Oleh: islam feminis | Mei 14, 2007

Hijab dan Konsep Kebebasan (Liberalisme) bag-3; Islam dan Konsep Kebebasan

s_hijab19.jpg

Islam tidak menerima kebebasan tanpa batas karena kebebasan hanyalah sebuah sarana, bukan tujuan. Berbeda dengan ucapan Lord yang mengatakan bahwa kebebasan adalah sebuah tujuan yang berarti manusia dapat melakukan apa saja demi tercapainya tujuan berupa kebebasan. Islam tidak menerima kebebasan mutlak karena fitrah, akal dan agama telah membatasi kebebasan. Manusia sendiri adalah obyek yang terbatas sehingga tidak mungkin memiliki kebebasan tanpa batas .

——————————————–

Hijab dan Konsep Kebebasan (Liberalisme) bag-3; Islam dan Konsep Kebebasan

                                                                                 Euis Daryati

 

Islam dan Konsep Kebebasan

Lalu bagaimana Islam memandang kebebasan? Apakah kebebasan dalam Islam sesuai dengan kebebasan yang dianut kaum liberal? Ataukah memiliki batasan tertentu? Pada dasarnya, pandangan yang berbeda tentang esensi manusia akan menyebabkan terjadinya perbedaan pandangan terhadap semua predikat yang menempel pada manusia. Perbedaan ini sendiri akan kembali pada dasar-dasar pokok ontologi dan epistemologi. Pendapat kelompok yang menganggap bahwa manusia hanya memiliki dimensi dan kebutuhan jasmani saja, akan berbeda dengan pendapat mereka yang menganggap bahwa selain memiliki sisi jasmani manusia memiliki sisi ruhani dan kebutuhannya sesuai dengan kedua dimensi tersebut. Berkaitan dengan masalah kebebasan, kaum materialis akan berbeda pandangannya dengan kaum agamis.

Islam tidak menentang kebebasan karena kebebasan merupakan anugrah Tuhan. Namun yang perlu dipertanyakan adalah kebebasan yang mana? Kebebasan insani atau hewani? Kebebasan dalam Islam ialah kebebasan yang berasaskan pada Tuhan sebagai poros dan tolok ukur, bukan manusia (humanisme). Allah swt bersabda: “Wahai manusia kamulah yang memerlukan (Faqir) terhadap Allah, dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan kepada selain-Nya) lagi Maha Terpuji”.[1] Namun demikian, manusia memiliki kemuliaan yang sangat tinggi dibanding makhluk lainnya. Allah telah menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya untuk manusia: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan”.[2] Jika dalam paham liberalis kepentingan individual lebih diutamakan, dalam Islam kepentingan umum lebih diutamakan dengan tetap memperhatikan kepentingan individu.

Dalam masalah toleransi, ada beberapa poin yang harus dijelaskan. Pertama, Islam menerima toleransi agama yang berarti bahwa seorang muslim harus hidup rukun dan berdampingan dengan penganut agama lain. Al-Qur’an bersabda: “Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”.[3]Islam juga menerima toleransi ajaran agama dalam arti bahwa ajaran agama tidak menyulitkan penganutnya. Penganut agama dapat melakukan perintah agama yang sesuai dengan kemampuannya: “Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.[4] Namun, hal ini bukan berarti seorang muslim boleh berleha-leha dalam menjalankan ajaran agamanya.[5]  Islam tidak menerima kebebasan tanpa batas karena kebebasan hanyalah sebuah sarana, bukan tujuan. Berbeda dengan ucapan Lord yang mengatakan bahwa kebebasan adalah sebuah tujuan yang berarti manusia dapat melakukan apa saja demi tercapainya tujuan berupa kebebasan. Islam tidak menerima kebebasan mutlak karena fitrah, akal dan agama telah membatasi kebebasan. Manusia sendiri adalah obyek yang terbatas sehingga tidak mungkin memiliki kebebasan tanpa batas .

Berkaitan dengan kebebasan dalam kaca mata Islam, Ayatullah Syahid Dr. Behesyti berkata: “Islam memperkenalkan kebebasan sebagai puncak kekuatan dari penciptaan manusia. Manusia yang bebas dan berpengetahuan selalu menganggap lahan yang tersedia banyak, kekuatannya akan berkembang, akan selalu memotivasi diri dan menemukan jalan keluar. Lalu Islam mengajak manusia untuk bergerak di bawah naungan cahaya kenabian internal berupa akal pikiran. Dengan bantuan akal pikirannya, manusia berusaha untuk mengenal sumber mata air yang lebih agung yaitu wahyu, kenabian, kitabullah dan sunnah para nabi. Setelah melewati tahap ini, ia bukan sekedar manusia berakal saja tetapi merupakan manusia berwahyu. Dengan sarana akal dan wahyu, manusia dapat terbang bebas menuju pada kesempurnaan. Islam menganggap manusia sebagai makhluk yang bebas. Bahkan Islam selalu menekankan jangan sampai manusia berhenti atau mati dalam setiap kondisi yang dihadapinya. Paling tidak berhijrahlah dan jangan menerima begitu saja kondisi lingkungan fasad. Ringkasnya, manusia adalah makhluk bebas. Namun kebebasannya di bawah ruang lingkup undang-undang Tuhan”.[6]

Makna Kebebasan dalam Islam

Hak untuk mendapatkan kebebasan sama pentingnya seperti hak untuk hidup. Kebebasan dapat diterapkan secara purna pada niat pribadi, kehendak dan penguasaan atas prilaku. Sedangkan kekuasaan penggunaannya secara praktis tergantung pada apakah kebebasan itu membahayakan orang lain atau tidak. Imam Ali as bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya kalian tidak terlahir sebagai budak ataupun pelayan. Dan sesungguhnya manusia seluruhnya adalah bebas”.[7] Oleh karena itu, hendaklah manusia tidak menjadi budak yang lainnya. Imam Ali as kembali bersabda: “Dan janganlah menjadi budak yang lainnya, karena Allah SWT telah menciptakan kalian dalam kondisi bebas”.[8] Tidak selayaknya manusia bersimpuh di hadapan yang lain, kecuali di hadapan Sang Pencipta yang telah memberikan wujud (keberadaan) padanya. Ibadah dan penghambaan hanya layak untuk Dzat Yang Maha Suci dan ini sesuai dengan fitrah suci manusia. Sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Qur’an: “Dan tidaklah Aku cipatakan manusia dan jin melainkan untuk beribadah kepada-Ku”.[9] “Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwa tiada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah Aku.”[10]

Menyembah orang lain dan hawa nafsu atau tunduk patuh hadapan para penguasa tanpa perlawanan sedikit pun bertentangan dengan fitrah suci manusia. Meskipun demikian, hal ini pernah terjadi pada jangka waktu tertentu. Berkenaan dengan perkara itu, dalam al-Qur’an Allah menjelaskan: “Kamu tidak menyembah Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”[11]

Oleh karena itu, yang dimaksud dengan kebebasan bukan kebebasan mutlak sehingga seseorang dapat melakukan segala sesuatu yang dikehendakinya. Karena kebebasan berkehendak dan berprilaku atas dasar hawa nafsu merupakan kebejatan, kerusakan moral dan keburukan dan bukan merupakan kebebasan insani. Selain itu, kebebasan semacam ini sama artinya dengan membatasi dan membahayakan kebebasan orang lain karena di saat ada hak di situ juga ada kewajiban. Jika seseorang berhak untuk menghirup udara sehat maka di saat itu pula orang lain berkewajiban untuk tidak melakukan pencemaran udara. Jika seorang muslim memiliki hak agar matanya tidak melihat pemandangan dosa (misalnya melihat aurat wanita yang tidak mestinya ditutupi), maka wajib bagi sang wanita untuk tidak membuka aurat di hadapannya. Oleh karena itu dapat dipahami bahwa secara praktis, kebebasan mutlak tidak mungkin terealisasi.

Hendaknya tidak dicampuradukan antara kebebasan insani dengan kerusakan dan kebejatan moral, sebagaimana halnya yang telah terjadi pada masa kini, terjadi falaci antara keduanya. Seorang dibiarkan melakukan perbuatan amoral dengan alasan hak asasi. Kebebasan yang berlandaskan unsur-unsur seperti akal pikiran -yang akan menyebabkan tersingkapnya segala hakihat alam semesta dan amal soleh- mengajak manusia pada kebajikan, memperhatikan kepentingan dan maslahat orang lain, menjaga keberaturan dan hukum akal.

Dengan demikian, kebebasan berkehendak dan berprilaku yang sebenarnya dapat terwujud apabila berlandaskan akal dan pikiran. Namun jika berasaskan kehendak dan kecenderungan hawa nafsu, maka ia hanyalah kebebasan bohong belaka. Dalam kitab-Nya, Allah berfirman : “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) :”Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun”. [12] Kehendak buruk (batil) dan prilaku zalim, ialah untuk orang-orang yang tidak menggunakan akal pikirannya. Terrealisasinya kehendak seperti ini, tidak termasuk katagori kebebasan berprilaku, karena kehendaknya tidak dibarengi oleh akal pikiran.[13]

Bersambung….


[1] QS. Faathir :15

[2] QS. al-A’raf : 70.

 [3] QS. al-Kaafirun : 6.

 [4] QS. al-Baqarah : 286.

 [5] Qanbari, DR Ayat, Naqdi bar Humanisme wa Liberalisme, 1383 QS, Qom, Faroz-e Andisyeh hal: 125-126.

 [6] Ibid hal:114-116.

[7] Rey Syahri, Muhammad, Muntakhab Mizan al-Hikmah, 1422 HQ, Qom, Daar al-Hadits, hah : 132, hadis ke-1485.

 [8] Ibid, hadis ke-1486.

 [9] QS. Adz-Dzariyat : 56.

 [10] QS. Al-Anbiya : 25.

 [11] QS. Yusuf : 40.

 [12] QS. Ali-Imron : 191-192.

 [13]Omuli, Javadi, Hak wa Taklif dar Islam, 1384 QS, Qom, Markaz-e Nasyr-e Isro, hal : 290-291.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: