Oleh: islam feminis | Juni 21, 2007

DiBalik Keagungan Imam Khomaeni; Kesetiaan Imam Terhadap Istrinya

main-dengan-cucu.jpg

Aku melihat Imam sedang menyiapkan alas untuk makan, itu pun ketika salah satu anggota rumah melihat bahwa istri Imam telah datang. Istri Imam  berkata kepada Imam; “Kami baru tiba, apakah engkau sudah makan?”. Dengan lembut dan penuh penghormatan Imam menjawab, “Engkau tidak mengatakan kalau tidak akan pulang secepatnya. Kalau tidak, kami pasti sudah makan, kami menunggumu”. Imam yang lantas berkata kepada Sayyid Ahmad; “Sekarang belum waktunya makan siang”, meskipun hanya kurang satu menit. Namun kali itu beliau tidak makan walaupun terlambat sampai setengah jam, karena menunggu kedatangan istrinya.

——————————————-

 

 

Dibalik Keagungan Imam Khomaeni; Kesetiaan Imam Terhadap Istrinya.

 

 Agenda kehidupan Imam Khomeini benar-benar teratur. Hal itu berlaku juga dalam masalah waktu makan.

Putranya, Sayyid Ahmad Khomeini mengatakan; “Aku berkata kepadanya: “Ayah waktunya makan. Aku siapkan makanan?”. Imam melihat jamnya seraya menjawab; “Tidak, sekarang belum waktunya”. Aku berbincang-bincang sebentar dengan Imam, kemudian pergi hingga sampai di depan pintu. Lantas beliau memanggilku dan aku mendatanginya. Beliau berkata; “Kamu bilang siapkan makan siang? Iya, siapkanlah. Sekarang sudah waktunya!”. Mungkin selisih waktunya tidak sampai satu menit, tetapi Imam begitu teratur sehingga bagi keluarganya juga mengherankan. Dan bisa diambil kesimpulan bahwa Imam Khomeini begitu teratur dalam semua urusan hidupnya. 

Aku ingat bahwa suatu hari Istri Imam Khomeini pergi ziarah ke kuburan Sayyid Abdul Azhim, keturunan Imam Hasan as (yang dimakamkan di Rey, luar kota Tehran .red). Pada saat itu aku sebagai sopirnya. Waktu pulang dari ziarah kira-kira mendekati zuhur. Istri Imam Khomeini berkata; “Secepatnya kita pulang, karena aku tidak bilang kepada Imam untuk makan. Imam pasti bakal menunggu sampai aku selesai (pulang) dari ziarah. Secepatnya kita pulang supaya Imam tidak telat makan”. Pada waktu itu jalanan macet. Hingga akhirnya kita sampai di rumah Imam kira-kira dua puluh lima menit agak lambat, sedang waktu makan siang sudah lewat setengah jam.

Istri Imam Khomeini berkata; “Sepertinya Imam sudah makan siang?!”. Namun hakekatnya Imam belum menyantap makan siang. Aku melihat Imam sedang menyiapkan alas untuk makan, itu pun ketika salah satu anggota rumah melihat bahwa istri Imam telah datang. Istri Imam  berkata kepada Imam; “Kami baru tiba, apakah engkau sudah makan?”. Dengan lembut dan penuh penghormatan Imam menjawab, “Engkau tidak mengatakan kalau tidak akan pulang secepatnya. Kalau tidak, kami pasti sudah makan, kami menunggumu”. Imam yang lantas berkata kepada Sayyid Ahmad; “Sekarang belum waktunya makan siang”, meski hanya kurang satu menit. Namun kali itu beliau tidak makan walaupun terlambat sampai setengah jam, karena menunggu kedatangan istrinya.

Muhammad Hashemi (Penjaga rumah Imam Khomeini). [infosyiah]

About these ads

Responses

  1. ya ampun… faithful yah…
    coba TIAP laki2 kaya’ beliau….

  2. Salooooom khonum.
    Masya Allah. Saya perhatikan ogo-ogo yang ada di qom juga sangat setia dan perhatian sama istrinya. Tapi ana ga tau yah kalau yang ada di indo semoga aja merekapun sama seperti itu.
    Wassalam

    —————————–

    Islam Feminis:
    Hamcinin saloom baroye Syumo.
    Terima kasih atas kunjungannya

  3. Assalamu’alaikum teteh, kumaha damang?

  4. Waalaikumsalam
    Alhamdulillah damang, hatur nuhun Teh Liez tos naroskeun kaayaan abdi.
    Mugi-mugi Teteh oge salamina aya dina kawilujeungan. Amiin.

  5. salooom.
    ana sbg istri pengen deh… punya karakter spr Imam Khomaeini. biar tetep di sayang ama suami tercinta ( istri nemooneh), dan jg jd ibu yg baik bagi anak2.
    wassalam Ummu Nargis

  6. tapi khumaini pake nikah mut’ah apa ndak ya?
    Biasa lah soal ini belum dikemukakan, takut ketahuan belangnya….

    ——————————

    Islam Feminis:
    Menghalalkan tidak mesti harus melakukan, sebagaimana meninggalkan sesuatu tidak mesti berarti mengharamkannya, karena tidak ada konsekwensi antara keduanya.
    Kami akan mengemukakan apa yang sesuai dengan kenyataan dan bukti riil. Selama tidak ada bukti riil atas apa yang anda katakan maka kami tidak akan pernah mengungkapkannya.

  7. subhanallah … mungkin maqam suami saya tidak seperti Imam, akan tetapi artikel ini mengingatkan saya pada pengkhidmatan suami kepada saya dan keluarga … dia tidak pernah berkata keras … walau saya sedang ngambek, dia tetap bersikap yang memuliakan saya … saya tidak boleh lalai mensyukuri hal ini … terima kasih artikelnya ya … semoga saya pun dapat melakukan pengkhidmatan yang sebaik-baiknya kepada suami dan keluarga …

  8. maasyaaa Allah…. betapa beruntungnya istri yang mendapatkan suami seperti imam Khomaeni. semoga jodoh saya bisa seperti iman Khomaeni. Amiiin

  9. secara praktis, suami saya tidak seperti beliau. suami saya juga bukan orang yang tabu berkata keras pada saya. dan saya menjadi perempuan yang berbahagia menikah dengannya.
    saya bahagia mendapati banyak istri dan perempuan yang berbahagia. banyak istri bahagia, banyak suami baik, banyak suami bahagia, banyak istri baik.
    tetaplah menjadi bahagia.

  10. Assalamualaikum!
    menurutku hal demikian sedikit berlebihan, bcoz Kanjeng Rosullah Muhammad SAW. tak pernah mengajarkan demikian namun beliau telah menganjurkan dalam haditsnya yang sahih bawasannya “makanlah kamu sebelum lapar, jangan terlalu berlebih-lebihan dalam jamuan makan, dan jg apa bila diantara umatku sedang berjamuan majkan sedang Ikomath telah dikumandangkan, maka dahulukan jamuan makanmu dan jangan tergesah-gesah untuk hal itu”
    kiranya demikian az respon dariku, kurang lebihnya mohon maaf dan terimakasih.
    Wassalam…..

    —————————–

    Islam Feminis:
    Waalaikum salam wr wb….Walaupun tidak diajarkan (perintah) oleh Rasul tetapi selama tidak dilarang oleh beliau maka hal itu tidak menjadikan haram. Toch itu hanya anjuran saja, bukan suatu kewajiban.

    Memang hadis itu dapat diterima. Namun, kita juga harus melihat, asbabul wurud (sebab Rasul mengucapkan) dan khitab (obyek bicara) itu untuk apa dan kepada siapa? Dengan begitu maka bagi ‘orang yang bisa melakukan shalat tepat pada waktunya’ tanpa harus ada gangguan pikiran soal perut (berkaitan dengan makanan) sewaktu shalat maka hendaknya melakukan shalat tepat waktu. Terlampau banyak riwayat lain yang menjelaskan betapa keutamaan shalat di tepat waktunya. Telaah hadis semacam inilah yang diperlukan. bukan hanya karena hadis sahih lantas kita harus lakukan.

    Dalam beberapa kasus umpamanya, sewaktu Rasul ditanya apa itu Islam oleh orang yang kurang terpelajar (baca: Badui) dan suka bohong maka Rasul akan menjawab bahwa Islam adalah agama yang tidak suka bohong. Tapi lihat sewaktu Rasul ditanya oleh para sahabat yang terpelajar maka Rasul akan menjawab dengan sangat luas, berbeda dengan jawaban beliau untuk orang Badui tersebut. Ini perlunya kita tahu Asbabul wurud dan Mukhatab hadis-hadis sahih yang ada.

    Wassalam

  11. klu seandainya semua laki2 seperti itu….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: