Oleh: islam feminis | Oktober 2, 2007

Ma, Apa itu Lailatul-Qadr?!

al-quran-turun.jpg

Setelah itu ia bilang ingin membaca al-Qur’an lebih dari biasanya, “Mama, malam ini aku ingin membaca al-Qur’an lebih dari biasanya, kalau biasanya sehari hanya baca 1 halaman, malam ini aku pengen baca al-Qur’an sebanyak 2 halaman biar dapat hadiah lebih banyak nanti di surga”, ujarnya dengan mata berbinar.

——————————————————-

Ma, Apa itu Lailatul-Qadr?!

Sewaktu putri kecil kami pulang dari sekolah (kelas 1 SD), seusai menceritakan tentang sekolahnya ia bertanya: “Mama, ibu guru bilang, besok sekolahnya setelah zuhur. Alasannya katanya, malam ini adalah Lailatul-Qadr. Terus ibu guru juga bilang, bagi siapa yang memiliki jilbab berwarna hitam, sebaiknya besok mengenakan jilbab warna hitam. Emangnya besok ada peristiwa sedih apa mama, kok kita harus memakai jilbab warna hitam?”. Setelah menarik nafas panjang putriku kembali melanjutkan pertanyaannya: “Mama, apa sih Lailatul-Qadr itu? Dengan penuh semangat, ia kembali berkata: “Mama, Abah, tolong dong ceritakan kepadaku tentang Lailatul-Qadr!”, pintanya mendesak. Mendengar pertanyaannya kami tersenyum dan mengiyakan: “Ya sayang, nanti Mama dan Abah akan menceritakan kepada kamu tentang Lailatul-Qadr dan sebabnya kenapa besok sebaiknya kita mengenakan pakaian warna hitam”. (untuk masalah jilbab hitam, nanti akan kita kisahkan dalam tulisan selanjutnya)

Pada malam harinya tepatnya pada tanggal 19 Ramadhan kami menceritakan tentang Lailatul-Qadr dengan bahasa sesederhana mungkin yang sekiranya dapat dipahami oleh anak-anak. Putriku menanyakan tentang Lailatul-Qadr kepada kami berdua. Selain ia telah mendengarkan penjelasan dari Abahnya, juga dengan seksama putriku itu sudah siap mendengar penjelasan dari Mamanya. Kami mengatakan kepadanya: “Sayang, Lailatul-Qadr ialah malam yang sangat bagus, malam yang lebih baik dari seribu malam. Yang jatuh pada salah satu dari ketiga tanggal ini (tanggal 19, 21 dan 23 Ramadhan). Para malaikat pada  Lailatul-Qadr mendatangi kita, melihat prilaku kita. Mereka senang jika melihat kita menghabiskan Lailatul-Qadr dengan ibadah dan pernuatan baik lainnya. Mereka datang melihat kita, mereka datang untuk melihat amal kita dalam setahun. Putriku sayang,  Lailatul-Qadr malam yang sangat bagus sekali. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Jika kamu membaca al-Qur’an pada Lailatul-Qadr maka pahalanya di surga seperti membaca al-Qur’an seribu kali. Apabila kamu bersedekah 500 Real (mata uang Iran, kurang lebih 500 rupiah) pada malam ini sama halnya dengan 500 dikali seribu kali bersedekah. Apabila kamu sholat nafilah pada malam ini sama halnya dengan seribu kali sholat nafilah. Apabila kamu berbuat baik pada temanmu malam ini, sama halnya dengan seribu kali berbuat baik kepada temanmu. Apabila kamu bersholawat pada malam ini sama halnya dengan seribu kali bersholawat. Dan apabila….dan apabila…”. Kami terus menjelaskan tentang keutamaan  Lailatul-Qadr kepada putri kami.

Tidak lama setelah itu, ada hal yang membuat kami terharu sewaktu menyaksikan prilaku putri kecil kami. Setelah mendengat cerita kami, ia berkata: “Mama, aku mau melaksanakan sholat malam ini, biar dapat hadiah di surga seribu kali. Mama, aku mau baca al-Qur’an lebih dari biasanya malam ini ya? Mama aku mau bersedekah, biar aku dapat hadiah di surga seribu kali. Mama zikir apa yang bisa dibaca malam ini?”.

Ketika malam agak larut (sekitar pukul 24.00), putri kecilku dengan semangatnya dan penuh rasa bahagia ia melakukan berbagai ibadah. Pertama kali yang ia lakukan ialah memasukan uang ke dalam kotak sedekah keluarga yang sudah kita sediakan, sembari berkata; “Mama, aku mau memasukan uang ke dalam kotak sedekah ya?!”, tandasnya. “Ya sayang, tapi jangan lupa sebelumnya baca bismillah dan sholawat”, jawabku sembari tersenyum. Setelah itu ia bilang ingin membaca al-Qur’an lebih dari biasanya, “Mama, malam ini aku ingin membaca al-Qur’an lebih dari biasanya, kalau biasanya sehari hanya baca 1 halaman, malam ini aku pengen baca al-Qur’an sebanyak 2 halaman biar dapat hadiah lebih banyak nanti di surga”, ujarnya dengan mata berbinar. “Ya, terserah kamu sayang, kalau kamu senang melakukannya, ya tidak apa-apa”, jawabku. Lantas ia melanjutkannya dengan melaksanakan sholat nafilah (sunnah), “Mama, aku mau melaksanakan sholat ya?!”. Di sela-sela sholat pun ia banyak membaca sholawat dan istighfar yang memang dianjurkan untuk dibaca pada malam ini. “Mama, zikir apa yang sebaiknya dibaca malam ini?, tanyanya kepadaku. “Bisa baca sholawat dan juga bisa baca istighfar, artinya kita minta maaf sama Allah swt biar kita tambah disayang sama Allah”, jawabku singkat.

Perasaan bahagia memenuhi jiwa kami saat menyaksikan putri kecil kami melakukan ibadah dan kebaikan dengan penuh rasa suka, cinta dan dengan keinginannya sendiri. Kami memang selalu berusaha mengajak putri kecil kami sejak kecil (kurang lebih pada usia 3 tahunan) kepada kebaikan (baik berupa ibadah maupun prilaku terpuji) dengan penuh kasih sayang. Kisah-kisah akibat orang-orang yang baik dan yang buruk, pujian, hadiah…dan metoda lainnya pun kami sampaikan. Hal ini dapat kita lihat dalam berbagai hadis tentang metoda pendidikan anak.

Pada malam itu lantas kami memberikan pujian kepadanya atas kebaikan-kebaikan yang ia lakukan, sehingga ia merasakan nikmat dan indahnya berbuat baik. Ia sekarang dapat memahami tentang malam Lailatul-Qadr, tentunya dengan kadar pemahamannya dalam usia kanak-kanak. Sebenarnya ia mengajak kami memenuhi malam Lailatul-Qadr dengan ibadah di masjid. Namun karena kondisi badan saya yang agak kurang sehat maka kami memutuskan untuk mengadakannya di rumah saja.

Di Iran, biasanya, orang-orang menghabiskan malam Lailatul-Qadr (tanggal 19, 21, 23 Ramadhan) di berbagai tempat suci seperti masjid, mushola dan haram sayidah Fathimah Maksumah AS. Mereka pergi dengan membawa seluruh anggota keluarganya, baik bayi, anak-anak, remaja maupun dewasa. Para remaja putra dan putri banyak memenuhi tempat suci tersebut dengan tujuan menghabiskan malam Lailatul-Qadr dengan ibadah, hingga menjelang sahur. Karena banyaknya peminat yang ingin menghabiskan malam Lailatul-Qadr dengan ibadah maka pemerintah pun menyediakan sarana transportasi berupa bis dengan menambah jumlah armadanya agar masyarakat yang tidak memiliki kendaraan pribadi tidak bingung memikirkan transpotasi untuk pulang dari acara pada waktu sahur (pada waktu sahur tidak ada taksi) secara gratis.

Biasanya acara malam Lailatul-Qadr dimulai sejak pukul 22.00 malam atau pukul 23.00 malam dan diakhiri menjelang sahur. Adapun agenda acaranya ialah; pertama di isi dengan tadarusan satu juz al-Qur’an, ceramah agama (kurang lebih 1 jam), membaca doa Jausyan Kabir (doa yang berisikan 1000 nama-nama Allah, jumlahnya antara 13-14 halaman, jika dibaca kurang lebih menghabiskan waktu antara 1-2 jam tergantung sipembacanya), melaksanakan sholat nafilah (sendiri-sendiri, tidak berjamaah), zikir, dan sumpah dengan mengangkat al-Quran yang diletakkan di atas ubun-ubun kepala. Sedang jika pada tanggal 21 dan 23 diisi acara mengenang kesyahidan Imam Ali as yang syahid pada tanggal 21 Ramadhan. Setiap acara terdapat istirahat, bahkan sebagian membawa makanan ringan + minuman jika mengantuk atau lapar sembari istirahat dapat menyantapnya. Yang pasti, suasana spiritual, khusyuk menguasai tempat-tempat ibadah ini. Semua orang berdoa, merintih memohon ampunan dari Yang Maha Kuasa.

Malam Lailatul-Qadr sebagaimana yang telah dijelaskan dalam surah al-Qadr ialah malam yang penuh kemuliaan, malam yang penuh keutamaan dan malam yang lebih baik dari seribu bulan, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. [QS al-Qadr: 1-5]

Hanya saja dari segi waktu, tidak diketahui secara pasti jatuhnya pada tanggal berapa? Ketidakjelasan malam Lailatul-Qadr bukanlah tanpa hikmah Tuhan. Ini merupakan salah satu rahasia Tuhan. Terdapat beberapa hadis yang menjelaskan tentang malam Lailatul-Qadr di antaranya; Syeikh al-Kulaini telah meriwayatkan dari Hassan bin Mahran bahwasanya ia telah bertanya kepada Imam Shadiq AS, beliau menjawab: “Carilah malam Lailatul-Qadr pada malam 21 atau 23 Ramadhan”. Namun dalam riwayat lain Zurarah telah meriwayatkan dari Imam Shadiq AS bahwasanya beliau bersabda: “Malam 19 merupakan waktu pengukuran (taqdir), malam 21 merupakan waktu penentuan (ta’yin) dan tanggal 23 sebagai waktu pemutusan (khatm)”. [Wasail asy-Syi’ah, jilid 7, bab hukum-hukum bulan Ramadhan dinukil dari Amuzesy Ulum Qur’ani halaman 21]

Diantara keberkahan lain yang dimiliki oleh malam Lailatul-Qadr ialah malam diturunkannya al-Qur’an sebagaimana yang dapat kita lihat dalam kedua ayat berikut ini: “Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam al-Qadr”. [QS al-Qadr:1]

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)….”. [QS al-Baqarah: 185]

Mungkin muncul pertanyaan dalam benak kita, bukankah al-Qur’an pertama kali diturunkan pada tanggal 27 Rajab pada pertama kali Rasulullah SAWW diangkat menjadi Nabi di gua Hira? Apakah tidak terjadi kontradiksi antara keduanya?

Berkaitan dengan hal ini terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama, di antaranya:

  1. Permulaan turun al-Qur’an adalah pada malam Lailatul-Qadr.
  2. Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul-Qadr untuk memenuhi kebutuhan selama setahun. Setelah itu, lantas diturunkan secara berangsur dalam jedah waktu setahun. [ Muhamad Hadi Makrifat, Amuzesy Qur’an, halaman23-24]
  3. Sebagian berpendapat, sebagaimana dalam al-Qur’an menggunakan ungkapan ‘tanziil’ dan ‘inzaal’. Berdasarkan kedua istlah tersebut sebagian mengatakan bahwa proses penurunan al-Qur’an menjalani dua proses; proses diturunkan secara langsung secara keseluruhan (daf’i) dan secara berangsur-angsur (tadriji). Berdasarkan prolog berikut ini yang dimaksud dengan al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul-Qadr ialah diturunkan langsung secara langsung dan keseluruhan (daf’i). Allamah Tabataba’i dengan bersandarkan pada beberapa ayat berkenaan dengan penurunan al-Qur’an secara keseluruhan ataupun berangsur-angsur menjelaskan bahwa, hakikat al-Qur’an memiliki dua esensi; esensi pertama, ia merupakan hakikat yang sederhana (basith) yang padanya tidak terbagi-bagi (dalam bentuk surah-surah dan kalimat-kalimat) dan tidak bercabang, berada di Lauh Mahfudz yang diturunkan langsung secara keseluruhan kepada kalbu suci Nabi Muhamad SAWW. Esensi kedua, ia merupakan hakikat yang terpisah-pisah, memiliki bagian-bagian dan diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhamad SAW dalam jedah waktu 23 tahun. [Mizan, jilid 2, halaman 16-17 dinukil dari Parsemon Ulum Qur’an halaman 48]

Namun, para ulama kontemporer lebih cenderung kepada pendapat ketiga, pendapat Allamah Thaba’thaba’i, karena argumennya yang begitu lebih kuat.

Keutamaan lain yang dapat kita petik dari malam Lailatul-Qadr ialah karena berdasarkan beberapa riwayat malam Lailatul-Qadr sebagaimana dapat diketahui dari namanya merupakan malam penentuan nasib amal perbuatan manusia (qadr) selama setahun. Malam turunnya para malaikat untuk melihat amal perbuatan manusia. Maka sebaiknya pada malam-malam ini kita memohon kepada Yang Maha Kuasa dengan penuh kerendahan hati dan khusyuk untuk mengampuni dan menutupi segala kesalahan kita. Jangan lupa pada malam-malam inipun kita mendoakan para ulama, orang tua, saudara-saudara kita yang sakit ataupun yang memiliki kendala, yang terjajah seperti Palestina, Irak dan Afghanistan agar mereka segera bebas dari penjajah, dan saudara-saudara kita yang lalai akan kesalahannya agar sadar dan kembali keharibaan-Nya. Illahi Amiin
[ED / islamfeminis]


Responses

  1. Alhamdulillah ada pencerahan dari negeri Iran…. Syukron katsiran…. :)

  2. Izin copy yaa untuk pencerahan di komunitasku

    ———————-

    Islam Feminis:
    Silahkan…

  3. waduh rada telat bacanya tapi subhanalloh sungguh nikmatnya punya anak yang sudah dapat berbuat kebaikan…. ini pasti karena didikan orang tuanya.. mohon do’anya untuk saya supaya bisa mendidik anak dengan baik…

    ——————————

    Islam Feminis:
    Walaupun telat bacanya tetapi gak terlambat mempraktekkannya khan? (he he he) Semua orang tua yang baik pasti menghendaki anak yang saleh. Insya-Allah anda pun akan memiliki anak-anak yang saleh tersebut, sebagai penghubung anda dengan Allah.

  4. aKU COpY yA….bIASA, UNTUK MASUK DIBLOGKU


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: