<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Ma, Tuhan Berada dimana Sich?</title>
	<atom:link href="http://islamfeminis.wordpress.com/2008/08/26/ma-tuhan-berada-di-mana-sich/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/08/26/ma-tuhan-berada-di-mana-sich/</link>
	<description>Islami, Feminim dan Mencerahkan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 05 May 2009 16:48:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: islamidina</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/08/26/ma-tuhan-berada-di-mana-sich/#comment-1862</link>
		<dc:creator>islamidina</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 May 2009 01:56:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=307#comment-1862</guid>
		<description>:)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: azerila</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/08/26/ma-tuhan-berada-di-mana-sich/#comment-1750</link>
		<dc:creator>azerila</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Jan 2009 16:34:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=307#comment-1750</guid>
		<description>Mengapa ada di mind? Bukan di qalb?

--------------------------------------

&lt;strong&gt;Islam Feminis:&lt;/strong&gt;
Di kedua-duanya ADA</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mengapa ada di mind? Bukan di qalb?</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p><strong>Islam Feminis:</strong><br />
Di kedua-duanya ADA</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: M Abduh T</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/08/26/ma-tuhan-berada-di-mana-sich/#comment-1716</link>
		<dc:creator>M Abduh T</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 03:53:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=307#comment-1716</guid>
		<description>Sy setuju dgn saudara madrus. Dalil dr nabi sudah jelas. Siapa yg lebih tahu agama, nabi ataukah kita yg sering mengutamakan akal dan logika? Kok, seolah2 pernyataan nabi disampingkan, logika didahulukan. Anak kecil di atas sbnrnya masih bingung krn dia tahu kalo Tuhannya berada di atas langit, tp ada yg mengatakan  Tuhannya ada di mana2.
Mungkin biar lebih jelas, silakan lihat tulisan kami yg akan sgra dipublish di
http://muslim.or.id.
Atau dpt dilihat jg di blog kami:
http://muslim01.co.cc

--------------------------------------

&lt;strong&gt;Islam Feminis:&lt;/strong&gt;
Untuk menjadikan hadis Nabi menjadi dalil perlu ada penjelasannya. Sewaktu Nabi ditanya oleh seorang badui yang suka berbohong ttg hakekat Islam, dan ketika ditanya oleh Ali bin Abi Thalib ttg hakekat Islam niscaya Nabi akan berbeda dalam kualitas menjawabnya bukan? 
Dalam kasus di atas, ketika anak kecil bertanya ttg dimana Allah maka kita harus menjawabnya dengan kapasitas akalnya. Begitu juga dengan kasus hadis Nabi yang mengatakan bahwa Allah ada di langit.
Jika memang benar Allah berada di langit maka meniscauakan;1- Allah bertempat dan membutuhkannya, yaitu di atas langit. 2- Allah bisa ditunjuk (isyarat) yaitu di atas, sedang kita tahu bahwa langit (atas) di Amerika berbeda dengan langit di Indonesia. Lantas Allah di langit yang mana? Jadi Allah tidak ada di samping kiri-kanan, belakang-depan, atau di bawah..Allah melulu di atas. 3- Keberadaan Allah terbatas, karena Ia tidak ada di bumi, juga tidak ada di bulan, tidak di matahari atau bintang dan planet manapun, selalunya Ia di atas langit. 
Ini semua adalah konsekuensi logis jika kita mengartikan secara tekstual hadis &quot;Allah di Langit&quot;. Padahal langit adalah tinggi yang bermakna transendent, bukan langit materi. Makanya bukan saja Allah, tetapi kalimat Allah juga disifati luhur/tinggi juga, &lt;em&gt;kalimatullah hiyal ulya&lt;/em&gt;.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sy setuju dgn saudara madrus. Dalil dr nabi sudah jelas. Siapa yg lebih tahu agama, nabi ataukah kita yg sering mengutamakan akal dan logika? Kok, seolah2 pernyataan nabi disampingkan, logika didahulukan. Anak kecil di atas sbnrnya masih bingung krn dia tahu kalo Tuhannya berada di atas langit, tp ada yg mengatakan  Tuhannya ada di mana2.<br />
Mungkin biar lebih jelas, silakan lihat tulisan kami yg akan sgra dipublish di<br />
<a href="http://muslim.or.id" rel="nofollow">http://muslim.or.id</a>.<br />
Atau dpt dilihat jg di blog kami:<br />
<a href="http://muslim01.co.cc" rel="nofollow">http://muslim01.co.cc</a></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p><strong>Islam Feminis:</strong><br />
Untuk menjadikan hadis Nabi menjadi dalil perlu ada penjelasannya. Sewaktu Nabi ditanya oleh seorang badui yang suka berbohong ttg hakekat Islam, dan ketika ditanya oleh Ali bin Abi Thalib ttg hakekat Islam niscaya Nabi akan berbeda dalam kualitas menjawabnya bukan?<br />
Dalam kasus di atas, ketika anak kecil bertanya ttg dimana Allah maka kita harus menjawabnya dengan kapasitas akalnya. Begitu juga dengan kasus hadis Nabi yang mengatakan bahwa Allah ada di langit.<br />
Jika memang benar Allah berada di langit maka meniscauakan;1- Allah bertempat dan membutuhkannya, yaitu di atas langit. 2- Allah bisa ditunjuk (isyarat) yaitu di atas, sedang kita tahu bahwa langit (atas) di Amerika berbeda dengan langit di Indonesia. Lantas Allah di langit yang mana? Jadi Allah tidak ada di samping kiri-kanan, belakang-depan, atau di bawah..Allah melulu di atas. 3- Keberadaan Allah terbatas, karena Ia tidak ada di bumi, juga tidak ada di bulan, tidak di matahari atau bintang dan planet manapun, selalunya Ia di atas langit.<br />
Ini semua adalah konsekuensi logis jika kita mengartikan secara tekstual hadis &#8220;Allah di Langit&#8221;. Padahal langit adalah tinggi yang bermakna transendent, bukan langit materi. Makanya bukan saja Allah, tetapi kalimat Allah juga disifati luhur/tinggi juga, <em>kalimatullah hiyal ulya</em>.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Rudika</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/08/26/ma-tuhan-berada-di-mana-sich/#comment-1698</link>
		<dc:creator>Rudika</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 15:59:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=307#comment-1698</guid>
		<description>Barangkali akan lebih aman kalau kita menjawabnya dengan penjelasan bahwa Allah berada di atas, atau Allah berada di langit.

Lebih jelasnya lagi : Allah ada di langit, tetapi ilmu Allah meliputi segala sesuatu.

Saya pikir itu lebih mendekati sunnah karena Rasul pernah mencontohkannya ketika ada seorang budak ditanya ttg &#039;di manakah Allah&#039;, dia menjawab &#039;di atas&#039; dan itu dibenarkan oleh Rasulullah. (CMIIW on redaction).

Sekali lagi, saya pikir itu lebih save, daripada kita jawab Tuhan ada di mana-mana.

Ini adalah masalah akidah, yaitu sifat Allah, keberadaan Allah, jadi mohon agar hati-hati. Kita harus berusaha menyikapinya dengan mencontoh tuntunan dari Rasulullah SAW.

Wassalmu&#039;alaikum wr. wb.

----------------------------------------------------------

&lt;strong&gt;Islam Feminis:&lt;/strong&gt;
Justru kalau kita jawab dengan &#039;Allah di Langit&#039; maka selain bertentangan dengan teologi Islam yang ada (Allah bertempat yang berarti memiliki banyak konsekuensi negatif), juga akan menimbulkan pertanyaan lain di benak seorang anak kecil....

Mungkin Allah di langit itu lebih dekat dengan sunah versi pemahaman Ahli Hadis atau mazhab zahiri yang cenderung &#039;teks book thingking&#039;. Pemahaman semacam itu hanya bisa dipahami oleh kaum yang sangat awam terhadap agama saja, dan cenderung bersifat dogmatis.  </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Barangkali akan lebih aman kalau kita menjawabnya dengan penjelasan bahwa Allah berada di atas, atau Allah berada di langit.</p>
<p>Lebih jelasnya lagi : Allah ada di langit, tetapi ilmu Allah meliputi segala sesuatu.</p>
<p>Saya pikir itu lebih mendekati sunnah karena Rasul pernah mencontohkannya ketika ada seorang budak ditanya ttg &#8216;di manakah Allah&#8217;, dia menjawab &#8216;di atas&#8217; dan itu dibenarkan oleh Rasulullah. (CMIIW on redaction).</p>
<p>Sekali lagi, saya pikir itu lebih save, daripada kita jawab Tuhan ada di mana-mana.</p>
<p>Ini adalah masalah akidah, yaitu sifat Allah, keberadaan Allah, jadi mohon agar hati-hati. Kita harus berusaha menyikapinya dengan mencontoh tuntunan dari Rasulullah SAW.</p>
<p>Wassalmu&#8217;alaikum wr. wb.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p><strong>Islam Feminis:</strong><br />
Justru kalau kita jawab dengan &#8216;Allah di Langit&#8217; maka selain bertentangan dengan teologi Islam yang ada (Allah bertempat yang berarti memiliki banyak konsekuensi negatif), juga akan menimbulkan pertanyaan lain di benak seorang anak kecil&#8230;.</p>
<p>Mungkin Allah di langit itu lebih dekat dengan sunah versi pemahaman Ahli Hadis atau mazhab zahiri yang cenderung &#8216;teks book thingking&#8217;. Pemahaman semacam itu hanya bisa dipahami oleh kaum yang sangat awam terhadap agama saja, dan cenderung bersifat dogmatis.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: madrus</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/08/26/ma-tuhan-berada-di-mana-sich/#comment-1684</link>
		<dc:creator>madrus</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 04:25:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=307#comment-1684</guid>
		<description>tuhan itu ada di dalam mind kita. Allah adalah pencipta alam yang ada d luar alam, Allah adalah Awal yang tdak diawali, Allah adalah akhir yang tidak pula di akhiri.Apakah mind itu alam, kenapa Allah ada didalamnya?......tlg q pengin belajar aqidah yang benar. please....

----------------------------------------
&lt;strong&gt;
Islam Feminis&lt;/strong&gt;
Kami mengucapkan selamat kepada anda, karena tidak semua orang mendapatkan hidayah seperti ini. Anda dapat belajar melalui pengamatan atas keagungan alam semesta yang akan mengantarkan kita menuju pengenalan terhadap penciptanya. Apa mungkin, alam semesta yang penuh dengan keajaiban, memiliki keteraturan dapat berada dengan sendirinya? Sebenarnya pelajaran aqidah dalam rangka menjawab tiga pertanyaan penting manusia; &quot;Dari mana berasal, sekarang berada dimana?, dan akan pergi kemana?&quot;, yang kemudian teringkas dalam beberapa pembahasan Ketuhanan, kenabian, keimamahan, keadilan dan tengtang kehidupan pasca kiamat. dan pembahasan inipun, pada setiap bagiannnya memiliki pembagian pembahasan masing-masing.
sementara ini kami hanya mengusulkan kepada anda belajar aqidah dengan mencari guru sehingga tidak salah dalam memahami permasalhan. atau dengan membaca buku-buku yang berkaitan dengan pembahasan ini, dan menanyakan maksudnya apabila ada hal-hal yang tidak dipahami. atau anda bisa langsung melontarkan pertanyaan berkaitan dengan akidah, sehingga dapat langsung mendapatkan jawabannya.
 </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>tuhan itu ada di dalam mind kita. Allah adalah pencipta alam yang ada d luar alam, Allah adalah Awal yang tdak diawali, Allah adalah akhir yang tidak pula di akhiri.Apakah mind itu alam, kenapa Allah ada didalamnya?&#8230;&#8230;tlg q pengin belajar aqidah yang benar. please&#8230;.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
<strong><br />
Islam Feminis</strong><br />
Kami mengucapkan selamat kepada anda, karena tidak semua orang mendapatkan hidayah seperti ini. Anda dapat belajar melalui pengamatan atas keagungan alam semesta yang akan mengantarkan kita menuju pengenalan terhadap penciptanya. Apa mungkin, alam semesta yang penuh dengan keajaiban, memiliki keteraturan dapat berada dengan sendirinya? Sebenarnya pelajaran aqidah dalam rangka menjawab tiga pertanyaan penting manusia; &#8220;Dari mana berasal, sekarang berada dimana?, dan akan pergi kemana?&#8221;, yang kemudian teringkas dalam beberapa pembahasan Ketuhanan, kenabian, keimamahan, keadilan dan tengtang kehidupan pasca kiamat. dan pembahasan inipun, pada setiap bagiannnya memiliki pembagian pembahasan masing-masing.<br />
sementara ini kami hanya mengusulkan kepada anda belajar aqidah dengan mencari guru sehingga tidak salah dalam memahami permasalhan. atau dengan membaca buku-buku yang berkaitan dengan pembahasan ini, dan menanyakan maksudnya apabila ada hal-hal yang tidak dipahami. atau anda bisa langsung melontarkan pertanyaan berkaitan dengan akidah, sehingga dapat langsung mendapatkan jawabannya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: madrus</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/08/26/ma-tuhan-berada-di-mana-sich/#comment-1683</link>
		<dc:creator>madrus</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 04:17:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=307#comment-1683</guid>
		<description>tuhan tu ada di dlm mind kita...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>tuhan tu ada di dlm mind kita&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: arRa</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/08/26/ma-tuhan-berada-di-mana-sich/#comment-1645</link>
		<dc:creator>arRa</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 19:19:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=307#comment-1645</guid>
		<description>Di manakah Allah, apa yang ada sebelum Allah?, siapa yang menciptakan Allah, berapa lamakah kehidupan dalam kubur dan di manakah surga dan neraka?, (Allah tentunya tidak terikat oleh tempat dan waktu. Baginya tidak dipengaruhi yang dulu atau yang akan datang. Allah tidak memerlukan tempat, sehingga pertanyaan tentang dimana Allah hanya akan membatasi kekuasaanNya. 
http://cyberwhite.wordpress.com/</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Di manakah Allah, apa yang ada sebelum Allah?, siapa yang menciptakan Allah, berapa lamakah kehidupan dalam kubur dan di manakah surga dan neraka?, (Allah tentunya tidak terikat oleh tempat dan waktu. Baginya tidak dipengaruhi yang dulu atau yang akan datang. Allah tidak memerlukan tempat, sehingga pertanyaan tentang dimana Allah hanya akan membatasi kekuasaanNya.<br />
<a href="http://cyberwhite.wordpress.com/" rel="nofollow">http://cyberwhite.wordpress.com/</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: reekoheek</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/08/26/ma-tuhan-berada-di-mana-sich/#comment-1639</link>
		<dc:creator>reekoheek</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 Aug 2008 20:04:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=307#comment-1639</guid>
		<description>Saya kok berpendapat bahwa jika semesta adalah himpunan yang melingkupi segala sesuatu. Maka Tuhan adalah semesta dari semesta. superset dari alam semesta...
Wallahu alam

Salam kenal

-------------------------------------------------------

&lt;strong&gt;Islam Feminis:&lt;/strong&gt;
Semesta dari semesta itu adalah manusia, bukan Allah.  Oleh karenanya ada istilah Mikro Kosmos dan Makro kosmos. Atau juga bisa diistilahkan Manusia Besar dan Manusia kecil. Allah Pencipta semua semesta sehingga tidak dimasukkan kepada hasil ciptaan-Nya sendiri, termasuk istilah semesta. 

Allah telah ciptakan manusia dengan sesempurna mungkin, hasil gabungan semua partikel di alam semesta. Sedang Allah adalah absolut yang tidak bisa dikategorikan semesta, sebagaimana yang dipahami manusia. Tetapi Dia ada kaitannya dengan semua semesta yang ada, karena Dia meliputi segala sesuatu. Itulah rahasia kenapa dikatakan: &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Man &#039;Arafa Nafsahu Fa Qod &#039;Arafa Rabbahu&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (Barangsiapa yang telah mengenal &#039;diri&#039;-nya niscaya ia telah mengenal Tuhannya).

Ada ungkapan Imam Ali AS di Nahjul Balaghah yang sangat indah berkaitan dengan hal ini:
&quot;(Allah) berada pada segala sesuatu tanpa melalui percampuran (diri), dan di luar segala sesuatu tanpa melalui pemisahan (diri)&quot; (&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Dakhilun fil Asy&#039;ya&#039;i laa bil Muzayadah. Wa Kharijul minal Asy&#039;ya&#039;i laa bil Muzayalah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya kok berpendapat bahwa jika semesta adalah himpunan yang melingkupi segala sesuatu. Maka Tuhan adalah semesta dari semesta. superset dari alam semesta&#8230;<br />
Wallahu alam</p>
<p>Salam kenal</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p><strong>Islam Feminis:</strong><br />
Semesta dari semesta itu adalah manusia, bukan Allah.  Oleh karenanya ada istilah Mikro Kosmos dan Makro kosmos. Atau juga bisa diistilahkan Manusia Besar dan Manusia kecil. Allah Pencipta semua semesta sehingga tidak dimasukkan kepada hasil ciptaan-Nya sendiri, termasuk istilah semesta. </p>
<p>Allah telah ciptakan manusia dengan sesempurna mungkin, hasil gabungan semua partikel di alam semesta. Sedang Allah adalah absolut yang tidak bisa dikategorikan semesta, sebagaimana yang dipahami manusia. Tetapi Dia ada kaitannya dengan semua semesta yang ada, karena Dia meliputi segala sesuatu. Itulah rahasia kenapa dikatakan: <strong><em>Man &#8216;Arafa Nafsahu Fa Qod &#8216;Arafa Rabbahu</em></strong> (Barangsiapa yang telah mengenal &#8216;diri&#8217;-nya niscaya ia telah mengenal Tuhannya).</p>
<p>Ada ungkapan Imam Ali AS di Nahjul Balaghah yang sangat indah berkaitan dengan hal ini:<br />
&#8220;(Allah) berada pada segala sesuatu tanpa melalui percampuran (diri), dan di luar segala sesuatu tanpa melalui pemisahan (diri)&#8221; (<strong><em>Dakhilun fil Asy&#8217;ya&#8217;i laa bil Muzayadah. Wa Kharijul minal Asy&#8217;ya&#8217;i laa bil Muzayalah</em></strong>)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: SatriaK</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/08/26/ma-tuhan-berada-di-mana-sich/#comment-1636</link>
		<dc:creator>SatriaK</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 21:39:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=307#comment-1636</guid>
		<description>Assalaamu `alaykum,

Sedikit tukar pikiran. Benar sebagaimana yang difirmankan-Nya bahwa: &quot;Allah bersama kita di manapun berada.&quot; Hanya saja apakah itu sama dengan &quot;Allah ada di mana-mana&quot;?
Akan lebih aman bagi kita mencukupkan  apa-adanya dengan kalimat-kalimat yang difirmankan-Nya dalam Al-Qur&#039;an, bahwa:
1. Allah bersemayam di atas Arsy
2. Allah itu lebih dekat daripada urat nadi
3. Allah itu bersama kita di mana pun berada

Wassalaamu `alaykum.

-----------------------------------------------

&lt;strong&gt;Islam Feminis:&lt;/strong&gt;
Waalikumsalam Wr Wb
Terimakasih atas masukannya. Sekali lagi, perlu diketahui bahwa yang bertanya adalah anak kecil baru masuk usia &lt;strong&gt;6&lt;/strong&gt; tahun yang daya nalarnya sangat terbatas. Jika kita jelaskan sebagaimana yang anda sarankan maka bukan hanya ia tidak memahaminya bahkan malah menjadi lebih bingung. Padahal kita ingin untuk memahamkannya dengan argumen yang dapat ia terima, bukan malah membikin ia bingung. Oleh karenanya, kita harus memahami bahasa dan psikologi anak. Di sini jelas pentingnya kreatifitas dan kebijakan dalam menjawab pertanyaan anak, sesuai dengan nalar mereka. Bukankah Rasul juga pernah menyatakan: &quot;Kami para Nabi tidak mengungkapkan sesuatu kecuali sesuai dengan kapasitas akal (yang diajak bicara)&quot;.

Saya sendiri mampu menjelaskan semua itu sesuai dengan argumen filsafat (akal murni) dan teologi (rasional dan teks) yang pernah saya pelajari. NAmun apakah itu bijak (baca: sesuai) jika saya jabarkan kepada usia kanak-kanak semacam itu? Begitu pula dengan pemilihan kata-katanya. Tentu Allah ada dimana-mana bukan berarti seperti yang dipahami oleh para pemikir tasawuf (yang menyimpang) dalam mengartikan wahdatul wujud. Atau mengatakan bahwa Allah duduk di singgahsana di langit sebagaimana yang dipahami oleh para mujassimah, termasuk dari kalngan wahabisme. 

Alhasil, di sini kita dituntut untuk pintar-pintar dalam menetapkan hal-hal yang berkaitan dengan Allah dengan menggunakan pendekatan-pendekatan (analogi) dan gaya bahasa, juga metode penyampaian yang harus sesuai dengan nalar mereka. Dengan cara itu, kita berharap kecintaan mereka kepada Allah akan bertambah. 
Wassalam </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalaamu `alaykum,</p>
<p>Sedikit tukar pikiran. Benar sebagaimana yang difirmankan-Nya bahwa: &#8220;Allah bersama kita di manapun berada.&#8221; Hanya saja apakah itu sama dengan &#8220;Allah ada di mana-mana&#8221;?<br />
Akan lebih aman bagi kita mencukupkan  apa-adanya dengan kalimat-kalimat yang difirmankan-Nya dalam Al-Qur&#8217;an, bahwa:<br />
1. Allah bersemayam di atas Arsy<br />
2. Allah itu lebih dekat daripada urat nadi<br />
3. Allah itu bersama kita di mana pun berada</p>
<p>Wassalaamu `alaykum.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p><strong>Islam Feminis:</strong><br />
Waalikumsalam Wr Wb<br />
Terimakasih atas masukannya. Sekali lagi, perlu diketahui bahwa yang bertanya adalah anak kecil baru masuk usia <strong>6</strong> tahun yang daya nalarnya sangat terbatas. Jika kita jelaskan sebagaimana yang anda sarankan maka bukan hanya ia tidak memahaminya bahkan malah menjadi lebih bingung. Padahal kita ingin untuk memahamkannya dengan argumen yang dapat ia terima, bukan malah membikin ia bingung. Oleh karenanya, kita harus memahami bahasa dan psikologi anak. Di sini jelas pentingnya kreatifitas dan kebijakan dalam menjawab pertanyaan anak, sesuai dengan nalar mereka. Bukankah Rasul juga pernah menyatakan: &#8220;Kami para Nabi tidak mengungkapkan sesuatu kecuali sesuai dengan kapasitas akal (yang diajak bicara)&#8221;.</p>
<p>Saya sendiri mampu menjelaskan semua itu sesuai dengan argumen filsafat (akal murni) dan teologi (rasional dan teks) yang pernah saya pelajari. NAmun apakah itu bijak (baca: sesuai) jika saya jabarkan kepada usia kanak-kanak semacam itu? Begitu pula dengan pemilihan kata-katanya. Tentu Allah ada dimana-mana bukan berarti seperti yang dipahami oleh para pemikir tasawuf (yang menyimpang) dalam mengartikan wahdatul wujud. Atau mengatakan bahwa Allah duduk di singgahsana di langit sebagaimana yang dipahami oleh para mujassimah, termasuk dari kalngan wahabisme. </p>
<p>Alhasil, di sini kita dituntut untuk pintar-pintar dalam menetapkan hal-hal yang berkaitan dengan Allah dengan menggunakan pendekatan-pendekatan (analogi) dan gaya bahasa, juga metode penyampaian yang harus sesuai dengan nalar mereka. Dengan cara itu, kita berharap kecintaan mereka kepada Allah akan bertambah.<br />
Wassalam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Fadhl Rafiqi</title>
		<link>http://islamfeminis.wordpress.com/2008/08/26/ma-tuhan-berada-di-mana-sich/#comment-1635</link>
		<dc:creator>Fadhl Rafiqi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 08:59:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://islamfeminis.wordpress.com/?p=307#comment-1635</guid>
		<description>:)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
