Oleh: islam feminis | Februari 16, 2008

Sejarah Ringkas : Masjid al-Mukaddas Jamkaran

masjid-jamkaran.jpg

Sudah selayaknya para penziarah mendatangani tempat suci ini untuk mengambil berkah dan manfaatnya. Ketika kita berziarah ke tempat yang dimuliakan oleh Allah (swt) tersebut, kita harus menjauhkan diri dari segala perbuatan yang tidak diridhoi Allah (swt). Karena hal itu, akan menyebabkan Imam Mahdi (af) mengabaikan kehadiran kita.


————————————————-

 

Sejarah Ringkas :

Masjid al-Mukaddas Jamkaran

 

Allah (swt) berfirman: “Sesungguhnya sesuatu yang telah disiapkan Allah swt buatmu, adalah lebih baik bagimu jika kamu beriman”. (QS Hud :86)

Imam Mahdi (af) berkata: “Katakanlah kepada orang-orang, cintailah tempat ini (Masjid al-Mukaddas Jamkaran) dan muliakanlah”.

   Masjid al-Mukaddas Jamkaran terletak di daerah Jamkaran, yang terletak kurang lebih enam kilometer dari kota suci Qom. Masjid ini, sering didatangi penziarah dari berbagai pelosok Iran, bahkan dari berbagai negara. Tempat suci ini, berada dibawah naungan khusus Imam Mahdi (af) yang telah menyatakan bahwa beliau akan bertemu dengan pengikutnya kelak di tempat ini. Tempat suci ini pun, mempunyai kemuliaan karena telah dipilih Allah (swt) diantara tempat-tempat lainnya.

   Oleh karena itu, sudah selayaknya para penziarah mendatangani tempat suci ini untuk mengambil berkah dan manfaatnya. Ketika kita berziarah ke tempat yang dimuliakan oleh Allah (swt) tersebut, kita harus menjauhkan diri dari segala perbuatan yang tidak diridhoi Allah (swt). Karena hal itu, akan menyebabkan Imam Mahdi (af) mengabaikan kehadiran kita. Kita harus bersikap seakan-akan Imam Mahdi (af) berada dihadapan kita, dan seraya menjaga diri dari segala prilaku yang tidak diridhai oleh Imam Mahdi (af). Kemudian, kitapun harus berdoa dengan penuh keikhlasan supaya Allah (swt)  menyegerakan kemunculan beliau, dan kita harus menyadari dengan sepenuh hati bahwa semua permasalahan yang ada di dunia ini tidak akan terselesaikan secara tuntas jika Imam Mahdi (af) belum muncul.

Sejarah Ringkas

   Syeikh Hasan bin Mitslih (ra) berkata: “Pada malam rabu, yaitu bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan 373 H Q, aku tidur di rumahku. Tiba-tiba, orang-orang berdatangan ke rumahku dan membangunkanku seraya berkata: “Beranjaklah dari tempat tidurmu untuk menemui junjunganmu, yaitu Imam Mahdi (af) yang hendak bertemu denganmu”. Kemudian mereka membawaku ke tanah yang sekarang di atasnya didirikan masjid al-Mukaddas Jamkaran. Disana, saya melihat seorang pria muda, yang kira-kira berusia tiga puluh tahun sedang duduk di atas dipan yang beralaskan permadani dan bersandarkan bantal. Beliaulah Imam Mahdi (af). Disampingnya, duduk pula seorang pria tua yang tidak lain beliau adalah nabi Hidhir (as). Setelah itu, lantas Imam mempersilahkanku. Lantas Imam Mahdi (af) memanggil namaku seraya berkata: “Pergilah menemui Hasan Muslim (petani tanah tersebut) dan katakan kepadanya bahwa tanah ini adalah tanah mulia yang telah dipilih Allah (swt) diantara tanah-tanah yang lain. Karena itu, sejak saat ini, dia (Hasan Muslim) tidak berhak lagi untuk bercocok tanam di tanah ini”. Lantas saya berkata: “Wahai tuanku, saya memerlukan bukti dan tanda agar orang-orang dapat menerima ucapanku”. Imam Mahdi (af) menjawab: “Pergilah dan laksanakan perintah ini, nanti aku akan memberikan bukti dan tanda untuk perkara ini. Kemudian, pergilah juga ke rumah sayyid Abul Hasan Ridho (ra) –salah seorang ulama Qom kala itu- dan katakan kepadanya: “Datangkan Abu Muslim, lalu gabungkanlah keuntungan beberapa tahun yang dihasilkan dari tanah itu. Lantas bangunlah masjid di atasnya. Setelah itu, umumkan kepada masyarakat untuk mencintai tempat ini, memuliakannya dan mendirikan shalat empat rakaat di dalamnya”. Lalu, Imam Mahdi (af) memberi petunjuk tentang tata cara shalat di tempat yang disucikan itu dengan tuntunan sebagai berikut; Dua rakaat pertama, adalah shalat dengan niat “shalat tahiyat masjid”. Pada setiap rakaatnya membaca sekali surat al-Fatihah dan tujuh kali surat al-Ikhlas. Saat ruku’, membaca zikir “Subhana rabbiyal adzimi wa bihamdihi” sebanyak tujuh kali. Adapun saat sujud, membaca zikir “Subhana rabbiyal a’la wa bihamdihi” sebanyak tujuh kali. Seusai melaksanakan “shalat tahiyat masjid”, lantas melakukan shalat dua rakaat dengan niat shalat Imam Mahdi (af), dengan tata cara sebagai berikut:

1-     Rakaat pertama, dimulai dengan membaca surat al-Fatihah. Ketika sampai pada ayat “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” ulangi bacaan ayat tersebut sebanyak seratus kali. Setelah itu, bacalah surat al-Ikhlas sekali. Lantas melakukan ruku’ dan sujud sambil membaca zikir (ruku’ dan sujud) masing-masing sebanyak tujuh kali (sebagaimana yang telah disebutkan dalam tata cara shalat tahiyat masjid).

2-     Rakaat kedua, dilakukan dengan tata cara yang sama seperti pada rakaat pertama. Kemudian dilanjutkan dengan salam. Setelah membaca salam, lantas membaca satu kali kalimat tauhid “laa ilaha illallah”. Seusai membaca kalimah tauhid, lantas membaca tasbih az-Zahra (Allahu akbar 34x, alhamdulillah 33x dan subhanallah 33x). Setelah mambaca tasbih Zahra, lantas sujud dengan membaca shalawat “Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad” sebanyak seratus kali.

Imam Mahdi (af) juga berkata: “Jika seseorang mendirikan shalat dua rakaat di tempat ini (masjid Jamkaran), maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana mendirikan shalat dua rakaat di dalam Ka’bah”.


Kemudian saya meninggalkan tempat tersebut, namun baru aku berjalan beberapa langkah, Imam Mahdi (af) kembali memanggilku seraya berkata: “Belilah satu ekor kambing yang digembalakan oleh Jakfar Kasyani, lantas bawalah kemari dan sembelihlah di tempat ini. Setelah itu, bagikanlah dagingnya kepada orang-orang yang sakit. Orang-orang sakit yang memakan daging kambing tersebut akan disembuhkan penyakitnya oleh Allah (swt)”.

Akupun kembali ke rumah dan terus berpikir sepanjang malam hingga tiba waktu subuh. Seusai melaksanakan shalat subuh, saya pergi ke rumah Ali Mandzar dan menceritakan semua peristiwa yang telah kualami malam itu. Kemudian, kami pun pergi ke tempat itu. Dengan dipenuhi rasa heran, kami dapati di atas tanah itu terdapat rantai-rantai yang menjadi pembatas bangunan masjid al-Mukaddas Jamkaran.

Setelah itu, aku pergi ke kota Qom untuk menjumpai sayyid Abul Hasan Ridho (ra). Sesampai di depan pintu rumahnya, pelayan yang membukakan pintu berkata: “Apakah anda orang dari Jamkaran?” Aku mengiyakan. Pelayan itu kembali berkata: “Sejak waktu sahur sayyid telah menanti anda”.

Kemudian aku masuk ke dalam rumah itu, dan sayyid menyambutku dengan hormat seraya berkata: “Wahai Hasan bin Mitslih, aku bermimpi seseorang berkata kepadaku; “Akan datang seseorang kepadamu dari daerah Jamkaran yang bernama Hasan bin Mitslih. Percayailah apapun yang dikatakannya, karena ucapannya adalah ucapanku, dan jangan engkau menolaknya”. Sejak bangun tidur hingga sekarang aku menunggu-nunggu kedatanganmu”. Aku pun menceritakan peristiwa yang kualami malam itu. Tidak lama kemudian, sayyid menyiapkan kudanya dan kami pun pergi ke daerah Jamkaran. Sesampai disekitar Jamkaran, kami melihat segerombolan kambing gembalaan Jakfar Kasyani. Tiba-tiba, dari arah belakang gerombolan kambing itu, datanglah seekor kambing dan berlari menuju ke arah kami. Jakfar Kasyani bersumpah, bahwa kambing itu bukan berasal dari gembalaannya, dan iapun tidak pernah melihat kambing sebelumnya. Maka, kami pun membawa kambing tersebut ke tanah yang telah ditunjuk oleh Imam Mahdi (af), dan kemudian menyembelihnya. Lantas kami bagikan daging kambing tersebut kepada orang-orang yang sakit. Dengan pertolongan Allah (swt) dan Imam Mahdi (af), mereka pun mendapat kesembuhan. Setelah itu, lantas sayyid Abul Hasan Ridho (ra) mendatangkan Hasan Muslim dan mengambil keuntungan-keuntungan tanah tersebut darinya. Melalui keuntungan tersebut dibangunlah masjid al-Mukaddas Jamkaran. Sayyid Abul Hasan (ra) pun membawa semua rantai-rantai dan pasak yang menjadi pembatas bangunan masjid Jamkaran ke kota Qom untuk disimpan dirumahnya. Setiap orang sakit yang diusapkan ke rantai tersebut akan disembuhkan oleh Allah (swt) dengan cepat. Namun, setelah sayyid Abul Hasan (ra) wafat, semua rantai tersebut lenyap, dan tidak ada seorangpun yang menemukannya”.

—————————————————————

Ringkasan dari Kitab “Najmus Tsaqib” hal: 383-388.

Alih Bahasa: Euis Daryati.              

                                                     


Responses

  1. Wah, jadi orang Syiah juga sama seperti Ahlusunah yang meyakini tabarruk dan karamah para wali ya?
    Kalau ada yang ingin tahu banyak tentang masalah Tabaruk, buka saja blog kami: Salafyindonesia.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: