawatiran, tetapi merupakan tuntutan dalam diskusi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dari berbagai pandangan yang muncul tersebut kemudian penulis mencari literatur Islam yang berkaitan dan mencoba menganalisanya dengan pendekatan al-Qur’an berdasarkan kitab-kitab tafsir yang ada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Yang mencolok di sini adalah kutipan terhadap sub topik wanita dalam pandangan Agama Katolik dan Yahudi, menstrual taboo dan perspektif gender dalam Islam yang kami ambil dari Jurnal Paramadina. Akan tetapi kutipan tersebut semata-mata hanya dijadikan acuan dalam studi perbandingan sekaligus melengkapi berbagai sudut pandang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Wanita dalam Pandangan Agama Katholik dan Gereja</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Pertanyaan dan jawaban dari sebuah mailist[1]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Mohon penjelasan pada Romo atau saudara-saudara seiman tentang hal-hal berikut ini. Karena terus terang saya melihat kedudukan dan posisi perempuan tidak sebaik posisi dan kedudukan pria. Apalagi dari buku-buku yang saya baca hal tersebut dilanggengkan oleh mitos &#8220;Hawa Penyebab Dosa&#8221;. Benarkah pendapat-pendapat tersebut? Bagaimanakah sebenarnya kedudukan wanita dan pria dalam pandangan Katholik dan Gereja (Mohon penjelasan dan tanggapan secepatnya).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ini adalah jawaban dari al-Kitab (Saya sadur dari komentarnya Mas Yudhi).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">1. &#8220;Tidaklah Adam yang tertipu tapi Hawalah yang tertipu, sehingga ia termasuk dalam kesalahan&#8221;.( I Timotius 2 : 4 ).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Inilah tuduhan abadi Injil terhadap perempuan. Bukankah mereka berdua sama-sama memakan buah terlarang itu? Padahal menurut al-Qur’an keduanya sama-sama bersalah, kemudian tobat dan diampuni oleh Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">2. &#8220;Adapun perempuan itu belajar dengan senyapnya dan bersungguh-sungguh merendahkan dirinya, tetapi Aku tidak mengijinkan seorang perempuan mengajar dan memerintah atas laki-laki, melainkan hendaklah ia berdiam diri &#8220;.( I Timotius 2: 11-12 )</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Masih adakah orang Kristen yang mau melaksanakan perintah Injil tersebut? Coba bayangkan kalau sekiranya orang-orang Kristen benar-benar melaksanakan dogma itu, tentu wanita Kristen itu akan sangat terbelakang. Benarlah kata orang Barat yang mengatakan Kristen maju karena meninggalkan ajaran Injilnya, sedang Islam mundur karena tidak melaksanakan ajaran al-Qur’an.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">3. &#8220;&#8230;demikianpun hendaknya segala istri tunduk kepada suaminya dalam tiap-tiap perkara&#8221;.( I Ep. Esus 22-24 ).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Benarkah seorang istri harus mengikuti segala perintah suaminya, walaupun dalam hal kejahatan? Silakan renungkan sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">4. &#8220;Tidaklah laki-laki itu diciptakan untuk perempuan tetapi perempuan itulah yang diciptakan untuk laki-laki &#8220;.( Injil Korintus 11:9 ).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Inilah biang tidak adanya kesetaraan gender itu. Bukankah laki-laki dan perempuan sama-sama membutuhkan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">5. &#8220;Keluaran 21:7. Anda akan mendapat informasi bahwa seorang laki-laki dapat menjual anak perempuannya” .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Apakah anda sekalian sebagai orang Kristen akan sependapat dengan dogma al-Kitab tersebut ?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">6. Injil ulangan 25: 11-12 yang memerintahkan kita untuk memotong tangan perempuan yang menolong suaminya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Akankah kita melaksanakannya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">7. Bukankah seorang wanita tidak boleh berbicara atau mengeluarkan kata-kata dalam pertemuan jemaat? Bukankah hal itu merupakan ketidaksopanan? Demikianlah kata Injil 1 Korintus 14 : 34-35. Tapi apakah Injil 1 Korintus 14: 34-35 itu masih punya kekuatan hukum? Bukankah orang-orang yang mengaku fanatik al-Kitab dengan enteng sekali melanggar larangan al-Kitab sendiri? Berapa banyak penginjil, pengkhotbah dan evangelis perempuan saat ini? Di luar hitungan jari. Bukankah mereka selalu melanggar al-Kitab tanpa menyadarinya? Bukankah para dombanya juga ikut andil dalam melanggar al-Kitab?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">8. (Tambahan) Perempuan tidak boleh bekerja (kalau tidak salah dalam Matius ).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Bukankah pemimpin seorang perempuan adalah seorang laki-laki? Tapi mengapa para pengikut setia al-Kitab suka sekali memilih pemimpinnya seorang perempuan. Bukankah al-Kitab menegaskan dalam Injil Korintus 11 : 3 bahwa pemimpin perempuan adalah laki-laki?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Itulah ayat-ayat al-Kitab yang menyebabkan wanita terhina dan terkutuk di dunia Barat selama berabad-abad. Mari kita dengar komentar para cendekiawan Barat:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Grigory The Great berkata,&#8221;Perempuan itu mempunyai bisa seperti jelatang jahat, seperti singa”. Bernhard berkata,“Perempuan itu anggota dari syetan”. Jerome dan Tartahan berkata,“Perempuan itu pintu gerbang syetan”. Paus Jeraum mengatakan,“Perempuan itu pokok kejahatan dan sumber perdayaan”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Marthin Luther pendiri Mazhab Protestan berpesan agar menjauhkan perempuan dari tempat pelajaran, sebab tidak ada gunanya mendidik perempuan. Akhirnya Paus Cregorius VII memberi keputusan,“Para padri Kristen dilarang keras beristri, karena meraba tubuh perempan itu najis”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Wanita dalam Pandangan Yahudi</span></strong><span lang="IN">[2]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam ajaran Yahudi, martabat wanita sama dengan pembantu. Ayah berhak menjual anak perempuan kalau ia tidak mempunyai saudara laki-laki. Ajaran mereka menganggap wanita sebagai sumber laknat karena dialah yang membuat Adam terusir dari Surga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam pandangan pemuka/pengamat Nasrani ditemukan bahwa wanita adalah senjata iblis untuk menyesatkan manusia. Pada abad ke-5 Masehi diselenggarakan suatu konsili yang membicarakan apakah wanita mempunyai ruh atau tidak, akhirnya disimpulkan bahwa wanita tidak mempunyai ruh yang suci. Bahkan pada abad ke-6 Masehi diselenggarakan suatu pertemuan untuk membahas apakah wanita manusia atau tidak. Dari pembahasan itu disimpulkan bahwa wanita adalah manusia yang diciptakan semata-mata untuk melayani laki-laki. Sepanjang abad pertengahan, nasib wanita tetap sangat memprihatinkan, bahkan sampai tahun 1805 Undang-Undang Inggris mengakui hak suami untuk menjual istrinya, dan sampai tahun 1882 wanita Inggris belum juga memiliki hak pemilikan harta benda secara penuh, dan hak menuntut ke pengadilan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ketika Elizabeth Blackwill, dokter wanita pertama di dunia, menyelesaikan studinya di Geneve University pada tahun 1849, teman-temannya yang satu tempat tinggal dengannya melakukan pemboikotan dengan dalih bahwa wanita tidak wajar memperoleh pelajaran. Bahkan ketika dokter Elizabeth bermaksud mendirikan Institut Kedokteran untuk wanita di Philadelphia Amerika Serikat, ikatan dokter setempat mengancam akan memboikot semua dokter yang bersedia mengajar di sana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Demikian selayang pandang kedudukan wanita dalam al-Kitab dan pandangan penganut agama Yahudi dan Nasrani. Di sisi lain, sedikit atau banyak pandangan demikian juga mempengaruhi pemahaman sebagian pakar umat Islam terhadap redaksi petunjuk–petunjuk al-Qur’an sebagaimana akan disinggung berikut ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Asal Penciptaan Perempuan dalam Pandangan Islam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Berbicara mengenai kedudukan wanita dalam Islam, mengantarkan kita untuk terlebih dahulu melihat pandangan al-Qur’an tentang asal kejadian perempuan. Dalam hal ini, salah satu ayat yang dapat diangkat adalah firman Allah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8220;Wahai seluruh manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kamu (terdiri) dari laki-laki dan perempuan dan kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa&#8221;. (Al-Hujurat ayat 13)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ayat ini berbicara tentang asal kejadian manusia dari seorang laki-laki dan perempuan, sekaligus berbicara tentang kemuliaan manusia baik laki-laki maupun perempuan yang dasar kemuliaannya bukan keturunan, suku, atau jenis kelamin, tetapi ketakwaan kepada Allah swt. Memang, secara tegas dapat dikatakan bahwa perempuan dalam pandangan al-Qur’an mempunyai kedudukan terhormat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam hal ini Mahmud Syaltut, mantan Syeikh al-Azhar, menulis dalam bukunya <em>Min Tawjihat al-Islam</em> bahwa:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8220;Tabiat kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan hampir dapat dikatakan sama. Allah telah menganugerahkan kepada perempuan sebagaimana menganugerahkan kepada laki-laki potensi dan kemampuan yang cukup untuk memikul tanggung jawab, dan menjadikan kedua jenis kelamin ini dapat melaksanakan aktivitas-aktivitas yang bersifat umum maupun khusus. Karena itu hukum-hukum syariat pun meletakan keduanya dalam satu kerangka. Yang ini (laki-laki) menjual dan membeli, mengawinkan dan kawin, melanggar dan dihukum, menuntut dan menyaksikan, dan yang itu (perempuan) juga demikian dapat menjual dan membeli, mengawinkan dan kawin, melanggar dan dihukum, serta menuntut dan menyaksikan&#8221;.[3]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ayat al-Qur’an yang populer dijadikan rujukan dalam pembicaraan tentang asal kejadian perempuan adalah firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 1 :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8220;Hai sekalian manusia bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari nafs yang satu (sama). Dan darinya Allah menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Banyak sekali pakar tafsir yang memahami kata nafs dengan Adam, seperti Jalaluddin as-Suyuthi, Ibnu Katsir, al-Qurthubi, al-Biqa&#8217;i, Abu as-Su&#8217;ud, dan lain-lain. Bahkan at-Tabarsi (abad ke-6 Hijriah) mengemukakan dalam tafsirnya bahwa seluruh ulama tafsir sepakat mengartikan kata tersebut dengan Adam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Beberapa pakar tafsir seperti Muhammad Abduh, dalam tafsir al-Manar, tidak berpendapat demikian, begitu juga rekannya al-Qosimi, mereka memahami arti nafs dalam arti &#8220;jenis&#8221;. Namun demikian, paling tidak pendapat yang dikemukakan pertama itu, seperti yang ditulis tim penerjemah al-Qur’an Depertemen Agama R.I, adalah sebagai pendapat mayoritas ulama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dari pandangan yang berpendapat bahwa nafs adalah Adam, dipahami pula bahwa kata zaujaha, yang arti harfiahnya adalah (pasangannya) mengacu kepada istri Adam, yaitu Hawa. Karena ayat di atas menerangkan bahwa pasangan tersebut diciptakan dari nafs yang berarti Adam, para penafsir terdahulu memahami bahwa istri Adam (perempuan) diciptakan dari Adam sendiri. Pandangan ini, kemudian melahirkan pandangan negatif terhadap perempuan, dengan mengatakan bahwa perempuan adalah bagian dari laki-laki, tanpa laki-laki perempuan tidak akan ada. Al-Qurthubi, misalnya, menekankan bahwa istri Adam itu diciptakan dari tulang rusuk Adam sebelah kiri yang bengkok, dan karena itu wanita bersifat auja (bengkok atau tidak lurus).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kitab-kitab tafsir terdahulu hampir sepakat mengartikannya demikian. Pandangan ini agaknya bersumber dari sebuah hadis yang mengatakan: &#8220;Saling pesan-memesanlah untuk berbuat baik kepada perempuan, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok&#8221;. (H.R at-Tirmidzi dari Abu Hurairah ).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Hadis di atas dipahami oleh ulama-ulama terdahulu secara harfiah namun beberapa ulama kontemporer memahaminya secara metafora, bahkan ada yang menolak keshahihan (kebenaran) hadis tersebut. Yang memahami secara metafora berpendapat bahwa hadis di atas memperingatkan para laki-laki agar menghadapai perempuan dengan bijaksana, karena ada sifat, karakter dan kecenderungan mereka yang tidak sama dengan laki-laki. Bila tidak disadari akan mengantarkan kaum laki-laki bersikap tidak wajar, mereka juga tidak akan mampu mengubah karakter dan sifat bawaan perempuan, kalau pun mereka berusaha akibatnya akan fatal, sebagaimana fatalnya meluruskan tulang rusuk yang bengkok.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ide ini, seperti ditulis Rasyid Ridha dalam tafsir al-Manarnya, timbul dari apa yang termaktub dalam Perjanjian Lama (Kejadian II: 21-22) yang mengatakan bahwa ketika Adam tidur lelap, maka diambil oleh Allah sebilah tulang rusuknya, lalu ditutupkan pula tempat itu dengan daging. Maka dari tulang yang telah dikeluarkan dari Adam itu, dibuat oleh Tuhan seorang perempuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8220;Seandainya tidak tercantum kisah kejadian Adam dan Hawa dalam kitab perjanjian lama seperti redaksi di atas, niscaya pendapat yang menyatakan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk Adam tidak pernah akan terlintas dalam benak seorang muslim&#8221;. [4]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Alamah Thabathaba’i (ra) dalam tafsirnya al-Mizan menulis, bahwa ayat di atas menegaskan bahwa:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8220;Perempuan (istri Adam) diciptakan dari jenis yang sama dengan Adam, dan ayat tersebut sedikitpun tidak mendukung paham sementara mufasir yang beranggapan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam. Kita dapat berkata, bahwa tidak ada satu petunjuk yang pasti dari ayat al-Qur’an yang dapat mengantarkan kita untuk mengatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk, atau bahwa unsur penciptaannya berbeda dengan laki-laki”.[5]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Bahkan kita dapat berkata bahwa banyak teks keagamaan mendukung pendapat yang menekankan persamaan unsur kejadian Adam dan Hawa, dan persamaan kedudukannya, antara lain surat al-Isra&#8217; ayat 70,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8220;Sesungguhnya kami telah memuliakan anak&#8211;anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan (untuk memudahkan mereka mencari kehidupan). Kami beri mereka rezki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan &#8220;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tentu kalimat anak-anak Adam mencakup laki-laki dan perempuan, demikian pula penghormatan Tuhan yang diberikan itu mencakup anak-anak Adam seluruhnya, baik perempuan maupun laki-laki. Pemahaman ini dipertegas oleh surat al-Imran ayat 195 yang menyatakan :&#8221;Sebagian kamu adalah bagian dari sebagian yang lain.&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ini juga berarti bahwa sebagian kamu (hai umat manusia yang berjenis laki-laki) berasal dari pertemuan ovum perempuan dan sperma laki-laki dan sebagian yang lain (hai umat manusia yang berjenis perempuan) demikian juga halnya. Kedua jenis kalimat ini sama-sama manusia, dan tidak ada perbedaaan di antara mereka dari segi asal kejadian serta kemanusiaannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Menstrual Taboo</span></strong><span lang="IN">[6]<strong> dan Perspektif Gender dalam Islam</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Di antara kutukan terhadap perempuan yang paling monumental ialah menstruasi. Teologi menstruasi ini kemudian menyatu dengan berbagai mitos yang berkembang dari mulut ke mulut di berbagai belahan bumi. Teologi menstruasi dianggap berkaitan dengan pandangan kosmopolitan terhadap tubuh wanita yang sedang menstruasi. Prilaku perempuan di alam mikrokosmos diyakini mempunyai hubungan kausalitas dengan alam makrokosmos. Peristiwa-peristiwa alam seperti bencana alam, kemarau panjang dan berkembangnya hama penyebab gagalnya panen petani, dihubungkan dengan adanya yang salah dalam diri perempuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Darah menstruasi dianggap darah tabu dan perempuan yang sedang menstruasi, menurut kepercayaan agama Yahudi, harus hidup dalam gubuk khusus atau mengasingkan diri dalam goa-goa, tidak boleh bercampur dengan keluarga, tidak boleh berhubungan seks, dan tidak boleh menyentuh jenis makanan tertentu. Yang lebih penting ialah tatapan mata dari mata wanita sedang menstruasi yang biasa disebut dengan “mata iblis”, harus diwaspadai karena diyakini bisa menimbulkan berbagai bencana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Perempuan harus mengenakan identitas diri sebagai isyarat tanda bahaya manakala sedang menstruasi, supaya tidak terjadi pelanggaran terhadap menstrual taboo.[7]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Adapun kata kosmetik berasal dari bahasa Greek, cosmetikos yang arti dan konotasinya berhubungan erat dengan kata cosmos yaitu perihal keteraturan bumi. Istilah kosmetik yang sekarang ini dipakai untuk alat kecantikan wanita, lebih dekat kepada kata cosmetikos itu, yang berarti sesuatu yang harus diletakkan pada anggota tubuh wanita untuk menjaga terpeliharanya keutuhan lingkungan alam.[8]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dari sinilah asal usul penggunaan kosmetik yang semula hanya diperuntukkan kepada perempuan yang sedang menstruasi. Barang-barang perhiasan seperti cincin, gelang, kalung, giwang, anting-anting, sandal, lipstik, shadow, celak termasuk cadar/jilbab ternyata adalah Menstrual Creations.[9]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kalangan antropolog berpendapat menstrual taboo inilah yang menjadi asal usul penggunaan kerudung atau cadar atau semacamnya, bukan seperti yang dikenalkan oleh agama Islam melalui ayat-ayat jilbab dan hadis-hadis tentang aurat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Jauh sebelumnya sudah ada konsep kerudung/cadar yang diperkenalkan dalam agama Yahudi dan selanjutnya dalam Kristen. Dua agama besar sebelum Islam ini telah mewajibkan penggunaan kerudung bagi kaum perempuan. Yang jelas tradisi penggunaan kerudung, jilbab dan cadar sudah ada jauh sebelum ayat-ayat jilbab diturunkan. Islam men-ta&#8217;yid-kannya dalam rangka menyempurnakan cara penutupan atau hijab syar&#8217;i perempuan Islam. Diskursus mengenai jilbab dalam agama Yahudi pernah lebih seru daripada yang belum lama ini diributkan dalam dunia Islam. Dalam agama Yahudi pernah ditetapkan bahwa membuka jilbab dianggap sebagai suatu pelanggaran yang dapat berakibat jatuhnya talak karena hal tersebut dianggap suatu ketidaksetiaan terhadap suami (&#8230; the women going aut in public places with uncovered constituted legitimate cause for divorce&#8230;).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Asal-usul penggunaan cadar atau kerudung dan berbagai macam kosmetik lainnya, menurut kalangan antropolog, berawal dari mitos menstrual taboo, yaitu untuk mencegah si “mata iblis” dalam melakukan aksinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Penggunaan cadar/kerudung pertama kali dikenal sebagai pakaian perempuan menstrual. Kerudung dan semacamnya juga bertujuan untuk menutupi mata dari cahaya matahari dan sinar bulan, karena hal-hal itu dianggap tabu dan dapat menimbulkan bencana di dalam masyarakat dan lingkungan alam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kerudung dan semacamnya juga dimaksudkan sebagai pengganti gubuk pengasingan bagi keluarga raja atau bangsawan. Keluarga bangsawan tidak perlu lagi mengasingkan diri di dalam gubuk pengasingan tetapi cukup menggunakan pakaian khusus yang menutupi anggota badan yang dianggap sensitif. Dahulu kala perempuan yang menggunakan cadar hanya dari keluarga bangsawan atau orang-orang terhormat, kemudian diikuti oleh perempuan non bangsawan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Peralihan dan modifikasi dari gubuk pengasingan menstrual huts menjadi cadar juga dilakukan di New Guinea, British, Colombia, Asia dan Afrika bagian tengah, Amerika bagian tengah dan lain-lain, bentuk dan bahan cadar juga berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat yang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Selain menggunakan cadar wanita haid juga menggunakan cat pewarna hitam (cilla&#8217;) di daerah sekitar mata guna mengurangi ketajaman pandangan matanya. Ada lagi yang menambahkan dengan memakai kalung dari bahan-bahan tertentu seperti dari logam, manik-manik dan bahan dari tengkorak kapala manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Haid dalam Islam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Istilah menstruasi dalam literatur Islam disebut haid. Kata haid adalah istilah khusus dalam al-Qur’an yang tidak ditemukan dalam teks Taurat dan Injil. Dalam Munjid fi al-Lughah kata haid, tanpa menjelaskan asal-usul dan padanannya, dari kata hâdha-haydhan yang diartikan dengan darah yang keluar dari rahim wanita dalam waktu dan jenis tertentu.[10]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam al-Qur’an ia hanya disebutkan sekali dalam bentuk fi&#8217;il mudhori&#8217;/present and future (yahidh) dan tiga kali dalam bentuk isim masdhar (al-Mahidh), yaitu di dalam surat at-Thalak ayat 4 dan al-Baqarah ayat 222.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dari segi penamaannya, kata haid sudah lepas dari konotasi teologis seperti dalam agama-agama dan kepercayaan sebelumnya. Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 222 menjelaskan masalah haid sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8220;Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang haid, katakanlah: Haid adalah kotoran, oleh karena itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci: apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri&#8221; .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sebab turunnya ayat itu dijelaskan dalam hadis riwayat Ahmad dari Anas, bahwa salah seorang sahabat menanyakan kepada Nabi perihal perempuan Yahudi yang apabila sedang haid, masakannya tidak dimakan dan ia tidak boleh berkumpul bersama keluarga di rumahnya. Nabi diam sebentar dan turunlah ayat tersebut. Setelah ayat itu turun, Rasulullah bersabda: &#8220;Lakukanlah segala sesuatu (kepada istri yang sedang haid) kecuali bersetubuh&#8221;. Pernyataan Rasulullah ini sampai kepada orang-orang Yahudi, akibatnya orang-orang Yahudi dan mantan penganut Yahudi shock mendengarkan pernyataan tersebut. Apa yang selama ini dianggap tabu, tiba-tiba dianggap sebagai hal yang alami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Rasulullah saww dalam banyak kesempatan menegaskan kebolehan melakukan kontak sosial dengan wanita haid.&#8221;Segala sesuatu dibolehkan untuknya kecuali kemaluannya (faraj)&#8221;. Rasulullah dalam riwayat lain bersabda: &#8220;Segala sesuatu boleh untuknya kecuali bersetubuh (al-jima&#8217; )&#8221;. Bahkan Rasul seringkali mengamalkan kebolehan itu dalam bentuk praktek. Riwayat lain yang disampaikan A&#8217;isyah, antara lain A&#8217;isyah pernah minum dalam satu bejana yang sama dengan Rasulullah sedang ia dalam keadaan haid. Ia juga pernah menceritakan Rasul melakukan segala sesuatu selain bersetubuh (jima&#8217;) sementara dirinya dalam keadaan haid, Rasul juga sama sekali tidak memperlihatkan perlakuan taboo terhadap darah haid dan bekasnya yang ada di pakaian A&#8217;isyah. [11]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Demikian beberapa cuplikan masalah perempuan yang sempat dimuat dalam tulisan ini yang dianggap kontroversi dalam ketiga agama besar dunia tersebut. Tetapi pandangan terbaik yang menempatkan perempuan pada posisinya dan menghargai nilai kemanusiaannya, dapat kita lihat dari apa yang diutarakan secara gamblang oleh agama Islam. Tentu saja setelah mengadakan pengkajian, mengingat informasi Islam sejak berangkat dari sumber aslinya, telah melintasi perjalanan panjang sejarah sehingga ketika sampai ke tangan kita nilai keasliannya mungkin saja telah terbungkus berbagai pengaruh teologi lain dan pandangan metafora umat.[]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[1] Re: wanita dalam pandangan Al-kitab.htm, posted by Neta on October 24, 2001.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[2] Koleksi Diskusi Internet Desember ‘97, Quraish Shihab Perempuan (1 – 4 ).htm.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[3] Syaltut, Muhammad, Min Tawjihat al-Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[4] Ridha, Rasyid, Tafsir Al-Manar, IV : 330.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[5] Thabataba’i, Muhammad Husein, Tafsir Mizan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[6] Menstrual Taboo, Jurnal Pemikiran Islam Paramadina. HTML Document.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[7] Thomas Buckley.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[8] Judi Grahn, Blood, Bread and Roses.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[9] Ibid, hal: 89-95.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[10] Lonis Ma’luf, al-Munjid, Beirut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[11] Tafsir al-Qur’an al-Azhim, juz I, hal. 258.</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/334/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/334/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/334/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=334&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/29/perempuan-dalam-perspektif-agama-samawi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Feminisme dan Kesalahan Paradigma</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/03/feminisme-dan-kesalahan-paradigma/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/03/feminisme-dan-kesalahan-paradigma/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 07:16:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=327</guid>
		<description><![CDATA[Di sinilah peran penting para talabeh perempuan di Qom Al Muqaddasah (Iran) ini. Kita para pengikut Ahlul Bait meyakini bahwa Islam, Al Quran, hadis-hadis, dan sunnah yang bersumber dari Ahlul Bait adalah benar adanya. Oleh karena itu, tidak mungkin ada ketidakadilan di dalamnya. Tuduhan-tuduhan atas ketidakadilan Islam, sebagaimana telah saya bahas di atas, berakar pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=327&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span lang="IN">Di sinilah peran penting para talabeh perempuan di Qom Al Muqaddasah (Iran) ini. Kita para pengikut Ahlul Bait meyakini bahwa Islam, Al Quran, hadis-hadis, dan sunnah yang bersumber dari Ahlul Bait adalah benar adanya. Oleh karena itu, tidak mungkin ada ketidakadilan di dalamnya. Tuduhan-tuduhan atas ketidakadilan Islam, sebagaimana telah saya bahas di atas, berakar pada kesalahan paradigma kaum muslim sendiri dalam memandang perempuan, yang bersumber dari kesalahpahaman, pencampuran tradisi dengan agama, kejumudan cara berpikir mereka, serta berkuasanya pemerintahan yang despotik. Keunggulan mazhab Ahlul Bait adalah dasar-dasar mantiq (logika)-nya yang kuat serta keluasan penafsiran filosofisnya atas berbagai hukum. Tanpa penafsiran filosofis, hukum Islam akan dipahami secara salah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span id="more-327"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;" lang="IN">Feminisme dan Kesalahan Paradigma</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN">Oleh: Dina Y. Sulaeman</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sekitar bulan Oktober tahun 2004, masyarakat Indonesia diramaikan oleh kontroversi Draft Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang disusun oleh Departemen Agama RI dalam tim khusus bernama Tim Pengarusutamaan Jender. Tim yang dibiayai oleh The Asia Foundation (yang konon punya link dengan Zionisme Internasional) ini menawarkan rumusan baru fiqih Islam yang diselaraskan dengan karakteristik demokrasi dan pluralisme. Di antara pasal-pasal “pembaharuan” yang mereka susun adalah: asas perkawinan adalah monogami (pasal 3 ayat 1), perempuan bisa menjadi saksi sebagaimana laki-laki (pasal 11), calon istri bisa memberikan mahar (pasal 16), perkawinan beda agama diperbolehkan (pasal 54), bagian warisan untuk anak laki-laki dan anak perempuan sama (pasal 8 ayat 3), dan anak di luar nikah (zina) yang diketahui secara pasti ayah biologisnya tetap mendapatkan hak warisan dari ayahnya (pasal 16 ayat 2). Meskipun pelaksanaan dari draft KHI rancangan Depag ini terjegal oleh kritikan keras dari berbagai ormas-ormas Islam, namun kasus ini seolah menjadi bukti bahwa isu-isu jender dan feminisme memang tak akan berhenti dibicarakan. Silih berganti muncul wacana baru, diskursus baru, sudut pandang baru, yang intinya sama, yaitu memperjuangkan hak-hak perempuan yang tertindas atau dianggap tertindas. Gerakan untuk mengangkat harkat perempuan, yang diberi label gerakan feminisme, seolah menjadi sebuah isu atau gerakan yang bernilai jual tinggi. Kata feminisme seolah menjadi sebuah kata yang melambangkan kemodernan dan kemandirian perempuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sebenarnya apakah feminisme itu? Secara umum, feminisme adalah gerakan untuk mencapai kesetaraan politik, sosial, dan pendidikan antara perempuan dan laki-laki. Gerakan ini muncul pertama kali di Eropa dan AS. Pada abad ke-18, kaum perempuan di sana masih dilarang untuk mengikuti pemilu, memperoleh pendidikan tinggi, atau menerjuni profesi-profesi tertentu (misalnya, Elizabeth Blackwill, dokter wanita pertama di dunia yang lulus kuliah tahun 1849, sempat diboikot teman-temannya dengan dalih bahwa wanita tidak wajar memperoleh pelajaran). Isu-isu yang dikemukakan oleh para feminis Eropa dan AS antara lain adalah hak untuk bekerja di luar rumah, hak untuk mendapatkan pendidikan, kesamaan kewajiban untuk mendidik anak (jadi, tugas mendidik anak tidak hanya dibebankan kepada perempuan saja), hak menggunakan kontrasepsi dan melakukan aborsi, kesetaraan gaji dengan laki-laki, perubahan peran dalam keluarga, dan keterwakilan perempuan dalam politik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Namun demikian, di dalam tubuh gerakan feminisme sendiri ada banyak paham, versi, atau sudut pandang. Ada berbagai aliran feminisme, misalnya feminisme liberal yang bertujuan mencapai kesamaan status antara perempuan dan laki-laki dalam ekonomi dan politik (dalam konteks kapitalisme); feminisme radikal yang arus utama gerakannya menentang patriarki dan menganggapnya sebagai sumber penindasan terhadap perempuan; dan adapula gerakan feminisme marxist yang berusaha mengaplikasikan teori Marxisme untuk memahami sumber penindasan terhadap perempuan dalam sistem kapitalis[2]. Belum lagi bila kita sebut, individual feminism (i-feminism), feminisme sosialis, feminisme borjuis, atau bahkan feminisme Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Konsep-konsep feminisme mulai bersentuhan dengan dunia Islam sejak abad ke-19, seiring dengan menyebarnya imperialisme Barat di negara-negara Arab. Pada tahun 1892, pers perempuan Mesir mulai menyuarakan isu-isu feminisme. Sejak satu dekade sebelumnya, kaum perempuan Mesir, Suriah, dan Libanon telah membaca berbagai majalah Eropa berkenaan dengan feminisme dan mendiskusikan relevansinya terhadap situasi di Timur Tengah. Pada tahun 1899, Qasim Amin dari Mesir menerbitkan buku pertama mengenai feminisme berjudul Tahrirul Mar’ah (Pembebasan Perempuan) sehingga dia disebut sebagai Bapak Feminisme Arab. Dalam bukunya tersebut, Amin mengkritik sebagian praktek yang menyebar dalam masyarakat dengan atas nama Islam, misalnya, poligami, hijab, dan pengasingan perempuan. Dalam berbagai karyanya, Amin mengecam praktek-praktek tersebut sekaligus menyebutnya sebagai tidak Islami dan bertentangan dengan spirit Islam. Sebagai contoh, Qasim menyatakan bahwa kaum perempuan yang berhijab akan lebih terisolir dari pada kaum perempuan yang menanggalkan hijabnya. Karya-karya Qasim Amin sangat berpengaruh besar dalam gerakan politik perempuan di dunia Arab dan Islam. Bahkan, hingga hari ini, karya Qasim Amin masih terus disebut-sebut dan dijadikan rujukan oleh para feminis muslim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Di Indonesia pun, gerakan feminisme memiliki beragam bentuk, mulai dari perlindungan terhadap buruh perempuan, hingga yang ekstrim, hak untuk mempergunakan tubuh secara bebas. Namun, yang paling sering menimbulkan kontroversi adalah gerakan untuk membebaskan perempuan muslim dari “ketidakadilan” fiqih Islam, dan inilah yang akan saya bahas lebih lanjut dalam tulisan ini. Salah satu contoh nyata dari gerakan ini adalah diluncurkannya Draft KHI, sebagaimana yang telah saya bahas di awal tulisan ini. Bahkan, para aktivis feminisme muslim Indonesia membuat sebuah istilah atau wacana baru, yaitu “fiqih perempuan”. Fiqih perempuan yang dimaksud di sini bukanlah fiqhunn-nisaa yang kita bahas di hauzah (yang berbicara seputar jenis-jenis air, cara bersuci, haid, istihadhah, dll), melainkan rekonstruksi fiqih agar sesuai dengan kepentingan perempuan. Dengan kata lain, mereka berusaha mengkritisi berbagai masalah fiqih yang dianggap merugikan atau tidak adil terhadap perempuan, antara lain, apakah perempuan wajib berjilbab, mengapa perempuan hak warisnya setengah, mengapa perempuan tidak boleh menikahkan diri sendiri, mengapa perempuan muslim tidak boleh menikah dengan non-muslim, dsb.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Bila kita membahas lebih dalam mengenai penyebab timbulnya gerakan semacam ini, kita bisa membaginya ke dalam dua sub pembahasan. Pertama, kesalahan paradigma masyarakat muslim sendiri dalam memandang perempuan. Kedua, adanya infiltrasi politik asing yang memang ingin menyerang Islam dengan menggunakan perempuan dan aturan-aturan Islam terhadap perempuan sebagai sasaran tembak. Namun mengingat keterbatasan waktu dan ruang, dalam makalah ini, saya hanya akan meneliti lebih jauh tentang kesalahan paradigma masyarakat muslim dalam memandang perempuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Islam Melakukan Revolusi Terhadap Posisi Perempuan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Adalah sebuah fakta yang nyata bahwa Rasulullah datang membawa sebuah revolusi yang mengangkat harkat martabat kaum perempuan jahiliah pada masa itu. Sebelum diturunkannya risalah Islam, kaum Arab jahiliah memiliki tradisi mengubur hidup-hidup anak perempuan, kaum lelakinya berhak untuk menikahi perempuan berapapun jumlahnya tanpa aturan dan kewajiban untuk berlaku adil, dan kaum perempuan tidak memiliki hak waris. Yang lebih mengerikan lagi adalah adanya jenis-jenis pernikahan yang jelas-jelas mendiskreditkan perempuan. Pertama adalah nikah al-dayzan, yaitu, jika suami seorang perempuan meninggal, maka anak laki-laki tertuanya berhak untuk menikahi ibunya. Jika sang anak berkeinginan untuk menikahinya, maka sang anak cukup melemparkan sehelai kain kepada ibunya dan secara otomatis dia mewarisi ibunya sebagai isteri. Kedua, zawj al-balad, yaitu dua orang suami sepakat untuk saling menukar isteri tanpa perlu adanya mahar. Ketiga adalah zawj al istibda. Dalam hal ini seorang suami bisa dengan paksa menyuruh isterinya untuk tidur dengan lelaki lain sampai hamil dan setelah hamil sang isteri dipaksa untuk kembali lagi kepada suami semula. Dengan tradisi ini diharapkan sepasang suami isteri memperoleh &#8216;bibit unggul&#8217; dari orang lain yang dipandang mempunyai kelebihan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Islam datang untuk menyelamatkan kaum perempuan dan umat manusia dari praktek-praktek yang bertentangan dengan harkat kemanusiaan seperti itu. Islam mengecam keras tradisi penguburan hidup-hidup anak perempuan, memberikan aturan dan tatacara pernikahan secara jelas, serta mengatur secara jelas hak perempuan untuk mendapatkan warisan. Sedemikian pentingnya reposisi perempuan dalam masyarakat muslim, sampai-sampai, dari 114 surat dalam Al Quran, ada satu surat khusus dengan nama perempuan (An-Nisaa) yang membahas mengenai perempuan dan menjelaskan secara rinci hak-hak mereka. Berbagai riwayat juga menyebutkan betapa kaum perempuan pada era Rasul secara aktif hadir dalam majelis-majelis ilmu, pendidikan, bahkan perang. Kaum perempuan juga tidak ragu menyuarakan “protes feminisme” mereka dengan mempertanyakan, apakah pekerjaan mereka di rumah setara dengan jihad yang dilakukan kaum laki-laki di medan perang (pertanyaan yang diajukan Ummu Salamah dan Asma binti Yazid kepada Rasulullah)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Bahkan, lebih jauh lagi, Islam telah merekonstruksi total pemahaman manusia tentang perempuan. Sebagaimana yang diungkapkan Ali Syariati, Muhammad SAWW adalah ahli waris Ibrahim, Nuh, Musa, dan Isa (a.s.), tetapi Fathimah (s.a) adalah satu-satunya ahli waris beliau. Padahal, tradisi Arab saat itu menganggap penerus keturunan hanya laki-laki dan orang-orang yang tidak memiliki anak laki-laki disebut abtar (terputus keturunan). Namun Allah berfirman, “Inna a’thainakal kautsar.“ (Al Kautsar: 1). Dalam pandangan Al Quran, Fathimah (s.a) justru adalah nikmat yang banyak. Bahkan, dalam ayat ke-3 surat Al Kautsar, Allah menyebut orang-orang yang menghina Rasulullah SAWW itulah yang abtar, meskipun mereka mempunyai anak laki-laki. Syariati juga memberikan contoh lain dari revolusi ajaran Islam terhadap perempuan, yaitu menjadikan seorang budak perempuan berkulit hitam (yaitu Siti Hajar), sebagai perempuan yang melahirkan Ismail, yang garis keturunannya akan melahirkan Nabi Muhammad SAWW. Bahkan, kuburan beliau sedemikian mulianya dalam pandangan Islam sehingga berada di sisi Ka’bah, dan setiap jemaah haji ketika bertawaf wajib pula mengelilingi kuburan perempuan suci ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam menyifati Siti Hajar, Syariati menulis, “Tuhannya Ibrahim memilih seorang perempuan di antara sedemikian banyak manusia sebagai tentara-Nya; dia (adalah) seorang ibu dan seorang budak. Dengan kata lain, Tuhan memilih seorang makhluk yang dalam semua sistem manusia, dianggap tidak memiliki kehormatan dan kelayakan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Kesalahan Paradigma Dalam Memandang Perempuan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ironisnya, semakin jauh era Rasulullah berlalu, semakin jauh pula umat Islam dari penghormatan kepada perempuan. Kehidupan perempuan muslim di negara-negara Islam terlihat jelas dalam berada dalam “hegemoni Islam”. Atas nama Islam, kaum perempuan mendapat kesulitan dalam bergaul, mengekpresikan kebebasan individunya, terkungkung oleh aturan yang sangat membatasi ruang kerja dan gerak dinamisnya, dan dalam kancah politik, suaranya tidak begitu diperhatikan atau bahkan diabaikan sama sekali. Fenomena ini terlihat jelas di negara-negara Dunia Ketiga yang umumnya adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Hari ini, kita melihat betapa banyak beredar hadis-hadis yang “merendahkan” perempuan, misalnya “Barangsiapa menuruti istrinya, maka ia masuk neraka”, &#8220;Tidak beruntung satu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan,&#8221; atau &#8220;Aku tak menyaksikan orang yang kurang akal dan agamanya, dibanding perempuan,&#8221; Lalu, seorang perempuan bertanya, &#8220;Apa kekurangan kami ?&#8221; &#8220;Kekurangan akalnya, karena kesaksian dua orang wanita dinilai sama seperti kesaksian seorang pria. Kekurangan agamanya, karena seorang di antara kamu tak puasa di bulan Ramadhan (akibat haid), dan beberapa hari diam tanpa shalat.&#8221; (HR Abu Dawud)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Selain hadis-hadis “populer” tadi, hadis-hadis yang banyak beredar adalah hadis-hadis yang hanya difokuskan kepada perempuan, misalnya &#8220;Bila perempuan telah menunaikan shalat lima waktu, puasa sebulan, menjaga kehormatan dan mentaati suami, maka dikatakanlah kepadanya; masuklah ke dalam sorga, dari pintu mana yang kamu suka.&#8221; (HR Ahmad dan At-Thabrani). Lalu bagaimana dengan laki-laki? Mengapa jarang beredar (dengan arti: para ulama jarang menyebarluaskannya) hadis-hadis tentang kewajiban laki-laki untuk berperilaku baik kepada istrinya atau bersikap sabar kepada istri?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Belum lagi bila kita melihat berbagai penafsiran terhadap ayat-ayat Al Quran, misalnya ar-rijaalu qawwamuuna alan-nisaa (QS 4:34), diartikan sebagai laki-laki harus memiliki kedudukan lebih tinggi daripada perempuan, sehingga dalam segala bidang, perempuan dianggap tidak berhak untuk memimpin (ayat ini pula yang banyak dipakai untuk menjegal pencalonan Megawati dalam pemilu tahun 2004), atau ayat alladzi khalaqakum min nafsi wahidah wa khalaqa minha zawjaha (QS 4:1) diartikan bahwa Hawa berasal dari tulang rusuk Adam, yang artinya perempuan itu subordinat-nya lelaki (disebut-sebut pula bahwa tulang rusuk itu bengkok, dan artinya perempuan itu “bengkok” sehingga harus “diluruskan” oleh laki-laki).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Hal tersebut di atas telah menimbulkan kesalahan cara pandang atau paradigma masyarakat muslim terhadap perempuan, termasuk kesalahan kaum perempuan dalam memandang dirinya sendiri. Dari sudut ini, bila kita hendak ber-husnuzh-zhan, sebagian besar para pejuang feminisme di Indonesia sesungguhnya adalah kaum muslimah yang melihat hukum-hukum Islam yang (sepertinya) tidak adil, dan kemudian merasa terpanggil untuk memprotes dan meneriakkan perubahan. Bila kita mau jujur, di sekitar kita dengan mudah bisa ditemukan berbagai bentuk ketidakadilan perilaku masyarakat muslim terhadap perempuan, yang mengatasnamakan Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Bukan hal aneh bila kita mendengar ada anak perempuan yang dipaksa menikah oleh orangtuanya, perempuan yang diterlantarkan oleh suaminya yang mempunyai istri muda, perempuan yang ditalak begitu saja tanpa diberi bantuan keuangan oleh mantan suami, atau prinsip bahwa “perempuan tak perlu sekolah tinggi karena toh akhirnya hanya mengurusi dapur”. Belum lagi kalau kita bahas pula sistem rumah tangga yang dianut oleh sebagian besar masyarakat. Perempuan selalu dianggap memiliki kewajiban domestik (memasak, mencuci, mengurus anak), sehingga meskipun seorang perempuan mempunyai karir di luar rumah (dan mempunyai kontribusi pada penghasilan keluarga), begitu ia pulang ke rumah, sederet pekerjaan rumah sudah menunggu, sementara si suami dianggap berhak untuk beristirahat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Anehnya, paradigma seperti ini diteruskan pula secara turun-temurun oleh perempuan sendiri. Contoh mudahnya, anak laki-laki akan dibelikan mainan mobil-mobilan oleh ibunya, sementara anak perempuan dibelikan mainan “masak-masakan”. Pulang sekolah, anak laki-laki boleh bebas bermain, sementara anak perempuan harus membantu ibu di dapur. Hadis-hadis dan riwayat mengenai Rasulullah (SAWW) yang menjahit sendiri sendalnya yang robek, Imam Ali a.s. yang membantu Sayyidah Fathimah (s.a.) mengerjakan pekerjaan rumah tangga, Imam Khomeini (r.a.) yang mengambil sendiri makanannya di dapur dan mencuci piringnya sendiri, seolah-olah lenyap begitu saja dalam lembaran-lembaran sejarah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Di sekitar kita, kita akan melihat bahwa semakin rendah tingkat perekonomian masyarakat, semakin besar pula penindasan yang terjadi terhadap perempuan. Fenomena banyaknya TKW Indonesia yang terpaksa bekerja di luar negeri (dan harus bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan jam kerja yang panjang, perlindungan kerja yang tidak jelas, serta rentan penyiksaan dan pemerasan), memperlihatkan dengan jelas ketertindasan perempuan. Kaum perempuan yang seharusnya dinafkahi, malah harus membanting tulang untuk membiayai keluarganya, termasuk suaminya sendiri. Para oknum pun dengan kejam memeras uang para TKW itu setibanya mereka di tanah air. Belum lagi bila kita lihat nasib buruh-buruh perempuan di pabrik-pabrik yang tidak mendapat cuti haid atau melahirkan, sehingga setiap saat mereka bisa dipecat ketika terpaksa membolos karena kondisi fisiknya melemah akibat haid atau pasca melahirkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Penyebab Kesalahan Paradigma Dalam Memandang Perempuan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Qasim Amin, Bapak Feminisme Arab, menyatakan bahwa akar dari penindasan perempuan dalam masyarakat muslim adalah bercokolnya pemerintahan yang zalim dan despotik. Menurutnya, di zaman ketika penguasa zalim berkuasa, kezaliman itu tidak hanya akan dilakukan oleh sang raja, melainkan akan diikuti oleh orang-orang sekitarnya, dan seterusnya, sampai ke masyarakat kelas bawah. Proses ini akan berlanjut ke seluruh sendiri masyarakat, sehingga orang yang kuat akan menindas orang yang lemah. Salah satu korban terbesar dalam pemerintahan seperti ini adalah kaum perempuan karena laki-laki memiliki kekuatan fisik yang lebih besar, sehingga dengan leluasa merendahkan perempuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Para feminis Arab lain (yang banyak menjadi rujukan kaum feminis Indonesia) adalah Nawal Sa&#8217;dawi dan Fatima Mernissi, umumnya juga tidak memandang agama sebagai satu-satunya faktor penyebab penindasan terhadap perempuan. Sa&#8217;dawi menyamakan persoalan wanita dengan masalah keterbelakangan. Menurut Sa&#8217;dawi: &#8220;Keduanya bukan masalah agama sebagaimana yang selalu dikatakan oleh kalangan fundamentalis, tetapi masalahnya berkaitan erat dengan masalah ekonomi dan politik negara. Sementara itu, Mernisi menilai struktur sosial-lah yang berperan dalam menyengsarakan nasib perempuan. Yang dimaksud struktur sosial oleh Mernissi adalah termasuk juga doktrin dan ajaran agama yang menjadi salah satu fondasi penting sebuah masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Allamah Thabathabai menulis bahwa masyarakat Ahlul Kitab pada zaman risalah (pada zaman ketika nabi Muhammad menyampaikan Islam), hidup dalam pemerintahan yang despotik. Pada saat itu, masyarakat terbagi antara penguasa dan rakyat. Rakyat pun terbagi menjadi rakyat kaya dan rakyat miskin, sedang rakyat miskin terbagi antara yang miskin dan lebih miskin, seterusnya, sampai pada pembagian antara laki-laki dan perempuan. Dalam masyarakat seperti ini, laki-laki mendapatkan kebebasan dalam berbuat apapun, sementara perempuan diisolir dari berbagai bentuk kebebasan dan semata-mata menjadi pelayan laki-laki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ilmuwan Iran, Doktor Fathiah Fattahizadeh, menyatakan bahwa selain pemerintahan yang zalim dan despotik, penyebab kesalahan paradigma kaum muslimin dalam memandang perempuan adalah juga pencampuran antara ajaran agama dengan tradisi, yang sayangnya justru disebarluaskan oleh para ulama dan cendikiawan. Fattahizadeh menulis, &#8220;Karena sebagian besar masyarakat pada era sebelum Islam berorientasi pada laki-laki, sebagian para pemikir Islam yang terpengaruh oleh orientasi tersebut, alih-alih menyampaikan aturan-aturan Islami, malah menafsirkan teks-teks agama dengan paradigma yang berorientasi kepada laki-laki. Di sisi lain, kebudayaan Islam juga kehilangan kemurniannya karena adanya interaksi dan infiltrasi berbagai peradaban yang berorientasi kepada laki-laki.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Menampilkan Fiqih Yang Bersahabat dengan Perempuan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Bila dikaji lebih cermat, berbagai dalil yang dikemukakan dalam memposisikan perempuan, sering tidak dipaparkan sesuai konteks, atau malah hanya disampaikan sebagian saja. Misalnya, hadis, “Barangsiapa menuruti istrinya, maka ia masuk neraka”, sesungguhnya masih ada lanjutannya: Seseorang lalu bertanya kepada Rasulullah, “Apa yang dimaksud dengan menuruti?” Rasulullah menjawab, “Yaitu, bila suami memperbolehkan istrinya pergi ke kolam renang, pesta perkawinan, perayaan, dan ke tempat orang meninggal, dengan menggunakan pakaian tipis dan sangat halus.” Dengan demikian, jelaslah bahwa “menuruti” di sini adalah mengizinkan perempuan untuk berbuat sesuatu yang melanggar syariat. Mengenakan pakaian tipis keluar rumah memang jelas-jelas dilarang syariat. Namun karena tidak disampaikan secara utuh, hadis ini seolah-olah melarang laki-laki menuruti permintaan atau saran dari istri secara keseluruhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sementara itu, hadis tidak beruntung satu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan, sesungguhnya telah disampaikan tanpa menyebutkan pendahuluannya sbb. “Ketika Rasulullah Saw. mengetahui bahwa masyarakat Persia mengangkat Putri Kisra sebagai penguasa mereka, beliau bersabda, &#8220;Tidak akan beruntung satu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan.&#8221; (Diriwayatkan oleh Bukhari, An-Nasa&#8217;i, dan Ahmad melalui Abu Bakrah). Jadi, hadis tersebut di atas ditujukan kepada masyarakat Persia ketika itu, bukan terhadap semua masyarakat dan dalam semua urusan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Mengenai hadis-hadis tentang kurang akalnya perempuan, mungkin bisa dicari jawabannya dari sisi psikologis atau konteks zaman, (atau mungkin bisa ditelusuri kesahihan hadis tersebut), sehingga kesan yang ditimbulkan bahwa Islam memandang rendah perempuan bisa dieliminasi. Karena, secara jelas dan tegas, Islam memang tidak pernah memandang rendah perempuan. Berbagai ayat Al Quran (3:195, 4:124, 16:97, 9:71-72, 33:35) secara tegas dan jelas memposisikan perempuan dan laki-laki secara setara dalam kewajiban mereka menegakkan nilai-nilai Islam, adanya sanksi yang sama terhadap perempuan dan lelaki untuk semua kesalahan mereka, serta adanya pahala yang sama untuk amal saleh mereka. Satu-satunya faktor yang membedakan perempuan dan laki-laki di hadapan Allah SWT adalah keimanan dan ketakwaan mereka masing-masing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam masalah hukum waris yang sering diperdebatkan oleh kaum feminis, dan dituduh sebagai salah satu bentuk ketidakadilan Islam terhadap perempuan (karena perempuan hanya diberi setengah), sebenarnya bisa dibahas sbb. “Pada dasarnya Islam mensyariatkan untuk memberi imbalan yang sama atas prestasi yang sama, tidak pandang laki-laki atau perempuan, sedangkan soal waris bukanlah soal prestasi. Hukum ini harus didudukkan bersama-sama dengan hukum nafkah. Laki-laki wajib menafkahi saudara perempuannya, sedangkan perempuan tidak wajib menafkahi siapapun. Tanggung jawab keluarga dibebankan pada lelaki. Jika tanggungjawab ini tidak dijalankan, negara berhak campur tangan dan memaksanya sehingga hak-hak si perempuan itu tetap terpenuhi. Jadi, syariat Islam tidak berdiri sendiri-sendiri. Nikah, waris, nafkah saling berkaitan erat. Tidak bisa dipandang secara parsial.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Peran Akhawat Talabeh Hauzah Ilmiah Qom</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam pandangan saya, di sinilah peran penting para talabeh perempuan di Qom Al Muqaddasah ini. Kita para pengikut Ahlul Bait meyakini bahwa Islam, Al Quran, hadis-hadis, dan sunnah yang bersumber dari Ahlul Bait adalah benar adanya. Oleh karena itu, tidak mungkin ada ketidakadilan di dalamnya. Tuduhan-tuduhan atas ketidakadilan Islam, sebagaimana telah saya bahas di atas, berakar pada kesalahan paradigma kaum muslim sendiri dalam memandang perempuan, yang bersumber dari kesalahpahaman, pencampuran tradisi dengan agama, kejumudan cara berpikir mereka, serta berkuasanya pemerintahan yang despotik. Keunggulan mazhab Ahlul Bait adalah dasar-dasar mantiq (logika)-nya yang kuat serta keluasan penafsiran filosofisnya atas berbagai hukum. Tanpa penafsiran filosofis, hukum Islam akan dipahami secara salah. Seperti yang dikemukakan oleh Syahid Murtadha Muthahhari,”Masalah seputar hak-hak dan hukum perempuan dari sudut pandang Islam, yang muncul dalam masyarakat kita hari ini, selain memiliki dimensi praktis juga memiliki akar pada masalah keimanan. Saat ini, ada berbagai kepercayaan dalam masyarakat yang tidak memiliki dasar, tapi kepercayaan itu dinisbatkan kepada Islam. Di sisi lain, berbagai perintah Islam yang hakiki belum dipahami oleh masyarakat karena nilai falsafah yang ada di dalamnya belum dijelaskan. Akibat dari semua itu adalah disalahgunakannya berbagai aturan dalam agama Islam tentang wanita oleh pihak luar, sebagai cara untuk menyerang dasar-dasar agama Islam.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sebagai contoh praktis dalam hal ini adalah dalam menyampaikan masalah kewajiban hijab. Ketika kita hendak membahas masalah jilbab, umumnya, pembahasan yang dikemukakan adalah berkaitan seputar ayat dan hadis yang memberikan perintah hijab kepada kaum muslimah. Cara ini akan terus mendapatkan jawaban negatif dari para pendukung feminisme, karena mereka akan mempersoalkan tafsir ayat dan hadist tersebut dengan mengemukakan penafsiran dari para ulama yang tidak mewajibkan hijab. Coba kita perhatikan bagaimana konsep hijab ini disampaikan oleh Sultana Yusuf Ali, seorang remaja Kanada, berikut ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">“Saya sangat bersyukur karena tidak pernah menderita nasib harus bersusah-payah menaikkan atau menurunkan berat badan, serta mencari-cari warna lipstik yang sesuai dengan warna kulit saya. Saya telah membuat pilihan tentang apa yang menjadi prioritas, dan hal-hal seperti itu (kelangsingan badan, warna lipstik) bukanlah prioritas saya. Jadi lain kali, jika Anda melihat saya (menggunakan jilbab), jangan memandang saya dengan kasihan. Saya tidak sedang berada dalam paksaan dan saya bukan perempuan pengabdi laki-laki, yang menjadi tawanan di gurun sahara Arab. Saya telah terbebaskan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam kacamata remaja muslimah ini, jilbab justru merupakan simbol kebebasan, yaitu kebebasan dari tatapan orang lain yang menilai postur tubuh, tata rambut, kecocokan baju dengan warna kulit, atau merek T-shirt yang dipakai. Sultana Yusuf Ali mengatakan, “My body is my own business” (Tubuh saya adalah urusan saya sendiri). Dalam bahasa yang sederhana dan “funky”, sesungguhnya Sultana Yusuf Ali tengah menyampaikan filosofi dari jilbab, yaitu membebaskan perempuan dari penilaian “kulit luar” dan perempuan akan dinilai dari akhlak, watak, dan keilmuannya. Nah, penjelasan atas filosofi sebuah hukum syari’i, terutama yang menyangkut tentang perempuan, yang telah disampaikan oleh para ulama Ahlul Bait adalah hal yang penting untuk disebarluaskan oleh para akhawat talabeh Qom.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Para ulama mazhab Ahlul Bait telah sangat banyak melahirkan hasil penelitian mereka berkaitan dengan hak perempuan untuk menjadi presiden, mengapa hak waris perempuan hanya setengah, mengapa perempuan tidak boleh menjadi hakim —padahal sebagian orang menilai bahwa hakim perempuan malah lebih adil dan lebih kebal suap dibanding hakim laki-laki—mengapa perempuan muslim tidak boleh menikahkan diri sendiri, mengapa perempuan tidak boleh menjadi imam atau Rahbar, atau bahkan, mengapa tidak ada perempuan yang diangkat Allah sebagai Nabi, dsb. Bila hasil penelitian para ulama itu dipelajari, dipahami, didiskusikan, lalu ditulis ulang dalam bahasa yang sederhana dan sesuai dengan konteks Indonesia, dan kemudian disebarluaskan, insya Allah akan memberikan kontribusi yang besar bagi kaum muslimah Indonesia yang gelisah dan bingung atas ajaran agamanya sendiri. Pembahasan masalah perempuan yang bersumber dari mazhab Ahlul Bait akan menampilkan Islam yang moderat, tidak ifrath dan tidak pula tafrith sebagaimana yang saat ini terjadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Selain itu, akhawat talabeh Qom juga dapat berperan luas dalam menyebarkan hadis-hadis yang lebih seimbang. Hadis-hadis tentang kewajiban perempuan untuk taat dan melayani suaminya dengan baik, memang harus terus dibacakan kepada kaum perempuan. Namun, sangat banyak hadis tentang laki-laki yang selama ini “diabaikan”, misalnya sbb.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">- Rasullulah SAWW bersabda, “Barang siapa yang lebih baik kelakuannya, maka ia lebih sempurna imannya. Yang terbaik di antara kamu adalah yang berbuat baik kepada keluarganya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">- Imam Ali a.s. bersabda, “Perempuan dipercayakan kepada pria dan mereka (para perempuan) bukanlah pemilik keberuntungan atau kemalangan. Mereka bersamamu sebagai amanat Allah, maka janganlah kamu menyakiti dan membuat hidupnya susah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">- Imam Ridha a.s. mengatakan, “Kaum perempuan Bani Israil telah menyimpang dari jalan yang benar karena kaum pria mereka tidak memperdulikan kebersihan dan penampilan baik. Apa yang kamu harapkan dari istrimu juga diharapkan oleh istrimu terhadapmu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Mazhab Ahlul Bait sangat kaya menyimpan hadis-hadis semacam ini, dan para akhawat yang berada di pusat keilmuan mazhab Ahlul Bait memiliki kewajiban untuk menyebarluaskannya demi kepentingan kaum muslimah di dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Penutup</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Bila kita melakukan kajian secara mendalam dan menyeluruh terhadap hukum-hukum Islam, kita akan menemukan fakta menarik bahwa sesungguhnya Islam adalah agama yang paling feminis. Pembelaan Islam terhadap perempuan adalah pembelaan terbesar yang pernah diberikan oleh agama samawi manapun dan pemerintahan manapun (termasuk pemerintahan yang mengaku beraliran demokrasi dan kebebasan). Kenyataan empiris yang kita temukan dalam masyarakat sama sekali tidak bisa dipakai sebagai parameter dari kebenaran atau kesalahan suatu ajaran. Sebagaimana yang dikatakan Lois Lamya al Faruqi, kita harus membangun suatu Quranic society (masyarakat Qurani), yang menerapkan aturan-aturan yang benar-benar murni dari Al Quran, tidak dicampurkan dengan konsep-konsep pseudo-Islamic, yang meskipun berlabel Islam, namun justru pada hakikatnya malah anti-Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Teheran, Akhir Desember 2004</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[1] Makalah ini pernah dibacakan di Seminar Jurnal Kajian Perempuan Islam [Fathimiah-LOF, HPI] di Sekolah Tinggi Bintul Huda, Qom Iran, Tgl 24 Dzulhijjah 1425 H.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Rujukan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[2] Marxist Feminism / Materialist Feminism&#8221; Martha E. Gimenez. 1998 (www.cddc.vt.edu)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[3] Ahmad Ali Nurdin, Mengkaji Ulang Kedudukan Wanita dalam Islam. (www.pikiran-rakyat.com )</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[4] Ali Syariati, Fatima is Fatima, bab VIII, (www.al-islam.org/fatimaisfatima)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[5] Qasim Amien, al-A’mâl al-Kâmilah, (editor Muhamad ‘Imarah), Kairo: Dâr Al-Syurûq, th.1989, cet. 3, hlm. 45</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[6] Azizah al-Hibri (ed.), Woman and Islam. Pergamon Press, 1982, hal. 202-203.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[7] A. Luthfi Assyaukanie, Tipologi dan Wacana Pemikiran Arab Kontemporer, (www.media.isnet.org/islam)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[8] Allamah Thabathabai, Tafsir Al Mizan, juz 4, hlm 242</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[9] Fathiah Fattahizadeh, Zan dar Tarikh wa Andishe-e Islami. Pusat Penelitian Islam IRIB. Tehran. 1383h.s. hal. 184</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[10] Wasail Al-Syiah jilid 15, hal 21.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[11] Quraish Shihab, Perempuan (http://media.isnet.org/islam)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[12] M. Shiddiq Al-Jawi, Menyoroti Draft KHI Dari Perspektif Ideologis Dan Metodologis. (www.majelis.mujahidin.or.id)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[13] Murthada Muthahhari, Majmu-e-ye Atsar, Shadra Press, 1387 h.s., jilid 19, hal. 600</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[14] Sultana Yusuf Ali, My Body is My Own Business, (www.muslimworld.co.uk)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[15] Bihar al Anwar, jilid 103, hal. 226</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[16] Mustadrak jilid 2, hlm 551</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[17] Bihar al Anwar, jilid 76, hal. 102</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">[18] Lois Lamya al Faruqi, Women in a Quranic Society, Jurnal Al Tawhid (www.al-islam.org/al-tawhid)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/327/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/327/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/327/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=327&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2009/01/03/feminisme-dan-kesalahan-paradigma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cut Nyak Dhien Juga Cerdas di Bidang Agama</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/12/01/cut-nyak-dhien-juga-cerdas-di-bidang-agama/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/12/01/cut-nyak-dhien-juga-cerdas-di-bidang-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 12:22:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=325</guid>
		<description><![CDATA[Sudah waktunya kebiasaan kurang baik ditinggalkan dan diganti dengan kebiasaan bernilai multi dalam kehidupan ini. Orang cerdas tidak akan memelihara kebiasaan tanpa multi makna dalam mencapai suatu tujuan. Sebaliknya pemikiran cerdas dimanfaatkan untuk melangkah bersama. Kini, di era globalisasi yang sarat informasi kiranya dapat dikaji nilai bernuansa Islam untuk mewujudkan keberhasilan bersama dalam kehidupan.
 
 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=325&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sudah waktunya kebiasaan kurang baik ditinggalkan dan diganti dengan kebiasaan bernilai multi dalam kehidupan ini. Orang cerdas tidak akan memelihara kebiasaan tanpa multi makna dalam mencapai suatu tujuan. Sebaliknya pemikiran cerdas dimanfaatkan untuk melangkah bersama. Kini, di era globalisasi yang sarat informasi kiranya dapat dikaji nilai bernuansa Islam untuk mewujudkan keberhasilan bersama dalam kehidupan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> <span id="more-325"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="IN">Cut Nyak Dhien Juga Cerdas di Bidang Agama</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN">By Republika Contributor</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">JAKARTA&#8211;Pahlawan nasional asal Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) bukan hanya jago dalam mengatur strategi perang melawan penjajah pada masanya, tapi juga cerdas di bidang agama Islam dan bahkan mampu menghafal Al-Quran. Kecerdasan perempuan yang diasingkan penjajah Belanda itu diakui Bupati Sumedang, Jawa Barat, Don Murdono, dalam pertemuan dengan peserta napak tilas seratus tahun meninggalnya Cut Nyak Dhien belum lama ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Bupati mengatakan, Cut Nyak Dhien di masa hidupnya ikut memberi bimbingan ajaran agama Islam kepada masyarakat Sumedang. Menurut dia, perempuan asal Aceh itu juga cepat beradaptasi dengan lingkungan karena memiliki kecerdasan menghafal kitab suci Al-Quran. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kegiatannya sehari-sehari Ibu Perbu (ibu Ratu), demikian sebutan masyarakat Sumedang kepada Cut Nyak Dhien, dipergunakan untuk mengulang kaji ilmu agama dan membaca Al-Quran, meskipun penglihatannya tidak seperti saat terlibat langsung dalam peperangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam usia yang hampir 60 tahun itu tetap mengaji serta mengajarkan ilmu agama Islam kepada masyarakat yang datang bersilaturrahmi ke rumah tempat tinggalnya sekitar Masjid Agung Sumedang dan mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak sekitarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8220;Jadi, kecerdasan Cut Nyak Dhien bukan hanya mengatur prajurit berperang melawan penjajah Belanda yang terjadi sekitar 1873, tetapi juga mahir di bidang agama,&#8221; kata Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Provinsi Aceh Raihan Putry Ali Muhammad.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ini patut menjadi teladan bagi perempuan Aceh sekarang. Kaum perempuan harus menguasai berbagai pengetahuan sejalan kemajuan, namun tetap cerdas di bidang agama Islam dan adat istiadat karena itu merupakan identitas masyarakat Aceh yang terkenal fanatik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kegiatan napak tilas dan ziarah ke makam Cut Nyak Dhien di Sumedang, Jabar, itu sebagai upaya menggali apa yang patut dan perlu diteladani kaum perempuan masa kini. Ternyata banyak hikmah yang dapat dipetik dari kegiatan ini, antara lain terkait kecerdasan Cut Nyak Dhien di bidang agama Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8220;Ini sejalan dengan tujuan dilakukan napak tilas dan ziarah itu sendiri, ya untuk membangkitkan kembali semangat kaum perempuan Aceh di bidang pendidikan, ekonomi, politik dan sosial kemasyarakatan,&#8221; kata Raihan Putry Ali Muhammad yang juga dosen IAINB Ar-Raniry Aceh itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Selain itu, kegiatan yang melibatkan sejumlah perempuan ini dimaksudkan untuk mempererat tali silaturrahmi antara masyarakat Aceh dengan masyarakat Sumedang yang sudah dilakukan pahlawan nasional seabad lalu, tepatnya sekitar Juli 1907 saat diasingkan ke Sumedang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam waktu relatif singkat, Cut Nyak Dhien bisa menjalin dan mempererat tali silaturrahim. Cut Nyak Dhien menjadi perekat dua kelompok masyarakat yang berbeda daerah tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kaum perempuan daerah Aceh perlu mengambil iktibar positif sesuai kondisi seperti diperlihatkan Cut Nyak Dhien di masa hidupnya. Perempuan Aceh yang berjiwa Islami perlu mempersiapkan diri dan menyahuti perkembangan kemajuan teknologi informasi, katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Semua yang mengikuti jejak Cut Nyak Dhien harus cerdas. Tidak ada suatu keturunan sukses tanpa pengetahuan dan kecerdasan, kata istri mantan Gubernur Aceh, Hj Marlinda Abdullah Puteh, yang ikut serta napak tilas dan ziarah yang dipimpin Darwati A Gani, istri Irwandi Yusuf itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Marlinda mengatakan, sosok Cut Nyak Dhien yang cerdas itu hendaknya menjadi teladan bagi perempuan Aceh. Kaum perempuan daerah Serambi Makkah perlu meniru pahlawan nasional yang dapat menjalin silaturrahmi melalui kemahiran bernuansa Islami, tambahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">&#8220;Saya kira, semua apa yang diperlihatkan Cut Nyak Dhien dapat dijadikan teladan dan diaplikasikan dalam kehidupan, baik di bidang agama Islam maupun sosial kemasyarakatan. Kecerdasan dalam pengetahuan agama justru dikagumi dan disegani masyarakat,&#8221; kata Marlinda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Mustahil pengakuan datang tanpa kecerdasan di bidang tertentu. Oleh karena itu, agaknya program napak tilas yang pertama sekali dilakukan Pemerintah Aceh ini lahir dari akal pikiran cerdas, kata istri mantan Wakil Gubernur Aceh Meutia Azwar Abubakar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Hubungan silaturrahim yang dirintis Cut Nyak Dhien antara dua kelompok masyarakat berbeda daerah itu kiranya dapat diaplikasikan dalam kehidupan masa kini. Perempuan daerah Aceh harus bersatu dan saling mendukung untuk mencapai suatu tujuan bersama, katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sudah waktunya pemikiran negatif yang mengarah pada pembunuhan karakter sesama diabaikan dalam kehidupan yang menuntut kecerdasan. Perempuan yang cerdas akan sirna kecerdasannya manakala mengaplikasikan sikap tak simpati terhadap sesama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kekompakan merupakan modal utama untuk mewujudkan kemitraan (gender) berkeadilan dalam kehidupan. Mustahil keinginan kemitraan dapat dicapai jika kaum perempuan tak saling mendukung dan memberi motivasi seperti dilakukan Cut Nyak Dhien seratus tahun silam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Upaya menjaga kekompakan tidak sulit diwujudkan meski era globalisasi menghampiri berbagai suku bangsa di jagad raya ini. Berpikir kreatif dan cerdas dalam kehidupan tanpa pemikiran negatif melihat kesuksesan seseorang tentu salah satu syarat perwujudan kekompakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kecerdasan bernuansa Islami seperti diperlihatkan Cut Nyak Dhien perlu diaplikasikan dalam kehidupan perempuan Aceh masa ini. Kecerdasan akan kurang bermakna manakala pemilknya tidak hati-hati mencermati perkembangan dan bisa keliru tanpa menyadari cerdas sirna.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sudah waktunya kebiasaan kurang baik ditinggalkan dan diganti dengan kebiasaan bernilai multi dalam kehidupan ini. Orang cerdas tidak akan memelihara kebiasaan tanpa multi makna dalam mencapai suatu tujuan. Sebaliknya pemikiran cerdas dimanfaatkan untuk melangkah bersama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kini, di era globalisasi yang sarat informasi kiranya dapat dikaji nilai bernuansa Islam untuk mewujudkan keberhasilan bersama dalam kehidupan. Agaknya sosok Cut Nyak Dhien yang mampu menjalin tali silaturrahmi dengan masyarakat Sumedang menjadi inspirasi perempuan Aceh kini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Pahlawan nasional Cut Nyak Dhien kini telah tiada. Tidak sedikit teladan ditinggalkan dan perlu ditiru dan dikedepankan. Tidak keliru manakala kaum perempuan Aceh membiasakan kebenaran berdasarkan pemikiran cerdas dan jangan membenarkan kebiasaan dalam kehidupan. Ant/Saidulkarnain Ishak/ya</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/325/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/325/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/325/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=325&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/12/01/cut-nyak-dhien-juga-cerdas-di-bidang-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Zainab Al-Ghazali, Tokoh Pembela Perempuan</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/11/02/zainab-al-ghazali-tokoh-pembela-perempuan/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/11/02/zainab-al-ghazali-tokoh-pembela-perempuan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Nov 2008 06:27:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=319</guid>
		<description><![CDATA[Zainab al-Ghazali adalah wanita luar biasa. Seperti Aisha Abd al-Rahman, tokoh asal Mesir ini begitu gigih memperjuangkan persamaan hak kaum perempuan berdasarkan keyakinannya, sesuai doktrin ajaran Islam yang benar. Oleh karenanya, sejarah mencatat Zainab lebih dikenal sebagai aktivis Islam ketimbang cendekiawan Islam.
Saat menginjak usia remaja, Zainab aktif di organisasi Persatuan Kelompok Feminis Mesir yang dibentuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=319&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span lang="IN">Zainab al-Ghazali adalah wanita luar biasa. Seperti Aisha Abd al-Rahman, tokoh asal Mesir ini begitu gigih memperjuangkan persamaan hak kaum perempuan berdasarkan keyakinannya, sesuai doktrin ajaran Islam yang benar. Oleh karenanya, sejarah mencatat Zainab lebih dikenal sebagai aktivis Islam ketimbang cendekiawan Islam.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Saat menginjak usia remaja, Zainab aktif di organisasi Persatuan Kelompok Feminis Mesir yang dibentuk oleh Huda Al-Sharawi tahun 1923. Namun tak lama dia mengundurkan diri dari organisasi itu karena bersebarangan pendapat mengenai perjuangan menuntut kesetaraan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dia tidak setuju dengan ide-ide sekular tentang gerakan pembebasan perempuan. Meski demikian, Al-Ghazali tetap menghormati Sharawi dan menyebutnya sebagai seorang wanita yang memiliki komitmen dan keimanan yang baik. Saat usianya 18 tahun (1936), dia mendirikan Asosiasi Wanita Muslim untuk mengorganisasi kegiatan-kegiatan kaum perempuan yang sesuai norma-norma Islam dan ditujukan untuk kepentingan-kepentingan Islam.</span></p>
<p><span lang="IN"> </span></p>
<p><span id="more-319"></span></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<h1 style="text-align:center;"><span lang="IN">Zainab Al-Ghazali,  Tokoh Pembela Perempuan</span></h1>
<p><!-- reporter start--></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">By Republika Contributor<br />
Rabu, 15 Oktober 2008 pukul 13:22:00 </span></p>
<p>&lt;!&#8211;</p>
<div class="iklan"><img src="images/ads468x60.jpg" alt="Iklan 468x60" /></div>
<p>&#8211;&gt;</p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Umat Islam berduka. Pada hari Rabu (3/8), dai dan aktivis terkemuka Zainab Al-Ghazali, wafat dalam usia 88 tahun. Dia meninggalkan kenangan tak terlupakan sepanjang aktivitasnya menjalankan dakwah Islam.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Zainab al-Ghazali adalah wanita luar biasa. Seperti Aisha Abd al-Rahman, tokoh asal Mesir ini begitu gigih memperjuangkan persamaan hak kaum perempuan berdasarkan keyakinannya, sesuai doktrin ajaran Islam yang benar. Oleh karenanya, sejarah mencatat Zainab lebih dikenal sebagai aktivis Islam ketimbang cendekiawan Islam.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dia terlahir di wilayah Al-Bihira, Mesir pada 1917, dan merupakan keturunan dari kalifah kedua Islam, Umar bin Khattab dan Hasan bin Ali bin Abi Thalib.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ketika masih berusia sangat muda, 10 tahun, Zainab Al-Ghazali telah memperlihatkan kepandaian dan kelancarannya dalam berbicara di depan umum. Dan sepanjang hidupnya, dia lantas membentuk dirinya sebagai orang yang berhasil belajar secara otodidak. Ambisinya yang kuat dan tekadnya yang membara, membuatnya maju untuk mencapai jenjang pendidikan tinggi, pada saat kaum wanita pada saat itu jarang yang mengenyam pendidikan karena dianggap tabu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Saat menginjak usia remaja, Zainab aktif di organisasi Persatuan Kelompok Feminis Mesir yang dibentuk oleh Huda Al-Sharawi tahun 1923. Namun tak lama dia mengundurkan diri dari organisasi itu karena bersebarangan pendapat mengenai perjuangan menuntut kesetaraan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dia tidak setuju dengan ide-ide sekular tentang gerakan pembebasan perempuan. Meski demikian, Al-Ghazali tetap menghormati Sharawi dan menyebutnya sebagai seorang wanita yang memiliki komitmen dan keimanan yang baik. Saat usianya 18 tahun (1936), dia mendirikan Asosiasi Wanita Muslim untuk mengorganisasi kegiatan-kegiatan kaum perempuan yang sesuai norma-norma Islam dan ditujukan untuk kepentingan-kepentingan Islam.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Zainab Al-Ghazali selalu berusaha mengedepankan masalah keseimbangan antara hal-hal yang bersifat religius dan modern. Ia mendapat pendidikan agama pertama kali dari cendikiawan muslim terkemuka di Al-Azhar, Syeikh Ali Mahfuz dan Mhammad al-Naggar.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Tidak lama setelah ia mendirikan Asosiasi Wanita Muslim, Al-Ghazali langsung melakukan sejumlah aksi dan mendapatkan dukungan dari Menteri Wakaf untuk mendirikan 15 mesjid dan belasan mesjid lainnya yang dibiayai oleh masyarakat umum.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Asosiasi yang didirikannya melahirkan generasi dai-dai wanita yang mempertahankan status perempuan dalam Islam serta meyakini bahwa agama mereka memberikan peluang sebesar-besarnya bagi kaum perempuan untuk memainkan peranan penting di tengah masyarakat, memiliki pekerjaan, masuk ke dunia politik dan bebas mengeluarkan pendapatnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam sebuah wawancara tahun 1981, dia mengemukakan bahwa Islam telah memberikan segalanya bagi kaum pria dan wanita. Islam memberikan kebebasan, hak ekonomi, hak politik, hak sosial, maupun hak pribadi kepada kaum Muslimah. Islam memberikan kaum wanita hak-hak tertentu di dalam keluarga yang tidak dimiliki oleh komunitas lain. Para Muslimah harus mempelajari Islam sehingga mereka mengetahui bahwa Islam telah memberikan segalanya kepadanya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Zainab juga meyakini bahwa Islam tidak pernah melarang kaum wanita untuk beraktivitas di masyarakat, bekerja mencari nafkah, masuk ke dunia politik dan mengungkapkan gagasan-gagasannya. Dia percaya Islam mengizinkan mereka untuk memiliki harta benda, berusaha pada bidang perekonomian atau apapun kegiatan demi menunjang perkembangan masyarakat Muslim. Meski begitu, dia berpendapat bahwa tugas utama seorang wanita adalah menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya dan menjadi istri setiap bagi suaminya. Jangan ada apapun yang menghalangi kaum wanita untuk tidak menjalankan tugas yang satu ini.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Al-Ghazali banyak dipengaruhi oleh pendiri Ihkwanul Muslimin, Syekh Hasan al-Banna. Ia memegang teguh pandangannya bahwa tidak ada konflik antara agama dan politik. Al-Ghazali adalah orang yang lantang mempertahankan syariah dan kerap menghadapi masalah dengan rezim Mesir pada saat itu, Presiden Gamal Abdul Naser. Dia mengalami hidup yang penuh siksaan dalam tahanan rezim itu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Penjara dan siksaan, tidak pernah mematahkan tekadnya bahkan membuatnya lebih kuat. Zainab Al-Ghazali meninggalkan warisan berupa perjuangan membela Islam dan reputasinya sebagai aktivis perempuan yang tanpa ragu melawan sekularisme dan liberalisme dan menggantikannya dengan nilai-nilai Islam. ( yus/berbagai sumber )</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/319/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/319/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/319/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=319&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/11/02/zainab-al-ghazali-tokoh-pembela-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="images/ads468x60.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Iklan 468x60</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Datang Bulan Suci Ramadhan&#8230;!</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/08/31/selamat-datang-bulan-suci-ramadhan/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/08/31/selamat-datang-bulan-suci-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Aug 2008 10:59:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=313</guid>
		<description><![CDATA[




Rasulullah SAWW berkhutbah dengan panjang lebar, menjelaskan tentang keutamaan bulan suci tersebut dan amalan-amalan yang selayaknya dilakukan. Di sini, kita akan menyimak isi khutbah tersebut sebagai bekal dan persiapan untuk memasuki bulan suci tersebut, dengan harapan semoga kita dapat menjadi tamu yang baik bagi Pengundang kita, Pemilik bulan suci nan mulia ini, Allah SWT. 
 
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;
 
Selamat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=313&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/08/kawthar-mobile-pic-9.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-314" src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/08/kawthar-mobile-pic-9.jpg?w=100&#038;h=81" alt="" width="100" height="81" /></a></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Rasulullah SAWW berkhutbah dengan panjang lebar, menjelaskan tentang keutamaan bulan suci tersebut dan amalan-amalan yang selayaknya dilakukan. Di sini, kita akan menyimak isi khutbah tersebut sebagai bekal dan persiapan untuk memasuki bulan suci tersebut, dengan harapan semoga kita dapat menjadi tamu yang baik bagi Pengundang kita, Pemilik bulan suci nan mulia ini, Allah SWT. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> <span id="more-313"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;color:#333333;" lang="IN"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;color:#333333;" lang="IN"><span style="font-family:Times New Roman;">Selamat Datang Bulan Suci Ramadhan&#8230;!</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;color:#333333;" lang="IN"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Berkaitan dengan bulan suci Ramadhan, Rasulullah SAWW berkhutbah dengan panjang lebar, menjelaskan tentang keutamaan bulan suci tersebut dan amalan-amalan yang selayaknya dilakukan. Di sini, kita akan menyimak isi khutbah tersebut sebagai bekal dan persiapan untuk memasuki bulan suci tersebut, dengan harapan semoga kita dapat menjadi tamu yang baik bagi Pengundang kita, Pemilik bulan suci nan mulia ini, Allah SWT. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dengan sanad yang mu’tabar, Syeikh Shaduq (ra) telah menukil dari Imam Ridho (as) yang telah diriwayatkan dari para leluhurnya hingga sampai ke Imam Ali (as) dimana beliau kepada anak-anaknya berkata ; “Sesungguhnya pada suatu hari Rasul berkhutbah:</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><em><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Wahai manusia, sesungguhnya bulan Allah<span>  </span>telah menyambut kalian<span>  </span>dengan keberkahan, rahmat dan ampunan. Bulan dimana sebagai paling utamanya bulan. Hari-harinya paling utamanya hari. Malam-malamnya paling utamanya malam. Waktu-waktunya paling utamanya waktu. Dialah bulan dimana padanya kalian diundang menuju perjamuan Allah. Kalian dijadikan pemilik kemuliaan Ilahi. Napas-napas kalian adalah tasbih. Tidur-tidur kalian adalah ibadah. Amal perbuatan kalian diterima di sisi Allah SWT. Doa-doa kalian dikabulkan. Maka mohonlah kalian<span>  </span>kepada Tuhan kalian dengan niat yang benar dan hati yang suci, agar Dia mensukseskan kalian untuk berpuasa dan membaca kitab-Nya. Sesungguhnya sengsaralah orang yang tercegah dari ampunan Allah pada bulan yang agung ini. Ingatlah kalian dengan rasa lapar dan dahaga kalian, yang dengannya akan mengingatkan akan lapar dan dahaga pada hari Kiamat. Bersedekahlah kalian kepada orang-orang fakir dan miskin. Hormatilah orang-orang yang lebih tua dari kalian. Dan sayangilah orang-orang yang lebih muda dari kalian. Hubungkanlah tali silaturahmi. Jagalah lisan kalian. Tundukkanlah penglihatan kalian dari perkara-perkara yang telah dilarang Allah untuk memandangnya. Dan jagalah pendengaran kalian dari perkara-perkara yang dilarang untuk mendengarnya. Berlemah-lembutlah kalian dengan anak-anak yatim hingga nanti mereka akan berlemah lembut dengan anak-anak yatim kalian. Bertaubatlah kalian kepada Allah dari dosa-dosa kalian. Angkatlah tangan kalian untuk berdoa kepada-Nya pada waktu-waktu shalat kalian, karena sesungguhnya pada waktu-waktu itu merupakan paling utamanya kesempatan Allah memandang kepada para hamba-Nya dengan rahmat. Dia akan menjawab mereka apabila mereka memohon pertolongan kepada-Nya. Dia akan memenuhi panggilan mereka apabila mereka memanggil-Nya. Dan Dia akan mengabulkan doa mereka apabila mereka berdoa.</span></span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><em><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><em><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Wahai manusia, sesungguhnya penjamin diri kalian adalah amal perbuatan kalian. Maka cegahlah (diri) kalian dengan beristigfar. Punggung kalian berat dikarenakan dosa-dosa kalian, maka ringankanlah (beban) diri kalian darinya dengan melamakan bersujud (di hadapan-Nya). Dan ketahuilah bahwasanya Allah SWT telah bersumpah dengan kemuliaan-Nya; Ia tidak akan menyiksa orang-orang yang mendirikan shalat dan bersujud dari liputan api neraka, pada hari kebangkitan di hadapan Tuhan Penguasa semesta alam.</span></span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><em><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><em><span style="color:#333333;" lang="IN">Wahai manusia, barangsiapa yang pada bulan ini memberi hidangan buka puasa kepada seorang mukimin yang berpuasa maka pahalanya di sisi Allah SWT bagaikan membebaskan seorang budak serta akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. </span></em></strong><span style="color:#333333;" lang="IN">Seseorang telah bertanya kepada beliau<strong><em>: “Apabila kami tidak mampu melakukan itu? </em></strong>Beliau menjawab<strong><em>: “Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan segenggam kurma. Jagalah diri kalian walaupun hanya dengan seteguk air, karena sesungguhnya Allah SWT akan menganugerahkan pahala kepada orang yang melakukan perbuatan mudah ini, apabila ia tidak mampu melakukan yang lebih besar darinya.</em></strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><em><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><em><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Wahai manusia, barangsiapa di antara kalian yang memperbaiki akhlak kalian pada bulan ini niscaya Allah akan mempermudah baginya ketika meniti jembatan yang pada hari itu kaki-kaki akan mudah tergelincir ketika melewati di atasnya. Barangsiapa yang mencegah keburukan darinya pada bulan ini maka akan tercegah dari murka Allah SWT pada hari pertemuan dengan-Nya. Barangsiapa yang memuliakan anak yatim pada bulan ini maka Allah SWT akan memuliakannya pada hari menemui-Nya. Barangsiapa yang menyambungkan tali silaturahmi pada bulan ini maka Allah SWT akan menyambungkan dengan rahmat-Nya, pada hari ia menemuni-Nya. Barangsiapa yang memutuskan tali silaturahmi pada bulan ini maka Allah SWT akan memutuskan rahmat-Nya darinya, pada hari ia bertemu dengan-Nya. Barangsiapa yang mentaati Allah SWT pada bulan ini dengan mendirikan shalat maka Allah SWT akan menjauhkan ia dari api neraka. Barangsiapa yang melaksanakan kewajibannya pada bulan ini maka Allah SWT akan memberikan padanya pahala orang melaksanakan tujuh puluh kewajiban di bulan-bulan lain. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku (Rasul) maka Allah SWT akan memberatkan timbangan pahalanya di hari yang diringankannya timbangan-timbangan pahala. Barangsiapa yang membaca al-Qur’an maka akan diberikan padanya pahala orang yang menyelesaikan membaca seluruh al-Qur’an pada bulan-bulan lain.</span></span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><em><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><em><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Wahai manusia, sesungguhnya pintu-pintu surga terbuka pada bulan ini, maka mohonlah kepada Allah agar tidak ditutup pintu-pintu tersebut untuk kalian. Dan sesungguhnya pintu-pintu neraka tertutup maka mohonlah kepada Allah agar tidak dibuka untuk kalian pintu-pintu tersebut. Dan sesungguhnya setan-setan terbelenggu maka mohonlah kepada Allah agar mereka tidak dapat menguasai kalian”.</span></span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><em><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Diriwayatkan pula dalam beberapa riwayat bahwa ketika telah memasuki bulan Ramadhan Rasulullah membebaskan tawanan dan memberi bantuan kepada para fakir-miskin. Semuanya sebagai bukti bahwa beliau adalah suri tauladan terbaik buat segenap umat manusia.<strong><em></em></strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><em><span style="color:#333333;" lang="IN"><span> </span></span></em></strong><strong><span style="color:#333333;" lang="IN"><span> </span></span></strong><span style="color:#333333;" lang="IN"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;" lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Mudah-mudahan nasihat-nasihat yang keluar dari mulut suci Rasulullah SAWW akan menjadi bekal bagi kita dalam menjalankan ibadah puasa dengan baik dan benar. Mudah-mudahan dengan menjalankan anjuran-anjuran tadi sewaktu kita berpisah dengan bulan suci ini, kita dalam keadaan memiliki jiwa dan kepribadian yang lebih baik hingga rasa lapar dan dahaga yang kita rasakan pada bulan Ramadhan tidaklah sia-sia. Sebagaimana yang telah disinggung dalam khutbah tadi bahwa Rasulullah memerintahkan kepada kita untuk memohon; “<em>Ya Allah, tolonglah hamba-Mu yang naif ini agar berhasil dan mampu menjalan ibadah suci ini dengan sukses sehingga mampu keluar dari belenggu hewani menjadi manusia sejati seperti bayi yang baru keluar dari rahim ibunya, yang terlahir dalam keadaan suci sesuai dengan fitrah manusia</em>”. Amiin. [<strong>ED</strong>]</span></span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/313/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/313/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/313/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/313/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/313/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=313&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/08/31/selamat-datang-bulan-suci-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/08/kawthar-mobile-pic-9.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Ma, Tuhan Berada dimana Sich?</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/08/26/ma-tuhan-berada-di-mana-sich/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/08/26/ma-tuhan-berada-di-mana-sich/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 08:15:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi Keluarga & Pendidikan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=307</guid>
		<description><![CDATA[ 
“Mama Allah ada di mana?”, kami jawab: “Ada di mana-mana”. Ketika ia mendengar jawaban saya secara spontan ia bertanya kembali: “Berarti kalau gitu Tuhan itu banyak dong, khan katanya ada di mana-mana?!”, ujarnya dengan penuh percaya diri &#8230;

 
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;



Ma, Tuhan Berada dimana Sich?
(Mengenalkan Esensi Tuhan kepada Anak)
 
 

 
“Dan Dia bersama Kalian dimanapun kalian berada” (QS al-Hadid : [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=307&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:left;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-308" src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/08/kawthar-mobile-pic-108.jpg?w=96&#038;h=96" alt="" width="96" height="96" /> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Mama Allah ada di mana?”, kami jawab: “Ada di mana-mana”. Ketika ia mendengar jawaban saya secara spontan ia bertanya kembali: “Berarti kalau gitu Tuhan itu banyak dong, khan katanya ada di mana-mana?!”, ujarnya dengan penuh percaya diri &#8230;</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#333333;"><span id="more-307"></span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></span></span></p>
<div><strong></strong></div>
<div><strong><span style="color:#333333;"></span></strong></div>
<p><strong><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;color:#333333;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ma, Tuhan Berada dimana Sich?</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">(Mengenalkan Esensi Tuhan kepada Anak)</span></span></span></strong></p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#333333;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“<em>Dan Dia bersama Kalian dimanapun kalian berada</em>” (QS al-Hadid : 4)</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“<em>Katakan (wahai Muhamad): Tuhan itu Esa.</em>” (QS al-Ikhlas : 1)</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Rasa ingin tahu (<em>hubbul istithla’</em>) adalah merupakan salah satu fitrah manusia. Artinya manusia terlahir dengan memiliki salah satu ciri khas fitrah tersebut. Rasa ingin tahu akan sekelilinganya dan segala sesuatu yang dilihatnya. Rasa ingin tahu tersebut akan mencapai puncaknya sewaktu masa kanak-kanak. Hal ini wajar dikarenakan rasa ingin tahu mereka akan hal-hal yang baru bagi mereka. Kadang orang tua merasa capek mengahadapi pertanyaan yang dilontarkan anak-anak kepadanya. Sebaiknya dan hendaknya orang tua tidak memarahi ataupun melarang anaknya untuk bertanya, karena jika demikian sama artinya dengan membunuh potensi dan kreatifitas yang terdapat pada anak-anak yang harus terus dikembangkan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Anak-anak pada usia ini kadang-kadang menanyakan hal-hal yang tidak diduga oleh orang tuanya. Lantas apa yang harus dilakukan oleh orang tua ketika menghadapi berbagai pertanyaan anak-anaknya, apakah anak harus dimarahi ataukah memberikan jawaban asal-asalan kepadanya, ataukah dibiarkan saja begitu saja? Kalau kita merujuk akal pikiran kita maka ketiga langkah tersebut semuanya adalah salah. Kita biasa melihat sebagian orang tua yang ketika anak bertanya ia langsung berkata: “Huss, jangan banyak tanya, diam kamu!”.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Orang tua hendaknya berusaha menjawab pertanyaan anak dengan bahasa yang dipahami mereka. Sebagaimana yang dijelaskan dalam ilmu psikologi pada usia kanak-kanak mereka lebih cepat memahami hal-hal yang bersifat inderawi. Berdasarkan hal ini, ketika anak kami bertanya: “Mama Allah ada di mana?”, kami jawab: “Ada di mana-mana”. Ketika ia mendengar jawaban kami secara spontan ia bertanya kembali: “Berarti kalau gitu Tuhan itu banyak dong, khan katanya ada di mana-mana?!”, ujarnya dengan penuh percaya diri. Kembali saya menjawab: “Benar Tuhan ada di mana-mana, akan tetapi tetap satu”, jelas saya. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Anak kami masih bingung ketika mendengar jawaban yang kami berikan kepadanya. Dan dari raut wajahnya masih terlihat rasa penasaran, ia masih berpikir bagaimana bisa, ‘ada di mana-mana tapi satu’. <span> </span>Sewaktu kami melihatnya dalam keadaan termenung dan masih belum puas dengan jawaban kami, dengan penuh kasih sayang dan dengan bahasa yang semudah mungkin kami kembali melontarkan pertanyaan; “Wahai putriku sayang, kamu tahu matahari ada berapa? “Ya, ada satu”, jawabnya. Kami kembali bertanya: “Apakah matahari hanya ada di tempat kamu saja, atau di tempat temanmu (yang ada di negara) lainpun ada? “Tidak, di tempat lain pun ada”. “Wahai putriku, tadi kamu katakan matahari itu hanya ada satu, tapi di manapun kamu berada iapun ada. Nah Tuhan pun seperti itu, satu tapi ada di mana-mana”.[<strong>ED</strong>] </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Catatan:</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#333333;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Tentu, kami tidak ingin mengatakan bahwa Tuhan persis seperti matahari, ini hanya untuk pendekatan saja. Dan kita menggunakan contoh (analogi) seperti ini hanya melihat dari segi ungkapan ‘satu tapi ada di mana-mana’ sehingga anak dapat memahaminya atau dalam terminologi ilmu logika disebut dengan “Pendekatan (pemahaman) hal yang non materi (Tuhan) dengan melalui hal yang materi atau inderawi” (<em>taqribul ma’qul bil mahsus</em>). Yang dalam kasus ini adalah matahari. Adapun untuk pendekatan yang lain kita bisa menggunakan analogi yang lain, seperti Allah tidak bertempat, Allah meliputi semuanya&#8230;dst. </span></span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/307/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/307/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/307/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/307/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/307/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=307&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/08/26/ma-tuhan-berada-di-mana-sich/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/08/kawthar-mobile-pic-108.jpg?w=96" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>‘Pengkhianatan terhadap Wanita’</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/07/18/%e2%80%98ayat-pengkhianatan-terhadap-wanita%e2%80%99/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/07/18/%e2%80%98ayat-pengkhianatan-terhadap-wanita%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 13:05:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=305</guid>
		<description><![CDATA[‘Pengkhianatan terhadap Wanita’
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah&#8230;”. [At-Taghabun : 14]



&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah&#8230;”. [QS at-Taghabun : 14, al-Qur’an dan terjemahnya, edisi revisi, DEPAG-RI, Mahkota Surabaya] 
Maksudnya, kadang-kadang istri atau anak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=305&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;" align="center"><strong><span style="color:#333333;" lang="IN">‘Pengkhianatan terhadap Wanita’</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;" lang="IN">“<em>Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara <strong><span style="text-decoration:underline;">istri-istrimu</span></strong> dan anak-anakmu ada yang menjadi <strong><span style="text-decoration:underline;">musuh bagimu</span></strong>, maka berhati-hatilah&#8230;</em>”. [At-Taghabun : 14]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span id="more-305"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span lang="IN"><!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><strong><span style="color:#333333;" lang="IN">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;" lang="IN">“<em>Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara <strong><span style="text-decoration:underline;">istri-istrimu</span></strong> dan anak-anakmu ada yang menjadi <strong><span style="text-decoration:underline;">musuh bagimu</span></strong>, maka berhati-hatilah&#8230;</em>”. [QS at-Taghabun : 14, al-Qur’an dan terjemahnya, edisi revisi, DEPAG-RI, Mahkota Surabaya] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="font-size:10pt;color:#333333;" lang="IN">Maksudnya, kadang-kadang istri atau anak dapat menjerumuskan suami atau ayahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama. [penjelasan dari DEPAG]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;" lang="IN">Terjemahan di atas kami kutip dari terjemahan Depag. Transliting memerlukan keahlian terkhusus dalam kedua bahasa, yaitu bahasa yang diterjemahkan dan bahasa yang menerjemahkan. Dan tidak sembarangan orang dapat menerjemahkan sebuah teks ataupun buku, apalagi berkaitan dengan kitab suci yang menjadi pegangan sebuah agama atau sekte. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;" lang="IN">Terjemahan ayat di atas telah menarik perhatian kami, sewaktu kami melihat pula teks asli ayatnya yang masih berbahasa Arab. Khususnya pada ungkapan “<strong>istri-istrimu</strong>”, dimana berdasarkan ayat di atas -tentunya masih merujuk pada terjemahan versi DEPAG- bahwa hanya istri saja yang bisa menjadi musuh dan menjerumuskan seorang suami untuk melakukukan perbuatan yang tidak dibenarkan agama. Sementara berkaitan dengan suami tidak disinggung sama sekali dalam ayat tersebut. Dengan kata lain suami tidak pernah menjadi musuh dan menjerumuskan istrinya untuk melakukan perbuatan yang tidak dibenarkan agama. Kesimpulan ini dapat kita tarik tatkala merujuk terjemahan versi DEPAG-RI di atas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;" lang="IN">Namun terdapat kesimpulan lain yang bisa kita ambil dengan mengkritisi pola penterjemahan di atas:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#333333;" lang="IN">Pertama</span></span></em><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#333333;" lang="IN">:</span></span><span style="color:#333333;" lang="IN"> Asal kata yang kemudian dalam bahasa Indonesianya diterjemahkan ‘istri-istri’ ialah ‘<strong>azwaj</strong>’ bentuk plural (jamak) dari kata ‘<strong>zauj</strong>’. Dalam ensklopedia bahasa karya Raghib al-Isfahani, beliau menjelaskan bahwa kata ‘<strong>zauj</strong>’ artinya ialah ‘<strong><span style="text-decoration:underline;">pasangan</span></strong>’ yang bisa digunakan untuk <span style="text-decoration:underline;">benda</span> seperti sepasang sepatu, untuk <span style="text-decoration:underline;">hewan </span>seperti sepasang ayam (jantan dan betina), dan untuk <span style="text-decoration:underline;">manusia</span> seperti suami dan istri. Hal inipun dikuatkan pula oleh Allamah Thabathabai mufassir kontemporer dalam karyanya tafsir al-Mizan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;" lang="IN">Dengan demikian, berdasarkan penjelasan di atas, sepatutnya terjemahan ayat di atas akan menjadi seperti ini: “<em>Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara <strong><span style="text-decoration:underline;">pasangan-pasangan kalian</span></strong> dan anak-anak kalian ada yang menjadi <strong><span style="text-decoration:underline;">musuh bagi kalian</span></strong>, maka berhati-hatilah&#8230;</em>”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;" lang="IN">Konklusi berdasarkan terjemahan di atas, sebagaimana sewaktu-waktu seorang <strong>istri</strong> akan bisa menjadi musuh dan menjerumuskan <strong>suami</strong>-nya ke dalam perbuatan yang tidak dibenarkan agama, begitu juga sebaliknya , seorang <strong>suami</strong> pun akan bisa menjadi musuh dan menjerumuskan <strong>istri</strong>-nya ke dalam perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama. Kesimpulan ini diambil karena kata ‘<strong>azwaj</strong>’ diartikan ‘<strong>pasangan-pasangan</strong>’, bukan hanya diartikan untuk istri saja. Dan sebagaimana kita tahu, pasangan dalam bahasa Indonesia pun digunakan untuk laki-laki dan perempuan (suami dan istri).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#333333;" lang="IN">Kedua</span></span></em><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#333333;" lang="IN">:</span></span><span style="color:#333333;" lang="IN"> Dalam realitanya apakah hanya istri saja yang menjadi musuh dan bisa menjerumuskan suaminya? Apakah tidak ada suami yang menjadi musuh dan menjerumuskan istrinya? Contoh gampangnya, Fir’aun suaminya Asiah. Atau para suami lainnya yang pada zaman sekarang ini telang melarang istrinya untuk mengenakan hijab (jilbab), padahal berbusana muslim merupakan perintah agama. Bisa kita lihat diberita ada suami yang menjual istrinya. Lantas apakah mereka (suami-suami tadi) bukan menjadi musuh bagi istrinya dalam ketatan kepada Allah SWT?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#333333;" lang="IN">Ketiga</span></span></em><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#333333;" lang="IN">:</span></span><span style="color:#333333;" lang="IN"> Apabila alasannya menerjemahkan kata tersebut dikarenakan kata ‘<em>azwaj</em>’ digandengkan dengan kata ganti jamak untuk laki-laki (‘<strong><em>kum</em></strong>’, dhamir <em>jamak mudzakar</em>) sehingga menjadi ‘<em>azwajikum</em>’, maka jawabnya ialah; dalam kaidah bahasa Arab (<em>nahwu</em>) ketika audiennya terdiri dari laki-laki dan perempuan maka akan menggunakan kata ganti jamak untuk laki-laki, walaupun jumlah mereka satu berbanding sepuluh. Maksudnya sepuluh perempuan dan seorang laki-laki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#333333;" lang="IN">Keempat</span></span><span style="color:#333333;" lang="IN">: Audien ayat di atas adalah orang-orang yang beriman ‘<em>Wahai orang-orang yang beriman&#8230;’ </em>dan kita ketahui bahwa orang-orang yang beriman bukan monopoli laki-laki semata. Dan kalau alasannya lagi karena seruan di atas menggunakan kata ganti <em>jamak mudzakar</em> maka jawabannya seperti jawaban pada poin ketiga di atas. Dan selain itupun, beberapa perintah Allah menggunakan seruan seperti ayat tadi, yang maksudnya seruan tersebut ditujukan untuk laki-laki dan perempuan yang beriman. Hal itu dapat kita jumpai seperti pada ayat yang berkaitan dengan perintah puasa dan ayat-ayat lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;" lang="IN">Dari sini, demi menjaga amanat dakwah ajaran Ilahi, hendaknya DEPAG merevisi kembali penerjemahan versinya. Karena jika tidak, maka hal itu selain akan berimbas kepada ‘penyesatan pemahaman’ seseorang sewaktu mengkaji al-Quran, juga bertentangan dengan ‘amanat penerjemahan’, apalagi ini berkaitan dengan kitab suci al-Quran. Ini adalah sedikit contoh dari kerancuan penerjemahan versi DEPAG-RI. Kita berharap, ke depan, semoga DEPAG lebih teliti dalam menerjemahkan al-Quran al-Karim, kitab suci kaum muslimin. [<strong>ED</strong>]</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/305/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/305/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/305/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/305/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/305/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=305&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/07/18/%e2%80%98ayat-pengkhianatan-terhadap-wanita%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8216;Hijab Prosedurer&#8217;</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/06/21/hijab-prosedurer/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/06/21/hijab-prosedurer/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 10:47:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[
Suami berperan memimpin keluarga dan tanggung jawabnya dalam menjaga kesucian istri dan keluarga merupakan masalah yang cukup serius. Suami yang tidak cemburu kepada istrinya adalah orang yang telah mengalami metamorfosa nilai-nilai insani, telah kehilangan fitrah dan akan mendapat laknat dari Allah karena mereka tidak menjaga keluarganya dari pandangan tak senonoh pria lain.
 
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;
 
Hijab Prosedurer*
Oleh: [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=286&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/06/ya-fathimah3.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-290" src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/06/ya-fathimah3.jpg?w=128&#038;h=96" alt="" width="128" height="96" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Suami berperan memimpin keluarga dan tanggung jawabnya dalam menjaga kesucian istri dan keluarga merupakan masalah yang cukup serius. Suami yang tidak cemburu kepada istrinya adalah orang yang telah mengalami metamorfosa nilai-nilai insani, telah kehilangan fitrah dan akan mendapat laknat dari Allah karena mereka tidak menjaga keluarganya dari pandangan tak senonoh pria lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong><span id="more-286"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="IN">Hijab Prosedurer</span></strong><a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Symbol;"><span>*</span></span></strong></span></a><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN">Oleh: Salimian</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Catatan penerjemah: </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">Kondisi hijab di Indonesia saat ini telah membersitkan kecemasan tentang bagaimana masa depan hijab nantinya. Hijab belum begitu dipahami sebagaimana mestinya oleh kaum muslimin khususnya kaum wanita. Pakaian yang sering dipakai adalah celana jeans ketat, kemeja gantung dan jilbab yang agak mini sehingga kalau tersibak angin, maka leher atau rambut akan jelas terlihat. Atau pakaian dan jilbab yang dikenakan sudah menutupi seluruh tubuh, tetapi masih menggambarkan bentuk tubuh dengan jelas. Pakaian model ini disebut-sebut sebagai hijab gaul atau hijab modis. Mungkin pemakai jilbab ini tidak paham mana batasan hijab yang sebenarnya atau bisa jadi ia tahu tapi tidak mau mengamalkannya dengan alasan tertentu. Walhasil, hijab model ini bisa disebut sebagai ‘hijab buruk’ (Hijab non Prosedurer) karena tidak memenuhi batasan hijab yang telah ditetapkan oleh agama Islam. Dalam makalah ini dijelaskan tentang apa yang dimaksud dengan ‘hijab buruk’, efeknya di dunia dan akhirat serta bagaimana cara menanggulangi ‘hijab buruk’. Penerjemah banyak memotong bagian yang dirasa tidak begitu perlu<span> </span>sehingga makalah ini tidak terlalu panjang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN">&#8211;0&#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">Dalam tulisan ini,<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> yang dimaksud dengan hijab adalah pakaian islami wanita yaitu sebuah hukum wajib dalam Islam yang berarti bahwa ketika wanita hadir di tengah masyarakat dan melakukan interaksi sosial dengan pria non muhrim, wanita harus menutupi tubuhnya, tidak menampakkan atau memamerkan tubuhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Mereka yang ber-‘hijab buruk’ dapat dikategorikan ke dalam beberapa kelompok:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>1.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Kelompok yang tidak mematuhi batasan hijab islami.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Sebenarnya mereka tidak menyukai ketelanjangan. Namun ketika imannya melemah dan mereka tidak bisa mencapai keinginannya lewat hijab maka mereka akan mengabaikan batasan hijab yang telah ditetapkan oleh Islam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Tentang wanita tidak berhijab atau ber-‘hijab buruk’ yang sebenarnya tengah menuju kepada syahwat, Amirul Mukminin Ali as bersabda: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">يظهر فى آخر الزمان و اقتراب القيامه و هو شرّ الازمنه نسوة متبرجات </span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">كاشفات عاريات عن الدين داخلات فى الفتن مائلات الى الشهوات مسرعات الى اللذات مستحلات للمحرّمات فى جهنّم داخلات</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">“Di akhir jaman ketika kiamat sudah dekat dan merupakan jaman yang paling buruk, akan ditemukan wanita-wanita yang berhias, tidak berhijab, tidak beragama, masuk ke dalam berbagai fitnah, mengikuti hawa nafsu dan bersegera menuju kelezatan. Mereka menganggap halal apa yang telah diharamkan oleh Allah dan mereka akan memperoleh tempat khusus di neraka Jahannam.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>2.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Mereka yang memakai pakaian yang menarik perhatian dari segi warna, model dan sebagainya. </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Sebagai pakaian islami, hijab wanita memiliki dua aspek, positif dan negatif. Yang dimaksud dengan aspek positif adalah kewajiban menutupi tubuh, sedang aspek negatif adalah keharaman menampakkan tubuh di hadapan non muhrim. Kedua aspek ini harus selalu terwujud secara bersama-sama sehingga apa yang disebut dengan hijab islami dapat terwujud. Mungkin saja aspek pertama telah terpenuhi<span> </span>tetapi aspek kedua tidak, maka dalam hal ini tidak dapat dikatakan bahwa hijab islami telah terwujud. Terkadang, kita menyaksikan wanita berhijab mengenakan pakaian sedemikian rupa yang memberikan keindahan khusus pada tubuhnya. Ketika pakaian itu menempel di tubuhnya maka keindahan tubuhnya semakin terlihat, malah seolah-olah ia tidak memakai pakaian sama sekali. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>3.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Mereka yang menampakkan perhiasan di wajah dan tangannya serta membiarkan riasannya dilihat oleh pria non mahrim.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Islam memberikan perhatian khusus tentang berhias. Sesuai dengan fitrah ilahi, manusia memang menyukai keindahan. Islam yang merupakan ajaran<span> </span>fitri cukup menghormati keindahan dan memperbolehkan wanita merias dirinya dan memakai parfum tetapi dengan syarat bahwa ia hanya boleh melakukannya di depan muhrim atau di dalam rumah untuk suaminya. Rasulullah saww bersabda: ”Apakah aku sudah memberitahukan wanita yang paling buruk kepada kalian? Wanita paling buruk adalah wanita yang berhias ketika ia berhadapan dengan non muhrim tetapi ketika berhadapan dengan suaminya, ia tidak berhias walaupun hanya riasan seadanya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Penyebab Munculnya Hijab Buruk:<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[2]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></a></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>1.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Kecenderungan batin.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Salah satu penyebab munculnya ‘hijab buruk’ adalah kecenderungan batin wanita. Sebagian wanita keluar rumah dengan memakai pakaian tidak pantas yang menunjukkan keinginan kuat mereka untuk memamerkan diri. Jika kehidupan, kepribadian dan kondisi batin mereka ini diperhatikan dengan baik, maka akan ditemukan bahwa di kedalaman jiwanya terdapat perasaan kekurangan yang terjelma dalam ‘hijab buruk’, memamerkan diri dan mencari perhatian orang lain. Kecenderungan lain seperti mencari kemudahan, merasa rendah diri—karena kasih sayang yang kurang atau malah berlebihan—dan putus asa merupakan faktor yang memperkuat kecenderungan ber-‘hijab buruk’. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>2.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Memamerkan diri dan mencari perhatian.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Memamerkan diri merupakan salah satu karakteristik khusus wanita. Sesuai hukum alam, wanita selalu ingin merampas hati pria dan menawannya dalam cinta. Pada remaja putri, karakter ini lebih mudah dilihat. Mereka berusaha memperlihatkan dirinya sebagai sosok yang menawan tetapi mereka lalai atas kepribadian hakiki, batin dan kesempurnaan ruhnya.<span> </span>Syahid Muthahhari qs menuliskan bahwa kemuliaan wanita menuntutnya untuk bersikap tenang ketika ia keluar rumah, tidak memakai pakaian yang menarik perhatian dan merangsang, yang dapat menyebabkan pria mengincarnya. Dengan terhijabnya wanita sebagaimana<span> </span>yang dianjurkan oleh Islam, kemuliaan dan kehormatan wanita akan bertambah sebab ia terjaga dari gangguan orang lain.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>3.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Serangan kebudayaan.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Para penyerang kebudayaan Islam adalah musuh dari luar yang cukup berpengaruh dalam menyebarkan kebudayaan rendah Barat dalam masyarakat. Sebagian orang merasa sangat minder di hadapan kemajuan materi dan industri Barat. Ketika slogan “Dari kepala sampai kuku harus seperti Eropa” disebarkan, mereka berusaha keras meniru Barat baik dalam gerakan, perbuatan, pakaian dan dandanan lahiriah agar mereka tidak dinilai ketinggalan dari karavan peradaban Barat. Bahkan cara berjalannya pun seperti orang-orang Barat. Selain kelompok ini, terdapat pula kelompok lain yang dengan sekuat tenaga berusaha menghilangkan nilai-nilai Islami dan aturan-aturan Ilahi seperti hijab. Dengan memproduksi film-film porno, poster-poster dan foto-foto telanjang, mempublikasikan tulisan-tulisan tentang pakaian modern, berbagai model rambut, baju dan celana ketat dan lain sebagainya, mereka berusaha menggeser metode kehidupan islami dan menggantikannya dengan kebudayaan asing. Saat itulah, yang dianggap sebagai kemajuan wanita adalah ketika wanita menonjolkan dan memamerkan keindahan tubuhnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>4.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Minus pengetahuan tentang pentingnya hijab.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Salah satu penyebab ‘hijab buruk’ dalam sebagian keluarga muslim adalah minusnya pengetahuan tentang ahkam (hukum syari’at), batasan hijab dan pakaian islami, masalah muhrim dan non muhrim, pentingnya hijab dan bahaya tidak berhijab. Anda bisa melihat banyak wanita muslim dan ahli shalat yang berjalan di gang-gang tanpa menggunakan kaos kaki. Sepertinya mereka menyangka bahwa sebagaimana tidak wajib menutupi kaki sampai pergelangan kaki di dalam shalat, maka tidak wajib pula menutupinya dari pandangan non muhrim. Rahbar Mulia Revolusi (Sayid Ali Khamene’i) menyatakan:”Banyak sekali wanita muslimah dan mutadayyin (agamis) yang revolusioner, tetapi masalah hijab bagi mereka masih belum jelas. Meski mereka tetap memperhatikan batasan hijab tetapi sesungguhnya di dalam benak mereka, hijab masih merupakan suatu masalah yang membutuhkan jawaban…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>5.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Rendahnya kecemburuan para suami.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dari sisi bahwa suami merupakan mishdaq dari ayat al-Qur’an yang berbunyi </span><strong><span style="font-size:14pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">الرّجال قوّامون على النّساء</span></strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span><span lang="IN">maka suami memiliki wewenang dan hak dalam kehidupan istri. Suami berperan memimpin keluarga dan tanggung jawabnya dalam menjaga kesucian istri dan keluarga merupakan masalah yang cukup serius.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Suami yang tidak cemburu kepada istrinya adalah orang yang telah mengalami metamorfosa nilai-nilai insani, telah kehilangan fitrah dan akan mendapat laknat dari Allah karena mereka tidak menjaga keluarganya dari pandangan tak senonoh pria lain. Rasulullah saww bersabda: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:5.05pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">المراة اذا خرجت من باب دارها متزينةً متعطرة الزّوج بذلك راض يبنى لزوجها</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">بكل قدم بيت فى النار</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:0.25in;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span dir="ltr" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">“Istri yang ke luar rumah dengan berhias dan memakai parfum, sedang suaminya ridha akan hal itu, maka setiap langkah sang istri akan disediakan sebuah rumah dari api untuk suaminya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Efek Negatif Hijab Buruk</span></strong><a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="IN"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">‘Hijab buruk’ memiliki berbagai efek negatif di dunia dan di akhirat yang akan dijelaskan sebagiannya di sini. Efek negatifnya berkaitan dengan dimensi pribadi, sosial dan keluarga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>1.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Dimensi pribadi:</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>a.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Kerusakan Jiwa.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Salah satu efek negatif dari ‘hijab buruk’ adalah kerusakan jiwa. Pakaian buruk yang dikenakan sebagian wanita telah menciptakan tekanan luar biasa pada jiwa dan ruh masyarakat. Berkaitan dengan hal ini, Ustad Syahid Muthahhari berkata: ”Ruh manusia sangat mudah dipengaruhi. Salah jika kita mengira bahwa ruh hanya dipengaruhi oleh hal-hal tertentu dan kemudian ruh menjadi tenang. Sebagaimana pemburu harta dan kedudukan tidak akan pernah merasa puas, demikian pula dalam hubungan seksual. Tidak ada pria yang merasa puas meskipun telah memiliki wanita-wanita berwajah cantik dan tidak akan ada wanita yang merasa puas meskipun telah<span> </span>menarik perhatian para pria dan merebut hatinya. Pada akhirnya, ia akan selalu merasa terbatas karena<span> </span>keinginannya yang tidak tercapai dan<span> </span>hal ini akan menjelma menjadi penyakit jiwa. Mengapa di dunia Barat penyakit jiwa begitu banyak? Penyebabnya adalah banyaknya rangsangan seksual yang terdapat di berbagai media massa seperti majalah, bioskop, teater, atau dalam pertemuan resmi dan tidak resmi…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>b.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Penurunan akademis.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Salah satu akibat dari ‘hijab buruk’ adalah penurunan akademis di kalangan pelajar atau mahasiswa. ‘Hijab buruk’ membuat pikiran mahasisiwi terpecah karena ia harus mengenali berbagai mode, riasan rambut dan mengikuti berbagai model yang berbeda. Ia akan lebih banyak menggunakan waktunya untuk mempercantik kepala, wajah dan pakaiannya sebagai ganti membahas pelajaran. Di sisi lain, mahasiswa yang sedang menghadapi krisis seksual dalam dirinya, mungkin saja akan menelantarkan pelajarannya karena menyaksikan wanita-wanita yang berdandan. Setelah melihat sang wanita, ia akan tenggelam dalam lamunannya dan hal ini sungguh berbahaya karena setelah pertemuan itu, maka surat menyurat dan hubungan akan segera dimulai di antara mereka. Penelitian ahli tarbiyah (pendidikan) menunjukkan bahwa dalam sekolah-sekolah yang di dalamnya pria dan wanita belajar bersama, terlihat kemandekan kerja, ketertinggalan dan rasa tanggung jawab yang rendah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>c.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Pelecehan seksual. </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Salah satu akibat ‘hijab buruk’ adalah pelecehan seksual yang dilakukan oleh pria-pria nakal. Pria nakal yang menyaksikan dandanan wanita yang aduhai akan mengikuti sang wanita dan mengganggunya. Banyak remaja putri yang telah dilecehkan secara seksual dan mereka harus menanggung akibatnya seumur hidup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>d.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Hancurnya nilai wanita.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">‘Hijab buruk’ merupakan pintu gerbang kebebabasan dan sarana pendukung bagi pemuasan kelezatan syahwat secara ilegal. Jika wanita tidak berhijab, maka setiap perhatian yang ditujukan kepadanya akan berbau syahwat dan nilai-nilai hakiki dirinya akan dilupakan. Wanita yang memperlihatkan tubuhnya pada semua orang, pada hakikatnya, ingin memperoleh sebuah kedudukan sosial bagi dirinya dalam masyarakat dengan bersandarkan pada kewanitaannya, bukan pada kemanusiaannya. Ia telah mengumumkan bahwa sesuatu yang penting bagi dirinya adalah kewanitaannya bukan kemanusiaannya, bukan pikiran, kemampuan atau efesiensi kerjanya. Jika wanita memiliki karakter maknawi dan keindahan batin yang tinggi maka sebanyak itu pulalah ia melihat bahwa dirinya tidak perlu memamerkan keindahan fisik dan jasmaninya atau merias dan mempercantik dirinya. Dan sebagaimana hijab merupakan simbol kesucian dan karakter wanita muslim, maka wanita seperti ini tidak akan merasakan kekurangan dalam hijabnya. Ia tidak memandang bahwa nilai dirinya terletak pada riasan, pameran tubuh, pakaian warna-warni dan gerakan-gerakan sensual tertentu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>e.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Sarana terciptanya akhlak buruk.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">‘Hijab buruk’ merupakan salah satu sumber terciptanya akhlak buruk dalam jiwa seseorang. Pakaian yang buruk akan menghasilkan akhlak yang buruk dan pemujaan mode akan menghasilkan pemujaan hawa nafsu pula. Banyak orang menderita penyakit sombong, riya dan ujub karena pakaian dan banyak pula orang yang akhirnya terperangkap dalam maksiat karena begitu memuja mode. Ketika menyebutkan ciri-ciri pakaian mukmin yang baik, Imam Shadiq as mencegah kaum mukmin memakai pakaian yang dapat menimbulkan akhlak buruk seperti ujub, riya dan takabbur. Beliau bersabda: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><strong><span style="font-size:14pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">و لا يحملك على العجب و الريا و التزيّن و التفاخر و الخيلاء فانها من آفات الدّين و مورثه القسوة فى لقلب</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Janganlah berpakaian dengan pakaian yang membuatmu ternoda dosa seperti takabbur, riya, sombong karena ini semua merupakan bencana bagi agamamu dan membuat hati menjadi kasar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>2.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Dimensi sosial:</span></strong></span><a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="IN"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>a.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Menimbulkan pandangan tak senonoh.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">‘Hijab buruk’ mampu menyalakan api nafsu dalam jiwa pria sehingga pria yang akidah dan iradahnya lemah akan memandang para wanita dengan tidak senonoh. Perbuatan ini adalah sebuah penyakit mematikan dan merupakan mukaddimah berbagai dosa lainnya. Dengan pandangan seperti itu, sebagian pria lalu menipu perawan lugu serta merampas kesucian dan kehormatan mereka dengan berbagai jebakan dan tipuan. Rasulullah saww telah bersabda: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="IN"><span> </span></span></strong><strong><span style="font-size:14pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">و من ملأعينيه من امرأة حراماً حشاهمااللّه يوم القيمة بمسامير من نار و حشاهما ناراً حتى يقضى بين الناس لم يومر به الى النار</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Barangsiapa yang memenuhi matanya dengan hal-hal haram, maka pada hari kiamat, Allah akan menancapkan dua paku besi pada matanya dan mereka akan dibakar oleh api neraka sampai hisab selesai dilakukan. Setelah itu ia akan dicampakkan dalam api neraka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>b.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Menghilangkan ketenangan para pemuda.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Manusia selalu berusaha menjaga kesehatan jasmani dan rohaninya. Namun sangat disayangkan, hijab buruk sebagian wanita telah menimbulkan penyakit jiwa bagi para pemuda. ‘Hijab buruk’ mampu membakar para pemuda dalam api nafsu dan syahwat, merampas ketenangan mereka, membayangi akal, iradah dan pikiran mereka dalam ketamakan syahwat yang tidak akan pernah bisa dipuaskan. Insting seksual pemuda akan bangkit lebih dini dan ini membuat mereka terperangkap dalam berbagai masalah dan kehancuran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>c.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Penyebab timbulnya berbagai peristiwa berbahaya.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">‘Hijab buruk’ menyebabkan peningkatan kejahatan dalam masyarakat. Tidak bisa dipungkiri, ‘hijab buruk’ dan memamerkan dirilah yang menjadi penyebab dan awal dari sebagian besar peristiwa mematikan, perkelahian pribadi dan keluarga, pembunuhan dan kejahatan lainnya. Ketika di gang-gang, jalanan atau dalam pesta pernikahan yang di dalamnya terjadi <em>ikhtikath</em> (kerumunan), maka pandangan para pria akan jatuh pada wanita tidak berhijab atau yang berhijab buruk. Rambut dan wajah wanita yang terias, sikap dan prilakunya, cara berjalan dan berbicaranya membuat pandangan pria semakin tajam dan lama. Hasilnya, pandangan inilah yang pada akhirnya akan menimbulkan berbagai peristiwa mematikan, kecelakaan, perkelahian dan kejahatan yang tidak terhitung banyaknya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>d.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Penurunan aktivitas sosial.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">‘Hijab buruk’ membuat efesiensi kerja pria menjadi stagnan dan menjadi penghalang aktivitas wanita dalam masyarakat. Wanita yang pikirannya hanya disibukkan oleh tata rias diri tidak akan memiliki konsentrasi pikiran yang tinggi dalam pekerjaan. Padahal kehadiran hati dan konsentrasi panca indra adalah hal yang penting untuk melakukan pekerjaan dan meraih hasil yang efektif. Wanita ber-‘hijab buruk’ juga telah memaksa para pria—yang seharusnya beraktivitas dengan tenang—untuk<span> </span>memandang mereka dengan tidak senonoh. Akibatnya masalah seksual masuk dalam pikiran para pria sehingga akhirnya<span> </span>aktivitas masyarakat menjadi lemah karena pekerjaan dilakukan dengan tidak sempurna.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:-0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>3.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Dimensi keluarga:</span></strong></span><a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="IN"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>a.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Hilangnya minat menikah.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam masyarakat yang di dalamnya tidak terdapat batasan dalam berpakaian dan pada gilirannya berakhir dengan kebebasan seksual, maka kelezatan seksual yang merupakan salah faktor pendorong untuk menikah akan dengan mudah didapat. Hal ini menyebabkan berkurangnya minat dan kecenderungan para pemuda untuk menikah. Sebagian kelezatan seksual, baik melalui indra pendengar, penglihat dan bahkan peraba yang seharusnya diperoleh dalam rumah tangga melalui sebuah prnikahan telah mudah dan gratis didapat melalui hijab buruk. Dalam hal ini, Syahid Muthahhari berkata: “…inilah penyebab mengapa para pemuda di zaman ini menghindari pernikahan dan setiap rencana menikah diajukan kepada mereka, maka mereka selalu menolaknya dan berkata: ‘Terlalu dini, kami masih kecil’ atau dengan alasan lainnya. Padahal di zaman dahulu, menikah merupakan salah satu impian manis para pemuda…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>b.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Meningkatnya angka perceraian.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">‘Hijab buruk’ adalah ancaman kehidupan keluarga. Dalam masyarakat yang didominasi oleh hijab buruk, maka setiap pasangan suami dan istri akan selalu berada dalam kondisi membanding-bandingkan. Membandingkan apa yang dimiliki dengan apa yang tidak dimiliki. Perbandingan inilah yang akan memperbesar api nafsu dalam diri istri dan suami. Ketika istri—yang telah bertahun-tahun hidup dengan suami, bertarung dalam kesulitan hidup, selalu berbagi dalam suka dan duka—pelan-pelan mulai kehilangan keindahan wajah dan tubuhnya, tiba-tiba saja wanita lebih muda ber-‘hijab buruk’ muncul dan memberikan kesempatan kepada suaminya untuk membanding-bandingkan sang istri dengannya. Dan inilah awal kehancuran pondasi rumah tangga. Statistik menunjukkan bahwa seiring dengan meningkatnya hijab buruk di dunia, perceraian dan perpisahan dalam kehidupan suami istri juga semakin meningkat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Efek Negatif ‘Hijab Buruk’ di Akhirat</span></strong><span lang="IN">:<a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Allah dalam al-Qur’anul Karim berfirman: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><strong><span style="font-size:14pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">و ان ليس للانسان الا ما سعى و انّ سعيه سوف يرى</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="IN">Manusia hanya akan memperoleh apa yang diusahakannya dan ia akan segera melihat hasil usahanya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Usaha berarti keseriusan dalam bekerja. Setiap orang akan memperoleh hasil melalui usahanya dan hasil usaha seseorang tidak bisa diberikan kepada orang lain. Demikian juga, kerugian seseorang tidak dapat diberikan kepada orang lain. Jika seseorang memakan makanan maka ia yang akan merasa kenyang, bukan orang lain. Demikian juga halnya dengan akhirat. Sebagian wanita telah tertipu oleh setan. Seharusnya mereka berusaha menyiapkan bekal untuk hari kiamat tetapi mereka malah lalai dan merusak imannya meskipun mereka sudah berkali-kali membaca ayat-ayat hijab atau mendengar hadis Mi’raj. Setan yang merupakan musuh bebuyutan manusia selalu berusaha menipu dan menaklukkan manusia. Ia selalu mencari sarana yang paling baik untuk menipu manusia dan tidak bisa dipungkiri, ‘hijab buruk’ wanita adalah salah satu perangkap dan senjata<span> </span>setan yang paling ampuh sehingga ia mampu menyeret wanita dari surga yang tinggi ke neraka Jahannam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Salah satu efek negatif ‘hijab buruk’ adalah azab akhirat sebab ‘hijab buruk’ seperti menampakkan rambut, berhias di depan non muhrim, menampakkan bentuk tubuh dengan pakaian tipis dan ketat atau memakai model dan warna khusus yang merangsang, merupakan contoh dosa yang telah dijanjikan azabnya. Apalagi ‘hijab buruk’ merupakan salah satu dosa yang dapat menimbulkan berbagai dosa lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Beberapa contoh azab akhirat bagi wanita berhijab buruk:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>1.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Api neraka.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Rasulullah saww telah menyatakan bahwa wanita yang menampakkan perhiasannya kepada non muhrim pantas mendapatkan api neraka. Dalam hadis disebutkan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">نهى النّبى ان تتزيّن المرأة لغير زوجها، فان  فعلت كان حقاً على اللّه ان يحرقها</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Rasulullah saww melarang wanita berdandan untuk selain suaminya. Jika ia berbuat demikian, layak bagi Allah untuk membakarnya dalam api neraka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>2.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Digantung dengan rambutnya sendiri.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Mengenai hal yang disaksikan di malam Mi’raj, Rasulullah saww bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">و رأيت امرأة معلقه بشعرهايغلى دماغ رأسها</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span dir="ltr" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dan aku melihat wanita yang digantung dengan rambutnya sendiri sedang otak dan kepalanya mendidih. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Kemudian beliau menjelaskan tentang prilaku yang menyebabkan siksaan ini:<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">اما المعلقة بشعرها فانها كانت لا تغطى شعرها من الرجال</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Wanita yang digantung dengan rambutnya sendiri adalah wanita yang tidak menutupi rambutnya dari non muhrim. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>3.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Merobek-robek daging tubuhnya sendiri.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Siksaan lain bagi wanita ber-‘hijab buruk’ di hari kiamat adalah mereka akan merobek-robek sendiri daging tubuhnya sebagaimana yang diterangkan dalam lanjutan hadis di atas:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">و رأيت امرأة تقطع لحم جسدها من مقدمها و مؤخرها بالمقاريض من النار</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dan aku melihat wanita yang merobek-robek daging tubuhnya dari depan dan belakang dengan menggunakan gunting yang terbuat dari api neraka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">و اما التى كانت تقرض لحمها بالمقاريض فانها كانت تعرض نفسها على الرجال</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Sedangkan wanita yang merobek-robek daging tubuhnya dengan gunting yang terbuat dari api neraka adalah wanita yang mempertontonkan dirinya di hadapan non muhrim dan menyerahkan dirinya kepada mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>4.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Memakan daging tubuhnya sendiri.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam lanjutan hadis di atas, disebutkan: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">و رأيت امرأة تأكل لحم جسدها و النار توقد من تحتها</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dan aku melihat wanita yang memakan daging tubuhnya sendiri dan api menyala dari bagian bawah tubuhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><strong><span style="font-size:14pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">واما التى تأكل لحم جسدها فانها كانت تزين بدنها للناس</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dan wanita yang memakan daging tubuhnya sendiri adalah wanita yang menghiasi tubuhnya untuk orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Pencegahan dan Pengobatan ‘Hijab Buruk’</span></strong><a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span lang="IN"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span lang="IN">Setelah membahas efek negatif ‘hijab buruk’, kami akan membahas tentang pencegahan dan pengobatan ‘hijab buruk’ dari sudut pandang agama. Metode pencegahan dan pengobatan ‘hijab buruk’ dibagi dalam dua bagian umum berupa metode pengetahuan dan metode prilaku. Maksud dari metode pengetahuan adalah metode yang berusaha menciptakan perubahan dalam sisi pengetahuan dan pandangan individu, sedangkan metode prilaku adalah metode yang berusaha menciptakan perubahan dalam prilaku individu. Dengan kedua metode ini, diharapkan ‘hijab buruk’ dapat dicegah dan diobati. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Pencegahan Hijab Buruk</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Pencegahan lebih utama dari pengobatan demikian juga dalam ‘hijab buruk’, hendaklah kita lebih memperhatikan pencegahannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>1.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Metode Pengetahuan</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Untuk mencegah ‘hijab buruk’, sumber-sumber Islam telah menunjukkan beberapa jalan yang dapat disajikan dalam bentuk tarbiat islami:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>a.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Menciptakan sarana dan pra sarana</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Untuk mencegah ‘hijab buruk’, harus diberikan pengetahuan yang tepat tentang hijab kepada anak-anak dan para pelajar. Karena hijab menjadi sebuah kewajiban bagi anak perempuan (setelah berusia genap 9 tahun) maka sebelumnya, budaya berhijab dan berpakaian islami harus pelan-pelan ditanamkan kepada anak-anak perempuan. Pada usia selanjutnya, sekolah yang merupakan pusat pendidikan dan tazkiah ruh (penyucian jiwa) harus memberikan pelajaran tentang hijab dan menjelaskan falsafahnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>b.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Memberikan pandangan yang benar.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam metode ini, murabbi dapat mengubah pandangan individu dengan memberikan<span> </span>pengetahuan yang luas tentang hakikat ‘hijab buruk’ kepadanya. ‘Hijab buruk’ adalah sebuah perbuatan menentang perintah ilahi sebab dalam al-Qur’anul Karim Allah swt telah berfirman: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">وليضربن بخمرهن على جيوبهّن</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Allah swt memerintahkan para wanita untuk menutupi dada dan lehernya dengan kerudung agar rambut, leher dan bentuk tubuhnya tidak kelihatan. Dengan memberikan pandangan yang benar tentang efek positif hijab yang mampu mencegah kerusakan jiwa, jasmani, akhlak, keluarga dan sosial, tujuan mulia dan falsafah wajibnya hijab (mensucikan diri, terciptanya iffah di dalam masyarakat<span> </span>dan mencegah kefasadan) murabbi dapat mengubah pandangan dan pengetahuan mutarabbi tentang hijab.<span> </span>Bagi mutarabbi akan menjadi jelas bahwa batasan hijab wanita dalam Islam adalah menutupi rambut dan seluruh tubuh (termasuk kaki) di hadapan non muhrim, kecuali wajah dan pergelangan tangan ke bawah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>c.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Memperkuat iman.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam metode ini, iman harus diperkuat untuk mencegah ‘hijab buruk’ sehingga tercipta perasaan memiliki tanggung jawab dan taklif dalam diri individu. Iman mampu mewarnai seluruh wujud manusia. Jika pelita iman dalam hati seorang wanita menyala terang, cahaya iman itu akan terlihat dalam perbuatannya. Dengan hijab yang digunakan, ia telah menunjukkan bahwa di dalam hatinya terdapat iman yang cahayanya terpancar ke luar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>d.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Memperkenalkan tokoh<span> </span>panutan.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam metode ini, kita memberikan sosok panutan kepada individu sehingga ia akan terdorong untuk melakukan perbuatan yang diinginkan. Dari sisi kejiwaan, manusia selalu mencari sosok untuk dijadikan sebagai panutan dalam amal dan perbuatannya. Sayyidah Fathimah Zahra as adalah wanita terbaik di seluruh alam dan yang paling menjunjung tinggi hijab. Kehidupan beliau yang penuh dengan cahaya maknawiat telah menunjukkan bahwa putri Nabi ini sangat memperhatikan masalah hijab dan sangat teliti dalam melaksanakannya. Bahkan ketika beliau harus turun ke jalan untuk membela hak wilayat suaminya, beliau tidak mengurangi hijab dan pakaiannya sedikit pun. Menjelang akhir usianya pun, beliau masih memikirkan sebuah cara agar kelak tubuh sucinya yang tidak bernyawa lagi tertutup dengan rapi di dalam keranda supaya bentuk tubuhnya tidak terlihat oleh orang lain!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>2.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Metode Prilaku.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam sumber-sumber Islam, selain metode pengetahuan juga disebutkan tentang metode prilaku untuk mencegah hijab buruk yang akan kami jelaskan di sini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>a.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Mengingatkan tentang hari kiamat.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Ma’ad adalah salah satu dasar dari agama Islam dan sebagai konsekwensinya manusia harus bertanggung jawab atas segala perbuatannya di akhirat. Maka seorang muslimah harus berhati-hati dalam segala prilakunya, menjaga hijabnya dengan baik di depan non muhrim dan menjalankan kewajibannya sebagai hamba Allah agar ia tidak malu di hari kiamat kelak dan tidak mengalami azab neraka yang menyakitkan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>b.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Menyadarkan bahwa hijab adalah sebuah kewajiban.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam Islam, hijab telah dikenalkan sebagai sebuah<span> </span>kewajiban (faridhah) dan dharurat din (dharurat din yakni sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari agama dan menyakininya adalah sebuah kelaziman dari ushuluddin serta mengingkarinya akan dihukumi kafir). Individu harus disadarkan bahwa hijab buruk berarti menginjak-injak kewajiban yang telah ditetapkan<span> </span>Allah. Seandainya tidak ada hikmat atau maslahat apa pun dalam hijab wanita, maka firman Allah sudah cukup menjadi alasan bagi para wanita beriman untuk melaksanakan kewajiban berhijab ini dengan baik dan benar.<span> </span>Wanita yang beriman tidak akan rela menunjukkan sehelai rambutnya atau menunjukkan anggota tubuhnya kepada non muhrim karena itu berarti ia telah menentang perintah Allah swt. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IN">Pengobatan Hijab Buruk</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Jika dengan metode pengetahuan yang telah disebutkan tidak berpengaruh dalam mencegah ‘hijab buruk’, maka harus dilakukan pengobatan terhadap fenomena ini. Dalam proses ini, pengobatan dapat dilakukan melalui metode pengetahuan, kasih sayang dan prilaku, sebagaimana yang akan kami jelaskan di bawah ini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>1.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Metode pengetahuan</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Yaitu metode mengobati ‘hijab buruk’ dengan menciptakan perubahan dalam pengetahuan dan pandangan individu serta memberikan pandangan yang benar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Memperkuat kemampuan tafakkur, berpikir dan beranalisa logis di kalangan wanita<span> </span>merupakan salah satu jalan untuk mengobati ‘hijab buruk’. Wanita yang melalui tafakkkur dan ta’aqqul mampu menjawab pertanyaan batinnya “Mengapa aku harus berhijab?” maka di dalam batinnya akan tercipta hijab agamis. Tafakkur ini akan memberikan nilai tersendiri dalam perbuatannya dan akan menjamin keberlangsungan amal perbuatannya. Ketika wanita memahami efek positif dan berkah dari hijab maka ia tidak akan merasa berat menjaga hijabnya dan tidak akan merasa kebebasannya tersalib. Bahkan ia akan dengan senang hati melaksanakannya dan tidak memperhatikan godaan setan sedikitpun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>2.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Metode kasih sayang.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Maksudnya adalah metode menarik perasaan individu sebagai salah satu metode pengobatan, seperti menasehati. Nasehat adalah ucapan yang dapat membuat hati lembut, menarik perasaan dan membuat manusia berhenti dari perbuatan buruk. Oleh karena itu, metode menasehati sebenarnya adalah menghilangkan kekerasan hati dan melembutkan hati agar individu menjauhi perbuatan buruk dan berpaling pada keindahan dan kebaikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Ketika menasehati kaum perempuan, Imam Ali as bersabda: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.25in;text-align:right;" align="right"><strong><span style="font-size:14pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">و اياك ان تتزين للناس و تبارزالله بالمعاصى</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Hindarilah menghias diri untuk orang lain dan janganlah berperang dengan Allah melalui dosa-dosa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>3.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Metode prilaku.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><span lang="IN">Metode ini terdiri dari:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>a.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Metode menanam dan memanen.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Adalah kewajiban orang tua untuk memperhatikan anak-anak perempuannya karena semua kesempurnaan yang dimiliki sang anak. Orang tua harus mendorong anak-anak perempuannya agar mereka memiliki sifat-sifat mulia dan memakai hijab islami. Ketika anak menunjukkan sikap positif, orang tua<span> </span>boleh memberikan hadiah indah yang sesuai dengan kebutuhan logis dan syar’i anak. Dengan demikian anak akan selalu terdorong untuk terus memakai hijab islami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><span lang="IN"><span>b.<span> </span></span></span></strong><!--[endif]--><span dir="ltr"><strong><span lang="IN">Metode mengubah kondisi. </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam riwayat Islam, anak perempuan digambarkan sebagai bunga. Bunga lembut dan dapat diserang hama sehingga membutuhkan perawatan tukang kebun, anak perempuan juga memiliki ruh yang lembut. Karena orang tua adalah pemegang amanah Allah, maka orang tua harus sekuat tenaga menjaga bunga-bunga kehidupannya. Jika orang tua merasa bahwa lingkungan sekolah, teman-teman anaknya tidak memiliki iffah, tidak memiliki malu atau tidak berhijab, atau bahkan mereka menjadi pemicu kefasadan sang anak, maka orang tua harus mengganti sekolah sang anak. Orang tua harus mencarikan teman yang berhijab baik, bertakwa dan<span> </span>memiliki akhlak yang baik untuk anaknya.[islamalternatif]</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Symbol;"><span>*</span></span></span></a> Diterjemahkan oleh Novita Tri Andari</p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> http://salimian.com/index2.php?key_m=24</p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <span style="font-size:10pt;"><a href="http://www.salimian.com/index4.php?key=154"><span style="color:#000000;">http://www.salimian.com/index4.php?key=154</span></a></span></p>
<p class="MsoFootnoteText">
<p class="MsoFootnoteText">
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> http://www.salimian.com/index4.php?key=152</p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> http://salimian.com/index4.php?key=151</p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <a href="http://salimian.com/index4.php?key=150"><span style="color:#000000;">http://salimian.com/index4.php?key=150</span></a></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> http://salimian.com/index4.php?key=149</p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:10pt;"> Diterjemahkan dari <a href="http://salimian.com/index4.php?key=155"><span style="color:#000000;">http://salimian.com/index4.php?key=155</span></a></span></p>
<p class="MsoFootnoteText">
</div>
</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/286/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/286/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/286/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=286&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/06/21/hijab-prosedurer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/06/ya-fathimah3.jpg?w=128" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Arti Berbagai Nama dan Julukan Sayidah Fathimah Zahra AS</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/03/03/arti-berbagai-nama-dan-julukan-sayidah-fathimah-zahra-as/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/03/03/arti-berbagai-nama-dan-julukan-sayidah-fathimah-zahra-as/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Mar 2008 11:38:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2008/03/03/arti-berbagai-nama-dan-julukan-sayidah-fathimah-zahra-as/</guid>
		<description><![CDATA[
Imam Shadiq AS bersabda: “Beliau dinamakan Fathimah karena tidak ada keburukan dan kejahatan pada dirinya. Apabila tidak ada Ali AS, maka sampai hari Kiamat tidak akan ada seorangpun yang sepadan dengannya (untuk menjadi pasangannya)”.
Para Imam Ahlu-Bayt AS sangat memuliakan pemilik nama Fathimah tersebut. Salah satu pengikut Imam Jakfar as-Shadiq AS telah dikaruniai seorang anak perempuan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=266&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:14.4pt;"><a title="035.jpg" href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/03/035.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/03/035.thumbnail.jpg" alt="035.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Imam Shadiq AS bersabda: “Beliau dinamakan Fathimah karena tidak ada keburukan dan kejahatan pada dirinya. Apabila tidak ada Ali AS, maka sampai hari Kiamat tidak akan ada seorangpun yang sepadan dengannya (untuk menjadi pasangannya)”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Para Imam Ahlu-Bayt AS sangat memuliakan pemilik nama Fathimah tersebut. Salah satu pengikut Imam Jakfar as-Shadiq AS telah dikaruniai seorang anak perempuan, kemudian beliau bertanya kepadanya: “Engkau telah memberikan nama apa kepadanya?”. Ia menjawab: “Fathimah”. Mendengar itu Imam AS bersabda: “Fathimah, salam sejahtera atas Fathimah. Karena engkau telah menamainya Fathimah maka hati-hatilah. Jangan sampai engkau memukulnya, mengucapkan perkataan buruk kepadanya, dan muliakanlah ia.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="font-family:Arial;color:#333333;"> </span><span id="more-266"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="font-family:Arial;color:#333333;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;color:#333333;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;color:#333333;">Arti Berbagai Nama dan Julukan Sayidah Fathimah Zahra AS<span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Wanita mulia nan agung yang menjadi kekasih Allah dan Rasul-Nya itu bernama Fathimah. Keagungannya telah dinyatakan oleh manusia termulia dan makhluk Allah teragung, Muhammad SAW yang segala pernyataannya tidak mungkin salah. Pada kesempatan ini, kita akan melihat beberapa sebutan mulia<span> </span>bagi wanita agung tersebut, disamping banyak nama dan sebutan lagi yang disematkan pada pribadi kekasih Allah dan Rasul-nya itu. Di antaranya ialah;</span> <strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;">A-<strong><span>Fathimah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Syaikh Shaduq dalam kitab “I’lall Asy-Syara’i” dan Allamah al-Majlisi dalam kitab “Bihar al-Anwar” telah menukil riwayat dari Imam Jakfar bin Muhammad as-Shadiq AS, bahwasanya beliau bersabda: “Sewaktu Sayidah Fathimah Zahra AS terlahir, Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk turun ke bumi dan memberitahukan nama ini kepada Rasulullah. Maka Rasulullah SAW pun memberi nama Fathimah kepadanya.” (Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 13)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Dari segi bahasa ’<em>fathama</em>’ berarti “anak yang disapih dari susuan”. Dalam sebuah riwayat dari Imam Muhammad bin Ali al-Baqir AS telah<span> </span>dinyatakan bahwa, setelah kelahiran Fathimah Zahra AS, Allah SWT berfirman kepadanya: “Sesungguhnya aku telah menyapihmu dengan ilmu, dan menyapihmu dari kototan (<em>Inni fathamtuki bil ilmi wa fathamtuki a’nith thomats</em>)”. Hal ini seperti seorang bayi sewaktu disapih dari susu maka ia memerlukan makanan lain sebagai penggantinya. Dan Sayidah Fathimah Zahra AS setelah disapih, sedang makanan pertamanya berupa ilmu.” (Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 13)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Imam Ali bin Musa ar-Ridho AS telah meriwayatkan hadis dari ayahnya, dimana ayahnya telah meriwayatkan dari para leluhurnya hingga sampai ke Rasulullah SAW, bahwasanya beliau bersabda: “Wahai Fathimah, tahukan engkau kenapa dinamakan Fathimah?”. Kemudian Imam Ali AS bertanya: “Kenapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Karena ia dan pengikutnya akan tercegah dari api neraka”. (Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 14). Atau dalam riwayat lain beliau bersabda: “Karena terlarang api neraka baginya dan para pecintanya”.( Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 15) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Imam Ali bin Abi Thalib AS bersabda, “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda: “Ia dinamakan Fathimah karena Allah SWT akan menyingkirkan api neraka darinya dan dari keturunannya. Tentu keturunannya yang meninggal dalam keadaan beriman dan meyakini segala sesuatu yang diturunkan kepadaku.” (Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 18-19)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Imam Shadiq AS bersabda: “Beliau dinamakan Fathimah karena </span><span style="color:#333333;">tidak terdapat</span><span style="color:#333333;"> keburukan dan kejahatan  pada dirinya. Apabila tidak ada Ali AS maka sampai hari Kiamat tidak akan ada seorangpun yang sepadan dengannya (untuk menjadi pasangannya)”. (Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 10)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Dalam beberapa sumber telah dijelaskan bahwa nama Fathimah merupakan nama yang sangat disukai oleh para Maksumin (Ahlu-Bayt) AS. Para Imam Ahlu-Bayt AS sangat memuliakan pemilik nama tersebut. Salah satu pengikut Imam Shadiq AS telah dikaruniai seorang anak perempuan, kemudian beliau bertanya kepadanya: “Engkau telah memberikan nama apa kepadanya?”. Ia menjawab: “Fathimah”. Mendengar itu Imam AS bersabda: “Fathimah, salam sejahtera atas Fathimah. Karena engkau telah menamainya Fathimah, maka hati-hatilah jangan sampai memukulnya, mengucapkan perkataan buruk kepadanya, dan muliakanlah ia.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Salah seorang pengikut Imam Shadiq AS berkata: “Pada suatu hari dengan raut muka sedih, aku telah menghadap Imam Shadiq AS. Beliau bertanya: “Kenapa engkau bersedih?”. Aku menjawab: anakku yang terlahir adalah perempuan. Beliau bertanya kembali: “Engkau beri nama apa ia?”. Aku menjawab: “Fathimah”. Beliau kembali berkata: “Ketahuilah jika engkau telah menamainya Fathimah, janganlah engkau berkata buruk kepadanya dan janganlah memukulnya”.”(Wasa’il as-Syi’ah jilid 15 halaman 200)</span> <strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:14.4pt;">B-<strong><span>Zahra</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"><span> </span></span></p>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><em><span style="color:#333333;">Zahra</span></em><span style="color:#333333;">, artinya ialah “yang bersinar” atau “yang memancarkan cahaya”. Imam Hasan bin Ali al-Askari (imam ke-11) bersabda: “Salah satu sebab Sayidah Fathimah dinamai az-Zahra karena tiga kali pada setiap hari beliau akan memancarkan cahaya bagi Imam Ali AS.” (Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 11) Memancarkan cahaya bagaikan matahari pada waktu pagi, siang dan terbenam matahari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Dalam riwayat lain Imam Shadiq AS bersabda: “Sebab Sayidah Fathimah dinamakan Zahra karena akan diberikan kepada beliau sebuah bangunan di surga yang terbuat dari yaqut merah. Dikarenakan kemegahan dan keagungan bangunan tersebut maka para penghuni surga melihatnya seakan sebuah bintang di langit yang memancarkan cahaya, dan mereka satu sama lain saling mengatakan bahwa bangunan megah bercahaya itu dikhususkan untuk Fathimah AS.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Dalam riwayat lain dikatakan bahwa, orang-orang telah bertanya kepada Imam Shadiq AS: “Kenapa Fathimah AS dinamakan Zahra?” Beliau menjawab: “Karena sewaktu beliau berada di <em>mihrab</em> (untuk beribadah) cahaya memancar darinya untuk para penghuni langit, bagaikan pancaran cahaya bagi para penghuni bumi.” (Namha wa Alqaab Hadzrate Fathimah Zahra halaman: 22)</span> <strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;">C-<strong><span>Muhaddatsah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><em><span style="color:#333333;">Muhaddatsah,</span></em><span style="color:#333333;"> artinya ialah “orang yang malaikat berbicara dengannya”. Telah dijelaskan bahwasanya para malaikat dapat berbicara dengan selain para nabi atau para rasul. Dan orang-orang selain para nabi dan rasul itu dapat mendengar suara dan melihat para malaikat. Sebagaimana dalam al-Qur’an disebutkan bahwa Allah SWT telah menjelaskan bahwasanya Mariam bin Imran AS (bunda Maria) telah melihat malaikat dan berbicara dengannya. Hal ini telah disinyalir dalam surah al-Imran ayat 42, <em>“Dan (Ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata: &#8220;Hai Maryam, Sesungguhnya Allah Telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Dalam sebuah riwayat Imam Shadiq AS bersabda: “Fathimah dijuluki <em>muhaddatsah</em> karena para malaikat selalu turun kepadanya, sebagaimana mereka memanggil Mariam AS, berbicara dengannya, dan mereka mengatakan: “Wahai Fathimah, sesungguhnya Allah SWT telah memilihmu, mensucikanmu dan memilihmu atas perempuan seluruh alam”. Para malaikatpun menyampaikan kepada Fathimah Zahra AS tentang hal-hal yang akan terjadi di masa mendatang, raja-raja yang akan berkuasa, dan hukum-hukum Allah SWT. Fathimah Zahra AS meminta kepada Imam Ali AS untuk menulis semua perkara yang telah disampaikan para malaikat kepadanya. Serta jadilah kumpulan tulisan tersebut dinamakan dengan mushaf Fathimah”. (Bihar al-Anwar jilid 43)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Imam Shadiq AS telah berkata kepada Abu Bashir: “Mushaf Fathimah berada pada kami. Dan tiada yang mengetahui tentang isi mushaf tersebut&#8230;.mushaf tersebut berisikan hal-hal yang telah diwahyukan Allah SWT kepada ibu kami, Fathimah Zahra AS.” (Bihar al-Anwar jilid 43, Fathimah az-Wiladat to Syahadat halaman 111)</span> <strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;">D-<strong><span>Mardhiyah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"><span> </span></span></p>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><em><span style="color:#333333;">Mardiyah</span></em><span style="color:#333333;">, artinya ialah “orang yang segala perkataan dan perilakunya telah diridhoi Allah SWT”. Adapun sebab beliau dijuluki dengan julukan <em>mardiyah</em> karena bersumber pada beberapa hadis yang telah disampaikan Rasulullah SAW berkaitan dengan kedudukan Sayidah Fathimah Zahra AS, dimana beliau telah bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT murka atas murka-mu dan ridho atas keridhoan-mu.” (Riwayat dengan kandungan seperti ini bisa didapati pada beberapa sumber seperti, Mustadrak ash-Shahihain jilid 3 halaman 153, Kanzul Ummal jilid 6 halaman 219, Mizan al-I’tidal jilid 2 halaman 72, Dzakhairu al-‘Uqba halaman 39)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Catatan: Tentunya hadis-hadis Rasulullah tentang Sayidah Fathimah Zahra AS itu bukanlah berasal dari hawa nafsu dan atas dasar nepotisme seorang ayah terhadap anaknya. Karena<span> </span>sebagaimana yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an beliau tidak mengatakan sesuatu berdasarkan hawa nafsu sebagaimana yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an: “</span><span style="font-size:10pt;color:#333333;"> </span><em><span style="color:#333333;">Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya.</span></em><span style="color:#333333;">” (QS an-Najm:3). Maka hadis-hadis itu sebagai bukti akan keistimewaan Fathimah Zahra AS dimata Allah dan Rasul-Nya. </span> <strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;">E-<strong><span>Siddiqah Kubra</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="font-size:10pt;color:#333333;"> </span></p>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><em><span style="color:#333333;">Shiddiqah</span></em><span style="color:#333333;">, artinya ialah “seorang yang sangat jujur”, orang yang tidak pernah berbohong. Atau orang yang perkataannya membenarkan prilakunya. (Lisanul Arab dan Taajul Aruus)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Pada waktu menjelang kepergian (wafat) Rasulullah SAW, beliau berkata kepada Ali AS: “Aku telah menyampaikan berbagai masalah kepada Fathimah. Benarkan (percayailah) segala yang disampaikan Fathimah, karena ia sangat jujur.” (Bihar al-Anwar jilid 22 halaman 490)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Dalam sebuah hadis bahwasanya Ummulmukminin Aisyah berkata: “Tidak aku dapatkan seseorang yang lebih jujur dari Fathimah, selain ayahnya.” (Hilyatul Auliya’ jilid 2 halaman 41 dan atau Mustadrak as-Shahihain jilid 3 halaman 16)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Dan kedudukan ini (<em>Shiddiqiin</em>) berada pada tingkatan para nabi, syuhada dan shalihin sebagaimana yang telah disinyalir al-Qur’an: “<em>Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh, <span> </span>dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.</em>” (QS An-Nisa : 68)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Rasulullah SAW berkata kepada Imam Ali AS: “Tiga hal berharga telah dihadiahkan kepadamu, dan tidak seorangpun yang mendapatkannya termasuk aku; Engkau memiliki mertua seorang rasul, sementara aku tidak memiliki mertua sepertimu.<span> </span>Engkau memiliki istri yang sangat jujur (<em>shiddiqqah</em>) seperti putriku, sementara aku tidak memiliki istri sepertinya. Engkau dikaruniai anak-anak seperti Hasan dan Husein, sementara aku tidak dikaruniai anak-anak seperti mereka. Namun demikian engkau berasal dariku dan aku berasal darimu.” (Ar-Riyadhu an-Nadrah jilid 2 halaman 202)</span> <strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;">F-<strong><span>Raihanah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Dalam sebuah riwayat berkaitan dengan putrinya, Rasulullah SAW bersabda: “Fathimah merupakan wewangianku. Ketika aku merindukan bau surga maka aku akan mencium Fathimah”. (Bihar al-Anwar jilid 35 halaman 45, dan kandungan hadis semacam ini pun bisa didapati dalam tafsir Ad-Durrul Mansur Suyuthi)</span> <strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;">G-<strong><span>Bathul</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Ibnu Atsir dalam karyanya yang berjudul “An-Nihayah” menyatakan: “Kenapa Fathimah dijuluki Al-Bathul? Karena beliau dari segi keutamaan, agama, dan kehormatan lebih dari para perempuan yang ada pada zamannya. Atau karena beliau telah memutuskan hubungannya dengan dunia dan hanyalah mencari kecintaan Allah SWT.” (Hadis dengan redaksi semacam ini juga dapat kita jumpai pada kitab-kitab seperti; Maanil Akhbar hal 54, Ilalu Asy-Syarai’ hal 181, Yanaabi’ al-Mawaddah hal 260)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Dalam kitab “al-Manaqib” pada jilid 3 halaman 133 dijelaskan bahwa seseorang telah bertanya kepada Rasulullah; “Kenapa seseorang dijuluki al-Bathul? Beliau menjawab: “Yaitu perempuan yang tidak keluar darinya darah haid. Sesungguhnya hal itu tidak layak bagi para putri para nabi (lain).” (Al-Manaqib jilid 3 halaman 133, Al-awalim jilid 6 halaman 16)</span> <strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;">H-<strong><span>Rasyidah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><em><span style="color:#333333;">Rasyidah,</span></em><span style="color:#333333;"> artinya ialah “wanita yang telah dianugrahi petunjuk”, selalu berada dalam kebenaran dan pemberi petunjuk bagi yang lain. Rasulullah SAW telah memberikan julukan ini kepada putrinya, Fathimah AS. Dalam sebuah riwayat telah dijelaskan bahwasanya Imam Ali AS bersabda: “Beberapa saat sebelum kepergian Rasulullah (wafat), beliau telah memanggilku. Beliau bersabda kepadaku dan Fathimah: “Ini hanutku (ialah kapur barus yang dioleskan ke anggota sujud seorang jenazah, red) yang telah dibawakan Jibril dari surga untukku. Beliau telah menitip salam untuk kalian berdua dan berkata: “Engkau harus membagikan hanut ini, dan ambillah untukmu. Pada saat itu Fathimah AS berkata: “1/3-nya untuk engkau wahai ayahku. Sedang sisanya, biarlah Ali sendiri yang memutuskannya”. Mendengar itu Rasulullah menangis dan memeluk putrinya seraya bersabda: “Engkau adalah wanita yang telah dianugrahi taufiq (pertolongan khusus) dan rasyidah (petunjuk) yang telah mendapatkan ilham dari-Nya, dan mendapatkan petunjuk dari-Nya. Pada saat itu pula Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Ali, katakan padaku tentang sisa hanut tersebut”. Aku (Ali) berkata: “Setengah dari yang tersisa ialah untuk Zahra (Fathimah). Dan berkaitan dengan sebagian lainnya apa perintahmu, ya Rasulullah?”. Rasulullah SAW bersabda: “Sisanya untukmu, maka peliharalah.” (Bihar al-Anwar jilid 22 halaman 492)</span> <strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;">I-<strong><span>Haura Insiyah (bidadari berbentuk manusia)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:14.4pt;"><strong><span style="color:#333333;"> </span></strong></p>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Sebelum Rasul melakukan salah satu mi’rajnya(dari beberapa riwayat disebutkan <span> </span>Rasulullah tidak melakukan mi’raj sekali saja, bahkan berkali-kali red), Atas perintah Allah SWT, beliau tidak diperkenankan untuk menemui (mengumpuli) istrinya selama 40 hari. Dan pada hari terakhir beliau dalam mi’raj-nya memakan buah-buahan seperti; kurma dan apel yang berasal dari surga. Seusai beliau memakan buah-buahan yang berasal dari surga itu lantas beliau menemui (mengumpuli) istrinya Sayidah Khadijah AS. Dan dari nutfah (sperma) yang berasal dari buah-buahan surga itulah, Sayidah Khadijah AS mengandung janin Sayidah Fathimah Zahra AS. Oleh karena itu, Sayidah Fathimah Zahra AS dijuluki ‘<em>haura Insiyah</em>’ (bidadari berbentuk manusia). (Tafsir Furat Kufi halaman 119, Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 18, riwayat-riwayat semacam inipun bisa didapati dalam sumber-sumber Ahlusunah seperti; Ad-Durrul Mansur, Mustadrak Shahihain, Dzakhairu al-Uqbah, Tarikh Bagdadi dsb) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><em><span style="color:#333333;">Haura insiyah</span></em><span style="color:#333333;">, artinya ialah “bidadari yang berbentuk manusia”, para wanita surga dinamakan bidadari karena putih dan hitam matanya sangat elok dan menarik sekali. Oleh karena itu, seorang wanita yang memiliki mata yang sangat elok seperti bidadari, dijuluki bidadari. (Bihar al-Anwar jilid 43 halaman 5)</span> <strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;">J-<strong><span>Thahirah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<ol></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><em><span style="color:#333333;">Thahirah</span></em><span style="color:#333333;"> berarti <span> </span>yang “suci atau maksum dari dosa dan kesalahan”. Hal ini karena beliau telah disucikan dari salah dan dosa, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an surah al-Ahzab ayat 33, “</span><span style="font-size:10pt;color:#333333;">&#8230; </span><em><span style="color:#333333;">Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.</span></em><span style="color:#333333;">”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Berdasarkan ayat di atas Allah SWT telah mensucikan Ahlu-Bayt Nabi SAW. Dan salah satu dari Ahlu-Bayt Nabi SAW tersebut adalah Sayidah Fathimah AS. Ayat di atas diturunkan berkaitan dengan “<em>Ashhabul Kisa</em>” (penghuni kain), yaitu Rasulullah, Imam Ali, Sayidah Fathimah Zahra, Imam Hasan dan Imam Husein. Hal ini dapat dirujuk dalam berbagai sumber seperti, Tafsir at-Thabari, Tafsir Ad-Durrul Mansur, Tarikh al-Bagdadi, Tafsir al-Kasyaf, Usudul Ghabah&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">[<strong>ED</strong>, diambil dari berbagai sumber , <em>Namha wa Alqab Hazrate Fathima Zahra, Fadzaila Khamsah dan lain-lain</em>] </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/266/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/266/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/266/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=266&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/03/03/arti-berbagai-nama-dan-julukan-sayidah-fathimah-zahra-as/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/03/035.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">035.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku Bangga kepada-mu Sayang…!</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/02/25/aku-bangga-kepada-mu-sayang%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/02/25/aku-bangga-kepada-mu-sayang%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Feb 2008 07:33:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi Keluarga & Pendidikan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS Ar-Ruum:21)
 
Rasulullah bersabda: “Tidak ada bangunan dalam Islam yang lebih aku cintai dan lebih aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=263&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/2040052954_d02f4f70e7_m.jpg" title="2040052954_d02f4f70e7_m.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/2040052954_d02f4f70e7_m.thumbnail.jpg" alt="2040052954_d02f4f70e7_m.jpg" /></a><span style="font-family:Arial;color:#333333;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><i><span style="color:#333333;">Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.</span></i><span style="color:#333333;"> (QS Ar-Ruum:21)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Rasulullah bersabda: “<i>Tidak ada bangunan dalam Islam yang lebih aku cintai dan lebih aku muliakan dari pernikahan . </i>” (Muntakhab Mizanul-Hikmah<span>  </span>halaman 252)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="font-family:Arial;color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span id="more-263"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="font-family:Arial;color:#333333;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;color:#333333;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;color:#333333;">Aku Bangga kepada-mu Sayang…!</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;color:#333333;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;color:#333333;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><i><span style="color:#333333;">Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.</span></i><span style="color:#333333;"> (QS Ar-Ruum:21)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> Rasulullah bersabda: “<i>Tidak ada bangunan dalam Islam yang lebih aku cintai dan lebih aku muliakan dari pernikahan . </i>” (Muntakhab Mizanul-Hikmah<span>  </span>halaman 252)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Pernikahan merupakan sebuah ikatan suci antara seorang laki-laki dan wanita. Sebelum memasuki jenjang pernikahan dan memutuskan untuk hidup bersama melalui ikatan suci tersebut, sebagai mukaddimah ialah salah satu saling mengenal terlebih dahulu dan ada ketertarikan antara keduanya. Seseorang memutuskan memilih calon pasangan hidupnya karena terdapat berbagai criteria yang menurut pandangannya, criteria yang dimiliki oleh calon pasangan hidup dapat menjadikan mereka hidup bersama dalam mengarungi kehidupan berumah tangga. </span></p>
<p>Setiap orang, laki-laki ataupun perempuan memiliki angan-angan agar kelak di masa depan mendapatkan pasangan ideal yang didambakannya. Harapan dan keinginan untuk mendapatkan pasangan yang idel adalah merupakan &#8216;fitrah&#8217; manusia.  Fitrah akan cinta pada kesempurnaan. Manusia menyukai kesempurnaan.  Oleh karenanya ia selalu ingin mendapatkan pasangan yang sempurna juga. Hanya saja karena terdapat perbedaan dalam memandang kesempurnaan -tergantung backgraound pandangannya terhadap dunia dan tujuan hidup- maka dalam memandang kesempurnaan pun akan berbeda pula. Sewaktu dalam memandang sebuah kesempurnaan terdapat perbedaan maka dalam memandang seorang pasangan ideal pun akan berbeda juga.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Pasangan yang ideal dalam kaca mata sebagian orang ialah seseorang yang sempurna dari sisi lahiriyah saja seperti tampan atau cantik, kaya, sarjana,  keturunan pejabat atau ningrat, bodinya atletis bagi lelaki dan<span>  </span>langsing bagi perempuan. Namun dalam kaca mata sebagian orang, pasangan yang ideal tidak hanya menjadikan tolok ukur sisi lahiriyah saja. Bahkan sisi lahiriyah yang semu tadi hanya dijadikan hal sekunder saja. Yang menjadi ukuran utamanya ialah kepribadiannya seperti baik, penyayang, lemah lembut bagi perempuan, bertanggungjawab, perhatian dan sifat-sifat terpuji lainnya. Akan tetapi terdapat pandangan lainnya lagi dalam memandang sebuah pasangan ideal. Pasangan ideal adalah seorang manusia sempurna baik dari segi jasmani seperti ganteng atau cantik dan juga memiliki kepribadian yang jempol.  Apabila diprosentasekan dengan angka, nilainya ialah seratus persen sempurna. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Dalam sebuah hadis yang disampaikan oleh Rasulullah bahwa seseorang memilih pasangan hidup karena kecantikan / ketampanan, nasab keturunan, harta dan karena agamanya. Dalam akhir ucapannnya beliau mengatakan barang siapa yang memilih pasangan hidup karena agamanya maka berbahagialah ia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Dalam riwayat lain Rasulullah menjelaskan tentang masalah agama dan prilaku calon istri yang ideal bagi seorang laki-laki, “<i>Barangsiapa yang menikahi seorang perempuan karena kecatikannya maka ia tidak akan melihat padanya melainkan apa yang telah ia inginkan. Dan barangsiapa yang menikahi pertempuan karena hartanya maka ia tidak akan mendapatkan yang lainnya melainkan hanya yang diinginkannya. Maka hendaknya kalian menikahi seseorang karena agamnya.</i>” (Muntakhab Mizan al-Hikmah halaman 252)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Apabila seseorang menikah hanya karena tujuan kecantikan atau ketampanan pasangannya, maka hanya untuk beberapa waktu saja ia menikimati kecantikan dan ketampanan pasangannya. Karena setelah itu, disebabkan selalu bersamaan maka kecantikan dan ketampanan yang dimiliki oleh pasangannya tidak seperti ketika awal permulaan mereka bertemu. Pasangannya akan dirasakan biasa saja. Mungkin sebagian merasakan adanya rasa bosan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> Yang menjadi pertanyaan, dapatkan seseorang mendapatkan pasangan hidup yang ideal, sempurna tanpa memiliki kekurang sedikitpun? Karena sebelum memasuki kehidupan berumah tangga dan hidup bersama, maka sebagian kekurangan baik yang dimiliki oleh seorang istri maupun suami semuanya tidak akan tampak. Kekurangan dan kelebihan seseorang akan tampak ketika dia sudah memasuki hidup bersama dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Oleh karena itu, ulama akhlak kontemporer Ayatullah Mudhohiri dalam karyanya yang berjudul ‘Akhlak dalam Rumah&#8217; (kehidupan berumah tangga) mengatakan bahwa tidak mungkin seseorang dapat menemukan pasangan yang seratus persen merupakan idamannya. Tujuh puluh persen saja sesuai yang kita harapkan itu sudah sangat bagus sekali. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Dalam riwayat lain Rasulullah mensyaratkan tentang ‘sepadan&#8217; (<i>sekufu</i>) dalam memilih pasangan hidup. Walaupun pengertian sepadan memiliki pengertian yang luas dapat mencakup masalah status sosial, ekonomi, dalam pemikiran, status keilmuan dan dalam masalah agama dan keyakinan. Namun penekanannnya lebih pada masalah sepadan dari masalah agama. Artinya, pasangan yang akan kita pilih adalah pasangan yang beradarkan kacamata agama adalah orang yang baik yang dapat diajak hidup bersama dalam mengarungi kehidupan rumah tangga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Karena ketika seseorang memilih pasangan hidup berdasarkan tolok ukur agama (dengan penjelasan sederhananya ialah karena Allah), maka ketika ia mendapatkan kekurangan yang dimiliki oleh pasangannya pasca pernikahan. Dan setelah beberapa saat menjalani hidup berumah tangga maka ia akan melihat berbagai kekurangan yang sebelumnya tidak ia diketahui.  Di situ ia tidak akan merasa kecewa. Karena ia baru akan menyadari bahwa setiap manusia (selain para manusia pilihan Tuhan dan para manusia suci) tidak akan pernah lepas dari kekurangan.  Setiap orang dibalik kelebihan yang dimilikinya pasti ia akan memiliki kekurangan. Seringnya jika seorang istri atau suami tidak melihat pasangannya berdasarkan kaca mata agama niscaya ia hanya akan berusaha memandang sisi kekurangan pasangannya saja, dimana apabila hal itu diperbesar -atau bahkan dibesar-besarkan- akan berdampak merusak keutuhan sebuah rumah tangga yang telah dibina dengan susah payah. Satu sama lain akan selalu berusaha mencari kekurangan yang lainnya, saling merendahkan dan tidak saling menghormati. Di saat itu, kehidupan rumah tangga akan terasa pahit bagi pasangan suami-istri tersebut, dan <span> </span>selalu dipenuhi dengan perselisihan.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;"> Oleh sebab itu, dalam mengatasi masalah ini, agama Islam telah memberikan jalan keluarnya. Yaitu dengan menerima pasangan hidup kita apa adanya. Bagaimana caranya? Dengan melihat sisi-sisi kelebihan yang dimiliki oleh pasangan kita. Dan menyadari bahwa sebagaimana kita sendiri tidak sempurna maka pasangan kita pun pastilah tidak sempurna. Selain memiliki kelebihan pasti ia memiliki kekurangan. Cara yang obyektif dan rril adalah dengan menutupi kekurangan pasangan kita melalui kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Itulah cara paling &#8216;aman&#8217; dalam membangun keharmonisan sebuah rumah tangga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Seorang istri atau suami hendaknya bangga atau membanggakan kelebihan yang dimiliki oleh pasangannya. Dan selalu berusaha menutup mata atas kekurangan yang dimiliki oleh pasangannya, bukan lantas membandingkannya dengan yang lain. Ungkapan seperti; “Lihatin Pa, suaminya tetangga lebih baik dari Papa. Ayo dong Papa juga kaya dia, nyari uang siang-malam. Gimana sih Papa ini, kaya suami tetangga dong…!&#8221;. Atau ucapan seorang suami terhadap istrinya seperti: “Lihatin Ma,  istrinya tetangga pintar masak (istrinya bisa masak hanya tidak semahir istri tetangganya)!.  Lihatin Ma, istrinya fulan pintar membuat kerajinan, keterampilan dan lainnya. Gimana sih Mama ini nggak bisa apa-apa!”. Seorang manusia dengan status apapun (bahkan anak-anak sekalipun) tidak akan pernah senang jika dibandingkan dengan orang lain.  Karena selain akan merasa dijatuhkan harga dirinya, ia juga akan merasa kehilangan rasa percaya diri.  Oleh sebab itu, dalam psikologi pun telah dijelaskan bahwa hendaknya orang tua jangan sekali-kali untuk membanding-bandingkan anaknya dengan anak lain. Karena apabila melakukan hal itu, artinya,  sama dengan membunuh potensi-potensi dan kelebihan yang dimiliki oleh anaknya yang tidak dimiliki oleh yang lainnya.. Ia akan merasa rendah diri, hilang rasa percaya diri, dan tidak memiliki arti apa-apa di hadapan orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Seorang pasangan istri-suami pun demikian pula. Ia hendak berusaha merasa bangga dengan kelebihan yang dimiliki oleh pasangannya. Dan dengan rasa bangga ini, sebaliknya, akan menambah erat hubungan keharmonisan sebuah rumah tangga. Suami-istri harus berusaha selain melakukan pujian terhadap pasangannya yang keluar dari dalam hati, juga harus dibuktikan dalam prilaku dan lisan. Hendaknya tidaklah sungkan mengatakan kepada pasangan: “<i>Aku bangga padamu sayang. Engkau suami yang sangat perhatian terhadap urusan rumah tangga, dan baik sekali. Tidak semua orang seperti kamu lho&#8230;!?</i>&#8220;. Atau ungkapan istri kepada suaminya: &#8220;<i>Aku bangga padamu sayang. Engkau istri yang sangat baik dan pengertian. Engkau pintar menata rumah. (</i>atau misalkan<i>) Engkau pintar memasak. Gak semua istri seperti kamu lho&#8230;.!?”.</i></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"><span style="color:#333333;">Tentunya ungkapan-ungkapan semacam ini, akan lebih berpengaruh dalam jiwa apabila keluar dari hati sanubari. Oleh karena itu, janganlah kita mempersulit diri dan selalu berusaha untuk menjadikan rumah tangga kita seperti rumah tangga orang lain. Nikmatilah hidup apa adanya, dan jangan menyibukan diri memata-matai kehidupan orang lain dan lantas membanding-bandingkannya. Kehidupan akan dirasakan sulit (pahit) atau senang (manis) dimana semua itu kembali kepada kita sendiri dalam berprilaku. Jika kita selalu berusaha untuk menjadikan pasangan kita sebagai manusia yang sempurna seperti orang lain, selain kita dan pasangan kita sendiri akan merasa capek dengan perbuatan sia-sia tersebut (karena mustahil akan bisa diraih), juga tidak akan pernah dapat menikmati kehidupan yang kita alami secara riil.  Sebelum terlambat, marilah kita memulai untuk menjadikan kehidupan ini menjadi lebih indah. Tentunya dengan menjalankan tips-tips yang telah dianjurkan oleh agama Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;"> [<b>ED</b>]</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/263/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/263/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/263/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=263&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/02/25/aku-bangga-kepada-mu-sayang%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/2040052954_d02f4f70e7_m.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">2040052954_d02f4f70e7_m.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Ringkas : Masjid al-Mukaddas Jamkaran</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/02/16/sejarah-ringkas-masjid-al-mukaddas-jamkaran/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/02/16/sejarah-ringkas-masjid-al-mukaddas-jamkaran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 18:22:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[
Sudah selayaknya para penziarah mendatangani tempat suci ini untuk mengambil berkah dan manfaatnya. Ketika kita berziarah ke tempat yang dimuliakan oleh Allah (swt) tersebut, kita harus menjauhkan diri dari segala perbuatan yang tidak diridhoi Allah (swt). Karena hal itu, akan menyebabkan Imam Mahdi (af) mengabaikan kehadiran kita.

&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-
 
Sejarah Ringkas :
Masjid al-Mukaddas Jamkaran
 
Allah (swt) berfirman: “Sesungguhnya sesuatu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=261&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/masjid-jamkaran.jpg" title="masjid-jamkaran.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/masjid-jamkaran.thumbnail.jpg" alt="masjid-jamkaran.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">Sudah selayaknya para penziarah mendatangani tempat suci ini untuk mengambil berkah dan manfaatnya. Ketika kita berziarah ke tempat yang dimuliakan oleh Allah (swt) tersebut, kita harus menjauhkan diri dari segala perbuatan yang tidak diridhoi Allah (swt). Karena hal itu, akan menyebabkan Imam Mahdi (af) mengabaikan kehadiran kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-261"></span><br />
<span style="font-size:14pt;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;">Sejarah Ringkas :</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:14pt;"><b>Masjid al-Mukaddas Jamkaran</b></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Allah (swt) berfirman: “<i>Sesungguhnya sesuatu yang telah disiapkan Allah swt buatmu, adalah lebih baik bagimu jika kamu beriman</i>”. (QS Hud :86)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Imam Mahdi (af) berkata: “<i>Katakanlah kepada orang-orang, cintailah tempat ini (Masjid al-Mukaddas Jamkaran) dan muliakanlah</i>”.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span>   </span>Masjid al-Mukaddas Jamkaran terletak di daerah Jamkaran, yang terletak kurang lebih enam kilometer dari kota suci Qom. Masjid ini, sering didatangi penziarah dari berbagai pelosok Iran, bahkan dari berbagai negara. Tempat suci ini, berada dibawah naungan khusus Imam Mahdi (af) yang telah menyatakan bahwa beliau akan bertemu dengan pengikutnya kelak di tempat ini. Tempat suci ini pun, mempunyai kemuliaan karena telah dipilih Allah (swt) diantara tempat-tempat lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span>   </span>Oleh karena itu, sudah selayaknya para penziarah mendatangani tempat suci ini untuk mengambil berkah dan manfaatnya. Ketika kita berziarah ke tempat yang dimuliakan oleh Allah (swt) tersebut, kita harus menjauhkan diri dari segala perbuatan yang tidak diridhoi Allah (swt). Karena hal itu, akan menyebabkan Imam Mahdi (af) mengabaikan kehadiran kita. Kita harus bersikap seakan-akan Imam Mahdi (af) berada dihadapan kita, dan seraya menjaga diri dari segala prilaku yang tidak diridhai oleh Imam Mahdi (af). Kemudian, kitapun harus berdoa dengan penuh keikhlasan supaya Allah (swt)<span>  </span>menyegerakan kemunculan beliau, dan kita harus menyadari dengan sepenuh hati bahwa semua permasalahan yang ada di dunia ini tidak akan terselesaikan secara tuntas jika Imam Mahdi (af) belum muncul. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"></span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-weight:normal;"><b>Sejarah Ringkas</b></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span>   </span>Syeikh Hasan bin Mitslih (ra) berkata: “Pada malam rabu, yaitu bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan 373 H Q, aku tidur di rumahku. Tiba-tiba, orang-orang berdatangan ke rumahku dan membangunkanku seraya berkata: “Beranjaklah dari tempat tidurmu untuk menemui junjunganmu, yaitu Imam Mahdi (af) yang hendak bertemu denganmu”. Kemudian mereka membawaku ke tanah yang sekarang di atasnya didirikan masjid al-Mukaddas Jamkaran. Disana, saya melihat seorang pria muda, yang kira-kira berusia tiga puluh tahun sedang duduk di atas dipan yang beralaskan permadani dan bersandarkan bantal. Beliaulah Imam Mahdi (af). Disampingnya, duduk pula seorang pria tua yang tidak lain beliau adalah nabi Hidhir (as). Setelah itu, lantas Imam mempersilahkanku. Lantas Imam Mahdi (af) memanggil namaku seraya berkata: “Pergilah menemui Hasan Muslim (petani tanah tersebut) dan katakan kepadanya bahwa tanah ini adalah tanah mulia yang telah dipilih Allah (swt) diantara tanah-tanah yang lain. Karena itu, sejak saat ini, dia (Hasan Muslim) tidak berhak lagi untuk bercocok tanam di tanah ini”. Lantas saya berkata: “Wahai tuanku, saya memerlukan bukti dan tanda agar orang-orang dapat menerima ucapanku”. Imam Mahdi (af) menjawab: “Pergilah dan laksanakan perintah ini, nanti aku akan memberikan bukti dan tanda untuk perkara ini. Kemudian, pergilah juga ke rumah sayyid Abul Hasan Ridho (ra) –salah seorang ulama Qom kala itu- dan katakan kepadanya: “Datangkan Abu Muslim, lalu gabungkanlah keuntungan beberapa tahun yang dihasilkan dari tanah itu. Lantas bangunlah masjid di atasnya. Setelah itu, umumkan kepada masyarakat untuk mencintai tempat ini, memuliakannya dan mendirikan shalat empat rakaat di dalamnya”. Lalu, Imam Mahdi (af) memberi petunjuk tentang tata cara shalat di tempat yang disucikan itu dengan tuntunan sebagai berikut; Dua rakaat pertama, adalah shalat dengan niat “<i>shalat tahiyat masjid</i>”. Pada setiap rakaatnya membaca sekali surat al-Fatihah dan tujuh kali surat al-Ikhlas. Saat ruku’, membaca zikir “<i>Subhana rabbiyal adzimi wa bihamdihi</i>” sebanyak tujuh kali. Adapun saat sujud, membaca zikir “<i>Subhana rabbiyal a’la wa bihamdihi</i>” sebanyak tujuh kali. Seusai melaksanakan “<i>shalat tahiyat masjid</i>”, lantas melakukan shalat dua rakaat dengan niat shalat Imam Mahdi (af), dengan tata cara sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span>1-<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">     </span></span></span><span dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Rakaat pertama, dimulai dengan membaca surat al-Fatihah. Ketika sampai pada ayat “<i>Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in</i>” ulangi bacaan ayat tersebut sebanyak seratus kali. Setelah itu, bacalah surat al-Ikhlas sekali. Lantas melakukan ruku’ dan sujud sambil membaca zikir (ruku’ dan sujud) masing-masing sebanyak tujuh kali (sebagaimana yang telah disebutkan dalam tata cara <i>shalat tahiyat masjid</i>).</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span>2-<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">     </span></span></span><span dir="ltr"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Rakaat kedua, dilakukan dengan tata cara yang sama seperti pada rakaat pertama. Kemudian dilanjutkan dengan salam. Setelah membaca salam, lantas membaca satu kali kalimat tauhid “<i>laa ilaha illallah</i>”. Seusai membaca kalimah tauhid, lantas membaca tasbih az-Zahra (<i>Allahu akbar</i> 34x, <i>alhamdulillah</i> 33x dan <i>subhanallah</i> 33x). Setelah mambaca tasbih Zahra, lantas sujud dengan membaca shalawat “<i>Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad</i>” sebanyak seratus kali.</span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Imam Mahdi (af) juga berkata: “<i>Jika seseorang mendirikan shalat dua rakaat di tempat ini (masjid Jamkaran), maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana mendirikan shalat dua rakaat di dalam Ka’bah</i>”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><br />
Kemudian saya meninggalkan tempat tersebut, namun baru aku berjalan beberapa langkah, Imam Mahdi (af) kembali memanggilku seraya berkata: “Belilah satu ekor kambing yang digembalakan oleh Jakfar Kasyani, lantas bawalah kemari dan sembelihlah di tempat ini. Setelah itu, bagikanlah dagingnya kepada orang-orang yang sakit. Orang-orang sakit yang memakan daging kambing tersebut akan disembuhkan penyakitnya oleh Allah (swt)”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Akupun kembali ke rumah dan terus berpikir sepanjang malam hingga tiba waktu subuh. Seusai melaksanakan shalat subuh, saya pergi ke rumah Ali Mandzar dan menceritakan semua peristiwa yang telah kualami malam itu. Kemudian, kami pun pergi ke tempat itu. Dengan dipenuhi rasa heran, kami dapati di atas tanah itu terdapat rantai-rantai yang menjadi pembatas bangunan masjid al-Mukaddas Jamkaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Setelah itu, aku pergi ke kota Qom untuk menjumpai sayyid Abul Hasan Ridho (ra). Sesampai di depan pintu rumahnya, pelayan yang membukakan pintu berkata: “Apakah anda orang dari Jamkaran?” Aku mengiyakan. Pelayan itu kembali berkata: “Sejak waktu sahur sayyid telah menanti anda”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Kemudian aku masuk ke dalam rumah itu, dan sayyid menyambutku dengan hormat seraya berkata: “Wahai Hasan bin Mitslih, aku bermimpi seseorang berkata kepadaku; “Akan datang seseorang kepadamu dari daerah Jamkaran yang bernama Hasan bin Mitslih. Percayailah apapun yang dikatakannya, karena ucapannya adalah ucapanku, dan jangan engkau menolaknya”. Sejak bangun tidur hingga sekarang aku menunggu-nunggu kedatanganmu”. Aku pun menceritakan peristiwa yang kualami malam itu. Tidak lama kemudian, sayyid menyiapkan kudanya dan kami pun pergi ke daerah Jamkaran. Sesampai disekitar Jamkaran, kami melihat segerombolan kambing gembalaan Jakfar Kasyani. Tiba-tiba, dari arah belakang gerombolan kambing itu, datanglah seekor kambing dan berlari menuju ke arah kami. Jakfar Kasyani bersumpah, bahwa kambing itu bukan berasal dari gembalaannya, dan iapun tidak pernah melihat kambing sebelumnya. Maka, kami pun membawa kambing tersebut ke tanah yang telah ditunjuk oleh Imam Mahdi (af), dan kemudian menyembelihnya. Lantas kami bagikan daging kambing tersebut kepada orang-orang yang sakit. Dengan pertolongan Allah (swt) dan Imam Mahdi (af), mereka pun mendapat kesembuhan. Setelah itu, lantas sayyid Abul Hasan Ridho (ra) mendatangkan Hasan Muslim dan mengambil keuntungan-keuntungan tanah tersebut darinya. Melalui keuntungan tersebut dibangunlah masjid al-Mukaddas Jamkaran. Sayyid Abul Hasan (ra) pun membawa semua rantai-rantai dan pasak yang menjadi pembatas bangunan masjid Jamkaran ke kota Qom untuk disimpan dirumahnya. Setiap orang sakit yang diusapkan ke rantai tersebut akan disembuhkan oleh Allah (swt) dengan cepat. Namun, setelah sayyid Abul Hasan (ra) wafat, semua rantai tersebut lenyap, dan tidak ada seorangpun yang menemukannya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Ringkasan dari Kitab “<i>Najmus Tsaqib</i>” hal: 383-388.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Alih Bahasa: <b>Euis Daryati</b>.<span>               </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span>            </span><span>                                          </span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/261/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/261/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/261/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=261&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/02/16/sejarah-ringkas-masjid-al-mukaddas-jamkaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/masjid-jamkaran.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">masjid-jamkaran.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peran Perempuan dalam Tragedi Asyuro (bag-III)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/01/21/peran-perempuan-dalam-tragedi-asyuro-iii/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/01/21/peran-perempuan-dalam-tragedi-asyuro-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jan 2008 07:50:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2008/01/21/peran-perempuan-dalam-tragedi-asyuro-iii/</guid>
		<description><![CDATA[ 
Syahidnya Imam Husain as merupakan detik-detik yang paling tragis dan sangat menyayat hati manusia manapun, khususnya bagi orang-orang yang menyaksikan langsung pembantaian dan perlakuan tidak manusiawi Umar bin Sa&#8217;ad serta bala tentaranya terhadap Imam Husain as dan para pembelanya. Bagaimana tidak, Imam Husain as yang merupakan manusia suci, cucu manusia  termulia dan tersempurna [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=250&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"> <a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/asyura1.jpg" title="asyura1.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/asyura1.thumbnail.jpg" alt="asyura1.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Syahidnya Imam Husain as merupakan detik-detik yang paling tragis dan sangat menyayat hati manusia manapun, khususnya bagi orang-orang yang menyaksikan langsung pembantaian dan perlakuan tidak manusiawi Umar bin Sa&#8217;ad serta bala tentaranya terhadap Imam Husain as dan para pembelanya. Bagaimana tidak, Imam Husain as yang merupakan manusia suci, cucu manusia<span>  </span>termulia dan tersempurna di seluruh alam semesta ini—Rasulullah saw—dibunuh bak hewan najis. Kebiadaban para manusia durjana itu tidak cukup sampai di situ. Mereka menyerang kemah-kemah dan membakarnya. Busana dan perhiasan para perempuan dan laki-laki yang tersisa dari keluarga Imam Husain as dirampas secara paksa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span id="more-250"></span><span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Peran Perempuan dalam Tragedi Asyuro (bag-III)</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span>Oleh: Euis Daryati</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><span> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><span>Ketiga: Pasca Tragedi Asyuro</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Syahidnya Imam Husain as merupakan detik-detik yang paling tragis dan sangat menyayat hati manusia manapun, khususnya bagi orang-orang yang menyaksikan langsung pembantaian dan perlakuan tidak manusiawi Umar bin Sa&#8217;ad serta bala tentaranya terhadap Imam Husain as dan para pembelanya. Bagaimana tidak, Imam Husain as yang merupakan manusia suci, cucu manusia<span>  </span>termulia dan tersempurna di seluruh alam semesta ini—Rasulullah saw—dibunuh bak hewan najis. Kebiadaban para manusia durjana itu tidak cukup sampai di situ. Mereka menyerang kemah-kemah dan membakarnya. Busana dan perhiasan para perempuan dan laki-laki yang tersisa dari keluarga Imam Husain as dirampas secara paksa. Namun Sayyidah Zainab as tampil berwibawa. Keberanian dan kewibawaan yang telah beliau warisi dari kedua orang tuanya yang mulia. Beliau menjadi tempat berlindung para perempuan yang ketakutan menyaksikan sikap-sikap liar para musuh Islam, antek-antek Yazid bin Muawiyah (laknatullah alaihim).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sewaktu Sayyidah Zainab as menyaksikan kemah-kemah telah dibakar, beliau menoleh ke arah Imam Sajjad as seraya berkata: &#8220;Wahai yang merupakan pusaka para pendahulu dan penolong orang-orang yang telah ditinggal, mereka telah membakar kemah-kemah kita semua, apa yang harus kami lakukan?&#8221;. Imam Sajjad as menjawab: &#8220;Kalian semua harus lari meninggalkan kemah&#8221;. Salah seorang saksi tragedi Asyuro menyatakan: “Aku melihat seorang perempuan berwibawa dan agung berdiri di hadapan kemah seraya menoleh ke arah kanan dan kiri, terkadang ia melihat ke arah langit dan bumi lalu masuk ke dalam kemah dan keluar kembali. Sementara kemah tersebut telah dipenuhi kobaran api. Aku bertanya kepadanya kenapa ia berdiri di kemah yang sudah dipenuhi kobaran api, kenapa tidak melarikan dan menyelamatkan diri? Ia menangis seraya berkata : &#8220;Wahai syeikh, di dalam kemah terdapat orang yang sakit parah. Beliau tidak mampu untuk duduk dan bangun. Bagaimana kami akan meninggalkannya sendirian di antara kobaran api?&#8221;. Dalam riwayat lain, Hamid bin Muslim ia berkata: &#8220;Aku melihat Zainab as masuk ke dalam kemah yang telah dipenuhi kobaran api. Kemudian beliau keluar dari dalam kemah dengan membawa seseorang. Aku mengira beliau mengeluarkan jenazah dari dalam kemah. Lalu aku mendekatinya supaya dapat melihat dengan jelas. Ternyata sosok tersebut adalah Imam Sajjad as&#8221;.<span>  </span>Coba perhatikan kembali kisah di atas wahai para pembaca yang budiman! Bagaimana pengorbanan dan perjuangan Sayyidah Zainab as dalam membela imam zamannya, mungkinkah beliau melakukan hal tersebut hanya berdasarkan tendensi kekeluargaan saja padahal beliau memiliki tingkat makrifat yang sangat tinggi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Terdapat dua misi penting yang berada di pundak para perempuan pasca tragedi Asyuro; menjaga keberlangsungan serta menyampaikan keimamahan pasca Imam Husain<b> </b>as—sebagaimana<span>  </span>yang telah diwasiatkan oleh Imam Husain as—dan menyampaikan pesan Asyuro sehingga revolusi Asyuro pun menjadi lebih sempurna. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa para musuh Allah berkali-kali berusaha untuk membunuh Imam Sajjad as karena mereka tidak ingin seorang pun dari keluarga Imam Husain as hidup dan tersisa. Namun Sayyidah Zainab as terus menghalau mereka dan membela Imam Sajjad sehingga mereka tidak jadi membunuhnya. Sayyidah Zainab as pernah berkata: &#8220;Demi Tuhan, selama aku masih hidup niscaya dia tidak akan pernah terbunuh&#8221;<b>.</b>[17] Di sini jelas sekali bagaimana perempuan memainkan peran yang sangat penting dalam peristiwa Asyuro. Sebagaimana mereka membela Imam Husain as dan menganggap beliau sebagai wali Allah di muka bumi dan imam zamannya, mereka pun selalu berusaha membela Imam Sajjad as sehingga garis keimamahan tidak putus dan mereka juga menganggap Imam Sajjad sebagai imam, wali Allah dan al-Qur&#8217;an an-Natiq (Quran yang berbicara). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Para musuh Allah dan Rasul-Nya yang mengaku sebagai umat Nabi Muhammad saww menawan keluarga Rasulullah bak para tawanan tentara kafir yang berhasil dikalahkan. Kepala Imam Husain as serta para syuhada Asyura ditancapkan di ujung tombak, bagaikan membawa kepala-kepala hewan sembelihan. Rombongan tawanan berjalan dengan lunglai, namun ketegaran dan kekokohan tetap terpancar dari raut wajah suci mereka karena mereka meyakini tugas berat masih berada di pundak mereka. Mereka harus membuka kedok busuk Yazid bin Muawiyah serta antek-anteknya dan kemudian menunjukkannya kepada dunia Islam serta mensosialisasikan risalah Asyuro seluas-luasnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dalam kesempatan ini, sebaiknya kita menyinggung nama para tawanan perempuan sehingga kita dapat mengenal duta-duta Karbala tersebut.<span>   </span>Menurut berbagai sumber, jumlah tawanan perempuan lebih banyak dari jumlah tawanan laki-laki. Tawanan laki-laki berjumlah kurang lebih delapan <span> </span>(8) orang saja sementara para tawanan perempuan berjumlah dua puluh satu (21) orang. Sebagian tawanan perempuan adalah keturunan Bani Hasyim dan sebagian lagi bukan keturunan Bani Hasyim. Adapun tawanan dari Bani Hasyim berjumlah lima belas (15) orang: Zainab binti Ali, Ummi Kultsum binti Ali, Fathimah binti Ali, Fathimah binti Husain, Sukainah binti Husain, Rubab istri Imam Husain, Ruqayyah binti Husain, Ruqayyah istri Muslim bin Aqil, Khausha&#8217; istri Aqil, Ummu Kultsum Sughra (anak Zainab binti Ali), Romlah ibu Qosim (istri Imam Hasan Mujtaba), Laila binti Mas&#8217;ud bin Khalid (ibu Abdullah Ashghar), Fathimah binti Hasan Mujtaba dan Syahr-Banu (ibu dari anak kecil yang syahid dibunuh Hani bin Tsabit). Tawanan perempuan yang bukan dari keturunan bani Hasyim: Hasaniyah perawat Imam Ali Zainan Abidin yang berangkat ke Karbala bersama anaknya yang telah meneguk cawan kesyahidan, istri Abdullah bin Umair Kalbi yang berangkat ke Karbala bersama suaminya yang turut syahid di Karbala, Fakihah (pelayan Rubab, istri Imam Husain) ibu dari Abdullah bin Uraiqath yang turut syahid di Karbala, Bahariyyah binti Mas&#8217;ud Khazraji yang berangkat bersama suaminya Junadah bin Ka&#8217;b serta anaknya Amru bin Junadah yang telah turut syahid di Karbala, pembantu Muslim bin Ausjah (sebagian berpendapat beliau adalah Ummu Khalaf istri Muslim bin Ausjah) dan Fidhah Hindi berdasarkan beberapa riwayat.[18]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sewaktu para musuh mengarak tawanan dan melewatkan mereka di antara jasad para syuhada, termasuk badan suci Imam Husain as yang di injak-injak pasukan dan kuda-kuda musuh, saat itu Zainab as mendekati jasad Imam Husain as dengan kesedihan yang mendalam. Sembari mengangkat jasad Imam Husain as dan dengan melihat ke arah langit berkata: &#8221; <i>Allahuma taqabbal minna hadza al-Qurban</i>”. “Ya Allah, terimalah sedikit qurban ini dari kami&#8221;.[19] Sungguh menakjubkan ungkapan beliau. Semua musibah tersebut dianggap kecil jika semuanya dilakukan demi keridhoan Tuhannya. Kemudian para tawanan pun diarak dari Karbala menuju Kufah. Pesta terbunuhnya Imam Husain as akan dirayakan di istana Ubaidillah bin Ziyad (laknat Allah swt atasnya). Sesampainya di kota Kufah, para penduduk Kufah berkumpul mengerumuni para tawanan untuk melihat keadaan mereka dari dekat. Melihat kondisi tawanan, penduduk ikut larut dalam kesedihan lalu melemparkan makanan ke arah mereka. Namun Ummu Kultsum mengatakan kepada mereka bahwa keluarga Rasul saw diharamkan untuk menerima sedekah. Lantas beliau berkata: &#8220;Diamlah wahai penduduk Kufah, para laki-laki kalian telah membunuh orang-orang kami. Apakah pantas para perempuan kalian menangis untuk kami? Ketahuilah, Allah swt akan menjadi hakim di hari pengadilan nanti dan akan mengadili kalian dan kami&#8221;. Sedangkan Fathimah binti Husain as berkata: &#8220;Binasalah mereka yang tidak menolong imamnya. Binasalah mereka yang tidak membela imamnya. Tunggulah laknat Allah swt, laknat atas orang-orang zalim…&#8221;. [20]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Di sini dapat kita saksikan bahwa para perempuan lebih aktif berbicara karena jika Imam Sajjad as yang lebih aktif dan vokal membongkar semua kebusukkan penguasa niscaya jiwa beliau akan terancam bahaya. Setelah itu Sayyidah Zainab as berpidato di hadapan penduduk Kufah. Basyir bin Khuzaim berkata: &#8220;Aku melihat Zainab binti Ali saat itu, tak pernah kusaksikan seorang tawanan yang lebih piawai darinya dalam berbicara. Seakan kata-katanya keluar dari mulut Imam Ali as&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Adapun isi khutbah Sayyidah Zainab as di hadapan masyarakat Kufah adalah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>1.<span>  </span>Menggambarkan dan mengenalkan kondisi dan karakteristik masyarakat Kufah kala itu. Beliau menggunakan perumpamaan sehingga mudah dipahami oleh banyak orang dan menggunakan realitas yang mengisyaratkan sifat-sifat masyarakat Kufah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>2. Sebab-sebab yang menjadikan masyarakat Kufah bernasib seperti itu, di antaranya karena mereka telah membunuh, menyebarkan kejahatan dan kefasadan, cinta dunia, pengecut dan tidak berpendirian (mudzabdzab).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>3. Nasib yang akan menimpa masyarakat Kufah setelah menghianati Imam Husain as berupa kecelakaan dan kesengsaraan di dunia dan akhirat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kemudian, para tawanan dan kepala suci Imam Huseian as di arak ke istana Ubaidillah bin Ziyad. Ubaidillah duduk dengan congkak di atas singgasananya. Setelah memasuki istana, Sayyidah Zainab as duduk dengan wajah yang sulit dikenali. Ibnu Ziyad bertanya: &#8220;Siapakah dia?&#8221;. Sayyidah Zainab as tidak menjawabnya sampai Ibnu Ziyad mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali. Hal ini merupakan sebuah penghinaan terhadap Ibnu Ziyad yang seorang penguasa. Salah seorang dari perempuan menjawab: &#8220;Dia Zainab putra Ali!&#8221;. Dengan penuh kecongkakan dan dengan tujuan untuk merendahkan dan meremehkan mereka, Ibnu Ziyad berpaling kepadanya dan berkata: &#8220;Puji syukur aku panjatkan pada Allah swt yang telah mempermalukan kalian dan telah membuka kedok kebohongan kalian semuanya&#8221;. Zainab as menjawab: &#8220;Yang sebenarnya dipermalukan Allah ialah kalian yang fasik dan yang mempunyai kebohongan ialah para pendusta, bukan kami&#8221;. Ibnu Ziyad menyahut: &#8220;Bagaimana pendapatmu tentang apa yang telah Allah timpakan terhadap saudara dan keluargamu?&#8221;. Tanpa diduga oleh Ibnu Ziyad, dengan tegas Sayyidah Zainab as menajwab dengan ungkapan yang sangat indah: <b>&#8221; </b>Tidaklah kulihat semua ini, melainkan keindahan. Mereka ialah orang-orang yang telah ditakdirkan oleh Allah swt untuk mati terbunuh. Mereka pun bergegas<b> </b>menyongsong kematian itu. Allah swt kelak akan mempertemukanmu dengan mereka. Kelak engkau akan dihujani pertanyaan dan disudutkan. Lihatlah, siapakah yang akan menang pada hari itu? Semoga ibumu memakimu, hai anak Marjanah!!!&#8221;[21] Jawaban beliau yang tegas itu mampu mengurangi kadar kesombongan Ibnu Ziyad dan membuatnya merasa dipermalukan di hadapan masyarakat. Ia menjadi marah setelah mendengar jawaban Sayyidah Zainab as.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Jawaban Sayyidah Zainab as di atas melukiskan bahwa beliau lebih mengutamakan keridhoan Ilahi di atas segalanya. Betapa tinggi derajat makrifat beliau. Jelaslah bahwa beliau adalah seorang arif dan merupakan salah satu wali Allah swt di muka bumi. Baginya, segala ketentuan Allah swt adalah indah dan cantik. <b>&#8220;Tidaklah kulihat semua ini, melainkan keindahan&#8221;.</b> Sungguh ungkapan yang sangat luar biasa, yang tidak tidak akan keluar dari sosok manusia biasa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kini telah tiba saatnya untuk menyampaikan kepada masyarakat akan kebenaran dan hakikat Asyuro. Penguasa zalim berusaha berusaha mengelabuhi masyarakat kepada khalayak umum. bahwa mereka berada di pihak yang benar sedang Imam Husain as bersama para pembelanya adalah pemberontak yang menentang penguasa legal. Yazid dan antek-anteknya selalu berusaha mencari justifikasi atas sikap dan perbuatan kejinya terhadap Imam Husain as bersama para pembelanya. Jika para tawanan Karbala diam seribu bahasa dan tidak berusaha untuk membuka kebusukan-kebusukan Yazid dan antek-anteknya dengan berbagai cara seperti melalui pernyataan, sikap dan peringatan maka opini umum akan selalu bersahabat dan mendukung penguasa zalim yang selalu berusaha melakukan fallacy (memutarbalikkan fakta, menampakkan kebathilan sebagai kebenaran atau sebaliknya).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Seusai berdialog dengan Sayyidah Zainab as, Ibnu Ziyad menoleh ke arah Imam Sajjad as dan bertanya: &#8220;Siapakah anda?&#8221; Imam Sajjad as menjawab: &#8220;Aku adalah Ali bin Husain&#8221;. “Bukankah Allah telah membunuh Ali bin Husain?” tanya Ibnu Ziyad dengan congkak. Imam Sajjad as menjawab: &#8220;Aku memiliki seorang saudara yang bernama Ali bin Husain yang telah dibunuh oleh mereka&#8221;. Ibnu Ziyad dengan sombong berkata: &#8220;Tidak, Allah yang telah membunuhnya&#8221;. &#8220;Allah swt telah mengambil nyawanya ketika ia mati,&#8221; sahut Imam Sajjad as.[22] Jika kita simak baik-baik dialog ini, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Ibnu Ziyad selalu berusaha untuk mengelabui kaum muslimin. Bagaimana tidak, dengan congkaknya ia mengatakan bahwa Allah-lah yang telah membunuh Ali bin Husain as. Artinya, ia ingin menyatakan kepada khalayak; jangan salahkan kami (Ibnu Ziyad), bukan kehendak kami melakukan pembantaian di Karbala tetapi itu adalah kehendak Allah. Argumen pembelaan diri semacam ini ibarat pepatah yang mengatakan: &#8220;Lempar batu sembunyi tangan&#8221;. Artinya dengan berkedok keyakinan determinisme (jabriyah), ia ingin berlepas tangan dari kesalahan yang telah perbuatnya Masyarakat awam mungkin dengan mudah akan membenarkan semua pernyataan Ibnu Ziyad, bahwa Allah-lah yang telah membunuh Imam Husain as—dengan takdir yang telah ditentukan oleh-Nya—sementara pasukan Yazid hanya sebagai pelaksana dari takdir tersebut. Pemikiran jabriyah adalah sebuah pemikiran yang cukup membahayakan Islam kala itu. Pemikiran ini telah merubah fakta, memutarbalikkan kebenaran dan kebathilan sedemikian rupa. Oleh karena itu,<span>  </span>salah satu misi para tawanan tragedi Karbala—khususnya para tawanan perempuan—adalah merubah pemikiran ini. Mereka harus mampu mengubah opini umum yang tidak bertentangan dengan Islam murni yang dibawa oleh Ahlul Bait as.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Selepas mendengar Imam Ali Zainal Abidin Sajjad as, Ibnu Ziyad marah. Lantas ia memerintahkan bawahannya untuk membunuh beliau. Namun Sayyidah Zainab as menghalanginya seraya berkata kepada Ibnu Ziyad: &#8220;Wahai Ibnu Ziyad, belum cukupkah engkau tumpahkan darah kami?&#8221;. Lalu Sayyidah Zainab as memeluk Imam<span>  </span>Sajjad dan berkata: &#8220;Demi Allah, aku tidak akan pernah berpisah darinya. Jika engkau ingin membunuhnya maka bunuh hugalah aku &#8220;.[23]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Inilah risalah pertama yang dilaksanakan para perempuan di kota Kufah. Tugas selanjutnya yang mereka emban adalah menyampaikan misi Asyuro dan mengubah opini umum tentang ahlul bayt Nabi di kota Syam. Saat itu, Syam merupakan ibu kota pemerintahan Bani Umayyah. Islam yang dipeluk oleh penduduk Syam adalah Islam yang dibawa dan dikenalkan Muawiyah yang sejak awal telah membenci Ahlul Bayt Nabi saww. Maka pandangan mereka terhadap Ahlu-Bayt Nabi adalah pandangan yang negatif. Sebagai contoh, dalam sejarah disebutkan bahwa penduduk Syam sangat takjub saat mendengar Imam Ali as dibunuh di mihrab. Dengan takjub mereka berkata: “Ali mendirikan shalat juga?” Sampai sedemikian rupa anggapan mereka terhadap Imam Ali as dan Ahlul Baytnya. Hal ini disebabkan propaganda busuk Muawiyah yang berhasil meracuni otak dan jiwa penduduk Syam. Ketika mereka mengetahui bahwa rombongan tawanan akan dibawa ke Syam, masyarakat Syam segera mengadakan pesta dengan sangat meriah layaknya pesta hari raya. Pesta ini diselenggarakan atas perintah Yazid bin Muawiyah dengan alasan kemenangan pasukannya di Karbala dan untuk menyambut kedatangan para tawanan Karbala.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Diriwayatkan bahwa ketika rombongan tawanan tiba di istana Yazid bin Muawiyah, mereka meletakan kepala suci Imam Husain as di atas nampan dan nampan itu diletakan di hadapan Yazid bin Muawiyah (laknat Allah swt atasnya). Yazid bin Muawiyah memukul gigi-gigi suci Imam Husain as dengan tongkatnya sembari mengucapkan sya&#8217;ir- berikut ini: <b>&#8220;Bani Hasyim (Rasulullah) telah bermain dengan kekuasaan padahal tidak ada berita yang datang dan wahyu yang turun. Andaikan leluhurku yang mati dalam perang Badar menyaksikan keketakutan dan kekalahan kabilah Khazraj maka mereka akan bergembira ria dan memujiku. Kami melakukan perbuatan ini sebagai balasan atas kekalahan kami dalam perang Badar. Sekarang, kedudukan korban<span>  </span>kami (di perang Badar) dan kedudukan musuh kami adalah sama. Jangan katakan diriku dari keturunan Khandaf (nama salah satu leluhur Muawiyah .red) jika aku tidak mampu membalas dendam kepada Bani Ahmad (baca: keturunan Muhammad saww)&#8221;.</b> [24]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dengan tidak sadar, Yazid bin Muawiyah telah membuka kedoknya sendiri melalui syair yang dilantunkannya. Ia menganggap peperangan kaum muslimin dengan kaum musyrikin dalam perang Badar yang telah menyebabkan kematian para leluhurnya adalah perang antar suku. Bukan perang antara hak dan bathil. Lantas apakah orang semacam Yazid bin Muawiyah itu layak menduduki tampuk kepemimpinan Islam, apalagi mengaku sebagai khalifah Rasul saww atas kaum muslimin? Layakkah orang seperti Yazid bin Muawiyah bin Abu Sufyan ini dibela? Apakah salah jika kita meragukan keislaman orang yang membela Yazid bin Muawiyah yang fasik dan pemabuk itu, sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah beserta para pengikutnya yang mengaku menghidupkan kembali ajaran para salaf saleh dan menyebut dirinya sebagai kelompok Salafy(baca: Wahabi)?.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Hati Sayyidah Zainab as amat tersayat sewaktu menyaksikan prilaku kurang ajar Yazid terhadap kepala suci Imam Husain as. Kemudian dengan suara yang sangat menyayat hati beliau berkata: “Wahai Husain, wahai putra Rasul, wahai putra Mekah dan Madinah, wahai putra Fathimah penghulu para wanita dan wahai putra Muhammad manusia pilihan Allah swt”. Orang-orang yang hadir di tempat itu tersentuh hatinya dan merekapun menangis. Bahkan Yazid diam seribu bahasa. Kemudia Sayyidah Zainab as menyampaikan khutbah Ghara’ di hadapan Yazid bin Muawiyah dengan tujuan menyampaikan kepada Yazid dan khalayak umum tentang kedudukan agung Rasul saww<span>  </span>dan menunjukkan kepada mereka bahwa kesabaran para tawanan adalah demi keridhoan Allah swt, bukan karena rasa takut. Dengan bahasa yang sangat fasih Sayyidah Zainab as menyampaikan khutbah tersebut. Adapun isi khutbah beliau adalah sebagai berikut;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>1.<span>  </span>Peringatan kepada Yazid bin Muawiyah agar tidak menganggap musibah yang telah ia timpakan<span>   </span>kepada mereka sebagai sebuah kemenangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>2.<span>  </span>Peringatan kepada Yazid bin Muawiyah akan perlakuan buruknya kepada para tawanan khususnya para perempuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>3. Memberitahukan kepada khalayak umum tentang jati diri Yazid bin Muawiyah. Ialah adalah cucu dari Hindun neneknya yang telah memakan hati Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Rasul) dalam perang Uhud.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>4.<span>  </span>Mengenalkan kepada para hadirin tentang kedudukan Imam Husain as di sisi Rasul saww.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>5.<span>  </span>Mengingatkan pahala yang diberikan Allah swt kepada para syuhada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>6. Mengingatkan nasib dan siksaan yang akan menimpa orang-orang yang telah berbuat zalim, khususnya pembunuhan yang mereka lakukan terhadap hujjah-Nya di muka bumi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Ajaib, Yazid bin Muawiyah yang memegang tampuk kekuasaan Islam saat itu hanya diam seribu bahasa. Ia tidak mampu berkata sepatah kata ketika mendengar khutbah Sayyidah Zainab as. Padahal ia bisa saja memerintahkan bawahannya untuk menghentikan khutbah tersebut. Ia tidak melakukan apa pun dikarenakan kewibawaan yang dimiliki oeh Sayyidah Zainab as. Khutbah Sayyidah Zainab itu terus mengiang-ngiang di telinga Yazid.[25]<span>        </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Diriwayatkan bahwa ketika salah satu sahabat Nabi yang berumur panjang melihat Yazid bin Muawiyah memukul-mukulkan tongkatnya ke gigi suci Imam Husain as, dengan takjub ia berkata: “Engkau memukul gigi Husain dengan kayu ini? Aku melihat kayumu mengenai bagian yang sering dicium oleh Rasul saww. Ingatlah wahai Yazid, pada hari kiamat engkau akan datang dengan Ibnu Ziyad sebagai pensyafa’atmu dan kepala suci ini akan datang sedang Rasul saww<span>  </span>sebagai pensyafa’atnya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kemudian Yazid memerintahkan tentaranya untuk menempatkan para tawanan di tempat terbuka. Wajah-wajah suci mereka terbakar teriknya matahari. Namun mereka tetap mengadakan majlis duka untuk Imam Husain as kendati kondisi mereka sangat sulit. Setelah itu, bukan para tawanan saja yang mengadakan majlis duka atas kesyahidan Imam Husain as tetapi para perempuan bani Umayah dan masyarakat Syam pun mengadakan majlis duka yang sama. Khutbah Sayyidah Zainab as telah mampu menyadarkan masyarakat Syam yang tidur dalam kelalain. Beliau telah membuka kedok kejahatan Yazid di hadapan masyarakat Syam dan mengingatkan mereka tentang Ahlul Bayt Nabi saww. Tidak sampai di situ, Yazid pun menjadi ketakutan<span>  </span>menyaksikan kondisi yang ada, sampai akhirnya ia menyatakan penyesalan atas pembunuhan Imam Husain as dan melemparkan kejahatan tersebut kepada gubernurnya Ibnu Ziyad.[26]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><span>Hasil Risalah Perempuan dalam Tragedi Asyuro :</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>1.<span>      </span>Melenyapkan pengaruh dari agama yang diperkenalkan Bani Umayyah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>2.<span>      </span>Membangkitkan kembali jiwa masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>3.<span>      </span>Menghancurkan pemerintahan zalim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>4.<span>      </span>Menyiapkan lahan untuk terwujudnya gerakan dan revolusi dalam masyarakat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>5.<span>      </span>Menyadarkan para pendukung rezim serta mampu menumbuhkan rasa berdosa di kalangan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>6.<span>      </span>Mengajarkan jiwa tangguh dan bertahan dalam menghadapi kesulitan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>7.<span>      </span>Mewujudkan rasa persatuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>8.<span>      </span>Membersihkan pemikiran yang telah terpolusi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>9.<span>      </span>Menyiapkan lahan keruntuhan rezim zalim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>10.<span>  </span>Menyebarkan ajaran-ajaran Islam, dan lain-lain.[27]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span>Inilah beberapa risalah yang telah disampaikan para duta Karbala, yang tidak kalah pentingnya dengan Asyuro itu sendiri. Karena dengan peranan yang mereka mainkan misi Asyuro menjadi sempurna. Wallahua’lam [islamalternatif.net] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span>“Ya Allah, jadikanlah kami Zainab-Zainab masa kini, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span>Menjadi pembela dan pengusung Asyuro </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span>Menjadi pembela dan pengusung Islam Muhammadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span>Amiin”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><u><span>Daftar Pustaka:</span></u></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[1]<span>  </span>Rey Syahri, Muntkhab Mizan al-Hikmah, hal : 42.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[2] Ali Nazri Munfarid, Qesse-ye Karbalo,<span>  </span>hal : 70.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[3] Allamah Muhammad Kazim Gazwini, Zainab al-Kubro-minal Mahdi ilal Lahdi, edisi Farsi, hal :126. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[4] DR. Ali Qoimi, Naqsye-ye Zanon dar Asyuro.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[5] Ibid.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[6] Muhammad Baqir Sadr, Mengungkap Yang Tak Terungkap-Karbala yang Menyisakan Pertanyaan, edisi terjemahan-hal :46. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[7] Sayyid Nurudin Jazairi, Wizegihoye Hazrate Zainab, hal 79.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[8] Allamah Muhammad Kazim Gazwini, Zainab al-Kubro-minal Mahdi ilal Lahdi, edisi Farsi, hal : 130.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[9] Muhammad Baqir Sadr, Mengungkap Yang Tak Terungkap-Karbala yang Menyisakan Pertanyaan, edisi terjemahan-hal :46.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[10] Ibid hal :126-127</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[11] Ali Nazri Munfarid, Qiseyy-e Karbalo, hal : 126-128</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[12] Ibid, hal : 292-293, 310-311. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[13] DR. Ali Qoimi, Naqsye-ye Zanon dar Asyuro.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[14] Ali Nazri Munfarid, Qiseyy-e Karbalo, hal : 319-320.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[15] DR. Ali Qoimi, Naqsye-ye Zanon dar Asyuro.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[16] Allamah Muhammad Kazim Gazwini, Zainab al-Kubro-minal Mahdi ilal Lahdi, edisi Farsi, hal : 181-184</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[17] Ibid, hal : 210-213 </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[18] Ali Nazri Munfarid, Qese-ye Karbalo, hal : 404-407.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[19] Sayyid Nurudin Jazairi, Wizegihoye Hazrate Zainab, hal : 227. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[20] DR. Ali Qoimi, Naqsye-ye Zanon dar Asyuro.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[21] Allamah Muhammad Kazim Gazwini, Zainab al-Kubro-minal Mahdi ilal Lahdi, edisi Farsi, hal : 305-306</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[22] Ibid, hal : 306-307</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[23] Ibid, hal : 307</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[24] DR. Aisyah binti Syathi’, Banuy-e Karbalo Hazrate Zainab, edisi Persia, hal : 145. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[25] Ibid, hal : 147-148.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[26] Sayyid Nurudin Jazairi, Wizegihoye Hazrate Zainab, hal : 207-208.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>[27]DR. Ali Qoimi, Naqsye-ye Zanon dar Asyuro.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/250/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/250/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/250/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=250&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/01/21/peran-perempuan-dalam-tragedi-asyuro-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/asyura1.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">asyura1.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peran Perempuan dalam Tragedi Asyuro (Bag-II)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/01/17/peran-perempuan-dalam-tragedi-asyuro-bag-ii/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/01/17/peran-perempuan-dalam-tragedi-asyuro-bag-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jan 2008 04:46:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2008/01/17/peran-perempuan-dalam-tragedi-asyuro-bag-ii/</guid>
		<description><![CDATA[ 
Ummu Wahab, istri Abdullah bin Umair, mengambil tiang kemah dan diberikan kepada suaminya seraya berkata:&#8221;Wahai yang jiwaku sebagai tebusannya, berperanglah untuk membela keluarga Rasul&#8221;. Setelah suaminya syahid, ia meletakkan jenazah suami di pangkuannya. Syimr bin Dzil Zausyan–-laknat  Allah SWT atasnya—memerintahkan budaknya untuk memukul kepala Ummu Wahab dengan tiang kemah tadi sampai akhirnya Ummu Wahab [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=248&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"> <a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/01/karbala2.jpg" title="karbala2.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/01/karbala2.thumbnail.jpg" alt="karbala2.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Ummu Wahab, istri Abdullah bin Umair, mengambil tiang kemah dan diberikan kepada suaminya seraya berkata:&#8221;Wahai yang jiwaku sebagai tebusannya, berperanglah untuk membela keluarga Rasul&#8221;. Setelah suaminya syahid, ia meletakkan jenazah suami di pangkuannya. Syimr bin Dzil Zausyan–-laknat<span>  </span>Allah SWT atasnya—memerintahkan budaknya untuk memukul kepala Ummu Wahab dengan tiang kemah tadi sampai akhirnya Ummu Wahab pun turut meneguk cawan kesyahidan sesuai impiannya. Ia adalah perempuan pertama yang syahid dalam membela Imam Husain as.<span>          </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span id="more-248"></span><span><span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Peran Perempuan dalam Tragedi Asyuro II</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span>Oleh: Euis Daryati</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><span> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><span>Kedua: Pada Hari Asyuro</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Hari Asyuro merupakan hari peperangan kedua pasukan yang tidak sebanding. Di satu pihak, pasukan Umar bin Sa&#8217;ad dengan bala tentara yang sangat banyak dan dilengkapi dengan persenjataan lengkap dan di pihak lain, pasukan Imam Husain as dengan tentara amat terbatas dan perlengkapan perang yang sangat sederhana. Sebenarnya peperangan antara pasukan Umar bin Sa&#8217;ad dan Imam Husain as di padang Karbala lebih pantas disebut sebagai &#8220;pembantaian&#8221; daripada peperangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Dalam pandangan Islam, jihad memang tidak diwajibkan bagi perempuan namun mereka dapat melakukan hal-hal yang dapat membantu terwujudnya kesuksesan dalam peperangan seperti memberikan semangat, merawat orang-orang yang terluka, membagi-bagikan air kepada tentara dan lain sebaginya. Demikian pula para perempuan ikut hadir di padang Karbala. Kendati mereka tidak mengangkat senjata dan berperang tetapi mereka melakukan hal-hal sesuai dengan kemampuan mereka dalam turut membela imam dan pemimpin mereka, al-Husain as. Berbagai aktivitas yang mereka lakukan pada hari itu, di antaranya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>1. Menemani para syuhada: Mereka memberikan motivasi dan support kepada para suami dan anaknya untuk maju ke medan perang. Seperti istri Zuhair bin Qin Bajali yang berhasil mempengaruhi suaminya yang beraliran Utsmani untuk menjadi pengikut dan pembela Imam Husain as hingga akhirnya kesyahidan diraihnya. Ummu Wahab, istri Abdullah bin Umair, mengambil tiang kemah dan diberikan kepada suaminya seraya berkata:&#8221;Wahai yang jiwaku sebagai tebusannya, berperanglah untuk membela keluarga Rasul&#8221;. Setelah suaminya syahid, ia meletakkan jenazah suami di pangkuannya. Syimr bin Dzil Zausyan–-laknat<span>  </span>Allah SWT atasnya—memerintahkan budaknya untuk memukul kepala Ummu Wahab dengan tiang kemah tadi sampai akhirnya Ummu Wahab pun turut meneguk cawan kesyahidan<span>  </span>sesuai impiannya. Ia adalah perempuan pertama yang syahid dalam membela Imam Husain as.[12]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>2.<span>  </span>Menenangkan jiwa anak-anak sehingga anak-anak tidak menghalangi ayah ataupun saudaranya untuk berjihad.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>3.<span>  </span>Berusaha untuk selalu menguasai diri: Dengan penguasaan diri mereka tidak cepat terpengaruh situasi dan kondisi kala itu. Memang Tuhan telah menganugrahkan kadar emosional lebih kepada perempuan berdasarkan hikmah-Nya sebagaimana yang telah banyak dibahas dalam makalah-makalah yang berkaitan tentang perempuan. Namun yang perlu diperhatikan adalah, seandainya para perempuan pada hari Asyuro tidak pandai menguasai dirinya maka para musuh Allah swt akan dengan mudah mengalahkan pasukan Imam Husain.. Mereka telah tampil dengan kokoh dan tegar walaupun kondisi kala itu sangat menyayat hati.[13]<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>4.<span>  </span>Mentaati perintah Imam Husain as: Istri Abdullah Kalbi dan Ummu Wahab istri Abdullah bin Umair hendak ikut maju ke medan perang, namun mereka megurungkan niatnya karena ketaatan mereka terhadap perintah Imam Husain as. Sedangkan istri Junadah bin Haris Anshari segera kembali ke tendanya sesuai perintah Imam Husain as setelah ia berhasil membunuh dua orang tentara musuh. Setelah kesyahidan suaminya ia memerintahkan anaknya yang masih remaja, Amru bin Junadah Anshari untuk pergi berperang membela Imam Husain as. Musuh melemparkan kepala anaknya yang telah syahid ke pangkuannya. Selepas membersihkan debu dari kepala anaknya, kemudian ia memukulkan kepala tersebut ke salah satu kepala musuh yang berada di dekatnya hingga mati. Setelah itu ia pergi ke kemah untuk mengambil tiang kemah—sebagian mengatakan pedang—seraya membaca sya&#8217;ir perang:&#8221;Akulah seorang nenek tua yang sudah lemah, kurus dan tak berdaya. Akan kupukulkan pukulan keras kepada kalian demi membela keturunan Fathimah yang mulia&#8221;. Lalu ia menyerang musuh-musuh hingga dapat membunuh dua orang dari mereka. Setelah itu, Imam Husain as memerintahkan kepadanya untuk kembali ke tendanya, dan ia pun menta&#8217;ati perintah Imamnya.[14]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>5.<span>  </span>Tidak menangis dan besedih dikala para suami dan anak mereka mati syahid demi membela Imam Husain as. Hal itu karena mereka tahu bahwa gugur dalam membela Imam as merupakan amal kebajikan yang balasannya tiada taranya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>6.<span>  </span>Menghibur para pejuang (mujahid) perihal masa depan keluarganya sehingga mereka tenang dalam berjihad.[15]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>7. Merawat Imam Sajjad as: Memburuknya kondisi Imam Ali Zainal Abidin Sajjad beliau pada waktu itu merupakan hikmah Ilahi, demi keberlangsungan keimamahan pasca Imam Husain as. Jika tidak demikian, maka musuh-musuh Imam Husain as akan membantai habis dan tidak akan menyisakan seorang laki-laki pun dari keturunan Imam Husain as.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>8. Mengemban wasiat Imam Husain as tentang keimamahan sepeninggal beliau: Ini<span>  </span>merupakan tugas terpenting dan terberat di antara tugas-tugas lain yang mereka emban. Pada detik-detik menjelang berakhirnya tragedi Asyuro, Imam Husain as pergi menuju kemah anaknya, Imam Ali Zainal Abidin as yang sedang sakit keras untuk mengucapkan perpisahan dengannya. Beliau mengetahui bahwa ajalnya semakin dekat. Imam Husain as memasuki kemah, sementara Imam Sajjad as tengah terbaring dan tergeletak dalam keadaan sakit di atas tanah yang hanya beralaskan kulit yang sudah dikeringkan. Sayyidah Zainab al-Kubro sedang merawatnya. Sewaktu Imam Sajjad as melihat Imam Husain as datang, beliau hendak berdiri sebagai tanda penghormatan. Namun Imam Husain as tidak mengizinkannya untuk berdiri. Imam Sajjad berkata kepada bibinya, Sayyidah Zainab al-Kubro: &#8220;Sandarkan diriku pada dadamu, karena putra Rasul saww telah datang&#8221;. Sayyidah Zainab as pun menurutinya. Setelah itu Imam Husain as menanyakan kondisi kesehatannya. Terjadilah percakapan antara keduanya. Imam Sajjad as menanyakan tentang pamannya Abul Fadhl al-Abbas, semua saudaranya dan para sahabat. Imam Husain as menjawab: &#8220;Wahai anakku, ketahuilah, tidak ada laki-laki (dewasa) lain yang tersisa di antara kemah-kemah ini melainkan hanya aku dan engkau saja. Dan orang-orang yang telah engkau tanyakan tadi semuanya telah terbunuh dan terjatuh di atas tanah&#8221;. Mendengar hal tersebut Imam Sajjad as menangis dengan penuh kesedihan seraya berkata kepada bibinya, Sayyidah Zainab as: &#8220;Wahai bibiku, berikan kepadaku pedang dan tongkat&#8221;. &#8220;Untuk apa engkau menginginkan benda itu?&#8221; tanya Imam Husain as. Imam Sajjad as menjawab: &#8220;Aku ingin bersandar pada tongkat dan membela putra Rasulullah dengan pedang ini&#8221;. Namun Imam Husain as mencegahnya dan merengkuhnya seraya berkata: &#8220;Wahai anakku, engkau adalah sebaik-baiknya keturunanku, ithrahku yang paling utama…&#8221;. Setelah mengungkapkan keutamaan-keutamaan Imam Sajjad, lantas Imam Husain as memegang tangan Imam Sajjad as dan dengan suara lantang beliau berkata: &#8220;Wahai Zainab, wahai Ummu Kultsum, wahai Ruqayyah, wahai Fathimah dengarkanlah ucapanku dan ketahuilah; sesungguhnya anakku ini adalah khalifahku atas kalian semua dan Imam yang harus dita&#8217;ati&#8221;.[16] Wasiat Imam Husain as ini, dengan jelas menunjukkan keimamahan pasca beliau dan keimamahan ini harus dijaga dan disampaikan kepada masyarakat.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Setelah itu beliau melanjutkan ucapannya seraya berkata: “Wahai anakku, sampaikan salam dariku untuk Syi’ah (pengikut)-ku, dan katakan kepada mereka: “Sesungguhnya ayahku mati dalam keadaan terasing maka berdukalah untuknya, dan telah meninggalkan dunia fana ini dalam keadaan syahid maka menangislah untuknya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Terdapat dua misi penting yang berada di pundak para perempuan pasca tragedi Asyuro; menjaga keberlangsungan serta menyampaikan keimamahan pasca Imam Husain<b> </b>as—sebagaimana<span>  </span>yang telah diwasiatkan oleh Imam Husain as—dan menyampaikan pesan Asyuro sehingga revolusi Asyuro pun menjadi lebih sempurna. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa para musuh Allah berkali-kali berusaha untuk membunuh Imam Sajjad as karena mereka tidak ingin seorang pun dari keluarga Imam Husain as hidup.</span></p>
<p>Bersambung&#8230;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/248/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/248/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/248/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/248/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/248/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=248&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/01/17/peran-perempuan-dalam-tragedi-asyuro-bag-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/01/karbala2.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">karbala2.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peran Perempuan dalam Tragedi Asyuro (bag I)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/01/10/peran-perempuan-dalam-tragedi-asyuro-i/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/01/10/peran-perempuan-dalam-tragedi-asyuro-i/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2008 07:29:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2008/01/10/peran-perempuan-dalam-tragedi-asyuro-i/</guid>
		<description><![CDATA[ 
Nyawa manusia memang terhormat dan harus dijaga. Namun ketika bahaya menyerang agama, pada saat itu agama harus lebih diutamakan kendati nyawa akan melayang. Itulah yang dilakukan Imam Husain as di Karbala. Tapi yang menjadi pertanyaan ialah; Apakah Asyuro cukup sampai di sini? Siapakah duta-duta di balik tragedi Asyuro yang harus menyampaikan pesan Asyuro? Bagaimanakah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=242&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"> <a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/v_zeinab_9.jpg" title="v_zeinab_9.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/v_zeinab_9.thumbnail.jpg" alt="v_zeinab_9.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Nyawa manusia memang terhormat dan harus dijaga. Namun ketika bahaya menyerang agama, pada saat itu agama harus lebih diutamakan kendati nyawa akan melayang. Itulah yang dilakukan Imam Husain as di Karbala. Tapi yang menjadi pertanyaan ialah; Apakah Asyuro cukup sampai di sini? Siapakah duta-duta di balik tragedi Asyuro yang harus menyampaikan pesan Asyuro? Bagaimanakah peranan perempuan dalam hal ini?<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span><span id="more-242"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Peran Perempuan dalam Tragedi Asyuro (bag I)</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span>Oleh: Euis Daryati</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>“<b><i>Al-Islam, Muhammaddiyatul Huduts wa husainiyatul Baqa’. &#8216;Asyuro, Husainiyatul Huduts wa Zainabiyatul Baqa</i></b>”. (&#8220;Keberadaan Islam terwujud melalui<span>  </span>Nabi Muhammad saww dan kekal melalui Imam Husain as. Keberadaan Asyuro terwujud melalui Imam Husain as dan kekal melalui Zainab as”.)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Ungkapan di atas merupakan salah satu manifestasi dari hadis Rasul saww yang berbunyi: &#8220;Husain dariku dan aku dari Husain, Allah mencintai orang yang mencintai Husain&#8221;.[1] Ungkapan “Aku dari Husain” mengisyaratkan bahwa kelanggengan Islam Muhammadi terwujud melalui peranan Imam Husain as dalam peristiwa Asyuro. Sedangkan kelanggengan Asyuro terwujud melalui peranan Zainab al-Kubro as. Oleh karena itu, Sayyidah Zainab as<span>  </span>juga memiliki peran penting dalam menjaga kemurnian dan kesucian Islam Muhammadi. Hal ini menunjukkan tiga buah mata rantai yang satu sama lain saling berkaitan erat dan tidak mungkin untuk dapat dipisahkan; Nabi Muhammad saww, Imam Husain as dan Sayyidah Zainab as.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Melalui peristiwa Asyuro, terjadi pelurusan kembali agama Islam yang telah diselewengkan. Kita dapat memahami perihal ini jika kita menelaah kembali apa yang telah terjadi di zaman Imam Husain as. Ketika itu, ajaran-ajaran Islam diselewengkan,<span>  </span>kebenaran diperlihatkan sebagai suatu kebatilan dan sebaliknya. Sang<span>  </span>penguasa melakukan hal-hal yang jelas bertentangan dengan ajaran Islam, padahal ia telah memploklamirkan dirinya sebagai khalifah Rasul saww dan khalifah kaum muslimin. Maka tibalah saatnya Imam Husain as bangkit untuk melawan kezaliman dan memurnikan Islam yang telah dikotori oleh tangan-tangan jahil yang mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad saww. Imam Husain as sendiri telah menjelaskan masalah ini ketika menuliskan wasiat kepada saudaranya Muhammad bin Hanafiah berkaitan dengan sebab-sebab keberangkatannya ke Karbala. Imam mengatakan bahwa keberangkatannya ke Karbala bukan untuk berbuat keonaran dan kerusakan tetapi untuk merevisi kembali kondisi umat kakeknya (Nabi Muhammad saww), menegakkan<span>  </span>yang makruf dan mencegah yang munkar serta menghidupkan kembali jalan serta agama kakek dan ayahnya.[2]<span>  </span>Imam Husain as datang ke Karbala bukan untuk melakukan gerakan harakiri, akan tetapi demi menyelamatkan Islam Muhahammadi. Meskipun proses penyelamatan tersebut dapat merenggut nyawanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Nyawa manusia memang terhormat dan harus dijaga. Namun ketika bahaya menyerang agama, pada saat itu agama harus lebih diutamakan kendati nyawa akan melayang. Itulah yang dilakukan Imam Husain as di Karbala. Tapi yang menjadi pertanyaan ialah; Apakah Asyuro cukup sampai di sini? Siapakah duta-duta di balik tragedi Asyuro yang harus menyampaikan pesan Asyuro? Bagaimanakah peranan perempuan dalam hal ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Tidak dapat dipungkiri bahwa di balik setiap tokoh yang menciptakan peristiwa besar, pasti ada peranan perempuan di sana, baik peranan langsung dalam panggung peristiwa atau peranan di balik layar. Di balik &#8220;Muhammad&#8221; ada &#8220;Khadijah&#8221;. Di balik &#8220;Ali&#8221; ada &#8220;Fathimah az-Zahro&#8221;. Dan dibalik &#8220;Husain&#8221; ada &#8220;Zainab al-Kubro&#8221;. Keberadaan Islam, keimamahan (kepemimpinan pasca Rasulullah) dan kelanggengan pesan Asyuro dijaga dan didukung oleh para wanita pilihan nan berani seperti Khadijah as, Fathimah as, dan Zainab as. Meskipun dalam hal ini kita tidak dapat menafikan peranan para pejuang wanita lainnya yang telah ikut andil dalam membela agama Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Secara global peran perempuan dalam tragedi Asyuro dapat dispesipikasihan dalam tiga fase:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><span>Pertama: Pra Tragedi Asyuro</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sebagian orang yang tidak mengetahui kedudukan Imam Husain as mungkin akan bertanya-tanya mengapa beliau membawa<span>  </span>para perempuan ke Karbala dan menganggap hal tersebut sebagai sebuah sikap yang sangat konyol dan sia-sia.<span>  </span>Beliau sendiri sudah mengetahui keberangkatannya ke Karbala bukan untuk hal-hal yang menyenangkan. Bukankah Imam Husain as mengetahui bahwa bencana dan musibah yang akan menimpa beliau di Karbala? Kenapa beliau tetap bertekad untuk membawa para perempuan dan anak-anak tak berdosa menuju tempat yang tidak memberikan kesenangan buat mereka?[3] Bahkan beberapa para pembesar seperti <b>Ibnu Zubair, Ibnu Umar, Muhammad bin Hanafiah, Abdullah bin Umar </b>dan sebagainya telah melarang Imam Husain as untuk membawa para perempuan ke Karbala. Namun Imam tetap bersikukuh untuk membawa mereka. Bahkan ketika beliau menjawab pertanyaan Muhammad bin Hanafiah tentang sebab dibawanya para perempuan ke Karbala, beliau menjawab:<b><i> “</i>Allah swt telah menghendaki untuk melihat mereka dalam keadaan tertawan</b>&#8220;.[4] Berdasarkan ucapan beliau ini, maka salah satu alasan membawa mereka ke padang Karbala adalah untuk<span>  </span>melaksanakan kewajiban dan perintah Allah swt.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Selain itu, para perempuan yang ikut ke Karbala bukanlah sembarang perempuan. Mereka adalah para perempuan yang sudah terlatih dan terseleksi, baik dari sisi mental maupun spiritual. Sayyidah Zainab as, misalnya, telah mendapat berita tentang tragedi Asyuro dari kakeknya (Nabi saww) dan ayahnya Imam Ali bin Abi Thalib as. Dewi-dewi ini telah mengetahui bahwa para suami, anak dan saudara mereka akan terbunuh di padang Karbala nantinya. Namun mereka tahu bahwa sebagai gantinya, nyala api Islam akan selalu berkobar. Hal ini dapat kita lihat dari berbagai ungkapan mereka yang melambangkan gelora perjuangan. Sewaktu Ibnu Abbas melarang Imam Husain untuk membawa para perempuan ke Karbala, Sayyidah Zainab al-Kubro as dan Ummu Kultsum as berkata kepadanya:&#8221;<b>Wahai Ibnu Abbas, apakah engkau hendak memisahkan kami dari saudara kami? Demi Allah, kami tidak akan pernah berpisah darinya!</b>&#8220;.[5] Oleh karena itu, para perempuan pergi menyertai Imam Husain as atas keinginan mereka sendiri. Ini semua disebabkan kecintaan mereka terhadap Imam Husain as yang tidak dapat dibandingkan dengan kecintaan duniawi apapun. Lebih dari itu, mereka memang mengetahui kedudukan luhur Imam Husain as, sebagai seorang imam, pemimpin dan wali Allah di tengah-tengah mereka.[6]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Oleh karena itu, keikutsertaan para perempuan ke Karbala—khususnya Zainab al-Kubro dan keluarga Imam Husain as—bukan hanya atas dasar kecintaan kepada keluarga saja. Cinta dikarenakan hubungan keluarga bukanlah suatu hal yang salah dan dicela oleh agama. Namun kita juga harus kembali melihat kedudukan tinggi Sayyidah Zainab as, kesempurnaan dan makrifat yang dimilikinya tentang kedudukan Imam Husain as. Ketika<span>  </span>menggambarkan kesempurnaan yang dimiliki Sayyidah Zainab as, Imam Ali Zainal Abidin Sajjad as berkata:<b><i> “</i>Dan engkau wahai bibiku, segala puji sukur bagi Allah swt. Engkau adalah sosok yang berpengetahuan tanpa ada yang mengajari. Dan memahami sesuatu tanpa ada yang memahamkan (menerangkan)</b>&#8220;.[7] Sepertinya kurang layak jika Sayyidah Zainab yang memiliki pengetahuan seperti itu berjuang membela Imam Husain hanya dikarenakan kecintaan kepada saudaranya saja. Beliau membela Imam Husain sedemikian rupa karena beliau menganggap<span>  </span>Imam Husain as sebagai Imam zamannya dimuka bumi, Wali Allah dan al-Qur&#8217;an Natiq (yang berbicara) yang senantiasa harus dibela dan dijaga, dimanapun dan kapanpun ia berada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Bagaimanapun juga, keikutsertaan para perempuan telah mampu menyempurnakan misi dan revolusi Imam Husain as pasca pembantaian di padang tandus Karbala. Hal ini dikemukakan oleh Muhammad Husain Kasyiful-Ghitho, Allamah Baqir al-Qurasyi, dan DR Ahmad Mahmud Shubhi dalam karya-karya mereka berkaitan dengan hal ini.[8] Para perempuan itu aktif sebagai juru bicara di hadapan masyarakat, menyampaikan tujuan kebangkitan Imam Husain as dan sebab penting mengapa beliau sampai dibunuh. Mereka membeberkan berbagai kebusukan musuh-musuh beliau, mensosialisasikan peristiwa Asyuro seluas-luasnya, sebuah usaha yang tidak pernah dilakukan oleh laki-laki manapun sepeninggal mereka. Sosialisasi ini harus dilakukan di tengah masyarakat. Karena jika tidak maka gerakan Imam Husain as akan mudah terlupakan dan segera lenyap begitu saja ditelan waktu. Itu artinya bahwa gerakan Asyuro tidak memberikan dampak yang semestinya di kemudian hari. Oleh karena itu, sesuai dengan hikmah Ilahi, keikutsertaan para perempuan bersama beliau merupakan sebuah keharusan. Ini sangat relevan dengan pernyataan beliau yang menyatakan; &#8220;Allah menghendaki melihat mereka dalam keadaan tertawan&#8221;. Penawanan para perempuan<span>  </span>menjadi bukti konkrit dalam membuka kedok para musuh-musuh Imam Husain as.[9] Mereka akan menjadi saksi hidup kebejatan Bani Umayah dan para sekutunya dan<span>  </span>perlakuan non manusiawi mereka terhadap keluarga Nabi saww serta para sahabat mulia beliau yang turut syahid di Karbala. Andaikan para perempuan itu tidak turut serta pergi ke Karbala, lantas siapa yang akan menyampaikan kepada publik tentang kebejatan, kebiadaban dan perlakuan hewani bani Umayah terhadap para keluarga Nabi saww serta pengikutnya?[10] Inilah salah satu alasan kenapa para perempuan dibawa ke Karbala.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Di sini, perlu disinggung pula tentang peran seorang perempuan yang merelakan rumahnya dijadikan tempat berlindung utusan Imam Husain as, Muslim bin Aqil, ketika tidak ada seorang pun yang bersedia melakukannya disebabkan situasi dan kondisi yang sangat genting kala itu. Mata-mata penguasa zalim Ibnu Ziyad telah ditempatkan di semua sudut kota sehingga mereka dapat memantau segala aktifitas penduduk Kufah. Jika terjadi hal yang mencurigakan, mereka akan segera bertindak.. Muslim bin Aqil keluar dari rumah Muhammad bin Katsir, lalu pergi untuk mencari perlindungan agar ia aman dari pantauan mata-mata Abdullah bin Ziyad. Ia terlunta-lunta di antara gang-gang sampai akhirnya tiba di pintu rumah Thau&#8217;ah, seorang perempuan mantan budak Asy&#8217;ats yang telah dinikahi Usaid bin Hadzrami dan telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Bilal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Saat itu, Thau&#8217;ah sedang menunggu kedatangan anaknya. Sewaktu Muslim melihatnya, beliau memberikan salam kepada Thau&#8217;ah lalu meminta segelas air. Thau&#8217;ah memberikan segelas air kepadanya, setelah itu lantas masuk rumah. Sewaktu keluar, ia melihat Muslim masih berada di depan rumahnya, kemudian bertanya:&#8221;Bukankah anda telah meminum air?” &#8220;Ya&#8221;, jawabnya singkat. &#8220;Bangkit dan pulanglah ke rumahmu!&#8221;, ujar Thau&#8217;ah. Namun Muslim bin Aqil tidak memberikan jawaban. Thau&#8217;ah mengulangi perkataannya tetapi Muslim diam saja. Untuk ketiga kalinya ia berkata:&#8221;Pulanglah ke rumahmu, tidak selayaknya seorang laki-laki asing duduk di depan pintu rumahku. Selain itu pun aku tidak menyukai hal ini, karena ini perbuatan tidak benar.&#8221; Kemudian Muslim bangkit dari tempat duduknya kemudian berkata:&#8221;Wahai hamba Allah, aku adalah orang asing. Aku tidak memiliki rumah di kota ini. Dapatkah anda melakukan kebajikan untukku, sehingga anda pun akan mendapatkan pahalanya? Mudah-mudahan aku dapat membalasnya&#8221;. Thau&#8217;ah bertanya:&#8221;Apa yang dapat kulakukan?&#8221; Muslim menjawab:&#8221;Aku adalah Muslim bin Aqil. Penduduk Kufah telah berbohong kepadaku dan mengkhianatiku&#8221;. &#8220;Engkau Muslim bin Aqil?&#8221; tanya Thau&#8217;ah. &#8220;Ya&#8221;, jawab Muslim singkat. Lantas Thau&#8217;ah mempersilahkan Muslim untuk berlindung di rumahnya. Meskipun akhirnya, Bilal<span>  </span>membocorkan keberadaan Muslim di rumah ibunya kepada mata-mata Abdullah bin Ziyad dikarenakan cinta dunia telah menyelimuti hatinya.[11]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><span> Bersambung&#8230;</span></b></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/242/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/242/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/242/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/242/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/242/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=242&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/01/10/peran-perempuan-dalam-tragedi-asyuro-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2008/02/v_zeinab_9.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">v_zeinab_9.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perincian Hukum bagi Wanita Haid Pemilik Kebiasaan Waktu dan Jumlah (‘Adah Adadiyah wa Waqtiyah)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/12/24/perincian-hukum-bagi-wanita-haid-pemilik-kebiasaan-waktu-dan-jumlah-%e2%80%98adah-adadiyah-wa-waqtiyah/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/12/24/perincian-hukum-bagi-wanita-haid-pemilik-kebiasaan-waktu-dan-jumlah-%e2%80%98adah-adadiyah-wa-waqtiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Dec 2007 07:10:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikih Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/12/24/perincian-hukum-bagi-wanita-haid-pemilik-kebiasaan-waktu-dan-jumlah-%e2%80%98adah-adadiyah-wa-waqtiyah/</guid>
		<description><![CDATA[Perempuan yang mempunyai kebiasaan waktu dan jumlah, jika ia melihat darah keluar pada waktu kebiasaannya, atau tiga hari lebih maju, atau tiga hari lebih mundur, sehingga dikatakan waktu haidnya terkadang maju atau mundur, meskipun darah tersebut tidak mempunyai ciri-ciri haid, maka ia harus tetap berprilaku sebagai orang haid. Adapun kalau setelahnya ia mengetahui ternyata bukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=240&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="color:black;"></span></b><span style="color:black;">Perempuan yang mempunyai kebiasaan waktu dan jumlah, jika ia melihat darah keluar pada waktu kebiasaannya, atau tiga hari lebih maju, atau tiga hari lebih mundur, sehingga dikatakan waktu haidnya terkadang maju atau mundur, meskipun darah tersebut tidak mempunyai ciri-ciri haid, maka ia harus tetap berprilaku sebagai orang haid. </span><span style="color:black;">Adapun kalau setelahnya ia mengetahui ternyata bukan haid, seperti sebelum tiga hari sudah suci, maka ibadah yang ia tinggalkan harus ia <i>qadha</i></span><i><span style="color:black;"> </span></i><span style="color:black;">…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-240"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="color:black;font-weight:normal;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;color:black;">Perincian Hukum bagi Wanita Haid Pemilik Kebiasaan Waktu dan Jumlah </span></b><b><span style="font-size:14pt;color:black;font-weight:normal;">(</span></b><i><b><span style="font-size:14pt;color:black;">‘Adah Adadiyah wa Waqtiyah</span></b></i><b><span style="font-size:14pt;color:black;">)</span></b><b><span style="font-size:14pt;"></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><b><span style="font-size:14pt;color:black;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><b><span style="color:black;">Mas</span><span style="color:black;">alah</span></b><b><span style="color:black;"> 1:</span></b><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Perempuan yang mempunyai kebiasaan waktu dan jumlah, jika ia melihat darah keluar pada waktu kebiasaannya, atau tiga hari lebih maju, atau tiga hari lebih mundur, sehingga dikatakan waktu haidnya terkadang maju atau mundur, meskipun darah tersebut tidak mempunyai ciri-ciri haid, maka ia harus tetap berprilaku sebagai orang haid. </span><span style="color:black;">Adapun kalau setelahnya ia mengetahui ternyata bukan haid, seperti sebelum tiga hari sudah suci, maka ibadah yang ia tinggalkan harus ia <i>qadha</i></span><span style="color:black;">(melaksanakan ibadah (seperti shalat)<span>  </span>yang telah ditinggalkan tersebut pada hari-hari lain)</span><span style="color:black;">.</span><span style="color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><b><span style="color:black;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><b><span style="color:black;">Mas</span></b><b><span style="color:black;">alah</span></b><b><span style="color:black;"> 2:</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Perempuan yang mempunyai kebiasaan waktu dan kebiasaan jumlah, jika ia melihat darah beberapa hari sebelum kebiasaannya, pada hari-hari kebiasaannya dan sesudah hari-hari kebiasaannya kalau jumlah seluruhnya tidak lebih dari sepuluh hari, maka semuanya terhitung haid. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Kalau darah keluar lebih dari sepuluh hari,<span>  </span>hanya darah yang keluar pada hari-hari kebiasaannya saja yang dihukumi haid, sedangkan darah pada hari-hari sebelum dan sesudahnya dihukumi </span><span style="color:black;">darah </span><span style="color:black;">istihadah</span><span style="color:black;"> / darah penyakit (bukan haid) </span><span style="color:black;">dan semua ibadah yang ditinggalkan pada hari-hari sebelum dan sesudahnya harus di-<i>qadha</i></span><span style="color:black;"> (</span><span style="color:black;">melaksanakan ibadah (seperti shalat) yang telah ditinggalkan tersebut<span>  </span></span><span style="color:black;">pada hari-hari lain)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">.</span><span style="color:black;">Lihat tabel berikut:</span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="margin-left:5.25pt;border-collapse:collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0">
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:70.25pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="94">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Bulan</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td colspan="6" style="width:307.75pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="410">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Tanggal</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:70.25pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="94">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Rajab</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:43.4pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="58">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>1,2,3</span></b><span></span></p>
</td>
<td colspan="3" style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:128.9pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="172">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:#7f0000;">4,5,6,7,8,9</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td colspan="2" style="width:135.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="181">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>10,11,12,13,14,15,16,.</span></b><span></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:70.25pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="94">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Sya’ban</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:43.4pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="58">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>1,2,3</span></b></p>
</td>
<td colspan="3" style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:128.9pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="172">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:#7f0000;">4,5,6,7,8,9</span></b><span style="color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Kebiasaan haidnya</span></b></p>
</td>
<td colspan="2" style="width:135.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="181">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>10,11,12,13,14,15,16,&#8230;dst</span></b></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:70.25pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="94">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Ramadhan</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td colspan="2" style="background:yellow none repeat scroll 0 50%;width:73.75pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="98">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:#7f0000;">1,2,3</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Istihadhah</span></b></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:1in;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="96">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:10.5pt;text-align:center;" align="center"><b><span style="color:#7f0000;">4,5,6,7,8,9</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:23.25pt;text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Haid</span></b></p>
</td>
<td colspan="2" style="background:yellow none repeat scroll 0 50%;width:67.5pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="90">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:6.75pt;text-align:center;" align="center"><b><span style="color:#7f0000;">10,11,12</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Istihadhah</span></b></p>
</td>
<td style="width:94.5pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="126">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:12.75pt;text-align:center;" align="center"><b><span>13,14,15,16,&#8230;dst</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:17.25pt;text-align:center;" align="center"><span style="color:black;"> </span></p>
</td>
</tr>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Ataupun darah yang keluar pada hari-hari sebelum kebiasaannya dengan hari-hari kebiasaannya tidak lebih dari sepuluh hari, maka semuanya dihukumi haid. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Tapi kalau lebih dari sepuluh hari, maka darah yang keluar pada hari-hari kebiasaannya saja yang dihukumi haid, sedang pada hari-hari sebelumnya dihukumi </span><span style="color:black;">darah </span><span style="color:black;">istihadhah</span><span style="color:black;"><span>  </span>/ darah penyakit (bukan haid)</span><span style="color:black;">. </span><span style="color:black;">Jika pada hari-hari sebelumnya meninggalkan ibadah maka harus di<i>qadha</i>’</span><span style="color:black;">(melaksanakan ibadah (seperti shalat)<span>  </span>yang telah ditinggalkan tersebut pada hari-hari lain)</span><span style="color:black;">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Lihat tabel dibawah ini:</span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="margin-left:5.25pt;border-collapse:collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0">
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:66.2pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="88">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Bulan</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td colspan="3" style="width:311.8pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="416">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Tanggal</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:66.2pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="88">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Rb Awal</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:76.8pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="102">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>1,2,3,4,5</span></b><span></span></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:144.55pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="193">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:#7f0000;">6,7,8,9,10,11,12</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:90.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="121">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>13,14,15,&#8230;dst</span></b></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:66.2pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="88">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Rab Tsani</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:76.8pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="102">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>1,2,3,4,5</span></b><span></span></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:144.55pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="193">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:#7f0000;">6,7,8,9,10,11,12</span><span style="color:#7f0000;"></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>Kebiasaan </span>H</b><b><span>aidnya</span></b></p>
</td>
<td style="width:90.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="121">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>13,14,15,&#8230;dst</span></b></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:66.2pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="88">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Jm Awal</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="background:yellow none repeat scroll 0 50%;width:76.8pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="102">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:red;">1,2,3,4,5 </span></b><b><span style="color:maroon;">Istihadhah</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:144.55pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="193">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:#7f0000;">6,7,8,9,10</span></b><span style="color:black;"> </span><b><span style="color:#7f0000;">11,12</span><span style="color:#7f0000;"></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>Haid</span></b></p>
</td>
<td style="width:90.45pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="121">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>13,14,15,&#8230;dst</span></b></p>
</td>
</tr>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Dan jika jumlah hari-hari kebiasaannya dan hari-hari sesudah kebiasaannya tidak lebih dari sepuluh hari, maka semuanya dihukumi haid. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Lihat tabel berikut ini:</span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="margin-left:5.25pt;border-collapse:collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0">
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:71.2pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="95">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Bulan</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td colspan="3" style="width:306.8pt;border-color:windowtext windowtext windowtext #000000;border-style:solid solid solid none;border-width:1pt 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="409">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Tanggal</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:71.2pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="95">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Rajab</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:43.95pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="59">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>1,2,3</span></b><span></span></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:149.5pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="199">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:#7f0000;">4,5,6,7,8,9,10</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:113.35pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="151">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>11,12,13,14,15,&#8230;dst</span></b></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:71.2pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="95">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Sya’ban</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:43.95pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="59">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>1,2,3</span></b><span></span></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:149.5pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="199">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:#7f0000;">4,5,6,7,8,9,10</span><span style="color:#7f0000;"></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>Kebiasaan haidnya</span></b></p>
</td>
<td style="width:113.35pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="151">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>11,12,13,14,15,&#8230;dst</span></b></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:71.2pt;border-color:#000000 windowtext windowtext;border-style:none solid solid;border-width:medium 1pt 1pt;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="95">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:black;">Ramadhan</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:43.95pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="59">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>1,2,3</span></b><span></span></p>
</td>
<td style="background:red none repeat scroll 0 50%;width:149.5pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="199">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span style="color:#7f0000;">4,5,6,7,8,9,10</span></b><span style="color:black;"> </span><b><span style="color:#7f0000;">11,12 </span></b><b><span>Semuanya dihukumi haid</span></b><span style="color:black;"></span></p>
</td>
<td style="width:113.35pt;border-style:none solid solid none;border-width:medium 1pt 1pt medium;padding:0 5.25pt;" valign="top" width="151">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><b><span>13,14,15,&#8230;dst</span></b></p>
</td>
</tr>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Tapi jika lebih dari sepuluh hari, maka hanya pada hari-hari kebiasaannya saja yang dihukumi haid, sedang sisanya adalah istihadhah</span><span style="color:black;"> / darah penyakit (bukan haid).</span><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b> </b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Keterangan:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span>-<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Sewaktu darah dihukumi darah istihadhah / darah penyakit (bukan darah haid), maka pada waktu itu perempuan harus tetap melaksanakan ibadah seperti shalat dan puasa, namun sebelumnya harus melaksanakan amalan perempuan istihadhah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span>-<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">         </span></span><!--[endif]--><span dir="ltr">Dibawah ini adalah berkaitan dengan hokum dan amalam istihadhah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="font-size:14pt;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span><b><span style="color:black;"></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;color:black;">Darah </span></b><b><span style="font-size:14pt;color:black;">Istihadhah</span></b><b><span style="font-size:14pt;color:black;"> / Darah Penyakit </span><span style="color:black;"></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><b><span style="color:black;">Ciri-ciri:</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Pada umumnya, darah istihadhah berwarna kekuning-kuningan, dingin, keluar tanpa tekanan, tidak kental, tetapi mungkin juga berwarna kehitam-hitaman, kental, hangat dan keluar dengan tekanan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><b><span style="color:black;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><b><span style="color:black;">a. Pembagian istihadhah:</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 9pt;"><b><u><span style="color:black;">Sedikit</span></u></b><b><span style="color:black;">, </span></b><span style="color:black;">yaitu jika perempuan memasukkan kapas</span><span style="color:black;"> (bukan pembalut)</span><span style="color:black;"> ke dalam vagina maka darah tidak akan menetes dan dari arah lain ia tidak nampak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 9pt;"><b><u><span style="color:black;">Sedang</span></u></b><b><span style="color:black;">, </span></b><span style="color:black;">yaitu jika perempuan memasukkan kapas ke dalam vagina maka darah akan menembus dan akan tampak pada arah lain tapi tidak mengalir kedalam pembalut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 9pt;"><b><u><span style="color:black;">Banyak</span></u></b><b><span style="color:black;">, </span></b><span style="color:black;">yaitu<b> </b>jika<b> </b>perempuan memasukkan kapas kedalam vagina maka darah tersebut akan menembus ke dalam kapas dan pembalut.</span><span style="color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 9pt;"><span style="color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 9pt;"><span style="color:black;">Keterangan: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 9pt;"><span style="color:black;">Bagi para gadis apabila membahayakan selaput daranya, maka jangan memasukkan kapas terlalu dalam, masukan secukupnya sampai darah yang keluar jenisnya dapat diketahui.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><b><span style="color:black;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><b><span style="color:black;">b. Amalan Istihadhah</span><span style="color:black;"></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Amalan <b><u>istihadhah-sedikit</u></b> ketika hendak shalat: membersihkan vagina, mengganti kapas (kapas yang dimaksud ini adalah kapas yang dimasukkan ke vagina, bukan softeks), berwudhu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Amalan <b><u>istihadhah-sedang</u></b> ketika hendak shalat: <u>mandi</u> untuk shalat pertama kali dan melakukan amalan istihadhah sedikit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;color:black;"><span>1<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="color:black;">Jika istihadhah keluar sebelum waktu shalat subuh atau di antara waktu shalat subuh, maka ia harus mandi untuk melakukan shalat subuh. Jika istihadhah keluar sebelum shalat zuhur atau di antara waktu shalat zuhur, maka ia harus mandi untuk melakukan shalat zuhur.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;color:black;"><span>2<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="color:black;">Jika lupa ataupun sengaja tidak mandi untuk melakukan shalat subuh, maka ia harus mandi untuk melaksanakan shalat zuhur dan ashar (sholat subuh tidak perl di-<i>qadha</i>).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:14.4pt;margin:5pt 0;"><span style="color:black;">Amalan <b><u>istihadhah-banyak</u></b> ketika hendak shalat: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;color:black;"><span>1<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="color:black;">mandi untuk setiap dua shalat jika tidak ada jarak antara kedua shalat tersebut, </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;color:black;"><span>2<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="color:black;">wudhu</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:14.4pt;margin:5pt 0 5pt 0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;color:black;"><span>3<span style="font-family:'Times New Roman';font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;">        </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="color:black;">membersihkan vagina dan mengganti kapas </span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/240/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/240/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/240/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=240&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/12/24/perincian-hukum-bagi-wanita-haid-pemilik-kebiasaan-waktu-dan-jumlah-%e2%80%98adah-adadiyah-wa-waqtiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pornografi dan Pornoaksi merupakan Taktik Setan dalam Mengeluarkan Manusia dari Esensi Ke-manusiaan-nya (Fitrah)</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/12/14/pornografi-dan-pornoaksi-merupakan-taktik-setan-dalam-mengeluarkan-manusia-dari-ke-manusiaan-nya/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/12/14/pornografi-dan-pornoaksi-merupakan-taktik-setan-dalam-mengeluarkan-manusia-dari-ke-manusiaan-nya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Dec 2007 17:26:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/12/14/pornografi-dan-pornoaksi-merupakan-taktik-setan-dalam-mengeluarkan-manusia-dari-ke-manusiaan-nya/</guid>
		<description><![CDATA[
Tidak dapat dipungkiri bahwa pornografi dan pornoaksi makin marak mewarnai kehidupan zaman sekarang ini, baik yang berskala nasional maupun internasional. Dan fenomena seperti ini telah membuat khawatir para orang tua, yang merupakan salah satu efek negatif zaman globalisasi&#8230; 
 
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;
Pornografi dan Pornoaksi merupakan Taktik Setan dalam Mengeluarkan Manusia dari Esensi Ke-manusiaan-nya (Fitrah)

 
Pro dan konta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=236&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/usa-setan.jpg" title="usa-setan.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/usa-setan.thumbnail.jpg" alt="usa-setan.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Tidak dapat dipungkiri bahwa pornografi dan pornoaksi makin marak mewarnai kehidupan zaman sekarang ini, baik yang berskala nasional maupun internasional. Dan fenomena seperti ini telah membuat khawatir para orang tua, yang merupakan salah satu efek negatif zaman globalisasi&#8230; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span><span id="more-236"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Pornografi dan Pornoaksi merupakan Taktik Setan dalam Mengeluarkan Manusia dari Esensi Ke-manusiaan-nya (Fitrah)<br />
</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><b><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Pro dan konta berkaitan dengan undang-undang anti pornografi dan pornoaksi telah menimbulkan berbagai dilema dalam kehidupan masyarakat di tanah air kita. Sebagian menyambutnya dengan antusias diberlakukannya UU tersebut. Sebagian lagi menentangnya dan berpendapat bahwa dalam hal ini pemerintah terlalu ikut campur dalam masalah busana dan penampilan kaum hawa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Jika kita lihat isi undang-undang tersebut maka mayoritas obyeknya berkaitan dengan kamu perempuan. Selain itu, ada opimi bahwa sebenarnya pemerintah dengan adanya UU anti pornografi dan pornoaksi telah berusaha menutupi berbagai permasalahan besar yang sedang terjadi di negara dengan mengalihkan opini publik dari berbagai masalah yang sedang terjadi ke masalah pornografi dan pornoaksi. Walaupun kami sendiri tidak mengetahui secara detail apakah terjadi rekayasa dalam hal ini, karena pabila kita lihat permasalahan di negara kita sekarang ini sangat kompleks sekali. Belum tuntas dari satu permasalahan, permasalahan lain sudah datang lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Tujuan kami sebenarnya bukan untuk mengupas masalah UU anti pornografi dan pornoaksi. Tidak dapat dipungkiri bahwa pornografi dan pornoaksi semakin marak mewarnai kehidupan zaman sekarang ini, baik yang berkala nasional maupun internasional. Fenomena ini yang telah membuat khawatir para orang tua,<span>  </span>yang merupakan salah satu efek negatif globalisasi. Sebenarnya, masalah pornografi dan pornoaksi akan dapat diminimalir dengan membekali diri dan memperkuat dasar-dasar pemikiran, keyakinan dan memperbaiki pandangan hidup terhadap dunia. Dengan disertai jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul dari diri kita sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kita tidak dapat menutup mata dan membiarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut berlalu begitu saja tanpa mencari jawaban-jawabannya. Karena pencarian jawaban-jawaban tersebut sangat berpengaruh dalam penentuan nasib hidup, masa depan, kebahagiaan dan kesengsaraan kita. Pertanyaan utama yang yang terlontar dari dalam lubuk kita adalah; “Siapa kita?”, “Kita berasal dari mana?”, “Berada dimana?”, dan “Akan pergi kemana?”. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus<span>  </span>dicari jawaban-jawabannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Bagaimana tidak, kesengsaraan dan kebahagiaan sejati kita tergantung padanya. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Pemimpin orang-orang yang bertakwa, Imam Ali as yang menyatakan: “Allah akan merahmati orang yang mengetahui dari mana dia berasal (<i>min aena</i>)? Dimana dia berada (<i>fi aina</i>)? Dan hendak kemana dia akan pergi (<i>ila aena</i>)?”. Pertanyaan yang nampak sederhana namun memiliki bobot yang sangat dalam; Darimana kita berasal? Apakah kita ada dengan sendirinya? Ataukah ada yang menciptakan kita? Jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu diperlukan kesadaran penuh setiap manusia yang berakal sehat dan berhati bersih. Akal sehat mengatakan bahwa, mustahil sesuatu ada dengan sendirinya tanpa ada yang membuat dan menciptakannya. Jangankan keberadaan manusia yang penuh dengan keajaiban -sehingga salah seorang tokoh pemikir Barat (Alexis Karel) mengatakan bahwa manusia merupakan “Makhluk tak dikenal”- benda sederhana saja seperti sebuah sebuah kursi mustahil akan ada tanpa ada yang membuatnya. Andaikan kita telah mengetahui bahwa diri kita ada karena ada yang menciptakan yaitu Allah SWT, lantas apa konsekwensi yang harus dilakukan oleh makhluk-Nya? Konsekuensinya adalah menuhankan-Nya, dimana bentuk kesempurnaan penuhanan Dzat tersebut adalah pengesaan dan penghambaan mutlak yang mungkin terealisasi dengan berbagai bentuk dan ragam, termasuk pengesaan dalam menjalankan perintah dan menjauhkan diri dari larangan-Nya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Di sisi lain, Allah SWT telah menciptakan manusia memiliki dua dimensi, dimensi materi dan non materi, atau dengan istilah lain;sisi jasmani dan ruhani. Hanya melihat dimensi materi saja manusia tidak dapat dikatakan manusia. Karena benda, tumbuhan dan hewanpun memiliki dimensi ini. Lantas apa keutamaan manusia dari semua itu? Apakah manusia sama dengan semua hal tadi? manusia yang berakal sehat tentu tidak menghendaki dirinya disamakan dengan semua itu tadi. Oleh sebab itu, dalam filsafat Islam dikatakan bahwa, pada diri manusia terdapat berbagai tingkatan-tingkatan daya (baca: potensi); daya tumbuhan (<i>nabati</i>), daya kehewanan (<i>hewani</i>) dan daya ke-insanan <i>(ruh insani</i>). Daya tumbuhan; tumbuhan dikatakan sempurna sawaktu ia tumbuh berkembang dengan baik, pohonnya kuat, daunnya lebat, dahan, akarnya juga kokoh dan berbuah banyak. Jikalau manusia hanya memperhatikan perkembangan fisiknya saja seperti badannya tumbuh berkembang dari sisi tinggi dan berat yang ideal, sehat dan berotot kuat maka tidak ada bedanya dengan pohon. Maka kesempurnaannya hanya hanya terdapat pada sisi perkembangan nabatinya saja. Dan sewaktu manusia hanya memperhatikan masalah yang berkaitan dengan isi perut, pasangan hidup atau pemuasan libido (seks), sibuk memperbanyak keturunan, mencari tempat tinggal yang enak dengan berbagai fasilitas, singkatnya ia hanya berusaha menjadi manusia hedonis maka ia hanya berkembang sempurna pada sisi hewaninya. Karena hewanpun mencari pasangan hidup, memiliki keturunan, mencari tempat nyaman untuk tinggal dan lain sebagainya yang merupakan instink (<i>gharizah</i>) hewani. Begitu juga dengan daya bendawi, seperti bebatuan dimana kesempurnaan batu terdapat pada kekokohannya, atau dari sisi zahirnya saja. Secara global bahwa semua sisi-sisi tadi bukanlah sifat-sifat kesempurnaan khusus bagi manusia, makhluk yang lainpun memilikinya. Lantas apa kesempurnaan khusus yang dimiliki oleh manusia yang tidak akan dimiliki oleh makhluk lain?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Hanya daya dan potensi khusus yang terdapat pada jiwa ke-manusia-an (<i>ruh insani</i>) yang dapat membedakan manusia dari makhluk lainnya, sehingga manusia dapat dikatakan sebagai manusia. Sementara hakekat ruh insani ini hanya terwujud pada sisi non materi manusia, seperti; daya pikir. Dikarenakan hanya kelompok manusia saja yang dapat berpikir, sementara Allah SWT telah memberikan fasilitas kepadanya berupa akal sebagai sarana untuk berpikir. Dalam ilmu logika dikatakan, ketika mendefinisikan manusia: “<i>Al-insanu hayawun natiq</i>”, manusia adalah hewan (makhluk hidup yang bergerak dengan free-will) yang mampu berpikir. Walaupun secara linguistik kata <i>‘natiq’ </i><span> </span>memiliki makna “berbicara”, namun juga dipakai untuk makna “berpikir”. Oleh karenanya dalam penggunaannya kedua makna tersebut dapat dibenarkan. Karena proses berbicara secara sadar harus didahului dengan proses berpikir. Dan hanya manusia saja makhluk yang berbicara dan berpikir. Oleh karenanya, ketika manusia menggunakan daya pikirnya dengan baik maka baru dapat dikatakan sebagai manusia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sisi dimensi non materi lain manusia adalah fitrah. Fitrah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Singkatnya, fitrah adalah esensi dasar penciptaan manusia. Fitrah manusia ini dapat terus terjaga selamanya dan menjadi pelita kehidupan manusia, atau mungkin akan mengalami kerusakan karena dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya ialah faktor lingkungan. Hewan hidup dengan menggunakan instinknya (<i>gharizah</i>), bukan fitrah. Dan fitrah ini memiliki berbagai perwujudannya, yang utama terdapat pada tiga hal; “Cinta kesempurnaan”, “Cinta kebenaran” dan “Cinta kebaikan”, yang semuanya masing-masing memiliki cabang tersendiri. Salah satu dari cabang yang ada adalah fitrah rasa malu yang rasional dan fitri. Fitrah manusia ini dapat terus terjaga selamanya dan menjadi pelita kehidupan manusia, atau mungkin akan mengalami kerusakan karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya ialah faktor eksternal yang mungkin dikarenakan akibat negatif lingkungan yang tidak mendukung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Ketika manusia memiliki rasa malu yang rasional berarti fitrahnya masih sehat dan belum terpolusi serta tertutup oleh<span>  </span>penghalang unsur negatif akibat faktor eksternal. <span> </span>Menutup aurat dan berbusana merupakan fitrah manusia, untuk menutupi rasa malu rasionalnya. Kita dapat melihat hal ini pada Nabi Adam AS dan Siti Hawa yang merupakan para manusia pertama. Ketika busana mereka terbuka, mereka merasa malu dan lantas menutupinya dengan dedaunan yang ada di surga (eden); <i>“<b>Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga&#8230;</b></i>”(QS Thohaa:121) Manusia yang tidak memiliki rasa malu berarti pancaran cahaya fitrahnya telah tertutup dan ia telah keluar dari jiwa kemanusiaannya yang rasional. Olah karenanya ia lebih pantas disebut dengan hewan berbaju manusia, dikarenakan ia tidak dapat menerangi dirinya dengan sorotan cahaya fitrah insaniyahnya. Pornografi dan pornoaksi yang semakin merebak sekarang ini dikarenakan manusia telah melupakan sisi ke-manusiaan-nya dan mengenakan baju hewani yang tidak layak dikenakan oleh makhluk yang bernama manusia. Karena Allah SWT Pencipta manusia ketika menciptakan manusia Ia menghendaki manusia menjadi ‘manusia’ (sempurna), bukan lantas menjadi ‘hewan’, apalagi hanya sekedar menjadi ‘tumbuhan’. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span>Oleh karena itu, sebagaimana yang terdapat dalam al-Qur’an, pornografi dan pornoaksi sebagai senjata dan tipu daya setan dalam mengeluarkan manusia dari dimensi dan daya ke-manusia-annya. Karena setan tidak menhendaki manusia menjadi ‘manusia’. Setan menghendaki manusia menjadi ‘hewan’ atau ‘tumbuhan’ yang akan menjadi bahan bakar neraka. Bukankah Allah SWT berfirman: “<b><i>Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia Telah mengeluarkan kedua ibu-bapamu dari surga, <u>ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya &#8216;auratnya</u>&#8230;</i></b><i>”</i>(QS Al-A’raf: 27). Dan firman Allah SWT: “<b><i><u>Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya.</u>..</i>” </b>(QS Al-A’raf:20). Sewaktu seseorang melakukan tindak pornografi dan pornoaksi maka secara tidak langsung ia telah menjadikannya dirinya sebagai hamba setan dan menjatuhkan dirinya ke dalam jurang hewani. Bukankah Allah SWT berfirman dalam surah Yasiin ayat 60: <b><i>“Bukankah Aku Telah memerintahkan kepadamu <u>Hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu</u>&#8221; </i></b>(QS Yasiin: 60)? </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Oleh sebab itu, di antara solusi yang dapat dilakukan oleh para orang tua ataupun manusia agar terjaga dari efek globalisasi pornografi ialah dengan membekali dan memperkuan keimanan terhadap Pencipta kita, dan memperbaiki “pandangan dunia”, serta menjawab berbagai pertanyaan (seperti: dari mana kita?, ada dimana?, sekarang ada dimana (yang kehidupan dunia hanyalah ladang akhirat, dan bersifat sementara)?). Kita meyajkini –berdasarkan argumen rasional dan tekstual yang dapat kita pelajari dalam kajian Teology- bahwa kehidupan tidak berakhir pada kematian, lantas selesai. Ini tidak seperti halnya yang dikatakan kaum Atheis dan telah disinyalir dan dijawab oleh Qur’an, “<b><i>Dan mereka berkata: &#8220;Kehidupan Ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa&#8221;, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja</i></b>” (QS al-Jatsiah:24). Adapun yang berkaitan dengan pertanyaan; hendak kemana? Artinya, karena kita hidup di dunia ini sementara dan akan pergi ke tempat lain maka kita memerlukan bekal untuk pergi ke tempat abadi (akhirat) tadi. Betapa bodohnya orang yang mengetahui hendak bepergian jauh namun ia santai-santai dan tidak mempersiapkan bekal yang diperlukan dalam perjalanan menuju tempat tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kembali mengenal “hakikat diri” sebagai manusia dan apa saja yang menjadikan ia dikatakan sebagai manusia adalah merupakan cara lain dalam menghadapi problem ini. Menyadarkan ataupun mengenalkan pada diri kita -dan orang lain- bahwa pada hakekatnya pornografi merupakan tipu daya dan senjata setan untuk menjadikan kita sebagai hambanya. Padahal, ketika di akhirat nanti, setan hendak berlepas tangan dari kita dan ia akan mengatakan; kenapa engkau mengikutiku, wahai manusia? Bukankah aku tidak pernah memaksamu untuk melakukan hal itu? Tanggunglah sendiri hasil perbuatanmu! Allah SWT berfirman: ”<b><i>Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) Telah diselesaikan: &#8220;Sesungguhnya Allah Telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun Telah menjanjikan kepadamu tetapi Aku menyalahinya. <u>sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) Aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca Aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku</u>. Sesungguhnya Aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan Aku (dengan Allah) sejak dahulu&#8221;. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih</i></b></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;">.</span><span>”<span>  </span>(QS Ibrahim: 22).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><b><span>ED / </span></b><span>Islamfeminis <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/236/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/236/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/236/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=236&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/12/14/pornografi-dan-pornoaksi-merupakan-taktik-setan-dalam-mengeluarkan-manusia-dari-ke-manusiaan-nya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/usa-setan.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">usa-setan.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Duduk Santai Bersama ‘Imam Ali Khamanei’, Pemimpin Spiritual dan Politik Republik Islam Iran</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/12/08/duduk-santai-bersama-%e2%80%98imam-ali-khamanei%e2%80%99-pemimpin-spiritual-dan-politik-republik-islam-iran/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/12/08/duduk-santai-bersama-%e2%80%98imam-ali-khamanei%e2%80%99-pemimpin-spiritual-dan-politik-republik-islam-iran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Dec 2007 11:58:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/12/08/duduk-santai-bersama-%e2%80%98imam-ali-khamanei%e2%80%99-pemimpin-spiritual-dan-politik-republik-islam-iran/</guid>
		<description><![CDATA[
Beliau mengisyaratkan bahwa; “Kebebasan berpikir dan berpendapat haruslah tetap terjaga dan membudaya di kalangan Hauzah Ilmiah. Karena itu merupakan ciri khas Hauzah Ilmiah mazhab Syi’ah yang memberikan kebebasan berpikir dan berpendapat, kepada murid dan guru, selama masih tetap berada pada koridor adab Islam. Sebab dengan kebebasan berpikirlah ilmu akan semakin berkembang sehingga menelorkan pemikiran-pemikiran cemerlang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=224&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/khamenei.jpg" title="khamenei.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/khamenei.thumbnail.jpg" alt="khamenei.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Beliau mengisyaratkan bahwa; “Kebebasan berpikir dan berpendapat haruslah tetap terjaga dan membudaya di kalangan Hauzah Ilmiah. Karena itu merupakan ciri khas Hauzah Ilmiah mazhab Syi’ah yang memberikan kebebasan berpikir dan berpendapat, kepada murid dan guru, selama masih tetap berada pada koridor adab Islam. Sebab dengan kebebasan berpikirlah ilmu akan semakin berkembang sehingga menelorkan pemikiran-pemikiran cemerlang baru”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span id="more-224"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Duduk Santai Bersama ‘Imam Ali Khamanei’, Pemimpin Spiritual dan Politik Republik Islam Iran</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/imam-ali-khamenei.jpg" title="imam-ali-khamenei.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/imam-ali-khamenei.thumbnail.jpg" alt="imam-ali-khamenei.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Tepatnya pada hari Kamis, enam orang dari kampus kami yang berasal dari Amerika, Rusia, Pakistan, Irak, Thailand, dan saya sendiri perwakilan dari pelajar Indonesia mendapat undangan untuk bertemu dengan Pemimpim Tertinggi Spiritual dan Politik Republik Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamanei di Husaeniyah (aula) Imam Khomaeni di Teheran. Kemudian kami bergabung dengan para akhwat Iran yang terdiri dari perwakilan para pelajar, dosen, peneliti, dan kepala sekolah Hauzah Ilmiyah Islam (Pusat Pembelajaran dan Penelitian Ilmu-Ilmu Agama Islam) Jamiah az-Zahra. Sewaktu kami melihat<span>  </span>jadwal acara, ternyata acara tersebut merupakan acara ’Duduk Santai bersama Rahbar’ (<em>nesyaysteh samimoneh hauzeh ilmiyeh bo rahbar</em>) para pembesar<span>  </span>dan tokoh-tokoh Hauzah Ilmiyah (Pusat Pembelajaran dan Penelitian Ilmu-Ilmu Agama Islam) <span> </span>dari berbagai penjuru Republik Islam Iran yang diwakili oleh kota Qom, Teheran, Masyhad dan Isfahan bersama Imam Ali Khamanei, pemimpim tertinggi spiritual dan politik Iran. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kami berangkat menuju kota Teheran pada pukul 13:30, setelah melakukan shalat Dzuhur. Pada pukul 17:30 rombongan tiba di tempat pertemuan. Setelah melampaui petugas pemeriksaan, lantas kami memasuki tempat pertemuan. Karena setiba di sana tepat waktu shalat Magrib, setelah kami mengambil air wudhu, akhirnya kamipun mendirikan shalat Maghrib dan Isya’ secara berjamaah. Kemudian kami menunggu kedatangan Imam Ali Khamanei (Rahbar) dengan tidak sabar dan perasaan dag-dig-dug yang menguasai hati kami. Tepat pada pukul 18:00 malam beliau tiba di tempat pertemuan. Sewaktu beliau datang, secara spontan kami berdiri dan mengucapkan shalawat kepada Rasul dan keluarganya serta yel-yel berbahasa Persia <em>“Allohuma shalli ala Muhammad buye Khomaeni omad</em>” (Solawat atas Muhammad, semerbak wewangian Khomaeni telah tiba) untuk menyambut kedatangannya. Ini merupakan kebiasaan orang Iran ketika menyambut kedatangan orang besar semacam itu, dengan mengucapkan yel-yel. Kami pun berdiri secara berdesak-desakan ingin melihat beliau dari dekat sambil tidak henti-hentinya meneteskan air mata. Rasa haru dan bahagia memenuhi jiwa kami sewaktu melihat beliau, sehingga air mata tidak berhenti mengalir. Wajah beliau yang bersih dan bercahaya menebarkan senyum kepada kami serta mengucapkan selamat datang dengan melambaikan tangan kirinya. Perlu diketahui bahwa tangan kanan beliau tidak bisa berfungsi dengan baik, akibat terkena ledakan bom para teroris sewaktu beliau menyampaikan khutbah Jumat pada masa beliau masih menjabat sebagai presiden Iran. Tatapan penuh kharisma beliau menyejukkan jiwa kami, sehingga rasanya kami tidak ingin melepaskan pandangan kami darinya. Sewaktu memandang beliau kami teringat bunyi sebuah hadis Rasulullah yang berbunyi: “Memandang wajah ulama adalah ibadah”. Tentunya ulama yang dimaksud di situ adalah ulama yang ketika memandangnya akan dapat mengingatkan kita kepada Allah SWT. Dan terbukti, dengan memandang beliau mengingatkan kami pada Allah SWT.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Kemudian pembawa acara memulai acara tersebut. Acara berlangsung selama 4 jam yang dimulai dari pukul 18:00-22:00, waktu Iran. Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an dan berlangsung dengan baik dan santai, terlebih karena pembawa acaranya sangat piawai dalam membawakan acara yang kadang diisi gurauan, disela-sela acara tersebut. Acara duduk santai dengan Imam Ali Khamaneipun dimulai. Adapun susunan acaranya ialah pertama merupakan laporan para wakil dari berbagai bidang ilmu agama seperti dibidang Fikih, Filsafat, Teologi, Psikilogi Islam, Tafsir al-Qur’an, Ekonomi Islam, Teologi, Irfan (mistik) Teoritis, dan termasuk kondisi Hauzah Ilmiyah Perempuan seluruh Iran, kepala sekolah Hauzah Ilmiyah, tabligh dan kondisi pensosialisasian Al-Qur’an di Iran beserta hapalan Al-Qur’an, dan laporan salah seorang pelajar asing yang berasal dari Argentina yang ia mewakili pelajar asing dari 90 negara. Oleh karenanya, ia meminta waktu kepada pembawa acara lebih dari yang lainnya dengan nada gurau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Setiap wakil tersebut diberi maksimal sampai 7 menit untuk menyampaikan laporan tentang kondisi masing-masing bidang, baik problem-problem yang dihadapi mereka maupun usulan jalan penyelesaiannya kepada Imam Ali Khamanei. Namun mayoritas berbicara sampai 10 menit, sampai-sampai pembawa acaranya dengan nada bercanda berkata: “Barangsiapa yang berbicara sesuai dengan waktu yang telah disediakan maka akan diberi hadiah”. Kami semua tertawa sewaktu mendengar gurauannya. Ternyata hanya seorang saja yang berbicara sesuai dengan waktu yang disediakan. Imam Ali Khamanei mendengar dengan seksama semua laporan, keluhan dan usulan para wakil tersebut. Tak lupa, beliaupun menulis sendiri poin-poin penting yang disampaikan oleh para pembicara. Kurang lebih selama 3 jam para wakil tersebut menghabiskan waktu untuk memberikan laporan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Setelah pukul 21:00, laporan dari para wakilpun selesai. Kini giliran Imam Ali Khamanei yang menanggapi dan memberikan usulan serta solusi atas laporan-laporan tersebut. Satu jam lamanya beliau berbicara. Di kesempatan itu, selain menanggapi, memberikan usulan, serta memberikan solusi, beliau pun menyampaikan beberapa point penting yang kami kira dapat kita jalankan dalam kehidupan kita semua dalam mencapai kesuksesan dan kemajuan baik dalam kawasan kehidupan personal, keluarga, sosial bahkan negara sekalipun. Sayang sekali, dikarenakan alasan keamanan, kami tidak diperkenankan membawa rekaman, bahkan kami tidak membawa balpoin dan kertas sekalipun. Oleh karenanya kami harus dengan serius menyimak pembicaraan beliau dan menyimpannya di dalam otak. Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan poin-poin garis besar pembicaraan beliau:</span> <strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>1- Pentingnya ‘Berpikiran ke Depan’ (<em>oyandeh      negari</em>)</span></strong><span>. Beliau menyatakan; “Kenapa negara Iran      bersikeras untuk memiliki reaktor nuklir? Karena Iran mengetahui, minyak      bumi di alam ini tidak akan lama lagi akan habis, selain hak segenap      bangsa untuk memilikinya untuk tujuan damai.. Jika negara tidak memikirkan      energi pengganti minyak bumi maka sewaktu masa sulit tersebut tiba niscaya      akan kelabakan. Oleh karena itu, sebelum masa itu tiba, <span> </span>para<span>       </span>pejabat Iran bertanggungjawab untuk memikirkan pengganti minyak      bumi demi keberlangsungan kehidupan generasi yang akan datang”, lanjutnya      menegaskan. Kemudian beliau mengaitkan masalah hal ini dengan perkara Hauzah      Ilmiyah Islam Iran, dimana Hauzah Ilmiyah (Pusat Pembelajaran dan      Penelitian Ilmu-Ilmu Agama Islam) pun harus berpikiran ke depan serta      memikirkan masa depan Hauzah Ilmiyah. “Andaikan Hauzah Ilmiyah tidak      memikirkan masa depan serta kebutuhannya pada masa yang akan datang      tunggulah kehancurannya. Oleh sebab itu, menerowong masa yang akan datang      dan mencoba untuk melihat kebutuhan yang diperlukan pada masa itu, akan      mendorong manusia untuk lebih maju dan bekerja keras”, tandasnya.</span><strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>2- ‘Me-manage perubahan’ (<em>mudiriyate tahawul</em>)</span></strong><span>. Beliau      dalam masalah ini menjelaskan; “Perubahan merupakan perkara yang tidak      dapat dihindari dalam kehidupan manusia. Ia merupakan hal yang pasti,      hanya saja bagaimana kita me-manage perubahan tersebut. Karena terdapat      perubahan yang<span>  </span>benar yang tidak      benar. Dengan segala ragam perubahan yang ada pada kehidupan manusia, baik      itu perubahan pada waktu, gaya hidup, kebutuhan, dan lain sebagainya.      Andaikan seseorang tidak mengikuti perubahan zaman yang ada maka ia tidak      terlepas dari dua kemungkinan berikut ini; Akan segera binasa, atau tetap bertahan      hidup namun akan tersingkir dari lingkungannya. Dengan bergulirnya      zamannya segala sesuatu akan mengalami pasang surut. Pada masa lalu, puncak      kejayaan Hauzah ilmiah berada di kota Hill (salah satu kota di Irak, red)      dengan keberadaan para ulama terkenalnya seperti Allamah Hilli. Para ulama      dari berbagai bidang dan mazhab datang untuk saling mengadakan tukar-menukar      keilmuan dan berdiskusi ilmiah sehingga ilmu-ilmu Islam di sana berkembang      dengan pesat. Tetapi sekarang, Hauzah ilmiah tersebut hanyalah tinggal      nama. Setelah itu pusat Hauzah ilmiah pindah ke kota Najaf (juga berada di      Irak, red). Berbagai ilmu-ilmu agama ditimba di sana dan para pelajar dari      berbagai penjuru dunia datang untuk menuntut dan memperdalami ilmu-ilmu      Islam. Berbagai bidang ilmu keislaman berkembang pesat di Hauzah ilmiah      tersebut. Dan telah banyak melahirkan ulama-ulama kelas papan atas dan      berbobot dari berbagai disiplin ilmu. Namun sekarang hauzah tersebut,      walaupun masih tetap eksis, Hauzah Najaf tidak seperti kejayaannya pada      masa lalu”. Lantas beliau melanjutkan; “Hauzah ilmiah Qom pun akan      mengalami seperti itu apabila tidak mengikuti perubahan dan tuntutan zaman.      Hauzah ilmiah Qom sekarang sebagai pusat Hauzah ilmiah dan mengalami      kejayaan, para pelajar datang dari berbagai penjuru dunia untuk menimba      ilmu keislaman di kota suci ini. Berbagai bidang ilmu, seperti Filsafat,      Teologi, Fikih, Sejarah Islam, Tafsir al-Qur’an, Psikologi Islam, Irfan      Teoritis dan lain sebagainya mengalami perkembangan pesat di Hauzah ilmiah      Qom”. Beliau menandaskan; “Namun apabila Hauzah ilmiah tidak mengikuti      perkembangan dan tuntutan zaman maka tunggulah masa keruntuhannya.. Oleh      karena itu, Hauzah ilmiah hendaknya me-manage perubahan tersebut, sehingga      ia tidak akan sirna ditelan masa atau tersingkir. Karena perubahan      merupakan hal yang pasti dan tidak dapat dihindari tinggal bagaimana kita      me-managenya, menjadi perubahan yang benar”.</span><strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>3- Planing yang tepat (<em>barnmehrizi shahih</em>)</span></strong><span>. Beliau      menegaskan bahwa; “Adanya keharusan untuk kembali menelaah program-program      yang terdapat dalam Hauzah ilmiah. Termasuk dalam hal-hal yang berkaitan      dengan bidang mata pelajaran, ijazah, buku pegangan dan hal lainnya yang      berhubungan dengan Hauzah ilmiah. Apakah program-program tersebut masih      sesuai untuk zaman sekarang atau tidak”. Sebagai contoh, beliau      mengusulkan agar kitab-kitab pegangan dalam bidang fikih seperti kitab <em>al-Makasaib      al-Muharramat</em> (plural dari kata <em>kasbun, </em>yang artinya ialah      berbagai jual-beli yang dilarang, red) karya Syeikh Murtadha al-Anshari dirubah      metode penulisan kitab tersebut agar lebih mudah dipahami lagi oleh para      pelajar agama, (cara penyampaian dalam kitab al-Makasib agak ruwet dan      perlu konsentrasi lebih dalam mempelajarinya, dan terkadang kita tidak      mengetahui pendapat Syeikh Anshari sendiri bagaimana? Karena beliau memang      sedang mengajarkan bagaimana cara berijtihad dan melatih insting ijtihad      seorang pelajar, sebagaimana metode yang terdapat dalam kitab <em>Al-Mughni      </em>(dalam ilmu Nahwu karya Ibnu Hisyam, red). “Karena yang terpenting      bagi para pelajar ialah memahami isi kitab tersebut”, tegasnya. Dan ini      semua memerlukan planing yang tepat.<span></span><span></span></span> <strong><span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>4- Kebebesan Berpikir (<em>ozod andisy</em>)</span></strong><span>. Beliau      mengisyaratkan bahwa; “Kebebasan berpikir dan berpendapat haruslah tetap      terjaga dan membudaya di kalangan Hauzah Ilmiah. Karena itu merupakan ciri      khas Hauzah Ilmiah mazhab Syi’ah yang memberikan kebebasan berpikir dan      berpendapat, kepada murid dan guru, selama masih tetap berada pada koridor      adab Islam. Sebab dengan kebebasan berpikirlah ilmu akan semakin      berkembang sehingga menelorkan pemikiran-pemikiran cemerlang baru”. Beliau      mencontohkan sosok Imam Khomaeni (pemimpin revolusi Iran, red); “Pada masa      beliau, pelajaran filsafat belum dapat diterima secara meluas di kalangan Hauzah      Ilmiah, khususnya di Hauzah Ilmiah kota Masyhad. Sementara Imam Khomaeni      belajar dan bahkan menguasai filsafat transtendental (<em>al-Hikmah al-Muta’aliyah      al-Ilahiyah</em>) Mulla Sadra. Bahkan dapat dikatakan bahwa Imam Khomaeni      sebagai perwujudan filsafat transendental Mulla Sadra itu sendiri.      Beberapa ulama besar dalam hal ini tidak sependapat dengan beliau. Namun      dalam hal lain, para ulama tersebut, ketika revolusi menang dan tentang konsep      negara Islam mereka sangat mendukung Imam Khomaeni. Bolehlah berbeda      pendapat dan pemikiran dengan memiliki argumen-argumen yang benar dan      tidak keluar dari pondasi-pondasi dasar Islam, namun dalam hal lain harus tetap      bersatu. Karena kebesan berpikir dan berpendapat akan menjadi sarana untuk      menghasilkan ide-ide yang gemilang dan bahkan cabang-cabang ilmu baru”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span>Setelah acara selesai, kami menyantap makan malam bersama beliau. Walaupun untuk kedua kalinya saya ikut pertemuan dengan Imam Ali Khamanei, namun karena pada pertemuan pertama, disebabkan saya baru belajar bahasa Persia sehingga tidak dapat menikmati dan memahami pembicaraan dan wejangan-wejangan beliau dengan sempurna. Selain itu, pada pertemuan pertama, secara kuantitas jumlah pengunjung<span>  </span>sangat banyak dan berdesakan sehingga tidak dapat melihat beliau dari jarak dekat. Pertemuan kedua ini sangat menyenangkan, berkesan dan meninggalkan kenangan manis dalam hidup saya. Karena sewaktu saya mendapatkan undangan untuk pertemuan, awalnya sekolah tidak mengizinkan saya untuk pergi dengan alasan bahaya bagi ibu hamil muda yang pernah mengalami keguguran. Saat itu, saya langsung pergi ke dokter spesialis tempat tiap bulan saya mengecek kehamilan saya dan menanyakan hal ini. Alhamdulillah, beliaupun mengizinkan dan bahkan mengatakan bahwa; “Ini merupakan perjalanan dan pertemuan yang penuh berkah yang tidak semua orang bisa mendapatkannya”. Sayapun meminta pertolongan kepada Allah SWT dengan beristikharah kepada-Nya dengan memakai Al-Qur’an, apakah perjalanan ini baik atau tidak bagi saya? Ternyata ayat Al-Qur’anpun mengizinkan saya untuk itu. Ayat yang keluar ialah ayat yang sangat bagus dan berbunyi: “</span><em><span>Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan dia adalah Maha Penyanyang diantara para penyanyang.</span></em><span>” (QS Yusuf:64) Akhirnya sekolah memberikan ijin kepada saya dengan syarat membawa surat keterangan izin dari suami agar jika terjadi hal yang tidak diinginkan pihak kampus \tidak bersedia untuk dituntut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span>Pertemuan kedua ini, adalah pertemuan yang sangat penuh berkah dan sangat memuaskan, selain pengunjungnya tidak terlalu banyak sehingga kami bisa melihat Imam Ali Khamanei dengan jelas dan sayapun dapat memahami semua wejangan-wejangan beliau yang senantiasa bagaikan pelita yang akan menerangi kehidupan kami. Setelah acara tuntas kamipun kembali menuju kota suci Qom. Kami tiba di kota Qom pada pukul 1:00 dinihari. Sesampai di rumah, saya disambut oleh suami dan puteri saya yang belum tidur karena khawatir dengan kondisi saya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span>“Ya Allah, jagalah senantiasa Imam Ali Khamenei, panjangkanlah umurnya dan berkatilah hidupnya”. Amiin</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:12pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>ED</span></strong><span>/ Islamfeminis</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/islamfeminis.wordpress.com/224/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/islamfeminis.wordpress.com/224/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/islamfeminis.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/islamfeminis.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/islamfeminis.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/islamfeminis.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/islamfeminis.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/islamfeminis.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/islamfeminis.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/islamfeminis.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/islamfeminis.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/islamfeminis.wordpress.com/224/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=224&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/12/08/duduk-santai-bersama-%e2%80%98imam-ali-khamanei%e2%80%99-pemimpin-spiritual-dan-politik-republik-islam-iran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/22b024c1281b8ca4d46029a65392cd8e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">islam feminis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/khamenei.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">khamenei.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/12/imam-ali-khamenei.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">imam-ali-khamenei.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Makna Esoteris Haji</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/11/20/makna-esoteris-haji/</link>
		<comments>http://islamfeminis.wordpress.com/2007/11/20/makna-esoteris-haji/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Nov 2007 12:33:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>islam feminis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/2007/11/20/makna-esoteris-haji/</guid>
		<description><![CDATA[
Dalam banyak hadis disebutkan, al-Quran memiliki makna zahir dan batin. Sehingga dari situ dapat dipastikan bahwa semua ayat-ayat yang tercantum di dalamnya pun terkandung muatan zahir dan batin pula. Lantaran hukum haji juga tertera dalam beberapa ayat-ayat al-Quran, oleh karenanya, dapat diambil konklusi bahwa sebagaimana haji memiliki tata cara zahir yang jelas -seperti yang telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=islamfeminis.wordpress.com&blog=789422&post=222&subd=islamfeminis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/kabah.jpg" title="kabah.jpg"><img src="http://islamfeminis.files.wordpress.com/2007/11/kabah.jpg" alt="kabah.jpg" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dalam banyak hadis disebutkan, al-Quran memiliki makna zahir dan batin. Sehingga dari situ dapat dipastikan bahwa semua ayat-ayat yang tercantum di dalamnya pun terkandung muatan zahir dan batin pula. Lantaran hukum haji juga tertera dalam beberapa ayat-ayat al-Quran, oleh karenanya, dapat diambil konklusi bahwa sebagaimana haji memiliki tata cara zahir yang jelas -seperti yang telah diajarkan oleh Rasulullah saww- haji pun memiliki pemaknaan batin yang sangat berpengaruh pada kesempurnaan batin manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span> </span></strong><span id="more-222"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;">Makna Esoteris Haji</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span>Oleh: Euis Daryati</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Haji bukan hanya bentuk ibadah ritual keagamaan belaka, namun ia pun memiliki muatan politis yang harus dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh pelaksananya. Konsep bara’ah min al-Musyrikin (berlepas tangan dari kaum musyrik) yang ditekankan dalam al-Quran merupakan bukti akan ungkapan di atas. Oleh karena itu, imam Khomeini ra menyatakan bahwa haji adalah peribadatan yang bernuansa politik. Sebagaimana dalam hukum Islam, haji tanpa bara’ah dihukumi buntung dan tidak sempurna, maka benar jika dinyatakan bahwa ia adalah ritus peribadatan bernuansa politik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Haji merupakan salah satu bentuk peribadatan terpenting dalam Islam. Secara tekstual, begitu banyak riwayat (hadis) yang menjelaskan tentang keutamaan haji, baik yang berasal dari kitab-kitab standar kalangan Ahlusunah maupun Syiah. Di sisi lain, terdapat banyak juga riwayat-riwayat yang berkenaan dengan ancaman bagi pribadi yang telah mampu melaksanakannya namun ia tidak melakukannya, dan meremehkan pelaksanaan ibadah haji.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dalam banyak hadis disebutkan, al-Quran memiliki makna zahir dan batin. Sehingga dari situ dapat dipastikan bahwa semua ayat-ayat yang tercantum di dalamnya pun terkandung muatan zahir dan batin pula. Lantaran hukum haji juga tertera dalam beberapa ayat-ayat al-Quran, oleh karenanya, dapat diambil konklusi bahwa sebagaimana haji memiliki tata cara zahir yang jelas -seperti yang telah diajarkan oleh Rasulullah saww- haji pun memiliki pemaknaan batin yang sangat berpengaruh pada kesempurnaan batin manusia. Alhasil, ibadah haji bukan hanya sekedar melibatkan jasad zahir dan lahiriah manusia belaka, namun ia juga melibatkan batin manusia. Sehingga dari situ kesempurnaan zahir dan batin manusia seusai melaksanakan ibadah haji akan terwujud dengan sempurna. Ini jika ditinjau dari sisi ritual keagamaannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sedang di sisi lain, haji bukan hanya bentuk ibadah ritual keagamaan belaka, namun ia pun memiliki muatan politis yang harus dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh pelaksananya. Konsep bara’ah min al-Musyrikin (berlepas tangan dari kaum musyrik) yang ditekankan dalam al-Quran merupakan bukti akan ungkapan di atas. Oleh karena itu, imam Khomeyni ra menyatakan bahwa haji adalah peribadatan yang bernuansa politik. Sebagaimana dalam hukum Islam, haji tanpa bara’ah dihukumi buntung dan tidak sempurna, maka benar jika dinyatakan bahwa ia adalah ritus peribadatan bernuansa politik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Untuk menyingkap lebih jauh tentang makna esoteris (batin) haji, berikut akan dinukil ungkapan irfani al-Imam sayyid as-Sajidin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib as dari kitab Mustadrak al-Wasa’il karya Muhaddits an-Nuri tentang rahasia haji yang dinarasikan secara dialogis. Dalam narasi itu, dituturkan bahwa Imam As-sajjad ketika berwasiat terhadap salah seorang sahabat beliau bernama As-syibli yang baru saja usai melaksanakan ibadah haji, menuturkan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Wahai As-syibli, apakah engkau telah menunaikan ibadah haji?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Ya, kami telah menunaikan ibadah haji, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as): Apakah engkau telah beranjak di Miqat (tempat yang ditentukan untuk memakai baju ihram)? Sudahkah engkau lepaskan pakaian berjahit lalu mengenakan pakaian Ihram? Dan apakah engkau telah mandi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Ya, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah niat-mu ketika beranjak di Miqat adalah untuk melepaskan pakaian dosa, lalu menggantinya dengan pakaian takwa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as): Apakah ketika engkau melepaskan pakaian berjahit, niatmu adalah untuk melepaskan baju riya (ingin pujian manusia), bermuka dua dan segala perbuatan yang menjadi penyebab keraguan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau melaksanakan mandi dan membersihkan badanmu, niatmu adalah untuk bertaubat dari segala salah dan dosa, lalu mensucikan dan membersihkan dirimu dengan cahaya taubat?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Kalau seperti itu, berarti engkau tidak melaksanakan miqat, tidak melepaskan pakaian berjahit dan tidak mandi. Sekarang katakanlah, apakah engkau telah membersihkan dirimu, memakai baju ihram dan berniat untuk melakukan haji?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Ya, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau membersihkan badanmu dan menghilangkan daki dan kotoran dari badanmu, niatmu adalah melalui taubat, engkau pun turut hilangkan segala kotoran (batin) dari dirimu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasululullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah sewaktu engkau berniat untuk pergi ke haji dan mengadakan perjanjian dengan Allah, niatmu adalah untuk membatalkan semua perjanjian dengan selain-Nya, lalu melepaskan diri dari segala ikatan dengan selain-Nya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Kalau seperti itu, berarti engkau belum membersihkan diri, berihram dan belum berjanji untuk berhaji. Sebenarnya apakah engkau telah masuk miqat? Apakah engkau telah melaksanakan salat dua rakaat dan telah mengucapkan talbiyah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Ya, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau masuk ke miqat, niatmu adalah untuk menziarahi-Nya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau melaksanakan salat ihram, niatmu adalah melalui salat tadi –yang masuk kategori ibadah yang paling agung- engkau akan mendekatkan diri kepada-Nya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau mengucapkan talbiyah, niatmu adalah hanya dalam ketaatan-Nya, engkau menggunakan lisan-mu dan tidak menggunakannya dalam kemaksiatan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Kalau begitu engkau belum masuk miqat, belum melaksanakan salat ihram dan belum mengucapkan talbiyah. Apakah engkau telah masuk Haram (pelataran suci)? Apakah engkau telah melihat Ka’bah dan melaksanakan salat?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Ya, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau masuk Haram, niatmu adalah untuk mengharamkan dirimu dari ghibah (mengumpat) dari setiap pribadi muslim?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau sampai di Makkah, engkau mengingat bahwa engkau sedang menghadap-Nya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Kalau begitu engkau belum pergi ke Haram, belum melihat Ka’bah dan belum melaksanakan salat. Apakah engkau telah memutari Ka’bah? Apakah engkau telah mengusap semua sudut (rukun) Ka’bah? Apakah engkau telah melaksanakan sa’i (lari-lari kecil) dari Shafa menuju Marwah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Ya, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau melaksanakan sa’i, niatmu untuk berlari menuju Tuhan dan hidup di bawah naungan dan lindungan keamanan-Nya, dan Dia yang mengetahui rahasia menyaksikan hal ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Kalau begitu engkau belum melaksanakan thawaf, belum menyentuh semua sudut Ka’bah dan belum melaksanakan sa’i. Apakah engkau telah menyentuh dan bersalaman dengan Hajar Aswad? Apakah engkau telah berdiri di Maqam Ibrahim (bekas tapak kaki Ibrahim as) dan melaksanakan salat dua rakaat di tempat tersebut?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Ya, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tiba-tiba Imam Sajjad as berteriak sampai-sampai kita merasa takut dengan teriakannya yang seakan dapat memisahkan ruh dari badan hingga mati. Lalu beliau (As-sajjad) berkata: “Ah, barangsiapa yang bersalaman (menyentuh) dengan Hajar Aswad berarti ia telah bersalaman dengan Allah swt. Wahai manusia lemah, sadarlah, jangan-jangan engkau telah menghancurkan kehormatan perihal yang besar ini. Melakukan dosa dengan tangan yang telah engkau berikan kepada Allah swt, dan melalui penentanganmu terhadap-Nya engkau telah menyia-nyiakan pahala dan balasan-Nya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Lantas imam as berkata lagi: “Apakah niatmu ketika mendirikan salat di Maqam Ibrahim adalah supaya engkau seperti Ibrahim, dan melalui salat itu berarti engkau telah memoles hidung Setan dengan tanah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Kalau seperti itu berarti engkau belum bersalaman dengan Hajar Aswad, belum berdiri di Maqam Ibrahim dan belum melaksanakan salat. Apakat engkau telah pergi ke sumur Zam-zam dan meminum airnya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Ya, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah niatmu ketika itu untuk mentaati-Nya, dan tidak akan menentang-Nya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Kalau begitu engkau belum pergi ke sumur Zam-zam, dan belum meminum airnya. Apakah engkau telah ber-sa’i antara Shafa dan Marwah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Ya, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah niatmu ketika ber-sa’i antara Shafa dan Marwah, adalah untuk memendarkan perasaan pada dirimu antara rasa takut dan pengharapan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Kalau seperti itu berarti engkau belum ber-sa’i antara Shafa dan Marwah. Lalu apakah engkau telah pergi ke Mina?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Ya, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah niatmu ketika keluar dari Makkah, lalu pergi menuju Mina, adalah supaya orang-orang aman dari tangan, lisan dan hatimu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Kalau begitu engkau belum keluar dari Makkah, dan belum pergi ke Mina. Apakah engkau telah wuquf (berdiam diri) di Arafah, dan mendaki ke atas Jabal Rahmah? Apakah engkau telah mendatangi Wadi Numrah? Apakah engkau memohon kepada Allah di Mil dan Hamarat?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Ya, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika wukuf di Arafah engkau mengetahui bahwa semua pengetahuan dan makrifah berasal dari-Nya, dan berada di sisi-Nya? Apakah engkau mengetahui bahwa keberadaan ada pada tangan-Nya, dan Dia mengetahui semua yang terdapat pada dirimu, baik yang nampak maupun yang tersembunyi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah niatmu ketika menaiki Jabal Rahmah karena Allah akan memberikan rahmat kepada setiap mukmin lelaki dan perempuan, Dia mencintai setiap muslim lelaki dan perempuan, serta melindungi mereka?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah niatmu ketika di masjid Namrah supaya dirimu mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, serta tidak memerintah dan melarang kepada orang lain?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika berhenti di antara dua “tanda” (‘alam) dan masjid Namrah, engkau ingat bahwa semua itu merupakan saksi atas segala ketaatanmu dan senantiasa menjagamu bersama para penjaga Tuhan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Kalau begitu engkau belum wukuf di Arafah, belum menaiki Jabal Rahmah, belum mengenal masjid Namrah, belum tinggal di Namrah dan belum berdoa. Apakah engkau telah melewati antara dua tanda (alam), dan sebelum melewatinya engkau melaksanakan salat dua rakaat? Apakah engkau telah pergi ke Muzdalifah dan telah mengambil kerikil? Apakah engkau telah pergi ke Masy’aril-Haram?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Ya, wahai putra Rasulullah !?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau melaksanakan salat (pada malam ke sepuluh) niatmu adalah, bahwa salat ini merupakan salat syukur, karena Dia telah menghilangkan kesulitan darimu dan mendatangkan kemudahan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika melewati dua ‘alam dimana engkau berusaha supaya tidak melenceng ke arah kanan dan kiri, niatmu adalah melalui hati, lisan dan badanmu supaya dirimu tidak melenceng dari kebenaran?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau mengambil batu dari Muzdalifah, niatmu adalah menjauhkan segala penentangan dan kebodohan dari dirimu. Lalu, mendatangkan setiap ilmu dan amal perbuatan bagi dirimu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak, wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau pergi ke Masy’aril-Haram, niatmu adalah untuk menanamkan pada dirimu rasa sebagaimana orang yang bertakwa dan pribadi yang takut kepada Allah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-syibli : Tidak wahai putra Rasulullah!?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>As-sajjad (a