Oleh: islam feminis | Mei 7, 2007

“Wah Matching Banget Penampilanmu, Sayang?!”

Hasan bin Jaham berkata: “Imam Kazim (Imam ke-7) as telah mewarnai rambutnya (dengan pacar) dan merias (menyisir dan merapihkan penampilan) dirinya, lantas aku berkata: “Wahai yang jiwaku sebagai tebusannya, apakah tuan juga mewarnai rambut (dengan pacar)? Beliau menjawab: “Ya, karena penampilan rapih suami akan menyebabkan kehormatan dan keterjagaan (Iffah) para istri. Ketidakterjagaan (penyelewengan) para istri dikarenakan penampilan yang tidak terawat para suami.”Imam melanjutkan; “Apakah engkau senang melihat istrimu tampil tidak rapih dan cantik (berias)? Aku menjawab: “Tidak, wahai junjunganku”. Imam as kembali berkata: “Istrimu juga seperti itu, tidak senang melihatmu dalam keadaan tidak rapih.”

————————————————–

“Wah Matching Banget Penampilanmu, Sayang?!”


Salah satu tips untuk menjaga kehangatan dan keharmonisan pasangan suami istri, tampil cantik dan rapih di hadapan pasangan hidupnya. Sekarang yang menjadi pertanyaan, apakah Islam juga memberikan perhatian khusus pada masalah ini? Jika kita melihat dan menela’ah kembali hadis-hadis, maka akan kita dapati banyak hadis-hadis yang menjelaskan masalah ini. Bahkan sebagian darinya memberikan penekanan yang khusus.

Sebagaimana juga kita sering mendengar di berbagai pengajian bahwa seorang istri harus berdandan dan berias untuk suaminya. Bukan sebaliknya, ketika hendak keluar rumah baru para istri mengenakan busana bagus, rapih, dan memakai minyak wangi. Akan tetapi, ketika berada di hadapan suaminya, mengenakan pakaian yang telah sobek, bau keringat…dan lain sebagainya. Menyepelekan masalah ini sedikit banyaknya akan memberikan dampak negatif. Karena jika kita berbicara tentang fitrah manusia maka fitrah manusia menyenangi kecantikan, rapih, bersih…dan Islam pun sangat menekankan akan kebersihan sebagaimana dalam beberapa hadis berikut ini:

  • Rasulullah saww bersabda: “…Sesungguhnya Allah bersih dan mencintai Kebersihan.” [Muntakhab Mizan al-Hikmah, Rey Syahri, hal 560]
  • Rasulullah saww bersabda: “Seburuk-buruknya hamba, ialah hamba yang kotor (badannya karena tidak mandi-pen).” [Muntakhab Mizan al-Hikmah, Rey Syahri, hal 560]

Dengan tampil rapih dan cantik di hadapan pasangan hidup maka ia akan merasa dihormati. Ketika kita mengetahui bahwa rumah kita akan didatangi tamu, maka kita akan berusaha untuk menjaga penampilan serapih mungkin, dan tidak mungkin kita akan berpenampilan semrawut di hadapannya. Hal ini dilakukan karena atas dasar rasa hormat kita terhadap seorang tamu. Seorang istri maupun suami meskipun senantiasa hidup bersamaan, namun tetap memiliki kepribadian dan harga diri yang harus kita hormati.

Tampil rapih, cantik dan menarik khan tidak mesti bagus, mahal, baru dan lain-lain. Sesuai dengan kemampuan dan yang kita miliki. Jika hanya mampu membeli sebuah bedak, lipstik, dan parfum yang murah, atau hanya mampu membeli sebuah sisir dan minyak rambut untuk laki-laki dan minyak yang murah meriah, maka belilah sesuai dengan kemampuan. Dan hendaknya tidak memaksakan diri untuk membeli yang harganya lebih mahal yang tidak sesuai dengan kemampuan kita. Karena hal itu sebagaimana pepatah mengatakan ,”besar pasak dari pada tiang” adalah perbuatan yang dicela oleh agama.

Dengan tetap memperhatikan kemampuan ekonomi, seseorang akan tetap dapat merawat penampilannya yang membuat senang pasangannya. Karena mungkin saja kita akan menemukan sebuah keluarga menjadi retak dan hampir-hampir saja berakhir dengan penceraian. Namun setelah dianalisa ternyata sebabnya hanyalah masalah remeh seperti pernyataan berikut ini: “Suamiku tidak pernah memperhatianku, ia berangkat dan kembali ke rumah tanpa memperhatikan pakaian kerjanya. Ia tidak memperhatikan dan menjaga penampilannya di hadapanku, kotor, bau keringat. Memang aku ini dianggap apa? Yang hanya disuguhi yang kotor dan bau saja …”. Atau mungkin sebaliknya, seorang suamipun akan mengadukan hal tersebut: “Istriku tidak pernah berias untukku, ia tampil rapih dan cantik ketika hendak pergi ke undangan, jalan-jalan dan pesta saja. Sementara di hadapanku ia hanya mengenakan daster yang telah robek, bau keringat dan wajah yang tidak karuan. Padahal aku ingin sekali ia memakai gaun yang paling aku sukai di hadapanku, serta tampil cantik dan wangi.”

Cerita di atas hanyalah sebuah contoh kasus yang mungkin telah terjadi atau mungkin akan terjadi. Oleh karena itu, tampil rapih dan menarik di hadapan pasangannya merupakan hal patut diperhatikan, dan tidak selayaknya untuk dianggap remeh. Dan hal ini dituntut dari kedua belah pihak (suami & istri). Sebagaimana seorang suami menghendaki istrinya tampil cantik dan rapih di hadapannya, maka seorang istri pun seperti itu. Sebagaimana yang telah disinyalir dalam beberapa riwayat berikut ini:

Imam Shadiq as berkata: “Sebagaimana para lelaki akan merasa senang di saat menyaksikan para istrinya tampil cantik dan rapih. Maka para perempuan pun akan merasa senang sewaktu menyaksikan para suaminya tampil rapih dan menarik.”[Makarim-Akhlak, hal: 80, dinukil dari Raze-Esyq once Hamsaran Boyad Bedonad, hal 13]

  • Hasan bin Jaham berkata: “Imam Kazim (Imam ke-7) as telah mewarnai rambutnya (dengan pacar) dan merias (menyisir dan merapihkan penampilan) dirinya, lantas aku berkata: “Wahai yang jiwaku sebagai tebusannya, apakah tuan juga mewarnai rambut (dengan pacar)? Beliau menjawab: “Ya, karena penampilan rapih suami akan menyebabkan kehormatan dan keterjagaan (Iffah) para istri. Ketidakterjagaan (penyelewengan) para istri dikarenakan penampilan yang tidak terawat para suami.”Imam melanjutkan; “Apakah engkau senang melihat istrimu tampil tidak rapih dan tidak menarik (berias)? Aku menjawab: “Tidak, wahai junjunganku”. Imam as kembali berkata: “Istrimu juga seperti itu, tidak senang melihatmu dalam keadaan tidak rapih.” [Wasa’il Asy-Syi’ah, hal 183 dinukil dari Raze-Esyq once Hamsaran Boyad Bedonad, hal 14]
  • Imam Shadiq as berkata: “Tidak selayaknya perempuan membiarkan dirinya tanpa perhiasan meskipun hanya dengan sebuah kalung. Dan tidak selayaknya membiarkan tangannya tanpa pewarna, meskipun hanya dengan pacar.” [Wasa’il Asy-Syi’ah, hal 409 dinukil dari Raze-Esyq once Hamsaran Boyad Bedonad, hal 14]
  • Bahkan dalam sebuah hadis telah disebutkan merupakan salah satu kewajiban istri ialah harus merias dirinya, memakai wangi-wangian dan mengenakan gaun yang terbagus untuk suaminya. [Mustadrak Wasa’il, jil 14, hal 280]

Coba praktikkan tips berikut ini, tentu dengan tetap meminta pendapat pasangan anda. “Sayang, bagaimana baju ini cocok atau tidak untuk saya? Bagaimana mode rambut saya, senangkah dinda dengan model seperti ini? Bagaimana riasanan saya, cocok atau tidak untuk orang seperti saya?” dan lain sebagainya. Sehingga jika saling meminta pendapat tentang penampilan pasangan maka tidak akan terjadi salah paham. Karena mungkin saja seorang istri telah repot-repot berdandan agar suaminya merasa senang, akan tetapi ternyata suaminya tidak menyukai bentuk dandanannya. Akhirnya bukan kehangatan yanga ada, bahkan mungkin akan timbul pertengkaran.

Seorang suami hendaknya tidak sungkan mengatakan ungkapan-ungkapan berikut ini: “Wah dinda cantik sekali dengan penampilan seperti ini!”, “Dinda, menarik sekali dengan dandan seperti ini!” “Dinda sangat anggun dengan mengenakan perhiasan ini!, jadi tambah sayang nih”. Begitupula seorang istri pun hendaknya tidak usah merasa malu memberikan pendapat tentang penampilan suaminya, dan tidak selayaknya dipendam di dalam hati, namun ungkapkan apa yang ada di dalam hatimu, “Aku senang kanda memakai baju ini”, “Aku senang kanda memakai minyak wangi ini”, “Aku senang kanda memakai berpenapilan rapi seperti ini”, “Kanda, tambah ganteng lho jika rapih seperti ini!”…dan ungkapan lainnya. Berikanlah pujian untuk pasangan anda, dan jangan dipendam dalam hati. Pujian anda terhadap penampilan pasangan anda sangat memberikan dampak positif pada hubungan keharmonisan anda. Karena pasangan anda akan merasa diperhatikan. Senang akan perhatian orang, bukan monopoli anak-anak kecil saja. Orang dewasa pun memerlukan hal itu, karena itu merupakan fitrah manusia sebatas berada pada garis normal.

Singkat kata, pesan-pesan hadis di atas tentang masalah ini sangatlah bagus untuk dipraktikan dalam kehidupan pasangan suami istri. [ED]


About these ads

Responses

  1. puanjang banget artikelnya mbak :D

    tapi ternyata dalam kenyataannya sekarang sepertinya mahal sekali ongkosnya sekedar untuk memuji, dan kebanyakan orang dalam berpenampilan sepertinya tidak perlu bertanya pendapat orang lain… justru kalau orang lain mengoreksi malah disalah artikan :D

    ———————————————
    Islam Feminis:

    Masa’ sih panjang…?
    Apabila kita ingin tampil seperti para selebriti ya pasti mahal ongkosnya. Saya kira, ada yang sederhana yang dapat terjangkau dan sesuai kocek kita. Karena pesan utama dari tulisan tadi ‘tampil menarik dan sederhana di hadapan pasangan (suami atau istri)’. Selain itupun pesan dan anjuran agama sangatlah fleksible, tidak mungkin menuntut sesuatu yang di luar batas kemampuan manusia.
    Begitupula saya kira dalam masalah penampilan di hadapan pasangan kita (suami / istri) tetap perlu menanyakan pendapatnya tentang hal itu, karena perkara ini juga semakin menambah rasa keterbukaan antara pasangan suami istri juga akan memupuk rasa saling menghormati dalam berpendapat, termasuk pendapatnya dalam berpenampilan. Selain itupun dengan saling menanyakan pendapatnya, maka masing-masing akan mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing.
    Gimana Mbak, setuju?…

  2. salam…
    adalah kunci keharmonisan rumah tangga, bila masing-masing suami istri mengetahui apa yang harus dilakukan di hadapan pasangan hidupnya…

    hanya sekedar cinta tanpa pengetahuan; bagaimana mengendalikan bahtera rumah tangga, kesinambungan dan keharmonisan rumah tangga mungkin sekali tergoncang…

    semoga keluarga muslimin senantiasa harmonis dengan usaha menambah ilmu sekaligus mengamalkannya

    Wassalam

    sukses selalu buat penanggung jawab blog ini

    Emi Ms

    ———————————

    Islam Feminis:

    Terima kasih atas masukannya…
    Mudah-mudahan senantiasa seperti itu…

  3. Neng Euis, anda punya tips bagaimana menjaga penampilan tetap “matching” di lingkungan tropis yang puanass ?

    (Terima kasih telah mencantumkan blog saya di blogroll anda, Terus terang, saya sendiri jarang mengunjungi blog sendiri, sibuk-sibuk-sibuk. Maklum kieu ari kuli pabrik mah….)

    ——————————-

    Islam Feminis:

    Apabila berkaitan dengan masalah perawatan kulit dan tubuh silahkan konsultasi ke bagian kecantikan…
    Adapun masalah jenis kain dan pakaian untuk nuansa tropis maka silahkan konsultasi ke ahlinya.
    Nu jelas Kang, aya kriteria-kriteria anu entos dijelaskan ku agama perkawis batasan-batasan busana khusunya kanggo muslimah.
    Menurut abdi sih, anggo acuk anu kainnya cocok kanggo hawa panas sapertos acuk tina kain katun anu tiasa meresap keringat, sareng warnanya tiasa disesuaikan sarueng warna kulit…
    Anu penting tetep ngajaga kasederhanaan, kumargi anggoan sanes tujuan asli tapi hanyalah sarana kanggo mencapai tujuan sejati anu langkung transtendental (Dalam rangka penghambaan pada Yang Maha Kuasa).

  4. salam kenal,

    saya setuju banget dengan tulisan ini … yang penting komunikasi harus lancar dan yang lebih penting lagi … tidak boleh ada gengsi dipendam didada …

    btw, redaktur Islam Feminis, boleh gak saya print out artikel di sini biar bisa dibaca oleh temen2 di pengajian rutin Fathimiyyah (IJABI) di Bandung? kajian simple, segar, dan keseharian seperti ini kan perlu juga sampe ke mereka …

    saya ada blog di wordpress, tapi belum tertata karena tersesat saat otak-atik. yang remeh temeh sudah bisa di kunjungi di ratnajanuarita.multiply.com (hehe numpang promo)

    nuhun …

    ———————————-

    Islam Feminis:

    Mangga wae Teh Ratna, mugi-mugi tiasa manfaat kanggo sadayana…
    Tetapi mohon untuk tetap mencantumkan sumbernya. Terimakasih. Salam buat Akhwat di sana…
    Saya juga sudah link blog Teh Ratna.

  5. saya juga mohon izin untuk “add link” situs ini pada web-blog saya …

    ————————–

    Islam Feminis:

    Silahkan Teh Ratna…

  6. matching juga makalahnya, semoga kita dapat mengamalkannya.

    —————————————

    Islam Feminis:

    Terima kasih…
    Semoga semua pasangan suami istri dapat mengamalkan pesan-pesan tersebut.

  7. Nice artikel. Tapi pacar yang dipakai Imam Musa Kazim untuk mewarnai rabutnya, kenapa tidak disebut inai? Afwan, just a little comment. Wish u can use other suitable word for ur good article. Salam Kenal.

    ————————————
    Islam Feminis:
    Terima kasih. Di negara-negara lain pun terdapat pacar seperti di negara kita. Imam Kazim as, berdasarkan redaksi sumber hadis yang telah saya terjemahkan, ialah mewarnai rambut dengan pacar bukan inai. Dan memang sekarang pun di Pakistan, India, Turky…mewarnai rambut mereka dengan pacar. Ternyata khasiatnya selain untuk mewarnai rambut juga memperkuat akar-akar rambut hingga tidak rontok. Dan banyak teman-teman saya dari negara-negara tersebut yang mewarnai rambutnya dengan pacar.
    Tidak apa-apa, setiap orang boleh berkomentar kok…
    Terima kasih atas kunjungannya, dan salam kenal juga.

  8. Gondrong pake iket kepala, berselendang, kaya imam samudra dkk, hukumnya apa? Dapet pahala tidak? Apa dalam keyakinan islam penampilan semakin arabism semakin berpahala? Terima kasih.

    ———————————————-

    Islam Feminis:
    Anda tidak tahu Islam sudah sok tahu tentang Islam. Islam bukan Arab dan Arab tidak mesti Islam. Berapa banyak orang Arab yang seagama dengan anda. Dan karena adatnya sama maka cara pakaian dan budaya saudara anda itupun sama dengan muslim arab. Ini bukti bahwa anda tidak bisa membedakan antara agama dengan budaya.

    Kalau anda beragama Kristen maka izinkanlah saya mau tanya, para pastur dan suster yang boleh nikah itu niru siapa dan apakah dapat pahala? Mereka khan manusia biasa yang punya libido seksual, lantas ditaruh dimana libido seksualnya? Kalau gelora libidonya naik lantas apa jalan keluarnya? Adakah agama itu mampu memberikan solusi, atau cuman hanya melarang saja tanpa memberi solusi?

  9. Saya tanya apa yang saya tidak mengerti. kenapa anda marah? itulah kebanyakan muslim.. sensitif!

    ——————————————————————————-

    Islam Feminis:
    Marah…? Jika saya juga ingin mengklaim anda, maka sejak semula dari cara bicara anda, nada bicara emosional dan tidak keluar dari pemikiran yang jernih. Karena jika tidak emosional maka anda tidak akan cepat memberikan klaim2 buruk dan peng-generalisasian pada Islam.

    Anda belum menjawab pertanyaan saya, apakah agama Anda? Kristen? Katolik? Atau mungkin Yahudi? Apakah anda takut agama anda diketahui orang? Atau takut kalau ternyata dalam ajaran andapun terdapat hal-hal yang menurut pandangan kami negative. Apakah anda menerima jika anda melakukan kesalahan yang tidak sesuai dengan ajaran agama anda, lantas para pengikut agama lain mengatakan “memang seperti itulah kebanyakan penganut agama anda”. Padahal kesalahan belum tentu berasal dari ajaran agama, namun berasal dari pemeluk agama yang tidak menjalankan ajaran agamanya. Jadi harus dibedakan antara penganut sebuah agama dengan ajaran agama tersebut.

    Kenapa saya bertanya demikian? Karena jika agama anda telah diketahui dengan jelas maka saya akan menjawab dengan sumber-sumber yang terdapat dalam agama anda? Injilkah? Tauratkah? Perjanjian Lamakah? Atau Perjanjian Baru? Ataupun jika saya tidak mengetahuinya saya bisa bertanya kepada teman-teman saya yang baru masuk Islam, kebetulan ada teman saya dari Eropa dia seeorang pengacara dan pamannya adalah seorang pendeta, setelah mengadakan penelitian dan perbandingan dalam beberapa waktu akhirnya ia masuk Islam dan sekarang sedang mendalami ajaran Islam.

    Karena, percuma saya menjawab pertanyaan – pertanyaan anda dengan sumber-sumber Islam, karena sejak awal anda telah mengklaim Islam dengan buruk, negative, serta menutup akal dan pemikiran anda tentang Islam dengan kaca mata hitam dan pandangan negative anda terhadap Islam. Argumentasi apapun yang akan saya berikan kepada anda tidak aka nada manfaatnya dan berdiskusi dengan anda hanyalah membuang waktu. Ibarat seseorang ingin melihat benda, namun sebelum melihat benda tersebut dari segala sisi ia telah mengenakan kaca mata hitam. Jadi walaupun benda tersebut warnanya bagus tetap akan kelihat hitam dan tidak bagus.

    Sedangkan metoda diskusi yang sehat ialah sejak awal kita mengosongkan pemikiran kedua belah pihak atas pandangan baik-ataupun buruk tentang hal yang didiskusikan tersebut. Lalu membahasnya dengan argument masing-masing.

  10. emang susah teh euis ngomong sama orang yang emang niat awalnya bukan mau menelaah atau belajar tapi niatnya emang mau bikin ulah…gak usah orang Islam Kristen atau agama apapun yang dia wakili, dari segi pertanyaannya aja udah gak mutu dan tidak sopan..agama apapun tidak ada yang mengajarkan ketidaksopanan terhadap agama lain.ok afwan

  11. neng sejauh mana femahaman din Islam anda. Islam adalah sebuah aturan yang jenderan bukan hanya orang arab dan isalm bukan arab, syariah mengatur aturan dan norma adapun cara mode diserahkan sesuai selera masung-masung yang penting tidak menyalahi ketentuan baku dalm aturan syariah. contoh hukum pakaiyan dalam Islam adalah menutup aurat itulah esensi aturan adapun mode sesuai denga selera. begitu lho

    ——————————————

    Islam Feminis:
    Maaf, saya kurang paham maksud dari pertanyaan anda.
    Kalau bicara soal pakaian, silahkan baca tulisan saya paling bawah dari blog ini yang berjudul “Busana Muslimah, antara Mode dan Etika”. Sepertinya konklusi anda dengan saya sama. Lantas apa yang perlu dpertanyakan?


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: